Anda di halaman 1dari 43

PERAN EKONOMI SYARIAH DAN KEGAGALAN EKONOMI

NEOKLASIK DI INDONESIA

Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang


Perencanaan dan Manajemen SDM

Oleh : Prof. Sayuti Hasibuan, Ph. D

Disampaikan pada Sidang Senat Terbuka


Universitas Muhammadiyah Surakarta
Rabu, 5 Maret 2008

1
Bismillahirrohmanirrohim

Yang saya hormati,


Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Diktilitbang;
Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah;
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan segenap Anggota Senat Universitas
Muhammadiyah Surakarta;
Para Pejabat Sipil dan Militer;
Para Wakil Rektor, Dekan dan Pembantu Dekan, Direktur dan Pembantu
Direktur, Ketua Program dan Sekretaris Program, Ketua Lembaga, Kepala Biro,
segenap Staf Program Pascasarjana, beserta Civitas Akademika Universitas
Muhammadiyah Surakarta;
Para tamu undangan, sahabat, handai taulan yang saya hormati,serta segenap
hadirin yang berbahagia.

Assalamu’alaikum wr. wb.,


Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan
karunia kepada kita semua untuk dapat mengukuti pidato pengukuhan saya
sebagai Guru Besar yang disampaikan pada Sidang Senat Terbuka Universitas
Muhammadiyah Surakarta pada hari Rabu, 5 Maret 2008.

Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Republik


Indonesia khususnya Sekretaris Jenderal Pendidikan Nasional Bapak Prof. Dr. Ir.
Dodi Nandika,M.S. dan Bapak Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia,
Bapak Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA yang melalui Surat Keputusan Nomor:
62493 / A2.7/KP/2006 telah menetapkan saya dalam jabatan dosen Guru Besar
dalam mata kuliah / bidang Ilmu Perencanaan SDM / Manajemen SDM.

Pada kesempatan ini saya kan menyampaikan pidato pengukuhanyang berjudul:


”Peran Ekonomi Syariah dan Kegagalan Ekonomi Neoklasik di Indonesia

2
Hadirin yang saya hormati,

Satu pertanyaan yang wajar dikemukakan ialah kenapa tulisan-tulisan akademis


mengenai ekonomi syariah “ yang dapat dijadikan referensi “ terasa amat kurang
di Indonesia saat ini? Apakah para ekonom Indonesia pada umumnya kurang
mengenal konsep-konsep pokok ekonomi syariah ? Ataukah ekonomi neoklasik
atau konvensional begitu dominan kedudukannya baik secara akademis maupun
dari segi pembentukan kebijakan negara sehingga menggeser perhatian utama dari
ekonomi syariah ? Barangkali tidak jauh dari kebenaran bila dikatakan bahwa
peran ekonomi konvensional begitu dominan secara akademis maupun dari segi
pembentukan kebijakan sehingga para ekonom Indonesia tidak melihat pentingnya
mengeluarkan banyak energi bagi pengembangan ekonomi syariah. Secara
akademis pengajaran ilmu ekonomi di Indonesia didominasi oleh pengajaran
ekonomi neoklassik yang merupakan basis teoritis dari apa yang dapat disebut
sebagai ekonomi konvensional. Jarang sekali fakultas ekonomi di Indonesia
memasukkan ekonomi syariah dalam kurikulum pokok sistem perkuliahannya.
Segala sesuatu ini berarti bahwa peran ekonomi neoklasik dalam pengaturan
kehidupan ekonomi di Indonesia semakin tidak tergoyahkan. Apalagi pembentukan
kebijakan dan pengajaran ekonomi berbasis ekonomi konvensional di universitas-
universitas di Indonesia didukung sepenuhnya oleh lembaga lembaga ekonomi
internasional seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, maka kedudukan
konsep-konsep ekonomi konvensional dalam pemikiran dan praxis kebijakan
ekonomi seolah-olah tidak tergoyahkan.

Posisi yang demikian kuat mulai goyah setelah Indonesia mengalami krisis
multidimensi berkepanjangan sejak tahun 1997. Krisis moneter di Muangthai pada
akhir tahun 1997 yang menjadi sumber awal krisis di Indonesia, sesungguhnya
adalah suatu kejadian relatif kecil secara internasional dibandingkan dengan
depresi yang melanda dunia pada tahun 1920-an dan tahun 1930-an. Namun
dampak dari krisis di Muangthai adalah krisis multidimensi di Indonesia yang
setelah lebih dari sembilan tahun Indonesia belum berhasil mengatasinya. Sudah
banyak langkah yang ditempuh untuk keluar dari krisis tetapi kenyataan yang

3
dihadapi ialah bahwa kondisi kehidupan ekonomi masyarakat belum bisa
diperbaiki secara berarti. Secara singkat dapatlah disampaikan bahwa ditinjau dari
segi peningkatan kesejahteraan ekonomi rakyat, pembangunan ekonomi yang
dilaksanakan selama ini mengalami kegagalan yang menyedihkan. Adalah tesis dari
makalah ini bahwa kegagalan pembangunan ekonomi di Indonesia utamanya
adalah karena resep-resep yang dipergunakan dalam membangun ekonomi
Indonesia adalah resep-resep ekonomi neoklassik yang memiliki ciri-ciri yang tidak
mendukung terwujudnya sasaran-sasaran kesejahteraan rakyat . Ciri-ciri pokok
yang mendasari ekonomi neoklasik adalah individualisme dan materialisme.
Aplikasi faham-faham ini dalam membangun ekonomi ternyata gagal dalam
mewujudkan cita-cita kesejahteranaan yang terkandung dalam visi pembangunan
sosial-ekonomi Indonesia sebagaiman yang terkandung dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945. Selanjutnya, juga menjadi tesis makalah ini adalah bahwa
bilamana Indonesia menginginkan cita-cita pembangunan ekonomi terwujud, maka
resep-resep yang digunakan mestilah resep-resep berbasis kepada kemanusiaan
yang adil dan beradab dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Nama yang diberikan
untuk ekonomi yang demikian adalah ekonomi syariah.

Dalam kaitan ini, sebagai dosen mata kuliah Dasar-Dasar Ekonomi Islam, saya
sambut baik terbitnya buku teks, Ekonomi Islam, yang ditulis oleh tim dari
Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, yang bekerja sama dengan Bank
Indonesia, yang merupakan tambahan penting terhadap literatur yang ada;
walaupun harus dikatakan bahwa masalah pokok yang dihadapi oleh ekonomi
bangsa saat ini, secara sistem, adalah beralih dari sistem materialistik-cum-
individulistik sekuler dan ribawi ke sistem syariah; dan seyoginyalah sebuah buku
teks ekonomi Islam memuat masalah=masalah aktual yang dapat dipelajari
mahasiswa.

Hadirin yang saya hormati,

Dapat dicermati berbagai indikasi kegagalan pembangunan perekonomian


Indonesia. Ini merupakan bagian pertama dari pidato ini.

4
Masalah Lapangan Kerja Produktif

Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, antara lain disebutkan bahwa


pemerintahan negara dibentuk “untuk memajukan kesejahteraan umum”. Banyak
ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur kesejahteraan umum. Lapangan
kerja merupakan salah satu ukuran utama yang dapat dan perlu dimanfaatkan.
Lapangan kerja produktif yang mencukupi merupakan sarana utama bagi
masyarakat untuk memperoleh pendapatan dengan halal. Lapangan kerja
menyangkut harga diri, dan pengangguran yang berkepanjangan akan berarti
hilangnya harga diri selain dari menurunnya tingkat hidup bagi yang
bersangkutan. Oleh karena itu pengangguran haruslah dihapuskan utamanya
dengan mengambil kebijakan negara yang tepat dalam memperluas lapangan kerja
produktif.

Ditinjau dari segi penghapusan pengangguran maka dapatlah disampaikan bahwa


pembangunan perekonomian Indonesia sampai dengan saat ini masih jauh dari
keberhasilan. Sebaliknya diketahui semakin meningkatnya pengangguran
walaupun telah dicapai berbagai kemajuan di bidang pertumbuhan ekonomi dan
ukuran-ukuran yang sejalan dengan pertumbuhan. Hal demikian terlihat dari
pengalaman selama pelaksanaan pembangunan dalam Pembangunan Jangka
Panjang Pertama (PJP I). “Selama 25 tahun pertumbuhan ekonomi Indonesia
mencapai rata-rata 6,8 % per-tahun”. (Republik Indonesia, (1994)) . Ekspor
Indonesia meningkat cukup tinggi khususnya ekspor non-migas. “Nilai keseluruhan
ekspor meningkat menjadi sekitar 43 kali, yaitu dari US$ 872 juta pada tahun 1968
diperkirakan menjadi US$ 37,2 miliar pada tahun 1993/94. Peningkatan pesat ini
terutama berasal dari ekspor nonmigas yang meningkat menjadi sekitar 50 kali,
yakni dari US$ 569 juta pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$ 28,2 miliar
pada tahun 1993/94, dan peranannya mencapai 75,8 % dari nilai seluruh ekspor”.
(Republik Indonesia, 1994). Investasi juga cukup tinggi. “Dalam PJP I pinjaman
luar negeri pemerintah meningkat dari US$ 266 juta pada tahun 1968 diperkirakan
menjadi US$ 5,9 miliar pada tahun 1993/94. … Pemasukan modal (neto) swasta
meningkat dari US$ 65 juta pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$ 6,7 miliar

5
pada tahun 1993/94, dan penanaman modal asing (neto) meningkat dari US$ 10 juta
pada tahun 1968 diperkirakan menjadi US$ 2,0 miliar pada tahun 1993/94.
“(Republik Indonesia, 1994). Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan
ekonomi ajaib (The World Bank, 1993).

Namun pada saat bersamaan pengangguran juga meningkat. Pada tahun 1980,
pengangguran terbuka berjumlah hanya 891 ribu orang atau 1,7 % dari angkatan
kerja. Pada tahun 1990 jumlah pengangguran meningkat menjadi 2.365 ribu orang
atau meningkat dengan 10.3 % per-tahun. Pada tahun 1995, pengangguran terbuka
meningkat lagi menjadi 3,2 % dari angkatan kerja atau 6.304 ribu orang atau
21,7% setiap tahun. Pada tahun 2000 ke atas, keadaan cenderung bertambah
suram. Menurut perhitungan Bappenas, sebagaimana yang dimuat di Harian
Kompas tanggal 5 September 2006, pertambahan angkatan kerja tahun 2000
adalah 0,94 juta orang, tahun 2001:3,18 juta, tahun 2002:1,97 juta, tahun 2003:1,85
juta, tahun 2004:1,34 juta, tahun 2005:1,83 juta orang. Rata-rata per-tahun
tambahan orang yang membutuhkan pekerjaan adalah 1,85 juta orang.
Kemampuan perekonomian memberi lapangan pekerjaan rata-rata per-tahun
selama enam tahun tersebut adalah 211 ribu orang untuk tiap kenaikan 1% dari
pertumbuhan ekonomi. Jadi kalau seluruh orang yang membutuhkan pekerjaan
mau ditampung dalam perekonomian bangsa maka perekonomian perlu tumbuh
dengan 1,85 juta: 0,211 juta = 8,76% per-tahun rata-rata. Pertumbuhan ekonomi
yang diperkirakan BI dalam iklan di Kompas adalah 6% pada tahun 2007 dan
berkisar antara 5,7% - 6,7% atau rata-rata 6,2% pada tahun 2008. Dengan
hitungan-hitungan ini, maka kecuali Allah menghendaki lain, pengangguran dan
kemiskinan semakin meluas. Ditambah dengan kenaikan harga bahan-bahan pokok
seperti harga minyak goreng, kehidupan sosial ekonomi masyarakat semakin
menghimpit. Keadaan akan semakin sulit dengan masih besarnya separuh
pengangguran dalam perekonomian, yaitu angkatan kerja yang bekerja kurang
dari 35 jam per minggu. Dari berbagai sumber BPS, diketahui bahwa persentase
separuh pengangguran ini adalah 36,5 % pada tahun 1980, 36,6 % pada tahun
1990,dan 36,9 % pada tahun 1995 pada saat pertumbuhan ekonomi tinggi. Pada

6
tahun 2000, separuh pengangguran adalah 36,7% dan pada tahun 2004 separuh
pengangguran adalah 32,2 %. (Badan Pusat Statistik, 1983, 1992, 1996). Perlu
diperhatikan angka pengangguran menyangkut jumlah manusia, angka riil; bukan
ukuran uang yaitu pendapatan atau konsumsi yang diukur dengan uang, seperti
halnya ukuran kemiskinan yang bisa naik turun dengan naik turunnya inflasi dan
jumlah dana yang disalurkan untuk mengatasi kemiskinan absolut. Bagaimanapun
kemiskinan cenderung meningkat dengan semakin meningkatnya pengangguran.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa langkah-langkah yang diambil oleh
pemerintahan negara selama ini telah gagal meningkatkan kesejahteraan bagi
seluruh rakyat.

