Anda di halaman 1dari 8

SEJARAH TERJADINYA PERANG SALIB

Terjadinya Perang Salib antara Timur-Islam melawan Barat-Kristen


disebabkan oleh banyak faktor utama, seperti agama, politik, dan
sosial ekomomi. Semua bermula pada tahun 1070, ketika Yerusalem
diambil oleh bani Saljuk dari Turki, dan pada 1071 Diogenes, kaisar
Yunani, dikalahkan dan ditawan di Mantzikert.

Asia Kecil dan seluruh Suriah menjadi milik bani Saljuk. Antiokhia
menyerah pada tahun 1084, dan pada tahun 1092 tidak ada satu pun
kota besar di Asia yang dikuasai oleh Kristen.

Hal ini diperparah dengan aturan dari bani Saljuk yang membatasi
dan memperketat ziarah umat Kristen ke Yerusalem. Hal ini
mendorong umat Kristen untuk mendapatkan kebebasannya kembali
dengan berusaha merebut Yerusalem dari tangan kaum Muslim.

Pada tahun 1095, Kaisar Alexius Komnenus meminta Paus Urbanus II


untuk mengobarkan semangat perang salib kepada umat Kristen di
Eropa. Untuk menyatukan kekuatan, ia menyerukan peperangan
dengan tujuan menundukkan gereja-gereja di Timur yang dikuasai
oleh umat Islam.

1. Perang Salib Pertama (1095-1101)


Pada bulan Maret 1095 di Konsili Piacenza, duta besar yang dikirim
oleh kaisar Bizantium, Alexius Komnenus (Alexius I), meminta
bantuan untuk mempertahankan kerajaannya melawan Turki
Seljuk. Sedangkan di Konsili Clermont, Paus Urbanus II meminta
seluruh umat Kristen untuk bergabung dalam perang melawan Turki
Seljuk.

Paus Urbanus II memberikan jaminan kepada siapa pun yang ikut


serta dan mati saat perang salib, bahwa mereka akan masuk surga
walaupun mempunyai banyak dosa pada masa lalunya.

Setelah turun ke medan perang, tentara salib berhasil mengalahkan


dua pasukan besar Turki di Dorylaeum dan di Antiokhia. Mereka
akhirnya berbaris ke Yerusalem dengan sebagian kecil pasukan yang
tersisa. Pada 1099, mereka berhasil merebut Yerusalem dan
menciptakan negara-negara tentara salib kecil yang menjadi bagian
dari Kerajaan Yerusalem.

2. Perang Salib Kedua (1145-1150)

Setelah masa damai, di mana umat Kristen dan Muslim hidup


berdampingan di Tanah Suci Yerusalem, tentara Islam yang dipimpin
oleh Imad ad-Din Zengi merebut Aleppo dan Edessa.

Kekalahan-kekalahan ini menyebabkan Paus Eugenius III menyerukan


perang salib lainnya pada tanggal 1 Maret 1145. Perang salib baru ini
didukung oleh berbagai pengkhotbah, yang paling terkenal adalah
Bernardus dari Clairvaux.

Tentara Prancis dan Jerman, di bawah pimpinan Raja Louis VII dan
Konrad III, berbaris ke Yerusalem pada tahun 1147 tetapi gagal
mencapai keberhasilan besar. Pada 1150, kedua pemimpin besar itu
kembali ke negaranya dengan tangan kosong.
3. Perang Salib Ketiga (1188-1192)
Setelah serangkaian kekalahan yang dialami oleh pasukan Salib Eropa
pada Perang Salib II, seorang pemimpin besar pasukan Muslim pun
muncul ke permukaan. Ia adalah Salahuddin Al-Ayyubi.

Namanya mencuri perhatian banyak pasukan Kristen Eropa karena


berhasil mengalahkan banyak pasukan di pihak mereka yang
mengakibatkan mereka gagal dalam misi Perang Salib II.

Pada masa awal pemerintahan Salahuddin Al-Ayyubi sebagai


penguasa Mesir, ia sukses menyatukan dua wilayah besar, yaitu Syria
dan Mesir. Sebuah prestasi yang luar biasa bagi seorang pemimpin
baru, mengingat kedua wilayah itu sejak ribuan tahun lalu memiliki
hubungan yang kurang harmonis.

Ketika itu Syria dipimpin oleh Dinasti Zengid, sedangkan Mesir


dipimpin oleh Khalifah Fatimiyah.

Pasukan Syria dan pasukan Mesir yang sukses disatukan di bawah


pimpinan Salahuddin Al-Ayyubi diarahkan untuk menghentikan
dominasi negara-negara Kristen yang ada di kawasan Asia Kecil.

