Anda di halaman 1dari 44

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous,osteo artinya tulang, dan
porous berarti berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang
yang keropos, yaitu penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya
rendah atau berkurang, disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan
kualitas jaringan tulang, yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra,
2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di
Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa
massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikro arsitektur tulang, dan
penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat
meningkatnya kerapuhan tulang dengan risiko terjadinya patah tulang (Suryati,
2006).
Osteoporosis kini telah menjadi salah satu penyebab penderitaan dan cacat
pada kaum lanjut usia. Bila tidak ditangani, osteoporosis dapat mengakibatkan
patah tulang, cacat tubuh, bahkan timbul komplikasi hingga terjadi kematian.
Risiko patah tulang bertambah dengan meningkatnya usia. Pada usia 80 tahun,
satu dari tiga wanita dan satu dari lima pria berisiko mengalami patah tulang
panggul atau tulang belakang. Sementara, mulai usia 50 tahun kemungkinan
mengalami patah tulang bagi wanita adalah 40%, sedangkan pada pria 13%
(Tandra, 2009).

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa definisi osteoporosis?

1.2.2 Bagaimana epidemiologi osteoporosis?

1
1.2.3 Bagaimana etiologi osteoporosis?

1.2.4 Bagaimana klasifikasi osteoporosis?

1.2.5 Bagaimana menisfestasi klinik osteoporosis?

1.2.6 Bagaimana patofisiologi osteoporosis?

1.2.7 Bagaimana pemeriksaan penunjang?

1.2.8 bagaimana penatalalaksanaan osteoporosis?

1.3 Tujuan

1.3.1 Mengetahui definisi osteoporosis

1.3.2 Mengetaui epidemiologi osteoporosis

1.3.3 Mengetahui etiologi osteoporosis

1.3.4 Mengetahui klasifikasi osteoporosis

1.3.5 Mengetshui menifestasi klinik osteoporosis

1.3.6 Mengetahui patofisiologi osteporosis

1.3.7 Mengetahui pemeriksaan penunjang osteoporosis

1.3.8 Mengetahui penatalaksanaan osteoporosis

2
BAB II. PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Osteoporosis adalah kondisi berkurangnya massa tulang dan gangguan


struktur tulang (perubahan mikroarsitektur jaringan tulang) sehingga
menyebabkan tulang menjadi muah patah. (Duque and Troen, 2006 dan Hughes,
2006).

Secara tidak langsung massa tulang yang memiliki sedikit lebih rendah
dari orang normal. Sehingga untuk terjadinya patah tulang akan lebih rendah
dibandingkan dengan osteoporosis. Dari kejadian osteopenia ini lama kelamaan
akan menjadi akan menjadi osteoporosis. (Cosman, 2009).

Osteoporosis sering disebut juga dengan “silent disease”, karena penyakit


ini datang secra tiba-tiba, tidak memiliki gejala yang jelas dan tidak terdeteksi
hingga orang tersebut mengalami patah tulang. (Nuhonni,2009). Akan tetapi,
menurut Yatim (2003), biasanya seseorang yang mengalami osteoporosis akan
merasa sakit/ pegal-pegal di bagian punggung atau daerah tulang tersebut. Dalam
beberapa hari/minggu, rasa sakit tersebut dapat hilang dengan sendiri dan tidak
akan bertambah sakit dan menyebar jika mendapat beban yang berat. Biasanya
postur tubuh penderita osteoporosis akan melihat membungkuk dan terasa nyeri
pada tulang yang mengalami kelainan tersebut (ruas tulang belakang). (Yatim,
2003).

Osteoporosis terbagi menjadi 2 tipe, yaitu primer dan sekunder.


Osteoporosis primr terbagi lagi menjadi 2 tipe 1 (postmenopausal) dan tipe 2
(senile). Penyebab terjadinya osteoporosis tipe 1 erat kaitannya dengan hormon
estrogen dan kejadian menopause pada wanita. Tipe ini biasanya terjadi selama
15-20 tahun setelah masa menopause atau pada wanita sekitar 51-73 tahun
(Putri,2009) dan pada tipe ini tulang trabekular menjadi sangat rapuh sehingga
memiliki kecepatan fraktur 3 kali lebih cepat dari biasanya. (Riggs et al, 1982

3
dalam National Research Council, 1989) Sedangkat tipe 2 biasanya terjadi diatas
usia 70 tahun 2 kali lebih sering menyerang wanita. Penyebab terjadinya senile
osteoporosis yaitu karena kekurangan kalsium dan kurangnya sel-sel perangsang
pembentuk vitamin D, dan terjadinya tulang pecah dekat sendi lutut dan paha
dekat sendi panggul. (Yatim, 2003)

Tipe osteoporosis sekunder, terjadinya karena adanya gangguan kelainan


hormon, penggunaan obat-obatan dan gaya hidup yang kurang baik seperti
konsumsi alkohol yang berlebihan dan kebiasaan merokok. (Hartono,2004)

2.2 Epidemiologi

Wanita lebih sering mengalami osteoporosis dan lebih ekstensif lebih dari
pria karena masa puncak masa tulang juga lebih rendah dan efek kehilangan
estrogen selama menopause, wanita Afrika/Amerika memiliki masa tulang lebih
besar dari pada wanita kaukasia lebih tidak rentang terhadap osteoporosis. Wanita
kaukasia tidak gemuk dan berkerangka kecil mempunyai resiko tinggi
osteoporosis. Lebih setengah dari semua wanita diatas usia 45 tahun
memperlihatkan bukti pada sinar x adanya osteoporosis.

Identifikasi awal wanita usia belasan dan dewasa muda yang mempunyai
resiko tinggi dan pendidikan untuk meningkatkan asupan kalsium, berpartisipasi
dalam latihan pembebanan berat badan teratur, dan mengubah gaya hidup
misalnya mengurang penggunaan cafein, sigaret dan alcohol akan menurunkan
resiko menurunkan resiko menurunkan osteoporosis, fraktur tulang dan kecacatan
yang diakibatkan pada usia lanjut.

Prevalensi osteoporosis pada wanita 75 tahun adalah 90%. Rata-rata


wanita usia 75 telah kehilangan 25% tulang kortikortiroidnya dan 40%
trabekuarnya dengan bertambahnya usia populasi ini isendensi fraktur 1,3 jt
pertahun, nyeri dan kecacatan yang berkaitan dengan nyeri meningkat.( Agung.
2016)

4
2.3 Etiologi

Osteoporosis (sekunder dan fraktur osteoporosis) disebabkan oleh glukokortikoid


yang mengganggu absorbs kalsium diusus dan peningkatan ekstraksi kalsium
lewat ginjal sehingga akan menyebabkan hipokalsemia, hiperparatiroidisme
sekunder dan peningkatan kerja osteoklas. Terhadap osteoblas glukokortikoid
akan menghambat kerjanya, sehingga formasi tulang menurun. Dengan adanya
peningkatan resorpsi tulang oleh osteoklas dan penurunan formasi tulang oleh
osteoblas, maka akan terjadi osteoporosis yang progresif. (Sudoyo Aru, 2006)

Faktor-faktor resiko terjadinya osteoporosis adalah : (Nurarif, A.H & Kusuma,


H.2015)

1. Umur : sering terjadinya pada usia lanjut.


2. Ras : Kulit putih mempunyai resiko paling tinggi.
3. Faktor keturunan : ditemukan riwayat keluarga dengan keropos tulang
4. Adanya kerangka tubuh yang lemah dan skoliosis vertebra. Terutama
terjadi pada wanita umur 50-60 tahun dengan densitas tulang yang rendah
dan di atas umur 70 tahun dengan BMI yang rendah. (BMI = Mody Mass
Index yaitu berat badan dibagi kuadrat tinggi badan).
5. Aktivitas fisik yang kurang.
6. Tidak pernah melahirkn.
7. Menopause dini (menopause yang terjadi pada umur 46 Tahun)
8. Gizi (kekurangan protein dan kalsium dalam masa kanak-kanak dan
remaja).
9. Hormonal yaitu kadar esterogen plasma yang kurang.
10. Obat misaknya kortikosteroid.
11. Kerusakan tulang akibat kelelahan fisik.
12. Jenis kelamin : 3 kali lebih sering terjadi pada wanita

5
Ada 2 penyebab utama osteoporosis, yaitu (Agus.2016) :
1. Pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama masa
pertumbuhan dan meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause.
Massa tulang meningkat secara konstan dan mencapai puncak sampai usia
40 tahun, pada wanita lebih muda sekitar 30-35 tahun. Walaupun demikian tulang
yang hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan remodelling dan
memperbaharui cadangan mineralnya sepanjang garis beban mekanik. Faktor
pengatur formasi dan resorpsi tulang dilaksanakan melalui 2 proses yang selalu
berada dalam keadaan seimbang dan disebut coupling. Proses coupling ini
memungkinkan aktivitas formasi tulang sebanding dengan aktivitas resorpsi
tulang. Proses ini berlangsung 12 minggu pada orang muda dan 16-20 minggu
pada usia menengah atau lanjut. Remodelling rate adalah 2-10% massa skelet per
tahun. Proses remodelling ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lokal
yang menyebabkan terjadinya satu rangkaian kejadian pada konsep Activation –
Resorption – Formation (ARF). Proses ini dipengaruhi oleh protein mitogenik
yang berasal dari tulang yang merangsang preosteoblas supaya membelah
membelah menjadi osteoblas akibat adanya aktivitas resorpsi oleh osteoklas.
Faktor lain yang mempengaruhi proses remodelling adalah faktor hormonal.
Proses remodelling akan ditingkatkan oleh hormon paratiroid, hormon
pertumbuhan dan 1,25 (OH)2 vitamin D. Sedang yang menghambat proses
remodelling adalah kalsitonin, estrogen dan glukokortikoid. Proses-proses yang
mengganggu remodelling tulang inilah yang menyebabkan osteoporosi.
2. Gangguan pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat.
Gangguan metabolisme kalsium dan fosfat dapat dapat terjadi karena
kurangnya asupan kalsium, sedangkan menurut RDA konsumsi kalsium untuk
remaja dewasa muda 1200mg, dewasa 800mg, wanita pasca menopause 1000 –
1500mgmg, sdangkan pada lansia tidak terbatas walaupun secara normal pada
lansia dibutuhkan 300-500mg. oleh karena pada lansia asupan kalsium kurang dan
ekskresi kalsium yang lebih cepat dari ginjal ke urin, menyebabkan lemahnya
penyerapan kalsium.

6
Selain itu, ada pula faktor risiko yang dapat mencetuskan timbulnya
penyakit osteoporosis yaitu :
1. Determinan Massa Tulang
a. Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan
tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain
kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya mempunyai
struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia. Jacii
seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika),
relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.
b. Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor
genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan
berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya massa tulang.
Dengan perkataan lain dapat disebutkan bahwa ada hubungan langsung
dan nyata antara massa otot dan massa tulang. Kedua hal tersebut
menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang berat
akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar.
Sebagai contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai
adanya hipertrofi baik pada otot maupun tulangnya terutama pada lengan
atau tungkainya; sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan
dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang
lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun
demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang
diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg
faktor genetik.
c. Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup
(protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai
dengan pengaruh genetik yang bersangkutan. Pemberian makanan yang
berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa

7
pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang melebihi
kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan
kemampuan genetiknya.

2. Determinan penurunan Massa Tulang


a. Faktor genetik
Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Pada
seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudahmendapat risiko
fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini
tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran tulang
normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal sesuai dengan sitat
genetiknya serta beban mekanis den besar badannya. Apabila individu
dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa
tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya usia, maka individu
tersebut relatif masih mempunyai tulang tobih banyak dari pada individu
yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama
b. Faktor mekanis
Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yang terpenting
dalarn proses penurunan massa tulang schubungan dengan lanjutnya usia.
Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi panting antara
faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas
fisis akan menurundengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang
merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan
menurun dengan bertambahnya usia.
c. Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses
penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama
pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat
penting. Wanita-wanita pada masa pre menopause, dengan masukan
kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak banyak, akan mengakibatkan
keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan

8
kalsiumnya baik dan absorbsinyajuga baik, menunjukkan keseimbangan
kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada wanita masa
menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan
keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa
menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat masukan
serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil
akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah
pergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium
sehari.
d. Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi
penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan
ekskresi asam amino yang mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan
meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein tidak dimakan
secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut
mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi
kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah
pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang
mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderunganuntuk
terjadi keseimbangan kalsium yang negatif
e. Estrogen.
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan
terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh
karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari makanan dan juga
menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
f. Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan
mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan
kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan
massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat memperbanyak
ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.

9
g. Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan.
Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan
kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang meningkat.
Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti.

2.4 Klasifikasi

Klasifikasi osteoporosis : (chairuddin Rasjad, 2007)

1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer terbagi menjadi 2 tipe,yaitu :
- tipe 1 : tipe yang timbul pada wanita pasca menopause
- tipe 2 : terjadi pada orang lanjut usia baik pada pria maupun wanita.
2. Osteoporosis sekunder
Disebabkan oleh penyakit-penyakit tulang erosive (misalnya myeloma
multiple, hipertiroidisme, hiperparatioridisme) adan akibat obat-obatan
yang toksik untuk tulang (misalnya glukokortikoid)
3. Osteoporosis idiopatik
Osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan di temukan pada :
-usia kanak-kanak (juvenii)
-usia remaja (adolesen)
-wanita pra-menopause
-pria usia pertengahan.

2.5 Manifestasi Klinik

Tanda dan gejala yang dapat ditimbulkan yaitu (Nurarif, A.H & Kusuma,
H.2015):

1. Manifestasi umum :penurunan tinggi badan, lordosis, Nyeri pada tulang,


atau fraktur, biasanya pada vertebra, pinggul atau lengan bagian bawah.

10
2. Nyeri tulang: terutama pada tulang belakang yang intensitas seranganya
meningkt pada malam hari.
3. Deformitas tulang : dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan
menyebabkan kifosis anguler yang dapat menyebabkan medulla spinalis
tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis.
4. Nyeri fraktur akut dapat diatasi dalam 2 hingga 3 bulan. Nyeri fraktur
kronis dimanifestasikan sebagai rasa nyeri yang dalam dan dekat dengan
tempat patahan.
5. (tanda McCokey) didapatkan protubernsia abdomen,spasme otot
paravertebral dan kulit yang tipis.

2.6 Patofisiologi

Osteoporosis merupakan kelainan metabolik tulang yang ditandai dengan


berkurangnya massa tulang dan adanya kerusakan dari arsitektur tulang sehingga
terjadi peningkatan kerapuhan tulang yang dapat menyebabkan mudah terjadi
fraktur. Massa tulang yang berkurang akan membuat tulang semakin tipis dan
rapuh sehingga mudah patah pada trauma yang ringan.
Bone remodelling terjadi seumur hidup dan mencapai puncaknya saat
dewasa (sekitar umur 30 tahun) kemudian menurun sesuai pertambahan umur,
kemudian terjadi keseimbangan antara aktivitas osteblastik dan osteoklastik
(pembentukan dan resorpsi tulang). Keseimbangan tersebut dipengaruhi oleh
hormon estrogen, paratiroid dan kalsitriol.
Pada pasca menopause, terjadi penurunan estrogen yang dapat
menyebabkan meningkatnya resorpsi tulang, dan diduga berhubungan dengan
peningkatan sitokin. Resorpsi tulang tersebut akan meningkatkan kadar kalsium
dalam darah dan menyebabkan penekanan terhadap hormon paratiroid. Kadar
hormon paratiroid yang rendah sering dijumpai pada penderita osteoporosis, yang
juga akan menurunkan kadar 1,25 dehydroxy vitamin D (kalsitriol), sehingga
penyerapan kalsium jadi menurun. Telah banyak diketahui bahwa osteoporosis
pasca menopause menunjukkan bahwa ada gangguan penyerapan kalsium serta
rendahnya kadar 1,25 Dehydroxy vitamin D dalam darah.(Agung.2016)

11
2.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah, (Nurarif, A.H & Kusuma,
H.2015):

a. Foto Rontgen polos


b. CT-Scan :dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang
mempunyai nilai penting dalam diagnostic dan terapi follow up
c. Pemeriksaan DEXA :digunakan untuk mengukur densitas tulang dan
menghitung derajat ostopenia (kehilangan tulang ringan-sedang) atau
osteoporosis (kehilangan tulang berat).
d. Pemeriksaan laboratorium
1. Kadar Ca, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
2. Kadar HPT (pada pasca menopause kadar HPT meningkat) dan Ct
(terapi ekstrogen merangsang pembentukan Ct)
3. Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun
4. Ekskresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat
kadarnya.

2.8 Penatalaksanaan

The national osteoporosis guideline group (NOGG) telah memperbarui guideline


2009 pada hal penegakan diagnosis dan tatalaksana osteoporosis wanita
postmenopouse dan pria usia sekurang-kurangnya 50 Tahun di inggris. Sejak
tahun 2009 telah terjadi banyak pembaharuan di lapangan terutama dalam
tatalaksana osteoporosis Yang diinduksi glukokortikoid, lalu peran calcium dan
vitamin D serta keuntungan dan resiko terapi bisphosphonate, seperti yang
dikatakan oleh J. Composton, MD dari the university of Cambridge School of
Clinical Medicine, United Kingdom,dan kolega dari the NOGG. (Nurarif, A.H &
Kusuma, H.2015):

Beberapa hal yang disorot dalam guideline NOGG 2013:

12
1. Terapi farmakologi yang dapat menurunkan risiko terjadinya fraktur vertebra
(dan beberapa kasus fraktur tulang panggul ) seperti bisphosphoanate,
denosumab, rekombian hormone parathyroid, reloxifene, dan strontium
ranelate. Pada NOGG 2009, terapi yang diakui untuk kasus fraktu vertebra,
non vertebra dan fraktur tulang panggul hanya alendronate, risedronate,
zoledronate dan terapi sulih hormone.
2. Alendronate genetic direkomendasikan sebagai terapi lini pertama karena
kerja spectrum luasnya sebagai agen antifraktur dengan harga terjangkau.
3. Ibandronate, risedronate, zoledronic acid, denosumab, raloxifane atau
strontium ranelate digunakan sebagai terapi pilihan jika aldronate
dikontraindikasikan atau tidak dapat di toleransi dengan baik oleh pasien.
4. Karena harga yang mahal, maka rekombinan hormon parathyroid hanya
diberikan kepada pasien dengan risiko sangat tinggi fraktur terutama pada
vertebra.
5. Wanita postmenopause dapat mendapatkan manfaat dari calcitrol,etidronate,
dan terapi hormone pengganti.
6. Terapi untuk pria dengan risiko tinggi terjadi fraktur harus dimulai dengan
alendronate, risedronate, zoledronste, atau teriparatide.
7. Bagi wanita post menpause, terapi yang diakui untuk pencegahan dan
pengobatan osteoporosis akibat glukokortiroid yaitu alendronate dan
risedronate, sementara itu terapi pilihan yang diakui baik unntuk wanita dan
juga pria adalah teriparatide dan zoledronate.
8. Suplemen kalsium dan vitamin D secara luas direkomendasikan untuk para
lansia dan sebagai terapi osteoporosis.
9. Efek potensial pada kardiovasskular akibat pemberian suplemen kalsium
masih kontrovesial, namun sangat baik jika asupan kalsium melalui makanan
ditingkatkan dan menggunakan suplemen vitamin D saja dari pada
mengkonsumsi suplemen calcium dan vitamin D bersamaan.
10. Penghentian mendadak bisphoponate dihibungkan dengan penurunan BMD
dan bone turn over setelah 2-3 tahun diterapi engan alendronate dan
risedronate.

13
11. Terapi bisphophonate dilanjutkan mesikipun tanpa evaluasi lebih lanjut
terutama pada pasien dengan risiko sangat tinggi terjadi fraktur, dimana
review terapi dan evaluasi fungsi ginjal cukup dilakukan setiap 5 tahun sekali.
12. Jika biosphonate dihentikan, risiko fraktur dievaluasi ulang tiap kali setelah
terjadinya fraktrur baru, atau setelah 2 tahun jika terjadi fraktur baru.
13. Setelah 3 tahun diterapi dengan zoledronaate, manfaat yang timbul pada
BMD akan tetap ada sampai dengan 3 tahun setelah terapi dihentikan.
Kebanyakan pasien harus menghentikan pengobatan setelah terapi 3 tahun,
dan dokter harus melakukan evaluasi ulang akan kebutuhan untuk
melanjutkan terapi dalam 3 tahun mendatang.
14. Pasien dengan fraktur vertebra sebelumnya atau terapi awal osteoporosis
tulang panggul dengan skor T BMD kurang dari sama dengan -2,5 SD dapat
mengalami penigkatan risiko fraktur vertebra jika zoledronate dihentikan.

14
BAB 3. PATHWAY

Defisiensi vit.D Menurunnya ekskresi Menurunnya aktivitas


estrogen fisik
Resistensi vit.D Usia lanjut (menopause)

- Penurunan reabsorbsi pada Penurunan sekresi GH


ginjal dan IGF-1
- Penurunan absorbsi kalsium
di usus
Gangguan fungsi osteoblast

Hipokalsemia

Meningkatnya PTH
(parathyroid hormon)

Hiperparatiroidisme sekunder

Meningkatnya resorbsi tulang

Osteoporosis

Fraktur Kurang informasi Gangguan


keseimbangan,
Pergeseran frakmen tulang Defisit pengetahuan penurunan aktivitas dan

Ansietas
Resiko Jatuh

Nyeri akut Deformitas


Resiko Cedera

Gangguan fungsi
ektremitas
Hambatan mobilitas fisik
15
Defisit perawatan diri
BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian

4.1.1 Anamnesa

a. Identitas Klien
Seperti nama, umur, jenis kelamin, agama, suku atau bangsa, bahasa,
pendidikan, pekerjaan, status, dan tempat tinggal.
b. Keluhan Utama
Pasien mengeluh ngilu di bagian esktremitas.
c. Riwayat kesehatan

Pengkajian merupakan peranan penting pada saat evaluasi


penderita osteoporosis. Terkadang hal pertama yang dikleuhkan oleh
pasien mengarah pada diagnosis. Faktor lain yang diperhatikan antara lain
umur, jenis kelamin, ras, status haid, fraktur pada trauma minimal,
imobilisasi lama, penurunan tinggi badan pada orang tua, kurangnya
paparan cahaya matahari, asupan kalsium, fosfor dan vitamin D, latihan
teratur dan bersifat bantalan berat.

Obat-obatan yang dikonsumsi pasien dalam jangka waktu lama


harus diperhatikan, seperti kortikosteroid, hormon tiroid, anti konvulsan,
antasida yang mengandung aluminium, sodium florida, dan bifosfonat
etidronat, alkohol dan kebiasaan merokok juga merupakan faktor resiko
terjadinya osteoporosis.

Penyakit lain yang harus ditanyakan juga kepada pasien terkait


osteoporosis adalah penyakit ginjal, saluran cerna hati, endokrin dan
insufisiensi pankreas.

Riwayat menarche dan menopause, penggunaan alat kontrasepsi


juga harus diperhatikan. Selain itu danya beberapa penyakit tulang
metabolik yang bersifat menurun dalam riwayat keluarga dengan
osteoporosis juga harus diperhatikan.

16
d. Pengkajian psikososial

Gambaran klinis penderita dengan osteoporosis adalah wanita yang


telah mengalami menopause dengan keluhan rasa nyeri punggung yang
merupakan faktor predisposisi adanya multiple fraktur karena trauma.
Perawat perlu mengkaji konsep diri penderita terutama mengenai
gambaran diri khususnya kepada penderita kifosis yang berat.

Klien mungkin membatasi interaksi sosial sebab adanya perubahan


yang tampak atau keterbatasan fisik, tidak mampu duduk di kursi dan lain-
lain. Perubahan seksual bisa saja terjadi karena harga diri rendah atau
ketidaknyamanan selama posisi intercoitus.

Osteoporosis dapat menyebabkan fraktur berulang, maka perlu


dikaji perasaan cemas dan takut pada pasien.

e. Pola aktivitas sehari-hari

Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olahraga,


mengisis waktu luang, rekreasi, berpakaian,makan, mandi, toilet. Olahraga
dapat membentuk pribadi yang baik dan individu akan merasa dirinya
menjadi lebih baik. Selain itu juga dapat memperthankan tonus ototdan
gerakan sendi. Pada usia lanjut perlu aktivitas yang adekuat untuk dapat
mempertahankan fungsi tubuh.aktivitas tubuh memerlukan interaksi yang
kompleks antara saraf dan muskoloskeletal. Beberapa perubahan yang
terjadi sehubungan dengan menurunnya gerak persendian merupakan
kemampuan gerak cepat dan lancar menurun, stamina menurun dan
kemampuan memanipulasi ketrampilan motorik halus pun menurun.

17
4.1.2 Pemeriksaan fisik

a. Sistem pernafasan

Pada penderita kifosis berat terjadi perubahan pernafasan, karena


adanya penekanan pada fungsional paru.

b. Sistem kardiovaskuler

Tanda dan gejala kardiovaskuler tidak memberikan bukti langsung


atau mayakinkan mengenai perkembangan komplikasi imobilitas. Hanya
sedikit petunjuk diagnosa yang dapat diandalkan pada pembentukan
trombosis. Tanda-tanda tromboflebitis antara lain eritmia, eema, nyeri
tekan dan tanda homans positif. Intoleransi ortostatik bisa menunjukkan
suatu gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut
jantung, penurunan tekanan darah, pucat, tremor tangan, berkeringat,
kesulitan dalam mengikuti perintah dan sinkop.

c. Sistem persyarafan

Nyeri punggung yang disertai dengan pembatasan pergerakan spinal


yang disadari dan halus merupakan indikasi adnya fraktur satu atau lebih
fraktur kompresi vertebral.

d. Sistem perkemihan

Bukti adanya perubahan-perubahan fungsi perkemihan termasuk


tanda-tanda fisik berupa urin sedikit dengan frekuensi sering, distensi
abdomen bagian bawah, dan batas kandung kemih dapat diraba. Gejala-
gejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk
berekskresi dan tekanan atau nyeri pada abdomen di bagian bawah.

e. Sistem pencernaan

Gangguan yang terjadi pada sistem pencernaan adalah konstipasi


termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah, rasa penuh,

18
tekanan. Pengosongan rektum yang tidak sempurna, anoreksia, mual,
gelisah, depresi mental, iritabilitas, kelemahan, da sakit kepala.

Pemeriksaan fisik kadang menemukan adanya fraktur, kifosis


vertebrata torakal atau penurunan tinggi menurun. Masalah mobilitas dan
pernafasan dapat terjadi akibat perubahan postur dan kelemahan otot.
Konstipasi dapat terjadi akibat inaktifitas.

f. Sistem muskoloskeletal

Inspeksi dan palpasi pada daerah columna vertebratalis, psien


dengan osteoporosis sering menunjukkan kifosis dan penurunan tinggi
badan. Adanya perubahan dalam gaya berjalan, deformitas tulang, nyeri
spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara vertebrata thorakal
8 dan lumbal 3. Indikator utama dari parahnya imobilitas pada sistem
muskoloskeletal adlahpenurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan
otot, rentang gerak sendi, dan kekuatan skeletal. Pengkajian fungsi secara
periodikdapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan
intervensi.

4.1.3 Pemeriksaan penunjang

a. Radiologi, yang menjadi khas adalah densitas atau massa tulang yang
menurun yang terlihat pada vertebrata spinalis. Dinding depan corpus
vertebrata biasanya merupakan lokalisasi yang paling berat. Penipisan
korteks dan hilangnya trabeculla transversal adalah kelainan yang sering
ditemui lemahnya corpus vertebrate menyebabkan penonjolan yang
menggelembung dari nukleus pulposus ke dalam ruang intervertebratalis
dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
b. Ct-scan, dengan alat ini dapat diukur densitas tulang secara kuantitatif
yang mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up.
Vertebral mineral diatas 110 mg/cm3 dapat menimbulkan fraktur
vertebrata atau penonjolan, sedangkan dibawah 65 mg/cm3 hampir semua
penderita mengalami fraktur.

19
c. Foto Rontgen polos
d. Pemeriksaan DEXA :digunakan untuk mengukur densitas tulang dan
menghitung derajat ostopenia (kehilangan tulang ringan-sedang) atau
osteoporosis (kehilangan tulang berat).
e. Pemeriksaan laboratorium
 Kadar Ca, P, dan alkali posphatase tidak menunjukkan kelainan yang
nyata.
 Kadar HPT (pada post menopause kadar HPT meningkat) dan Ct
(terapi estrogen dapat merangsang pembentukan Ct)
 Kadar 1,25-(OH)2-D3 dan absorbsi CA menurun.
 Ekskresi fosfat dan hydroksyproline terganggu sehingga kadarnya
meningkat

4.1.4 Pola pengkajian Gordon

1) Persepsi kesehatan/penanganan
Persepsi klien tentang status kesehatan umum. Ketaatan pada praktik
kesehatan preventif. Apabila pasien sakit, pasien segera berobat ke rumah
sakit/puskesmas.
2) Nutrisi-metabolik
Pola masukan makanan dan cairan, keseimbangan cairan dan elektrolit,
kemampuan umum untuk penyembuhan. Intake makanan pasien sebelum
sakit bisa menghabiskan 1 porsi makan, tetapi selama sakit intake
makanan pasien berkurang begitu juga dengan intake cairan.
3) Eliminasi
Pola fungsi pembuangan (usus, kandung kemih, kulit) dan persepsi klien.
4) Aktivitas/latihan
Pola latihan, aktivitas, bersenang-senang, rekreasi, dan kegiatan sehari-
hari, faktor-faktor yang mempengaruhi pola-pola individu yang
diharapkan atau diinginkan.

20
5) Kognitif-perseptual
Keadekuatan alat sensori, seperti penglihatan, pendengaran, pengecapan,
sentuhan, penghidu, persepsi nyeri, kemampuan fungsional kognitif.
6) Istirahat-tidur
Pola tidur dan periode istirahat-relaksasi selama 24 jam sehari, dan juga
kualitas dan kuantitas.
7) Persepsi diri/konsep diri
Sikap individu mengenai dirinya, persepsi terhadap kemampuan, citra
tubuh, perasaan senang dan pola emosi.
8) Peran-hubungan
Persepsi pasien tentang peran yang utama dan tanggungjawab dalam
situasi kehidupan sekarang.
9) Seksualitas/reproduksi
Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan klien dengan seksualitas.
Tahap dan pola reproduksi.
10) Koping/toleransi
Pola koping yang umum, toleransi stres, sistem pendukung, dan
kemampuan yang dirasakan untuk mengendalikan dan menangani situasi.
11) Nilai-keyakinan
Nilai-nilai, tujuan, atau keyakinan yang mengarahkan pilihan atau
keputusan.
4.1.5 Analisa data dan masalah

Data fokus Masalah Etiologi


DS: Nyeri akut Pergeseram fragmen tulang
1. Pasien mengatakan nyeri akibat fraktur
pada bagian tulang dan
persendian
DO:
1. Klien tampak meringis
karena nyeri
2. Skala nyeri 5 (0-10)

21
3. TD: 130/90 mmHg
4. Nadi: 96 x/menit
5. RR: 24x/menit
6. Suhu: 36 0C

DS: Hambatan mobilitas fisik Fungsi ekstremitas dan


1. Pasien mengatakan nyeri penurunan kekuatan otot.
ketika berjalan
2. Pasien mengatakan lemas
DO:
1. Pasien mengalami
penurunan tinggi badan
DS: Defisiensi pengetahuan Kurangnya informasi proses
1. Pasien mengatakan kurang osteoporosis dan program
mengerti tentang terapi.
penyakitnya
DO:
1. Pasien terlihat gelisah
2. Klien/keluarga banyak
bertanya
DS: Ansietas Kurangnya informasi dan
1. Pasien mengatakan cemas perubahan dalam status
dengan adanya perubahan kesehatan.
status kesehatannya
DO:
1. Wajah pasien terlihat
gelisah
DS: Resiko jatuh Gangguan keseimbangan,
1. Pasien mengeluh penurunan aktifitas, dan
kemampuan gerak cepat kekuatan otot.
menurun
2. Pasien mengatakan

22
keseimbangan tubuhnya
menurun
DO:
1. Tubuh pasien terlihat
bungkuk
DS: Defisit perawatan diri Gangguan fungsi ekstremitas.
1. Pasien mengatakan malas
untuk mandi dan
berdandan
2. Pasien merasa lemas
DO:
1. Rambut pasien terlihat
kusam dan kotor
2. Kuku panjang dan tidak
terawat
DS: Risiko cedera Gangguan keseimbangan,
1. Pasien mengeluh penurunan aktivitas dan
kemampuan gerak cepat kekuatan otot.
menurun
DO:
1. Tulang belakang terlihat
bungkuk

4.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang muncul akibat osteoporosis antara lain:

1. Nyeri akut berhubungan dengan fraktur dan spasme otot.


2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan fungsi
ekstremitas dan penurunan kekuatan otot.
3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi proses
osteoporosis dan program terapi.

23
4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi dan perubahan
dalam status kesehatan.
5. Resiko jatuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan, penurunan
aktifitas, dan kekuatan otot.
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan fungsi ekstremitas.
7. Resiko cedera berhubungan dengan dampak perubahan skeletal dan
ketidakseimbangan tubuh.

4.3 Intervensi Keperawatan


1. Diagnosa 1: Nyeri akut berhubungan dengan fraktur dan spasme otot.
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam nyeri akut dapat
diatasi
Kriteria hasil:
 Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
 Mampu mengenali (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

Intervensi Rasional

1. Lakukan pengkajian nyeri 1. pengkajian yang dilakukan


secara komprehensif termasuk secara komprehensif dapat
lokasi, karakteristik, durasi, mengidentifikasikan secara
frekuensi, kualitas, dan faktor mendetail dan menyeluruh
presipitasi mengenai keluhan pasien.
2. Gangguan lingkungan dan
2. Kontrol lingkungan yang rangsangan dapat
dapat mempengaruhi nyeri meningkatkan tekanan
seperti suhu ruangan, vaskuler serebral
kebisingan 3. Meningkatkan relaksasi dan

24
3. Ajarkan tekhnik dapat mengurangi nyeri
nonfarmakologi (distraksi, 4. Analgetik dapat mengurangi
guide imagery) nyeri
4. Berikan analgetik sesuai
indikasi

2. Diagnosa 2: Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan


fungsi ekstremitas dan penurunan kekuatan otot.
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan 3x24 jam, hambatan mobilitas fisik
dapat diatasi
Kriteria hasil:
 Klien dapat meningkatkan aktivitas fisik
 Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas
 Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan
kemampuan berpindah
 Mampu memperagakan penggunaan alat bantu untuk mobilisasi

Intervensi Rasional

1. Periksa vital sign 1. Mengetahui perubahan TTV


sebelum/sesudah latihan dan pasien sebelum dan sesudah
lihat respon pasien saat latihan. latihan, sebagai evaluasi
respon pasien setelah
2. Konsultasikan dengan terapi dilakukan latihan.
fisik tentang rencana ambulasi 2. Kolaborasi dengan terapist
sesuai dengan kebutuhan akan lebih baik
pasien.
3. Bantu pasien untuk 3. Membantu pasien sehingga
menggunakan alat bantu saat memudahkan pasien saat
berjalan dan cegah terjadinya berjalan dan mencegah
cedera terjadinya cedera

25
4. Kaji kemampuan pasien dalam 4. Mengetahui kemampuan
mobilisasi pasien dalam mobilisasi
5. Latih pasien dalam pemenuhan 5. Melatih pasien dalam
kebutuhan ADLs secara memenuhi kebutuhan ADLs
mandiri sesuai kemampuan secara mandiri sesuai dengan
6. Ajarkan pasien bagaimana kemampuannya
merubah posisi dan berikan 6. Agar pasien tahu bagaimana
batuan jika diperlukan. teknik merubah posisi

3. Diagnosa 3: Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya


informasi proses osteoporosis dan program terapi.
Tujuan : setelah dilakuka perawatan 1x24 jam, defisiensi pengetahun dapat
diatasi
Kriteria hasil:
 Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program pengobatan.
 Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan
secara benar
 Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat/tim kesehatan lainnya.

Intervensi Rasional

1. Jelaskan tentang proses penyakit 1. Pasien mengetahui proses


dengan cara yang tepat terjadinya penyakit yang
2. Identifikasi kemungkinan dialaminya
penyebab dengan cara yang 2. Mengetahui kemungkinan
tepat. penyebab terjadinya penyakit
3. Diskusikan perubahan gaya dengan tepat
hidup yang mungkin diperlukan 3. Mencegah terjadinya

26
untuk mencegah komplikasi di komplikasi di masa yang akan
masa yang akan datang atau datang
proses pengontrolan penyakit.
4. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
5. Dukung pasien untuk 4. Dengan terapi yang tepat akan
mengeksplorasi atau mempercepat penyembuhan
mendapatkan pilihan kedua pasien.
dengan cara yang tepat atau 5. Membantu pasien dalam
yang diindikasikan. mengeksplorasi atau
mendapatkan pilihan kedua
dengan cara yang tepat atau
yang diindikasikan.

4. Diagnosa 4: Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi dan


perubahan dalam status kesehatan.
Tujuan: setelah dilakukan perawatan 1x24 jam, ansietas dapat diatasi
Kriteria hasil:
 Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas
 Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk
mengontrol cemas
 TTV dalam batas normal
 Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya kecemasan

Intervensi Rasional

1. Gunakan pendekatan yang 1. Mengurangi kecemasan pasien


menenangkan 2. Pasien mengetahui tujuan
2. Jelaskan semua prosedur dan apa prosedur yang dilakukan pasien
yang dirasakan selama prosedur 3. Teknik relaksasi dapat
3. Intruksikan pada pasien untuk mengurangi kecemasan

27
menggunakan teknik relaksasi
4. Dengarkan dengan penuh 4. Meningkatkan kepercayaan
perhatian pasien terhadap perawat
5. Mengetahui tingkat kecemasan
5. Identifikasi tingkat kecemasan pasien
6. Bantu pasien mengenal situasi 6. Membantu pasien dalam
yang menimbulkan kecemasan mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan

5. Diagnosa 5: Resiko jatuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan,


penurunan aktifitas, dan kekuatan otot.
Tujuan: Setelah dilakukan perawatan 3x24 jam resiko jatuh dapat diatasi
Kriteria hasil:
 Keseimbangan: kemampuan untuk mempertahankan ekuilibrum
 Perilaku pencegahan jatuh: tindakan individu atau pemberi asuhan untuk
meminimalkan faktor resiko yang dapat memicu jatuh dilingkungan
individu
 Tidak ada kejadian jatuh
 Pasien mampu memahami cara pencegahan jatuh

Intervensi Rasional

1. Identifikasi defisit kognitif atau 1. Mengetahui kekurangan


fisik pasien yang dapat pengetahuan atau fisik pasien
meningkatkan potensi jatuh yang dapat meningkatkan potensi
dalam lingkungan tertentu jatuh dalam lingkungan tertentu
2. Identifikasi perilaku dan faktor 2. Dengan mengetahui perilaku dan
yang mempengaruhi resiko jatuh faktor yang mempengaruhi resiko
jatuh, kita dapat memberikan
informasi kepada pasien sehingga
kemungkinan kejadian
munculnya gangguan dapat

28
3. Ajarkan pasien bagaimana jatuh dicegah
untuk meminimalkan cedera 3. Pasien mengetahui bagaimana
4. Memberikan pengetahuan cara meminimalkan cedera ketika
kepada anggota keluarga tentang jatuh
faktor resiko yang berkontribusi 4. Agar anggota keluarga lebih
terhadap jatuh dan bagaimana waspada dan mencegah
mereka dapat menurunkan resiko terjadinya jatuh
tersebut
5. Berkolaborasi dengan anggota 5. Meminimalkan efek samping dari
tim kesehatan lain untuk obat yang berkontribusi terhadap
meminimalkan efek samping jatuh
dari obat yang berkontribusi
terhadap jatuh

6. Diagnosa 6: Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan fungsi


ekstremitas.

Tujuan: setelah dilakukan perawatan 2x24 jam, defisit perawatan diri


dapat diatasi
Kriteria hasil:
 Klien terbebas dari bau badan
 Menyatakan kenyamanan terhadap kemampuan untuk melakukan
ADLs
 Dapat melakukan ADLS dengan bantuan

Intervensi Rasional

1. Monitor kemampuan pasien 1. Mengetahui kemampuan


untuk perawatan diri yang pasien dalam perawatan
mandiri mandiri

29
2. Monitor kebutuhan pasien 2. Mengetahui kebutuhan pasien
untuk alat-alat bantu untuk untuk alat-alat bantu untuk
kebersihan diri, berpakaian, kebersihan diri, berpakaian,
berhias, toileting dan makan berhias, toileting dan makan
3. Sediakan bantuan sampai 3. Melatih pasien untuk bisa
pasien mampu secara utuh melakukan self-care secara
untuk melakukan self-care utuh
4. Dorong pasien untuk
melakukan aktivitas sehari- 4. Pasien menjadi lebih
hari yang normal sesuai semangat dalam melakukan
kemampuan yang dimiliki aktivitas sehari-hari secara
normal
5. Ajarkan pasien/keluarga
untuk mendorong 5. Melatih pasien/keluarga
kemandirian, untuk dapat meningkatkan
memberikan bantuan hanya kemandirian
jika pasien tidak mampu
melakukannya

7. Diagnosa 7: Resiko cedera berhubungan dengan dampak perubahan


skeletal dan ketidakseimbangan tubuh.

Tujuan: cedera tidak terjadi dengan criteria hasil klien tidak jatuh dan
tidak mengalami fraktur, klien dapat menghindari aktivitas yang
mengakibatkan fraktur.

Kriteria hasil:

 Klien terbebas dari cidera


 Klien mampu menjelaskan cara/metode untuk mencegah
injury/cidera

30
 Klien mampu menjelaskan faktor resiko dari lingkungan/perilaku
personal.

Intervensi Rasional

1. Ciptakan lingkungan yang 1. Menciptakan lingkungan yang


bebas dari bahaya missal : aman mengurangi risiko
tempatkan klien pada tempat terjadinya kecelakaan
tidur rendah, berikan
penerangan yang cukup,
tempatkan klien pada ruangan
yang mudah untuk diobservasi
2. Ajarkan pada klien untuk 2. Pergerakan yang cepat akan
berhenti secara perlahan,tidak memudahkan terjadinya fraktur
naik tangga dan mengangkat kompresi vertebra pada klien
beban berat osteoporosis.
3. Observasi efek samping obat- 3. Obat-obatan seperti diuretic,
obatan yang digunakan fenotiazin dapat menyebabkan
pusing, mengantuk dan lemah
yang merupakan predisposisi
klien untuk jatuh.
4. Pasang side rail tempat tidur 4. Terhindar dari kemungkinan
jatuh dari tempat tidur

4.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

Hari/ No. Jam Implementasi Hari/ Jam Evaluasi


Tangga Dx.

31
l Kep Tanggal
.

1 07.00- 1. Melakukan 14.00- S:


07.10 pengkajian nyeri 14..15
Pasien mengatakan
secara komprehensif
nyeri sudah berkuran
termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, O: tingkat nyeri pasie
frekuensi, kualitas, pada tingkat 3
dan faktor presipitasi
A: masalah teratasi
sebagian
2. Mengontrol
07.10-
Sabtu, lingkungan yang Sabtu, P: lanjutkan intervens
07.15
05-03- dapat mempengaruhi 05-03- nomor 1, 4

2016 nyeri seperti suhu 2016


ruangan, kebisingan
3. Mengajarkan tekhnik
07.15- nonfarmakologi
07.30 (distraksi, guide
imagery)

07.30- 4. Memberikan
07.40 analgetik sesuai
indikasi

Sabtu, 2. 07.00- 1. Memeriksa vital sign Sabtu, 14.00- S:


05-03- 07.10 sebelum/sesudah 05-03- 14.15
Pasien mengatakan
2016 latihan dan lihat 2016
nyeri sudah berkuran
respon pasien saat
dari hari sebelumnya
latihan.
2. Mengkonsultasikan O:
dengan terapi fisik
Pasien mengalami

32
07.10- tentang rencana penurunan tinggi bad
07.30 ambulasi sesuai
A: masalah teratasi
dengan kebutuhan
sebagian
pasien.
3. Membantu pasien P: lanjutkan intervens
untuk menggunakan
07.30-
alat bantu saat
07.45
berjalan dan cegah
terjadinya cedera
4. Mengkaji
kemampuan pasien
07.45- dalam mobilisasi
07.55 5. Melatih pasien dalam
pemenuhan
kebutuhan ADLs
07.55- secara mandiri sesuai
08.05 kemampuan
6. Mengajarkan pasien
bagaimana merubah
08.05- posisi dan berikan
08.20 batuan jika
diperlukan.

Minggu, 3. 07.00- 1. Menjelaskan tentang Minggu, 14.00- S: pasien mengatakan


06-03- 07.15 proses penyakit 06-03- 14.15 sudah menegerti
2016 dengan cara yang 2016 tentang penyakitnya
tepat
O: pasien sudah tidak
07.15- 2. Mengidentifikasi
banyak bertanya lagi
07.25 kemungkinan
penyebab dengan A: masalah teratasi
cara yang tepat.

33
07.25- 3. Mendiskusikan P: Hentikan intervens
07.35 perubahan gaya
hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang
atau proses
pengontrolan
penyakit.
07.35- 4. Mendiskusikan
07.45 pilihan terapi atau
penanganan
5. Mendukung pasien
07.45- untuk
07.55 mengeksplorasi atau
mendapatkan pilihan
kedua dengan cara
yang tepat atau yang
diindikasikan.

Minggu, 4. 07.00- 1. Menggunakan Minggu, 14.00- S: pasien mengatakan


06-03- 07.10 pendekatan yang 06-03- 14.15 tidak cemas lagi
2016 menenangkan 2016
O: wajah pasien tenan

A: masalah teratasi
2. Menjelaskan semua
07.10- P: hentikan intervens
prosedur dan apa
07.25
yang dirasakan
selama prosedur

07.25-
3. Mengintruksikan pada

34
07.35 pasien untuk
menggunakan teknik
relaksasi
07.35- 4. Mendengarkan
07.50 dengan penuh
perhatian

07.50- 5. Mengidentifikasi
08.00 tingkat kecemasan

08.00- 6. Membantu pasien


08.15 mengenal situasi yang
menimbulkan
kecemasan

Senin, 5. 07.00- 1. Mengidentifikasi Senin, 14.00- S: pasien mengatakan


07-03- 07.10 defisit kognitif atau 07-03- 14.25 keseimbangan tubuhn
2016 fisik pasien yang 2016 menurun sehingga
dapat meningkatkan terasa sempoyongan
potensi jatuh dalam
O: pasien terlihat
lingkungan tertentu
bungkuk
2. Mengidentifikasi
07.10- perilaku dan faktor A: masalah tidak
07.20 yang mempengaruhi teratasi
resiko jatuh
P: Lanjutkan interven
nomor 1-5
07.20- 3. Mengajarkan pasien
07.35 bagaimana jatuh
untuk meminimalkan
cedera
07.35- 4. Memberikan

35
07.50 pengetahuan kepada
anggota keluarga
tentang faktor resiko
yang berkontribusi
terhadap jatuh dan
bagaimana mereka
dapat menurunkan
resiko tersebut
5. Berkolaborasi dengan
07.50- anggota tim kesehatan
08.10 lain untuk
meminimalkan efek
samping dari obat
yang berkontribusi
terhadap jatuh
Senin, 6. 07.00- 1. Monitor kemampuan Senin, 14.00- S: pasien sudah mau
07-03- 07.10 pasien untuk 07-03- 14.15 mandi
2016 perawatan diri yang 2016
Pasien sudah tidak
mandiri
lemas
07.10- 2. Monitor kebutuhan
07.25 pasien untuk alat-alat O: rambut terlihat
bantu untuk bersih dan kuku lebih
kebersihan diri, terawat
berpakaian, berhias,
A: masalah teratasi
toileting dan makan
3. Sediakan bantuan P: hentikan intervens
07.25- sampai pasien mampu
07.35 secara utuh untuk
melakukan self-care
4. Dorong pasien untuk
07.35- melakukan aktivitas

36
07.45 sehari-hari yang
normal sesuai
kemampuan yang
dimiliki

5. Ajarkan
07.45- pasien/keluarga untuk
08.00 mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien
tidak mampu
melakukannya

Senin, 7. 07.00- 1. Menciptakan Senin, 14.00- S:


07-03- 07.15 lingkungan yang 07-03- 14.15
Pasien sudah mampu
2016 bebas dari bahaya 2016
menjelaskan
missal : tempatkan
cara/metode
klien pada tempat
pencegahan cedera
tidur rendah, berikan
penerangan yang O:
cukup, tempatkan
Pasien terlihat bungk
klien pada ruangan
yang mudah untuk A:
diobservasi
Masalah teratasi
2. Mengajarkan pada
07.15- sebagian
klien untuk berhenti
07.45
secara perlahan,tidak P:
naik tangga dan
Lanjutkan intervensi
mengangkat beban
nomor 3
berat
3. Mengobservasi efek

37
samping obat-obatan
yang digunakan
07.45-
4. Memasang side rail
07.55
tempat tidur

07.55-
08.00

38
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Osteoporosis adalah kondisi terjadinya penurunan densitas atau matriks


atau massa tulang, peningkatan porositas tulang, dan penurunan proses
mineralisasi disertai dengan kerusakan arsitektur mikro jaringan tulang yang
mengakibatkan penurunan kekokohan tulang sehingga tulang menjadi mudah
patah. Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang
progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari
mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan
padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka
tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.
Selain itu osteoporosis dapat disebabkan faktor genetik, mekanis, hormonal,
makanan, protein, estrogen, rokok, kopi, alkohol dan kalsium juga mempengaruhi
terjadinya osteoporosis sebab wanita-wanita pada masa pre menopause, dengan
masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak banyak, akan mengakibatkan
keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan
kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium
positif.

Diagnosa yang muncul akibat osteoporosis diantaranya, Nyeri akut


berhubungan dengan fraktur dan spasme otot, Hambatan mobilitas fisik
berhubungan dengan gangguan fungsi ekstremitas dan penurunan kekuatan otot,
Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi proses
osteoporosis dan program terapi, Ansietas berhubungan dengan kurangnya
informasi dan perubahan dalam status kesehatan, Resiko jatuh berhubungan
dengan gangguan keseimbangan, penurunan aktifitas, dan kekuatan otot, dan
Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan fungsi ekstremitas

39
5.2 Saran

Dengan adanya makalah ini perawat diharapkan mampu memberikan


perawatan dan edukasi kepada pasien atau masyarakat sedini mungkin akan
terjadinya osteoporosis, karena selain dari faktor genetik juga di sebabkan oleh
waktor makan sehingga dengan memberikan edukasi pada masyarakat,
masyarakat mampu mencegah dengan memulai hidup sehat, olah raga yang tertur
guna melatih kekuatan otot dan tulang sehingga dapat menimalisir terjadinya
osteooporosis.

40
DAFTAR PUSTAKA

Bordul.F,Steven,P.J.M&VanDerWeyde,J.A.G.1997.ilmukeperawatan(judul2).
Jakarta:EGC
Compston,Juliet.2002.Bimbingan Dokter Pada Osteoporosis.Jakarta:Dian Rakyat.

Junaidi,Iskandar.2007.Osteoporosis.Jakarta:Gramedia.

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan:
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc.edisi revisi jilid 1.
Jogjakarta: Mediaction.

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan:
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc.edisi revisi jilid 2.
Jogjakarta: Mediaction.

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan:
Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc.edisi revisi jilid 3.
Jogjakarta: Mediaction.
Sain,iwan.2009.osteoporosis.[serial online].
https://iwansaing.files.wordpress.com/2009/06/3-askep-osteoporosis-42-
524.doc. Diakses 09 Maret 2016
https://id.wikipedia.org/wiki/Osteoporosis ( diakses pada tanggal 10 maret 2016
pukul 18:30)
https://www.scribd.com/doc/75555340/AskepOsteoporosis (diakses pada 6 Maret
2016 pada pukul 18.37)

https://core.ac.uk/download/files/379/11736104.pdf (diakses pada 6 Maret 2016


pada pukul 18.40)
Tandra, Hans. 2009. Osteoporosis Mengenal, Mengatasi, dan Mencegah Tulang
Keropos. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suryati, A, Nuraini, S. 2006. Faktor Spesifik Penyebab Penyakit Osteoporosis
Pada Sekelompok Osteoporosis Di RSIJ, 2005. Jurnal Kedokteran dan
Kesehatan, Vol.2, No.2, Juli 2006:107-126.
Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Edisi ketiga, Yarsif
Watampore, Jakarta, 2007; 355-357

41
Duque, Gustavo and Troen, Burce R. Skeletal Aging, dalam Buku Geriatric
Nutrition The Health Profesional’s Hanbook Third Edition. Jones and
Bartlett Publishers. 2006.
Sudoyo, Aru W. dkk.  2006.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.
Yatim, Faisal. 2003. Osteoporosis Penyakit Kerapuhan Tulang Pada Manula.
Jakarta: Pustaka Obor.
Agung.2016.Epidemiologi Osteoporosis.[serial online].
https://www.scribd.com/doc/294719213/Epidemiologi-Osteoporosis-
docx .17 maret 2016

Putra.2011. Patofisiologi Osteoporosis. [serial online].


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21854/4/Chapter%20II.pdf
17 maret 2016

42
Pertanyaan :
1. Osteoporosis mengalami determinan penurunan masa tulang dan terjadi
kebanyakan pada lansia, pasien biasa mengeluh linu pada tulang. Bagaimana
kita sebagai perawat bisa menyadarkan kepada para lansia akan hal tersebut?
Jawab:
Kita harus memberikan edukasi kepada masyarakat sedini mungkin akan
terjadinya osteoporosis, karena selain faktor genetik juga disebabkan oleh
faktor makanan sehingga dengan memberikan edukasi kepada masyarakat,
masyarakat diharapkan mampu mencegah dengan memulai hidup sehat, olah
raga teratur guna melatih kekuatan otot dan tulang sehingga dapat
meminimalisir terjadinya osteoporosis.

2. Apakah ciri khas implementasi keperawatan pada pasien osteoporosis? Apakah


kita bisa mengembalikan kondisi tulang pasien menjadi baik kembali?

Jawab:

Penanganan pada pasien osteoporosis yaitu dengan mengajarkan pasien untuk


melakukan olah raga kecil seperti jalan santai, senam lansia dan lain
sebagainya. Dengan begitu akan melatih kekuatan otot dan tulang sehingga
dapat meminimalisir terjadinya osteoporosis yang lebih parah.

Kita tidak dapat mengembalikan kondisi tulang pasien menjadi balik kembali,
hal ini dikarenakan susunan tulang yang sudah rusak dan rapuh sehingga akan
sulit untuk menjadi baik kembali apalagi pada lansia yang kita ketahui bahwa
kartilago sudah tidak terbentuk.

3. Bagaimanakah perbedaan klasifikasi osteoporosis?

Jawab:

4. Apa hubungan merokok dengan osteoporosis?

Jawab:

43
Merokok dalam jumlah yang banyak cenderung akan mengakibatkan
penurunan tulang, apalagi disertai asupan kalsium yang rendah. Merokok
disertai asupan kalsium yang rendah akan lebih rentan mengalami
osteoporosis.

5. Kenapa penderita osteoporosis mengalami tinggi badan?

Jawab:

Hal tersebut dikarenakan posisi penderita yang membungkuk sehingga tubuh


terlihat lebih pendek dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya.

44

Anda mungkin juga menyukai