Anda di halaman 1dari 9

MEMBANGUN RELASI PERSAUDARAAN YANG POSITIF DAN

MENYEMBUHKAN PASCA BOM TERORISME1


Fidelis Waruwu, M.Sc.Ed2

Hati memiliki akalnya sendiri yang tidak dikenal oleh akal (Paskal)

Pengantar

Seluruh makhluk hidup berlasi dengan makhluk hidup lain dengan penuh kasih
sayang. Seperti kita saksikan dalam video kehidupan burung-burung yang dikompilasi
oleh Harun Yahya. Melalui relasi kasih sayang itu setiap orang bisa berkembang dan
bertumbuh. Tanpa relasi yang positif ini, manusia mengalami hambatan dalam
pertumbuhan.

Relasi itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang memulai
kehidupannya dengan membangun relasi. Tanpa relasi ini, manusia tidak mungkin bisa
memulai kehidupannya. Hal itu yang kita lihat dalam film bagaimana sel telur menjadi
embrio dan menjadi bayi dalam kandungan ibunya, yakni melalui adanya relasi dengan
Ibunya. Maka relasi ini adalah bagian kodrat esensial hidup manusia.

Relasi yang rusak

Kerusakan relasi bisa disebabkan oleh adanya prasangka, menjelekkan ras, menilai
penampilan, apa yang mereka gunakan, melihat orang yang berbeda dengan prasangka-
prasangka. Rasa sakit yang diakibatkan oleh perlakuan pembedaan suku itu, seperti
jarum yang ditusukkan ke jantung seseorang. Sangat menyakitkan.

Ketika kita membenci orang lain, membenci budaya etnis tertentu, kita merusak
struktur sosial masyarakat. Kebencian ini sering tidak terlihat, tapi dirasakan sungguh-
sungguh. Melahirkan kebencian dan ketidaknyamanan dalam masyarakat.

1
Dibawakan dalam acara Pertemuan Tokoh Agama Katolik Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang
di Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya, pada Hari Senin, 23 juli 2018
2
Fidelis Waruwu, M.Sc.Ed adalah Direktur Education Training & Consulting, Jakarta. CV lihat di
www.fidelis.waruwu.org

1
Bagaimana Cara Mengatasinya?

Hal apa yang perlu kita lakukan menghadapi sikap-sikap fanatik, hinaan rasial,
pembedaan-pembedaan yang ditimbulkan oleh perilaku-perilaku fanatisme suku,
agama, ras, dan golongan?

Cara terbaik adalah kita kembali ke nilai dasar yang menjadi kodrat umat manusia.
Yakni menghidupi nilai kasih sayang melaui komunikasi persaudaraan. Untuk itu kita
perlu meningkatkan kemampuan kita berkomunikasi secara efektif dan memberikan
rasa persaudaraan. Berikut ini kita akan membahas dasar-dasar komunikasi yang
efektif:

Belajar Memahami Lebih Dulu

Illustrasi: orang yang sakit mata diobati dengan “kaca mata” si-tukang kacamata,
tanpa terlebih dahulu mengadakan diagnosa terlebih dahulu atas sakit matanya, sebelum
menuliskan resep. Hal yang sama: berapa kali kita mendiagnosa sebelum kita menuliskan
resep dalam komunikasi?

Kerap kita cenderung mau menyerbu masuk (memberi nasehat, saran) tanpa
mendiagnosa, untuk benar-benar mengerti secara mendalam masalahnya terlebih
dahulu. Prinsip paling penting untuk komunikasi efektif adalah “Berusaha mengerti
terlebih dahulu, baru dimengerti.”

Bentuk dasar komunikasi: membaca-menulis, berbicara-mendengarkan. Sudahkah kita


mengerjakan ke-empat hal itu dengan baik? Komunikasi adalah keterampilan paling
penting dalam hidup. Kita sudah menghabiskan banyak waktu untuk belajar berbicara
dan membaca, tapi “mendengar”? Bila kita mendengar, apakah kita benar-benar mengerti
orang lain secara mendalam dari kerangka acuan orang itu sendiri?

