Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH

IDENTIFIKASI GUGUS FUNGSI

Kelompok 4 Rombongan 2

MAWAR YUNIAR LESTARI A1F017008

SUKSMAWENING ANISA LATIF A1F017032

MELISA L. RANY A1F017040

CHAFIYANI WULAN PERTIWI A1F017048

TRIANA AYU PALUPI AF017060

ALQI FENA AKBARI A1F017082

DEVILTHA NAYA DEVARA A1F017092

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara tropis dan letaknya sangat strategis.


Karena itulah tanaman-tanaman tumbuh dengan subur di Indonesia,
namun keterbatasan pengolahan sumber daya alam merupakan kekurangan
bangsa Indonesia. Berdasarkan ketersediaan sumber daya alam yang
melimpah, sepatutnya Indonesia dapat disejajarkan dengan negara maju
lainnya. Salah satu sumber daya alam yang dapat dieksplorasi adalah
kekayaan akan bahan baku selulosa dari kapas dan jerami, serta
pemanfaatan ekstrak rimpang bangle hantu sebagai antihiperglikemia
untuk obat Diabetes Melitus (DM).
Selulosa adalah komponen dasar pada dinding sel dan serat
tumbuhan. Selulosa terdapat pada semua tanaman tingkat tinggi hingga
organisme tumbuhan primitif. Sumber selulosa dapat ditemukan dalam
berbagai macam tanaman yang ada di Indonesia, diantaranya adalah
tanaman kapas dan jerami.
Nitroselulosa dibuat dengan nitrasi terhadap selulosa menggunakan
campuran asam nitrat dan asam sulfat dengan air. Nitroselulosa dibuat
dengan reaksi nitrasi selulosa yaitu proses substitusi (penggantian) gugus –
OH dengan gugus –ONO2. Pembuatan nitroselulosa umumnya
menghasilkan dua jenis, yaitu nitroselulosa komersial dan nitroselulosa
eksplosif (guncotton). Perbedaan ini terletak pada kadar nitrogennya.
Campuran nitrasi terdiri dari asam nitrat dan asam sulfat yang
umum digunakan pada skala komersial. Bahan awal selulosa kapas yang
dirobek-robek sebelum perlakuan dengan asam-asam campuran dalam
bejana nitrasi. Pada proses ini tidak akan merusak selulosa apabila
dibandingkan dengan penjelasan sebelumnya. Jika selulosa direaksikan
dengan asam sulfat sendiri atau asam nitrat sendiri maka akan mengubah
struktur kimia dari selulosa itu sendiri sehingga tidak akan terbentuk
nitroselulosa. Hal ini dikarenakan pada proses nitrasi, sudah terjadi reaksi
antar larutan asam sulfat dan larutan asam nitrat yang menghasilkan ion
nitronium (NO2+) yang akan mensubstitusi gugus –OH pada selulosa.
Rimpang bangle hantu merupakan tanaman semak dari keluarga
zingeberacaeae, tumbuh dengan berumpun-rumpun, batang basah
mencapai 200 cm. Rimpangnya berwarna ungu dan berbau kurang sedap,
nama lainnya antara lain panglai hideung, bunglai hantu, lampoyang
hitam, atau kunyit hitam. Nama ilmiahnya adalah Zingiber ottensii Val.,
perbanyakan tanaman dilakukan dengan stek rimpang, dan tumbuh dengan
baik pada tempat yang terkena cukup sinar matahari. Memiliki aktivitas
antibakteri, antioksidan, dan antifungi. Ekstraknya memiliki anti inflamasi
yang sangat kuat, dan berpotensi sebagai antiobesitas.
Berdasarkan hasil penelitian Riska (2014), bangle hantu memiliki
potensi sebagai antidiabetes dengan menghambat enzim α-glukosidase.
Diabetes Melitus (DM) dicirikan dengan intoleransi glukosa yang
menghasilkan terjadinya hiperglikemia dan gangguan dalam metabolisme
lipid dan protein. DM tipe 2 adalah jenis DM yang paling sering dijumpai
dan pada umumnya diawali oleh gangguan fungsi insulin (resistensi
insulin) yang mana selain dapat meningkatkan kadar glukosa darah juga
dapat meningkatkan kadar trigliserida.

B. Tujuan

1. Mengetahui pengaruh bahan baku selulosa pada proses pembuatan


nitroselulosa dari bahan selulosa kapas dan jerami dengan reaksi nitrasi,
mempelajari pengaruh waktu dan suhu reaksi terhadap kualitas
nitroselulosa yang dihasilkan, dan membandingkan kualitas nitroselulosa
yang dihasilkan dari selulosa kapas dan jerami.
2. Mengetahui aktivitas ekstrak bangle hantu (Zingiber ottensii Val.) sebagai

antihiperglikemia dan dosis efektif ekstrak rimpang bangle hantu


(Zingiber ottensii Val.) yang dapat menurunkan kadar glukosa darah pada

model hewan yang diinduksi fruktosa.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Selulosa adalah polimer berantai panjang polisakarida karbohidrat, dari


betaglukosa. Selulosa merupakan komponen struktural utama dari tumbuhan dan
tidak dapat dicerna oleh manusia. Selulosa yang berasal dari tumbuh-tumbuhan
hampir mencapai 50%, karena selulosa merupakan unsur struktural dan komponen
utama bagian yang terpenting dari dinding sel tumbuh-tumbuhan (Erlangga, dkk.,
2012).

Salah satu sumber selulosa adalah tanaman kapas. Tanaman kapas adalah
tanaman dengan serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis gossypium.
Tanaman kapuk adalah pohon tropis yang tergolong kapuke dalam ordo malvales.
Tanaman kapas dan tanaman kapuk ini banyak tumbuh di Indonesia yang
memiliki iklim tropis. Potensi tanaman kapas dan tanaman kapuk Indonesia saat
ini diantaranya adalah di daerah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Salah satu yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai guna dan nilai
ekonomis dari bahan selulosa kapas dan kapuk adalah pemanfaatannya sebagai
bahan baku pembuatan nitroselulosa dengan menggunakan reaksi nitrasi. Reaksi
ini adalah reaksi pembuatan nitroselulosa dengan menggunakan campuran asam
nitrat dan asam sulfat dengan bantuan air dengan atau tanpa pengadukan.
Komposisi reaktan diatur agar dihasilkan nitroselulose dengan kadar N 12,2 %.
Nitroselulosa yang dihasilkan distabilkan dengan memanaskan dalam asam panas
diikuti dengan larutan natrium karbonat encer panas (Erlangga, dkk., 2012).

