Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH PRAKTIKUM

URINALISA DAN CAIRAN TUBUH

PEMERIKSAAN LCS

Disusun Oleh :

Firda Anggraini (P27903219008)


Nurul Amaliah (P27903219013)
Siti Aliyah (P27903219018)

JURUSAN KARYAWAN REGULER TINGKAT 2

KEMENTRIAN KESEHATAN RI POLITENIK KESEHATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN BANTEN

2020

Jl.Dr.Sitanala, Komplek SPK Keperawatan Tangerang, RT.002/RW.003, Karang Sari, Kec. Neglasari,
Kota Tangerang, Banten 11610
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Sholawat serta salam kita curahkan pada junjungan Nabi besar Muhammad SAW.
Berkat rahmat dan limpahannya, Penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna
memenuhi tugas mata kuliah Kimia Klinik tentang “Liquor Cerebro Spinalis (LCS)”.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumber
pemikiran kepada pembaca.Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan makalah ini akan
kami terima dengan senang hati guna penyempurnaan makalah ini. Akhir kata semoga dengan
adanya makalah ini dapat bermanfaat untuk penyusun maupun pembacanya.

Tangerang, September 2020

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Tujuan ........................................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................... 2
2.1 Pengertian LCS ......................................................................................................... 2
2.2 Anatomi dan Fisiologi ............................................................................................... 2
2.3 Prosedur Pungsi Lumbal .......................................................................................... 5
BAB III PEMERIKSAAN TERHADAP LCS ...................................................................... 6
3.1 Macam Pemeriksaan ................................................................................................. 6
3.2 Makroskopis .............................................................................................................. 6
3.3 Mikroskopis ............................................................................................................... 8
3.3.1 Hitung Jumlah Sel.............................................................................................. 8
3.3.2 Hitung Jenis Sel .................................................................................................. 9
3.3.3 Bakterioskopi...................................................................................................... 9
3.4 Kimiawi .................................................................................................................... 11
3.4.1 Protein Kualitatif ............................................................................................. 11
3.4.2 Protein Kuantitatif ........................................................................................... 12
3.4.3 Glukosa Kunatitatif ......................................................................................... 13
3.4.4 Chloroda Kuantitatif ....................................................................................... 14
BAB IV PENUTUP ................................................................................................................ 16
4.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 16
LAMPIRAN…………………………………………………………………………………17

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pemeriksaan laboratorium merupakan hal yang terpenting dalam proses diagnosis suatu
penyakit. Banyak informasi penting yang bisa didapatkan dari proses tersebut yang dapat
digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah yang akan diambil terhadap pasien.
Dengan demikian, proses pemeriksaan laboratorium memiliki peranan vital bagi pasien.
Pemeriksaan laboratorium terhadap pasien menggunakan bahan pemeriksaan yang berasal
dari tubuh pasien. Pada prinsipnya semua organ dan cairan tubuh dapat diperiksa, namun
yang sering dilakukan untuk pemeriksaan rutin hanya specimen yang memiliki arti klinis,
misalnya darah, urine, serum, sekret/efusi, cairan sendi, dan cairan otak (LCS).

Pada makalah ini akan dibahas secara khusus pemeriksaan laboratorium klinik terhadap
specimen cairan otak atau Liquor Cerebro Spinalis (LCS). Pemeriksaan LCS ini berperan
penting dalam mendiagnosa adanya gangguan terhadap selaput otak/ meningia.
Pemeriksaan Terhadap LCS ini terbagi atas pemeriksaan Makroskpis, Mikroskopis, dan
Kimiawi. Tinjauan pustaka mengenai LCS akan dijelaskan lebih lanjut pada bab
selanjutnya.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian, anatomi, dan fisiologi LCS
2. Untuk mengetahui cara pengambilan specimen LCS (Lumbal Pungsi)
3. Untuk mengetahui macam-macam pemeriksaan LCS
4. Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan-pemeriksaan LCS

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian LCS


Liquour Cerebrospinalis adalah cairan otak yang diambil melalui lumbal punksi Cairan
otak tidak boleh dipandang sama dengan cairan yang terjadi oleh proses ultrafiltrasi
saja dari plasma darah. Di samping filtrasi, faktor sekresi dari plexus choriodeus turut
berpengaruh. Karena itu cairan otak bukanlah transudat belaka. Akan tetapi seperti
transudat, susunan cairan otak juga selalu dipengaruhi oleh konsentrasi beberapa
macam zat dalam plasma darah.

Pengambilan cairan otak itu dilakukan dengan maksud diagnostik atau untuk
melakukan tindakan terapi. Kelainan dalam hasil pemeriksaan dapat memberi petunjuk
kearah suatu penyakit susunan saraf pusat, baik yang mendadak maupun yang menahun
dan berguna pula setelah terjadi trauma. Secara makroskopi, mikroskopi, kimia,
bakteriologi, dan serologi.