Misi Salahuddin Al-Ayyubi tersebut dapat dikatakan sukses besar


karena mereka berhasil merebut wilayah Jerusalem dari tangan
pasukan salib pada 1187. Hal inilah yang lantas kemudian memicu
berkobarnya Perang Salib III yang berlangsung pada 1189 sampai
1192.

Berita mengenai jatuhnya wilayah Jerusalem ke tangan pasukan


Muslim telah menyebar di daratan Eropa. Ketika itu raja Henry II dari
Inggris dan raja Philippe Auguste dari Prancis bersepakat untuk
menghentikan perselisihan di antara kedua kerajaan besar itu demi
menyatukan kekuatan untuk merebut kembali wilayah Jerusalem
dari pasukan Muslim.
Namun pada 1189, raja Henry II meninggal dunia, dan kepemimpinan
pasukan Inggris dialihkan kepada Richard I, yang dikenal dengan
julukan “Richard the Lion Heart”.

Selain aliansi antara Inggris dan Prancis, kerajaan Romawi Suci di


Jerman pimpinan Friedrich Barbarossa juga berencana ikut serta
dalam misi Perang Salib III. Tetapi sayangnya, Friedrich Barbarossa
yang telah lanjut usia gagal mencapai wilayah Jerusalem karena
ketika melintasi wilayah Anatolia, pada 10 Juni 1190 ia mengalami
kecelakaan hingga tenggelam di sungai.

Meninggalnya pemimpin pasukan Romawi Suci itu membuat


sebagian besar pasukannya memutuskan untuk kembali ke Jerman,
dan hanya sebaian kecil yang melanjutkan perjalanan menuju
Jerusalem.

Setibanya di Jerusalem, pasukan salib pimpinan raja Philippe Auguste


langsung menyerang wilayah kerajaan Jerusalem. Setelah melalui
serangkaian peperangan yang sangat berat, akhirnya pasukan salib
Prancis dapat merebut kota Akko dari tangan pasukan Muslim.

Namun akibat dari pertempuran besar itu persediaan senjata dan


logistik pasukan Prancis sudah sangat terkuras sehingga jika ada
serangan dari pasukan Muslim mereka tidak akan dapat bertahan.
Akhirnya pasukan Prancis memutuskan untuk mundur dan pergi
meninggalkan Jerusalem pada Agustus 1191.

Berbeda dengan pasukan Prancis, pasukan Inggris pimpinan Richard


the Lion Heart memutuskan untuk melakukan pengepungan ke
wilayah kerajaan Jerusalem. Richard berkeinginan untuk merebut
secara total kerajaan Jerusalem dari pihak Muslim pimpinan
Salahuddin Al-Ayyubi. Tetapi misi Richard tersebut sangat sulit untuk
diwujudkan. Pasukan Salahuddin Al-Ayyubi memperlihatkan
pertahanan yang sangat kokoh, hampir tidak ada celah untuk
pasukan salib melancarkan serangan mereka. Upaya demi upaya
yang dilakukan oleh pasukan salib Richard the Lion Heart malah
mengakibatkan kerugian logistik bagi mereka sehingga mereka
kesulitan untuk bertahan di wilayah Jerusalem.

Pada 2 Semptember 1192, kedua pemimpin besar pada Perang Salib,


yaitu Salahuddin Al-Ayyubi dan Richard the Lion Heart memutuskan
untuk melakukan sebuah perjanjian. Ketika itu pihak pasukan salib
bersedia memberikan kendali atas Jerusalem pada Salahuddin Al-
Ayyubi, tetapi dengan syarat otoritas Muslim di Jerusalem harus
memberikan akses kepada para pedagang dan peziarah Kristen yang
hendak mengunjungi tanah suci mereka.

Setelah kesepakatan di setejui oleh kedua pihak, Richard menarik


mundur pasukan Salib Inggris untuk pergi meninggalkan wilayah
Jerusalem pada 2 Oktober 1192. Dalam Perang Salib III, pasukan salib
Eropa memang berhasil mempertahankan dan merebut wilayah di
Siprus dan pesisir Syria, namun mereka gagal dalam misi utama
berkobarnya Perang Salib III yaitu merebut wilayah Jerusalem.

4. Perang Salib Keempat (1202-1204)

Perang Salib Keempat dimulai pada tahun 1202 oleh Paus


Innosensius III, dengan maksud untuk menginvasi Tanah Suci melalui
Mesir. Perang ini juga menjadi kendaraan bagi ambisi politik Doge
Enrico Dandolo dari Venesia untuk memperluas kekuasaan Venesia
di Timur Dekat dan melepaskan diri dari Bizantium.