Nitroselulosa mempunyai rumus molekul (C6H7O2(OH)3)n. Dari rumus


molekul ini tampak bahwa unsur-unsur bahan bakar (fuel) yaitu C dan H
bergabung dengan unsur oksidator (oxidizer), yaitu O membentuk satu senyawa
yang mampu terbakar apabila dikenai energi aktivasi walaupun tanpa kehadiran
oksigen dari udara (udara mengandung 21 %v oksigen dan 79 %v nitrogen).
Nitroselulose (<12,6 % N) biasanya dipertahankan basah dan mengandung ±30%
air agar tidak mudah meledak. Nitroselulosa dengan kadar N lebih tinggi dikenal
sebagai guncotton dan mudah meledak meski sedikit basah. Jika kering, semua
jenis nitroselulosa sangat peka terhadap ledakan dan cukup berbahaya.
Nitroselulosa kering diperlukan untuk jenis bahan peledak tertentu, dan ini dibuat
dengan pengeringan pelan-pelan dari nitroselulosa basah dalam aliran air hangat
(Erlangga, dkk., 2012).

Nitroselulosa dapat digunakan sebagai bahan bakar yang bisa digunakan


dalam skala rumah tangga maupun dalam skala industri. Nitroselulosa juga dapat
digunakan untuk bahan bakar pengganti minyak gas dan juga LPG dalam
memasak dengan melarutkan dalam metanol sehingga dihasilkan metanol gel
nitroselulosa. Penggunaan lainnya pada era modern ini adalah pengembangan
penggunaan nitroselulosa sebagai bahan peledak, maupun sebagai bahan baku
penggerak roket (Erlangga, dkk., 2012).

Reaksi Nitrasi adalah suatu reaksi kimia yang melibatkan pemasukan


gugus Nitro, -NO2 ke dalam sebuah molekul. Katalis atau katalisator adalah zat
yang dapat mempengaruhi laju atau kecepatan suatu reaksi dan diperoleh kembali
di akhir reaksi. Ciri umumnya adalah katalis diperoleh kembali di akhir reaksi,
katalis yang mempercepat laju ke arah hasil juga mempercepat laju ke arah
kebalikannya (pada reaksi kesetimbangan), jumlah katalis yang digunakan hanya
sedikit untuk sejumlah besar pereaksi, dan katalis berperan hanya pada reaksi
tertentu. Berdasarkan pengaruhnya, katalis dapat dibedakan menjadi katalis positif
dan katalis negatif. Sedangkan berdasarkan pada kerjanya, katalis dapat dibedakan
sebagai katalis adsorpsi dan katalis kemisorpsi. Selain itu menurut fasa katalis dan
fasa sistem reaksi dikenal katalis homogen dan katalis heterogen (Mulyono,
2006).

Reaksi nitrasi selulosa yaitu proses penggantian gugus –OH dengan gugus
– ONO2 pada selulosa. Proses ini dikendalikan oleh rasio diantara asam, rasio
asam-selulosa, waktu, dan suhu reaksi. Jika terjadi penggantian satu gugus, dua
gugus, tiga gugus, maka kadar nitrogen dalam nitroselulosa adalah berturut-turut
6,76%; 11,11%; 14,14%. Kadar N akan menentukan sifat fisik dan kimia
nitroselulosa. Substitusi berlangsung sepanjang rantai polimer bukan mengumpul
pada satu monomer.

Selulosa nitrat dibuat dari pengolahan selulosa dengan larutan asam nitrat
pekat yang mana perlu penambahan asam sulfat (senyawa lain dapat juga
digunakan sebagai pengganti seperti asam fosfat, fosfor pentoksida atau
magnesium nitrat). Kesemua bahan tersebut mempunyai fungsi yang sama sebagai
katalisator. Akan tetapi dalam setiap pemakaian asam sulfat yang paling lazim
digunakan karena harganya yang relatif lebih murah (Ronggur, dkk., 2012).

Diabetes mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang ditandai


dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolime
karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan seksresi insulin
atau penurunan sensitivitas insulin, atau keduanya dan menyebabkan komplikasi
kronis mikrovaskular dan makrovaskular (Ratimanjari, 2011).

DM dicirikan dengan intoleransi glukosa yang menghasilkan terjadinya


hiperglikemi dan gangguan dalam metabolisme lipid dan protein. Abnormalitas
metabolisme lipid ini disebut dengan dislipidemia, yang mana juga dapat
membentuk atherosklerosis yang mengakibatkan penyakit jantung koroner dan
arteri koroner, peningkatan serum trigliserida, kolesterol, LDL dan penurunan
serum HDL. Hipertrigliseridemia adalah suatu komponen esensial yang
berhubungan dengan gangguan metabolisme, yang mana juga termasuk rendahnya
kadar HDL, resisten insulin, hipertensi, dan obesitas abdomen. Keparahan dari
hipertrigliseridemia dapat meningkatkan komplikasi pada gangguan metabolisme
atau diabetes melitus tipe 2 (Wulansyari, 2014).

Kelebihan karbohidrat yang dikonsumsi akan dicerna menjadi glukosa


sehingga kadar glukosa darah meningkat. Insulin akan disekresi dan akan
mengubah kelebihan glukosa menjadi glikogen yang dapat disimpan dalam hati
maupun otot. Kelebihan glukosa kemudian disimpan dalam bentuk trigliserida.
Hiperglikemia dan hiperlipidemia akan berpengaruh pada komplikasi
mikrovaskuler dan makrovaskuler, yang mana merupakan penyebab kematian
terbesar dari diabetes (Wulansyari, 2014).

Konsumsi fruktosa dalam jumlah sedikit mempunyai efek positif yaitu


menurunkan glukosa darah melalui peningkatan uptake glukosa oleh hepar,
stimulasi enzim heksokinase serta peningkatan konsentrasi insulin. Oleh karena
itu, HFCS digunakan sebagai gula pemanis pada penderita diabetes. Pada awal
observasi, pemanis tersebut dianggap aman oleh Food and Drug Administration,
akan tetapi hasil penelitian berikutnya menunjukkan asupan fruktosa lebih dari
25% kebutuhan energi per hari (sekitar 85 g fruktosa) menyebabkan
hipertrigliseridemia dan resistensi insulin, sehingga HFCS tidak digunakan lagi
pada penderita diabetes (Prahastuti, 2011).

Selain fruktosa, propiltiourasil juga bisa menyebabkan keadaan DM.