Kesenjangan Peran Dunia Usaha

Kegagalan penyediaan lapangan kerja produktif dalam jangka panjang secara


memadai dan berkelanjutan merupakan satu indikasi umum yang amat penting
mengenai tidak atau kurang terwujudnya “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.” Indikasi ini menunjuk kepada marjinalisasi sebagian besar pengusaha
dalam perekonomian bangsa dan kepada super-kayanya sebagain kecil pengusaha.
Pada tahun 2003, umpamanya, menurut angka-angka yang ada dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menegah Nasional (PJMN) 2004-2009, usaha mikro, kecil,
menengah dan koperasi (UMKMK) yang berjumlah 42,4 juta unit atau 99,9% dari
jumlah seluruh unit usaha di Indonesia menghasilkan 56,7 % dari seluruh Produk
Domestik Bruto dan menyerap 79,0 juta tenaga kerja atau 99,5 % dari seluruh
tenaga kerja. Unit usaha besar yang merupakan hanya 0,1 % dari seluruh unit
usaha menghasilkan 43,3 % dari PDB dan 0,5 % dari seluruh lapangan kerja yang
ada pada waktu itu. Kesenjangan yang tercipta dalam kehidupan sosial-ekonomi
masyarakat dengan struktur perekonomian yang demikian tentulah amat besar.

Investasi Padat Modal

Masalah lapangan kerja dan pengangguran dan kesenjangan dunia usaha terkait
akrab dengan kebijakan pemerintah, khususnya kebijakan investasi. Terdapat

7
kesenjangan antar-sektor yang besar dalam investasi. Dalam Repelita V (1989/90-
1993/94), umpamanya, jumlah investasi diperkirakan Rp.334,4 triliun. Dari jumlah
ini sektor pertanian hanya kebagian 2,98 % pada hal pada waktu itu (1994) sektor
pertanian menampung 48,15 % dari angkatan kerja yang berjumlah 82 juta orang
lebih. Jasa-jasa yang mempekerjakan 13,27 % dari angkatan kerja hanya
memperoleh 4,48 %. Industri pengolahan yang mempekerjakan 13,21 % dari
angkatan kerja memperoleh dana invesatasi sebesar 34 %. Jadi sektor pertanian
dan sektor jasa-jasa yang memperkerjakan lebih 60 % dari angkata kerjan hanya
memperoleh sekitar 7,5 % dari investasi! Dilain pihak lembaga-lembaga keuangan
yang menampung hanya 0,76 % dari angkatan kerja memperoleh investasi sebesar
10,94 %. Secara keseluruhan sektor –sektor diluar pertanian dan jasa-jasa yang
mempekerjakan kurang dari 40 % angkatan kerja menikmati lebih dari 92 %
investasi (Centre for Technical Services- Indonesian-German Technical Cooperation
dan Bappenas, BookII Economic Sectors Data and Indicators, Jakarta, 1996, Tabel 1
dan Tabel 2). Dana investasi tidak diarahkan ke sektor padat karya tetapi ke sektor
padat modal. Pola investasi demikian sangat anti-lapangan kerja dan anti-keadilan
tetapi pro-kesenjangan.

Rendahnya Produktivitas Total Masyarakat


Meningkatnya pengangguran selama PJP I, besarnya kesenjangan peran antara
pengusaha besar yang amat sedikit dan para pengusaha yang tergolong kedalam
UKMK, relatif kecilnya investasi disektor-sektor yang banyak menyerap tenaga
kerja seperti di sektor pertanian, semuanya menunjuk kepada kurang berperannya
SDM Indonesia sebagai sumber pertumbuhan dalam pembangunan Indonesia.
Salah satu studi yang dilakukan oleh penulis ini beberapa tahun yang lalu
memperlihatkan bahwa selama tahun tahun 1972 s/d 1990, Indonesia mengalami
pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, sebesar 7,2 %. Dari pertumbuhan ini,
unsur modal menyumbang 5,1 %, unsur teanga kerja menyumbang 2,1 % dan
produktivitas total masyarakat atau Total Factor Productivity (TFP) menyumbang 0
%. Dengan lain perkataan para SDM Indonesia selaku pelaku pembangunan
disemua sektor secara rata-rata, mengandalkan kepada pertambahan input baru

8
baik modal maupun tenaga kerja dalam mengupayakan kemajuan masyarakat
Indonesia. Para pelaku ini secara rata-rata cenderung tidak efisien dalam
menggunakan sumber-sumber yang tersedia.

Meningkatnya Kejahatan
Lebih dari itu, kejahatan termasuk korupsi, besar dan kecil, disektor negara
maupun swasta, cenderung meningkat. Secara umum indeks kejahatan di
Indonesia, pada tahun-tahun sebelum pergantian pemerintahan di tahun 1998,
dengan tahun dasar 1985=100, adalah 110,8 pada tahun 1993, 110,5 pada tahun
1994, 116,0 pada tahun 1995, 112,3 pada tahun 1996 dan 108,8 tahun 1997. Khusus
untuk kasus penyuapan sebagai salah satu bentuk korupsi maka indeks ini adalah
76,5 pada tahun 1993, 100,0 pada tahun 1994, 129,4 pada tahun 1995, 535,3 pada
tahun 1996, dan 352,9 pada tahun 1997 dengan tahun dasar 1985=100. (Badan
Pusat Statistik, Statistik Kriminal, Jakarta 1997, hal. 28).

Rendahnya Posisi Indonesia Dalam Indeks Pembangunan Manusia Dunia

Secara umum dan internasional dapatlah disampaikan bahwa pembangunan yang


dilaksanakan selama ini telah gagal menempatkan Indonesia dalam posisi sesuai
dengan jumlah penduduknya yang besar, yang no.4 di dunia. Indikasi yang penting
mengenai hal ini adalah apa yang disebut sebagai indeks pembangunan manusia
(human development index) sebagaimana yang dikembangkangkan dan diriset
setiap tahun oleh sebuah badan PBB (UNDP). Pada tahun 2004, dari 177 negara di
dunia, Indonesia menempati no. 108. Posisi ini sudah sedikit membaik dari posisi
tahun sebelumnya yaitu 110. Posisi no. 1 ditempati oleh Norwegia. Human
Development Index mengukur tiga katagori pencapaian manusia yaitu tingkat
kesehatan penduduk, tingkat pencapaian pendidikan dan tingkat pencapaian di
bidang ekonomi. Pencapaian di bidang kesehatan, sebagaimana diukur oleh umur
rata-rata penduduk, maka Indonesia mencatat rata-rata umur penduduk 67,2
tahun pada tahun 2004 dan Norwegia mencatat 79,6 tahun. Di bidang pendidikan,
persentase penduduk yang memasuki sekolah, menurut golongan umur, adalah 100
% di Norwegia; sedangkan di Indonesia persentase ini hanyalah 68%. Selama

9
tahun 1996-2004, sejumlah 28 % anak-anak Indonesia dibawah umur lima tahun
mengalami kekurangan gizi yang ditandai berat badan dibawah standar. Sebesar 23
% penduduk Indonesia pada tahun 2004, belum memperoleh sumber air bersih
yang memadai. Yang erat kaitannya dengan masalah pengangguran adalah
masalah kemiskinan pendapatan. Dengan ukuran US$ 1 per kapita per hari sebagai
ukuran kemiskinan maka 7.5 % penduduk Indonesia rata-rata selama tahun 1990-
2003 berada di bawah garis kemiskinan. Bilamana ukuran kemiskinan dinaikkan
menjadi US$ 2 pendapatan per-kapita per hari, maka dalam periode yang sama
jumlah penduduk miskin meningkat menjadi 52,4%. (UNDP, 2006). Prospek masa
depan tidaklah cerah. Menurut laporan ADB-UNDP-UNESCAP yang berjudul
”The Millennium Development Goal, Progress Report in Asia and the Pacific”,
Indonesia bersama dengan Pakistan dan Bangladesh, diproyeksikan gagal mencapai
MDG (medium development goal) mereka yaitu mengurangi menjadi setengah
tingkat kemiskinan pada tahun 2015. (Harian Kompas, 2006). Memang
pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per-kapita Indonesia meningkat tiap tahun.
Tetapi itu tidak banyak artinya sebab peningkatan ini berarti semakin jauh jurang
pemisah antara yang menganggur dengan yang tidak menganggur dan antara yang
kaya dan yang miskin. Ini berarti, “mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia” sebagaimana yang diamanatkan dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945 semakin jauh dari kenyataan.

Hadirin yang saya hormati,

Dapatlah disimpulkan bahwa ditinjau secara struktural, pembangunan sosial-


ekonomi Indonesia pasca-kemerdekaan, kebijakan-kebijakan pembangunan yang
ditempuh selama ini telah tidak berhasil mewujudkan lapangan kerja produktif
yang mencukupi begi kesejahteraan rakyat, telah tidak berhasil mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat, telah mendorong terjadinya kejahatan berbagai
ragam dan telah gagal menempatkan mutu SDM Indonesia ketempat yang
terhormat secara internasioanal.

10
Dengan mengemukakan kelemahan-kelemahan ini dalam usaha pembangunan
bangsa selama ini, tidaklah berarti ini mengurangi rasa syukur kita bahwa
Republik Indonesia yang diroklamirkan pada tahun 1945 masih tetap utuh berdiri
sampai dengan saat ini. Dilain pihak rasa syukur itu mengharuskan adanya upaya
mencari tahu kenapa terdapat kelemahan-kelemahan demikian agar dapat diambil
langkah-langkah perbaikan kemasa depan.

Hadirin yang saya hormati,

Apa Sebab Indonesia Sebegitu Jauh Gagal Dalam Mengupayakan Kesejahteraan


Rakyatnya Sesuai Tuntutan Nilai-Nilai Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945 ? Tinjauan mengenai sebab-sebab ini merupakan bagian kedua dari pidato ini.

Pengingkaran Terhadap Hukum Sebab-Akibat

Kegagalan ini disebabkan digunakannya paradigma operasional ekonomi neoklasik


materialisme dan individualisme dalam perencanaan dan pelaksanaan operasional
pembangunan sosial ekonomi Indonesia selama ini. Paradigma operasional
demikian berdampak negatif kepada pemanfaatan sepenuhnya SDM bangsa dalam
mengupayakan berbagai tujuan yang mau dicapai karena tidak konsisten dengan
resep-resep yang telah ditetapkan.

Tetapi kenapa harus gagal ? Ini oleh karena adanya pengingkaran terhadap hukum
sebab-akibat. Dibidang sosial-kemanusiaan, berbeda dengan bidang fisik- alam,
kemauan manusia menjadi sebab awal banyak gejala. Negara-negara Barat,
umpamanya, masing- masing memiliki kemauan kolektif dan mereka sudah
menemukan resep-resep yang cocok merealisasikan kemauan kolektif ini. Indonesia
dengan nilai-nilai yang terkandung didalam Undang-Undang Dasar 1945, nyatanya
belum menemukan resep yang cocok. Bahkan dapat dikatakan bagian dari para
pemimpin Indonesia termasuk yang di birokrasi, ternyata belum faham benar
kemauan kolektif bangsanya dan kalaupun faham, tidak atau kurang menguasai
cara-cara merealisasikan kemauan ini. Tidaklah mengherankan bilamana strategi
pembangunan yang diusung, sadar atau tidak, telah mengingkari hukum sebab-

11
akibat dengan melaksanakan faham materialisme dan individualisme yang
sesungguhnya tidak dikehendaki bahkan ditentang sejak awal oleh para pendiri
Republik.

