Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEPERAWATAN KEDARURATAN

EKG NORMAL DAN EKG EMERGENCY

OLEH:

ANAK AGUNG SAYU RISMA KUSUMA DEWI (P0712021 8012)

KADEK LINDA VENIAWATI (P07120218 024)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

PRODI SARJANA TERAPAN

JURUSAN KEPERAWATAN

TAHUN 2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang
Widhi Wasa, karena berkat rahmat-Nya serta usaha keras penulis makalah Keperawatan
Kedaruratan ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Penulis menyadari makalah ini, jauh dari kata sempurna, karena itu penulis sangat
mengharapkan masukan dari berbagai pihak demi kesempurnaan dalam makalah
selanjutnya, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Semoga bantuan dan budi baik yang di berikan kepada penulis mendapat pahala
yang sepantasnya dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Karena itu kritik dan saran yang
sifatnya membangun sangat diharapkan dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah
ini.

Denpasar, 25 Januari 2021

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar............................................................................................................i
Daftar isi.......................................................................................................................ii
Bab I Pendahuluan......................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.....................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................4
1.3 Tujuan .................................................................................................................4
Bab II Pembahasan ....................................................................................................5
2.1 Gambaran Elektrokardiografi Normal.................................................................5
2.2 Kompleks Elektrokardiografi Normal.............................................................6
2.3 Nilai Interval Normal ........................................................................................6
2.4 EKG Emergency .................................................................................................7
Bab III Penutup...........................................................................................................13
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................13
Daftar Pustaka............................................................................................................14

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


EKG (Elektrokardiogram) adalah sebuah test yang dilakukan untuk melihat
aktivitas electrical pada jantung seseorang, biasanya hasil dari EKG pada sebuah
kertas EKG atau pada layar yang menggambarkan garis berupa aktivitas pada sebuah
jantung. Hasil test EKG biasanya dibaca oleh seorang dokter ahli atau cardiographer
untuk dilihat apakah terdapat aktivitas yang tidak normal atau tidak biasa pada
jantung seseorang atau tidak. Sekilas pengamatan pada rekaman EKG sudah cukup
untuk menegakkan diagnosis infark miokardium yang sedang terjadi, mengenali
aritmia yang kemungkinan besar mengancam jiwa, menentukan dengan tepat
pengaruh jangka panjang yang ditimbulkan oleh hipertensi yang menetap atau
pengaruh akut emboli paru masif, atau sekedar memberikan data-data kesehatan
kepada seseorang yang ingin memulai program olahraga.
Untuk menghasilkan data yang akurat dibutuhkan sadapan EKG pada 12 leads.
Leads sendiri adalah titik sadapan yang masing-masing sadapannya ditentukan oleh
lokasi dan orientasi berbagai elektroda pada tubuh. Setiap sadapan pada jantung dari
sudut tertentu yang memperkuat sensitivitasnya pada bagian jantung tersebut
dibandingkan dengan bagian jantung lainnya. Semakin banyak sudut pandang,
semakin banyak informasi yang didapat pula. Dua buah elektroda dipasang pada
lengan dan dua lagi dipasang pada kaki pasien dimana elektroda-elektroda tersebut
akan menghasilak enam sadapan ekstremitas yang meliputi tiga sadapan standar dan
tiga sadapan tamabahan/augmented. Enam elektroda lainnya dipasang sepanjang
dada untuk menghasilkan enam sadapan prakodial.
Berdasarkan data riset kesehatan Dasar 2013 Badan Litbangkes Kementrian
Kesehatan RI dan Data Penduduk Sasaran, Pusdatin Kementrian Kesehatan RI.
Jumlah prevalansi penyakit jantung koroner di Indonesia pada tahun 2013 pada umur
≥ 15 tahun sebesar 0,5% atau diperkirakan sekitar 883.447 orang, sedangkan
berdasarkan diagnosis dokter/gejala sebesar 1,5% atau diperkirakan 2.650.340 orang.

