Anda di halaman 1dari 124

DIKLAT SUBSTANSI

AUDIT BMD

AUDIT ATAS
PENGELOLAAN
BARANG MILIK DAERAH

2008
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN
BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

CIAWI - BOGOR
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ………………………………………………………………………. i

Daftar isi ………………………………………………………………………………. ii

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang. ……………………………………………………. 1

B. Tujuan Pembelajaran. ……………………………………………. 1

C. Deskripsi Singkat Struktur Modul. ………………………………. 2

D. Metodologi Pembelajaran. ……………………………………….. 2

BAB II. PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH

A. Umum ……………………………………………………………… 3
1. Pejabat Pengelola Barang Milik Daerah ………………. 4
2. Siklus Pengelolaan Barang Milik Daerah …………….. 8
3. Pengamanan dan Pemeliharaan BMD ……………….. 20
4. Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan ………. 26
B. Penatausahaan …………………………………………………. 28
1. Penggolongan BMD dan Kodefikasi …………………. 28
2. Pembukuan ……………………………………………… 36
3. Inventarisasi …………………………………………….. 40
4. Pelaporan ……………………………………………….. 45
C. Pemanfaatan …………………………………………………… 47
D. Penilaian ………………………………………………………... 55
E. Penghapusan ………………………………………………….. 56
F. Pemindahtanganan …………………………………………… 56

Pusdiklatwas BPKP‐ 2008                                                                                                                                      i 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

BAB III. AUDIT ATAS ASET TETAP

A. Umum ………………………………………………………….. 58
B. Prosedur Audit ………………………………………………... 60
1. Prosedur Penentuan Risiko ………………………… 61
2. Penentuan Risiko Usaha dan Risiko Salah Saji
Material ………………………………………………… 62
3. Materialitas ……………………………………………. 63
4. Bukti Audit ……………………………………………. . 64
C. Merencanakan Audit ………………………………………… . 64
D. Aktivitas Audit …………………………………………………. 65
E. Audit Terhadap Aset Tetap …………………………………… 65
F. Standar Akuntansi Pemerintah ……………………………… 67

BAB IV. AUDIT TERHADAP BARANG MILIK DAERAH

A. Umum …………………………………………………………… 75
B. Merencanakan Audit terhadap BMD ………………………… 79
C. Pelaksanaan Audit BMD ……………………………………… 82
1. Pengujian Sistem Pengendalian Intern …………….. 82
2. Pengujian atas transaksi Pengelolaan BMD ……….. 85
3. Pengujian atas Saldo Barang Milik Daerah ………… 115
4. Pengujian atas Penyajian Barang Milik Daerah …… 118
D. Pelaporan Hasil Audit terhadap BMD ……………………….. 120

Daftar Pusaka.

Pusdiklatwas BPKP‐ 2008                                                                                                                                      ii 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
 

A. LATAR BELAKANG

Masalah barang milik daerah sampai saat ini belum mendapatkan perhatian yang
memadai. Banyak barang milik daerah yang belum tercatat dengan baik sehingga
menimbulkan permasalahan pada saat penyusunan laporan keuangan akhir tahun
masing-masing pemerintah daerah. Dari 26 laporan keuangan pemerintah daerah
provinsi tahun 2006, ternyata hanya satu provinsi yang memperoleh opini akuntan
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangannya. Sedangkan sisanya,
20 provinsi memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP), 1 provinsi
memperoleh opini Tidak Menyatakan Pendapat (TMP), dan 4 provinsi memperoleh
Pendapat Tidak Wajar (PTW). Demikian pula untuk 362 pemerintah daerah
Kabupaten/Kota yang memperoleh opini WDP hanya 3 Kab/kota, sedangkan
sisanya 284 Kabupaten/Kota memperoleh WDP, 56 Kabupaten/Kota mendapat TMP
serta 19 Kabupaten/Kota memperoleh PTW. Pada umumnya pengecualian (WDP)
ataupun alasan TMP serta PTW selalu dikaitkan dengan masalah Aktiva Tetap
yaitu masalah atas Barang Milik Daerah.

Permasalahan yang ada pada umumnya meliputi kurang tertibnya penatausahaan


terhadap barang milik daerah tersebut sehingga penyajian saldo dalam laporan
keuangan tidak dapat sepenuhnya diyakini kewajarannya.

B. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM

Setelah mengikuti diklat ini diharapkan para peserta diklat mampu untuk
melakukan audit terhadap barang milik daerah.


Pusdiklatwas BPKP ‐ 2008 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
 
2. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS

Setelah mengikuti sesi pembelajaran masing-masing, diharapkan para


peserta diklat ;

• Memahami tata cara pengelolaan barang milik daerah, meliputi


penatausahaan, pemanfaatan, penilaian maupun pemindahtanganan.

• Memahami pelaksanaan audit terhadap aset tetap dan Standar Akuntansi


Pemerintah yang terkait dengan aset tetap.

• Mampu melaksanakan teknik dan prosedur audit terhadap Barang Milik


Daerah.

C. DESKRIPSI SINGKAT STRUKTUR MODUL

Di dalam modul ini, peserta memperoleh sajian diawali dengan memberikan


gambaran umum mengenai barang milik daerah dan proses penatausahaannya
secara sekilas. Di bab berikutnya, disajikan mengenai pelaksanaan audit
terhadap aset tetap berikut Standar Akuntansi Pemerintah yang terkait dengan
aset tetap untuk dipahami sebelum bab mengenai pelaksanaan audit atas
barang milik daerah tersebut, penggunaan prosedur dan teknik audit,
perencanaan serta pelaksanaannya, pendekatan audit sampai ke pelaporannya.

D. METODOLOGI PEMBELAJARAN

Mata diklat ini disampaikan dengan metode andragogi, dimana waktu yang
digunakan terbagi dalam tiga kelompok yang masing-masing dialokasikan waktu
sepertiganya, yaitu untuk ceramah, diskusi dan latihan. Peserta setelah diberikan
penjelasan mengenai pengelolaan barang milik daerah, standar akuntansi yang
berlaku, serta pokok-pokok pelaksanaan audit terhadap barang milik daerah,
dibimbing melalui simulasi untuk merencanakan, melaksanakan dan
menyimpulkan hasil audit barang milik daerah sebagai latihan yang diberikan
secara bertahap sesuai materi yang disampaikan.

Pusdiklatwas BPKP ‐ 2008 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

BAB II
PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH
TPK ; Diharapkan mampu memahami tata cara pengelolaan barang milik daerah,
meliputi penatausahaan, pemanfaatan, penilaian maupun pemindahtanganan.

A. UMUM

Reformasi pengelolaan keuangan negara/daerah menuntut perubahan sistem


penatausahaan keuangan negara/daerah ke akrual basis, meningkatkan
transparansi serta adanya kewajiban melaporkan posisi keuangan. Terhadap
pengelolaan barang milik daerah sebagai bagian dari pengelolaan keuangan daerah,
dilaksanakan secara terpisah dari pengelolaan barang milik Negara.

Barang milik Daerah meliputi barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD
dan barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah, meliputi:

• barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis;

• barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/kontrak;

• barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang; atau

• barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah


memperoleh kekuatan hukum tetap.

Pengelolaan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional,


kepastian hukum transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas, dan
kepastian nilai, meliputi:

• perencanaan kebutuhan dan penganggaran;

• Pengadaan

• Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran;

• Penggunaan

• penatausahaan;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        3 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 

• pema
anfaatan;

• penga
amanan dan pemeliha
araan;

• penila
aian;

• pengh
hapusan;

• pemin
ndahtangan
nan;

• pemb
binaan, pengawasan dan pengendalian;

• pemb
biayaan; dan
n tuntutan ganti
g rugi.

1. PE
EJABAT PENGELOL
LA BARANG
G MILIK DA
AERAH

Kepala Daerah sebagai pemegang


p kekuasaan
n pengelolaan barang milik da
aerah
berwe
enang dan bertanggu
ungjawab atas
a pembinaan dan pelaksanaa
an pengelo
olaan
baran
ng milik dae
erah;

Dalam
m pelaksan
naannya Ke
epala Daera
ah dibantu oleh:
o

a. Sekretarris Daerah selaku


s peng
gelola;
b. Kepala Biro/Bagian
B n Perlengka
apan/Umum
m/Unit peng
gelola baran
ng milik da
aerah
selaku pe
embantu pe
engelola;
c.. Kepala SKPD
S selakku penggun
na;
d. Kepala Unit
U Pelaksa
ana Teknis Daerah se
elaku kuasa
a pengguna
a;
e. Penyimp
pan barang milik daera
ah; dan Pen
ngurus bara
ang milik da
aerah.

Pusdikla
atwas BPKP – 20
008                                                                                                                                                        4 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Kewenangan Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang


milik daerah, adalah :

a. menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah;


b. menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah
dan bangunan;
c. menetapkan kebijakan pengamanan barang milik daerah;
d. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah yang memerlukan
persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
e. menyetujui usul pemindahtanganan dan penghapusan barang milik Daerah
sesuai batas kewenangannya; dan
f. menyetujui usul pemanfaatan barang milik daerah selain tanah dan/atau
bangunan.

Sekretaris Daerah selaku pengelola, berwenang dan bertanggungjawab:

a. menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan barang milik daerah;


b. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan barang milik daerah;
c. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/perawatan
barang milik daerah;
d. mengatur pelaksanaan pemanfaatan, penghapusan dan pemindahtanganan
barang milik daerah yang telah disetujui oleh Kepala Daerah;
e. melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi barang milik daerah;
f. melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan barang milik
daerah.

Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola barang milik daerah


bertanggungjawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah
yang ada pada masing-masing SKPD;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        5 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku pengguna barang milik daerah,
berwenang dan bertanggung jawab:

a. mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi satuan kerja


perangkat daerah yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui
pengelola;
b. mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan
penggunaan barang milik daerah yang diperoleh dari beban APBD dan
perolehan lainnya yang sah kepada Kepala Daerah melalui pengelola;
c. melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada
dalam penguasaannya;
d. menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk
kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat
daerah yang dipimpinnya;
e. mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam
penguasaannya;
f. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah
dan/atau bangunan yang tidak memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah dan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan
kepada Kepala Daerah melalui pengelola;
g. menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk
kepentingan penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat
daerah yang dipimpinnya kepada Kepala Daerah melalui pengelola;
h. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik
daerah yang ada dalam penguasaannya; dan
i. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran
(LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam
penguasaannya kepada pengelola.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah selaku kuasa pengguna barang milik daerah,
berwenang dan bertanggung jawab:

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        6 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 

a. meng
gajukan ren
ncana kebu
utuhan bara
ang milik da
aerah bagi unit kerja yang
y
dipim
mpinnya ke
epada Kep
pala Satua
an Kerja Perangkat Daerah yang
y
bersa
angkutan;
b. melakukan penccatatan dan
n inventarissasi barang milik daera
ah yang be
erada
dalam
m penguasa
aannya;
c. meng
ggunakan barang
b miliik daerah yang
y berad
da dalam penguasaa
p nnya
untuk
k kepenting
gan penyellenggaraan ungsi unit kerja
n tugas pokkok dan fu
yang
g dipimpinnya;
d. meng
gamankan dan meme
elihara bara
ang milik da
aerah yang
g berada da
alam
penguasaannya
a;
e. melakukan peng
gawasan da dalian atas penggunaan barang milik
an pengend
ah yang ada
daera a dalam pe
enguasaann
nya; dan
f. meny
yusun dan
n menyam
mpaikan La
aporan Ba
arang Kua
asa Pengg
guna
Seme
esteran (LB
BKPS) dan
n Laporan Barang Ku
uasa Peng
gguna Tahu
unan
(LBKPT) yang berada
b dala
am penguassaannya ke
epada kepa
ala satuan kerja
peran
ngkat daera
ah yang berrsangkutan
n.

Penyimpan bara
ang bertuga
as menerim
ma, menyim
mpan dan menyalurka
m an barang yang
y
berad
da pada pe
engguna/kuasa pengguna; dan Pengurus
P barang bertu
ugas meng
gurus
baran
ng milik daerah
d da masing--masing pengguna/kuasa
dallam pemakaian pad
pengg
guna.

Pusdikla
atwas BPKP – 20
008                                                                                                                                                        7 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 

2. SIIKLUS PEN
NGELOLAA
AN BARAN
NG MILIK DAERAH
D

2.1. PERENCA
P BUTUHAN DAN PENGANGGAR
ANAAN KEB RAN

Peren
ncanaan kebutuhan dan peme
eliharaan barang milik daerah disusun da
alam
renca
ana kerja dan anggara
an satuan kerja
k peran
ngkat daera
ah setelah memperhatikan
keterssediaan ba
arang milikk daerah yang
y ada serta
s data barang ya
ang ada da
alam
pema
akaian.

Peren
ncanaan ke
ebutuhan dan
d pemelih
haraan barrang milik daerah
d berrpedoman pada
p
stand
darisasi sarrana dan prasarana kerja pem
merintahan daerah yang ditetapkan
denga
an Peraturran Kepala
a Daerah dan stand
dar harga yang ditettapkan den
ngan
Keputusan Kepa
ala Daerah..

Pengelola bersa guna membahas usul Rencana Kebutuha


ama pengg an Barang Milik
Daera
ah/Rencana
a Kebutuh arang Milikk Daerah masing-ma
han Pemeliiharaan Ba asing
SKPD
D tersebut dengan memperhat
m tikan data barang pada
p pengguna dan//atau
penge
elola untuk
k ditetapka
an sebaga
ai Rencana
a Kebutuha
an Barang
g Milik Da
aerah
(RKB
BMD) dan Rencana
R Ke
ebutuhan Pe
emeliharaa
an Barang Milik
M Daerah
h (RKPBMD
D).

Pusdikla
atwas BPKP – 20
008                                                                                                                                                        8 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Kepala Biro/Bagian Perlengkapan/Umum/Unit pengelola barang milik daerah sesuai


tugas dan fungsinya duduk sebagai Tim Pemerintah Daerah dalam penyusunan
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Berdasarkan APBD yang telah ditetapkan, pembantu pengelola menyusun Daftar


Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan
Barang Milik Daerah (DKPBMD), yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Daerah.sebagai dasar pelaksanaan pengadaan dan pemeliharaan barang milik
daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        9 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

ALUR PROSES PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGANGGARAN ATAS BARANG MILIK DAERAH. 

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        10 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 

2.2. PENGADAA
P AN

Pengadaan barrang milik daerah


d dila
aksanakan berdasarkkan prinsip--prinsip efisien,
efektif, transpara
an dan terb
buka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan akkuntabel.

ang/jasa pemerintah daerah dilaksanakan


Pengadaan bara n oleh Panitia Pengad
daan
ng/Jasa Pemerintah Daerah yang
Baran y ditetapkan den
ngan Keputusan Ke
epala
Daera
ah. Kepala
a Daerah dapat mellimpahkan kewenang
gan kepada
a SKPD untuk
u
memb
bentuk Pan
nitia Pengad
daan Baran
ng/Jasa.

Pengadaan ba
arang/jasa pemerinta
ah daerah
h dilaksan
nakan sessuai keten
ntuan
peraturan perun
ndang-unda
angan. Pen
ngadaan ba
arang/jasa pemerintah daerah yang
y
bersiffat khusus dan meng
ganut asass keseragam
man, diteta gan Keputusan
apkan deng
Kepala Daerah.

Realissasi pelak
ksanaan pengadaan
p barang/ja
asa pemerintah dae
erah dilakukan
peme
eriksaan oleh
o Panitia Pemerikksa Baran
ng/Jasa Pemerintah Daerah yang
y
diteta
apkan deng
gan Keputu
usan Kepala Daerah. Kepala Da
aerah dapa
at melimpahkan
kewenangan ke
epada Kepala Satua
an Kerja Perangkatt Daerah (SKPD) untuk
u
memb
bentuk Pan
nitia Pemeriiksa Barang
g/Jasa.

Pusdikla
atwas BPKP – 20
008                                                                                                                                                        11 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 

Pengguna mem
mbuat lapo
oran hasil pengadaa
an barang//jasa peme
erintah da
aerah
da
kepad Kepala
a Daerah melalui pengelola dilengkap
pi dokume
en pengad
daan
baran
ng/jasa.

2.3. PENERIMA
P AAN DAN PENYALUR
P RAN BARA
ANG MILIK
K DAERAH

Penerimaan barrang milik daerah


d seba
agai tindak lanjut dari hasil penga
adaan dan//atau
dari pihak
p ketiga
a harus dilengkapi den
ngan dokum
men pengad
daan dan berita acara.

Penyimpanan dan
d penya
aluran bara
ang milik daerah se
ebagai tind
dak lanjut dari
penerrimaan barang milik daerah baik melalu
ui pengada
aan maupu
un sumban
ngan/
bantu
uan/hibah merupakan
m suatu rang
gkaian kegia
atan dalam
m rangka terrtib adminisstrasi
penge
elolaan barrang milik daerah.
d

Dalam
m pelaksan
naan penyimpanan da
an penyalu
uran barang
g milik dae
erah diperlukan
ketelitian sehing
gga kegiatan penyimpa
anan disesuaikan den
ngan sifat dan jenis ba
arang
untukk penempa
atan pada gudang penyimpana
p an, sedang
gkan dalam
m pelaksan
naan
penya
aluran dapa
at dilakukan
n sesuai rencana peng
ggunaan un
ntuk memenuhi kebutu
uhan
dalam ggaraan tugas pokok dan fungsi..
m penyeleng

Pusdikla
atwas BPKP – 20
008                                                                                                                                                        12 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

a. Penerimaan Barang Milik Daerah

Semua barang bergerak penerimaannya dilakukan oleh penyimpan barang/


pengurus barang, untuk itu penerimaan barang oleh penyimpanan barang/pengurus
barang dilaksanakan di gudang penyimpanan.

Dasar penerimaan barang ialah surat perintah kerja/surat perjanjian/kontrak


pengadaan barang yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang; Barang yang
akan diterima harus disertai dokumen yang jelas menyatakan macam/jenis, banyak,
harganya dan spesifikasi barang;

Pernyataan penerimaan barang dinyatakan sah apabila berita acara pemeriksaan


barang telah ditandatangani oleh Panitia Pemeriksa Barang Daerah, penyimpan/
pengurus barang dan penyedia barang/jasa, apabila berdasarkan penelitian ternyata
ada kekurangan atau syarat-syarat yang belum terpenuhi, maka penerimaan barang
dilakukan dengan membuat tanda penerimaan sementara barang yang dengan
tegas membuat sebab-sebab daripada penerimaan sementara barang; Apabila
kekurangan dan syarat-syarat yang belum dipenuhi tersebut sudah terpenuhi, maka
dapat dilaksanakan penerimaan barang tersebut.

Apabila barang telah diterima akan tetapi belum sempat diperiksa, maka penerimaan
barang dilaksanakan dengan membuat tanda penerimaan barang sementara,
dengan diberi catatan barang belum diteliti oleh Panitia Pemeriksa Barang Daerah;

Panitia Pemeriksa Barang Daerah.

Panitia Pemeriksa Barang Daerah (PPBD) ditetapkan dengan Keputusan


Kepala Daerah dengan susunan personalia melibatkan unsur teknis terkait.
Kepala Daerah dapat melimpahkan kewenangan pembentukan Panitia
Pemeriksa Barang Daerah kepada Kepala SKPD dengan Keputusan Kepala
Daerah;

Panitia Pemeriksa Barang Daerah setelah melaksanakan pekerjaannya


membuat Berita Acara hasil pemeriksaan barang, jika ternyata bahwa barang
yang diperiksa tersebut tidak sesuai dengan persyaratan sebagaimana tertera

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        13 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

dalam surat Perjanjian dan/atau dokumen penyerahan lainnya, maka Berita


Acara Pemeriksaan Barang segera diberitahukan kepada Panitia/Pejabat
Pengadaan yang melaksanakan pengadaan.

Berdasarkan Berita Acara pemeriksaan barang tersebut, Panitia/Pejabat


Pengadaan harus segera mengambil tindakan penyelesaian, jika pelaksanaan
penyelesaian barang dimaksud memerlukan waktu yang lama, maka barang
tersebut dapat diserahkan kepada penyimpan barang /pengurus barang untuk
disimpan sebagai barang titipan.

Dalam hal ini harus dibuat Berita Acara sementara yang memuat semua
data/keterangan yang diperlukan sehubungan dengan kekurangan-kekurangan
barang dimaksud.

b. Penyimpanan Barang Milik Daerah

Penyimpanan barang daerah dilaksanakan dalam rangka pengurusan,


penyelenggaraan dan pengaturan barang persediaan di dalam gudang/ruang
penyimpanan sehingga setiap waktu diperlukan dapat dilayani dengan cepat dan
tepat.

Kegiatan penyimpanan barang meliputi ;

a) menerima, menyimpan,mengatur, merawat dan menjaga keutuhan barang


dalam gudang/ruang penyimpanan agar dapat dipergunakan sesuai dengan
rencana secara tertib, rapi dan aman;
b) menyelenggarakan administrasi penyimpanan/pergudangan atas semua
barang yang ada dalam gudang;
c) melakukan stock opname secara berkala ataupun insidentil terhadap barang
persediaan yang ada didalam gudang agar persediaan selalu dapat memenuhi
kebutuhan;
d) membuat laporan secara berkala atas persediaan barang yang ada di gudang.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        14 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

c. Penyimpan/pengurus barang

Penyimpan/pengurus barang adalah pegawai yang ditugaskan untuk menerima,


menyimpan dan mengeluarkan barang milik daerah yang diangkat oleh pengelola
untuk masa 1 (satu) tahun anggaran dan bertanggungjawab kepada pengelola
melalui atasan langsung nya.

Penyimpan barang dapat diangkat kembali pada tahun anggaran berikutnya


dengan memperhatikan ketentuan jabatan, dimana jabatan penyimpan barang
tersebut dapat dirangkap dengan pengurus barang sepanjang beban
tugas/volume kegiatan tidak terlalu besar.

Setiap tahun pengelola menunjuk/menetapkan kembali penyimpan barang dalam


lingkungan Pemerintah Daerah dengan memperhatikan syarat-syarat sebagai
berikut:

1) diusulkan oleh Kepala SKPD yang bersangkutan;


2) serendah-rendahnya menduduki golongan II dan setinggi tingginya
golongan III, mengacu kepada Undang- undang kepegawaian;
3) minimal mempunyai pengalaman dalam pengurusan barang/telah
mengikuti kursus penyimpan barang;
4) mempunyai sifat dan akhlak yang baik, antara lain jujur, teliti, dan
dapat dipercaya.

Dalam keputusan penunjukan/penetapan kembali penyimpan barang oleh


pengelola sekaligus ditunjuk atasan langsung nya yang antara lain berkewajiban
memberikan persetujuan atas setiap pengeluaran barang dan melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaannya, serta ditetapkan pula jumlah atau
besarnya insentif bagi penyimpan barang dimaksud.