Bila Anda ingin mempengaruhi saya, seseorang lain, Anda terlebih dahulu perlu
mengerti “saya” atau “orang lain” itu. Bagaimana caranya? Bagaimana membuat dia
cukup aman untuk membuka diri kepada kita? Kuncinya adalah contoh Anda, tingkah
laku Anda yang aktual. Hal itu jelas kepadanya melalui pengalamannya berhubungan
dengan kita.

2
Karakter kita terus menerus memancar, berkomunikasi. Dalam jangka panjang, orang
lain akhirnya secara naluriah memperoleh segala informasi, bisa mereka percaya atau
tidak kepada kita. Hanya apabila orang cukup aman untuk membuka diri, baru orang itu
bisa terbuka kepada kita.

Perlu keterampilan mendengar secara empatik dan rekening Bank Emosi yang
menciptakan transaksi antarhati.

“Mengerti terlebih dahulu...” Tapi banyak orang tidak mendengar dengan maksud untuk
mengerti. Mereka mendengar dengan maksud untuk menjawab. Mereka menyaring
segalanya melalui paradigma mereka, membacakan autobiografi mereka ke dalam
kehidupan orang lain. [oh saya tahu persis bagaimana perasaan Anda, saya pernah
mengalami hal yang sama...]. Mereka terus menerus memproyeksikan “film buatan
sendiri” pada perilaku orang lain. Mereka memberi “resep kaca mata” sendiri kepada
orang yang berinteraksi dengan mereka.

Orang tua banyak mengeluh “anaknya tidak mendengarkan” nasehatnya. Anak tidak
mendengarkan orang tua...? Mengapa? Sudahkah kita (= orang tua) mengerti terlebih
dahulu anak itu? Atau kita dipenuhi oleh kebenaran kita sendiri, autobiografi kita
sendiri, dan tidak pernah benar-benar mengerti apa yang sedang berlangsung dalam
diri orang lain?

Ketika orang lain berbicara, kita biasanya mendengarkan dalam salah satu empat
tingkat berikut: (a) mengabaikan, kita tidak benar-benar mendengarnya; artinya kita
berpura-pura mendengar; (b) mendengar secara selektif, mendengar hanya bagian-
bagian tertentu dalam percakapan (seperti kita mendengar celoteh anak-anak); (c)
mendengar secara atentif, menaruh perhatian dan memfokuskan energi pada kata-kata
yang sedang diucapkan; dan (d) mendengar dengan empatik, yakni mendengar dengan
maksud untuk mengerti.

Empati artinya masuk ke dalam kerangka acuan orang lain. Anda memandang keluar
melewati “kerangka acuan” orang itu. Kita melihat dunia dengan cara mereka melihat
dunia. Kita mengerti paradigma mereka, perasaan mereka.

Empati bukanlah simpati. Simpati merupakan semacam kesepakatan, semacam


penilaian, kadang merupakan emosi dan respons yang lebih cocok. Tapi orang yang

3
sering hidup dari simpati menjadi orang yang tergantung. Mendengar secara empatik
bukanlah berarti kita harus setuju dengan mereka, tapi bahwa kita sepenuhnya, secara
mendalam, mengerti orang itu, secara emosional sekaligus intelektual.

Mendengar empatik memerlukan jauh daripada sekedar merekam, merenungkan, atau


mengerti kata-kata yang diucapkan. Percobaan perhitungan statistik: 10% komunikasi
diwakili dengan kata-kata yang kita ucapkan; 30% diwakili oleh suara kita dan 60% oleh
bahasa tubuh. Maka penting mendengarkan dengan telinga, mata dan hati kita, dalam
mana kita menangkap “perasaan” dan “makna”. Di situlah kita dapat
memahami,berintuisi dan merasa. Kita mendengar untuk mengerti.

Dalam teori motivasi dikatakan bahwa kebutuhan yang sudah terpenuhi tidak akan
memotivasi lagi. Hanya kebutuhan yang belum terpenuhilah yang memotivasi. Selain
kebutuhan biologis, manusia mempunyai kebutuhan psikologis untuk dimengerti,
diteguhkan, diabsahkan, dihargai. Bila kita mendengar dengan empatik kita memberi orang
itu “udara psikologis” berarti (kebutuhan vital) orang itu terpenuhi, kemudian kita
dapat memberi pengaruh atau ide-ide pemecahan masalah kepada ybs.