Sedangkan berdasarkan data riset kesehatan Dasar 2013 Badan Litbangkes


Kementrian Kesehatan RI dan Data Penduduk Sasaran, Pusdatin Kementrian
Kesehatan RI. Jumlah prevalansi penyakit gagal jantung di Indonesia pada tahun
2013 pada umur ≥ 15 tahun sebesar 0,13% atau diperkirakan sekitar 229.696 orang,
1
sedangkan berdasarkan diagnosis dokter/ gejala sebesar 0,3% atau diperkirakan
sekitar 520.068 orang.
Masih berdasarkan Data Riset Kesehatan RI secara global penyebab kematian
nomor satu setiap tahunnya disebabkan penyakit kardiovaskuler yaitu gangguan
fungsi jantung dan pembuluh darah seperti: Penyakit Jantung Koroner, Penyakit
Gagal Jantung atau Payah Jantung, Hipertensi dan Stroke. Pada tahun 2008
diperkirakan 17,3 juta kematian di sebabkan oleh penyakit kardiovaskuler ini, dan
lebih dari 3 juta kematian tersebut terjadi sebelum usia 60 tahun dimana seharusnya
pada usia tersebut dapat dicegah.
Berdasarkan data tersebut kontrol rutin untuk penderita jantung ataupun test
EKG untuk melihat aktivitas jantung pasien sangat disarankan untuk menghindari hal
yang terjadi pada kondisi pasien penderita jantung secara tiba-tiba. Tetapi selain dari
banyaknya pasien penderita jantung yang membuat antrian untuk kontrol rutin saja
mengakibatkan antrian panjang yang menyebabkan pasien penderita jantung yang
harusnya datang rutin menjadi sedikit malas untuk sekedar kontrol ke rumah sakit
seperti hasil wawancara dengan ibu Eha Suryati salah satu penderita penyakit
jantung. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan pembangunan aplikasi EKG
yang dapat digunakan menggunakan media mobile sebagai alat untuk menampilkan
data hasil test yang dapat dimonitoring dari jauh oleh dokter untuk melihat aktivitas
jantung pasiennya.
Dengan kemajuan teknologi maka pengembangan pada alat EKG terus
dikembangkan dari tahun ke tahun demi memudahkan pasien dan dokter untuk
mendapatakan informasi dari kondisi jantung pasien. Oleh karena itu algoritma pun
diterapkan pada alat EKG untuk mendapatkan analisa atau diagnosa awal yang
akurat pada kondisi jantung pasien, seperti penelitian yang dilakukan oleh Ir.
Sudjadi, MT, Ir. Agung Warsito, DHET serta Erwin Setyo Nugroho yang meneliti
tentang pengenalan Pola Sinyal Elektrokardiograf (EKG) dengan Jaringan Syaraf

2
Tiruan Backpropagation untuk Diagnosa Kelainan Jantung Manusia. Hasil
perancangan dapat mengenali pola-pola yang telah diajarkan dengan baik namun
gagal dalam pengenalan pola kemiripan yang belum diajarkan (generalisasi).
Sayangnya hasil perancangan ini tidak cocok diterapkan dalam pengenalan pola
rekaman EKG karena ketidakteraturan dan kerumitan kriteria kelainan jantung
sehingga sulit mendapatkan jaringan syaraf yang mampu mengeneralisasi pola-pola
mirip yang mengakibatkan proses pencarian bobot jaringan menjadi lama.
Selanjutnya ada penelitian yang dilakukan oleh P Hamilton tentang “Open
Source ECG Analysis” dimana alat pendeteksi yang digunakan merujuk pada
penelitian Pan dan Tompkins yang mengimplementasikan z80 microporcessor yang
kemudian diimprovisasi dan di porting ke C.Pada pendeteksi ini digunakan single
ECG channel yang beroperasi pada 200Hz [4]. Dari hasil penelitian P Hamilton yang
melalui proses QRS Detection dan Beat Classification dilakukan test berdasarkan
klasifikasi pada MIT/BIH dan AHA database. Hasil pendeteksian pada database
MIT/BIH untuk ventricular beats sensitivitasnya mencapai 93,91% dan prediksi
positifnya 96,84%. Sedangkan pendeteksian menggunakan database AHA didapatkan
hasil senstivitasnya mencapai 93,26% dan prediksi positifnya 97,83%.
Adapun penelitian lainnya yang dilakukan oleh V.S. Chouhan dan S.S.Mehta
tentang “Detection of QRS Complexes in 12-lead ECG using Adaptive Quantized
Threshold”. Pada penelitian ini alat yang digunakan untuk mendeteksi yaitu
menggunakan 12 lead channel ECG dimana penggunaan sadapan yang banyak
menghasilkan akurasi diagnosis yang lebih akurat pula. Terbukti pada penelitan ini
hasil yang di dapatkan untuk rate prediksi dan prediksi positinya masing-masing
98,56% dan 99,18% [6]. Sehingga metode ini yang akan digunakan pada penelitian
kali ini yang kemudian diimplementasikan pada platform android. Berdasarkan
masalah yang telah dipaparkan maka alat yang dibangun diperlakukan berbasis
mobile. Adapun platform yang digunakan adalah android mengacu pada laporan
kuartal II yang disusun oleh biro marketing bernama Waiwai Marketing, total
pengguna smartphone platform android adalah 94% dari pangsa pasar di kawasan
Asia Tenggara.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana Gambaran Elektrokardiografi Normal?
b. Bagaimana Kompleks Elektrokardiografi Normal ?
c. Bagaimana Nilai Interval Normal ?
d. Bagaimana EKG Emergency ?

