Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

BERSYUKUR DAN
BERBUAT BAIK

DISUSUN OLEH :
Nama : Nadira Malika Havishta
Kelas : XI IPS 2
No. Absen : 23

SMA NEGERI 48 JAKARTA


TAHUN AJARAN 2020/2021
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Allah memberikan banyak sekali nikmat kepada hamba-Nya. Segala kenikmatan ini apabila
dihitung niscaya tak akan terbilang. Sebagai wujud rasa syukur ini maka seseorang hendaknya
semakin menggiatkan ibadahnya, begitu pula amal kebaikannya. 

Bahwasanya Allah menganjurkan kepada makhluknya untuk mensyukuri nikmat yang diberikan
dengan satu hal yang mungkin kadang manusia sendiri lupa apa yang menjadi kewajiban kita
sebagai makhluk Allah, yaitu dengan menjalankan apa yang sudah ditetapkan seperti; Perintah
untuk menjalankan shalat yang sudah ditentukan dalam Al-Qur’an dan Hadist, Puasa, Zakat dan
lain sebagainya.

Di sisi lain, Islam juga mewajibkan kita para pengikutnya untuk berbuat baik dengan siapapun.
Hal itu juga merupakan salah bentuk perwujudan rasa syukur yang nyata kepada Allah SWT.
Berbuat baik merupakan akhlak mulia yang bisa diwujudkan pada berbagai hal, seperti
memberikan pertolongan, menasihati untuk kebaikan, berbagi ilmu, atau memperlakukan dengan
baik, terutama untuk orang-orang terdekat, yaitu orang tua, suami, istri, anak, dan kerabat.

Dengan perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang lain, tidak hanya memberikan manfaat
kepada orang tersebut namun pada hakikatnya akan mendatangkan manfaat atau hikmah untuk
diri kita sendiri. Seperti pada saat seseorang melakukan amal shaleh sebagai bentuk syukur,
secara otomatis ada memori atau ingatan akan banyaknya anugerah yang diberikan ketika
beramal. Sehingga saat beramal diharapkan seseorang mengingat limpahan nikmat yang sudah
diberikan kepadanya dan bisa semakin bersyukur kepada Allah SWT.

1.2. Rumusan Masalah

A. Pengertian bersyukur
B. Keutamaan bersyukur berdasarkan QS.Al Luqman :13-14
C. Hadits tentang bersyukur
D. Hikmah dan manfaat bersyukur
E. Pengertian berbuat baik
F. Keutamaan berbuat baik berdasarkan QS.Al Baqarah:83
G. Hadits tentang berbuat baik
H. Hikmah dan manfaat berbuat baik
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bersyukur

Syukur berarti ucapan sikap, dan perwujudan terima kasih kepada Allah SWT, serta pengakuan
yang tulus atas nikmat dan karunia yang diberikanNya. Nikmat yang diberikan sangat berlimpah
dan bentuknya bermacam-macam, disetiap detik yang dilalui manusia tidak pernah lepas dari
nikmat Allah. Nikmatnya sangat besar, sehingga manusia tidak akan dapat menghitungnya.

Bersyukur kepada Allah pada hakikatnya adalah mengakui bahwasannya segala kenikmatan
yang ada pada diri kita dan semua makhluk ciptaanNya adalah berasal dari Allah SWT. Dalam
bahasa mudahnya bersyukur adalah berterima kasih. Kita seringkali berterima kasih kepada
sesama manusia, tetapi melupakan satu hal yang justru harus kita lakukan yaitu mensyukuri
nikmat Allah yang ada pada diri kita semuanya.

Dalam agama pengertian bersyukur bahwa syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah
pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa
ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah.
Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Ini adalah pengertian
syukur menurut Ibnul Qayyim. Dan 3 hal di atas adalah cara mensyukuri nikmat Allah atas diri
kita.