2.2 Anatomi dan Fisiologi


Cairan Serebro Spinal (CSS) ditemukan di ventrikel otak dan sisterna dan ruang
subarachnoid yang mengelilingi otak dan medula spinalis. Seluruh ruangan
berhubungan satu sama lain, dan tekanan cairan diatur pada suatu tingkat yang konstan.

▪ Fungsi Bantalan Cairan Serebrospinal


Fungsi utamanya adalah untuk melindungi sistem saraf pusat (SSP) terhadap trauma.
Otak dan cairan serebrospinal memiliki gaya berat spesifik yang kurang lebih sama
(hanya berbeda sekitar4%), sehingga otak terapung dalam cairan ini. Oleh karena itu,
benturan pada kepala akan menggerakkan seluruh otak dan tengkorak secara serentak,
menyebabkan tidak satu bagian pun dari otak yang berubah bentuk akibat adanya
benturan tadi.

▪ Pembentukan, Aliran dan Absorpsi Cairan Serebrospinal


Sebagian besar CSS (dua pertiga atau lebih) diproduksi di pleksus choroideus ventrikel
serebri (utamanya ventrikel lateralis). Sejumlah kecil dibentuk oleh sel ependim yang
membatasi ventrikel dan membran arakhnoid dan sejumlah kecil terbentuk dari cairan
yang bocor ke ruangan perivaskuler di sekitar pembuluh darah otak (kebocoran sawar
darah otak).Pada orang dewasa, produksi total CSS yang normal adalah sekitar 21
mL/jam (500 mL/ hari),volume CSS total hanya sekitar 150 mL. CSS mengalir dari
ventrikel lateralis melalui foramen intra ventrikular (foramen Monroe) ke venrikel
ketiga, lalu melewati cerebral aquaductus(aquaductus sylvii) ke venrikel keempat, dan
melalui apertura medialis (foramen Magendi) danapertura lateral (foramen Luschka)
menuju ke sisterna cerebelomedular (sisterna magna). Darisisterna cerebelomedular,
CSS memasuki ruang subarakhnoid, bersirkulasi disekitar otak dan medulaspinalis

2
sebelum diabsorpsi pada granulasi arachnoid yang terdapat pada hemisfer
serebral.Sekresi Pleksus Koroideus

Pleksus koroideus adalah pertumbuhan pembuluh darah seperti kembang kol yang
dilapisi oleh selapis tipis sel. Pleksus ini menjorok ke dalam kornu temporal dari setiap
ventrikel lateral,bagian posteror ventrikel ketiga dan atap ventrikel keempat.Sekresi
cairan oleh pleksus koroideus terutama bergantung pada transpor aktif dari ion natrium
melewati sel epitel yang membatasi bagian luar pleksus. Ion- ion natrium pada waktu
kembali positif akan menarik ion akan menarik sejumlah besar ion-ion klorida, karena
ion natrium yang bermuatan klorida yang bermuatan negatif. Keduanya bersama - sama
meningkatkankuantitas osmotis substansi aktif dalam cairan serebrospinal, yang
kemudian segera menyebabkan osmosis air melalui membran, jadi menyertai sekresi
cairan tersebut. Transpor yang kurang begitu penting memindahkan sejumlah kecil
glukosa ke dalam cairan serebrospinal dan ion kalium dan bikarbonat keluar dari cairan
serebrospinal ke dalam kapiler. Oleh karena itu, sifat khas dari cairan serebrospinal
adalah sebagai berikut: tekanan osmotik kira-kira sama dengan plasma; konsentrasi ion
natrium kira-kira sama dengan plasma; klorida kurang lebih 15% lebih besar dari
plasma; kalium kira-kira 40% lebih kecil; dan glukosa kira-kira 30% lebih sedikit.
Inhibitor carbonic anhidrase (acetazolamide) , kortikosteroid, spironolactone,
furosemide, isoflurane dan agen vasokonstriksi untuk mengurangi produksi CSS.

Absorpsi Cairan Serebrospinal Melalui Vili Arakhnoidalis. Absorpsi CSS melibatkan


translokasi cairan dari granulasi arachnoid ke dalam sinus venosusotak. Vili
arakhnoidalis, secara mikroskopis adalah penonjolan seperti jari dari membran
arakhnoidke dalam dinding sinus venosus. Kumpulan besar vili-vili ini biasanya
ditemukan bersama-sama, dan membentuk suatu struktur makroskopis yang disebut
granulasi arakhnoid yang terlihat menonjol kedalam sinus. Dengan menggunakan
mikroskop elektron, terlihat bahwa vili ditutupi oleh sel endotel yang memiliki lubang-
lubang vesikular besar yang langsung menembus badan sel.