Tentara Salib pun membuat kontrak dengannya, namun tidak


memiliki dana untuk membayar armada dan ketentuan yang telah
mereka kontrak. Dandolo pun meminta mereka untuk mengalihkan
perang salib ke Bizantium, dengan kota Zara sebagai jaminan
awalnya.
Paus Innosensius III yang terkejut karena peristiwa itu, langsung
mengekskomunikasi mereka semua. Walau begitu, mereka kembali
melakukan pengepungan pada bulan April 1204. Kali ini
Konstantinopel berhasil dijarah, gereja-gereja dirampok, dan banyak
penduduk yang dibunuh.

Para tentara salib membagi kekaisaran ini menjadi berbagai fief Latin


dan koloni Venesia. Perang Salib Keempat berakhir setelah Bizantium
terbagi menjadi dua bagian besar.

5. Perang Salib Kelima (1217)

Melalui prosesi, doa, dan khotbah, Gereja berusaha untuk kembali


mengadakan perang salib. Pada tahun 1215, Dewan Keempat
Lateran merumuskan sebuah rencana untuk pemulihan Tanah Suci.

Pada fase pertama, pasukan perang salib dari Hongaria, Austria


bergabung dengan pasukan raja Yerusalem dan pangeran Antiokhia
untuk merebut kembali Yerusalem di tahun 1217.

Pada fase kedua, pasukan perang salib mencapai prestasi luar biasa
setelah berhasil mengepung Damietta di Mesir pada tahun
1219. Namun di bawah desakan seorang legatus kepausan, Pelagius,
mereka melanjutkan serangan bodoh ke Kairo, dan blokade pasukan
Sultan Ayyubiyyah Al-Kamil memaksa mereka untuk menyerah dan
mengadakan gencatan senjata.

6. Perang Salib Keenam (1228-1229, 1239)

Setelah berulang kali melanggar sumpahnya dalam perang salib,


Kaisar Friedrich II diekskomunikasi oleh Paus Gregorius IX pada tahun
1228. Namun ia berlayar dari Brindisi, mendarat di Palestina, dan
melalui diplomasi ia mencapai kesuksesan yang tak terduga. Al-Kamil
memberikan Yerusalem, Nazareth, dan Betlehem kepada tentara
salib dalam jangka waktu sepuluh tahun.

Sebagai imbalannya, Friedrich berjanji untuk melindungi Al-Kamil


dari semua musuh, sekalipun mereka umat Kristen. Setelah masa
tenang ini, Perang Salib Para Baron pun terjadi.

Perang ini adalahi suatu upaya oleh Raja Thibaut I dari Navarre pada
tahun 1239 dan 1240, yang berawal dari panggilan Paus Gregorius IX
untuk kembali menghimpun tentara salib pada bulan Juli 1239
setelah gencatan senjata berakhir.

Selain Thibaut, Peter dari Dreux, Hugues IV dari Bourgogne dan


bangsawan Prancis lainnya juga ikut berpartisipasi di dalamnya.
Mereka tiba di Akko pada bulan September 1239.

Setelah kekalahan pada bulan November di Gaza, Thibaut mengatur


dua perjanjian, satu perjanjian dengan kaum Ayyubiyyah dari
Damaskus dan perjanjian lainnya dengan kaum Ayyubiyyah dari
Mesir. Perjanjian ini membuat sebagian bangsawan tidak senang,
dan Thibaut kembali ke Eropa setelahnya.

7. Perang Salib Ketujuh (1249-1254)

Kepentingan kepausan yang diwakili oleh templar (ksatria salib)


membawa konflik dengan Mesir pada 1243. Pada tahun berikutnya,
pasukan Khwarezm yang dipanggil oleh anak Al-Kamil, Al-Adil,
menyerbu Yerusalem.
Tentara salib, dengan gabungan kaum Franka dan tentara bayaran
Badui tetap kalah telak oleh pasukan Baibars dari suku Khwarezmian
dalam kurun waktu empat puluh delapan jam.

Pertempuran ini dianggap oleh banyak sejarawan sebagai lonceng


kematian bagi negara-negara Kristen. Sebagai bagian dari Perang
Salib ini, Louis IX dari Prancis tetap mengorganisasi perang salib
melawan Mesir hingga 1254.

8. Perang Salib Kedelapan (1270)

Perang Salib kedelapan diorganisasi oleh Louis IX pada tahun 1270,


yang berlayar dari Aigues-Mortes untuk membantu sisa-sisa negara-
negara tentara salib di Suriah.

Namun, perang salib tersebut malah dialihkan ke Tunis, tempat Louis


menghabiskan dua bulan terakhirnya sebelum mati. Atas usahanya,
Louis kemudian menjadi seorang Santo (kota St. Louis, Missouri, AS
dinamai untuknya). Perang Salib ini terkadang dipecah menjadi
perang salib kedelapan dan kesembilan.

Hasil dari perang salib ini adalah hilangnya kekuasaan Kristen di


Suriah, meskipun umat Kristen diizinkan untuk hidup damai di
wilayah tersebut.