Propiltiourasil (PTU) bekerja menghambat kerja enzim tiroperoksidase sehingga
sintesis T4 dan T3 terhambat. Propiltiourasil juga menghambat kerja enzim 5'-
deiodinase (tetraiodotironin 5' deiodinase) yang mengkonversi T4 menjadi T3.
Karena T3 lebih kuat daya hormon tiroidnya dibandingkan T4, maka hal ini juga
akan mengurangi aktivitas hormon-hormon tiroid secara keseluruhan.
Propiltiourasil dapat menyebabkan kerusakan hati. Pada keadaan terjadinya
kerusakan pada hati, maka terjadi gangguan pada hemostasis metabolisme glukosa
oleh karena terjadinya resistensi insulin dan gangguan sensitivitas sel β pankreas.
(Sihotang, 2010).

DM dapat berakibat fatal apabila tidak dikelola dengan tepat, sehingga


perlu penanganan secara multidisiplin yang mencakup terapi farmakologis dan
non farmakologis. Pada pelaksanaannya terapi farmakologis sering menimbulkan
masalah-masalah pada pasien yaitu berupa efek samping dari obat-obat sintetik.
Melihat banyaknya resiko efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh obat-
obat sintetik, maka sebisa mungkin penggunaannya dibatasi dan digantikan
dengan obat-obat dari bahan alam yang dipercaya lebih aman dengan resiko efek
samping yang relatif kecil (Wulansyari, 2014).
Bangle hantu (Zingiber ottensii Val.) merupakan tumbuhan yang memiliki
kandungan senyawa utama yang dikenal dengan minyak atsiri dan memiliki
aktivitas sebagai antimikroba yang berspektrum luas. Tanaman tersebut biasanya
digunakan sebagai analgetik, obat demam (antipiretik), obat batuk, antikonvulsan
(obat kejang) terutama anak-anak, dan obat untuk ibu setelah melahirkan. bangle
hantu memiliki potensi sebagai antidiabetes dengan menghambat enzim α-
glukosidase (Riska,2014).
III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

1. Pembuatan nitroselulosa dari kapas (Gossy pium sp.) dan jerami (Oryza
sativa) melalui reaksi nitrasi

Alat :

1. Indikator suhu
2. Sistem pendingin berupa l emari es / lemari pendingin
3. Reaktor berupa beaker glass 1000 ml
4. Termocouple
5. Magnetic stirrer
Bahan :

1. Kapas : Digunakan kapas komersial yang dibeli di supermarket. Kapas


disobek terlebih dahulu untuk mempermudah reaksi dan mencegah
penggumpalan.
2. Jerami : Didapatkan dari sawah di daerah Mojokerto. Jerami dicacah
kecil dengan ukuran ±2 mm.
3. Larutan HNO3 (65%) : Digunakan sebagai reaktan untuk nitrasi.
4. Larutan H2SO4 (98%) : Digunakan sebagai reaktan untuk nitrasi.
5. Larutan NaOH (17,5%) : Digunakan sebagai larutan pemasak bahan
selulosa kapas dan jerami untuk menghilangkan lignin dan zat
pengotor lainnya.
6. Larutan NaHCO3 : Digunakan untuk mencuci nitroselulosa dengan
tujuan menghilangkan sisa asam hasil reaksi nitrasi.
2. Potensi rimpang bangle hantu (Zingiber ottensii Val.) sebagai
antihiperglikemia pada model hewan diabetes yang diinduksi fruktosa

Alat:
1. Pisau 8. Gelas ukur
2. Baskom 9. Pipet tetes
3. Parutan 10. Pipet ukur
4. Kain saring 11. Pengaduk
5. Ayakan (diameter 40 12. Vacuum rotary evaporator
mesh) 13. Waterbath
6. Erlenmeyer 14. Glukometer
7. Beaker glass

Bahan:

1. Rimpang bangle hantu (diperoleh dari Manoko, Lembang Bandung


Barat)
2. Tikus putih jantan galur Wistar sebanyak 30 ekor
3. Pelarut etanol 96%
4. Aquadest
5. Pakan dan minum standar untuk tikus
6. Makanan tinggi fruktosa dan propiltiourasil untuk tikus

A. Prosedur Kerja

1. Pembuatan nitroselulosa dari kapas (Gossy pium sp.) dan jerami (Oryza
sativa) melalui reaksi nitrasi
 Prosedur Pre-treatment Bahan Baku Selulosa
Pada tahapan pre-treatment bahan baku merupakan proses
delignifikasi dengan tujuan untuk menghilangkan lignin dan
kandungan pengotor lain.
Kapas dan jerami ditimbang sesuai variabel berat yang ditentukan yaitu
sebesar 5 gram.

Disiapkan larutan NaOH 17,5 dan dipanaskan sampai suhu 80 oC dengan


menggunakan heater.

Jerami dan kapas dimasukkan ke dalam larutan NaOH dan dimasak


selama 15 menit.

Jerami dan kapas dicuci hingga bersih dan dikeringkan

 Prosedur Pembuatan Nitroselulosa

50 ml HNO3 65% dan 60 ml H2SO4 98% direaksikan di dalam reaktor


dengan menggunakan berbagai variabel suhu yaitu pada suhu 5 oC, 10oC,
15oC, 20oC dan 25oC yang dikontrol dengan menggunakan termocouple
di dalam lemari pendingin.

Ketika suhu reaksi yang diinginkan sudah tercapai, dimasukan variabel


kapas dan jerami ke dalam reaktor dengan variabel waktu 10, 20, 30, 40,
50 dan 60 menit

Kapas dan jerami dicuci dengan menggunakan aquadest dan dilanjutkan


dicuci dengan NaHCO3 untuk stabilisasi dan menyamakan distribusi
gugus nitro (NO2) dalam nitroselulosa yang sudah terbentuk

Nitroselulosa yang terbentuk dicuci kembali dengan menggunakan


aquadest hingga bersih dan dikeringkan dengan kondisi suhu kamar
selama ± 36 jam.

