Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Promosi kesehatan

Perbandingan pengaruh promosi kesehatan menggunakan media audio dengan media


audio-visual terhadap perilaku kesehatan gigi dan mulut siswa SD

Pada penelitian ini didapatkan responden berjenis kelamin laki-laki pada kelompok
audio-visual (57%). Demikian pula pada kelompok audio, responden berjenis kelamin laki-
laki (54%). Berdasarkan usia, responden berusia 12 tahun yang terbanyak baik pada
kelompok audio (32%) maupun kelompok audio-visual (36%). Siswa SD Inpres Tiwoho
masih memiliki perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut yang kurang baik.
peningkatan dari pretest ke posttest pada kelompok audio-visual yang menunjukkan bahwa
promosi kesehatan gigi dan mulut menggunakan media audio-visual memiliki kemampuan
dalam memperbaiki perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut (kategori baik menjadi
71%). Berdasarkan uji paired T-test pada kelompok audio-visual didapatkan hasil terjadi
perubahan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan nilai rerata 42,14 sebelum
dilakukan promosi kesehatan gigi dan mulut, dan 46,64 setelah dilakukan promosi kesehatan
gigi dan mulut (p=0,000 <0,05). Hasil uji paired T-test pada kelompok audio juga terjadi
perubahan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan nilai rerata 41,93 sebelum
dilakukan promosi kesehatan gigi dan mulut, dan 42,68 setelah dilakukan promosi kesehatan
gigi dan mulut (p=0,297). Jika dilihat dari nilai rerata kedua kelompok maka dapat dikatakan
kelompok audio-visual memiliki nilai yang lebih baik dari pada kelompok audio. peneliti
berpendapat bahwa pemberian promosi kesehatan gigi dan mulut menggunakan media audio-
visual lebih baik dalam meningkatkan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak
dibandingkan menggunakan media audio. Hal ini dikarenakan media audio-visual memiliki
kelebihan yaitu dapat menstimulasi efek gerak sehingga terlihat lebih menarik dan lebih
mudah merangsang pemahaman siswa. Media audio-visual dapat membuat anak melihat dan
mendengar secara bersamaan materi yang diberikan. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian oleh Andriany pada anak SDN 24 Banda Aceh mengenai perbandingan efektifitas
media penyuluhan poster dan kartun animasi terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut.
Teori Kurt Lewis juga menyatakan perubahan perilaku terjadi kerena adanya dorongan atau
stimuli berupa penyuluhan atau informasi. Stimulus yang baik diberikan terhadap organisme
maka semakin baik pula perubahan perilaku dari organisme tersebut. Stimulus yang baik
ialah stimulus yang dapat melibatkan banyak indra dari organisme karena semakin banyak
indra yang dipakai untuk menerima dan mengelola stimulus tersebut semakin besar
kemungkinan informasi itu dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan. Penyuluhan
menggunakan media audio-visual membuat penerima penyuluhan menggunakan lebih banyak
indra dibandingkan dengan penyuluhan yang hanya menggunakan media audio, Media audio-
visual mendorong penerimanya untuk menggunakan indra pendengar dan indra pengelihatan
agar informasi dapat diterima dengan baik.
Jurnal Sistem Informasi Kesehatan
Perancangan Sistem Informasi Kesehatan (Puskesmas Keliling) Berbasis Web
Sistem, yaitu kumpulan dari elemen-elemen yang saling berinteraksi untuk
mencapai tujuan tertentu (pendapat ini lebih menekankan pada
komponen/elemennya sehingga cakupannya lebih luas). Sistem merupakan sebuah
objek yang dikaji atau dipelajari, dimana memiliki karakteristik tertentu atau
spesifikasi tersendiri. Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang
berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau
yang akan datang Menurut O’Brian dikutip oleh Yakub (2012:17) pada buku
Pengantar Sistem Informasi, sistem informasi merupakan kombinasi teratur dari
orang-orang, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, dan sumber
daya data yang mengumpulkan, mengubah, menyebarkan informasi dalam sebuah
organisasi. Perancangan sistem adalah merancang atau mendesain suatu sistem
agar project yang akan dikerjakan nanti tidak mengalami kesalahan alur program
yang fatal dan perancangan sistem yang baik akan mempermudah programmer
dalam membuat programnya, yang isinya adalah langkah-langkah operasi dalam
proses pengolahan data dan prosedur untuk mendukung operasi sistem. Dalam
penelitian ini, dapat diambil kesimpulan bahwa membangun atau membuat sistem
informasi kesehatan berbasis web bagi petugas lapangan untuk puskesmas keliling
di puskesmas kecamatan pademangan jakarta adalah dengan menggunakan
software yang berbentuk seperti halaman situs yang terdapat pada web server yaitu
PHP, basis data menggunakan MySQL yang menghubungkan script php
menggunakan perintah query dan escaps character yang sama dengan php, untuk
desain tampilan program dan form menggunakan software Adobe Dreamweaver
CS6, aplikasi Adobe Dreamweaver CS6 dipakai untuk membuat desain tampilan
lewat fasilitas halaman desain (design view) dan membuat skrip program PHP lewat
halaman kode (code view). Nilai efektif yang dicapai dengan penggunaan sistem ini
adalah petugas lapangan (petugas kesehatan) dapat lebih akurat dalam mengelola
data rekam medis pasien secara komputerisasi, untuk akurasi data pada intinya
sistem informasi ini tidak lepas dari input-proses-output yang diproses oleh sistem
sehingga menghasilkan suatu output (informasi) yang berguna seperti data pasien,
data rekam medis pasien dan sebagainya.
Jurnal survei who & quesioner

GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG


COVID-19 DAN PERILAKU MASYARAKAT DI MASA PANDEMI
COVID-19

Berdasarkan hasil riwayat peserta penelitian beserta kategori kasus masyarakat di masa
pandemi COVID-19, menunjukkan bahwa masyarakat Desa Sumerta Kelod tergolong
masyarakat yang memiliki risiko rendah untuk terpapar infeksi virus SARS-CoV-2 sebagai
penyebab kasus COVID-19. Hal tersebut didasarkan atas beberapa faktor, meliputi kontak
langsung ataupun berada dalam satu ruangan/lingkungan dengan orang positif COVID-19,
ada tidaknya riwayat penyakit menahun, riwayat kondisi demam (suhu 38°C), serta ada
tidaknya gejala gangguan pernafasan
Berdasarkan hasil distribusi pengetahuan masyarakat beserta distribusi kategori pengetahuan
masyarakat tentang pandemi COVID-19, masyarakat Desa Sumerta Kelod dikategorikan
memiliki pengetahuan yang baik terkait pandemi COVID-19 yang ditunjukkan dengan
mayoritas jawaban benar pada item-item pertanyaan yang diberikan terkait pandemi COVID-
19
Berdasarkan hasil distribusi perilaku masyarakat Desa Sumerta Kelod beserta distribusi
kategori kasus masyarakat di masa pandemi COVID-19, maka masyarakat Desa Sumerta
Kelod secara garis besar tergolong sebagai masyarakat dengan risiko rendah yang
ditunjukkan dengan perilaku baik yang dipilih pada item-item pertanyaan yang diberikan
Sebagian besar masyarakat Desa Simerta Kelod telah memahami dan mengamalkan
berbagai pengetahuan dan perilaku terkait pandemi COVID-19. Masyarakat Desa Sumerta
Kelod dinilai telah memiliki pengetahuan yang baik terkait berbagai protokol kesehatan
beserta berbagai dasar yang harus dipahami terkait pandemi COVID-19. Di samping itu,
masyarakat Desa Sumerta Kelod dinilai memiliki potensi Kasus COVID-19 yang rendah
berdasarkan riwayat ataupun perilaku yang telah dilaksanakan. Sehendaknya, dengan
pengetahuan masyarakat yang baik dalam masa pandemi COVID-19 diharapkan dapat
meningkatkan perilaku masyarakat dalam menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat atau
kepatuhan dalam menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19.
Jurnal Problem Solving

Studi literatur : Pencegahan penyebaran SARS-CoV-2 pada praktik kedokteran gigi

Tindakan kedokteran gigi dapat menimbulkan terjadinya aerosol dari saliva ataupun
darah dari pasien, terutama pada saat penggunaan ultrasonic scaler, high speed handpiece
dan three way syringe. Aerosol yang dihasilkan dan berbagai macam mikroorganisme yang
terkandung di dalam aerosol dapat terhirup dan masuk ke dalam saluran pernafasan pasien
maupun dokter gigi dan tim.
Pada kasus pasien positif COVID-19, apabila dilakukan tindakan keperawatan gigi ,
terutama scaling dengan ultrasonic scaler dapat menyebabkan saliva yang mengandung virus
teraerosol dan menyebar serta mengkontaminasi dental unit. SARS-CoV-2 ini dapat bertahan
sampai 3 jam di aerosol dan dapat terdeteksi di permukaan benda-benda sampai 72 jam. Hal
ini menyebabkan tingginya resiko perawat gigi terpapar SARS-CoV-2. Penyebaran SARS-
CoV-2 ini tidak hanya terjadi jika pasien sudah memiliki gejala COVID-19, namun jika
pasien adalah orang tanpa gejala (OTG), penyebaran virus ini juga dapat terjadi. Berdasarkan
beberapa referensi yang dapat dilakukan di antaranya adalah manajemen pasien dan
pencegahan infeksi nasokomial sebelum perawatan gigi, penggunaan alat pelindung diri bagi
dokter gigi dan tim, tindakan pencegahan selama perawatan gigi, dan sanitasi lingkungan.
Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19 di tempat praktik
kedokteran gigi. Dari berbagai literatur didapatkan bahwa pencegahan dapat dilakukan
melalui manajemen pasien dan pencegahan infeksi nasokomial sebelum perawatan gigi,
penggunaan alat pelindung diri bagi dokter gigi dan tim, tindakan pencegahan selama
perawatan gigi, disinfeksi klinik, dan manajemen limbah medis.

Beri Nilai