Anda di halaman 1dari 8

SID dan Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup Pengaman Pantai

Kabupaten Cilacap

C. Pengukuran Situasi Topografi

Pengukuran topografi dilakukan setelah pekerjaaan ” Inventarisasi secara


menyeluruh bangunan pengaman pantai” selesai. Dari pekerjaan ini telah ditetapkan
letak dan jenis bangunan pantai yang akan dibangun. Untuk pembangunan itulah
diperlukan pengukuran topografi. Survey dan pengukuran topografi mengikuti ketentuan
pada Persyaratan Teknis Bagian Topografi (PT-02) Standar Perencanaan dan Pd T-10-
2004-A (Pengukuran dan Pemetaan Terestris Sungai.

1. Langkah pengukuran topografi


a. Penetapan lokasi pengukuran
b. Orientasi lapangan
c. Penentuan titik BM
d. Pengukuran KKH dan KKV
e. Pengukuran Situasi
f. Analisis hasil pengukuran
g. Penggambaran
h. Ground check hasil penggambaran dengan kondisi lapangan
i. Gambar final
j. Laporan
2. Penetapan lokasi pengukuran topografi
Penetapan lokasi pengkukuran topografi ditentukan setelah survey investigasi seluruh
lokasi pekerjaan diselesaikan. Dari hasil survey investigasi akan ditetapkan lokasi-
lokasi yang perlu dilakukan pengukuran atau pemetaan topografi.
3. Orientasi lapangan
Setelah lokasi pengukuran topografi ditentukan langkah pertama yang akan dilakukan
ialah orientasi lapangan. Orientasi lapangan bertujuan untuk mengetahui kondisi atau
situasi lapangan lokasi yang akan dbuat peta topografinya. Dengan diketahuinya
situasi lokasi pengukuran, maka akan dapat ditentukan beberapa hal agar pengukuran
dapat berjalan lancar efektif dan efisien. Beberapa hal yang akan didesain ialah:
a. Penentuan lokasi titik-titik Bench Mark (BM) sebagai Kerangka Kontrol Horisontal
(KKH) dan sekaligus Kerangka Kontrol Vertikal (KKV), dan titik-titik polygon cabang
untuk pengukuran detail lapangan.
Lokasi BM akan dipilih pada lokasi:
 Mudah dilihat
 Mudah dijangkau
 Pada lokasi yang stabil (tanah yang kuat)
b. Penentuan jalur pengukuran
c. Penentuan lokasi titik-titik BM sebagai Kerangka Kontrol Horisontal (KKH),
Kerangka Kontrol Vertikal (KKV), dan pencarian titik ikat dari Badan Informasi
Geospasial (BIG).
d. KKH dan KKV yang dibuat akan diikatkan pada titik ikat (minimal satu titik) dari
KKH dengan Jaringan Kontrol Horizontal Nasional (JKHN) orde 0 atau orde 1 yang
nilai koordinatnya diperoleh dari Badan Informasi Geospasial (BIG). Salah satu titik
KKH juga bisa diikatkan dengan stasiun Continuosly Operating reference System
(CORS) yang setara dengan Orde-00.
Minimal salah satu titik KKV akan diikatkan pada minimal satu patok BM dari Titik
Tinggi Geodesi (TTG) pada Jaringan Kontrol Vertikal Nasional (JKVN) dari BIG.
Sebagai alternative, jaringan KKH dan KKV yang akan dibuat juga bisa diikatkan
dengan titik referensi geodesi paket pekerjaan di wilayah kerja satker Balai Besar
Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak yang sudah diikatkan di titik referensi JKVN
dari BIG.
4. Jaringan KKH
Kerangka peta yang akan dibuat ialah KKH dan KKV yang diikatkan dengan JKHN dan
JKVV. Pengikatan dlikakukan dengan GPS orde 0 atau orde 1. Pengukuran dengan
Global Navigation Satellite System (GNSS). Pengikatan koordinat (x,y) untuk
penentuan koordinat BM diukur dengan metode jaring triangulasi, metode relatif
statik, dengan minimum 1 titik ikat. Untuk alat receiver GNSS digunakan GPS dengan
dual frekuensi. Bila jarak maksimum antar receiver GNSS (panjang baseline) 5 km,
maka lama pengamatan 15 menit, bila panjang baseline 10 km, maka lama
