Anda di halaman 1dari 12

USUSLAN PROPOSAL

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

PEMBERDAYAAN KELUARGA UNTUK PERAWATAN TUBERCULOSIS

Disusun oleh

KELOMPOK 2

1. Anastasia
2. Erni fitmawati
3. Novita P. Kalundu
4. Tirza Eunike
5. Lucia Wamang

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAYAPURA

JURUSAN KEPERAWATAN

2020

i
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ………………………………………………………………………………………………….. i

Daftar isi ………………………………………………………………………………………………………………. ii

BAB 1 PENDAHULUAN …………….……………………………………………………………………………. 1

BAB 2 SOLUSI PERMASALAHAN .…………………………………………………………………………… 4

BAB 3 METODE PELAKSANAAN ..…………………………………………………………………………… 6

A. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH ………………………………………………………….. 6


B. KHALAYAK SASASARAN …………….……………………………………………………………….. 6
C. KETERKAITAN ....……………….……………………………………………………………………….. 6
D. KEGIATAN PEMBERDAYAAN KELUARGA .….……………………………………………….. 6
E. METODE PELAKSANAAN ……………………………………………………………………………. 6
F. EVALUASI KEGIATAN ….………………………………………………………………………………….. 7

BAB 4 LUARAN DAN TARGET CAPAIAN …..…………………………………………………………….. 8

A. LUARAN ……….……………………………………………………………………………………………. 8
B. TARGET CAPAIAN .….………………………………………………………………………………….. 8

BAB 5 BIAYA DAN RENCANA KEGIATAN ………………………………………………………………… 9

A. BIAYA ..…..………………………………………………………………………………………………….. 9
B. RENCANA KEGIATAN…………….……………………………………………………………………. 1

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Bakteri Tahan Asam (BTA)
Mycrobacterium Tuberculosa dab TB adalah penyakit menular yang mematikan (Dye &
Williams, 2010; Shen, Cheng, & Basu, 2010). Penyakit ini merupakan masalah kesehatan global
utama dengan tingkat kejadian 1 juta kasus kematian per tahun di seluruh dunia (Bowong &
Kurths, 2012; Zhou, Ye & Feng, 2011). Adapun mycrobacterium tuberculosis sendiri merupakan
sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3-0,6/Um,
sebagian besar kuman Mycobacterium tuberculosis terdiri dari asam lemak (lipid), lipid inilah
yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik (Okuonghae,2013).
Kuman ini dapat tahan hidup pada udara kering maupun dingin (dapat tahan bertahun-tahun
dalam lamari es), hal ini terjadi karena kuman berada dalam sifat dormant yaitu dapat bangkit
kembali dan menjadikan tuberculosis aktif lagi. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob, sifat ini
menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya,
dalam hal ini tekanan oksigen bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari pada bagian lain,
sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberculosis (Baocy,
Bray,Caban, Yao & Mollura, 2012; Shen et al.,2010)

TB merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian dan penyebeb utama agen
infeksius, di tahun 2017 menyebabkan 1,3 juta kematian (rentang 1,2-1,4 juta) di antara orang
dengan HIV negative dan terdapat sekitar 300.000 kematian karena TB (rentang 266.000-
355.000) di antara orang dengan HIV positif . diperkirakan terdapat 10 juta kasus TB baru
(rentang 9-11 juta) atau 133 kasus (rentang 120-148) per 100.000 penduduk.

Indonesia dengan jumlah penduduk besar juga memiliki orang dengan TB yang besar.
Sebanyak 842.000 jumlah estimasi kasus, 569.899 terlapor, 32% belum terlapor, 4.413 TB
resisten obat, 60.676 TB Anak, 10.174 TB HIV. Di tahun 2019 indonesia masih menduduki
urutan ke 3 dunia untuk penderita TB. Setiap tahun sekitar 850.000 orang dengan TB di
Indonesia, setiap 30 detik 1 orang tertular TB, dan 13 orang meninggal akibat TB setiap jamnya.
Di Indonesia selain Jakarta , Papua merupakan provinsi dengan angka TB tertinggi ke 2 dan
Mimika berada diurutan ke 5 sebagai kabupaten penyumbang terbanyak penderita TB di
Indonesia.

Di Mimika terdapat 23 Puskesmas dan 5 rumah sakit yang sudah menjalankan program
TB DOTS. Hasil validasi data dari seluruh faskes yang sudah menjalankan TB DOTS, di tahun
2018 penemuan pasien TB mencapai 1.750 orang . pada 2019 hasil validasi data dari seluruh
faskes sejak Januari sampai September (triwulan 1- triwulan 3) penemuan pasien TB mencapai
1.317 pasien, 90 diantaranya adalah pasien TB-HIV, Puskesmas Wania adalah salah satu

1
puskesmas yang menjalankan program TB DOTS. Pada tahun 2018 terdapat 221 terduga TB
yang terkonfirmasi (positif TB) dan menjalani pengobatan sebanyak 105 pasien, 4 diantaranya
adalah pasien TB-HIV dan dari 105 pasien yang default/putus berobat sebanyak 28 pasien
(21,9%). Di tahun 2019 terdapat 348 terduga TB yang terkonfirmasi (positif TB) dan menjalani
pengobatan sebanyak 131 pasien, 9 diantaranya adalah pasien TB-HIV, dari 131 pasien yang
default/putus berobat sebanyak 28 pasien (21,3%). Di tahun 2020 dari Januari sampai
September (triwulan 1-triwulan 3) terdapat 113 terduga TB yang terkonfirmasi dan menjalani
pengobatan sebanyak 93 pasien, 7 diantaranya adalah pasien TB-HIV, dari 93 pasien tersebut
yang default/putus berobat sebanyak 6 pasien (6,5%).

Prevalensi TB paru di masyarakat masih sangat tinggi, namun cakupan program


penanggulangan dengan strategi Directly Observed Treatment, Shorcourse Chemotherapy
(DOTS) masih rendah, serta masih tingginya angka putus berobat penderita TB paru, sehingga
aspek pengendalian faktor resiko penularan menjadi penting terutama bagi kelompok beresiko
tinggi seperti keluarga penderita dan anak balita (Adewale, Podder & Gumel, 2009; Hori et
al.,2006). Hasil penelitian penularan TB di rumah tangga diketahui 180 dari 282 (63,8%) anak di
bawah 6 tahun yang kontak serumah dengan penderita TB BTA positif diidentifikasi tertular
(WHO, 2005).

Sumber penularan utama adalah pasien TB BTA positif sendiri. Pada waktu batuk atau
bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei).
Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi
dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat
mempengaruhi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan gelap dan lembab. Daya
penularan seorang pasirn ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.
Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman tuberkulosis (TB) ditentukan oleh
konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut ( KEMENKES RI,
2011). Anggota keluarga kasus TB BTA positif merupakan golongan masyarakat yang paling
rentan tertular TB paru karena sulit menghindari kontak dengan penderita.

Penularan TB paru pada keluarga sangatlah beresiko , terutama pada balita dan lansia
yang memiliki daya tahan tubuh lebih rendah selain itu pada penderita HIV yang mengalami
kerusakan sistem imun pada tubuh. Peran keluarga dalam pencegahan penularan TB paru
sangatlah penting, karena salah satu tugas dari keluarga adalah melakukan perawatan bagi
anggota keluarga yang sakit dan mencegah penularan pada anggota keluarga sehat serta peran
keluarga dalam memberikan perawatan dan dukungan psikososial kepada penderita TB.
Dukungan dan perawatan yang diberikan oleh anggota keluarga memberikan kontribusi yang
cukup besar terhadap pengendalian TB. Walaupun anggota keluarga mungkin tidak bisa
menggantikan keahlian profesional petugas kesehatan, namun kehadirannya sangat membantu

2
dalam merawat dan mengawasi kepatuhan meminum obat, sehingga mampu mengurangi
tingkat kesalahan dan kegagalan pengobatan. Selain itu, keluarga juga sangat berperan dalam
hal dukungan sosial dan emosional, serta memotivasi untuk menyelesaikan pengobatan.
Dukungan keluarga bisa dalam bentuk pendampingan perawatan, mengingatkan untuk minum
obat-obatan, menyediakan makanan bergizi, memotivasi untuk sembuh, dan dukungan
psikososial lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemberdayaan orang terdekat (keluarga)
dalam membantu mengendalikan TB.

Puskesmas Wania merupakan salah satu Puskesmas di kota Timika yang memiliki jumlah
penduduk cukup banyak yaitu 17.446 penduduk, dengan prevalensi kejadian TB yang tinggi
pula. Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas Wania, didapatkan data penderita TB yang
meningkat dari 2015 ke 2019 mengalami peningkatan 3 kali lipat.

Data di atas menunjukkan peningkatan jumlah TB yang signitifikan setiap tahun. TB juga
menyerang semua usia mulai dari balita, anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia. Tingginya angka
ini disebabkan karea begitu mudahnya dan begitu cepatnya penularan kuman tuberkulosis ke
orang-orang di lingkungan sekitar penderita, juga disebabkan ketidakpatuhan pengobatan
sehingga terjadi kekambuhan penyakit (berulang).

Program Kemitraan Masyarakat melalui Pemberdayaan Keluarga Penderita TB ini


bertujuan untuk memandirikan keluarga dalam merawat penderita TB dan diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi perawatan dan pemulihan penderita TB, khususnya meningkatkan
pengetahuan dan membaiknya perilaku masyarakat, serta diharapkan dapat mengaktifkan
peran dan fungsi keluarga sebagai Pengawas Menelan Obat (PMO). Selain itu, program ini juga
diharapkan bermanfaat bagi peningkatan status dan derajat kesehatan masyarakat di Kota
Timika, khususnya di kelurahan Kamoro Jaya.

3
BAB 2

SOLUSI PERMASALAHAN

Solusi permasalahan yang ideal dari ketidakpatuhan pasien minum OAT pasien tuberkulosis
yaitu dengan pendekatan (edukasi ) pada keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang
terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah
satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (saluacion dan Cellis, 1998). Manfaat dari keluarga ,
diantaranya :

a. Memberikan support secara psikososial kepada pasien


b. Mengenal masalah kesehatan anggota keluarga
c. Mampu membuat/mengambil keputusan yang tepat
d. Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit
e. Mengingatkan anggota keluarga untuk meminum obat secara rutin dan benar.

Masalah atau Solusi yang sesuai dengan latar belakang tersebut, meliputi :

1. Pelatihan Keluarga (caregiver)


Pelatihan ini di ikuti oleh 8 orang keluarga (caregiver) dari penderita TB. Keluarga ini juga
sekaligus merupakan Pengawas Minum Obat (PMO).
Kegiatan pelatihan meliputi pemberian materi-materi :
 Konsep dasar tuberkulosis
 Pentingnya tugas, peran, dan fungsi keluarga / PMO dalam merawat dan mendampingi
proses pengobatan penderita tuberkulosis paru hingga sembuh.
 Cara batuk efektif dan teknik relaksasi napas dalam
 Cara pencegahan penularan TB
 Cara meminum obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Pada kegiatan pelatihan ini , dilakukan pre dan post tes untuk mengukur tingkat pengetahuan
keluarga sebagai indicator keberhasilan program. Pertanyaan yang digunakan untuk mengukur
tingkat pengetahuan diantaranya adalah pengertian TB, penyebab dan lama pengobatan.
Hasilnya menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan TB setelah dilakukan pelatihan
terhadap 8 orang keluarga.

2. Pendampingan dan pemberdayaan keluarga


Pendampingan keluarga telah dilakukan sebanyak 3 kali secara door to door
(kunjungan langsung ke rumah keluarga/penderita TB). Pendampingan ini dilakukan
dengan tujuan menjangkau secara langsung penderita TB serta memberdayakan dan
memandirikan keluarga sebagai caregiver. Pada pendampingan ini, tim pengabdian
masyarakat menjangkau penderita TB dengan berbagai kalangan usia, mulai balita,
anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Adapun bantuan yang diberikan ke keluarga dan
penderita TB, antara lain :

4
a. Masker untuk keluarga penderita
b. Kartu kontrol minum obat
c. Media edukasi berupa lembar balik
d. Edukasi dan konseling

Bantuan tersebut diberikan untuk menunjang proses pendampingan keluarga dan


penderita TB. Keluarga juga didampingi dan diberdayakan dalam memberikan edukasi,
termasuk mengajarkan cara membuang dahak, teknik relaksasi napas dalam, teknik
batuk efektif, serta mengontrol obat anggota keluarganya yang menderita TB. Proses
pendampingan dan pemberdayaan keluarga tersebut dalam rangka mencapai
kesembuhan penderita TB.

3. Pengawasan Pengobatan Penderita TB


a. Pengawasan kepatuhan minum obat bagi penderita TB
b. Pemeriksaan kesehatan secara berkala di puskesmas
Hasil dari program ini adalah aktif dan mandirinya keluarga dalam mendampingi dan
merawat penderita TB, berkurangnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit TB,
serta meningkatnya status kesehatan masyarakat di kelurahan Kamoro Jaya.

5
BAB 3

METODE PELAKSANAAN

A. KERANGKA PEMECAHAN MASALAH


Berdasarkan data angka kesakitan TB dan angka default yang tinggi pada pasien TB di
wilayah kerja Puskesmas Wania, maka penulis membentuk kelompok kerja dengan metode
pendekatan keluarga. Dengan melibatkan keluarga, diharapkan dapat meningkatkan
kepatuhan pasien TB dalam minum OAT sehingga angka default menurun dan tingkat
kesembuhan TB meningkat .

B. KHAYALAK SASARAN
Khalayak sasaran dalam kegiatan ini adalah keluarga di wilayah kerja Puskesmas Wania.

C. KETERKAITAN
Pemberdayaan keluarga sebagai PMO untuk pasien TB dilakukan dengan tujuan agar
keluarga terlibat secara langsung baik sebagai pemberi motivasi maupun sebagai orang
terdekat yang secara tidak langsung berperan dalam keberhasilan kesembuhan pengobatan
pasien TB. Sehingga dengan adanya keterlibatan keluarga, diharapkan semua pasien patuh
minum obat dan angka default menurun.

D. KEGIATAN PEMBERDAYAAN KELUARGA


Kegiatan yang dilakukan oleh Tim pemberdayaan kepada keluarga, meliputi :
1. Pelatihan Keluarga (caregiver)
2. Pendampingan dan pemberdayaan keluarga
3. Pengawasan pengobatan penderita TB

E. METODE PELAKSANAAN
1. Tahap Pertama
Kegiatan tahap pertama dimulai dengan pendekatan kepada keluarga pasien, yang
akan dilakukan pada minggu ke-3 bulan November 2020 di kelurahan Kamoro Jaya
Distrik Wania.
2. Tahap Kedua
Tahap kedua merupakan pelaksanaan kegiatan pengabdian yang telah disetujui oleh
kepala keluarga dan seluruh anggota keluarga. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan
selama 3 hari sesuai dengan jadwal pelaksanaan :
a. Hari pertama

6
Hari pertama pengabdian dilakukan pendekatan kepada keluarga di SP 1
Jalur 2 Kelurahan Kamoro Jaya Distrik Wania, untuk membuat kesepakatan
dan kontak waktu untuk kegiatan yang akan dilaksanakan.
b. Hari kedua
Melakukan edukasi kepada kepala keluarga tentang penyakit TB dengan
menggunakan media lembar balik.
c. Hari ketiga
Melibatkan keluarga sebagai PMO pasien TB

F. EVALUASI KEGIATAN
Melakukan evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan selama 3 hari, sejauh mana keterlibatan
keluarga sebagai PMO di SP 1 Jalur 2 Kelurahan Kamoro Jaya Distrik Wania.