Telah dikemukakan bahwa lubang ini cukup besar untuk menyebabkan aliran yang
relatif bebas dari cairanserebrospinal, molekul protein, dan bahkan partikel - partikel
sebesar eritrosit dan leukosit ke dalam darah vena. Sebagian kecil diabsorpsi di nerve
root sleeves dan limfatik meningen. Walaupun mekanismenya belum jelas diketahui,
absorpsi CSS ini tampaknya berbanding lurus terhadaptekanan intra kranial (TIK) dan
berbanding terbalik dengan tekanan vena serebral (Cerebral Venous Pressure = CVP).
Karena otak dan medula spinalis sedikit disuplai oleh sistem limfatik, absorpsi melalui
CSS merupakan mekanisme utama untuk mengembalikan protein perivaskuler dan
interstitiilke dalam aliran darah .Ruang Perivaskuler dan Cairan Serebrospinal
Pembuluh darah yang mensuplai otak pertama-tama berjalan melalui sepanjang
permukaanotak dan kemudian menembus ke dalam, membewa selapis pia mater, yaitu
membran yangmenutupi otak. Pia mater hanya melekat longgar pada pembuluh darah,
sehingga terdapat sebuahruangan, yaitu ruang perivaskuler, yang ada di antara pia mater
dan setiap pembuluh darah. Oleh karena itu, ruang perivaskuler mengikuti arteri dan

3
vena ke dalam otak sampai arteriol dan venula, tapi tidak sampai ke kapiler. Fungsi
Limfatik Ruang Perivaskuler.

Sama halnya dengan di tempat lain dalam tubuh, sejumlah kecil protein keluar dari
parenkim kapiler ke dalam ruang interstitiil otak, karena tidak ada pembuluh limfe
dalam jaringan otak, protein ini meninggalkan jaringan terutama dengan mengalir
bersama cairan yang melalui ruangperivaskuler ke dalam ruang subarakhnoid. Untuk
mencapai ruang subarakhnoid, protein akan mengalir bersama cairan serebrospinal
untuk diabsorpsi melalui vili arakhnoidalis ke dlam vena-venaserebral. Ruang
perivaskuler, sebenarnya, merupakan sistem limfatik yang khusus untuk otak.. Selain
menyalurkan cairan dan protein, ruang perivaskuler juga menyalurkan partikel asing
dari otak ke dalam ruang subarakhnoid. Misalnya, ketika terjadi infeksi di otak, sel
darah putih dan jaringanmati infeksius lainnya dibawa keluar melalui ruang
perivaskuler.

▪ Tekanan Cairan Serebrospinal


Tekanan normal dari sistem cairan serebrospinal ketika seseorang berbaring pada posisi
horizontal, rata-rata 130 mm air (10 mmHg), meskipun dapat juga serendah 65 mm air
atau setinggi 95 mm air pada orang normal.. Pengaturan Tekanan Cairan Serebsrospinal
oleh Vili Arakhnoidalis. Normalnya, tekanan cairan serebrospinal hampir seluruhnya
diatur oleh absorpsi cairanmelalui vili arakhnoidalis. Alasannya adalah bahwa
kecepatan normal pembentukan cairanserebrospinal bersifat konstan, sehingga dalam
pengaturan tekanan jarang terjadi faktor perubahandalam pembentukan cairan.
Sebaliknya, vili berfungsi seperti katup yang memungkinkancairan dan isinya mengalir
ke dalam darah dalam sinus venosus dan tidak memungkinkan aliran sebaliknya.

Secara normal, kerja katup vili tersebut memungkinkan cairan serebrospinalmulai


mengalir ke dalam darah ketika tekanan sekitar 1,5 mmHg lebih besar dari tekanan
darah dalam sinus venosus. Kemudian, jika tekanan cairan serebrospinal masih
meningkat terus, katup akan terbuka lebar,sehingga dalam keadaan normal, tekanan
tersebut tidak pernah meningkat lebih dari beberapa mmHg dibanding dengan tekanan
dalam sinus. Sebaliknya, dalam keadaan sakit vili tersebut kadang-kadang menjadi
tersumbat oleh partikel-partikel besar, oleh fibrosis, atau bahkan oleh molekul protein
plasma yang berlebihan yang bocor ke dalam cairan serebrospinal pada penyakit otak.

Penghambatan seperti ini dapat menyebabkan tekanan cairan serebrospinal menjadi


sangat tinggi. Pengukuran Tekanan Cairan SerebrospinalProsedur yang biasa
digunakan untuk mengukur tekanan cairan serebrospinal adalah sebagai berikut :
Pertama, orang tersebut berbaring horizontal pada sisi tubuhnya, sehingga
tekanancairan spinal sama dengan tekanan dalam ruang tengkorak. Sebuah jarum spinal
kemudiandimasukkan ke dalam kanalis spinalis lumbalis di bawah ujung terendah
medula spinalisdandihubungkan dengan sebuah pipa kaca. Cairan spinal tersebut
dibiarkan naik pada pipa kaca sampaisetinggi-tingginya. Jika nilainya naik sampai

4
setinggi 136 mm di atas tingkat jarum tersebut,tekanannya dikatakan 136 mm air atau,
dibagi dengan 13,6 yang merupakan berat jenis air raksa,kira-kira 10 mmHg.

2.3 Prosedur Pungsi Lumbal


Cairan otak biasanya diperoleh dengan melakukan punksi lumbal pada lumbal III dan
IV dai cavum subarachnoidale, namun dapat pula pada suboccipital ke dalam cisterna
magma atau punksi ventrikel, yang dapat disesuaikan dengan indikasi klinik. Seorang
klinik yang ahli dapat memperkirakan pengambilan tersebut. Hasil punksi lumbal
dimasukkan dalam 3 tabung atau 3 syringe yang berbeda, antara lain :
1. Tabung I berisi 1 mL
Dibuang karena tidak dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan karena mungkin
mengandung darah pada saat penyedotan.
2. Tabung II berisi 7 mL
Digunakan untuk pemeriksaan serologi, bakteriologi dan kimia klinik.
3. Tabung III berisi 2 mL
Digunakan untuk pemeriksaan jumlah sel, Diff.count dan protein
kualitatif/kuantitatif.

Tata Cara :
1. Pasien dalam posisi miring pada salah satu sisi tubuh. Leher fleksi maksimal (lutut
di tarik ke arah dahi ).
2. Tentukan daerah pungsi lumbal di antara L4 dan L5 yaitu dengan menentukan garis
potong sumbu kraniospinal ( kolumna verterbralis ) dan garis antara kedua spina
ishiadika anterior superior ( SIAS ) kiri dan kanan. Pungsi dapat pula di lakukan
anatara L4 dan L5 atau antara L2 dan L3 namun tidak boleh pada bayi.
3. Lakukan tindakan antisepsis pada kulit di sekitar daerah pungsi radius 10 cm dengan
larutan Povidon iodin di ikuti larutan alkohol 70% dan tutup dengan duk steril di
mana daerah pungsi lumbal di biarkan terbuka.
4. Tentukan kembali daerah pungsi dengan menekan ibu jari tangan yang telah
memakai sarung tangan steril selama 15 – 30 detik yang akan menandai titik pungsi
tersebut selama 1 menit.
5. Tasukan jarum spinal/stylet pada tempat yang telah di tentukan. Masukan jarum
perlahan-lahan menyusur tulang vertebra sebelah proksimal dengan mulut jarum
terbuka ke atas samapai menembus duramater. Jarak antara kulit dan ruang
subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan keadaan gizi. Umumnya
1,5 – 2,5 cm pada bayi dan meningkat menjadi 5 cm pada umur 3 –5 tahun. Pada
remaja jaraknya 6 – 8 cm.
6. Lepaskan stylet perlahan-lahan dan cairan keluar. Untuk mendapatkan aliran cairan
yang lebih baik, jarum di putar hingga mulut jarum mengarah ke kranial. Ambil
cairan untuk pemeriksaan
7. Cabut jarum dan tutup lubang tusukan dengan plester.

5
BAB III
PEMERIKSAAN TERHADAP LCS

3.1 Macam Pemeriksaan


Pemeriksaan terhadap LCS terdiri atas :
a. Pemeriksaan Rutin
▪ Makroskopis
▪ Mikroskopis
▪ Kimia
▪ Bakteriologi
b. Pemeriksaan Fisik
▪ Tekanan
c. Pemeriksaan Khusus
▪ Elektroforesa Protein
▪ iImunoelektroforesa
▪ Serologi
▪ Imunoglobulin

3.2 Makroskopis
Pemeriksaan Makroskopis meliputi :
▪ Warna
▪ Kekeruhan
▪ pH
▪ Konsistensi (Bekuan)
▪ Berat Jenis

❖ Metode : Visual (Manual)


❖ Tujuan : Untuk mengetahui cairan LCS secara makroskopik meliputi : warna,
kejernihan, bekuan, pH dan BJ.
❖ Alat :
▪ Tabung reaksi
▪ Beaker gelas
▪ Kertas indikator pH universal
▪ Refraktometer abbe
❖ Spesimen : Cairan LCS
❖ Prinsip : pada keadaan normal wujud LCS seperti air, dengan
membandingkannya dapat dinilai adanya perubahan pada LCS.
❖ Cara Kerja :
a. Tes Warna, Kekeruhan, dan Bekuan
• Tabung reaksi diisi aquadest secukupnya sebagai pembanding.
• Contoh bahan diisikan pada tabung reaksi yang sama ukurannya dengan
pembanding.
• Kedua tabung diletakkan berdekatan dengan latar belakang kertas putih.