Faham Ekonomi Neoklasik

Sebagaimana sudah diindikasikan sebelumnya, kegagalan ini berkaitan dengan


faham sosial-ekonomi yang dianut sebagai dasar operasional penentuan kebijakan
dalam pembangunan, khususnya dalam pembangunan ekonomi. Faham ini
dapatlah disebut sebagai faham ekonomi neoklasik. Yang dimaksud dengan faham
ekonomi neoklasik adalah suatu pendekatan umum dalam ekonomi dengan fokus
kepada konsep-konsep dasar tertentu mengenai kelakuan manusia agar terwujud
suatu alokasi sumber-sumber yang efisien. Yang amat penting adalah bahwa
efisiensi alokasi sumber daya masyarakat ditentukan oleh tindakan-tindakan
individu. Dalam kaitan ini faham ekonomi neoklasik membuat anggapan bahwa
manusia memiliki preferensi-preferensi yang rasional yang dapat diidentifikasi,
diberi nilai dan bahwa setiap individu memiliki informasi penuh mengenai apa yang
ia kehendaki, mengenai harga-harga, produk, dan informasi-informasi lainnya
yang relevan, baik informasi kini, masa yang lalu maupun masa depan sehingga
tercipta kemampuan bagi individu-individu untuk memaksimumkan kegunaan bagi
dirinya dan bagi perusahaan-perusahaan memaksimumkan keuntungan. Dengan
anggapan mengenai prilaku manusia dan dengan anggapan bahwa adanya pasar
dengan persaingan sempurna maka diciptakanlah sebuah struktur teoritis
bagaimana efisiensi alokasi sumber daya bisa diwujudkan di masyarakat. Rumah-
tangga rumah-tangga dalam batas-batas kemampuan keuangan mereka dan
dengan harga-harga yang berlaku, akan membeli sekumpulan komoditas dan jasa
dalam upaya meraih manfaat yang maksimal. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan
akan membeli suatu kombinasi masukan tenaga kerja dan modal termasuk
teknologi, yang akan menciptakan keuntungan yang maksimal bagi mereka.
Dengan adanya pasar bebas dengan persaingan sempurna baik pada pasar unsur-
unsur produksi maupun pada pasar barang-barang konsumsi, maka terciptalah

12
suatu pasar dengan persaingan penuh. Tercipta pulalah suatu keseimbangan umum
antara penawaran dan permintaan dan efisiensi dalam alokasi sumber daya
masyarakat. Keadaan demikian disebut Pareto optimum yaitu suatu situasi di mana
tidak seorangpun dapat memperbaiki posisi ekonominya tanpa merugikan setidak-
tidaknya satu orang lain dalam masyarakat. Tenaga kerja akan memperoleh bagian
yang adil dari produksi nasional sesuai dengan kontribusinya. Pemilik modal juga
akan memperoleh bagian yang adil. Tidak ada eksploitasi manusia oleh manusia.
Pemerintah perlu mengintervensi untuk mengatasi berbagai friksi di pasar
termasuk kelemahan struktur pasar dan informasi. Ide-ide demikian mengenai
ekonomi neoklasik dapat dibaca pada sebuah teks ekonomi yang memadai seperti
yang ditulis oleh Case dan Fair (Case and Fair, 1992).

Individualisme

Di mana letak individualisme dalam pola berfikir faham neoklasik ? Dengan


individualisme disini diartikan “The tendency to magnify individual liberty, as
against external authority, and individual activity, as against associated activity”
(Catholic Encyclopedia). Dengan pengertian demikian mengenai individuaisme,
maka dapat dikatakan bahwa ekonomi neoklasik mengejawantahkan
individualisme dalam bentuknya yang ekstrim. Sebagaimana sudah disampaikan
sebelumnya, seluruh struktur teoritis disiplin ekonomi neoklasik berlandaskan
kepada anggapan bahwa para individu memiliki pengetahuan sempurna sehingga
setiap individu mampu memaksimumkan kenikmatan dalam bentuk kegunaan atau
“utility”. Setiap individu memiliki kebebasan penuh untuk memilih baik di bidang
konsumsi maupun produksi. Sejalan dengan itu setiap individu memiliki kebebasan
penuh untuk membentuk idenya sendiri atau berpendapat dan kebebasan penuh
untuk bertindak dalam berbagai bidang kehidupan lainnya seperti dalam bidang
politik, di bidang sosial dan di bidang keagamaan. Di bidang politik, menurut John
Stuart Mill, intervensi pemerintah dalam urusan-urusan masyarakat perlulah
ditekan menjadi seminimum mungkin. Setelah menjelaskan, dalam salah satu
tulisannya, berbagai alasan kenapa tidak dikehendaki campur tangan pemerintah
dalam urusan masyarakat, Mill menyimpulkan “Laisser-faire, in short, should be

13
the general practice: every departure from it, unless required by some great good, is a
certain evil” (Mill, 1909).

Faham individualisme ekstrim sebagaimana yang terdapat dalam ekonomi


neoklasik dapat dikatakan berlawanan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Yang perlu dimajukan melalui kebijakan
pemerintahan negara adalah “kesejahteraan umum” dan bukan kesejahteraan
orang per orang. Memang menurut faham Ketuhanan Yang Maha Esa dari
sebagian terbesar rakyat Indonesia, setiap individu akan bertanggung jawab
langsung kepada-Nya di akhirat mengenai tindakannya selama di dunia, tetapi
selama hidup di dunia setiap individu diwajibkan untuk turut serta dalam
memajukan kesejahteraan umum. Dengan lain kata perlu ada keseimbangan di
antara kepentingan individu dan kepentingan keseluruhan. Dari segi faham
keagamaan, adanya keseimbangan merupakan suatu keharusan. “Thus, the basic
distinguishing feature of the Islamic system is represented in its being based on a
spiritual understanding of life and a moral sense of life. A major point of this system is
the taking into consideration of both the individual and society, and the securing of a
balance between life of the individual and social life. The individual is not considered
the central principle in legislating and governing, nor is the large social existence the
only thing to which the state pays attention and for whose sake it enacts its laws”. (as-
Sadr, 2007).

Hadirin yang saya hormati,

Faham Individualisme Dan Birokrasi

Apa yang disampaikan Mill mengenai hubungan yang individualistis antara


pemerintah dan masyarakat menyangkut masyarakat di luar pemerintah. Apakah
hubungan yang individualistis ini juga menyangkut hubungan dengan masyarakat
di dalam organisasi pemerintah, yaitu para pegawai pemerintah? Untuk menjawab
pertanyaan ini perlulah diteliti karya-karya intelektual Max Weber. Menurut
sebuah studi mengenai karya-karya Max Weber di bidang sosiologi, perspektif

14
intelektual Max Weber mengenai individualisme ialah bahwa individualisme tidak
boleh dibatasi hanya pada individu yang memaksimumkan keuntungan keuangan
tetapi individualisme perlu diaplikasikan kepada individu secara totalitas. “Weber
believed ideas about economic conduct could have a power of their own, in addition to,
as well as in conjunction with, the unquestioned importance of economic interest”.
(Bendix, 1962). Sesungguhnya akan mengherankan bilamana Weber tidak
menganggap indidvidualisme tidak merupakan faktor penting dalam keseluruhan
perilaku manusia bila diperhatikan pandangannya mengenai kapitalisme yang
ideal. Menurut Weber, kapitalisme yang ideal akan ditandai oleh “private
ownership, profit, competition, laissez faire”. (Eiwell, 2007). Karakter individulistik
demikian dari ekonomi neoklasik tercermin dalam birokrasi Weber. Menurut
Weber birokrasi yang ideal ditandai dengan sistem “hierarchy, impersonality,
written rules of conduct, achievement, specialized division of labor, and efficiency”.
Kecenderungan kecenderungan individualistik demikian di kalangan para pegawai
suatu organisasi cenderung mengubah organisasi tersebut menjadi oligarki atau
dikuasai dan diatur oleh sejumlah kecil orang, oleh pejabat pejabat di lingkaran
atas organisasi. Kecenderungan-kecenderungan individualistik demikian akan
mempersulit upaya-upaya peningkatan efisiensi oleh karena efisiensi membutuhkan
partisipasi yang efisien pada semua tingkatan dalam berbagai dimensi kegiatan.

Individualisme, Paradoks Arrow, Efisiensi Dan Produktivitas

Sesungguhnya terdapat alasan kuat untuk mempercayai bahwa efisiensi dan


produktivitas dalam penggunaan sumber-sumber hampir tidak mungkin tercapai
terutama pada saat seperti sekarang ini yang ditandai oleh suatu revolusi informasi
dan perubahan cepat. Ini disebabkan berlakunya teorema ketidakmungkinan
Arrow. “Arrow’s theorem states that there is no general way to aggregate preferences
without running into some kind of irrationality or unfairness”. (Geanakoplos, 2001).
Penjelasan matematika teorema ini dapat dijumpai dalam tulisan Geanakoplos.
Tetapi secara sederhana, bukti ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Anggap ada
dua orang/pihak, K dan Y yang harus menentukan urutan prioritas dari tiga
pilihan yatu A, B dan C. Mana di antara ketiga pilihan yang dianggap sebagai

15
prioritas utama? Umpamakan K membuat ranking A>B>C. Jadi bagi si K, A> C.
Sedangkan Y membuat pilihan B>C>A. Pilihan-pilihan ini harus memenuhi
beberapa persyaratan antara lain dilakukan secara bebas oleh masing-masing
pihak, tidak ada tekanan bahwa pilihan seseorang harus diikuti (semua orang ikut
memilih) dan pilihan harus bersifat transitif, artinya kalau dikatakan A>B>C,
maka mestilah dianggap A>C, sebagaimana pilihan K. Sedangkan menurut Y,
yang pilihannya juga memenuhi persyaratan teorema, C>A ; berlawanan dengan
apa yang disusun oleh K. Disini jelas terlihat adanya suatu paradoks. Tentu kalau
jumlah orang yang terlibat banyak dan pilihan juga berjumlah banyak, seperti
halnya dalam suatu sistem pelaksanaan pembangunan, apalagi dalam
pembangunan Indonesia yang penduduknya penuh kebhinekaan dan jumlahnya
besar serta tersebar di daerah geografis yang luas yang mencakup daratan dengan
belasan ribu pulau dan lautan, yang kekayaan alamnya banyak diincar oleh
tetangga-tetangga yang materialistik, maka dapat dibayangkan berapa banyak
paradoks yang akan muncul dalam sistem pelaksanaan. Paradoks-paradoks inilah
yang pada dasarnya yang tidak memungkinkan terwujudnya efisiensi dan
produktivitas dalam pemanfaatan sumber-sumber ekonomi (Hasibuan, 2005).

