Anda di halaman 1dari 29

BAB II.

DASAR TEORI

2.1. Pola Pemboran


Keberhasilan suatu peledakan salah satunya terletak pada ketersediaan bidang
bebas yang mencukupi. Minimal dua bidang bebas yang harus ada. Peledakan
dengan hanya satu bidang bebas, disebut crater blasting, akan menghasilkan
kawah dengan lemparan fragmentasi keatas dan tidak terkontrol. Dengan
mempertimbangkan hal tersebut, maka pada tambang terbuka selalu dibuat
minimal dua bidang bebas, yaitu dinding bidang bebas dan puncak jenjang (top
bench). Selanjutnya terdapat tiga pola pengeboran yang dibuat secara teratur ,
yaitu : (Gambar 2.1)
1. Pola bujursangkar (Square pattern), yaitu jarak burden dan spasi sama
2. Pola persegipanjang(rectangular pattern), yaitu jarak spasi dalam satu baris
lebih besar dibanding burden
3. Pola zigzag (staggered pattern), yaitu antara lubang bor dibuat zigzag yang
berasal dari pola bujur sangkar maupun persegipanjang.

Gambar 2.1 Sketsa pola pengeboran pada tambang terbuka.

Baik buruknya hasil peledakan akan sangat ditentukan oleh kualitas lubang bor.

I-1
Kualitas lubang bor dalam hal ini ditinjau dari segi :

a. Keteraturan Tata Letak Lubang Bor


Tujuan pemboran adalah untuk meletakan bahan peledak pada posisi (tempat)
yang sudah direncanakan. Setiap bantuan akan memberikan reaksi (respon)
yang berbeda terhadap peledakan. Reaksi ini bereaksi sangat luas dan
dipengaruhi oleh banyak faktor diantarnya : perlapisan, struktur geologi
alamia, dan lain-lain yang selalu berubah dari titik ke titik. Tidaklah mungkin
untuk menyusun suatu pola peledakan yang dapat mengakomodasi semua
variasi itu. Untuk itu, didalam prakteknya lubang bor dirancang dengan pola
teratur dengan sedemikian rupa sehingga bahan peledak dapat terdistribusi
secara merata dan dengan demikian, setiap kolom bahan peledak akan
mempunyai beban yang sama.

b. Penyimpangan Arah dan Sudut Pemboran


Hal ini perlu dicermati terutama pada pemboran miring. Pada pemboran
miring maka posisi alat bor sangat menentukan. Walaupun tata lubang bor
dipermukaan sudah sempurna, namun bila posisi alat bor tidak benar-benar
sejajar dengan posisi alat bor pada lubang sebelumnya maka dasar (ujung)
lubang bor akan menjadi tidak teratur . hal yang sama akan dihasilkan bila
sudut kemiringan batang bor juga tidak sama. Penyimpangan arah dan sudut
pemboran dipengaruhi oleh struktur batuan, keteguhan (stiffness) batang bor
dalam kesalahan awal pemboran (collaring).

c. Kedalam dan Kebersihan Lubang


Lantai (permukaan) bor biasanya tidak rata dan datar sehingga kedalaman
lubang bor juga tidak akan seluruhnya sama. Untuk itu area yang akan dibor
sebaiknya disurvey dahulu agar kedalaman masing-masing lubang bor dapat
ditentukan.

2.2 Pola Peledakan

I-2
Secara umum pola peledakan menunjukan urutan atau skuensial peledakan dari
sejumlah lubang ledakan. Pola peledakan pada tambang terbuka dan bukaan
dibawah tanah berbeda. Banyak faktor yang menentukan perbedaan tersebut,
diantarnya adalah faktor yang mempengaruhi pola pengeboran. Adanya urutan
peledakan berarti terdapat jeda waktu peledakan diantara lubang-lubang ledak
yang disebut dengan waktu tunda atau delay time. Beberapa keuntungan yang
diperoleh dengan menerapkan waktu tunda pada sistem peledakan antara lain
adalah :
1. Mengurangi getaran
2. Mengurangi over break dan batu terbang (fly rock)
3. Mengurangi getaran akibat airblast dan suara (noice)
4. Dapat mengarahkan lemparan fragmentasi batuan
5. Dapat memperbaiki ukuran fragmentasi batuan hasil peledakan
Apabila pola peledakan tidak tepat atau seluru lubang diledakan sekaligus, maka
akan terjadi sebaliknya yang merugikan, yaitu peledakan yang mengganggu
lingkungan dan hasilnya tidak efektif dan tidak efesien . beberapa pola peledakan
yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
a. Pola peledakan corner cut (echelon)
Pola peledakan ini diterapkan untuk lokasi peledakan yang memiliki tiga
bidang bebas (free face), arah lemparan hasil peledakan dengan
menggunakan pola peledakan ini adalah kearah pojok (corner).

Gambar 2.2 Pola Peledakan Corner Cut (Echelon)


b. Pola Peledakan V-Cut

I-3
Pola peledakan ini diterapkan untuk lokasi peledakan yang memiliki dua
bidang bebas (free face) arah lemparan hasil peledakan dengan
menggunakan pola ini adalah kearah tengah (center) dengan pola
peledakan menyerupai huruf V.

Gambar 2.3 Pola Peledakan V-Cut

c. Pola Peledakan Box-Cut


Pola peledakan ini diterapkan untuk lokasi peledakan yang hanya
mempunyai satu bidang bebas (free face) yakni permukaan bersentuhan
langsung dengan udara kearah vertikal. Pola peledakan ini bertujuan untuk
menghasilkan bongkahan awal seperti kotak (box) dengan control row
ditengah tengah membagi dua rangkaian.