6
• Bandingkan contoh bahan dengan aquadest.
b. Tes Berat Jenis
Cairan LCS diteteskan 1-2 tetes pada refraktometer dan diperiksa pada eye piece
BJ.

❖ Interprestasi hasil :
- Warna
Diamati warna pada LCS dengan aquades sebagai pembanding.
- Kejernihan/Kekeruhan
▪ 0 = jernih
▪ + 1 = berkabut
▪ + 2 = kekeruhan ringan
▪ + 3 = kekeruhan nyata
▪ + 4 = sangat keruh
- Bekuan
Tidak ada (negatif) atau ada bekuan (positif)

No Parameter Penilaian Normal


1. Warna Tidak berwarna, Kuning muda, Tidak berwarna
Kuning, Kuning tua, Kuning coklat,
merah, hitam coklat
2. Kejernihan Jernih, agak keruh, keruh, sangat Jernih
keruh, keruh kemerahan
3. Bekuan Tidak ada bekuan, ada bekuan Tidak ada bekuan
4. Ph 7,3 atau setara dengan pH
plasma/serum
5. BJ 1.000 – 1.010 1.003 – 1.008

❖ Hal yang perlu diperhatikan :


a. Warna
Normal warna LCS tampak jernih, wujud dan viskositasnya sebanding air.
- Merah muda → perdarahan trauma akibat pungsi
- Merah tua atau coklat → perdarahan subarakhnoid akibat hemolisis dan
- akan terlihat jelas sesudah disentrifuge
- Hijau atau keabu-abuan → pus
- Coklat → terbentuknya methemalbumin pada hematoma subdural kronik
- Xanthokromia → (kekuning-kuningan) pelepasan hemoglobin dari eritrosit
yang lisis (perdarahan intraserebral/subarachnoid); juga disebabkan oleh
kadar protein tinggi (> 200 mg/dl)
b. Kekeruhan
Normal → tidak ada kekeruhan atau jernih. Walaupun demikian LCS yang jernih
terdapat juga pada meningitis luetika, tabes dorsalis, poliomyelitis, dan
meningitis tuberkulosa.

7
Keruh → ringan seperti kabut mulai tampak jika :
- lekosit 200-500/ul3
- eritrosit > 400/ml
- mikroorganisme (bakteri, fungi, amoeba)
- aspirasi lemak epidural sewaktu dilakukan pungsi
- media kontras radiografi.
c. Konsistensi Bekuan
- Bekuan → banyak darah masuk
- Normal → tidak terlihat bekuan
- Bekuan → banyaknya fibrinogen yang berubah menjadi fibrin.
Disebabkan: trauma pungsi, meningitis supurativa, atau meningitis
tuberkulosa. Jendalan sangat halus à LCS didiamkan di dalam almari es
selama 12-24 jam.
- LCS yang bercampur darah dalam jumlah banyak pada kedua tabung, tidak
dapat diperiksa karena karena akan sama hasilnya dengan pemeriksaan dalam
darah, terutama bila ada bekuan merah sebagaimana darah membeku.
- Adanya bekuan terlihat berupa kabut putih yang menggumpal karena bekuan
terdiri atas benang fibrin.

3.3 Mikroskopis
▪ Syarat Pemeriksaan :
Dilakukan dalam waktu < 30’, karena bila > 30’ jml sel akan berkurang yang
disebabkan:
- Sel mengalami sitolisis
- Sel akan mengendap, shg sulit mendapat sampel yang homogen
- Sel terperangkap dalam bekuan
- Sel cepat mengalami perubahan morfologi

3.3.1 Hitung Jumlah Sel


❖ Metode : Bilik Hitung
❖ Prinsip : LCS diencerkan dengan larutan Turk pekat akan ada sel
leukosit dan sel lainnya akan lisis dan dihitung selnya dalam kamar hitung di
bawah mikroskop.
❖ Alat dan Reagensia :
- Mikroskop
- Hemaocytometer : Bilik hitung Improved neubauer, kaca penutup, pipet
thoma leukosit
- Larutan Turk Pekat : Kristal violet 0,1 gram, asam asetat glacial 10 mL
dan aquadest 90 mL.
❖ Spesimen : LCS
❖ Cara Kerja :
- Larutan Turk pekat diisap sampai tanda 1 tepat
- Larutan LCS diisap sampai tanda 11 tepat.

