Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM

ELEKTRONIKA DIGITAL
COUNTER

Nama : Nur Fitriani

NIM : 4201418054

Rombel : 5B Pendidikan Fisika

Jurusan : Fisika

PRODI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


PRAKTIKUM (EKSPERIMEN) 4

COUNTER

1. Tujuan
Melalui praktikum atau eksperimen laboratorium ini, mahasiswa diharapkan menjadi
terbiasa dengan struktur dan mekanisme kerja counter.

a. Mahasiswa dapat merangkai, mengamati dan mempelajari tentang counter 1 bit dari
sebuah JK flip-flop dan mengobservasi nya.
b. Mahasiswa dapat merangkai, mengamati dan mempelajari tentang counter 4 bit dari
beberapa JK flip-flop dan mengobservasi nya.
c. Mahasiswa dapat merangkai, mengamati dan mempelajari tentang counter 4 bit di atas (a)
menjadi modulus 10.
d. Mahasiswa dapat merangkai, mengamati dan mempelajari tentang BCD (binary coded
decimal) pada sebuah IC tunggal.

3. Teori dasar

Counter adalah rangkaian logika berurutan yang melewati urutan keadaan yang ditentukan
pada penerapan pulsa input. Urutan yang ditentukan dapat berupa urutan biner atau urutan lainnya.
Counter yang melewati 2N (N adalah jumlah flip-flop dalam rangkaian seri) yang disebut counter
biner. Modulus dari counter adalah jumlah status berbeda yang diizinkan untuk dimilikinya.
Modulus counter biasanya 2N kecuali dikontrol oleh sirkuit umpan balik yang membatasi jumlah
keadaan yang mungkin (contoh menjadi counter desimal atau modulus 10). Counter sangat banyak
digunakan di hampir semua komputer dan sistem elektronik digital lainnya. Ada dua kategori
utama counter: counter asinkron dan counter sinkron.

Counter Asinkron
Counter yang diatur sehingga output dari satu flip-flop menghasilkan pulsa masukan (input
clock) CLK dari tahap selanjutnya yang lebih tinggi umumnya disebut counter asinkron (atau
counter riak). Dengan kata lain, dalam counter asinkron, input CLK dari semua sandal jepit
(kecuali yang pertama) dipicu bukan oleh pulsa yang masuk melainkan oleh transisi yang terjadi
pada sandal jepit lainnya. Oleh karena itu, perubahan kondisi flip-flop tertentu tergantung pada
kondisi flip-flop lain saat ini. Gambar. 1 menunjukkan counter riak count-up. Ketika transisi dari,
katakanlah, 0111 ke 1000 terjadi, transisi satu-ke-nol dari urutan tiga bit riak dari bit ke bit. Karena
setiap flip-flop memiliki penundaan propagasi non-nol, counter riak relatif lambat. Oleh karena
itu, batas atas jumlah flip-flop dalam rantai flip-flop harus dikenakan.

Gambar 4.1. Counter asinkron atau counter riak (ripple counter) 4 bit

Counter Sinkron

Counter sinkron menghilangkan penundaan flip-flop kumulatif yang terlihat di counter


riak. Setiap flip-flop diberi pulsa clock oleh sinyal pulsa clock yang sama. Setiap gerbang selektif
mengontrol ketika masing-masing bit flip-flop yang lebih signifikan adalah untuk mengubah
keadaan (toggle) pada transisi pulsa clock berikutnya. Kontrol semacam itu (memungkinkan)
dapat diwujudkan dengan mengatur, misalnya, input J dan K dari flip-flop J-K. Karena kontrol ini,
penambahan pulsa clock bersama akan menyinkronkan transfer data dan semua flip-flop akan
berubah secara bersamaan. Fitur penting dari counter sinkron ini adalah bahwa transisi dari fli-
flop individu disinkronkan ke sinyal pulsa clock utama.
Gambar4.2. Counter sinkron 4 bit (synchronous parallel counter)

J-K flip-flop biasanya digunakan dalam counter sinkron karena fitur yang mengaktifkan
(mengendalikan) input J dan K. Ada dua skema dasar untuk menghasilkan input J dan K. Salah
satunya diilustrasikan dalam counter biner empat-bit yang ditunjukkan pada Gambar 4.2.
Perhatikan bahwa informasi ke input J-K dibentuk secara paralel. Counter sesuai disebut sebagai
counter paralel sinkron. Dalam skema paralel, jumlah input untuk setiap gerbang AND meningkat
secara linier dengan jumlah tahapan. Counter sinkron mempunyai rangkaian elektronik yang lebih
kompleks. Untuk biaya tambahan ini, orang mendapat sirkuit counter sinkron tercepat.