Gambar 2.4 Pola Peledakan Box-Cut

2.3 Geometri Peledakan

I-4
Kondisi batuan dari suatu tempat ketempat yang lain akan berbeda walaupun
mungkin jenisnya sama. hal ini di sebabkan oleh proses genesa batuan yang akan
mempengaruhi karakteristik masa batuan secara fisik maupun mekanik. Perlu
diamati pula kenampakan struktur geologi, misalnya retakan atau rekahan, sisipan
(fissure) dari lempung, bidang diskontniutas dan sebagainya. Kondisi geologi
semacam ini akan mempengaruhi kemampuan ledakan (blastability).

Geometri peledakan adalah hubungan antara berbagai jenis dimensi yang


digunakan dalam perencanaan peledakan. Beberapa jumlah bahan peledak yang
harus diisikan pada setiap lubang ledak dan bagaimana susunannya merupakan
salah satu pokok dalam merancang peledakan. Salah satu cara merancang
geometri peledakan adalah dengan “rule of thumb” atau trial and error atau rule
of thumb dengan menggunakan R.L Ash (1963).

Tinggi jenjang (H) dan diameter (d) merupakan pertimbangan pertama yang
disarankan. Jadi cara ini menitik beratkan pada alat yang tersedia atau yang akan
dimiliki, kondisi batuan setempat, peraturan tentang batas maksimum ketinggian
jenjang yang diijinkan oleh pemerintah, serta produksi yang dikehendaki.
1. Burden (B)
Burden di definisikan sebagai jarak terdekat antara lubang bor dan tegak
lurus terhadap bidang bebas (free face) pada oprasi peledakan. Jarak
burden yang baik adalah jarak yang memungkin energi ledakan bisa secara
maksimal bergerak keluar dari kolom isian menuju bidang bebas dan
dipantulkan kembali dengan kekuatan yang cukup untuk melampaui kuat
tarik batuan sehingga terjadi penghancuran batuan. Untuk menentukan
ukuran burden digunakan rumus sebagai berikut :
B = (25-40) x d ……………………………………………… (2.1)
Dimana :
B : Burden (m)
d : diameter lubang ledak (m)

2. Spacing (S)

I-5
Spacing didefinisikan sebagai jarak antar lubang ledak dalam satu row
(baris), relative horizontal terhadap free face. Apabila spasi terlalu kecil
akan mengakibatkan batuan hancur menjadi halus, disebabkan karena
energi yang menekan terlalu kuat, sedangkan bila jarak spasi terlalu besar
akan mengakibatkan bongkah atau bahkan batuan hanya mengalami
keretakan, kerena energi ledakan dari lubang yang satu tidak mampu
berinteraksi dengan energi dari lubang lainnya.
Untuk menghitung jarak spasi digunakan rumus sebagai berikut :
S = (1-1,5) x B ………………………………………..........(2.2)
Dimana :
S : Spacing (m)
B : Burden (m)

3. Subdrilling (J)
Subdrilling adalah penambahan kedalaman dari pada lubang bor diluar
rencana lantai jenjang.pemboran lubang ledak sampai batas bawah dari
lantai bertujuan agar seluruh permukaan jenjang bisa terbongkar secara
fullface setelah dilakukan peledakan. Jadi, untuk menghindari agar pada
lantai jenjang tidak terbentuk tonjolan-tonjolan (toe) yang sering
mengganggu kegiatan pemboran selanjutnya dan menghambat kegiatan
permukaan fan pengangkutan.
Secara praktis rumus yang digunakan adalah :
J = (0,2-0,4) x B ………………………………………………(2.3)
Dimana :
J : Subdrilling (m)
B : Burden

4. Stemming
Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang bor, dan letak
nya diatas kolom isian bahan peledak. Fungsi stemming adalah agar terjadi
keseimbangan tekanan yang mengurung gas-gas hasil ledakan sehingga
dapat menekan batuan dengan energi yang maksimal. Disamping itu

I-6
stemming juga berfungsi untuk mencegah agar tidak terjadi batuan terbang
(fly rock) dan tekanan udara (air blast) saat peledakan.
Stemming dapat ditentukan dengan rumus :
T = (0,7-1) x B ……………………………………………….(2.4)
Dimana :
T : Stemming (m)
B : Burden (m)

5. Kedalaman Lubang Ledak (H)


Kedalaman lubang ledak sangat berpengaruh dengan tinggi jenjang, secara
spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh alat bor dan alat muat
yang tersedia. Biasanya ketinggian jenjang disesuaikan dengan
kemampuan alat bor dan diameter lubang.
Kedalaman lubang ledak dapat dicari dengan menggunakan rumus :
H = (1,5-4) x B ………………………………………………..(2.5)
Dimana :
H : kedalaman lubang ledak (m)
B : burden (m)

6. Powder Columb (PC)


Powder columb adalah panjang lubang isian pada lubang ledak yang akan
diisi pada bahan peledak.
Perhitungannya dapat menggunakan rumus :
PC = H-T …………………………………………………..(2.6)
Dimana :
PC : panjang Powder Columb (m)
H : Kedalaman Lubang ledak (m)

7. Tinggi Jenjang (L)

I-7
Secara spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan lubang
bor dan alat muat yang tersedia. Hubungan antara lubang bor dengan
tinggi jenjang dapat ditentukan dengan rumus :
L = H-J …………………………………………………….(2.7)
Dimana :
L : tinggi jenjang (m)
H : kedalaman lubang ledak (m)
J : Subdrilling (m)

Sumber : Modul kursus juru ledak,2008


Gambar 2.5 Geometri Peledakan

Selain memperhitungkan geometri peledakan seperti yang disebutkan


diatas,dalam kegiatan peledakan terdapat faktor-faktor lain yang juga harus
diperhitungkan seperti jumlah pemakaian bahan peledak, volume peledakan
serta nilai powder factor.