8
-
Dikocok perlahan dan dibuang cairan beberapa tetes.
-
Diteteskan pada bilik hitung dan dihitung sel dalam kamar hitung pada
semua kotak leukosit di mikroskop lensa objektif 10x/40x.
❖ Perhitungan :
Ʃ Sel = Jumlah sel ditemukan x 1 x 1 x pengenceran
Jumlah kotak L T

= ……..sel/mm3 LCS

Ket : T = tinggi bilik hitung : 1/10 mm


L = luas 1 satuan kotak yang dipakai

❖ Interpretasi : Jumlah sel normal = 0 – 5 sel/mm3 LCS


3.3.2 Hitung Jenis Sel
❖ Metode : Tetes tebal dengan pewarnaa Giemsa
❖ Alat dan Reagensia :
- Objek Gelas
- Kaca Penghapus
- Sentrifuge
- Tabung reaksi
- Metanol absolut
- Giemsa
- Timer
❖ Spesimen : LCS
❖ Cara Kerja :
- Cairan LCS di masukkan dalam tabung secukupnya.
- Disentrifugasi selama 5 menit 2000 rpm
- Supernatant dibuang dan endapan diambil.
- Diteteskan pada objek gelas dan dibuat preparat hapusan tebal
- Di keringkan dan difiksasi selama 2 menit dengan metanol absolut.
- Diwarnai dengan Giemsa selama 15-20 menit.
- Dicuci dan diperiksa dimikroskop lensa objektif 100x denga imersi.
❖ Perhitungan :

Jenis sel 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah %


MN
PMN
Jumlah

❖ Interpretasi : Normal MN 100% dan PMN 0%


3.3.3 Bakterioskopi
Dari pemeriksaan bakteliologi terhadap LCS, bakteri yang sering muncul ialah :
Mycobacterium tuberculosa, Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae,
dan Haemophillus influenzae.

9
Dengan melakukan pemeriksaan bakteriologi, sering sudah di dapatkan petunjuk
ke arah etiologi radang. Pemeriksaan yang paling diperlukan adalah pewarnaan
Gram dan Ziehl Neelsen. Specimen yang dipakai untuk pewarnaan ini sebaiknya
memakai sedimen dari LCS. Untuk pewarnaan tahan asam (Ziehl Neelsen) baik
juga dipakai specimen bekuan halus dekat permukaan LCS.

a. Pewarnaan Gram
▪ Cara Kerja :
- Gelas objek dan gelas penutup dibersihkan dengan alkohol 70% steril.
- Dibuat apusan dari bahan sedimen LCS
- Difiksasi di atas api bunsen.
- · Apusan bakteri yang telah jadi ditetesi gram A selama 3 menit,
dicuci denan air mengalir, dan dikeringanginkan.
- Kemudian ditetesi gram B selama 1 menit, dicuci dengan air mengalir,
dan dikeringanginkan.
- Kemudian ditetesi gram C selama 1 menit, dicuci dengan air mengalir,
dan dikeringanginkan.
- Kemudian ditetesi gram D selama 2 menit, dicuci dengan air mengalir,
dan dikeringanginkan.
- Diamati dengan mikroskop dengan perbesaran 1000 x, kemudian
dicatat bentuk dan warna susunan, dan sifat sel bakteri.
b. Pewarnaan Zeihl Neelsen
▪ Cara Kerja :
- Letakan sediaan yang telah difiksasi pada rak dengan apusan
menghadap ke atas.
- Teteskan larutan carbol fuchsin 0,3% (ZN A) sampai menutupi seluruh
permukaan sediaan sputum.
- Panaskan dengan nyala api spiritus sampai keluar uap selama 3-5 menit
(tidak boleh mendidih/kering).
- Singkirkan api spiritus, diamkan selama 5 menit.
- Bilas dengan air mengalir pelan sampai zat warna merah yang bebas
terbuang.
- Tetesi sediaan dengan larutan asam alcohol 3% (ZN B) sampai warna
merah fuchsin hilang.
- Bilas dengan air mengalir pelan.
- Teteskan larutan methylen blue 0,3% ( ZN C)pada sediaan sampai
menutupi seluruh permukaan.
- Diamkan 10 – 20 detik.
- Bilas dengan air mengalir pelan.
- Diamati dengan mikroskop dengan perbesaran 1000x, kemudian
dicatat bentuk dan warna susunan, dan sifat sel bakteri.

10
3.4 Kimiawi
Analisa kimia LCS → membantu diagnosis / menilai prognosis.
Pemeriksaan rutin yang dilakukan :
- Penetapan Protein Secara Kualitatif
- Kadar Protein
- Kadar Glukosa
- Kadar Klorida

3.4.1 Protein Kualitatif


▪ Keadaan normal→ cairan otak mengandung sedikit sekali protein
▪ Perbandingan antara albumin dan globulin LCS leih kecil daripada dalam
plasma
▪ Konsentrasi protein ↑ :
- Permeabilitas sawar darah-otak ↑ oleh radang
- Meningitis yang berat

