Anda di halaman 1dari 13

Tugas PPKN XII MIPA 5

Kelompok 4

Anggota :

Amrita Deviayu Tunjungbiru (7)

Delvino Ananta (11)

Hagea Sofia Adninda Imanisla (17)

Muhammad Rayhanafraa Gibran Maulana (23)

Muhammad Syarief Nur Hakim (24)

Nasywa Aqilah Putri (28)

Ransi Raihan Majesta (33)


TUGAS MANDIRI 4.1

1. Faktor penyebab terjadinya peristiwa G 30 S/PKI

Permasalahan dalam kudeta di setiap negara tentu saja diawali dengan faktor
ekonomi sebagai alasan pembenaran kudeta, tidak terkecuali di Indonesia. Ekonomi
Indonesia sedang terpuruk pada tahun 1965 dimana hal ini menyebabkan dukungan dari
rakyat kepada Presiden Soekarno berkurang. Ditambah lagi dengan kebijakan “Ganyang
Malaysia” yang dianggap akan memperparah kondisi ekonomi Indonesia saat itu,
kepercayaan masyarakat Indonesia dan militer mencapai titik terburuk saat itu.

Pengaruh PKI pada tahun 1965 mencapai pada puncaknya dimana pengikut dan
simpatisan PKI telah memasuki dengan elemen masyarakat, dan memiliki hubungan yang
cukup baik dengan Presiden Soekarno. Di tahun 1965 itu, PKI mengusulkan kepada
Presiden Soekarno untuk menambah angkatan militer yang dinamakan ‘Angkatan
Kelima’ diluar dari TNI dan berdiri sendiri. Hal ini tentunya menyebabkan kecurigaan
antara pihak militer dan PKI. Selain itu PKI juga telah menyusup hingga ke kalangan
polisi sehingga situasi semakin memanas, dimana banyak hasutan hasutan dan
konfrontasi antara rakyat dengan TNI, hal ini menjadi fondasi untuk rencana G30S, dan
merupakan salah satu penyebab G30s PKI

2. Pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa tersebut

VERSI 1: Partai Komunis Indonesia (PKI)


➔ DN Aidit, pemimpin PKI melambaikan tangannya. Ini merupakan versi rezim
Orde Baru.
➔ Literatur pertama dibuat sejarawan Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh
bertajuk Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia (1968).
➔ Intinya menyebut skenario PKI yang sudah lama ingin mengkomuniskan
Indonesia.
➔ Buku ini juga jadi acuan pembuatan film Pengkhianatan G30S/PKI garapan Arifin
C. Noer.
➔ Selain itu, rezim Orde Baru membuat Buku Putih yang dikeluarkan oleh
Sekretariat Negara dan Sejarah Nasional Indonesia suntingan Nugroho
Notosusanto yang diajarkan di sekolah-sekolah semenjak Soeharto berkuasa.
➔ Oleh karena itu, versi Orde Baru ini mencantumkan “/PKI” di belakang G30S.
VERSI 2: Konflik Internal Angkatan Darat
● Sejarawan Cornell University, Benedict ROG Anderson dan Ruth McVey,
mengemukakan dalam A Preliminary Analysis of the October 1 1965, Coup in
Indonesia atau dikenal sebagai Cornell Paper (1971), bahwa peristiwa G30S
merupakan puncak konflik internal Angkatan Darat.
● Dalam Army and Politics in Indonesia (1978), sejarawan Harold Crouch
mengatakan, menjelang tahun 1965, Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) pecah
menjadi dua faksi.
● Kedua faksi ini sama-sama anti-PKI, tetapi berbeda sikap dalam menghadapi
Presiden Sukarno.
● Kelompok pertama, “faksi tengah” yang loyal terhadap Presiden Sukarno,
dipimpin Letjen TNI Ahmad Yani, hanya menentang kebijakan Soekarno tentang
persatuan nasional karena PKI termasuk di dalamnya.
● Kelompok kedua, “faksi kanan” bersikap menentang kebijakan Ahmad Yani yang
bernafaskan Sukarnoisme.
● Dalam faksi ini ada Jenderal TNI AH Nasution dan Mayjen TNI Soeharto.
● Peristiwa G30S yang berdalih menyelamatkan Soekarno dari kudeta Dewan
Jenderal, sebenarnya ditujukan bagi perwira-perwira utama “faksi tengah” untuk
melapangkan jalan bagi perebutan kekuasaan oleh kekuatan sayap kanan
Angkatan Darat.
● Selain mendukung versi itu, WF Wertheim menambahkan, Sjam Kamaruzaman
yang dalam Buku Putih terbitkan Sekretariat Negara disebut sebagai Kepala Biro
Chusus Central PKI adalah “agen rangkap” yang bekerja untuk DN Aidit dan
Angkatan Darat.

