Anda di halaman 1dari 78

Universitas Sumatera Utara

Repositori Institusi USU http://repositori.usu.ac.id


Departemen Kesehatan Anak Tesis Magister

2015

Hubungan Antara Penyakit Jantung


Bawaan dengan Kecukupan Asupan
Energi dan Protein

Mardiati
Universitas Sumatera Utara

http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/19632
Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara
HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN
DENGAN KECUKUPAN ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN

TESIS

MARDIATI

117103012

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK - SPESIALIS ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2015

Universitas Sumatera Utara


HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN
DENGAN KECUKUPAN ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinik (Anak) dalam Program


Magister Kedokteran Klinik Konsentrasi Kesehatan Anak-Spesialis pada
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

MARDIATI

117103012

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK-SPESIALIS ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2015

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur kehadirat Tuhan YMK yang telah melimpahkan rahmat dan

hidayah-Nya serta telah memberikan kesempatan kepada penulis sehingga

dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Tesis ini dibuat untuk memenuhi persyaratan dan merupakan tugas

akhir pendidikan magister Kedokteran Klinik Konsentrasi Ilmu Kesehatan

Anak di FK-USU / RSUP H. Adam Malik Medan.

Penulis menyadari penelitian dan penulisan tesis ini masih jauh dari

kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan, oleh sebab itu dengan segala

kerendahan hati penulis mengharapkan masukan yang berharga dari semua

pihak di masa yang akan datang.

Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyatakan

penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Pembimbing utama dr. Hj. Tiangsa Sembiring, M.Ked(Ped), SpA(K)

dan dr. H. Muhammad Ali, SpA(K) yang telah memberikan bimbingan,

bantuan serta saran-saran yang sangat berharga dalam pelaksanaan

penelitian dan penyelesaian tesis ini.

2. Prof. dr. H. Munar Lubis, SpA(K), selaku Kepala bagian Departemen

Ilmu Kesehatan Anak FK-USU dan dr. Hj. Melda Deliana, M.Ked(Ped),

SpA(K), sebagai ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis

Anak FK-USU serta dr.Beby Syofiani Hasibuan, M.Ked(Ped), SpA

Universitas Sumatera Utara


selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Anak

FK-USU yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan tesis ini.

3. Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Subhilhar, PhD dan

Prof. dr. H. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, SpA(K) selaku Ketua

Program Magister Kedokteran Klinik FK-USU dan Dekan FK-USU

yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti program

pendidikan Dokter Spesialis Anak di FK-USU

4. Dr.Tina Christina L Tobing, M.Ked(Ped) SpA(K), dr. H. Emil Azlin,

M.Ked(Ped), SpA(K), Prof. DR. dr. Harun Al Rasyid R.D, SpPD,

SpGK(K), dr. Pertin Sianturi, M.Ked(Ped) SpA(K), dr. Trifaranita,

M.Ked(Ped), SpA, dan dr. Winra Pratita, M.Ked(Ped) SpA, yang sudah

membimbing saya dalam penyelesaian tesis ini.

5. Seluruh staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU /

RSUP H. Adam Malik Medan yang telah memberikan sumbangan

pikiran dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis ini.

6. Teman-teman yang tidak mungkin bisa saya lupakan yang telah

membantu saya dalam keseluruhan penelitian maupun penyelesaian

tesis ini, Syilvia Jiero, Looni Basra, Roslina Dewi, Sindy Atmadja,

Johan Christian Silaen, Tapi Endang Lubis, Hasmidar Indryani, Irike

Ayumi, Nora Hajarsyah, Silvi Febriza, M. Anggara Putra, Dian

ismawardani, Nova Juliana Sagala, dan Siska Natalia Situmeang.

Universitas Sumatera Utara


Terima kasih untuk kebersamaan kita dalam menjalani pendidikan

selama ini.

7. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang

telah memberikan bantuan dalam terlaksananya penelitian serta

penulisan tesis ini.

Kepada yang sangat saya cintai dan hormati, orangtua saya Tajuddin

Thaib dan Nurnaimah atas pengertian serta dukungan yang sangat besar,

terima kasih karena selalu mendo’akan saya. Jasa-jasa nya tidak akan

pernah saya lupakan dalam membimbing dan membesarkan saya. Ucapan

terima kasih juga saya sampaikan kepada mertua saya H. Hasbi Junus dan

Hj. Badriah yang telah banyak membantu saya selama ini. Semoga budi baik

yang telah diberikan mendapat imbalan dari Tuhan. Terima kasih juga saya

sampaikan kepada suami tercinta Amir Fauzi, ST, MSc yang selalu

memberikan do’a, motivasi, kepercayaan dan pengorbanan yang sangat

besar kepada saya selama mengikuti pendidikan ini.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga penelitian dan tulisan ini

dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.

Medan, Agustus 2015

Mardiati

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

Lembar pengesahan i

Daftar isi vii


Daftar tabel ix
Daftar gambar x
Daftar singkatan xi
Daftar lambang xii
Abstrak xiii

Bab 1. Pendahuluan
1.1. Latar belakang 1
1.2. Rumusan masalah 3
1.3. Hipotesis 3
1.4. Tujuan penelitian 3
1.5. Manfaat penelitian 3

Bab 2. Tinjauan Pustaka 5


2.1. Penyakit jantung bawaan (PJB) 5
2.2. Asupan makanan 6
2.3. Asupan energi dan protein 7
2.4. Pemberian gizi pada anak dengan PJB 11
2.4.1. Usia 12
2.4.2. Jenis kelainan jantung 13
2.4.3. Lama sakit 14
2.4.4. Status gizi 16
2.5. Penilaian status gizi pada anak dengan PJB 16
2.6. Mekanisme terjadinya malnutrisi pada anak PJB 18
2.7. Program Nutrisurvey 21

2.8. Kerangka konseptual 22

Bab 3. Metode penelitian


3.1. Desain penelitian 23
3.2. Tempat dan waktu penelitian 23
3.3. Populasi dan sampel 23
3.4. Perkiraan besar sampel 23
3.5. Kriteria inklusi dan eksklusi 25

Universitas Sumatera Utara


3.5.1. Kriteia inklusi 25
3.5.2. kriteria eksklusi 25
3.6. Persetujuan setelah penjelasan 25
3.7. Etika penelitian 25
3.8. Pengukuran dan intervensi 26
3.9. Identifikasi variabel 29
3.10.Definisi operasional 29
3.11.Rencana pengolahan dan analisis data 31

Bab 4. Hasil penelitian 33

Bab 5. Pembahasan 38

Bab 6. Kesimpulan dan saran 42


6.1. Kesimpulan 42
6.2. Saran 42

Ringkasan 43

Daftar pustaka 45

Lampiran
1. Personil Penelitian
2. Biaya Penelitian
3. Jadwal Penelitian
4. Penjelasan dan Persetujuan Orang Tua
5. Persetujuan setelah Penjelasan
6. Lembaran Kuisioner
7. Food Recall 24 jam
8. Persetujuan komite etik
9. Riwayat hidup

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Frekuensi relatif lesi jantung bawaan utama 5


Tabel 2.2. Angka kecukupan energi dan protein yang di anjurkan
untuk bayi dan anak (per orang per hari). 9
Tabel 2.3. Syarat pemberian gizi pada anak PJB 10
Tabel 2.4. Penilaian status gizi pada anak dengan PJB 17
Tabel 2.5 Penentuan status gizi menurut kriteria Waterlow,
WHO 2006 dan CDC 18
Tabel 4.1. Karakteristik sampel penelitian 34
Tabel 4.2. Jenis PJB dan lama sakit 35
Tabel 4.3. Hubungan status penyakit jantung bawaan dengan
asupan energi 35
Tabel 4.4. Hubungan status penyakit jantung bawaan dengan
asupan protein 36
Tabel 4.5. Analisis bivariat pengaruh usia, jenis PJB, lama sakit,
status gizi dan derajat defek terhadap asupan energi dan
protein pada anak PJB 37

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.2. Kerangka konsep penelitian 22


Gambar 3.1. Alur Penelitian 28

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR SINGKATAN

AKG : Angka Kecukupan Gizi


ASI : Air Susu Ibu
BB : Berat Badan
CDC : Center for Disease Control and Prevention
CRP : C-reaktif protein
DAP : Duktus Arteriosus Persisten
DSA : Defek Septum Atrium
DSV : Defek Septum Ventrikel
ESPEN : The European Society for Clinical Nutrition and Metabolism
ESPGHAN : The European Society of Paediatric Gastroenterology,
Hepatology and
Nutrition
IK : Interval Kepercayaan
LILA : Lingkaran Lengan Atas
PB : Panjang Badan
PJB : Penyakit Jantung Bawaan
PNS : Pegawai Negeri Sipil
RDA : Recommended Dietary Allowance
RP : Rasio Prevalens
RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat
SD : Sekolah Dasar
SD : Standar Deviasi
SMP : Sekolah Menengah Pertama
SMA : Sekolah Menengah Atas
SP : Stenosis Pulmonal
SPSS : Statistical Package for Social Science
TB : Tinggi Badan
TF : Tetralogi Fallot
WHO : World Heart Organization

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR LAMBANG

g : gram

kg : kilogram

kkal : kilokalori

mEq : miliequivalent

Na : Natrium

K : Kalium

zα : Deviat baku normal untuk α

zβ : Deviat baku normal untuk β

n : Jumlah subjek / sampel

α : Kesalahan tipe I

β : Kesalahan tipe II

P1 : Proporsi standar

P2 : Proporsi yang diteliti

> : Lebih besar dari

< : Lebih kecil dari

Universitas Sumatera Utara


Hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan kecukupan asupan
energi dan protein
Mardiati, Tiangsa Sembiring, Muhammad Ali, Winra Pratita, Tri
Faranita
Departemen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas
Sumatera Utara, Medan, Indonesia

Latar belakang. Gizi merupakan hal penting untuk memastikan energi yang
adekuat untuk metabolisme basal, pertumbuhan, dan aktivitas fisik. Bayi dan
anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) memiliki risiko yang signifikan
mengalami kekurangan energi karena meningkatnya pengeluaran energi dan
asupan makanan yang tidak memadai.
Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara penyakit jantung bawaan
dengan kecukupan asupan energi dan protein
Metode. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang dilakukan
pada bulan Mei sampai Juli 2015 di Rumah Sakit Umum Adam Malik, Medan.
Subjek dibagi menjadi PJB dan tanpa PJB. Asupan makanan dihitung
berdasarkan makanan yang dikonsumsi selama tiga hari dan kecukupan
energi dan protein dihitung menggunakan program Nutrisurvey. Data
dianalisis dengan chi square untuk melihat hubungan PJB dengan asupan
makanan. Untuk menilai faktor-faktor yang mempengaruhi asupan makanan
pada PJB digunakan uji bivariat yang selanjutnya dilakukan analisis
multivariat.
Hasil. Dari 80 anak yang memenuhi kriteria, 40 anak dengan PJB dan 40
anak tanpa PJB. Terdapat hubungan yang signifikan antara PJB dengan
asupan energi dengan risiko terjadinya asupan energi tidak cukup pada PJB
adalah 1.824 kali dengan 95% IK 1.226 - 2.713 dibandingkan tanpa PJB.
Terdapat hubungan yang signifikan antara PJB dan asupan protein dengan
risiko terjadinya asupan protein tidak cukup pada PJB adalah 3.5 kali dengan
95% IK 1.823-6.719 dibandingkan tanpa PJB. Tidak terdapat pengaruh usia,
jenis PJB, lama sakit, status gizi dan derajat defek terhadap asupan energi
dan protein pada anak PJB
Kesimpulan. Terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit jantung
bawaan dengan ketidakcukupan asupan energi dan protein.