1.3 Tujuan
a. Agar mahasiswa mampu memahami tentang bagaimana gambara Elektrokardiografi
Normal
b. Agar mahasiswa mampu memahami tentang Kompleks Elektrokardiografi Normal
c. Agar mahasiswa mampu memahami tentang Nilai Interval Normal
d. Agar mahasiswa mengetahui apa itu EKG Emergency
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gambaran Elektrokardiografi Normal


Kertas EKG mempunyai garis-garis baik vertikal maupun horisontal berjarak 1
mm. Garis yang lebih tebal mempunyai jarak 5 mm.Mengenai “waktu” diukur sepanjang
garis horisontal 1 mm = 0,04 detik atau 40 milidetik, 5 mm = 0,2 detik. “Voltage” listrik
diukur sepanjang garis vertikal dan dinyatakan dalam milimeter (10 mm = imV). Untuk
praktisnya kecepatan pencatatan adalah 25 mm/detik

Gambar 1. Gambaran Gelombang EKG Normal

Gambar diatas merupakan gambaran gelombang yang muncul pada EKG.


Gelombang tersebut menunjukkan aktivitas listrik jantung yang nantinya akan membantu
penegakan diagnosis penyakit jantung tertentu. Tanpa mengesampingkan klinis dari
pasien, penegakan diagnosis ACS misalnya, menggunakan kriteria EKG dalam
menegakkan diagnosis. EKG juga dapat untuk membantu diagnosis terutama yang
berhubungan dengan irama jantung, gangguan konduksi, dan kelainan otot jantung.
Setiap gelombang mencerminkan aktivitas listrik jantung diberbeda ruang.
Gelombang P (hijau) menunjukkan depolarisasi atrium, meskipun kecil tapi nyatanya ada
kontraksi atrium, namun repolarisasi atrium yang sangat kecil menyebabkan tidak
tampaknya gelombang. Gelombang QRS (Normal 0,07 – 0,10 detik) menunjukkan
depolarisasi ventrikel, dimana tinggi gelombang mencerminkan kekuatan aktivitas listrik
di ventrikel. Gelombang T menunjukkan repolarisasi ventrikel. PR interval (Normal 0,18-
0,20 detik) menunjukkan aktivitas listrik dari SA node melalui ventrikel menuju AV
node.

2.2 Kompleks Elektrokardiografi Normal.

Huruf besar QRS menunjukkan gelombang-gelombang yang relatif besar


(5mm) ; huruf kecil (qrs) menunjukkan gelombang-gelombang kecil (dibawah 5 mm).

Gelombang P (P wave) : defleksi yang dihasilkan oleh depolarisasi atrium.


Gelombang Q (q) atau Q wave : defleksi negatif pertama yang dihasilkan oleh
depolarisasi ventrikel dan mendahului defleksi positif pertama (R).

Gelombang R (r) atau R wave : defleksi positif pertama dari depolarisasi ventrikel.

Gelombang S (s) atau S wave : defleksi negatif pertama dari depolarisasi ventrikel
setelah defleksi positif pertama R. Gelombang T (T wave) defleksi yang dihasilkan
sesudah gelombang QRS oleh repolarisasi ventrikel.

Gelombang U (U wave) : suatu defleksi (biasanya positif) terlihat setelah gelombang T


dan mendahului gelombang P berikutnya. Biasanya terjadi repolarisasi lambat pada
sistem konduksi inverventrikuler (Purkinje).