pengamatan 30 menit, dan bila jarak baseline 30 km, maka lama pengamatan 60
menit.
5. Kerangka peta
Kerangka peta bisa berupa polygon tertutup atau polygon terbuka tergantung dari
bentuk wilayah yang dipetakan dan obyek yang dipetakan. Bila obyeknya mendekati
lingkaran, maka digunakan polygon tertutup dan bila obyek atau bentuk wilayah yang
akan dipetakan memanjang, maka digunakan polygon terbuka terikat sempurna.
a. Bila kerangka peta berupa polygon tertutup.
 Salah satu titik polygon harus diikatkan dengan BM KKH.
 Sudut horizontal diukur dengan alat ukur Total Station (TS) dengan ketelitian
alat 1 sekon dengan metode satu seri (Biasa – B dan Luar Biasa LB). Selisih
pengukuran sudut horizontal antara B dan LB maksimum 5 sekon.
 Kesalahan pengukuran sudut horizontal maksimum sebesar 10”√N. Dimana N
ialah jumlah titik polygon.
 Jarak kaki polygon diukur dengan EDM yang ada di TS dengan metode pergi
pulang atau dua kali pengukuran. Selisih pengukuran pergi-pulang maskimum 5
mm.
 Kesalahan linier penutup polygon utama maksimum lebih kecil sama dengan
(≤) 1:10.000.
b. Bila kerangka peta berupa polygon terbuka.
 Minimal dua titik poligon (titik awal dan titik akhir poligon) diikatkan dengan BM
KKH.
 Sudut horizontal diukur dengan alat ukur Total Station (TS) dengan ketelitian
alat 1 sekon dengan metode satu seri (Biasa – B dan Luar Biasa LB). Selisih
pengukuran sudut horizontal antara B dan LB maksimum 5 sekon.
 Kesalahan pengukuran sudut horizontal maksimum sebesar 10”√N. Dimana N
ialah jumlah titik polygon.
 Jarak kaki polygon diukur dengan EDM yang ada di TS dengan metode pergi
pulang atau dua kali pengukuran. Selisih pengukuran pergi-pulang maskimum 5
mm.
 Kesalahan linier penutup polygon utama maksimum lebih kecil sama dengan
(≤) 1:10.000.
 Azimuth awal dan azimuth akhir diukur dengan mengikatkan titik awal dan titik
akhir polygon ke titik yang diukur koordinatnya dengan mengikatkan ke KKH.
Dengan demikian ada 4 titik yang diikatkan dengan KKH.
c. Perhitungan koordinat polygon dilakukan dengan metode Bowditch.
d. Kerangka Vertikal
Elevasi titik-titik polygon diikatkan dengan minimal salah dua titik KKV yang telah
diikatkan dengan JKVN. Pengukuran beda tinggi titik-titik polygon dilakukan
dengan metode sipat datar. Metode pengukuran sipat datar yang akan digunakan
adalah sebagai berikut.
 Pengukuran dilakukan dengan alat ukur Sipat Datar orde satu dengan ketelitian
1 mm
 Metode pengukuran dilalukan dengan metode pergi pulang. Selisih pengukuran
beda tinggi pergi dengan beda tinggi pulang dalam satu hari (satu seksi)
maksimum 8 mm √D. D adalah panjang seksi dalam km.
 Untuk mencapai ketelitian pengukuran yang telah disyaratkan, maka metode
pengukuran sipat datar yang akan diterapkan adalah sebagi berikut.
 Setiap pengukuran dibaca benang atas (ba), benang tengah (bt), dan
benang bawah (bb). Sebagai control bt = (ba+bb)/2.
 Jumlah jarak kedepan dibuat sama dengan jumlah jarak kebelakang
 Jumlah slag dibuat genap.
6. Detail peta
Pengukuran detail peta dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode terestris
dengan alat TS dan dengan metode ekstraterestris menggunakan UAV ( Unmanned
Aerial Vehicle) non metric (fotogrammetri).
1) Pengukuran detail metode terestris
 Digunakan alat TS
 Metode pengukuran dengan system koordinat kutub.
2) Pengukuran detail dengan UAV non metric.
 Untuk pengikatan hasil ukuran Ground Control Points (GCPs) akan dilakukan