 Kondisi Operasi dan Variabel Penelitian


Variabel percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
- Bahan baku kapas dan jerami
- Suhu reaksi 5o C, 10o C, 15o C, 20o C dan 25o C
- Waktu reaksi 10, 20, 30, 40, 50, 60 menit.
 Analisa Yield Produk
Analisa yield produk dilakukan dengan melarutkan hasil produk
nitroselulosa dengan etil asetat sehingga diperoleh massa produk
nitroselulosa murni. Prosentase yield produk diperoleh dari
perbandingan massa produk nitroselulosa murni dengan massa
awal.
 Uji FTIR
Uji FTIR dilakukan untuk mengetahui gugus nitro yang telah
terbentuk. Langkah analisa yang dilakukan yaitu sampel di-scan
dengan menggunakan alat FTIR, sampel disinari dengan infra
merah dan gelombang yang diteruskan oleh sampel akan ditangkap
oleh detektor yang dihubungkan ke komputer. Komputer akan
memberikan gambaran spektrum sampel yang diuji, struktur kimia
akan membentuk ikatan molekul serta gugus fungsional nitro akan
dapat diketahui.

2. Potensi rimpang bangle hantu (Zingiber ottensii Val.) sebagai


antihiperglikemia pada model hewan diabetes yang diinduksi fruktosa
Disiapkan tanaman rimpang bangle hantu

Dideterminasi tanaman rimpang bangle hantu

Dikeringkan tanaman rimpang bangle hantu, dan dibuat serbuk hingga


diperoleh diameter 40 mesh

Diekstraski serbuk yang diperoleh dengan cara maserasi menggunakan


pelarut etanol 96% selama 3 hari

Dipekatkan filtrat hasil penyaringan dengan vacuum rotary evaporator


pada suhu tidak lebih dari 60°C hingga diperoleh ekstrak kental

Dikeringkan ekstrak kental dalam waterbath suhu 50°C

Dilakukan penapisan fitokimia

Diadaptasi tikus selama 7 hari, seluruh tikus hanya diberi pakan dan
minum standar

Dibagi tikus wistar menjadi 6 kelompok (terdiri dari 5 ekor) secara acak
yaitu kelompok normal, kelompok induksi, kelompok standard
(metformin), dan kelompok ekstrak (dosis 50, 100, dan 150 mg/kg bb)

Diinduksi semua kelompok kecuali kelompok normal dengan makanan


tinggi fruktosa dan propiltiourasil selama 22 hari

Diberikan obat uji selama 22 hari dengan pembawa CMC 0,5%.


Parameter yang diukur adalah kadar glukosa (menggunakan alat
Glukometer) dan trigliserida darah

Pengambilan sampel darah Dilakukan pengambilan sampel darah pada


hari ke-8, 15, dan 22 (Kenaikan kadar glukosa darah dan trigliserida
pada kelompok tikus yang diinduksi fruktosa dan propiltiourasil
menunjukan keadaan resistensi insulin)

Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan kebermaknaan


p<0.05

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

1. Pembuatan nitroselulosa dari kapas (Gossy pium sp.) dan jerami (Oryza
sativa) melalui reaksi nitrasi
 Pengaruh Waktu Reaksi terhadap Yield Nitroselulosa
Berikut ini adalah grafik hubungan antara waktu reaksi
terhadap yield nitro selulosa yang dihasilkan.

Gambar 1. Hasil Perhitungan Yield Nitroselulosa terhadap Waktu


(Suhu 15oC)

Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa pada variabel kapas


terlihat bahwa semakin lama reaksi nitrasi berlangsung, yield
produk nitroselulosa yang dihasilkan semakin besar. Persen yield
terus meningkat hingga variabel waktu 60 menit, hal ini
menunjukkan kemungkinan masih terjadi reaksi nitrasi setelah
waktu 60 menit.
Kecenderungan yang sama juga terlihat pada variabel
jerami, yield produk nitroselulosa bahan baku jerami terus
meningkat hingga waktu 60 menit. Nilai persen yield nitroselulosa
jerami lebih besar dari pada kapas, hal ini dapat disebabkan karena
selama proses reaksi nitrasi, bahan baku kapas cenderung
menggumpal sehingga pengadukan kurang maksimal.
Selulosa merupakan rantai polimer yang panjang, sehingga
semakin lama waktu reaksi nitrasi akan semakin banyak gugus
hidroksil (-OH) yang tersubstitusi oleh ion nitronium (-NO 2+).
Semakin banyaknya gugus hidroksil yang tersubstitusi, maka nilai
yield nitroselulosa akan semakin besar (Bayu, 2012).
 Pengaruh Waktu terhadap Kandungan Gugus Nitro
Keberhasilan penelitian mengenai pembuatan nitroselulosa
melalui reaksi nitrasi dapat ditunjukkan dengan banyaknya reaksi
substitusi gugus hidroksil (-OH) dengan ion nitronium (-NO 2+).
Salah satu cara untuk mengetahui kandungan gugus hidroksil dan
keberadaan ion nitronium adalah dengan uji Fourier Transform
Infrared (FTIR). Pada grafik hasil uji FTIR, sebagai absis adalah
bilangan panjang gelombang dalam cm-1 dan sebagai ordinatnya
adalah transmittan dalam persen (%). Gugus hidroksil memliki
panjang gelombang antara 3600-3200 cm-1, sedangkan keberadaan
gugus nitro dapat terlihat ada panjang gelombang 1390-1260 cm-1
(Nuraini, 2010).
Kandungan gugus nitro dapat diestimasi dari jumlah
substitusi gugus hidroksil (-OH) menjadi gugus nitro (-NO2)
sehingga Jika terjadi pergantian satu gugus, dua gugus, tiga gugus,
maka kandungan gugus nitro berturut-turut ± 7.3%, ± 12.73% dan
± 16.86% (Hartaya, 2010).
Besar kandungan gugus nitro ditunjukkan dengan tingkat
kecuraman puncak dari grafik hasil uji FTIR dalam persen
transmittan. Persen transmittan menunjukkan prosentase fraksi
daya cahaya yang diteruskan terhadap fraksi daya cahaya yang
masuk. Jadi semakin rendah prosentase transmittan, maka
kandungan gugus nitro semakin besar (Bayu, 2012).