VERSI 3: Presiden Soekarno


➢ Presiden Soekarno dan Presiden John F. Kennedy dalam lawatan tahun 1961.
➢ Setidaknya ada tiga buku yang menuding Presiden Sukarno terlibat dalam
peristiwa G30S: Victor M. Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 1965
(2004); Antonie C.A. Dake, The Sukarno File, 1965-67: Chronology of a Defeat
(2006) yang sebelumnya terbit berjudul The Devious Dalang: Sukarno and So
Called Untung Putsch: Eyewitness Report by Bambang S. Widjanarko (1974);
dan Lambert Giebels, Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar
Kejatuhan Bung Karno.
➢ Menurut Asvi ketiga buku tersebut “mengarah kepada de-Soekarnoisasi yaitu
menjadikan presiden RI pertama itu sebagai dalang peristiwa Gerakan 30
September dan bertanggung jawab atas segala dampak kudeta berdarah itu.”

VERSI 4: Letjen Soeharto


★ Letjen TNI Soeharto, waktu itu menjabat Menpangad, menerima delegasi KAMI
(Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), salah satu organisasi anti komunis.
★ Komandan Brigade Infanteri I Jaya Sakti Komando Daerah Militer V, Kolonel
Abdul Latief dalam Pledoi Kolonel A. Latief: Soeharto Terlibat G30S (1999)
mengungkapkan bahwa dia melaporkan akan adanya G30S kepada Soeharto di
kediamannya di Jalan Haji Agus Salim Jakarta pada 28 September 1965, dua hari
sebelum operasi dijalankan.
★ Bahkan, empat jam sebelum G30S dilaksanakan, pada malam hari 30 September
1965, Latief kembali melaporkan kepada Soeharto bahwa operasi menggagalkan
rencana kudeta Dewan Jenderal akan dilakukan pada dini hari 1 Oktober 1965.
★ Menurut Latief, Soeharto tidak melarang atau mencegah operasi tersebut.
★ Menurut Asvi, fakta bahwa Soeharto bertemu dengan Latief dan mengetahui
rencana G30S namun tidak melaporkannya kepada Ahmad Yani atau AH
Nasution, menjadi titik masuk bagi analisis “kudeta merangkak” yang dilakukan
oleh Soeharto.
★ Ada beberapa varian kudeta merangkak, antara lain disampaikan oleh Saskia
Wierenga, Peter Dale Scott, dan paling akhir Soebandrio, mantan kepala Badan
Pusat Intelijen (BPI) dan menteri luar negeri.

VERSI 5: Central Intelligence Agency (CIA).


❏ Sebagai konsekuensi dari Perang Dingin tahun 1960-an, Amerika Serikat dan
negara-negara Barat seperti Australia, Inggris, dan Jepang berkepentingan agar
Indonesia tidak jatuh ke tangan komunis.
❏ Amerika Serikat menyiapkan beberapa opsi terkait situasi politik di Indonesia.
❏ Menurut David T Johnson dalam Indonesia 1965: The Role of the US Embassy,
opsinya adalah membiarkan saja, membujuk Soekarno beralih kebijakan,
menyingkirkan Soekarno, mendorong Angkatan Darat merebut pemerintahan,
merusak kekuatan PKI dan merekayasa kehancuran PKI sekaligus menjatuhkan
Sukarno.
❏ Opsi terakhir yang dipilih.
❏ Keterlibatan Amerika Serikat melalui operasi CIA (Dinas Intelijen Amerika
Serikat) dalam peristiwa G30S telah terang benderang diungkap berbagai sumber.