Memahami dan mengerti kebutuhan dan kekhawatiran seseorang dapat membuat


orang itu bersikap terbuka. Berusaha mengerti terlebih dahulu, mendiagnosa sebelum
membuat resep, memang sulit. Jauh lebih mudah meminjamkan kaca mata yang sudah
cocok untuk kita bertahun-tahun.

Mendengar secara empatik juga punya resiko. Dibutuhkan banyak sekali rasa aman
untuk mendengarkan secara mendalam, karena kita membuka diri kita untuk
dipengaruhi.

Penjual yang efektif berusaha terlebih dahulu untuk mengerti kebutuhan,


kekhawatiran, situasi pelanggan. Penjual amatir menjual produk, penjual profesional
menjual solusi untuk kebutuhan dan masalah. Penjual profesional belajar bagaimana
mendiagnosa bagaimana mengerti. Ia juga belajar menghubungkan kebutuhan orang dan
jasanya. Dengan menghakimi terlebih dahulu, orang tidak akan pernah mengerti
kenyataan yang sebenarnya.

4
Empat respons autobiografis

1. Mengevaluasi: kita setuju atau tidak setuju. Bisakah kita mengerti seseorang bila
kita mengevaluasi semua yang dikatakannya sebelum ia benar-benar
menjelaskannya? Apakah saya memberinya “udara psikologis”?

2. Menyelidik: kita mengajukan pertanyaan dari kerangka acuan kita sendiri.


Menyelidik erat hubungannya dengan mengendalikan dan menguasai. Sikap yang
menyelidiki biasanya dijauhi orang, orang tua yang penuh selidik tidak dapat
dekat dengan anak-anaknya. Anak tidak akan mau membuka diri.

3. Menasehati: kita memberikan nasehat berdasarkan pengalaman kita sendiri. Anak


biasanya belajar untuk tidak jujur dari pengalamannya, bahwa setiap kali ia
membuka kelemahannya, orang tua menghantamnya dengan nasehat
autobiografis, “kan sudah ayah katakan!”

4. Menafsir: kita berusaha memahami orang, menjelaskan motif mereka, perilaku mereka,
berdasarkan motif dan tingkah laku kita sendiri.

Kita memperoleh informasi yang sangat terbatas, kalau kita berusaha mau mengerti
orang lain berdasarkan kata-kata saja, apalagi kalau melihat orang itu melalui kaca mata
kita sendiri. Kita tidak dapat mengerti autobiografi orang lain melalui autobiografi kita.

Empat tingkat keterampilan mendengar empatik

1. Meniru isi: merupakan keterampilan mendengar secara aktif atau reflektif. Tapi,
tanpa dasar “karakter dan hubungan”, hal ini sering seolah menghina orang dan
menyebabkan mereka menutup diri. Tapi ini keterampilan tingkat awal, karena
dengannya kita mendengarkan apa yang sedang dikatakan kepada kita.

2. Menyatakan isi dengan cara lain: artinya mengulangi apa yang dikatakan orang
lain, tanpa mengevaluasi, menyelidiki, menasehati atau menafsir apa yang
dikatakan, tapi berpikir persis menurut kerangka pikirannya.

3. Merefleksikan perasaan: artinya menangkap perasaan yang dikomunikasikannya


dan merefleksikan perasaan itu berupa komunikasi bahwa “kita telah mengerti
perasaannya”.

5
4. Mengulang isi dan merefleksikan perasaan: Ketika kita sungguh-sungguh
berusaha untuk mengerti, ketika kita mengulang “isi” dan merefleksikan “perasaan”
kita memberi lawan bicara kita “udara psikologis”. Kita juga membantunya
mengkaji pikiran dan perasaannya. Keyakinannya pada kita tumbuh, bahwa kita
benar-benar ingin mendengar dan mengerti, maka hilanglah penghalang antara apa
yang berlangsung dalam dirinya dan apa yang sedang dikomunikasikan pada kita.
Hal ini membuka aliran jiwa dengan jiwa. Orang tidak memikirkan dan merasakan
satu hal dan mengkomunikasikan hal lain.