Tugas dan tanggungjawab penyimpan/pengurus barang:

1) menerima, menyimpan dan menyerahkan barang milik daerah ke unit pemakai;


2) mencatat secara tertib dan teratur penerimaan barang, pengeluaran barang
dan keadaan persediaan barang ke dalam buku/kartu barang menurut jenisnya
terdiri dari:

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        15 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

i. Buku barang inventaris;

ii. Buku barang pakai habis;

iii. Buku hasil pengadaan;

iv. Kartu barang;

v. Kartu persediaan barang.

3) menghimpun seluruh tanda bukti penerimaan barang dan pengeluaran/


penyerahan secara tertib dan teratur sehingga memudahkan mencarinya
apabila diperlukan sewaktu-waktu terutama dalam hubungan dengan
pengawasan barang;
4) membuat laporan mengenai barang yang diurusnya berdasarkan Kartu
Persediaan Barang apabila diminta dengan sepengetahuan atasan
langsungnya;
5) membuat laporan, baik secara periodik maupun secara insidentil mengenai
pengurusan barang yang menjadi tanggungjawabnya kepada pengelola
melalui atasan langsungnya;
6) membuat perhitungan/pertanggung jawaban atas barang yang diurusnya;
7) bertanggungjawab kepada pengelola melalui atasan langsung mengenai
barang-barang yang diurusnya dari kerugian, hilang, rusak atau dicuri dan
sebab lainnya;
8) melakukan perhitungan barang (stock opname) sedikitnya setiap 6 (enam)
bulan sekali, yang menyebutkan dengan jelas jenis jumlah dan keterangan lain
yang diperlukan, untuk selanjutnya dibuatkan Berita Acara perhitungan barang
yang ditandatangani oleh penyimpan barang.
9) Dalam hal penyimpan barang karena sesuatu hal tidak dapat melaksanakan
tugasnya, maka untuk menjaga kelangsungan tugas/ pekerjaan penyimpan
barang tersebut, dapat dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :

a) Penyimpan barang yang tidak mampu melaksanakan tugasnya,


ditunjuk seorang pegawai lainnya sebagai penyimpan barang
pengganti. Penunjukan pegawai lainnya dilakukan oleh Pengelola

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        16 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Barang atas usul Kepala SKPD. Penyerahan tugas tersebut harus


dibuat berita acara pemeriksaan gudang oleh atasan langsung dan
dibuat berita acara pemeriksaan serta dilaporkan kepada Pengelola.

b) Penyimpan/pengurus barang yang akan meninggalkan tugas


sementara, dapat ditunjuk seorang pegawai lainnya untuk melakukan
tugas sementara penyimpan/pengurus barang. Penyerahan tugas
tersebut harus dibuat berita acara pemeriksaan gudang oleh atasan
langsung dan dibuat berita acara pemeriksaan serta dilaporkan kepada
Pengelola, apabila Penyimpan Barang yang bersangkutan kembali
melakukan tugasnya, maka penunjukan pengganti sementara tersebut
harus dicabut dan penyerahannya dibuat berita acara dan harus
dilaporkan kepada Pengelola.

Kewajiban Atasan Langsung Penyimpan.

1). Atasan langsung penyimpan/pengurus barang wajib secara berkala 6


(enam) bulan sekali mengadakan pemeriksaan atas penyelenggaraan tugas
penyimpan barang, yaitu pemeriksaan pembukuan/pencatatan dan
pemeriksaan gudang. Hasil pemeriksaan harus dibuat dalam berita acara
pemeriksaan dan dicatat dalam buku pemeriksaan penyimpan barang yang
bersangkutan. Hasil pemeriksaan dimaksud dikirim kepada Pengelola dan
tembusannya masing-masing untuk Kepala SKPD yang bersangkutan,
Pembantu Pengelola dan Pengawas Fungsional Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota. Dalam hal atasan langsung penyimpan barang
berhalangan maka Pengelola atau pejabat yang berwenang menunjuk
pejabat lain sebagai atasan langsung penyimpan/pengurus barang.
2). Dalam hal terjadi kerugian akibat kelalaian penyimpan barang, atasan
langsung turut bertanggungjawab atas kerugian yang terjadi.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        17 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

d. Penyaluran Barang Milik Daerah

Penyaluran merupakan kegiatan untuk melakukan pengiriman barang dari gudang ke


unit kerja.

Fungsi penyaluran adalah menyelenggarakan pengurusan pembagian/pelayanan


barang secara tepat, cepat dan teratur sesuai dengan kebutuhan.

Kegiatan Penyaluran terdiri atas :

a. Menyelenggarakan penyaluran barang kepada unit kerja;


b. Menyelenggarakan adminstrasi penyaluran dengan tertib dan rapi;dan
c. Membuat laporan realisasi penyaluran barang milik daerah.

2.4. PENGGUNAAN BARANG MILIK DAERAH

Penggunaan merupakan penegasan pemakaian barang milik daerah yang ditetapkan


oleh Kepala Daerah kepada pengguna/kuasa pengguna barang sesuai tugas dan
fungsi SKPD yang bersangkutan.

Penetapan status penggunaan barang milik daerah pada masing-masing SKPD


dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. jumlah personil/pegawai pada SKPD;


b. standar kebutuhan tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau
bangunan untuk menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi SKPD;
c. beban tugas dan tanggungjawab SKPD; dan
d. jumlah, jenis dan luas, dirinci dengan lengkap termasuk nilainya.

Status penggunaan barang milik daerah pada masing- masing SKPD ditetapkan
dalam rangka tertib pengelolaan barang milik daerah dan kepastian hak, wewenang
dan tanggungjawab kepala SKPD.

1) Tata cara penetapan status penggunaan.


b) pengguna melaporkan barang milik daerah yang berada pada SKPD yang
bersangkutan kepada pengelola disertai usul penetapan status penggunaan;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        18 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

c) pengelola melalui pembantu pengelola, meneliti laporan/usul penetapan status


penggunaan barang milik daerah tersebut;
d) setelah dilakukan penelitian atas kebenaran usulan SKPD, pengelola
mengajukan usul kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan status
penggunaannya.
e) penetapan status penggunaan barang milik daerah untuk melaksanakan tugas
dan fungsi SKPD dan/atau dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka
menjalankan pelayanan umum sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD yang
bersangkutan;
f) penetapan status penggunaan ditetapkan oleh Kepala Daerah;
g) atas penetapan status penggunaan, masing-masing Kepala SKPD melalui
penyimpan/pengurus barang wajib melakukan penatausahaan barang daerah
yang ada pada pengguna masingmasing.

2) Penyerahan tanah dan/atau bangunan.

a. pengguna barang wajib menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak


dipergunakan untuk menyelenggarakan tugas dan fungsi SKPD kepada Kepala
Daerah melalui pengelola;
b. Kepala Daerah menetapkan barang milik daerah berupa tanah dan/atau
bangunan yang harus diserahkan oleh pengguna karena sudah tidak
dipergunakan untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD yang
bersangkutan;
c. Pengguna yang tidak menyerahkan tanah dan/atau bangunan tersebut diatas
dikenakan sanksi berupa pembekuan dana pemeliharaan tanah dan/atau
bangunan tersebut.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        19 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 

3. PE
ENGAMAN
NAN DAN PEMELIHA
P ARAAN BAR
RANG MIL
LIK DAERA
AH

1) PENGAMAN
P NAN

Peng
gamanan merupakan
m kegiatan/tindakan pe
engendalia
an dan pen
nertiban da
alam
upaya
a pengurus
san barang milik da
aerah seca
ara fisik, administratif
a f dan tinda
akan
hukum
m. Peng
gamanan barang milik d
daerah d
dititik be
eratkan p
pada
penerrtiban/peng
gamanan se
ecara fisik dan
d adminiistratif, sehingga barang milik da
aerah
terseb
but dapat diperguna
akan/dimanfaatkan se
ecara optimal serta terhindar dari
penye
erobotan pe
engambil alihan atau klaim
k dari pihak
p lain.

Peng
gamanan dilakukan terrhadap bara
ang milik da
aerah berup
pa;

• b
barang inventaris dalam
m proses pemakaian dan
d
• b
barang pers
sediaan dalam gudang
g

yang diupayakan secara fis


sik, admin
nistratif dan
n tindakan hukum.

Pemb
biayaan pe
engamanan
n barang miik
m daerah
h dibebankkan pada APBD
A dan//atau
sumb
ber lainnya yang
y sah dan
d tidak me
engikat.

Pusdikla
atwas BPKP – 20
008                                                                                                                                                        20 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

a. Pengamanan fisik
a) Barang inventaris.

Pengamanan terhadap barang-barang bergerak dilakukan dengan cara:

• pemanfaatan sesuai tujuan.

• penggudangan/penyimpanan baik tertutup maupun terbuka.

• pemasangan tanda kepemilikan.

Pengamanan terhadap barang tidak bergerak dilakukan dengan cara :

- Pemagaran.

- Pemasangan papan tanda kepemilikan.

- Penjagaan.

b) Barang persediaan.

Pengamanan terhadap barang persediaan dilakukan oleh penyimpan


dan/atau pengurus barang dengan cara penempatan pada tempat
penyimpanan yang baik sesuai dengan sifat barang tersebut agar barang
milik daerah terhindar dari kerusakan fisik.

b. Pengamanan administratif.
a) barang inventaris.

Pengamanan administrasi terhadap barang bergerak dilakukan dengan cara :

• pencatatan/inventarisasi.
• kelengkapan bukti kepemilikan antara lain BPKB, faktur pembelian dll.
• pemasangan label kode lokasi dan kode barang berupa stiker.

Pengamanan administrasi terhadap barang tidak bergerak dilakukan dengan:

• pencatatan/inventarisasi.
• penyelesaian bukti kepemilikan seperti: IMB, Berita Acara serah terima,
Surat Perjanjian, Akte Jual Beli dan dokumen pendukung lainnya.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        21 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

b) Barang persediaan.

Pengamanan administratif terhadap barang persediaan dilakukan dengan cara


pencatatan dan penyimpanan secara tertib.

c. Tindakan hukum.

Pengamanan melalui upaya hukum terhadap barang inventaris yang bermasalah


dengan pihak lain, dilakukan dengan cara:

• negosiasi (musyawarah) untuk mencari penyelesaian.


• Penerapan hukum.

d. Aparat Pelaksana Pengamanan

Pengamanan pada prinsipnya dilaksanakan oleh aparat pelaksana Pemerintah


Daerah sesuai dengan tugas dan fungsinya.

a) Pengamanan administratif.

• Pencatatan oleh Pengguna dan dilaporkan kepada pengelola melalui


Pembantu Pengelola;

• Pemasangan label dilakukan oleh Pengguna dengan koordinasi Pembantu


Pengelola;

• Pembantu Pengelola dan/atau SKPD menyelesaikan bukti kepemilikan


barang milik daerah.

b) Pengamanan fisik.

• Pengamanan fisik secara umum tehadap barang inventaris dan barang


persediaan dilakukan oleh pengguna.

• penyimpanan bukti kepemilikan dilakukan oleh pengelola.

• pemagaran dan pemasangan papan tanda kepemilikan dilakukan oleh


pengguna terhadap tanah dan/atau bangunan yang dipergunakan untuk

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        22 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi dan oleh Pembantu Pengelola


terhadap tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan oleh pengguna
kepada Kepala Daerah.

c) Tindakan Hukum.

• musyawarah untuk mencapai penyelesaian atas barang milik daerah yang


bermasalah dengan pihak lain pada tahap awal dilakukan oleh pengguna dan
pada tahap selanjutnya oleh Pembantu Pengelola .

• Upaya pengadilan Perdata maupun Pidana dengan dikoordinasikan oleh Biro


Hukum/Bagian Hukum.

• Penerapan hukum melalui tindakan represif/pengambil alihan, penyegelan


atau penyitaan secara paksa dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja
(Satpol PP) bersama-sama Biro Hukum/ Pembantu Pengelola dan SKPD
Terkait.

2) PEMELIHARAAN

Pemeliharaan merupakan kegiatan atau tindakan agar semua barang selalu dalam
keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna.
Pemeliharaan dilakukan terhadap barang inventaris yang sedang dalam unit
pemakaian, tanpa merubah, menambah atau mengurangi bentuk maupun kontruksi
asal, sehingga dapat dicapai pendayagunaan barang yang memenuhi persyaratan
baik dari segi unit pemakaian maupun dari segi keindahan.

Penyelenggaraan pemeliharaan dapat berupa :

a) Pemeliharaan ringan adalah pemeliharaan yang dilakukan sehari hari oleh Unit
pemakai / pengurus barang tanpa membebani anggaran;
b) Pemeliharaan sedang adalah pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan
secara berkala oleh tenaga terdidik/terlatih yang mengakibatkan pembebanan
anggaran; dan

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        23 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

c) Pemeliharaan berat adalah pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara


sewaktu-waktu oleh tenaga ahli yang pelaksanaannya tidak dapat diduga
sebelumnya, tetapi dapat diperkirakan kebutuhannya yang mengakibatkan
pembebanan anggaran.

Penyelenggaraan pemeliharaan dimaksudkan untuk mencegah barang milik daerah


terhadap bahaya kerusakan yang disebabkan oleh faktor:

a) Biologis;
b) Cuaca, suhu dan sinar;
c) Air dan kelembaban;
d) Fisik yang meliputi proses penuaan, pengotoran debu, sifat barang yang
bersangkutan dan sifat barang lain, benturan, getaran dan tekanan; dan
e) Lain - lainnya yang dapat mengakibatkan perubahan kualitas dan sifat-sifat
lainnya yang mengurangi kegunaan barang.

Barang yang dipelihara dan dirawat adalah barang inventaris yang tercatat dalam
buku inventaris

a. Rencana pemeliharaan barang


a) Rencana pemeliharaan barang yaitu penegasan urutan tindakan atau gambaran
pekerjaan yang akan dilaksanakan terhadap barang inventaris, yang dengan
tegas dan secara tertulis memuat macam/jenis barang, jenis pekerjaan,
banyaknya atau volume pekerjaan, perkiraan biaya, waktu pelaksanaan dan
pelaksanaannya.
b) Setiap unit diwajibkan untuk menyusun rencana pemeliharaan barang dimaksud
dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Harus memuat ketentuan mengenai macam/jenis barang, jenis pekerjaan,
banyaknya atau volume pekerjaan, perkiraan biaya, waktu dan
pelaksanaannya;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        24 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

2) Menjadi bahan dalam menyusun rencana APBD, khususnya Rencana


Tahunan Pemeliharaan Barang; dan
3) Rencana Tahunan Pemeliharaan Barang disampaikan kepada Pengelola
melalui Pembantu Pengelola untuk dipergunakan sebagai pedoman selama
tahun anggaran yang bersangkutan.
c) Untuk Rencana Tahunan pemeliharaan barang bagi SKPD ditandatangani oleh
Kepala SKPD dan diajukan pada waktu dan menurut prosedur yang ditetapkan,
dengan demikian maka Rencana Tahunan Pemeliharaan barang merupakan
landasan bagi pelaksanaan pemeliharaan barang. Setiap perubahan yang akan
diadakan pada Rencana Pemeliharaan Barang harus dengan sepengetahuan
Kepala SKPD yang bersangkutan, sebelum diajukan kepada Pengelola melalui
Pembantu Pengelola.

b. Pelaksanaan pemeliharaan
a) Pelaksanaan pemeliharaan barang milik daerah dilaksanakan oleh pembantu
pengelola, pengguna dan kuasa pengguna sesuai dengan daftar kebutuhan
pemeliharaan barang milik daerah (DKPBMD) yang ada di masing-masing
SKPD.
b) Pelaksanaan pemeliharaan barang milik daerah ditetapkan dengan Surat
Perintah Kerja/Surat Perjanjian/Kontrak yang ditandatangani oleh Kepala SKPD.
c) Dalam rangka tertib pemeliharaan setiap jenis barang milik daerah, harus dibuat
kartu pemeliharaan/perawatan yang memuat:
1) Nama barang inventaris;
2) Spesifikasinya;
3) Tanggal perawatan;
4) Jenis pekerjaan atau pemeliharaan;
5) Barang-barang atau bahan-bahan yang dipergunakan;
6) Biaya pemeliharaan/perawatan;
7) Yang melaksanakan pemeliharaan/perawatan;
8) Lain-lain yang dipandang perlu

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        25 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

d) Pencatatan dalam kartu pemeliharaan/perawatan barang dilakukan oleh


pengurus barang.
e) Penerimaan pekerjaan pemeliharaan/perawatan barang:
1) Pekerjaan pemeliharaan barang yang akan diterima harus dilakukan
pemeriksaan oleh Panitia Pemeriksa Barang;
2) Hasil pemeriksaan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan
Pekerjaan yang ditandatangani oleh Panitia Pemeriksa Barang;
3) Pelaksanaan pekerjaan/pemeliharaan barang dilaporkan kepada
Pengelola melalui pembantu pengelola;
4) Pembantu pengelola menghimpun seluruh pelaksanaan pemeliharaan
barang dan dilaporkan kepada Kepala Daerah;
f) Pemantauan atas pelaksanaan pemeliharaan menggunakan Format Kartu
Pemeliharaan.

4. PEMBINAAN, PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN

Untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah


secara berdayaguna dan berhasilguna, maka fungsi pembinaan, pengawasan dan
pengendalian sangat penting untuk menjamin tertib administrasi pengelolaan barang
milik daerah.

Pembinaan merupakan usaha atau kegiatan melalui pemberian pedoman,


bimbingan, pelatihan, dan supervisi, sedangkan Pengendalian merupakan usaha
atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang dilaksanakan
berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dilain pihak Pengawasan
merupakan usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang
sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan, apakah dilakukan
sesuai peraturan perundangundangan.

Menteri Dalam Negeri melakukan pembinaan pengelolaan barang milik daerah,


sedangkan Kepala Daerah melakukan pengendalian pengelolaan barang milik
daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        26 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Pengguna Barang melakukan pemantauan dan penertiban terhadap penggunaan,


pemanfaatan, pemindahtanganan, penatausahaan, pemeliharaan, dan pengamanan
Barang Milik Daerah yang berada di bawah penguasaannya. Pengguna dan Kuasa
Pengguna Barang dapat meminta aparat pengawas fungsional untuk melakukan
audit tindak lanjut hasil pemantauan dan penertiban terhadap penggunaan,
pemanfaatan, pemindahtanganan, penatausahaan, pemeliharaan, dan pengamanan
Barang Milik Daerah yang berada di bawah penguasaannya dan menindaklanjuti
hasil audit sesuai ketentuan perundangundangan.

Pengelola berwenang untuk melakukan pemantauan dan investigasi atas


pelaksanaan penggunaan, pemanfaatan, dan pemindahtanganan Barang Milik
Daerah, dalam rangka penertiban penggunaan, pemanfaatan, dan
pemindahtanganan Barang Milik Daerah sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk hal
tersebut pengelola dapat meminta aparat pengawas fungsional untuk melakukan
audit atas pelaksanaan penggunaan, pemanfaatan, dan pemindahtanganan Barang
Milik Daerah.Hasil audit tersebut disampaikan kepada Pengelola untuk ditindaklanjuti
sesuai ketentuan perundang-undangan.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        27 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 

B. PE
ENATAUSA
AHAAN

Dalam
m penataus
sahaan barrang milik daerah
d dilakkukan 3 (tig
ga) kegiatan yang me
eliputi
kegia
atan pembu
ukuan, inve
entarisasi dan pelapo
oran;

Pengguna/kuasa
a penggun
na barang daerah harus
h mela endaftaran dan
akukan pe
atatan bara
penca ang milik da
aerah ke da
alam daftarr barang pe
engguna da
an daftar kuasa
pengg
guna sesu
uai dengan
n penggolo
ongan dan kodefikassi inventariss barang milik
daera
ah; dokume
en kepemilikan barang
g milik daerrah berupa tanah dan//atau bangu
unan
disimpan oleh pengelola; dan
d dokume
en kepemiliikan selain tanah dan//atau bangu
unan
disimpan oleh pe
engguna.

1. PE
ENGGOLO
ONGAN BA
ARANG MIL
LIK DAERA
AH DAN KO
ODEFIKAS
SI
1.1. PENGG
GOLONGAN
N BARANG
G MILIK DA
AERAH

ng milik dae
Baran erah digolo
ongkan ke dalam
d 6 (en
nam) kelompok yaitu:

anah
1) Ta

Ta
anah Perka anah Perkebunan, Keb
ampungan, Tanah Pertanian, Ta bun Campu
uran,
Hu
utan, Tanah Kolam Ikkan, Danau
u/ Rawa, Sungai,
S Tan
nah Tanduss/Rusak, Ta
anah
Alang-Alang dan Pada
ang Rumpu
ut, Tanah Penggunaa
P an Lain, Ta
anah Bangu
unan
da
an Tanah Pertambang
P gan, tanah badan
b jalan
n dan lain-la
ain sejenisn
nya.

Pusdikla
atwas BPKP – 20
008                                                                                                                                                        28 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

2) Peralatan dan Mesin


a) alat-alat besar, berupa; Alat-alat Besar Darat, Alat-alat Besar Apung. Alat-alat
Bantu dan lain-lain sejenisnya.
b) alat-alat angkutan, terdiri atas; Alat Angkutan Darat Bermotor, Alat Angkutan
Darat Tak Bermotor, Alat Angkut Apung Bermotor, Alat Angkut Apung tak
Bermotor, Alat Angkut Bermotor Udara, dan lain-lainnya sejenisnya.
c) alat-alat bengkel dan alat ukur, berupa; Alat Bengkel Bermotor, Alat Bengkel
Tak Bermotor, dan lain-lain sejenisnya.
d) alat-alat pertanian/peternakan, yaitu; Alat Pengolahan Tanah dan Tanaman,
Alat Pemeliharaan Tanaman /Pasca Penyimpanan dan lain- lain sejenisnya.
e) alat-alat kantor dan rumah tangga, seperti; Alat Kantor, Alat Rumah
Tangga, dan lain-lain sejenisnya.
f) alat studio dan alat komunikasi, berupa; Alat Studio, Alat Komunikasi dan
lain-lain sejenisnya.
g) alat-alat kedokteran, berupa; Alat Kedokteran seperti Alat Kedokteran Umum,
Alat Kedokteran Gigi, Alat Kedokteran Keluarga Berencana, Alat Kedokteran
Mata, Alat Kedokteran THT, Alat Rontgen, Alat Farmasi, dan lain-lain
sejenisnya.
h) alat-alat laboratorium, berupa; Unit Alat Laboratorium, Alat Peraga/Praktek
Sekolah dan lain-lain sejenisnya.
i) alat-alat keamanan, berupa; Senjata Api, Persenjatan Non Senjata Api,
Amunisi, Senjata Sinar dan lain-lain sejenisnya.

