Anda di halaman 1dari 21

LAYANAN KONSELING

TENAGA KESEHATAN
Era Pandemi COVID-19:
Peluang dan Tantangan

Nalini Muhdi
(Dan Tim: Brihastami S, Menina V, Zain Budi S, Damba Bestari)

SMF/DEPT. ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSUD Dr SOETOMO – FK UNAIR
22/04/2020 - NALINI MUHDI - 1
• Wabah virus Corona 2019 (COVID-19) dapat memicu stres bagi banyak
orang. Dokter dan tenaga kesehatan lain yang membantu penanganan
COVID-19 termasuk kelompok dengan risiko yang lebih tinggi terhadap
stres akibat krisis ini.

• Studi mengenai dampak COVID-19 pada tenaga kesehatan menunjukkan


tingkat distres yang tinggi (72%), dengan tingkat yang sangat tinggi pada
depresi (50%), ansietas (45%) dan insomnia (34%), dimana gejala lebih
berat timbul pada mereka dengan kontak yang lebih lama dengan pasien.
Temuan ini menyoroti pentingnya untuk lebih peka dalam menangani
distres yang dialami oleh tenaga kesehatan.

• Manajemen stres yang baik sangat diperlukan bagi tenaga kesehatan agar
tetap dapat berpikir jernih dan merasa sejahtera, sehingga mampu
menolong orang lain pada situasi krisis.

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 2


Berikut beberapa langkah penting sebelum dan selama bertugas:

Persiapan :
• Belajar sebanyak mungkin mengenai peran Anda dalam tim.
• Jika Anda akan pergi dengan jam kerja yang panjang selama krisis, jelaskan
hal ini pada keluarga yang akan menghubungi Anda. Temukan cara untuk
berkomunikasi dengan mereka. Berikan harapan yang realistis pada mereka
sehingga mengurangi tekanan pada diri Anda sendiri.
• Bicarakan dengan atasan dan rencanakan siapa yang akan menggantikan
sementara pekerjaan yang Anda tinggalkan selama bencana.
• Buat perencanaan untuk kebutuhan rumah tangga, perawatan anak,
bahkan hewan peliharaan saat Anda tidak di rumah.

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 3


Pahami dan identifikasi Compassion Fatigue

(Burn Out dan Stres Traumatik Sekunder (STS))


• Tenaga kesehatan rentan terhadap stres selama krisis, yang ketika
menumpuk dapat menyebabkan:
• Burnout - merasa kewalahan dan lelah yang amat sangat.
• Stres traumatik sekunder - reaksi dan gejala stres akibat paparan
pengalaman traumatis individu lain.
• Kenali keduanya untuk memastikan apakah tenaga kesehatan butuh
istirahat atau mendapatkan yang dibutuhkan.

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 4


22/04/2020 - NALINI MUHDI - 5
TRAUMA
“Compassion fatigue is not just about stress and burnout;
it is about trauma”

• Trauma primer adalah ketika individu terpapar langsung pada suatu peristiwa,
contohnya para pemadam kebakaran pada peristiwa 9/11 atau tentara yang
bertugas di medan perang.

• Trauma sekunder, kadang disebut vicarious trauma, adalah trauma yang terjadi
tanpa paparan langsung. Terjadi saat kita mendengar atau menyaksikan berita
tentang peristiwa traumatis yang terjadi pada orang lain.
• Dokter yang bekerja di IRD atau para petugas kemanusiaan di pusat perlindungan
anak adalah contoh pekerjaan di mana trauma sekunder biasa terjadi.

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 6


Tanda-tanda BURN OUT:
• Sedih, depresi, atau apatis
• Mudah frustrasi
• Menyalahkan orang lain, mudah marah
• Kurangnya perasaan, acuh tak acuh
• Isolasi atau diskoneksi dengan orang lain
• Perawatan diri yang buruk (higienitas)
• Letih, lelah, atau kewalahan
• Merasa: gagal, tidak dapat membantu, tidak melakukan pekerjaan
dengan baik, merokok, alkohol/obat-obatan lain untuk mengatasinya

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 7


Tanda STRES TRAUMATIK SEKUNDER :

• Khawatir berlebihan dan takut sesuatu yang buruk terjadi


• Mudah terkejut, atau "waspada" sepanjang waktu
• Tanda-tanda stres fisik (misalnya: jantung berdebar,keringat dingin)
• Mimpi buruk atau pikiran berulang tentang kejadian traumatis
• Perasaan bahwa trauma orang lain adalah trauma dirinya

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 8


22/04/2020 - NALINI MUHDI - 9
Compassion Fatigue
Prevalensi
15.2% pekerja sosial
16.3% staff onkologi/paliatif
19.2% pekerja di bidang kesehatan mental di bidang militer dan veteran
20.8% pekerja di pusat pengaduan kekerasan
32.8% perawat IGD
34% pekerja di pusat perlindungan anak
Berdasarkan statistik tersebut, prevalensi Compassion Fatigue pada
tenaga kesehatan bahkan lebih tinggi dibanding para pekerja sosial di
militer dan veteran
22/04/2020 - NALINI MUHDI - 10
Compassion Fatigue