Kata kunci : asupan makanan, penyakit jantung bawaan, energi, protein

Universitas Sumatera Utara


Association between congenital heart disease and intake of energy and
protein

Mardiati, Tiangsa Sembiring, Muhammad Ali, Tri faranita, Winra Pratita


Department of Child Health, Medical School,
University of Sumatera Utara/H. Adam Malik General Hospital, Medan

Background. Nutrition is fundamental for ensuring adequate energy for basal


metabolism, growth, and physical activity. Infants and children with congenital
heart disease (CHD) are at significant risk for developing deficiencies energy
imbalance due to increased expenditure of energy and inadequate food
intake.
Objective. To determine the association between congenital heart disease
and food intake especially energy and protein.
Methods. A cross-sectional study was conducted on May to July 2015 in
Adam Malik General Hospital, Medan. Subjects were divided into CHD and
without CHD. The intake of food was calculated based on the food consumed
during three days and the energy and protein were calculated using
Nutrisurvey software. Association between CHD and food intake was
assessed using chi square test. Association of food intake with age, type of
CHD, duration of illness and nutritional status in CHD were evaluated.
Results. Of the 80 children who met criteria, 40 children were with CHD and
40 children were without CHD. There were significant association between
CHD with energy intake and CHD with protein intake, [P=0.001; PR = 1.824;
95% CI (1.226 - 2.713)] and [ P=0.001; PR = 3.500; 95% CI (1.823-6.719)],
respectively. There were no association of food intake with age, type of CHD,
duration of illness, nutritional status and severity of the cardiac defect in CHD.
Conclusions. There was a significant association between congenital heart
disease and inadequate intake of energy and protein.

Keywords : food intake, congenital heart disease, energy, protein

Universitas Sumatera Utara


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan bawaan yang sering

dijumpai pada anak.1 Insiden PJB dilaporkan sebanyak 1% di Amerika

Serikat dan 0.8% di negara-negara Eropa.2,3 Studi di negara maju dan di

negara berkembang termasuk Indonesia menunjukkan bahwa insiden PJB

berkisar di antara 6 sampai 10 per 1000 kelahiran hidup, dengan rata-rata 8

per 1000 kelahiran hidup.4

Penyakit jantung bawaan secara klinis diklasifikasikan atas PJB

asianotik dan sianotik. Prevalensi PJB asianotik yang tersering, yaitu Defek

Septum Ventrikel (DSV) sekitar 30-50%, Defek Septum Atrium (DSA) sekitar

7-10%, dan Duktus Arteriosus Persisten (DAP) sekitar 10%. Sedangkan

prevalensi PJB sianotik yang tersering yaitu Tetralogi Fallot (TF) sekitar 5-

10%, dan Transposisi Arteri Besar sekitar 5%.5

Prevalensi gangguan gizi dan gagal tumbuh pada anak dengan

penyakit jantung bawaan sangat tinggi.6,7 Penelitian terdahulu didapati bahwa

meskipun berat badan lahir pada pasien PJB adalah normal, tetapi anak

dengan PJB sering dijumpai dengan gangguan pertumbuhan.8 Penelitian di

Nigeria pada anak PJB didapatkan prevalensi gangguan gizi anak dengan

penyakit jantung bawaan adalah 90.4 % dibandingkan anak sehat tanpa

Universitas Sumatera Utara


PJB sebesar 21.1 %, dengan prevalensi gangguan gizi akut pada PJB

asianotik 58.3% dan gangguan gizi kronis pada PJB sianotik 68.0%.9

Penelitian di Jakarta pada anak PJB di dapatkan prevalensi kekurangan gizi

sebesar 51.1 % dengan 22.3 % diantaranya adalah gizi buruk.10

Gizi merupakan suatu hal yang penting untuk memastikan energi yang

memadai bagi metabolisme basal, pertumbuhan, dan aktivitas fisik. Bayi dan

anak memiliki tingkat metabolisme yang tinggi serta memiliki risiko untuk

mengalami kekurangan energi selama episode sakit akut atau kronis. Bayi

dan anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) memiliki risiko yang

signifikan terjadinya ketidakseimbangan energi karena meningkatnya

pengeluaran energi, dan asupan gizi yang tidak memadai.11

Penelitian di Brazil pada anak PJB yang menilai asupan makanan

yang dihitung selama tiga hari didapatkan asupan makanan kurang terutama

kalori sebanyak 50% anak, asupan kalori per kilogram berat badan, protein

harian, natrium dan vitamin A adalah sesuai tingkat yang direkomendasikan.

Namun, asupan kalori harian, lemak, serat, kalium dan besi berada di bawah

tingkat yang direkomendasikan dan asupan protein per kilogram berat badan,

karbohidrat, kalsium dan vitamin C adalah di atas tingkat yang

direkomendasikan.12

Gizi yang adekuat merupakan hal yang sangat penting bagi bayi dan

anak dengan penyakit jantung untuk mempertahankan berat badan dan tinggi

badan dari waktu ke waktu.13

Universitas Sumatera Utara


1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

Apakah terdapat hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan

kecukupan asupan energi dan protein?

1.3. Hipotesis

Terdapat hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan kecukupan

asupan energi dan protein

1.4. Tujuan Penelitian

Tujuan umum :

Untuk mengetahui hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan

kecukupan asupan energi dan protein

Tujuan khusus :

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi asupan energi dan

protein, antara lain jenis penyakit jantung bawaan, usia, lama sakit, status

gizi, dan derajat defek pada anak PJB

1.5. Manfaat Penelitian

1. Di bidang akademik/ilmiah

Memberikan masukan mengenai hubungan antara penyakit jantung bawaan

dengan kecukupan asupan energi dan protein serta faktor-faktor yang

Universitas Sumatera Utara


mempengaruhinya yaitu jenis penyakit jantung bawaan, usia, lama sakit,

status gizi dan derajat defek pada anak PJB

2. Di bidang pelayanan masyarakat

Memberi informasi kepada masyarakat terutama orang tua tentang adanya

hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan kecukupan asupan energi

dan protein serta faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu jenis penyakit

jantung bawaan, usia, lama sakit, status gizi dan derajat defek pada anak

PJB. Dengan mengetahui besarnya jumlah asupan energi dan protein, maka

akan dapat diperkirakan jumlah kekurangannya sehingga dapat dilakukan

upaya untuk mencukupi asupan sesuai dengan kebutuhan anak tersebut.

3. Di bidang pengembangan penelitian

Dapat memberikan kontribusi ilmiah mengenai adanya hubungan antara

penyakit jantung bawaan dengan kecukupan asupan energi dan protein serta

faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu jenis penyakit jantung bawaan,

usia, lama sakit, status gizi dan derajat defek pada anak PJB.

Universitas Sumatera Utara


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penyakit jantung bawaan (PJB)

Penyakit jantung bawaan adalah suatu bentuk penyakit kardiovaskular yang

muncul dan biasanya terlihat pada saat lahir.14 Penyakit jantung bawaan

dapat diklasifikasi menjadi dua kelompok, yaitu PJB asianotik dan sianotik.

Frekuensi relatif lesi jantung bawaan utama bisa dilihat pada tabel.1. 4

Tabel 2.1. Frekuensi relatif lesi jantung bawaan utama. 4

Lesi Jumlah lesi (%)


Defek Septum Ventrikel (DSV) 25 - 30
Defek Septum Atrium (DSA) 6 - 8
Duktus Arteriosus Paten (DAP) 6 - 8
Koarktasio aorta 5 - 7
Tetralogi Fallot (TF) 5 - 7
Stenosis pulmonal (SP) 5 - 7
Stenosis katup aorta 4 - 7
D- transposisi arteri besar 3 - 5
Ventrikel kiri hipoplastik 1 - 3
Ventrikel kanan hipoplastik 1 - 3
Trunkus arteriosus 1 - 2
Anomali total drainase vena pulmonalis 1 - 2
Atresia trikuspid 1 - 2
Ventrikel tunggal 1 - 2
Ventrikel kanan dengan jalan keluar ganda 1 - 2
Lain – lain 5 - 10

Sebagian besar kasus, penyebab PJB tidak diketahui. Para ahli

cenderung berpendapat bahwa penyebab PJB multifaktorial dan merupakan

gabungan dari faktor predisposisi genetik dan stimulus lingkungan. 6 Penyakit

jantung bawaan didiagnosis dengan tiga pendekatan, pertama, dari

pemeriksaan fisik dan dengan bantuan pulse oximetry. Kedua, menggunakan

Universitas Sumatera Utara


foto toraks. Ketiga, elektrokardiogram. Diagnosis akhir dikonfirmasi dengan

pemeriksaan echocardiografi, Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau

dengan kateterisasi jantung.15

Beberapa bayi memiliki kelainan jantung yang secara signifikan dapat

teratasi spontan pada awal kehidupan atau pada saat remaja atau dewasa.

Namun, sebagian besar anak dengan PJB memerlukan beberapa bentuk

penatalaksanaan baik secara pengobatan, pembedahan ataupun non

pembedahan. 16

2.2. Asupan makanan

Asupan makanan adalah asupan energi, zat gizi, cairan, substansi bioaktif

dari makanan baik yang melalui oral maupun parenteral dan enteral.

Kebutuhan zat gizi dipengaruhi oleh berbagai keadaan seperti status gizi,

status pertumbuhan, aktivitas, dan ada tidaknya penyakit.17

Gambaran asupan makanan dapat digali melalui anamnesis

menggunakan food frequency untuk kualitatif dan food recall untuk kuantitatif.

Anamnesis riwayat gizi secara kualitatif dilakukan untuk memperoleh

gambaran kebiasaan makan/pola makan sehari berdasarkan frekuensi

penggunaan bahan makanan. Anamnesis secara kuantitatif dilakukan untuk

mendapatkan gambaran asupan gizi sehari melalui recall makanan 24 jam

dengan alat bantu food model.17 Sebuah systematic review menemukan

bahwa 24-hour multiple pass recall yang dilakukan selama minimal tiga hari

Universitas Sumatera Utara


merupakan metode yang paling akurat dalam memperkirakan total asupan

energi pada anak usia empat tahun sampai 11 tahun.18

Kebutuhan energi dan protein pada bayi dan anak lebih besar dari

pada kebutuhan energi dan protein orang dewasa karena anak tumbuh dan

berkembang. Kebutuhan energi dan protein menurun seiring dengan

bertambahnya umur, sedangkan kebutuhan zat gizi mikro semakin

meningkat sesuai dengan umur.17

Angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan di Indonesia sebagai

terjemahan dari Recommended Dietary Allowance (RDA) adalah nilai yang

menunjukkan jumlah zat gizi yang diperlukan tubuh untuk hidup sehat setiap

hari bagi hampir semua populasi menurut kelompok umur, jenis kelamin dan

kondisi fisiologis tertentu seperti kehamilan dan menyusui. Angka kecukupan

gizi berguna sebagai nilai rujukan (reference values) yang digunakan untuk

perencanaan dan penilaian konsumsi makanan, penilaian asupan gizi orang

sehat, agar tercegah dari kekurangan ataupun kelebihan asupan zat gizi.17

2.3. Asupan energi dan protein

Dukungan gizi yang optimal harus memberikan cukup energi dan protein

tidak hanya untuk mencegah kerusakan atau katabolisme protein dan

mempertahankan komposisi tubuh dan berat badan, tetapi juga untuk

mengembalikan defisit dan terhadap pertumbuhan potensi genetik.7

Universitas Sumatera Utara


Asupan energi sering rendah pada bayi dengan penyakit jantung

bawaan dan hal ini berhubungan dengan berat badan yang rendah.19

Ketidakseimbangan energi mengakibatkan terjadinya gangguan gizi, yang

dapat mempengaruhi pertumbuhan somatik, kognitif dan perkembangan

motorik. Pada anak dengan PJB, hal ini akan meningkatkan risiko morbiditas

dan mortalitas paska operasi yang mengakibatkan waktu rawat inap dan

waktu penyembuhan menjadi lebih lama.11

Kebutuhan gizi terutama energi dan protein pada pasien PJB lebih

besar dari yang direkomendasikan berdasarkan kebutuhan fisiologis, usia

dan berat badan, sementara toleransi volume cairan terbatas karena adanya

disfungsi jantung.7

Kebutuhan energi dapat dihitung dengan berbagai cara antara lain:17,20

- Mengacu pada angka kecukupan gizi (AKG) tahun 2012 (tabel.2)

- Menghitung metabolisme basal ditambah dengan aktivitas fisik.