3. Dugaan terjadinya pelanggaran HAM


Seperti pada faktanya itu, peristiwa G-30 S/PKI bercerita tentang pembantaian
secara besar-besaran dan yang menjadi korban pembantaiannya merupakan
anggota-anggota PKI serta orang-orang yang dituduh sebagai komunis. Dapat diketahui
pula ada sekitar 7 orang tokoh penting yang meningga dan ribuan masyarakat yang
berasal dari berbagai daerah.
Pada peristiwa ini, sila ke-2 adalah sila yang paling cocok untuk membahas
tragedi pembantaian 1965 ini. Sila ke-2 yang berbunyi, "Kemanusiaan yang adil dan
beradap", mengandung arti bahwa setiap manusia memiliki hak /atau kederajatan sosial
yang sama dengan manusia yang lainnya.
Dengan kata lain, manusia sebenarnya tidak pantas untuk dibantai dengan cara
kekerasan, sebab setiap manusia memiliki HAM. HAM itu sendiri artinya adalah sebuah
prinsip atau norma yang menunjukan sebuah standar tertentu berdasarkan tingkah laku
manusia dan itu sangat dihargai sebab itu semua dilindungi dan dalam undang-undang.
Pendapat Dalam tragedi ini, masalah yang dapat saya simpulkan bahwa ada salah
satu kelompok yang menginginkan presiden Ir. Soekarno untuk turun dari jabatannya
sebagai presiden RI yang pertama. Hal itu didukung terlebih dengan presiden RI yang pro
dengan partai komunis sehingga membuat masyarakat lebih mudah untuk diadu-domba
untuk menurunkan presiden Ir.Soekarno.
Akhirnya yang menjadi korban pun ada banyak, terdiri dari 6 jendral penting,
salah satunya adalah Mayjen TNI M.T. Haryono, yang terjadi pada tanggal 30
September, yang sekarang sering kita ketahui peristiwa G30S/PKI .
Begitu dengan peristiwa ini, tidak ada yang namanya kemanusiaan, semua hanya
ada pembantaian secara kejam dan tidak adil. Peristiwa ini pastinya tak luput dari
masalah yang sepele pastinya, hanya dengan ingin menjadi presiden, seseorang rela untuk
mengorbankan beribu-ribu jiwa.

4. Pengaruh peristiwa tersebut terhadap persatuan dan kesatuan bangsa


Setelah peristiwa G30S/PKI berakhir, kondisi politik Indonesia masih belum
stabil. Situasi Nasional sangat menyedihkan, kehidupan ideologi nasional belum mapan.
Sementara itu, kondisi politik juga belum stabil karena sering terjadi konflik antar partai
politik. Demokrasi Terpimpin justru mengarah ke sistem pemerintahan diktator.
Kehidupan ekonomi lebih suram, sehingga kemelaratan dan kekurangan makanan
terjadi dimana – mana.
Presiden Soekarno menyalahkan orang – orang yang terlibat dalam perbuatan keji
yang berakhir dengan gugurnya Pahlawan Revolusi serta korban – korban lainnya yang
tidak berdosa. Namun Presiden Soekarno menyatakan gerakan semacam G30S/PKI dapat
saja terjadi dalam suatu revolusi. Sikap Soekarno ini diartikan lain oleh masyarakat,
mereka menganggap Soekarno membela PKI. Akibatnya, popularitas dan kewibawaan
Presiden menurun di mata Rakyat Indonesia. Demonstrasi besar – besaran terjadi pada
tanggal 10 januari 1966. Para demonstran ini mengajukan tiga tuntutan yang terkenal
dengan sebutan TRITURA ( Tri Tuntutan Rakyat ), meliputi sebagai berikut :
● Pembubaran PKI.
● Pembersihan Kabinet Dwikora dari unsur – unsur OKI.
● Penurunan harga – harga ( Perbaikan Ekonomi ).
Tindakan Pemerintah lainnya adalah mengadakan reshuffle ( perombakan )
Kabinet Dwikora. Pembaharuan Kabinet Dwikora terjadi tanggal 21 Februari 1966 dan
kemudian disebut dengan Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan. Mengingat jumlah
anggota mencapai hampir seratus orang, maka kabinet itu sering disebut dengan Kabinet
Seratus Menteri. Menjelang pelantikan Kabinet Seratus Menteri pada tanggal 24 Februari
1966, KAMI melakukan aksi serentak. Dalam demonstrasi itu gugur seorang mahasiswa
Universitas Indonesia, Arief Rahman Hakim.
5. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah pada waktu itu untuk menangani
permasalahan tersebut
Penumpasan G30S/PKI
● Menetralisipasi pasukan yang berada di sekitar Medan Merdeka yang
dimanfaatkan oleh kaum G30S/PKI.
● Operasi militer tentang penumpasan G30S/PKI mulai dilakukan sore hari.
● Pasukan RPKAD berhasil menduduki kembali gedung RRI pusat, gedung
telekomunikasi dan mengamankan seluruh wilayah Medan Merdeka tanpa terjadi
bentrokan senjata.
● Pasukan Batalyon 238 Kujang/Siliwangi berhasil menguasai lapangan banteng
dan mengamankan markas Kodam V/Jaya dan sekitarnya.
● Presiden Soekarno meninggalkan Halim Perdana Kusuma menuju Istana Bogor.
Pasukan RPKAD bergerak menuju sasaran dipimpin oleh Kolonel Subiantoro.
● Dalam gerakan pembersihan ke kampung-kampung di sekitar lubang buaya, Ajun
Brigadir Polisi Sukitman yang sempat ditawan oleh regu penculik berhasil
meloloskan diri.
● Pada tanggal 3 Oktober 1965 berhasil ditemukan jenazah para perwira tinggi AD
yang telah dikuburkan dalam sumur tua.
● Keesokan harinya bertepatan dengan HUT ABRI tanggal 5 Oktober jenazah
mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Mereka dianugerahi
gelar Pahlawan Revolusi.
Pemulihan Keamanan dan Ketertiban
● Mayjen Soeharto ditugaskan untuk pemulihan keamanan dan ketertiban yang
terkait dengan G30S/PKI.
● Kebijakan Presiden Soekarno mengenai penyelesaian G30S/PKI dinyatakan
dalam sidang paripurna Kabinet Dwikora tanggal 6 Oktober 1965 di Istana Bogor.