Dalam kaitan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja maka semakin sedikit
paradoks semakin besar dampak pertumbuhan ekonomi terhadap lapangan kerja.
Semakin banyak paradoks dalam sistem manjemen perekonomian semakin sedikit
dampak pertumbuhan ekonomi bagi lapangan kerja. Jadi kalau diinginkan adanya
perluasan lapangan kerja produktif yang lebih besar dari tingkat pertumbuhan
ekonomi tertentu, maka paradoks-paradoks perlu dihapuskan sejauh mungkin.
Tetapi dalam kaitan dengan konsep organisasi Max Weber, kenapa harus muncul
paradoks? Dalam konsep Weber, hierarki berarti bahwa “Every official’s
responsibilities and authority are part of a hierarchy of authority. Higher offices are
assigned the duty of supervision, lower offices, the right of appeal ”.Furthermore,
official business is conducted in accordance with stipulated rules characterized by
three interrelated rules “(a) the duty of each official to do certain types of work is
delimited in terms of impersonal criteria; (b) the official is given the authority

16
necessary to carry out his assigned functions; (c) the means of compulsion at his
disposal are strictly limited, and the conditions under which their employment is
legitimate are clearly defined” (Bendix, 1962). Jadi dengan konsep organisasi yang
demikian akan sulit bagi setiap pejabat untuk melakukan inovasi dalam memberi
respons terhadap perubahan yang terjadi. Setiap pejabat diletakkan dalam sebuah
“cubicle”, yang tidak memerlukan kerjasama orang lain dan tidak ada motivasi
untuk saling berkonsultasi baik secara horizontal maupun vertikal. Hierarki
berakibat pada fragmantasi dalam motivasi, identifikasi, kepercayaan, kerjasama,
dan informasi sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Leibenstein. “Fragmented
motivation, Fragmented identification, Fragmented trust, Fragmented commitment,
Fragmented cooperation, Fragmented information on objective”. (Leibenstein, 1987).
Jadi secara struktur, koordinasi dan inovasi amat sulit dilakukan dan oleh karena
itu produktivitas dan efisiensi sulit diwujudkan.

Hadirin yang saya hormati,

Materialisme Dan Tuhan Yang Maha Esa

Dengan materialisme saya maksudkan apa yang pada umumnya diartikan oleh
kaum materialis. “Materialism, of the kind accepted by many philosophers and
scientists, is a general view about what actually exists. Put bluntly the view is just this:
Everything that actually exists is material, or physical” (Moser, P.K., Trout, J.D.,
Editors, 1995). Arti demikian dari faham materialisme secara langsung menolak
adanya Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karena itu berlawanan dengan Undang-
Undang Dasar 1945. Democritus, yang dianggap sebagai orang pertama yang
mengembangkan faham materialisme secara sistematis mengajarkan bahwa “out of
nothing comes nothing”. “The soul is a complex of very fine, smooth, round, and fiery
atoms: these are highly mobile and penetrate the whole body, to which they impart
life”. (Catholic Encyclopedia, 1997). Kaum beragama, khususnya yang beragma
Islam, jelas tidak bisa menerima konsep demikian mengenai ruh. Al- Qur’an
menyampaikan: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “ Ruh

17
itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit”. (Al Qur’an: 17:85).

Hadirin yang saya hormati,

Mungkin para ekonom keberatan bilamana dikatakan bahwa ekonomi neoklasik


memiliki pandangan dunia yang materialistik. Keberatan ini didasarkan kepada
pendapat bahwa apa yang disebut kegunaan atau “utility” bisa saja mencakup hal-
hal yang bersifat spiritual, umpamanya kenikmatan spiritual. Bilamana seseorang
memilih untuk menghabiskan waktunya beribadah di mesjid atau seseorang
menghabiskan sebagian besar uangnya untuk kepentingan amal, maka hal ini dapat
diterima dalam pemikiran ekonomi neoklasik. Penerimaan ini didasarkan kepada
prinsip bahwa orang bebas memilih cara yang mereka anggap sesuai dengan
mereka punya “taste” atau keinginan. ” Taste” merupakan konsep yang mencakup
dalam ekonomi neoklasik apapun pilihan yang dilakukan oleh para individu. Jadi
secara filsafat tidak bisa dikatakan bahwa ekonomi neoklasik bersifat materialistik
dalam pandangan dunianya. Tetapi secara praktis riil dapatlah dikatakan bahwa
ekonomi neoklasik memang bersifat materialistik. Alfred Marshall, salah seorang
ekonom neoklasik terkemuka, umpamanya mendefinisikan kekayaan atau “wealth”
sebagai terdiri dari kekayaan materi dan kekayaan non-materi. Tetapi kekayaan
non-materi yang dimaksud adalah kekayaan yang bisa menunjang peningkatan
kekayaan materi. “In the second class are those immaterial goods which belong to
him, are external to him, and serve directly as the means of enabling him to acquire
material goods. Thus it excludes all his own personal qualities and faculties, even
those which enable him to earn his living; because they are Internal. And it excludes
his personal friendships, in so far as they have no direct business value. But it includes
his business and professional connections, the organization of his business, and –
where such things exist—the property in slaves, in labour dues, etc”. (Marshall,1950)
Jadi unsur-unsur non-materi yang dianggap sebagai kekayaan adalah unsur-unsur
yang bermanfaat dalam meningkatkan kekayaan materi. Dapat ditanyakan
bagaimana menggolongkan keterampilan dan ilmu yang dimiliki oleh seseorang.
Marshall beranggapan bahwa hal-hal ini merupakan kekayaan tetapi kekayaan

18
yang bersifat pribadi, “personal wealth”. Marshall menegaskan bahwa yang
diartikan dengan kekayaan adalah kekayaan materi yang berada di luar diri
seseorang walaupun pada saat tertentu dapat saja dimasukkan unsur yang berada
dalam diri seseorang. “Wealth” simply should always mean external wealth only. But
little harm, and some good seems likely to arise from the occasional use of the phrase”
material and personal wealth”. (Marshall, 1950). Juga dalam hal barang-barang
yang bersifat abstrak, pengetahuan saintifik tidaklah dapat dianggap sebagai
kekayaan nasional.

“German economists often lay stress on the non-material elements of national wealth,
and it is right to do this in some problems relating to national wealth, but not in all”.
(Marshall, 1950). Jadi secara pragmatis dapatlah ditegaskan bahwa ekonomi
neoklasik bersifat materialistik dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia
materialistik yang kuat ini tercermin dalam salah satu konsep pokok ekonomi
neoklasik, pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi suatu negara diartikan
sebagai pertambahan barang dan jasa atau pendapatan nasional yang dialami oleh
bangsa tersebut dalam periode tertentu. “What is national income? It is the loose
name we give for the money measure of the over-all annual flow of goods and services
in an economy”. (Samuelson, 1958). Pendapatan nasional mencerminkan cara-cara
para individu memilih untuk memaksimumkan manfaat atau kegunaan masa kini
maupun masa depan. Para individu dapat memilih mengeluarkan uang mereka
untuk pendidikan, kesehatan atau untuk jasa-jasa panti pijat dan untuk berbagai
jenis barang. Sistem politik yang sejalan dengan kebebasan memilih di bidang
ekonomi adalah suatu sistem politik yang demokratis, di mana para individu,
melalui sebuah pemilihan umum, memilih wakil-wakil mereka yang akan
menentukan pengeluaran pemerintah. Semua ini sejalan saja dengan pemikiran
neoklasik sehingga pendapatan nasional atau pendapatan per-kapita merefleksikan
kesejahteraan. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin tinggi pula
pendapatan per-kapita dan semakin sejahtera para individu secara rata-rata.
Kesejahteraan suatu negara adalah pertambahan kesejahteraan masing-masing

19
individu; ini mencerminkan pandangan pemikiran faham individualisme mengenai
masyarakat di mana keseluruhan sama dengan petambahan dari bagian bagian.

Hadirin yang saya hormati,

Pandangan Dunia Dan Model Manusia

Secara singkat dapatlah dikemukakan bahwa faham ekonomi neoklasik memiliki


pandangan dunia bahwa masyarakat manusia adalah masyarakat yang
individualistis dan atomistis. Berfungsinya pasar bebas akan mengkoordinasikan
keputusan individu-individu yang menyangkut alokasi sumber yang mereka miliki.
Para individu dianggap rasional sepenuhnya dan memiliki informasi yang
sempurna dalam membuat pilihan-pilihan. Segala sesuatu ini didukung oleh
kebebasan penuh bagi para individu membuat pilihan-pilihan di bidang politik,
sosial dan budaya dengan tujuan memaksimumkan kenikmatan materialistis.
Memajukan kepentingan orang lain atau “altruism” mungkin saja merupakan
bagian dari pilihan-pilihan yang dibuat; tetapi kalau pertimbangan demikian
dimasukkan maka itu adalah dalam rangka mengurangi biaya. Secara filsafat
faham ekonomi neoklasik menganggap dirinya bebas nilai. Ilmu yang
dikembangkan adalah ilmu positif dan kalimat-kalimat selalu dibedakan antara
kalimat yang bersifat normatif atau “ought statements” dan kalimat-kalimat yang
positif atau “is statements”. Orientasi filisofis yang demikian tercermin di dalam
agenda, tujuan, penelitian, tema dan praktek-praktek metodologi ekonomi
neoklasik. (Mair and Miller, 1991). Jelaslah bahwa pandangan demikian mengenai
individu manusia dan masyarakat manusia tidak sejalan bahkan bertentangan
dengan pandangan mengenai manusia dan masyarakat manusia sebagaimana yang
terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Manusia ideal yang
terdapat dalam Pembukaan adalah manusia yang aturan hidup pokoknya
didasarkan kepada prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil
dan beradab dan bukan manusia yang aturan hidupnya didasarkan kepada
memaksimumkan kenikmatan materialistis dengan biaya yang minimum yang
diperoleh melalui persaingan sempurna sebagaimana yang diidealisasikan oleh

20
faham ekonomi neoklasik. Bung Hatta menegaskan, didepan civitas akademika
Universitas Sun Yat Sen di Kanton, Republik Rakyat Cina, 11 Oktober 1957,
sebagai berikut. ” Tuhan orang Islam adalah Allah Yang Pengasih dan Penyayang
serta Maha Adil, orang Islam mempunyai kewajiban untuk melaksanakan di atas
dunia ini suatu masyarakat, yang bedasarkan kasih sayang, rasa persaudaraan,
tolong menolong serta keadilan sosial, merasakan damai dalam jiwanya. Oleh
karena Islam berarti pula damai, maka wajiblah bagi orang Islam untuk
menegakkan perdamaian itu di luar lingkungannya yang kecil, keluar dari batas
negara negara dan kebangsaan. Ia harus menuju kepada persaudaraan segala
bangsa.” (Luthfi, 2007). Yang diutamakan adalah “kesejahteraan umum” yang
dicapai melali kebersamaan, tanpa mengorbankan kepentingan atau hak-hak dasar
individu. Diperlukan kebijakan dan langkah-langkah yang tepat agar terwujud
keseimbangan diatara dua kepentingan ini. Walau bagaimanapun, kepentingan
umum lebih besar dari pertambahan kepentingan para individu yang membentuk
suatu masyarakat manusia. Ini membawa kita kepada diskusi mengenai
produktivitas total masyarakat dari sebuah organisasi manusia.

Hadirin yang saya hormati,

Produktivitas Total Masyarakat : Sebuah Kerangka Teoritis Awal

Tetapi bagaimanakah bisa diketahui bahwa kesejahteraan umum ini yang dicapai
melalui kebersamaan sudah berhasil didekati secara teknis? Masing-masing bangsa
memiliki definisi sendiri mengenai apa yang dimaksud dengan kejejahteraan
umum. Juga masing-masing masyarakat bangsa memiliki aturan-aturan sendiri
mengenai bagaimana kebersamaan itu harus dilaksanakan. Tetapi semua
masyarakat bangsa manusia akan sepakat bila dikemukakan bahwa apapun yang
mau diupayakan oleh bangsa tersebut, maka sumber daya yang dimiliki perlulah
dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin. Disinilah letak relevansi
produktivitas total masyarakat atau total factor productivity sebagai salah satu
ukuran umum sejauh mana sebuah masyarakat berhasil mencapai kesejahteraan
umum, sesuai dengan yang didefinisikan.

