Anda di halaman 1dari 10

Depik, 3(1):36-45

April 2014
ISSN 2089-7790

Kajian potensi kawasan mangrove di kawasan pesisir Teluk Pangpang,


Banyuwangi

Study on the potency of mangrove ecosystem in the coastal area of Gulf


Pangpang, Banyuwangi

Apriadi Budi Raharja1*, Bambang Widigdo2, Dewayani Sutrisno3

1Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB,
Jalan Lingkar Kampus IPB Dramaga (16680). *Email: apriadi.budi@gmail.com; 2Program Studi
Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Jalan Lingkar Kampus IPB
Dramaga (16680); 3Pusat Penelitian, Promosi dan Kerjasama, Badan Informasi Geospasial (BIG), Jl. Raya
Jakarta - Bogor KM. 46 Cibinong (16911).

Abstract. The purpose of this study was to examine the economic value and the land area potential of mangrove for coastal
green belt in Pangpang Gulf, Muncar. The economic value of mangrove was analyzed using an effect on production (EOP)
and a suitability of coastal border region (green belt) methods. Results showed that consumer utility in mangrove area was
Rp33,187,626.12. There were about 350 fishermen with a catchment area of + 489 hectare and therefore the economic
value of this mangrove area was Rp32,189,744.06 per hectare per year. In addition, the potential areas for green belt were +
127,5 ha considered to be highly suitable, + 257 ha suitable, + 442,1 ha less suitable, and + 1,910,1 ha not suitable.
Keywords : Gulf of Pangpang; Economic value of mangroves; Coastal green belt; Rehabilitation.

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekonomi kawasan mangrove serta potensi luas
kawasan yang dapat dijadikan sebagai sempadan pantai. Adapun metode analisis yang digunakan yaitu nilai
ekonomi mangrove di bagian barat Teluk Pangpang dengan menggunakan metode effect on production (EOP)
dan kesesuaian kawasan sempadan pantai. Berdasarkan hasil kajian, diperoleh utilitas konsumen dari
kawasan mangrove adalah sebesar Rp.33.187.626,12. Dengan jumlah nelayan mangrove sekitar 350 orang
dan luas daerah penangkapan sekitar +489 Ha, maka nilai ekonomi sumberdaya kawasan mangrove dilihat
dari fungsi pemanfaatan langsung adalah sebesar Rp.32.189.744,06 per hektar per tahun. Sedangkan untuk
potensi kawasan yang dapat dijadikan sebagai kawasan sempadan pantai dari hasil perhitungan tumpang-
tindih (overlay) dapat dihasilkan wilayah yang termasuk dalam kategori sangat sesuai yaitu + 127,5 ha,
sedangkan sesuai luas + 257 Ha, dan kurang sesuai seluas + 442,1 ha dan tidak sesuai yaitu + 1.910,1 ha.
Kata kunci : Teluk Pangpang; Ekonomi mangrove; Sempadan pantai; Rehabilitasi.

Pendahuluan
Teluk Pangpang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi dan secara
geografis merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan perairan Selat Bali dan Samudera Hindia.
Wilayah pesisir ini memiliki potensi yang sangat besar baik dari segi ekosistem, nilai sosial maupun
ekonomi. Potensi ini mendorong adanya ekploitasi sumberdaya yang berlebihan sehingga dapat
mengancam kelestariannya. Diantara ancaman tersebut antara lain pembuangan limbah industri perikanan
tanpa pengolahan, limbah lahan tambak, jalur kapal nelayan, budidaya keramba jaring apung, deforestasi
hutan mangrove untuk lahan tambak maupun aktivitas pembangunan perkotaan. Besar kecilnya tekanan
lingkungan yang diterima oleh ekosistim mangrove sangat terkait dengan peran pemangku kepentingan
dalam distribusi ruang aktivitas manusia di wilayah pesisir dan laut untuk mencapai tujuan ekologi,
ekonomi dan sosial (Douvere dan Ehler, 2009).
Berdasarkan hasil citra Satelit Landsat, secara umum ekosistem mangrove di Kawasan Teluk
Pangang pada tahun 1989 seluas + 207,5 ha, kemudian menibgkat menjadi +282,8 ha pada tahun 2011.
Keberadaan mangrove memiliki peran penting sebagai habitat fauna, perlindungan fisik untuk garis pantai
dan spawning dan nursery ground bagi beerapa spesies ikan dan udang-udangan, selain itu juga berfungsi
sebagai sarana pengolahan air limbah alami, sehingga mencegah pencemaran pesisir (Biswas et al., 2008).
Namun pada kenyataanya, dari data peta penggunaan Tahun 2011 terlihat proporsi pemanfaatan lahan