3) Gedung dan bangunan


a) bangunan gedung, terdiri atas; Bangunan Gedung Tempat Kerja, Bangunan
Gedung, Bangunan Instalansi, Bangunan Gedung Tempat Ibadah, Rumah
Tempat Tinggal dan gedung lainnya yang sejenis.
b) bangunan monumen, berupa; Candi, Monumen Alam, Monumen Sejarah,
Tugu Peringatan dan lain-lain sejenisnya.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        29 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

4) Jalan, irigasi dan jaringan


a) jalan dan jembatan, terdiri dari; Jalan, Jembatan, terowongan dan lain-lain.
b) bangunan air/irigasi, berupa; Bangunan air irigasi, Bangunan air Pasang,
Bangunan air Pengembangan rawa dan Polde, Bangunan Air Penganan
Surya dan Penanggul, Bangunan air minum, Bangunan air kotor dan
Bangunan Air lain yang sejenisnya.
c) Instalasi, taitu; Instalasi Air minum, Instalasi Air Kotor, Instalasi Pengolahan
Sampah, Instalasi Pengolahan Bahan Bangunan, Instalasi Pembangkit
Listrik, Instalasi Gardu Listrik dan lain-lain sejenisnya.
d) jaringan, terdiri dari; Jaringan Air Minum, Jaringan Listrik dan lain- lain
sejenisnya.

5) Aset tetap lainnya

a) buku dan perpustakaan, berupa; Buku seperti Buku Umum Filsafah,


Agama, Ilmu Sosial, Ilmu Bahasa, Matematika dan Pengetahuan Alam,
Ilmu Pengetahuan Praktis. Arsitektur, Kesenian, Olah raga Geografi,
Biografi,sejarah dan lain-lain sejenisnya.

b) barang bercorak kesenian/kebudayaan, berupa; Barang Bercorak


Kesenian, Kebudayan seperti Pahatan, Lukisan Alat-alat Kesenian, Alat
Olah Raga, Tanda Penghargaan, dan lain-lain sejenisnya.

c) hewan/ternak dan tumbuhan, berupa; Hewan seperti Binatang Ternak,


Binatang Unggas, Binatang Melata, Binatang Ikan, Hewan Kebun Binatang
dan lain-lain sejenisnya. Tumbuhan-tumbuhan seperti Pohon Jati, Pohon
Mahoni, Pohon Kenari, Pohon Asem dan lain-lain sejenisnya termasuk
pohon ayoman/pelindung.

6) Kontruksi dalam pengerjaan

Konstruksi dalam pengerjaan mencantumkan nilai pembayaran atas


pembangunan aset yang sampai pada tanggal neraca belum selesai dan belum
dapat dimanfaatkan.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        30 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 

1.2. KODEF
FIKASI

Kodefikasi adala
ah pemberia
an pengkod
dean baran
ng pada settiap barang inventaris milik
erintah Dae
Peme erah yang menyatakan
m n kode lokasi dan kode
e barang.

an pemberrian kodeffikasi adalah untuk mengama


Tujua n memberikan
ankan dan
kejela
asan status
s kepemilikkan dan sta
atus pengg
gunaan barrang pada masing-ma
asing
pengg
guna.

Kodefikasi kepemilikan untuk


u massing-masing
g tingkatan
n pemerintahan seb
bagai
beriku
ut:

ng milik pem
a. Baran merintah ka
abupaten/K
Kota (12).

b. Baran
ng milik pem
merintah prrovinsi (11)..

c. Baran
ng milik pem
merintah pu
usat (BM/KN
N (kalau ad
da OO).

Dalam
m rangka kegiatan
k se
ensus bara
ang daerah, setiap ba
arang daera
ah harus diberi
d
nomo
or kode seb
bagai beriku
ut :

a. Nomor
N Kod
de Lokasi

1)) Nomor Ko
ode Lokasi menggambarkan/men
njelaskan status
s kepe
emilikan barrang,
Provinsi, Kabupaten
n/Kota, bida
ang, SKPD dan unit ke
erja serta ta
ahun pembelian
barang.

Pusdikla
atwas BPKP – 20
008                                                                                                                                                        31 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

2) Nomor Kode Lokasi terdiri 14 digit atau lebih sesuai kebutuhan daerah.
3) Nomor Kode urutan Provinsi, Kabupaten/Kota sebagaimana tercantum dalam
lampiran 40 Kepmendagri nomor 17 tahun 2007.
4) Nomor Kode SKPD dibakukan lebih lanjut oleh Kepala Daerah dengan
memperhatikan pengelompokkan bidang yang terdiri dari 22 bidang, yaitu:
(1) Sekwan/DPRD;
(2) Gubernur/Bupati/Walikota;
(3) Wakil Gubernur/Bupati/Walikota;
(4) Sekretariat Daerah;
(5) Bidang Kimpraswil/PU;
(6) Bidang Perhubungan;
(7) Bidang Kesehatan;
(8) Bidang Pendidikan dan Kebudayaan;
(9) Bidang Sosial;
(10) Bidang Kependudukan;
(11) Bidang Pertanian;
(12) Bidang Perindustrian;
(13) Bidang Pendapatan;
(14) Bidang Pengawasan;
(15) Bidang Perencanaan;
(16) Bidang Lingkungan Hidup;
(17) Bidang Pariwisata;
(18) Bidang Kesatuan Bangsa;
(19) Bidang Kepegawaian;
(20) Bidang Penghubung;
(21) Bidang Komunikasi, informasi dan dokumentasi;
(22) Bidang BUMD.

6) Kecamatan diberi Nomor Kode mulai dari nomor urut 50 (lima puluh) dan
seterusnya sesuai jumlah kecamatan pada masing-masing
Kabupaten/Kota.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        32 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

b. Nomor Kode Barang

a) Nomor Kode barang diklasifikasikan ke dalam 6 (golongan) yaitu:

(1) Tanah

(2) Mesin dan Peralatan

(3) Gedung dan Bangunan

(4) Jalan,Irigasi dan Jaringan

(5) Aset Tetap Lainnya

(6) Konstruksi dalam Pengerjaan.

b) Penggolongan barang terbagi atas Bidang, Kelompok, Sub Kelompok dan


sub- sub Kelompok/Jenis Barang.

c) Nomor Kode golongan, bidang, kelompok, sub kelompok dan Sub-Sub


Kelompok/jenis barang sebagaimana tercantum dalam lampiran 41.

d) Nomor kode barang terdiri atas 14 (empat belas) digit Yang tersusun
berurutan ke belakang dibawah suatu garis lurus sebagai berikut:

Untuk mengetahui Nomor Kode Barang dari setiap jenis dengan cepat, perlu 2
angka di depan/dicari Nomor Kode Golongan Barangnya, kemudian baru dicari
Nomor Kode Bidang, Nomor Kode Kelompok, Nomor Kode Sub Kelompok,
Nomor Kode Sub-Sub Kelompok/jenis barang dimaksud.

c. Nomor Register

Nomor register merupakan nomor urut pencatatan dari setiap barang, pencatatan
terhadap barang yang sejenis, tahun pengadaan sama, besaran harganya sama
seperti meja dan kursi jumlahnya 150, maka pencatatannya dapat dilakukan
dalam suatu format pencatatan dalam lajur register, ditulis: 0001 s/d 0150.

Nomor urut pencatatan untuk setiap barang yang spesifikasi, type, merk, jenis
berbeda, maka nomor registernya dicatat tersendiri untuk masingmasing barang.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        33 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Cara penulisan nomor Kode Unit dan Nomor Kode Barang :

• Barang milik Departemen Kimpraswil berupa mobil sedan dibeli pada


tahun 1999, dipergunakan pada Dinas PU (Subdin Cipta Karya) mobil
sedan yang ketiga, Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur.

00.23.02.05.01.99.04
02.03.01.01.01.0003

d. Pemasangan Kode Barang dan Tanda Kepemilikan.


1. Kode Barang dan tanda kepemilikan harus dicantumkan pada setiap barang
Inventaris, kecuali apabila ruang/tempat yang tersedia tidak dapat
memuatnya, cukup dicatat dalam BI, KlB dan KIR.
2. Kode Barang dan tanda kepemilikan untuk Kendaraan Bermotor Roda 4
(empat) ditempatkan di bagian luar yang mudah dilihat.
3. Kode Barang dan tanda kepemilikan untuk Kendaraan Bermotor roda 2 (dua)
ditempatkan pada bagian badan yang mudah dilihat.
4. Kode Barang dan tanda kepemilikan untuk kendaraan bermotor lainnya
ditempatkan di tempat yang mudah dilihat.
5. Kode Barang dan tanda kepemilikan Rumah Dinas dicantumkan pada
sebuah papan yang berukuran 15 x 25 Cm, sedangkan untuk tanah kosong
pada sebuah papan yang berukuran sekurang-kurangnya 60x100 cm.
6. Pemasangan kode barang dan tanda kepemilikan rumah dinas daerah
dicantumkan pada tembok rumah bagian depan shinga tampak nyata dari
jalan umum,yang berbentuk papan kecil dengan ukuran:

a. lebar 15 cm.

b. panjang 25 cm.

c. gambar lambang Daerah berbentuk bulan ukuran garis tengah 6 cm.

d. tinggi huruf 2 cm.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        34 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        35 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

2. PEMBUKUAN

Pengguna/kuasa pengguna barang wajib melakukan pendaftaran dan pencatatan


barang milik daerah ke dalam Daftar Barang Pengguna (DBP)/Daftar Barang
Kuasa Pengguna (DBKP).

Pengguna/kuasa pengguna barang dalam melakukan pendaftaran dan


pencatatan sesual format:

1) Kartu Inventaris Barang (KIB) A Tanah ;

2) Kartu Inventaris Barang (KIB) B Peralatan dan Mesin ;

3) Kartu Inventaris Barang (KIB) C Gedung dan Bangunan ;

4) Kartu Inventaris Barang (KIB) D Jalan, Irigasi dan Jaringan ;

5) Kartu Inventaris Barang (KIB) E Aset Tetap Lainnya ;

6) Kartu Inventaris Barang (KIB) F Konstruksi dalam Pengerjaan ; dan

7) Kartu Inventaris Ruangan (KIR) .

Pembantu pengelola melakukan koordinasi dalam pencatatan dan pendaftaran


barang milik daerah ke dalam Daftar Barang Milik Daerah (DBMD).

AKUNTANSI ASET SKPD


Prosedur akuntansi aset pada SKPD meliputi pencatatan dan pelaporan
akuntansi atas perolehan, pemeliharaan, rehabilitasi, perubahan klasifikasi, dan
penyusutan terhadap aset tetap yang dikuasai/digunakan SKPD. Transaksi-
transaksi tersebut secara garis besar digolongkan dalam 2 kelompok besar
transaksi, yaitu :
• Penambahan nilai Aset
• Pengurangan nilai Aset

Langkah 1
Berdasarkan bukti transaksi yang berupa:
a. Berita acara penerimaan barang, dan atau

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        36 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

b. Berita acara serah terima barang, dan atau


c. Berita acara penyelesaian pekerjaan
PPK-SKPD membuat bukti memorial. Bukti memorial tersebut dapat
dikembangkan dalam format yang sesuai dengan kebutuhan yang sekurang-
kurangnya memuat informasi mengenai:
(1). Jenis/nama aset tetap
(2). Kode rekening terkait
(3). Klasifikasi aset tetap
(4). Nilai aset tetap
(5). Tanggal transaksi

Langkah 2
Dalam kasus penambahan nilai aset, berdasarkan bukti memorial tersebut, PPK-
SKPD mengakui penambahan aset dengan menjurnal ”Aset sesuai jenisnya” di
debit dan “Diinvestasikan dalam Aset Tetap” di kredit.

Aset .......... xxx


Diinvestasikan dlm Aset Tetap xxx
Dalam kasus pengurangan aset, Berdasarkan bukti memorial, PPK-SKPD
mengakui pengurangan aset dengan menjurnal “Diinvestasikan dalam Aset
Tetap” di debit dan ”Aset sesuai jenisnya” di kredit.

Diinvestasikan dlm Aset Tetap xxx


Aset Tetap xxx
Secara periodik, buku jurnal atas transaksi aset tetap tersebut diposting ke dalam
buku besar rekening berkenaan.

Langkah 3
Setiap akhir periode semua buku besar ditutup sebagai dasar penyusunan
laporan keuangan SKPD.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        37 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Ilustrasi Jurnal
Pencatatan aset tetap dalam buku jurnal merupakan proses lanjutan dari
pencatatan belanja daerah yang menghasilkan aset tetap. Oleh karena itu, jurnal
untuk mencatat saat perolehan aset tetap sering disebut sebagai jurnal collolary.
Pencatatan aset tetap dapat dilakukan baik oleh SKPD maupun SKPKD,
bergantung pada siapa yang melakukan belanja atas aset tersebut. Berikut
adalah beberapa contoh jurnal terkait dengan aset tetap. Dinas Kesehatan akan
digunakan sebagai ilustrasi SKPD.

a. Perolehan Aset Tetap

Pembelian
Dinas Kesehatan membeli papan tulis elektronik untuk ruang meeting dengan
harga jual 3 juta rupiah. Agar papan tulis elektronik ini siap digunakan, ada biaya-
biaya tambahan yang harus dibayar meliputi biaya pengangkutan dan biaya
instalasi masing-masing sebesar 100 ribu rupiah. Oleh karena itu Dinas
Kesehatan akan mencatat nilai papan tulis elektronik tersebut sebesar 3,2 juta
rupiah.

5.2.3.10.09 Belanja Modal – Papan Tulis Elektronik 3.200.000


1.1.1.03.01 Kas di Bendahara Pengeluaran 3.200.000
1.3.2.09.09 Peralatan Kantor – Papan Tulis Elektronik 3.200.000
3.2.2.01.01 Diinvestasikan dlm Aset Tetap 3.200.000
Pembelian papan tulis elektronik

Hibah/Donasi
Pemda memperoleh donasi dari Bank Dunia berupa lima buah mobil Kijang. Mobil
Kijang dengan tipe dan kriteria yang sama tersebut mempunyai nilai wajar
masing-masing sebesar 120 juta rupiah. Aset tersebut kemudian diserahkan
kepada SKPD. Maka jurnal yang harus dibuat di akuntansi SKPKD adalah:

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        38 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

1.3.2.02.03 Kendaraan 600.000.000


3.2.2.01.01 Diinvestasikan dlm Aset Tetap 600.000.000
Penerimaan hibah berupa mobil Kijang dari Bank Dunia

b. Penyusutan
Selain tanah dan konstruksi dalam pengerjaan, seluruh aset tetap dapat
disusutkan sesuai dengan sifat dan karakteristik aset tersebut. Jurnal punyusutan
aset tetap ini dibuat di akhir tahun.
3.2.2.01.01 Diinvestasikan dlm Aset Tetap 640.000
1.3.7.01.01 Akumulasi Penyusutan – Papan tulis elektronik 640.000
Penyusutan papan tulis elektronik oleh Dinas Kesehatan dengan
metode garis lurus dan estimasi masa manfaat AC selama 5 tahun

c. Konstruksi Dalam Pengerjaan


Pemda sedang mendirikan bangunan puskesmas. Gedung puskesmas ini akan
dibangun Dinas Kesehatan pada tahun 2006. Tanggal 31 Desember 2006
puskesmas tersebut belum selesai dibangun. Maka Dinas Kesehatan akan
mencatat jurnal sebagai berikut:
1.3.6.01.01 Konstruksi dalam Pengerjaan 100.000.000
3.2.2.01.01 Diinvestasikan dalam Aset Tetap 100.000.000
Mencatat biaya yang telah dikeluarkan selama pembangunan
sampai 31 Desember 2006
Pada 31 Mei 2007, puskesmas ini telah selesai di bangunan. Maka Dinas
Kesehatan menjurnal sebagai berikut:
3.2.2.01.01 Diinvestasikan dalam Aset Tetap 100.000.000
1.3.6.01.01 Konstruksi dalam Pengerjaan 100.000.000
Jurnal balik atas pencatatan terdahulu yang telah dicatat

1.3.3.01.01 Gedung 400.000.000


3.2.2.01.01 Diinvestasikan pada Aset Tetap 400.000.000
Mencatat pada pos aset tetap yang bersangkutan

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        39 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

d. Pelepasan Aset Tetap


Di kantor Dinas Kesehatan, terdapat lima buah komputer lama yang rusak dan
tidak terpakai. Atas persetujuan Kepala Daerah dilakukan penghapusan atas
computer tersebut, Kepala Dinas melakukan pelelangan ke masyarakat. Uang
hasil penjualan komputer tersebut akan dicatat sebagai Lain-lain PAD yang Sah.
3.2.2.01.01 Diinvestasikan dlm Aset Tetap 5.000.000
1.3.2.11.02 Peralatan – Komputer 5.000.000
1.1.1.02.01 Kas di Bendahara Penerimaan 5.000.000
4.1.4.01.02 Lain-lain PAD yang Sah 5.000.000
Jurnal untuk mencatat pengurangan aset tetap dan
penerimaan pendapatan dari hasil pelepasan aset

3. INVENTARISASI

Inventarisasi merupakan kegiatan atau tindakan untuk melakukan perhitungan,


pengurusan, penyelenggaraan, pengaturan, pencatatan data dan pelaporan
barang milik daerah dalam unit pemakaian.

Dari kegiatan inventarisasi disusun Buku Inventaris yang menunjukkan semua


kekayan daerah yang bersifat kebendaan, baik yang bergerak maupun yang tidak
bergerak.

Buku inventaris tersebut memuat data meliputi lokasi, jenis/merk type, jumlah,
ukuran, harga, tahun pembelian, asal barang, keadaan barang dan sebagainya.

Adanya buku inventaris yang lengkap, teratur dan berkelanjutan mempunyai


fungsi dan peran yang sangat penting dalam rangka:

2) pengendalian, pemanfaatan, pengamanan dan pengawasan setiap


barang;
3) usaha untuk menggunakan memanfaatkan setiap barang secara maksimal
sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-masing;dan
4) menunjang pelaksanaan tugas Pemerintah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        40 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Barang inventaris adalah seluruh barang yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah
yang penggunaannya lebih dari satu tahun dan dicatat serta didaftar dalam Buku
Inventaris.

Agar Buku Inventaris dimaksud dapat digunakan sesuai fungsi dan peranannya,
maka pelaksanaannya harus tertib, teratur dan berkelanjutan, berdasarkan data
yang benar, lengkap dan akurat sehingga dapat memberikan informasi yang
tepat dalam:

1) perencanaan kebutuhan dan pengangaran;


2) pengadaan.
3) penerimaan, penyimpanan dan penyaluran;
4) penggunaan.
5) penatausahaan;
6) pemanfaatan.
7) pengamanan dan pemeliharaan;
8) penilaian;
9) penghapusan;
10) pemindahtanganan;
11) pembinaan, pengawasan dan Pengendalian
12) pembiayaan; dan
13) tuntutan ganti rugi.

Barang Milik/Kekayaan Negara yang dipergunakan oleh Pemerintah Daerah,


pengguna mencatat dalam Buku Inventaris tersendiri dan dilaporkan kepada
pengelola.

Termasuk barang milik daerah adalah barang milik daerah yang pengelolaannya
berada pada Perusahaan Daerah/ Badan Usaha Milik Daerah/yayasan Milik
Daerah.

Pimpinan Perusahaan Daerah/Badan Usaha Milik Daerah/yayasan Milik Daerah


wajib melaporkan daftar inventaris barang milik daerah kepada Kepala Daerah,
dan Kepala Daerah berwenang untuk mengendalikan setiap mutasi inventaris
barang tersebut.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        41 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Pelaksanaan Inventarisasi
Pelaksanaan inventarisasi dibagi dalam dua kegiatan yakni:
a) Pelaksanaan pencatatan.
b) Pelaksanaan pelaporan.
Dalam pencatatan dimaksud dipergunakan buku dan kartu sebagai berikut:
a) Kartu Inventaris Barang (KIB A,B, C, 0, Edan F);
b) Kartu Inventaris Ruangan;
c) Buku Inventaris;
d) Buku Induk Inventaris.
Dalam pelaksanaan pelaporan dipergunakan daftar yaitu :

a) Buku Inventaris dan Rekap.

b) Daftar Mutasi Barang dan Rekap.

Fungsi dari buku dan kartu inventaris baik untuk kegiatan pencatatan maupun
untuk kegiatan pelaporan adalah :

a) Buku Induk Inventaris (BIl), merupakan gabungan/kompilasi buku


inventaris sedangkan buku inventraris adalah himpunan catatan data teknis
dan administratif yang diperoleh dari catatan kartu barang inventaris
sebagai hasil sensus ditiap-tiap SKPD yang dilaksanakan secara serentak
pada waktu tertentu.

Pembantu Pengelola mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang


daerah.

Untuk mendapatkan data barang dan pembuatan buku inventaris yang


benar, dapat dipertanggungjawabkan dan akurat (up to date) maka
dilakukan melalui Sensus Barang Daerah setiap 5 (lima) tahun sekali.

Prosedur pengisian Buku Induk Inventaris, adalah sebagai berikut :

1) Pengguna melaksanakan inventarisasi barang yang dicatat di dalam


Kartu Inventaris Barang (KlB A, B, C, D, E, dan F dan Kartu
Inventaris Ruangan (KIR) secara kolektif atau secara tersendiri per
jenis barang rangkap 2 (dua).

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        42 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

2) Pengguna barang bertanggung-jawab dan menghimpun KIB dan


KIR dan mencatatnya dalam Buku Inventaris yang datanya dari KIB
A, B, C, D, Edan F serta membuat KIR dimasing- masing ruangan.

3) Pembantu pengelola barang mengkompilasi Buku Inventaris


menjadi Buku Induk Inventaris

4) Rekapitulasi Buku Induk Inventaris ditanda- tangani oleh pengelola


atau pembantu pengelola.

5) Buku Induk Inventaris berlaku untuk 5 (lima) tahun, yang selanjutnya


dibuat kembali dengan tata-cara sebagaimana telah diuraikan di
atas (Sensus Barang).

b) Kartu Inventaris Barang ( KIB ), adalah Kartu untuk mencatat barang-


barang Inventaris secara tersendiri atau kumpulan/kolektip dilengkapi data
asal, volume, kapasitas, merk, type, nilai/harga dan data lain mengenai
barang tersebut, yang diperlukan untuk inventarisasi maupun tujuan lain
dan dipergunakan selama barang itu belum dihapuskan.

KIB terdiri dari :

1) Kartu Inventaris Barang (Tanah);


2) Kartu Inventaris Barang (Mesin dan Peralatan);
3) Kartu Inventaris Barang (Gedung dan Bangunan);
4) Kartu Inventaris Barang (Jalan, Irigasi dan Jaringan);
5) Kartu Inventaris Barang (Aset Tetap Lainnya);
6) Kartu Inventaris Konstruksi dalam Pengerjaan

c) Kartu Inventaris Ruangan (KIR).