2.3 Nilai Interval Normal

Nilai R - R : jarak antara 2 gelombang R berturut-turut. Bila irama ventrikel


teratur, interval antara 2 gelombang R berturut-turut dibagi dalam 60 detik akan
memberikan kecepatan jantung permenit (heart rate). Bila irama ventrikel tidak terartur,
jumlah gelombang R pada suatu periode waktu (misalnya 10 detik) harus dihitung dan
hasilnya dinayatakan dalam jumlah permenit.

Contoh : bila 20 gelombang yang dihitung dalam suatu interval 10 detik, maka frekwensi
jantung adalah 120 per menit.

Interval P-P : pada sinus ritme interval P-P akan sama dengan interval R-R. Tetapi bila
irama ventrikel tidak teratur atau bila kecepatan atrium dan venrikel berbeda tetapi
teratur, maka interval P-P diukur dari titik yang sama pada 2 gelombang P berturut-
turut dan frekwensi atrial per menit dihitung seperti halnya frekwensi ventrikel.

Interval P-R : Pengukuran interval ini untuk mengetahui waktu konduksi atrio
ventrikel. Termasuk disini waktu yang diperlukan untuk depolarisasi atrium dan sebagian
depolarisasi atrium, tambah perlambatan eksitasi daripada nodus atrio ventrikuler.
Diukur mulai dari permulaan gelombang P sampai permulaan kompleks QRS.

Sebenarnya lebih tepat interval ini disebut P-Q. Nilai normalnya : 0,12 - 0,20 detik.

Interval QRS : Interval ini adalah pengukuran seluruh waktu depolarisasi


ventrikel. Diukur dari permulaan gelombang Q (R bila tidak terlihat Q) sampai akhir
gelombang S. Batas atas nilai normalnya adalah 0,1 detik. Kadang-kadang pada
sandapan prekordial V2 atau V3, interval ini mungkin 0,11 detik.

Interval Q-T : Interval ini diukur dari permulaan gelombang Q sampai akhir
gelombang T. Dengan ini diketahui lamanya sistole elektrik. Interval Q-T normal tidak
melebihi 0,42 detik pada pria dan 0,43 detik pada wanita.

Interval Q-U : pengukuran ini mulai dari awal gelombang Q sampai akhir
gelombang U. Tidak diketahui arti kliniknya.

2.4 EKG Emergency

2.4.1. Ventrikel takikardi (VT)

Semua takikardi yang diakibatkan oleh cetusan impuls dari ventrikel

disebut VT. Pelepasan impuls yg cepat oleh fokus ektopic di Ventricel, yang

ditandai oleh sederetan denyut Ventrikel. Terdapat 3 atau lebih komplek yang

berasal dari ventrikel secara berurutan dengan laju lebih dari 100x/ menit.

Pengaruhnya terhadap jantung adalah ventrikel yang berdenyut sangat cepat tanpa

sempat mengosongkan dan mengisi darah secara sempurna, Akibatnya sirkulasi

darah menjadi tidak cukup.


Penyebab VT yang paling sering adalah penyakit jantung iskemik,

termasuk PJK, infark miokar akut dan kardiomiopati.

1. VT monomorfik

Ventrikel Takikardi Monomorfik terjadi ketika ada peningkatan otomatisasi

satu focus ektopik yang memicu siklus re-entri aktivitas listrik dalam ventrikel

dalam kecepatan lebih dari 100 denyut permenit dan memiliki morfologi QRS

yang konstan.

Ciri-cirinya :

 Irama : regular

 Frekwensi (HR) : 100-250x/menit

 GelombangP : tidak ada

 Interval P-R : tidak dapat dinilai

 Komplek QRS : lebar>0,12 detik dan morfologinya sama.

2. VT polimorfic

Ventrikel Takikardi Polimorfik memiliki variasi continue morfologi QRS.

