Anda di halaman 1dari 33

ANALISIS JURNAL PEMBERIAN POSISI HEAD-UP 300 PADA

PASIEN DENGAN DIAGNOSA CEDERA KEPALA

OLEH :

I Gusti Putu Mahindhu


209012474

PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN SEKOLAH


TINGGI ILMUKESEHATAN WIRA MEDIKA BALI
2020

1
ANALISA JURNAL

1. Penerapan Tehnik Head Up 300 Terhadap Peningkatan Perfusi Jaringan Otak Pada Pasien
Yang Mengalami Ceera Kepala Sedang

Population Intervention Comparasion Outcome


Studi kasus ini Memberikan tehnik head Tn.A klien 1
Berdasarkan hasil
mengeesplorasi up 300 sesuai dengan SOP didapatkan keluhan
observasi terhadap
masalah pada klien Rumah Sakit dan utama nyeri kepala, kedua pasien
dengan pedoman observasi pasien tampak sadar, didapatkan masalah
ketidakefektifan pola nafas tidak ada yang sama yaitu
perfusi jaringan otak. sumbatan, suara paru ketidakefektifan
Dimana subyek ronchi. Tn I klien 2 perfusi jaringan
dalam penelitian ini dengan kesadaran
serebral berhubungan
adalah pasien yang menurun, pola nafas dengan trauma
berjumlah 2 orang tidak kepala. Pelaksanaan
yang mengalami ada sumbatan, suara posisi head up 300
cedera kepala sedang paru ronchi. pada Tn.A dan Tn. I
sesuai dengan rencana
yang dibuat. Respon
klien setelah tindakan
diberikan peninggian
300 kepala pada
Tn.A dan Tn.I tidak
mengalami sesak
tampak lebih nyaman.
Kesimpulan : Penerapan tehnik head up 300 dapat meningkatkan perfusi jaringan otak pada pasien
yang mengalami cedera kepala sedang .

2. Effect of 300 Head Up Position on Intravranial Pressure Change In Patients With Head
Injury in Surgical Ward Of General Hospital

Population Intervention Comparasion Outcome


Studi kasus ini Peneliti melakukan posisi 30 pasien cedera Posisi head up 300
melibatkan 30 pasien head up 300 kepada kepala sedang. Dengan berpengaruh
cedera kepala kelompok perlakuan dan 15 ditugaskan dalam signifikan terhadap
sedang. Dengan 15 posisi head up 15o kepada perawatan (posisi perubahan tekanan
ditugaskan dalam kelompk kontrol. kepala 300) dan intracranial, terutama
perawatan dan 15 Perawatan pengatuan kelompok kontrol pada tingkat
kelompok kontrol posisi ini dilakukan saat (posisi kepala 150) kesadaran dan mean
pasien dirawat di bangsal atrial presuure pada
bedah. Perlakuan pasien cedera kepala

2
diberikan selama 2 jam
pada hari pertama
kemudian dilakuakn
pengukuran tingkat
kesadaran dan mean
arterial pressure (posttest
1). Setelah itu, perawatan
dilanjutkan selama 2 jam
dan kemudian diukur
kembali tingkat kesadaran
dan mean arterial pressure
(posttest 2).
Kesimpulan : Posisi head up 300 berpengaruh signifikan terhadap perubahan tekanan intracranial,
terutama pada tingkat kesadaran dan mean atrial presuure pada pasien cedera kepala.

3. Analisis Asuhan Keperawatan Dengan Pemberian Oksigenasi Dan Head Up 300 Terhadap
Perubahan Haemodinamik Pada Pasien Cedera Kepala

Population Intervention Comparation Outcome


Studi kasus dengan 3 1) Pasien 1 Tn.H 60 th 3 pasien yang Hasil pengkajian
pasien yang dengan diagnose ICH, mengalami cedera klien dengan cedera
mengalami cedera fraktur femur sinistra, kepala dengan kepala sedang hingga
kepala dan CKB. Datang diagnosa bera klien mengalami
dalam keadaan spoor ketidakefektifan penurunan kesadaran,
dengan GCS perfusi jaringan adanya papil edema,
E1M3V1, dilakukan serebral yang terdapat hematoma,
tindakan oksigenasi berhubungan dengan muntah, kestabilan
dan head up selama 8 cedera otak karena saturasi dan
jam didapatkan data adanya peningkatan hemodinamik. Selain
bahwa keadaan umum intracranial itu bacaan ct scan
pasien masih buruk, mennjukkkan adaya
hasil Ct-Scan terdapat perdarahan subdural
perdarahan pada dan intracranial. Hasil
intracranial. Pasien analisis posisi head up
dipindah ke ruang 300 dapat
HCU. Setelah menurunkan PTIK,
dilakukan perawatan memperbaiki
di ruang HCU dan kesadaran,
dilakukan tindakan meningkatkan nilai
oksigenasi dan head saturasi oksigen, dan
up pasien dinyatakan memperbaikin
meninggal. hemodinamik pada
2) Pasien 2 Sdr. A 35 th, pasien.
dating dengan
penurunan kesadaran
3
dengan kesadaran
sopor GCS E1M3V2,
setelah dilakukan
tindakan keperawatan
oksigenasi dan head
up didapatkan data
objektif masih terjadi
penurunan kesadaran.
Selanjutnya pasien
dipindahkan ke ruang
HCU, untuk tindak
lanjut selanjutnya
pertahankan posisi
head up 300,
kemudian dilakukan
evaluasi bahwa
kesadaran pasien
mulai membaik,
menjadi somnolen.
3) Pasien 3 27 th dengan
penurunan kesadaran
dengan GCS
E2M5V2, terdapat
perdarahan telinga
(ottorhea) dilakukan
tindakan pemberian
oksigenasi dan head
up 300 sampai
dipindahkan ke ruang
HCU dan kesadran
pasien masih
somnolen.
Kesimpulan : Evaluasi dari tindakan dengan pemberian oksigenasi dan head up 300 yang dilakukan
menunjukkan bahwa terdapat perbaikan kondisi baik dari kesadaran pasien, peningkatan saturasi,
dan perbaikan hemodinamik. Hasil analisis posisi head up 300 dapat menurunkan PTIK,
memperbaiki kesadaran, meningkatkan nilai saturasi oksigen, dan memperbaikin hemodinamik
pada pasien.

4
5
Nursing Science Journal (NSJ) p-ISSN: 2722-4988
Volume 1, Nomor 1, Juni 2020 e-ISSN : 2722-5054
Hal 7-13

PENERAPAN TEKNIK HEAD UP 30° TERHADAP PENINGKATAN


PERFUSI JARINGAN OTAK PADA PASIEN YANG MENGALAMI
CEDERA KEPALA SEDANG
Wahidin 1, Ngabdi Supraptini2

Akademi Keperawatan Pemkab Purworejo


Purworejo, (0275) 3140576
E-mail : adinrahman@gmail.com

ABSTRAK

Latar Belakang : Cedera kepala merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang
menjadi masalah kesehatan utama. Penanganan awal dapat meminimalisir seorang pasien terkena cedera
kepala sekunder. Salah satu cara untuk melalukan penanganan pasien dengan cedera kepala diantaranya
dengan menjaga jalan nafas dengan pemberian terapi oksigenasi. Tujuan : Mengetahui penerapan teknik
head up 30° terhadap peningkatan perfusi jaringan otak pada pasien yang mengalami cedera kepala sedang.
Metode : Jenis penelitian ini adalah deskriptif menggunakan metode pendekatan studi kasus. Subyek
dalam penelitian ini adalah dua orang klien yang mengalami cedera kepala sedang. Hasil: Setelah diberikan
terapi peninggian kepala 30° pada Tn.A dan Tn.I tidak mengalami sesak dibuktikan dengan RR dalam batas
normal dan peningkataan kesadaran. Kesimpulan: Penerapan teknik head up 30° dapat meningkatan
perfusi jaringan otak pada pasien yang mengalami cedera kepala sedang.