Kartu Inventaris Ruangan adalah kartu untuk mencatat barang- barang


inventaris yang ada dalam ruangan kerja. Kartu Inventaris Ruangan ini
harus dipasang di setiap ruangan kerja, pemasangan maupun pencatatan
inventaris ruangan menjadi tanggung jawab pengurus barang dan Kepala
Ruangan disetiap SKPD.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        43 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

d) Daftar Rekapitulasi Inventaris.

Daftar Rekapitulasi Inventaris disusun oleh pengelola/pembantu pengelola


dengan mempergunakan bahan dari rekapitulasi Inventaris barang yang
disampaikan oleh pengguna.

e) Daftar Mutasi Barang.

Daftar mutasi barang memuat data barang yang berkurang dan/atau yang
bertambah dalam suatu jangka waktu tertentu (1 semester dan 1 tahun).

Mutasi barang terjadi karena :

• Bertambah, disebabkan:

(1) Pengadaan baru karena pembelian.

(2) Sumbangan atau hibah.

(3) Tukar-menukar.

(4) Perubahan peningkatan kualitas (guna susun).

• Berkurang, disebabkan :

(1) Dijual/dihapuskan.

(2) Musnah/Hilang/Mati.

(3) Dihibahkan/disumbangkan.

(4) Tukar menukar/ruilslag /tukar guling/dilepaskan dengan ganti


rugi.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        44 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

4. PELAPORAN
Pengguna/kuasa pengguna menyusun laporan barang semesteran dan tahunan
yang disampaikan kepada Kepala Daerah melalui pengelola. Pembantu
Pengelola menghimpun laporan semesteran dan tahunan menjadi Laporan
Barang Milik Daerah (LBMD).

Laporan Barang Milik Daerah digunakan sebagai bahan untuk menyusun neraca
Pemerintah Daerah dan disampaikan secara berjenjang.

a. Kuasa pengguna barang menyampaikan laporan pengguna barang


semesteran, tahunan dan 5 (lima) tahunan kepada pengguna.

b. Pengguna menyampaikan laporan pengguna barang semesteran, tahunan


dan 5 (lima) tahunan kepada Kepala Daerah melalui pengelola.

c. Pembantu pengelola menghimpun seluruh laporan pengguna barang


semesteran, tahunan dan 5 (lima) tahunan dari masing-masing SKPD, jumlah
maupun nilai serta dibuat rekapitulasinya.

d. Rekapitulasi sebagaimana dimaksud pada huruf C di atas, digunakan


sebagai bahan penyusunan neraca daerah.

e. Hasil sensus barang daerah dari masing-masing pengguna/kuasa pengguna,


di rekap ke dalam buku inventaris dan disampaikan kepada pengelola,
selanjutnya pembantu pengelola merekap buku inventaris tersebut menjadi
buku induk inventaris.

f. Buku Induk Inventaris sebagaimana dimaksud pada huruf e merupakan saldo


awal pada daftar mutasi barang tahun berikutnya, selanjutnya untuk tahun-
tahun berikutnya pengguna/kuasa pengguna dan pengelola hanya membuat
Daftar Mutasi Barang (bertambah dan/atau berkurang) dalam bentuk
rekapitulasi barang milik daerah.

g. Mutasi barang bertambah dan/atau berkurang pada masing-masing SKPD


setiap semester, dicatat secara tertib pada :

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        45 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

1) Laporan Mutasi Barang; dan

2) Daftar Mutasi Barang.

h. Laporan mutasi barang merupakan pencatatan barang bertambah dan/atau


berkurang selama 6 (enam) bulan untuk dilaporkan kepada Kepala Daerah
melalui pengelola.

i. Laporan Mutasi Barang semester I dan semester II digabungkan menjadi


Daftar Mutasi Barang selama 1 (satu) tahun, dan masingmasing dibuatkan
Daftar Rekapitulasinya (Daftar Rekapitulasi Mutasi Barang).

j. Daftar mutasi barang selama 1 (satu) tahun tersebut disimpan di Pembantu


Pengelola.

k. Rekapitulasi seluruh barang milik daerah (daftar mutasi) sebagaimana


dimaksud pada huruf J, disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri.

I. Laporan inventarisasi barang (mutasi bertambah dan/atau berkurang) selain


mencantumkan jenis, merek, type, dan lain sebagainya juga harus
mencantumkan nilai barang.

m. Format Laporan Pengurus Barang berupa :

1) Buku Inventaris;

2) Rekap Buku Inventaris ;

3) Laporan Mutasi Barang ;

4) Daftar Mutasi Barang ;

5) Rekapitulasi Daftar Mutasi Barang ;

6) Daftar Usulan Barang yang Akan Dihapus ;

7) Daftar Barang Milik Daerah yang Digunausahakan .

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        46 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

C. PEMANFAATAN

Barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan dan selain tanah dan/atau
bangunan yang telah diserahkan oleh pengguna kepada pengelola dapat
didayagunakan secara optimal sehingga tidak membebani Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah, khususnya biaya pemeliharaan dan kemungkinan adanya
penyerobotan dari pihak lain yang tidak bertanggung jawab.

Pemanfaatan barang milik daerah yang optimal akan membuka lapangan kerja,
meningkatkan pendapatan masyarakat dan menambah/meningkatkan
pendapatan daerah.

Pemanfaatan merupakan pendayagunaan barang milik daerah yang tidak


dipergunakan sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD dalam bentuk pinjam pakai,
sewa, kerjasama pemanfaatan, bangun guna serah, bangun serah guna dengan
tidak merubah status kepemilikan.

Pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan dilaksanakan


oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah, selain tanah
dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan
pengelola.

Pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan, selain tanah
dan/atau bangunan yang dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan tugas
pokok dan fungsi SKPD, dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat
persetujuan pengelola.

Pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak
dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD,
dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah.

Pemanfaatan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan yang tidak
dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD,
dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola.

Pemanfaatan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan pertimbangan teknis


dengan memperhatikan kepentingan negara/daerah dan kepentingan umum.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        47 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Bentuk-bentuk pemanfaatan barang milik daerah berupa:

a. Sewa;

b. Pinjam Pakai;

c. Kerjasama Pemanfaatan; dan

d. Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna.

1. SEWA

Barang milik daerah baik barang bergerak maupun tidak bergerak yang belum
dimanfaatkan oleh pemerintah daerah, dapat disewakan kepada Pihak Ketiga
sepanjang menguntungkan daerah. Barang milik daerah yang disewakan, tidak
merubah status kepemilikan barang daerah. Penyewaan barang milik daerah
berupa tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat
persetujuan dari Kepala Daerah. Penyewaan barang milik daerah atas sebagian
tanah dan/atau bangunan, selain tanah dan/atau bangunan yang masih
dipergunakan oleh pengguna, dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat
persetujuan dari pengelola.

Penyewaan merupakan penyerahan hak penggunaan/ pemanfaatan kepada


Pihak Ketiga, dalam hubungan sewa menyewa tersebut harus memberikan
imbalan berupa uang sewa bulanan atau tahunan untuk jangka waktu tertentu,
baik sekaligus maupun secara berkala.

Penyewaan dapat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

1) penyewaan barang milik daerah hanya dapat dilakukan dengan


pertimbangan untuk mengoptimalkan daya guna dan hasil guna barang milik
daerah.

2) untuk sementara waktu barang milik daerah tersebut belum dimanfaatkan


oleh SKPD.

3) barang milik daerah dapat disewakan kepada pihak lain/Pihak Ketiga;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        48 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

4) jenis-jenis barang milik daerah yang disewakan ditetapkan oleh Kepala


Daerah.

5) besaran sewa ditetapkan oleh Kepala Daerah berdasarkan hasil


perhitungan Tim Penaksir.

6) hasil penyewaan merupakan penerimaan daerah dan disetor ke kas daerah.

7) dalam Surat Perjanjian sewa-menyewa harus ditetapkan :

(a) jenis, jumlah, biaya dan jangka waktu penyewaan.

(b) biaya operasi dan pemeliharaan selama penyewaan menjadi


tanggung- jawab penyewa.

(c) persyaratan lain yang dianggap perlu.

Jangka waktu penyewaan barang milik daerah paling lama 5 (lima) tahun dan
dapat diperpanjang.

2. PINJAM PAKAI

Barang milik daerah baik berupa tanah dan/atau bangunan maupun selain tanah
dan/atau bangunan, dapat dipinjampakaikan untuk kepentingan penyelenggaraan
pemerintahan daerah;

Pinjam pakai barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan maupun
selain tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat
persetujuan Kepala Daerah;

Barang milik daerah yang dipinjampakaikan tidak merubah status kepemilikan


barang daerah;

Jangka waktu pinjam pakai barang milik daerah paling lama 2 (dua) tahun dan
dapat diperpanjang;

Pelaksanaan pinjam pakai dilakukan berdasarkan surat perjanjian yang


sekurang-kurangnya memuat:

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        49 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

a. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian;

b. jenis, luas dan jumlah barang yang dipinjamkan;

c. jangka waktu peminjaman;

d. tanggung jawab peminjam atas biaya operasional dan pemeliharaan selama


jangka waktu peminjaman; dan

e. persyaratan lain yang dianggap perlu.

3. KERJASAMA PEMANFAATAN

Kerjasama pemanfaatan barang milik daerah dengan pihak lain dilaksanakan


dalam rangka mengoptimalkan daya guna dan hasil guna barang milik
daerah;dan meningkatkan penerimaan daerah

Kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah atas tanah dan/atau bangunan
yang sudah di serahkan oleh pengguna kepada pengelola; dilaksanakan oleh
pengelola setelah mendapatkan persetujuan Kepala Daerah.

Kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah atas sebagian tanah dan/atau
bangunan yang masih digunakan oleh pengguna;dan atas barang milik daerah
selain tanah dan/atau bangunan, dilaksanakan oleh pengguna setelah
mendapatkan persetujuan pengelola.

kerjasama pemanfaatan barang milik daerah dilaksanakan dengan ketentuan


sebagai berikut:

• tidak tersedia dan/atau tidak cukup tersedia dana dalam APBD untuk
memenuhi biaya operasional/pemeliharaan/perbaikan yang perlu dilakukan
terhadap barang milik daerah dimaksud;

• mitra kerjasama pemanfaatan ditetapkan melalui tender/lelang dengan


mengikutsertakan sekurang- kurangnya 5(lima) peserta/peminat, kecuali
untuk kegiatan yang bersifat khusus dapat dilakukan penunjukan
langsung;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        50 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

• besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hsil


kerjasama pemanfaatan ditetapkan dari hasil perhitungan tim yang
ditetapkan oleh Kepala Daerah; dan

• pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil kerjasama


pemanfaatan disetor ke kas daerah setiap tahun selama jangka waktu
pengoperasian.

Biaya pengkajian, penelitian, penaksir dan pengumuman tender/lelang,


dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat


perjanjian, konsultan pelaksana/pengawas, dibebankan pada Pihak Ketiga.

Selama jangka waktu pengoperasian, mitra kerjasama pemanfaatan dilarang


menjaminkan atau menggadaikan barang milik daerah yang menjadi obyek
kerjasama pemanfaatan.

Jangka waktu kerjasama pemanfaatan paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak
perjanjian ditandatangani dan dapat diperpanjang.

Setelah berakhir jangka waktu kerjasama pemanfaatan, Kepala Daerah


menetapkan status penggunaan/pemanfaatan atas tanah dan/atau bangunan
sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan.

4. BANGUN GUNA SERAH (BGS) & BANGUN SERAH GUNA (BSG)


4.1. Bangun Guna Serah (BGS)

BGS barang milik daerah dapat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pemerintah Daerah memerlukan bangunan dan fasilitas bagi


penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk kepentingan pelayanan
umum dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi;

b. tanah milik pemerintah daerah yang telah diserahkan oleh pengguna


kepada Kepala Daerah; dan

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        51 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

c. tidak tersedia dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk


penyediaan bangunan dan fasilitas dimaksud.

BGS barang milik daerah dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat


persetujuan Kepala Daerah.

Penetapan mitra Bangun Guna Serah dilaksanakan melalui tender/lelang dengan


mengikutsertakan sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta/peminat.

Mitra Bangun Guna Serah yang telah ditetapkan selama jangka waktu
pengoperasian, harus memenuhi kewajiban sebagai berikut:

a. membayar kontribusi ke kas daerah setiap tahun yang besarannya


ditetapkan berdasarkan hasil perhitungan tim yang dibentuk oleh Kepala
Daerah;

b. tidak menjaminkan, menggadaikan atau memindahtangankan objek


Bangun Guna Serah; dan

c. memelihara objek Bangun Guna Serah;

Objek bangun guna serah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, berupa
sertifikat hak pengelolaan milik Pemerintah Daerah.

Objek bangun guna serah berupa tanah dan/atau bangunan tidak boleh dijadikan
jaminan dan/atau diagunkan.

Hak guna bangunan di atas hak pengelolaan milik pemerintah daerah, dapat
dijadikan jaminan dan/atau diagunkan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Jangka waktu bangun guna serah paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak
perjanjian ditandatangani.

Bangun guna serah dilaksanakan berdasarkan surat perjanjian yang sekurang-


kurangnya memuat:

a. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian;

b. objek bangun guna serah;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        52 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

c. jangka waktu bangun guna serah;

d. hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian; dan

e. persyaratan lain yang dianggap perlu;

Izin mendirikan bangunan bangun guna serah atas nama pemerintah daerah.

Biaya pengkajian, penelitian dan pengumuman tender/lelang, dibebankan pada


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan Surat


Perjanjian, konsultan pelaksana/pengawas, dibebankan pada pihak pemenang.

Setelah jangka waktu pendayagunaan berakhir, objek bangun guna serah terlebih
dahulu diaudit oleh aparat pengawasan fungsional pemerintah daerah sebelum
penggunaannya ditetapkan oleh Kepala Daerah.

4.2. Bangun Serah Guna (BSG)

Bangun serah guna barang milik daerah dapat dilaksanakan dengan ketentuan
sebagai berikut:

a. pemerintah daerah memerlukan bangunan dan fasilitas bagi


penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk kepentingan pelayanan
umum dalam rangka penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi;

b. tanah milik pemerintah daerah yang telah diserahkan oleh pengguna


kepada Kepala Daerah; dan

c. tidak tersedia dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk


penyediaan bangunan dan fasilitas dimaksud.

Bangun serah guna barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah.

Penetapan mitra bangun serah guna dilaksanakan melalui tender/lelang dengan


mengikutsertakan sekurang- kurangnya 5 (lima) peserta/peminat.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        53 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Mitra Bangun Serah Guna yang telah ditetapkan selama jangka waktu
pengoperasian, harus memenuhi kewajiban sebagai berikut:

a. membayar kontribusi ke kas daerah setiap tahun yang besarannya


ditetapkan berdasarkan hasil perhitungan tim yang dibentuk oleh Kepala
Daerah;

b. tidak menjaminkan, menggadaikan atau memindahtangankan objek


Bangun Serah Guna; dan

c. memelihara objek Bangun Serah Guna;

Objek bangun serah guna sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, berupa
sertifikat hak pengelolaan milik pemerintah daerah.

Objek bangun serah guna berupa tanah tidak boleh dijadikan jaminan hutang/
diagunkan.

Hak guna bangunan di atas hak pengelolaan milik pemerintah daerah, dapat
dijadikan jaminan utang/diagunkan dan dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Jangka waktu bangun serah guna paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak
perjanjian ditandatangani.

Bangun serah guna dilaksanakan berdasarkan surat perjanjian yang sekurang-


kurangnya memuat:

a. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian;

b. objek bangun serah guna;

c. jangka waktu bangun serah guna;

d. hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian; dan

e. persyaratan lain yang dianggap perlu;

Izin mendirikan bangunan bangun serah guna atas nama pemerintah daerah.

Biaya pengkajian, penelitian dan pengumuman lelang, dibebankan pada


Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        54 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat


perjanjian, konsultan pelaksana/pengawas, dibebankan pada pihak pemenang.

Bangun Serah Guna barang milik daerah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai
berikut:

a. mitra Bangun Serah Guna harus menyerahkan hasil Bangun Serah Guna
kepada Kepala Daerah setelah selesainya pembangunan;

b. mitra Bangun Serah Guna dapat mendayagunakan barang milik daerah


tersebut sesuai jangka waktu yang ditetapkan dalam surat perjanjian; dan

c. setelah jangka waktu pendayagunaan berakhir, objek Bangun Serah


Guna terlebih dahulu diaudit oleh aparat pengawasan fungsional
pemerintah daerah sebelum penggunaannya ditetapkan oleh Kepala
Daerah.

D. PENILAIAN

Penilaian barang milik daerah dilakukan dalam rangka penyusunan neraca


PemerintahDaerah, pemanfaatan dan pemindahtanganan barang milik daerah.

Penetapan nilai barang milik daerah dalam rangka penyusunan neraca


Pemerintah Daerah dilakukan dengan berpedoman pada Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP).

Penilaian barang milik daerah dilaksanakan oleh tim yang ditetapkan oleh Kepala
Daerah dan dapat melibatkan penilai independen yang bersertifikat dibidang
penilaian aset.
Penilaian barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan dilaksanakan
untuk mendapatkan nilai wajar dengan estimasi terendah menggunakan Nilai Jual
Objek Pajak (NJOP).
Hasil penilaian barang milik daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        55 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

E. PENGHAPUSAN
Penghapusan barang milik Daerah meliputi:
a. Penghapusan dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Kuasa Pengguna;
b. Penghapusan dari Daftar Barang Milik Daerah.

Penghapusan barang milik daerah dari Daftar Barang Pengguna dan/atau Kuasa
Pengguna dilakukan dalam hal barang milik daerah dimaksud sudah tidak berada
dalam penguasaan pengguna dan/atau kuasa pengguna dan dilaksanakan
dengan Keputusan pengelola atas nama Kepala Daerah.
Penghapusan barang milik daerah dari Daftar Barang Milik Daerah dilakukan
dalam hal barang milik daerah dimaksud sudah beralih kepemilikannya, terjadi
pemusnahan atau karena sebab-sebab lain dan dilaksanakan dengan Keputusan
Kepala Daerah.
Penghapusan barang milik daerah dengan tindak lanjut pemusnahan dilakukan
apabila barang milik daerah dimaksud:
a. tidak dapat digunakan, tidak dapat dimanfaatkan dan tidak dapat
dipindahtangankan; atau
b. alasan lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pemusnahan dilaksanakan oleh pengguna dengan keputusan dari pengelola
setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah.
Pelaksanaan pemusnahan dituangkan dalam Berita Acara Pemusnahan dan
dilaporkan kepada Kepala Daerah.

F. PEMINDAHTANGANAN
Barang milik daerah yang sudah rusak dan tidak dapat dipergunakan, dihapus
dari Daftar Inventaris Barang Milik Daerah.
Penghapusan dilaksanakan sesuai ketentuan perundang-undangan.
Barang milik daerah yang dihapus dan masih mempunyai nilai ekonomis, dapat
dilakukan melalui:
a. pelelangan umum/pelelangan terbatas; dan/atau
b. disumbangkan atau dihibahkan kepada pihak lain.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        56 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 

Hasil pelelangan umum/pelelangan terbatas disetor ke kas Daerah.


Bentuk-bentuk pemlndahtanganan sebagai tindak lanjut atas penghapusan
barang milik daerah, meliputi:
a. Penjualan;
b. Tukar menukar;
c. Hibah; dan
d. Penyertaan Modal Pemerintah Daerah.

Pemindahtanganan barang milik daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala


Daerah setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, untuk:
a. tanah dan/atau bangunan; dan
b. selain tanah dan/atau bangunan yang bernilai lebih dari
Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah);
Pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang
tidak memerlukan persetujuan Dewan PerwakilanRakyat Daerah, apabila:
a. sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;
b. harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah
disediakan dalam dokumen penganggaran;
c. diperuntukkan bagi pegawai negeri;
d. diperuntukkan bagi kepentingan umum; dan
e. dikuasai negara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memiliki
kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundang-
undangan, yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak
secara ekonomis.
Pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang
tidak memerlukan persetujuan Dewan PerwakilanRakyat Daerah ditetapkan
dengan Keputusan Kepala Daerah.
Pemindahtanganan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan yang
bernilai sampai dengan Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah), dilakukan oleh
pengelola setelah mendapat persetujuan Kepala Daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                                        57 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 

BAB III
AUDIT ATAS ASET TETAP
TPK : Diharapkan mampu memahami pelaksanaan audit terhadap aset tetap dan
Standar Akuntansi Pemerintahan yang terkait dengan aset tetap.

A. UMUM

Pengaruh aset tetap cukup signifikan dalam penilaian secara keseluruhan atas
penyajian laporan keuangan instansi/Pemerintah Daerah ataupun Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD), karena memiliki nilai moneter yang cukup besar/cukup
material, letaknya tersebar serta berada dibawah kendali/pengelolaan banyak orang.
Sehingga terhadap aset tetap tersebut perlu dilakukan audit oleh auditor internal karena
akan menjadi perhatian pada saat dilakukan audit keuangan oleh eksternal auditor.

Audit Internal pada dasarnya adalah sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang
dilakukan auditor internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam
organisasi untuk menentukan apakah :

• Informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan

• Risiko yang dihadapi perusahaan (organisasi) telah diidentifikasi dan


diminimalisasi

• Peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang bisa diterima
telah dipenuhi

• Kriteria operasi (kegiatan) yang memuaskan telah dipenuhi

• Sumberdaya telah digunakan secara efisiendan ekonomis

Tujuan organisasi telah dicapai secara efektif, semua kegiatan dilakukan dengan tujuan
untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membantu anggota organisasi dalam
menjalankan tanggungjawabnya secara efektif.

 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    58 
 
Audit Attas Pengelolaaa
an Barang Milik D
Daerah 
 
S
SIFAT DASA
AR AUDIT

asarnya pelaksanaan audit intern


Pada da nal merupa
akan penilaian terhada
ap pelaksan
naan
kegiatan
n. Untuk dapat
d meniilai suatu kegiatan seyogyanya
s a auditor memiliki
m kriteria
ding untuk memberikkan penilaian. Kegia
sebagai pemband atan penila
aian itu se
endiri
merupakkan upaya pengujian kesesuaian
k n kriteria ya
ang seharussnya dilaksanakan den
ngan
kenyataan pelaksanaan yang dilakukan.

Dalam melakukan
m penilaian perlu
p dilakssanakan secara sistem
matis dan objektif.
o Den
ngan
sistemattis akan da
apat menge
efisienkan penggunaa
an waktu serta
s tenag
ga auditor yang
y
tersedia serta upa
aya pencap
paian tujua
an audit yang
y efektiff. Sedangkkan objektivitas
diperlukan agar tid
dak terpengaruh perttimbangan subjektif atau
a kepenttingan terte
entu,
untuk da
apat bertind
dak objektiff, auditor ha
arus indepe
enden.