Ciri-cirinya :
 Irama : regular - ireguler

 Frekwensi (HR) : 100-250x/menit

 GelombangP : tidak ada

 Interval P-R : tidak dapat dinilai

2.4.2. Ventrikel fibrilasi (VF)

Ventrikel fibrilasiadalah gambaran bergetarnya ventrikel, yang disebabkan

karena begitu banyak tempat yang memunculkan implus, sehingga sel jantung

tidak sempat berdepolarisasi dan repolarisasi sempurna. VF umumnya diawali

dengan episode VT.Disini sudah tidak terlihat gelombang P, QRS dan T. hal ini

biasa terjadi pada iskemiaakut atau infrak miokard.VF adalah aritmia maligna,

pada keadaan ini tidak ada lagi curah jantung yang efektif sehingga harus cepat

dilakukan resusitasi.

Ciri-cirinya :

 Irama : ireguler

 Frekwensi (HR) : tidak dapat dihitung

 GelombangP : tidak ada

 Gelombang QRS : tidak dapat dihitung, bergelombang dan tidak teratur.

2.4.3. Ventrikel asistole

Asistol adalah suatu gambaran yang menunjukkan henti aktivitas listrik

jantung. Pada keadaan asistol,tidakterjadi sirkulasi di dalam tubuh sehingga


darah dalam keadaan statis.Keadaan dimana tidak terdapatnya depolarisasi

ventrikel sehingga jantung tidak memiliki cardiac output.

Paling sering ditemukan dalam kasus henti jantung, sering timbul setelah VF

dan PEA.

Ciri-cirinya :

 Irama : tidakada

 Frekwensi (HR) : tidakada

 GelombangP : tidakada

 Interval P-R : tidakada

 Kompleks QRS : tidakada

2.4.4. Totsade de Pointer (bentuk VT yang berubah aksis)

Istilah Totsade de pointer (dalam bahasa perancis berarti berputar-putar

mengelilingi satu titik) adalah suatu bentuk takikardi ventrikel yang ditandai oleh

beberapa perubahan bentuk dan arah (aksis) komplek QRS dalam satu beberapa

denyutan (beat). Umumnya diawali dengan VES R on Tdan lebih lanjut dapat

menjadi VT dan VF.


Ciri-cirinya :

 Irama : tidak ada

 Frekwensi (HR) : > 100 kali/ menit

 GelombangP : tidak ada

 Interval P-R : tidak dapat dinilai

 Kompleks QRS : tampak lebar dan morfologinya berbeda-beda


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pembesaran ruang jantung dapat diketahui dari EKG. EKG (Elektrokardiogram)
adalah sebuah test yang dilakukan untuk melihat aktivitas electrical pada jantung seseorang,
biasanya hasil dari EKG pada sebuah kertas EKG atau pada layar yang menggambarkan garis
berupa aktivitas pada sebuah jantung. Hasil test EKG biasanya dibaca oleh seorang dokter
ahli atau cardiographer untuk dilihat apakah terdapat aktivitas yang tidak normal atau tidak
biasa pada jantung seseorang atau tidak. Dan Setiap gelombang mencerminkan aktivitas
listrik jantung diberbeda ruang. Gelombang P (hijau) menunjukkan depolarisasi atrium,
meskipun kecil tapi nyatanya ada kontraksi atrium, Sedangkan irama bukan sinus secara
praktis dalam penggunaan di IGD hanya terdiri dari 5 macam, antara lain: atrial flutter, atrial
fibrilasi, SVT, VT, dan VF. Frekuensi jantung dapat ditentukan dari EKG dengan melihat
jarak antara gelombang R ke R dalam satuan kotak kecil maupun kotak besar (dengan
ketentutan ritmis). Interval PR berhubungan dengan kelainan jantung yaitu AV blok.
Normalnya nterval PR adalah 0,12-0,22 detik (3-5,5 kotak kecil).
DAFTAR PUSTAKA

Green, J,M., Anthony, J,C, 2006. EKG 12-Sadapan Terpercaya. Terjemahan Oleh : Wahab,
A,S, ECG, Jakarta, indonesia, hal 253
Irawan B. 2000. Pelatihan EKG tingkat lanjutan untuk dokter. Naskah lengkap pelatihan
EKG lanjut.
Irawan B. 2008. Interpretasi Elektrokardiografi Secara Praktis. Medika FK UGM:
Yogyakarta
Suseno Y. 2016. The most common ECG challenges in emergency department. Disampaikan
dalam Workshop Emergency Cardiovascular FK Unsoed.
Thaler M. 2012. Satu-satunya buku EKG yang anda perlukan edisi 7. Jakarta : ECG