- Menghitung kebutuhan metabolisme basal dikalikan faktor stress

- Pengukuran pengeluaran energi melalui kalorimetri direk dan indirek

- Kebutuhan energi dapat dihitung menggunakan rumus WHO atau

Schoffield sesuai dengan jenis kelamin dan usia.

- Menentukan kebutuhan energi pada anak sebaiknya dihitung secara

individual berdasarkan berat badan ideal sesuai tinggi badan (TB) aktual

dikalikan dengan AKG sesuai usia tinggi. Yang dimaksud dengan berat

badan (BB) ideal adalah BB berdasarkan TB aktual pada median WHO

Universitas Sumatera Utara


2005 (untuk usia 0-5 tahun) atau BB berdasarkan TB aktual pada persentil

50 grafik CDC (untuk anak usia > 5 tahun). Usia tinggi adalah usia sesuai

TB aktual bila berada pada median.

Tabel 2.2. Angka kecukupan energi dan protein yang di anjurkan untuk bayi

dan anak (per orang per hari).17,21

Umur BB TB Energi Energi Protein Protein


(kg) (cm) (kkal) (kkal/kgBB) (g) (g/kgBB)

0 – 6 bulan 6 61 550 91 12 2
7 – 12 bulan 9 71 725 80.5 18 2
1 – 3 tahun 13 91 1125 86.5 26 2
4 – 6 tahun 19 112 1600 84.2 35 1.8

Kebutuhan protein didefinisikan sebagai kebutuhan secara biologis

protein atau asam amino minimal yang secara individual dapat digunakan

untuk mempertahankan kebutuhan fungsional individu. Kebutuhan protein

pada saat lahir sampai usia 1 tahun sangat tinggi sehubungan dengan

kecepatan pertumbuhan anak. Kebutuhan protein bagi bayi/ anak adalah 10-

15% dari total energi. Kebutuhan protein dapat dilihat pada tabel 2 yang

dianjurkan untuk bayi dan anak.17

Dalam hal pemberian protein, yang penting harus dipastikan bahwa

pemberian energi sudah memadai. Bila energi tidak memadai maka protein

yang diberikan akan dimetabolisasi menjadi energi sehingga tidak memenuhi

tujuan untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen yang positif.22

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.3. Syarat pemberian gizi pada anak penyakit jantung bawaan.17

Syarat pemberian gizi pada anak penyakit jantung bawaan

1. Kalori yang dibutuhkan tinggi untuk tumbuh kejar yaitu sebesar 120-160 kkal /kgBB

aktual/hari, atau dihitung berdasarkan BB ideal berdasarkan TB aktual dikalikan

kebutuhan energi sesuai RDA sesuai usia tinggi

2. Protein tinggi 10% - 15% dari kalori total atau 3 – 4 g/kgBB/hari, protein diperlukan

untuk pembentukan otot jantung. Pada keadaan gagal jantung, protein diberikan

rendah 1-2 g/kgBB/hari

3. Lemak 35% - 50% dari kalori total dan sebaiknya mengandung MCT (Medium Chain

Trygliceride), yang dapat langsung diserap di usus halus.

4. Karbohidrat sebesar 35% - 55% dari kalori total, sebaiknya diberikan karbohidrat

yang mengandung glukosa polimer, oleh karena mempunyai osmolaritas yang

rendah dan menghasilkan kalori yang lebih banyak.

5. Natrium (Na) sebaiknya tidak lebih dari 1 mEq/100 kkal, pada bayi ± 2

mEq/kgBB/hari untuk mencegah hiponatremia dan gangguan pertumbuhan.

Sedangkan bayi dengan PJB yang berat dan gagal jantung kronik diberikan formula

rendah Na, dan pada anak yang lebih besar diberikan diet padat (makanan biasa)

yang rendah garam.

6. Kalium (K) : perlu penambahan kalium bila mendapatkan pengobatan diuretik untuk

menjaga keseimbangan K dan mencegah hipokalemia.

7. Cairan (bersifat individual) berdasarkan derajat kelainan jantung, terapi diuretik, dan

intoleransi.

8. Multivitamin perlu diberikan sesuai AKG untuk memenuhi kebutuhan akan vitamin

dan mineral.

9. Serat diberikan sesuai kebutuhan untuk memudahkan defekasi.

Universitas Sumatera Utara


Perawatan paliatif pertama ketika di rumah pada hampir semua bayi

dengan PJB adalah dengan pemberian makanan melalui oral, baik dengan

pemberian air susu ibu (ASI) ataupun susu formula. Pada beberapa bayi

diperlukan dukungan gizi, suplementasi yang baik dengan memberikan ASI

atau susu formula melalui pipa nasogastrik, atau melalui tabung pembedahan

yang ditanamkan. Meskipun terdapat perbedaan dalam cara pemberian

makanan pada saat pulang dari rumah sakit, didapatkan tidak ada perbedaan

dalam nilai z-score untuk berat badan antara kelompok yang dipulangkan

pada saat yang sama.23

Pemantauan yang perlu dilakukan mengenai pemberian diet pada

anak dengan PJB, antara lain:24

1. Memastikan kalori dan protein yang cukup untuk memfasilitasi

kenaikan berat badan

2. Hindari pemberian cairan yang berlebihan pada keadaan yang

memerlukan pembatasan cairan

3. Memantau kebutuhan dan asupan natrium

4. Pemantauan elektrolit

2.4. Pemberian gizi pada anak dengan PJB

Dukungan gizi harus dipertimbangkan sebagai bagian dari rutinitas

perawatan pada anak dengan PJB. Protokol umum dalam hal memperbaiki

kenaikan berat badan pada anak dengan PJB sampai saat ini tidak ada.7

Universitas Sumatera Utara


Pemberian gizi secara enteral dan parenteral merupakan terapi yang

menunjang kehidupan untuk pasien yang tidak bisa mendapatkan gizi secara

oral dan yang akibatnya berisiko untuk terjadinya gangguan gizi dan dampak

yang ditimbulkannya. Pemilihan rute makanan yang digunakan sangat

penting untuk memenuhi kebutuhan dalam terapi gizi.25

Bentuk paling umum dari terapi gizi untuk bayi dengan PJB adalah

penggunaan formula tinggi kalori, sehingga mengurangi volume cairan yang

diberikan. Penggunaan pipa nasogastrik maupun pipa gastrostomi sering

diperlukan, terutama pada bayi dengan gejala klinis yang berat sehingga

menyebabkan kelelahan berlebihan selama makan. Secara umum, jika gizi

cukup diberikan maka sebagian besar pasien tersebut akan tumbuh pada

tingkat yang cukup normal.26

Strategi pemberian asupan gizi tergantung pada usia, jenis kelainan

jantung, gangguan hemodinamik (lama sakit) dan status gizi. Intervensi gizi

sejak dini bertujuan untuk mempertahankan status gizi yang adekuat sampai

pembedahan.7

2.4.1. Usia

Anak dikelompokkan menurut usia yaitu 1-3 tahun (toddler), 4-6 tahun

(prasekolah), 6-12 tahun (sekolah) dan 13-19 tahun (remaja). Secara umum

jadwal pemberian makan anak adalah 3 kali makanan utama (pagi, siang dan

malam) dan dua kali makanan selingan (diantara dua kali makan utama).17

Universitas Sumatera Utara


Pertumbuhan paling cepat terjadi pada 6 bulan pertama kehidupan,

berat badan pada saat itu mencapai dua kali lipat berat lahir, kemudian

melambat sampai usia 12 bulan, untuk mencapai tiga kali berat lahir,

selanjutnya antara usia 1 dan 5 tahun, berat badan hanya meningkat menjadi

dua kali lipat.22 Prediktor gangguan gizi pada anak dengan PJB salah

satunya adalah usia anak dibawah 5 tahun.9

Makanan terbaik untuk bayi adalah air susu ibu (ASI) dan ASI ini

menjadi patokan untuk angka kebutuhan gizi bagi kelompok usia ini.20 Pada

dua tahun pertama bayi rentan terhadap masalah gizi kurang, oleh karena itu

pemberian ASI merupakan intervensi yang murah dan efektif disamping


17
makanan pendamping ASI. Antara usia 1 dan 5 tahun, anak beralih dari

diet yang mengandalkan susu untuk memenuhi sebagian besar nutrisi dan

50% kandungan energinya berasal dari lemak, menuju diet yang sesuai

dengan pedoman pola makan sehat dan mencakup semua kelompok

makanan.20 Pada umumnya, kemampuan untuk menerima makanan keluarga

ini tercapai pada usia 2-3 tahun.17

2.4.2. Jenis kelainan jantung

Kemampuan makan pada bayi dengan PJB asianotik berbeda dengan anak

PJB sianotik. Pada bayi dengan PJB sianotik memiliki keterlambatan yang

signifikan dalam hal kesiapan untuk pemberian makan, keberhasilan

pemberian makanan dari lambung, kesiapan oromotor serta keberhasilan

Universitas Sumatera Utara


keterampilan oromotor.27 Kesulitan makan berhubungan dengan kondisi

organik dan tidak berhubungan dengan kesulitan dalam interaksi ibu dan

bayi. Dukungan profesional diperlukan bagi ibu dari bayi dengan PJB untuk

mempertahankan rutinitas makan dan berhubungan dengan kesulitan yang

timbul.28

Gangguan gizi berat bisa terjadi pada gagal jantung kongestif yang

berhubungan dengan PJB asianotik. Anak dengan kelainan ini bisa terlihat

normal sesuai dengan umur gestasi pada saat lahir, tetapi bisa mengalami

penurunan berat badan atau wasting yang diikuti dengan defisit pertumbuhan

linear atau pendek.29 Pada anak dengan PJB sianotik, gagal tumbuh secara

simetris diamati dengan berat badan dan panjang badan yang mengalami

penekanan secara bersamaan.16 Meskipun penyebab stunting pada pasien

dengan PJB sianotik belum diketahui secara pasti, tetapi diduga bahwa tidak

optimalnya oksigenasi ke jaringan merupakan faktor penyebab.30

2.4.3. Lama sakit

Penyakit jantung bawaan asianotik merupakan bagian terbesar dari seluruh

penyakit jantung bawaan. Sesuai dengan namanya, pada pasien penyakit

jantung bawaan asianotik ini tidak ditemukan gejala atau tanda sianosis.

Manifestasi klinis penyakit jantung bawaan asianotik sangat bervariasi, dari

yang asimtomatis sampai gagal jantung yang berat disertai dengan gagal

tumbuh. Manifestasi ini sangat bergantung pada besarnya defek serta derajat

Universitas Sumatera Utara


pirau yang terjadi. Prevalensi ASD pada remaja lebih tinggi dibanding pada

masa bayi dan anak, oleh karena sebagian besar pasien asimtomatik

sehingga diagnosis baru ditegakkan setelah anak besar atau remaja.31

Manifestasi klinis pasien penyakit jantung bawaan sianotik sangat

bervariasi. Sebagian pasien menunjukkan gejala sianosis akibat hipoksemia,

dengan atau tanpa gagal jantung, sebagian mengalami syok, sebagian lagi

tidak menunjukkan gejala dan pada auskultasi hanya terdengar bising saja.