8. Loading Density (de)

I-8
Loading density adalah jumlah pemakaian bahan peledak dalam satu
meter. Satuan yang digunakan adalah kg/m. loading density dicari untuk
mengetahui berapa jumlah bahan peledak yang digunakan dalam satu
lubang ledak. Loading density dapat dicari dengan menggunakan rumus
sebagai berikut :
Volume Lubang persatu meter = πr2t ……………………(2.8)
de = Volume x densitas bahan peledak ……………………(2.9)
dimana :
π : 3,14
r ; Jari- jari lubang ledak (m)
t : tinggi lubang (m)
de : loading density (kg/m)

9. Jumlah Pemakaian Bahan Peledak (W)


Banyaknya bahan peledak yang digunakan dapat dicari dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
W = PC x de x n ………………………………………….(2.10)
Dimana :
W : Jumlah pemakaian bahan peledak (kg)
PC : panjang powder colum (m)
de : loading density (kg/m)
n : jumlah lubang ledak

10. Volume Peledakan (V)


Volume peledakan merupakan volume overburden yang akan diledakan
dalam suatu perencanaan peledakan. Volume peledakan dapat dicari
dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
V = B x S x L x n …………………………………………(2.11)
Dimana :
V : volume peledakan (m3)
B : Burden (m)
S : Spacing (m)

I-9
L : Tinggi jenjang (m)
n : Jumlah Lubang ledak

11. Powder factor (PF)


Powder factor (PF) didefinisikan sebagai perbandingan jumlah bahan
peledak yang dipakai dengan volume peledakan , jadi satuannya kg/m3.
Karena volume peledakan dapat pula dikonversi dengan berat, maka
pernyataan PF bisa pula menjadi jumlah bahan peledak yang digunakan
dibagi berat peledakan atau kg/ton.
W
PF = …………………………………………………….(2.12)
V
Dimana :
PF : powder factor (kg/m3)
W : Jumlah pemakaian bahan peledak
V : Volume Peledakan (m3)

PF biasanya sudah ditetapkan oleh perusahaan karena merupakan hasil


dari beberapa penelitian sebelumnya dan juga karena berbagai
pertimbangan ekonomi. Umumnya bila hanya berpegang pada aspek
teknis hasil dari perhitungan matematis akan diperoleh angka yang besar
yang menurut penilaian secara ekonomis masih perlu dan dapat dihemat.
Dari pengalaman beberapa tambang terbuka di quarry yang sudah berjalan
secara normal, harga PF yang ekonomis berkisar antara 0,20-0,30 kg/m3.

2.4 Energi Pada Peledakan


Ada dua jenis energi yang dilepaskan saat terjadi ledakan, yaitu work energy dan
waste energy (lihat gambar 2.6). work energy merupakan energi peledakan yang
menyebabkan terpecahnya batuan. Energi ini terbagi dua yaitu shock energy dan
gas energy. Pada saat peledakan terjadi, tidak semua energi yang dihasilkan akan
digunakan untuk menghasilkan fragmen batuan. Energi sisa yang dihasilkan ini
disebut waste energy. Waste energy terdiri dari light, heat, sound, dan seismic
energy, energi-energi ini (terutama seismik) dapat menimbulkan efek yang
berbahaya dan tidak menguntungkan dalam peledakan.

I-10
2.4.1 Work Energy
Pada peledakan suatu media padat akan timbul tekanan detonasi (detonation
pressure) dan tekanan peledakan (explosion pressure) yang merupakan efek dari
shock energy dan gas energy hasil dari perubahan kimia bahan peledak. Untuk
bahan peledak dari jenis high explosive, pertama kali akan terjadi tekanan detonasi
yang kemudian diikuti tekanan peledakan,sedangkan untuk bahan peledak low
explosive hanya terjadi tekanan peledakan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan
kecepatan penjalaran reaksi kimia dalam kolom bahan peledak.
Bahan peledak high explosive mempunyai kecepatan penjalaran reaksi yang lebih
besar dari kecepatan penjalaran suara dalam bahan peledak, yang dikenal sebagai
kecepatan detonasi. Kecepatan detonasi ini menyebabkan timbulnya gelombang
kejut (shock wave) atau gelombang detonasi (detonation wave) yang terletak di
depan daerah reaksi utama (primary reaction zone) dalam kolom bahan peledak.
Gelombang kejut ini yang menyebabkan timbulnya tekanan detonasi. Tekanan
detonasi ini dinyatakan sebagai fungsi dari bobot isi bahan peledak kali kuadrat
dari kecepatan detonasi bahan peledak (Calvin J.Konya, et.all)
Pd =2,5 x ρ x VOD2 …………………………………………………(2.13)
Dimana :
Pd : Tekanan detonasi (Mpa)
ρ : bobot isi bahan peledak (kg/m3)
VOD : Kecepatan detonasi (m/detik)

2.4.2 Waste Energy


Bahan peledak melepaskan energi dan menghasilkan rock fracturing, plastic
deformation, dan elastic deformation dapat menghasilkan stress waves (body
wave) yang merambat melalui massa batuan.
Energi peledakan membutuhkan sejumlah energi yang cukup sehingga melebihi
atau melampaui kekuatan batuan atau melampaui batas elastik batuan untuk
memecahkan suatu batuan. Proses pemecahan batuan ini akan berlangsung terus
hingga energi yang dihasilkan oleh bahan peledak makin lama makin berkurang
dan menjadi lebih kecil dari kekuatan batuan, sehingga proses pemecahan batuan

I-11
berhenti. Energi yang tersisa (seismik energy) akan menjalar melalui batuan,
mengakibatkan deformasi dalam batuan tetapi tidak memecahkan batuan, karena
masih dalam batas elastisnya. Hal ini akan menghasilkan gelombang seismik.
Gelombang ini pada batas tinggi tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada
struktur bangunan dan juga dapat sangat menggangu manusia. Gelombang
seismik ini dirasakan oleh manusia sebagai getaran.