2.2 Keutamaan Bersyukur berdasarkan QS.Al Luqman :13-14

‫ك لَظُ ْل ٌم َع ِظي ٌم‬ َّ َ‫َوإِ ْذ قَا َل لُ ْق ٰ َمنُ ٱِل ْبنِ ِهۦ َوهُ َو يَ ِعظُهۥُ ٰيَبُن‬
َ ْ‫ى اَل تُ ْش ِر ْك بِٱهَّلل ِ ۖ إِ َّن ٱل ِّشر‬

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: “Hai anakku, janganlah kau mempersekutukan Allah, gotong royong
mempersekutukan (Allah) yakni benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Luqman :13)

ِ ‫ى ْٱل َم‬
‫صي ُر‬ َ ٰ ِ‫ص ْينَا ٱإْل ِ ن ٰ َسنَ بِ ٰ َولِ َد ْي ِه َح َملَ ْتهُ أُ ُّمهۥُ َو ْهنًا َعلَ ٰى َو ْه ٍن َوف‬
َّ َ‫صلُ ۥهُ فِى عَا َم ْي ِن أَ ِن ٱ ْش ُكرْ لِى َولِ ٰ َولِ َد ْيكَ إِل‬ َّ ‫َو َو‬

“Dan Kami perintahkan kepada insan (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua
tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, hanya kepada-Ku lah
kembalimu.” (QS. Luqman :14).
Pada prinsipnya segala bentuk kesyukuran kita harus ditujukan kepada Allah SWT.
sebagaimana Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk bersyukur setelah menyebut beberapa
nikmat-Nya. Namun demikian, walaupun kesyukuran harus ditujukan kepada Allah, akan
tetapi ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka yang menjadi perantara
kehadiran nikmat Allah.

Al-Quran secara tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua orang tua
(yang menjadi perantara kehadiran kita di dunia ini seperti yang tertera dalam surah Luqman
ayat 14 diatas. Walaupun Al-Quran hanya menyebut kedua orang tua, selain Allah yang
harus disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa selain mereka tidak boleh disyukuri. Akan
tetapi kita juga diperintahkan untuk bersyukur kepada sesama manusia.

Dalam ayat 14 surah Luqman itu, Allah SWT memerintahkan manusia agar berbuat baik kepada
kedua orang tua. Kemudian Allah menyebutkan jasa-jasa sang ibu yang telah mengandungnya
dalam keadaan menderita. Allah menutup ayat-Nya dengan perintah bersyukur kapada-Nya dan
kepada kedua orang tua. Sementara pada ayat sebelumnya, Allah SWT melalui lisan Luqman
mengingatkan bahaya dari perbuatan syirik.

2.3 Hadits tentang Bersyukur

1. Hadits Riwayat Abu Dawud.

َ ‫ع َْن أَبِي هُ َر ْي َرةَ ع َْن النَّبِ ِّي‬


َ َّ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل اَل يَ ْش ُك ُر هَّللا َ َم ْن اَل يَ ْش ُك ُر الن‬
‫اس‬

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak dianggap
bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia." (HR. Abu Duwud).

2. Hadits Riwayat Muslim.

‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ا ْنظُرُوا ِإلَى َم ْن أَ ْسفَ َل ِم ْن ُك ْم َواَل تَ ْنظُرُوا إِلَى َم ْن هُ َو فَوْ قَ ُك ْم فَه َُو أَجْ َد ُر‬
َ ِ ‫ع َْن أَبِي هُ َر ْي َرةَ قَا َل قَا َل َرسُو ُل هَّللا‬
ِ ‫أَ ْن اَل ت َْز َدرُوا نِ ْع َمةَ هَّللا‬

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pandanglah
orang yang berada dibawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih laik
membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah” (HR. Muslim).

Dalam hadis ini, Rasulullah Saw memperingatkan , bahwa manusia harus bersikap syukur
terhadap nikmat Allah Swt yang dianugerahkan kepadanya. Manusia harus sadar bahwasanya
kedudukan atau pangkat serta harta kekayaan yang lebih tinggi yang dimiliki orang lain itu
merupakan ujian, sehingga manusia lebih baik jika selalu melihat ke bawah dalam hal
tersebut agar terhindar dari sikap berandai-andai yang menjadikan manusia jauh dari syukur
nikmat.
3. Hadits Riwayat Ahmad.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa orang yang berterima kasih atas pemberian orang
lain karena Allah Swt, maka pada hakekatnya orang tersebut telah bersyukur kepada Allah
Swt sebagaimana hadits yang berbunyi :

َ َّ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم اَل يَ ْش ُك ُر هَّللا َ َم ْن اَل يَ ْش ُك ُر الن‬


‫اس‬ َ ِ ‫ال َرسُو ُل هَّللا‬
َ َ‫ق‬

Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda: "Tidak akan bersyukur kepada Allah orang
yang tidak berterima kasih kepada manusia." (HR. Ahmad).

Kita perlu melihat ke atas dalam upaya memberi motivasi (dorongan) diri berusaha,
sepanjang dalam batas yang dibenarkan syari’at Islam. Larangan melihat orang yang
kedudukannya yang lebih tinggi semata-mata untuk mencegah timbulnya rasa iri hati dan
sifat-sifat tidak terpuji lainnya yang akhirnya tidak mensyukuri nikmat Allah Swt.

Dalam hadis tersebut kita juga dianjurkan bersikap qana‘ah yaitu menerima apa adanya atas
pemberian Allah Swt atau merasa puas dan rela atas bagiannya setelah berusaha. Orang yang
mempunyai sifat qana‘ah tentunya tidak akan mempunyai sikap tamak terhadap apa yang
dimiliki oleh orang lain. Sifat qana‘ah mengandung sifat positif di antaranya adalah
menerima apa yang terjadi, realistik (nyata), dinamis atau bersemangat, tenang, stabil
jiwanya, optimis, dermawan, tawakkal, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah Swt.

2.3 Hikmah dan Manfaat Bersyukur

Balasan yang dijanjikan Allah SWT apabila hambanya mensyukuri nikmat-Nya, adalah
kenikmaatannya akan ditambah dan dilipat gandakan nikmat – nikmatnya yang lain. Orang yang
selalu bersyukur ia akan selalu menginggat ALLAH SWT dalam berdiri, duduk, sampai
tidurnyapun, dari bangun tidur sampai tidur lagi ia akan selalu berdzikir, dan tidurnya pun untuk
mengumpulkan energi untuk besyukur. Inilah hakikat syukur dari hati, akal, lisan, dan jasad
sebenarnya.

Syukur dapat dilakukan dengan beberapa cara, syukur dengan hati dengan senantiasa mengingat
Allah SWT, syukur dengan lidah dengan menyebut-nyebut dan mengakui bahwa semua nikmat
yang diterima berasal dari Allah dan membiasakan diri menyebut lafadz “Alhamdulillah”, serta
syukur dengan perbuatan anggota badan dengan menempatkan nikmat sesuai dengan fungsinya,
mentaati perintah-Nya, dan berusaha menjauhkan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang-Nya.

Dengan begitu, kita sadar bahwa nikmat atau rezeki yang diterima adalah barokah Allah SWT,
meskipun hanya kecil dan sedikit tetapi cukup dan menentramkan hati. Karena orang yang selalu
bersyukur akan diberikan keidupan yang terasa tentram, damai, tenang, dan bahagia serta
terhindar dari fitnah dan azab dunia serta akhirat.
Berikut ini beberapa hikmah dari bersyukur, di antaranya:

1. Mendapatkan keberkahan dari setiap rezeki yang kita terima


2. Menemukan ketenangan batin dan kedamaian hati dalam menjalani semua aktivitas
sehari-hari karena kerelaannya dalam menyikapi pemberian Allah SWT
3. Terhindar dari siksa api neraka, karena telah menjadi hamba yang tahu diri dengan selalu
bersyukur atas karunia Allah SWT
4. Menjadi pandai berterima kasih kepada Allah dan orang-orang yang telah banyak berjasa
kepada kita, seperti orang tua, guru, teman, dan lain-lain
5. Mencegah azab serta menambah nikmat

2.4 Pengertian Berbuat Baik

Berbuat baik merupakan akhlak mulia yang bisa diwujudkan pada berbagai hal, seperti
memberikan pertolongan, menasihati untuk kebaikan, berbagi ilmu, atau memperlakukan dengan
baik, terutama untuk orang-orang terdekat, yaitu orang tua, suami, istri, anak, dan kerabat.
Selanjutnya berbuat baik untuk lingkup yang lebih luas, seperti dengan tetangga, di tempat kerja,
dan dengan semua orang yang kita berinteraksi dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Kebaikan menurut Islam adalah akhlak yang baik. kebaikan bukanlah sekedar menghadapkan
muka kepada suatu arah tertentu (baik arah ke Timur atau ke Barat). Tetapi hakikat kebaktian
adalah beriman kepada Allah dengan sesungguhnya, iman yang bersemayam di lubuk hati yang
dapat menentramkan jiwa, yang dapat menunjukkan kebenaran dan mencegah diri dari segala
macam dorongan hawa nafsu dan kejahatan.

Islam mewajibkan kita para pengikutnya untuk berbuat baik dengan siapapun. Hal itu juga
merupakan salah bentuk perwujudan rasa syukur yang nyata kepada Allah SWT. Sebagai contoh,
apabila Allah SWT memberikan nikmat berupa harta maka selain menggiatkan ibadah, seseorang
juga bisa menggiatkan infak dan sedekah kepada kaum fakir dan miskin atau kerabat dekat yang
membutuhkan. Pada saat seseorang melakukan amal shaleh sebagai bentuk syukur, secara
otomatis ada memori atau ingatan akan banyaknya anugerah yang diberikan ketika beramal. Saat
beramal diharapkan seseorang mengingat limpahan anugerah yang sudah diberikan.

Berbuat baik kepada seseorang itu hukumnya wajib. Terlebih kepada sesama muslim haruslah
berbuat dan menyebarkan kebaikan. Karena ketika kita berbuat baik kepada sesorang maka
kebaikan itu akan berbalik kepada kita sendiri.

Beberapa perbuatan baik atau kebaikan dalam Islam antara lain:

1. Beriman. Beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan


nabi-nabi.
2. Suka Infak, Dermawan. Memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-
anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-
orang yang meminta-minta; (memerdekakan) hamba sahaya.
3. Taat Ibadah. Mendirikan shalat dan menunaikan zakat.
4. Menepati Janji. Menepati janjinya apabila ia berjanji
5. Sabar. Orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan.

2.5 Keutamaan Berbuat Baik berdasarkan QS.Al Baqarah:83

‫اس حُسْ ًنا َوأَقِيمُوا‬ ِ ‫ون إِاَّل هَّللا َ َو ِب ْال َوالِ َدي‬
ِ ‫ْن إِحْ َسا ًنا َوذِي ْالقُرْ َب ٰى َو ْال َي َتا َم ٰى َو ْال َم َساك‬
ِ ‫ِين َوقُولُوا لِل َّن‬ َ ‫اق َبنِي إِسْ َرائِي َل اَل َتعْ ُب ُد‬ َ ‫َوإِ ْذ أَ َخ ْذ َنا مِي َث‬
َ ‫الز َكا َة ُث َّم َت َولَّ ْي ُت ْم إِاَّل َقلِياًل ِم ْن ُك ْم َوأَ ْن ُت ْم مُعْ ِرض‬
‫ُون‬ َّ ‫صاَل َة َوآ ُتوا‬ َّ ‫ال‬

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu
menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak
yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah
shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil
daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS.Al Baqarah:83)

Dalam surat ini Allah SWT memerintahkan Bani Israil untuk tidak menyembah selain Allah,
berbuat baik kepada siapa saja terutama kepada orang tua,dirikan sholat, tunaikan zakat. Namun
Allah memerintahkan bukan hanya kepada Bani Israil saja, tetapi kepada semua umatnya agar
hanya menyembah kepada-nya yang Esa dan menaati segala perintahnya dan menjauhi segala
larangan-nya .

