Anda di halaman 1dari 22

TUGAS CASE PRESENTATION

HEMORRHOID

PEMBIMBING:
Dr. Eka Swabhawa Uttama, Sp. B

DISUSUN OLEH:
Rika Andriani
030. 04. 196

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


PERIODE 19 JANUARI- 29 MARET 2009
RSUP FATMAWATI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2009
STATUS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn T
Umur : 68 thn
Alamat : Jl. Cemara no 11 sukabumi
Pekerjaan : pedagang
Status : menikah
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
No.RM : 907647

ANAMNESA
Diambil secara : autoanamnesa
Tgl : 3 februari 2009
Jam : 12.00 WIB

Keluhan Utama:
Buang air besar berdarah sejak 2 thn SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Os mengeluh bahwa sejak dua tahun yang lalu BABnya berdarah. OS mengaku
setiap kali ia BAB, selalu ada darah yang menetes setelahnya. Darahnya berwarna merah
terang dan tidak bercampur dengan fesesnya. Os mengatakan bahwa darah yang di
keluarkan belakangan ini jumlahnya menjadi lebih banyak daripada waktu di awal
penyakitnya. Os mengaku BAB lancar, dengan frekuensi 1kali sehari, tidak mencret dan
tidak nyeri saat BAB. BAK juga lancar, tidak ada nyeri, tidak ada darah, jernih. Os
menyangkal ada nyeri di perutnya, tidak ada mual dan muntah, dan tidak ada gangguan
dengan nafsu makannya. Kurang lebih 1 tahun terakhir os mengaku ada benjolan keluar
dari anusnya setiap ia BAB, tapi kembali masuk setelah BAB. Tiga bulan terakhir ini os
mengatakan bahwa benjolan tersebut harus ia dorong, barulah dapat kembali masuk.
Tidak ada rasa gatal di sekitar anus. Pada tgl 24 januari 2009, os mengaku dirawat di RS
sukabumi karena Hb rendah 7,6 g/ dl dan os mendapatkan tranfusi darah sebanyak 4
kantong. Os tidak ada demam, tidak ada sakit kepala, tidak ada batuk dan tidak ada sesak
napas.

Riwayat Penyakit Dahulu:


• Os belum pernah dirawat di RS sebelumnya
• Os tidak ada riwayat penyakit DM, Asma
• Os punya riwayat hipertensi
• Os tidak ada alergi obat dan makanan

Riwayat penyakit keluarga :


• di keluarga os tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit seperti ini
Riwayat hidup dan kebiasaan:
• Os bekerja sebagai pedagang pakaian
• os tidak merokok
• os kurang suka makan sayuran
• os jarang berolah raga
• os menggunakan toilet jongkok di rumahnya.

PEMERIKSAAN FISIK
Status generalis
Keadaan Umum
Kesadaran : kompos mentis
Kesan sakit : sakit ringan
Tinggi badan : 170 cm
Berat badan : 70 Kg
BMI : BB/(TB)²= 24,2
Gizi : baik
Sikap pasien : kooperatif
Mobilisasi : aktif
Tanda vital:
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu tubuh : 36º C
Kepala
Bentuk : normocephali
Rambut : warna putih beruban, distribusi merata
Mata
SI -/-, CA -/-
Telinga
Bentuk normotia, sekret -/-
Hidung
Tidak ada deviasi septum, sekret -/-
Mulut dan tenggorokan
Bibir : tidak kering dan tidak cyanosis
Tonsil T1/T1
Pharing tidak hiperemi
Leher
Trakea lurus di tengah, tidak teraba pembesaran KGB
Paru
Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-
Jantung
Auskultasi: Bunyi jantung I dan II reguler, murmur-, gallop -
Abdomen
Inspeksi : abdomen datar, tidak tampak adanya massa
Palpasi : teraba lemas, tidak ada defence muskular, NT (-), NL(-)
Perkusi : timpani, BU (+) normal
Auskultasi : bising usus (+) normal
Ekstremitas
Tidak ada oedem, tonus otot 5
Status lokalis
Regio anus terlihat adanya benjolan dengan diameter kira-kira 3 cm yang keluar
dari anus yang dilapisi oleh mukosa. Pada rektal touche tonus sphincter ani baik, ampula
tidak collaps, tidak teraba adanya massa, tidak nyeri, pada sarung tangan tidak ada feces,
tidak ada darah, tidak ada lendir.