Sumber : Charles H.Dowding. Blast Vibration Monitoring and Control


Gambar 2.6 Distribusi energy bahan peledak

2.5 Mekanisme Pecahnya Batuan


Proses pemecahan batuan dibagi berdasarkan tiga tahap,yaitu : (Gambar 2.7)
1. Proses pemecahan Tahap Pertama
Pada saat bahan peledak meledak, tekanan tinggi yang dihasilkan bahan
peledak akan menghancurkan batuan didaerah sekitar lubang tembak.
Gelombang kejut (shock wave) yang merambat meninggalkan lubang
tembak (tekanan positive) akan mengakibatkan tekanan tangensial
(tangensial stress) yang menimbulkan rekahan radial (radial crack) yang
menjalar dari daerah lubang tembak.

2. Proses pemecahan tahap kedua


Gelombang kejut yang mencapai bidang bebas akan dipantulkan.
Bersamaan dengan itu tekanannya akan turun dengan cepat dan akan
berubah menjadi negative serta menimbulkan gelombang tarik (tension
wave) yang merambat kembali didalam batuan. Oleh karena itu kuat tarik

I-12
batuan lebih kecil dari pada kuat tekan, maka akan terbentuk rekahan-
rekahan (primary failure cracks) karena tegangan tarik (tension stress)
yang cukup kuat sehingga menyebabkan terjadinya slebbing atau spalling
pada bidang bebas.
Efek gelombang kejut (shock wave) pada tahap pertama dan kedua adalah
membuat sejumlah rekahan-rekahan kecil pada batuan. Kurang dari 15 %
dari energi total bahan peledak yang dihasilkan oleh energi gelombang
kejut. Jadi gelombang kejut tidak secara langsung memecahkan batuan,
tetapi mempersiapkan kondisi batuan untuk proses pemecahan tahap akhir.

3. Proses pemecahan tahap ketiga


Dibawah pengaruh tekanan yang sangat tinggi dari gas-gas hasil
peledakan, rekahan radial utama (tahap kedua) akan diperlebar secara tepat
oleh efek dari kombinasi tegangan tarik yang disebabkan kompresi radial
(radial compression) dan pembajian (pneumatic waidging). Jika massa
batuan didepan lubang tembak gagal mempertahankan posisinya dan
bergerak kedepan maka tegangan tekan (compression stress) tinggi yang
berada dalam batuan akan dilepaskan (unloaded), sebagai akibatnya akan
timbul tegangan tarik yang besar didalam massa batuan. Tegangan tarik
inilah yang melengkapi proses pemecahan batuan yang telah pada tahap
kedua.

Gambar 2.7 Proses Pecahnya Batuan akibat peledakan

2.6 Getaran dan Gelombang

I-13
Fenomena getaran banyak sekali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai
dari getaran yang sederhana sampai getaran yang sangat kompleks. Getaran
adalah gerak bolak balik secara periodik yang selalu melewati kedudukan
setimbang. Titik kedudukan setimbang adalah kedudukan benda pada saat tidak
mengalami getaran (diam). Kedudukan ini terletak diantara dua titik terjauh bila
benda tersebut bergerak.
Gelombang adalah gejala dari perambatan usikan (gangguan) didalam suatu
medium. Pada peristiwa perambatan tersebut tidak disertai dengan perpindahan
tempat yang permanent dari material-material medium, tetapi membentuk suatu
osilasi sehingga gelombang dapat bergerak dari satu tempat ketempat
lainnya.rambatan usikan tersebut tidak lain merupakan rambatan energi.
Berdasarkan mediumnya gelombang dapat dibagi menjadi dua, yaitu gelombang
mekanik dan gelombang elektromagnetik. Gelombang mekanik adalah gelombang
yang merambat melalui suatu medium elastis (medium yang dapat berubah
bentuk), sedangkan gelombang elektromagnetik adalah gelombang yang didalam
rambatannya tidak memerlukan medium. Gelombang mekanik terjadi ketika
sebagian dari medium diganggu dari posisi keseimbangannya,contohnya
gelombang pada tali,gelombang pada pegas,gelombang bunyi dan gelombang
permukaan air.

2.6.1 getaran tanah (ground vibration)


Getaran tanah (ground vibration) adalah gelombang yang bergerak didalam tanah
disebabkan adanya sumber energi. Sumber energi tersebut dapat berasal dari alam,
seperti gempa bumi atau adanya aktivitas manusia, salah satu diantaranya adalah
kegiatan peledakan. Getaran tanah (ground vibration) terjadi pada daerah elastis
(elastic zone). Di daerah ini tegangan yang diterima material lebih kecil dari kuat
material sehingga hanya menyebabkan perubahan bentuk dan volume. sesuai
dengan sifat elastis material maka bentuk dan volume akan kembali ke keadaan
semula setelah takan dan tegangan yang bekerja. Perambatan tegangan pada
daerah elastis akan menimbulkan gelombang elastis. Getaran tanah ini pada
tingkat tertentu bisa menyebabkan terjadinya kerusakan struktur disekitar lokasi

I-14
peledakan. Karena itu keadaan bahaya yang mungkin di timbulkan oleh oprasi
peledakan tidak bisa diabaikan.