 Pusdiklatw
was BPKP – 2008                                                                                                                                    59 
 
Audit Attas Pengelolaaa
an Barang Milik D
Daerah 
 
B. PRO
OSEDUR AU
UDIT

Pelaksanaan audiit sebaiknyya diawali dengan melakukan


n pemaham
man meng
genai
entitas. Berdasarka
an pemaha
aman terha
adap entita
as tersebut,, auditor pe
erlu melakukan
prosedu
ur penentua
an risiko an
ntara lain untuk mema
aksimalkan keterbatassan waktu serta
s
tenaga auditor,
a dim
mana pengujian lebih diutamaka
an pada seg
gmen yang
g berisiko tinggi
dibandin gan yang risikonya rendah. Te
ngkan deng erhadap se
egmen yan
ng dipilih perlu
p
dilakuka
an pengujia
an atas sistem
s pengendalian intern unttuk menen
ntukan luasnya
an substanttif yang perrlu dilakukan.
pengujia

Pemaha
aman terh
hadap enttitas dilakksanakan dengan melakukan
n pemaha
aman
bagaima
ana berbag
gai kegiatan dilaksana
akan, baga
aimana sisttem serta prosedur untuk
u
menjamin lancarny
ya pelaksanaan setia
ap kegiatan
n, bagaimana pengorg
ganisasian dari
kegiatan
n tersebut, bagaima
ana pencatatan sam
mpai ke pelaporan
p kegiatan serta
s
pengend
daliannya.

Prosedu
ur penentua
an risiko (risk assesssment proccedure) dig
gunakan untuk mend
dapat
pemaha
aman atas entitas dan lingkun
ngannya, termasuk pengendalia
p an internalnya,
melalui tanya jawab dengan
n manajem
men, prosed engamatan dan
dur analitiss, serta pe
inspeksii. Prosedur ini diperlukkan antara lain untuk memaksim
malkan kete
erbatasan waktu
w
serta tenaga auditor, dimana
a pengujian lebih diuta
amakan pa
ada segmen
n yang berrisiko
tinggi dib
bandingkan
n dengan ya
ang risikonya rendah.

 Pusdiklatw
was BPKP – 2008                                                                                                                                    60 
 
Audit Attas Pengelolaaa
an Barang Milik D
Daerah 
 
Uji pen
ngendalian (test off controls)) merupakkan prose
edur meng
guji efektivitas
pengend
dalian operrasi dalam mencegah
h, atau men
ndeteksi da
an mengorreksi, salah
h saji
material, diarahka
an kepada
a evaluassi efektivittas rancan
ngan dan implementasi
dalian internal.
pengend

ur substantif (substanttive proced


Prosedu dures) meru
upakan upa
aya mende
eteksi salah
h saji
material pada tingk
kat asersi, termasuk pengujian
p rinci atas tra
ansaksi, sa
aldo akun, serta
s
gkapan dan
pengung n prosedur analisis sub
bstantif.

1. PROSEDUR
P R PENENTUAN RISIK
KO.

Risikko audit dan matterialitas s


secara signifikan m
memengaru
uhi keputusan
peng
gumpulan bukti
b oleh auditor. Au
uditor mem ngkan baik konsep da
mpertimban alam
perencanaan je
enis, waktu,, dan lingku
up prosedur audit mau
upun dalam
m mengeva
aluasi
hasil prosedur tersebut.
t R
Risiko audit terkait den
ngan risiko bisnis entittas, risiko salah
s
saji material
m alam laporan keuangan terdiri ata
da as dua kom
mponen mo
odel risiko audit,
a
yaitu
u; risiko baw
waan (inherrent risk) da
an risiko pengendalian
n (control rissk).

aji material digunakan untuk men


Risikko salah sa nentukan tin
ngkat yang
g dapat dite
erima
dari risiko dete
eksi (detecttion risk) dan
d untuk merencana
akan prose
edur audit yang
y
akan
n dilaksanak
kan.

 Pusdiklatw
was BPKP – 2008                                                                                                                                    61 
 
Audit Attas Pengelolaaa
an Barang Milik D
Daerah 
 
• R
Risiko auditt adalah ukuran
u risikko tidak te
ercapainya tujuan audit yang dapat
d
diterima oleh
h suatu aud
dit.

• R
Risiko bawa
aan (inhere
en) ; ukuran
n risiko yan
ng terkait dengan
d ope
erasi organ
nisasi
sebelum me
empertimba
angkan efekktifitas peng
gendalian.

• R
Risiko peng
gendalian ; ukuran taksiran auditor
a ba
ahwa peng
gendalian yang
y
digunakan tiidak mampu mendeteksi dan mencegah terj
rjadinya kessalahan.

• R
Risiko detek
ksi ; ukuran
n risiko bah
hwa hasil pe
engumpula
an dan evalluasi bukti audit
a
akan gagal mendeteks
m i adanya ke
esalahan.

Risiko de
eteksi berb
banding lurrus dengan
n risiko audit

Riisiko Detek
ksi Tinggi = luas dan
n jenis pen
ngujian terb
batas

Æ buk
kti audit te
erbatas = Risiko
R Aud
dit Tinggi.

2. PENENTUA
P AN RISIKO USAHA DA
AN RISIKO SALAH SA
AJI MATER
RIAL

Risikko usaha ad
dalah konsep yang leb
bih luas da
aripada risikko laporan keuangan yang
y
meng
gandung sa
alah saji material. Rissiko usaha memiliki po
otensi untukk memenga
aruhi
laporran keuang
gan baik se
ecara langssung atau dalam
d jangka panjang
g. Auditor harus
h
mend
dapatkan pemahaman
p n mengena
ai sasaran dan strateg
gi manajem
men serta risiko
r
usah erkait yang mungkin akan menimbulkan salah
ha yang te s saji material da
alam
laporran keuang
gan.

 Pusdiklatw
was BPKP – 2008                                                                                                                                    62 
 
Audit Attas Pengelolaaa
an Barang Milik D
Daerah 
 

Proses Penentu
uan Risiko

• Laksanakan
n penentuan
n risiko un
ntuk peroleh
h pemaham
man menge
enai entitass dan
ngkungann
lin nya, termasuk pengend
dalian interrnal.
• Id
dentifikasi risiko usah
ha yang mungkin
m tim
mbul dari salah
s saji material da
alam
la
aporan keua
angan
• E
Evaluasi tan
nggapan en
ntitas terhad
dap risiko usaha
u terse emperoleh bukti
ebut dan me
dari impleme
entasinya
• T
Tentukan ris
siko salah saji
s materia
al pada tingkat asersi dan
d menen
ntukan prossedur
audit yang diperlukan
d b
berdasarka n penentua
an risiko terrsebut.

3. MATERIAL
M ITAS

Pertimbangan auditor m
mengenai materialita
as dalam audit ad
dalah massalah
pertim
mbangan profesional
p l karena materialitas
m ditentukan oleh efekk potensial dari
salah
h saji atas keputusan
k y
yang dibua
at oleh peng
gguna laporran keuang
gan.

M
Materialitas
s (materiality) adalah
h besarnya
a informasii akuntansi yang apabila
te
erjadi peng
ghilangan atau
a salah saji, dilihatt dari kead
daan yang melingkupinya,
m
mungkin da
apat meng
gubah ata
au memen
ngaruhi pe
ertimbangan
n orang yang
y
m
meletakkan kepercayaa
an atas info
ormasi tersebut.

 Pusdiklatw
was BPKP – 2008                                                                                                                                    63 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 
4. BUKTI AUDIT

Bukti audit (audit evidence) adalah seluruh informasi yang digunakan oleh auditor
dalam mencapai kesimpulan audit. Pekerjaan auditor sebagian besar mencakup
perolehan dan evaluasi bukti menggunakan prosedur-prosedur pemeriksaan catatan
dan konfirmasi untuk menguji kewajaran penyajian laporan keuangan. Untuk itu
auditor harus memahami secara mendalam aspek penting dari bukti audit, termasuk
memahami kaitan dengan laporan keuangan dan laporan auditor, kecukupan dan
kompetensi bukti, jenis prosedur audit dan dokumentasi bukti pada kertas kerja
audit.

C. MERENCANAKAN AUDIT

1. Melakukan prosedur analitis awal

– evaluasi terhadap informasi keuangan dengan mempelajari hubungan logis


antar data keuangan maupun data non keuangan dengan tujuan untuk :

• Memahami kegiatan dan transaksi yang ada

• Mengidentifikasi akun laporan keuangan yang mungkin berisi


kekeliruan guna menentukan arah pengujian.

2. Mengembangkan strategi audit secara keseluruhan.

– Putuskan mengenai sifat, saat, dan luas pengujian audit. Gabungkan


pemahaman :

• Sasaran, strategi, dan risiko kegiatan auditan serta risiko audit terkait

• Pahami bagaimana auditan mengelola risikonya (pengendalian


internal)

• Dokumentasikan akibat risiko dan pengendalian.

 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    64 
 
Audit Attas Pengelolaaa
an Barang Milik D
Daerah 
 
3. Menyusun
M Program Kerja
K Audit.

D. AKT
TIVITAS AU
UDIT

Dalam pelaksanaannya audit dia


awali deng
gan mene
etapkan urutan prio
oritas
ertimbangan risiko se
berdasarkan pe erta materia
alitas meng
genai segm
men mana yang
y
n dikerjakan atau pe
akan erlu dilakukkan pengu
ujian. Berdasarkan prioritas-prio
oritas
terse
ebut disusu
un program
m kerja aud
dit (PKA) sebagai
s pedoman dallam melakukan
auditt. Dari pela
aksanaan PKA
P tersebut disusunllah kertas kerja audit (KKA) seb
bagai
doku
umentasi da
ari bukti aud
dit yang dip
peroleh. Be
erdasarkan KKA terseb
butlah simp
pulan
hasil audit disus
sun.

E. AUD
DIT TERHADAP ASET
T TETAP.

Audit terrhadap ase


et tetap pada dasarnya
a bertujuan untuk meyyakinkan:

• K
Kebenaran, kelengkapa
an & akurasi transaksi (asersi me
engenai tra
ansaksi)
• saldo awal dan
d akhir pe
eriode ben
nar-benar ada (asersi mengenai
m s
saldo)
• P
Penyajian da
an pengung
gkapan sessuai SAP (a
asersi meng
genai penya
ajian).

 Pusdiklatw
was BPKP – 2008                                                                                                                                    65 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 

ASERSI MENGENAI TRANSAKSI , meliputi;

Keterjadian transaksi dan peristiwa yang terjadi dan telah dicatat, benar-
benar telah terjadi dan menyinggung entitas.
Kelengkapan seluruh transaksi dan peristiwa yang seharusnya dicatat
telah dicatat.
Otorisasi semua transaksi dan peristiwa telah diotorisasi secara tepat.

Akurasi nilai dan data lain yg berhubungan dengan transaksi dan


peristiwa yang dicatat telah dicatat secara benar.
Pisah batas transaksi dan peristiwa telah dicatat dalam periode
akuntansi yang tepat.
Klasifikasi transaksi dan peristiwa telah dicatat dalam akun yang tepat.

ASERSI MENGENAI SALDO, meliputi;

Eksistensi Aktiva/BMD secara fisik benar-benar ada.

Hak dan entitas memegang atau mengendalikan hak terhadap BMD.


kewajiban
Kelengkapan semua aktiva/BMD yang seharusnya dicatat telah dicatat.

Penilaian dan semua aktiva/BMD masuk di laporan keuangan dengan nilai


alokasi yang benar dan hasil penyesuaian penilaian atau alokasi
telah dicatat dengan benar.

ASERSI MENGENAI PENYAJIAN, meliputi;

Keterjadian serta hak peristiwa yang diungkapkan, transaksi, serta masalah


dan kewajiban lain telah terjadi dan menyinggung entitas.
Kelengkapan semua penjelasan yang harus dimasukkan ke dalam
laporan keuangan telah dimasukkan.
Klasifikasi & kemam- informasi keuangan telah secara tepat disajikan dan di-
puan untuk dipahami gambarkan, dan pengungkapan diutarakan secara jelas.

 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    66 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 

Akurasi dan penilaian informasi keuangan dan lainnya dijelaskan secara wajar
dan pada nilai yang tepat.
F. STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAH (SAP)

Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi yang


diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah.
Merupakan persyaratan yang mempunyai kekuatan hukum dalam upaya
meningkatkan kualitas laporan keuangan pemerintah di Indonesia dalam upaya
mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara/daerah
melalui penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang
memenuhi prinsip tepat waktu dan disusun mengikuti standar yang telah diterima
secara umum.

Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang berlaku adalah yang ditetapkan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 yang terdiri dari Kerangka Konseptual
disertai sebelas (11) Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP). Disamping
itu dilengkapi lagi dengan 4 Buletin Teknis SAP, masing-masing dengan nomor ;

1. Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Pusat.


2. Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Daerah.
3. Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintahan dengan Konversi.
4. Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah.

 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    67 
 
Audit Attas Pengelolaaa
an Barang Milik D
Daerah 
 

Standar Akunta
ansi Pemerrintah (SAP
P) yang terkkait erat de
engan audit terhadap aset
tetap
p adalah PS
SAP 05 Pe
ersediaan, PSAP
P 07 Aset
A Tetap serta
s PSAP
P 08 Konstruksi
Dalam Pengerja
aan.

1. ASET
A TETA
AP

A
ASET, adalah sumbe
er daya ekkonomi ya
ang dikuasai dan/ata
au dimiliki oleh
pemerintah sebagai akibat
a dari peristiwa masa lalu dan dari mana man
nfaat
ekonomi dan/atau sosial di masa
a depan diharapkan dapat
d diperroleh, baik oleh
pemerintah maupun masyaraka
at, serta dapat
d diukkur dalam satuan uang,
u
ermasuk su
te umber dayya nonkeua
angan yang
g diperluka
an untuk pe
enyediaan jasa
bagi masyarrakat umum
m dan sumb
ber-sumberr daya yang
g dipelihara
a karena ala
asan
sejarah dan budaya.

• ASET TE
ETAP, ada
alah aset berwujud
b ya
ang mempu a manfaat lebih
unyai masa
dari 12 bulan
b untukk digunakan
n dalam keg
giatan pemerintah atau dimanfaa
atkan
oleh mas
syarakat um
mum.

• BIAYA PEROLEHA
P AN, adalah
h jumlah ka
as atau settara kas ya
ang dibaya
arkan
atau nila
ai wajar imbalan lain yang diberikan untukk mempero
oleh suatu aset

 Pusdiklatw
was BPKP – 2008                                                                                                                                    68 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 
pada saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam
kondisi dan tempat yang siap untuk dipergunakan.

• NILAI WAJAR, adalah nilai tukar aset atau penyelesaian kewajiban antar
fihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar.

• MASA MANFAAT, adalah :

• Periode suatu aset diharapkan digunakan untuk aktivitas pemerintahan


dan/atau pelayanan publik; atau

• Jumlah produksi atau unit serupa yg diharapkan diperoleh dari aset


untuk aktivitas pemerintahan dan/atau pelayanan publik.

• NILAI SISA, adalah jumlah neto yg diharapkan dapat diperoleh pada akhir
masa manfaat suatu aset setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan.

• NILAI TERCATAT, adalah nilai buku aset, yg dihitung dari biaya perolehan
suatu aset setelah dikurangi akumulasi penyusutaan.

• PENYUSUTAN, adalah penyesuaian nilai sehubungan dengan penurunan


kapasitas dan manfaat dari suatu aset.

a. ASET TETAP TANAH

Tanah yang dikelompokkan dalam aset tetap ialah tanah yang diperoleh dengan
maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi
siap dipakai. Kepemilikan atas tanah ditunjukkan dengan adanya bukti
kepemilikan dan/atau penguasaan secara hukum. Apabila belum didukung bukti
secara hukum, tanah tersebut harus diakui pada saat terdapat bukti bahwa
penguasaannya telah berpindah (pembayaran dan penguasaan atas sertifikat
tanah atas nama pemilik sebelumnya).

Tanah dinilai dengan biaya perolehan, termasuk biaya yang dikeluarkan dalam
rangka memperoleh hak, biaya pematangan, pengukuran, penimbunan, dan
biaya lainnya sampai tanah tersebut siap pakai.

 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    69 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 

b. ASET TETAP GEDUNG DAN BANGUNAN

Mencakup seluruh gedung dan bangunan yang dibeli atau dibangun dengan
maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional pemerintah dan dalam kondisi
siap dipakai. Diakui pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan
berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk aset tersebut.

Aset yang diperoleh dari donasi diakui pada saat gedung dan bangunan tersebut
diterima dan hak kepemilikannya berpindah.

Pengakuan meliputi : penambahan, pengembangan, dan pengurangan


(berkurangnya kuantitas aset).

Gedung dan bangunan dinilai dengan biaya perolehan. Jika tidak memungkinkan
dapat didasarkan pada nilai wajar/taksiran pada saat perolehan.

Disajikan di neraca sebesar nilai moneternya, dan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan (CaLK) diungkap pula :

– Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai

– Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang


menunjukkan :

• Penambahan

• Pengembangan, dan

• Penghapusan, serta

– Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi aset.

c. ASET TETAP PERALATAN DAN MESIN

 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    70 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 
Mencakup mesin-mesin dan kendaraan bermotor, alat elektonik, dan seluruh
inventaris kantor yang nilainya signifikan dan masa manfaatnya lebih dari 12
bulan dan dalam kondisi siap pakai. Diakui pada periode akuntansi ketika aset
tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah belanja modal yang diakui untuk
aset tersebut. Jika diperoleh dari donasi, diakui pada saat aset tersebut diterima
dan hak kepemilikannya berpindah. Pengakuan meliputi : penambahan,
pengembangan, dan pengurangan (berkurangnya kuantitas aset).

Biaya perolehan, menggambarkan jumlah pengeluaran yang telah dilakukan


untuk memperolehnya sampai siap pakai. Biaya perolehan yang berasal dari
pembelian meliputi :

– Harga pembelian, Biaya pengangkutan, Biaya instalasi, serta Biaya


langsung lainnya untuk memperoleh dan mempersiapkan sampai
peralatan dan mesin tersebut siap digunakan.

Disajikan sebesar nilai moneternya, dan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
(CaLK) diungkap pula :

– Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai

– Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang


menunjukkan :

• Penambahan, Pengembangan, dan Penghapusan.

– Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi aset.

d. ASET TETAP, JALAN, IRIGASI DAN JARINGAN

Aset yang dibangun dan dikuasai pemerintah dan dalam kondisi siap pakai,
terdiri dari ; jalan dan jembatan, bangunan air, instalasi, dan jaringan. Diakui
pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah
belanja modal yang diakui untuk aset tersebut. Jika diperoleh dari donasi, diakui
pada saat aset tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.
 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    71 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 
Pengakuan meliputi : penambahan, pengembangan, dan pengurangan
(berkurangnya kuantitas aset).

Biaya perolehan, menggambarkan jumlah pengeluaran yang telah dilakukan


untuk memperolehnya sampai siap pakai. Biaya perolehan atau biaya konstruksi
dan biaya-biaya lain meliputi :

• Biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan, jasa konsultan,


biaya pengosongan, dan pembongkaran bangunan lama.

Disajikan sebesarnya nilai moneternya, dan dalam Catatan atas Laporan


Keuangan (CaLK) diungkap pula :

• Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai

• Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yg


menunjukkan :

• Penambahan, Pengembangan, dan Penghapusan.

• Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi aset.

e. ASET TETAP, ASET TETAP LAINNYA

Termasuk dalam kategori aset ini adalah : koleksi perpustakaan/buku, barang


bercorak kesenian/ kebudayaan/olahraga, hewan, ikan dan tanaman. Diakui
pada periode akuntansi ketika aset tersebut siap digunakan berdasarkan jumlah
belanja modal yang diakui untuk aset tersebut. Jika diperoleh dari donasi, diakui
pada saat aset tersebut diterima dan hak kepemilikannya berpindah.

Pengakuan meliputi : penambahan yang dikapitalisasi (pengadaan baru,


diperluas atau diperbesar), dan pengurangan (berkurangnya kuantitas aset).

Biaya perolehan, menggambarkan jumlah pengeluaran yang telah dilakukan


untuk memperolehnya sampai siap pakai. Biaya perolehan atau biaya konstruksi
dan biaya-biaya lain meliputi :
 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    72 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 

• Nilai kontrak, biaya perencanaan dan pengawasan, serta biaya


perizinan.

Disajikan sebesar nilai moneternya, dan dalam Catatan atas Laporan Keuangan
(CaLK) diungkap pula :

• Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai

• Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang


menunjukkan :

• Penambahan, dan Penghapusan.

• Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi aset.

f. PEROLEHAN SECARA GABUNGAN

Biaya perolehan dari masing-masing aset tetap yang diperoleh secara gabungan
ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan
perbandingan nilai wajar masing-masing aset yang bersangkutan.

g. PERTUKARAN ASET

Suatu “aset tetap” dapat diperoleh melalui pertukaran atau pertukaran sebagian
aset tetap yang tidak serupa atau aset lainnya. Biaya dari pos semacam itu
diukur berdasarkan nilai wajar aset yang diperoleh yaitu nilai ekuivalen atas nilai
tercatat aset yang dilepas setelah disesuaikan dengan jumlah setiap kas atau
setara kas yang ditransfer/diserahkan.

h. ASET DONASI

Aset tetap yang diperoleh dari sumbangan (donasi) harus dicatat sebesar nilai
wajar pada saat perolehan.

i. ASET BERSEJARAH (HERITAGE ASSETS )

Aset bersejarah tidak disajikan di Neraca namun aset tersebut harus


diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    73 
 
Audit Atas Pengelolaaan Barang Milik Daerah 
 
Suatu aset dikategorikan sebagai aset bersejarah dikarenakan kepentingan
budaya, lingkungan , dan sejarah. Ciri karakteristiknya antara lain :

• Nilai kultural, lingkungan, pendidikan, dan sejarahnya tidak mungkin secara


penuh dilambangkan dengan nilai keuangan berdasarkan harga pasar.

• Peraturan dan hukum yang berlaku melarang dan membatasi secara ketat
pelepasannya untuk dijual.

• Tidak mudah untuk diganti dan nilainya akan terus meningkat selama waktu
berjalan walaupun kondisi fisiknya semakin menurun.

• Sulit untuk mengestimasikan masa manfaatnya. Untuk beberapa kasus


dapat mencapai ratusan tahun.

Dicatat dalam kuantitasnya tanpa nilai. Biaya perolehan, konstruksi, peningkatan,


rekonstruksi harus dibebankan sebagai belanja tahun terjadinya pengeluaran
tersebut. Termasuk seluruh biaya yang berlangsung untuk menjadikan aset
bersejarah tersebut dalam kondisi dan lokasi yang ada pada periode berjalan.

Aset Bersejarah yang juga mamberikan potensi manfaat lainnya kepada


pemerintah selain nilai sejarahnya (untuk gedung kantor), terhadap aset ini akan
diterapkan prinsip-prinsip yang sama seperti “Aset Tetap Lainnya”.

 Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                    74 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

BAB IV
AUDIT TERHADAP BARANG MILIK DAERAH

TPK ; Diharapkan mampu melaksanakan teknik dan prosedur serta pelaporan audit
terhadap Barang Milik Daerah.