6. Bukti keberhasilan upaya yang dilakukan pemerintah untuk menghilangkan ideologi


komunis.

→ Bisa dilihat dari pemerintah melakukan perumusan arah kebijakan umum pembinaan
ideologi Pancasila melalui UKP Pembinaan Ideologi Pancasila. Pemerintah juga melakukan
penyusunan garis-garis besar haluan ideologi Pancasila dan roadmap pembinaan ideologi
Pancasila, koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pelaksanaan pembinaan ideologi
Pancasila

Rumuskan hasil studi kepustakaan kalian dalam bentuk laporan sederhana !


Sejarah Singkat G30S/PKI
G30S merupakan gerakan yang bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Presiden
Sukarno dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Gerakan ini dipimpin oleh DN Aidit
yang saat itu merupakan ketua dari Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pada 1 Oktober 1965 dini hari, Letkol Untung yang merupakan anggota Cakrabirawa
(pasukan pengawal Istana) memimpin pasukan yang dianggap loyal pada PKI.
Gerakan ini mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia. Tiga dari enam orang yang
menjadi target langsung dibunuh di kediamannya. Sedangkan lainnya diculik dan dibawa menuju
Lubang Buaya.Jenazah ketujuh perwira TNI AD itu ditemukan selang beberapa hari kemudian.

Pejabat Tinggi yang Menjadi Korban


Keenam perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjadi korban dalam peristiwa ini
adalah:
- Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani
- Mayor Jenderal Raden Suprapto
- Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono
- Mayor Jenderal Siswondo Parman
- Brigadir Jendral Donald Isaac Panjaitan
- Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
Sementara itu, Panglima TNI AH Nasution yang menjadi target utama berhasil
meloloskan diri. Tapi, putrinya Ade Irma Nasution tewas tertembak dan ajudannya, Lettu Pierre
Andreas Tendean diculik dan ditembak di Lubang Buaya.
Keenam jenderal di atas beserta Lettu Pierre Tendean kemudian ditetapkan sebagai
Pahlawan Revolusi. Sejak berlakunya UU Nomor 20 tahun 2009, gelar ini juga diakui sebagai
Pahlawan Nasional.
Selain itu, beberapa orang lainnya juga menjadi korban pembunuhan di Jakarta dan
Yogyakarta. Mereka adalah:
- Brigadir Polisi Ketua Karel Satsuit Tubun
- Kolonel Katamso Darmokusumo
- Letnan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto

Pasca Kejadian
Setelah peristiwa G30S/PKI rakyat menuntut Presiden Sukarno untuk membubarkan PKI.
Soekarno kemudian memerintahkan Mayor Jenderal Soeharto untuk membersihkan semua unsur
pemerintahan dari pengaruh PKI.
Soeharto bergerak dengan cepat. PKI dinyatakan sebagai penggerak kudeta dan para
tokohnya diburu dan ditangkap, termasuk DN Aidit yang sempat kabur ke Jawa Tengah tapi
kemudian berhasil ditangkap.
Anggota organisasi yang dianggap simpatisan atau terkait dengan PKI juga ditangkap.
Organisasi-organisasi tersebut antara lain Lekra, CGMI, Pemuda Rakyat, Barisan Tani
Indonesia, Gerakan Wanita Indonesia dan lain-lain.
Berbagai kelompok masyarakat juga menghancurkan markas PKI yang ada di berbagai
daerah. Mereka juga menyerang lembaga, toko, kantor dan universitas yang dituding terkait PKI.
Pada akhir 1965, diperkirakan sekitar 500.000 hingga satu juta anggota dan pendukung
PKI diduga menjadi korban pembunuhan. Sedangkan ratusan ribu lainnya diasingkan di kamp
konsentrasi.

Diperingati Pada Zaman Orba


Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, G30S/PKI selalu diperingati setiap tanggal 30
September. Selain itu, pada tanggal 1 Oktober juga diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
Untuk mengenang jasa ketujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa ini,
Soeharto juga menggagas dibangunnya Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta
Timur.

Diabadikan dalam Film Propaganda


Pada tahun 1984, film dokudrama propaganda tentang peristiwa ini yang berjudul
Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI dirilis. Film ini diproduksi oleh Pusat Produksi Film
Negara yang saat itu dipimpin Brigjen G. Dwipayana yang juga staf kepresidenan Soeharto dan
menelan biaya Rp 800 juta.
Mengingat latar belakang produksinya, banyak yang menduga bahwa film tersebut
ditujukan sebagai propaganda politik. Apalagi di era Presiden Soeharto, film tersebut menjadi
tontonan wajib anak sekolah yang selalu ditayangkan di TVRI tiap tanggal 30 September malam.
Sejak Presiden Soeharto lengser pada tahun 1998, film garapan Arifin C. Noer tersebut
berhenti ditayangkan oleh TVRI. Hal ini terjadi setelah desakan masyarakat yang menganggap
film tersebut tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.
TUGAS MANDIRI 5.2

Latar Belakang 
Indonesia  adalah  negara  yang  terdiri  dari  banyak  pulau,  suku,  agama,  ras,  dan  golongan. 
Dengan  kata  lain,  Indonesia  adalah  negara  multikultural.  Setiap  golongan  masyarakat 
memiliki  latar  belakang,  sudut  pandang,  dan  pemikiran  yang  berbeda-beda.  Hal  inilah  yang 
menyebabkan pertikaian, seperti munculnya paham radikalisme. 
Gerakan  Radikalisme  kebanyakan  muncul  dalam  kalangan  agama.  Di  beberapa  negara 
muslim,  gerakan-gerakan  radikal  keagamaan  justru  lahir  pada  saat  proses  demokratisasi 
sedang  digelar.  Gerakan-gerakan  agama  radikal  di  Indonesia  pun  juga  lahir  di  saat  proses 
demokratisasi  sedang  berjalan.  Otonomi  daerah  sebagai  relfleksi  dari  tuntutan  demokrasi 
misalnya,  justru  ditandai  dengan  bangkitnya  liberalisme-radikalisme  agama  seperti 
kehendak untuk menerapkan “syariat islam”.   
Radikalisme  sendiri  merupakan  paham  pemikiran  sekelompok  masyarakat  yang 
menginginkan  pembaharuan  untuk  hidup  lebih  baik  namun  dengan  cara  yang  tidak  benar 
karena  dengan  menghalalkan  segala  cara.  Makin  banyak  gerakan  yang  muncul  karena 
persoalan  agama,  politik,  maupun  yang  lainnya.  Sebagian  besar  bentuk  radikalisme  adalah 
perbuatan  yang  negatif  untuk  umum.  Demokrasi  yang  seharusnya  menjadikan  tatanan 
masyarakat semakin cair, egaliter dan inklusif, tapi yang terjadi justru sebaliknya. 
Radikalisme  di  sebagian  masyarakat  bisa  muncul  karena  banyak  hal. Salah satunya adalah 
karena  lemahnya  pemahaman  agama.  Radikalisme  ini  merupakan sasaran yang tepat  bagi 
orang-orang  yang  bertujuan  menyelewengkan  ajaran  agama  atau  mengajarkan 
paham-paham  keagamaan  yang  sesat.  Untuk  sebagian  masyarakat  menganggap 
radikalisme  sebagai  hal  yang  positif  karena  kepentingan  mereka.  Seperti  pelaku  terorisme 
yang  menganggap  perbuatannya  merupakan  hal  yang  positif  karena  dia  merasa  berjihad 
untuk  agama  yang  dianutnya.  Selain  pelaku  terorisme  dengan  alasan  keagamaan, ada juga 
para  politikus,  yang  bisa  melakukan  apa  saja  dan  menghalalkan  segala  cara  demi merebut 
kekuasaan.  Sebagai  contoh  hal  yang  dilakukan  para  politikus  demi  merebut  kekuasaan 
ialah, dengan cara pemberontakan (GAM, OPM, RMS, dan lainnya).  
Dalam  segi  pelanggaran  norma-norma  pancasila,  radikalisme  hampir  melanggar 
keseluruhan  norma  yang  ada  dalam  pancasila.  Dari  pelanggaran  yang  menyangkut  agama 
sampai  pelanggaran  sosial.  Berawal  dari  pemikiran  sempit  oleh  sekelompok  massa  dapat 
menimbulkan  banyak  kerugian  yang  begitu  besar.  Jika  tidak  segera  ditangani  akan 
membawa  dampak  yang  buruk,  bukan  hanya  kepada  masyarakat  yang  menjadi  tidak 
tenang, tetapi juga kepada bangsa dan negara. 
Sebelumnya,  sudah  banyak  penulis  atau blogger yang membahas tentang radikalisme. Baik 
membahas  tentang  hubungan  radikalisme  dan  Indonesia  sampai  membahas  apa  itu 
radikalisme.  Pada  makalah  kali  ini,  kami  akan membahas lebih spesifik pada radikalisme di 
Indonesia dalam perspektif pancasila.  
Karena  kian  hari,  kian  banyak  terjadi  tindakan-tindakan  oleh  sekelompok  radikalisme  yang 
meresahkan  masyarakat.  Mereka  selalu  mengatasnamakan  agama  dalam  tindakan 
sewenang-wenang  yang  mereka  lakukan.  Mereka  melakukan  segala  bentuk  kekerasan  dan 
merugikan  banyak  pihak.  Mulai  dari  kerugian  materil  sampai  kerugian  menghilangkan 
nyawa seseorang. 
Jika  dilihat  dari  berbagai  agama  yang  ada  di  Indonesia,  sebenarnya  tidak  ada  satupun 
agama  yang  mengajarkan  untuk  melakukan  kekerasan.  Dalam  hal  ini,  Islam  adalah  salah 
satu  agama  yang  paling  sering  digunakan  menjadi  dasar  melakukan  kekerasan.  Islam 
sendiri  tidak  pernah  mengajarkan  untuk  melakukan  kekerasan,  Islam  lebih  menyukai 
kelembutan. 
 