Kata kunci : Congestive Heart Failure, Ketidakefektifan Pola Nafas, Terapi Pemberian Oksigen

ABSTRACT

Background : Congestive Heart Failure is the inability of the heart to pump enough blood to carry out
metabolism to meet the requirements for oxygen and nutrients in other words, it requires an abnormal
increase in pressure on the heart to meet the needs of metabolism. The main problem with clients with
congestive heart failure is ineffective breathing patterns. To overcome the breathing pattern is giving
oxygen therapy. Objective : to determine the description of the management of nursing care to clients with
comprehensive congestive heart failure through the nursing process. Method : This type of research is
descriptive using a case study approach. The subjects in this study were two clients who experienced
congestive heart failure with criteria experiencing shortness of breath and compositional awareness.
Results : showed that there were changes in breathing patterns for the better, not experiencing shortness
and normal breathing frequency. Conclusion : Nursing problems with ineffective breathing patterns
associated with hyperventilation can be overcome with giving oxygen therapy, increased oxygen, to obtain
criteria for the results to be achieved.

6
Keywords: Congestive Heart Failure, Ineffective Breathing Patterns, Giving Oxygen Therapy.

7
Latar Belakang
Secara global, insiden cedera kepala sedang meningkat denganta jam terutama karena peningkatan
penggunaan kendaraan bermotor. Tahun 2018 WHO memperkirakan bahwa kecelakaan lalu lintas akan
menjadi penyebab penyakit dan trauma ketiga terbanyak didunia (Nurfaise, 2012).
Cedera kepala merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang menjadi masalah
kesehatan utama karena korban gawat darurat yang menyerang sebagian orang sehat dan
produktif (Sartono et al, 2014).
Cedera kepala dapat menimbulkan kondisi, seperti gegarbotak ringan, koma, sampai kematian, kondisi
paling serius disebut dengan cedera otak traumatic (traumatic brain injury (TBI). Penyebab paling umum
TBI (traumatic brain injury) adalah jatuh (28%). Kecelakaan kendaraan bermotor (20%).
Tertabrak benda (19%) danper kelahian (11%) (Brunner & Suddart, 2013).
Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, jumlah data selururuhnya
1.027.758 untuk semua umur. Responden yang mengalami cedera 84.774 dan yang tidak cedera 942.984
orang. Privalensi cedera tertinggi berdasarkan karakteristrik responden yaitu kelompok umur 15-24 tahun
sekitar (11,7%) dan pada laki-laki (10,1%). (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2013). Secara umum cedera diklafikasikan menurut skala Gasglow Coma
Scale diklafisikan menjadi tiga : (1) Cedera Kepala
Ringan (GCS 13-15) dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia selama 30 menit, tidak Ada
kontusio tengkorak, tidak ada fraktur serebral, dan hematoma (2) Cedera Kepala Sedang (GCS 9-12)
hilangnya kesadaran atau amnesia lebih dari 30 menit, kurangdari 24 jam bisa terjadinya fraktur
tengkorak, (3) Cedera Kepala Berat (GCS 3-8) dapat kehilangan kesadaran dan terjadi amnesia lebihdari
24 jam meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakarnial (Amien&Hardhi, 2016).
Cedera kepala merupakan salah satu kegawat daruratan yang banyak mengancam jiwa, maka dari itu
harus ditangani dengan tepat dan cepat. Penanganan awal dapat meminimalisir seorang pasien terkena
cedera kepala sekunder. Ada banyak cara untuk melalukan penanganan pasien dengan cedera kepala
diantaranya dengan menjaga jalan nafas. Salah satu cara untuk menjaga jalan nafas adalah dengan
pemberian terapi oksigenasi.
Penelitian Hardi, 2008 (Dikutip dalam Nur, 2018). Oksigen merupakan komponen gas dan unsur vital
dalam proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel. Elemen ini diperoleh
dengan cara menghirup udara setiap kali bernafas. Penyampaian oksigen kejaringan tubuh ditentukan
oleh interaksi sistem respirasi, kardiovaskuler dan hematologi. Kekurangan oksigen ditandai dengan
keadaan hipoksia, dalam proses lanjut menyebabkan kematian jaringan dan dapat mengancam kehidupan
(Anggraini & Hafifah, 2014). Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk membuat
melakukan penelitian berjudul “Penerapan Teknik Head Up 30° terhadap Peningkatan Perfusi Jaringan
Otak pada Pasien yang Mengalami Cedera Kepala Sedang”.

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August 2017 |


8
Metode
Desain penelitian ini adalah deskriptif, dalam bentuk studi kasus. Studi kasus ini mengesplorasi masalah
pada klien dengan Ketidakefektifan perfusi jaringan otak. Subyek dalam penelitian ini adalah pasien yang
berjumlah 2 orang yang mengalami Cedera Kepala Sedang.
Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan di IGD RSUD Dr. Soedirman Kebumen. Waktu penelitian
studi kasus ini dimulai pada tanggal 26 – 27 Juni 2019 untuk partisipan I Tn. A dan pada tanggal 26 Juni
dan 27 Juni 2019 untuk partisipan II (Tn.I).
Pengumpulan data tentang penerapan teknik head up 30° terhadap peningkatan perfusi jaringan otak pada
pasien yang mengalami cedera kepala sedang yaitu:
1. Observasi

Dalam penelitian ini, penulis mengobservasi atau melihat keadaan umum partisipan dengan
pemeriksaan fisik (dengan pendekatan IPPA : inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi).
2. Pengukuran
Dalam penelitian ini, penulis mengukur menggunakan alat ukur pemeriksaan, seperti melakukan
pengukuran tekanan darah, menghitung frekuensi napas, dan menghitung frekuensi nadi, frekuensi
nafas (RR). Penulis menggunakan beberapa peralatan yang akan digunakan dalam proses
pengumpulan data yaitu tensimeter jarum, stetoskop, jam tangan dan alat tulis.
3. Wawancara

Dalam penelitian ini wawancara yang dilakukan dengan menggunakan wawancara. Wawancara
jenis ini merupakan kombinasi dari wawancara tidak terpimpin dan wawancara terpimpin.
4. Dokumentasi
Dokumentasi yang dilakukan oleh penulis yaitu pendokumentasi hasil pengkajian, analisa data,
diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, tindakan keperawatan, dan evaluasi dari tindakan.
Instrumen pengumpulan data yang meliputi:

1. Memberikan teknik head up 30° sesuai SOP Rumah Sakit.


2. Pedoman observasi

Uji keabsahan data dimaksudkan untuk menguji kualitas data atau informasi yang diperoleh dalam
penelitian sehingga menghasilkan data dengan validitas tinggi. Uji keabsahan dilakukan dengan cara
memperpanjang waktu pengamatan/tindakan. dan mencari sumber informasi tambahan menggunakan
triangulasi dari tiga sumber data utama yaitu pasien, perawat dan keluarga yang berkaitan dengan masalah
yang teliti.

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August 2017 |


9
Hasil
Tn. A klien 1 pada tanggal 26 juni 2019 pada pukul 08.00 WIB didapatkan keluhan utama adalah nyeri
kepala. Sedangkan Tn. I klien ke 2 datang ke IGD kebumen pada tanggal 27 Juni 2019 pada pukul 23.00
WIB.
Pada tanggal 26 Juni 2019 penulis menemukan pada Tn.A klien tampak sadar pola nafas tidak ada
sumbatan RR 28x/menit, Suara paru ronchi. Suhu: 360 Tekanan darah: 137/90 Nadi:102x/menit Akral:
hangat, konjungtiva anemis, Turgor kulit: baik Perdarahan: ada luka bentur di kepala kurang lebih 3cm
dan ada fraktur kaki kanan. GCS 15 ( E.4 M.6 V.5) composmentis. Penulis melakukan tindakan dengan
memberikan posisi kepala head up 30° dan melakukan pemasangan masker oksigen
3L/menit.
Pada 27 Juni 2019 pada Tn. I penulis menemukan klien kesadaran menurun, pola nafas tidak ada
sumbatan RR 27x/menit. Suara paru ronchi, Suhu:370 Tekanan darah: 120/80 mmhg, Nadi: 76xmenit,
Akral:dingin, Turgor kulit: baik, ada perdarahan di bibir bawah, dan ada luka bentur di kepala kurang
lebih 3 cm. GCS 12 (E.3 M.5 V.4) somnolen. Kemudian penulis memberikan posisi kepala head up 30°
dan melakukan pemasangan masker oksigen 3L/menit.
Berdasarkan hasil observasi terhadap kedua klien didapatkan masalah yang sama yaitu ketidakefektifan
perfusi jaringan serebral berhubungan dengan trauma kepala. Pelaksanaan posisi head up 30° pada Tn.A
klien ke 1 dan Tn.I klien ke 2 sesuai dengan rencana yang dibuat. Respon klien setelah tindakan diberikan
peninggian kepala 30° pada Tn.A dan Tn.I tidak mengalami sesak dan tampak lebih nyaman.

