Anda di halaman 1dari 28

c 



÷   
  


  !"#


      
  

$ %& 


j  j  j

  j  j  
KRISIS IDENTITAS MUSLIM

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah


Wacana Islam dan Isu Kontemporer




j
 

!
  "#$ %%&'(




j) j j j
   *  +
  j,+jj  j 
KEKHUSUSAN KAJIAN ISLAM
+, 
 -



j  j  j

  j  j  
, j j j j  j
j

Sebagai umat Islam, kita bersifat terbuka kepada Barat sesuai dengan anjuran
agama. Hal yang mendorong kita untuk memiliki sifat itu adalah: (1) Kita
adalah pemilik risalah Î   (global) yang datang untuk seluruh manusia
di seluruh penjuru dunia. Benar bahwa Kitab suci kita berbahasa Arab, Rasul
kita seorang Arab, dan Islam tumbuh di dunia Timur (Arab). Tetapi ini bukan
berarti bahwa Islam ditujukan hanya untuk bangsa tertentu, melainkan untuk
segenap penduduk bumi. Agama masehi sendiri tumbuh di dunia Timur, lalu
tersebar di penjuru dunia. (2) Jalan untuk menuju saling pengertian dan
berdekatan cukup banyak. (Salah satunya adalah  
). Jadi  
±bukan
saling bermusuhan- merupakan kewajiban semua penduduk bumi. Kita tidak
sependapat dengan seorang sastrawan Barat yang mengatakan, µTimur adalah
Timur, dan Barat adalah Barat. Keduanya tidak mungkin bertemu.¶ Keduanya
justru bisa bertemu, dan bahkan wajib untuk bertemu bila niatnya benar. (3)
Dunia yang semakin dekat ini mengharuskan penganut agama-agama samawi
dan pemilik tiap peradaban untuk bertemu, berdialog dan saling memahami.
Dan tentu saja dialog semacam itu lebih baik daripada pemusuhan.

Yusuf al-Qaradhawi1[1]

Globalisasi sebagai sebuah fenomena mulai menampakkan dirinya pada sekitar tahun
delapanpuluhan abad ini. Dan pemunculan itu setidaknya sangat berkiatan erat dengan 3
peristiwa besar yang masing-masing mewakili ranah politik, teknologi dan ekonomi. Ketiga
peristiwa itu adalah:
1. Ranah politik: berupa berakhirnya perang dingin antara Timur ±yang dalam hal
ini diwakili oleh Uni Soviet- dan Barat ±yang dalam hal ini diwakili oleh
Amerika-. Tentu saja dengan ³kekalahan´ di pihak Uni Soviet yang belakangan
harus rela membiarkan wilayahnya tercabik dan melepaskan diri satu persatu.
2. Ranah teknologi: yang mewujud dalam revolusi informasi, dimana dunia
menyaksikan ledakan yang luar biasa dalam bidang telekomunikasi dan arus
perpindahan informasi yang tak terkendali dari satu tempat ke tempat yang lain.
3. Ranah ekonomi: berupa lahirnya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada
tahun 1995 yang kemudian menjadi bibit persemaian awal ide pasar dan
perdagangan bebas di antara semua negara.2[2]
Satu hal unik yang patut dicatat adalah bahwa globalisasi belum pernah terjadi atau
ditemukan pada abad-abad sebelumnya, meskipun beberapa negara atau bangsa memiliki
kekuasaan penuh (baca: menjajah) bangsa lainnya secara militer dan ekonomi. Meskipun
Romawi pernah menguasai hampir semua wilayah Eropa misalnya, namun kekuasaan itu
kemudian tidak melahirkan fenomena globalisasi ini.
Demikian pula jika kita menariknya jauh ke belakang di saat bangsa Eropa
menggalakkan ekspedisi pencarian wilayah baru di kawasan timur bumi, sejarah tidak pernah
mencatat adanya fenomena baru yang disebut globalisasi ini, meskipun sebagian negara
Eropa itu berhasil menanamkan kekuatan dan kekuasaannya di berbagai wilayah timur dunia.
Namun di zaman kiwari ini, di saat kita ±setidaknya secara kasat mata- tidak lagi melihat
bentuk-bentuk imperialisme klasik atas bangsa lain, gelombang globalisasi dengan dukungan
perkembangan telekomunikasi dan transportasi yang berkembang nyaris setiap detik, justru
menjelma menjadi fenomena yang tak mungkin lagi terbendung. Kita nampaknya tidak
mempunyai pilihan lain selain turut serta menjadi ³pemain´ dalam arusnya yang sangat kuat.
Tinggal kemudian kita yang menentukan: apakah kita sekedar menjadi ³pemain´ yang pasrah
mengikuti ke mana saja ia mengalir, atau justru menjadi ³pemain´ yang lihai memanfaatkan
arusnya untuk mewujudkan cita-cita keislaman kita.
Tulisan ini pada intinya ingin menyampaikan gagasan seputar bagaimana seharusnya
seorang muslim dapat tetap berdiri kukuh menggenggam identitasnya, sembari terus
memanfaatkan kekuatan arus globalisasi tersebut untuk kepentingan Islam yang ia yakini.
Karena itu, uraian kajian ini akan mengulas poin-poin berikut ini:
1. Apa itu globalisasi?
2. Kegelisahan bangsa-bangsa dunia akan krisis identitas mereka akibat globalisasi.
(Dampak negatif globalisasi terhadap identitas bangsa-bangsa dunia)
3. Bagaimana menyelesaikan dampak negatif globalisasi terhadap identitas muslim.
4. Bagaimana memanfaatkan globalisasi sebagai jalan untuk memperteguh identitas
muslim.
.j"!/##0
Meskipun globalisasi telah menjadi fenomena yang diakui keberwujudannya oleh
semua kalangan, namun tetap saja terjadi perbedaan pandangan saat kita akan menjelaskan
batasannya yang sebenarnya. Para cendekiawan yang mengurai masalah ini setidaknya
terbagi menjadi beberapa ³madzhab´ ketika memberikan definisi terhadap globalisasi, antara
lain:
O    adalah yang menitikberatkan fenomena globalisasi pada bidang ekonomi.
DR. Sa¶ad al-Bazi¶i misalnya menyebutkan:
Globalisasi adalah penjajahan dalam pakaiannya yang baru. Sebuah pakaian yang dibentuk
oleh kepentingan-kepentingan ekonomi dan membawa nilai-nilai yang mendukung tersebar
dan mengakarnya kepentingan-kepentingan itu. Ia adalah penjajahan tanpa dominasi politik
secara langsung atau iring-iringan militer yang kasat mata. Secara sederhana, ia adalah upaya
yang didorong oleh hasrat berkuasa manusia atas ekonomi dan pasar lokal, lalu mengikatnya
dengan sistem yang lebih besar untuk kemudian mendapatkan sebanyak mungkin konsumen.
Dan jika upaya pencarian pasar dan usaha untuk memasarkan (produk) adalah merupakan
tuntutan manusiawi yang telah ada sejak dulu hingga sekarang, bahkan disyariatkan, akan
tetapi apa yang terjadi di sini (dalam globalisasi ±pen) tidak sama dengan itu. Sebab
(globalisasi) adalah upaya untuk melakukan persaingan yang tidak berimbang ±bahkan boleh
jadi tidak terhormat- dari satu sisi, dan dari sisi lain ia adalah upaya untuk melemahkan
apapun yang menghalangi jalannya; baik itu berupa nilai ataupun upaya ekonomi dan
pemikiran.3[3]

Penjelasan ini dengan sangat jelas memandang bahwa inti dari globalisasi
sepenuhnya berputar pada satu titik utama, yaitu kepentingan ekonomi pihak yang
menggerakkan globalisasi itu. Tindakan apapun yang lahir kemudian, meskipun tidak
memiliki aroma ekonomi yang kental, sesungguhnya adalah alat untuk menyukseskan
kepentingan utama tersebut. Meskipun sebenarnya pengaitan globalisasi dengan ekonomi
bisa melahirkan dua paradigma yang kontradiktif: paradigma optimistik dan pesimistik.
Dengan paradigma optimistik kita bisa saja mengatakan bahwa globalisasi akan membuka
sekat-sekat yang selama ini menghalangi banyak negara untuk memasarkan produknya atau
mendapatkan produk-produk penunjang kemajuannya. Sementara dengan paradigma
pesimistik, kita juga bisa mengatakan bahwa globalisasi hanya akan menambah jumlah
kemiskinan dan menguntungkan korporasi-korporasi besar, yang mengakibatkan matinya
usaha-usaha kecil.4[4]

O 
 yang mengaitkan globalisasi dengan sisi pemikiran dan ideologis. Suatu
model yang disebut sebagai teologi global oleh John Hick, atau teologi dunia (  
 oleh W.C. Smith.5[5] DR. Muhammad µAbid al-Jabiry mengatakan:
Globalisasi berarti menafikan yang lain dan menjalankan µproses pemberangusan¶ pemikiran
(lain)...Ia juga berarti dominasi dan pengharusan menerapkan satu model konsumsi dan
perilaku yang sama.6[6]
Hal yang sama juga kemudian digambarkan secara lebih jelas oleh Muhammad Samir
al-Munir yang menyatakan:
Barat ingin    model, pemikiran, perilaku, nilai, gaya dan pola konsumsinya
terhadap (bangsa) lain. Sedangkan orang-orang Prancis memandang bahwa globalisasi adalah
wujud halus dari Amerikaisasi yang mewujud dalam tiga simbol: (1) kepemimpinan bahasa
Inggris sebagai bahasa kemajuan dan globalisasi, (2) dominasi film-film Hollywood dengan
ide-ide rendah namun fasilitas yang fantastik, dan (3) minuman Coca-cola, sepotong burger
dan Kentucky-nya...7[7]
Atau dalam bahasa ide yang sama, menurut Malcom Walter, bahwa globalisasi yang
datang bersama dengan kapitalisme ini malah memasarkan ideologi Barat, dan bahkan
membawa kekuatan baru yang menghapus otoritas agama, politik, militer dan sumber
kekuatan lainnya. Karena kenyataannya, -masih menurut Walter- gerakan globalisasi ini
telah membawa ideologi yang bertujuan agar semua menjadi terbuka dan bebas menerima
ideologi dan nilai-nilai kebudayaan Barat, seperti demokrasi, hak asasi manusia, feminisme,
liberalisme dan sekulerisme.8[8]

O   ada yang memberikan batasan bahwa globalisasi tidak lebih dari sekedar
sebuah fenomena ³afiliasi yang bersifat internasional´, seperti batasan yang diberikan oleh
DR. Shabri µAbdullah:
Bahwa globalisasi adalah fenomena dimana segala hal yang berhubungan dengan ekonomi,
pemikiran, sosial dan perilaku bercampur serta berkelindan menjadi satu, hingga kemudian
(hasil percampuran itu ±pent) diafiliasikan kepada seluruh dunia melampaui batas-batas
politis negara-negara.9[9]

Sementara yang lain mencoba memberikan batasan yang lebih komperhensif dan
integral terhadap globalisasi dengan menetapkan bahwa fenomena ini tidak sekedar mewakili
salah satu dari poin-poin yang dititiktekankan oleh ketiga pandangan sebelumnya. Samir al-
Tharablusi misalnya menguraikan batasan globalisasi dengan mengaitkannya ±setidaknya-
pada 3 hal:10[10] ekonomi, politik, dan pemikiran. Ia menjelaskan bahwa globalisasi adalah
sebuah pandangan strategis kekuatan kapitalisme internasional, khususnya Amerika Serikat,
yang bertujuan untuk menata ulang dunia sesuai kepentingan dan ketamakannya. Dan dalam
proses menuju itu, pandangan ini menempuh 3 jalan penting: (1) Ekonomi, dan tujuannya
adalah menekan dunia untuk masuk dalam satu pasar kapitalisme yang diatur dengan satu
sistem, dimana seluruh kekuatan kapitalisme (Tujuh negara industri, IMF, WTO, dan yang
lainnya) dikerahkan untuk mengawasi dan membatasi geraknya. (2) Politik, dan tujuannya
adalah membangun ulang tata politik negara-negara dunia dalam wujud yang terpecah-pecah
dan membangun negara-negara baru yang memiliki kekuatan legitimasi yang rapuh oleh
pertikaian internal; semuanya dengan tujuan memberangus hasrat perlawanan negara-negara
dunia terhadap kapitalisme ±yang memang tidak akan mencapai kestabilannya kecuali
dengan keterpecahan itu. (3) Pemikiran, yang bertujuan mencerabut akar bangunan
pemikiran dan peradaban bangsa-bangsa dunia, dengan tujuan menyapuratakan dunia dengan
pemikiran yang mendukung kepentingan pasar global; seperti menggiring opini negara
berkembang bahwa mereka tidak bisa melepaskan ketergantungan pada negara-negara maju.
Batasan terakhir ini mungkin menjadi penjelasan terutuh tentang globalisasi. Namun
dari semua penjelasan itu, kita dapat menyimpulkan bahwa globalisasi adalah: ³sebuah kata
yang merangkum beberapa fenomena yang intinya adalah menjadikan dunia saling
berdekatan melalui kemajuan yang dahsyat dalam sarana komunikasi, transportasi, satelit dan
internet, keterbukaan arus informasi, yang (semuanya itu) disertai dengan kekuasaan satu
kutub (dalam hal ini Amerika dengan pengaruh Zionisme) yang berusaha untuk menyatukan
semua kekuatan ekonomi, politik (termasuk didalamnya militer) dan pemikiran untuk
memenuhi kepentingannya.´
Dalam kajian ini, sebenarnya yang paling penting untuk digarisbawahi adalah
pengaruh globalisasi terhadap pemikiran bangsa-bangsa dunia. Sebab inilah yang paling
bersinggungan langsung dengan identitas mereka masing-masing. Ini pulalah yang kemudian
memberikan pengaruh paling signifikan terhadap gegar identitas itu.