Berikut ini merupakan contoh hasil analisa uji FTIR untuk


variabel kapas, suhu reaksi 5oC dan variabel waktu reaksi 10 dan
60 menit.
Gambar 2. Hasil Uji FTIR Kapas (Suhu 5oC,Waktu 10 menit)

Kandungan gugus nitro (-NO2) pada Gambar 2 dapat dilihat


pada puncak gelombang dengan tanda lingkaran. Hasil analisa
FTIR diatas ditampilkan dalam Tabel 1. Berdasarkan data Tabel 1,
variabel bahan baku kapas menunjukkan jumlah substitusi NO 2
semakin sedikit besar dengan bertambahnya variabel waktu reaksi
yang mengindikasikan bahwa kandungan gugus pertama NO2
bertambah besar. Kecenderungan yang sama didapatkan pada
variabel jerami dimana terjadi dua substitusi gugus nitro dengan
kandungan yang meningkat dengan bertambahnya waktu reaksi.
Kedua hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin lama
waktu reaksi, maka kualitas nitroselulosa meningkat, tetapi masih
belum didapatkan nitroselulosa dengan tiga substitusi gugus nitro.
Gugus hidroksil (-OH) yang ketiga memang sulit untuk disubstitusi
karena hibridisasi atom C dalam bangun ruang nitroselulosa adalah
sp3 dimana efek sterik akan mengganggu penyeangan gugus nitro
terhadap gugus hidroksil sehingga perlu energi cukup besar untuk
reaksi substitusi gugus ketiga (Nuraini, 2010).
Untuk mendapatkan tiga substitusi gugus nitro perlu
dilakukan multi-step reaksi nitrasi dengan penambahan reaktan
murni pada tiap langkahnya. (Alam, 2012).
 Pengaruh Suhu Reaksi terhadap Yield Nitroselulosa
Berikut ini merupakan hasil analisa nitroselulosa kapas dan jerami
dengan waktu reaksi 60 menit dan variabel suhu 10oC sampai
dengan 25oC.

Gambar 3. Hasil Perhitungan Yield Nitroselulosa Terhadap Suhu


(waktu 60 menit)
Berdasarkan Gambar 3, nilai yield nitroselulosa kapas dan
jerami turun seiring dengan bertambahnya suhu. Hal ini sesuai
dengan hukum kesetimbangan reaksi dimana reaksi eksoterm akan
menghasilkan produk yang optimal maka dikondisikan pada suhu
rendah.
Nilai prosentase yield jerami pada Gambar 4 lebih besar
daripada kapas. Hal ini dikarenakan saat reaksi nitrasi berlangsung,
potongan jerami tersebar merata dan teraduk sempurna sedangkan
kapas cenderung menggumpal.

 Pengaruh Suhu terhadap Kandungan Gugus Nitro


Berikut ini merupakan hasil analisa uji FTIR untuk variabel
kapas dan jerami dengan waktu reaksi 60 menit dan suhu 5 oC dan
25oC. Berdasarkan hasil analisa di atas, pada suhu 5oC,
nitroselulosa dengan bahan baku kapas dan jerami memiliki
kualitas lebih baik jika dibandingkan dengan variabel suhu reaksi
25oC. Selulosa dapat mengalami degradasi apabila direaksikan
pada suhu cukup tinggi dan berada dalam larutan asam yang cukup
lama (Fengel dan Wrangler, 1995).

Hasil uji analisa FTIR menunjukkan bahwa masih


terdapatnya gugus hidroksil (-OH) pada panjang gelombang 3600-
3200 cm-1. Hal ini sesuai dengan hasil analisa yang menunjukkan
sebagian besar hanya menghasilkan dua gugus nitro, sedangkan
kualitas nitroselulosa yang baik mengandung tiga gugus nitro.
(Nuraini, 2010).

 Perbandingan Bahan Baku Kapas dan Jerami


Tujuan akhir dari penelitian ini adalah untuk membuat
nitroselulosa dari bahan baku kapas dan jerami dan
membandingkan kualitas hasil nitroselulosa dari kedua bahan baku
tersebut baik dari segi yield maupun kandungan gugus nitro.
Kandungan selulosa pada kapas jauh lebih besar daripada jerami
seperti yang telah disebutkan di atas. Dari segi harga bahan baku,
harga kapas terlampau mahal sedangkan jerami relatif murah
karena jerami yang dipakai adalah batang jerami yang sudah
dipanen. Pokok permasalah bahan baku adalah kandungan lignin
dan hemiselulosa yang banyak pada jerami. Lignin dan
hemiselulosa menghambat reaksi nitrasi karena lebih mudah
didegradasi oleh ion nitronium daripada reaksi substitusi gugus
hidroksil sehingga hasil nitroselulosa kurang optimal.
Proses penghilangan kandungan lignin dan hemiselulosa
dilakukan dengan memasak bahan baku jerami dengan larutan
NaOH 17.5% selama 15 menit dengan suhu pemasakan ± 80 oC.
Proses pemasakan ini akan melarutkan kandungan lignin dan
hemiselulosa sehingga didapatkan kapas dan jerami yang memiliki
kandungan selulosa tinggi. Pemasakan bahan baku mengakibatkan
berkurangnya massa dari bahan baku terutama jerami. Berdasarkan
hasil penelitian di atas dimana yield dan keberadaan gugus nitro,
kualitas nitroselulosa antara kapas dan jerami tidak jauh berbeda
dan dapat menghasilkan yield yang tinggi.
Bentuk tampilan fisik nitroselulosa kapas berwarna putih
dan sedikit menggumpal, sedangkan nitroselulosa jerami berwana
kekuningan. Warna kuning dari nitroselulosa jerami diakibatkan
karena masih adanya kandungan lignin yang belum termasak
secara sempurna pada proses pemasakan bahan baku awal.
Berikut ini merupakan tabel perbandingan hasil
nitroselulosa dari bahan baku kapas dan jerami.

Berdasarkan data perbandingan kualitas nitroselulosa di atas


yang didasarkan pada banyaknya substitusi gugus nitro, kualitas
nitroselulosa jerami tidak jauh berbeda dengan nitroselulosa jerami.
Sedangkan untuk nilai persen yield, nitroselulosa jerami memiliki
nilai yield lebih tinggi.Yield produk nitroselulosa kapas lebih tinggi
daripada jerami, hal ini disebabkan karena bahan baku jerami
banyak mengandung pengotor seperti lignin dan hemiselulosa
dengan kandungan selulosa 38% sedangkan kapas mencapai 96%.
Proses pengembangan selanjutnya adalah membuat nitroselulosa
dalam bentuk gel sehingga dapat dipakai untuk bahan bakar
alternatif. Nitroselulosa dari jerami lebih berpotensi untuk
dikembangkan karena memiliki kualitas hampir sama dengan
nitroselulosa kapas dengan harga murah dan ketersediaan bahan
baku yang melimpah di Indonesia.