Pembahasan
1. Gambaran perfusi jaringan cerebral sebelum diberikan terapi head up 30°
Dari hasil pengkajian primer Tn.A klien ke 1 ada ketidakefektifan perfusi jaringan serebral RR
28x/menit, suara nafas tidak ada sumbatan, suara nafas cepat dan terdapat cuping hidung. Sedangkan
pada Tn.I klien ke 2 terdapat ketidakefektifan perfusi jaringan serebral RR 27x/menit tidak ada
sumbatan suara nafas cepat.
Menurut Black & Hawks (2009) bahwa pasien cedera kepala sedang mengalami ketidakefektifan
perfusi jaringan serebral. Pasien cedera kepala sedang mengalami ketidakefektifan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan trauma kepala. Proteksi otak merupakan serangkaian tindakan yang
dilakukan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan sel-sel otak yang diakibatkan oleh keadaan
iskemia.
Cerebral perfusion pressure (CPP) adalah jumlah aliran darah dari sirkulasi sitemik yang diperlukan
untuk memberikan oksigen dan glukosa yang adekuat untuk metabolisme otak (Black & Hawks, 2005).
Tanda-tanda vital yang tetap terjaga konstan memperbaiki aliran darah sehingga meningkatkan status
neurologis.

2. Gambaran perfusi jaringan cerebral setelah diberikan terapi head up 30°


Setelah diberikan terapi peninggian kepala 30° pada Tn.A dan Tn.I tidak mengalami sesak. Menurut
penulis evaluasi dan tindakan keperawatan Tn.A dan Tn.I dilakukan posisi kepala 30° pada cedera
©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August 2017 |
10
kepala sedang untuk mengurangi sesak dan meingkatkan kesadaran klien. Hal ini terbukti dari klien
2 dengan GCS awal 12 (somnolent) menjadi sadar penuh atau GCS 15.
Pemberian oksigen melalui masker sederhana dan posisi kepala 30° merupakan tindakan yang tepat
pada klasifikasi cedera kepala sedang untuk melancarkan perfusi oksigen ke serebral sehingga
membantu peningkatan status kesadaran.
Posisi head up 30 derajat merupakan posisi untuk menaikkan kepala dari
tempat tidur dengan sudut sekitar 30 derajat dan posisi tubuh dalam keadaan sejajar (Bahrudin, 2008).
Keseimbangan oksigen otak dipengaruhi oleh aliran darah otak. Proteksi otak merupakan serangkaian
tindakan yang dilakukan untuk mencegah atau mengurangi kerusakan sel-sel otak yang diakibatkan
oleh keadaan iskemia. Iskemia otak adalah suatu gangguan hemodinamik yang akan menyebabkan
penurunan aliran darah otak sampai ke suatu tingkat yang akan menyebabkan kerusakan otak yang
irevesibel. Metode dasar dalam melakukan proteksi otak adalah dengan cara membebaskan jalan
nafas dan oksigenasi yang adekuat.
Posisi head-up 30 derajat bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi di otak sehingga
menghindari terjadinya hipoksia pasien, dan tekanan intrakranial menjadi stabil dalam batas normal.
Selain itu, posisi ini lebih efektif untuk mempertahankan tingkat kesadaran karena sesuai dengan
posisi anatomis dari tubuh manusia yang kemudian mempengaruhi hemodinamik pasien (Batticaca
FB, 2008).
Posisi head up 30 derajat yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan bentuk tipe intervensi
standar comfort yang artinya tindakan dilakukan dalam upaya mempertahankan atau memulihkan
peran tubuh dan memberikan kenyamanan serta mencegah terjadinya komplikasi.
Posisi head up 30 derajat merupakan posisi menaikkan kepala dari tempat tidur dengan sudut sekitar
30 derajat dan posisi badan sejajar dengan kaki. Posisi head up 30 derajat memiliki manfaat untuk
menurunkan tekanan intrakranial pada pasien cedera kepala. Selain itu posisi tersebut juga dapat
meningkatkan oksigen ke otak (Batticaca FB, 2008).
Posisi head up 300 perfusi dari dan ke otak meningkat sehingga kebutuhan oksigen dan metabolisme
meningkat ditandai dengan peningkatan status kesadaran diikuti oleh tanda-tanda vital yang lain. 2
responden memiliki pupil tidak normal (anisokor, reaksi+/+),kemungkinan terjadi penekanan
terhadap saraf okulomotor ipsilateral akibat edema serebri post optrepanasi. Pasien dengan
hematoma yang besar yang memberikan efek massa yang besar dan gangguan neurologis (Bajamal,
2007).
Otak yang normal memiliki kemampuan autoregulasi, yaitu kemampuan organ mempertahankan
aliran darah meskipun terjadi perubahan sirkulasi arteri dan tekanan perfusi (Tankisi, et.al, 2005).
Autoregulasi menjamin aliran darah yang konstan melalui pembuluh darah serebral diatas rentang
tekanan perfusi dengan mengubah diameter pembuluh darah dalam merespon perubahan tekanan
arteri. Pada klien dengan gangguan autoregulasi, beberapa aktivitas yang dapat meningkatkan
tekanan darah seperti batuk, suctioning, dapat meningkatkan aliran darah otak sehingga juga
meningkatkan tekanan TIK (Thamburaj, V, 2006).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pertami SB, Sulastyawati, Anami P (2017) yang
menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan posisi head-up 30° pada perubahan tekanan
©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August 2017 |
11
intrakranial, khususnya di tingkat kesadaran dan tekanan arteri rata-rata pada pasien dengan cedera
kepala. Hasil penelitian Martina, dkk (2017) juga menunjukkan bahwa posisi Head Up 30 derajat
berpengaruh terhadap saturasi oksigen pada pasien stroke.
Sejalan dengan penelitian Huda, (2012) berdasarkan t-tes tes dengan tingkat signifikansi α = 0,005
diperoleh p= 0,000 berarti ada peningkatan perfusi serebral secara efektivitas dengan elevasi kepala
30 derajat. Perfusi pada pasien dengan pasca-op trepanasi setelah 8 jam. Elevasi kepala 30 derajat
dapat meningkatkan perfusi serebral pada pasien.

Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Pada klien ke 1 Tn. A respon yang
telah diberikan tindakan pemberian posisi 30° selama 1 x 7 jam ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
kembali efektif, sedangkan pada klien ke II Tn. I setelah dilakukan intervensi pemberian posisi 30° selama
1 x 7 jam ketidakefektifan perfusi jaringan serebral kembali efektif.

Ucapan Terima Kasih


Dalam hal ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktur Akper Pemkab Purworejo dan Ketua
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat yang telah memberikan dukungan moril maupun
materiil dalam penyelesaian publikasi ini.

DAFTAR PUSTAKA
Batticaca FB. (2008). Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Indriyani, fatiyah. (2018). Analisis Asuhan Keperawatan Pada Pasien Cedera Kepala Sedang Dengan
Masalah Keperawatan Gangguan Perfusi Jaringan Serebral Di Ruang Instalasi Gawat
Darurat Rsud Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Stikes Gombong. Diaskes pada
tanggal 23 Maret 2019, Pukul 18:20 PM.

Kolcaba, K. (2003). Comfort theory and practice: a vision for holistic health care and research. Springer
Publishing Company.