7
BAB 4

LUARAN DAN TARGET PENCAPAIAN

A. LUARAN
Luaran kegiatan pemberdayaan kepada keluarga ini adalah :
1. Melibatkan keluarga sebagai PMO pasien TB
2. Pendampingan dan pemberdayaan keluarga
3. Meningkatkan pemahaman keluarga tentang penyakit TB
4. Meningkatkan derajat kesehatan keluarga

B. TARGET
Target kepada keluarga

No. Program Kegiatan Target capaian


1 Pendidikan Edukasi /penyuluhan 70% keluarga mengikuti
kesehatan pada tentang penyakit TB penyuluhan
keluaraga Edukasi tentang manfaat 70% keluarga mengikuti dan
OAT memahami penyuluhan

Edukasi tentang akibat yang 70 % keluarga mengikuti dan


ditimbulkan jika putus obat memahami penyuluhan

Edukasi etika batuk 70% keluarga bisa mengikuti


atau mempraktekkan cara
batuk efektif
2 Pembagian Masker Membagikan masker 100% keluarga mendapatkan
kepada anggota keluarga pembagian masker.
3 Pembagian susu Membagi susu dan biskuat 100% keluarga mendapatkan
dan biskuat sari sari gandum kepada pembagian susu dan biskuat
gandum anggota masyarakat sari gandum

BAB 5

8
BIAYA DAN RENCANA KEGIATAN

A. BIAYA
Tabel 1. Rincian Anggaran Biaya

No. Uraian Kegiatan Kuantitas Besaran Frekuen Harga Satuan Total


si (kali)
I Persiapan
1 Kertas F4 1 Rim 1 Rp. 55.000 Rp. 55.000
2 Map Plastik 2 Pcs 1 Rp. 5.000 Rp. 10.000
3 Tinta Printer 1 Paket 1 Rp. 500.000 Rp. 500.000
5 Penggandaan Proposal 6 Eksemplar 1 Rp. 50.000 RP. 300.000
6 Perbaikan Proposal 6 Eksemplar 1 Rp. 50.000 Rp. 300.000
Sub Total I Rp. 1.165.000

II Kegiatan Penyuluhan
Kesehatan
7 Transportasi Tim 5 Orang 3 Rp. 20.000 Rp. 300.000
8 Pengadaan lembar balik 1 1 Rp. 200.000 Rp. 200.000
9 Pembelian Masker Kain 20 Buah 3 Rp. 15.000 Rp. 900.000
10 Konsumsi makanan 8 Orang 3 Rp. 50.000 Rp. 1.200.000
Keluarga
11 Biskuat Sari Gandum 15 Bungkus 1 Rp. 8.000 Rp. 120.000
12 Susu Milo 300 gr 4 Bungkus 1 RP. 30.000 Rp. 120.000
Sub Total II Rp. 2.840.000

III Laporan Hasil


13 Penggandaan Laporan 6 Eksemplar 1 Rp. 100.000 Rp. 100.000
14 Publikasi Ilmiah 1 Paket 1 Rp. 1.000.000 Rp. 1.000.000
Sub Total III Rp. 1.100.000

TOTAL Rp. 5.105.000

B. RENCANA KEGIATAN

No Nama Kegiatan Waktu Pelaksanaan Tempat Penanggung Jawab


.
1 Melakukan pendekatan kepada Kamis, 19 – 11- 2020 SP1 jalur 1 Anastasia, Erni,
keluarga pasien Pukul 09.00 WIT Kelurahan Novita, Tirza, Lucia
Kamoro Jaya
2 Melakukan edukasi kepada keluarga Jumat, 20 – 11- 2020 SP1 jalur 1 Anastasia, Erni,
tentang penyakit TB dengan Pukul 09.00 WIT Kelurahan Novita, Tirza, Lucia
menggunakan lembar balik dan Kamoro Jaya

9
pembagian masker
3 Melibatkan keluarga sebagai PMO Sabtu, 21 – 11- 2020 SP1 jalur 1 Anastasia, Erni,
dan pembagian bahan kontak Pukul 09.00 WIT Kelurahan Novita, Tirza, Lucia
Kamoro Jaya

10