RESUME
Laki-laki , 68 tahun BAB disertai darah sejak 2 thn SMRS. Darah berwarna
merah terang, tidak bercampur dengan feses. Saat BAB tidak ada rasa nyeri. Sejak satu
tahun yang lalu, ada benjolan yang keluar dari fesesnya yang awalnya dapat masuk
spontan, tetapi sekarang harus didorong masuk. Pada PF ditemukan benjolan dgn
diameter 3cm, yang keluar dari anus, lunak, dilapisi mukosa.
Pada rectal touche didapatkan sphincter ani baik, ampula tidak collaps, tidak
teraba massa, pada sarung tangan darah (-), feces (-).
DIAGNOSIS KERJA
Hemorrhoid interna derajat III
DIAGNOSIS BANDING
- karsinoma kolorektum
- prolaps rektum
- kondiloma perianal
- polip
- kolitis ulcerosa
- divertikel
PENATALAKSANAAN
- Hemoroidektomi konvensional
- Hemoroidektomi stapler
PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad fungsionam : bonam
Ad sanationam : bonam
TINJAUAN PUSTAKA
HEMORRHOID

I. PENDAHULUAN

Hemoroid sebagai suatu penyakit, merupakan suatu istilah yang umum dijumpai
di masyarakat dan dalam dunia kedokteran. Hemoroid berasal dari bahasa yunani yang
berarti darah yang mengalir (haem = darah, rhoos = mengalir). Hemorrhoid bukan hanya
pelebaran vena di dalam plexus hemorroidalis saja, tetapi juga melibatkan pembuluh
darah, jaringan lunak, dan otot kanalis anus. Sebenarnya hemmorroid tidaklah merupakan
keadaan patologik, hanya apabila menimbulkan keluhan atau penyulit maka perlu
dilakukan tindakan. .

Hemorrhoid, ambein, atau wasir dapat dialami oleh siapapun. Namun seringkali
penderita merasa malu atau dianggap tidak penting maka kurang memperhatikan
gangguan kesehatan ini. Penyakit hemoroid merupakan kelainan anorektal yang paling
sering dijumpai, dengan insidensi diperkirakan 4,4 % dari jumlah penduduk. Jumlah
penderita yang tercatat diperkirakan jauh dibawah insidensi sebenarnya, karena sepertiga
pasien dengan keluahan sesuai suatu penyakit hemoroid, tidak pernah datang ke seorang
dokter. Pravalensi hemoroid sama antara wanita dan lelaki, namun lelaki akan lebih
cenderung untuk mencari pengobatan. Pravalensi hemoroid juga meningkat dengan usia,
hingga usia 70 tahun dimana akan tampak sedikit penurunan insidensi.

Secara anatomi hemmoroid merupakan perubahan fisiologis yang terjadi pada


bantalan pembuluh darah di rectum, berupa pelebaran dan pembengkakan pembuluh
darah dan jaringan sekitarnya. Fungsi bantalan ini sebagai klep/katup yang membantu
otot-otot di rectum menahan feses. Bila terjadi gangguan (bendungan) aliran darah, maka
pembuluh darah akan melebar dan membengkak, keadaan ini disebut hemorrhoid.

II. ANATOMI DAN FISIOLOGIS REKTUM

Rektum panjangnya 15 – 20 cm dan berbentuk huruf S. Mula – mula mengikuti


cembungan tulang kelangkang, fleksura sakralis, kemudian membelok kebelakang pada
ketinggian tulang ekor dan melintas melalui dasar panggul pada fleksura perinealis.
Akhirnya rektum menjadi kanalis analis dan berakhir jadi anus. Pada sepertiga bagian
atas rektum, terdapat bagian yang dapat cukup banyak meluas yakni ampula rektum bila
ini terisi maka timbullah perasaan ingin buang air besar. Di bawah ampula, tiga buah
lipatan proyeksi seperti sayap – sayap ke dalam lumen rektum, dua yang lebih kecil pada
sisi yang kiri dan diantara keduanya terdapat satu lipatan yang lebih besar pada sisi
kanan, yakni lipatan kohlrausch, pada jarak 5 – 8 cm dari anus. Melalui kontraksi serabut
– serabut otot sirkuler, lipatan tersebut saling mendekati, dan pada kontraksi serabut otot
longitudinal lipatan tersebut saling menjauhi.