36
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

pesisir untuk tambak lebih dominan dibandingkan dengan pemanfaatan lahan untuk mangrove sebagai
kawasan konservasi.
Ancaman lainnya adalah deforestasi hutan mangrove untuk pengembangan lahan tambak,
terutama untuk tambak udang. Secara global, tambak udang telah meningkat secara eksponensial sejak
pertengahan tahun 1970-an karena siklus produksi pendek dan nilai-nilai produk yang tinggi (Bostock et
al., 2010). Salah satu akibatnya adalah limbah yang masuk kedalam ekosistem mangrove terlalu banyak dan
tidak dapat diproses untuk didaur ulang, dalam kondisi yang demikian akan mengurangi pertumbuhan atau
bahkan merangsang degradasi mangrove (Gilbert and Janssen., 1998), dampak negatifnya menyebabkan
dayadukung lingkungan menurun, hal ini akan menyebabkan produktivitas tambak stagnan dan bahkan
menurun sehingga dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan masyarakat lokal, seperti yang terjadi di
Teluk Pangpang.
Mangrove berperan penting menjaga produktivitas perairan pesisir sekaligus mampu menunjang
kehidupan masyarakat lokal, untuk itu perlu ditetapkan sebagai kawasan lindung. Bila mengacu pada
Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, minimal 130 kali nilai
rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah
darat, ditetapkan sebagai kawasan lindung atau sempadan pantai. Namun di lain pihak, penetapan area
tersebut dapat berpotensi mengurangi lahan pertanian produktif bagi masyarakat. Oleh karena itu,
diperlukan suatu penelitian yang bertujuan menilai luasan sempadan pantai yang optimum dilihat dari
multidimensi sehingga keberadaannya dapat tetap bermanfaat dalam menjaga ekosistem pesisir dan juga
kepentingan pembangunan ekonomi. Maka upaya pengelolaan berbasis ekosistem dapat menjadi dasar
penataan ruang kawasan pesisir Teluk Pangpang sebagai respon dari interaksi sosial, ekonomi dan ekologi.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekonomi kawasan mangrove serta potensi
luas kawasan yang dapat dijadikan sebagai sempadan pantai.

Bahan dan Metode


Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Mei 2013. Secara keseluruhan Teluk Pangpang
mempunyai luas total +3.000 ha, dan penelitian ini difokuskan pada bagian barat Teluk Pangpang meliputi
Desa Kedungrejo, Desa Kedungringin dan Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten
Banyuwangi.
Penentuan stasiun pengamatan berdasarkan pada hasil interpretasi citra dan ditetapkan tiga jalur
transek untuk identifikasi kondisi vegetasi mangrove, penetapan lokasi stasiun tersebut diharapkan dapat
mewakili perubahan luasan mangrove secara alami selama kurun waktu 1989-2000 dan luasan mangrove
hasil restorasi (2000-2011). Data hasil field check diharapkan dapat mewakili kondisi vegetasi mangrove
sebagai bagian validasi data hasil interpretasi citra satelit (Gambar 1).

Gambar 1. Peta wilayah studi dan lokasi stasiun pengambilan data di Teluk Pangpang

37
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

Prosedur pengumpulan data


Data sekunder
Data sekunder bersumber dari studi pustaka, laporan penelitian maupun dokumen kegiatan badan
atau lembaga serta data laporan tahunan. Selain itu pengolahan data spasial baik itu berupa vektor maupun
raster menjadi sumber utama data sekunder.