A. Factor yang mempengaruhi getaran


Beberapa penelitian telah dilakukan usaha menentukan hubungan antara
faktor-faktor tersebut dengan tingkat getaran. Ground vibration peledakan
dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu factor yang dapat dikontrol dan
yang tidak dapat dikontrol. Yang dimaksud factor yang tidak dapat
dikontrol adalah factor geologi dan geomekanik batuan. Dan berikut ini
adalah factor yang dapat dikontrol yang mempengaruhi ground vibration :
1. Jumlah muatan bahan peledak per waktu tunda
Besarnya vibrasi yang dihasilkan peledakan yang dipengaruhi oleh
jumlah muatan total bahan peledak per waktu tunda. Besar kecilnya
intensitas ground vibration akan tergantung kepada jumlah berat bahan
peledak maksimum yang meledak bersamaan pada interfal waktu,
(lamanya interfal waktu adlah 8mili sekon). Jadi lubang-lubang
tembak yang mempunyai selisisih waktu meledak kurang dari = 8 ms,
dianggap meledak bersamaan. Jumlah muatan total handak yang
dianggap meledak bersamaan ini merupakan bahan peledak per waktu
tunda. Semakin besar bahan peledak per waktu tunda, besaran vibrasi
yang dihasilkan akan semakin meningkat tetapi hubungan ini bukan
meruakan hubungan yang sederhana, misalnya muatan duakali lipat
jumlahya tidak menghasilkan getaran yang dua kali lipat.
2. Jarak dari lokasi peledakan
Jarak dari titik peledakan, juga memberikan pengaruh yang besar
terhadap besaran vibrasi yang dihasilkan, seperti juga muatan
maksimal bahan peledak perwaktu tuda. Semakin dekat suatu titik
pengukuran vibrasi ketitik atau lokasi peledakan, maka vibrasi yang
terukur akan semakin besar.
3. Waktu tunda (delay priod)
Interfal waktu tunda antar lubang ledak sangat mempengaruhi tingkat
vibrasi yang dihasilkan. Jika interfal waktu tunda tersebut makin besar,

I-15
maka kemungkinan jumlah bahan peledak yang dianggap meledak
bersamaan (selisih waktu meledak kurang dari sama dengan 8 ms)
akan makin kecil, sehingga tingkat vibrasi yang dihasilkan akan makin
kecil.
Tetapi perlu diperhatikan pula bahwa agar tingkat vibrasi yang
dihasilkan kecil, maka jumlah lubang ledak yang memiliki interfal
delay kurang dari sama dengan 8 ms harus diusahkan sedikit mungkin
agar jumlah bahan peledak yang meledak per waktu tundanya sedikit
pula.
Dan variabel-variabel yang tidak dapat dikontrol adalah faktor-faktor
yang tidak dapat dikendalikan oleh kemampuan manusia, hal ini
disebabkan karena prosesnya terjadi secara alamiah. Contoh variable
yang tidak dapat dikontrol, anatara lain :
a. Karakteristik massa batuan
b. Struktur geologi
c. Pengaruh air

B. Prinsip Pengukaran Getaran Peledakan


Getaran tanah adalah gerakan bumi (ground motion) yang terjadi akibat
perambatan gelombang seismik. Kegiatan peledakan akan selalu
menghasilkan getaran atau gelombang seismik. Kegaitan ini membutuhkan
sejumlah energi yang cukup sehingga melebihi atau melampaui kekuatan
atau melampaui batas elastis batuan. Apabila hal tersebut terjadi maka
batuan akan pecah. Proses pemecahan akan berjalan terus sampai energi
yang dihasilkan bahan peledak makin lama makin berkurang dan menjadi
lebih kecil dari kekuatan batuan, sehingga proses pemecahan batuan
berhenti. Energi yang tersisa akan menjalar melalui batuan, karena masih
didalam elastisnya. Hal ini akan menghasilkan gelombang seismik.
(Gambar 2.8)

I-16
Sumber : drill & blast dept
Gambar 2.8 contoh rekaman getaran tanah pada arah tranversal,
longitudinal dan vertical

Tingkat getaran dari hasil peledakan dipengaruhi oleh dua faktor utama
yaitu jumlah bahan peledak/ waktu tunda (charge weight per delay) dan
jarak pengukuran (length of delay). Semakin banyak bahan peledak yang
digunakan maka semakin tinggi nilai kecepatan partikal puncak, dan
semakin jauh jarak pengukuran peledakan maka semakin rendah nilai
partikel puncak.

C. Alat Pengukur Getaran Tanah


Pengukuran getaran peledakan dilapangan yang digunakan adalah
blasmateIII (Gambar 2.9) sebelum pengukuran, blasmate III di setting
terlebih dahulu. blasmateIII di desain untuk mengukur dan mencatat
getaran tanah dengan tepat. Peralatan ini disebut dengan seismografi dan
berdiri dari beberapa bagian penting, yaitu sensor dan recorder. Kotak
sensor mempunyai tiga unit independen sensor yang letaknya saling tegak
lurus antara satu unit dengan unit lain. Dua unit terletak horizontal dan
saling tegak lurus dan unit yang lain dipasang secara vetikal.