2. Potensi rimpang bangle hantu (Zingiber ottensii Val.) sebagai


antihiperglikemia pada model hewan diabetes yang diinduksi fruktosa
Hasil karakterisasi ekstrak Rimpang bangle hantu dapat dilihat
pada Tabel 1 Ekstrak yang diperoleh memenuhi standar yang ditetapkan
menurut MMI, kecuali kadar abu tidak larut asam dan kadar abu larut
asam.
Tabel 1. Karakterisasi ekstrak rimpang bangle hantu

Penapisan Fitokimia

Tahapan selanjutnya dari penelitian ini adalah penapisan fitokimia


terhadap rimpang bangle hantu (Zingiber ottensii Val.), diperoleh beberapa
golongan senyawa kimia yang hasilnya dapat dilihat dibawah ini:

Tabel 2. Skrining fitokimia ekstrak rimpang bangle hantu

Keterangan : ( + ) : Terdapat senyawa ( - ) : Tidak terdapat senyawa

Ekstrak rimpang bangle hantu mengandung flavonoid, saponin,


triterpenoid dan fenol, hasil ini berbeda dengan penelitian Sinaga (2013),
yang mengatakan bahwa rimpang bangle hantu mengandung flavonoid,
steroid, dan tannin. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa
faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan. Karena tempat penanaman
dan lingkungan sangat berpengaruh terhadap kandungan senyawa yang
terkandung dalam tanaman.
Pada penelitian ini diamati kemampuan ekstrak etanol rimpang
bangle hantu (Zingiber ottensii Val.) dalam menurunkan kadar glukosa
darah dengan menggunakan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Pengujian
ekstrak etanol rimpang bangle hantu (Zingiber ottensii Val.) dilakukan
selama 22 hari. Selama masa penginduksian oleh fruktosa peneliti
menambahkan propiltiourasil sebagai induksi, tujuannya adalah
mempercepat keadaan hiperglikemia. Propiltiourasil (PTU) adalah obat
hipertiroid, mekanisme kerja obat ini untuk mempercepat keadaan
hiperglikemik adalah dengan cara merusak hati.

Pengukuran kadar glukosa darah hasil pengukuran kadar glukosa


darah pra induksi dan paska induksi dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 3. Hasil rata-rata kadar glukosa darah pra induksi dan paska
induksi untuk semua kelompok perlakuan

Keterangan : K1 (ekstrak dosis 50 mg/kg bb), K2 (ekstrak dosis 100 mg/kg


bb), K3 (ekstrak dosis 150 mg/kg bb), K4 (metformin), K5 (induksi), K6
(normal).

Terdapat perbedaan kadar glukosa darah pra induksi dan pasca


induksi pada kelompok 5 (kelompok kontrol negatif), sebelum diinduksi
rata-rata kadar glukosa darah pada kelompok ini yaitu sebesar 113 mg/dL,
akan tetapi setelah diinduksi terjadi peningkatan kadar glukosa darah yang
sangat tinggi yaitu sebesar 141 mg/dl. Perbedaan ini memperlihatkan
adanya pengaruh dari pemberian fruktosa dan PTU terhadap kelompok
perlakuan.

Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan sebanyak 5 kali, yaitu 1


kali pengukuran ketika pra induksi, dan 4 kali pengukuran pasca induksi
yaitu yang dilakukan pada menit ke-15, 30, 45 dan 60. Pengukuran kadar
glukosa darah pra induksi, dilakukan sebagai kontrol acuan kadar glukosa
darah untuk masing-masing tikus tiap kelompok perlakuan. Pengukuran
kadar glukosa darah yang ke-2 dilakukan pada menit ke-15 yaitu setelah
induksi glukosa, terjadi kenaikan kadar glukosa darah pada semua
kelompok perlakuan terutama pada kelompok 5 (kelompok kontrol negatif)
memperlihatkan keadaan hiperglikemia yang terlihat dari data. Hal ini
menunjukan bahwa induksi dengan fruktosa dan PTU dapat meningkatkan
kadar glukosa darah. Selanjutnya pengukuran kadar glukosa darah yang ke-
3 , 4 dan yang ke-5 dilakukan pada menit ke-30, 45, dan 60, terjadi
penurunan kadar glukosa darah pada kelompok ekstrak dan pembanding, hal
ini disebabkan karena pemberian ekstrak dan metformin mulai memberikan
efek pada menit ke 30.

Hasil peningkatan kadar glukosa darah pada tikus dapat dijelaskan


berdasarkan teori yang menyatakan bahwa fruktosa menginduksi resistensi
insulin melalui dua mekanisme yaitu melalui pembentukan asam urat dan de
novo lipogenesis (DNL) (Sijani, 2011). Fruktosa mengalami fosforilasi oleh
enzim ketoheksokinase (KHK) yang menghabiskan ATP sehingga dibentuk
asam urat menimbulkan efek sistemik dengan menurunkan nitri oksida (NO)
sehingga terjadi vasokonstriksi dan penurunan serapan glukosa oleh otot
skeletal. Selain efek sistemik, asam urat juga menimbulkan efek seluler
terhadap sel adiposit melalui peningkatan stres oksidatif dan penurunan
adinopektin sehingga terjadi penurunan oksidasi lipid hepatik. Akibat efek
sistemik dan efek seluler asam urat tersebut memicu timbulnya resistensi
insulin (Sijani, 2011). Fruktosa juga menginduksi de novo lipogenesis
(DNL) dengan menyediakan atom karbon (gliserol-3 fosfat dan asilKoA)
yang diubah menjadi monoasilgliserol dan diasilgliserol (DAG).
Selanjutnya DAG diubah menjadi trigliserida dan VLDL yang
mengakibatkan resistensi insulin (Sijani, 2011).

Kadar glukosa darah pra induksi dan paska induksi Rerata kadar
glukosa pada keenam kelompok sebelum induksi dapat dilihat pada Tabel 3.
Berdasarkan uji analisis statistik ANOVA diperoleh keenam kelompok
perlakuan pada waktu pra induksi tidak memberikan perbedaan satu sama
lainnya (p=0,226). Rerata kadar glukosa pada keenam kelompok setelah
induksi, berdasarkan analisis statistik ANOVA diperoleh keenam kelompok
perlakuan memberikan perbedaan satu sama lainnya (p=0,005). Hasil
analisis statistik uji jarak berganda Duncan, menunjukan terdapat perbedaan
yang signifikan antara kadar glukosa darah pada semua kelompok yang
diuji. Dari analisis ini juga memperlihatkan dosis yang paling baik yaitu
dosis 100 mg/kg bb karena nilai tersebut mendekati kelompok pembanding
(metformin). Pada data terlihat bahwa telah terjadi penurunan kadar glukosa
darah pada kelompok ekstrak, kelompok pembanding dan kelompok normal
setalah diinduksi glukosa. Hal ini telah membuktikan bahwa ekstrak uji
memiliki potensi menurunkan kadar glukosa darah.