Lilis, suryani. (2016) Pemberian Posisi Semi Flower Dengan Cedera Kepala Ringan Rumah
Sakit Salatiga. Salatiga : publishing. Diakses pada 14 april 2019, pukul 15:00 AM.

Manurung, melva & Gustia, M.


2018.Hubungan Ketepatan Penilaian
Triase Dengan Tingkat Keberhasilan Penanganan Pasien Cedera Kepala Di IGD RSU HKBP
Balige Kabupaten Toba Samosir. Diakses pada 19 Maret 2019,pukul : 13:40 AM.

Nurfaise (2012). Gambaran Penanganan Cedera Kepala Di Instansi Gawat Darurat Di Rsud
Karanganyar. Diakses pada tanggal 23 April 2019 pukul 17:00 PM.

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August 2017 |


12
Nurarifin, Amin H, H. K. (2016) Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda NICNOC Edisi Jilid I. Yogyakarta : Medication.

Nurarif, Amin H danHardhi, Kusuma,2015.Aplikasi Asuhan Keperawatan Diagnosa


Medis Dan Nanda NIC-NOC.Yogyakarta.
Mediaction Jogja.

Putra, Adi. (2016). Gambaran Penanganan Pasien Cedera Kepala Di Instalasi Gawat Darurat
Rsu Pku Muhammadiyah Bantul.
epository.unjaya.ac.id/2512/1/SatriaB agosAdi Putra_2212256_nonfull.pdf. Diaskes pada
tanggal 23 Maret 2019, pukul 18:20 PM.

Rawis, ddk.2016.Profil pasien cedera kepala sedang dan berat yang dirawat di ICU dan HCU. Diakses
pada tanggal 19 Maret 2019,pukul : 13:40 AM.

Simamora & Suriani.2017.Pengaruh Pemberian Terapi Oksigen Dengan Menggunakan Non-


Rebreathing Mask (Nrm) Terhadap Nilai Tekanan Parsial Co2 (Paco2) Pada
Pasien Cedera Kepala Sedang (Moderate
Head Injury) Di Ruang Intensive Care Unit (Icu) Rsup H Adam Malik Medan. Diakses pada
tanggal 20 Maret 2019, pukul : 16.30 PM.

Takatelide, dkk.2017. Pengaruh Terapi Oksigenasi Nasal Prong Terhadap Perubahan Saturasi Oksigen
Pasien Cedera Kepala Di Instalasi Gawat Darurat Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.
Diakses pada tanggal 19 Maret 2019,pukul 13:40 AM.

Wijaya Andra Saferi, Y. M (2015) KMB 2 Keperawatan Medikal Bedah, Yogyakarta :


Medika Wardani
Kusuma. Analisa Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Cedera Kepala
Berat Dengan Masalah Keperawatan Keetidakefektifan Bersihan Jalan Nafas Di Instalasi
Gawat Darurat Rsud Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Stikes Gombong. Diakes pada
tanggal 23 Maret 2019, Pukul 18:20 PM.
Wijaya, Andra Saferi dan Yessie Mariza Putri.
2013. KMB I Keperawatan
Medikal Bedah. Yogyakarta : Nuha
Medik

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August 2017 |


13
Public Health of Indonesia
Pertami SB, et al. Public Health of Indonesia. 2017 August;3(3):89-95 ISSN: 2477-1570
http://stikbar.org/ycabpublisher/index.php/PHI/index

Original Research

EFFECT OF 30° HEAD-UP POSITION ON INTRACRANIAL


PRESSURE CHANGE IN PATIENTS WITH HEAD INJURY IN
SURGICAL WARD OF GENERAL HOSPITAL OF Dr. R.
SOEDARSONO PASURUAN

Sumirah Budi Pertami*, Sulastyawati, Puthut Anami

Department of Nursing, Polytechnic of Health of Malang, Ministry of Health Republic of Indonesia

Accepted: 5 September 2017 *Correspondence:


Sumirah Budi Pertami
Department of Nursing, Polytechnic of Health of Malang
Ministry of Health Republic of Indonesia
Jln. A.Yani No 1 lawang Malang
E-mail: sumirahbudip@yahoo.com

Copyright: © the author(s), YCAB publisher and Public Health of Indonesia. This is an open-access article
distributed under the terms of the Creative Commons Attribution Non-Commercial License, which permits
unrestricted non-commercial use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is
properly cited.

ABSTRACT

Background: Head-injured patients have traditionally been maintained in the head-up position to ameliorate
the effects of increased intracranial pressure (ICP). However, it has been reported that the 15 degrees head-up
position may improve cerebral perfusion pressure (CPP) and outcome. We sought to determine the impact of 30
and 15 degrees on intracranial pressure change.

Methods: This was a quasi-experimental study with posttest only control time series time design. There were
30 head-injured patients was selected using consecutive sampling, with 15 assigned in the treatment (30° head-
up position) and control group (15° head-up position). Intracranial pressure variable was identified using the
level of consciousness and mean arterial pressure parameters. Wilcoxon signed rank test was used for data
analysis

Results: Findings showed p-value 0.010 (<0.05) on awareness level and p-value 0.031 (<0.05) on mean arterial
pressure, which indicated that there was a statistically significant effect of the 30° head-up position on level of
awareness and mean arterial pressure.
©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August 2017 |
14
Conclusion: There was a significant effect of the 30° head-up position on intracranial pressure changes,
particularly in the level of awareness and mean arterial pressure in patients with head injury. It is recommended
that for health workers to provide knowledge regarding this intervention to prevent increased intracranial
pressure.

Key words: Consciousness level, 30° head-up position, intracranial pressure, mean arterial pressure

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August 2017 |


15
Non-pharmacologic strategies performed
for the management of head injury are the setting
BACKGROUND up of the 15-30° head-up position to improve
Head injuries include injuries by objects/ bone venous return and reduce intra-cranial pressure.
fragments that penetrate brain tissue, and the In patients with hypovolemic, there may be a
effect of strength or energy being passed on to suspicion of a drastic decrease in blood pressure
the brain or the effects of acceleration and and decreased cerebral perfusion.7 In
deceleration on the brain.1 According to management to optimize the value of intra-
literature, head injuries can cause serious cranial pressure, blood pressure is required to
problems such as increased intra-cranial maintain the value of cerebral perfusion pressure
pressure, crisis hypertension, bleeding, seizures within the normal range. In patients with severe
and death. Increased intraranial pressure can head injury, hypotension may increase death.
lead to ischemia or infarction of brain tissue and While in patients with head injury, hypertension
brain death so that immediate precautions are also occurs that can cause death. The 30° head-
required.2 up position is suggested according to previous
studies, which can decrease ICT and increase the
Traffic accidents are the most common pressure of cerebral perfusion compared to the
cause of head injuries and are a public health supine position.8
problem worldwide, especially in developing
countries.3 This situation generally occurs in A 30° head-up position is performed in
motor drivers without wearing helmet or patients with head injury because this position
wearing helmets carrelesly, and do not meet the will facilitate drainage of reverse blood flow
standards.3 Brain injury trauma is a significant from intracranial so as to reduce intracranial
global public health concern and is predicted to pressure.2 In addition, from the Mahfoud study,9
be the leading cause of death and disability by it was found that intracranial pressure in ICT
2020.4 values decreased significantly in the 0°-60°
Every year, in the United States, it is position range, minimum intracranial arterial
about 30 million emergency injuries become pressure was found in patients with a 30° head-
hospital cases and cause death. Of those, 16% up position. Horizontal position will increase
are head injuries as a primary and secondary CPP and head-up position >40° will decrease
diagnosis. In 2010, approximately 2.5 million brain perfusion.8
people were hospitalized with a diagnosis of Bahrudin and Sunardi10 also stated that
head injury in the United States.5 In Asia, a high
percentage of incidence of head injury is caused ICT will decrease significantly from 0°35°
by fall (77%) and other injuries (57%).4 head-up position, but in 40° position and
upwards, ICT will rise again.
In Indonesia, the incidence of head injury
each year is estimated to reach 500,000 cases, Therefore, this study aimed to analyze the
with 10% of them died before arriving at the effect of the 30° head-up position on changes in
hospital. Of all cases, 80% were classified as intracranial pressure in patients with head injury.
mild head injury, 10% as moderate head injury, The study was conducted by observing the level
and 10% as severe head.6 According to medical of awareness and Mean Arterial Pressure (MAP)
record data of general hospital of dr. R. to identify changes in intracranial pressure.
Soedarsono Pasuruan during the preliminary
study, there were 115 cases of head injury on
July - September 2016, with 94 patients
categorized as mild head injury, 8 moderate
head injury and 13 serious head injury patients.