dengan pre-marking dan post-marking. Pre-marking dilakukan dengan
pembuatan sayap pada titik-titik yang GCP yang telah dibuat dan diketahui
koordinatnya. Untuk post-marking, GCPs akan di prik pada titik-titik yang
kenampakannya jelas, mudah dilihat, dan stabil.
 Untuk memudahkan pencarian titik-titik GCPs, maka akan dibuat deskripsi
lokasi GCPs dan daftar koordinatnya.
 Digunakan kamera non-metric yang dipasang pada wahana udara drone.
 Buffer pemotretan kurang lebih mempunyai lebar 3 km.
3) Pengukuran detail mencakup obyek alamiah dan obyek buatan manusia. Yang
dimaksud obyek alamiah seperti sungai, hutan, sawah, mangrove, dan lain-lain.
Sedangkan obyek buatan manusia seperti rumah, jalan, jembatan, dan yang lain.
7. Potongan memanjang dan melintang
Pengukuran potongan memanjang dan melintang dilakukan pada obyek sungai dan
pada obyek atau lokasi yang akan dibangun bangunan pengaman pantai.
a. Pada alur sungai
Cross section akan dilakukan dengan interval 100 m pada sungai yang lurus dan
interval 50 m pada sungai yang berbelok. Detail cross section mengikuti pola
penampang sungai yang ada. Titik-titik cross section diikatkan pada titik polygon
agar dapat digambar dan merupakan satu kesatuan system koordinat (X, Y, Z).
b. Pada lokasi yang akan dibangun bangunan pengaman pantai
Pengukuran penampang melintang dan memanjang pada lokasi ini akan dilakukan
dengan metode Sipat datar jaring (grid). Tujuannya untuk mencari volume galian
timbunan untuk pedataran tanah pada banguan pengaman pantai yang akan
dibuat. Titik-titik elevasi diikiatkan pada titik polygon agar dapat digambar dan
merupakan satu kesatuan system koordinat (X, Y, Z).
8. Perhitungan atau analisis
Perhitungan atau analisis yang akan dilakukan dalam pembuatan peta topografi ini
meliputi perhitungan KKH dan KKV. Secara prinsip perhitungan yang akan dilakukan
adalah sebagai berikut.
a. Perhitungan polygon tertutup
1) Penyelesaian dengan metode Bouwdich
 ∑S = (N - 2) . 1800
 ∑D sin α = 0
 ∑D cos α = 0
 N = jumlah titik polygon
 S = sudut dalam pengukuran polygon
 D = jarak kaki-kaki polygon
 α = Azimuth kaki-kaki polygon
b. Perhitungan polygon terbuka terikat sempurna
1) Penyelesaian dengan metode Bouwdich
 ∑S = (αakhir – αawal) + N . 1800
 ∑D sin α = (Xakhir – Xawal)
 ∑D cos α = (Yakhir – Yawal)
 N = jumlah titik polygon
 S = sudut dalam pengukuran polygon
 D = jarak kaki-kaki polygon
 α = Azimuth kaki-kaki polygon
c. Perhitungan detail
Perhitungan detail dengan metode system koordinat kutub, sehingga diperoleh
setiap koordinat titik-titik detail. Dengan koordinat yang diperoleh, maka dapat
digambar detail topografi yang telah diukur.
9. Bench Mark, Patok polygon, dan Patok bantu polygon
Bench Mark adalah titik yang berupa tugu dengan ukuran tertentu yang merupakan
titik ikat koordinat horizontal dan vertical dari pengukuran topografi. Titik BM
diturunkan dari JKHN dan JKVN. Patok polygon adalah titik-titik yang berupa tugu
yang merupakan titik polygon utama dari kerangka peta yang dibuat. Patok bantu
polygon ialah titik berupa patok beton dengan ukuran tertentu dari titik-titik polygon
cabang. Adapun spesifikasi dari BM, patok poligon, dan patok bantu adalah sebagai
berikut.
a. BM
BM dibuat dari beton cor dengan ukuran 20x20x100 cm, dicat warna biru dipasang
pada struktur tanah yang stabil/keras, diberi plat marmer ukuran 12x12 cm, dan
pada patok atas diberi kuningan seperti pada gambar dibawah ini, dipasang setiap
jarak 1 km.
Gambar 1. Spesifikasi titik BM

