Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS JURNAL TERKAIT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT DENGAN DIAGNOSA MEDIK
LUKA BAKAR (COMBUSTIO)

Disusun Oleh :

Linda Safiitri

NIM: 2014901068

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNGKARANG
PRODI PROFESI NERS
2020/2021
Luka bakar merupakan luka yang disebabkan oleh terpajannya kulit dengan api, suhu
tinggi, listrik, radiasi maupun bahan kimia sehingga membuat integritas kulit menjadi
terganggu atau rusak (Suriadi dan Rita, 2006). Beberapa hal yang perlu dibahas dan
diperhatikan dalam penerapan kasus keperawatan luka bakar, perawat mencoba dan
mengaplikasikan proses asuhan keperawatan sesuai dengan teori teori yang ada.
Penatalaksanaan pasien luka bakar sesuai dengan kondisi dan pasien dirawat melibatkan
berbagai lingkungan perawatan dan disiplin ilmu antara lain mencakup penanganan awal
(tempat kejadian), penanganan peratama di unit gawat darurat dan penanganan di ruang
intensif (bangsal). Tindakan yang diberikan antara lain adalah terapi cairan, fisioterapi dan
obat topikal.

Perawat melakukan asuhan keperawatan dimulai dengan pengkajian, kemudian


menentukan diagnose keperawatan, membuat perencanaan tindakan eperawatan, kemudian
mengimplementasikan rencana tindakan dan mengevaluasi.Tindakan yang perawat lakukan
yaitu terdiri dari observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi. Pada tindakan kolaborasi
perawat memberikan terapi farmakologis berupa terapi cairan dan elektrolit. Tindakan-
tindakan yang perawat lakukan merujuk pada pedoman asuhan keperawatan SIKI ( Standar
Intervensi Keperawatan Indonesia) dan menilik dari penelitian-penelitian yang sudah
dilakukan oleh peneliti dengan referensi jurnal dan artikel terkait. Diantara jurnal yang
menjadi rujukan penulis yaitu penelitian oleh Rani Hanesti tentang penanganan asuhan
keperawatan dengan luka bakar di irna bedah implementasi yang dilakukan adalah memantau
cairan dan melakukan perawatan luka. Terapi cariran yang dilakukan berdasarkan kebutuhan
cairan klien yaitu dengan menghitung kebutuhan cairan dengan rumus baxter.

Diantara jurnal yang menjadi rujukan penulis yaitu, penelitian oleh Otan Octavianus
tentang asuhan keperawatan dengan Combustio di Ruang Asoka RSUD Prof. Dr. W.Z
Yohanes Kupang pada penatalaksanaan kebutuhan cairan dna elektrolit pada pasien dengan
comustio yaitu dengan memantau tanda – tanda vital, memantau dan mencatat masukan dan
haluaran cairan, memberikan pengganti cairan intravena dan elektrolit (Kolaborasi) dan
mwngawasi pemeriksaan laboratorium (hemoglobin, Hematrokrit dan elektrolit).

Sedangkan pada penelitian Nur Hayati tentang pengelolaan kebutuhan cairaan dan
elektrolit dengan combustio grade III di RSUD Dr. Loekmonohadi Kudus, pada penelitian
tersebut menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah defisit volume cairan yang dialami
klien, maka dilakukan implementasi selama 3x24 jam yaitu melakukan observasi tanda- tanda
vital, haluaran urine, dan waspada tanda – tanda hipovolemia atau kelebihan beban cairan,
menjaga asupan akurat dan merekam keluaran cairan, mempertahankan pemberian infus dan
mengatur tetesannya pada kecepatan yang tepat sesuai dengan program medik, memantau
status hidrasi dan memantau hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan cairan.

Dari asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat dan berdasarkan jurnal/ artikel
terkait, penulis dapat menyimpulkan bahwa tindakan kolaborasi berupa terapi pemberian
cairan dan elektrolit dalam dapat membantu mengatasi kekurangan cairan pada pasien luka
bakar dalam pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit.