Anda di halaman 1dari 60

TUGAS MAKALAH

MATA KULIAH KEPERAWATAN JIWA

ASUHAN KEPERAWATAN PADAPASIEN SUNDOWNING

DISUSUN OLEH:

KELAS 5 C /KELOMPOK 6

1. Faiqotul Ilmi (1130018103)


2. Noviyanto Eka Putra (1130018115)
3. Nadia Dwi Saputri (1130018117)

DOSEN PEMBIMBING
Andikawati Fitriasari, S.Kep.,Ns.,M.Kep.

PRODI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA

2021
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah “Asuhan Keperawatan Pada Pasien Sundowning”.

Adapun makalah ini telah kami usahakan semaksimal mungkin dan tentunya
dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini. Namun tidak lepas dari
semua itu, kami sadar bahwa sepenuhnya ada kekurangan baik dari segi penyusunan,
bahasa, maupun segi lainnya. Kami mohon maaf sebesar-besarnya.

Surabaya, 22 Oktober 2020

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................
1.3 Tujuan................................................................................................
BAB 2 PEMBAHASAN .......................................................................
2.1 Pengertian..........................................................................................
2.2 Epidemiologi.....................................................................................
2.3 Anatomi Fisiologi..............................................................................
2.4 Etiologi..............................................................................................
2.5 Patofiologi.........................................................................................
2.6 Pathway.............................................................................................
2.7 Gejala Klinis......................................................................................
2.8 Pemeriksaan Diagnostik....................................................................
2.9 Penatalaksanaan................................................................................
2.10 Pencegahan......................................................................................
2.11 Komplikasi......................................................................................
BAB 3 APLIKASI TEORI...................................................................
BAB 4 APLIKASI KASUS...................................................................
Review Jurnal........................................................................................
BAB 5 PENUTUP..................................................................................
5.1 Kesimpulan........................................................................................
5.2 Saran..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA............................................................................
NASKAH ROLEPLAY.........................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Usia lanjut adalah tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia,
usia la njut biasanya dianggap orang berumur diatas 65 tahun. Orang-orang ini
mempunyai masalah sendiri yang berhubungan dengan proses menua (ageing
process) dengan segala akibat fisik, psikologis, dan sosial. Lansia adalah cabang
ilmu kedokteran yang mempelajari tentang penyakit pada lansia.

Timbulnya perhatian pada orang-orang usia lanjut dikarenakan adanya sifat-


sifat atau faktor-faktor khusus yang mempengaruhi kehidupan pada usialanjut,
Lansia merupakan salah satu fase kehidupan yang dialami oleh individu yang
berumur panjang. Lansia tidak hanya meliputi aspek biologis, tetapi jugapsikologis
dan social,Perubahan yang terjadi pada lansia dapat disebut sebagai perubahan
`senesens` dan perubahan ‘senilitas’. Perubahan `senesens’ adalahperubahan-
perubahan normal dan fisiologik akibat usia lanjut.Perubalian ‘senilitas’ adalah
perubahan-perubahan patologik permanent dan disertai dengan makin
memburuknya kondisi badan pada usia lanjut.

Lansia adalah seseorang yang lebih dari 75 tahun. Masa lansia bukan hanya
dihadapkan pada permasalahan kesehatan jasmaniah saja, tetapi juga permasalahan
gangguan mental dalam menghadapi usia senja. Sejalan dengan semakin baiknya
status kesahatan masyarakat, usia harapan hidup masyarakat Indonesia juga semakin
tinggi, sehingga mengakibatkan jumlah lansia juga semakin bertambah.
Saat ini jumlah lansia yang ada di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat
Statistik mencapai 18,7 juta orang (8,5%) dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah
ini akan menjadikan Indonesia menempati urutan ke empat terbanyak negara
berpopulasi lansia setelah China, India dan Amerika. Berdasakan Survei Kesehatan
Depkes RI, menyatakan gangguan mental pada usia 55-64 tahun mencapai 7,9%.
Sedangkan yang berusia di atas 65 tahun 12,3%. Angka ini diperkirakan
akansemakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Karenanya pengenalan
masalah mental sejak dini merupakan hal yang paling penting, sehingga beberapa
gangguan masalah mental pada lansia dapat dicegah, dihilangkan atau dipulihkan.
Jika tidak di diagnosis dan diobati tepat waktu kondisi tersebut dapat mengalami
pemburukan dan membutuhkan penanganan yang kompleks.Kepandaian menyiasati
dapat menjadikan masa tua yang menyenangkan, produktif dan energi tanpa harus
merasa tua dan tidak berdaya.
Pada lanjut usia (lansia) yang kurang mempersiapkan diri dalam menghadapi
kematian serta perubahan fisik, psikologis, dan sosial sebagai akibat masa tuanya,
sangat mungkin timbul gangguan jiwa. Hal ini bisa dikarenakan kurangnya
pemahaman agama dalam kehidupan.
Gangguan depresif merupakan suasana alam perasaan yang utama bagi usia
lanjut dengan penyakit fisik kronik dan kerusakan fungsi kognitif yang disebabkan
oleh adanya penderitaan, disabilitas, perhatian keluarga yang kurang serta
bertambah buruknya penyakit fisik yang banyak dialaminya.

.2 Rumusan masalah
1. Bagaimana definisi sundowning?
2. Bagaimana teori sundowning?
3. Bagaiman patway halusinasi ?
4. Bagaimana tanda dan gejala sundowning?\
5. Bagaimana gambaran klinis, diagnosis dan Factor- factor yang dapat
menyebabkan matahari terbenam (sundowning)?
6. Apa saja penyebab sundowning?
7. Bagimana rentang respon sundowning?
8. Bagaimana mekanisme koping sundowning?
9. Bagaimana penatalaksanaan sundowning?
10. Bagaimana kasus pada sundowning?
11. Bagaimana asuhan keperawatan pada sundowning?
.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui asuhan keperawatan pada lansia
dengan gangguan sundowning.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mahasiswa mampu mengetahui definisi sundowning
2. Mahasiswa mampu mengetahui teori sundowning
3. Mahasiswa mampu mengetahui patway dari halusinasi
4. Mahasiswa mampu mengetahui tanda, gejala dan Factor- factor yang
dapat menyebabkan matahari terbenam ( sundowning)
5. Mahasiswa mampu mengetahuigambaran klinis dan diagnosis
sundowning
6. Mahasiswa mampu mengetahui penyebab sundowning
7. Mahasiswa mampu mengetahui rentang respon sundowning
8. Mahasiswa mampu mengetahui mekanisme koping sundowning
9. Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan sundowning
10. Mahasiswa mampu mengetahui kasus pada sundowning
11. Mahasiswa mampu mengetahui asuhan keperawatan pada sundowning

1.4 Manfaat
Mahasiswa lebih memahami dan mengerti secara mendalam mengenai konsep
keperawatan Jiwa 2 lansia dengan Sundowning syndrome dan asuhan keperawatan
Jiwa 2 lansia dengan Sundowning syndrome.
BAB 2
TINJAUAN TEORI

.1 Definisi
Sundowning atau sundow syndrome, adalah fenomena neurologis yang terkait
deangan peningkatan kebingungan dan kegelisaan pada pasien dengan delirium atau
beberapa bentuk demensia. Paling umum dikaitkan Alzheimer, tetapi juga
ditemukan pada orang- orang dengan bentuk lain dari demensia., istilah “matahari
terbenam” diciptakan karena waktu kebingungan pasien. Untuk pasien dengan
sundowning syndrome, banyak masalah perilaku mulai terjadi pada malam hari atau
saat matahari terbenam. Matahari terbenam tampaknya lebih sering terjadi selama
tahap tengah penyakit Azheimer dan demensia campuran. Pasien umumnya dapat
memahami bahwa pola perilaku ini tidak normal. Sundowning tampaknya mereda
dengan perkembangan demensia pasien. Penelitian menunjukkkan bahwa 20-45 %
pasien Alzheimer akan mengalami semacam kebingungan saat matahari terbenam.
(Smith,G, 2016)
Matahari terbenam sudah umum bagi orang yang hidup dengan penyakit
Alzheimer untuk mengalami peningkatan kebingungan, kegelisaan, agitasi, mondar-
mandir dan disorientasi mulai saat senja dan terus sepanjang malam. Biasa disebut
sebagai “matahari terbenam “ini sindrom dapat menganggu siklus tidur- bangun
tubuh, menyebabkan lebih banyak masalah perilaku sore hari.
Orang dengan dimensia mungkin menjadi lebih bingung, gelisah atau tidak aman
sore hari atau awal malam. Itu bisa lebih buruk setelah pindah atau perubahan
rutinitas mereka. Mereka mungkin menjadi lebih menuntut, gelisa, kesal, curiga,
bingung dan bahkan melihat, mendengar atau percahaya hal-hal yang tidak nyata,
terutama dimalam. Rentang perhatian dan konsentrasi dapat menjadi bahkan lebih
terbatas. Beberapa orang mungkin menjadi lebih implusif, merespons gagasan
mereka sendiri tentang kenyataan yang dapat menempatkan mereka pada risiko.
Sindrom senja (sundowner syndrome) terjadi pada lansia, biasanya pada waktu
malam hari.Biasanya ditandai oleh rasa mengantuk, bingung, disorientasi, gejala
psikotonik sejenak, ataksia, dan terjatuh jatuh sebagai akibat sedasi obat.Juga
disebut sebagai peristiwa senja (sundowning). Sundown syndrome, atau
sundowning, adalah pola perilaku mengganggu yang sering terjadi pada pasien
lansia di malam hari yang berdampak pada kualitas hidup pasien, pengasuh, dan
keluarga.
Sundowning atau sindrom matahari terbenam, mempengaruhi beberapa orang
yang memiliki penyakit Alzheimer dan demensia. Orang yang demensia
sundowningakan bingung dan gelisah saat matahari terbenam kadang-kadang
terjadi sepanjang malam. Sundowning dapat membuat penderita demensia tidak
dapat tidur nyenyak. Penderita sundowning biasanya akan begadang sepanjang
malam. Tentu ini sangat mengganggu kesehatan penderitanya secara
keseluruhan,terutama pada orang usia lanjut (lansia).
Sindrom sundowning adalah sindrom yang terjadi pada lansia yang biasanya
terjadi pada malam hari, ditandai dengan rasa mengantuk, kebingungan, ataksia,
dan terjatuh akibat sering mengalami sedasi berlebih oleh obat juga disebut dengan
sundowner’ syndrome. Menjelang malam, penderita akan mengalami kebingungan,
disorientasi, hilang ingatan, gangguan konsentrasi bahkan marah-marah hingga
dapat melempar barang, yang semakin parah jika dibandingkan dengan saat pagi
atau siang hari. Gejala dari sindrom ini mendadak meningkat menjelang sore,
matahari terbenam hingga malam hari, sehingga dapat dibedakan dengan penyakit
kejiwaan lainnya. Studi menunjukkan bahwa sindrom ini paling banyak terjadi pada
usia lanjut yang menderita demensia (penyakit pikun) yang dirawat dirumah sakit.
Namun dapat terjadi juga pada lanjut usia yang memiliki gangguan penglihatan,
misalnya akibat degenerasi makula. Gejala lain dari sindrom ini adalah perubahan
mood, sikap ingin dilayani yang berlebihan, rasa curiga terhadap sekitar dan
halusinasi (seakan melihat atau mendengar sesuatu) yang terjadi menjelang
matahari terbenam. Penyebab sindrom ini belum diketahui.

.2 Teori sundowning
Ada bebrapa teori yang dikemukakan untuk menjelaskan terjadinya sindrom
sundowning pada lansia.
1. Kurang terpaparnya cahaya
Pada orang usia lanjut yang dirawat di rumah sakit atau yang menderita
gangguan penglihatan kerena degenerasi makula, terjadi perubahan persepsi
pada saat peralihan siang menjadi malam. Menjelang matahari terbenam,
cahaya akan semakin redup dan bayanganpun bertambah, mengakibatkan
gangguan persepsi pada pasien dan menyebabkan kebingungan dan rasa cemas
yang berlebihan.
2. Gangguan ritem sirkardian
Ritme sirkandian merupakan jam alami tubuh yang mengatur siklus proses
biologis dalam tubuh selama 24 jam. Gangguan dapat disebabkan oleh
gangguan tidur, perubahan pola tidur dan perubahan aktivitas.Pada orang
berusia lanjut, terjadi perubahan dimana mereka tidur lebih awal dan bangun
lebih cepat dengan durasi tidur yang lebih singkat. Mereka juga beraktivitas
lebih pasif disiang hari dibandingkan dengan aktivitas din malam hari.
Rendahnya produksi melatonin (hormonyang diproduksi pada malam hari dan
saat tidur) juga dapat mengganggu ritme sikardian. Jika ritme sirkandian
terganggu, akan terjadi gangguan terhadap waktu siang – malam (waktubangun
tidur).
3. Faktor lingkungan
Studi menunjukkan pada pasien berusia lanjut yang dirawat di rumah sakit,
rasa lelah yang berkepanjangan akibat stimulasi yang berlebih di rumah sakit
atau rasa bosa yang berkepanjangan akibat kurangnya stimulasi dan pergantian
shift kerha tenaga kesehatan yang biasanya menimbulkan suasana yang sibuk
dan ribut, merupakan faktor yang penting penyebab sindrom ini.
4. Kondisi kesehatan dan pengobatan
Penyebab yang menyebabkan rasa nyeri dengan intensitas tinggi dapat
menyebabkan gejala agitasi dan perubahan fungsi kognitif pada malam hari.
Penyakit Alzheimer, demensia dan depresi major berkaitan erat dengan
sindrom ini. Dapat menyebabkan efek samping sepeti jantung berdebar,
kekuatan otot, kebingungan, tidak merasa capai (restlessness), gangguan gerak,
yang berkontribusi pada terjadinya sundowner’s syndrome.
2.3 Pathway Halusinasi
Pathway Halusinasi meliputi (Lilik Ma’rifatul Azizah, 2016)

Kerusakan Komunikasi

Bicara,tersenyum,tertawa sendiri
Resiko mecedarai diri,
konsentrasi mudah berubah, kekacauan arus pikir orang lain dan lingkungan

Perubahan Pola Pikir Arus,


Mendengar bisikan yang
Bentuk, Isi
menyeluruh untuk
membunuh/dibunuh

Mempengaruhi neurotransmitter otak

Stimulus SSO, Internal meningkat, eksternal Perubahan persepsi


menurun sensori: halusinasi

Tidak peduli dengan lingkungan sekitar

Merangsang keluarnya zat

Fokus pada diri sendiri halusinogen

HDR

Koping Maladaptif

Stress Psikologis

2.4 Tanda dan Gejala


Gejala tidak terbatas tetapi dapat meliputi :

a. Kebingungan umum yang meningkat saat cahaya mulai memudar dan


bayangan yang meningkat muncul.
b. Agitasi dan perubahan suasan hati. Individu mungkin menjadi cukup frustasi
dengan kebingungan mereka sendiri serta diperparah oleh kebisingan.
c. Kelelahan mental dan fisik meningkat dengan terbenamnya matahari.
Kele;ahan ini dapat berperan dalam sifat seseorang yang mudang
tersinggung.
d. Tremor dapat meningkat dan menjadi tidak terkendali.
e. Seseorang dapt mengalami peningkatan kegelisaan saat mencoba tidur.
Kegelisaan seringkali dapat menyebab kan mondar-mandir dan berpotensi
berbahaya bagi seseorang dalam keadaan bingung.(Keller,S, 2012)

Sundowning terjadi hamper pada 20% dari orang yang memiliki penyakit
Alzheimer atau jenis dari demensia. Dengan gejala diataranya sebagai berikut
1. Kebingungan
2. Lupa
3. Sering mengigau
4. Ngelantur kalau berbicara
5. Cemas
6. Kegelisahan
7. Keresahan
8. Perubahan suasana hati
9. Susah tidur

Orang dengan sundowning sering mengalami kesulitan tidur.Sundowning


biasanya terjadi selama tahap tengah Alzheimer, dan semakin parah selama
penyakit berlangsung.Selama waktu tidur, mereka dapat mengalami masalah
sebagai berikut :

a. Terjatuh dari lantai


b. Berjalan tanpa sadar
c. Berteriak
d. Menjadi agresif
2.5 Gambaran Klinis , Diagnosis dan factor yang dapat menyebabkan
sundowning
Sindrom senja merupakan satu varian delirium dan dapat menampiilka diri
secara dramatic dengan wahamdan halusinasi.Depresi, cemas, dan iribilitas dapat
merupakan gejala pertamanya.
Factor- factor yang dapat menyebabkan matahari terbenam (sundowning):
a. Keletihan mental dan fisik dari sehari penuh berusaha untuk mengimbangi
lingkungan yang tidak dikenal atau membingungkan.
b. Perilaku nonverbal orang lain, terutama jika ada stress atau frustasi, mungkin
secara tidak sengaja ditransfer ke orang yang hidup dengan Alzheimer.
c. Pencahayaan yang berkurang dapat meningkatkan bayangan dan dapat
menyebabkan orang hidup bersama Alzheimer salah menafsirkan apa yang
mereka lihat dan, selanjutnya, menjadi lebih banyak gelisa.
d. Penderita demensia Mudah lelah dan dapat menjadi lebih gelisa dan sulit
dikelolah saat lelah.
e. Sundowning mungkin berhubungan dengan gangguan pola tidur atau
kurangnya stimulus sensorik setelah gela.
2.6 Penyebab Sundowning
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor usia
Pada pasien usia anjut memiliki kemungkinan sindrom sundowning disaat
opname lebih besar.
b. Kerusakan otak, seperti CVA
c. Riwayat sundowning sebelumnya.
d. Immobility / ketidakmampuan fungsional
Ketidakmampuan untuk bisa berpindah sendiri atau memiliki hambatan
dalam pergerakan atau ketidakmampuan dalam melakukan ADL secara
mandiri
e. Memiliki gangguan kognitif
Seperti demensia
f. Ketergantungan alkohol
g. Komorbiditas
Memiliki 2 atau lebih penyakit yang berkaitan sama lain dan mengganggu
sistem organ tubuh dari keduanya.
h. Gangguan panca indera
Seperti visus/ pengihatan dan pendengaran
2. Faktor Presipitasi
Sindrom senja ini dapat juga sebagai akibat sekunder dari deprivasa
sensorik yang terjadi bila lansia, atau pasien terganggu fungsi kognitifnya,
ditempatkan dalam lingkungan baru, seperti rumah sakit.
a. Sakit
b. Sembelit parah
c. Pola makan yang buruk / kurang gizi
d. Obat-obatan yang berlebihan
e. Nyeri
f. Infeksi
g. Lingkungan tidur yang berisik dan menggangu.
2.7 Rentang Respon
Rentang respon neorobiologi yang paling adaptif nadalah pikiran logis dan
terciptanya hubungan sosial yang harmonis.Rentang respons yang paling
maladaptif adalah adanya waham, halusinasi, termasuk isolasi sosial menarik diri.
Berikut adalah gambaran rentang respons neorobiologi.
adaptif Maladaptif

 Pikiran logis  Gangguan proses  Kadang proses pikir


 Presepsi akurat 2.8 pikir/waham tidak terganggu
 Emosi konsisten  Halusinasi  Ilusi
dengan pengalaman  Kesukaran proses  Emosi tidak stabil
 Perilaku cocok emosi  Perilaku tidak biasa
 Hubungan sosial  Menarik diri
harmonis

Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang sering digunakan klien dengan dengan halusinasi
meliputi (Muhith, 2015) :

1. Regresi
Menjadi malas beraktivitas sehari-hari.
2. Proyeksi
Mencoba menjelaskan gangguan persepsi dengan mengalihkan tanggung jawab
kepada orang lain atau sesuatu benda.
3. Menarik diri
Sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal.
4. Keluarga mengingkari masalah yang di alami oleh klien.
2.9 Penatalaksanaan
1. Terapi Obat
Untuk agitasi, lorazepam (Ativan) dapat diberikan 1-2 mg per os atau
IM.Antipsikotika dosis rendah-misalnya haloperidol (Haldol) 05 mg-saat mau
tidur bermanfaat mengobati sindrom senja ini pada pasien lansia yang juga
menderita demensia.Namun demikian, bila sindrom itu sebagai akibat terlalu
banyak obat gunakan tindakan suportif atau pengekangan saja.
a. Jika memungkinkan, jadwal tidur yang konsisten dan rutinitas harian yang
membuat nyaman penderita dapat mengurangi kebingungan dan kegelisaan.
b. Jika kondisi pasien memungkinkan, peningkatan aktivitas harian yang
dimasukkan kedalam jadwal mereka dapat membantu mempromosikan waktu
tidur yang lebih awal dan kebutuhan untuk tidur.
c. Periksa untuk tidur siang yang berlebihan. Pasiean mungkin ingin tidur siang,
tetapi terlalu banyak tidur secara tidak sengaja akan mempengaruhi tidur
malam. Aktivitas fisik adalah pengobatan untuk Alzheimer, dan cara untuk
mendorong tidur malam.
d. Kafein adalah stimulant otak (yang berkerja cepat), tetapi harus dibatasi pada
malam hari.
e. Pengasuh dapat membiarkan pasien memilih pengaturan tidur mereka sendiri
setiap malam, di mana pun mereka merasa paling nyaman tidur, serta
memungkinkan cahaya redup untuk menepati ruangan untuk mengurangi
kebingungan yang terkait dengan tempat yang tidak dikenal.(Korevaar, 2010)

2. Tindakan Keperawatan
a. Kegiatan yang sifatnya kognitif sebaiknya tetap diadakan sepanjangyang
bersangkutan (lansia) masih bersedia.
b. Untuk membantu daya ingat para lansia, sebaiknya di tempat-tempat
yang strategis dalam pelayanan ditulis hari, tanggal dan sebagainya
dengan huruf ukuran besar dan jelas.
c. Di tempat-tempat tertentu misalnya ruang ramu, kamar mandi, ruang
makan, lemari pakaian dan sebagainya sebaiknya diberi tulisan atau
tanda khusus yang mudah dikenali oleh para lansia.
d. Bentuk tempat tidur, kursi, pintu, jendela dan sebagainya yang
sering kali mereka gunakan/lewati/pegang seyogyanya (sepantasnya)
dibuat sederhana, kuat dan mudah dipergunakan. Bila perlu diberi alat
bantu yang memudahka untuk berjalan, bangun, duduk, dan sebagainya.
Hal tersebut sangat penting untuk menambah rasa aman mereka dan
memperkecil bahaya.
e. Bentuk kamar mandi khusus sebaiknya dibuat untuk keperluan mereka,
misalnya bak kamar mandi tidak terlalu dalam, tidak menggunakan
tangga atau tanjakan. Demikian pula jamban dibuatkan sehingga mudah
digunakan mereka dann pada dinding sebaiknya ada pegangan. Bila
fasilitas terpenuhi mereka akan merasa aman dan bahayapun akan
berkurang.
f. Pengaturan tempat duduk waktu makan, istirahat bersama sebaiknya
mempermudah mereka untuk melakukan interaksi sosial. Hindari
susunan kursi/tempat duduk yang saling membelakangi, karena akan
membuat para lansia tidak dapat berinteraksi dengan leluasa. Satu
kelompok diusahakan antara 4 sampai 6 orang untuk suatu kegiatan agar
lebih efisien.
Tingkat keparah gejala sindrom matahri terbenam dapat dikurangi
dengan perubahan diet dan gaya hidup berikut :

1) Hindari makanan berkafein dan gula di sore dan malam hari


2) Makan malam lebih awal
3) Hindari ngemil di malam hari hindari tidur siang
4) Melakukan beberapa latihan fisik sehari-hari di luar ruangan
5) Mendapatkan beberapa paparan harian sinar matahari
6) Tetap terlibat dalam kegiatan yang berbeda disiang hari
7) Menjaga lingkungan tidur yang tenang dan mengatur lampu malam.
3. Pengobatan utuk mengurangi
a. Aktivitas fisik : menjadi lebih aktif disiang hari dapat membantu pasien
Alzheimer tidur lebih baik
1) Mencegah tidur siang
2) Melakukan latihan, seperti berjalan atau menggerakkan badan.
b. Diet sehat : perawat harus memastikan pasien Alzheimer makan dengan
benar
1) Batasin kafein dan gula pada pagi hari
2) Rencanakan makan malam lebih awal
3) Jauhkan makanan ringan sebelum tidur
c. Nasehat medis : seorang dokter dapat melihat masalah fisik seperti rasa
sakit, infeksi, atau masalah kondisi yang mungkin berkontribusi terhadap
kebingungan malam hari dan agitasi. Mereka juga harus secara terapi
resep obat untuk memastikan apakah obat tersebut masih dibutuhkan.
d. Terapi cahaya : paparan cahaya terang, seperti matahari, siang hari dapat
mengurangi beberapa gejala sundowning, terutama bila dilakukan dalam
kombinasi dengan olahraga, seperti berjalan.
e. Lingkungan tidur yang nyaman : biarkan pasien untuk mengubah kamar
tidur, tidur di kursi favorit atau kamar sebagian menyala juga dapat
membantu mengurangi kebingungan ketika orang terbangun pada malam
hari.
f. Hindari pasien dari masalah : membantu pasien sundowning untuk selalu
tenang dan tentram pikirannya, tidak membuat pasien menjadi panik atau
khawatir. Ceritakan juga memori masa lalu yang menyenangkan.
g. Konsumsi suplemen herbal : suplemen herbal yang mengandung zat yang
dapat menjaga sirkulasi darah tersebut sangat membantu pasien dengan
Alzheimer dalam mengurangi gejala sundowning.
4. Tips untuk membantu pengasuhan matahari terbenam
(sundowning):
a. Istirahat yang cukup untuk menghindari tingkah laku diinginkan.
b. Jadwalkan kegiatan seperti janji dokter, perjalanan dan mandi dijam pagi
atau sore hari ketika orang dengan demensia lebih waspada.
c. Buat catatan tentang apa yang terjadi sebelum acara matahari terbenam
dan cobalah untuk mengidentifikasi pemicu.
d. Mengurangi stimulasi selama jam malam (mis. TV, anak-anak yang tiba,
melakukan pekerjaan rumah, music keras , dll). Gangguan ini dapat
menambahkan ke orang tersebut kebingungan.
e. Tawarkan makan yang lebih besar saat makan siang dan jaga agar makan
malam lebih ringan.
f. Nyalahkan rumah dengan baik dimalam hari. Pencahayaan yang
memadai dapat mengurangi kebingungan seseorang.
g. Jangan menahan orang secara fisik: itu bisa membuat agitasi bertambah
buruk.
h. Biarkan orang itu mondar-mandir, sesuai kebutuhan, dibawah
pengawasan.
i. Berjalan-jalan dengan orang tersebut untuk membantu mengurangi
kegelisahannya.
j. Bicarahlah dengan dokter tentang waktu terbaik dalam sehari untuk
minum obat.
k. Ketika intervensi perilaku dan perubahan lingkungan tidak berhasil,
diskusikan situasinya dengan dokter anda.
2.10 Pohon Masalah
Gangguan Memori

Gangguan Pola Tidur

Hipertensi
2.11
2.12 Asuhan Keperawatan Teoritis

Pengkajian Keperawatan
Ansietas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis
dan perilaku dan secara tidak langsung dapat timbul gejala atau mekanisme
koping sebagai upaya untuk melawan ansietas.Peningkatan ansietas perilaku dan
meningkat sejalan dengan meningkatnya ansietas.

Analisa Data

Pengumpulan informasi merupakan tahap awal dalam proses keperawatan.


Dari informasi yang terkumpul, didapatkan data dasar tentang masalah-masalah
yang dihadapi klien.Selanjutnya data dasar itu digunakan untuk menentukan
diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta tindakan
keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien.Pengumpulan data dimulai
sejak pasien masuk Rumah Sakit, selama klien dirawat secara terus menerus,
serta pengkajian ulang untuk menambah/melengkapi data.

Tujuan pengumpulan data:

1. Memperoleh informasi tentang keadaan kesehatan klien


2. Untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan klien
3. Untuk menilai keadaan kesehatan klien
4. Untuk membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah-langkah
berikutnya.
1. Data Subyektif
Data yang didapatkan dari pasien sebagai suatu pendapat terhadap
suatu situasi dan kejadian.Informasi tersebut tidak bisa ditentukan
oleh perawat, mencakup persepsi, perasaan, ide pasien tentang status
kesehatannya, misalnya tentang nyeri, perasaan lemah, ketakutan,
kecemasan lemah.

2. Data Obyektif
Data yang dapat diobservasi dan diukur,dapat diperoleh menggunakan
panca indera (lihat, dengar, cium, raba)selama pemeriksaan fisik.
Misalnya frekuensi nadi, pernafasan, tekanan darah, edema, berat
badan, tingkat kesadaran.

Masalah yang mungkin muncul pada pasien berdasarkan buku SDKI


adalah sebagai berikut:

1. Gangguan Persepsi Sensori


Kategori : Psikologis
Subkategori : Integritas Ego
Kode : D.0085
Definisi : Perubahan persepsi terhadap stimulus baik internal
maupun eksternal yang disertai dengan respon yang berkurang,
berlebihan atau terdistorsi.
Penyebab : Gangguan penglihatan, gangguan pendengaran,
gangguan penghiduan, gangguan perabaan, hipoksia serebral,
penyalahgunaan zat, usia lanjut, pemanjanan toksin lingkungan.
Gejala dan Tanda Mayor

Subjektif : mendengar suara bisikan / melihat bayagan; merasakan


sesuatu melalui indera perabaan, penciuman, atau pengecapan.

Objektif : distorsi sensori; respon tidak sesuai; bersikap seolah


melihat, mendengar, mengecap, meraba atau mencium sesuatu.
Kondisi klinis terkait : glaucoma, katarak, presbikusis, malfungsi
alatbantu dengar, demensia, gangguan amnestik. Penyakit terminal,
gangguan psikotik.

2. Gangguan Pola Tidur


Kategori : Fisiologis
Subkategori : Aktivitas/Istirahat
Kode : D.0055
Definisi : Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat
faktor eksternal.
Penyebab : hambatan lingkungan (mis. Kelembapan, lingkungan
sekitar, suhu lingkungan, pencahayaan, kebisingan, bau tidak sedap,
jadwal pemantauan/pemeriksaan/tindakan), kurang control tidur, kurang
privasi, restraint fisik.
Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif : mengeluh sulit tidur, mengeluh sering terjaga, mengeluh tidak
puas tidur, mengeluh pola tidur berubah, mengeluh istirahat tidak cukup.
Objektif : (tidak tersedia)
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif : mengeluh kemampuan beraktivitas menurun
Objektif : (tidak tersedia)
Kondisi Klinis Terkait : nyeri/kolik, hipertiroidisme, kecemasan.
Rumusan Masalah

Masalah yang mungkin muncul pada pasien adalah sebagai berikut:

1. Gangguan persepsi sensori


2. Gangguan pola tidur
Perencanaan

Langkah selanjutnya dari proses keperawatan adalah perencanaan


dimana perawat akan menyusun rencana yang akan dilakukan pada klien
untuk mengatasi masalahnya, perencanaan disusun berdasarkan diagnosa
keperawatan.

Pada klien dengan ansietas ringan,tidak ada intervensi khusus,


sebab pada ansietas ringan ini klien masih mampu mengontrol dirinya dan
mampu membuat keputusan yang tepat dalam penyelesaian
masalah.sedangkan pada ansietas sedang, intervensi yang dapat dilakukan
adalah dengan mengembangkan pola mekanisme koping yang positif.

Pada ansietas berat dan panik, terdapat strategi khusus yang perlu
diperhatikan oleh perawat dalam pemberian asuhan keperawatan.Prinsip
intervensi keperawatan pada klien tersebut adalah melindungi klien dari
bahaya fisik dan memberikan rasa aman pada klien karena klien tidak
dapat mengendalikan perilakunya.

1. Perencanaan/intervensi yang dapat diterapkan pada diagnosa


keperawatan yang terkait ansietas adalah:
a. Tenangkan klien
b. Berusaha memahami keadaan klien
c. Berikan informasi tentang diagnosa,prognosis dan tindakan
d. Kaji tingkat ansietas dan reaksi fisik pada tingkat ansietas
e. Gunakan pendekatan dan sentuhan
f. Temani klien untuk mendukung keamanan dan rasa takut
g. Instruksikan kemampuan klien untuk menggunakan tekhnik
relaksasi
h. Dukung keterlibatan keluarga dengan cara yang tepat
2. Perencanaan/intervensi yang dapat diterapkan pada diagnosa
keperawatan yang terkait gangguan pola tidur adalah:
a. Gunakan laporan dari klien sendiri sebagai pilihan pertama untuk
mengumpulkan informasi pengkajian
b. Minta klien untuk menilai nyeri dengan skala 0-10
c. Dalam mengkaji nyeri klien, gunakan kata-kata yang sesuai usia
dan tingkat perkembangan klien
d. Manajemen nyeri: ajarkan penggunaan tekhnik non farmakologi
(relaksasi, distraksi)

Implementasi

Implementasi adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan atau adanya


mekanisme suatu system, implemenntasi bukan sekedar aktivitas, tapi suatu
kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.
Merupakan tahap dimana rencana keperawatan dilaksanakan sesuai dengan
intervensi. Tujuan dari implementasi adalah membantu klien dalam mencapai
peningkatan kesehatan baik yang dilakukan secara mandiri maupun kolaborasi
dan rujukan.

Evaluasi

Evaluasi adalah bagian dari system manajemen yaitu perencanaan, organisasi,


pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui
bagaimana kondisi objek evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan, serta
hasilnya.
BAB 3
ASKEP KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA

Nama Mahasiswa : Tanggal Pengkajian : 25 Juli 2019


NIM : Jam pengkajian : 10.00 WIB
Tempat Praktik : RSI. A. YANI

1. IDENTITAS KLIEN
Nama Klien : Ny. S
Umur : 76 thn
Jenis Kelamin : Perempuan
No. RM : 65 75 12
Informan : keluarga pasien

2. ALASAN MASUK

Keluarga pasien mengatakan bahwa Ny. Y sering marah-marah tanpa sebab di sertai
gelisah sejak tuju hari sebelum pasien di bawa berobat.

3. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu?  Ya √ Tidak
2. Pengobatan sebelumnya  Berhasil  Kurang berhasil  Tidak
berhasil
3. Pengalaman klien
Pelaku Usia Korban Usia Saksi Usia
Aniaya fisik - - - - - -
Aniaya seksual - - - - - -
Penolakan - - - - - -
Kekerasan dalam rumah - - - - - -
tangga
Tindakan criminal - - - - - -

Jelaskan nomor 1, 2, 3 : pasien tidak mengalami gangguan jiwa di


masa lalu.
Masalah keperawatan : tidak ada

4. Adakah anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa?  Ya 


Tidak
Hubungan dengan keluarga : tidak ada
Gejala : tidak ada
Riwayat pengobatan : tidak ada
Masalah keperawatan : tidak ada
5. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan: tidak ada
Masalah keperawatan : tidak ada

4. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda-tanda vital
TD = 150/80 MmHg N = 80x/mnt S = 37C RR = 20x/mnt
Antopometri
TB = 170 cm BB = 56 kg IMT = 19,4
Keluhan fisik : √ Ya  Tidak
Jelaskan : pasien mengalami hipertensi 2 tahun lalu
Masalah keperawatan : Hipertensi

5. PSIKOSOSIAL
1. Genogram
Keterangan :

: laki-laki : Hubungan
Pernikahan

: perempuan : Tinggal bersama

: pasien : Meninggal

Jelaskan : pasien merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara.


Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan.
2. Konsep diri
a. Gambaran diri : Klien merasa tidak ada yang disukai lagi pada dirinya.
b. Identitas : Klien sudah menikah, mempunyai seorang suami.
c. Peran: Klien adalah ibu rumah tangga.
d. Ideal diri: Klien menyatakan bahwa kalau nanti sudah sembuh klien akan
merawat suaminya dengan baik.
e. Harga diri: Klien agresif, sering gelisah, sulit tidur pada malam hari,
penurunan daya ingat.
Masalah keperawatan : gangguan memori

3. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti: Suami
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat : tidak adanya interaksi
di masyarakat.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : pasien agresif sering
marah-marah dan mencari kesalahan suami dan selalu cemburu.
Masalah keperawatan : waham cemburu
4. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan: Pasien percaya akan adanya tuhan dan agama islam.
b. Kegiatan ibadah: pasien tidak menjalankan sholat 5 waktu.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah keperawatan yang di alami.

6. STATUS MENTAL
1. Penampilan
√ Rapi
 Penggunaan pakaian tidak sesuai
 Cara berpakaian tidak seperti biasanya
Jelaskan: Penampilan sesuai dengan usia
Masalah keperawatan : tidak ada

2. Pembicaraan
√ Cepat  Keras  Gagap  Inkoheren
 Apatis  Lambat  Membisu  Tidak mampu memulai
pembicaraan
Jelaskan : pasien kadang tidak mampu menjawab pertanyaan, pembicaraan
spontan.
Masalah keperawatan : tidak ada

3. Aktivitas motorik
√ Lesu  Tegang  Gelisah  Agitasi
 Tik  Grimasing  Tremor  Kompulsif
Jelaskan : karena klien sulit tidur pada malam hari
Masalah keperawatan : Gangguan tidur
4. Alam perasaan
 Sedih  Ketakutan  Putus asa √ Khawatir  Gembira
berlebihan
Jelaskan : khawatir hingga menuduh suaminya selingkuh
Masalah keperawatan : waham cemburu

5. Afek
 Datar  Tumpul √ Labil  Tidak sesuai
Jelaskan: karena pasien sering marah-marah tanpa sebab
Masalah keperawatan : Gangguan otak

6. Interaksi selama wawancara


 Bermusuhan  Tidak kooperatif  Mudah
tersinggung
√ Kontak mata kurang  Defensif  Curiga
Jelaskan :
Kontak mata kurang, klien jarang memandang lawan bicara saat
berkomunikasi
Masalah keperawatan : Gangguan komunikasi verbal

7. Persepsi halusinasi
 Pendengaran  Penglihatan  Perabaan
 Pengecapan  Pembauan
Jelaskan: Pasien tidak mengalami halusinasi.
Masalah keperawatan: tidak ada.
8. Proses pikir
 Sirkumtansial  Tangensial  Kehilangan asosiasi
 Flight of ideas  Blocking  Pengulangan
pembicaraan/perseverasi
Jelaskan: tidak ada.
Masalah keperawatan: tidak ada.

9. Isi pikir
√ Obsesi  Fobia  Hipokodria
 Depersonalisasi  Ide yang terkait  Pikiran magis

Waham
 Agama  Somatik  Kebesaran √ Curiga
 Nihilistik  Sisip pikir  Siap pikir  Kontrol
pikir

Jelaskan: pasien selalu marah-marah tanpa sebab dan menuduh suami


selingkuh.
Masalah keperawatan: Gangguan Pola Pikir.

10. Tingkat kesadaran


 Bingung  Sedasi  Stupor

Disorientasi
 Waktu  Tempat  Orang

Jelaskan: tidak ada


Masalah keperawatan: tidak ada
11. Memori
√ Gangguan daya ingat jangka panjang  Gangguan daya ingat
 Gangguan daya ingat jangka pendek  Konfabulasi
Jelaskan: pasien kesulitan mengingat tanggal dan keluarga serta daya ingat
menurun.
Masalah keperawatan: gangguan memori.

12. Tingkat konsentrasi dan berhitung


 Mudah beralih
 Tidak mampu berkonsentrasi
 Tidak mampu berhitung sederhana
Jelaskan: Pasien mampu di ajak berhitung dengan lancar
Masalah keperawatan : tidak ada

13. Kemampuan penilaian


 Gangguan ringan  Gangguan bermakna
Jelaskan: tidak ada
Masalah keperawatan: tidak ada

14. Daya tilik diri


 Mengingkari penyakit yang diderita
 Menyalahkan hal-hal di luar dirinya
Jelaskan: tidak ada
Masalah keperawatan : tidak ada

7. KEBUTUHAN PULANG
1. Kemampuan klien memenuhi/menyediakan kebutuhan
Makanan :  Ya  Tidak
Pakaian :  Ya  Tidak
Transportasi :  Ya  Tidak
Keamanan :  Ya  Tidak
Uang :  Ya  Tidak
Tempat tinggal :  Ya  Tidak
Perawatan kesehatan :  Ya  Tidak
Jelaskan: tidak ada
Masalah keperawatan: tidak d

2. Aktivitas hidup sehari-hari


a. Perawatan diri
Mandi :  Bantuan minimal  Bantuan total
Eliminasi uri/alvi :  Bantuan minimal  Bantuan total
Kebersihan :  Bantuan minimal  Bantuan total
Ganti pakaian :  Bantuan minimal  Bantuan total
Makan :  Bantuan minimal  Bantuan total
Jelaskan : tidak ada
Masalah keperawatan: tidak ada

b. Nutrisi
Apakah puas dengan pola makan?  Ya  Tidak
Apakah memisahkan diri saat makan?  Ya  Tidak
Jika ya, jelaskan : tidak ada
Frekuensi makan/hari : 3x1
Frekuensi kudapan/hari : normal
Nafsu makan  Meningkat  Menurun  Berlebih  Sedikit-
sedikit
BB tertinggi = 85 kg
BB terendah = 56 kg
Diet khusus : tidak ada
Jelaskan : nafsu makan normal.
Masalah keperawatan : tidak ada.

c. Istirahat tidur
Apakah ada masalah? √ Ya  Tidak
Apakah merasa segar setelah bangun tidur?  Ya  Tidak
Apakah kebiasaan tidur siang?  Ya  Tidak
Apa yang menolong untuk tidur?  Ya  Tidak
Waktu tidur malam : pukul 02.00 WIB
Waktu bangun : pukul 05.00 WIB
√ Sulit untuk tidur  Terbangun saat tidur
 Bangun terlalu pagi  Gelisah saat tidur
 Semnabolisme  Berbicara saat tidur
Jelaskan: pasien kesulitan tidur di saat malam
Masalah keperawatan : Gangguan Pola Tidur

3. Kemampuan klien
Mengantisipasi kebutuhan sendiri  Ya 
Tidak
Membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri  Ya 
Tidak
Mengatur penggunaan obat  Ya 
Tidak
Melakukan pemeriksaan kesehatan (follow up)  Ya 
Tidak
Jelaskan : tidak ada
Masalah keperawatan : tidak ada

4. Sistem pendukung klien


Keluarga : √ Ya  Tidak
Teman sejawat :  Ya  Tidak
Kelompok sosial :  Ya  Tidak
Profesional/terapis :  Ya  Tidak
Jelaskan :Pasien selalu mendapatkan motivasi dan dukungan hidup dari orang
sekitarnya
Masalah keperawatan : tidak ada

5. Apakah klien menikmati saat bekerja atau melakukan hobi? √ Ya 


Tidak
Jelaskan : pasien normal
Masalah keperawatan : tidak ada

8. MEKANISME KOPING
Adaptif Maladaptif
 Bicara dengan orang lain  Minum alkohol
 Mampu menyelesaikan masalah  Reaksi lambat/berlebih
 Teknik relokasi  Bekerja berlebihan
 Aktivitas konstruktif  Menghindar
 Olahraga  Mencederai diri
 Lainnya, __________________  Lainnya, __________________
Masalah keperawatan : tidak ada
9. MASALAH PSIKOSOSIAL & LINGKUNGAN
Masalah dengan dukungan kelompok, spesifik : tidak ada
Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifik :tidak ada
Masalah dengan pendidikan, spesifik :tidak ada
Masalah dengan pekerjaan, spesifik : tidak ada
Masalah dengan perumahan, spesifik : pasien menuduh suami selingkuh
Masalah dengan ekonomi, spesifik : tidak ada
Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifik : tidak ada
Masalah lainnya, spesifik : pasien selalu marah tanpa sebab
Masalah keperawatan : gangguan pola pikir

10. PENGETAHUAN KURANG TENTANG


 Penyakit jiwa  Sistem pendukung
 Faktor presipitasi  Penyakit fisik
 Koping √ Obat-obatan
 Lainnya,
___________________________________________________________
Masalah keperawatan : Defisit pengetahuan

11. DATA LAIN-LAIN

12. ASPEK MEDIK


Diagnosa medis : Gangguan Memori
Terapi medis : Konseling dan intervensi psikodinamik
13. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
1. Hipertensi
2. Gangguan memori
3. Waham cemburu
4. Gangguan pola pikir
5. Gangguan pola tidur
6. Deficit pengetahuan
14. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan memori berhubungan dengan factor psikologis (mis. Kecemasan,
depresi, stress berlebihan, berduka, gangguan tidur) ditandai dengan tidak
mampu mengingat perilaku tertentu yang pernah di lakukan. D.0062.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang control tidur di tandai
dengan mengeluh sulit tidur. D.0055.
ANALISA DATA

Nama :Ny.y Ruangan :Teratai


Pasien
Umur :76 tahun No. : 65 75 12
Register

No. Data Fokus Etiologi Masalah


1. DS: Factor psikologis Gangguan memori
1. Pasien mengatakan (mis. Kecemasan, D.0062.
Sering marah-marah depresi, stress
tanpa sebab di sertai berlebihan, berduka,
gelisah sejak tuju gangguan tidur) dan
hari, dan selalu tidak mampu
menuduh suami mengingat perilaku
selingkuh. tertentu yang pernah
dillakukan.
2. Pasien mengatakan
mengalami
penurunan daya
ingat, sulit
mengingat tanggal
dan keluarga.

DO:
1. Pasien tampak
kesulitan melakukan
aktivitas.

TD: 150/80 MmHg


N: 80x/mnt
S: 37C
RR: 20x/mnt
TB: 170 cm
BB: 56 kg

No. Data Fokus Etiologi Masalah


2. DS: Kurang control tidur Gangguan pola tidur
1. Pasien mengatakan sulit dan mengeluh sulit D.0055.
tidur di malam hari. tidur.

DO:
1. Pasien tampak gelisah
dan lesu.
TD: 150/80 MmHg
N: 80x/mnt
S: 37C
RR: 20x/mnt
TB: 170 cm
BB: 56 kg
POHON MASALAH

Nama :Ny.y Ruangan :Teratai


Pasien
Umur :76 tahun No. : 65 75 12
Register

Gangguan Memori

Gangguan Pola Tidur


Hipertensi

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama :Ny.y Ruangan :Teratai


Pasien
Umur :76 tahun No. : 65 75 12
Register

No. Daftar Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan memori berhubungan dengan factor psikologis
(mis. Kecemasan, depresi, stress berlebihan, berduka,
gangguan tidur) ditandai dengan tidak mampu mengingat
perilaku tertentu yang pernah di lakukan. D.0062.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang control
tidur di tandai dengan mengeluh sulit tidur. D.0055.

INTERVENSI KEPERAWATAN

Nama :Ny.y Ruangan :Teratai


Pasien
Umur :76 tahun No. : 65 75 12
Register

Diagnosa keperawatan :
1. Gangguan memori berhubungan dengan factor psikologis (mis.
Kecemasan, depresi, stress berlebihan berduka, gangguan tidur)
ditandai dengan tidak mampu mengingat perilaku tertentu yang
pernah di lakukan. D.0062.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang control tidur di
tandai dengan mengeluh sulit tidur. D.0055.

Tujuan & Kriteria Hasil Rencana Tindakan Paraf


Tujuan: Observasi:
SP1 : setelah dilakukan asuhan 1. Identifikasi masalah memori
keperawatan 4x24 jam, di yang dialami.
harapkan gangguan memori 2. Identifikasi kesalahan terhadap
dengan kriteria hasil sebagai orientasi.
berikut : 3. Monitor perilaku dan perubahan
1. Verbalisasi kemampuan memori selama terapi.
mengingat perilaku tertentu
yang pernah dilakukan dari Terapeutik:
skala 1 (menurun) menjadi 1. Rencanakan metode mengajar
skala 4 (cukup meningkat). sesuai kemampuan pasien.
2. Verbalisasi pengalaman 2. Stimulasi memori dengan
lupa dari skala 1 mengulang pikiran yang
(meningkat) menjadi skala 4 terakhir kali di ucapkan, jika
( cukup menurun). perlu..
3. Verbalisasi mudah lupa dari 3. Koreksi kesahalan orientasi
skala 1 (meningkat menjadi 4. Fasilitas mengingat kembali
skala 4 (cukup menurun). pengalaman masa lalu, jika
perlu.
Memori L.09079 5. Stimulasi menggunakan
memori pada peristiwa yang
baru terjadi (mis, bertanya
kemana saja ia pergi akhir-akhir
ini), jika perlu.

Latihan memo l.06188

Edukasi:
1. Jelaskan tujuan dan prosedur
latihan.
2. Ajarkan tekhnik memori yang
tepat (mis, imajinasi visual,
perangkat mnemonik,
permainan memori, isyarat
memori, tekhnik asosiasi,
membuat daftar, computer,
papan nama).
Kolaborasi
1. Rujuk pada terapi okupesi, jika
perlu.
Tujuan & Kriteria Hasil Rencana Tindakan Paraf
Tujuan: Observasi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan 1. Identifikasi pola aktivitas dan
selama 4X24 jam di harapkan gangguan tidur.
pola tidur di harapkan gangguan pola 2. Identifikasi factor pengganggu
tidu dengan kriteria hasil sebagai tidur (fisik/psikologis).
berikut: 3. Identifikasi makanan dan
1. Keluhan sulit tidur dari skala 1 minuman yang mengganggu
(menurun menjadi skala 4 tidur (mis, kopi, the, alcohol,
(cukup meningkat). makan mendekati waktu tidur,
2. Keluhan istirahat tidak cukup minum banyak air sebelum
dari skala 1 (menurun) menjadi tidur).
skala 4 (cukup meningkat). 4. Identifikasi obat tidur yang di
konsumsi.
Pola Tidur L.05045 Terapeutik
1. Modifikasi lingkungan (mis,
pencahayaan, kebisingan, suhu,
matras dan tempat tidur
2. Batasi waktu tidur siang, jika
perlu.
3. Fasilitasi menghilangkan stres
sebelum tidur
4. Tetapkan jadwal tidur rutin.
5. Lakukan prosedur untuk
meningkatkan kenyamanan
(mis. pijat, pengaturan posisi,
terapi akupresur).
6. Sesuaikan jadwal pemberian
obat dan/atau tindakan untuk
menunjang siklus tidur-terjaga.
Edukasi
1. Jelaskan pentingnya tidur cukup
selama sakit.
2. Anjurkan menepati kebiasaan
waktu tidur,
3. Anjurkan menghindari
makanan/minuman yang
mengganggu tidur.
4. Anjurkan penggunaan obat tidur
yang tidak mengandung
supresor terhadap tidur REM.

5. Ajarkan faktor-faktor yang


berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur (mis.
psikologis, gaya hidup, sering
berubah shift bekerja).
6. Ajarkan relaksasi otot autogenik
atau cara nonfarmakologi
lainnya.

Dukungan tidur l.05174


IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Nama :Ny.y Ruangan :Teratai


Pasien
Umur :76 tahun No. :65 75 12
Register

Diagnosa keperawatan :
1. Gangguan memori berhubungan dengan factor psikologis (mis.
Kecemasan, depresi, stress berlebihan berduka, gangguan tidur)
ditandai dengan tidak mampu mengingat perilaku tertentu yang
pernah di lakukan. D.0062.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang control tidur di
tandai dengan mengeluh sulit tidur. D.0055.

Tanggal/Ja Implementasi Evaluasi Paraf


m
26 Oktober Observasi: S :klien mengatakan
2020 1. Mengidentifikasi sudah dapat mengingat
masalah memori yang dengan baik.
09.00-09.30 dialami.
O : klien tampak tidak
R.Px: Kooperatif.
gelisah dan cemas lagi.
2. Mengidentifikasi
kesalahan terhadap A : Masalah teratasi

orientasi. P : Intervensi dihentikan


R.Px: Kooperatif.
3. Memonitor perilaku dan
perubahan memori
selama terapi.
R.Px: Kooperatif.
Terapeutik:
1. Merencanakan metode
12.00-12.30
mengajar sesuai
kemampuan pasien.
27 Oktober
R.Px: Kooperatif.
2020
2. Menstimulasi memori
09.00-09.30 dengan mengulang
pikiran yang
terakhir kali di ucapkan,
jika perlu.
R.Px: Kooperatif.
3. Mengkoreksi kesahalan
orientasi.
R.Px: Kooperatif.
4. Memfasilitas mengingat
kembali pengalaman
masa lalu, jika perlu.
R.Px: Kooperatif.
12.00-12.30 5. Menstimulasi
menggunakan memori
29 Oktober
pada peristiwa yang
2020
baru terjadi (mis,
09.00-09.30
bertanya kemana saja ia
pergi akhir-akhir ini),
jika perlu.
R.Px: Kooperatif.
Edukasi:
1. Menjelaskan tujuan dan
prosedur latihan.
R.Px: Kooperatif.
2. Mengajarkan tekhnik
memori yang tepat (mis,
imajinasi visual,
perangkat mnemonik,

12.00-12.30 permainan memori,


isyarat memori, tekhnik
30 Oktober asosiasi, membuat
2020 daftar, computer, papan
nama).
09.00-09.30 R.Px: Kooperatif.
12.00-12.30
Kolaborasi
1. Merujuk pada terapi
okupesi, jika perlu.
R.Px: Kooperatif.

Latihan memori l.06188

Tanggal/Ja Implementasi Evaluasi Paraf


m
31 Oktober Observasi S : klien sudah dapat
2020 1. Mengidentifikasi pola kebutuhan tidur dengan
aktivitas dan tidur. baik.
09.00-09.30 R.Px: Kooperatif. O : klien tampak
2. Mengidentifikasi factor bersemangat dan tidak
pengganggu tidur lesu lagi.
(fisik/psikologis).
A : Masalah teratasi.
R.Px: Kooperatif.
3. Mengidentifikasi P : Intervensi

makanan dan minuman dihentikan.

yang mengganggu tidur


(mis, kopi, the, alcohol,
makan mendekati waktu
tidur, minum banyak air
sebelum tidur).
12.00-12.30
R.Px: Kooperatif.
4. Mengidentifikasi obat
32 Oktober
tidur yang di konsumsi.
2020
R.Px: Kooperatif.

09.00-09.30 Terapeutik
1. Memodifikasi
lingkungan (mis,
pencahayaan,
kebisingan, suhu, matras
dan tempat tidur.
R.Px: Kooperatif.
2. Membatasi waktu tidur
siang, jika perlu.
R.Px: Kooperatif.
3. Memfasilitasi
menghilangkan stres
12.00-12.30 sebelum tidur.
R.Px: Kooperatif.
33Oktober 4. Menetapkan jadwal
2020 tidur rutin.
R.Px: Kooperatif.
09.00-09.30
5. Melakukan prosedur
untuk meningkatkan
kenyamanan (mis. pijat,
pengaturan posisi, terapi
akupresur).
R.Px: Kooperatif.
6. Menyesuaikan jadwal
pemberian obat dan/atau
tindakan untuk
menunjang siklus tidur-
terjaga.
R.Px: Kooperatif.
12.00-12.30
Edukasi

34 Oktober 1. Menjelaskan pentingnya

2020 tidur cukup selama


sakit.
09.00-09.30 R.Px: Kooperatif.
2. Menganjurkan menepati
kebiasaan waktu tidur.
R.Px: Kooperatif.
3. Menganjurkan
menghindari
makanan/minuman yang
mengganggu tidur.
R.Px: Kooperatif.
4. Menganjurkan
penggunaan obat tidur
yang tidak mengandung

12.00-12.30 supresor terhadap tidur


REM.
R.Px: Kooperatif.
5. Mengajarkan faktor-
faktor yang
berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur
(mis. psikologis, gaya
hidup, sering berubah
shift bekerja).
R.Px: Kooperatif.
6. Mengajarkan relaksasi
otot autogenik atau cara
nonfarmakologi lainnya
R.Px: Kooperatif..

Dukungan tidur l. 05174


No Judul Penulis Bulan Doi Permasal Metode Sample Sample
Tahun ahan
Terbit

1. Sindrom Cristiani Dement. https://sch Penyakit Ini adalah Yang diteliti . Yang diteliti
Sundown Sartorio Neurops olar.google alzheime study cross- terdiri dari 38 terdiri dari 38
pada Menegardo, ychol. .co.id/scho r tua sectional, pasien, 60,5% pasien, 60,5%
lar?
pasien Fernanda Vol.13 as_ylo=20
gejala observasion peerempuan dan peerempuan dan
dengan Alencar Friggi, no.4 São 16&q=alzh neuropsi al, 39,5% laki-laki, 39,5% laki-laki,
penyakit Julia Baldon Paulo eimer kiatri, eksplanatori dengan usia dengan usia
Alzheim Scardini, Tais Oct./Dec %27s+sund sindrom dilakukan rata-rata 81±6 rata-rata 81±6
er Souza Rossi, . 2019 owning+de matahari dimana ( 67-94 ) tahun. ( 67-94 ) tahun.
demensia Thais dos Santos Epub mentia&hl terbenam pengasuh Frekuensi gejala Frekuensi gejala
Vieira, Dec 09, =id&as_sdt atau kerabat neuropsikiatri neuropsikiatri
=0,5#d=gs
Alessandra 2019 pasien usia yang tinggi pada yang tinggi pada
_qabs&u=
Tieppo, Renato %23p
lanjut malam hari malam hari
Lirio Morelato %3DW_Vi dengan diamati, diamati,
Demensia & UGkVCukJ demensia terutama terutama
Neuropsikologia diawawanca iritabilitas iritabilitas
rai (55,3%), (55,3%),
menggunak perilaku perilaku
an alat nokturnal nokturnal
terstruktur ( 47,4% ), dan ( 47,4% ), dan
yang agresivitas agresivitas
disebut (42,1% ) hanya (42,1% ) hanya
Inventaris 36,8% pengasuh 36,8% pengasuh
Neuropsikia keluarga yang keluarga yang
tri ( NPI ) menggunakan menggunakan
strategi non- strategi non-
farmakologis farmakologis
No Judul Penulis Bulan, Doi permasalahan Metode Sampel Hasil
Tahun
Terbit
2. Terapi Yonatha Septe https://saraf Menentukan Studi Pasein dengan Data dari 26
Penyakit n Siswo mber ambarawa.w efek dari prospektif, riwayat pasien AD
Alzhaimer Pratama 2017 ordpress.co rTMS-COG acak, buta- penyalahgunaan dianalisis
m/2017/09/
Dengan 09/journal-
pada pasien ganda, alkohol atau dalam studi ini
Stimulasi reading- AD dalam terkontrol- riwayatpenggun menunjukkan
Magnetik terapi- kelompok plasebo aan obat-obatan bahwa Rtms-
Transkrania penyakit- terapi dan dilakukan psikoaktif dalam COG cukup
l Berulang alzheimer- placebo. Dan pada 27 jangka waktu memuaskan
Dengan dengan- menentukan pasien AD satu bulan, dibagian
Pelatihan stimulasi- terapi rTMS- (18 dan 8 pasien yang memori dan
magnetik-
Kognitif COG lebih pada tidak dapat bahasa, yang
transkranial-
berulang-
berguna pada group menyentuh layar merupakan
dikombinasi- tingkat terapi dan komputer, yang bagian paling
dengan- penyakit grub tidak dapat parah
pelatihan- Alzhaimer placebo, berkooperasi terganggunya
kognitif- dan wilayah dan 1 dengan teknisi pada penyakit
sebuah- kognitif yang drop-out. karena kesulitan Alzhaimer.
studi- mana. pengelihatan
prosektif-
dan
acak-buta-
ganda- pendengaran,
terkontrol- yang memiliki
plasebo/ kontra indikasi
dengan rTMS ,
dan pasien yang
tidak dapat
menerima terapi
TMS
No Judul Penulis Bulan Doi permasalaha Metode Sampel
tahun n
terbit

3. Demensia Muhamma Desember https://www.g Permasalah Pemberia Terdapat 35,6 ju


Vaskular d Zur’an 2019 oogle.com/url an n orang dengan
pada Asyrofi, ? hubungan Risperid demensia pada
sa=t&source=
Perempua Cahayanin web&rct=j&ur
antara one, tahun 2010
n Usia 76 gsih Fibri l=https://juke. dimensia Amlodip dengan
Tahun dan Rokhmani kedokteran.un vascular ine, peningkatan dua
hypertensi ila.ac.id/index. dan psikososi kali lipat setiap 2
on and php/majority/ hipertensi. al, tahun,
risk of article/downlo psikoedu menjadi 65,7 jut
vascular ad/2442/2393 kasi, dan di tahun 2030 da
&ved=2ahUKE
dementia. catatan 115,4 juta
wjdieqPp9TsA
hXoFLcAHYxO
kesehata di tahun 2050.
BfEQFjAAegQI n Sementara di As
BxAB&usg=AO perawata Tenggara,
vVaw1NdjtLmj n primer jumlah orang
GXi- elektroni dengan demensi
Obaucaq24K k. diperkirakan
meningkat dari
2,48 juta pada
tahun 2010
menjadi 5,3 juta
pada tahun 2030
BAB 4
Penutup
.1 Kesimpulan
Di Amerika, sekitar 4 juta orang menderita penyakit ini. Angka
prevalansi berhubungan erat dengan usia. Sekitar 10% populasi diatas 65 tahun
menderita penyakit ini. Bagi individu berusia diatas 85 tahun, angka ini
meningkat sampai 47,2%. Dengan meningkatnya populasi lansia, maka penyakit
alzheimer menjadi penyakit yang semakin bertambah banyak. Insiden kasus
alzheimer meningkat pesat sehingga menjadi epidemi di Amerika dengan insiden
alzheimer sebanyak 187 : 100.000 per tahun dan penderita alzheimer 123 :
100.000 per tahun.
Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi wanita lebih banyak tiga kali
dibandingkan laki-laki. Hal ini mungkin refleksi dari usia harapan hidup wanita
lebih lama dibandingkan laki-laki.
Penyakit Alzheimer atau demensia senil dari tipe Alzheimer merupakan penyakit
kronik, progresif, dan merupakan gangguan degeneratif otak dan diketahui
mempengaruhi memori, kognitif dan kemampuan untuk merawat diri. Penyakit
ini merupakan salah satu penyakit yang paling ditakutkan pada masa modern,
karena penyakit ini merupakan bencana besar yang terjadi pada pasien dan
keluarganya, dimana pengalaman pasien yang mengalaminya merupakan akhir
yang tak ada habisnya sampai kematian tiba.
.
4.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu kritik dan
saran dari pembaca yang sifatnya membangun kami harapkan demi perbaikan
makalah kedepannya Semoga dengan adanya makalah ini bisa menunjang
pembelajaran dan diskusi dalam kelas.
Daftar Pustaka

Azizah, lilik. 2016. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa : Teori Aplikasi Praktek
Klinik. Yogyakarta: Indomedika Pustaka
Kaplan Harold. 1998. Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta: Widya Medika
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Edisi
1. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia
Yusuf. 2015. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika
NASKAH ROLEPLAY

Anda mungkin juga menyukai