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August


2017 | 16
METHODS diastole and divided by three. Measurement of
Mean Arterial Pressure to explain the
Design
intracranial pressure in this study was
This was a quasi-experimental study with
categorized into 3 classes: High if MAP >100
posttest only control time series time design.
mmHg, normal if MAP in the range 70 - 100
mmHg, and low if MAP <70 mmHg.

Research subjects
The target population in this study was all Research Ethics
patients with head injury in the surgical ward of Ethical approval was obtained from the
the general hospital of Dr. R. Soedarsono
Health Research Ethics Commission at
Pasuruan. There were 30 headinjured patients
Poltekkes Kemenkes Malang. Study permission
was selected using consecutive sampling, with
was obtained from the General Hospital of Dr.
15 assigned in the treatment and control group.
R. Soedarsono Pasuruan to carry out research by
disseminating the intent and purpose of
Intervention research. The researcher explained the
The researcher performed a 30° head-up objectives and procedures of the study, and
position to the treatment group and the 15° head- asked for the patient's willingness to be the
up position to the control group to obtain respondent in the study and signed the informed
relevant data in accordance with the research consent.
objectives. The treatment of this position
arrangement was performed when the patient
was treated in the surgical ward. The treatment Data analysis
was given for 2 hours on the first day and then Wilcoxon signed rank test was used for data
the level of awareness and Mean Arterial analysis because the result of normality test
Pressure was measured (posttest 1). After than, using Shapiro Wilk showed <0.05, which
the treatment was continued for 2 hours and then indicated that the data were not in normal
the level of awareness and Mean Arterial distribution.
Pressure was measured again (posttest 2).

Instrument
Level of awareness and mean arterial pressure RESULTS
were measured in this study. Level of awareness Characteristics of respondents Table 1 shows
was measured using GCS instruments (Glasgow that 33.3% of patients with head injury aged 15-
Coma Scale) to describe intracranial pressure. 25 years, 30% of them aged 2635%, and the rest
GCS 9 -12 refers to moderate intracranial aged 36-65 years. The majority of respondents
pressure increase, and GCS 13-15 refers to 13- were male (60%), having head injury caused by
15. While Mean Arterial Pressure or average of motor vehicle accidents (73.3%), and 83.3% of
arterial pressure was calculated by measuring them had mild head injury.
blood pressure then counting systole multiply
Table 1. Distribution of respondents based on age, gender, cause of head injury, head injury classification

Characteristics n %
Age

15 – 25 10 33.3%

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August


2017 | 17
26 – 35 9 30%
36 – 45 2 6.67%
46 – 55 5 16.67%
56 – 65 4 13.33%
Gender

Male 18 60%
Female 12 40%
Cause of head injury

Motor vehicle accidents 22 73.3%


Work-related accidents 2 6.7%
Falls 4 13%
Blunt trauma 2 6.7%
Classification

Mild head injury 25 83.3%


Moderate head injury 5 16.67%

Table 2. Average level of awareness and mean arterial pressure

Variables n Mean SD
Level of Awareness

30° Head-up position


Posttest 1 15 13.67 1.44
Posttest 2 15 14.87 0.32
15° Head-up position
Posttest 1 15 14.40 0.91
Posttest 2 15 14.60 0.91
Mean Arterial Pressure (MAP)

30° Head-up position


Posttest 1 15 80.42 18.5
Posttest 2 15 93.76 5.57
15° Head-up position
Posttest 1 15 85.01 15.3
Posttest 2 15 81.05 15.4

The result of the awareness level on the 30°


head-up position in 15 respondents in posttest 1
showed that 26.67% of respondents had
awareness level 9-12 and 73.33% of them had
awareness level 13-15. In posttest 2, it was 100%
of respondents had awareness level ranged 13-
15. Table 2 shows that the mean level of
awareness in posttest 1 was 13.67 and in posttest
2 was 14.87. While the level of

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August


2017 | 18
awareness on the 15° head-up position, the mean post-op trepanation had composmentis
of awareness level in posttest 1 was 14.40 and in awareness after given 30° head-up position in 30
posttest 2 was 14.60. For the mean arterial minutes.
pressure, in the 30° head-up position, MAP in
the posttest 1 was 80.42 and posttest 2 was The 30° head-up position aims to secure
93.76. While in the 15° head-up position, MAP the patient in the fulfillment of oxygenation in
in the posttest 1 was 85.01 and posttest 2 was order to avoid hypoxia in the patient, and
81.05. intracranial pressure may be stable within the

Table 3. Effect of the 30° head-up position on intracranial pressure changes using Wilcoxon signed rank test

Level of Awareness P-value


30° Head-up position
Posttest 1 0.010*
Posttest 2
15° Head-up position 0.083
Posttest 1
Posttest 2
Mean Arterial Pressure (MAP)
30° Head-up position
Posttest 1 0.031*
Posttest 2
15° Head-up position
Posttest 1 0.035*
Posttest 2
*Significant level (<0.05)

Wilcoxon signed rank test as shown in the Table normal range.11 In addition, this position is more
3 showed p-value 0.010 (<0.05), which effective to maintain the level of consciousness
indicated that there was a statistically significant because it affects the anatomical position of the
effect of the 30° head-up position on level of human body which then affects the patient's
awareness compared to the 15° head-up hemodynamics. The 30° head-up position is also
position. However, there were statistically effective for brain homeostasis and prevent
significant effects of both 30° and 15° head-up secondary brain damage by respiratory function
position on mean arterial pressure with p-value stability to maintain adequate cerebral
0.031 and 0.035 (<0.05). perfusion.12
Findings of this study also revealed that
there was statistically significant effect of both
DISCUSSION 30° and 15° head-up position on mean arterial
pressure. This is consistent with previous study
This study aimed to analyze the effect of the 30°
indicated that head-up position in the range 15-
head-up position on changes in intracranial
30° could decrease cerebral perfusion pressure
pressure in patients with head injury.
and stabilize mean arterial pressure.8 The Mean
Intracranial pressure was described in terms of
Arterial Pressure (MAP) variable was measured
awareness level and mean arterial pressure.
in this study because of the particularity of the
Findings of this study revealed that there was a
clinical symptoms in head injury namely
statistically significant effect of the 30° head-up
decreased level of consciousness and change in
position on level of awareness. This is in line
with previous study found that 93.3% of patients

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August


2017 | 19
blood pressure. Besides, MAP is used in the treatment that might impact on intracranial
formula: Cerebral pressuree, such as sedation with morphine IV,
tracheal intubation, mechanical hyperventilation
Perfusion Pressure = Mean Arterial Pressure -
(PaCO2˂30 mmHg), hyperosmotic drugs
Intracranial Pressure.10 Cerebral Perfusion
(manitol 0.25-0.5 g / kg), diuretics (furosemide
Pressure is the pressure of brain perfusion,
5-20 mg), paralysis (pancuronium 1-4 mg) and
which is related to the intracranial pressure.
LCS drainage.7 However, this study provides the
On the other hand, Olviani8 states that insight of knowledge regarding the effect of the
Mean Arterial Pressure should be maintained 30° head-up position on intracranial pressure
above 60 mmHg to ensure perfusion to the brain, change.
coronary artery and kidney during head-up
position. In addition, an increase in blood
pressure or enlarged pulse pressure (the
difference between systolic and diastolic blood
pressure) or changes in vital signs is a clinical CONCLUSION
symptom of increased intracranial pressure.12 It can be concluded that there was a significant
Changes in systole and diastole will also affect effect of the 30° head-up position on intracranial
the value of mean arterial pressure in patients pressure changes, particularly in the level of
with head injury. awareness and mean arterial pressure in patients
with head injury. It is recommended that for
Positioning is one of the familiar forms of
health workers to provide knowledge regarding
nursing intervention in the application of patient
this intervention to prevent increased
care. The 30° headup position is part of
intracranial pressure. Further study is needed to
progressive mobilization of level I in head-
examine the 30° head-up position on intracranial
injured patients who can be non-
pressure, in cluding pulse rates, breathing, pain
pharmacological techniques to maintain
level, vomiting and pupillary response.
intracranial pressure stability. The 30° head-up
position can launch venous drainage from the
head and stable condition; and prevent neck
flexion, head rotation, cough and sneeze.
However, the effect of the 30° headup REFERENCES
position on intracranial pressure is influenced by 1. Grace PA, Borley NR. At a glance ilmu
many factors include drug factors, history of bedah. Edisi ketiga. Jakarta: Penerbit
hypertension and other nonpharmacological Erlangga. 2006.
techniques. Drug factors are excluded in this 2. Japardi I. Pemeriksaan dan Sisi
study due to the researchers limitations in Praktis Merawat Pasien Cedera Kepala.
controlling the half-life of the drug, and the other Jurnal Keperawatan
confounding factors such as prior history of
disease were also excluded because in the study Indonesia. 2003;7(1):32-35.
there were no respondents with prior history of 3. Riyadina W, Subik IP. Profil keparahan
hypertension. cedera pada korban kecelakaan sepeda
At the time of the study, some patients motor di Instalasi Gawat Darurat RSUP
were not able to tilt to one side of the body so Fatmawati. Universa Medicina.
that this limitation affected the progressive 2016;26(2):64-72.
mobilization of level I for head injury patients. 4. Puvanachandra P, Hyder AA. The
burden of traumatic brain injury in Asia:
In addition, in this study, the researcher also had
a limitation in managing pharmacological

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August


2017 | 20
a call for research. Pak J Neurol Sci.
2009;4(1):27-32.
5. Frieden TR, Houry D, Baldwin G.
Report to Congress on Traumatic Brain
Injury in the United States:
Epidemiology and Rehabilitation:
National Center for Injury Prevention
and Control; Division of Unintentional
Injury Prevention. Atlanta, GA. ; 2015.
6. Clarinta U, Iyos RN.
Cedera Kepala Berat dengan
Perdarahan Subraknoid. Journal
Medula Unila. 2016;4(4):188-193.
7. Dunn LT. Raised intracranial
pressure. Journal of Neurology,
Neurosurgery & Psychiatry.
2002;73(suppl 1):i23-i27.

8. Olviani Y. PENGARUH
PELAKSANAAN MOBILISASI
PROGRESIF LEVEL I
TERHADAP NILAI
MONITORING HEMODINAMIK
NON INVASIF PADA PASIEN
CEREBRAL INJURY DI RUANG
ICU RSUD ULIN BANJARMASIN
TAHUN 2015.
Caring. 2015;2(1):37-48.

9. Mahfoud F, Beck J, Raabe A.


Intracranial pressure pulse
amplitude during changes in head
elevation: a new parameter for
determining optimum
cerebral perfusion
pressure? Acta
neurochirurgica. 2010;152(3):443450.

10. Bahrudin M. Posisi Kepala Dalam


Stabilisasi Tekanan Intrakranial.
2016.

©Public Health of Indonesia – YCAB Publisher, Volume 3, Issue 3, July-August


2017 | 21
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

11. Khandelwal N, Khorsand S,


Mitchell SH, Joffe AM. Headelevated Cite this article as: Pertami SB,
patient positioning decreases Sulastyawati, Anami P. Effect of 30° Head-
complications of emergent tracheal Up Position on Intracranial Pressure
intubation in the ward and intensive care unit. Change in Patients with Head Injury in
Anesthesia & Analgesia. Surgical Ward of General Hospital of Dr.
R. Soedarsono Pasuruan. Public Health of
2016;122(4):1101-1107. Indonesia
2017;3(3):89-95
12. Batticaca FB. Asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan sistem persarafan. Jakarta:
Salemba Medika. 2008.
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

Analisis Asuhan Keperawatandengan Pemberian Oksigenasi dan


Head Up 30O Terhadap Perubahan Haemodinamik pada Pasien
Cedera Kepala

Tri sejati kartika dewi1*, Putra Agina Widyaswara Suwaryo2, Muji Ageng Triyowati3 1, 2
Prodi S1
Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammdiyah Gombong
3
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto
*Email: Trisejatik@gmail.com

Abstrak

Keywords: Background: Head injury is a traumatic disorder of brain function Cranial Pressure; Head
accompanied or without interstitial bleeding the brain bleeding. In Injury; Oxygenation; the world for the
incidence of head injuries every year reaches
Head Up 300 500,000 cases of the number above 10% sufferers die before reaching the hospital and more
than 100,000 experience disability due to head injury. Head injuries usually involve young
people (1519 years old) and older adults over 65 years old with the male of number more often
than women.
Objective: Analyzing of nursing care for oxygenation and head up 300 given to clients with
head injuries in the Emergency Room and High Care Unit of the RSUD Prof. Dr. Margono
Soekarjo Hospital at Purwokerto.
Method: The method in this study use a descriptive case study method.
Nursing care results: Nursing problems that arise in these three patients are cerebral tissue
perfusion disorders. The intervention that will be carried out is head up 30o and oxygenation.
From the results of the implementation, it was found two of the patients experienced
hemodynamic changes such as improvement in blood pressure, oxygen saturation, and
breathing in patients and significant changes in consciousness during in emergency room and
high care unit. This on action evaluation the secondpatient aged nineteen years old aged
twentyseven years old experienced hemodynamic changes and awareness, patients aged sixty
years old died.
Recommendation: It is expected that the hospital provides a tool to measure cranial pressure
to it knows the severity of bleeding in the brain and the patient immediately gets the right
action according to the extent of brain bleeding.
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

1. PENDAHULUAN
Cedera kepala merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak yang dapat mengakibatkan
penurunan kesadaran dan ketidakseimbangan haemodinamik (Baehr, 2010). Cedera kepala merupakan
kegawatdaruratan yang harus segera mendapatkan pertolongan yang cermat dan tepat guna untuk
menurunkan angka kematian dan mencegah terjadinya komplikasi cedera kepala sekunder. Menurut
WHO pada tahun 2012 menyebutkan bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian
urutan kesebelas di seluruh dunia., 1,2 juta jiwa meninggal setiap tahunnya. Berdasarkan data di
Amerika pada tahun 2010 terjadi kasus cedera kepala sebanyak 823 orang per 100.000 penduduk,
dengan mortalitas 17.1 per 100.000 penduduk (Center Of Disease).

Di dunia untuk kejadian cedera kepala setiap tahunnya mencapai 500.000 kasus dari jumlah diatas
10% penderita meninggal sebelum sampai rumah sakit an lebih dari 100.000 mengalami kecacatan
akibat cedera kepala (Depkes, 2012). Berdasarkan angka kejadian cedera kepala di RSUD Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto mendapatkan hasil bahwa selama bulan Mei hingga Juli tahun 2018
berjumlah 5006 orang yang mengalami cedera kepala dari ringan hingga berat, dari jumlah tersebut
428 pasien cedera kepala masuk ke ruang HCU (High Care Unit).