I-17
Gambar 2.9 Blasmate III

Ketiga sensor tersebut mencatat tiga arah komponen getaran peledakn yaitu
longitudinal,vertical,dan transversal. Gerakan longitudinal adalah gerakan partikel
ke /dari depan ke belakang. Gerakan vertical adalah gerakan partikel ke/dari atas
dan bawah. Gerakan transversal adalah gerakan partikel tanah atau batuan dari
satu sisi ke sisi yang lain.
(Gambar 2.10)

Gambar 2.10 variasi pergerakan partikel karena bentuk gelombang getaran (dowding
1985) a).tekan – longitudinal, b).geser-tranversal, c).reyleigh-mewakili vertical

I-18
Mekanisme pengukuran getaran (Gambar 2.10) adalah sebagai berikut :
1. Getaran dan kebisingan peledakan (getaran mekanis) direkam oleh
geophone dan mikropon, diubah menjadi getaran elektris lalu disimpan
dimemori
2. Hasil pengukuran (dalam memori) di download kekomputer dengan
menggunakan program blastware
3. Hasil akhir berupa seismogram yang dapat menampilkan angka-angka
besar getaran dan kebisingan serta grafik.
4. Untuk mengetahui besar getaran apakah masih didalam atau melebihi
ambang batas, dapat memilih grafik baku tingkat getaran dari 13 negara
yang ada dildalam program
5. Untuk membuat grafik secalet distance versi PPV diperlukan data
pengukuran minimal 9 (Sembilan buah) dengan variabel jarak maupun
jumlah muatan /delay yang sama.

Gambar 2.11 Cara monitor getaran oleh blasmateIII

I-19
Gambar 2.12 Mekanisme pengukuran getaran dan kebisingan

2.6.2 Gelombang
Gelombang adalah bentuk dari getaran yang merambat pada suatu medium. Para
meter gelombang merupakan sifat-sifat dasar yang menguraikan getaran
gelombang. Parameter-parameter dasar untuk menganalisis gelombang adalah
sebagai berikut :
a. Amplitudo (A), jarak terjauh simpangan dari titik keseimbangan.
b. Kecepatan pratikel (V), merupakan besarnya perpindahan yang dialami
partikel persatuan waktu,.
c. Percepatan partikel (A), merupakan perubahan kecepatan partikel
persatuan waktu.
d. Frekuensi (f), merupakan banyaknya jumlah gelombang yang terjadi tiap
satu detik,
e. Perioda (T), merupakan waktu yang diperlukan untuk terjadinya satu
gelombang, perioda merupakan kebalikan dari frekuensi (T=I/f).

Gelombang dapat dibedakan berdasarkan arah getarnya, cara rambat dan medium
yang dilalui, dan berdasarkan amplitudonya.
1. Berdasarkan arah getarnya
Gelombang menurut arah getarnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu
gelombang transversal dan gelombang longitudinal. Gelombang
transversal, yaitu gelombang yang arah getarnya tegak lurus dengan arah

I-20
rambatannya, misalnya : gelombang pada tali, gelombang permukaan air,
dan gelombang elektromagnetik. Gelombang longitudinal, yaitu
gelombang yang arah getarnya berimput (sejajar) arah rambat gelombang,
misalnya gelombang pada pegas dan gelombang bunyi.
2. Berdasarkan cara rambat dan medium yang dilalui
Gelombang ini dibagi menjadi dua yaitu gelombang mekanik dan
gelombang elektromagnetik. Pada gelombang mekanik yang dirambatkan
adalah gelombang mekanik dan untuk perambatannya diperlukan medium.
Contohnya gelombang seismik. Dan gelombang elektromagnetik yang di
rambatkan adalah medan listrik magnet, dan tidak diperlukan medium.
3. Berdasarkan amplitudonya
Dibagi menjadi dua bagian yaitu gelombang berjalan dan gelombang
stasioner. Gelombang berjalan yaitu gelombang yang amplitudonya tetap
pada titik yang dilewatinya. Gelombang stasioner yaitu gelombang yang
ampitudonya tidak tetap pada titik yang dilewatinya, yang terbentuk dari
interfensi dua buah gelombang datang dan pantul yang masing-masing
memiliki frekuensi dan amplitude sama tetapi fasenya berlawanan.

A.Gelombang Seismik
Gelombang seismik merupakan salah satu gelombang yang menggabarkan
penjalaran energi melalui bumi yang padat. Gelombang yang dirambat adalah
gelombang medium adalah gangguan medium yang dapat berlanjut dengan
sendirinya dari satu titik ke titik yang lain dengan membawa energi dan
momentum. Perambatan tegangan pada daerah elastis akan menimbulkan
gelombang elastis yang disebut gelombang seismik. Salah satu penghasil
gelombang seismik selain gempa bumi adalah getaran tanah akibat kegiatan
peledakan. Gelombang ini termasuk dalam gelombang mekanik karena dalam
perambatan getarannya memerlukan medium. Medium disini dapat berupa batuan
atau udara. Gelombang seismik dibagi menjadi dua,yaitu gelombang badan (body
wave), dan gelombang permukaan (surface wave). Kedua gelombang ini akan
terlihat jelas pada seismogram.
1. Gelombang Badan (body wave)