A. UMUM

Audit terhadap Barang Milik Daerah pada dasarnya bertujuan untuk meyakinkan:

• Kebenaran, kelengkapan & akurasi transaksi (asersi mengenai transaksi)


• Saldo awal dan akhir periode benar-benar ada (asersi mengenai saldo), dan
• Penyajian dan pengungkapan sesuai SAP (asersi mengenai penyajian).

Sebagai internal auditor, audit terhadap barang milik daerah tersebut disamping untuk
mendukung kesempurnaan penyajian informasi dalam laporan keuangan, juga lebih
menekankan pada;

• Ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan, dan


• Ekonomis, Efisiensi, serta Efektivitas, dari pengelolaan BMD tersebut.

Ekonomis berhubungan dengan kegiatan memperoleh BMD sebagai input


dengan harga yang rendah/murah tanpa mengabaikan spesifikasi dan jumlah
kebutuhan BMD

Efisiensi berhubungan dengan kegiatan menggunakan/memanfaatkan BMD


secara hemat tanpa mengabaikan pencapaian tujuan

Efektivitas berhubungan dengan kegiatan pencapaian tujuan dengan


menggunakan BMD sesuai target ataupun sasaran yang telah ditetapkan

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 75 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
Kebenaran, kelengkapan & akurasi transaksi (asersi mengenai transaksi) meliputi
semua transaksi dan peristiwa yang terjadi benar-benar telah terjadi dan menyinggung
entitas serta yang seharusnya dicatat telah dicatat. Semua transaksi telah diotorisasi
secara tepat dan telah dicatat secara benar dalam periode akuntansi yang tepat dan
dalam akun yang tepat. Sehingga dalam melaksanakan audit auditor harus
memperhatikan masalah-masalah yang menyangkut:

• Keterjadian, Kelengkapan, Otorisasi, Akurasi, Pisah batas, Klasifikasi.

Saldo awal dan akhir periode benar-benar ada (asersi mengenai saldo). Dalam hal ini
entitas memegang atau mengendalikan hak terhadap aktiva, semua aktiva yang
seharusnya dicatat telah dicatat dan semua aktiva telah masuk di laporan keuangan
dengan nilai yang benar dan hasil penyesuaian penilaian atau alokasi telah dicatat
dengan benar. Dalam melaksanakan audit harus diperhatikan masalah-masalah yang
menyangkut:

• Eksistensi, Hak & kewajiban, Kelengkapan, Penilaian dan alokasi

Penyajian dan pengungkapan sesuai SAP (asersi mengenai penyajian). peristiwa yang
diungkapkan, transaksi, serta masalah lain telah terjadi dan menyinggung entitas.
semua penjelasan yang harus dimasukkan ke dalam laporan keuangan telah
dimasukkan. Informasi keuangan telah secara tepat disajikan dan digambarkan, dan
pengungkapan diutarakan secara jelas serta informasi keuangan dan lainnya dijelaskan
secara wajar dan pada nilai yang tepat. Dalam melaksanakan audit harus diperhatikan
masalah-masalah yang menyangkut:

• Keterjadian serta hak & kewajiban, Kelengkapan, Klasifikasi dan kemampuan


untuk dipahami, serta Akurasi dan penilaian

Dalam pedoman tata cara pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah


yang dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 23 tahun 2007,

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 76 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
dimuat mengenai pengawasan terhadap pengelolaan barang daerah dalam lampiran 1
Daftar Materi Pemeriksaan angka I.D. Secara rinci daftar materi pemeriksaan tersebut
memberikan pedoman untuk melakukan audit atas ;
a. Kebijakan pengelolaan barang jasa
b. Perencanaan kebutuhan barang jasa
c. Pengadaan Barang Jasa
d. Penggunaan Barang Jasa
e. Pemanfaatan Barang Jasa
f. Pengamanan & Pemeliharaan
g. Penilaian
h. Penghapusan
i. Pemindahtanganan
j. Penatausahaan
k. Inventarisasi
l. Pelaporan
m. Tuntutan Perbendaharaan/Tuntutan Ganti Rugi.

Dengan memperhatikan pedoman tata cara pengawasan ini serta memberikan


penekanan pada asersi-asersi manajemen yang terkait dengan tujuan audit terhadap
aset tetap, dapat dilihat gambaran penekanan pada pelaksanaan audit atas
pengelompokkan pelaksanaan audit, disamping penekanan lebih pada pengujian
transaksi juga perlu dilakukan pengujian terhadap saldo maupun penyajiannya di
laporan keuangan, sebagai berikut:

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 77 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

NO PERMENDAGRI 23-2007 TRANSAKSI SALDO PENYAJIAN

1 Kebijakan pengelolaan B/J V V V

2 Perencanaan kebutuhan B/J V

3 Pengadaan Barang Jasa V

4 Penggunaan Barang Jasa V

5 Pemanfaatan Barang Jasa V

6 Pengamanan & Pemeliharaan V V

7 Penilaian V V V

8 Penghapusan V V V

9 Pemindahtanganan V

10 Penatausahaan V V V

11 Inventarisasi V V

12 Pelaporan V V V

13 TP/TGR V

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 78 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 
 
B. MER
RENCANAK
KAN AUDIT
T TERHAD
DAP BARAN
NG MILIK DAERAH
D

Auditt terhadap barang milik


m daerah
h (BMD) dapat
d dilakukan bersa
amaan den
ngan
pelakksanaan kegiatan
k pengawasa
an lainnya
a seperti audit ke
euangan, a
audit
operasional, au
udit kinerja
a, audit invvestigatif, maupun
m pa
ada saat melakukan
m reviu
terha
adap laporran keuangan tahun
nan. Pelakksanaan audit ini da
apat dilakukan
terha
adap;

• Pengelolla Barang
• Penggun
na Barang, maupun
• Kuasa Pengguna Barang.

Pertimbangan yang
y menentukan fakttor risiko se
erta pertimb
bangan ma
aterialitas da
alam
pelakksanaan audit
a terha
adap bara
ang milik daerah dapat
d dilakukan den
ngan
mem
mpertimbang
gkan nilai aset,
a baik pada
p saldo awal tahun
n, jumlah tra
ansaksi selama
perio
ode audit yang b
berasal d
dari penga
adaan un
ntuk pena
ambahan dan
peng
gurangan/pe
enghapusa
an, maupu
un pada saldo akh
hir. Disamping mem
mper-
timba
angkan ma
asalah risiko
o bawaan dari
d masing
g-masing je
enis aset te
etap, serta kuat
lema
ahnya sistem
m pengend
dalian yang diterapkan
n.

Gam
mbaran muta
asi aset teta
ap ;

as BPKP – 2008                                                                                                                             
Pusdiklatwa    79 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
Sebelum melaksanakan audit terhadap barang milik daerah perlu dilakukan ;

1. Melakukan prosedur analitis awal.

Evaluasi terhadap informasi keuangan dengan mempelajari hubungan logis


antar data keuangan maupun data non keuangan dengan tujuan untuk :

• Memahami kegiatan dan transaksi yang ada

• Mengidentifikasi akun laporan keuangan, dalam hal ini memperhatikan


akun per jenis aset tetap yang mungkin berisi kekeliruan guna
menentukan arah pengujian.

2. Mengembangkan strategi audit secara keseluruhan.

Putuskan mengenai sifat, saat, dan luas pengujian audit. Gabungkan


pemahaman :

• Sasaran, strategi, dan risiko kegiatan auditan serta risiko audit terkait

• Pahami bagaimana auditan mengelola risikonya (pengendalian


internal)

• Dokumentasikan akibat risiko dan pengendalian.

3. Menyusun Program Kerja Audit (PKA).

Penyusunan program kerja audit diawali dengan perumusan tujuan dilakukannya


audit, dan berisi prosedur audit/langkah kerja audit yang merupakan pedoman
bagi auditor yang akan melaksanakan audit tersebut. Langkah kerja audit
tersebut merupakan perintah pelaksanaan audit serta berisi teknik audit yang
perlu dilakukan.

Contoh dokumentasi penetapan tujuan serta pilihan teknik audit ke dalam


program kerja audit, adalah sebagai berikut;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 80 
 
Audit A
Atas Pengelolaa
an Barang Milik D
Daerah 
 

as BPKP – 2008                                                                                                                             
Pusdiklatwa    81 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
C. PELAKSANAAN AUDIT BARANG MILIK DAERAH

Pendekatan pelaksanaan audit terhadap barang milik daerah ini di fokuskan pada
pelaksanaan audit terhadap suatu entitas, dalam hal ini pengguna barang/Satuan
Kerja Perangkat Daerah atau kuasa pengguna anggaran/unit kerja.

Pemahaman terhadap kegiatan satuan kerja tersebut diperlukan untuk mengetahui


sejauh mana risiko dan materialitas serta pengendalian terhadap pengelolaan aset
tetap/barang milik daerah guna menetapkan lingkup pengujian yang perlu
dilakukan.

1. PENGUJIAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN

Pengujian sistem pengendalian intern dalam pelaksanaan audit terhadap barang


milik daerah diperlukan guna efisiensi pelaksanaan audit itu sendiri dengan
menentukan lingkup pengujian yang perlu dilakukan dengan mempertimbangkan
tingkat risiko dan materialitas.

Berdasarkan lima komponen pengendalian menurut Committee of Sponsoring


Organizations of the Treadway Commission (COSO), khusus untuk aset tetap/
barang milik daerah dapat dilihat sebagai berikut;

a. Lingkungan pengendalian (Control environment), sejauh mana manajemen dan


staf menciptakan dan memelihara lingkungan dalam organisasi yang
menetapkan perilaku positif dan dukungan terhadap pengendalian intern dan
kesadaran manajemen, kepedulian terhadap pemeliharaan, pemanfaatan
maupun penatausahaan terhadap aset tetap/barang milik daerah.

b. Penilaian risiko manajemen (Management risk assessment), sejauh mana


manajemen mengelola risiko yang ada terhadap aset tetap/barang milik daerah.

c. Sistem komunikasi dan informasi akuntansi (Accounting information and


communication system), bagaimana mengidentifikasi, mengumpulkan,

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 82 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
mengklarifikasi, mencatat, dan melaporkan transaksi/kejadian organisasi, dan
untuk menjaga pertanggungjawaban akuntansi atas aset tetap yang terkait.

d. Aktivitas pengendalian (Control activities), merupakan salah satu komponen


pengendalian intern yang berupa kebijakan dan prosedur yang ditetapkan
manajemen untuk memenuhi tujuan operasionalnya dalam kaitannya dengan
pelaporan atas aset tetap/barang milik daerah. Aktivitas pengendalian meliputi 5
(lima) kategori, yaitu :

• Pemisahan tugas yang memadai

• Otorisasi transaksi dan aktivitas yang seharusnya

• Dokumen dan catatan yang memadai

• Pengendalian fisik atas aktiva tetap dan catatan

• Pengecekan yang independen atas kinerja

e. Pengamatan (Monitoring), adalah pengawasan oleh manajemen dan pegawai


lain yang ditunjuk atas pelaksanaan tugas sebagai penilaian terhadap kualitas
dan efektivitas struktur pengendalian intern. Hal-hal yang dilaksanakan (sebagai
contoh):

• Membandingkan data di lapangan dengan data laporan

• Membandingkan kesesuaian data aset tetap dengan hasil inventarisasi

• Evaluasi oleh internal auditor.

Pengujian sistem pengendalian intern terhadap aset tetap/barang milik daerah


diawali dengan melakukan pemahaman terhadap sistem pengendalian yang ada
sebelum dilakukan pengujian terhadap sistem pengendalian tersebut.

• Pemahaman terhadap sistem pengandalian yang ada dilakukan dengan


menyajikan secara tertulis gambaran mengenai sistem/prosedur pelaksanaan
kegiatan operasional terhadap aset tetap, melalui :

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 83 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
• ICQ (internal control questionaire) dan wawancara

• Flow-charts

• Narasi

• Pengujian terhadap sistem pengendalian dilakukan dengan menganalisis


sistem dengan cara mengidentifikasi kunci-kunci pengendalian, kekuatan dan
kelemahannya, dilakukan melalui :

• Pengujian sepintas

• Pengujian terbatas

Simpulan dari hasil pengujian terhadap sistem pengendalian intern ini akan dapat
mempengaruhi penentuan luas lingkup pengujian yang perlu dilakukan.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 84 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
2. PENGUJIAN ATAS TRANSAKSI PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH

Pengujian atas transaksi bertujuan menguji kebenaran, kelengkapan & akurasi


transaksi yang pelaksanaannya meliputi pengujian terhadap;

Keterjadian Transaksi dan peristiwa yang terjadi dan telah dicatat,


benar-benar telah terjadi dan menyinggung entitas.
Kelengkapan Seluruh transaksi dan peristiwa yang seharusnya
dicatat telah dicatat.
Otorisasi Semua transaksi dan peristiwa telah diotorisasi
secara tepat.
Akurasi Nilai dan data lain yg berhubungan dengan transaksi
dan peristiwa yang dicatat telah dicatat secara benar.
Pisah batas Transaksi dan peristiwa telah dicatat dalam periode
akuntansi yang tepat.
Klasifikasi Transaksi dan peristiwa telah dicatat dalam akun
yang tepat.

Pengujian atas transaksi pengelolaan barang daerah dilakukan berdasarkan


langkah kerja yang tercantum dalam Program Kerja Audit (PKA). PKA adalah
rancangan prosedur dan teknik audit yang disusun secara sistematis yang harus
diikuti/dilaksanakan oleh auditor dalam kegiatan audit untuk mencapai tujuan
audit. Dalam PKA tersebut perlu dirumuskan;

• Tujuan audit
• Langkah Kerja Audit.

Tujuan audit untuk pengujian transaksi atas pengelolaan barang daerah adalah
rumusan mengenai apa masalah yang ingin diyakini oleh auditor dari segmen
audit yang dilakukannya.

Langkah kerja audit merupakan pedoman/perintah pelaksanaan audit dan berisi


teknik audit yang perlu dilakukan.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 85 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
Mengacu kepada Permendagri nomor 23 tahun 2007, pengujian yang perlu
dilakukan berdasarkan Daftar Materi Pemeriksaan, adalah sebagai berikut;

a. Kebijakan Pengelolaan Barang.


Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa pengelolaan barang daerah dilakukan berdasarkan
kebijakan Kepala Daerah sebagai penjabaran peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi untuk meningkatkan tertib pengelolaan barang.
Langkah Kerja;
1) Periksa dan catat apakah ada kebijakan yang dikeluarkan oleh Kepala
Daerah (Perda, Surat Keputusan, Instruksi, Surat Edaran dan sejenisnya)
sebagai penjabaran Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi
untuk meningkatkan tertib pengelolaan barang.
2) Uji kebijakan dimaksud apakah sudah berpedoman pada ketentuan yang
berlaku.

b. Perencanaan Kebutuhan Barang/Jasa.


Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa perencanaan dan penentuan kebutuhan BMD sesuai
dengan kebutuhan dan ketentuan perundangan yang berlaku
Langkah Kerja;
a) Periksa apakah perencanaan dan penentuan kebutuhan barang yang
tertuang dalam RKBMD (Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah)
masing masing unit/satuan kerja telah memperhatikan :
a) Anggaran yang tersedia
b) Barang yang dibutuhkan
c) Alasan kebutuhan
d) Cara Pengadaan
e) Standarisasi dan spesifikasi barang yang dibutuhkan
f) Jumlah barang yang dibutuhkan

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 86 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
b) Periksa apakah pengadaan barang/jasa yang telah direncanakan dalam
program kerja merupakan penjabaran dari RKBMD dan RKPB (Rencana
Kebutuhan Pemeliharaan Barang).
c) Bandingkan kegiatan pengadaan barang/Jasa dalam DASK dengan
program kerja dan RKBMD/RKPB.

c. Pengadaan Barang/Jasa
Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa pelaksanaan pengadaan barang/jasa dilaksanakan
sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan perundangan yang berlaku
Langkah Kerja;
1) Panitia/Pejabat Pengadaan.
a) Periksa apakah panitia/pejabat pengadaan telah dibentuk oleh
pengguna barang/jasa, dapatkan SK-nya, periksa jumlah dan susunan
anggotanya apakah persyaratan jumlah dan susunan anggotanya
telah sesuai ketentuan yang berlaku.
b) Periksa apakah panitia/pejabat pengadaan telah melaksanakan tugas
dan tanggungjawabnya, antara lain :
• Menyusun jadwal dan menetapkan cara pelaksanaan dan lokasi
pengadaan.
• Menyusun HPS (Harga Perkiraan Sendiri) atau OE
• Menyiapkan dokumen pengadaan
• Mengumumkan pengadaan
• Menilai kualifikasi pengadaan barang/jasa
• Melakukan evaluasi terhadap penawaran
• Mengusulkan calon pemenang.
• Menandatangani pakta integritas sebelum pelaksanaan
pengadaan barang/jasa.
• Membuat laporan proses dan hasil pengadaan kepada
pengguna barang/jasa.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 87 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
c) Periksa apakah ada hubungan keluarga antar anggota panitia.
d) Periksa apakah ada pejabat yang merangkap sebagai panitia
pengadaan dan panitia pemeriksa barang.
e) Periksa apakah ada anggota panitia pengadaan menduduki jabatan
struktural yang lebih tinggi dari panitia pelaksana.

2). Penyedia Barang/Jasa


a) Periksa apakah persyaratan penyediaan barang/jasa telah dipenuhi
antara lain :
• Memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan tehnik dan
manajerial untuk menyediakan barang/jasa.
• Tidak dalam pengawasan pengadilan/tidak pailit.
• Memiliki SDM, Modal, Peralatan dan fasilitas lain yang
diperlukan dalam pengadaan barang/jasa.
• Memiliki alamat tetap dan jelas.
• Memenuhi ketentuan untuk menjalankan usaha sebagai
penyedia barang/jasa.
• Sebagai wajib pajak sudah memenuhi kewajiban perpajakan
terakhir.
b) Tenaga Ahli/Jasa Konsultansi.
• Periksa apakah memiliki NPWP
• Lulusan perguruan tinggi.
• Mempunyai pengalaman dibidangnya.
c) Periksa apakah penyediaan barang/jasa bukan yang dilarang menjadi
penyedia barang/jasa yaitu :
• PNS, pegawai BI, BUMN dan BUMD.
• Penyedia barang/jasa yang keikutsertaannya menimbulkan
pertentangan kepentingan.
d) Periksa apakah ada hubungan istimewa antara penyedia barang/ jasa
dengan pengguna barang dan panitia/pejabat pengadaan.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 88 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
3). Penetapan Sistim Pengadaan.
a) Periksa pelaksanaan kegiatan, apakah dilakukan secara swakelola
atau diborongkan kepada pihak ketiga.
b) Jika dilakukan secara swakelola :
(1) Periksa apakah perencanaan kegiatan telah dituangkan dalam
bentuk KAK (Kerangka Acuan Kerja)
(2) Periksa apakah KAK telah memuat :
• Uraian kegiatan
• Sumber pendanaan
• Jumlah tenaga yang diperlukan
• Jadwal pelaksanaan
• Produk yang dihasilkan
• Besarnya pembiayaan.
c) Periksa alasan penetapan pemilihan penyedia barang/jasa dengan
metode pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan langsung
atau penunjukan langsung sudah sesuai dengan ketentuan.
d) Periksa alasan pengadaan barang/jasa yang seharusnya pelelangan
umum atau pelelangan terbatas tetapi dilaksanakan dengan sistim
pemilihan langsung atau penunjukan langsung.

4). Prosedur Pelelangan.


a) Pengumuman rencana pengadaan barang/jasa.
Periksa apakah telah dilakukan pengumuman secara terbuka rencana
pengadaan barang/jasa kecuali pengadaan barang/jasa yang bersifat
rahasia pada setiap awal pelaksanaan anggaran kepada masyarakat
luas melalui surat kabar nasional dan/atau surat kabar provinsi.

b) Pengumuman Lelang dan Rapat Penjelasan.


(1) Periksa apakah pengumuman lelang untuk pengadaan barang/
jasa telah dilaksanakan sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari kerja

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 89 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
dan diumumkan secara luas melalui surat kabar nasional/ Provinsi
minimal 1 (satu) kali tayang.
(2) Periksa apakah dalam pengumuman tersebut dicantumkan uraian
singkat pekerjaan, tempat, hari dan waktu pendaftaran dan
persyaratan peserta lelang.
(3) Periksa apakah rapat penjelasan (aanwijzing) termasuk
perubahannya dan peninjauan lapangan telah dibuatkan Berita
Acara Penjelasan (BAP) yang ditandatangani oleh Panitia/ Pejabat
Pengadaan dan minimal 1 (satu) wakil dari peserta yang hadir.
(4) Periksa daftar hadir dan berita acara penjelasan, terutama
mengenai apakah rekanan yang diundang benar pejabat yang
kompeten. Apabila hanya satu peserta yang mengajukan
pertanyaan, maka berindikasi bahwa peserta lain yang hadir hanya
bersifat formalitas.
(5) Apabila rekanan peserta aanwijzing bukan pejabat yang menguasai
masalah teknis dan tanya jawab tidak aktif, perlu diperiksa
kemungkinan lelang formalitas.
(6) Untuk itu perlu diperiksa :
• Apakah ada hubungan diantara rekanan.
• Apakah ada keganjilan dalam dokumen penawaran
(pengetikan sama), penyetoran jaminan lelang oleh satu
orang, pengambilan dokumen lelang dll.
• Cek susunan pengurus dan anggaran dasar rekanan yang
ikut dalam pelelangan.

c) Pembukaan Surat Penawaran.


(1) Periksa apakah pembukaan surat penawaran telah disaksikan
minimal 2 (dua) orang wakil dari peserta atau jika tidak ada dalam
batas waktu 2 (dua) jam ada saksi dari luar yang ditunjuk oleh
Panitia/Pejabat Pengadaan.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 90 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
(2) Periksa apakah kelengkapan dokumen penawaran telah disertakan
dokumen yang diperlukan dan surat jaminan.
(3) Cek apakah Panitia/Pengadaan membuat Berita Acara pembukaan
dokumen penawaran terhadap semua penawaran yang masuk
(cermati waktu pembukaan harus sama)

d) Evaluasi Penawaran dan Penetapan Calon Pemenang.