Tujuan utama pengelolaan pasien cedera kepala adalah mengoptimalkan pemulihan cedera kepala
primer dan mencegah terjadinya cedera kepala sekunder. Proteksi otak adalah serangkaian tindakan
yang dilakukan dengan tujuan mencegah atau mengurangi keruskaan sel-sel otak akibat iskemia.
Iskemia adalah suatu gangguan hemodinamik yang dapat menyebabkan penurunan aliran darah otak
sampai kesuatu tingkat yang akan menyebabkan kerusakan otak yang ireversibel. Metode dasar yang
dilakukan untuk membebaskan jalan nafas dan mencegah terjadinya kematian sel otak yaitu dengan
dilakukan nya tindakan head up 30 derajat dan oksigenasi. Tindakan ini efektif terhadap perubahan
haemodinamik pada pasien cedera kepala (Soemitro, 2011). Tujuan tindakan tersebut adalah agar
memperbaiki pasokan oksigen ke seluruh tubuh untuk mencegah terjadinya hipoksia dan hiperkapnia
(Hudak & Gallo, 2010). Memposisikan head up 30 derajat sangat efektif menurunkan tekanan
intrakranial tanpa menurunkan nilai CPP, dengan kata lain posisi tersebut tidak merubah dan
mengganggu perfusi oksigen ke serebral dan dapat memperbaiki tingkat kesadaran serta kestabilan
hemodinamik (Setyanegara, 2010).
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Sampel dalam penelitian ini menggunakan 3 klien.
Analisa data menggunakan instrumen asuhan keperawatan gadar dan kritis, lembar observasi, lebar
triase dan bedside monitor. Penyajian data ini menggunakan tekstular.

3. HASIL PENELITIAN
a. Pasien 1

Tn. H berusia 60 tahun alamat Tasikmalaya, pasien meupakan pasien kecelakaan lalu lintas rujukan
dari rumah sakit Tasikmalaya dengan diagnosa ICH, fraktur femur sinistra, dan CKB. Pasien
datang ke IGD rumah sakit Margono Soekarjo Purwokerto dengan penurunan kesadaran. Pasien
merupakan post kecelakaan lalu lintas. Pasien datang dalam keadaan kesadaran sopor dengan GCS
E1M3V1. Berdasarkan pengkajian didapatkan data objektif Ciculation : keadaan umum pasien
buruk, kesadaran pasien sopor dengan GCS E1M3V1, TD 156/106 mmHg, N 100x/m, s 36,6 C,
saturasi oksigen 96%, terdapat luka pada kepala dan ada hematoma. Mengacu dari diagnosa
keperawatan Nanda 2018 dapat dirumuskan masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan
cerebal berhubungan dengan cedera otak. Setelah dilakukan tindakan oksigenasi dan head up
selama 8 jam didapatkan data bahwa keadaan umum pasien msih buruk, dengan tingkat kesadaran
masih tetap dengan kesadaran sopor E1M3V1, TD : 110/85 mmHg N 98x/emnit, RR

24 x/menit, akral teraba hangat, CRT <2detik, hasil Ct-Scan terdapat perdarahan pada
intracranial. Sehingga masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral belum
teratasi. Untuk rencana tindak lanjut keperawatan yaitu lanjutkan intervensi dengan melakukan
monitor keadaan umum, memonitor kesadaran, memonitor GCS, monitor hemodinamik,
pertahankan posisi head up 30º, pertahankan pemberian oksigenasi dan kolaborasi pemberian
manitol, anjurkan keluarga untuk mendampingi pasien dan mengajaknya berkomunikasi, serta
pindah rawat ke ruang HCU. Setelah dilakuakn perawatan di ruang HCU dan dilakukan tindakan
oksigenasi dan head up jam 23.00 pasien dinyatakan meninggal.

b. Pasien 2
Sdr. A berusia 35 tahun alamat Banyumas, pasien merupakan pasien kecelakaan lalu lintas datang
dengan penurunan kesadaran. Selanjutnya berdasarkan hasil pengkajian yang sudah dilakukan
sesuai dengan data secara subjektif (-) dan secara objektif bahwa pasien mengalai penurunan
kesadaran dengan kesadaran sopor GCS E1M3V2, TD 110/60 mmHg, N 90x/m, s 36,5 C,
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

terdapat luka pada wajah dan mata, terdapat hematom (+), luka didada dan sekitar leher, udim
palpebra pada mata kanan dan luka pada mata kiri, muntah (+). Berdasarkan data diatas dan
mengacu dari diagnosa keperawatan Nanda 2018 dapat dirumuskan masalah keperawatan yang
muncul adalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan cedera otak.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan oksigenasi dan head up didapatkan data objektif masih
terjadi penurunan kesadaran, keadaan umum masih buruk, dengan GCS E1M3V2, muntah (-),
akral masih teraba hangat, pupil isokor 2mm/2mm, reaktiv terhadap cahaya +/+, terdaat
hematoma (+), udim palpebra dan terdapat luka pada mata kiri. Sehingga masalah keperawatan
ketidakefektifan perfusi jaringan serebral belum teratasi. Untuk tindak lanjut selanjutnya adalah
lanjutkan intervensi dengan melakukan pemantauan kesadaran, pantau GCS, panatau ukuran
pupil, monitor hemodinamik, pertahankan posisi head up 30C. selanjutnya pasien dilanjutkan
perawatannya diruang HCU. Selama perawatan di ICU kemudian dilakukan evaluasi bahwa data
objektif didapatkan kesadaran pasien mulai membaik, menjadi somnolen, pasien masih terlihat
gelisah, pasien meracau saat bicara, pupil anisokor 2 mm/ 2mm, reactive terhadap cahaya +/+,
muntah (-), mendapat cairan monitol (+), pernafasan dibantu dengan NRM 9 lpm, akral teraba
hangat. Untuk planning tindakan keperawatannya adalah observasi haemodinamik, pertahankan
posisi head up dan pertahnakn pemberian oksigenasi.

c. Pasien 3
Ny.Y berusia 27 tahun berjenis kelamin perenpuan datang rujukan dari RSUD Tasikmalaya, saat
datang pasien mengalami peburunan kesadaran post kecelakaan lalu lintas Pasien sempat muntah (+),
kejang (-). Setelah dilakukan pengkajian secara objektif pasien mengalami penurunan kesadaran
dengan GCS E2M5V2, pasien post kecelakaan lalu lintas, terjadi perdarahan pada telinga sebelah kiri,
kesadaran pasien sangat gelisah dan kesadaran pasien somnolen, akral teraba dingin, conjunctiva
anemis, CRT <2 detik, TD 150/102 mmHg, N 100 x/m, muntah (+), kejang (-), hasil ct scan bahwa
terdapat subdural hematoma sehingga masalah keperwatan yang muncul adalah ketifakefektifan
perfusi jaringan serebral berhubungan dengan cidera otak selanjutnya untuk mengatasi masalah
tersebut dilakukan tindakan oksigenasi an head up 30 derajat dan kemudia dilakukan evaluasi secara
objektif bahwa pasien masih mengalami penurunan kesadaran, belum ada perubahan kesadaran,
dengan GCS E2M2V2, muntah (-), terapi ranitidine 20 mg (+), CRT <2 detik, akral sudah teraba
hangat, ottorea (+) pada telinga kiri, gelisah (+), TD 130/89 mmHg, MAP 110 mmHg, N 96 x/m, RR
24 x/m, saturasi oksigen 99%, suhu 36,7 C. sehingga masalah keperawatan belum teratasi sehingga
tindak lanjurnya adalah observasi kesadaran pasien dan haemodinamik pasien, pertahankan
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

pemberian oksigenasi dan head up 30 derajat dan dilanjutkan perawatan diruang HCU. Selama
perawatan diruang HCU kemudian dilakukan evaluasi bahwa data objektif pasien masih mengalai
penurunan kesadaran, kesadaran pasien masih somnolen dengan GCS E2M4V2, muntah (-), reflek
batuk (+), akral teraba hangat, masih terposisi head up 300C, CRT <2 detik, TD 132/97 mmHg, MAP
88 mmHg, N 104 x/m, teradapat hematoma dan ada perdarahan telinga (ottorhea). Sehingga diagnosa
keperawatan belum teratasi, untuk tindakan selanjutnya adalah pertahankan posisi head up, pertankan
pemberian oksigenasi, observasi tingkat kesadaran.