Data primer
Data primer merupakan hasil pengamatan secara langsung kondisi kawasan pesisir Teluk
Pangpang. Pengambilan data primer diantaranya yaitu field chek hasil klasifikasi citra satelit terkait
perubahan pemanfaatan ruang. Data persepsi masyarakat dari pemangku kepentingan diperoleh melalui
wawancara dan kuisioner.

Analisis data
Valuasi ekonomi
Pendekatan produktivitas dalam penilaian ekonomi sumberdaya alam dilakukan dengan asumsi
bahwa sumberdaya alam dipandang sebagai input bagi suatu produk final yang bernilai bagi publik, dan
kapasitas produksi dari sumberdaya alam tersebut dinilai dari seberapa besar kontribusi sumberdaya alam
tersebut kepada produksi produk final (Grigalunas and Congar, 1995). Produk akhir tersebut merupakan
bagian dari produktivitas ekosistem mangrove, kaitannya dengan wilayah studi hasil produksi akhir
tersebut diantaranya kepiting, kerang dan udang, sedangkan untuk kegiatan eksploitasi mangrove sudah
lama ditinggalkan oleh masyarakat Muncar. Untuk menduga nilai ekonomi mangrove di bagian barat Teluk
Pangpang dengan menggunakan metode effect on production (EOP) Adrianto (2006), diperlukan langkah-
langkah sebagai berikut.
(a) Pendugaan fungsi permintaan
Q = 0 X1 1 X 2 …..Xn n ……………………...……………………...…. …………………………..(1)
Dimana, Q= Jumlah sumberdaya yang diminta, X1= Harga (Rp), X2= Umur Responden (tahun),
X3 = Lamanya Pendidikan (tahun), X4 = Jumlah tanggungan keluarga (orang), X5= Lama
menjadi nelayan di hutan mangrove (tahun), X6 = Pendapatan (Rp/tahun)
(b) Transformasi intersep baru fungsi permintaan
LnQ =  0 +  1LnX1 +  2LnX2 + …..+ nLnXn …………………………………………….………..(2)
LnQ=(( 0+ 2(LnX2)+…..+n(LnXn))+1LnX1 ……………………………………..………………(3)
LnQ= ’+1LnX1 ………………………………………………………….……………………….(4)
Transformasi fungsi permintaan ke fungsi permintaan asal
Q=’X1 ……………………………………………………………………………………………..(5)
(c) Menduga total kesediaan membayar
𝑎

𝑈= 𝑓 𝑄 𝑑(𝑄)………….………………………………………………………………….....(6)
Menduga 0konsumen surplus
CS = U – b2 ………………………………………………………………..........................................(7)
NET = CS x Q ……………………………………………………………………………………(8)
Dimana, CS = Konsumen surplus individu, b2 = Harga yang dibayarkan, Q= Jumlah sumber
daya keseluruhan atau populasi, NET = Konsumen surplus populasi.

Analisis kesesuaian kawasan sempadan pantai


Kawasan sempadan pantai untuk lokasi mangrove ditentukan berdasarkan parameter-parameter
biogeofisik yang relevan, berdasarkan Bakosurtanal (1996) ada beberapa parameter kesesuaian peruntukan
lahan mangrove sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

38
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

Tabel 1. Matriks kesesuaian lahan untuk kawasan mangrove (Bakosurtanal, 1996 dalam Asbar, 2007)
S1 S2 S3 N
Parameter Bobot Skor Skor Skor Skor
(SS) (CS) (SB) (TS)

Kemiringan 10 0-3 4 3-6 3 6-9 2 >9 1


lereng (%)