I-21
Gelombang badan merambat melalui massa batuan, menembus kebagian
dalam batuan. Untuk jarak dekat getaran lebih didominasikan oleh
gelombang badan. Gelombang badan ini akan merambat keluar
membentuk bola sampai mereka bertemu dengan suatu bidang kontak.
Bidang kontak ini dapat berupah perlapisan batuan, bidang bebas, rekahan,
kekar, permukaan, atau tanah. Ketika gelombang badan ini bertemu
dengan bidanng kontak tersebut maka gelombang permukaan dan
gelombang geser akan terbentuk. Gelombang badan dapat dibagi menjadi
dua yaitu gelombang tekan (P) dan gelombang geser (S).
a. Gelombang tekan (compressive wave /P-waves)
Gelombang tekan adalah jenis gelombang tekan tarik yang akan
menghasilkan pemadatan (compresi) dan penuaian (delatasi) pada
arah yang sama dengan arah perambatan gelombang. Gelombang ini
dapat merambat melalui medium padat, cair maupun gas. Gelombang
ini juga dapat menyebabkan perubahan volum medium yang
dilaluinya.
b. Gelombang Geser (Shear wave /S-wave)
Gelombang geser adalah gelombang melintang (transversal) yang
bergerak tegak lurus pada arah perambatan gelombang. S-Wave hanya
dapat merambat melalui medium padat. Gelombang ini dapat
menyebabkan perubahan bentuk pada medium yang dilaluinya.

2. Gelombang Permukaan (Surface Wave)


Gelombang permukaan adalah gelombang yang merambat di atas
permukaan batuan tetapi tidak menembus batuan. Gerakan gelombang ini
menurut tahap kedalaman. Gelombang permukaan lebih besar dari
gelombang badan tetapi penjalarannya lambat. Gelombang inilah yang
sering menjadi masalah. Gelombang ini membawa energi yang besar dan
menghasilkan gerakan yang besar. Kedalaman batuan yang dipengaruhi
oleh gerak gelombang ini kira-kira satu panjang gelombang.

B.lintasan Gelombang Seismic

I-22
Sebuah bentuk gelombng datang menggambarkan gerakan tanah di lokasi
penerima (sensor) (Gambar 2.12). gerakan tanah merupakan akibat dari
gelombang badan dan gelombang permukaan yang mengikuti lintasan yang
berbeda-beda didalam kulit bumi. Walaupun gelombang seismic memperlihatkan
waktu tiba yang berbeda-beda tapi waktu tiba yang paling mudah dan terbaik
untuk dimonitor adalah waktu gelombang yang tiba paling awal.
Lintasan tempuh gelombang di dalam kulit bumi umumnya dibagi menjadi tiga.
Yaitu :
a. Lintasan gelombang langsung
b. Lintasan gelombang pantul (reflec ted)
c. Lintasan gelombang bias (reflection)
d.

Gambar 2.13 lintasan tempuh gelombang

2.7 Kontrol Vibrasi


Peledakn tunda (delay blasting) adalah suatu teknik peledakan dengan cara
meledakan sejumlah besar muatan bahan peledakan tidak sebagai satu muatan
(single charge) tetapi sebagai suatu seri dari muatan-muatan yang lebih kecil.
Maka getaran yang dihasilkan terdiri dari kumpulan getaran kecil bukan getaran
besar dengan menggunakan delay, pengurangan tingkat getaran dapat dicapai.
Untuk mengetahui mengapa peledakan delay adalah efektif dalam pengurangan
tingkat getaran perlu mengerti perbedaan antara kecepetan partikel (partikel
velocity) dan kecepatan perambatan (propaganation velocity atau transmission
velocity).

I-23
Yang dimaksud dengan kecepatan perambatan adalah kecepatan gelombang
seismik merambat melalui batuan, berkisar antara 2000-20.000 fit/detik,
tergantung pada jenis batuan. Untuk suatu daerah dengan batuan tertentu,
kecepatan relative konstan. Kecepatan perambatan tidak dipengaruhi oleh energi
(input energy).
Peledakan delay mengurangi tingkat getaran sebab setiap delay menghasilkan
masing-masing gelombang seismik yang kecil yang terpisah. Gelombang hasil
delay pertama telah merambat pada jarak tertentu sebelum delay selanjutnya
meledak. Kecepatan perambatan tergantung pada jenis batuannya.
1. Hukum Scaled Distance (SD)
Cara yang praktis dan efektif untuk mengontrol getaran adalah dengan
menggunakan scaled distance. Sehingga memungkinkan pelaksanaan
lapangan menentukan jumlah bahan peledak yang diperlukan atau jarak
aman untuk muatan bahan peledak yang jumlahnya telah ditentukan.
Harga SD yang besar akan lebih aman, karena semakin jauh jaraknya akan
lebih aman dibandingkan dengan jarak yang lebih dekat. Batas Scaled
Distance yang dipakai adalah SD = 50. Dengan menggunakan system
metric, schaled distance dapat dirumuskan sebagai berikut :
D
Scaled Distance (SD) = …………………………………………
√W
(2.14)
Dimana :
D = jarak muatan maksimum terhadap lokasi pengamatan , (m)
W = muatan bahan peledak maksimum per periode tunda, (kg).