Relasi Yang Menyembuhkan

Dalam komunikasi, yang berusaha “mengerti terlebih dahulu” kita memiliki peluang
untuk mengubah “transaksional” menjadi peluang “transformasional”. Artinya kita
beralih dari level permukaan komunikasi, dengan menciptakan situasi dimana kita
memiliki dampak yang mentransformasikan. Selain kita memiliki persamaan sudut
pandang, komunikasi ini juga memungkinkan kita untuk menjalin hubungan pribadi
yang terbuka.

Dalam komunikasi perlu selalu diperhatikan “respons” orang lain, apakah “respons
logis” (berarti dapat mengajukan pertanyaan dan memberi nasehat) atau “respons
emosional” (berarti perlu didengarkan dan dirasakan).

Illustrasi mengenai “mengupas bawang” lapis demi lapis hingga sampai pada bagian
yang terdalam yang lunak. Demikian efek mendengarkan secara empatik. Jika orang benar-
benar terbuka, dan kita benar-benar mendengarkan dengan keinginan murni untuk
mengerti, kita akan takjub melihat betapa cepatnya mereka membuka diri. Anak-anak
mau membuka diri, jika mereka merasa bahwa orang tua mereka “mencintai mereka
tanpa syarat” dan akan “setia kepada mereka” sesudahnya dan tidak menghakimi atau
mengolok-olok mereka.

Keterampilan mendengar aktif tidak akan efektif kalau itu tidak datang dari
“keinginan tulus” untuk mengerti. Orang tidak menyukai upaya apa pun untuk
memanipulasi mereka. Jadi baguslah sikap terus terang.

6
Seorang yang mendengar empatik dapat membaca apa yang sedang terjadi secara
mendalam dan cepat, dan dapat pemperlihatkan penerimaan sebegitu rupa, pengertian
sedemikian rupa, hingga orang lain merasa aman untuk membuka lapis demi lapis
sampai tiba pada inti terdalam yang lunak tempat masalah benar-benar ada. Orang
ingin dimengerti!

Pengertian dan Persepsi

Setiap orang memiliki cara “persepsi”nya sendiri. Jadi ada perbedaan besar dalam
persepsi. Kita melihat “wanita yang sama” tapi Anda bisa melihat “wanita muda” dan
saya melihat “wanita tua”. Dan kita berdua sama-sama benar. Anda melihat wanita dari
kaca mata pasangan sedangkan saya melihatnya dari lensa yang berfokus pada “uang”
dan keuntungan “ekonomis”. Naskah hidup seseorang mungkin ditulis dalam
mentalitas kelimpahan sedangkan naskah hidup kita ditulis dalam mentalitas kelangkaan.
Orang lain mungkin mendekati masalah dari padardigma otak kanan (sangat visual,
intuitif dan menyeluruh), kita mungkin sangat bertotak kiri (sangat berurutan, analitis
dan verbal). Kita sudah hidup dengan paradigma “mentalitas” atau cara “persepsi” kita
selama bertahun-tahun; hingga kita berpikir bahwa paradigma kita tadi adalah “fakta”
dan mempertanyakan “paradigma orang lain” yang tidak melihat apa yang kita lihat itu
sebagai fakta.

Setiap individu punya “persepsi”nya sendiri-sendiri. Dengan semua perbedaan itu,


kita berusaha bekerja sama, dalam perkawinan, pekerjaan, proyek pelayanan
masyarakat, dll. Bagaimana kita dapat mengatasi keterbatasan persepsi individual kita
supaya kita dapat berkomunikasi secara mendalam? Yakni dengan berusaha mengerti
terlebih dahulu.

Berusaha untuk mengerti

Berusaha lebih dahulu untuk mengerti ... baru dimengerti. Untuk mengerti
memerlukan tenggangrasa, sedangkan berusaha untuk dimengerti, memerlukan
keberanian.