Mengetahui Eksistensi Gerakan Radikalisme di Indonesia. 
Jika  dilihat  dari  letak  Indonesia  yang  strategis  dan  merupakan  kumpulan  dari  pulau-pulau, 
Indonesia  sering dilewati oleh negara lain. Baik sebagai tempat transit atau berhenti dengan 
berbagai  tujuan.  Selain  itu,  Indonesia  terdiri  dari  beraneka  ragam  budaya  sehingga 
radikalisme  dapat  dengan  mudah  masuk  ke Indonesia. Baik melalui jalur darat maupun laut 
bahkan  karena  luasnya  Indonesia,  banyak  wilayah  yang  belum  terjangkau  oleh  aparatur 
negara. 
Selain  agama,  radikalisme  juga  sudah  “menjangkiti”  aliran-aliran  sosial,  politik,  budaya, dan 
ekonomi.  Ada  anggapan di kalangan masyarakat awam bahwa radikalisme hanya dilakukan 
oleh  agama  tertentu  saja.  sebenarnya  bukan  karena  agamanya  namun  lebih  kepada 
perilaku manusia itu sendiri.  
   
Di  Indonesia,  aksi  kekerasan  (teror)  yang  terjadi  selama  ini  kebanyakan  dilakukan  oleh 
sekelompok  orang  yang  mengatasnamakan/mendompleng  agama  tertentu.  Agama 
dijadikan  tameng  oleh  mereka  untuk  melakukan  aksinya.  Selain  itu  mereka juga memelintir 
sejumlah  pengertian  dari  kitab  suci.  Teks  agama  dijadikan  dalih  oleh  mereka  untuk 
melakukan tindak kekerasan atas nama jihad.  
Beberapa  contoh  radikalisme  keagamaan  yang  terjadi  di  Indonesia adalah  munculnya 
berbagai  kelompok  agama  yang  berhaluan  keras,  seperti  Jama’ah  Salafi,  Front 
Pembela  Islam  (FPI),  Komite  Persiapan  Penegakan  Syariat  Islam  (KPPSI)  Sulawesi 
Selatan,  Darul  Islam/Negara  Islam  Indonesia,  Jama’ah  Tabligh  (JT),  Majelis  Mujahidin 
Indonesia  (MMI),  dan  Hizbut  Tahrir  Indonesia  (HTI),  Pesantren  Al-Mukmin  (Ngruki),  Laskar 
Jihad Ahlussunnah Wal Jama’ah, HAMAS, dan Ikhwanul Muslimin.  
Dosen  Fisip  Universitas  Islam  Negeri  Syarif  Hidayatullah,  M  Zaki  Mubarak  dalam  diskusi 
yang  mengupas  tentang  dilema  penanganan  terorisme  di  Indonesia  di  Wisma  Intra  Asia, 
Jalan  dr  Soepomo,  Tebet,  Jaksel,  Rabu  (3/7/2013)  menuturkan  alasan  utama  kenapa 
kelompok-kelompok  ini  melakukan  aksi  radikal  adalah  karena  ketidakpuasan  kepada 
pemerintahan  yang  ada.  Menurut  mereka,  tidak  adanya  pemimpin  yang baik, menyebabkan 
negara  diambang  kehancuran.  Selain  itu,  mereka  percaya  negara  ini  terlalu  mudah  disetir 
oleh  kepemimpinan  dunia  barat.  Ideologi  yang  mereka peroleh dari pendahulu mereka, bagi 
para  kelompok  radikal masa kini dianggap sebagai acuan dan alasan kuat untuk melakukan 
teror agar tujuan mereka dapat tercapai.  
 
Dampak  Negatif  Gerakan  Radikalisme  Terhadap  Ketatanegaraan  NKRI  yang  Tidak  Sesuai 
dengan Pancasila. 
Semua  gerakan  yang  dilakukan  oleh  orang-orang  radikalisme  sangat  tidak  sesuai  dengan 
Pancasila.  Banyak  gerakan  radikalisme  yang  mengatasnamakan  agama.  Tentu  dalam  sila 
pertama  pancasila  yang  berbunyi  “Ketuhanan  Yang  Maha  Esa”,  di  dalam  sila  ini  tidak 
mengartikan  tentang  bagaimana  gerakan  radikalisme  di  sebarkan,  tetapi  sila  ini  memberi 
tahu  bahwa  semua  masyarakat  yang  berada  di  Indonesia  berhak  memeluk  agamanya 
sendiri-sendiri.  Dampak  negatif  dari  gerakan  radikalisme  itu  sendiri  adalah  banyaknya 
pemberontakan yang mengatasnamakan agama, contohnya saja terorisme yang melakukan 
pemberontakan dengan cara membunuh atau melakukan bom bunuh diri. 
  Tujuannya  adalah  sebagai  peringatan  bagi  orang-orang  yang  melakukan  maksiat. 
Meskipun  agama  berbeda-beda  tetapi  ajaran  agama  tersebut  tidak  ada  yang  mengajarkan 
bahwa  pemberontakan  harus  dilakukan  apalagi  dengan  cara  membunuh  atau  mengebom. 
Dampak  lainnya  adalah  jika  di  suatu  negara  terdapat  gerakan  radikalisme  dan  gerakan 
tersebut  sangat  eksis,  negara  tersebut  akan  di  klaim  sebagai  negara  yang  melahirkan 
orang-orang yang khusus mengikuti gerakan radikalisme. 
Salah  satu  kejadian  di  Indonesia  adalah  bom  bunuh  diri  di  Bali  yang  terjadi  hingga  2x  yang 
mengakibatkan  kematian.  Pada  saat  itu  para  turis  mancanegara  sangat  ketakutan, 
sehingga  mereka  kembali  ke  tempat  asal  mereka.  Kita  tahu  bahwa  pulau  Bali  adalah salah 
satu  investasi  besar  di  Indonesia.  Setelah  kejadian  itu,  disusul  oleh  bom bunuh diri di Hotel 
J.W  Marriott.  Bom  bunuh  diri  ini  semakin  merepotkan  Pemerintah  Indonesia  untuk 
mengetahui sebenarnya apa alasan mereka melakukan hal tersebut.  
 