Penyakit jantung bawan sianosis 65% didiagnosis dibawah usia 2 tahun. 17%

antara usia 2-5 tahun, dan 18% diatas usia 5 tahun. Bila usia dihubungkan

dengan tipe dan derajat kelainan, maka penyakit jantung sianotik yang serius

sebagian besar didiagnosis pada usia 3 bulan pertama. Setelah usia ini

prevalensi pasien dengan kelainan yang berat sangat menurun, terutama

transposisi arteri besar. Ini berbeda dengan TF, yang justru meningkat

prevalensinya setelah umur 1 tahun. Dalam anamnesis ditanyakan usia saat

timbulnya sianosis, toleransi latihan, serangan sianotik (mulainya, frekuensi,

faktor pencetus, lama serangan), serta terdapatnya squatting.32

Prediktor gangguan gizi pada anak dengan PJB antara lain adalah

anemia, usia anak dibawah 5 tahun, saturasi oksigen yang rendah, asupan

lemak yang rendah dan lamanya gejala PJB yang dialami anak sampai

dilakukan operasi. Gagal jantung secara signifikan merupakan prediktor dari

gangguan gizi berat pada anak dengan PJB.9

Universitas Sumatera Utara


2.4.4. Status gizi

Status gizi adalah cerminan ukuran terpenuhinya kebutuhan gizi yang

didapatkan dari asupan dan penggunaan zat gizi oleh tubuh. Satus gizi dapat

ditentukan dengan pemeriksaan klinis, pengukuran antropometri, analisis

biokimia dan riwayat gizi.17

Anak dengan PJB memiliki prevalensi yang tinggi mengalami kesulitan

makan dan gangguan gizi.33 Gangguan gizi merupakan suatu

ketidakseimbangan (kekurangan atau kelebihan) antara asupan energi,

protein dan gizi lainnya dengan kebutuhan tubuh sehingga timbul efek yang

tidak diinginkan pada jaringan, bentuk dan fungsi tubuh, serta luaran klinis.34

Terutama di negara berkembang, masalah utama yang menjadi perhatian

adalah kekurangan gizi (undernutrition), sehingga gangguan gizi disini

mengacu kepada kekurangan gizi.35

Prevalensi gangguan gizi akut pada anak yang dirawat di rumah sakit

masih diperkirakan tinggi, tetapi data mengenai status gizi saat masuk rumah

sakit masih sangat jarang.36

2.5. Penilaian status gizi pada anak dengan PJB

Penilaian status gizi yang akurat pada anak dengan PJB sangat penting dan

kompleks karena anak dengan PJB mengalami pertumbuhan terus-menerus,

memiliki komposisi tubuh yang bervariasi, dan membutuhkan energi yang

adekuat.7 Penilaian status gizi pada anak PJB secara garis besar dapat dilihat

Universitas Sumatera Utara


pada tabel 4. Kriteria untuk penilaian status gizi atau risiko gangguan gizi

yang baku pada pasien anak hingga saat ini belum dikeluarkan oleh The

European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN) dan The

European Society of Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition

(ESPGHAN).7,37

Tabel 2.4. Penilaian status gizi pada anak dengan PJB.7

Penilaian status gizi pada anak dengan PJB

1. Daftar ceklist dengan faktor risiko yang berkaitan dengan diagnosis


jantung dan kesulitan makan
2. Skor risiko nutrisi untuk anak dengan PJB
3. Antropometri: berat badan (BB), panjang badan (PB), lingkar kepala,
lingkar lengan atas,ketebalan lipatan kulit
4. Direct calorimetry
5. Prealbumin, C-reaktif protein (CRP)

Pemeriksaan antropometri diperlukan untuk menilai status gizi,

termasuk diantaranya pengukuran berat badan, panjang badan, lingkar

kepala, lingkar lengan atas (LILA), dan ketebalan lipatan kulit.7,29 Penentuan

status gizi dilakukan berdasarkan berat badan (BB) menurut panjang badan

(PB) atau tinggi badan (TB) (BB/PB atau BB/TB). Grafik pertumbuhan yang

digunakan sebagai acuan adalah grafik World Heart Organization (WHO)

2006 untuk anak kurang dari 5 tahun dan grafik Center for disease control

and prevention (CDC) 2000 untuk anak lebih dari 5 tahun.38 Penentuan

status gizi menurut kriteria Waterlow, WHO 2006 dan CDC 2000 terlihat pada

tabel 5.39,40,41

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.5. Penentuan status gizi menurut kriteria Waterlow, WHO 2006 dan

CDC.39,40,41

Status gizi BB/TB (% median) BB/TB WHO 2006 IMT CDC

Obesitas > 120% > +3 SD > P 95

Gizi lebih > 110% > +2 hingga +3 SD P85- p95

Normal > 90 % +2 SD hingga -2 SD

Gizi kurang 70 – 90 % < -2 SD hingga -3SD

Gizi buruk < 70 % < -3 SD

2.6. Mekanisme terjadinya gangguan gizi pada anak PJB

Banyak faktor penyebab gangguan gizi pada PJB dan timbul dikarenakan

salah satu akibat dari kebutuhan dan kehilangan energi lebih besar daripada

asupan gizi. Gangguan gizi, khususnya kegagalan pertumbuhan, telah

dilaporkan pada lebih dari separuh anak dengan PJB.7,11 Oleh karena itu

dibutuhkan petunjuk untuk penatalaksanaan gizi yang baik agar asupan

makanan cukup adekuat dan memberikan perbaikan terhadap pertumbuhan

dan perkembangan sehingga anak dengan PJB memiliki kualitas hidup yang

lebih baik.12,16 Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya

malnutrisi antara lain:

1. Gangguan hemodinamik

Masalah gizi pada anak dengan PJB berhubungan dengan jenis kelainan

jantung dan tingkat keparahan gangguan hemodinamik.7 Sebanyak 60%

Universitas Sumatera Utara


sampai 70% pasien PJB dengan hipertensi pulmonal dan gagal jantung

kongestif memiliki risiko tinggi untuk mengalami gangguan gizi.7,29

2. Hipermetabolisme

Ketidakseimbangan energi merupakan salah satu faktor utama penyebab

gagal tumbuh dan malnutrisi pada anak dengan PJB. Secara umum, anak

memiliki tingkat metabolisme yang lebih tinggi, sehingga memiliki risiko

tinggi mengalami kekurangan energi selama sakit.11 Pada anak dengan

PJB tingkat metabolisme meningkat terutama jika disertai dengan gagal

jantung kongestif. Peningkatan metabolisme basal pada anak dengan PJB

diakibatkan oleh meningkatnya kerja otot jantung, sistem pernafasan serta

pengaruh sistem saraf simpatik.11,24

2. Asupan makanan yang tidak adekuat

Asupan makanan yang tidak adekuat diyakini menjadi penyebab utama

terjadinya gangguan gizi pada anak dengan PJB. Proses pemberian

makan pada anak dengan PJB sama dengan suatu latihan fisik,

membutuhkan energi yang lebih besar. Intoleransi terhadap pemberian

makan dapat disebabkan ketidakmampuan untuk mengeluarkan cukup

energi, ditandai dengan takikardia, takipnu, sesak nafas, dan muntah.

Hipoksia yang terjadi menyebabkan baik dispnu dan takipnu selama

makan, menyebabkan anak mudah lelah sehingga mengurangi jumlah

makanan yang dikonsumsi. Faktor lain yang mengakibatkan asupan gizi

Universitas Sumatera Utara


tidak adekuat adalah anak cepat merasa kenyang, anoreksia, waktu

pengosongan lambung yang tertunda, cardiac output yang rendah,

koordinasi menghisap yang kurang, kelainan pola menelan, dan bernapas

akibat takipnu. Selain hal itu, pembatasan cairan dan terapi diuretik

sebagai bagian dari penatalaksanaan medis akan mengakibatkan

pembatasan asupan kalori pada anak dengan PJB.7,11,24

3. Malabsorpsi

Malabsorpsi merupakan salah satu kondisi yang juga menyebabkan

gangguan gizi pada anak dengan PJB. Hal ini bisa disebabkan oleh

hipoksia dari saluran cerna yang menyebabkan intoleransi makanan,

asupan kalori yang terbatas, dan mengurangi penyerapan zat-zat gizi. 7,11

4. Kelainan genetik atau kelainan lain diluar jantung

Anak dengan PJB yang disertai kelainan bawaan lain, memiliki risiko

tinggi untuk mengalami gangguan gizi akut dan kronis. Kelainan genetik

yang sering berhubungan dengan PJB antara lain Trisomi 21, 13, dan 18,

Turner or Down syndrome, Williams syndrome, Noonan syndrome, dan Di

George syndrome. Faktor risiko yang lain seperti prematur dan faktor

prenatal juga mempengaruhi gangguan gizi dan pertumbuhan anak

dengan PJB. Diantara faktor prenatal yang penting yaitu tinggi orang tua,

faktor intra uterus dan berat badan lahir.5,7,11

Universitas Sumatera Utara


2.7. Program Nutrisurvey

Program Nutrisurvey merupakan suatu program terjemahan bahasa Inggris

dari software komersial buatan para ahli gizi Jerman yaitu program EBISpro.

Program ini gratis untuk penggunaan non komersial yang berisi data

makanan dari seluruh dunia yang dapat dengan mudah diintegrasikan ke

dalam software. Software ini memiliki fungsi untuk menghitung kebutuhan

energi rinci, untuk menganalisis beberapa catatan makanan, menghitung nilai

gizi dari makanan dalam data, dan dapat dengan mudah diubah dan

dilengkapi dengan informasi tambahan. Perhitungan kebutuhan nilai gizi

sesuai rekomendasi yang akan digunakan juga dapat diubah sesuai

keperluan. Ada beberapa rekomendasi dalam program yang dapat dipilih dan

dimodifikasi (seperti rekomendasi berdasarkan RDA, AKG ataupun WHO).42

Universitas Sumatera Utara


2.8. Kerangka konseptual

Usia Jenis PJB Lama sakit

Sianotik Asianotik

Derajat
defek

Anoreksia Hipoksia Waktu Dispnu Koordinasi Obat-obatan


pengosongan menghisap ↓
lambung ↓

Asupan energi dan


protein

Cukup Tidak cukup

Dukungan nutrisi
sesuai kebutuhan

Status gizi

Obesitas Gizi lebih Normal Gizi kurang Gizi buruk

Gangguan pertumbuhan
: Aspek yang diteliti

Gambar 2.1. Kerangka konsep penelitian

Universitas Sumatera Utara


BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu studi cross sectional yang menilai hubungan

antara penyakit jantung bawaan dengan kecukupan asupan energi dan

protein

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Poliklinik Divisi Kardiologi Anak RSUP Haji Adam

Malik Medan. Waktu penelitian Mei sampai Juli 2015.

3.3. Populasi dan Sampel

Populasi target adalah anak yang berusia 0 sampai 5 tahun yang menderita

penyakit jantung bawaan dan anak tanpa penyakit jantung bawaan. Populasi

terjangkau adalah populasi target yang datang ke Rumah Sakit Umum Pusat

(RSUP) Haji Adam Malik Medan. Sampel adalah populasi terjangkau yang

memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

3.4. Perkiraan besar sampel

Perkiraan besar sampel ditentukan berdasarkan rumus uji hipotesis untuk

dua proporsi yang independen:

Universitas Sumatera Utara


(Zα √2PQ+ Zβ √P1Q1 + P2Q2)2
n1 = n2 =
(P1 – P2)2

n1 = n2 = (1,96√2(0,195 x 0,805) + 0,842√(0,32 x 0,68)+(0,07 x 0,93) )2

(0,5 – 0,25)2
n1 = n2 = 36

Keterangan:

n1 = jumlah subyek yang menderita PJB

n2 = jumlah subyek yang tanpa PJB

α = kesalahan tipe I = 0,05 → Tingkat kepercayaan 95%

Zα = nilai baku normal = 1,96

β = kesalahan tipe II = 0,2 → Power (kekuatan penelitian) 80%

Zβ = 0,842

P1 = proporsi penderita PJB dengan asupan makanan kurang = 0,5.12

Q1 = 1 – P1 = 0,5

P2 = proporsi penderita PJB dengan asupan makanan cukup = 0,25

Q2 = 1 – P2 = 0,75

P = ½(P1 + P2) = 0,375

Q = 1 – P = 0,625

Universitas Sumatera Utara


Dengan menggunakan rumus di atas maka didapat jumlah sampel untuk
masing-masing kelompok minimal 36 orang.

