Anda di halaman 1dari 6

1.

IMAKTA-KEBUMEN
“TARI GAMBYONG MARI KANGEN”

2. KMPY-PURWOREJO
“TARI NDOLALAK”
Tarian Dolalak merupakan salah satu tarian tradisional khas Purworejo,
Jawa tengah. Nama dolalak diambil dari not “Do” dan “La” karena awalnya
tarian ini hanya diiringi dengan alat musik dua nada. Tari Dolalak terinspirasi
dari perilaku serdadu Belanda pada saat beristirahat di camp peristirahatan
mereka. Pada saat beristirahat, para serdadu Belanda itu melakukan pesta
dengan minum – minuman keras dan berdansa. Aktivitas tersebut lalu di tiru
oleh orang pribumi dan terciptalah gerakan yang sederhana dan berulang –
ulang. Lalu sekitar tahun 1940, Tari Dolalak di kembangkan sebagai misi
keagamaan dan politik untuk memerangi pasukan Belanda. Tarian ini awalnya
hanya di pentaskan pada acara tertentu seperti syukuran, sunatan, dan hajatan.
Tari Dolalak biasanya di pentaskan pada malam hari semalam suntuk untuk
memeriahkan acara.
3. KAMAGAYO-GROBOGAN
“TARI ANGGUK”
Tari Angguk merupakan sebuah tari garapan yang diciptakan Warsito,
S.Sn atau biasa dipanggil Sitek, seorang seniman tari lulusan ISI Surakarta yang
sekarang bekerja di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Grobogan.
Sejarah Tari Angguk tidak lepas dari perjuangan Pangeran Diponegoro. Tari ini
adalah satu dari kesenian rakyat Mataram yang menggambarkan gagah berani
rakyat yang sedang mengadakan latihan perang untuk melawan kolonialis
Belanda.Tari Angguk Grobogan pertama kali ditampilkan pada acara
pembukaan Lomba MTQ Pelajar ke 29 Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun
2014, dimana kabupaten Grobogan terpilih menjadi tuan rumah. Dilihat dari
segi iringan musiknya tari Angguk ini bernuansa islami yaitu syair Shalawatan
yang biasa digunakan dalam acara-acara keagamaan (islam) dan syair Lir-ilir.

4. IMPP-PEMALANG
“TARI SELENDANG PEMALANG”
Tari tercipta pada tahun 1985 oleh seniman Kabupaten Pemalang yaitu
Drs. Koestoro. Sang Seniman merasa terinspirasi untuk mencipta suatu karya
Seni Tari yaitu Tari Slendang Pemalang, Sehingga pada tahun 17 September
2012 Tari Slendang Pemalang diresmikan oleh Bupati Pemalang yaitu Bapak
Junaedi sebagai tari khas Kabupaten Pemalang. Ide terbentuknya Tari
Selendang Pemalang diambil dari sejarah terbentuknya Kabupaten Pemalang.
5. HIMACITA-CILACAP
“TARI BONGKEL”
Tari Bongkel diciptakan oleh Supriyadi pada tahun 1986. Tari ini
terinspirasi dari kesenian Angklung Bongkel yang terdapat di Purwojati.
Pertama kali dipentaskan sebagai drama tari Bongkel di sana, akan tetapi
selanjutnya menjadi suatu bentuk repertoar tari yang berkembang di
Yogyakarta. Koreografer menghabiskan masa kecil di rumpun
barlingmascakeb, kemudian merantau untuk menempuh pendidikan, bekerja,
dan berkarya di Yogyakarta. Pengalaman estetis tersebut mempengaruhi
estetika karya tari yang diciptakan, Tari Bongkel yang ekspresif dan dinamis
merupakan cerminan dari karakteristik masyarakat Banyumasan yang terus
terang, to the point dan apa adanya.

6. MAHAKARYA-PEKALONGAN
“TARI BATIK JLAMPRANG”
Tari batik diciptakan oleh Yoyok Bambang Priambodo. Gerakan tari Batik
Jlamprang memiliki arti gerak sebagai visualisasi orang yang sedang membatik.
Dengan gerak tubuh yang lemah gemulai sesuai dengan jiwa perempuan dan
juga terdapat gerak patah-patah yang menggambarkan topografi masyarakat
kota Pekalongan
7. FORSIMBA-BATANG
“TARI KOLABORASI”

Pada zaman dahulu ada Tari Tayub yang dibawakan oleh penari bernama
Sri Gambyong yang sekarang dikenal sebagai Tari Gambyong. Tari Gambyong
merupakan pertunjukan saat upacara panen dan penanaman padi untuk
memanggil Dewi Sri atau Dewi Kesuburan yang akan memberikan berkah pada
hasil panen. Tari Gambyong merupakan tarian khas Jawa Tengah. Kemudian
Tari Batik Gringsing yang merupakan sebuah sajian tari yang terilhami dari
keberadaan motif batik Gringsing dengan filosofi keseimbangan, kemakmuran,
dan kesuburan. Dilanjutkan dengan Tari Petik Teh yang menggambarkan
kehidupan masyarakat pegunungan Kabupaten Batang yang sarat akan kearifan
lokal.

Mahasiswa harus bisa menjaga dan melestarikan budaya leluhur dan


disampaikan kepada anak cucu kita.

8. KMPP-PATI
“TARI GUMREGAH TANI”
Tari Gumregah Tani menggambarkan kerja keras dalam bertani. Mulai
dari bercocok tanam sampai menuai padi sebagai ucapan rasa syukur karena
hasil panen melimpah petani bersenang senang dengan ekspresi riang dan
gembira, lincah, dinamis. Tari ini menggunakan properti caping yang
menggambarkan mata pencaharian warga pati. Sehingga Pati mempunyai
semboyan " *PATI BUMI MINA TANI*"
9. KMB-BANJARNEGARA
“TARI AMERTA”
Tarian ini ditarikan oleh lima gadis yang menggambarkan diri mereka
sebagai air yang mengalir di sungai serayu menuju dan menjadi satu di sebuah
waduk, yang dinamakan waduk mrican ( Waduk Panglima Besar Jendral
Soedirman)
Waduk yang berada di kabupaten Banjarnegara ini menawarkan
kesejukan dan keindaan alamnya. tidak hanya itu, waduk ini memiliki banyak
manfaat bagi warga sekitar Banjarnegara dan dimanfaatkan sebagai pembangkit
listrik tenaga air (PLTA). Di waduk Mrican kita dapat menikmati wisata air
seperti perahu mengelilingi waduk dan olahraga dayung maupun memancing.
Kelima gadis ini menggambarkan bagaimana bersyukurnya mereka mempunyai
waduk Mrican yang mempunyai banyak manfaat bagi warga Banjarnegara dan
mempunyai pesona alam dan kesejukannya.

10.KOMBES-BREBES
“TARI PUSPANAGARI”
Tarian Puspanagari menggambarkan kisah Kanjeng Dewi Retno Sari
Dumeling.
Kanjeng Dewi Retno Sari Dumeling adalah salah satu istri dari bupati
Puspanegara yang dikenal keberaniannya.Pada saat itu terjadi percekcokan
antara Bupati dan pemerintah Belanda yang mengharuskan Bupati pergi sampai
ke daerah Brebes. Ia berpesan kepada istri istrinya untuk menyelamatkan diri
termasuk Kanjeng Dewi.Akhirnya Bupati meninggalkan istrinya tersebut dan
Kanjeng Dewi berjuang hidup dengan keberaniannya itu melawan kejahatan.
11.IMBAS-BANYUMAS
“TARI RUMEKSA BANYUMAS”
Tarian ini memberikan pesan pada warga Banyumas khususnya untuk
menjaga budaya yang ada. Diperagakan oleh seorang atau lebih penari wanita
dengan menyajikan gerakan khas Banyumas yaitu lenggeran, kiprahan dan
ebeg. Tari ini diiringi calung yaitu alat musik khas Banyumas yang terbuat dari
bambu dan lagu Rumeksa. Perpaduan antara Rumeksa dan Calung ini
menghasilkan garapan seni pertunjukan yang kreatif, inovatif, dinamis, dan
menarik yang menggambarkan kedinamisan masyarakat Banyumas, Jawa
Tengah. Musik tari Rumeksa diciptakan langsung oleh Bupati periode 2008-
2013 yaitu Bapak Drs. H. Mardjoko, MM.

12.KAMABA-BLORA
“TARI BARONGAN MUSTIKA AMARTA”