Kanalis analis berasal dari proktoderm yang merupakan invaginasi


ektoderm,sedangkan rektum berasal dari entoderm. Rektum dilapisi oleh mukosa
glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel
berlapis gepeng pada kulit luar. Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai oleh
perubahan jenis epitel.

Kanalis analis dan kulit luar sekitarnya kaya akan persarafan sensoris somatik dan
peka terhadap rangsang nyeri. Mukosa rektum mempunyai persarafan autonom dan tidak
peka terhadap rangsang nyeri. Sistem limfe dari rektum mengalirkan isinya melalui
pembuluh limf sepanjang pembuluh hemorrhoidalis superior ke arah kelenjar limfe
paraaorta melalui kelenjar limfe iliaka interna, sedangkan limf yang berasal dari kanalis
analis mengalir ke arah kelenjar limf inguinal.

Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 cm. Batas atas kanalis analis
adalah garis anorektum/ garis mukokuatan/ linea pektinata/linea dentata. Di daerah ini
terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara kolumna rektum. Lekukan antar
sfingter sirkuler dapat teraba saat melakukan colok dubur, dan menunjukkan batas
sfingter interna dan eksterna.

Vascularisasi terdiri dari arteri hemoroidalis superior yang merupakan cabang


langsng a. mesenterica inferior. Arteri hemoroidalis medialis merupakan percabangan
anterior a. ilica interna. Arteri hemoroidalis inferior adalah cabang dari a. pudenda
interna. Perdarahan di plexus hemorroidalis merupakan kolateral luas dan kaya sekali
darah sehingga perdarahan dari hemorroid interna menghasilkan darah segar yang
berwarna merah dan bukan darh vena warna kebiruan.
aliran balik vena:

• vena hemorroidalis superior → vena mesenterica inferior →vena lienalis


→vena porta
• vena hemorroidalis inferior→ vena pudenda interna →vena iliaca interna
→vena cava inferior

III. PATOGENESA

Hemoroid adalah suatu bantalan jaringan ikat di bawah lapisan epitel saluran
anus. Sebenarnya bantalan ini merupakan bagian normal dari anorektum manusia, dan
telah ada sejak dalam rahim. Bantalan ini mengelilingi dan menahan anastomosis antara
arteri rektalis superior dengan vena rektalis superior, media dan inferior. Bantalan ini
juga mengandung lapisan otot polos di bawah epitel yang membentuk massa bantalan.
Jaringan hemoroid normal berperanan sebesar 15-20% dalam membentuk tekanan
anus pada wakktu istirahat. Bantalan ini juga memberi informasi sen sorik penting dalam
membedakan benda padat, cair atau gas. Secara teoritis, manusia memiliki 3 buah
bantalan pada posterior kanan, anterior kanan dan lateral kiri.
Apabila bantalan mengalami pembesaran hingga menonjol keluar, mengalami
trombosis hingga nyeri, atau mengalami perdarahan, maka timbul suatu keadaan
patologis yang disebut ’penyakit hemorroid’. Ada banyak faktor yang berperan pada
terjadinya pembesaran bantalan tersebut yang akan menyababkan hemorroid.
IV. ETIOLOGI

Penyebab hemorroid bermacam-macam:

1. faktor genetik
2. obstipasi atau konstipasi yang menyebabkan peningkatan tekanan vena akibat
mengedan (diet rendah serat)
3. kehamilan menyebabkan stasis vena di daerah pelvis
4. keadaan yang membuat penderita sering mengejan, misalnya: pembesaran prostat
jinak ataupun kanker prostat, penyempitan saluran kemih, dan sering melahirkan
anak.
5. hipertensi, obesitas dan gaya hidup malas atau tidak aktif juga merupakan faktor
pencetus
6. penekanan aliran balik vena seperti pada hipertensi porta akibat sirosis hepatis
7. diare menahun

V. MACAM HEMORROID DAN DERAJAT HEMORROID

Macam hemorroid:

1. hemorroid interna

Adalah pelebaran plexus hemorroidalis superior di atas garis mukokutan dan


ditutupi oleh mukosa. Hemorroid interna ini merupakan bantalan vaskuler di
dalam jaringan submukosa pada rektum sebelah bawah. Sering hemorroid
terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan-depan, kanan-belakang, dan kiri-
lateral (jam 11, 7,3).