3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.5.1. Kriteria Inklusi

Anak umur 0 sampai 5 tahun yang menderita penyakit jantung bawaan

dan tanpa penyakit jantung bawaan

3.5.2. Kriteria Eksklusi

1. Mempunyai kelainan bawaan lain, penyakit keganasan serta penyakit

kronis

2. Dijumpai edema dan asites

3. Telah menjalani operasi koreksi

3.6. Persetujuan Setelah Penjelasan ( Informed Consent )

Semua subyek penelitian telah diminta persetujuan orang tua setelah

dilakukan penjelasan terlebih dahulu mengenai penilaian asupan energi dan

protein dan mengenai penilaian status gizi dengan cara mengukur berat

badan dan tinggi badan responden. Formulir persetujuan setelah penjelasan

dan naskah penjelasan terlampir.

3.7. Etika Penelitian

Penelitian ini telah disetujui Komite Etika Penelitian Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara / RS Haji Adam Malik

Universitas Sumatera Utara


3.8. Pengukuran dan Intervensi

3.8.1. Alat

1. Lembar food recall 24 jam.

2. Food model.

3. Perangkat lunak program Nutrisurvey 2007.

4. Grafik BB/TB WHO 2006 berdasarkan jenis kelamin dan usia.

5. Timbangan bayi dan anak dengan memakai timbangan merk Camry

buatan China.

6. Pengukur panjang badan bayi tipe caliper merk GEA.

7. Mikrotoise merk GEA

3.8.2 Cara Kerja

1. Subyek dikumpulkan secara consecutive sampling.

2. Data dasar diperoleh dari wawancara dan kuisioner.

3. Anak yang menderita penyakit jantung bawaan dimasukkan sebagai

kelompok kasus, sedangkan anak normal disesuaikan umur dan jenis

kelaminnya dimasukkan sebagai kelompok kontrol

4. Dilakukan anamnesis kepada orang tua masing-masing anak

mengenai asupan energi dan protein melalui food recall 24 jam selama

3 hari (termasuk didalamnya 1 hari libur) dengan bantuan food model

Universitas Sumatera Utara


dan dilakukan perhitungan kalori rata-rata dengan program

Nutrisurvey 2007.

5. Mengukur panjang badan (PB) untuk usia <2 tahun dengan

menggunakan pengukur panjang badan bayi tipe caliper. Pengukuran

dilakukan dengan bayi dalam posisi terlentang, kedua kaki diluruskan

dan telapak kaki tegak lurus menyentuh pembatas. Mengukur tinggi

badan (TB) untuk usia >2 tahun dengan menggunakan mikrotoise 2

meter yang terbuat dari metal dengan tingkat presisi 0,5 cm. Pada

anak, pengukuran dilakukan pada posisi tegak dengan kepala lurus

menghadap ke depan, bokong dan tumit menempel ke dinding, serta

tanpa menggunakan alas kaki

6. Menimbang berat badan (BB) dengan menggunakan timbangan merk

Camry dengan tingkat presisi 0,5 kg. Bayi ditimbang dengan posisi

tidur dan anak ditimbang dengan posisi berdiri tanpa menggunakan

alas kaki dan hanya memakai pakaian tipis saja.

7. Melakukan penilaian status gizi dengan menggunakan perbandingan

berat badan/tinggi badan (BB/TB). Nilai yang didapat diplotkan dengan

grafik WHO 2006. Obesitas bila BB/TB >+3SD, gizi lebih bila BB/TB

>+2 hingga +3 SD, normal bila BB/TB -2 SD hingga +2 SD, gizi

kurang BB/TB <-2 SD hingga -3 SD dan gizi buruk bila BB/TB <-3

SD.

Universitas Sumatera Utara


3.8.4 Alur Penelitian

Populasi terjangkau yang memenuhi


kriteria inklusi dan eksklusi

PJB Tanpa PJB

Sianotik Asianotik

Informed consent

Pengukuran berat badan dan Food recall 24 jam selama 3


panjang badan/tinggi badan hari (kalori rata-rata)

Gambar 3.1 Alur penelitian

Universitas Sumatera Utara


3.9. Identifikasi Variabel

Variabel Bebas Skala

Status penyakit jantung bawaan Nominal dikotom

Variabel Tergantung Skala

Kecukupan asupan energi dan protein Nominal dikotom

Variabel Perancu Skala

Jenis penyakit jantung bawaan Nominal dikotom

Usia Ordinal

Lama sakit Ordinal

Status gizi Ordinal

Derajat defek Ordinal

3.10. Definisi Operasional

1. Status penyakit jantung bawaan adalah status anak yang didapat

berdasarkan hasil echocardiografi, yaitu yang menderita penyakit jantung

bawaan dan tanpa penyakit jantung bawaan.

2. Penyakit jantung bawaan adalah suatu bentuk penyakit kardiovaskular

yang muncul dan biasanya terlihat pada saat lahir.14

3. Anak tanpa penyakit jantung bawaan adalah kelompok anak yang tidak

menderita penyakit jantung bawaan dengan usia dan jenis kelamin yang

Universitas Sumatera Utara


sama dengan kelompok anak penderita penyakit jantung bawaan dan

telah dilakukan echocardiografi.

4. Jenis penyakit jantung bawaan dapat diklasifikasikan menjadi dua

kelompok, yakni PJB asianotik dan sianotik.4,5 Pada penelitian ini

diagnosis ditegakkan setelah dilakukan echocardiografi.

5. Asupan makanan adalah asupan energi, zat gizi, cairan, substansi

bioaktif dari makanan baik yang melalui oral maupun parenteral dan

enteral.17 Asupan makanan yang dinilai pada penelitian ini adalah energi

dan protein yang sesuai dengan angka kecukupan gizi bagi orang

Indonesia tahun 2012.

6. Kecukupan asupan energi dan protein dinilai dari rata-rata food recall

selama 3 hari dengan food model dan menggunakan Nutrisurvey 2007

untuk menghitung jumlah kalori, energi dan protein. Asupan energi dan

protein rata-rata cukup bila ≥ 80% dari kebutuhan dan asupan makanan

rata-rata tidak cukup bila < 80% dari kebutuhan.

7. Status gizi adalah keadaan gizi individu pada saat dilakukan penilaian,

yang diperoleh dari pemeriksaan fisik, antropometrik, dan data

laboratorium. Pada studi ini status gizi dinilai dengan menggunakan

perbandingan berat badan/ panjang badan atau tinggi badan (BB/PB atau

BB/TB). Nilai yang didapat diplotkan dengan grafik WHO 2006. Obesitas

bila BB/PB >+3SD, gizi lebih bila BB/TB >+2SD+3, normal bila BB/TB -

Universitas Sumatera Utara


2 SD +2, gizi kurang bila BB/TB <-2 SD -3 dan gizi buruk bila BB/TB <-3

SD.

8. Usia adalah lama waktu hidup anak PJB yang dihitung berdasarkan

tahun sejak pasien lahir sampai saat dilakukan wawancara. Pada studi ini

pembagian usia menurut kebutuhan energi dan protein berdasarkan

AKG yaitu usia 0-6 bulan, 7-12 bulan, 1-3 tahun dan 4-6 tahun.

9. Lama sakit adalah lama waktu anak sejak menderita gejala dan telah

diketahui menderita penyakit jantung bawaan sampai dilakukan

wawancara.

10. Kelainan bawaan adalah penyimpangan dari bentuk umum karena

gangguan perkembangan dari lahir.

11. Penyakit keganasan adalah suatu penyakit yang disebabkan

pertumbuhan sel-sel tubuh yang tidak normal dan tidak terkendali

sehingga dapat merusak sel atau jaringan yang sehat.

12. Penyakit kronis adalah penyakit yang membutuhkan waktu yang cukup

lama, tidak terjadi secara tiba-tiba atau spontan.

13. Nutrisurvey 2007 adalah perangkat lunak yang digunakan untuk

menghitung asupan makanan seseorang yang disesuaikan dengan nilai

AKG tahun 2012.

14. Food Model adalah alat peraga bahan makanan yang sesuai dengan

ukuran rumah tangga.

Universitas Sumatera Utara


3.11. Pengolahan dan Analisis Data

Data yang terkumpul diolah, dianalisis, dan disajikan dengan menggunakan

SPSS. Analisis data untuk menilai hubungan antara penyakit jantung bawaan

dan kecukupan asupan energi dan protein digunakan uji chi square. Untuk

menilai faktor-faktor yang mempengaruhi asupan energi dan protein pada

penderita PJB digunakan uji bivariat yang selanjutnya dilakukan analisis

multivariat. Tingkat kemaknaan bila P<0.05 dan tingkat kepercayaan dengan

Interval kepercayaan 95%.

Universitas Sumatera Utara


BAB 4. HASIL PENELITIAN

Penelitian dilakukan di Poliklinik Divisi Kardiologi anak RSUP Haji Adam

Malik Medan pada bulan Mei sampai Juli 2015. Dilakukan penelitian pada 80

pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi partisipan dibagi menjadi

dua kelompok yaitu 40 pasien PJB dan 40 pasien tanpa PJB yang masing –

masing kelompok dilakukan pemeriksaan berat badan dan panjang

badan/tinggi badan serta dilakukan anamnesis makanan melalui food recall

selama 3 hari dengan bantuan food model.

Distribusi dan karakteristik sampel pada kedua kelompok penelitian

terlihat pada tabel 4.1. Besar sampel pada kedua kelompok sama masing-

masing 40 orang, dengan jenis kelamin laki – laki lebih banyak dibandingkan

perempuan baik pada PJB maupun tanpa PJB dengan usia lebih sering

dijumpai pada rentang usia 1 – 3 tahun. Terlihat pasien PJB lebih banyak

menderita gizi kurang dan gizi buruk. Gizi kurang pada PJB terdapat 13 anak

sedangkan tanpa PJB 7 anak dengan gizi buruk sebanyak 14 anak pada PJB

dan 1 anak pada tanpa PJB. Asupan energi tidak cukup lebih sering pada

anak PJB 31 anak dibandingkan pada anak tanpa PJB 17 anak. Asupan

protein tidak cukup lebih sering pada PJB 28 anak dibandingkan pada tanpa

PJB 8 anak. Terlihat anak PJB lebih banyak dengan pendapatan orang tua

lebih dari 3 juta per bulan dibandingkan anak tanpa PJB.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.1 Karakteristik sampel penelitian

Karakteristik PJB (n= 40) Tanpa PJB (n = 40)

Jenis kelamin, n
Laki-laki 22 22
Perempuan 18 18
Usia, n
0 - 6 bulan 5 5
7 - 12 bulan 5 5
1 - 3 tahun 23 23
4 - 6 tahun 7 7
Pendidikan Orangtua, n
SD 6 5
SMP 4 3
SMA 21 21
S1 9 11
Pekerjaan Orangtua, n
Petani 1 0
Wiraswasta 24 21
PNS 2 7
Lain – lain 13 12
Pendapatan Orangtua, n
500 ribu – 1 juta 4 5
1 juta – 3 juta 24 26
> 3 juta 12 9
Status Gizi, n
Normal 13 32
Gizi kurang 13 7
Gizi buruk 14 1
Asupan energi, n
Cukup 9 23
Tidak cukup 31 17
Asupan protein, n
Cukup 12 32
Tidak cukup 28 8

Universitas Sumatera Utara


Tabel 4.2 Jenis PJB dan lama sakit

Jenis PJB dan lama sakit n

PJB
Sianotik
TF dengan SP ringan 0
TF dengan SP sedang 2
TF dengan SP berat 10
Total 12

Asianotik
DSV kecil 2
DSV sedang 0
DSV besar 5
DSA kecil 3
DSA sedang 5
DSA besar 2
DAP kecil 4
DAP sedang 5
DAP besar 2
Total 28

Lama Sakit
< 1 tahun 38
> 1 tahun 2

Jenis dan lama menderita PJB terlihat pada tabel 4.2. Jenis PJB lebih banyak

dijumpai asianotik yaitu 28 anak dan lama sakit lebih sering dijumpai pada

anak dengan lama sakit < 1 tahun yaitu 38 anak.