(1) Periksa apakah telah dilakukan evaluasi administrasi, teknis dan
harga oleh Panitia/Pejabat Pengadaan barang/jasa terhadap
semua penawaran yang masuk berdasarkan kriteria, metode dan
tata evaluasi yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan
penyedia barang/jasa.
(2) Periksa apakah evaluasi harga hanya dilakukan terhadap peserta
yang telah lulus evaluasi administrasi dan evaluasi teknis dan
apakah telah dilakukan koreksi aritmatik terhadap semua
penawaran yang masuk dan melakukan evaluasi sekurang-
kurangnya 3 (tiga) penawaran terendah setelah koreksi aritmatik.
(3) Periksa apakah Surat Jaminan Penawaran diterbitkan oleh Bank
Umum (tidak termasuk bank perkreditan rakyat) atau oleh
perusahaan asuransi yang mempunyai program asuransi kerugian
(surety bond) yang mempunyai dukungan reasuransi sebagaimana
persyaratan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
(4) Periksa apakah panitia/Pejabat Pengadaan telah menetapkan tiga
calon pemenang lelang yang telah memasukkan penawaran yang
paling menguntungkan bagi negara/daerah dalam arti :
• Penawaran secara teknis dapat dipertangungjawabkan
• Perhitungan harga yang ditawarkan dapat dipertanggung
jawabkan
• Penawaran tersebut adalah palng rendah diantara
penawaran yang memenuhi syarat.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 91 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

• Telah mempergunakan semaksimal mungkin hasil produksi


dalam negeri.
(5) Periksa apakah ada protes dan sanggahan kepada Panitia/Pejabat
Pengadaan oleh peserta pelelangan yang merasa dirugikan
mengenai hal-hal :
• Penyimpangan terhadap ketentuan dan prosedur yang telah
ditetapkan dalam dokumen pelelangan.
• Adanya indikasi rekayasa tertentu sehingga menghalangi
terjadinya persaingan yang tidak sehat.
• Adanya indikasi penyalahgunaan wewenang oleh
Panitia/Pejabat Pengadaan.
(6) Periksa apakah pelelangan yang dinyatakan gagal oleh
Panitia/Pejabat Pengadaan karena :
• Penyedia barang/jasa yang diundang kurang dari 3 (tiga)
peserta atau yang memasukkan penawaran kurang dari 3
(tiga) peserta yang memenuhi persyaratan administrasi dan
teknis.
• Harga penawaran terendah melampui pagu yang tersedia.
(7) Periksa apakah Panita/Pejabat Pengadaan melakukan pelelangan
ulang apabila dinyatakan gagal.
(8) Periksa apakah pelelangan ulang masih gagal, upaya apakah yang
dilakukan oleh Panitia/Pejabat Pengadaan.
(9) Periksa apakah sebelum ditandatangani kontrak telah diserahkan
jaminan pelaksanaan sesuai dengan ketentuan.

e) Kewajaran Harga.
(1) Periksa apakah OE (Owners Estimate) atau HPS (Harga
Perhitungan Sendiri) disusun berdasarkan harga upah, peralatan
dan material yang diterbitkan/ditetapkan oleh instansi resmi dan
atau GSO (harga pokok bebas pajak) untuk kendaraan bermotor

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 92 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
serta harga-harga yang berlaku di lokasi setempat yang berdekatan
dengan proyek tersebut.
(2) Bandingkan nilai total dan nilai item pekerjaan dari pemenang
lelang dengan nilai penawaran per item pekerjaan dari seluruh
peserta lelang lainnya.
(3) Bandingkan nilai total atau nilai item pekerjaan dari pemenang
lelang dengan nilai beberapa kontrak yang sejenis dalam kurun
waktu yang hampir sama.
(4) Periksa apakah harga satuan upah, bahan/peralatan dan material
lebih tinggi dari harga patokan setempat.
(5) Periksa apakah Panitia/Pejabat Pengadaan berfungsi dalam
menyusun OE.

f) Volume Pekerjaan
(1) Periksa apakah volume yang dibayar benar-benar sama dengan
volume yang dikerjakan/diserahkan oleh penyedia jasa.
(2) Lakukan opname fisik pekerjaan/barang dilapangan/gudang
bersama pihak penyedia barang/jasa, pengguna jasa dan
konsultan, pengawas/penerima barang dan buatkan Berita
Acaranya.
(3) Bandingkan hasil opname fisik dengan volume fisik/barang yang
sudah dibayar.
(4) Bila hasil pemeriksaan menunjukkan realisasi volume pekerjaan
kurang dari yang diperjanjikan buatkan perhitungan nilai
berdasarkan harga dalam kontrak.
(5) Bila penyedia barang/jasa wanprestasi, periksa apakah telah
diterapkan sanksi sesuai dalam perjanjian dan periksa pula
kebenaran perhitungannya.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 93 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
g) Kualitas/Mutu Barang/Pekerjaan.
(1) Periksa bahwa kualitas barang/pekerjaan dilaksanakan/ dibayar
benar-benar sesuai dengan persyaratan dalam dokumen
tender/SPK.
(2) Lakukan pengujian dilapangan (fisik barang) apakah ketentuan
spesifikasi teknis sudah dilaksanakan untuk setiap pekerjaan.
(3) Apabila terdapat perbedaan antara ketentuan kontrak dengan
pelaksanaan periksa sebab-sebabnya.
(4) Hitung nilai perbedaannya.

h) Jangka Waktu Pelaksanaan Pekerjaan.


(1) Periksa ketepatan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan kontrak
dan kewajaran pemberian perpanjangan waktu pelaksanaan.
(2) Bandingkan jangka waktu pelaksanaan menurut kontrak dan
addendumnya dengan realisasi pelaksanaan pekerjaan.
(3) Jika ada keterlambatan periksa apa sebabnya.
(4) Periksa kebenaran alasan perpanjangan waktu penyelesaian
pekerjaan.
(5) Apabila perpanjangan waktu disebabkan adanya perpanjangan
pekerjaan tambahan, periksa apakah pekerjaan tambahan tersebut
benar-benar memperlambat penyelesaian pekerjaan.
(6) Periksa apakah denda keterlambatan telah diperhitungkan dengan
tepat sesuai kontrak dan dikenakan kepada kontraktor.

i) Pelaksanaan Pengadaan Jasa Konsultan.


(1) Periksa apakah pengguna barang/jasa telah menyusun dan
mempersiapkan Kerangka Acuan Kerja (KAK).
(2) Periksa apakah panitia pengadaan jasa konsultan telah menyusun
Harga Perkiraan Sendiri (HPS) atau Owner’s Estimate (OE) yang
dikalkulasikan secara keahlian.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 94 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
(3) Periksa apakah HPS/OE yang disusun bukan satu-satunya acuan
tetapi telah dibandingkan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
sebagai pagu dana yang disediakan.
(4) Periksa apakah panitia pengadaan jasa konsultan telah
menyiapkan dan menyusun dokumen pengadaan yang terdiri dari :
• Surat undangan kepada penyedia jasa konsultan untuk
memasukan penawaran teknis dan biaya.
• KAK yang sudah disetujui pengguna barang/jasa .
• Rencana kerja dan syarat.
• Konsep kontrak.
(5) Periksa dokumen pengadaan tersebut telah diajukan panitia
kepada pengguna barang/jasa untuk meminta pengesahan.
(6) Periksa pelaksanaan pengadaan jasa konsultan, apakah dilakukan
dengan salah satu cara yaitu :
• Seleksi umum atau
• Seleksi langsung atau
• Penunjukan langsung.

5) Pengadaan Tanah Pemda.


(1) Periksa apakah pengadaan tanah yang dilakukan oleh Pemda benar
benar untuk kepentingan umum.
(2) Dapatkan SK. pembentukan Panitia Pengadaan Tanah, periksa :
(a).Unsur-unsur keanggotaannya yang terdiri dari perangkat daerah
terkait.
(b).Apakah Panitia Pengadaan telah melakukan tugasnya :
• melakukan penelitian dan inventarisasi atas tanah, bangunan,
tanaman dan benda-benda lain yang terkait dengan tanah
yang hak-nya akan dilepas.
• melakukan penelitian mengenai status hukum tanah dan
dokumen pendukungnya.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 95 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

• menafsir dan mengusulkan besarnya ganti rugi atas tanah.


• Melakukan penyuluhan kepada masyarakat yang tanahnya
terkena rencana pembangunan.
• Mengadakan musyawarah dengan para pemegang hak atas
tanah dan instansi terkait untuk menetapkan bentuk dan atau
besarnya ganti rugi.
• Membuat berita acara pelepasan atau penyerahan hak atas
tanah.
(3) Periksa kewajaran ganti rugi dalam pengadaan tanah apabiladiberikan
dalam bentuk :
• Uang.
• Tanah pengganti dan/atau
• Pemukiman kembali
(4) Periksa dasar dan cara perhitungan ganti rugi, apakah sudah
ditetapkan atas dasar :
• Status hak atas tanah.
• Harga tanah didasarkan nilai nyata dengan memperhatikan
nilai jual obyek pajak bumi dan bangunan terakhir.
• Nilai jual bangunan yang ditaksir oleh instansi Pemda yang
bertanggungjawab di bidang bangunan.
• Nilai jual tanaman yang ditaksir oleh instansi Pemda yang
bertanggungjawab di bidang pertanian.
(5) Periksa apakah ganti rugi langsung diserahkan kepada :
• Pemegang hak atas tanah/oleh ahli waris yang sah.
• Nadzir bagi tanah wakaf.

6) Perjanjian/kontrak.
(1) Periksa apakah yang menandatangani perjanjian/kontrak adalah
Pejabat Pembuat Komitmen.
(2) Periksa dan adakan penilaian terhadap dokumen kontrak antara lain :
jenis dan spesifikasi pekerjaan, nilai kontrak, waktu pelaksanaan,
Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 96 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
jaminan pelaksanaan, syarat-syarat pembayaran, sanksi dan denda,
serta sistim kontrak apa yang digunakan.
(3) Periksa dan adakan penilaian bila terjadi perubahan kontrak yang
dilakukan sesuai kesepakatan antara Pihak Penyedia Barang/Jasa
dengan pihak Pengguna Barang/Jasa.
(4) Periksa apakah serah terima pekerjaan telah dilakukan sesuai dengan
hal-hal yang diatur dalam dokumen kontrak.
(5) Periksa apakah penyedia barang/jasa memenuhi kewajiban
memelihara hasil pekerjaan selama masa pemeliharaan.
(6) Periksa apakah terdapat pekerjaan yang dilaksanakan mendahului
SPK/Kontrak.

7) Pengecekan Fisik Barang dan Jasa.


(1) Apakah Panitia Pemeriksa Barang/Jasa telah dibentuk (dapatkan SK
Panitia) Periksa susunan keanggotaannya dan apakah panitia tersebut
telah berfungsi sebagaimana mestinya.
(2) Adakan pemeriksaan secara uji petik dengan Berita Acara
Pemeriksaan terhadap Barang/Jasa tersebut, apakah kualitas dan
kuantitasnya telah sesuai dengan SPK/kontrak.
(3) Periksa Berita Acara Pemeriksaan Barang/Jasa yang dibuat Panitia
Pemeriksa, apakah telah sesuai dengan Berita Acara Penerimaan
Barang/Jasa.
(4) Periksa kesesuaian antara Berita Acara penerimaan barang/jasa
dengan SPK/Kontrak antara lain mengenai :
• Pejabat yang berwenang menandatangani Berita Acara
Penerimaan Barang/Jasa.
• Kuantitas, kualitas (volume, spesifikasi teknis, bestek/
gambar)
• Waktu dan tempat pelaksanaan/penyelesaian

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 97 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
(5) Apakah terdapat kekurangan dalam penerimaan barang atau
kerusakan barang dalam pengiriman, apakah sudah diproses
penyelesaiannya.

d. Penggunaan
Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa penggunaan barang/jasa sesuai dengan kebutuhan dan
ketentuan perundangan yang berlaku.
Langkah Kerja;
(1) Periksa apakah status penggunaan barang daerah telah ditetapkan oleh
Kepala Daerah dan Periksa apakah realisasi penggunaannya sudah
sesuai dengan penetapan status penggunaan yaitu untuk kepentingan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi pengguna/kuasa pengguna
barang yang bersangkutan.
(2) Periksa apakah pengguna barang/kuasa pengguna barang telah
menyerahkan tanah/bangunan yang tidak digunakan untuk kepentingan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi instansi yang bersangkutan
kepada Gubernur.
(3) Periksa apakah sudah ada penetapan penggunaan tanah/ bangunan
yang telah diserahkan oleh pengguna barang tersebut yaitu antara lain :
• untuk penyelenggaraan Tupoksi instansi lain.
• dimanfaatkan dalam rangka optimalisasi barang daerah.
• dipindahtangankan
• dan lain-lain.

e. Pemanfaatan
Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa pemanfaatan barang sesuai dengan ketentuan
perundangan yang berlaku secara optimal untuk membuka lapangan kerja,

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 98 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
meningkatkan pendapatan masyarakat dan menambah/meningkatkan
pendapatan daerah.

Langkah Kerja;
(1) Dapatkan data barang daerah yang telah dimanfaatkan dan periksa
bentuk pemanfaatannya yaitu :
• Penyewaan
• Pinjam Pakai
• Kerjasama pemanfaatan
• Bangun guna serah dan bangun serah guna.
(2) Periksa pemanfaatan barang daerah atas tanah/bangunan yang masih
digunakan oleh pengguna barang dan yang telah mendapat
persetujuan pengelola barang, apakah sudah sesuai dengan
peruntukannya.
(3) Kalau tidak apa yang menjadi motivasi/pertimbangan dalam
pemanfaatan barang daerah tersebut.
a) Penyewaan.
(1) Dapatkan Surat Perjanjian sewa menyewa tersebut dan periksa
apakah telah memuat :
ƒ Pokok-pokok penyewaan.
ƒ Data barang daerah yang disewakan.
ƒ Hak dan kewajiban kedua belah pihak.
ƒ Besarnya sewa.
ƒ Jangka waktu Penyewaan. (paling lama 5 tahun).
ƒ Sanksi-sanksi.
(2) Periksa apakah hasil penyewaan barang daerah telah disetor ke
Kas Daerah.
(3) Periksa apakah pihak ketiga memenuhi kewajiban tepat waktu.
(4) Periksa apakah pengembalian barang Daerah dari pihak ketiga
tepat waktu batas penggunaan (lihat dalam surat perjanjian) dan
apakah dikenakan sanksi apabila pihak ketiga wanprestasi
(5) Siapa yang menetapkan tarif penyewaan untuk barang daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 99 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

b) Pinjam Pakai.
(1) Dapatkan Surat Perjanjian Pinjam Pakai, periksa apakah memuat :
ƒ Pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian.
ƒ Data-data barang yang dipinjam pakai
ƒ Tanggungjawab peminjam atas biaya operasional dan
pemeliharaan selama jangka waktu peminjaman.
ƒ Persyaratan lain yang dianggap perlu.
(2) Periksa apakah syarat-syarat pinjam pakai telah berpedoman
sesuai ketentuan yang berlaku yaitu :
ƒ Barang belum dimanfaatkan oleh Pemda.
ƒ Barang hanya boleh dipergunakan sesuai dengan
peruntukkannya.
ƒ Barang yang dipinjam pakai merupakan barang yang tidak
habis pakai.
ƒ Jangka waktu peminjaman paling lama 2 tahun dapat
diperpanjang.
ƒ Pengembalian barang harus dalam keadaan baik.

c) Kerjasama Pemanfaatan atas Tanah dan Bangunan.


(1) Dapatkan surat perjanjian kerjasama pemanfaatan, periksa apakah
surat perjanjian tersebut telah memenuhi syarat antara lain :
(a). Pokok yang diperjanjikan.
(b). Hak dan Kewajiban masing-masing pihak.
(c). Jangka waktu kerjasama (paling lama 30 tahun) dapat
diperpanjang.
(d). Besaran kontribusi tetap dan bagi hasil keuntungan yang
harus dibayar mitra kerjasama setiap tahunnya.
(e). Persyaratan lain yang dianggap perlu misalnya mitra
kerjasama dilarang menggadaikan/mengagunkan barang
daerah kepada pihak lain.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 100 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
ƒ Periksa proses tender dan penetapan mitra
kerjasama (sekurang-kurangnya 5 peserta), apabila
penetapan mitra kerjasama dengan penunjukkan
langsung atas pertimbangan apa.
ƒ Periksa kewajaran pembagian keuntungan hasil
kerjasama yang ditetapkan dari hasil perhitungan Tim
(dapatkan SK Pembentukan Timnya).
ƒ Apakah pembayaran kontribusi dan pembagian
keuntungan hasil kerjasama telah mendapat
persetujuan pengelola barang, cek apakah telah
disetor ke kas daerah.
ƒ Cek biaya yang digunakan untuk persiapan dan
pelaksanaan kerjasama (karena tidak dapat
dibebankan pada APBD).

d) Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna


(1) Periksa apakah Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna
telah memenuhi persyaratan yaitu :
ƒ Pengguna barang memerlukan bangunan dan fasilitas bagi
penyelenggaraan pemerintah daerah untuk kepentingan
pelayanan umum dalam rangka penyelenggaraan tupoksi.
ƒ Tidak tersedia dana dalam APBD untuk penyediaan
bangunan tersebut.
(2) Dapatkan surat perjanjian dan periksa apakah telah memuat :
ƒ Pihak yang terkait dalam perjanjian.
ƒ Obyek Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna
ƒ Jangka waktu
ƒ Hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian.
ƒ Sanksi
ƒ Arbitrase

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 101 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
(3) Periksa jangka waktu Bangun Guna Serah dan Bangun Serah
Guna paling lama 30 (tigapuluh) tahun sejak surat perjanjian
ditandatangani.
(4) Periksa apakah selama jangka waktu pengoperasian mitra bangun
guna serah dan mitra bangun serah guna telah memenuhi
kewajibannya yaitu :
ƒ Membayar kontribusi ke Kas Daerah
ƒ Tidak menjaminkan, menggadaikan, memindah tangankan
oleh Bangunan Guna Serah dan Bangunan Serah Guna.
ƒ Memelihara obyek Bangunan Guna Serah dan Bangunan
Serah Guna.
ƒ (d) Periksa kewajaran besaran konstruksi atas hasil
perhitungan Tim yang telah dibentuk oleh pejabat yang
berwenang, cek penyetorannya ke kas daerah.

f. Pengamanan dan Pemeliharaan


Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa pengamanan terhadap barang milik daerah sesuai
dengan ketentuan perundangan yang berlaku secara fisik, administratif dan
hukum serta pemeliharaan sehingga dapat dicapai pendayagunaan barang
yang memenuhi persyaratan baik dari segi unit pemakaian maupun dari segi
keindahan dan dapat dipergunakan/dimanfaatkan secara optimal serta
terhindar dari penyerobotan pengambil alihan atau klaim dari pihak lain.

Langkah Kerja;
(1) Pengamanan.
(a) Periksa apakah Pemerintah Daerah telah melakukan pelaksanaan
pengamanan terhadap barang daerah, baik pengamanan fisik
maupun pengamanan administrasi dan tindakan hukum.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 102 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
(b) Periksa bentuk pengamanan fisik maupun pengamanan
administrasi terhadap barang inventarisasi (barang bergerak dan
tidak bergerak maupun terhadap barang persediaan).
(c) Periksa dan inventarisir apakah ada barang daerah khususnya
barang tidak bergerak (Tanah/Bangunan) yang sedang bermasalah
(sengketa dengan pihak ketiga, instansi lain atau masyarakat
setempat).
(d) Periksa upaya hukum apa yang telah dilaksanakan Pememerintah
Daerah untuk menangani barang daerah yang bermasalah
tersebut, dan sampai dimana penyelesaiannya.

(2) Pemeliharaan Barang.


(a) Periksa apakah setiap unit kerja menyampaikan Rencana Tahunan
Pemeliharaan Barang Unit (RTPBU) kepada Biro
Perlengkapan/Biro Umum.
(b) Periksa apakah telah disusun Daftar Kebutuhan Pemeliharaan
Barang (DKPB).
(c) Periksa jenis barang yang dipelihara/dirawat (gedung kantor,
rumah dinas, mess/asrama, perlengkapan kantor, kendaraan dinas,
sarana telekomunikasi).
(d) Periksa kepastian penyediaan dana dalam DASK
(e) Periksa pelaksanaan pemeliharaan :
• Cara pelaksanaan (lelang, pemilihan langsung, pengadaan
langsung dan swakelola).
• Panitia Peneliti Penawaran,
• Panitia pemeriksa pekerjaan (susunan anggota dan
fungsinya).
• Cara pembayaran (kelengkapan dokumen).
• Pemeliharaan kendaraan, periksa :
ƒ Status kendaraan.
ƒ Prosedur Pemeliharaan

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 103 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
ƒ Pengadaan dan Penyaluran BBM

g. Penilaian
Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa penilaian terhadap barang milik daerah sesuai dengan
Standar Akuntansi Pemerintahan yang berlaku, dalam rangka penyusunan
neraca Pemerintah Daerah, pemanfaatan dan pemindahtanganan barang
milik daerah.
Langkah Kerja;
(1) Periksa apakah penetapan nilai barang milik daerah dalam rangka
penyusunan neraca pemerintah daerah berpedoman pada standard
akutansi pemerintahan.
(2)Periksa apakah penilaian barang milik daerah berupa tanah dan/atau
bangunan dalam rangka pemanfaatan atau pemindahtanganan
dilakukan oleh Tim atau melibatkan penilaian independen yang
ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan tujuan untuk mendapatkan nilai
wajar.
(3) Periksa apakah hasil penilaian barang milik daerah selain tanah dan
atau bangunan telah ditetapkan oleh pengelola barang.
(4) Periksa apakah seluruh barang milik daerah telah dilakukan penilaian
dan dimasukkan dalam neraca daerah.

h. Penghapusan.
Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa penghapusan terhadap barang milik daerah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
Langkah Kerja;
(1) Periksa apakah penghapusan barang daerah telah berdasarkan atas
pertimbangan :
(a) Rusak berat

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 104 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
(b) Tidak dapat digunakan secara optimal
(c) Telah melampaui batas waktu kegunaan/kadaluarsa.
(d) Beralih kepemilikannya
(e) Persediaan barang melebihi kebutuhan
(f) Nilai ekonomis lebih menguntungkan kalau dihapuskan.
(2) Periksa apakah ada barang milik daerah yang sudah tidak berada
dalam penguasaaan pengguna barang atau kuasa pengguna barang
karena beralih kepemilikannya, terjadi pemusnahan atau karena sebab
lain belum dihapuskan.
(3) Periksa apakah penghapusan barang milik daerah telah dihapus dari
daftar barang milik daerah.
(4) Periksa apakah penghapusan barang daerah tersebut telah diterbitkan
surat keputusan penghapusan oleh Kepala Daerah.
(5) Periksa apakah pelaksanaan penghapusan barang milik daerah yang
tidak berada dalam penguasaan pengguna barang atau kuasa
pengguna barang telah dilaporkan kepada pengelola barang.
(6) Periksa apakah pelaksanaan pemusnahan barang milik daerah karena
tidak dapat digunakan, dimanfaatkan dan tidak dapat
dipindahtangankan telah dituangkan dalam berita acara dan dilaporkan
kepada pengelola barang.

i. Pemindah tanganan
Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa pemindahtanganan Barang milik daerah dilakukan
terhadap BMD yang sudah rusak dan tidak dapat dipergunakan, dan telah
dihapus dari Daftar Inventaris Barang Milik Daerah, dan dilakukan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
Langkah Kerja;
(1) Periksa apakah ada pemindahtanganan barang daerah berupa:
(a) Penjualan
(b) Tukar menukar

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 105 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
(c) Hibah
(d) Penyertaan Modal
(2)Periksa apakah pemindahtanganan tanah/bangunan dan selain
tanah/bangunan yang bernilai lebih dari 5 milyard telah mendapat
persetujuan DPRD.

a) Penjualan
(1) Inventarisir penjualan barang daerah apakah penjualan barang
daerah telah mempertimbangkan :
• Optimalisasi barang daerah yang berlebih
• Secara ekonomis lebih menguntungkan daerah
(2) Periksa apakah penjualan barang milik daerah dilakukan secara
lelang kecuali barang yang bersifat khusus atau barang lainnya
yang ditetapkan lebih lanjut oleh pengelola barang.
(3) Cek apakah hasil penjualan barang daerah telah disetor ke kas
daerah.
(4) Periksa kewajaran harga penjualan barang daerah.