Jarak dari 30 <200 4 200-300 3 300-400 2 >400 1


pantai (m)
Jenis tanah 15 Aluvial 4 Hidromof 3 Regosol, 2 Gleihumus, 1
pantai Gleihumus Regosol
Ketinggian 10 0-3 4 3-6 3 6-9 2 >9 1
(m)
Drainase 15 Tergenang 4 Tergenang 3 Tergenang 2 Tidak 1
2 kali/hr 1 kali/hr tergenang
Tutupan 20 Mangrove 4 Rawa, 3 Empang/ 2 Terbangun/ 1
lahan mangrove Tambak kebun/perta
nian

Berdasarkan pembobotan dan skor pada setiap parameter diatas, maka dapat ditentukan kreteria
kesesuaian dengan rumus Sturges nilai kelas kesesuaian lahan untuk kawasan lindung setempat, yaitu:
Sangat sesuai (S1) = 326 - 400
Sesuai (S2) = 251 - 325
Sesuai bersyarat (S3) = 176 - 250
Tidak sesuai (N) = 100 - 175
Dengan diketahuinya luasan kawasan sempadan pantai dengan pendekatan parameter yang
dikembangkan oleh Bakosurtanal menjadi sebuah pembanding dengan luasan kawasan yang didapat dari
fungsi ekologi hutan mangrove sebagai Mangrove Green Belt Area (MGB).

Hasil dan Pembahasan


Perubahan luas mangrove
Mangrove dijumpai di Teluk Pangpang meliputi Kecamatan Muncar dan Kecamatan Tegaldlimo
dengan total seluasan + 600 ha, dengan rincian di Kecamatan Muncar yaitu 226 ha yang terbagi atas
Kelurahan Waringin Putih seluas 225 ha dan Kelurahan Kedengringain seluas 1 Ha, sedangkan sisanya
berada di Kecamatan Tegaldlimo. Formasi hutan mangrove dijumpai mulai batas Tratas, Kabat Mantren,
Tegal Pare, dan Tegaldimo. Hutan mangrove Teluk Pang Pang menyusun formasi mengelilingi teluk.
Mangrove pada sisi barat teluk memiliki ketebalan 0-300 meter, mangrove disisi ini merupakan
hasil penanaman oleh masyarakat dan spesies yang dominan disini adalah Rhizophora mucronata. Penanaman
mangrove tersebut menggunakan teknik/sistem banjar. Lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang
telah melakukan rehabilitasi mangrove di daerah ini, diantaranya yaitu Dinas Kehutanan dan Perkebunan,
Kementerian Kelautan Perikanan (Co-Fish Project), OISCA dan Yayasan Mangrove, Lembaga
Pemberdayaan Industri Pedesaan (LPIP), dan Komisi Riset Malang. Berdasarkan data KKP (2003) yang
dikutip oleh Nazili (2004) bahwa Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banyuwangi memulai kegiatan
penanaman mangrove pada Tahun 2000 seluas 5 ha dan 2001 seluas 30 ha dengan jumlah pohon sebanyak
150.000 batang. Kemudian dilanjutkan pada Tahun 2002 seluas 10 ha sebanyak 50.000 batang dan Tahun
2003 seluas 30 ha atau sebanyak 100.000 pohon.

39
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

Gambar 2. Peta stadia perubahan luasan mangrove di Teluk Pangpang

Berdasarkan Gambar 2 terlihat bahwa perubahan luasan mangrove sangat dinamis, dari tiga desa
yang diteliti, Desa Wringinputih memiliki rata-rata perubahan paling tinggi yaitu 30 ha/tahun dengan
luasan mencapai +104 ha pada Tahun 1989, dan berkembang menjadi +226 ha pada Tahun 2011.
Sedangkan dua desa lainnya yaitu Desa Kedungrejo dan Desa Kedungringin memiliki kecenderungan
menurun. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa peningkatan luasan hutan mangrove ini
dipengaruhi oleh adanya kegiatan rehabilitasi, kegiatan rehabilitasi ini tergolong berhasil di Desa
Wringinputih, namun pada desa lainnya kurang memuaskan.

Analisis nilai willingness to pay (WTP) terhadap keberadaan ekosistem mangrove


Kesadaran masyarakat dan pihak yang terkait semakin meningkat terhadap pentingnya keberadaan
mangrove di Teluk Pangpang, hal ini terbukti dari meningkatnya luasan mangrove setiap tahun. Kesadaran
masyarakat ini tercermin dari adanya aturan yang diterbitkan oleh desa untuk melindungi mangrove,
misalnya apabila terjadi pengrusakan oleh seorang atau kelompok maka diwajibkan menanam dan merawat
100 kali untuk satu pohon yang ditebang atau dirusak.
Berdasarkan wawancara diperoleh dugaan nilai rata-rata WTP responden untuk manfaat
keberadaan mangrove yaitu sebesar Rp.83.026. Setelah mengetahui tingkat WTP yang dihasilkan per
individu, maka total keuntungan (Total Benefit) dari keberadaan mangrove dengan menggunakan formula
yang dikembangkan Yaping (1993) in Yulianda et al., (2010) adalah sebesar 4,17 Milyar sebelum didiskon
untuk mengetahui aliran nilai multiyear. Jika nilai ini dihubungkan dengan luasan hutan mangrove di
bagian barat Teluk Pangpang seluas 226 ha, maka nilai manfaat keberadaan hutan mangrove sebesar
Rp.18.763.876 setiap tahunnya. Nilai ini lebih tinggi berbanding nilai manfaat hutan mangrove di Pulau
Sangiang Banten, yaitu sebesar Rp.5.391.150 per tahun (Rusly, 2007). Adapun faktor terbesar yang
mempengaruhi WTP yaitu tingkat pendapatan dan tingkat pendidikan, hal ini juga senada dengan Rusly
(2007).
Dengan menggunakan metode statistik regresi linier berganda pada taraf p = 0,05. Adapun
perhitungan dalam penelitian ini menggunakan persamaan yang digunakan juga oleh Yaping (2000) fungsi
WTP yang diperoleh adalah sebagai berikut:

40
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

Dimana, WTP = Konstanta; I=Pendapatan; E=Tingkat pendidikan; A=Umur; Q=Kualitas lingkungan (digunakan
hasil tangkapan).