21
Yang dimaksud dengan produktivitas total masyarakat atau “total factor
productivity” adalah bagian dari pertumbuhan produk per-kapita yang tidak bisa
dijelaskan oleh pertumbuhan input per-kapita. Dalam studi historisnya yang amat
detail mengenai pertumbuhan ekonomi di negeri-negeri yang saat ini sudah maju
secara ekonomi, Simon Kuznets, seorang pemenang hadiah Nobel ekonomi
menyimpulkan bahwa sebagian terbesar dari pertumbuhan ekonomi yang dialami
bukan datang dari pertumbuhan input tetapi bersumber dari pertumbuhan
produktivitas. Kuznets mengemukakan “that the distinctive feature of modern
economic growth of per capita product, is for the most part attributable to a high rate
of growth in productivity”. Dalam salah satu kalkulasinya, Kuznets memberi contoh
“an annual rate of combined inputs per capita of 0.55%, compared with a growth rate
of per capita product of 2.97%”. (Kuznets, 1976). Dengan lain perkataan
pertumbuhan unsur-unsur modal dan tenaga kerja secara bersama-sama hanya
menyumbang 18% kepada peningkatan produk per-kapita. Selebihnya yaitu 82%
dari kenaikan produk per-kapita datang dari peningkatan produktivitas.

Peranan utama dari produktifitas total masyarakat per kapita dalam menyumbang
kepada pertumbuhan produk per kapita kelihatannya sudah cukup terbukti,
walaupun harus dikemukakan bahwa masih terdapat perbedaan pendapat yang
muncul oleh karena masalah-masalah teknis yang berpengaruh terhadap hasil-hasil
kalkulasi dan kesimpulan yang diperoleh seperti cara menghitung stok modal ,
periode waktu yang dipilih dalam perhitungan, dan faktor-faktor lain. Namun isu
pokok pada saat ini adalah apa yang menyebabkan meningkatnya produktifitas per
kapita? Satu konklusi umum yang dapat disampaikan pada saat ini adalah bahwa
peningkatan ini bukan utamanya disebabkan oleh faktor-faktor produksi yang
bersifat materi. Kuznets menekankan pentingnya peran negara dalam memfasilitasi
arus dan aplikasi dari ilmu yang bermanfaat (“ useful knowledge”) bagi
kesejahteraan masyarakat, di samping peran negara dalam menyediakan
infrastruktur dan penyelesaian konflik antar kelompok. Kuznets (1976). Ilmu yang
bermanfaat merupakan bagian dari modal manusia atau modal yang tidak dapat
dipegang.

22
Bagaimanapun sebuah studi yang banyak disitir, yang meneliti mengenai faktor
faktor yang berada di belakang perbedaan yang besar dalam output per capita
anatara Barat (negara - negara Eropah Barat dan keturunan mereka) dan Timur
(Cina, Pakistan, India, Bangladesh, Indonesia, Jepang, Birma, Filipina, Korea
Selatan, Taiwan dan Thailand) menyimpulkan bahwa faktor faktor ini bukanlah
perbedaan tingkat tabungan (yang akan memungkinkan negara negara
memperoleh alat alat modal) ; bukan juga perbedaan dalam tingkat pengetahuan
teknis (Presscot,1997). Rasio output per capita antara Barat dan Timur besar
adanya dan berkisar antara 2,1 dan 7,5 antara tahun 1820 dan 1992 (Presscot,
1997). Bagaimanapun secara umum dapat disampaikan semakin baik sebuah
masyarakat memanfaatkan SDMnya, semakin besar kemungkinan bahwa modal
berbasis manusia akan merupakan bagian yang semakin besar dari input-input
yang digunakan dalam proses produksi dan semakin tinggi produktifitas total.
Kesejahteraan ekonomi masyarakat akan semakin terwujud. Disinilah relevansi
ekonomi syariah yaitu dalam rangka meningkatkan pemanfaatan SDM dan
produktifitas suatu masyarakat.

Hadirin yang saya hormati,

Ekonomi Syariah Dan Produktivitas Total Masyarakat

Dalam kaitan dengan upaya mewujudkan “ negara Indonesia, yang merdeka,


bersatu, berdaulat, adil dan makmur” dan “ untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagaimana yang diikrarkan dalam
Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, maka sistem ekonomi yang perlu
digunakan adalah sistem yang berbasiskan manusia yaitu ekonomi syariah. Ini
amat berbeda dengan sistem yang sekarang digunakan yaitu yang berbasis materi
yaitu ekonomi neoklasik. Tujuan sistem ekonomi syariah adalah maksimisasi
kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan yang
maksimum ini, maka kegiatan ekonomi di dunia perlu menciptakan maksimisasi
produktifitas total masyarakat yang tinggi sekaligus bermoral melalui pemanfaatan
SDM sepenuhnya. Tetapi apakah maksimisasi produktifitas total masyarakat ini

23
sejalan dengan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa ? Bagi umat Islam hal ini
kiranya merupakan sebuah tuntutan dari ajaran agama tersebut. Produktivitas
masyarakat diartikan sebagai kinerja masyarakat per satuan waktu, lima tahun
umpamanya. Agar kinerja ini tinggi adanya dan sekaligus bermoral maka
pemanfaatan waktu sebagai unsur yang sesungguhnya terbatas, perlulah dilakukan
dengan efektifitas dan efisiensi tinggi dan hal ini amat ditekankan dalam sistem
keimanan umat Islam dan tentunya dalam sistem berfikir ekonomi syariah. Ini
ditegaskan dalam Al-Qur’an, Surat 103 Al’ASR, yang terjemahannya
adalah:”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keruguan,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasihati supaya menetapi
kesabaran.” Nabi Muhammad (saw) dalam salah satu hadistnya, menasihatkan
Maimunah, seorang mantan budak, yang menerima hadiah sebuah kambing tetapi
kambing tersebut mati, ““ Why don’t you take the skin ? You can make use of it after
you cleanse it.” The people answered: “ but this is carcass “. Prophet Muhammad
(pboh) answered “What is forbidden is to eat it. “Khan (1996).

Dapatlah disampaikan bahwa dari segi ajaran Islam, produktifitas total


masyarakat merupakan variabel yang perlu dan harus dimaksimumkan, secara
teknis, dalam suatu kebijakan sosial-ekonomi. Semakin tinggi produktifitas total
masyarakat, yang diperoleh dengan proses-proses yang halal, adil dan penuh
kebersamaan, semakin kuat dan berkelanjutan organisasi bersangkutan. Dengan
lain perkataan, ekonomi syariah bukan saja konsisten secara prinsip dengan nilai-
nilai pokok dalam Pembukaan Undang-UndangDasar 1945 tetapi juga
menyediakan seperangkat paradigma operasional yang apabila dipatuhi akan
memaksimumkan kemampuan manusia Indonesia untuk mengupayakan tujuan-
tujuan nasionalnya. Basis dari upaya maksimisasi kemampuan atau produktifitas
total masyarakat ini adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil
dan beradab. .

24
Hadirin yang saya hormati,

Dari apa yang disampaikan pada bagian kedua ini dapatlah dikemukakan bahwa
faham operasional materialisme dan individualisme serta faham operasional
mengenai manusia tidak sejalan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai dalam
Undang Undang Dasar 1945. Terdapat inkonsistensi yang berat diantara apa yang
dilaksanakan dengan apa yang semestinya dilaksanakan dalam kebijakan
pembangunan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bilamana terjadi
kegagalan-kegagalan dalam dalam perwujudan cita-cita sosial ekonomi bangsa.

Hadirin yang saya hormati,

Tetapi apakah benar secara operasional terdapat inkonsistensi ? Untuk menjawab


pertanyaan ini dibutuhkan penelitian dan penetapan metode yang digunakan dalam
penelitian. Penelitian dan hasil-hasilnya merupakan bagian ketiga dan keempat
pidato ini.

Metode Penelitian

Pendekatan Manusia Dan Hukum Sebab-Akibat

Penggunaan Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pembukaannya, sebagai


pangkal tolak penelitian mengandung suatu anggapan bahwa dalam ilmu-ilmu
sosial sebagaimana adanya ilmu-ilmu ekonomi, maka pendekatan yang tepat untuk
digunakan adalah pendekatan manusia. Hal ini disebabkan berlakunya hukum
sebab-akibat yang perlu dimulai dengan mengidentifikasi tujuan dan motivasi-
motivasi pokok sekolompok manusia yang ekonominya akan diteliti. Pendekatan
inilah yang sudah dilakukan dalam penelitian ekonomi neoklasik, faham yang
digunakan di Barat.

Tetapi kenapa pendekatan manusia ini suatu yang mutlak perlu dalam kaitan
dengan hukum sebab-akibat? Hal ini disebabkan, hukum sebab-akibat yang
berlaku umum dalam hal ilmu-ilmu alam seperti fisika, tidak bisa berlaku umum

25
dalam hal manusia oleh karena perbedaan-perbedaan dalam tujuan dan motivasi
motivasi pokok kehidupan yang berbeda bagi berbagai kelompok manusia.
Memang mungkin ada kesamaan hukum-hukum yang berlaku dalam berbagai
kelompok manusia tetapi secara prinsip penelitian mengenai ekonomi dan gejala-
gejala sosial lainnya perlulah didekati kelompok per kelompok manusia yang
memiliki kesamaan dalam tujuan dan motivasi-motivasi pokok kehidupannya.
Barulah bisa diperoleh “regularities” yang menyangkut keadaan kelompok manusia
yang dipelajari ekonominya. Walaupun demikian, sistem ekonomi Indonesia yang
berbasiskan Ketuhanan Yang Maha Esa dan kemanusiaan yang adil dan beradab
dapat memanfaatkan hikmah-hikmah yang terdapat dalam berbagai sistem
pemikiran ekonomi seperti sistem ekonomi neoklasik.

Persfektif Filsafat, Hukum Sebab-Akibat Dan Perubahan

Persfektif filsafat yang digunakan dalam penelitian ini ialah perspektif yang
berdasarkan kepada prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, khususnya perspektif
Islam. Setiap kejadian atau gejala pasti ada sebabnya. Ini merupakan aksioma
pokok dari hukum sebab-akibat. Ini merupakan dimensi ilmiah dari setiap gejala.
Namun yang menentukan segala sesuatu pada akhirnya adalah kemauan Tuhan
Yang Maha Esa. Ini merupakan segi filsafat dari setiap kejadian. Dalam hubungan
ini dianggap bahwa sumber utama perubahan berada dalam diri manusia.
Terjadinya perubahan yang dikehendaki manusia tergantung kepada hubungan
manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau hubungan ini baik maka ia akan
mampu membawa perubahan dalam dirinya yang pada tahap berikutnya akan
membawa perubahan di alam lingkungan. Kalau hubungan ini kurang baik maka
ia akan menghadapi tantangan dalam mewujudkan perubahan. Pertumbuhan
ekonomi sebagai unsur luar dan sumber utama perubahan berlawanan dengan
prinsip Ketuhananan Yang Maha Esa. Perubahan sejati hanya bisa diwujudkan
melalui perubahan yang terdapat dalam diri manusia. Surah 13: Al Ra’ad ayat 11
dari Al-Qur’an menyebutkan “…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka merubah (sic) keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri.” Lebih lanjut dapat disampaikan bahwa nilai dasar yang termuat dalam

26
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menolak faham cinta diri yang ekstrim
sebagaimana yang terdapat dalam faham individualisme. Yang dibutuhkan adalah
adanya keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan keseluruhan.
Tetapi bagaimana keseimbangan ini harus diwujudkan ? Keseimbangan ini
diwujudkan melalui kosultasi, musyawarah yang juga merupakan salah satu
prinsip yang termuat dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Di dalam Al-
Qur’an diisyaratkan adanya keharusan musyawarah dalam manajemen urusan
manusia yaitu pada Ayat 38 , Surah 42 dari Al Qur’an, surah mana juga diberi
nama “ Asy Syura « atau Musyawarah.

