Anda di halaman 1dari 7

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

ANALISIS PRAKTIK PENYELENGGARAAN DAN FAKTOR


PENGHAMBAT OTONOMI DAERAH

Dosen Pembimbing : DAYU RIKA PERDANA, S.Pd., M.Pd

Nama : Reynhard Theodorus Xaverius Saragih

NPM : 1918011093

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2020
Pengertian Otonomi Daerah
Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Tujuan utama
dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah antara lain adalah membebaskan pemerintah
pusat dari beban-beban yang tidak perlu dalam menangani urusan daerah. Dengan
demikian pusat berkesempatan mempelajari, memahami, merespon berbagai
kecenderungan global dan mengambil manfaat daripadanya. Pada saat yang sama
pemerintah pusat diharapkan lebih mampu berkonsentrasi pada perumusan kebijakan
makro (luas atau yang bersifat umum dan mendasar) nasional yang bersifat strategis.
Di lain pihak, dengan desentralisasi daerah akan mengalami proses pemberdayaan yang
optimal. Kemampuan prakarsa dan kreativitas pemerintah daerah akan terpacu,
sehingga kemampuannya dalam mengatasi berbagai masalah yang terjadi di daerah
akan semakin kuat.

Peraturan Undang-Undang terkait Otonomi Daerah


1. Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan Di
Daerah.
2. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
3. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah.
4. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
5. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
6. Perpu No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah.
7. Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Manfaat Otonomi Daerah

1. Pelaksanaan dapat dilakukan sesuai dengan kepentingan Masyarakat di Daerah


yang bersifat heterogen.
2. Memotong jalur birokrasi yang rumit serta prosedur yang sangat terstruktur dari
pemerintah pusat.
3. Perumusan kebijaksanaan dari pemerintah akan lebih realistik.
4. Peluang bagi pemerintahan serta lembaga privat dan masyarakat di Daerah
untuk meningkatkan kapasitas teknis dan managerial.
5. Dapat meningkatkan efisiensi pemerintahan di Pusat dengan tidak lagi pejabat
puncak di Pusat menjalankan tugas rutin karena hal itu dapat diserahkan kepada
pejabat Daerah

Prinsip Otonomi Daerah

Berdasarkan dasar hukum Undang-Undang No. 32 Tahun 2004, otonomi daerah


Indonesia diselenggarakan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Pelaksanaan otonomi daerah harus berdasarkan aspek demokrasi, keadilan, dan


pemerataan potensi yang dimiliki daerah sesuai dengan keragaman dan ciri
khas daerah tersebut.
2. Pelaksanaan otonomi daerah harus mencakup otonomi yang nyata, luas, dan
bertanggung jawab.
3. Pelaksanaan otonomi daerah secara luas dan utuh hanya berlaku pada wilayah
daerah dan kota, sementara otonomi di ranah provinsi masih terbatas, yang
artinya masih menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.
4. Pelaksanaan otonomi daerah harus merujuk pada peraturan perundang-
undangan yang berlaku agar keharmonisan antara pemerintah pusat dan daerah
tetap terjaga.
5. Otonomi daerah harus berlandaskan pada tujuan untuk meningkatkan
kemandirian daerah kabupaten, sedangkan daerah kota tidak termasuk ke dalam
wilayah administrasi. Hal tersebut juga berlaku bagi wilayah-wilayah yang
mendapatkan pembinaan khusus dari pemerintah.
6. Pelaksanaan otonomi daerah juga harus mencakup peningkatan kualitas dan
pelayanan badan legislatif daerah dalam menjalankan fungsinya sebagai
legislatif, pengawasan, dan pelaksana anggaran penyelenggaraan otonomi
daerah.
7. Penyelenggaraan dekonsentrasi dilimpahkan pada pemerintah provinsi yang
memiliki kedudukan sebagai wilayah administratif dan mendapatkan tugas dari
pemerintah pusat untuk melaksanakan kewenangan tertentu yang tugasnya
dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah.
8. Penyelenggaraan otonomi daerah dilakukan oleh pemerintah daerah kepada
desa dengan disertai pembiayaan, serta pembentukan sarana dan prasarana juga
sumber daya manusia. Pihak yang dilimpahi wewenang tersebut memiliki
kewajiban untuk memberikan laporan pertanggungjawaban atas tugas yang
dilimpahkan kepadanya.

Kelebihan Sistem Otonomi Daerah


1. Mengurangi bertumpuknya pekerjaan di pusat pemerintahan
2. Daerah tidak perlu menunggu intruksi dari Pemerintah pusat dalam menghadapi
masalah mendesak yang membutuhkan tindakan yang cepat.
3. Dalam sistem desentralisasi, dapat diadakan pembedaan (diferensial) dan
pengkhususan (spesialisasi) yang berguna bagi kepentingan tertentu.
Khususnya desentralisasi teritorial, dapat lebih muda menyesuaikan diri pada
kebutuhan atau keperluan khusus daerah.
4. Dengan adanya desentralisasi territorial, daerah otonomi dapat merupakan
semacam laboratorium dalam hal-hal yang berhubungan dengan pemerintahan,
yang dapat bermanfaat bagi seluruh negara. Hal-hal yang ternyata baik, dapat
diterapkan diseluruh wilayah negara, sedangkan yang kurang baik dapat
dibatasi pada suatu daerah tertentu saja dan oleh karena itu dapat lebih muda
untuk diadakan.
5. Mengurangi kemungkinan kesewenang-wenangan dari Pemerintah Pusat.
6. Dari segi psikolagis, desentralisasi dapat lebih memberikan kewenangan
memutuskan yang lebih besar kepada daerah.
7. Akan memperbaiki kualitas pelayanan karena dia lebih dekat dengan
masyarakat yang dilayani. Dampak positif otonomi daerah adalah bahwa
dengan otonomi daerah maka pemerintah daerah akan mendapatkan
kesempatan untuk menampilkan identitas local yang ada di masyarakat.
Berkurangnya wewenang dan kendali pemerintah pusat mendapatkan respon
tinggi dari pemerintah daerah dalam menghadapi masalah yang berada di
daerahnya sendiri. Bahkan dana yang diperoleh lebih banyak daripada yang
didapatkan melalui jalur birokrasi dari pemerintah pusat. Dana tersebut
memungkinkan pemerintah lokal mendorong pembangunan daerah serta
membangun program promosi kebudayaan dan juga pariwisata.
Kekurangan Sistem Otonomi Daerah
1. Karena besarnya organ-organ pemerintahan maka struktur pemerintahan
bertambah kompleks, yang mempersulit koordinasi
2. Keseimbangan dan keserasian antara bermacam-macam kepentingan dan
daerah dapat lebih mudah terganggu.
3. Khusus mengenai desentralisasi teritorial, dapat mendorong timbulnya apa
yang disebut daerahisme atau provinsialisme.
4. Keputusan yang diambil memerlukan waktu yang lama, karena memerlukan
perundingan yang bertele-tele.
5. Dalam penyelenggaraan desentralisasi, diperlukan biaya yang lebih banyak dan
sulit untuk memperoleh keseragaman atau uniformitas dan kesederhanaan.
Dampak negatif dari otonomi daerah adalah adanya kesempatan bagi oknum-
oknum di pemerintah daerah untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan
Negara dan rakyat seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Terkadang ada
kebijakan-kebijakan daerah yang tidak sesuai dengan konstitusi Negara yang
dapat menimbulkan pertentangan antar daerah satu dengan daerah tetangganya,
atau bahkan daerah dengan Negara, seperti contoh pelaksanaan Undang-
undang Anti Pornografi ditingkat daerah. Hal tersebut dikarenakan dengan
sistem otonomi daerah maka pemerintah pusat akan lebih susah mengawasi
jalannya pemerintahan di daerah, selain itu karena memang dengan sistem
otonomi daerah membuat peranan pemeritah pusat tidak begitu berarti.

Pelaksanaan Otonomi Daerah


Pelaksanaan otonomi daerah masa orde baru Sejak tahun 1966, pemerintah Orde
Baru berhasil membangun suatu pemerintahan nasional yang kuat dengan
menempatkan stabilitas politik sebagai landasan untuk mempercepat pembangunan
ekonomi Indonesia. Politik yang pada masa pemerintahan Orde Lama dijadikan
panglima, digantikan dengan ekonomi sebagai panglimanya, dan mobilisasi massa atas
dasar partai secara perlahan digeser oleh birokrasi dan politik teknokratis. Banyak
prestasi dan hasil yang telah dicapai oleh pemerintahan Orde Baru, terutama
keberhasilan di bidang ekonomi yang ditopang sepenuhnya oleh kontrol dan inisiatif
program-program pembangunan dari pusat.
Dalam kerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas
administrasi inilah, dibentuklah Undang-Undang No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-
pokok Pemerintahan Daerah. Mengacu pada UU ini, Otonomi Daerah adalah hak,
wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya
sendiri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku Selanjutnya yang dimaksud
dengan Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang mempunyai batas wilayah tertentu yang berhak, berwenang dan
berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang
berlaku

FAKTOR PENGHAMBAT OTONOMI DAERAH


A. Faktor Manusia
Penyelenggaraan otonomi daerah yang sehat dapat di wujudkan pertama-tama
dan terutama di tentukan oleh kapasitas yang di miliki manusia sebagai pelaksananya.
Penyeenggaraan otonomi daerah hanya dapat berjalan dengan sebaik-baiknya apabil
manusia pelaksananya baik,dalam arti mentalitas maupun kapasitasnya.Pentingnya
posisi manusia pelakana ini karena manusia merupakan unsur dinamis dalam
organisasi yang bertindak/berfungsi sebagai subjek penggerak roda organisasi
pemerintahan. Oleh sebap itu kualitas mentalitas dan kapasitas manusia yang kurang
memadai dengan sendirinya melahirkan impikasi yang kurang menguntungkan bagi
penyelenggaraan otonomi daerah. Anusia pelaksana pemerintah daerah dapat di
kelompokkan menjadi:
1. Pemerintah daerah yang terdiri dari kepala daerah dan dewan perwakilan
daerah(DPRD).
2. Alat-alat perlengkapan daerah yakni aparatur daerah dan pegawai daerah
3. Rakyat daerah yakni sebagai komponen environmental (lingkungan)yang
merupakan sumber energi terpenting bagi daerah sebagai organisasi yang
bersifat terbuka.

B. Faktor Keuangan
Keberhasilan otonomi daerah tidak terlepas dari cukup tidaknya kemampuan
daerah dalam bidang keuangan,karena kemampuan keuangan ini merupakan salah satu
indikator penting guna mengukur tingkat ekonomi suatu daerah. Hal ini muda di
pahami karena adalah mustahil bagi daerah-daerah utnuk dapat menjalankan berbagai
tugas ddan pekerjaannya dengan efisien dan efektif dan dapat melaksanakan pelayanan
dan pembangunan masyarakat tanpa tanpa ketersediaan dana.
C. Faktor Peralatan
Peralatan merupakan perantara dan pembantu bagi aparatur pemerintah daerah
dalm melaksanakan berbagai tugas pekerjaannya. Karena itulah peralatan menduduki
peranan penting pula.
Untuk memperlancar jalannya tugas penyelenggaraan pemerintahan daerah maka
di perlukan sejumlah alat yang cukup memadai baik dalam kuantitas maupun
kualitasnya.alat-alat tersebut harus cukup dari jumlahnya dan efisien,efektif serta
praktis dari segi penggunaannya. Guna memenuhi tuntutan syarat tersebut diatas maka
di perlukan suatu manajemen peralatan daerah yang menjamin dapat segera tersedianya
peralatan yang tepat pada waktu yang tepat pula.

Anda mungkin juga menyukai