Manusia diperintahkan untuk berbuat baik kepada ibu bapaknya, dua orang paling berjasa yang
dengan perantaraan keduanya ia lahir, tumbuh, dan berkembang. Selain itu, Allah menerangkan
bahwa berbuat kebaikan sebagai penunaian hak makhluk bukan hanya kepada orang tua saja,
akan tetapi juga mesti dilakukan kepada kaum kerabat, anak yatim, orang miskin, bahkan kepada
seluruh makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab, hakikatnya Allah telah mewajibkan berbuat
ihsan (kebaikan) dalam segala hal, bahkan termasuk kepada binatang.

2.6 Hadits tentang Berbuat Baik

1. Dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

‫َمنْ دَ َّل َعلَى َخي ٍْر َفلَ ُه م ِْث ُل أَجْ ِر َفاعِ لِ ِه‬

“Siapa yang menunjukkan seseorang kepada kebaikan , maka ia memperoleh pahala seperti
pahala orang yang melakukannya” (HR. Muslim)
Siapa yang menunjukkan kebaikan pada orang lain, baik kebaikan dunia maupun kebaikan
akhirat, maka memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut
tanpa dikurangi sedikitpun.

2. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‫ َو َمنْ َسنَّ فِي‬،ٌ‫ُور ِه ْم َشيْ ء‬ ُ َ ُ‫ مِنْ َغي ِْر أَنْ َي ْنق‬،ُ‫ َوأَجْ ُر َمنْ َع ِم َل ِب َها َبعْ َده‬،‫ َفلَ ُه أَجْ ُر َها‬،‫َمنْ َسنَّ فِي اإْل ِسْ اَل ِم ُس َّن ًة َح َس َن ًة‬
ِ ‫ص مِنْ أج‬
‫ار ِه ْم َشيْ ٌء‬ َ َ ُ‫ مِنْ َغي ِْر أَنْ َي ْنق‬،ِ‫ان َعلَ ْي ِه ِو ْز ُر َها َو ِو ْز ُر َمنْ َع ِم َل ِب َها مِنْ َبعْ ِده‬ َ ‫ َك‬،‫اإْل ِسْ اَل ِم ُس َّن ًة َس ِّي َئ ًة‬
ِ ‫ص مِنْ أ ْو َز‬
Barangsiapa mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang baik, maka ia akan mendapatkan
pahalanya, dan pahala orang yang melakukannya setelahnya; tanpa berkurang sesuatu apapun
dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu contoh yang
buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelah dia, tanpa
berkurang sesuatu pun dari dosa-dosa mereka. (HR. Muslim, no. 1017)

Hadits ini menjelaskan bahwa orang yang menunjukkan kepada orang lain suatu kebaikan
atau suatu jalan hidayah, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang
melakukannya.

3. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,

ِ‫ك إِنَّ َذل َِك م َِن ْال َمعْ رُوف‬ ٌ ِ‫ت ُم ْنبَس‬
َ ‫ط إِلَ ْي ِه َوجْ ُه‬ َ ‫اك َوأَ ْن‬
َ ‫َوالَ َتحْ ق َِرنَّ َش ْي ًئا م َِن ْال َمعْ رُوفِ َوأَنْ ُت َكلِّ َم أَ َخ‬

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu
dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.”
(HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa
sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Hadis di atas mendorong kita untuk selalu berusaha menolong orang lain dan juga untuk
berbuat baik kepada orang lain tanpa meremehkan sedikit pun untuk hal-hal yang mudah dan
kecil, seperti memperlihatkan wajah tersenyum.

2.7 Hikmah dan Manfaat Berbuat Baik

Perlu diresapi dan pahami bahwa perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang lain tidak
hanya memberikan manfaat kepada orang tersebut namun pada hakikatnya adalah akan
mendatangkan manfaat atau hikmah untuk diri kita sendiri yang tentunya sesuai dengan janji
Allah Ta’ala didalam Al-qur’an.
Manusia bisa memberikan manfaat kepada sesamanya dengan harta atau kekayaan yang ia
punya. Bentuknya bisa bermacam-macam. Secara umum, mengeluarkan harta di jalan Allah
(infak). Infak yang wajib adalah zakat. Dan yang sunah biasa disebut sedekah. Memberikan
kemanfaatan harta juga bisa dengan pemberian hadiah kepada orang lain. Tentu, yang nilai
kemanfaatannya lebih besar adalah pemberian kepada orang yang paling membutuhkan.

Namun, wujud kebaikan pun tak selalu harus berupa harta. Misalnya, manusia bisa memberikan
kemanfaatan kepada orang lain dengan ilmu yang dimilikinya. Ilmu yang diajarkan itu kelak
akan menjadi amal jariyah. Selain itu, tenaga atau keahlian juga bisa menolong orang lain
dengan tenaga yang ia miliki, salah satunya seperti gotong royong.

Bahkan jika kita tidak mampu melakukan semua hal itu pun, Rasulullah SAW memasukkan
senyum kepada orang lain sebagai sedekah, sehingga dengan hanya memperlihatkan senyuman
pun sudah menjadi bagian dari kebajikan. Dengan amalan berupa senyum dan sikap yang baik,
kita telah mendukung terciptanya lingkungan yang baik dan kondusif.

Di bawah ini adalah beberapa hikmah dari berbuat kebaikan, di antaranya:

1. Mendapatkan ridho Allah Ta’ala


2. Mendapatkan balasan (pahala) dari Allah Ta’ala
3. Disayangi oleh kedua orang tua
4. Mendapatkan hormat dari orang lain
5. Dihormati atau dihargai orang-orang sekitar.
6. Hati akan tenang dan termotivasi untuk menjalankan kehidupannya lebih baik lagi dari
hari ke hari
7. Memperpanjang ingatan manusia akan nikmat Allah yang terus-menerus diberikan tanpa
henti
8. Menambah kekuatan motivasi seseorang dalam beramal
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pada intinya, bersyukur dan berbuat baik adalah sangat erat. Rasulullah SAW lewat akhlak
mulianya mencontohkan bahwa ibadah merupakan wujud rasa syukur pada Allah SWT demikian
pula dengan perbuatan baik atau amal shaleh, merupakan wujud rasa syukur yang nyata kepada
Allah SWT.

Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia, merupakan pemberian yang terus menerus,
dengan bermacam-macam bentuk lahir dan batin. Karena itu, kita sebagai makhluk Allah yang
senantiasa mengharapkan keridhoan-Nya diharapkan diberi kesadaran dalam mensyukuri nikmat
yang sungguh besar yang telah Allah berikan kepada kita. Salah satu bentuk untuk
memwujudkan rasa syukur itu adalah melalui kebaikan.

Perbuatan atau perilaku seseorang yang mensyukuri nikmat Allah adalah salah  satu perilaku
terpuji. Perilaku syukur nikmat ini menunjukkan bahwa kita beriman kepada Allah dalam
kehidupan sehari-harinya. Hal ini adalah salah satu cara seseorang hamba bersyukur kepada
Allah atas semua nikmat yang telah Allah berikan. Karena itu, kita sebagai manusia jangan
sampai lupa untuk bersyukur dan berbuat baik, agar hati kita senantiasa terpaut pada Allah
hingga bisa mencapai kedudukan yang tertinggi di akhirat kelak.