Faktor Risiko:
• Childhood trauma
• Countertransference
• Usia muda
• Jam terbang yang kurang

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 11


Populasi yang berisiko mengalami CF:

Directly exposed

Pre-existing Limited support


psychiatric illness systems + resources

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 12


TEKNIK MERAWAT DIRI (bagi nakes)
• Batasi jam kerja tidak lebih dari shift 12 jam. (ideal: 8 jam)
• Bekerja dalam tim dan batasi jumlah waktu bekerja sendirian.
• Tulis buku harian/catatan.
• Bicarakan dengan keluarga, teman, atasan, dan rekan tim tentang
pengalaman dan perasaan Anda.
• Lakukan teknik pernapasan dan relaksasi.
• Pertahankan pola makan sehat, tidur cukup dan olahraga.
• Ketahui bahwa diperbolehkan untuk berkata "tidak" dan memberi batasan
• Hindari atau batasi konsumsi kafein dan alkohol.

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 13


Penting untuk mengingatkan diri sendiri:

• Beristirahat bukan berarti egois


• Kebutuhan dan kesejahteraan Anda sama pentingnya dengan
kebutuhan pasien.
• Memberikan kontribusi terbaik tidak berarti bekerja sepanjang waktu.
• Ada orang lain selain Anda yang dapat membantu dalam menolong
pasien.

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 14


Dapatkan dukungan dari anggota tim :
Kembangkan Buddy System
• Tidak ada Superman, yang ada: Superteam
• Sebetulnya sistem ini cukup sering diterapkan di militer, perusahaan,
pramuka, dll
• Dalam sistem ini, dua tenaga kesehatan bekerja sama untuk saling
mendukung, serta memantau stres, beban kerja, dan keselamatan satu
sama lain.
• Saling mengenal satu sama lain, bicarakan latar belakang, minat, hobi, dan
keluarga. Identifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing.
• Saling mengawasi satu sama lain. Jika memungkinkan, bekerjalah di lokasi
yang sama.

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 15


• Jadwalkan waktu untuk saling memeriksa satu sama lain. Saling
mendengarkan dengan baik, berbagi pengalaman dan perasaan.
Mengakui situasi sulit dan menghargai pencapaian, sekecil apa pun.
• Tawarkan bantuan kebutuhan dasar, seperti berbagi transportasi dan
persediaan.
• Pantau beban kerja satu sama lain, saling mengingatkan untuk
istirahat dan berbagi peluang untuk meredakan stres (tidur rutin,
olahraga, dan pernapasan relaksasi).
• Komunikasikan kebutuhan dan batasan Rekan Anda terhadap
leadership - buat ia merasa "aman" untuk berbicara

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 16


Hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam Buddy
System (Sistem Rekan Kerja)
Boleh dilakukan Tidak boleh dilakukan

- Menjadi pendengar yang baik untuk rekan - Mendiagnosis atau menawarkan terapi untuk
Anda rekan Anda
- Secara aktif berkomunikasi dengan rekan Anda - Mengambil peran sebagai terapis
untuk memahami persepsinya - Menghakimi seseorang atau keputusan
- Mengulurkan tangan pada rekan yang mungkin seseorang
sedang berjuang - Menuntut atau mendesak rekan Anda
- Menawarkan bantuan untuk kebutuhan harian mendiskusikan suatu masalah
atau layanan kesehatan mental
- Mencari bantuan jika merasa rekan Anda
membahayakn diri atau orang lain

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 17


KESIMPULAN

• Menangani COVID-19 bisa berdampak negatif. Beberapa hal yang


dapat dilakukan untuk mengurangi reaksi stres traumatis sekunder
(STS):
• Mengakui bahwa STS dapat terjadi pada siapa pun yang membantu
mereka yang terdampak peristiwa traumatis.
• Pelajari gejalanya termasuk fisik (kelelahan, penyakit, perubahan pola
tidur atau makan) dan mental (ketakutan, penarikan diri, rasa
bersalah, sulit konsentrasi, peningkatan kebutuhan merokok,
alcohol/obat-obatan lain).
• Berikan waktu bagi kita dan keluarga untuk pulih dari menangani
COVID-19.
22/04/2020 - NALINI MUHDI - 18
..........
• Buat jadwal kegiatan perawatan diri (self-care) yang disukai: seperti
menghabiskan waktu bersama keluarga/teman dekat, berolahraga, atau
membaca buku.
• Beristirahat dari melihat liputan COVID-19 di media.
• Terhubung dengan orang lain. Bicaralah dengan orang yang dipercaya
tentang kekhawatiran dan bagaimana perasaan kita → itu bukan
mengeluh dalam arti negatif !!
• Minta bantuan jika merasa kewalahan atau khawatir bahwa COVID-19
memengaruhi kemampuan untuk merawat keluarga dan pasien
sebagaimana sebelum wabah.

22/04/2020 - NALINI MUHDI - 19


22/04/2020 - NALINI MUHDI - 20
22/04/2020 - NALINI MUHDI - 21