Tabel 4.3 Hubungan status penyakit jantung dengan asupan energi

Asupan energi
Status Penyakit Jantung P RP IK 95%
Cukup Tidak cukup
PJB 9 31 0.001* 1.824 1.226 2.713
Tanpa PJB 23 17

*Chi square

Universitas Sumatera Utara


Dari hasil perhitungan asupan makanan berdasarkan AKG

memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit

jantung bawaan dengan asupan energi dengan P < 0.05, dapat dilihat pada

tabel 4.3. Pada PJB didapati lebih banyak asupan energi tidak cukup yaitu

31 anak sedangkan pada tanpa PJB dijumpai 17 anak dengan asupan energi

tidak cukup. Risiko terjadinya asupan energi tidak cukup pada PJB adalah

1.824 kali dengan 95% IK 1.226 - 2.713 dibandingkan anak tanpa PJB.

Tabel 4.4 Hubungan status penyakit jantung dengan asupan protein

Asupan protein
Status Penyakit Jantung P RP IK 95%
Cukup Tidak cukup

PJB 12 28 0.001* 3.500 1.823 6.719


Tanpa PJB 32 8

*Chi square

Dari hasil perhitungan asupan makanan berdasarkan AKG memperlihatkan

bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit jantung bawaan

dengan asupan protein dengan P < 0.05, terlihat pada tabel 4.4. Pada PJB

didapati lebih banyak asupan protein tidak cukup yaitu 28 anak sedangkan

pada tanpa PJB dijumpai 8 anak asupan protein tidak cukup. Risiko

Universitas Sumatera Utara


terjadinya asupan protein tidak cukup pada PJB adalah 3.5 kali dengan 95%

IK 1.823-6.719 dibandingkan anak tanpa PJB.

Tabel.4.5 Analisis bivariat pengaruh usia, jenis PJB, lama sakit,


status gizi dan derajat defek terhadap asupan energi dan protein pada anak
PJB

Asupan energi Asupan protein


Variabel P P
Cukup Tidak cukup Cukup Tidak cukup

Usia
0 – 6 bulan 1 4 0.794 1 4 0.417
7-12 bulan 3 2 0.120 2 3 0.921
1-3 tahun 4 19 0.847 6 17 0.402
4-6 tahun 1 6 3 4
Jenis PJB
Sianotik 2 10 0.697 5 7 0.453
Asianotik 7 21 7 21
Lama sakit
< 1 tahun 9 29 1.000 11 27 0.515
> 1 tahun 0 2 1 1
Status gizi
Normal 7 6 0.998 5 8 0.338
Gizi kurang 2 11 0.999 4 9 0.582
Gizi buruk 0 14 3 11
Derajat defek
Kecil 3 6 0.702 1 8 0.285
Sedang 1 11 0.261 4 8 0.842
Besar 5 14 7 12

Dari hasil analisis bivariat tidak dijumpai hubungan antara usia, jenis
PJB, lama sakit, status gizi dan derajat defek dengan asupan energi dan
protein terlihat nilai P > 0.25 pada anak PJB, sehingga tidak dilakukan
analisis multivariat.

Universitas Sumatera Utara


BAB 5. PEMBAHASAN

Anak dengan PJB memiliki prevalensi yang tinggi mengalami kesulitan

makan dan gangguan gizi.33 Prevalensi gangguan gizi akut pada anak yang

dirawat di rumah sakit masih diperkirakan tinggi, tetapi data mengenai status

gizi saat masuk rumah sakit masih sangat jarang.36 Data dari negara

berkembang memperlihatkan prevalensi gangguan gizi penderita dengan PJB

sebelum dioperasi mencapai 45%.43 Studi yang dilakukan di Jakarta

memperlihatkan prevalensi kurang gizi 51.1% dan malnutrisi berat 22.3%

pada anak PJB, dengan prevalensi gagal tumbuh lebih tinggi daripada

masalah gangguan gizi.10 Gangguan gizi pada anak dengan PJB disebabkan

oleh banyak faktor dan timbul dikarenakan kebutuhan dan kehilangan energi

lebih besar daripada asupan makanan.7 Etiologi dari gangguan gizi pada

anak dengan PJB secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori:

asupan makanan yang tidak cukup adekuat, penyerapan dan pemanfaatan

tidak efisien, serta kebutuhan energi yang meningkat.12,16

Penelitian ini mengenai asupan energi dan protein pada anak usia 0

sampai 5 tahun dengan PJB dan tanpa PJB mendapatkan bahwa

karakteristik anak yang menderita PJB lebih sering pada anak usia 1 sampai

3 tahun, hal ini sama dengan penelitian di Nigeria terhadap anak usia

prasekolah, usia 2 sampai 5 tahun yang didapatkan bahwa asupan makanan

Universitas Sumatera Utara


berupa energi dan protein tidak adekuat dan berada di bawah level yang

direkomendasikan.44 Penelitian lain di Brazil menggunakan anak usia 0

sampai 24 bulan untuk menilai asupan makanan pada anak PJB.12 Dan juga

penelitian di Turki yang menggunakan anak PJB usia 1 sampai 45 bulan.45

Penelitian ini mendapatkan bahwa anak dengan PJB asianotik lebih

banyak daripada PJB sianotik. Terlihat pasien PJB lebih banyak menderita

gizi kurang dan gizi buruk. Asupan energi dan protein tidak cukup lebih sering

pada anak PJB dibandingkan pada anak tanpa PJB. Hasil penelitian kami

sama dengan penelitian di Brazil yang mendapatkan bahwa PJB asianotik

lebih banyak dari PJB sianotik dengan asupan kalori rata-rata berada

dibawah rekomendasi yang dianjurkan, penelitian di Swedia mengenai

asupan makanan pada anak dengan PJB dan tanpa PJB dengan usia 6

sampai 12 bulan didapatkan asupan energi kurang dari AKG tetapi asupan

protein lebih besar dari AKG, dan penelitian di Turki pada anak PJB

didapatkan bahwa pasien PJB memiliki kecenderungan untuk mengalami

gangguan gizi dan gagal tumbuh. 12,45,46

Dari penelitian ini terlihat anak tanpa PJB lebih banyak dengan asupan

energi dan protein cukup. Hal ini sama dengan penelitian di Australia pada

anak sehat usia 1 sampai 5 tahun didapati bahwa asupan energi dan protein

cukup adekuat.47

Penelitian ini mendapatkan bahwa asupan makanan pada anak PJB

dan tanpa PJB terlihat asupan energi berada dibawah anjuran AKG yang

Universitas Sumatera Utara


secara statistik menunjukkan hubungan signifikan antara PJB dan asupan

energi, dan juga asupan protein dijumpai tidak cukup berada dibawah AKG

pada anak dengan PJB yang secara statistik menunjukkan hubungan

signifikan antara PJB dengan asupan protein. Hal ini sama dengan hasil

penelitian di Brazil yang mendapatkan bahwa anak dengan PJB memiliki

asupan makanan yang tidak adekuat dan secara statistik didapatkan

hubungan yang signifikan dengan asupan kalori rata-rata yang rendah.12

Sama dengan penelitian lain di Swedia yang melaporkan bahwa pada anak

PJB didapatkan asupan energi tidak cukup atau berada dibawah nilai yang

direkomendasikan untuk kebutuhan anak PJB, tetapi berbeda untuk asupan

protein dimana asupan protein berada diatas nilai AKG, dengan asupan

energi dan protein pada anak PJB lebih tinggi dibandingkan anak sehat tapi

tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik.46

Penelitian ini dengan menggunakan food recall 24 jam selama 3 hari

untuk menilai asupan energi dan protein berdasarkan AKG mendapatkan

bahwa 31 anak dengan asupan energi tidak cukup dan 28 anak asupan

protein tidak cukup sesuai AKG. Hal ini berbeda dengan penelitian

sebelumnya mengenai asupan energi dan protein pada anak dengan

penyakit jantung bawaan usia 6 sampai 57 bulan di Semarang, didapatkan

asupan energi dan protein yang dihitung dari food recall satu kali dalam 24

jam didapati lebih dari 50% anak PJB memenuhi asupan energi dan protein

sesuai RDA.48

Universitas Sumatera Utara


Penelitian ini mendapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara

jenis PJB dengan asupan makanan baik energi maupun protein. Hal ini sama

dengan yang didapatkan pada penelitian di Brazil yang menilai asupan

makanan pada anak dengan PJB didapati bahwa tidak terdapat hubungan

antara jenis PJB, sianotik dan asianotik dengan asupan makanan.12

Penelitian ini memperlihatkan bahwa asupan energi dan protein

didapati tidak cukup pada anak PJB dengan lama sakit < 1 tahun, tetapi tidak

terdapat hubungan yang signifikan antara lama sakit dengan kecukupan

asupan makanan. Hal ini sama dengan penelitian di Austria pada anak PJB

yang sudah diketahui menderita PJB sejak usia 1 bulan hingga 1 tahun

didapati asupan makanan yang rendah tapi tingkat asupan makanan yang

rendah bukanlah penyebab utama gangguan pertumbuhan pada anak

dengan PJB.49

Penelitian ini mendapatkan walaupun 25 anak mengalami gangguan

gizi dengan asupan energi tidak cukup dan 20 anak mengalami gangguan

gizi dengan asupan protein tidak cukup, namun tidak didapati hubungan

antara status gizi dengan asupan energi dan protein. Hal ini berlawanan

dengan penelitian di Mesir yang mendapatkan adanya hubungan antara

gangguan gizi dengan asupan makanan yang rendah pada anak PJB.50

Penelitian ini mendapatkan bahwa DSV besar lebih banyak

dibandingkan dengan DSV kecil dan DSV sedang serta tidak ada hubungan

antara derajat defek baik pada PJB sianotik maupun asianotik dengan

Universitas Sumatera Utara


asupan energi dan protein, tetapi didapatkan bahwa asupan energi dan

protein tidak cukup lebih sering ditemukan pada pasien dengan derajat defek

yang besar. Hal ini sama dengan penelitian di Turki yang melaporkan bahwa

anak dengan PJB sianotik dan asianotik baik disertai dengan hipertensi

pulmonal ataupun tanpa hipertensi pulmonal didapatkan 49 % dari semua

pasien memiliki asupan makanan yang tidak cukup. Terdapat perbedaan

signifikan pada anak dengan hipertensi pulmonal mengenai asupan makanan

yang tidak cukup sesuai usia dibandingkan kelompok lain karena keparahan

lesi atau derajat defek.45 Berbeda dengan penelitian di Jakarta yang

melaporkan pasien DSV dengan ukuran DSV besar lebih sedikit

dibandingkan dengan defek kecil dan sedang. Anak yang menderita DSV

sering mengalami gangguan gizi.51

Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan antara lain desain

cross sectional yang menilai hubungan dalam satu waktu sehingga tidak

dapat melihat suatu hubungan sebab akibat dalam jangka waktu yang lama

dan jumlah sampel yang sedikit. Untuk menilai asupan makanan dapat

dilakukan melalui anamnesis secara kualitatif dengan food frequency dan

secara kuantitatif dengan food recall, pada penelitian ini anamnesis makanan

dilakukan dengan metode food recall 24 jam selama 3 hari yang sangat

tergantung pada ingatan jangka panjang orangtua sehingga bisa saja terjadi

bias.