2. hemorroid externa

Adalah merupakan pelebaran plexus hemorroidalis inferior, terdapat sebelah


distal garis mukokutan, didalam jaringan di bawah epitel anus.

Untuk hemorroid interna terdapat 4 derajat :


1. Derajat I

Pada derajat pertama hemorroid menyebabkan perarahan merah segar tana nyeri pada
waktu defekasi. Pada stadium awal seperti ini tidak terdapat prolaps. Pada
pemeriksaan anuskopi terlihat hemorroid membesar dan menonjol ke dalam lumen.

2. Derajat II

Terjadi perdarahan dan prolaps jaringan di luar anus saat mengejan selama defekasi
berlangsung dan dapat kembali spontan.

3. Derajat III

Prolapsus tidak dapat kembali spontan tetapi harus didorong ( reposisi manual).

4. derajat IV

Merupakan hemorroid yang menonjol ke luar dan tidak dapat di dorong masuk.

derajat Berdarah menonjol reposisi


I + _ _
II + + spontan
III + + manual
IV + + Tidak dapat
VI. GEJALA KLINIS
Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama hemorroid akibat trauma oleh
feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak tercampur
dengan feses, dapat hanya berupa garis pada feses sampai perdarahan terlihat menetes
atau kadang megalir deras. Perdarahan hemorroid yang berulang dapat berakibat
timbulnya anemia.

Nyeri yang hebat jarang sekali ada hubungannya dengan hemorroid interna, jika
timbul nyeri pada hemorroid interna berarti ada peradangan. Rasa nyeri biasanya
hanya timbul ada hemorroid externa degan trombosis.

Hemorroid yang membesar secara perlahan-lahan akan menonjol keluar


menyebabkan prolaps. Pada tahap awal penonjolan ini hanya terjadi pada waktu
defekasi dan disusul reduksi spontan sesudah selesai defeksi. Pada tahap lanjut
hemorroid perlu didorong kembali setelah defekasi dan pada akhinya menjadi bentuk
yang mengaami prolaps menetap. Keluarnya mukus dan terdapatnya feses pada
pakaian dalam merupakan ciri hemorroid yang mengalami prolaps menetap.

Hemorroid eksterna terlihat berupa penonjolan berkulit epitel berkeratin (skin


tags), dapat mengganggu higiene perianal, dan menyebabkan gejala – gejala seperti
pruritus ani dan ekskoriasi serta trombosis yang nyeri.

Iritasi kulit perianal dapat menimbulkan rasa gatal. Hal ini disebabkan oleh
kelembaban yang terus-menerus dan rangsangan mukus. Selain itu penderita
hemorroid sering mengeluh adanya rasa mengganjal setelah BAB, sehingga
menimbulkan kesan proses BAB belum berakhir, sehingga membuat seseorang
mengejan lebih kuat yang justru akan memperparah hemorroid.

VII. DIAGNOSIS

Pada anamnesa pasien akan mengeluhkan adanya perdarahan saat BAB. Apabila
sudah ada prolaps, pasien akan mengeluhkan bahwa ada benjolan di anusnya. Selain itu
pasien juga mengatakan adanya rasa tidak nyaman di anus atau rasa gatal di anusnya.
Pada pemeriksaan fisik, apabila hemorroid mengalami prolaps, lapisan epitel
penutup bagian yang menonjol ke luar ini mengeluarkan mukus yang dapat dilihat
apabila penderita diminta mengedan. Hemorroid interna yang prolaps dapat terlihat
sebagai benjolan yang tertutup mukosa. Hemorroid eksterna mudah terlihat terutama bila
sudah mengandung trombus.