Upaya Pemerintah Selama Ini dalam Mengatasi Gerakan Radikalisme di Indonesia 
Menurut  Irjen  Pol  Bambang  Suparno,  SH,  M.Hum  selaku  Deputi  Bidang  Koordinasi 
Keamanan  Nasional  Kemenkopolhukam  RI,  radikalisme  tidak  identik dengan agama. Upaya 
menanggulangi  radikalisasi  ini  salah  satunya  dapat  dilakukan  dengan  memberi  akses 
kepada  bekas  pelaku  radikalisasi  untuk  hidup  normal.  “Kalau  tidak  ada  akses  untuk  hidup 
normal, dia akan kembali bergabung dengan kelompoknya,” jelas Bambang Suparno . 
Sependapat  dengan  Bambang  Suparno,  Prof.  Dr.  Arief  Rahman,  MA  selaku  (Guru  Besar 
UNJ/Ketua  Harian  Komisi  Nasional  Indonesia  untuk  UNESCO)  mengatakan  dalam 
menanggulangi  radikalisme,  pendidikan  di  Indonesia  sebaiknya  tidak  terlalu  berat  kepada 
kecerdasan  akal  saja.  “Semua  pendidik  harus  mampu  menumbuhkan  kecerdasan  spiritual 
dalam  diri  individu,”  kata  Arief  Rahman.  Pemerintahan  Indonesia  perlu  melakukan 
pendekatan  preventif  kepada  generasi  penerus  bangsa,  agar  menghentikan  penyebaran 
radikalisme  di  kalangan  generasi  penerus  bangsa  yang  semakin  memprihatinkan.  Banyak 
dari  organisasi  radikalisme  yang  merekrut  muda-mudi  Bangsa  Indonesia  karena  lebih 
mudah  terprovokasi  daripada  golongan  dewasa  yang  sudah  lebih  paham  kenegaraan. 
Semakin  banyak  muda-mudi  yang  terpengaruh  pemikiran  radikal  maka  semakin  cepat pula 
penyebaran  gerakan  radikalisme  di  Indonesia,  karena  bisa  memprovokasi  sesama pemuda 
dalam melakukan tindakan radikalisme. 
Melihat  dari  ketatanegaraan  di  Indonesia,  sebenarnya  pendiri  bangsa  ini  telah  memberikan 
antisipasi  dalam  menangkal  radikalisme.  Yaitu  dengan  membuat  dan  menjadikan 
undang-undang  dasar  1945  sebagai  pedoman  dan  pancasila  sebagai  dasar  negara. 
Pancasila  merupakan  jiwa  Bangsa  Indonesia  untuk  mencapai  cita-cita  bangsa.  Sehingga 
sebenarnya  rakyat  Indonesia  sendiri  terikat  aturan-aturan  yang  memiliki sifat berbudi luhur. 
Pancasila  harus  diterapkan  dalam  kehidupan  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara  di 
Indonesia.  Dengan  menerapkan  Pancasila,  paham  – paham radikalisme akan melemah jika 
penerapannya dipahami betul pada setiap sila dalam pancasila. 
Namun  tidak  bisa  dipungkiri,  radikalisme  dapat  dengan  mudah  masuk  di  Indonesia  seperti 
yang  sudah  dijelaskan sebelumnya. Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai upaya 
untuk  mengatasi  radikalisme  di  Indonesia.  Instansi  kepolisian  misalnya,  mereka 
menyiapkan pasukan khusus untuk memberantas gerakan radikalisme di Indonesia.  
Sapto  Waluyo,  staf  ahli  Menteri  Sosial  Indonesia,  berkata bahwa kelompok-kelompok islam 
moderat  juga  perlu  melibatkan  diri  dalam  pencegahan  radikalisme  dan  terorisme. 
Organisasi-organisasi  Islam  moderat  dapat  membantu  menyebarkan  Islam  yang  damai. 
Karena  dari  segi  pemahaman  agama,  kelompok  moderat  lebih  kuat  dalam  menolak  logika 
kekerasan  yang  dikembangkan  oleh  kelompok-kelompok  radikal.  Islam  moderat  sendiri 
dimaknai  sebagai  Islam  yang  anti-kekerasan  dan  anti-terorisme.  Islam  moderat  identik 
dengan Islam yang bersahabat, tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrim kiri.   
 
SIMPULAN 
Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut. 
 
Letak  Indonesia  yang  strategis  dan  merupakan  kumpulan  dari  pulau-pulau  menyebabkan 
Indonesia  sering  dilewati  oleh  negara  lain.  Indonesia  terdiri  dari  beraneka  ragam  budaya 
sehingga  radikalisme  dapat  dengan mudah masuk dan menyebar di Indonesia. Radikalisme 
sudah  “menjangkiti”  aliran-aliran  sosial,  politik,  budaya,  dan  ekonomi.  Di  Indonesia,  aksi 
kekerasan  (teror)  yang  terjadi  dilakukan  oleh  sekelompok  orang  yang 
mengatasnamakan/mendompleng agama tertentu. 
Gerakan  radikalisme  di  Indonesia  dapat  merugikan  ketatanegaraan  NKRI  dan  juga  tidak 
sesuai  dengan  Pancasila.  Radikalisme  dapat  menjadikan  negera  dipandang  rendah  oleh 
bangsa  lain  sehingga  ekonomi  negara  memburuk,  sehingga  Pemerintahan  Indonesia harus 
berupaya  memulihkan  hal  tersebut  yang  tentu  merugikan  ketatanegaraan.  Selain  itu 
radikalisme  bertentangan dengan pancasila sila pertama. Tidak ada satupun agama yang di 
Indonesia  yang  mengajarkan  radikalisme  untuk  mencapai  tujuan  dari  suatu  umat 
beragama. 
Pendiri  bangsa  sebelumnya  sebenarnya  sudah  memberikan  antisipasi  terhadap  gerakan 
radikalisme  tersebut dengan membuat dan menjadikan undang-undang dasar 1945 sebagai 
pedoman  dan  pancasila  sebagai  dasar  negara. Kepolisian Indonesia juga telah menyiapkan 
pasukan  untuk  mengatasi  gerakan  radikalisme  yang  semakin  ramai  di  Indonesia.  Staf 
Menteri  Sosial  juga  menyarankan  pada  golongan  islam  moderat  untuk  mengajarkan  ajaran 
islam yang damai, sehingga ajaran islam radikal dapat terhentikan pergerakannya.