Sensitivitas insulin Tahapan selanjutnya yaitu dengan melihat


sensitivitas insulin hewan uji terhadap glukosa. Sensitivitas insulin hewan
uji dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 menunjukkan adanya kenaikan dan penurunan kadar
glukosa darah pada semua kelompok perlakuan. Pada kelompok ekstrak dan
pembanding (metformin) terjadi kenaikan kadar glukosa darah pada menit
ke-15 setelah penginduksian, dan terjadi penurunan kadar glukosa darah
pada menit ke-30. Hal ini menunjukan bahwa ekstrak etanol bangle hantu
dapat meningkatkan sensitivitas insulin, sama hal nya dengan metformin
yang dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Sedangkan pada kelompok
induksi terjadi kenaikan kadar glukosa darah yang tinggi, hal ini
menunjukan bahwa peranan insulin pada hewan uji menurun karena
pengaruh dari fruktosa dan PTU. Untuk melihat dosis mana yang paling
efektif maka dibuat nilai kelandaian. Nilai kelandaian yang diperoleh adalah
sebagai berikut : Kelompok dosis 50 mg/kg bb (2,8x + 122,9), Kelompok
dosis 100 mg/kg bb (1,575x + 108,8), Kelompok dosis 150 mg/kg bb: 0,6x
+ 114,6), Kelompok pembanding (123.2), Kelompok induksi (2,5x + 145,9),
Kelompok normal (2x + 113). Terlihat bahwa dosis yang paling baik adalah
pada dosis 50 mg/kg bb, karena memiliki nilai kelandaian yang lebih besar
dibandingkan dengan dosis yang lain.

Gambar 2 menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah pada


pemberian ekstrak dan pembanding, penurunan terjadi pada menit ke-30
setelah diinduksi oleh glukosa. Nilai kelandaian yang diperoleh adalah
sebagai berikut: Kelompok dosis 50 mg/kg bb (1,9x + 117,15), Kelompok
dosis 100 mg/kg bb (0,71x + 118,9), Kelompok dosis 150 mg/kg bb (2,6x +
112,7), Kelompok pembanding (0,7x + 109,9), Kelompok induksi (3,7x +
124,9), Kelompok normal (0,1x + 120,9). Terlihat bahwa dosis yang paling
baik adalah pada dosis 100 mg/kg bb, karena memiliki nilai kelandaian yang
lebih besar dibandingkan dengan dosis yang lain.

Gambar 3 menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah pada


pemberian ekstrak dan pembanding. Nilai kelandaian yang diperoleh adalah
sebagai berikut: Kelompok dosis 50 mg/kg bb (1,425x + 117,13), Kelompok
dosis 100 mg/kg bb (0,5x + 113,6), Kelompok dosis 150 mg/kg bb (3,45x +
107,85), Kelompok pembanding (0,95x + 111,05), Kelompok induksi
(5,125 + 124,48), Kelompok normal (3,225x + 110,23). Terlihat bahwa
dosis yang paling baik adalah pada dosis 100 mg/kg bb, karena memiliki
nilai kelandaian yang lebih besar dibandingkan dengan dosis yang lain.

Berdasarkan grafik rata-rata kadar glukosa darah tikus, dapat dilihat


perbedaan penurunan kadar glukosa darah terjadi pada tikus setelah 15
menit pemberian larutan glukosa, baik pada hari ke-8, 15, ataupun hari ke-
22. Kelompok kontrol negatif yang diberi suspensi CMC 0,5% b/v,
menunjukkan kadar glukosa darah terus naik, sedangkan untuk kelompok
perlakuan yang diberi ekstrak dan kelompok kontrol positif yang diberi
suspense metformin menunjukkan adanya penurunan kadar glukosa darah.
Hal ini menunjukkan bahwa pemberian suspensi CMC 0,5% b/v tidak
menunjukan pengaruh pada kadar glukosa darah tikus, sedangkan
pemberian ekstrak dan suspensi metformin sudah mulai menunjukkan
pengaruhnya pada penurunan kadar glukosa darah tikus.

Berdasarkan gambar rata-rata kadar glukosa darah tikus, dapat


dilihat bahwa grafik untuk kelompok perlakuan (ekstrak etanol rimpang
bangle hantu dosis 100 mg/kg bb) dan grafik untuk kontrol positif
(metformin) memiliki alur yang hampir sama, sehingga diduga bahwa
ekstrak dosis 100 mg/kg bb mempunyai efek yang hampir sama dengan
metformin.

Kadar trigliserida Pengukuran kadar triglisrida dilakukan pada hari


ke- 22. Data rerata kadar trigliserida serum darah tikus putih dapat
ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Kadar rerata kadar trigliserida untuk semua kelompok perlakuan

*Perbedaan bermakna ekstrak 1, 2, dan 3 terhadap kelompok induksi


(p<0,.05) αPerbedaan bermakna kelompok normal, pembanding terhadap
induksi (p<0,05)

Keterangan : K1 (ekstrak dosis 50 mg/kg bb), K2 (ekstrak dosis 100 mg/kg


bb), K3 (ekstrak dosis 150 mg/kg bb), K4 (metformin), K5 (induksi), K6
(normal).
Rerata kadar trigliserida pada seluruh kelompok dapat dilihat pada
Tabel 4. Hasil analisis statistik menunjukan keenam kelompok perlakuan
memberikan perbedaan satu sama lainnya (p=0,026). Hasil analisis statistik
Duncan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar
trigliserida pada semua kelompok yang diuji.

Ekstrak uji dosis 50, 100, dan 150 mg/kb bb dan metformin dapat
menurunkan kadar trigliserida yang berbeda bermakna dibandingkan
kelompok induksi. Efek ekstrak etanol rimpang bangle hantu yang
menurunkan kadar trigliserida pada tikus putih yang diinduksi fruktosa dan
PTU ini sesuai dengan hipotesis penelitian.
V. PENUTUP