Pada rectal touche hemorroid interna tidak teraba sebab tekanan vena di dalamnya
tidak cukup tinggi, dan biasanya tidak nyeri. Rektal touche ini diperlukan untuk
menyingkirkan kemungkinan karsinoma recti

Pemeriksaan dengan anuskopi diperlukan untuk melihat hemorroid interna yang


tidak menonjol keluar. Anuskop dimasukkan dan diputar untuk mengamati ke empat
kuadran. Hemorroid interna terlihat sebagai susunan vaskuler yang menonjol ke dalam
lumen.apabila penderita diminta mengedan sedikit maka ukuran hemorroid akan
membesar dan penonjolan/ prolaps akan lebih nyata.

Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan bahwa keluhan bukan


disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat lebih tinggi. Feses juga
harus diperiksa terhadap adanya darah samar. Untuk pemeriksaan penunjang dapat
dilakukan pemeriksaan darah, urin, feses, colon inloop atau kolonoskopi.

VIII. DIAGNOSIS BANDING

perdarahan Ca kolon rectal, Maka perlu dilakukan


divertikulitis, colitis pemeriksaan penunjang
ulceratif, polip seperti sigmoidoskopi atau
kolon inloop
benjolan Ca anorectal, prolaps recti Pada prolaps maka seluruh
dinding prolaps, pada
prolaps hemorhoid hanya
mukosa saja yang prolaps
XI. THERAPI

Pengobatan hemoroid dapat dibagi menjadi konservatif, tindakan tanpa


pembedahan , serta dengan pembedahan. Hemoroid derajat I biasanya diterapi secara
konservatif. Pengobatan konservatif terdiri dari merubah kebiasaan defekasi dan
manipulasi diet. Terapi konservatif ini ditunjukan untuk paisen dengan gejala yang minor
dan memiliki kebiasaan diet atau higiene yang tidak normal.

Penyakit hemoroid derajat II dan III biasanya dapat ditangani secara tindakan
tanpa pembedahan, yang paling sering digunakan dengan hasil cukup memuaskan berupa
ligasi cincin karet (rubber band ligation). Hemoroid derajat III yang besar serta derajat IV
serta hemoroid yang mengalami trombosis, ditangani secara pembedahan. Pembedahan
juga dilakukan bila penyakit hemoroid derajat I dan II gagal diterapi secara konservatif
atau dengan tindakan tanpa pembedahan. Diperkirakan sebanyak 5% penderita hemoroid
pada akhirnya akan memerlukan tindakan pembedahan. Nyeri masih merupakan
komplikasi utama pembedahan, dengan komplikasi utama berupa retensi urin,
inkontinensia, atau stenosis ani. Rekurensi dengan tindakan konervatif serta tidakan tanpa
pembedahan adalah 10-50% setalah 5 tahun, dan 26% untuk tindakan pembedahan.

Beberapa tindakan yang dilakukan seperti:

1. skleroterapi

Adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya 5% fenol dalam


minyak nabati. Penyuntikan diberikan ke submukosa di dalam jaringan areolar yang
longgar di bwah hemorrhoid intern dengan tujuan menimbulkan peradangan steril
yang kemudian menjadi fibrotik dan meninggalkan parut. Penyuntikan dilakukan
diatas di sebelah atas dari garis mukokutan dengan jarum yang panjang melalui
anuskop. Apabila penyuntikan dilakukan di tempat yang tepat maka tidak akan
terasa nyeri.
Penyulit penyuntikan merupakan infeksi, prostatitis akut jika masuk kedalam
prostat, dan reaksi hipersensitivitas terhadap obat yang disuntikkan.
2. . rubber band ligation
Prinsip dari ligasi dengan cincin karet adalah menciptakan fiksasi mukosa dengan
menimbulkan ulserasi. Dengan cara ini, mukosa ditarik dan di lehernya ditempatkan
sebuah cincin karet yang menimbulkan nekrosis mukosa.
3. hemorrhoidektomi konvensional
Saat ini ada 3 teknik operasi yang biasa digunakan yaitu :
a. Teknik Milligan – Morgan