Jangka Waktu Penelitian

Untuk melaksanakan tujuan utama penelitian ini, saya akan teliti Repelita- Repelita
yang ada sejak tahun 1950. Namun konsentrasi akan diberikan pada periode
sesudah tahun 1969 sampai dengan saat ini. Dalam kaitan ini maka akan diteliti
Repelita terakhir yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menegah Nasional, 2004-
2009. Saya melihat Repelita-Repelita secara filosofi semuanya sama. Kita akan
diskusikan terlebih dahulu bagaimana pendekatan individualistik digunakan
dalam pelaksanaan Repelita dan kemudian diskusikan aspek materialistik dari
pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan dalam pembangunan dan diskusi mengenai
kedua hal ini akan diikuti diskusi pandangan Repelita mengenai manusia sebagai
sumber pertumbuhan. Dalam kaitan ini disampaikan bahwa kegagalan dalam
jangka panjang Repelita mencapai tujuan menghapus pengangguran dan tujuan-
tujuan kemanusiaan lainnya adalah oleh karena berfungsinya ketiga faktor ini.

Hadirin yang saya muliakan,

Bagian Keempat:Hasil- Hasil Penelitian

Paradoks Arrow Dalam Mekanisme Pelaksanaan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPMJ) 2004-2009 bertujan


untuk mengupayakan pertumbuhan ekonomi rata-rata selama lima tahun sebesar

27
6,6 % dan pada saat bersamaan mengurangi pengangguran terbuka dari sebesar
9,7 % pada tahun 2005 menjadi 5,1 % dari angkatan kerja pada tahun 2009
(Republik Indonesia, RPMJN 2004—2009, 34-5—34-6.). Masalahnya adalah
sasaran-sasaran ini kemungkinan besar tidak akan tercapai. Salah satu alasan
utamanya adalah bahwa pendekatan individualistik yang dipergunakan dalam
penyususnan rencana dan merekayasa struktur- struktur pelaksanaan. Pendekatan
demikian menciptakan paradoks paradoks sebagaimana yang dikemukakan oleh
Kenneth Arrow.

Ada tiga agenda dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasioanl 2004-
2009 (RPJMN 2004-2009). Agenda-agenda ini adalah mewujudkan Indonesia yang
aman dan damai, mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis, meningkatkan
kesejahteraan rakyat. Untuk setiap agenda direncanakan berbagai kelompok
kegiatan. Setiap kelompok kegiatan dibahas dalam bab tertentu dalam RPJMN.
Ada tujuh bab mengenai agenda pertama, tujuh bab mengenai pelaksanaan agenda
kedua, dan tujuh belas bab bagi pelaksanaan agenda ketiga (Republik Indonesia,
2005). Yang menonjol dari agenda- agenda ini dan kelompok- kelompok kegiatan
yang direncanakan adalah bahwa semua ini tidak memiliki fokus umum bersama.
Tidak ada fokus umum untuk ketiga agenda. Jadi masing- masing agenda dikelola
secara tersendiri. Juga tidak terdapat fokus umum dalam melaksanakan masing-
masing agenda. Ini berarti setiap departemen akan melaksanakan kegiatan-
kegiatannya secara tidak terkait dengan kegiatan- kegiatan departemen pelaksana
lainnya. Umpamanya, Departemen Perundutrian yang ditugaskan untuk
melaksanakan Bab 18 “ Meningkatkan Daya Saing Industri Manufaktur” akan
melaksanakan kegiatan-kegiatannya tanpa terkait dengan kegiatan departemen
pertanian yang ditugaskan untuk melakasanakan Bab 19 “ Revitalisasi Pertanian.”
Juga tidak ada fokus umum dalam masing-masing kelompok kegiatan. Umapmanya
di sektor pertanian, terdapat 17 program, tetapi setiap program akan bekerja
sendiri tanpa ada satu referensi umum yang menjadi acuan dari semua ketujuh
belas program. Singkatnya, tidak tersedia kelompok atau ajang kegiatan bersama
yang akan menjadi pembicaraan dalam suatu upaya kordinasi baik dalam tahap

28
perencanaan maupun dalam tahap pelaksanaan baik pada tingkat agenda, pada
tingkat sektor maupun pada tingkat program.Tanpa adanya ajang atau fokus
kegiatan untuk kordinasi, maka paradoks Arrow akan merajalela.

Paradoks Arrow Dalam Kenyataan: Beberapa Contoh

Tetapi apakah ada bukti bahwa paradoks memang terjadi secara kenyataan di
dunia birokrasi? Hal ini dapat ditinjau dari kegagalan- kegagalan kebijakan dan
dari situ diambil kesimpulan mengenai paradoks-paradoks yang ada. Satu contoh
adalah kegagalan pelaksanaan progran 100 hari dari Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono. Dalam jajak pendapat yang dilakukan oleh majalah Tempo, maka
salah satu pertanyaan yang diajukan adalah “ Menurut Anda, apakah Presiden
Bambang Yudhoyono telah memenuhi harapan publik dalam seratus hari
pemerintahannya?” Dari 780 peserta, 573 atau 73,46 % menjawab “Tidak”.
Majalah Tempo (Edisi 31 Januari-6 Februari 2005) Jakarta 2005.. Sesungguhnya
akan mengherankan bilamana jawaban yang diberikan adalah positif sebab
program 100 hari mengalami kekurangan- kekurangan yang sama dengan program
umum pembangunan. Dalam seratus hari pertama direncanakan untuk mengambil
tindakan untuk membantu realisasi ketiga agenda yaitu mewujudkan Indonesia
yang aman dan damai, Indonesia yang adil dan demokratis dan Indonesia yang
sejahtera. Namun dapat ditanyakan apa fokus dari ketiga agenda ini dalam seratus
hari pertama? Oleh karena jangka pelaksanaan amat singkat, yaitu 100 hari, maka
fokus ini perlu amat tajam dan jelas. Tanpa fokus yang demikian maka tidak ada
ajang identifikasi bersama, tidak ada komitmen dan motivasi bersama, tidak bisa
tercipta saling percaya, dan tidak ada kesamaan informasi mengenai tujuan yang
mau dicapai. Paradoks Arrow dibiarkan merajalela.

Bukti lain dari berfungsinya paradoks Arrow dapat diperhatikan dari kinerja
industri minyak sawit Indonesia. Dalam satu studi investigasi yang dilakukan
Harian Kompas pada bulan Februari 2006 dilaporkan “ Apa yang terjadi sekarang
ini membuktikan Indonesia selalu kalah langkah dan industri sawit Indonesia
belum sepenuhnya mampu berkembang menjadi industri tangguh yang mampu

29
menjawab tantangan yang ada. Kalangan industri juga mengeluhkan belum
jelasnya arah kebijakan pemerintah. Jika tidak bergerak cepat, dikhawatirkan
bukan hanya hutan dan keanekaragaman hayati yang rusak, tetapi Indonesia hanya
akan terus menjadi pemasok bahan baku dan buruh bagi Malaysia.” Harian
Kompas (25 Februari 2006). Ketidak-jelasan kebijakan pemerintah tidak
memungkinkan berbagai pihak menciptakan agenda bersama, khususnya
pemerintah dan kalangan industri. Studi juga melaporkan bebagai paradoks yang
dihadapi di lapangan seperti masalah tanah, masalah bibit, masalah- masalah sosial
yang berkaitan dengan petani dan lingkungan hidup. Dengan singkat dapatlah
disampaikan tidak efektifnya pelaksanaan rencana pembanguna di Indonesia
adalah disebabkan, antara lain oleh kelemahan paradigmatis dalam proses
perencanaan dan pelaksanaan dalam bentuk pendekatan individualistik yang
digunakan dalam penyusunan rencana dan mekanisme pelaksanaannya.

Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Dan Kegagalan Mencapai Sasaran Lapangan Kerja

Rencana Pembangunan Jangka Mnenengah Nasional yang sekarang sebagaimana


rencana-rencana pembangunan sebelumnya memberi tekanan pada pencapaian
sasaran materialistik dalam bentuk pertumbuhan ekonomi tinggi. RPJMN 2004-
2009 bertujuan untuk mencapai rata-rata pertumbuhan sebesar 6,6 % per tahun.
Tekanan pada sasaran materialistik ini disampaikan dalam Bab 34 : Kerangka
Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan. Dalam bab ini disampaikan
bahwa semua agenda diarahkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang telah
menjadi sasaran dengan harapan bahwa pengangguran akan dapat diturunkan dari
9,7 % dari angkatan kerja pada tahun 2005 menjadi 5,1 % pada tahun 2009.

Apakah sasaran lapangan kerja dapat dicapai. ? Kecuali Allah menghendaki lain,
atas dasar pengalaman jangka panjang 1968-1993/94 mengenai pertumbuhan
ekonomi dan pertumbuhan variabel variabel ekonomi lainnya, maka sasaran ini
tidak akan tercapai. Hal-hal ini sudah disampaikan diawal tulisan ini di mana
pertumbuhan ekonomi adalah 6,8 % per tahun, ekspor meningkat, investasi
meningkat, termasuk investasi asing, dan Indonesia digolongkan kedalam HPAS

30
(High Performing Asian Economies) dalan salah satu studi Bank Dunia. The World
Bank (1993). Tetapi pada saat bersamaan pengangguran terus meningkat dari 1,7
% dari angkatan kerja pada tahun 1980 sehingga mencapai hampir 11 % pada saat
ini. Sejalan dengan itu pengangguran terselubung juga tetap tinggi dan mencapai
sekitar 36,5 % pada saat ini. Baik pengangguran terbuka maupun terselubung
merupakan sumber dari kemiskinan yang berkelanjutan. Walaupun dalam tahun
2007 (Februari), menurut data BPS, pengangguran terbuka ada kecenderungan
menurun sedikit, yaitu menjadi 9,75 % dari 10,4% pada Februari 2006, atas dasar
tren yang ada diperkirakan sasaran pengurangan pengangguran terbuka pada
tahun 2009 menjadi 5,1 % dari angkatan kerja sulit tercapai. Selain itu ada
masalah keberlanjutan penurunan pengangguran, terbuka maupun terselubung,
yang hanya bisa dilihat dalam jangka panjang. Tentu diharapkan tren penurunan
akan berlanjut.

Perlakuan Terhadap SDM

Dapatlah disampaikan bahwa pertumbuhan tinggi yang dialami oleh perekonomian


Indonesia bukan saja tidak berkelanjutan tetapi juga gagal menghasilkan
perubahan dalam arti menghapus pengangguran dan kemiskinan. Tetapi kenapa
dialami kegagalan ini walaupun dicapai pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi ?
Kegagalan ini berkaitan dengan sifat input yang mendorong pertumbuhan itu. Bila
diteliti komposisi input pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk menjawab
pertanyaan berapa persen dari input ini adalah pertumbuhan unsur modal, unsur
tenaga kerja dan unsur produktifitas total masyarakat, maka akan diperoleh suatu
pandangan mengenai peran SDM dalam proses pertumbuhan ini. Sebagaimana
sudah disampaikan terdahulu, dalam periode 1972-1990, pertumbuhan ekonomi
Indonesia rata rata adalah 7,2 % per tahun. Dari pertumbuhan ini 5,1 %
bersumber dari pertumbuhan modal, 2,1 % bersumber dari pertumbuhan tenaga
kerja, dan 0,0 % berasal dari pertumbuhan produktifitas total masyarakat. Yang
dialami dalam berbagai pelaksanaan Repelita I sampai dengan Repelita V, adalah
dominannya peran modal dalam pertumbuhan ekonomi yang dialami dan
minimnya peran produktivtas total masyarakat. Yang terbaik yang dicapai oleh

31
perekonomian Indonesia dari segi pertumbuhan produktifitas total masyarakat
adalah dalam periode Repelita I, 1969/70-1973/74, sewaktu pertumbuhan ekonomi
adalah rata-rata 10,3 % per tahun dan dari pertumbuhan ini tambahan modal
berperan 7,9 %, tambahan tenaga kerja 1,9 % dan produktifitas total masyarakat
0,5 %. (Hasibuan, 1996). Sebagai perbandingan dari pengalaman pembangunan
berbagai bangsa di dunia, antara tahun 1930 s/d 1980, negara-negara maju (13
negara) mencatat 2,7 % bersumber dari pertumbuhan produktivitas total
masyarakat dari pertumbuhan ekonomi yang dialami sebesar 5,4 % ; negara-
negara berkembang (20 negara) mencatat 2,0% dari pertumbuhan ekonomi 6,3%;
dan negara-negara komunis (8 negara) 2,5 % dari pertumbuhan ekonomi sebesar
8,2 %. (Chenery,et.al , 1986).