Analisis manfaat langsung ekosistem mangrove


Ekosistem mangrove mempunyai kemampuan untuk menyediakan produk akhir berupa barang
dan jasa. Masyarakat Muncar khususnya Desa Kedungrejo, Desa Kedungringin dan Desa Wringinputih
memanfaatkan kepiting bakau (Scylla serrate), tiram (Isognomon ephippium), tubalan dan kerang komposit
(Saccostrea cucculata), kerang darah (Anadara granosa) dari ekosistem mangrove disini. Secara konseptual
menurut Adrianto (2006) pendekatan produktivitas berawal dari pemikiran bahwa apabila ada gangguan
terhadap sistem sumberdaya alam (seperti polusi, konversi lahan), maka kemampuan sumberdaya alam
untuk menghasilkan aliran barang atau jasa menjadi terganggu. Gangguan tersebut dapat secara langsung
mempengaruhi produksi dari barang dan jasa, dan pada akhirnya dapat merubah perilaku masyarakat
dalam pemanfaatannya.
Sadar akan besarnya potensi dan manfaat keberadaan kawasan mangrove yang ada di Wilayah
Muncar, menjadikan masyarakat sekitar lebih peduli dengan kelestarian lingkungan. Hal tersebut dapat
telihat dari pertambahan luas kawasan yang signifikan, terutama di Desa Wringinputih. Tercatat luas
kawasan mangrove pada Tahun 1989 yaitu +104 ha dan berkembang menjadi +226 ha pada Tahun 2011.
Kegiatan pemanfaatan hasil produktivitas hutan mangrove dilokasi penelitian merupakan
pekerjaan tambahan bagi masyarakat, dari 80 masyarakat yang dijadikan responden, terdapat 35 orang
sebagai nelayan mangrove sebagai mata pencaharian tambahan, sedangkan yang lainnya memiliki pekerjaan
lain. Namun berdasarkan keterangan tengkulak bahwa jumlah nelayan mangrove mencapai 350 orang.
Areal penangkapan yaitu di sekitar hutan mangrove masih dalam kawasan pasang-surut dengan luas
sekitar +489 ha. Jika ditinjau dari segi harga pasar, harga jual kerang-kerangan 5.000 s/d 6.000 per
kilogram dalam keadaan belum terkelupas sedangkan dalam keadaan terkupas dengan harga jual 10.000
s/d 11.000 per kilogram, dan dalam satu trip setiap nelayan mendapatkan kerang sebanyak 5-7 kg.
Umumnya masyarakat melakukan penangkapan pada pagi hari antara Pukul 7.00 sampai Pukul 12.00, yaitu
pada periode air laut surut.
Penangkapan kepiting dapat dilakukan setiap hari, namun menurut masyarakat hasil yang tinggi
diperoleh pada musim timur, karena pada saat itu kondisi laut relatif tenang dan umumnya pada musim
tersebut daging kepiting lebih berisi dan padat. Adapun jenis kepiting yang ditangkap yaitu jenis kepiting
bakau (Scylla serrate), harga jual kepiting 25.000 s/d 30.000 per kilogram. Biasanya alat tangkap yang
digunakan yaitu jaring kepiting, plitur, selodok/pukat dorong. Kerang-kerangan biasanya dijual kepada
tengkulak, sedangkan kepiting umumnya nelayan menjual kepada petambak kepiting, terutama petambak
silvofishery untuk dibesarkan lebih lanjutnya.
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan perangkat lunak Maple 14, diperoleh utilitas
konsumen dari kawasan mangrove adalah sebesar Rp33.187.626,12. Dengan jumlah nelayan mangrove
sekitar 350 orang dan luas daerah penangkapan sekitar +489 ha, maka nilai ekonomi sumberdaya kawasan
mangrove dilihat dari fungsi pemanfaatan langsung adalah sebesar Rp.32.189.744,06 per hektar per tahun.
Nilai rata-rata permintaan konsumen (pemanfaat mangrove) sebanyak 1.247,47 kg/tahun. Plot permintaan
berdasarkan utility (nilai kepuasan) konsumen terhadap hasil pemanfaatan langsung sumberdaya ekosistem
mangrove, semakin besar nilai kepuasan konsumen maka semakin kecil hasil pemanfaatan, dengan
demikian asumsi hubungan diantara keduanya adalah negatif (Gambar 3).

41
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

Gambar 3. Plot utilitas pemanfaatan langsung sumberdaya ekosistem

Analisis kesesuaian kawasan sempadan pantai


Lebar jalur sempadan secara umum direkomendasi selebar 130 kali perbedaan rata-rata tahunan
antara pasang tertinggi dengan surut terendah (Keppres No.32 Tahun 1990) dikalikan dengan panjang
garis pantai. Sehingga berdasarkan hasil perhitungan tersebut area luas sabuk hijau (sempadan pantai) pada
lokasi penelitian adalah 12.352 m, tunggang pasut yaitu 1,60 m dikali 130. Maka minimal luas sempadan
(green belt) yaitu 2.569.216 m2 atau 256,9 ha.
Namun untuk tujuan yang berkelanjutan, pemanfaatan jalur sempadan tersebut terbagi menjadi
dua yaitu jalur sempadan non-hijau (seperti jalan, ruang terbuka) dan jalur sempadan hijau (seperti
mangrove, perdu dan habitat pantai lainnya). Untuk itu, lokasi dan luas jalur sempadan hijau dihasilkan
berdasarkan perhitungan kesesuaian lahan peruntukan mangrove dengan metode tumpang-tindih, dengan
parameter yang digunakan antaranya kemiringan, jarak dari pantai, jenis tanah, ketinggian, drainase dan
tutupan lahan. Parameter tersebut diberi angka dan dibobotkan, sehingga terdapat empat kelas kesesuaian
lahan yang terbentuk melalui rumus struges yaitu sangat sesuai, sesuai, kurang sesuai dan tidak sesuai.
Dari hasil perhitungan tumpang-tindih (overlay) dapat dihasilkan, wilayah yang termasuk dalam
kelas sangat sesuai yaitu +127,5 ha yang menggambarkan secara geomorfologi lahan dan kondisi
pemanfaatan lahan eksisting seharusnya dijadikan sebagai kawasan sempadan hijau (dalam hal ini habitat
mangrove). Sedangkan kelas sesuai mempunyai luas +257 ha yang menggambarkan secara geomorfologi
lahan dan kondisi pemanfaatan lahan eksisting dapat dijadikan sebagai kawasan penyangga atau
pemanfaatan terbatas seperti tambak, pariwisata yang ditentukan sesuai dengan daya dukung kawasan atau
ditentukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk kelas kurang sesuai seluas + 442,1
ha dan kelas tidak sesuai yaitu +1.910,1 ha yang menggambarkan informasi secara geomorfologi lahan dan
kondisi pemanfaatan lahan eksisting dapat dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya antara permukiman,
pertanian dan industri. (Gambar 4 dan Tabel 2).