Teknik ini digunakan untuk tonjolan hemoroid di 3 tempat utama. Basis massa
hemoroid tepat diatas linea mukokutan dicekap dengan hemostat dan diretraksi dari
rektum. Kemudian dipasang jahitan transfiksi catgut proksimal terhadap pleksus
hemoroidalis. Penting untuk mencegah pemasangan jahitan melalui otot sfingter internus.
Hemostat kedua ditempatkan distal terhadap hemoroid eksterna. Suatu incisi elips dibuat
dengan skalpel melalui kulit dan tunika mukosa sekitar pleksus hemoroidalis internus dan
eksternus, yang dibebaskan dari jaringan yang mendasarinya. Hemoroid dieksisi secara
keseluruhan. Bila diseksi mencapai jahitan transfiksi cat gut maka hemoroid ekstena
dibawah kulit dieksisi. Setelah mengamankan hemostasis, maka mukosa dan kulit anus
ditutup secara longitudinal dengan jahitan jelujur sederhana. Striktura rektum dapat
merupakan komplikasi dari eksisi tunika mukosa rektum yang terlalu banyak. Sehingga
lebih baik mengambil terlalu sedikit daripada mengambil terlalu banyak jaringan

b. Teknik Whitehead
Teknik operasi yang digunakan untuk hemoroid yang sirkuler ini yaitu dengan
mengupas seluruh hemoroid dengan membebaskan mukosa dari submukosa dan
mengadakan reseksi sirkuler terhadap mukosa daerah itu. Lalu mengusahakan kontinuitas
mukosa kembali.

c. Teknik Langenbeck

Pada teknik Langenbeck, hemoroid internus dijepit radier dengan klem. Lakukan
jahitan jelujur di bawah klem dengan cat gut chromic no 2/0. Kemudian eksisi jaringan
diatas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jepitan jelujur di bawah klem diikat. Teknik ini
lebih sering digunakan karena caranya mudah dan tidak mengandung resiko
pembentukan jaringan parut sekunder yang biasa menimbulkan stenosis.

4. hemorrhoidektomi stapler
Cara lain mengatasi penyakit hemoroid adalah dengan penggunaan alat stapler.
Cara ini tidak mengganggu jaringan hemoroid dengan cara hemorrhoidopexy longo
diciptakan suatu anastomosis mukosa ke mukosa dengan mengeksisi submukosa di
proksimal Linea Dentata. Oleh karena eksisi ini dilakukan di atas Linea Dentata, maka
tidak terjadi nyeri seperti nyeri yang ditimbulkan oleh eksisi jaringan hemoroid
konvensional di anodem yang diliputi syarafsomatis. Saat ini, PPH belum menggeser
peranan hemoroidektomi konvensional ataupu rubber band lagition, hal ini terutama
dikarenakan biaya alat yang mahal.

Internal/External hemoroid Dilator Purse String


Closing PPH Mucosa Pull Staples

5. hemorrhoidektomi laser
Tehnik hemoroidektomi dengan menggunakan Laser CO2. Secara umum,
keuntungan penggunaan Laser adalah tidak terjadinya asap, uap air, atau bunga api yang
akan mengganggu pandangan operator pembedahan; Laser memotong dengan
menimbulkan perdarahan yang minimal (ini adalah keuntungan Laser yang paling
utama); Laser juga menimbulkan kerusakan minimal terhadap jaringan di sekitarnya,
hingga luka lebih mudah sembuh dibandingkan bila dipotong dengan kauter.

X. PENCEGAHAN

1. Hindari mengejan terlalu kuat saat BAB.


2. Cegah konstipasi / sembelit dengan banyak mengonsumsi makanan kaya serat
(sayur dan buah serta kacang-kacangan) serta banyak minum air putih minimal
delapan gelas sehari untuk melancarkan BAB..
3. Kurangi kopi dan alkohol
4. Tidur cukup.
5. Jangan duduk terlalu lama.
6. Senam/olahraga rutin.
REFERENSI

R. Syamsuhidajat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed.2. Jakarta : EGC.
Hlm. 114

Townsend C, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, Sabiston textbook of surgery, 17th
ed; Philadelphia : Sauners, 2004

http://bedahumum.wordpress.com/2008/10/08/hemoroidektomi/

Gurley, D : hemorrhoids at: www.emedicine.com

http://medlinux.blogspot.com/2008/12/hemoroid.html