Dapatlah disimpulkan bahwa penelahaan sumber sumber pertumbuhan ekonomi


dalam berbagai periode diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama
ini terutama didorong oleh pertumbuhan jumlah input dan bukan pertumbuhan
produktifitas total masyarakat per satuan input. Kalau terdapat peningkatan
output per satuan input, pertumbuhan ekonomi pastilah lebih tinggi dari yang
sudah dialami dengan pengorbanan input modal dan tenaga kerja yang sama.
Dalam situasi demikian, produktifitas total masyarakat akan membentuk bagian
lebih besar dalam komposisi input pertumbuhan ekonomi.

Manusia Pasif Dalam RPJMN 2004-2009

Bagaimana perlakuan terhadap manusia dalam rencana pembangunan yang


sekarang? Dalam konsep produksi dan organisasi neoklasik, manusia tidaklah
dianggap sebagai agen aktif dalam proses produksi. Sebaliknya manusia dianggap
sebagai input pasif yang biayanya perlu diminimumkan dalam upaya maksimisasi
keuntungan.dan mendorong pertumbuhan. Konsep manusia pasif inilah yang
tertanam dalam RPJMN 2004-2009. Kalau ditanya berapa persen kontribusi
manusia dan kontribusi modal dalam pertumbuhan rata- rata 6,6 % yang
direncanakan dalam lima tahun 2005-2009, maka tidak diperoleh jawaban dari

32
rencana tersebut. Konsep SDM sebagai sumber pertumbuhan tidak terdapat dalam
RPJMN tersebut.

Konsep pasif demikian mengenai SDM tercermin dalam cara penyusunan rencana.
Pertama terdapat pemisahan antara perencanaan dan pelaksanaan. Ada
sekelompok orang yang tugasnya adalah menyusun rencana dan sekelompok
manusia lain yang bertugas untuk melaksanakan rencana. Kelompok orang yang
menciptakan rencana utamanya adalah Presiden dengan bantuan aktif dari badan
perencanaan yaitu Bappenas. Jadi Bab 1 sampai dengan Bab 34 dari RPJMN
memberikan sasaran-sasaran normatif serta kegiatan kegiatan yang diperlukan
dalam berbagai sektor. Bab 35 memberikan norma dan petunjuk petunjuk umum
bagaimana rencana harus dilaksanakan. Para pelaksana adalah para menteri dan
pejabat-pejabat teknis dalam berbagai badan pemerintahan termasuk
pemerintahan daerah. Oleh karena tidak ada fokus operasional untuk masing-
masing satuan pelaksana dan juga tidak ada fokus umum yang mengikat Presiden
dan para menteri dan pelaksana lainnya, maka tidak ada alternatif kecuali kembali
kepada Presiden untuk semua keputusan yang besar maupun yang kecil. Sistem
pengambilan keputusan tidak bisa lain selain sistem komando dan kontrol. Inovasi
amatlah sulit berkembang dalam sistem demikian.

Selanjutnya dalam sistem demikian amat sulit bahkan tidak mungkin mengadakan
dialog berkelanjutan di antara berbagai pemangku kepentingan dalam sesuatu
program. Umpamanya, untuk memajukan lapangan kerja di sektor industri
diperlukan dialog yang berkelanjutan antara pemerintah dengan berbagai
kelompok industri di masyarakat. Agar dialog bermakna dan membawa hasil,
maka perlu ada fokus mengenai sasaran bersama yang ingin diupayakan
Pandangan mengenai peran SDM sebagai agen aktif dalam proses berproduksi
berikut susunan teknis organisasi yang mendorong dialog pada gilirannya akan
mendorong terciptanya modal sosial dalam masing-masing organisasi pelaksana
maupun dalam hibungan dengan dunia luar.

33
Hadirin yang saya muliakan,

Tibalah saatnya saya menyampaikan beberapa pemikiran mengenai implikasi,


keterbatasan dan kesimpulan yang merupakan bagian kelima dari pidato ini.

Beberapa Implikasi

Apa yang dapat dikatakan mengenai pengelolaan sosial ekonomi dari perspektif
nilai-nilai pokok dalam Undang-Undang Dasar 1945 ? Pertama adalah membuang
faham materialisme dan individualisme sebagai landasan operasional kebijakan
dan menggantikan faham-faham ini dengan faham operasional kemanusiaan yang
adil dan eradab atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam kaitan ini maka
dibutuhkan sebuah visi jangka panjang pembangunan Indonesia. Pada berbagai
kesempatan, antara lain dalam buku, ”Meraih Keunggulan Indonesia—Strategi
Alternatif Pembangunan Bangsa”, saya mengusulkan agar visi operasional jangka
panjang ini adalah terwujudnya masyarakat moral berdaya saing tinggi.

Yang kedua, Indonesia perlu meninggalkan pendekatan individualistik dalam


mengatur pelaksanaan dan menggantikannya dengan pendekatan kebersamaan.
Salah satu bentuk kebersamaan itu adalah kerjasama tim atas dasar musyawarah.
Dalam tim keseimbangan antara kepentingan perorangan anggota tim dan
kepentingan keseluruhan mengambil bentuk konkrit.

Yang ketiga, SDM perlu dilihat sebagai sumber utama pertumbuhan dan
kemampuannya dikembangkan sepenuhnya sesuai fungsi manusia sebagai wakil
Tuhan Yang Maha Esa dibumi. Hak-hak dasarnya perlu dipelihara. Ini berarti
bukan saja setiap warga negara Indonesia perlu memperoleh kulitas hidup
sebagaimana yang dimintakan oleh Undang-Undang Dasar 1945, tetapi juga dalam
masyarakat Indonesia yang bermoral tidak boleh ada kesenjangan yang ekstrim
sebagaimana yang dialami selama ini.

Ketiga hal yang disampaikan diatas berarti bahwa praktek perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan , baik di pemerintahan maupun pada masyarakat sipil

34
dan bisnis, perlu ada perubahan mendasar. Sebagaimana sudah dijelaskan
sebelumnya, basis idiologi operasional praktek-praktek ini adalah individualisme
yang diterjemahkan kedalam praktek keterpisahan. Pada pemerintah pusat,
umpamanya, Bappenas merencanakan dan departemen-departemen melaksanakan.
Ini perlu diubah menjadi paradigma operasional kebersamaan dan musyawarah.
Dengan paradigma kebersamaan dan musyawarah, sekarang perencanaan dan
pelaksanaan tidak dipisah tetapi menyatu. Perencanaan dan pelaksanaan dilakukan
bersamaan pada setiap lembaga sesuai fungsi dalam mewujudkan Indonesia yang
berdaya saing tinggi dan bermoral. Presiden melakukan perencanaan dan
pelaksanaan. Departemen-departemen dan lembaga lembaga lain juga melakukan
perencanaann dan pelakasanaan. Dearah-daerah juga melakukan perencanaan dan
pelaksanaan . Seluruh komponen bangsa melakukan perencanaan dan pelaksanaan
sesuai bidangnya. Semuanya mealaksanakan perencanaan dan pelaksanaan
menuju satu sasaran sama dalam jangka pamjang: Indonesia yang terhormat dan
disegani disegala bidang kehidupan sesuai jumlah penduduknya yang nomor 4
besar didunia. Sistem perencanaan demikian dapat disebut sistem manajemen
strategis atau sistem perencanaan strategis. Untuk ini semua badan-badan
perencanaan seperti Bappenas dan Bappeda-Bappeda perlu mengalami reformasi
operasional. Paling tidak mereka perlu memiliki kemampuan menyusun ”road-
map”, baik jangka panjang maupun jangka menengah, dalam membantu bangsa
mewujudkan visinya.

Keterbatasan

Keterbatasan-keterbatasan dasar perlu disampaikan dalam studi ini. Saya hanya


memilih bahan bacaan yang saya anggap pokok mengenai topik-topik yang
disampaikan dalam literatur. Banyak bahan bacaan yang belum dimasukkan. Juga
perlu disampaikan mengenai keterbatasan yang ada yang menyangkut konsep
produktifitas total masyarakat. Walaupun terdapat kesepakatan mengenai peran
utama produktifitas, pada saat ini belum terlihat suatu pendekatan untuk
menjelaskan sebab dan akibat dari produktifitas total masyarakat atau TFP.

35
Adalah merupakan sebuah hipotesa yang terselubung dari makalah ini bahwa TFP
tidak bisa dijelaskan dengan menggunakan pandangan dunia dan pandangan
mengenai manusia sebagaimana yang terdapat dalam faham ekonomi neoklasik.
Pendekatan yang bagaimana yang harus ditempuh, ini adalah suatu tantangan
selanjutnya.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan dapatlah disampaikan bahwa bilamana Indonesia


menginginkan suatu pembanguanan sosial-ekonomi yang konsisten dengan nilai
nilai pokok UUD 1945, maka perlulah ditinggalkan paradigma operasional berbasis
pada materialisme dan individualisme dalam mendefinisikan dan mengelola
program-program pembangunan bangsa. Pendekakan individualistik tidak
memungkinkan dilaksanakannya konsultasi dan kordinasi yang sistemik dalam
pelaksanaan program. Penggunaan paradigma materialistik dalam bentuk
pertumbuhan ekonomi tinggi sebagai idiologi operasional untuk membawa
perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat bukan saja
sudah gagal tetapi juga tidak sejalan dengan faham Ketuhanan Yang Maha Esa.
Peningkatan pengangguran dan dengan itu kesenjangan dan kemiskinan belum
terlihat penyelesaian yang berkelanjutan. Penekanan pada sasaran-sasaran
materialistik selama ini dalam proses pembangunan telah mengakibatkan
diberikannya prioritas rendah dalam anggaran publik bagi pengembangan SDM
dan ditempuhnya berbagai kebijakan yang tidak memanfaatkan sepenuhnya
potensi utama bangsa yaitu potensi SDMnya; yang segala sesuatunya berakibat
pada rendahnya produktifitas total masyarakat sebagai masukan menyeluruh
dalam proses pembangunan. Untuk masa depan maka tidak ada alternatif kecuali
menempuh strategi dan kebijakan berbasis pada Ketuhanan Yang Maha Esa dan
kemanusiaan yang adil dan beradab dalam upaya mewujudkan bangsa dan
masyarakat yang bermoral dan berdaya saing tinggi, dan sekaligus
memaksimumkan kemampuan bangsa merealisasikan cita-citanya. Dalam kaitan
ini maka pemanfaatan paradigma operasional ekonomi syariah dalam manajemen
pembangunan bangsa merupakan suatu keharusan.

36
Hadirin yang mulia,

Tidak ada kata terlambat untuk suatu ucapan terima kasih sebab tidak seorangpun
dalam kehidupan ini dapat menganggap dirinya sebagai sebuah pulau yang
terpisah dari kehidupan manusia lain baik dari segi waktu maupun georafi. Dalam
kaitan ini izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada banyak pihak
yang telah menyumbang kepada pendidikan saya selama ini sekaligus mengenang
mereka.

Sewaktu di SD di Medan, di zaman penjajahan Jepang, saya teringat kepada guru-


guru saya antara lain Bapak Badarudin Hasibuan Alm. yang telah memberikan
pelajaran awal ilmu hitung. Di madrasah Al-Ittihadiyah di Medan saya teringat
kepada Ustadz H. Mahmud Abubakar yang berasal dari Banten dan Ustadz M.
Yusuf yang memberi pelajaran mengenai keesaan Tuhan Yang Maha Esa, Tawhid.