b. Patok polygon
Patok polygon dibuat sekaligus menjadi titik Control point (CP). CP diberi nomor
urut 1 sampai selesai. CP dibuat dari beton berukuran 10x10x80 cm, dicat warna
biru dipasang pada struktur tanah yang stabil/keras, dipasang dengan jarak 100-
150m dari BM, dan harus kelihatan satu sama lainnya (BM dengan CP). CP diberi
nomor kode pengenal yang terbuat dari plat marmer dengan bentuk dan ukuran
seperti Gambar 2.

c. Patok bantu
Patok bantu berupa patok dari kayu dengan ukuran 5x7x60 cm dipasang setiap ±
50 m yang berfungsi sebagai titik kontrol ketinggian dan titik-titik cross section.

Gambar 2. Spesifikasi control point.

10. Penggambaran
Penggambaran peta topografi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Peta akan digambar dengan skala 1 : 2.000
b. Kontur digambar dengan interval 1 m.
c. Peta digambar pada kalkir 80 gr atau 100 gr dengan ukuran A1 (594 x 841 mm).
d. Penggambaran peta dilakukan dengan mengikuti kaidah kartografi yang telah
ditetapkan oleh BIG.
e. Semua koordinat dijadikan satu sistem koordinat, yaitu UTM South dengan nomor
Zone 49 S.
f. Penggambaran peta setiap lembarnya dilengkapi legenda dan kop gambar, jika
ada potongan/lanjutan gambar, maka setiap lembar dilengkapi ( key plan) yang
terdiri:
 Peta Ikhtisar maksimal skala 1:25.000 atau lebih besar;
 Peta Situasi dengan skala 1 : 1.000 atau 1: 2.000;
 Gambar tampang melintang dengan skala horisontal 1:200 dan vertikal 1:200;
 Gambar tampang panjang dengan skala horisontal 1 : 1000 dan vertikal 1 :
100;
 Peta Foto Udara Skala 1: 2500
11. Pelaporan
Laporan hasil pengukuran topografi terdiri dari beberapa buku, yaitu:
a. Buku ukur
Buku ini berisi data hasil ukuran, perhitungan, dan koordinat
b. Buku ukur titik control
Buku ini berisi buku daftar koordinat BM, Control points, titik-titik poligon, dan
koordinat cross section
c. Buku laporan pelaksanaan pengukuran detail dengan non-metric fotogrammetri
Buku ini berisi laporan pelaksanaan pekerjaan non-metric fotogrammetri
d. Album peta
Berisi seluruh peta yang dihasilkan dalam pekerjaan ini

D. Pengukuran Bathimetry

Pengukuran bathimetry akan dilakukan pada:


a. Di daerah hilir sungai, muara sungai dan, lepas pantai untuk keperluan pemetaan
dasar perairan.
b. Pengukuran bathimetri harus diikatkan pada titik BM dan CP yang sudah diikatkan
pada JKHN dan JKVN.
c. Pengukuran menggunakan singlebeam echosounder/ fishfinder, dengan klasifikasi
Orde khusus dengan ketelitian seperti SNI 7646-2010. Ilustrasi pengukuran
kedalaman dapat dilihat pada gambar 3.
d. Alat yang akan digunakan ialah Singlebeam Echosounder
e. Penentuan posisi titik pemeruman dilakukan dengan receiver Global Navigation
System (GNSS) yang ditaruh di atas kapal survey. Contoh alur pemeruman dapat
dilihat pada Gambar 4.
f. Pengamatan pasang surut dilakukan dengan Automatic Tide Gauge. Pasang surut
diukur selama 31 piantan (hari). Data pasang surut dianalisis menggunakan metode
Admiralty. Interval perekaman data pasang surut setiap satu jam mulai dari pukul
00:00-23:00.
g. Secara prinsip pengukuran bathinmetri yang akan dilakukan dapat dilihat pada
diagram alir yang disajikan pada Gambar 5.
Data
Pasang
Gambar 3. Proses Singlebeam Echosounder
Surut

Gambar 4. Contoh alur pemeruman


Diolah dengan
metode
Admiralty
Elevasi Muka
Air Laut (MSL)
Da
(Tr
Pet
(2
Mulai
Data Bathimetri
Pengolahan Gambar 5. Prinsip alur pengukuran bathimery
data bathimeri
terkoreksi
duser dan
MSL
Ploting
data
Bathimetri
dan 3D)
Selesa
i