Dalam praktikum atau eksperimen counter ini, dibatasi pada kasus counter asinkron cacah naik
(up counter) 4 bit dengan berbagai modulus.

4. Bahan dan Alat

a. Computer atau Notebook dengan perangkat lunak Livewire


b. JK Flip-Flop (7476) ; 2 pcs (virtual dalam Livewire)
c. D Flip-flop (7474) ; 2 pss (virtual dalam Livewire)
d. 2-input AND gate (7400) ; 1 pcs (virtual dalam Livewire)
e. 4 bit binary counter (7493) ; 1 pcs (virtual dalam Livewire)
f. Dekade counter / BCD counter (7490) ; 1 pcs (virtual dalam Livewire)
g. +5 VDC Power Supply ; 1 pcs (virtual dalam Livewire)
5. Prosedur Eksperimen

Counter 1 bit FF-T dirakit dari FF-JK

Counter 1 bit dapat dirakit dengan menggunakan sebuah flip-flop FF. Flip-flop Toggle (FF-T)
dapat dirakit menggunakan FF-JK sebagai berikut.

Gambar 4.3. Flip-flop FF-T dirakit dari flip-flop FF-JK dan flip-flop FF-D

Bila suatu flip-flop FF-T mendapat picu tepi transisi turun maka keluarannya akan berubah
keadaan.

Dengan menggunakan Livewire rakitlah rangkaian untuk memperoleh diagram


pewaktuan dari sebuah counter 1 bit dengan komponen dasar IC 7476, LED, saklar SW dan alat
ukur yang sesuai.

Counter 4 bit dirakit dari 4 buah FF-JK

Counter 4 bit dapat dirakit dari 4 buah flip-flop FF-JK seperti ditunjukkan pada Gambar
4.1 di atas. Dengan menggunakan Livewire rakitlah rangkaian untuk memperoleh diagram
pewaktuan dari sebuah counter 4 bit dengan komponen dasar IC 7476, LED, saklar SW dan alat
ukur yang sesuai.
Counter modulus 10 dirakit dari 4 buah FF-JK dan gerbang dasar AND

Pada counter naik (up counter) 4 bit pulsa clock ke-16 akan membuat semua keluaran
menjadi logika 1 (high H). Counter tersebut dapat dimodifikasi atau dikembangkan menjadi
counter hanya melakukan hitungan atau cacahan hanya hingga 10 saja. Dikatakan bahwa counter
ini mempunyai modulus 10 (mod 10). Counter semacam ini dikenal sebagai counter BCD
(binary coded decimal). Gambar 4.4 berikut ini menunjukkan cara untuk merakit counter dekade.

Gambar 4.4 Counter modulus 10 dirakit dari 4 flip-flop FF-D

Dengan menggunakan Livewire rakitlah rangkaian untuk memperoleh diagram


pewaktuan dari sebuah counter modulus dengan komponen dasar IC 7476, LED, saklar SW dan
alat ukur yang sesuai.
6. Data Pengamatan.
a) Rangkaian Ke-1 (1-bites)

Gambar 4.5
Rangkaian 1 Bites

Tabel 1. Tabel Pengamatan Rangkaian Counter 1 bites.

No Input Output

T Q Q’

1 1 1 0

2 0 1 0
3 1 0 1

4 0 0 1
5 1 1 0

6 0 1 0

7 1 0 1
8 0 0 1
Diagram Waktu Rangkaian 1 bites :

Diagram 1. Diagram waktu rangkaian 1 bites.

b) Rangkaian Ke 2 ( 4 bites)

Gambar 4.6 Rangkaian Counter 4 bites.


Tabel 2. Data Pengamatan Rangkaian Counter 4 bites.

Pulsa A B C D
0 0 0 0 0
1 0 0 0 1
2 0 0 1 0
3 0 0 1 1
4 0 1 0 0
5 0 1 0 1
6 0 1 1 0
7 0 1 1 1
8 1 0 0 0
9 1 0 0 1
10 1 0 1 0
11 1 0 1 1
12 1 1 0 0
13 1 1 0 1
14 1 1 1 0
15 1 1 1 1
16 0 0 0 0

Diagram Waktu Counter Rangkaian 4 bites :


Diagram 2. Diagram waktu rangkaian counter 4 bites.

c) Rangkaian Ke -3 (Counter modulus 10 dirakit dari 4 flip-flop FF-D)

Gambar 4.7 Counter modulus 10 dirakit dari 4 flip-flop FF-D

Tabel 3. Data Pengamatan Counter Modulus 10.


Pulsa A B C D
1 0 0 0 0
2 0 0 0 1
3 0 0 1 0
4 0 0 1 1
5 0 1 0 0
6 0 1 0 1
7 0 1 1 0
8 0 1 1 1
9 1 0 0 0
10 1 0 0 1
11 1 0 1 0
12 1 0 1 1
13 1 1 0 0
14 1 1 0 1
15 1 1 1 0
16 1 1 1 1

Diagram Waktu Counter Rangkaian Modulus 10:

Diagram 3. Diagram waktu rangkaian counter modulus 10 dirakit dari 4 FF D

7. Analisis Data.
1) Rangkaian 1 Bites.
Pada percobaan pertama adalah percobaan rangkaian 1 bites, seperti yang di cantumkan
dalam gambar 4.5. Counter 1 bit dapat dirakit menggunakan FF-JK. Adapun pada
percobaan yang saya lakukan menggunakan Flip Flop Toggle (FF-T). Dengan
menggunakan Livewire rangkaian dirakit dengan komponen dasar IC 7476, LED, saklar
SW dan alat ukur yang sesuai sehingga menghasilkan diagram waktu sebagai berikut.

Diagram1 . Diagram waktu counter 1 bites.


Pada percobaan kedua adalah percobaan counter 4 bites. Percobaan counter 4 bites ini
dirakit dari 4 buah flip-flop FF-JK. Untuk memperoleh diagram pewaktuan dari sebuah
counter 4 bit dengan komponen dasar IC 7476, LED, saklar SW dan alat ukur yang
sesuai. Adapun diagram waktu yang terbentuk adalah sebagai berikut :

Diagram 2. Diagram waktu counter 4 bit.

Percobaan yang terakhir dalam praktikum counter ini adalah counter modulus 10 yang
dirakit dirakit dari 4 flip-flop FF-D. Pada counter naik (up counter) 4 bit pulsa clock ke-
16 akan membuat semua keluaran menjadi logika 1 (high H). Counter tersebut dapat
dimodifikasi atau dikembangkan menjadi counter hanya melakukan hitungan atau
cacahan hanya hingga 10 saja. Dikatakan bahwa counter ini mempunyai modulus 10
(mod 10). Counter semacam ini dikenal sebagai counter BCD (binary coded decimal).
Gambar 4.4 berikut ini menunjukkan cara untuk merakit counter decade.
Adapun diagram waktunya adalah sebagai berikut :
Diagram 3. Diagram waktu counter modulus 10 yang dirakit dirakit dari 4 flip-flop FF-D.

8. Kesimpulan.
Dari praktikum counter yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
1. Rangkaian Counter 1 Bit.
Dari percobaan yang telah dilakukan dengan menggunakan live wire, di dapat hasil
rangkaian sebagai berikut :

Dalam percobaan ini menggunakan Livewire dengan komponen dasar IC 7476, LED,
saklar SW dan alat ukur yang sesuai.
2. Rangkaian Counter 4 Bit.
Dari percobaan yang dilakukan, di dapat rangkaian counter 4 Bit sebagai berikut :
Pada percobaan ini menggunakan livewire dengan komponen dasar IC 7476, LED, saklar SW dan
alat ukur yang sesuai.
3. Rangkaian counter modulus 10 yang dirakit dirakit dari 4 flip-flop FF-D.

Dari percobaan yang telah dilakukan, di dapat hasil rangkaian yaitu sebagai berikut :

Pada counter naik (up counter) 4 bit pulsa clock ke-16 akan membuat semua keluaran
menjadi logika 1 (high H). Counter tersebut dapat dimodifikasi atau dikembangkan
menjadi counter hanya melakukan hitungan atau cacahan hanya hingga 10 saja

9. Saran.
Sebaiknya praktikan sebelum memulai praktikum counter, harus lebih dulu mengenai materi
flip flop, terutama JK flip flop. Karena pada praktikum counter ini mengaplikasikan materi
tersebut dalam praktikum yang dilakukan.
10. Rujukan (Referensi) :
a. http://ecelabs.njit.edu/ece394/lab6.php
b. Sutrisno, Elektronika: Teori dan Penerapannya, Catatan Kuliah Fisika ITB.
c. Milman Halkias. Elektronika Terpadu. Penerbit Erlangga. 1985.
d. Albert Paul Malvino. Computer Digital Electronic. 1991.
e. Roger L. Tokhem. Prinsip-prinsip Digital. Ed 2. Penerbit Erlangga. 1994.