Universitas Sumatera Utara


BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

Terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit jantung bawaan dengan

kecukupan asupan energi dan protein. Tidak terdapat pengaruh usia, jenis

PJB, lama sakit, status gizi dan derajat defek terhadap asupan energi dan

protein pada anak PJB.

6.2 SARAN

Perlu dilakukan pemberian asupan energi dan protein yang cukup pada anak

PJB dengan memberikan diet tambahan berupa suplementasi makanan,

seperti pemberian makanan selingan yang tinggi kalori yang dapat berupa

sereal bayi dengan fortifikasi besi, biskuit, dan lain-lain. Dukungan gizi yang

optimal harus dipertimbangkan sebagai bagian dari asuhan gizi pada anak

dengan PJB. Asupan makanan yang adekuat harus memenuhi energi dan

protein yang cukup. Hal ini sangat dibutuhkan tidak hanya untuk mencegah

kerusakan atau katabolisme protein tetapi juga untuk mengembalikan defisit

dan terhadap pertumbuhan potensi genetik.

Universitas Sumatera Utara


RINGKASAN

Gizi berperan penting dalam memberikan kecukupan energi yang berguna

bagi pertumbuhan dan metabolisme tubuh. Anak dengan PJB sering disertai

dengan gangguan gizi dan gagal tumbuh sehingga dibutuhkan dukungan gizi

yang optimal. Beberapa penelitian sebelumnya melaporkan bahwa prevalensi

gangguan gizi anak dengan PJB lebih tinggi dibandingkan anak sehat tanpa

PJB. Banyak faktor penyebab gangguan gizi pada PJB dan timbul

dikarenakan salah satu akibat dari kebutuhan dan kehilangan energi lebih

besar daripada asupan makanan. Penelitian sebelumnya juga mendapatkan

asupan makanan sering rendah pada anak dengan penyakit jantung bawaan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penyakit

jantung bawaan dengan kecukupan asupan energi dan protein serta faktor-

faktor yang mempengaruhi asupan energi dan protein, antara lain jenis

penyakit jantung bawaan, usia, lama sakit, status gizi dan derajat defek pada

anak PJB.

Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan di

Poliklinik rawat jalan Kardiologi Anak RSUP Haji Adam Malik Medan.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2015. Kriteria inklusi

adalah Anak umur 0 sampai 5 tahun yang menderita penyakit jantung

bawaan dan tanpa penyakit jantung bawaan yang telah dilakukan

echocardiografi. Anak dieksklusikan bila mempunyai kelainan bawaan lain,

Universitas Sumatera Utara


penyakit keganasan serta penyakit kronis, dijumpai edema dan asites serta

telah menjalani operasi koreksi. Asupan energi dan protein dihitung

berdasarkan makanan yang dikonsumsi selama tiga hari dan kecukupan

energi dan protein dihitung menggunakan program Nutrisurvey.

Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat

hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan kecukupan asupan energi

dan protein. Tidak terdapat pengaruh usia, jenis PJB, lama sakit, status gizi

dan derajat defek terhadap asupan energi dan protein pada anak PJB.

Universitas Sumatera Utara


SUMMARY

Nutrition is fundamental for ensuring adequate energy for basal metabolism,

growth, and physical activity. Infants and children with congenital heart

disease (CHD) are at significant risk for malnutrition and failure to thrive

therefore they are need the optimal nutritional support. Several studies

reported the prevalence of malnutrition in children with congenital heart

disease is higher than children without congenital heart disease. Malnutrition

of children with CHD is multifactorial and appears when the need for, and

losses of, energy and nutrients are greater than the food intake. Previous

study reported that children with CHD were often associated with inadequate

food intake.

The purpose of this study is to determine the association between

congenital heart disease and energy and protein intake especially and to

determine the factors that influence energy and protein intake with age, type

of CHD, duration of illness, nutritional status, and severity of cardiac defects

in CHD.

A cross-sectional study was conducted in Pediatric Cardiology

Outpatient Clinic Adam Malik General Hospital Medan on May to July 2015. It

included 40 children aging from 0 to 5 years with and without CHD and

echocardiography was performed. Patient with other congenital malformation,

malignancy, chronic disease, edema, ascites and post corrective intervention

Universitas Sumatera Utara


were excluded. The intake of energy and protein was calculated based on the

food consumed during three days and the energy and protein were calculated

using Nutrisurvey software.

In conclusion, this study shows that there was a significant

association between congenital heart disease and intake of energy and

protein. There were no association of energy and protein intake with age, type

of CHD, duration of illness, nutritional status and severity of the cardiac defect

in CHD.

Universitas Sumatera Utara


Daftar pustaka
1. Clarke E, Kumar MR. Evaluation of suspected congenital heart disease in
the neonatal period. J.Cupe. 2005; 15:523–31
2. Centers for Disease Control and Prevention MMWR. Racial differences by
gestational age in neonatal deaths attributable to congenital heart defects-
United States, 2003-2006. 2010; 59:1208-11
3. Dolk H, Loane M, Garne E. Congenital heart defects in Europe:
prevalence and perinatal mortality, 2000 to 2005. Circ J. 2011; 123:841-49
4. Bernstein D. Epidemiology and genetic basis of congenital heart disease.
Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, Stanton BF, penyunting.
Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-19. Philadelphia: Saunders; 2011.
h.1549-610
5. Nousi D, Christou A. Factors affecting the quality of life in children with
congenital heart disease. Health Science Journal. 2010; 4(2):94-100
6. Benzecry SG, Leite HP, Oliveira FC, Santana e Meneses JF, Carvalho
WB, Silva CM. Interdisciplinary approach improves nutritional status of
children with heart diseases. J.Nut. 2008; 669–74
7. Hagau N, Culcitchi C. Nutritional support in children with congenital heart
disease. Nutr Ther Metab. 2010; 28:172-84
8. Toole BJ, Toole LE, Kyle UG, Cabrera AG, Orellana RA, Coss-Bu JA.
Perioperative nutritional support and malnutrition in infants and children
with congenital heart disease. Congenit Heart Dis. 2014;15-25
9. Okoromah CAN, Ekure EN, Esi FEAL, Okunowo WO, Tijani BO, Okeiyi
JC. Prevalence, profile and predictors of malnutrition in children with
congenital heart defects; a case - control observational study. Arch Dis
Child. 2011; 96:354-60
10. Sjarif DR, Anggiawan SL, Putra ST, Djer MM. Anthropometric profiles of
children with congenital heart disease. Med J Indones. 2011; 20:40-5
11. Kohr LM, Braudis NJ. Growth and nutrition. Dalam: Anderson RH, Baker
EJ, Penny D, Redington AN, Rigby ML, Wernovsky G, penyunting.
Pediatric cardiology. Edisi ke-3. Philadelphia: Churchill Livingstone; 2010.
h.1285-98
12. Vieira TCL, Trigo M, Alonso RR, Ribeiro RHC, Cardoso MRA, Cardoso
ACA, et al. Assesment of food intake in infants between 0 and 24 months
with congenital heart disease. Arq Bras Cardiol. 2007; 89:197-202
13. Steltzer M. Heart disease. Dalam: Koletzko B, penyunting. Pediatric
nutrition in practice. Basel: Karger; 2008.h.229-33
14. Goodwin MA, James N, Latif LA. Nutrition interventions for congenital
heart disease. Dalam: Yang Y, Lucas B, Feucht S, penyunting. Nutrition
intervention for children with special health Care. Washington: Washington
State Department of Health; 2010. h.203-13
15. Bernstein D. Evaluation of the infant or child with congenital heart disease.
Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, Stanton BF, penyunting.

Universitas Sumatera Utara


Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-19. Philadelphia: Saunders; 2011.
h.1549-610
16. Roman B. Nourishing little hearts: nutritional implications for congenital
heart defects. Dalam: Parrish CR, penyunting. Nutrition issues in
gastroenterology. Virginia: Practical Gastroenterology; 2011. h.11-34
17. Asosiasi Dietesien Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Persatuan
Ahli Gizi Indonesia. Proses asuhan gizi terstandar. Dalam: Nasar SS,
Djoko S, Hartati SB, Budiwiarti YE, penyunting. Penuntun diet anak. Edisi
ketiga. Jakarta; Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2014. h.43-53
18. Burrows TL, Martin RJ, Collins CE. A systematic review of the validity of
dietary assessment methods in children when compared with the method
of doubly labelled water. J Am Diet Assoc. 2010; 110:1501-10
19. Nydegger A, Bines JE. Energy metabolism in infants with congenital heart
disease. Nutrition. 2006; 22:697-704
20. Barasi ME. Nutrisi untuk bayi dan anak prasekolah. Dalam: Safitri A,
Astikawati R, penyunting. At a glance ilmu gizi. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2009.h.82-3
21. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Angka kecukupan gizi yang
dianjurkan bagi bangsa Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia nomor 75 tahun 2013
22. Hartono A. Penghitungan kebutuhan nutrient. Dalam: Ester M, penyunting.
Terapi gizi dan diet rumah sakit. Edisi kedua. Jakarta: EGC;2013.h.107-20
23. Cooper BM, Irving SY. Innovative strategies for feeding and nutrition in
infants with congenitally malformed hearts. Cardiology Young. 2009;
19:90-5
24. Cape Town Metropole Paediatric Interest Group. Nutrition in congenital
heart disease. Dalam: Cape Town Metropole Paediatric Working Group,
penyunting. Clinical Guidelines CHD. Cape Town: Christian Bernard
Memorial Hospital; 2009.h.1-35
25. Waitzberg DL, Plopper C, Terra RM. Acces route for nutritional therapy.
World J Surg. 2000; 24:1468-7
26. Cooper A, Heird WC. Nutritional management of infants and children with
specific diseases or other conditions. Dalam: Shils ME, Shike M, Ross AC,
Caballero B, Cousins RJ, penyunting. Modern nutrition in health and
disease. Philladelphia: Lippincot Williams & Wilkins; 2005. h.991-1003
27. Jadcherla Sr, Vijayapal AS, Leuthner S. Feeding abilities in neonates with
congenital heart disease: a retrospective study. Journal of Perinatology.
2009; 29:112-8
28. Clemente C, Barnes J, Shinebourne E, Stein A. Are infant behavioural
feeding difficulties associated with congenital heart disease?. Child: Care,
Health and Development. 2001; 27:47-59

Universitas Sumatera Utara


29. Greer FR, Bhatia JJS, Daniels SR, Schneider MB, Silverstein J, Thomas
W, et al. Cardiac disease. Dalam: American Academy of Pediatrics,
Committee on nutrition, penyunting. Pediatric nutrition handbook. Elk
gove,IL: American Academy of Pediatrics; 2009. h.981-99
30. Hopkins D. The Cardiothoracic system. Dalam: Shaw V, Lawson M,
penyunting. Clinical pediatric dietetics. Edisi ke-3. Singapore: COS
Printers Pte,Ltd; 2007. h.239-58
31. Soeroso S, Sastrosoebroto H. Penyakit jantung bawaan nonsianotik.
Dalam: Sastroasmoro S, Madiyono B, penyunting. Buku ajar kardiologi
anak. Binarupa Aksara; 1994. h.191-233
32. Prasodo AM. Penyakit Jantung bawaan sianotik. Dalam: Sastroasmoro S,
Madiyono B, penyunting. Buku ajar kardiologi anak. Binarupa Aksara;
1994. h.234-78
33. Pierre AS, Khattra P, Johnson M, Cender L, Manzano S, Holsti L. Content
validation of the infant malnutrition and feeding checklist for congenital
heart disease: a tool to identify risk of malnutrition and feeding difficulties
in infants with congenital heart disease. Journal of Pediatric Nursing.
2010; 25:367-74
34. Lochs H, Allison SP, Meier R, Pirlich M, Kondrup J, St. Scneider, et al.
Introductory to the ESPEN guidelines on Enteral Nutrition: terminology,
definitions and general topics. Clin Nutr. 2006; 25:180-6
35. World Food Progamme. Defining and measuring malnutrition. Dalam: A
manual: measuring and interpreting malnutrition and mortality. Roma :
CDC dan WFP; 2005. h.15-22
36. Joeston KFM, Hulst JM. Prevalence of malnutrition in pediatric hospital
patients. Curr Opin Pediatr. 2008; 20:590-6
37. Braegger C, Decsi T, Dias JA, Hartman C, Kolacek S, Koletzko B, et al.
Practical approach to pediatric enteral nutrition a comment by EPSGHAN
Committee on Nutrition. JPGN. 2010; 51:110-21
38. Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik. Rekomendasi
asuhan nutrisi pediatrik. Dalam: Sjarif DR, Nasar SS, Devaera Y,
Tanjung C, penyunting. Buku asuhan nutrisi pediatrik. Jakarta: Ikatan
Dokter Anak Indonesia, 2011. h.1-13
39. Waterlow JC. Note on the assessment and classification of protein-energy
malnutrition in children. Lancet. 1973; 2(7769):146-7
40. World Health Organization. World Health Organization (WHO) growth
standards. 2006
41. Kuczmarsky RJ, Oghen CL, Grummer strown LM, Flegal KN, Mei Z, et al.
2000 CDC Growth charts for the United States: Methods and
developmental. National Center for Health Statistcs. Vital and
HealthStatistic. 2002; 11(246): 1-27

Universitas Sumatera Utara


42. Erhard D, Gross R. Nutrition surveys and calculations, guidelines,
software and additional Information. Diunduh dari :
http://www.nutrisurvey.de Diakses 20 Juni 2015
43. Vaidyanathan B, Roth SJ, Gauvreau K, Shivaprakasha K, Rao SG, Kumar
RK. Somatic growth after ventricular septal defect in malnourished infants.
J Pediatr. 2006;149:205-9.
44. Okoreigwe, Chizoba F, Okeke, Chinwe E. Nutritional status of preschool
children aged 2-5 years in Aguata L G A of Anambra State, Nigeria. Int J
Nutr Metab. 2009; 1:009-013
45. Varan B, Tokel K, Yilmaz G. Malnutrition and gowth failure in cyanotic and
acyanotic congenital heart disease with and without pulmonary
hypertension. Arch Dis Child. 1999; 81:49-52
46. Hansson L, Ohlund I, Lind T, Blicks Stecksen C, Rydberg A. Dietary intake
in infants with complex congenital heart disease : a case control study on
macro and micronutrient intake, meal frequency and growth. J Hum Nutr
Diet. 2014; 1-8
47. Zhou SJ, Gibson RA, Gibson RS, Makrides M. Nutrient intakes and status
of preschool children in Adelaide, South Australia. MJA. 2012; 196:697-
700
48. Wisnuwardhana M. Manfaat pemberian diet tambahan terhadap
pertumbuhan pada anak dengan penyakit jantung bawaan asianotik.
[tesis]. Semarang: Universitas Diponegoro. 2006. h.43-57
49. Salzer HR, Haschke F, Wimmer M, Heil M, Schilling R. Growth and
nutritional intake of infants with congenital heart disease. Pediatric
Cadiology. 1998; 10:17-23
50. Hassan BA, Albanna EA, MorsySM, Siam AG, Alshafie MM, Elsaadany
HF. Nutritional status in children un-operated congenital heart disease: an
Egyptian center experience. Frontiers in Pediatrics. 2015; 3:1-5
51. Rahayuningsih SE. Hubungan antara defek septum ventrikel dan status
gizi. Sari Pediatri. 2011; 13:137-41

Universitas Sumatera Utara


1. Personil Penelitian
1. Ketua Penelitian
Nama : dr. Mardiati
Jabatan : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak
FK-USU/RSHAM
2. Anggota Penelitian
1. dr.Hj.Tiangsa Sembiring, M.Ked(Ped) SpA(K)
2. dr. H. Muhammad Ali, Sp.A(K)
3. dr. Tri faranita, M.Ked(Ped) Sp.A
4. dr. Winra Pratita ,M.Ked(Ped) Sp.A
5. dr. Sindy Atmaja
6. dr. Syilvia Jiero
7. dr. Johan Christian Silaen
8. dr. Tapi Endang Lubis

2. Biaya Penelitian
1. Fotokopi kuisioner dan informed consent : Rp. 1.500.000
2. Transportasi / Akomodasi : Rp. 1.000.000
3. Penyusunan / Penggandaan : Rp. 5.000.000
4. Pembuatan laporan penelitian : Rp. 3.000.000
5. Seminar hasil penelitian : Rp. 5.000.000
Jumlah : Rp.15.500.000

Universitas Sumatera Utara


3. Jadwal Penelitian

Kegiatan/ Maret 2015 Mei-Juli 2015 Juli-Agustus


Waktu 2015
Persiapan

Pelaksanaan

Penyusunan
Laporan
Pengiriman
Laporan

Universitas Sumatera Utara


4. Penjelasan dan Persetujuan Kepada Orang Tua

Kepada Yth Bapak / Ibu ................................................

Assalamualaikum WW, perkenalkan saya dr. Mardiati bertugas di Divisi


Nutrisi dan Penyakit metabolik Departemen Ilmu kesehatan Anak FK USU /
RSUP Haji Adam Malik Medan dan saat ini saya sedang melakukan
penelitian dengan judul “Hubungan antara penyakit jantung bawaan dengan
kecukupan asupan energi dan protein”
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
antara penyakit jantung bawaan dengan kecukupan asupan energi dan
protein serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sedangkan manfaat yang
kita harapkan dapat memberikan masukan mengenai adanya hubungan
antara penyakit jantung bawaan dan kecukupan asupan energi dan protein
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain yaitu jenis penyakit
jantung bawaan, usia, lama sakit, status gizi dan derajat defek. Dengan
mengetahui besarnya jumlah asupan energi dan protein, maka dapat
diperkirakan jumlah kekurangannya sehingga dapat dilakukan upaya untuk
mencukupi asupan energi dan protein sesuai kebutuhan anak tersebut.
Pada penelitian ini akan dilakukan pemeriksaan berat badan dan tinggi
badan untuk menentukan status gizinya. Setelah itu ditanyakan kepada
orangtua mengenai makanan yang dimakan anak selama 3 hari (di dalamnya
termasuk 1 hari libur) dan di hitung kalori rata-ratanya.
Bapak/Ibu bebas menolak ikut atau mengundurkan diri dalam
penelitian ini bila tidak ingin dilakukan pemeriksaan berat badan dan tinggi
badan terhadap anak serta bila tidak ingin ditanyakan mengenai asupan
makan anak. Semua data penelitian akan dijamin sepenuhnya dan akan
dirahasiakan, sehingga tidak memungkinkan orang lain mengetahui data
penderita. Semua biaya penelitian akan ditanggung oleh peneliti. Sebagai

Universitas Sumatera Utara


imbalan subjek akan diberikan souvenir berupa thermometer (alat pengukur
suhu tubuh).

Jika Bapak/Ibu bersedia, maka kami mengharapkan Bapak/Ibu


menandatangani lembar Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP). Bila ada
keterangan yang tidak jelas bapak/ibu bisa menghubungi saya di nomor
telepon 085275323605. Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Atas
perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Wassallam,

dr. Mardiati

Universitas Sumatera Utara


Persetujuan Setelah Penjelasan (PSP)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : .................................... Umur .............. tahun L / P
Alamat : .............................................................................................
dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan

PERSETUJUAN
untuk dilakukan penimbangan dan pengukuran berat badan terhadap anak
saya :
Nama : ....................................................Umur .............. tahun
Alamat Rumah : .............................................................................................

yang tujuan, sifat, dan perlunya pemeriksaan tersebut di atas, serta risiko
yang dapat ditimbulkannya telah cukup dijelaskan oleh dokter dan telah saya
mengerti sepenuhnya.
Demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan
tanpa paksaan.

…………….., ................................2015
Yang memberikan penjelasan Yang membuat pernyataan persetujuan

dr. Mardiati ……………………………………

Saksi-saksi Tanda tangan


1.............................................. ……………………………………
2.............................................. ……………………………………

Universitas Sumatera Utara


LEMBARAN KUISIONER

No urut :

Tanggal :

Pewawancara :

Nama : ..................................................................

Jenis kelamin : Lk / Pr

Tempat/Tanggal lahir :....................................................................

Tinggi/Berat Badan : ..................................................................

Alamat lengkap :...................................................................

Telp : ...................................................................

Anak ke...............dari.............bersaudara

Identitas Orang tua Ayah Ibu

Nama : ................................... .................................

Tanggal lahir : .................................... .................................

Suku Bangsa : .................................... .................................

Penyakit (bila ada) :..................................... ..................................

Pekerjaan orang tua

( ) Petani

( ) Wiraswasta

( ) Pegawai negeri

( ) Lain-lain …………….

Universitas Sumatera Utara


Penghasilan orang tua : Rp…………………/bulan

Tingkat pendidikan orang tua AYAH IBU

( ) ( ) Tidak sekolah

( ) ( ) Sekolah dasar

( ) ( ) SMP

( ) ( ) SMA

( ) ( ) Perguruan Tinggi

Telah dilakukan echocardiografi pada tanggal: ………………………… dengan

kesimpulan : ………………………………………………………………………….

Lama sakit : …………………………………………………………………………..

Universitas Sumatera Utara


Food Recall 24 Jam
(Konsumsi makanan anak)

Nama : JK: Umur:


Nama Ortu :
Alamat :
Pekerjaaan :

URT(Ukuran
Bahan
No Waktu Menu rumah Berat Ket
makanan
tangga)
Pagi :..............

Snack Jam
10.00

Siang

Snack jam
16.00

Sore/Malam

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara
Lampiran 7
Riwayat Hidup
Nama lengkap : Mardiati
Tanggal lahir : 14 september 1981
Tempat lahir : Cunda
Alamat : Jl. Coklat 1 No.13 Perumnas Simalingkar
Nama suami : Amir Fauzi

Pendidikan
1. Sekolah Dasar di SD Negeri 5 Cunda, Lhokseumawe, tamat tahun
1994
2. Sekolah Menengah Pertama SLTP Negeri 1 Lhokseumawe, tamat
tahun 1997
3. Sekolah Menengah Atas di SMU Negeri 1 Lhokseumawe, tamat tahun
2000
4. Fakultas Kedokteran USU Medan, tamat tahun 2005
Riwayat Pekerjaan
1. Dokter PTT Puskesmas Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, tahun
2006-2008
2. Dokter Transit House KBRI Riyadh, Saudi Arabia, Tahun 2009-2010
3. Dokter PNS, Kabupaten Aceh Utara, Tahun 2010-sekarang

Pendidikan Spesialis
1. Adaptasi di BIKA FK USU : 01-06-2011 s/d 30-06-2011
2. Pendidikan Tahap I : 01-07-2011 s/d 30-06-2012
3. Pendidikan Tahap II : 01-07-2012 s/d 30-06-2013
4. Pendidikan Tahap III : 01-07-2013 s/d 30-06-2014
5. Pendidikan Tahap IV : 01-07-2014 s/d 30-06-2015
6. Tesis : 25 Agustus 2015

Universitas Sumatera Utara