Sewaktu bersekolah di sekolah menengah berbahasa Inggeris, Khalsa English


School, Medan yang diasuh oleh masyarakat India Sikh, diparuh pertama dekade
lima puluhan, saya kenang dengan rasa terima kasih antara lain Mr. Thakur
Singh, Mr. Anthony, Mr. Partap Singh , Mr. Zulkifli Kho Yung Fu dan Mr. Jai
Silan yang telah memperkenalkan saya kepada kedalaman pengamatan mengenai
kamanusiaan yang tersimpan dalam karya-karya besar Shakespeare seperti
Merchant of Venice dan Julius Caeser tetapi juga kepada keindahan dan
kecanggihan yang tersimpan di dalam matematika, hukum-hukum alam kimiah
dan fisika.

Di bidang pendidikan formal di fakultas Ekonomi, Universitas HKBP Nommensen,


Medan saya mengenang Bapak Silitonga, SH, dan Bapak Muhammad Syarif yang
memberi pelajaran hukum ekonomi dan matematika untuk ekonomi; Drs. Van
Kempen, dan Drs. Kropveld yang telah mengajarkan teori-teori ekonomi
konvensional utamanya yang berasal dari benua Eropa. Terima kasih perlu saya
tujukan kepada upaya dan langkah-langkah Prof. Douglas Paauw yang telah
mengupayakan beasiswa dari Ford Foundation yang memungkinkan saya dan

37
keluarga belajar di Berkeley, California, Amerika Serikat. Terima kasih ini
sekaligus juga tertuju kepada The Ford Foundation dan Universitas HKBP
Nommensen, Medan yang telah memberi kepercayaan kepada saya menerima
beasiswa tersebut.

Selama di Berkeley saya banyak belajar dari dosen-dosen ekonom yang amat
menguasi bidang-bidang yang mereka ajarkan. Di bidang ekonomi pembangunan,
umpamanya, saya teringat kepada Prof. Harvey Leibenstein, dan Prof. Benyamin
Higgins. Tentu saya tidak dapat melupakan jasa-jasa dari Professor pembimbing
disertasi saya yaitu Prof. Garbarino, Prof. Galenson dan Prof. Malcolm Davisson.
Inilah kesempatan yang tepat untuk mengucapkan terima kasih kepada dosen-
dosen tersebut baik yang saya sebut maupun yang tidak.

Pemdidikan informal banyak saya peroleh dari keterlibatan pada organisasi-


organisasi sosial kemasyarakatan. Pada pemilu pertama di Republik ini, pada
tahun 1955, saya ikut terlibat sebagai aktivis mendukung salah satu partai politik
peserta pemilu. Sebagai mahasiswa di Nommensen saya mendirikan HMI
Komisariat Nommensen sekaligus menjadi ketuanya. Tulisan-tulisan dan pidato-
pidato pemimpin-pemimpin Islam seperti Bapak Muhammad Natsir, Bapak Anwar
Haryono, Bapak E. Z. Muttaqin dan Buya Hamka banyak memberi inspirasi
kepada saya. Untuk itu semua mereka saya kenang dengan penuh rasa terima
kasih.

Pendidikan di tempat kerja banyak saya peroleh dari ekonom-ekonom terkemuka


Indonesia. Di awal 1970-an, saya diangkat sebagai asisten Bapak Prof. Sumitro
Djojohadikusumo, Alm. di Departemen Perdaganagan Republik Indonesia, dengan
tugas membantu penyelesaian penampungan SDM ABRI yang harus pensiun pada
waktu itu, yang timnya diketuai oleh Bapak Prof. Subroto. Pada tahun 1973, saya
diminta turut bergabung ke Bappenas oleh Bapak Prof. Widjojo Nitisastro. Selama
hampir seperempat abad, saya memperoleh kesempatan mempelajari dalam
praktek manajemen dan perencanaan SDM suatu bangsa. Selama di Bappenas saya
juga banyak belajar dari rekan-rekan baik Indonesia maupun asing. Saya teringat

38
antara lain kepada Bapak Sudjatmoko, Alm., Bapak Prof. Saleh Afiff, Alm., Bapak
Mayjend. Slamet, Alm., Bapak Sujoto SH, Alm. Dalam pandangan saya, rekan-
rekan ini adalah pejuang-pejuang yang tulus bagi kemajuan Republik. Dari
kalangan orang asing, saya perlu sebut Dr. Ynto Dewitt yang banyak membantu
dalam pengembangan program-program bagi perluasan lapangan kerja,
pendidikan dan kesehatan seperti program Inpres Kabupaten, Inpres SD, dan
Inpres Kesehatan (Puskesmas).

Setelah pensiun dari Bappenas, atas ajakan seorang teman lama dari Nommensen,
Dr. Sritua Arief, saya ikut bergabung bersamanya ke Universitas Muhammadiyah
Surakarta. Sejak di Medan Bung Sritua dan saya telah membuat kesepakatan
informal bahwa dia berjuang diluar pemerintahan dan saya di dalam
pemerintahan. Bung Sritua memajukan pertimbangan, universitas swasta seperti
UMS, membutuhkan bantuan tenaga SDM bagi pengembangannya. Sebagaimana
tercatat dalam sejarah universitas ini, Bung Sritua termasuk salah seorang pendiri
program pascasarjana, khususnya Magister Manajemen. Pada awal berdirinya
program beliau ikut memberi kuliah walaupun keadaan kesehatannya kurang dari
prima. Beliau wafat tahun 2002.

Partisipasi Bung Sritua dan saya di UMS tidak akan berlanjut tanpa dukungan
sepenuhnya dari Rektor UMS, Bapak Prof. Dr. Bambang Setiaji dan sebelumnya
Bapak Prof. Dochak Latif yang diikuti dengan dukungan simpatik dari pimpinan
dan staf universitas, khususnya pimpinan dan staf Program Pasca Sarjana.
Apresiasi perlu disampaikan kepada Direktur Program Pascasarjana, Prof. Dr. H.
Muhammad Wahyuddin M.S, berikut jajaran pimpinan dan Ibu Ir. Khomariah
MM. yang telah berhasil mengembangkan Program Pascasarjana ketingkat lebih
maju dari masa-masa sebelumnya.

Apresiasi dan terima kasih perlu saya sampaikan kepada isteri dan anak-anak saya
yang mengisi wadah kasih sayang dan saling mendukung dalam keluarga yang
kami bina. Terima kasih khusus perlu disampaikan kepada isteri saya, Dr. Sofia

39
Rangkuti, M.A., yang telah berbaik hati mengetik dan mengetik ulang disertasi
saya.

Terima kasih dan rasa rindu berikut doa saya tujukan kepada kedua orang tua
saya. Ibunda saya, Sawyah Lubis adalah seorang buta huruf Latin tetapi ia bisa
’membaca’ sembarang ayat Al-Qur’an dalam gelap gulita. Ayahanda saya, Hadji
Djamil Hashim Hasibuan seorang yang berpandangan kosmopolitan tetapi
konsisten. Dia selalu memberi nasihat kepada saya bahwa seorang Muslim mesti
sholat dan sholat teratur; kalau tidak berhenti saja jadi Muslim. Ibunda dan
Ayahanda membesarkan saya dan dua adik saya, Muhammad Ramzi SH, MA dan
Fauziah, dalam suasana ekonomi keluarga yang penuh cobaan, sebagaimana yang
dihadapi oleh banyak keluarga Indonesia pada waktu itu.

Secara profesional dan keilmuan, saya berdiri diatas pundak-pundak pendahulu


dan para senior saya. Kalau ada yang baik dari apa yang saya sampaikan hari ini
kepada para hadirin yang saya hormati, maka itu terpulang kepada para
pendahulu dan senior ini dan tentu kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Pemilik
semua ilmu. Kalau ada yang kurang baik maka itu tanggung jawab saya
sepenuhnya.

Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan kesabaran para
hadirin serta mohon ma’af yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan dan
kekhilafan. Semoga Yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Yang Maha Mengerti
meluaskan berkah dan hidayahNya kepada kita semua.

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

40
Daftar Pustaka

as-Sadr, A.M. B., Our Philosophy(2006), Muhammadi Trust of Great Britain and
Northern Ireland , www.goecities.com/Athens/Cyprus/8613/writing .html , retrieved
December 22, 2006

Bendix, R. Max Weber -- An Intellectual Potrait (1962), Doubleday & Company,


Inc.New York

Case,K.E., Fair, R.,C. Principles of Economics(1992), Prentice Hall, New York

Catholic Encyclopedia on CD-Rom, http://www.newadvent.org/cathen/0776/a.htm,


retrieved January 20, 2007

Badan Pusat Statistik ,Sensus Penduduk 1980, 1990, Survei Penduduk Antar-Sensus
1996, Jakarta.

Chenery,H., Robinson, S., Syrquin,M., Industrialization And Growth, A


Comparative Study, A World Bank Research Publication, Oxford University Press,
Washington D.C., 1986

Eiwell, Dr.,F., Max Weber, Presentation, 2006(?), http://www.faculty.rsu.edu/-


felwell/Theorists/Weber/Presentation/2., retrieved January 22, 2007

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (1998),


Jakarta.

Geanakoplos,J, Three Brief Proofs of Arrow’s Impossibility Theorem (2001), Yale


University Press, New Haven, USA

Harian Kompas, 25 February 2006, Jakarta

Hasibuan, S. Meraih Keunggulan Indonesia, Strategi Alternatif Pembangunan


Bangsa(2004), Fakultas Ekonomi Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta

Hasibuan,S. (1996), Ekonomi Sunber Daya Manusia—Teori Dan Kebijakan (1996),


LP3ES, Jakarta

41
Hasibuan, S., Manajemen SDM: Suatu Pendekatan Non-Sekuler(2001)
Muhammadiyah University Press , Solo, Indonesia

Hasibuan, S. (2005), “ Teori Ketidakmungkinan dan Pelaksanaan Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009, Jurnal Ilmu
Pengetahuan, Teknologi dan Budaya Al Azhar Indonesia, Vol.IV, No.3, hal. 01-17

Khan, M. A., Ajaran Nabi Muhammad saw tentang Ekonomi(1996) Trans., 1996,
Jakarta. .

Kuznets, S., Economic Growth of Nations (1976), Harvard University Press,


Cambridge, Massachusetts..

Leibenstein, H. Inside The Firm (1987) Harvard University Press, Cambridge,


Massachusetts

Luthfi, A.M., dari Konstruksi sampai Konstitusi, catatan perjalanan a.m.luthfi,


(2007), Konstitusi Press, Jakarta

Mair.D., Miller, A., G. Edit., A Modern Guide To Economic Thought (1991),


Edward Elger Publishing Limited, England.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Undang Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945 Dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi, (2007), Jakarta.

Marshall, A.(1950), Principles of Economics (1950) , The Macmillan Company, New


York.

Mill,J.,S., Ashly, W.J.,(Edit.) (1909) The Principles of Political Economy, (1909),


Longmans, Green and Co., London
http://socserv2.soscimcmaster.ca/econ/ugcm/3ll3/mill/prin/book5/bk5ch11, retrieved
December 20, 2006

Moser,P.,K. and Trout, J. D. (Edit.), Contemporary Materialism, A Reader, (A


Reader), Routledge, London and New York.

Popper, K., The Logic of Scietific Discovery (2002), Routledge, London

42
Presscott,E.C . Needed: A Theory of Total Factor Productivity (1997) Federal
Reserve Bank of Minneapolis and University of Minnesota, Minnesota, U.S.A.

Pusat Pengkajiandan Pengembangan Ekonomi Islam, Universitas Islam Indonesia,


Yogyakarta, Ekonomi Islam, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2008.

Republik Indonesia, Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 7 Tahun 2005


Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009,
Jakarta

Republik Indonesia , Rencana Pembangunan Lima Tahun Keenam 1994/1995-


1998/1999 (1994), Jakarta

Samuelson, P.A., Economics (1958), McGraw-Hill Book Company, New York.

Susilo, W., Kemiskinan di Indonesia(Poverty In Indonesia), Harian Kompas, 9


November 2006

Tempo Magazine, Januari , 31-Februari 6, 2005 , Jakarta

The World Bank , East Asian Miracle (1993), Oxford University Press, New
York.
UNDP , Human Development Report 2006,(2006), Oxford University Press, New
York

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

43