42
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

Gambar 4. Peta kesesuaian kawasan sempadan pantai untuk yang dapat dimanfaatkan
untuk hutan mangrove

Tabel 2. Kelas kesesuaian lahan kawasan sempadan pantai yang dapat dimanfaatkan untuk hutan
mangrove berdasarkan desa
Desa Kelas Kesesuaian Ha
Kendungrejo Sesuai 32,8
Kurang Sesuai 50,7
Tidak Sesuai 453,5
Sub Total 537
Kedungringin Sangat Sesuai 1,6
Sesuai 17
Kurang Sesuai 10,7
Tidak Sesuai 349,4
Sub Total 378
Wringinputih Sangat Sesuai 125,9
Sesuai 207,2
Kurang Sesuai 380,7
Tidak Sesuai 1.107,2
Sub Total 1.784

43
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

Secara keseluruhan area sempadan yang dihasilkan yaitu sekitar 175,64 ha, terbagi menjadi area
sempadan hijau fungsi vegetasi mangrove yaitu +128,64 ha dan area sempadan non-hijau untuk fungsi
terbatas lainnya yaitu + 46,99 ha. Bila difokuskan (clip area) pada area yang dianjurkan untuk kawasan
sempadan, maka dominasi pemanfaatan lahannya sebagai berikut; hutan mangrove dengan luas + 63,66
ha, tambak tradisional dengan luas + 80,77 ha, lahan terbangun dengan luas + 29,08 ha, tambak silvofishery
dengan luas + 1,59 ha, ladang dengan luas + 0,44 ha dan kebun dengan luas + 0,09 ha. Dari proporsi
pemanfaatan lahan tersebut dapat disimpulkan, terdapat area yang berpotensi untuk dijadikan kembali
kawasan hijau yaitu seluas + 81,3 ha yang terdiri dari jenis pemanfaatan tambak tradisional di Wringinputih
dan Kedungringin, jenis pemanfaatan ladang di Kedungringin dan jenis pemanfaatan kebun di
Wringinputih. Sedangkan untuk jenis pemanfaatan lahan terbangun yang ada di Kedungrejo, Kedungringin
maupun Wringinputih sangat sulit untuk dikembalikan menjadi lahan sempadan, namun kondisi area ini
sifatnya tidak dapat ditambah lagi luasannya.