4. PEMBAHASAN
Pemeriksaan utama yang perlu dilakukan pada pasien cedera kepala dengan perdarahan otak adalah
dengan melakukan pemeriksaan kesadaran dengan menggunakan GCS. Glasgow Coma Scale (GCS)
digunakan untuk pemeriksaan neurologis secara kuantittif berdasarkan tiga parameter yaitu : eye
opening (buka mata), motor response (respon motorik) dan verbal response (respon verbal).
Berdasarkan nilai dari ketiga parameter tersebut, maka cedera kepala dibagi menjadi : cedera kepala
ringan (mild head injury) GCS 14-15, cedera kepala sedang (moderate head injury) GCS 9-13 dan
cedera kepala berat (severe head injury) GCS 3-8 (Susan, B., & Stillwell, 2011). Cedera otak dapat
secara primer langsung mengakibatkan kerusakan permanen neuron, atau tersumbatnya pembuluh
darah otak yang menyebabkan iskemia secara langsung.

Cedera otak sekunder merupakan cedera yang terjadi setelah cedera otak primer, penyebabnya bisa
sistemik atau intrakranial. Penyebab sistemik adalah : hipoksia, hiperkapnia, hipotensi, anemia,
hiperglikemia, hiponatremia dan osmotic imbalance, hipertermia, sepsis, koagulopati dan hipertensi.
Penyebab intrakranial adalah : hematoma intrakranial, peningkatan ICP (intrcranial pressure), edema
serebral, vasospasme serebral, infeksi intrakranial, hiperemi serebral (Ratnasari, 2015). Tujuan utama
pengelolaan cedera kepala adalah mengoptimalkan pemulihan dari cedera kepala primer dan mencegah
terjadinya cedera kepala sekunder. Hal ini memerlukan optimalisasi keadaan sistemik untuk
metabolisme energi otak dan cerebral perfusion pressure (CPP) dan normalisasi intracranial pressure
(ICP).

Inovasi mandiri keperawatan yang dilakukan adalah dengan melakukan tindakan oksigenasi dengan
menggunakan NRM dan head up 300 yaitu dengan meninggikan tempat tidur untuk memberikan
pasokan oksigen yang cukup untuk otak dan mencegah terjadinya PTIK pada pasien dengan cedera
kepala sedang. Tindakan tersebut berfungsi untuk memberikan tambahan pasokan oksigen ke dalam
sel dan jaringan otak untuk mencegah terjadi kematian atau iskemik sel otak akibat hipoksia.
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

Head up 300 adalah suatu tindakan dimana tradisional yang sering dilakukan dengan menaikkan
posisi kepala adalah upaya untu menurunkan ICP masih belum disetujui dan masih mnjadi bahan
perdebatan. Perubahan posisi sering berfokus pada nilai ICP dan tidak memperhatikan penurunan
artery blood presure yang terjadi pada tingkat sirkulasi cerebral pada pasien yan dilakukan head up
300. Sehingga pengukuran langsung atau pengkajian tidak langsung CPP untuk menemukan posisi
yang tepat untuk optimal CPP paa pasien cedera kepala perlu diperhatikan untuk mendapatkan dan
mempertahankan suplai oksigen secara lancar (Noor K, 2014).

Sehingga dengan melakukan tindakan head up 300 akan mengurangi PTIK, dan akan
mempengaruhi dinamika serebrovaskular pada pasien dewasa dan akan memeuhi kebutuhan oksigen
kedalam otak. Secara teoritis, posisi terlentang dengan di sertai head up menunjukkan aliran balik
darah dari bagian inferior menuju ke atrium kanan cukup baik karena resistensi pembuluh darah dan
tekanan atrium kanan tidak terlalu tinggi, sehingga volume darah yang masuk (venous return) ke
atrium kanan cukup baik dan tekanan pengisian ventrikel kanan (preload) meningkat, yang dapat
mengarah ke peningkatan stroke volume dan cardiac output. Pasien diposisikan head up 300 akan
meningkatkan aliran darah diotak dan memaksimalkan oksigenasi jaringan serebral (Suwandewi,
2017).

5. KESIMPULAN
a. Hasil pengkajian klien dengan cedera kepala sedang hingga berat klien mengalami penurunan
kesadaran, adanya papil edema, terdapat hematoma, muntah, ketidakstabilan saturasi dan
hemodinamik. Selain itu bacaan ct scan menunjukkan adanya perdarahan subdural
dan intracranial.
b. Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien cedera kepala yaitu ketidakefektifan perfusi
jaringan serebral yang berhubungan dengan cedera otak karena adanya peningkatan tekanan intra
kranial.
c. Rencana asuhan keperawatan yaitu memberikan terapi oksigen dan head up 30º.
d. Implementasi yang dilakukan pada klien dengan masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi
jaringan serebral yaitu dengan memberikan terapi oksigen menggunakan NRM dan memposisikan
head up 30º.
e. Evaluasi dari tindakan dengan memberikan terapi oksigenasi dan memposisikan dengan head up
30º yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat perbaikan kondisi baik dari kesadaran
pasien, peningkatan saturasi, dan perbaikan hemodinamik.
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

f. Hasil analisis posisi head up 30º dapat menurunkan PTIK, memperbaiki kesadaran, meningkatkan
nilai saturasi oksigen, dan memperbaiki hemodinamik pada pasien.

6. SARAN
a. Institusi Pelayanan Kesehatan (Rumah Sakit)
Hasil karya tulis ini diharapkan dapat menjadi bahan masukkan kepada pihak rumah sakit untuk
memberikan pelayanan kesehatan dan mempertahankan hubungan kerjasama yang baik antara
tim kesehatan dan klien sehingga dapat meningkatkan mutu pelayaan asuhan keperawatan yang
optimal demi kenyamanan dan kesembuhan klien terutama emergency tentang cedera kepala
sedang hingga berat.

b. Bagi tenaga Kesehatan Hasil karya tulis ini diharapkan para perawatan berkoordinasi dengan tim
kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien agar maksimal dalam
penyembuhan klien cedera kepala
dan mencegah terjadinya cedera kepala sekunder serta dan diharapkan dapat memberikan
asuhan keperawatan yang koperhensif dan profesional.

c. Bagi keluarga
Diharapkan keluarga mampu mengetahui dan memahami penyakit cedera kepala dan
mengetahui cara penangan yang baik kepada pasien dengan cedera kepala serta memberikan
dukungan dan motivasi kepada pasien guna mempercepat penyembuhan pasien.

d. Bagi peneliti selanjutnya


Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian yang sama dengan
jumlah klien yang lebih banyak dan memiliki tingkat perdarahan yang beragam agar lebih
mengetahui efektifitas tindakan oksigenasi dan head up 300 terhadap perbaikan kondisi dan
kesadaran pasien.
The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

REFERENSI

Baehr, M. (2010). Diagnosis Topik Neurologi DUUS. Jakarta: EGC.

Depkes. (2012). Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta: EGC.

Noor, K. (2014). Efektivitas Pemberian Oksigen Melalui Masker Biasa Dibandingkan Dengan
Nasal Kanul Dengan Mengukur Saturasi Oksigen (SpO2) Pada Pasien Cedera Kepala Ringan
Dan Sedang Di Ruang IGD RSUD Ulin Banjarmasin.

Ratnasari. (2015). Hubungan Penanganan Oksigenasi Pasien Gawat Dengan Peningkatan Kesadaran
Kuantitatif Pada Pasien Cedera Otak Sedang Di

IGD RSUD DR Abdoer Rahem Situbondo . Jurnal Keperawatan Fikes UMJ .

BIBLIOGRAPHY \l 1033 Setyanegara. (2010). Ilmu Bedah Saraf. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.

Soemitro, D. (2011). Sipnopsis Ilmu Bedah Saraf. Jakarta: CV Sagung Seto.

Susan, B., & Stillwell. (2011). Pedoman keperawatan kritis. Edisi: 3. Jakarta: EGC.

Suwandewi, A. (2017). Pengaruh Pemberian Oksigen Melalui Masker Sederhana dan Posisi Kepala 30º
Terhadap Perubahan Tingkat Kesadaran Pada Pasien Cedera Kepala di RSUD.
journal.umbjm.ac.id/index.php/health

y.

WHO. (2012). Cedera Kepala. New York.


The 10th University Research Colloqium 2019
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong