Anda di halaman 1dari 32

GOLONGAN DARAH

Golongan darah : A / B / AB / O
Fungsi mengetahui golongan darah
 Transfusi darah
Penyesuaian golongan darah menjadi salah satu syarat penting untuk mendonorkan darah atau menerima
transfusi darah.
 Mencegah komplikasi transfusi
Tidak semua golongan darah bisa cocok satu sama lain, jadi penting untuk menerima donor atau mendonorkan
darah sesuai dengan golongan darah Anda. Menerima darah yang tidak sesuai dengan golongan darah Anda bisa
memicu penggumpalan darah dan komplikasi yang berakibat fatal bagi tubuh. Gejala dari ketidaksesuaian
golongan darah pada proses transfusi darah yaitu demam, menggigil, mual, kulit dan mata tampak kuning, nyeri
dada, perut, atau punggung, terdapat darah pada urine, dan sesak napas. Tahapan komplikasi selanjutnya akibat
transfusi yang tidak cocok dapat menyebabkan gagal ginjal, atau bahkan kematian.
 Penting untuk ibu hamil
Cek golongan darah juga penting bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Jika ibu dan janin memiliki
golongan darah dengan rhesus yang berbeda, maka akan berpotensi membahayakan janin.
Misalnya, seorang wanita dengan golongan darah Rh negatif menikah dengan pria yang memiliki Rh positif.
Maka janin yang dikandung bisa bergolongan darah Rh positif. Perbedaan Rh antara calon ibu dan janin ini bisa
menyebabkan reaksi imunitas dari tubuh Ibu. Tubuh ibu hamil akan menganggap darah janin yang berbeda
rhesus sebagai benda asing dan akhirnya membentuk antibodi yang melawan antigen Rh dari janin. Antibodi
yang dihasilkan dapat melewati plasenta dan menyebabkan kerusakan pada sel darah merah janin. Kondisi ini
dapat menyebabkan bayi terlahir dengan gangguan kesehatan atau bahkan kematian di dalam kandungan.

Untuk menentukan golongan darah Anda, teknisi laboratorium akan mencampur sampel darah Anda dengan
antibodi yang menyerang darah tipe A dan B untuk melihat reaksinya. Jika sel darah Anda menggumpal bila
dicampur dengan antibodi terhadap darah tipe A, maka Anda memiliki golongan darah B. Sampel darah kemudian
akan dicampur dengan serum anti-Rh. Jika sel darah Anda menggumpal sebagai reaksi terhadap serum anti-Rh, itu
berarti Anda memiliki darah Rh-positif, begitu pula sebaliknya. Hasil pemeriksaan ini bisa Anda dapatkan dengan
waktu hanya beberapa menit saja.
Golongan darah seseorang ditentukan berdasarkan ada atau tidaknya zat antigen pada sel darah merah dan
plasma darah. Antigen berfungsi seperti tanda pengenalan sel tubuh Anda. Ini supaya tubuh bisa membedakan sel
tubuh sendiri dari sel yang berasal dari luar tubuh. Jika sel dengan antigen yang berlawanan masuk ke dalam tubuh,
maka sistem kekebalan tubuh akan memulai perlawanan terhadap sel yang dianggap asing tersebut dengan
memproduksi antibodi.
Ada dua teknik yang dipakai untuk mengelompokkan darah, yaitu menggunakan sistem ABO dan rhesus (Rh).
Kedua sistem ini bisa sangat membantu jika Anda ingin melakukan transfusi darah.

Golongan Darah Antigen pada Sel Darah Merah Plasma Darah


A  Antigen A pada Sel Darah Merah Antibody A
 Memproduksi antibody B untuk melawan sel darah merah
dengan antigen B
B  Antigen B pada Sel Darah Merah Antibody B
 Memproduksi antibody A untuk melawan sel darah merah
dengan antigen A
AB  Antigen A dan Antigen B pada Sel Darah Merah Tidak ada antibodi
 Tidak memiliki antibody A dan B
O  Tidak memiliki Antigen A atau Antigen B pada Sel Darah Antibody anti A
Merah dan anti B
Dulu, pemilik golongan darah O bisa mendonorkan darahnya kepada siapa pun, namun kini tidak lagi
dianjurkan. Golongan darah O negatif kemungkinan memiliki antibodi yang bisa menyebabkan reaksi serius selama
transfusi darah berlangsung. Sedangkan golongan darah O positif hanya boleh diberikan dalam situasi darurat, yaitu
jika pasien sedang terancam jiwanya atau persediaan tipe darah yang sesuai tidak mencukupi.
Sebaliknya, golongan darah AB tergolong penerima universal. Kalangan ini bisa mendapat transfusi darah dari
jenis A, B, AB, atau O. Namun kalangan ini hanya bisa mendonorkan darahnya kepada mereka dengan darah jenis
AB saja.
Faktor resus (Rh) adalah jenis antigen yang ada pada sel darah merah. Jika darah memiliki faktor Rh maka
dikatakan resus positif, dan jika tidak memiliki faktor Rh maka dikatakan resus negatif.
Orang yang memiliki Rh negatif bisa mendonorkan darahnya kepada orang yang memiliki status Rh negatif dan
Rh positif. Pendonor dengan Rh positif hanya bisa memberikan darahnya kepada orang dengan status Rh positif.
Tabel Kecocokan Sel Darah Merah Pendonor dan Penerima

Pendonor
Penerima
O− O+ A− A+ B− B+ AB− AB+

Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak


O− Cocok Tidak cocok
cocok cocok cocok cocok cocok cocok

Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak


O+ Cocok Cocok Tidak cocok
cocok cocok cocok cocok cocok

Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak


A− Cocok Cocok Tidak cocok
cocok cocok cocok cocok cocok

Tidak Tidak Tidak


A+ Cocok Cocok Cocok Cocok Tidak cocok
cocok cocok cocok

Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak


B− Cocok Cocok
cocok cocok cocok cocok cocok cocok

Tidak Tidak Tidak Tidak


B+ Cocok Cocok Cocok Cocok
cocok cocok cocok cocok

Tidak Tidak Tidak Tidak


AB− Cocok Cocok Cocok Cocok
cocok cocok cocok cocok

AB+ Cocok Cocok Cocok Cocok Cocok Cocok Cocok Cocok

Tabel Kecocokan Plasma Darah Pendonor dan enerima

Pendonor
Penerima
O A B AB

O Cocok Cocok Cocok Cocok

A Tidak cocok Cocok Tidak cocok Cocok

B Tidak cocok Tidak cocok Cocok Cocok

AB Tidak cocok Tidak cocok Tidak cocok Cocok


TEKANAN DARAH
 Tekanan Sistolik
Merupakan level tekanan darah saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
 Tekanan Diastolik
Terjadi saat jantung beristirahat/jeda sejenak sebelum meneruskan aktivitas pemompaan darah kembali.

Untuk tekanan darah normal pada anak di bawah satu tahun adalah 90/60 mmHg, sedangkan untuk anak berumur 1
sampai 5 tahun adalah 95/65 mmHgm dan untuk anak berumur 6 sampai 13 tahun adalah 105/70 mmHg.

PENYAKIT JANTUNG
Beberapa penelitian terkait hubungan penyakit gusi dengan kesehatan jantung mengungkapkan bahwa:
 Penyakit gusi adalah faktor risiko penyakit jantung koroner.
 Orang yang jumlah giginya lebih sedikit dan mengalami lebih banyak sakit gusi, berisiko lebih tinggi
mengalami stroke.
 Ada hubungan antara penyumbatan arteri pada kaki dengan penyakit gusi.
Walau para ahli belum menemukan hubungan langsung antara sakit gigi dan gusi dengan kesehatan jantung, ada
beberapa hal yang menjadi alasan mengapa kemungkinan kedua hal tersebut terkait. Salah satu alasannya adalah
peradangan, yang ditemukan pada gingivitis (tahap awal penyakit gusi) dan juga pada ateroskelosis (proses
penyempitan pembuluh arteri). Proses peradangan yang terjadi pada penyakit gusi ini kemudian akan turut memicu
terjadinya sumbatan pembuluh darah yang dapat memengaruhi kinerja jantung.
Sakit gusi terutama disebabkan oleh bakteri, akibat penumpukan plak yang awalnya terlihat tidak berbahaya.
Namun pada beberapa orang yang lebih rentan, tubuh dapat bereaksi berlebihan pada bakteri dan menyebabkan
peradangan yang tidak sepenuhnya reda. Proses peradangan secara perlahan dan dalam jangka panjang inilah yang
diduga menyebabkan gangguan pada pembuluh darah jantung dan otak.
Alasan kedua yang mendasari kemungkinan adanya keterkaitan antara sakit gigi dan gusi dengan kesehatan
jantung adalah kemiripan jenis bakteri. Bakteri yang ditemukan pada penyakit gusi juga ditemukan pada pembuluh
darah yang mengalami aterosklerosis.
Ada dua jenis utama gangguan gusi:
 Gingivitis: Peradangan pada gusi, di mana gusi nyeri, bengkak, dan memerah.
 Periodintitis: Terbentuknya kantung yang berisi nanah di dekat akar gigi, akibat infeksi bakteri. Jenis inilah
yang dikhawatirkan berisiko menyebabkan gangguan jantung karena bakteri dan racun dapat menyebar ke
anggota tubuh lain. Ini bisa terjadi karena gusi mengandung banyak pembuluh darah yang dapat mengalirkan
bakteri ke anggota tubuh lain.

Banyak penderita gangguan periodontal juga menderita diabetes dan menjalani gaya hidup tidak sehat, yang
merupakan faktor risiko penyakit jantung. Oleh karenanya, pasien yang mengalami sakit gusi dalam taraf sedang
hingga parah, perokok, dan menderita tekanan darah tinggi, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan jantung.
Walau begitu, bukan berarti bahwa orang yang kesehatan gigi dan gusinya buruk serta merta lebih berisiko
mengalami serangan jantung, atau sebaliknya, orang dengan kesehatan gigi dan gusi yang baik sudah pasti memiliki
jantung yang sehat. Selain kesehatan mulut, masih ada banyak faktor lain yang bisa menyebabkan penyakit jantung.
Ada beberapa teori yang menyatakan hubungan penyakit mulut dan jantung. Salah satu teori menyatakan gigi
yang berlobang sangat mudah dimasuki kuman dan bakteri. Kuman yang bersarang pada gigi berlubang akan
menembus pembuluh darah dan menempel pada timbunan lemak di pembuluh arteri jantung dan akan menimbulkan
bekuan. Karakteristik penyakit jantung koroner adalah menebalnya pembuluh darah koroner jantung yang
disebabkan timbunan lemak. Ini akan menghambat aliran darah ke jantung. Sehingga nutrisi dan oksigen yang
dibutuhkan jantung menjadi terhambat, yang dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung. Kemungkinan lainnya
pembengkakan yang terjadi akibat penderita periodontal meningkatkan timbunan lemak, yang mengkontribusi
pembengkakan arteri. Orang yang menderita penyakit periodontal beresiko 2 kali lebih besar menderita penyakit
jantung koroner dibandingkan yang tidak.
Selain itu sejumlah penelitian menunjukkan bakteri yang  terikut aliran darah bisa memproduksi sejenis enzim
yang mempercepat  proses pengerasan dinding pembuluh darah , sehingga pembuluh darah menjadi tidak elastis
(arterosclerosis).
Hubungan bakteri dalam mulut dengan penyakit kardiovaskuler akhir akhir ini banyak diteliti terutama berkaitan
dengan bakteri endocarditis dan penyakit jantung coroner.  Berdasarkan  sebuah penelitian, ternyata dari sejumlah
kasus penyakit jantung, sebanyak 54 % pasien memiliki riwayat penyakit periodontal . penemuan ini sangat
mencengangkan karena jarang sekali penyakit gigi diperkirakan sebagai penyebab penyakit jantung. Namun hasil
dari berbagai penelitian masih  dianggap belum memuaskan karena belum bisa menjelaskan secara jelas bagaimana
ini bisa terjadi.

Penyakit jantung adalah berbagai kondisi yang menggambarkan terjadinya gangguan pada jantung. Jadi secara
tidak langsung, kondisi ini hanya merujuk pada serangkaian masalah yang menyerang jantung saja.

Ada beberapa jenis penyakit jantung yang mungkin sering dikira sama. Di antaranya adalah:
1. Cacat jantung bawaan
Congenital heart disease atau penyakit cacat jantung bawaan adalah penyakit jantung yang sudah ada sejak lahir.
Kondisi ini bisa ditandai dengan:
 cacat septum, yakni adanya lubang di antara dua bilik jantung;
 obstruksi, yakni aliran dari yang berasal dari bilik jantung terhambat sebagian atau seluruhnya;
 cyanosis, yakni gangguan pada aliran darah di jantung sehingga pasokan oksigen berkurang.

2. Aritmia
Aritmia adalah kelainan jantung yang ditandai dengan detak dan ritme jantung yang tidak teratur. Mulai dari detak
jantung yang terlalu cepat (tachycardia), terlalu lambat (bradycardia), terlalu awal (kontraksi prematur), serta tidak
teratur (fibrilasi).

3. Lemah jantung
Kardiomiopati atau lemah jantung adalah kondisi yang terjadi ketika jantung melemah sehingga sulit untuk bekerja
dengan baik. Penyebabnya otot-otot jantung mengalami gangguan seperti otot yang menebal, melebar, dan
sebagainya.

4. Penyakit jantung koroner


Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi saat arteri koroner pada jantung menyempit akibat adanya
penumpukan plak. Akhirnya, nutrisi dan oksigen yang diperoleh jantung akan lebih sedikit.

5. Gagal jantung
Gagal jantung adalah istilah untuk menggambarkan ketika jantung tidak mampu berfungsi dengan baik untuk
memompa darah ke sekujur tubuh. Kondisi ini terjadi saat aliran darah menuju jantung melambat, karena jumlah
darah yang tidak mencukupi.

Seperti yang telah Anda ketahui sebelumnya, penyakit jantung terbagi menjadi beberapa jenis. Oleh karena itu,
tanda dan gejala penyakit jantung juga akan berbeda-beda tergantung penyakitnya. Namun, ada sejumlah gejala
awal penyakit jantung yang umum terjadi.
Jika Anda mengalami satu atau beberapa tanda yang mengkhawatirkan, segera hubungi dokter. Beberapa gejala
awal penyakit jantung adalah:
1. Nyeri dada
Nyeri dada atau angina adalah gejala awal penyakit jantung yang cukup mengkhawatirkan karena bersifat nyeri dan
rasa tidak nyaman pada dada. Biasanya gejala ini terjadi saat otot-otot jantung tidak memperoleh cukup darah yang
kaya dengan oksigen.
Tidak hanya pada dada, nyeri yang dirasakan juga bisa menjalar hingga ke lengan, leher, bahu, rahang, hingga
punggung. Rasa nyeri ini bisa berlangsung selama beberapa hari ataupun minggu. Namun, tingkat keparahan nyeri
bisa berbeda-beda tergantung seberapa banyak plak yang menumpuk di arteri koroner jantung.

2. Detak jantung tidak teratur


Palpitasi atau dikenal sebagai detak jantung yang tidak teratur adalah gejala yang sangat umum terjadi, tapi juga bisa
menandakan gejala awal penyakit jantung. Banyak orang yang mengalami palpitasi merasakan bahwa detak
jantungnya berhenti sebentar, tapi kemudian dilanjutkan kembali dengan irama yang kencang.
Sebagian besar orang yang mengalami palpitasi jantung memiliki aritmia atau detak jantung yang tidak normal. Ini
tergantung dari jenis aritmia yang Anda diderita. Jika detak jantung yang tak teratur memang berujung pada
penyakit jantung, biasanya akan disertai dengan tanda lainnya. Mulai dari pusing, nyeri dada, sesak napas, hingga
tubuh terasa goyah.

3. Sesak napas
Selain terjadi pada penyakit paru, sesak napas adalah salah satu gejala yang juga sering terjadi sebagai gejala awal
penyakit jantung. Pasalnya, fungsi jantung yang tidak normal lagi bisa berdampak pada kelancaran
aliran darah Anda. Aliran darah yang kurang lancar ini akan rentan membuat Anda sesak napas karena kurangnya
oksigen.
Misalnya pada pasien gagal jantung yang sering mengalami sesak napas, terutama saat sedang berbaring.
Penderitanya juga bisa bangun tiba-tiba di malam hari akibat sesak napas, dalam istilah medis kondisi ini disebut
dengan nocturnal dyspnea.
Masalah lainnya pada jantung, seperti penyakit katup jantung dan penyakit jantung koroner, juga ditandai dengan
gejala sesak napas.
Sesak napas gejala penyakit jantung biasanya mungkin terjadi bersamaan dengan nyeri dada. Jadi bisa dikatakan
bahwa sesak napas adalah salah satu pertanda medis yang tidak bisa dianggap sepele dan butuh perawatan segera
dari dokter.

4. Pusing
Pusing adalah kondisi yang dirasakan seseorang ketika diserang sensasi seperti akan pingsan, kepala terasa berat
(atau justru melayang), badan lemas, dan penglihatan yang semakin kabur.
Terkadang pusing berkaitan dengan gejala awal penyakit jantung. Misalnya penyakit aritmia jantung, gagal jantung,
jantung koroner, dan lain sebagainya.
Itu sebabnya, Anda disarankan untuk tidak menyepelekan pusing yang Anda alami. Terutama jika kondisi ini terjadi
dalam waktu yang cukup lama. Ada baiknya untuk segera lakukan pemeriksaan lanjutan dengan dokter Anda.

5. Kehilangan kesadaran tiba-tiba


Kehilangan kesadaran tiba-tiba atau disebut juga pingsan termasuk salah satu gejala penyakit jantung yang kerap
kali terjadi. Biasanya, pingsan tidak menandakan adanya masalah medis serius.
Namun, pada beberapa kondisi yang disertai dengan munculnya gejala lain yang tidak normal, pingsan bisa
menunjukkan kondisi kesehatan yang berbahaya dan mengancam tubuh. Jadi, penting untuk mencari tahu apa
penyabab Anda tiba-tiba hilang kesadaran.

6. Badan lemas
Lemas adalah ketidakmampuan tubuh untuk melakukan fungsi dan tugasnya seperti biasa. Orang dengan kondisi ini
dianjurkan untuk banyak tidur dan istirahat guna memulihkan kembali energinya.
Namun, dalam kondisi yang tidak biasanya, kelelahan juga bisa menjadi gejala awal penyakit jantung maupun
menunjukkan adanya kelainan pada sistem organ tubuh lainnya.
Sleep apnea, restless leg syndrome, dan insomnia bisa menjadi beberapa faktor risiko dan gangguan umum yang
mengarah pada penyakit jantung. Sama seperti pusing, kelelahan yang terjadi dalam waktu lama butuh pemeriksaan
medis untuk segera diketahui penyebabnya.

Apa saja gejala penyakit jantung pada wanita?


Sebenarnya, baik pria maupun wanita memiliki risiko yang sama terhadap penyakit jantung. Sayangnya, gejala yang
dialami pria dan wanita tidak selalu sama. Meski memang ada beberapa kesamaan gejala umum yang bisa terjadi.
Contohnya pada penyakit jantung koroner. Sebagian wanita yang mengalami penyakit jantung koroner tidak
menunjukkan suatu tanda atau gejala yang spesifik.
Penyakit jantung koroner yang tersembunyi, atau silent coronary heart disease, cukup sulit untuk didiagnosis
sampai seorang wanita benar-benar menunjukkan adanya tanda dan gejala penyakit jantung sungguhan. Entah itu
gagal jantung, artimia atau detak jantung tidak teratur.
Sementara, ada juga tanda dan gejala penyakit jantung koroner yang mudah tampak pada wanita. Namun lagi-lagi,
gejala yang muncul pada setiap wanita tidak selalu sama, alias bisa sangat beragam.
Kemunculan gejala ini bisa menetap atau datang dan pergi sehingga terkadang cukup sulit dideteksi. Beberapa
gejala penyakit jantung pada wanita, yaitu:
1. Nyeri dada
Nyeri dada yang dirasakan wanita biasanya terjadi ketika tengah sibuk melakukan kegiatan sehari-hari, mungkin
saat sedang bersih-bersih rumah, belanja, memasak, bahkan beristirahat. Umumnya, nyeri dada sebagai gejala
penyakit jantung pada wanita berupa rasa sakit, sesak, seperti ditekan, hingga seperti ditindih benda keras.
Ini mungkin terjadi karena penyumbatan pada arteri dengan ukuran lebih kecil yang bertugas untuk memasok darah
menuju ke jantung. Selain itu, stres pikiran diduga juga bisa menjadi pemicu gejala penyakit jantung pada wanita
yang jarang dialami oleh pria.
2. Kelelahan parah
Gejala peyakit jantung pada wanita lainnya yang harus disadari yakni ketika Anda diserang rasa kelelahan dan lemas
yang parah. Bahkan saat kegiatan yang Anda lakukan cukup sederhana dan tidak memerlukan banyak usaha. Anda
mungkin akan merasakan tanda umum berupa tubuh lemas dan sering gemetar.
Dalam beberapa kasus, kelelahan parah yang tidak biasa ini dapat berlangsung dalam beberapa minggu menjelang
munculnya penyakit jantung. Entah jantung koroner dan lain sebagainya. Kondisi tubuh yang lemas, lemah, dan
terus gemetar ini bisa disertai dengan beberapa gejala lainnya. Mulai dari mudah gelisah, pusing terus-menerus, dan
sering pingsan.

3. Sesak napas
Tidak jauh berbeda dengan gejala awal penyakit jantung, gejala penyakit jantung pada wanita juga ditandai dengan
sesak napas atau kesulitan bernapas. Anda bisa mengalami kesulitan bernapas kapan pun, misalnya saat sedang
berbaring tapi kemudian akan mulai membaik ketika duduk dengan posisi tegak.
Perhatikan jika sesak napas yang Anda alami disertai dengan kelelahan parah dan nyeri di bagian dada. Kondisi ini
bisa sangat mengarah pada masalah jantung.

4. Keringat berlebih
Keringat berlebih di siang dan malam hari harus Anda waspadai sebagai gejala penyakit jantung pada wanita.
Terutama jika cucuran keringat berlebih terjadi saat Anda sedang tidak banyak beraktivitas.
Yang harus Anda perhatikan adalah tidak semua keringat berlebih mengarah sebagai gejala penyakit jantung pada
wanita. Keringat berlebih memang bisa menandai adanya gejala penyakit jantung pada wanita. Namun, ada beberapa
kondisi lain yang juga bisa menyebabkan produksi keringat di luar batas normal.
Untuk itu, segera konsultasikan lebih lanjut pada dokter demi mengetahui penyebab dan pengobatan yang tepat.

5. Nyeri tubuh bagian atas


Nyeri tubuh yang dirasakan biasanya tidak cukup spesifik. Akan tetapi, nyeri sering terjadi di beberapa bagian
seperti leher, rahang, lengan, serta punggung bagian atas. Rasa nyeri yang muncul ini bisa berawal di satu area dan
mulai menyebar secara bertahap ke bagian tubuh lainnya.

Ciri-ciri Sakit Jantung Berdasarkan Jenisnya


 Serangan jantung
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke jantung terhambat oleh plak. Aliran darah yang terganggu ini
dapat merusak kinerja otot jantung.
Pada serangan jantung, gejala biasanya berlangsung selama 30 menit atau lebih dan tidak hilang meski sudah
minum obat antinyeri biasa. Gejala muncul dari intensitas ringan hingga berat. Namun pada beberapa orang,
serangan jantung tidak menunjukkan gejala apapun. Kondisi ini disebut dengan silent myocardial infarction
(MI).
Ciri-ciri serangan jantung meliputi:
- Nyeri atau perasaan seperti tertekan di bagian dada, di bawah tulang rusuk, dan lengan yang menjalar ke
leher, rahang, bahu, atau punggung.
- Berkeringat, pusing, mual, dan muntah.
- Nyeri di perut bagian atas atau nyeri ulu hati.
- Lemas.
- Sesak napas.
- Detak jantung terasa cepat atau berdebar.
- Perut kembung.
Gejala serangan jantung ini umumnya sama pada pria dan wanita, namun selain nyeri dada, kaum wanita
biasanya lebih sering menunjukkan tanda-tanda gejala lain seperti sesak napas, mual, dan muntah.

 Penyakit jantung coroner


Penyakit jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah yang memasok darah untuk membawa oksigen dan
nutrisi ke jantung mengalami hambatan. Hambatan ini biasanya disebabkan karena plak yang menumpuk
atau aterosklerosis.
Salah satu ciri-ciri sakit jantung ini adalah rasa tidak nyaman, nyeri, dan panas di bagian dada ( angina).
Gejala ini sering disalahartikan sebagai sakit maag. Selain di dada, angina juga bisa dirasakan di leher, bahu,
tenggorokan, lengan, punggung, atau rahang.
Ciri-ciri lainnya meliputi:
- Lemas atau pusing.
- Jantung berdebar (palpitasi).
- Berkeringat dingin.
- Mual.
- Napas pendek.

 Aritmia
Aritmia terjadi ketika aliran listrik yang mengatur detak jantung tidak berfungsi dengan baik. Kondisi ini
menyebabkan detak jantung terlalu lambat atau terlalu cepat dan tak teratur. Ketika aritmia terjadi, biasanya
diikuti dengan:
- Jantung berdebar atau palpitasi.
- Rasa tidak nyaman di dada.
- Pusing.
- Lemas.
- Napas pendek.
- Pingsan.

 Fibrilasi atrium
Fibrilasi atrium adalah sejenis aritmia yang membuat detak jantung di bagian serambi (atrium) jantung
menjadi tidak beraturan. Kondisi ini dapat menyebabkan stroke, pembekuan darah, dan komplikasi lain seperti
gagal jantung. Sama halnya dengan serangan jantung, pada beberapa orang penyakit ini juga tidak menunjukkan
gejala apa pun. Ciri-ciri fibrilasi atrium meliputi:
- Jantung berdebar (palpitasi).
- Nyeri di bagian dada.
- Napas sesak saat sedang berakitvitas normal.
- Tiba-tiba lemas atau pusing.

 Gagal jantung
Gagal jantung terjadi ketika jantung kehilangan kemampuan memompa darah sebagaimana mestinya.
Kondisi seperti tekanan darah tinggi dan menyempitnya pembuluh darah secara bertahap membuat jantung kaku
atau terlalu lemah untuk memompa darah, sehingga mengakibatkan gagal jantung.
Gejala gagal jantung tidak selalu berhubungan dengan derajat penyakit yang terjadi. Gejala gagal jantung
meliputi:
- Napas sesak saat beristirahat atau berbaring yang diperberat oleh aktivitas fisik.
- Batuk dengan lendir putih.
- Bengkak di perut, kaki, dan pergelangan kaki.
- Pusing.
- Letih dan lemas.
- Sulit berkonsentrasi.
- Detak jantung tidak beraturan.
- Tidak nafsu makan.

 Perikarditis
Perikarditis adalah kondisi meradangnya perikardium, yaitu lapisan tipis yang mengelilingi jantung.
Perikarditis umumnya diikuti dengan:
- Demam yang tidak terlalu tinggi.
- Detak jantung meningkat.
- Nyeri dada yang berbeda dengan angina. Pada penderita perikarditis, nyeri yang dirasakan berpusat pada
tengah dada dan terasa menusuk. Nyeri semakin terasa saat menarik napas, batuk, menelan, dan berbaring. Nyeri
bisa menjalar hingga ke leher, lengan, dan punggung.
 Kardiomiopati
Kardiomiopati adalah istilah untuk menyebut penyakit otot jantung atau lebih dikenal dengan istilah lemah
jantung. Otot jantung menebal, membesar, atau menjadi kaku. Beberapa orang tidak menunjukkan gejala dan
dapat hidup normal. Namun banyak juga yang menunjukkan gejala dan memburuk seiring dengan menurunnya
fungsi jantung. Kardiomiopati dapat terjadi pada semua usia dengan ciri-ciri sakit jantung sebagai berikut:
- Nyeri dada yang umumnya terjadi setelah berolahraga dan setelah makan.
- Kelelahan.
- Palpitasi.
- Pembengkakan di lengan atau tungkai kaki.
- Pingsan.

 Penyakit katup jantung


Katup jantung merupakan pintu dari bilik maupun serambi jantung. Pada penyakit katup jantung, katup tidak
berfungsi secara normal sehingga mengakibatkan gangguan aliran darah dari dan menuju ke jantung. Jika katup
jantung mengalami gangguan, Anda mungkin akan mengalami:
- Nyeri di dada saat beraktivitas atau menghirup udara dingin.
- Lemas dan pusing.
- Palpitasi.

"Jika giginya masih infeksi, maka gigi tidak boleh dicabut. Karenanya dokter akan memberikan perawatan terlebih
dahulu untuk mengobati infeksinya, setelah infeksi hilang baru gigi bisa dicabut,"
Mengapa harus menunggu infeksi sembuh baru gigi boleh dicabut?

Karena jika masih infeksi, gigi sudah dicabut akan merusak pembuluh darahnya yang berakibat kuman di gigi
tersebut bisa menyebar ke organ-organ lain di tubuh seperti paru-paru, mata, hati atau organ lain yang justru dapat
menimbulkan masalah baru. Inilah sebabnya kenapa kuman yang ada di gigi dan mulut bisa merusak organ lain.

1. Penderita diabetes.
Umumnya orang yang memiliki diabetes akan sulit sembuh jika terjadi luka, sementara semua orang tahu bahwa
mencabut gigi akan menimbulkan luka bolong yang besar. Karena itu sebaiknya mengontrol gula darah terlebih
dahulu, jika kadarnya sudah normal maka gigi boleh dicabut.

2. Penderita tekanan darah tinggi (hipertensi).


Saat tekanan darah sedang tinggi, maka tekanan yang dihasilkan di pembuluh darah juga besar. Jika dilakukan cabut
gigi, maka bisa menyebabkan pendarahan atau darah susah sekali dihentikan.

3. Ibu hamil.
Sebaiknya hindari mencabut gigi terutama saat usia kehamilan trimester pertama dan ketiga. Karena diduga obat
bius (anestesi) yang diberikan sebelum mencabut gigi kemungkinan dapat menimbulkan kontraksi yang bisa
berakibat pada keguguran.

4. Penderita sakit yang berhubungan dengan pembuluh darah. Orang yang memiliki riwayat penyakit yang
berhubungan dengan pembuluh darah seperti jantung, sebaiknya memeriksakan kondisi kesehatannya terlebih
dahulu sebelum mencabut gigi.

Prinsip yang harus dipegang oleh seorang dokter sebelum mencabut gigi adalah gigi tersebut memang sudah tidak
bisa dipertahankan lagi. Jika infeksi masih bisa diobati atau akar masih memegang gigi dengan kuat, maka gigi yang
sakit tersebut tak perlu dicabut.
Indikasi Cabut Gigi
Beberapa kondisi gigi yang umumnya harus dicabut adalah:
 Gigi berlubang yang tidak bisa lagi diperbaiki.
 Gigi goyang disertai infeksi seperti infeksi gusi atau abses gigi.
 Posisi gigi yang tidak normal, bisa menumpuk, tidak rata atau miring dan menyebabkan luka ke jaringan
pipi.
 Infeksi gigi.
 Gigi rusak karena luka serius.
 Gigi yang berada pada jaringan tidak normal, seperti berada di garis patah tulang rahang.

Peringatan Cabut Gigi


Pasien dengan kondisi tertentu harap berhati-hati sebelum menjalani cabut gigi. Kondisi yang dimaksud antara lain:
 Gigi yang akan dicabut terletak di area yang pernah dilakukan radioterapi.
 Gigi yang akan dicabut dekat dengan jaringan tumor ganas. Pencabutan gigi pada kondisi tersebut bisa
meningkatkan risiko penyebaran tumor.
 Kondisi rahang retak.
 Menjalani pengobatan dengan bifosfonat, imunosupresan seperti kortikosteroid, dan obat kemoterapi.
 Menderita diabetes, penyakit hati, penyakit ginjal stadium akhir, limfoma, kanker darah, tekanan darah
tinggi, gangguan irama jantung, dan cedera pembuluh darah di otak.
 Hamil trimester pertama dan trimester terakhir.
 Sedang demam, mual atau muntah sebelum cabut gigi. Dokter akan menjadwalkan prosedur cabut gigi di
lain waktu.

Persiapan Cabut Gigi


Dokter akan menanyakan mengenai riwayat kesehatan dan obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Jika sedang
mengonsumsi obat pengencer darah, seperti aspirin, dokter akan meminta pasien untuk menghentikannya sementara,
agar tidak terjadi perdarahan pasca cabut gigi. Dokter juga akan meminta pasien menjalani pemeriksaan Rontgen
gigi. Perlu diingat, sebaiknya tidak merokok sebelum tindakan cabut gigi.
Dokter akan memastikan kondisi pasien siap untuk menjalani cabut gigi. Pasien akan diberikan antibiotik sesaat
sebelum cabut gigi jika pasien menderita infeksi, memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, atau jika prosedur
cabut gigi diprediksi akan berlangsung lama. Jika pasien gelisah sebelum tindakan, dokter dapat memberikan obat
penenang.
Jika gigi yang dicabut lebih dari satu, atau terjadi impaksi gigi, dokter bisa memberikan bius total agar pasien
tertidur selama tindakan.

Tindakan Cabut Gigi


Cabut gigi bisa dilakukan secara sederhana atau disertai pembedahan. Cabut gigi sederhana dilakukan jika mahkota
gigi yang akan dicabut terlihat. Bila mahkota tidak terlihat, misalnya akibat impaksi, dapat dilakukan operasi cabut
gigi (odontektomi).
Berikut ini adalah langkah-langkah dalam prosedur cabut gigi sederhana:
 Dokter gigi akan memberi bius lokal melalui suntikan pada saraf di sekitar gigi yang akan dicabut. Untuk
mengurangi sakit saat disuntik bius, dokter dapat mengoleskan gel anestesi pada area yang akan disuntik
agar terasa kebas, 1-2 menit sebelum penyuntikan
 Setelah pasien dibius, dokter akan menggoyang gigi dengan menggunakan pengungkit yang jenis dan
ukurannya tergantung pada ukuran dan posisi gigi yang akan dicabut. Pengaruh obat bius membuat pasien
tidak merasa sakit, namun tetap dapat merasa seperti ditekan.
 Apabila gigi sudah terasa cukup kendur, dokter akan menggunakan tang untuk mencabut gigi.
 Umumnya terjadi perdarahan di lubang gigi, setelah gigi Pasien akan diberikan kasa untuk digigit agar
perdarahan berhenti. Dokter juga bisa memberikan beberapa jahitan pada gusi di area bekas cabut gigi.
Pasca Tindakan Cabut Gigi
Pasien bisa langsung pulang setelah cabut gigi, dan melakukan perawatan di rumah. Proses pemulihan umumnya
membutuhkan beberapa hari. Untuk membantu proses pemulihan, pasien disarankan untuk melakukan hal-hal
berikut:
 Gigit kapas yang ditempelkan di gusi tempat gigi yang dicabut, untuk menghentikan perdarahan dan
membantu terbentuknya bekuan darah. Tetap tempelkan kapas selama 3-4 jam.
 Kompres gusi dengan es segera setelah prosedur cabut gigi selesai dilakukan, untuk mengurangi
pembengkakan. Bungkus es dengan handuk kecil atau letakkan di dalam kantong. Jangan tempelkan es
secara langsung ke gusi atau kulit.
 Konsumsi obat yang diresepkan dokter, seperti obat pereda rasa sakit atau antibiotik.
 Konsumsi makanan lembut, misalnya yoghurt, puding, sup, atau buah-buahan seperti alpukat dan pisang.
Hindari makanan yang keras hingga sepekan pasca tindakan.
 Jangan menggunakan sisi mulut yang sakit untuk mengunyah makanan.
 Jangan minum menggunakan sedotan, setidaknya hingga 24 jam pasca tindakan, karena akan mengganggu
pembekuan darah di gusi tempat gigi dicabut, serta menyebabkan nyeri dan perdarahan.
 Disarankan untuk beristirahat 24 jam pasca tindakan dan tidak melakukan aktivitas berat.
 Hindari berkumur selama 24 jam pertama. Setelah 24 jam, berkumurlah dengan air hangat yang dicampur
dengan setengah sendok teh garam.
 Saat menggosok gigi, jangan mengenai gusi tempat gigi yang dicabut.
 Gunakan bantal untuk menyangga kepala saat berbaring.
 Jangan merokok, karena bisa memperlambat proses penyembuhan.
 Hindari menyentuh area yang sakit dengan lidah.

Lubang bekas pencabutan gigi umumnya akan sembuh dalam 1-2 minggu. Namun, butuh waktu lebih lama bagi
tulang dan jaringan di sekitar gigi untuk sembuh. Segera hubungi dokter jika terjadi demam, keluar nanah dari
lubang tempat gigi dicabut, dan nyeri hingga beberapa jam setelah gigi dicabut. Pasien juga disarankan langsung ke
dokter jika perdarahan masih berlangsung hingga beberapa jam setelah tindakan, terjadi dry socket, atau mengalami
gangguan dalam menelan.

Komplikasi Cabut Gigi


Cabut gigi umumnya jarang menyebabkan komplikasi. Meski jarang, kondisi di bawah ini mungkin dialami pasien
yang menjalani prosedur cabut gigi:
 Perdarahan.
 Dry socket atau terlepasnya bekuan darah di lubang bekas cabut gigi yang menimbulkan keluhan nyeri dan
mengakibatkan penyembuhan tertunda. Kondisi ini bisa terjadi pada 3-5 hari setelah tindakan cabut gigi.
 Cedera pada saraf trigeminus. Cedera ini menyebabkan mati rasa pada lidah, bibir, dagu, gusi dan gigi.
Kondisi ini bisa terjadi selama beberapa minggu atau bulan, bahkan bisa menjadi permanen jika cedera
tergolong parah.
 Infeksi yang ditandai dengan demam tinggi, keluar nanah dari lubang tempat gigi dicabut, serta nyeri dan
bengkak yang berlangsung dalam waktu lama.
ENDOKARDITIS

Endokarditis adalah infeksi pada endokardium, yaitu lapisan bagian dalam jantung. Kondisi ini umumnya
disebabkan oleh masuknya bakteri ke aliran darah, yang kemudian menginfeksi bagian jantung yang rusak. Bila
kondisi ini tidak segera ditangani, endokarditis dapat merusak katup jantung, dan memicu komplikasi yang
berbahaya.
Pada umumnya, endokarditis tergolong jarang, dan tidak menyerang seseorang dengan jantung yang sehat. Akan
tetapi, penyakit ini rentan terjadi pada individu dengan kondisi tertentu. Misalnya, penderita penyakit jantung
bawaan, penderita kardiomiopati, dan seseorang dengan katup jantung prostetik.

Gejala Endokarditis
Gejala endokarditis bisa berkembang perlahan dalam hitungan minggu atau bulan (subacute endocarditis). Bisa
juga terjadi secara mendadak dalam beberapa hari (acute endocarditis). Hal tersebut tergantung pada kuman
penyebab infeksi, dan apakah penderita mengalami gangguan jantung.
Gejala dan tanda klinis endokarditis dapat bervariasi pada tiap penderita, meliputi:
 Demam.
 Menggigil.
 Lemas.
 Nyeri otot dan sendi.
 Sakit kepala.
 Berkeringat di malam hari.
 Nafsu makan menurun.
 Nyeri dada terutama saat bernapas.
 Sesak napas terutama saat beraktivitas.
 Batuk.
 Bising jantung.
 Bengkak pada tungkai atau perut.
 Kulit pucat.
Pada kasus yang jarang, gejala lain yang mungkin muncul adalah:
 Berat badan turun tanpa sebab.
 Hematuria (darah pada urine).
 Bintik merah disertai nyeri di telapak tangan dan telapak kaki.
 Benjolan merah di bawah kulit, pada jari tangan, dan jari kaki.
 Bintik ungu atau merah di kulit, bagian putih mata, atau di dalam mulut.
 Splenomegali atau pembesaran limpa.
 Linglung (mental confusion).

Penyebab Endokarditis
Endokarditis terjadi ketika kuman masuk ke aliran darah lalu ke jantung. Kuman kemudian menempel di katup
jantung yang abnormal atau jaringan jantung yang rusak, dan berkembang biak di lapisan dalam jantung
(endokardium). Kondisi ini memicu peradangan pada endokardium dan kerusakan pada katup jantung.
Di samping akibat bakteri, endokarditis juga bisa disebabkan oleh jamur dan mikroorganisme lainnya. Kuman-
kuman tersebut masuk ke aliran darah melalui beberapa cara, seperti:
 Luka di mulut. Terdapat luka pada rongga mulut ketika menggosok gigi terlalu kencang, prosedur
perawatan gigi, atau tergigit saat mengunyah makanan, bisa menyebabkan bakteri masuk ke aliran darah,
terutama bila kebersihaan gigi dan gusi tidak terjaga.
 Organ lain yang terinfeksi. Bakteri dapat masuk ke aliran darah dan jantung, dari bagian tubuh yang
terinfeksi, misalnya akibat luka terbuka di kulit, infeksi menular seksual, atau infeksi di saluran
pencernaan.
 Kateter urine. Bakteri bisa masuk ke aliran darah melalui kateter, terutama kateter yang dipasang dalam
waktu yang lama.
 Jarum suntik. Jarum yang terkontaminasi dapat menjadi media masuknya bakteri ke aliran darah, baik itu
melalui tato, tindik, atau penggunaan NAPZA suntik.

Faktor Risiko Endokarditis


Endokarditis dapat dialami oleh siapa saja. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko
seseorang untuk menderita kondisi ini, antara lain:
 Penggunaan katup jantung buatan.
 Penyalahgunaan NAPZA suntik.
 Menderita penyakit jantung bawaan.
 Pernah menderita endokarditis.
 Kerusakan pada katup jantung.

Diagnosis Endokarditis
Untuk mendiagnosis endokarditis, dokter akan terlebih dahulu menanyakan riwayat penyakit dan gejala yang
dialami pasien. Kemudian, pemeriksaan penunjang akan dilakukan untuk memastikan diagnosis, meliputi:
 Elektrokardiogram (EKG). EKG dilakukan untuk memeriksa kemungkinan adanya kelainan pada detak
dan irama jantung pasien, dengan mengukur aktivitas listrik jantung.
 Tes darah. Sampel darah akan diperiksa untuk mengidentifikasi jenis bakteri dalam aliran darah dan
mengidentifikasi kondisi medis lain, seperti anemia.
 Rontgen dada. Melalui Rontgen dada, dokter dapat mengetahui bila endokarditis menyebabkan
pembesaran jantung, atau menyebabkan penyebaran infeksi ke paru-paru.
 Ekokardiografi. Ekokadiografi adalah pemeriksaan yang menggunakan gelombang suara untuk
menghasilkan gambaran jantung. Untuk mendiagnosis endokarditis, dokter dapat memilih dari 2 jenis
ekokardiogram, yaitu:
o Ekokardiografi melalui dinding dada. Prosedur ini dilakukan dengan mengarahkan gelombang
suara ke dada pasien, melalui alat USG. Tes ini membantu dokter melihat struktur jantung dan
melihat tanda-tanda infeksi.
o Ekokardiogram transesofageal. Dalam prosedur ini, dokter memasukkan alat USG ke esofagus
(kerongkongan) agar gambar yang dihasilkan lebih detail, terutama pada bagian katup jantung.
 CT scan atau MRI. Uji pencitraan ini dilakukan untuk memeriksa apakah infeksi sudah menyebar ke
organ lain, seperti otak atau dinding dada.

Pengobatan Endokarditis
Dalam banyak kasus, pasien endokarditis berhasil disembuhkan dengan pemberian antibiotik. Sedangkan pada
beberapa kasus lainnya, prosedur bedah perlu dilakukan untuk memperbaiki kerusakan katup jantung dan
membersihkan sisa infeksi.
Antibiotik
Jenis antibiotik yang diberikan untuk mengobati endokarditis tergantung kepada tipe kuman penyebab infeksi. Oleh
karena itu, sampel darah pasien akan diteliti terlebih dahulu untuk mendapatkan kombinasi antibiotik yang tepat.
Umumnya, pasien akan diberikan antibiotik suntik selama di rumah sakit. Perawatan bisa berlangsung 2 sampai 6
minggu, tergantung kepada tingkat keparahan pasien.  Bila kondisi sudah membaik, pasien dapat melanjutkan terapi
antibiotik di rumah. Namun demikian, pasien dianjurkan untuk rutin kontrol ke dokter untuk memastikan
pengobatan berjalan dengan baik.
Meskipun sedang menjalani pengobatan, beberapa gejala dapat muncul sebagai tanda infeksi yang makin
memburuk, atau akibat reaksi antibiotik yang digunakan. Segera ke dokter bila timbul gejala sesak napas serta
bengkak di tungkai, yang semakin parah. Gejala tersebut dapat menjadi tanda gagal jantung.
Bedah
Bedah dilakukan pada infeksi endokarditis yang sudah berlangsung lama, atau pada endokarditis yang disebabkan
oleh infeksi jamur. Prosedur bedah dilakukan untuk membuang jaringan yang mati, penumpukan cairan, serta
jaringan parut dari area yang terinfeksi.
Dokter juga akan menjalankan bedah, bila kondisi katup jantung pasien sudah rusak. Tergantung kepada kondisi
pasien, dokter dapat melakukan perbaikan katup jantung atau menggantinya. Penggantian katup bisa dengan katup
biologis yang terbuat dari jaringan jantung hewan, atau katup mekanis sintetik.
Bedah dilakukan pada 15-25% penderita endokarditis. Selain beberapa kondisi di atas, dokter juga akan
menyarankan bedah pada kondisi berikut:
 Pasien memiliki katup jantung prostetik.
 Demam tinggi masih berlanjut meskipun sedang menjalani terapi antibiotik atau antijamur.
 Endokarditis disebabkan oleh jenis jamur yang agresif atau bakteri yang kebal pada antibiotik.
 Timbul gumpalan darah, walaupun sedang menjalani terapi antijamur atau antibiotik.
 Terbentuk abses atau fistula (saluran tidak normal) di bagian dalam jantung, yang diketahui dari hasil tes
ekokardiografi.

Komplikasi Endokarditis
Endokarditis dapat memicu penggumpalan bakteri dan bekuan darah (vegetasi) di area infeksi. Vegetasi tersebut
dapat terlepas dan berpindah ke organ vital, seperti otak, paru-paru, ginjal, dan limpa. Bila kondisi tersebut tidak
segera ditangani, penderita endokarditis dapat terserang komplikasi berupa:
 Gangguan pada jantung, seperti bising jantung, kerusakan katup jantung, dan gagal jantung.
 Terbentuknya abses (kumpulan nanah) di jantung, otak, dan paru-paru.
 Stroke.
 Kejang.
 Emboli paru.
 Kerusakan ginjal.
 Splenomegali atau pembesaran limpa.
Pencegahan Endokarditis
Endokarditis dapat dicegah dengan menjaga kebersihan gigi. Membersihkan gigi dengan sikat atau benang gigi,
serta rutin memeriksakan gigi dapat mencegah kuman muncul di mulut dan masuk ke aliran darah. Bila Anda
berisiko terserang endokarditis, beri tahu dokter gigi. Dokter mungkin akan memberikan antibiotik sebelum
menjalani pemeriksaan.
Pada pasien dengan riwayat endokarditis, operasi jantung, atau kelainan jantung, perlu mewaspadai gejala
endokarditis, seperti demam yang berlangsung lama, tubuh lemas tanpa sebab, dan luka terbuka yang tidak kunjung
sembuh.
Langkah pencegahan lainnya adalah dengan menghindari perilaku yang dapat memicu infeksi kulit. Misalnya
membuat tato, tindik tubuh, atau menyalahgunakan NAPZA suntik.
DIABETES MELITUS

Kadar glukosa yang terlalu tinggi di dalam darah bisa menyebabkan rasa nyeri, infeksi, dan berbagai masalah
pada mulut, yaitu termasuk gangguan pada gigi, gusi, dan lidah. Sebenarnya, glukosa juga terdapat di dalam air liur,
yaitu cairan yang dikeluarkan oleh kelenjar air liur untuk membantu pencernaan dan memecah makanan yang masuk
ke mulut.
Ketika diabetes tidak terkontrol, tidak hanya glukosa yang ada di dalam darah saja yang meningkat, tetapi juga
glukosa pada air liur. Air liur yang mengandung kadar glukosa tinggi menyebabkan bakteri mudah tumbuh di dalam
mulut. Bakteri ini akan menyebabkan penumpukan plak-plak pada gigi yang kemudian membuat gusi dan daerah
sekitar mulut menjadi meradang serta terinfeksi.

Berikut adalah masalah mulut yang paling sering dialami oleh penderita diabetes:
Gingivitis, yaitu gusi yang meradang. Gejala yang ditimbulkan adalah, gusi kemerahan, membengkak, dan berdarah
pada gusi. Masalah ini bisa diatasi dengan rutin menyikat gigi dan ke dokter gigi secara berkala untuk
membersihkan gigi.

Periodontitis, adalah masalah pada gusi yang bisa menjadi sangat parah. Jika penderita diabetes mengalami ini,
maka dapat dilihat dari gejala dan tandanya yaitu gusi memerah, membengkak, dan berdarah, memiliki bau napas
yang kurang sedap, dan bisa membuat gigi tanggal atau copot akibat tidak kuatnya akar gigi. Pada beberapa kasus
yang sangat parah, penderita diabetes yang mengalami periodintitis dianjurkan untuk melakukan operasi.

Candidiasis, yaitu kondisi peradangan akibat jamur di mulut terlalu banyak dan tumbuh dengan cepat. Sedangkan
gejala yang ditimbulkan ketika mengalami hal ini adalah timbul rasa nyeri, gusi dan lidah terlihat berwarna merah
atau terkadang putih. Untuk mengatasi hal ini, biasanya dokter memberikan obat untuk menghentikan pertumbuhan
jamur pada mulut.

Mulut kering atau xerostomia, ini merupakan kondisi mulut kekurangan air liur, sehingga meningkatkan risiko
penumpukan plak pada gigi dan infeksi pada gusi. Penderita diabetes biasanya merasa bahwa mulutnya sering
menjadi kering, bibir pecah-pecah, timbul rasa nyeri, dan susah mengunyah. Masalah ini dapat diatasi dengan
sering-sering mengonsumsi permen mint yang tidak mengandung gula yang banyak untuk memicu produksi air
ludah, sering minum air putih, berkumur-kumur dengan obat kumur yang mengandung flouride, serta menghindari
rokok dan kafein.

Oral burning, rasa terbakar yang dirasakan pada mulut yang disebabkan oleh kadar gula dalam darah meningkat.
Rasa panas pada mulut bisa diatasi dengan menurunkan gula darah tubuh.

Lalu, beberapa gejala yang mungkin muncul adalah:


 Gigi berlubang
 Gigi copot atau tanggal
 Sakit ketika mengunyah
 Rasa makanan berubah menjadi kurang enak
 Bau mulut

Jika Anda adalah penderita diabetes, Anda harus memperhatikan kebersihan mulut, dan berikut adalah tips untuk
mencegah munculnya masalah:
 Memeriksakan diri ke dokter gigi setidaknya 6 bulan satu kali
 Mengontrol gula dalam darah dengan melakukan diet untuk penderita diabetes
 Tidak mengonsumsi makanan yang manis-manis
 Jangan merokok
 Menyikat gigi setidaknya dua kali dalam sehari dan berkumur-kumur dengan obat kumur yang
mengandung flouride
 Lebih baik menyikat gigi ketika sesaat setelah bangun tidur, sebelum tidur di malam hari, dan setelah
makan
 Menggunakan sikat gigi yang lembut dan gantilah sikat gigi Anda setidaknya 3 bulan sekali, atau ketika
bulu pada sikat sudah rusak

HAEMOFILIA

Hemofilia adalah suatu  penyakit yang menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan faktor pembekuan
darah. Akibatnya, perdarahan berlangsung lebih lama saat tubuh mengalami luka.
Dalam keadaan normal, protein yang menjadi faktor pembeku darah membentuk jaring penahan di sekitar platelet
(sel darah) sehingga dapat membekukan darah dan pada akhirnya menghentikan perdarahan. Pada penderita
hemofilia, kekurangan protein yang menjadi faktor pembeku darah tersebut mengakibatkan perdarahan terjadi secara
berkepanjangan.
Penyebab Hemofilia
Proses pembekuan darah membutuhkan unsur-unsur dalam darah, seperti platelet dan protein plasma darah.
Di dalam kasus hemofilia, terdapat mutasi gen yang menyebabkan tubuh kekurangan faktor pembekuan tertentu
dalam darah. Penyebab hemofilia A adalah mutasi gen yang terjadi pada faktor pembekuan VIISedangkan hemofilia
B disebabkan oleh mutasi yang terjadi pada faktor pembekuan IX (9) dalam darah.
Mutasi gen pada hemofilia A dan B terjadi pada kromoson X dan bisa diturunkan dari ayah, ibu, atau kedua orang
tua. Sebagian besar wanita dapat menjadi pembawa gen abnormal ini dan menurunkannya pada anaknya, tanpa
dirinya sendiri mengalami gejala hemofilia. Sedangkan pria dengan gen abnormal ini cenderung akan menderita
penyakit hemofilia. Di sisi lain, mutasi gen ini juga dapat terjadi secara spontan pada penderita hemofilia yang tidak
memiliki riwayat keluarga penderita hemofilia.
Diagnosis Hemofilia
Apabila tidak ada riwayat keluarga yang menderita hemofilia, biasanya kondisi ini terdiagnosis dari gejala-gejala
yang terlihat. Anak-anak biasanya dicurigai menderita penyakit ini pada saat mereka mulai merangkak atau berjalan
yang ditandai dengan kulit yang mudah memar atau perdarahan sendi. Sebagian lainnya ada yang terdeteksi saat
memasuki usia dewasa ketika mereka menjalani prosedur gigi atau prosedur lainnya.
Bila ada riwayat hemofilia dalam keluarga, dokter akan menyarankan pemeriksaan secara dini untuk mengetahui
adanya risiko hemofilia pada anak. Pemeriksaan tersebut meliputi:
 Pemeriksaan sebelum kehamilan, yang terdiri dari tes darah dan sampel jaringan untuk meneliti tanda-
tanda mutasi gen penyebab hemofilia pada kedua orang tua.
 Pemeriksaan selama kehamilan. Dalam pemeriksaan ini, dokter akan mengambil sampel plasenta dari
rahim (chronionic villus sampling) untuk melihat apakah janin memiliki penyakit hemofilia. Tes ini
biasanya dilakukan pada minggu ke-11 hingga ke-14 masa kehamilan. Pemeriksaan lainnya adalah
amniocentesis, yaitu uji sampel air ketuban pada minggu ke-15 hingga ke-20 masa kehamilan.
 Pemeriksaan setelah kelahiran anak. Dalam hal ini dokter akan melakukan pemeriksaan darah secara
lengkap dan tes fungsi faktor pembekuan,termasuk faktor pembekuan VIII (8) dan IX (9). Selain itu, darah
dari tali pusat bayi pada saat mereka lahir juga dapat diuji untuk memastikan adanya hemofilia.
Pengobatan Hemofilia
Penanganan hemofilia dikelompokkan menjadi dua, yaitu penanganan untuk mencegah timbulnya perdarahan
(profilaksis) dan penanganan pada saat terjadi perdarahan (on-demand).
Untuk mencegah terjadinya perdarahan, penderita biasanya diberikan suntikan faktor pembekuan darah. Suntikan
yang diberikan untuk penderita hemofilia A adalah octocog alfa yang dirancang untuk mengontrol faktor
pembekuan VIII (8). Pemberian suntikan ini dianjurkan tiap 48 jam. Efek samping yang mungkin timbul, di
antaranya adalah gatal, ruam kulit, serta nyeri dan kemerahan pada area yang disuntik. Sementara itu, penderita
hemofiilia B dengan kekurangan faktor pembekuan IX (9) akan mendapat suntikan nonacog alfa. Penyuntikan obat
ini biasanya dilakukan 2 kali dalam seminggu. Efek samping yang mungkin timbul berupa mual, pembengkakan
pada area yang disuntik, pusing, dan rasa tidak nyaman. Suntikan untuk mencegah perdarahan ini biasanya diberikan
seumur hidup, dan perkembangan kondisi pasien yang akan terus dipantau melalui jadwal pemeriksaan rutin.
Tujuan penanganan yang kedua adalah untuk menghentikan terjadinya perdarahan secara berkepanjangan. Dalam
hal ini, obat yang diberikan pada saat terjadinya perdarahan hampir sama seperti obat yang diberikan untuk
mencegah perdarahan Untuk menghentikan perdarahan pada kasus hemofilia A, dokter akan memberikan suntikan
octocog alfa atau desmepressin. Sedangkan untuk kasus hemofilia B, dokter akan memberikan suntikan nonacog
alfa. Penderita yang mendapat suntikan ini harus melakukan pemeriksaan kadar inhibitor secara teratur, karena obat
faktor pembekuan darah terkadang dapat memicu pembentukan antibodi sehingga obat menjadi kurang efektif.
Protrombin Time (PT) 10-15 detik
Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) 21-45 detik / 15-35 detik
International Normalized Ratio (INR) 0.8-1.2 detik
Bleeding Time (BT) cara Ivy 1-6 menit
Bleeding Time (BT) cara Duke 1-3 menit / 1-3 detik
Clotting Time (CT) cara Duke 6-14 menit / 8-18 detik
Clotting Time (CT) cara Tabung Reaksi 6-12 menit
Beberapa gejala yang umumnya muncul pada penderita hepatitis, antara lain adalah:
 Mengalami gejala seperti flu, misalnya mual, muntah, demam, dan lemas.
 Feses berwarna pucat.
 Putih mata dan kulit berubah menjadi kekuningan (jaundice/ikterus).
 Nyeri perut.
 Berat badan turun.
 Urine menjadi gelap seperti teh.
 Kehilangan nafsu makan.
HEPATITIS

Penyakit hepatitis adalah peradangan hati yang disebabkan oleh virus hepatitis. Ada 5 jenis virus hepatitis: A, B,
C, D, dan E. Karakteristik dari masing-masing jenis ini berbeda, maka dari itu gejala dan pengobatannya juga
beragam.
Hepatitis bisa berupa hepatitis virus (infeksi virus) atau hepatitis non-virus (hepatitis alkoholik dan hepatitis
autoimun).

Hepatitis virus
Jenis hepatitis ini disebabkan oleh virus yang masuk ke dalam tubuh. Infeksi dapat terjadi melalui penggunaan
jarum yang terkontaminasi virus (seperti melalui suntikan narkoba, tato, tindik tubuh, suntikan obat, atau jarum
transfusi), tinggal bersama atau melakukan hubungan seks dengan seseorang yang terinfeksi hepatitis, atau menjadi
petugas kesehatan yang bekerja dengan pasien hepatitis juga bisa berakibat pada infeksi hepatitis. Ada juga risiko
infeksi virus hepatitis jika Anda mengonsumsi sumber air atau makanan yang tidak aman.

Hepatitis non-virus (hepatitis alkoholik dan hepatitis autoimun)


Alkohol dapat melemahkan kerja hati sehingga membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi hepatitis. Bahkan,
konsumsi alkohol bisa menyebabkan banyak penyakit hati seperti perlemakan hati alkoholik (terlalu banyak
penumpukan lemak di hati) atau sirosis (kerusakan hati).
Hepatitis autoimun terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang hati. Ini normalnya tidak terjadi, tetapi bisa
menyebabkan penurunan fungsi hati dan menyebabkan kerusakan hati. Ada dua jenis hepatitis autoimun, dengan
hepatitis autoimun tipe 1 lebih umum dibandingkan hepatitis autoimun tipe 2. Penderita hepatitis autoimun juga bisa
memiliki gangguan autoimun lainnya, seperti penyakit Celiac, rheumatoid arthritis atau kolitis ulseratif.

Siapa saja bisa terkena hepatitis. Tapi ada beberapa perilaku tertentu yang meningkatkan risiko Anda terhadap
virus ini:
 Berbagi jarum dengan orang lain, baik untuk penggunaan obat atau modifikasi tubuh (tato atau tindik)
 Menderita HIV — HIV dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga memungkinan masuknya
virus oportunistik
 Melakukan hubungan seks tanpa kondom (baik anal dan oral)
 Menggunakan obat yang merusak hati, seperti acetaminophen (Tylenol dan lainnya), atau methotrexate
(Trexall, Rheumatrex)
 Berbagi alat makan dengan penderita hepatitis A dan E
 Menggunakan sumber air dan makanan yang terkontaminasi, baik dari lingkungan tempat tinggal atau dari
tempat yang baru saja Anda kunjungi
 Melakukan prosedur medis seperti transfusi darah, kemoterapi atau terapi penekan sistem kekebalan tubuh
 Penularan dari ibu ke anak

Tidak semua kasus hepatitis menimbulkan gejala, atau jikapun ada, gejalanya cukup samar pada tahapan awal
dalam sekitar 80% kasus. Dua puluh persen kasus lainnya bisa menunjukkan gejala dengan tingkat bervariasi. Ada
kemungkinan bagi Anda untuk langsung mengalami gejala setelah terinfeksi. Gejala bisa bersifat ringan tetapi juga
parah bagi sebagian orang, meliputi:
 Demam 
 Kelelahan
 Kehilangan nafsu makan
 Mual atau muntah
 Nyeri lambung 
 Nyeri sendi atau otot
 Buang air kecil atau besar yang tidak lazim
 Warna kulit dan bagian putih mata menguning (jaundice, tanda dari penyakit hati)
 Perasaan gatal
 Perubahan mental, seperti kurangnya konsentrasi atau koma
 Perdarahan dalam

Jika dibiarkan tanpa pengobatan, hepatitis dapat mengakibatkan sirosis (kerusakan hati permanen), dan pada
akhirnya gagal hati. Jika hasil pemeriksaan rutin Anda menunjukkan virus hepatitis, Anda harus segera
mendapatkan pengobatan.
Tahap pertama dari kerusakan hati adalah fibrosis, dimana terjadi pengerasan jaringan hati (kerusakan jaringan).
Setelah sekian lama, fibrosis akan berubah menjadi sirosis — kerusakan jaringan yang parah pada hati. Bisa
diperlukan waktu hingga 20 sampai 30 tahun bagi fibrosis untuk berkembang menjadi sirosis. Jaringan yang rusak
menghalangi aliran darah ke hati.
Menurut American College of Gastroenterology, sekitar 20% penderita hepatitis C kronis akan mengalami
sirosis. Begitu sirosis terjadi, sekitar 50% pasien akan mengalami komplikasi yang mengancam nyawa dalam 5
sampai 10 tahun berikutnya.
Selain itu, ada kemungkinan bahwa kanker hati dapat terjadi. Hepatitis C meningkatkan risiko kanker hati.
Dokter bisa menganjurkan tes USG hati setiap 6 sampai 12 bulan. Tes ini akan menunjukkan jika ada tumor yang
mulai terbentuk. Semakin cepat ditemukan, kanker hati semakin mungkin untuk diobati.
Kebanyakan orang yang menderita hepatitis tidak menyadari penyakit yang ia miliki, sehingga hepatitis sering
terdiagnosis “tanpa sengaja” ketika pemeriksaan medis rutin. Cara terbaik untuk memeriksa hepatitis adalah dengan
tes darah. Tes darah akan menunjukkan hasil dari fungsi hati dengan mengukur:
 Alanineaminotransferase (ALT)/SGPT, aspartateaminotransferase (AST)/SGOT dan alkalinephosphatase
(ALP): ketiga enzim ini dihasilkan oleh hati. Ada terlalu banyak enzim-enzim ini berarti ada masalah pada hati
Anda.
 Bilirubin: kadar bilirubin darah meningkat dalam penyakit hati. Bilirubin diangkut ke hati untuk diekstrak.
Kadar bilirubin yang tinggi berarti kadar faktor pembekuan yang tinggi dan peningkatan risiko kecendrungan
perdarahan dan mudah memar.
 Albumin dan total Protein (TP): kadar protein darah dan albumin merupakan indikatif dari fungsi hati yang
sehat.
Selain tes darah, dokter bisa mendiagnosis hepatitis melalui pemeriksaan fisik untuk gejala hepatitis seperti kulit
atau mata yang menguning. Pemeriksaan riwayat diperlukan untuk mengetahui dari mana Anda bisa terkena virus
tersebut.
Obat-obatan yang paling umum dalam pengobatan hepatitis meliputi:
 Interferon 
 Obat antivitus protease inhibitor
 Obat antivitus analog nukleosida
 Polymerase inhibitor dan kombinasi terapi obat
Interferon
Interferon adalah kombinasi dari obat-obatan antivirus. Interferon mengurangi efek samping dan memungkinkan
obat tetap berada di tubuh untuk waktu yang lebih lama dibandingkan dengan obat lainnya. Interferon memasok
protein bagi tubuh untuk melawan infeksi dan terutama untuk membantu sistem kekebalan tubuh melawan HCV
untuk mencegah komplikasi. Interferon meliputi:
 Injeksi peginterferon alfa-2a (Pegasys)
 Injeksi peginterferon alfa-2b (PegIntron, Sylatron)
 Injeksi interferon alfa-2b (Intron A)

Obat antivirus protease inhibitor


Protease inhibitor digunakan untuk mencegah penyebaran virus dengan menghentikan reproduksinya. Obat-obatan
ini bisa digunakan secara oral. Beberapa dari obat-obatan antivirus protease inhibitor adalah:
 Telaprevir (Incivek)
 Boceprevir (Victrelis)
 Paritaprevir (ini adalah protease inhibitor tetapi hanya tersedia dalam Viekira Pak, sebagai bagian dari
kombinasi yang digunakan untuk mengobati infeksi HCV)

Obat-obatan antivirus analog nukleosida


Obat-obatan antivirus analog nukleosida juga bekerja untuk mencegah pembentukan virus baru. Obat ini juga
digunakan dalam kombinasi dengan terapi lainnya untuk mengobati hepatitis. Obat yang paling umum dari jenis ini
adalah ribavirin (Copegus, Moderiba, Rebetol, Ribasphere, RibasphereRibaPak, Virazole).
Waspadalah karena ribavirin dapat menyebabkan cacat lahir pada bayi baru lahir jika digunakan oleh ibu hamil dan
menekan pertumbuhan pada anak-anak. Risiko ini bisa dialihkan dari pria kepada pasangan wanitanya dalam
pembuahan.

Polymerase inhibitor dan kombinasi terapi obat


Polymerase inhibitor mencegah perkembangan penyakit hepatitis dengan menghentikan produksi virus. Pengobatan
ini termasuk polymerase inhibitor sovaldi (Sofosbuvir). Obat ini terkadang digunakan dalam kombinasi dengan
ribavirin sampai selama 24 minggu. Dokter juga bisa menggunakan kombinasi ledipasvir dan sofosbuvir (Harvoni)
untuk mengobati hepatitis. Obat-obatan ini harus digunakan dengan makanan dan tidak boleh ditumbuk.
Efek samping yang umum meliputi:
 Mual 
 Gatal 
 Insomnia 
 Kelemahan 

GASTRITIS

Gastritis dapat memicu efek samping penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)
Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) adalah kelompok obat
yang digunakan untuk meredakan nyeri, serta mengurangi peradangan yang ditandai dengan kulit kemerahan, terasa
hangat, dan bengkak. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk menurunkan demam. NSAIDs sering
dikonsumsi untuk mengatasi sakit kepala, nyeri menstuasi, flu, radang sendi, cedera sendi, atau keseleo.
NSAIDs bekerja dengan cara menghambat enzim siklooksigenase (COX 1 dan 2) untuk menghentikan stimulasi
hormon prostalglandin, karena hormon tersebut yang memicu peradangan dan menguatkan impuls listrik yang
terkirim dari saraf ke otak sehingga meningkatkan rasa nyeri. Dengan menggunakan obat ini, peradangan, nyeri,
atau demam yang sedang terjadi dapat berkurang.

TINGKAT KESADARAN / GLASGOW COMA SCALE

Panduan mengukur tingkat kesadaran menggunakan Glasgow coma scale

Untuk mengetahui seberapa baik tingkat kesadaran Anda, dokter atau tim medis akan melakukan penilaian GCS.
Dokter menggunakan penilaian ini untuk menilai respon mata, kemampuan bicara, serta gerakan tubuh. Skor atau
nilai GCS didapat dengan menjumlah nilai yang didapatkan dari indikator di bawah ini.
Respon mata
Apabila mata pasien terbuka secara spontan dengan berkedip tanpa tim medis memberikan rangsangan 4
Jika mata terbuka secara spontan tanpa perintah atau sentuhan
Apabila mata pasien terbuka ketika tim medis memberikan rangsangan verbal, alias lewat suara atau 3
perintah
Jika mata seseorang terbuka hanya dengan mendengar suara atau dapat mengikuti perintah untuk membuka
mata
Apabila mata mata pasien terbuka ketika tim medis memberikan rangsangan nyeri 2
Jika mata terbuka akibat rangsang nyeri saja
Apabila mata pasien tidak membuka sama sekali atau tetap tertutup rapat meski tim medis sudah 1
memberikan perintah dan  rangsangan nyeri
Jika tim medis meminta membuka mata dan merangsang seseorang dengan nyeri tapi mata orang tersebut
tidak bereaksi dan tetap terpejam

Suara
Apabila pasien mampu menjawab semua pertanyaan yang ditanyakan oleh tim medis dengan benar 5
Seseorang dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan benar dan sadar penuh terhadap
orientasi lokasi, lawan bicara, tempat, dan waktu
Apabila pasien menunjukkan kebingungan, tetapi mampu menjawab pertanyaan dengan jelas 4
Jika seseorang dapat menjawab pertanyaan dari tim medis tapi pasien seperti kebingungan atau percakapan
tidak lancar
Apabila pasien mampu diajak berkomunikasi tapi hanya mengeluarkan kata-kata saja bukan kalimat yang 3
jelas
Seseorang dapat berkomunikasi tapi tidak jelas atau hanya mengeluarkan kata-kata tapi bukan kalimat yang
jelas
Apabila pasien hanya mengerang atau mengeluarkan suara rintihan tanpa kata-kata 2
Jika suara yang keluar seperti rintihan tanpa kata-kata
Apabila pasien tidak mengeluarkan suara sama sekali, meski tim medis sudah mengajak berkomunikasi atau 1
merangsang ujung jarinya
Jika seseorang tidak mengeluarkan suara sedikitpun, meski sudah dipanggil atau dirangsang nyeri

Gerakan
Apabila pasien mampu menuruti dua perintah berbeda dari tim medis 6
Seseorang dapat melakukan gerakan ketika diperintahkan
Apabila pasien mampu mengangkat tangan ketika diberikan rangsangan nyeri di area tersebut oleh tim 5
medis, dan ia juga mampu menunjukkan titik mana yang sakit
Bagian tubuh yang tersakiti dapat bergerak dan orang yang diperiksa dapat menunjukkan lokasi nyeri,
Contohnya ketika tangan diberi rangsangan nyeri, tangan akan mengangkat
Apabila pasien mampu menghindar ketika tim medis memberi rangsangan nyeri, namun tidak terarah ke 4
titik nyeri
Seseorang dapat menggerakkan tubuh menjauhi sumber nyeri ketika dirangsang nyeri, seseorang dapat
menjauhkan tangan ketika dicubit
Apabila pasien hanya melipat siku lengan saat diberi rangsangan nyeri 3
Seseorang hanya menekuk lengan dan memutar bahu saat diberi rangsangan nyeri
Apabila pasien hanya dapat membuka siku lengan saat diberikan rangsangan nyeri oleh tim medis 2
Seseorang hanya dapat mengepalkan jari tangan dan kaki, atau menekuk kaki dan tangan saat diberi
rangsangan nyeri
Apabila pasien tidak ada respon gerakan tubuh sama sekali meski tim medis sudah memberikan rangsangan 1
atau perintah
Tidak ada respons gerakan tubuh walau sudah diperintahkan atau diberi rangsangan nyeri
Respon pasien yang perlu diperhatikan mencakup 3 hal yaitu reaksi membuka mata (Eye), bicara (Verbal) dan
gerakan (Motorik). Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka 1 – 6 tergantung
responnya. 

Pemeriksaan GCS pada orang Dewasa :


Eye (respon membuka mata) :
(4) : spontan
(3) : dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).
(2) : dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari)
(1) : tidak ada respon

Verbal (respon verbal) :


(5) : orientasi baik
(4) : bingung, berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang), disorientasi tempat dan waktu.
(3) : kata-kata tidak jelas
(2) : suara tanpa arti (mengerang)
(1) : tidak ada respon
 
Motorik (Gerakan) :
(6) : mengikuti perintah
(5) : melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(4) : withdraws (menghindar/menarik extremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri)
(3) : flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).
(2) : extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat
diberi rangsang nyeri).
(1) : tidak ada respon

Pemeriksaan GCS pada orang Anak/Bayi :


Eye (Respon membuka Mata) :
(4) : spontan
(3) : Patuh pada perintah/suara
(2) : dengan rangsangan nyeri
(1) : tidak ada respon
 
Verbal (bicara) :
(5) : mengoceh
(4) : menangis lemah
(3) : menangis (karena diberi rangsangan nyeri)
(2) : merintih (karena diberi rangsangan nyeri)
(1) : tidak ada respon
 
Motorik (gerakan) :
(6) : spontan
(5) : menarik (karena sentuhan)
(4) : menarik (karena rangsangan nyeri)
(3) : fleksi abnormal
(2) : ekstensi abnormal
(1) : tidak ada respon

Kesimpulan :
1. Composmentis : 15-14
2. Apatis : 13-12
3. Delirium : 11-10
4. Somnolen : 9-7
5. Stupor : 6-4
6. Coma : 3

Suhu normal 36.5-37.5


Febris atau demam maka suhu diatas 37.5
Afebris tidak mengalami demam

Jenis prognosis

1. Sanam (sembuh)
2. Bonam (baik)
3. Malam (buruk/jelek)
4. Dubia (tidak tentu/ragu-ragu)
1. Dubia ad sanam/bonam (tidak tentu/ragu-ragu, cenderung sembuh/baik)
2. Dubia ad malam (tidak tentu/ragu-ragu, cenderung buruk/jelek)

Kuning hepatitis
Biru osteogenesis imperfekta

Konjungtiva merupakan lapisan tipis yang berada di mata yang berguna melindungi sklera (area putih dari mata).
Sel pada konjungtiva akan memproduksi cairan yang akan melubrikasi kornea sehingga tidak kering. [1][2]
Konjungtiva terletak di kelopak mata dinamakan konjungtiva palpebral dan yang akan memantulkan pada
permukaan anterior dari bola mata dinamakan konjungtiva bulbar.[1] Konjungtiva hanya melindunga bagian putih
mata bukan kornea (sebuah lapisan antara iris dan pupil).[1] Konjungtiva bulbar sangat tipis, dan pembuluh darah
dapat terlihat dengan mata telanjang (dan akan lebih terlihat saat mata mengalami iritasi). [2] Ketika mata tertutup,
terlihat seperti ada sebuah celah antara bola mata dengan kelopak mata, ini yang disebut sebagai kantung
konjungtival di mana terletak lensa mata.[2]

Mata diperiksa untuk melihat pupil apakah sama besar (isokor) atau tidak sama besar  (anisokor),
melihat sclera apakah ikterik atau tidak ikterik, dan melihat konjungtiva apakah pucat (anemis) atau tidak.

Hipertonus bibir panjang


Hipotonus bibir pendek
Pemeriksaan tonus otot bibir atau kekuatan bibir disebut juga ketegangan otot bibir. Penilaian tonus otot bibir dapat
dilakukan dengan memegang bagian ventral otot bibir. Pemeriksaan dilakukan dengan mempalpasi otot orbicularis
orisdalam keadaan relaksasi.  Tonus Otot Bibir
Hipotonus : saat otot mastikasi istirahat dan otot bibir memilikitonus otot yang lemah
Normal : tonus dengan keseimbangan yang harmonis
Hipertonus : tonus otot yang sangat kuat
Tendon (juga disebut sinew atau urat) adalah sekumpulan jaringan ikat berserat kuat yang
menghubungkan jaringan otot dengan tulang. Jaringan ini cukup kuat untuk menahan tegangan.
Jaringan tendon sangat mirip dengan ligamen dan fascia; ketiganya terbuat dari kolagen. Ligamen
menghubungkan tulang dengan tulang lain; fasciae menghubungkan otot dengan otot. Tendon dan
otot bekerja sama untuk menggerakkan kerangka tubuh.
bunyi keletuk (clicking), letupan (popping), bunyi menciut (grating) atau krepitasi

Penyakit anemia adalah suatu kondisi di mana jumlah sel darah merah Anda lebih rendah dari jumlah normal.

 Jenis nyeri: nyeri nosiseptik, nyeri neurogenik, nyeri psikogenik


 Penyebab nyeri: nyeri onkogolik, nyeri non-onkogolik
 Komplikasi nyeri: nyeri akut, nyeri kronik
 Derajat nyeri: nyeri ringan, nyeri sedang, nyeri berat

Jenis-Jenis Skala Nyeri


Skala nyeri secara umum digambarkan dalam bentuk nilai angka, yakni 1-10. Berikut adalah jenis skala nyeri
berdasarkan nilai angka yang perlu Anda ketahui.
 Skala 0, tidak nyeri
 Skala 1, nyeri sangat ringan
 Skala 2, nyeri ringan. Ada sensasi seperti dicubit, namun tidak begitu sakit
 Skala 3, nyeri sudah mulai terasa, namun masih bisa ditoleransi
 Skala 4, nyeri cukup mengganggu (contoh: nyeri sakit gigi)
 Skala 5, nyeri benar-benar mengganggu dan tidak bisa didiamkan dalam waktu lama
 Skala 6, nyeri sudah sampai tahap mengganggu indera, terutama indera penglihatan
 Skala 7, nyeri sudah membuat Anda tidak bisa melakukan aktivitas
 Skala 8, nyeri mengakibatkan Anda tidak bisa berpikir jernih, bahkan terjadi perubahan perilaku
 Skala 9, nyeri mengakibatkan Anda menjerit-jerit dan menginginkan cara apapun untuk
menyembuhkan nyeri
 Skala 10, nyeri berada di tahap yang paling parah dan bisa menyebabkan Anda tak sadarkan diri

Cara Menghitung Skala Nyeri


Mengetahui skala nyeri menjadi penting karena metode ini membantu para tenaga medis untuk mendiagnosis
penyakit, menentukan metode pengobatan, hingga menganalisis efektivitas dari pengobatan tersebut. Dalam dunia
medis, ada banyak metode penghitungan skala nyeri. Berikut ini beberapa cara menghitung skala nyeri yang paling
populer dan sering digunakan.
1. Visual Analog Scale (VAS)
Visual Analog Scale (VAS) adalah cara menghitung skala nyeri yang paling banyak digunakan oleh praktisi medis.
VAS merupakan skala linier yang akan memvisualisasikan gradasi tingkatan nyeri yang diderita oleh pasien.
Pada metode VAS, visualisasinya berupa rentang garis sepanjang kurang lebih 10 cm, di mana pada ujung garis kiri
tidak mengindikasikan nyeri, sementara ujung satunya lagi mengindikasikan rasa nyeri terparah yang mungkin
terjadi. Selain dua indicator tersebut, VAS bisa diisi dengan indikator redanya rasa nyeri.
VAS adalah prosedur penghitungan skala nyeri yang mudah untuk digunakan. Namun, VAS tidak disarankan untuk
menganalisis efek nyeri pada pasien yang baru mengalami pembedahan. Ini karena VAS membutuhkan koordinasi
visual, motorik, dan konsentrasi.
Berikut adalah visualisasi VAS:

sumber: unud.ac.id

2. Verbal Rating Scale (VRS)


Verbal Scale (VRS) hampir sama dengan VAS, hanya, pernyataan verbal dari rasa nyeri yang dialami oleh pasien ini
jadi lebih spesifik. VRS lebih sesuai jika digunakan pada pasien pasca operasi bedah karena prosedurnya yang tidak
begitu bergantung pada koordinasi motorik dan visual.
Skala nyeri versi VRS:

sumber: unud.ac.id
 

3. Numeric Rating Scale (NRS)


Kalau tadi penghitungan skala nyeri didasari pada pernyataan, maka metode Numeric Rating Scale (NRS) ini
didasari pada skala angka 1-10 untuk menggambarkan kualitas nyeri yang dirasakan pasien. NRS diklaim lebih
mudah dipahami, lebih sensitif terhadap jenis kelamin, etnis, hingga dosis. NRS juga lebih efektif untuk mendeteksi
penyebab nyeri akut ketimbang VAS dan VRS.
Skala nyeri dengan menggunakan NRS:

sumber: unud.ac.id
 
NRS di satu sisi juga memiliki kekurangan, yakni tidak adanya pernyataan spesifik terkait tingkatan nyeri sehingga
seberapa parah nyeri yang dirasakan tidak dapat diidentifikasi dengan jelas.

4. Wong-Baker Pain Rating Scale


Wong-Baker Pain Rating Scale adalah metode penghitungan skala nyeri yang diciptakan dan dikembangkan oleh
Donna Wong dan Connie Baker. Cara mendeteksi skala nyeri dengan metode ini yaitu dengan melihat ekspresi
wajah yang sudah dikelompokkan ke dalam beberapa tingkatan rasa nyeri.
sumber:
wongbakerfaces.org
Saat menjalankan prosedur ini, dokter akan meminta pasien untuk memilih wajah yang kiranya paling
menggambarkan rasa nyeri yang sedang mereka alami.
Seperti terlihat pada gambar, skala nyeri dibagi menjadi:
 Raut wajah 1, tidak ada nyeri yang dirasakan
 Raut wajah 2, sedikit nyeri
 Raut wajah 3, nyeri
 Raut wajah 4, nyeri lumayan parah
 Raut wajah 5, nyeri parah
 Raut wajah 6, nyeri sangat parah

5. McGill Pain Questinonnaire (MPQ)


Metode penghitungan skala nyeri selanjutnya adalah McGill Pain Questinnaire (MPQ). MPQ adalah cara
mengetahui skala nyeri yang diperkenalkan oleh Torgerson dan Melzack dari Universitas Mcgill pada tahun 1971.
Sesuai dengan namanya, prosedur MPQ berupa pemberian kuesioner kepada pasien. Kuesioner tersebut berisikan
kategori atau kelompok rasa tidak nyaman yang diderita.
Terdapat 20 kelompok yang masing-masing terdiri dari sejumlah kata sifat (adjektiva). Pasien diminta untuk
memilih kata-kata yang kiranya paling menggambarkan kondisi mereka saat ini.
 Kelompok 1-10
Menggambarkan kualitas sensorik dari nyeri. Gejala yang termasuk dalam kelompok ini di antaranya:
 Berdenyut
 Menusuk
 Panas
 Kesemutan
 Gatal
 Perih
 Kram
 Koyak
 Kelompok 11-15
Kelompok 11-15 menggambarkan efektivitas nyeri, seperti:
 Melelahkan
 Memuakkan
 Menakutkan
 Celaka
 Kejam
 Membunuh
 Kelompok 16
Sementara itu, adjektiva pada kelompok 16 lebih ke dimensi evaluasi, terdiri atas:
 Menjengkelkan
 Menyusahkan
 Sengsara
 Tak tertahankan
 Kelompok 17-20
Terakhir, kelompok 1-20 berisi kata-kata yang sifatnya spesifik, seperti:
 Menyiksa
 Mengerikan
 Dingin
 Memancarkan
 Menembus
Lazimnya, dokter akan meminta pasien memilih tiga kata dari kelompok 1-10, dua kata dari kelompok 11-15, satu
katan dari kelompok 16, dan satu kata dari kelompok 17-20. Setelah itu, dokter menjumlahkan kata-kata yang dipilih
oleh pasien sehingga menghasilkan angka total yang digunakan untuk menentukan skala nyeri.

6. Oswetry Disability Index (ODI)


Diperkenalkan pertama kali pada tahun 1980 oleh Jeremy Fairbank, Oswetry Disability Index (ODI) adalah metode
deteksi skala nyeri yang bertujuan untuk mengukut derajat kecacatan, pun indeks kualitas hidup dari pasien
penderita nyeri, khususnya nyeri pinggang.
Pada penerapannya, pasien akan diminta melakukan serangkaian tes guna mengidentifikasi intensitas nyeri,
kemampuan gerak motorik, kemampuan berjalan, duduk, fungsi seksual, kualitas tidur, hingga kehidupan
pribadinya. Dari sini, dokter dapat mengetahui skala nyeri dan memastikan apa penyebab utama dari nyeri yang
dirasakan tersebut.

7. Brief Pain Inventory (BPI)


Awalnya, metode ini digunakan untuk menghitung skala nyeri yang dirasakan oleh penderita kanker. Namun. Saat
ini BPI juga digunakan untuk menilai derajat nyeri pada penderita nyeri kronik.

8. Memorial Pain Assessment Card


Cara mengukur skala nyeri dengan metode Memorial Pain Assessment Card ini dinilai cukup efektif, terutama untuk
pasien penderita nyeri kronik. Dalam penerapannya, MPAC akan berfokus pada empat indicator, yakni intensitas
nyeri, deskripsi nyeri, pengurangan nyeri, dan mood.
KLASIFIKASI IMPAKSI MOLAR 3
Berdasarkan hubungan antara ramus mandibula dengan molar kedua dengan cara membandingkan lebar mesio-distal
molar ketiga dengan jarak antara bagian distal molar kedua ke ramus mandibular
Kelas I: Ukuran mesio-distal molar ketiga lebih kecil dibandingkan jarak antara distal gigi molar kedua dengan
ramus mandibula.
Kelas II: Ukuran mesio-distal molar ketiga lebih besar dibandingkan jarak antara distal gigi molar kedua dengan
ramus mandibula.
Kelas III: Seluruh atau sebagian besar molar ketiga berada dalam ramus mandibula.

Klasifikasi impaksi gigi kamimus rahang atas dibagi antara lain:8


 Kelas I: Impaksi gigi kaninus terletak di palatum.
1. Horizontal
2. Vertikal
3. Semivertikal
 Kelas II: Impaksi gigi kaninus terletak di labial atau bukal rahang atas.
1. Horizontal
2. Vertikal
3. Semivertikal
 Kelas III: Impaksi gigi kaninus terletak pada kedua bagian yaitu di palatal dan di labial atau bukal rahang
atas, misalnya posisi mahkota berada di palatum dan akar lewat di antara akar gigi yang berdekatan dalam
proses alveolar, berakhir di sudut tajam pada permukaan labial atau bukal rahang atas.
 Kelas IV: Impaksi gigi kaninus terletak dalam tulang alveolar, biasanya dalam posisi vertikal antara gigi
insisivus dan premolar pertama.
 Kelas V: Impaksi gigi kaninus terletak di daerah tidak bergigi di rahang atas.

Beri Nilai