A. Pandy Test
❖ Prinsip : reagen pandy memberikan reaksi terhadap protein
(albumin dan globulin) dalam bentuk kekeruhan. Pada keadaan normal
tidak terjadi kekeruhan atau kekeruhan yang ringan seperti kabut.
❖ Alat dan reagensia :
- Tabung serologi (garis tengah 7 mm)
- Kertas putih
- Reagen Pandy (larutan phenol jenuh dalam air)
❖ Cara Pmeriksaan :
- Ke dalam tabung serologi dimasukkan 1 ml reagen Pandy
- Tambahkan 1 tetes LCS
- Kemudian dilihat segera ada tidaknya kekeruhan.
❖ Interpretasi hasil :
- Negatif : tidak ada kekeruhan
- Positif : terlihat kekeruhan yang jelas
• +1 : opalescent (kekeruhan ringan seperti kabut)
• +2 : keruh
• +3 : sangat keruh
• +4 : Kekeruhan seperti susu
❖ Nilai normal : (-) / (+1)

B. Test None Apelt


❖ Prinsip : reagen Nonne memberikan reaksi terhadap protein
globulin dalam bentuk kekeruhan yang berupa cincin. Ketebalan cincin
berhubungan dengan kadar globulin, makin tinggi kadarnya maka
cincin yang terbentuk makin tebal.
❖ Alat dan Reagensia :

11
- Tabung serologi (garis tengah 7 mm)
- Reagen Nonne (larutan ammonium sulfat jenuh dalam air)
❖ Cara Pemeriksaan :
- Ke dalam tabung serologi dimasukkan 1 ml reagen Nonne
- Tambahkan 1 ml LCS dengan cara pelan-pelan sehingga terbentuk
2 lapisan,
- di mana lapisan atas adalah LCS. Diamkan selama 3 menit.
- Kemudian dilihat pada perbatasan kedua lapisan dengan latar
belakang gelap.
❖ Interpretasi hasil :
- Negatif : tidak terbentuk cincin antara kedua lapisan
- +1 : cincin yang terbentuk menghilang setelah dikocok (tidak ada
bekasnya).
- +2 : setelah dikocok terjadi opalesensi
- +3 : mengawan setelah dikocok
❖ Normal : (-)

3.4.2 Protein Kuantitatif


❖ Metode : Biuret
❖ Prinsip : Protein dalam sampel bereaksi dengan ion cupri (II) dalam
medium alkali membentuk komplek warna yang dapat diukur dengan
spektrofotometer.
❖ Alat :
- Tabung reaksi
- Mikropipet 20 µLdan 1000 µL.
- Tip kuning dan biru.
- Fotometer
❖ Reagensia :
- Reagen Kerja: Cupri (II) asetat 6 mmol/L, Kalium Iodida 12 mmol/L,
NaOH 1,15 mol/L, deterjen.
- Reagen standard : 8,0 g/dL
- Stabilitas : Reagensia stabil setelah dibuka sampai kadaluarsa bila disimpan
pada suhu ruang.
❖ Spesimen : LCS
❖ Cara Kerja :
- Masukkan ke dalam tabung berlabel :

Blanko Standar Sampel


Standar - 20 µl -
Serum - - 20 μl
Reagen kerja 1000 μl 1000 μl 1000 μl
- Campur dan inkubasi selama 10 menit pada suhu ruang.
- Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer dengan panjang
gelombang 578 nm terhadap blanko reagent.

12
❖ Perhitungan :
Total Protein = Absorben sampel x konsentrasi standar (8,0 g/dL)
Absorben standard
= ..............g/dL x 1000 = ......mg/dL
❖ Nilai Normal : 15 – 45 mg/dl

3.4.3 Glukosa Kunatitatif


Menyusutnya kadar glukosa dalam LCS → meningitis purulenta (metabolisme
leukosit & bakteri ↓ kadar glukosa à 0).
Semua mikroorganisme menggunakan glukosaà pe↓ kadar glukosa dapat
disebabkan oleh : fungi, protozoa, bakteri tuberculosis, dan bakteri piogen.
Meningitis oleh virus à sedikit me↓ kadar glukosa dalam LCS.
❖ Metode : GOD-PAP
❖ Prinsip : Glukosa dioksidasi oleh glukosa oksidase menghasilkan
hidrogen peroksida yang bereaksi dengn 4-aminoantipirin dan fenol dengan
pengaruh katalis peroksidase menghasilkan quinoneimine yang berwarna
merah.
❖ Alat :
- Tabung reaksi kecil
- Timer
- Mikropipet 10 dan 1000 µl
- Tissue
- Tip kuning dan biru
- Rak Tabung
- Fotometer
❖ Reagensia :
- Reagen kerja Glukosa
- Reagen standar Glukosa 100 mg/dl
- Stabilitas : Reagensia stabil setelah dibuka sampai kadaluarsa bila disimpan
pada suhu 2-8oC.
❖ Spesimen : LCS
❖ Cara Kerja :
- Dipipet ke dalam tabung:
Blanko Standar Sample
Standar - 10µ -
Serum - - 10µ
Reagen Kerja 1000µ 1000µ 1000µ
- Dicampur dan diinkubasi pada suhu ruang selama 10 menit.
- Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer terhadap blanko
dengan panjang gelombang 546 nm.