Tabel 3. Pemanfaatan lahan yang telah ada pada area sempadan pantai
No. Desa Jenis Pemanfaatan Ha Keterangan
1. Kedungrejo Lahan terbangun 23,56 Tidak sesuai
2. Kedungringin Mangrove 0,005 Sesuai
Lahan terbangun 4,47 Tidak sesuai
Ladang 0,44 Tidak sesuai
Tambak tradisional 1,95 Tidak sesuai
3. Wringinputih Lahan terbangun 1,06 Tidak sesuai
Tambak tradisional 78,82 Tidak sesuai
Tambak silvofishery 1,59 Sesuai
Mangrove 63,66 Sesuai
Kebun 0,09 Tidak sesuai
Jumlah 175,6

Kesimpulan
Dugaan nilai rata-rata WTP responden untuk manfaat keberadaan mangrove yaitu sebesar
Rp.83.026. dengan total keuntungan (total benefit) sebesar 4,17 Milyar sebelum didiskon untuk mengetahui
aliran nilai multiyear. Berdasarkan perhitungan pendugaan fungsi permintaan, hanya variabel lama menjadi
nelayan di hutan mangrove (X5) yang memiliki hubungan positif dengan jumlah hasil tangkap (kg/tahun).
Nilai ekonomi dari pemanfaatan langsung adalah sebesar Rp.32.189.744,06 per hektar per tahun dan nilai
rata-rata permintaan konsumen (pemanfaat mangrove) sebanyak 1.247,47 kg/tahun. Luasan area yang
dapat dimanfaatkan untuk sempadan pantai +174,49 ha, dan lahan sempadan pantai tersebut berpotensi
untuk dijadikan kembali kawasan hijau dan kegiatan perikanan budidaya (Silvofishery) sesuai dengan amanat
Kepmen Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP. 28/MEN/2004 yaitu +81,3 Ha.

Daftar Pustaka
Adrianto, L. 2006. Pengantar penilaian ekonomi sumberdaya pesisir dan laut. Departemen Menejemen
Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. PKSPL-Institut Pertanian Bogor,
Bogor.
Asbar. 2007. Optimasi pemanfaatan kawasan pesisir untuk pengembangan budidaya tambak berkelanjutan
di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Biswas, S.R., A. Mallik, J. Choudhury dan A. Nishat. 2008. A unified framework for the restoration of
Southeast Asian mangroves-bridging ecology, society and economics. Wetlands Ecology
and Management, 17: 365-383.
Bostock, J., B. McAndrew, R. Richards, K. Jauncey, T. Telfer, K. Lorenzen, D. Little, L. Ross, N.
Handisyde, I. Gatward and R. Corner. 2010. Aquaculture: global status and trends. Philosopical
Transactions of The Royal Society B. 365: 2897–2912.
Douvere, F. and C. Ehler. 2009. Marine spatial planning: a step-by-step approach toward ecosystem-
based management. Intergovernmental Oceanographic Commission and Man and the Biosphere
Programme Unesco, Paris.

44
Depik, 3(1):36-45
April 2014
ISSN 2089-7790

Grigalunas, T.A. and R. Congar. 1995. Environmental economics for integrated coastal area management :
valuation methods and policy instruments. UNEP Regional Seas Report and Studies No.164.,
Nairobi, Kenya.
Gilbert, A.J. and R. Janssen. 1998. Use of environmental functions to communicate the value of a
mangrove ecosystem under different management regimes. Ecological Economics, 25: 323-346.
Nazili, M. 2004. Strategi pengelolaan ekosistem mangrove berbasis partisipasi masyarakat di kawasan
Teluk Pangpang- Banyuwangi. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Rusly, A. 2007. Kajian pengelolaan mangrove dan terumbu karang Pulau Sangiang-Banten. Sekolah Pasca
Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Yaping, D. 2000. The value Of improved water quality for recreation in East Lake, Wuhan, China: Aan
application of contingent valuation and travel cost methods.
http://203.116.43.77/publications/research1/ACF9C.html. (Diakses pada 15 Februari 2013).
Yulianda, F., A. Fahrudin, L. Adrianto, A. Hutabarat, S. Harteti dan K.H. Kusharjani. 2010. Buku 2
kebijakan konservasi perairan laut dan nilai valuasi ekonomi. Pusdiklat Kehutanan Departemen
Kehutanan. SECEM. Korea International Cooperation Agency, Bogor.

45