Penjualan Rumah
ƒ Periksa inventarisasi rumah-rumah dinas golongan III dan
berapa jumlah pemohon pembelian rumah golongan III.
ƒ Periksa persyaratan pembeli rumah rumah dinas golongan III :
ƒ Status Kepegawaiannya
ƒ Masa kerja
ƒ Pernah membeli/memperoleh rumah dinas atau belum.
ƒ Apakah pemohon telah memegang surat ijin penghunian
(SIP) dari Kepala Daerah dan sepengetahuan Kepala
Unit/Satuan Kerja.
ƒ Periksa penetapan harga jual rumah dinas golongan III apakah
telah sesuai dengan :

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 106 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
ƒ Penafsiran harga dari nilai biaya yang digunakan untuk
membangun rumah yang bersangkutan pada waktu penafsiran
dikurangi penyusutan menurut umur bangun.
ƒ Penetapan taksiran harga tanah berpedoman kepada NJOP
pada waktu penafsiran.
ƒ Harga rumah golongan III ditetapkan sebesar 50% dari harga
tafsiran dan penilaian yang dilakukan panitia.
ƒ Periksa apakah penjualan rumah dinas tersebut telah
ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah dan bagaimana
sistim pembayarannya.
ƒ Periksa uang muka pembayaran, apakah telah dilunasi oleh
semua pembeli dan cek kebenarannya.
ƒ Periksa pembayaran angsuran apakah masih terdapat
tunggakan.

Penjualan Kendaraan Dinas


• Penjualan kendaraan dinas apakah telah dilaksanakan sesuai
ketentuan yang berlaku yaitu mengenai ;
• Umur kendaraan dinas.
• Status pegawai yang berhak membelinya.
• Periksa apakah Surat Perjanjian Sewa Beli Kendaraan Dinas
sudah dibuat sesuai ketentuan mengenai :
• Penetapan Harga.
• Besarnya Cicilan
• Cara Pembayaran
• Sanksi
• Periksa apakah hasil penjualan kendaraan dinas sudah
disetor ke Kas daerah.
• Periksa kelancaran pembayaran angsuran dan sanksi
terhadap para pegawai yang menunggak

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 107 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
b) Tukar menukar.
• Periksa apakah tukar menukar barang daerah telah
dipertimbangkan :
• Untuk memenuhi kebutuhan operasional
penyelenggaraan pemerintahan
• Untuk optimalisasi barang daerah
• Tidak tersedia dalam APBD
• Periksa apakah tukar menukar barang daerah berupa tanah
atau selain tanah yang bernilai lebih dari 5 milyard telah
mendapat persetujuan DPRD.
• Cek apakah serah terima barang yang dilepas dan barang
pengganti telah dituangkan dalam Berita Acara.
• Periksa apakah tukar menukar tanah/bangunan yang dilepas
maupun penggantinya tidak dalam sengketa.
• Periksa apakah tukar menukar tanah/bangunan daerah tidak
merugikan Pemda :
• Nilai ekonomis tanah/bangunan milik Pemda dan
penggantinya.
• Apakah tukar menukar tanah/bangunan telah disertai
pelepasan hak-nya.
• Apakah ada kompensasi yang harus dilakukan pihak
ketiga berupa uang, tanah/bangunan dan atau
pekerjaan,
• Periksa kewajaran harga/nilai kompensasi dan pelaksanaannya.

c) Hibah
• Periksa apakah ada barang daerah yang dihibahkan, apa dasar
pertimbangannya :
• Untuk kepentingan sosial
• Keagamaan
• Kemanusiaan

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 108 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
• Penyelenggaraan pemerintahan daerah
• Periksa apakah Hibah tersebut telah memenuhi syarat :
• Bukan barang rahasia negara/daerah
• Bukan barang yang menguasai hajat hidup orang
banyak.
• Tidak digunakan lagi dalam penyelenggaraan
pemerintahan daerah.

d) Penyertaan Modal Pemerintah Daerah.


• Periksa apakah ada penyertaan modal Pemda berupa tanah,
bangunan atau barang lainnya, Periksa dasar pertimbangannya.
• Periksa apakah penyertaan modal daerah telah mendapat
persetujuan Gubernur dan apakah telah dituangkan dalam
Peraturan Daerah.

e) Pengalihan Asset dari Instansi Vertikal.


• Periksa apakah proses pengalihan asset dari instansi vertikal
dan asset yang pengadaannya dari APBN sudah disertai
dokumen kepemilikannya.
• Periksa apakah terdapat asset dari instansi vertikal Barang
Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) yang belum diserahkan
kepada pemerintah daerah dan apakah telah diajukan
permohonannya kepada Menteri Keuangan.
• Periksa apakah barang-barang yang terdaftar dalam Berita
Acara Serah Terima, namun barangnya tidak diserahkan,
contoh kendaraan dinas.
• Periksa apakah pemerintah daerah yang telah menerima
pengalihan BM/KN dari pemerintah pusat yang ternyata
bermasalah (yang hilang, tidak didukung bukti-bukti kepemilikan
atau masih sengketa) telah menindaklanjuti penyelesaiannya.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 109 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

• Periksa apakah terdapat BM/KN berupa barang tidak bergerak


yang digunakan untuk kepentingan umum yang telah diterima
oleh pemerintah daerah telahdipindahtangankan diubah
statusnya atau dimanfaatkan oleh instansi pemerintah atau
pihak lain tanpa persetujuan Menteri Keuangan.

f) Pengalihan Asset kepada Daerah Pemekaran.


• Periksa apakah proses pengalihan asset dari daerah induk
kepada daerah yang baru dibentuk, telah dibentuk Tim bersama
yang melakukan tugas inventarisasi, baik secara administrasi
maupun fisik.
• Periksa dalam penyerahan/pengalihan asset tersebut telah
dibuatkan Berita Acara Serah Terima dan apakah telah sesuai
dengan kondisi dilapangan disertai dokumen kepemilikannya.
• Periksa apakah ada asset yang belum diserahkan dan
bagaimana penyelesaiannya dengan daerah induk serta apakah
sudah dilaporkan kepada Menteri Dalam Negeri.
• Periksa apakah setelah dibuatkan Berita Acara Serah Terima
Barang Daerah tersebut telah dihapuskan dari buku induk
inventaris Daerah Induk dan dicatat pada buku inventaris
daerah baru.

j. Penatausahaan
Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa penatausahaan terhadap barang milik daerah dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
Langkah Kerja;
1) Penyimpanan dan Penyaluran Barang.
o Periksa apakah penunjukan Pemegang Barang telah dilengkapi
dengan SK Kepala Daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 110 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
o Periksa apakah penyaluran barang dari gudang dilakukan oleh
Pemegang Barang atas dasar Surat Perintah Penyaluran Barang dari
pejabat yang berwenang.
o Periksa apakah penyerahan barang inventaris sudah memakai Berita
Acara Serah Terima Barang.
o Periksa apakah Pemegang Barang telah mencatat seluruh barang
yang diterima, dikeluarkan dari persediaan barang dalam gudang
kedalam buku/kartu persediaan barang.
o Lakukan stock opname barang dalam gudang dengan cara:
• Periksa penyerahan/penerimaan barang dalam gudang dari
bagian pengadaan. (Periksa pembukuan Pemegang Barang).
• Bandingkan hasil pengadaan dengan permintaan barang dari unit
pemakai
• Periksa Kartu Persediaan barang.
• Hasilnya (1,2,3) bandingkan dengan hasil perhitungan fisik
barang.
• Hasil akhir ada 2 (dua) kemungkinan yaitu :
• Barang kurang/lebih
• Pembukuan dan jumlah persediaan sama.
o Cek apakah penggantian Pemegang Barang telah diikuti dengan
Berita Acara Serah Terima.

2) Inventarisasi.
• Periksa apakah pengelolaan inventarisasi Barang Milik Daerah telah di
laksanakan dengan tertib yaitu :
• Apakah Pemda telah melaksanakan sensus barang daerah
setiap 5 tahun sekali dengan menyusun Buku Induk Inventaris
Barang secara tertib dan berkesinambungan.
• Buku Inventaris untuk setiap Unit Kerja apakah sudah ada dan
dikerjakan secara tertib, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 111 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
Periksa berapa jenis jumlah dan harga barang yang belum
tercatat dalam buku inventaris.
• Buku harian barang yang mencatat penerimaan/pengeluaran
barang inventaris apakah telah dibuat dan dikerjakan secara up
to date, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
• Bandingkan isi yang tercantum dalam KIB tersebut dengan
kenyataan yang ada, bila tidak cocok mintakan penjelasan dari
pengurus/penanggungjawab barang, sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
• Setiap ruangan apakah sudah dibuatkan Kartu Inventaris
Ruangan (KIR), jika sudah ada cocokkan dengan keadaan
barang yang senyatanya ada diruangan tersebut.
• Periksa apakah daftar inventaris, daftar rekapitulasi, dan daftar mutasi
barang sudah disusun dan disampaikan pada pejabat yang berwenang
tepat pada waktunya sesuai dengan ketentuan.
• Apabila ada perbedaan jenis, jumlah dan harga barang menurut Daftar
Mutasi Barang Inventaris dan Buku Hasil Pengadaan Inventaris,
telusuri apa penyebabnya.
• Periksa apakah tanah Pemda seluruhnya :
• telah tercatat sebagai asset daerah
• telah disertifikatkan (berapa yang sudah dan berapa yang
belum)
• Lakukan pengecekan fisik barang inventaris di lokasi bandingkan
dengan barang inventaris yang tercatat dalam Buku Inventaris
Barang/kartu Inventaris Barang.
• Periksa apakah barang-barang inventaris hasil pengadaan, hibah,
sumbangan dan lain-lain barang-barang yang diterimanya, telah
tercatat seluruhnya sebagai asset daerah.
• Periksa apakah data-data/warkah asset daerah berupa tanah sudah
lengkap dan tersimpan rapi oleh Biro Perlengkapan/Biro Umum.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 112 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
k. Pelaporan
Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa pelaporan terhadap barang milik daerah dilakukan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
Langkah Kerja;
o Periksa apakah Kuasa Pengguna Barang telah menyusun laporan Kuasa
Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna
Tahunan (LBKPT) untuk disampaikan kepada Pengguna Barang.
o Periksa apakah Pengguna Barang telah menyusun Laporan Barang
Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan
(LBPT) untuk disampaikan kepada Pengelola Barang.
o Periksa apakah Pengelola Barang telah menyusun Laporan Barang Milik
Daerah (LBMD) berupa tanah dan bangunan semesteran dan tahunan.
o Periksa apakah Pengelola Barang telah menghimpun :
• Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS)
• Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT)
• Laporan Barang Milik Daerah (LBMD)
o Periksa apakah Pengelola Barang telah menyusun Laporan Barang Milik
Daerah (LBMD) sebagai bahan untuk menyusun neraca daerah.

l. Tuntutan Ganti Rugi Barang.


Tujuan Audit;
Meyakinkan bahwa tuntutan terhadap kerugian atas barang milik daerah
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
Langkah Kerja;
1) Tuntutan Perbendaharaan Barang,
a) Periksa apakah dalam pengelolaan barang oleh Pemegang Barang
terdapat kekurangan barang yang menjadi tanggungjawabnya.
b) Periksa apakah kekurangan barang tersebut sudah dilaporkan
kepada Biro Keuangan selaku Sekretaris Majelis Pertimbangan TP-

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 113 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
TGR untuk mendapatkan penyelesaiannya sesuai ketentuan yang
berlaku.
c) Periksa bila Pemegang Barang meninggal dunia, melarikan diri atau
dibawah pengampuan, apakah atasan langsung/ Kepala Unit Kerja
telah melaporkan kepada Kepala Daerah.
d) Periksa apakah telah dilakukan tindakan pengamanan terhadap
barang daerah tersebut.
e) Periksa apakah atas dasar laporan tersebut Kepala Daerah (atas
saran Majelis pertimbangan) telah menunjuk seorang pegawai yang
ditugaskan untuk membuat perhitungan ex officio.
f) Periksa apakah Tuntutan Perbendaharaan Khusus ini telah di proses
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

2) Tuntutan Ganti Rugi Barang.


a) Periksa apakah ada Pegawai Negeri, Pegawai Perusahaan Daerah
yang bukan Pemegang Barang melakukan perbuatan melanggar
hukum atau melalaikan kewajiban/tidak melaksanakan kewajiban
sesuai fungsi dan atau status jabatannya yang karena perbuatannya
tersebut merugikan Daerah.
b) Periksa apakah sudah dilakukan penelitian dan penentuan besarnya
kerugian yang diderita daerah oleh Kepala Daerah.
c) Periksa apakah upaya damai untuk memperoleh penggantian atas
semua kerugian Daerah sudah dilaksanakan sesuai ketentuan yang
berlaku.
d) Periksa apakah proses tuntutan ganti rugi barang Daerah sudah
dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 114 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
3. PENGUJIAN ATAS SALDO BARANG MILIK DAERAH

Pengujian atas saldo dari barang milik daerah bertujuan menguji saldo awal dan
akhir periode apakah benar-benar ada. Dalam pelaksanaannya meliputi
pengujian atas ;

Eksistensi Aktiva/BMD secara fisik benar-benar ada.

Hak dan Entitas memegang atau mengendalikan hak


kewajiban terhadap BMD.

Kelengkapan Semua aktiva/BMD yang seharusnya dicatat telah


dicatat.

Penilaian Semua aktiva/BMD masuk di laporan keuangan


dan alokasi dengan nilai yang benar dan hasil penyesuaian
penilaian atau alokasi telah dicatat dengan benar.

Langkah kerja pada dasarnya sudah tercakup dalam langkah kerja untuk ;

• Kebijakan pengelolaan BMD, meliputi pendalaman atas ;


o Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kepala Daerah (Perda, Surat
Keputusan, Instruksi, Surat Edaran dan sejenisnya) sebagai
penjabaran Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi untuk
meningkatkan tertib pengelolaan barang, apakah sudah berpedoman
pada ketentuan yang berlaku.

• Pengamanan terhadap barang milik daerah, meliputi pendalaman atas ;


o Pelaksanaan pengamanan terhadap barang daerah, baik pengamanan
fisik maupun pengamanan administrasi dan tindakan hukum.
o Inventarisasi apakah ada barang daerah khususnya barang tidak
bergerak (Tanah/Bangunan) yang sedang bermasalah (sengketa
dengan pihak ketiga, instansi lain atau masyarakat setempat), serta
Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 115 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
upaya hukum apa yang telah dilaksanakan untuk menangani barang
daerah yang bermasalah tersebut, dan sampai dimana
penyelesaiannya.

• Penilaian terhadap saldo barang milik daerah, meliputi pendalaman atas ;


o Penetapan nilai barang milik daerah dalam rangka penyusunan neraca
pemerintah daerah apakah berpedoman pada standard akutansi
pemerintahan.
o Penilaian barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan
dilakukan oleh Tim atau melibatkan penilaian independen yang
ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan tujuan untuk mendapatkan nilai
wajar.
o Penilaian barang milik daerah selain tanah dan atau bangunan telah
ditetapkan oleh pengelola barang.

• Penghapusan serta penyusutan terhadap barang milik daerah, meliputi


pendalaman atas ;
o Penghapusan barang milik daerah telah dihapus dari daftar barang
milik daerah.
o Penyusutan nilai aset tetap telah dilakukan sesuai dengan kebijakan
akuntansi yang ditetapkan.

• Penatausahaan dan inventarisasi terhadap barang persediaan milik daerah,


meliputi pendalaman atas ;
o stock opname barang dalam gudang dengan cara:
• Periksa penyerahan/penerimaan barang dalam gudang dari
bagian pengadaan. (Periksa pembukuan Pemegang Barang).
• Bandingkan hasil pengadaan dengan permintaan barang dari unit
pemakai
• Periksa Kartu Persediaan barang.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 116 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 

• Stock barang yang seharusnya ada bandingkan dengan hasil


perhitungan fisik barang.
• Inventarisasi terhadap barang milik daerah, meliputi pendalaman atas ;
o Pengelolaan inventarisasi Barang Milik Daerah apakah telah di
laksanakan dengan tertib. Apakah telah melaksanakan sensus barang
daerah setiap 5 tahun sekali dengan menyusun Buku Induk Inventaris
Barang secara tertib dan berkesinambungan.
o Pengecekan fisik barang inventaris di lokasi bandingkan dengan barang
inventaris yang tercatat dalam Buku Inventaris Barang/kartu Inventaris
Barang.

• Pelaporan terhadap barang milik daerah, meliputi pendalaman atas ;


o Kuasa Pengguna Barang telah menyusun laporan Kuasa Pengguna
Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan
(LBKPT) untuk disampaikan kepada Pengguna Barang, dan Pengguna
Barang telah menyusun Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS)
dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) untuk disampaikan
kepada Pengelola Barang, serta apakah Pengelola Barang telah
menyusun Laporan Barang Milik Daerah (LBMD) berupa tanah dan
bangunan semesteran dan tahunan serta apakah Pengelola Barang
telah menyusun Laporan Barang Milik Daerah (LBMD) sebagai bahan
untuk menyusun neraca daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 117 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
4. PENGUJIAN ATAS PENYAJIAN BARANG MILIK DAERAH

Pengujian atas penyajian dari barang milik daerah bertujuan menguji penyajian
dan pengungkapan apakah sesuai Standar Akuntansi Pemerintah. Dalam
pelaksanaannya meliputi pengujian atas ;

Keterjadian serta Peristiwa yang diungkapkan, transaksi,


hak dan kewajiban serta masalah lain telah terjadi dan
menyinggung entitas.

Kelengkapan Semua penjelasan yang harus


dimasukkan ke dalam laporan keuangan
telah dimasukkan.

Klasifikasi & Informasi keuangan telah secara tepat


kemampuan untuk disajikan dan digambarkan, dan
dipahami pengungkapan diutarakan secara jelas.

Akurasi dan Informasi keuangan dan lainnya dijelaskan


penilaian secara wajar dan pada nilai yang tepat.

Langkah kerja pada dasarnya tercakup dalam langkah kerja untuk :

• Kebijakan pengelolaan BMD meliputi pendalaman atas ;


o Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kepala Daerah (Perda, Surat
Keputusan, Instruksi, Surat Edaran dan sejenisnya) sebagai
penjabaran Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi untuk
meningkatkan tertib pengelolaan barang, apakah sudah berpedoman
pada Standar Akuntansi Pemerintahan.

• Penilaian terhadap saldo barang milik daerah, meliputi pendalaman atas ;

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 118 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
o Penyajian nilai barang milik daerah dalam rangka penyusunan neraca
pemerintah daerah apakah berpedoman pada standard akutansi
pemerintahan.

• Penghapusan serta penyusutan terhadap barang milik daerah, meliputi


pendalaman atas ;
o Penyajian penghapusan dan penyusutan nilai aset tetap telah
dilakukan sesuai dengan atandar akuntansi pemerintahan.

• Penatausahaan dan inventarisasi terhadap barang milik daerah, meliputi


pendalaman atas ;
o Penyajian hasil pengecekan fisik barang inventaris dalam Neraca
Pemda telah dilakukan sesuai standar akuntansi pemerintahan.

• Pelaporan terhadap barang milik daerah, meliputi pendalaman atas ;


o Penyajian aset barang milik daerah dalam Neraca dan Catatan atas
Laporan Keuangan telah dilaksanakan sesuai standar akuntansi
pemerintahan.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 119 
 
Audit Atas Pengelolaan Barang Milik Daerah 
 
D. PELAPORAN HASIL AUDIT TERHADAP BARANG MILIK DAERAH
Sejalan dengan tujuan audit terhadap aset tetap yang pada dasarnya untuk
meyakinkan:

• Kebenaran, kelengkapan & akurasi transaksi (asersi mengenai transaksi)


• saldo awal dan akhir periode benar-benar ada (asersi mengenai saldo)
• Penyajian dan pengungkapan sesuai SAP (asersi mengenai penyajian).

Pelaporan hasil audit tersebut tentunya bukan dalam bentuk opini auditor
independen, melainkan dalam bentuk laporan hasil audit yang mengungkapkan
antara lain hal-hal sebagai berikut :
a. Transaksi yang ada benar-benar terjadi
b. Tidak ada transaksi valid yang terlewat (lengkap)
c. Dikelompokkan secara tepat
d. Dicatat dengan teliti
e. Dalam periode yang benar
f. Saldo akun benar-benar ada
g. Saldo dimiliki oleh entitas dalam keadaan lengkap
h. Dinilai secara benar
i. Laporan keuangan dikelompokkan dan disajikan secara tepat
j. Pengungkapan secara tepat akurat dan jelas.

Koreksi dari hasil pelaksanaan audit perlu diungkapkan, baik untuk yang telah
disepakati dengan pihak unit akuntansi/pelaporan, maupun yang belum diperoleh
kesepakatan. Koreksi yang telah disepakati sebaiknya langsung dibukukan dan
secara langsung mempengaruhi angka saldo yang tercantum dalam laporan
keuangan.
Atas koreksi audit yang ditemukan tersebut perlu diberikan rekomendasi untuk
penyempurnaan sistem agar tidak terulang di masa mendatang.

Pusdiklatwas BPKP – 2008                                                                                                                                 120 
 
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP Ciawi ‐ Bogor 
 

DAFTAR PUSTAKA

1. Auditing & Assurance Services a Systematic Approach, 4th edition, William F


Messier Jr, Steven M Glover, Douglas F Prawitt, McGraw-Hill, 2006.
2. Peraturan Pemerintah nomor 6 tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah, berikut perubahannya melalui Peraturan Pemerintah nomor 38
tahun 2008.
3. Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintah (SAP).
4. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, berikut perubahannya melalui Peraturan Menteri
Dalam Negeri nomor 59 tahun 2007.
5. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri nomor SE.900/316/BAKD tanggal 5 April
2007 perihal Sistem dan Prosedur Penatausahaan dan Akuntansi, Pelaporan,
dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 17 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis
Pengelolaan Barang Milik Daerah.
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 23 tahun 2007 tentang Pedoman Tata
Cara Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

Audit atas Pengelolaan Barang Milik Daerah