13
❖ Pengamatan dan Pembacaan :
- Absorben blanko aquabidest : 0,000
- Dicatat Absorben pengukuran reagent blanko, standar dan sampel
❖ Perhitungan :
Glukosa = Absorben sampel x konsentrasi standard (100 mg/dL)
Absorben standard
= ..............mg/dL
❖ Nilai Normal : 45 – 70 mg/dL

3.4.4 Chloroda Kuantitatif


❖ Metode : TPTZ
❖ Prinsip : Ion Chlorida bereaksi dengan Mercury (II), 2,4,4-tri-(2 pyridil)-
S-triazide kompleks (TPTZ) membentuk merkuri (II) chlorida. TPTZ bebas
bereaksi dengan ion besi (II) menghasilkan warna biru kompleks. Perubahan
absorben pada 578 nm sebanding dengan kadar chlorida.
❖ Alat :
- Tabung reaksi kecil
- Timer
- Mikropipet 10 dan 1000 µl
- Tissue
- Tip kuning dan biru
- Rak Tabung
- Fotometer
❖ Reagensia :
- Reagen warna : 2,4,6-tri-(2-pyridil)-S-triazide (TPTZ) dan merkuri (II)
kompleks 0,96 mmol/L dan besi (II) sulfat 0,5 mmol/L
- Standard Chlorida : Natrium chlorida 100 mmol/L atau 355 mg/dL
❖ Spesimen : LCS
❖ Cara Kerja :
- Dipipet ke dalam tabung:
Blanko Standar Sample
Standar - 10µ -
Serum - - 10µ
Reagen Kerja 1000µ 1000µ 1000µ
- Dicampur dan diinkubasi pada suhu ruang selama 10 menit.
- Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer terhadap blanko
dengan panjang gelombang 546 nm.

❖ Perhitungan :

14
Chlorida = Absorben sampel x konsentrasi standard (100 mmol/L)
Absorben standard
= ..............mmol/L
❖ Nilai Normal : 98 - 106 mmol/L

15
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Cairan otak ialah cairan jernih, tak berwarna yang 70 % dibuat oleh plexus choroideus
di dalam ruang atau ventrikel otak melalui transport akitf dan ultrafiltrasi, sedangkan
30% dibentuk pada tempat lain, termasuk pada ventrikel dan rongga
subarachnoid. Pada orang dewasa volume intrakranial kurang lebih 1700
ml, volume otak sekitar 1400 ml, volume cairan serebrospinal 52-162 ml (rata-
rata 104 ml)
dan darah sekitar 150 ml. 80% dari jaringan otak terdiri dari cairan, baik ekstra
sel maupun intra sel.

16
Lampiran

1. Bahan control

2. Sampel

3. Alat

17
4. Hasil

18
DAFTAR PUSTAKA

Gandasoebrata, R.1969. Penuntun Laboratorium Klinik . Dian Rakyat : Jakarta

Ginsberg Lionel. 2007. Lecture Notes Neurology. Erlangga : Jakarta

Kee, Joyce LeFeffer .1999. Pemeriksaan Dan Diagnosis. EGC : Jakarta

Pearce, Evelyn C.1972.Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis . GBAB I

19
Soal LCS

1. Seorang atlm akan mengerjakan sampel CSF dengan kondisi sampel


terbatas,pemeriksaan apa yang harus ATLM dahulukan ?
A. Jumlah Cell
B. Glukosa
C. Sediment
D. Protein quantitatif
E. Chloride
2. Pemeriksaan apa yang akan dilakukan oleh seorang ATLM jika mempunyai sampel
CSF ?
A. Transudat eksudat
B. Mucin
C. Nonne pandy
D. Rivalta
E. Transudat saja
3. Seorang pasien datang kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.Sampel untuk
pemeriksaan tersebut diambil melalui Lumbal III dan IV pasien.Pemeriksaan apakah
yang akan dilakukan oleh pasien ?
A. Batu ginjal
B. Tes kehamilan
C. LCS
D. Batu empedu
E. Urine rutin
4. Seorang ATLM akan mengerjakan cairan LCS pada tabung III yang berisi 2
ml .Pemeriksaan apa yang akan dilakukan oleh ATLM tersebut ?
A. Pemeriksaan jumlah Sel
B. Dibuang karena tidak dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan
C. Pemeriksaan kimia
D. Pemeriksaan bakteriologi
E. Pemeriksaan kimia klinik
5. Dalam pemeriksaan LCS tabung yang dipakai menggunakan 3 tabung.Berapakah
volume tabung tersebut ?
A. 1ml,2ml,3ml

20
B. 7ml,2ml,1ml
C. 1ml,2ml,7ml
D. 7ml,1ml,2ml
E. 1 ml,7ml,2ml

21

Anda mungkin juga menyukai