 Analisis dengan scaled distance


Pelemahan getaran tanah dalam hal komponen kecepatan puncak dan
intensitas getaran udara dievaluasi berdasarkan scaled distance. Faktor
scaled distance untuk pergerakan tanah dan getaran udara diketahui,
berturut-turut, sebagai berikut :
Square-root scaled distance SRSD = R/W ½ …………………(2.15)
Cube –root scaled distance CRSD = R/W1/2 ………………....(2.16)

I-24
Dimana R adalah jarak dari gelombang ke seismograf dan W adalah berat
isian maksimum bahan peledak dalam setiap 8 ms tiap satuan waktu ( 1
kali periode tunda). Scaled distance sebagai alat penggabung dua faktor-
faktor paling penting meningkatkan intensitas gerakan tanah dan getaran
udara sebagai penurun sebanding dengan jarak dan berbanding terbalik
dengan berat bahan peledak dalam satu kali tunda. Dalam kasus
pergerakan tanah, digunakan nilai SRSD sebagai pergerakan tanah telah
ditunjukkan untuk mengkorelasikan dengan √2 W . Pada kasus getaran
udara, tekanan udara berkorelasi terbaik dengan √2 W (CRSD).
2. Persamaan peak particle velocity (PPV)
Peak particle velocity (PPV) merupakan kecepatan maksimum yang
digunakan untuk menghitung besarnya getaran pada suatu lokasi yang
tergantung pada jarak lokasi tersebut dari pusat peledakan dan dari jumlah
bahan peledak yang dipakai perperiode (delay).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dalam usaha menetukan besarnya
kecepatan partikel puncak (PPV) yang dihasilkan dalam sebuah peledakan
maka dapat ditentukan persamaan sebagai berikut :
D -n
PPV = k ( ) ……………………………………………………(2.17)
√W
Dimana :
PPV : Ground Vibration as Peak Particle Velocity, (mm/s).
D : Jarak muatan maksimum terhadap lokasi pengamatan, (m).
W : Muatan bahan peledak maksimum per periode tunda, (kg).
K,n : Konstanta yang harganya tergantung dari kondisi local dan kondisi
peledakan.

Nilai-nilai untuk k dan n, disederhanakan menjadi :


V = 100 ¿ )-1,6 …………………………………………………… (2.18)

Persamaan 2.16 diatas berlaku untuk satuan US (mm/sec)

I-25
D -1,6
V = 1143 ( ¿ …………………………………………………....
√W
(2.19)

Persamaan 2.17 diatas berlaku untuk satuan Internasional (mm/sec)


Menurut Dupont untuk mengestimasi PPV, nilai k harus disesuaikan
dengann panjang dari stemming yang digunakan (table 2.1).

Tabel 2.1
Nilai Konstanta K
Kondisi K
Underconfined 100
Normal Confinement 160
Overconfined 220

2.8 Standard Vibrasi


Standard vibrasi adalah besar/ kuat getaran yang diijinkan akibat dari kegiatan
peledakan dimana tidak melewati batas aman. Ada beberapa pihak/ Negara telah
melakukan standarisasi vibrasi peledakan yaitu acuan kriteria kerusakan, seperti :
1. Badan Standardisasi Nasional (SNI)
2. US Bereau of Mines (USBM)
3. Lange fores, Kihl strom Westerberg (1957)
4. Edward & Northwood (1959)
5. Nicholls Johnson & Duval (1971)
Adapun acuan kriteria kerusakan tersebut dapat dilihat pada tabel 2.4 dan baku
tingkat getaran peledakan terhadap bangunan berdasarkan SNI pada tabel 2.2
untuk lebih lengkapnya mengenai batas-batas aman getaran peledakan, dapat
dilihat pada gambar 2.14.

I-26
Tabel 2.2
Baku tingkat getaran peledakan terhadap bangunan (SNI)
Kelas Jenis Bangunan PVS Frekuensi PPV
(mm/s) (mm/s)
1 Bangunan kuno yang dilindungi 2 0-5 2
5-20 3
undang-undang benda cagar budaya.
20-100 5

2 Bangunan dengan pondasi, pasangan 3 0-5 3


bata dan adukan semen saja,
termasuk bangunan dengan pondasi 5-20 5

dari kayu dan lantainya diberi adukan


20-100 7
semen.
3 Bangunan dengan pondasi, pasangan 5 0-5 5
bata dan adukan semen diikat dengan 5-20 7
slope beton. 20-100 12
4 Bangunan dengan pondasi, pasangan 7-20 0-5 7
bata dan adukan semen slope 5-20 12
beton,kolom dan rangka diikat
dengan ring balk. 20-100 20
5 Bangunan dengan pondasi, pasangan 12-40 0-5 12
bata dan adukan semen, slope beton, 5-20 24
kolom dan diikat dengan rangka baja. 20-100 40

US bereau of mine memberikan rekomendasi berdasarkan pada kriteria


perpindahan dan kecepatan yang dikaitkan dengan frekuensi. Kriteria tersebut
oleh US office of surface mining (OSM) di kelompokkan menjadi tiga yaitu :

I-27
Tabel 2.3
Kriteria pembatasan kecepatan partikel
Jarak Dari titik Ledak (ft) Kecepatan Maksimum yang di
ijinkan (in/sec)
<300 1.25
301-5000 1.00
>5000 0.75

Tabel 2.4
Acuan Kriteria Kerusakan
Acuan Jenis PPV(mm/s) Kerusakan
Standar Bangunan
USBM Gedung/ <2.0 No damage
Perumaha 2.0-4.0 Plaster Cracking
n 4.0-7.0 Minor damage
>7.0 Major damage to structure
Langefors, Gedung/ <2.0 No noticeable damage
Kihlstrom Perumaha 2.0-4.0 Fine cracks & fall of plaster
Westerber n 4.0-7.0 Cracking of plaster & masonry walls
g >7.0 Serious cracking
Edwards & <2.0 Safe, no damage
Northwood 2.0-4.0 Caution
>4.0 Damage
Nicholls, <2.0 Safe, no damage
Johnson & >2.0 damage
Duval

I-28
Gambar 2.14 Grafik baku tingkat getaran peledakan pada tambang terbuka
terhadap bangunan (SNI)

I-29

Anda mungkin juga menyukai