Orang Yunani mempunyai filosofis yang hebat dalam tiga kata yang disusun secara
berurutan, “ethos”, “pathos” dan “logos” (= karakter, hubungan pribadi, dan logika
presentasi). Ethos adalah kredibilitas pribadi kita, kepercayaan yang orang miliki akan

7
integritas dan kecakapan kita. Pathos adalah sisi empatik, yaitu perasaan. Ini berarti kita
selaras dengan pendalaman emosional dari komunikasi orang lain. Logos adalah logika,
bagian penalaran dari presentasi.

Kebanyakan orang dalam membuat presentasi langsung menuju logos, logika otak
kiri dari gagasan mereka. Mereka berusaha meyakinkan orang lain dari keabsahan
logika itu tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan ethos dan pathos.

Jika kita dapat menyajikan gagasan kita dengan jelas, spesifik, visual dan kontekstual
(dalam konteks paradigma pendengar kita) kita dapat meningkatkan kredibilitas
gagasan kita secara signifikan. Kita tidak terbungkus dalam “urusan sendiri”
menyampaikan pidato muluk dari atas “peti sabun”, tapi kita sungguh-sungguh
mengerti apa yang kita sampaikan.

Tanda bahwa kita benar-benar mendengarkan adalah kenyataan bahwa kita dapat
dipengaruhi. Dan dapat dipengaruhi adalah kunci untuk mempengaruhi orang lain.
Semakin dalam kita mengerti orang lain, semakin kita menghargai mereka, semakin kita
hormati perasaan-perasaan mereka. Menyentuh jiwa manusia lain sama juga dengan
berjalan di atas Tanah Suci.

Mendengar secara empatik membuat kita dapat merasakan hati orang lain, dan luka-
luka mereka. Jangan mendesak, bersabarlah, bersikaplah hormat. Jika kita sangat
proaktif, kita perlu meremnya dengan berusaha mengerti terlebih dahulu, meluangkan
waktu, pahami mereka.

Tips Praktis: Membangun Relasi Yang Menyembuhkan

Bagaimana membangun relasi persaudaraan yang menyembuhkan? Ada beberapa


tips praktis yang dapat dilakukan. Kita perlu mengembangkan sikap dasar kodrat
manusia yakni sikap kasih.

Agar setiap orang bisa merasakan kasih sayang ada 4 tips yang bisa kita hidupi
dalam komunikasi kita sehari-hari.

Tips Pertama: Dalam berkomunikasi kita membuat setiap orang merasa aman (dengan
cara bicara kita, cara kita bertindak, dan juga dalam cara kita berkomunikasi. Untuk itu

8
kita belajar berkomunikasi tanpa merendahkan orang lain, mengirim kritik yang
mempermalukan atau membuat orang lain tidak merasa nyaman.

Tips Kedua: Dalam berkomunikasi dengan siapa pun, kita menunjukkan bahwa
mereka yang berkomunikasi dengan kita adalah pribadi yang bernilai. Maka kita
mendengar mereka dengan tulus, dengan penuh penghargaan. Kita menerima lawan
komunikasi kita apa adanya, sebagaimana adanya dirinya.

Tips Ketiga: Kita senantiasa menunjukkan penghargaan, memberi apresiasi terhadap


karya-karya yang telah dilakukan oleh rekan-rekan kita. Kita menyampaikan
penghargaan kita itu dalam bentuk yang nyata, seperti hadir memberi dukungan moral
dan spiritual.

Tips Keempat: Bila lawan komunikasi kita melakukan kesalahan, kita tidak membesar-
besarkannya. Kita mencoba memahami dan mengerti dari sudut pandangnya. Bila ada
yang bisa kita bantu untuk memperbaiki situasi, kita melakukannya dengan senang
hati. Dengan demikian ketika terjadi kesalahan, justru di situlah kita membawa
kedamaian, dengan hadir penuh empati dan memberi uluran tangan untuk
memperbaiki keadaan sesuai kemampuan kita.

Bacaan:

Stephen R. Covey, The 7 habits of highly effective people, (terbitan Indonesia: Jakarta,
Binarupa Aksara, 1977) Bagian II, “Berusaha mengerti lebih dulu, baru
dimengerti” hal. 233 – dst.

Diane Tillman. (2001). Living Values Educational Programme. Educator Training Guide.
Deerfield Beach, Florida: Health Communications, Inc.