,1# 12/1#$&.,$##j&"#"#/"!/##
Identitas adalah inti dan hakikat sesuatu. Bila ia dikaitkan dengan sebuah bangsa atau
komunitas, maka ia adalah ³karakter yang membedakannya dengan bangsa atau komunitas
lain, yang sekaligus mengungkapkan kepribadian peradabannya.´11[11] Dan sebuah
identitas selalu mengumpulkan 3 hal: (1) Keyakinan ideologis, (2) bahasa untuk
mengungkapkannya, dan (3) warisan budaya dan peradaban untuk jangka waktu yang
panjang.12[12] Dari ketiga unsur ini, keyakinan ideologis-lah unsur terpenting sebuah
identitas. Dalam berbagai konflik antar manusia, ketika unsur-unsur identitas yang lain
mulai memudar, maka biasanya unsur ideologis-lah yang kemudian menjadi ³pelindung´
akhir sebuah identitas.
Identitas sebuah bangsa atau komunitas tentu saja sangat penting. Berbagai
kepentingan manusia sesungguhnya bertitik tolak dari hal ini. Akibatnya, mempertahankan
dan menjaga identitas menjadi sebuah misi penting setiap bangsa atau komunitas. Mengapa
negara-negara Uni Eropa menolak Turki untuk bergabung bersama mereka? Karena
perbedaan identitas antara mereka dengan Turki. Eropa dengan sangat jelas menegaskan
bahwa mereka tidak menghendakinya ada satupun negara muslim (baca: Turki) dalam
persatuan Uni Eropa.13[13] Dengan demikian, sebenarnya kekhawatiran akan terjadinya
krisis identitas telah menjadi milik semua bangsa di dunia; suatu hal yang kemudian
mendorong beberapa bangsa itu justru melakukan ³agresi identitas´ terhadap bangsa lain.
Dan itu dilakukan dengan menunggangi globalisasi sebagai alat.
Maka tidak mengherankan jika sebelumnya ada yang menyebut globalisasi sebagai
Amerikaisasi. Dan sangat disayangkan bahwa Amerika ±kenyataannya- memang tidak
sekedar bermaksud menanamkan nilai-nilainya saja, namun bertitik-tolak dari kepentingan-
kepentingannya seringkali menerapkan standar-standar ganda dalam banyak kasus. Dan
dengan cara seperti itu, ia telah menjelma menjadi sosok ancaman besar bagi bangsa lain,
terutama Islam. Dan berikut ini hanyalah beberapa bukti akan hal itu:
Chechnya dilarang untuk memisahkan diri dari Rusia, sementara Timor-Timur justru
dipaksa untuk memisahkan diri dari Indonesia dengan campur tangan Australia serta
dukungan dari negara Barat. Begitu pula dengan negara-negara Baltik dan Georgia; mereka
boleh saja berpisah dan merdeka dari Rusia, namun tidak untuk negara-negara bekas Uni
Soviet yang muslim.
Globalisasi adalah ketika Anda boleh menyerang negara berdaulat manapun -
meskipun tidak ada izin dari PBB- hanya karena dugaan adanya senjata pemusnah massal,
sementara ada negara yang tidak jauh dari negara itu yang jelas-jelas memiliki senjata
pemusnah massal dan menduduki tanah yang bukan miliknya dengan melanggar semua
keputusan PBB. Sudah terlalu jelas, Amerika adalah pendukung Israel. Ia akan selalu
menggunakan hak vetonya dari waktu ke waktu untuk mendukung pendudukannya di tanah
Palestina. Amerika jugalah yang menyerang Irak dengan alasan-alasan kosong ³senjata
pemusnah massal´ meski tanpa izin Dewan Keamanan PBB. Ia jugalah yang memindahkan
tawanan-tawanan Afghanistan ke Guantanamo tanpa pengadilan yang transparan dan adil. Ia
jugalah yang menakut-nakuti lembaga-lembaga donor Islam sebagai pendana gerakan
terorisme, dan ia ±Amerika- boleh saja membekukan rekening lembaga atau person manapun
yang inginkan. Meski tanpa bukti yang jelas.
Gerakan-gerakan perlawanan Palestina adalah sekumpulan teroris, sementara ³sang
penjajah´ tidak lebih dari orang-orang yang melakukan pembelaan diri. Gerakan-gerakan
perlawanan Afghanistan terhadap invasi Amerika adalah teroris. Namun ketika gerakan yang
sama melakukan perlawanan terhadap invasi Uni Soviet, ia menjadi gerakan yang legal
bahkan mendapatkan dukungan kuat. Ini semua tidak lain menunjukkan adanya tolok ukur
yang kacau di pihak Amerika.
Fenomena Huntington dengan R  R -nya juga patut dicermati. Teori
yang diangkatnya tidak lebih dari sebuah ajakan untuk mengembalikan fanatisme terhadap
peradaban Barat untuk kemudian memerangi yang lain, terutama Islam. Dalam bukunya, ia
dari waktu ke waktu melontarkan provokasi untuk mewaspadai Islam, dan itu cukup berhasil
menumbuhkan kekhawatiran yang tak terlukiskan di kalangan Barat, terutama Amerika. Isu
³perang terhadap terorisme´ adalah bukti tak terbantahkan atas keberhasilan itu.
Fakta lain yang harus diangkat adalah bahwa kegelisahan akan pola globalisasi ala
Amerika ini tidak hanya milik umat Islam. Friedman misalnya menyatakan: ³Kita sedang
berada di hadapan berbagai perang politis dan peradaban yang ganas dan keji. Amerika
Serikat adalah sebuah kekuatan yang gila, dan kita adalah kekuatan revolusioner yang
berbahaya. Sebenarnya mereka-lah yang takut kepada kita.´14[14] Pada tahun 2003, dari
hasil sebuah jajak pendapat di Eropa disimpulkan bahwa Amerika kemudian Israel adalah
ancaman terbesar terhadap perdamaian dunia.15[15]
Beberapa studi juga mengungkapkan keluhan-keluhan negara-negara Timur non-
muslim akan hal ini. Jepang dan Korea Selatan misalnya. Salah satu penelitian yang
dilakukan untuk mengetahui pengaruh materi siaran televisi bagi kaum muda Korea Selatan
menunjukkan bahwa materi itu sangat mempengaruhi nilai-nilai tradisi kekoreaan mereka.
Akibatnya banyak pemudi Korea yang lebih memilih bebas dari ikatan keluarga dan moral.
Mereka bahkan meyakini bahwa tidak menjadi soal jika melakukan hubungan seks di luar
nikah, dan bahwa itu tidak lebih merupakan bagian dari kebebasan individu. Bahkan menjadi
biasa saja bagi mereka untuk merendahkan ajaran Kong Hu Chu ±yang menjadi sebagian
rakyat Korea Selatan.
Di Filipina ±yang notabene termasuk negara Asia paling ³amerikanis´-, juga
menyeruak kegelisahan akibat merasuknya nilai-nilai materialistik sebagai nilai terpenting di
kalangan pelajar dan melunturnya apa yang disebut sebagai nilai-nilai budaya Filipina yang
asli, seperti kelapangan dada, pengorbanan dan kebijaksanaan.16[16]
Bahkan sebagian negara-negara Barat pun merasakan kecemasan yang tidak jauh
berbeda dengan kecemasan-kecemasan di atas. Prancis misalnya, meskipun termasuk negara
Barat-Kristen, namun diakibatkan perbedaan bahasa, ia kemudian menjadi negara yang
paling mengeluhkan globalisasi pemikiran dan dominasi bahasa Inggris. Ini dianggap sebagai
ancaman bagi identitas Prancis.
Sebuah studi di Australia ±yang bisa disebut negara Kristen Barat paling serupa
dengan Amerika dalam hal identitas- tetap saja menunjukkan kecemasan yang sama,
terutama pengaruh materi siaran televisi Amerika terhadap anak-anak Australia. Tidak hanya
itu, di Kanada bahkan kegelisahan itu diungkapkan oleh Menteri Kebudayaan, Sheila Coops.
Ia mengkhawatirkan adanya dominasi budaya Amerika di sana. Ia mengatakan: ³Menjadi
hak anak-anak di Kanada untuk menikmati hikayat-hikayat nenek moyang mereka. Sangat
tidak masuk akal dan tidak bisa diterima jika 60% program televisi Kanada merupakan
barang impor, 70% musik kita adalah musik asing, dan 95% etika kita tidak berasal dari
Kanada.´17[17]
Contoh-contoh yang diangkat dari berbagai studi di dunia tersebut menunjukkan
adanya kekhawatiran para pemikir dan budayawan di berbagai negara akan bergesernya
identitas budaya dan kepribadian mereka oleh globalisasi Amerika. Pertanyaannya adalah
apakah di saat yang sama, umat Islam tidak perlu merasakan kekhawatiran yang sama akan
hal itu? Seharusnya kekhawatiran itu memang menjadi milik umat Islam, sebab pelaku-
pelaku globalisasi belum pernah menyatakan ³perang´ sedahsyat pernyataan perang mereka
terhadap Islam.
Hal lain yang patut diingat adalah bahwa pelaku-pelaku globalisasi itu terus berusaha
membentuk ulang pemahaman-pemahaman dasar kaum muslimin tentang alam, manusia dan
kehidupan, untuk kemudian diganti dengan pemahaman yang selama ini umum diyakini di
Barat. Alam ±dalam pandangan mereka- tidak diciptakan untuk menjadi sarana kemudahan
hidup manusia. Alam bukanlah tempat pengujian siapa yang terbaik amalnya. Manusia tidak
diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Kebalikan dari pemahaman-pemahaman semacam
ini ±yang merupakan pemahaman mendasar dalam Islam- bagi mereka tidak lebih dari
sekumpulan khurafat yang tidak bisa diterima rasio.18[18]
Jika kita beralih dari pemahaman ideologis ±yang merupakan pijakan dasar sebuah
identitas- kepada bahasa yang merupakan alat pengungkap dan penjelas dari pemahaman itu,
maka kita akan melihat dengan nyata dominasi budaya Barat hari ini dapat terlihat dengan
jelas dalam wujud bahasa. Survei di internet misalnya menunjukkan bahwa 88 %
informasinya disampaikan dengan bahasa Inggris, 9 % dengan bahasa Jerman, 2 % dengan
bahasa Prancis, dan 1 % sisanya terbagi ke dalam berbagai bahasa dunia.19[19]
Pengaruh globalisasi terhadap perubahan identitas perilaku dan akhlak dapat
dikatakan yang paling cepat terjadi dibandingkan dengan yang lainnya. Kampanye seputar
seks bebas, kehidupan hedonistik, mode busana terbaru, dan lain sebagainya, telah terbukti
sebagai isu yang paling cepat mendapatkan tanggapan, reaksi, dan penggemar.
Dan pertanyaan akhirnya ±sekali lagi- adalah: tidak patutkah semua itu
menggelisahkan identitas Islam di seluruh dunia?
Jalan Untuk Menghadapi Dampak Negatif Globalisme
Globalisasi sesungguhnya adalah fenomena yang mau tidak mau pasti terjadi. Ia merupakan
konsekwensi dan kemestian logis dari kemajuan teknologi hubungan dan interaksi manusia
yang tak kenal lelah untuk terus mencipta hal baru. Maka kemustahilan membunuh
globalisasi sama saja dengan kemustahilan mematikan hasrat kreatifitas manusia. Tetapi
penerimaan terhadap globalisasi tidak berarti kesediaan untuk larut dalam dampak negatif
yang ditimbulkannya, terutama jika itu terkait dengan identitas kemusliman kita ±
sebagaimana yang menjadi bahasan kajian ini-. Berikut ini beberapa saran teoritis yang
mungkin dapat menjadi jalan panjang untuk menghadapi berbagai dampak negatif globalisasi
tersebut:
O   melakukan upaya-upaya penguatan identitas muslim dengan unsurnya yang
paling kuat: kembali kepada Islam. Segala upaya-upaya yang dapat melahirkan kebanggaan
pada Islam seharusnya ditempuh. Sebab krisis identitas paling menemukan jalannya jika
sejati identitas itu sendiri tidak mendapatkan tempat di hati di kalangan muslim sendiri.
O 
 menampilkan sisi-sisi keindahan, keuniversalan, keadilan, dan peradaban
Islam yang luhur bagi umat Islam sendiri, sebelum kemudian menyodorkannya kepada umat
di luar Islam. Kesilauan pada identitas orang lain dan keraguan pada identitas sendiri selalu
bermula dari ketidaktahuan atau ketidaksadaran akan keunggulan diri sendiri. Muhammad
Quthb mengatakan:
Sesungguhnya jawaban hakiki terhadap ³ 
 masa kini yang bernama globalisasi ini
adalah (dengan) menampilkan model (prototipe) yang benar yang seharusnya dijalankan oleh
manusia, agar umat manusia percaya bahwa ±di alam nyata- mereka dapat mencapai
kemajuan di bidang teknologi, ekonomi, militer dan politik, dengan tetap mampu menjaga
kemanusiaan dan kebersihannya, meninggalkan hal-hal rendah dan keji, serta menegakkan
keadilan dan kebenaran.20[20]
Dan yang tak kalah pentingnya adalah membuktikan kemampuan Islam dalam memberikan
jawaban terhadap semua problematika yang dimunculkan oleh globalisasi.
O   menghadapi dampak positif globalisasi dengan upaya-upaya pendidikan,
pencerahan pemikiran, peningkatan kualitas intelektual dan perang terhadap kebodohan.
O  memberikan jaminan kemerdekaan dan kebebasan pemikiran di tengah kaum
muslimin. Sebab kemerdekaan dan kebebasan berpikir adalah upaya terpenting untuk
membagi dan menumbuhkembangkan potensi dan kreatifitas individu muslim, yang pada
akhirnya menjadi faktor mendasar bagi berkembangnya sumbangsih kaum muslimin untuk
peradaban dunia. Hanya saja, kemerdekaan ini tidak bisa dipahami sebagai kebebasan
membuka pintu untuk mengekspresikan apapun, dan tidak pula berarti penerimaan terhadap
semua ide dan pemikiran. Kemerdekaan yang dimaksud di sini adalah kemerdekaan yang
dibingkai dengan aturan-aturan syara¶.
O   harus ada upaya untuk memahami lebih jauh tentang globalisasi pemikiran.
Upaya ini lebih ditujukan untuk mengetahui lebih jauh titik kekuatan dan kelemahan, sisi
positif dan negatifnya melalui pandangan Islam yang terbuka. Di sini harus tercipta sebuah
dialog antar peradaban. Dan poin penting lain yang harus dicatat adalah bahwa sikap kritis
yang total terhadap peradaban Barat dalam studi ini harus didukung oleh kebebasan jiwa dari
dominasi ide-ide Barat. Ide-ide Barat tidak boleh menjelma menjadi sesuatu yang mutlak. Ia
harus diletakkan sebagai unsur yang sama dan sederajat dengan unsur-unsur dunia lainnya.
O  menciptakan komitmen dengan media-media massa dan informasi untuk ikut
serta memperkuat identitas keislaman umat. Tidak ada yang meragukan bahwa pergeseran
identitas banyak dipengaruhi oleh siaran televisi, radio, media massa, dan ±yang mengalami
ledakan dahsyat dalam dasawarsa belakangan ini- internet. Upaya ini menuntut kreatifitas
dan inovasi yang tinggi dari para pelaku media informasi dan komunikasi muslim untuk
melahirkan program-program alternatif yang bermutu.

Penutup
Pada akhirnya, Islam dan umat Islam sesungguhnya dapat memanfaatkan globalisasi
sebagai jalan efektif untuk memperteguh identitasnya. Bahkan sudah seharusnya demikian.
Artinya pemanfaatan globalisasi dalam rangka meneguhkan ±bahkan menyebarkan- identitas
Islam dan umat Islam sesungguhnya telah sampai pada taraf kewajiban. Apalagi salah satu
doktrin penting yang sering digaungkan oleh umat Islam sendiri adalah bahwa Islam adalah
agama Î  o 
Pemanfaatan globalisasi tentu saja didasarkan pada pandangan objektif bahwa
fenomena ini tidak sepenuhnya mengandung nilai-nilai negatif. Fenomena ini sebenarnya
menyimpan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, yang dampak-dampaknya sepenuhnya
bergantung pada ³siapa dan bagaimana´ ia dimanfaatkan. Senjata paling mematikan yang
dimiliki oleh globalisasi adalah media informasi dan sarana telekomunikasi dengan segala
variannya yang berkembang setiap hari. Dan seperti yang telah disinggung sebelumnya, hari
ini kita menantikan kolaborasi cantik antara ulama, pemikir, ilmuwan ahli, budayawan, dan
pelaku-pelaku globalisasi muslim untuk meracik secara tepat, untuk kemudian menyajikan
jawaban positif Islam atas globalisasi.


http://abulmiqdad.multiply.com/journal/item/10
,-!"!.

'()#*#÷)#+#'#' 

$ %& 

j 



j  j

Shalahuddin El Ayubbi




Kita tidak dapat setia kepada Islam dan menyerap kebudayaan Barat pada waktu yang bersamaan
karena kebudayaan Barat bertumpu atas penolakan yang menentang kepada Allah dan kekuasaan
hukum kerohanian-Nya serta moralitas atau hukuman setelah kehidupan ini. Semua seni dan ilmu
pengetahuan moden, pakaian, arsitektur, sikap dan hiburan mencerminkan filsafat materialistik
(Maryam Jamilah: 1983).<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!--[endif]-->

Pada masa sekarang ini kemajuan teknologi, khasnya dalam bidang informasi, komunikasi, dan
transportasi begitu cepat. Arus orang, jasa, dan informasi bergerak dengan jauh lebih cepat, dalam
jumlah yang makin besar, dengan kualitas yang makin baik, dan dengan biaya yang makin murah. Maka
yang akan keluar sebagai pemenang dan memperolehi manfaat dari globalisasi adalah yang telah secara
mantap mempersiapkan diri. Pengaruh atau kesan yang ditimbulkan oleh globalisasi ini begitu besar dan
luas, ia telah menyentuh seluruh aspek sendi-sendi kehidupan manusia. Mulai politik, sosial, budaya
bahkan agama terkena pengaruh daripada globalisasi.

Selama lebih kurang dua abad dunia Islam menghadapi serangan peradaban dan pandangan
dunia asing yang mengancam. Serangan itu banyak merusakkan peradaban yang dibangun Islam
berabad-abad lamanya. Walaupun beberapa dekade terakhir dunia Islam telah meraih kemerdekaan
politiknya, namun pengaruh dominasi Barat moden terhadap filsafat, budaya, seni, politik, ekonomi dan
sosial tetap berlangsung dengan berbagai cara menembus keluasan dan kedalaman Dar al-Islam. Sejak
daripada keluarga hingga negara, daripada ekonomi hingga arsitektur masjid, daripada puisi hingga
obat-obatan, semuanya dipengaruhi oleh pandangan dunia asing yakni dunia moden.
Barat telah banyak melahirkan orientalis yang mempelajari Islam menurut sudut pandang
mereka, tetapi dunia Islam melahirkan sedikit oksidentalis yang dapat mempelajari berbagai aspek
peradaban Barat dari sainsnya hingga seni, dari agama hingga perilaku sosial, menurut sudut pandang
Islam. <!--[if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]-->

Makalah sederhana ini pada hakekatnya ingin menyampaikan bagaimana seharusnya dacwah
Islamiah itu terus berjalan dengan baik tanpa harus ikut tenggelam dalam globalisasi atau menolak sama
sekali perkembangan yang mahu tidak mahu pasti akan kita alami. Oleh kerananya, makalah ini akan
menghuraikan secara singkat mengenai :

<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Pengertian globalisasi.

<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Pengaruh globalisasi terhadap dunia

<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Cabaran dacwah dalam era globalisasi.

<!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Solusi yang ditawarkan untuk penyelesaian.

ë j

j  j

!lobalisasi atau !lobalization dalam bahasa arab disebut dengan V V VV iaitu VV daripada V 

V berdasarkan timbangan atau
V V VV V yang memiliki erti alam atau dunia yang dalam
bahasa arab disebut dengan V  VV

!lobalisasi menurut pandangan sebagian orang ialah: Melenyapkan dinding dan jarak antara satu
bangsa dengan bangsa lain, dan antara satu kebudayaan dengan kebudayaan yang lain. sehingga
semuanya menjadi dekat dengan kebudayaan dunia, pasar dunia dan keluarga dunia. <!--[if
!supportFootnotes]-->[3]<!--[endif]-->

Pendapat lain mengatakan bahawa globalisasi ialah suatu proses membuka keadaan, yang pada
umumnya dapat dipahami sebagai proses di mana sempadan negara-negara semakin runtuh dan
seluruh buana ini semakin berubah menjadi satu unit.
Dalam makalahnya yang bertajuk O  V    V V V VV Dr. Yusuf al-Qardhawi
mengatakan, bahawa seperti kelihatan ada persamaan antara makna globalisasi V V VV yang
dipahami dunia barat pada hari ini dengan makna globalisasi V  VV yang dimaksudkan oleh Islam.
Seperti dalam firman Allah swt :

<!--[if !supportFootnotes]--><!--[endif]-->

Maksudnya: Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.[4]

<!--[endif]-->

Maksudnya: Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia
menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.[5]

Akan tetapi sebenarnya ada perbezaan yang besar antara keduanya. Erti yang dipahami oleh
Islam mengenai globalisasi atau V  VV adalah sesuatu yang berasaskan nilai-nilai penghormatan
dan persamaan kepada seluruh manusia (al-Isrā:70). Bahawa setiap manusia memiliki hak dan tanggung
jawab yang sama dihadapan Allah swt. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw ketika
melaksanakan haji terakhir beliau :

͞Wahai Manusia, ketahuilah bahawa Tuhan kalian adalah satu dan nenek moyang kalian adalah satu.
Ketahuilah, tiada kelebihan seorang arab kepada orang ajam juga sebaliknya. Dan tiada kelebihan orang
yang berkulit merah atas yang berkulit hitam juga sebaliknya, kecuali hanyalah ketakwaan͙͟
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya 5/411).

Berbeza dengan pemahaman Barat mengenai globalisasi V V VV sekarang ini, yang
mengertikannya sebagai keharusan untuk menguasai politik, ekonomi, kebudayaan, sosial masyarakat
ala Amerika di dunia. lebih lagi terhadap dunia timur atau dunia ke tiga atau yang lebih khas lagi adalah
dunia Islam.

Jika dilacak dari akar katanya dacwah berasal daripada daca yang bermakna seruan, panggilan,
ajakan atau undangan. Al-quran menyebutkannya sebanyak 217 ayat. Dalam tinjauan terminologis,
dacwah didefinisikan para ahli sebagai berikut : ͞dacwah adalah mengajak manusia dengan cara
bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan
mereka di dunia dan akherat͟. Defenisi lain, ͞dacwah Islam adalah mengajak umat manusia dengan
hikmah kebijaksanaan dan nasehat yang baik͟.

Dari dua definisi di atas setidaknya ada empat unsur pengertian pokok dacwah. VV, dacwah
adalah sebuah proses penyampaian ajaran Islam kepada orang lain dengan sadar dan terencana. O V,
kegiatan dacwah adalah memerintahkan kebaikan (amar macruf) dan mencegah kemunkaran atau
kemaksiatan (nahy al-munkar). O V, dacwah dapat dilakukan oleh individu atau kelompok muslim.
O V, dacwah memiliki tujuan terbentuknya individu atau masyarakat yang taat dan menjalankan
sepenuhnya ajaran Islam. <!--[if !supportFootnotes]-->[6]<!--[endif]-->



* 

j  jj

Pengaruh globalisasi terhadap dunia pada dasarnya dapat dibahagi kepada tiga bahagian utama, iaitu :

<!--[if !supportLists]-->3.1 <!--[endif]-->!lobalisasi Politik

Munculnya globalisasi politik dimulai dari berakhirnya perang dunia ke dua dan dimulainya perang
dingin antara kekuatan-kekuatan besar di dunia untuk saling memperebutkan otoritas, pengaruh,
hegemoni dan perembutan sumber ekonomi dan pasar internasional serta perang peradaban dan
kultural di dunia global yang tak terbatasi lagi oleh wilayah territorial. Maka sering dikatakan bahawa
dengan berakhirnya perang dingin adalah dimulainya era globalisasi dalam erti yang sebenarnya.

Sebagian orang berpendapat bahawa globalisasi sekarang ini adalah mempunyai maksud
westernisasi dunia atau dengan ungkapan lain: Amerikanisasi dunia. Sehingga yang kemudian terjadi
adalah upaya-upaya pemaksaan kehendak dari negara super tersebut kepada negara-negara kecil yang
boleh dipahami sebagai sebuah imperialisme gaya baru. Hal ini dibuktikan daripada berbagai kebijakan
politik luar negeri Amerika yang selalu berupaya untuk melindungi kepentingannya. <!--[if
!supportFootnotes]-->[7]<!--[endif]-->

Bila Barat mempersembahkan demokrasi kepada dunia dengan klaim bahawa itu
merupakan produk mereka, lalu mereka mendorongnya, memberikan ͞berkah͟ kepada siapa saja yang
menerapkannya, serta mengharuskan pajak kepada siapa saja yang tidak menerimanya, maka Barat
sebenarnya menggunakan standar ganda dalam hal ini.
Mari kita lihat beberapa contoh akan hal itu; ketika pemerintahan yang konstitusional
demokratis dan merdeka berdiri di Damaskus selama 1918-1920, Eropa memperlakukan negeri yang
demokratis ini dengan sangat keras. Ia menghancurkan eksperimen itu dengan kekuatan, menindas para
tokohnya, memberangus institusi-institusinya yang baru tumbuh, memutarbalikkan fakta, dan menjelek-
jelekkkan nama baiknya.

Di Mesir, kekuasaan Inggris selalu melakukan intervensi terhadap Partai Wafd, yang merupakan
partai nasional terbesar saat itu. Ketika gerakan Ikhwanul Muslimin menjadi kekuatan nasional yang
konkret di Mesir, negara-negara Barat menyampaikan petisi bersama kepada Raja, yang meminta agar
Raja memukul dan menjatuhkan gerakan ini.

Di Suriah, kekuasaan mandatori Perancis melakukan berbagai teror dan tipu muslihat untuk
menghalangi orang-orang Suriah menggolkan calon-calonnya dari front nasional ke kursi parlemen.

Di Maroko, banyak di antara rakyatnya yang tidak diperkenankan berpartisipasi dalam kehidupan
sosial umumnya. Pada waktu yang sama, para pejabat administrasi kolonial memengang kunci-kunci
kekuasaan dan ekonomi, serta mengatur negeri itu untuk kepentigan mereka sendiri.

Berbagai kontradiksi dalam politik Barat seperti ini tidak mungkin dapat dipahami, kecuali jika telah
kita akui bahawa ada dua jenis demokrasi. Pertama, demokrasi ekstra untuk Amerika, Barat dan negara-
negara yang loyal kepadanya. Kedua, demokrasi jenis kedua atau ketiga, untuk dunia ketiga. <!--[if
!supportFootnotes]-->[8]<!--[endif]-->

3.2 !lobalisasi Ekonomi

Ratusan tahun lamanya Indonesia itu dihisap kekayaannya oleh negara-negara Barat. Bukan hanya
indonesia, semua negara-negara kulit berwarna sehingga Barat menjadi kuat, menjadi makmur,
menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang. Melalui IMF dan The Word Bank nya mereka
mendikte negara negara lain. (Pramoedya Ananta Tour).

Menurut Jamaluddin cAtiyah bahawa yang dimaksud dengan globalisasi di bidang ekonomi ialah
menyatukan seluruh dunia kepada satu pasar bebas (free market). <!--[if !supportFootnotes]-->[9]<!--
[endif]-->
Sebahagian lain berpendapat bahawa yang dimaksud dengan globalisasi ekonomi iaitu tentang
pemindahan kepemilikan umum dan perseroan-perseroan kepemilikan khusus untuk mengurangi
pengawasan dan campur tangan pemerintah dalam negeri. <!--[if !supportFootnotes]-->[10]<!--[endif]--
>

 )        &           /    
00      / 0 / &1&&0 
0 / /  &0     &  
       /      /00    1 2 /   3 
/  40     / $  2   50        
/          1 '          &  
/ &  /        6       0     / 
/     /17/  /     /  
 /  +  #   /  /  &  /    &       &   
 /   18 *  &         /
/0& +    1

 8         / & / &     &     
2(    539$:4&7&&  //!;
&   0  0  /   2    5 &  / / 
& 1

28 //   $  53 &  /  0 
 & / 410  3/ 4  3/ 4   
    3   &4&  0  6         %   1
6     %  / /       / 
/    $         &1 37& "<4 =>? $
> // ,   @A[11]=>? $@A

 '    /      &    &   &      
0 /    #$ 1÷&/  //     
/      1 '   
              )
,     +#$ '1

 ) &0     /   &   &      &
   0 / /  &    &1
  
        & / /% 
1=>? $> // ,   @A[12]=>? $@A


3.3 !lobalisasi Sosial dan Budaya.

Pengaruh globalisasi telah masuk kedalam seluruh kehidupan masyarakat. Kita mungkin pernah
bertanya kenapa celana jeans itu begitu populer dikalangan remaja. Atau barangkali terpikirkan juga
mengapa sebagian dari kita lebih suka menghabiskan waktunya di Starbucks Coffee atau J¶Co Donnut
yang lebih terkesan sangat bergaya Barat. Padahal, secangkir kopi racikan Starbucks Coffee di Negara
asalnya di Seatle, Amerika Serikat, lebih mahal enam sampai delapan kali dari harga racikan kopi di
pinggir jalan di Amerika Serikat yaitu $. 50 sen.

!lobalisasi telah menghilangkan sekat-sekat geografis antara satu negara dengan negara yang
lain, antara satu budaya dengan budaya yang lain. Dengan menggunakan istilah ͞kebudayaan
internasional͟ atau ͞moderenisme͟ Barat; Eropah dan Amerika terus menerus mengekspor kebudayaan
mereka ke belahan dunia yang lain. Sementara Asia dan Afrika hanya melakukan import sahaja. <!--[if
!supportFootnotes]-->[13]<!--[endif]-->

Dengan isu globalisasi ini, Barat ingin mewajibkan model, pemikiran, perilaku, nilai, gaya dan
pola konsumsinya terhadap bangsa lain. Sedangkan orang-orang Prancis memandang bahwa globalisasi
adalah wujud halus dari Amerikaisasi yang mewujud dalam tiga simbol: (1) kepemimpinan bahasa Inggris
sebagai bahasa kemajuan dan globalisasi, (2) dominasi film-film Hollywood dengan ide-ide rendah
namun fasilitas yang fantastik, dan (3) minuman Coca-cola, sepotong burger dan Kentucky-nya. <!--[if
!supportFootnotes]-->[14]<!--[endif]-->

Tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah globalisasi pemikiran (gazwul fikri) atau perang
pemikiran sebagai hasil daripada perkembangan teknologi dan informasi khususnya televesi dan
internet. Dibandingkan dengan perang fisik atau militer, maka ghazwul fikri ini memiliki beberapa
keunggulan. Antaranya ialah: O VV, dana yang diperlukan tidak sebesar dana yang diperlukan untuk
perang fisik. O V sasaran daripada ghazwul fikri ini tidak terbatas. O V serangannya dapat
mengenai siapa saja, dimana saja dan kapan saja.  V tidak ada korban dari pihak penyerang.
O V korban tidak merasakan bahawa sesungguhnya dirinya dalam kondisi diserang. O V kesan
yang dihasilkan sangat fatal dan berjangka panjang. O  efektif dan efisien.


 


j  j

Era globalisasi yang ditandai dengan begitu cepatnya perkembangan disegala bidang, tentu saja
menghasilkan nilai-nilai positif dalam kehidupan manusia. Akan tetapi, disamping nilai-nilai positif
tersebut, globalisasi juga memberikan kesan negatif yang tidak sedikit.

Menurut data statistik 45 peratus dari kejahatan di Jepun pada tahun 1983 melibatkan anak-
anak muda. Jepun juga termasuk negara yang paling tinggi tingkat bunuh diri dikalangan masyarakatnya.
Korea Selatan yang mengalami kemajuan industri, juga mengalami kegoncangan dalam kehidupan
sosial, terutama kerana alih pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor industri. Lembaga perkahwinan
dan kehidupan seks melonggar serta kasus pengguguran kandungan meningkat. <!--[if
!supportFootnotes]-->[15]<!--[endif]-->

Permasalahan dacwah Islamiah dalam arus globalisasi bukan lagi setakat masalah kepimpinan
dan organisasi tetapi menyangkut permasalahan pengurusan, strategi dan hambatan yang terpaksa
dihadapi oleh golongan pendakwah dalam menangani dan mengharungi arus perkembangan yang pesat.
Cabaran tersebut dapat kita bahagi menjadi dua bahagian penting:

4.1 Permasalahan Dalaman

Yang dimaksud dengan permasalahan dalaman ialah ialah masalah yang terdapat dalam diri Muslim dan
kelompok Muslim itu sendiri yang menjadi penggerak dacwah Islam. Diantara permasalahan yang
terbesar ialah :

<!--[if !supportLists]-->4.1.1 <!--[endif]-->Keterbatasan Ilmu

Oleh karena keterbatasan ini maka lahirlah kekaburan dalam memahami Islam secara menyeluruh
secara tepat. Ada golongan yang menekankan ibadat dan kerohaniaan semata-mata dengan andaian
bahawa segala persoalan dapat diselesaikan dengan kebersihan jiwa sahaja. Ada golongan yang
menekankan aspek intelektual sahaja tanpa mengira aspek-aspek yang lain dengan andaian bahawa
segala persoalan dapat diselesaikan dengan kematangan intelektual sahaja. Ada yang menekankan
aspek politik sahaja dan ada golongan yang hanya menekankan aspek kerja sosial dan kebaikan sahaja.

Padahal Islam perlu difahami secara menyeluruh. Baik dari aspek kerohaniaannya, politiknya,
sistem masyarakatnya, perundangannya, ekonominya dan lain-lain. Hal ini berbeza daripada
kecenderungan generasi al-Qurcan yang dibina oleh Rasulullah saw. Mereka bukan sahaja memahami
ilmu Islam tetapi matang dengan ilmu-ilmu yang berkembang dalam masyarakat. Sebab itulah mereka
mampu mengubah asas pemikiran falsafah Yunani, Parsi dan lain-lain kerana persediaan intelektual
mereka tinggi mengatasi golongan-golongan yang lain. <!--[if !supportFootnotes]-->[16]<!--[endif]-->

4.1.2 Kelemahan dalam pendekatan dacwah

Di antara permasalahan yang dihadapi dalam dacwah ialah kelemahan dalam pendekatan dacwah itu
sendiri dilihat dari segi penyampaian, isi dan pengolahan dengan kelompok sasaran. Pendek kata,
disiplin psikologi dan sosiologi kurang sekali digunakan dalam dacwah; justeru itu ia kadang-kadang
menimbulkan sikap tidak bagi pihak yang mendengar untuk menerimanya, terutama kalangan
profesional dan ilmuwan. <!--[if !supportFootnotes]-->[17]<!--[endif]-->

Dalam arus globalisasi fenomena dacwah perlu banyak diperbaiki. Perlu dirancang kembali.
Prinsip asas dalam dacwah perlu dicernakan dan melihat kepada suasana dan realiti yang ada. Dalam al-
qur͛an ataupun sirah nabi kita telah banyak melihat metode dan cara-cara yang dianjurkan dalam ber
dacwah. Namun yang menjadi cabaran bagi kita bagaimana metode asas yang telah diajarkan oleh al-
qur͛an itu dapat kita cerna dan kita realisasikan mengikuti perkembangan yang berlaku. Realita yang ada
umat Islam adalah jauh ketinggalan dalam hal menguasai teknologi yang terus berkembang setiap masa
dan setiap saat. <!--[if !supportFootnotes]-->[18]<!--[endif]-->

4.1.3 Kurangnya Persatuan



Salah satu cabaran yang tidak kalah pentingnya dalam perkembangan dacwah ialah kurang bersatunya
kaum muslimin secara umum dan para pendacwah secara khasnya. Para pendacwah sibuk dalam
perbantahan pada masalah yang hanya menimbulkan rasa sakit di dalam dada, menghambur-
hamburkan masa dan melupakan perkara yang lebih penting daripada itu. Seperti yang dilakukan oleh
orang-orang Byzantium yang memperdebatkan manakah yang lebih dahulu wujud, Telur atau Ayam? <!-
-[if !supportFootnotes]-->[19]<!--[endif]-->

Allah swt berfirman:

<!--[if !supportFootnotes]--><!--[endif]-->

Maksudnya: Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud
membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.[20]

Belum lagi ditambah dengan beberapa penyakit yang lain seperti suka marah tapi tidak suka
melakukan perlawanan. Sibuk dengan kulit, tidak peka terhadap isi. Rajin membuat organisasi, kurang
mampu membuat jaringan. Cenderung memahami segala sesuatu secara simplitis, kurang suka dengan
kerumitan-kecanggihan padahal inilah adanya segala sesuatu. Enggan melihat diri sendiri sebagai
tumpuan perubahan, sebaliknya cenderung berharap perubahan daripada pemimpin. Cenderung
memahami dan menjalani segala sesuatu secara parsial (juz͛i) tidak secara integral (kaaffah). Sering
menjadikan politik sebagai tujuan, bukan politik sebagai alat. Senang mengandalkan dan memobilisasi
orang banyak atau massa untuk segala sesuatu, abai pada fakta bahwa perubahan besar dalam sejarah
selalu digarap pertama-tama oleh creative minority. (ironisnya, ini justru secara spektakuler dicontohkan
oleh Muhammad Saw beserta lingkaran kecil diseputarnya di Mekkah serta kaum Muhajirin dan Anshar
di Madinah). Senang berpikir bagaimana memakmurkan masjid, kurang giat dan serius berpikir
bagaimana memakmurkan jamaah masjid. Senang menghafalkan tujuan sambil mengabaikan
pentingnya metode. Senang merebut masa depan dengan meninggalkan hari ini atau merebut hari ini
tanpa kerangka masa depan, bukannya merebut masa depan dengan mencoba merebut hari ini. !egap
gempita diwilayah ritual, senyap diwilayah politik dan sosial. Selalu ingin cepat meraih hasil, melupakan
keharusan untuk bersabar. Sangat pandai melihat kesalahan pada orang lain, kurang suka melakukan
instropeksi. <!--[if !supportFootnotes]-->[21]<!--[endif]-->
4.2 Permasalahan Luaran

Yang kita maksudkan dengan permasalah luaran ialah sesuatu yang menghalang yang datangnya dari
luar diri Muslim dan kelompok yang bekerja untuk dacwah Islam itu. Di antara masalah yang dihadapi
ialah ancaman daripada agama-agama lain seperti Kristian dan lainnya, begitu juga aliran-aliran
pemikiran yang didakwa sebagai aliran Islam seperti Qadyani, Baha͛iy, ilmu-ilmu kebatinan dan
sebagainya.

Oleh itu dalam menghadapi aliran-aliran ini, kita perlu ada orang yang berkemampuan dan mahir
dalam melihat kelemahan-kelemahan pemikiran itu. Ideologi dan isme-isme seperti komunisme,
sosiolisme, eksistensialisme, materialisme, humanisme dan lain-lain.

Peranan media massa tidak kurang bahayanya terhadap Islam, kerana ia banyak menyebarkan
idea-idea yang bercanggah dengan Islam, dan menanam nilai-nilai negatif dalam masyarakat yang
mengarah kepada kehidupan primitif dan kebebasan tanpa had. <!--[if !supportFootnotes]-->[22]

<!--[if !supportLists]--><!--[endif]-->
 j
 j

Dari beberapa cabaran dan tantangan di atas, mungkin kita dapat memikirkan dan mencadangkan
beberapa solusi penyelesain khususnya dalam bidang dacwah ini. Sehingga kemajuan yang dicapai dalam
masa globalisasi ini tidaklah menjadi sebuah penghalang bagi perkembangan dacwah akan tetapi
sebaliknya dapat menjadi alat atau sarana bagi kita untuk mengembangkannya lebih baik lagi pada masa
hadapan.

5.1 <!--[endif]-->Solusi Permasalahan Dalaman

Permasalahan dalaman yang dimaksud disini ialah sebagaimana yang telah dijelaskan diatas adalah
permasalahan yang sering terjadi pada diri seorang daci atau kelompok dacwah. Beberapa solusi yang
dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
<!--[if !supportLists]-->5.1.1 <!--[endif]-->Solusi Keterbatasan Ilmu

Persaingan globalisasi memerlukan pendacwah khususnya dan umat Islam umumnya mempunyai pikiran
yang kreatif, inofativ dan imajinatif. Para pendacwah harus mempunyai keupayaan untuk melihat hasil-
hasil perkembangan teknologi dan mengambil langkah-langkah yang strategik dan berkesan bagi
meningkatkan mutu dacwah Islamiah. Untuk memenuhi keperluan ini, sistem pendidikan dan latihan
tenaga dacwah haruslah lebih responsif kepada keperluan semasa yang dinamik. <!--[if
!supportFootnotes]-->[23]<!--[endif]-->

Seorang pendacwah diminta untuk tidak sekedar mengetahui ilmu-ilmu agama sahaja, akan
tetapi juga diperlukan untuk menguasai ilmu-ilmu semasa yang sentiasa terus berkembang setiap saat.
Para da͛i sebagai ejen sosialisasi nilai-nilai Islam perlu memiliki kesedaran informasi, keakraban dengan
teknologi serta memiliki kemampuan menerima, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi
secara benar dan tepat. Mampu mengemas kandungan dacwah dengan bahasa lisan mahupun tulisan
sesuai tatanan supply dan demand. Kerananya, perencanaan dacwah lebih ditekankan agar berorientasi
sentripetal jangan hanya bersifat sentrifugal.

<!--[if !supportLists]-->5.1.2 <!--[endif]-->Solusi Dalam Pendekatan Dacwah

Untuk menyelesaikan masalah ini, setiap pendakwah diperlukan untuk lebih baik dalam metode
penyampaian dacwahnya. Seorang pendacwah perlu melihat kepada situasi, kondisi dan objek sasaran
dacwah.

Masalah yang sering dihadapi adalah sebahagian pendacwah hanya menerapkan satu metode
sahaja dalam menjalankan misinya. Akibatnya dacwah yang disampaikan tidak mencapai hasil yang
sempurna sesuai yang dirancang, bahkan lebih buruk lagi misi tersebut gagal mendapat respon positif
dari masyarakat sebagai sasaran dacwah.

Allah swt dalam al-Qurcan dan Rasulullah saw melalui sunnah beliau telah memberi contoh
bagaimana misi ini mesti dijalankan. Iaitu dengan penuh hikmah, nasehat yang baik dan jidal yang penuh
sopan dan santun (S. an-Nahl: 125) <!--[if !supportFootnotes]-->[24]<!--[endif]-->
<!--[if !supportLists]-->5.1.3 <!--[endif]-->Solusi atas Kurangnya Persatuan

Rasulullah saw bersabda:

<!--[if !supportFootnotes]-->[25]<!--[endif]- ϝΪΠϟ΍ ΍ϮΗϭ΃ ϻ· ˬϪϴϠϋ ΍ϮϧΎϛ ϯΪϫ ΪόΑ ϡϮϗ Ϟο Ύϣ


->

Maksudnya : Tidak akan sesat umat sesudahku, kecuali mereka yang suka berbuat jidal (berbantah-
bantahan).

Menurut penulis kelemahan ini yang sedang dihadapi oleh umat Islam secara umum dan
kalangan pendacwah secara khusus. Kita lebih banyak mencari sisi perbedaan daripada persamaan yang
ada. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu dan tenaga membincangkan perkara-perkara yang tidak
esensial.

Untuk menyelesaikan cabaran ini, solusinya tidak lain dan tidak bukan selain mempersempit
jurang perselisihan dan memperat persatuan. Menyadari bahawa pendapat kita bukanlah yang terbaik,
bahawa masih ada pendapat lain yang mungkin lebih baik dan benar. Menghilangkan sikap berburuk
sangka diantara sesama kita (S. al-Hujarat: 12).

DR. Ramadan al-Buthi menulis :

͞Wahai muslimin, dengan model apa kalian bermuacamalah? Jika kalian mengatakan bahawa kalian
masih berpegang kepada apa yang diajarkan Islam, maka agama ini masih tetap memanggil kalian untuk
bersatu dan menghilangkan perselisihan (S. al-Imran : 103). Jika kalian bermuacamalah atas dasar
kepentingan, maka tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak mengetahui bahawa kepentingan
kalian akan terpenuhi semua dengan bersatunya kalian wahai muslimin͟ <!--[if !supportFootnotes]--
>[26]<!--[endif]-->

<!--[if !supportLists]-->5.2 <!--[endif]-->Solusi Permasalahan Luaran

Untuk menghadapi cabaran yang berasal daripada luar, maka kita perlu lebih waspada dan cermat
dalam meneliti akan setiap usaha-usaha pemeluk lain yang berusaha menyeru kepada kesesatan. Oleh
sebab itu usaha hendaklah digandakan untuk meningkatkan kefahaman Islam dan penghayatan ibadah
dan nilai-nilai agama dalam masyarakat agar tidak ada di antara anak-anak orang Islam yang boleh
terjerumus dalam kemurtadan dan bertukar agama menjadi pengikut faham kekufuran. Selain dari
kejahilan kemiskinan juga antara penyebab mengapa segelintir umat Islam bertukar agama.

Kita juga perlu mengawal media massa perlu dikontrol dengan lebih ketat dalam segala bentuk
pelaksanaannya. Selanjutnya, umat Islam sudah seharusnya memiliki media massa yang berlandaskan
al-qurcan dan sunnah untuk mendidik, meningkatkan kewarasan, menyelesaikan masalah,
menyampaikan risalah dan saranan Allah kepada seluruh manusia, menghibur dalam batas yang halal
dan kadar yang munasabah, membela golongan yang tertindas dan teraniaya, mempertahankan
kebenaran dan keadilan.

Termasuk juga upaya untuk memakmurkan masjid sebagai sebuah institusi yang begitu penting
dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat muslim. Manajemen atau pengaturan masjid perlu lebih
ditingkatkan. Antara lain dengan pemilihan jawatankuasa yang berwibawa, program yang menarik,
persekitaran yang bersih dan ceria, pengurusan khutbah yang berkesan, pelatihan kepada pihak
pengurusan masjid, pembangunan jaringan antara masjid dengan institusi yang lain dan lain sebagainya.
<!--[if !supportFootnotes]-->[27]<!--[endif]-->

Penggunaan media massa untuk kegiatan dacwah sangat vital. Sungguhpun demikian, media
dacwah bukan hanya terbatas melalui lisan dan tulisan, tetapi lebih ditekankan pada pola dacwah bil hal.
Terutama menghadapi kaum du͛afa͛, sebagai disebut Ace Partadireja (Achamad 1985, 120) bahawa
medium yang lebih efektif adalah dacwah melalui enam keperluan pokok manusia iaitu makanan,
pakaian, pemukiman, pendidikan, kesihatan dan pekerjaan. Dalam hal ini, diperlukan kerjasama antara
lembaga atau organisasi dacwah untuk meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat. <!--[if
!supportFootnotes]-->[28]<!--[endif]-->

<!--[if !supportLists]-->=<!--[endif]-->

Demikianlah huraian singkat dari penulis mengenai isu dakwah dalam menghadapi cabaran pada era
globalisasi seperti sekarang, pada saat arus pengetahuan, informasi, modal dan teknologi dengan cepat
berpindah dari satu kawasan ke kawasan lain, dari satu negeri ke negeri lain. Sepertinya gerakan dakwah
mendapat tantangan baru untuk merespon secara tepat tentang bagaimana arus global itu dihadapi dan
ditanggapi. Namun tentu saja perlu diidentifikasi lebih dahulu apa yang baik dan buruk untuk
terciptanya masyarakat yang penuh dahmat dan diridhai-Nya.

Penulis mengharapkan agar melalui makalah kecil ini, kita dapat mengambil nilai-nilai positif
sekaligus mengembangkannya dalam usaha dacwah yang sedang dijalankan dan akan terus kita jalankan
menuju ke arah yang lebih baik dan lebih maju. ºV VV V