Kesimpulan

1. Proses pembuatan nitroselulosa dari bahan baku kapas dan jerami


menghasilkan nitroselulosa dengan prosentase yield bahan baku selulosa
jerami lebih besar dibandingkan dengan selulosa kapas. Persen yield
nitroselulosa jerami mencapai 86% sedangkan untuk bahan baku kapas
68% pada kondisi suhu 5oC dengan waktu reaksi 60 menit.
2. Pengaruh waktu reaksi nitrasi terhadap produk nitroselulosa didapatkan
semakin bertambah waktu reaksi maka menghasilkan yield dan kandungan
gugus nitro semakin besar. Sedangkan untuk pengaruh suhu reaksi
didapatkan semakin rendah suhu reaksi maka persen yield dan kandungan
gugus nitro yang diperoleh semakin besar.
3. Perbedaan kualitas nitroselulosa dari bahan baku kapas dan jerami
ditunjukkan dengan substitusi gugus nitro dari produk nitroselulosa, maka
dapat diketahui bahwa nitroselulosa dari kedua bahan baku memiliki
kualias yang hampir sama dengan dua substitusi gugus nitro.
4. Ekstrak bangle hantu (Zingiber ottensii Val.) memiliki aktivitas
antihiperglikemia dan antihipertrigliserida, serta menurunkan resistensi
insulin pada model hewan diabetes yang diinduksi fruktosa. Dosis terbaik
adalah 100 mg/kg bb.
DAFTAR PUSTAKA

Alam, F.A., Dkk. 2012. Synthesis and Characterization of Cellulose Nitrate from

Environmental Pollutant Textle Wastes, Canadian Journal on Scientific

and Industrial Research 3 (3): 92-97.

Awad, Nadyah., Yuanita, Langi., Karel, Pandelaki. 2013. Gambaran Faktor

Resiko Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Poliklinik Endokrin

Bagian/SMF FK-UNSRAT RSU Prof. Dr. R.D Kandou Manado Periode

Mei 2011-Oktober 2011. Jurnal e-Biomedik (eBM) 1(1): 45-49.

Universitas Sam Ratulangi Manado.

Bayu, Ilman, F. 2012. Pembuatan Nitroselulosa dari Kapas dan Kapuk melalui

reaksi nitrasi, Jurusan Teknik Kimia ITS, 23-25.


Departemen kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakti Diabetes

Mellitus. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dr. Utami, Prapti. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Redaksi Agromedia. PT.

Agromedia Pustaka.

Erlangga, Bayu P., Ilman Tafdhila, Mahfud dan Rr. Pantjawarni Prihartini. 2012.

Pembuatan Nitroselulosa dari Kapas (Gossypium Sp.) dan Kapuk (Ceiba

Pentandra) Melalui Reaksi Nitrasi. Jurnal teknik ITS Vol. 1, No. 1 (Sept

2012) ISSN : 2301-9271. Teknik Kimia, Teknologi Industri, Institut

Teknologi Sepuuh Nopember (ITS) :Surabaya.

Hartaya, Kendra. 2010. Analisis Kurva FTIR untuk Nitroselulosa, Nitrogliserin

dan Propelan Double Base Sebagai dasar Penentuan Kadar Nitrogen dalam

Nitroselulosa buatan LAPAN, Pusat Teknologi Dirgantara Terapan

LAPAN, 1-7.

Kurnia, Wining. 2009. Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antidiabetik

Kombinasi Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di RSU

Pandan Arang Boyolali Tahun 2008. Skripsi. Surakarta: Universitas

Muhammadiyah.

Noverita., Fitria., Sinaga E., 2009. Isolasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Jamur

Endofit Dari Daun dan Rimpang Zingiber ottensii Val. Jurnal Farmasi

Indonesia 4 (4): 171-176. Fakultas Biologi Universitas Nasional.


Putri,Nuraini, Padil, Yelmida. 2010. Proses Pembuatan Nitroselulosa dari Limbah

Pelepah Sawit Dengan Variasi Waktu dan Temperatur Nitrasi, Jurusan

Teknik Kimia Universitas Riau, 1-10.

Ratimanjari, A, D. 2011. Pengaruh Pemberian Infusa Herba Sambiloto

(Andrographis paniculata nees) Terhadap Glibenklamid dalam

Menurunkan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Yang Dibuat

Diabetes. Skripsi. FMIPA Universitas Indonesia.

Rizka V. 2014. Aktivitas penghambatan alfaglukosidase dari Delapan Tanaman

Genus Zingiber Suku Zingiberaceae. Skripsi. Sekolah Tinggi Farmasi

Bandung.

Ronggur, Jabosar dan Sunarno, Padil. 2012. Kinetika Reaksi Proses Nitrasi

Limbah Pelepah Sawit. Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,

Universitas Riau : Pekanbaru.

Sari, Heni, M. 2010. Uji Efek Hipoglikemik Ekstrak Etanol Gambir (Uncaria

Gambir, Roxb.) Pada Tikus Putih Jantan Dengan Metode Induksi Aloksan

dan Toleransi Glukosa. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah: Jakarta.

Sijani, Prahastuti. 2011. Konsumsi Fruktosa Berlebihan dapat Berdampak Buruk

bagi Kesehatan Manusia. JKM 10 (2): 173-189. Universitas Kristen

Maranatha.

Sinaga E, Suprihatin, Wiryanti I. 2011. Perbandingan Daya Sitotoksik Ekstrak

Rimpang 3 Jenis Tumbuhan Zingiberaceae Terhadap Sel Kanker MCF-7.


Jurnal Farmasi Indonesia 5 (3): 125 -133. Pusat Penelitian dan

Pengembangan Tumbuhan Obat Fakultas Biologi Universitas Nasional

Trisnawati, Shara, Kurnia., Soedijono, Setyorogo1. 2013. Faktor Risiko Kejadian

Diabetes Melitus Tipe II Di Puskesmas Kecamatan Cengkareng Jakarta

Barat Tahun 2012. Jurnal Ilmiah Kesehatan 5 (1). STIKes MH. Thamrin

Jakarta Timur.

Wulansyari, Laily, Arini. 2014. Pangaruh Pemberian Ekstrak Etanolik Daun

Sambung Nyawa (Gynura Procumbens (Lour.) Merr.) Terhadap Kadar

Trigliserida Serum Pada Tikus Jantan Galur Wistar Resisten Insulin

dengan Induksi Fruktosa dan Diet Lemak Tinggi. Skripsi. Yogyakarta :

Universitas Gajah Mada.

Yuda, I Ketut., Made, Suma, A., Anak, Agung, Gede, D. (2013): Identifikasi

Golongan Senyawa Kimia Estrak Etanol Buah Pare (Momordica

charantia) dan Pengaruhnya Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah

Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus) yang Diinduksi Aloksan,

Buletin Veteriner Udayana,Vol. 5 No. 2 ISSN : 2085-2495, Fakultas

Kedokteran Hewan, Universitas Udayana-Bali.

Yuriska, A. (2009): Efek Aloksan Terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar.

KTI. Semarang: Universitas Diponegoro.