Anda di halaman 1dari 8

OBAT-OBATAN YANG BISA DIBERIKAN SECARA IV :

Jenis obat – obatan yang bisa di berikan melalui antara lain seperti: Golongan

anti biotic ( Ampicicilin, amoxcicilin, clorampenicol, dll) ,anti diuretic (furosemid,

lasix dll) anti histamin atau setingkatnya,

(Adrenalin, dexamethasone ,dypenhydramin). Karena kadar puncak obat dalam

darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan

langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam

darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan

mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering

digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu

diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan

mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.

Dalam pemberian antibiotik melalui IV perlu diperhatikan dalam pencampuran

serbuk antibiotik tersebut, hal ini untuk menghindari terjadinya komplikasi seperti

tromboplebitis karena kepekatan dan tidak tercampurnya obat secara baik.

Biasanya untuk mencampur serbuk antibiotik / obat-oabat yang lain yang

diberikan secara IV adala cairan aquades dengan perbandingan 4cc larutan

aquades berbanding 1 vial antibiotik atau 6cc pH 4.0, larutan glukosa 10% jarang

menyebabkan perubahan karena titrable acidity nya sangat rendah (0.16

mEq/L).Dengan demikian makin rendah titrable acidity larutan infus makin

rendah risiko flebitisnya.


Cairan/larutan yang digunakan dalam terapi intravena berdasarkan

osmolalitasnya dibagi menjadi:

1. ISOTONIK

Suatu cairan/larutan yang memiliki osmolalitas sama atau mendekati osmolalitas

plasma sehingga terus berada dalam pembuluh darah.. Larutan elektrolit dianggap

isotonik jika kandungan elektrolit totalnya (anion ditambah kation) kira-kira 310 mEq/L.

Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh,

sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload

(kelebihan cairan), khususnya pada pemyakit gagal jantung kongestif dan

hipertensi. Cairan ini akan meningkatkan volume ekstraseluler. Satu liter cairan

isotonik akan menambah CES 1 liter. Tiga liter cairan isotonik diperlukan untuk

mengganti 1 liter darah yang hilang.

Contoh: - NaCl 0,9 %

- Ringer Laktat

- Komponen-komponen darah (Albumin 5 %, plasma)

- Dextrose 5 % dalam air (D5W)

2. HIPOTONIK

Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan plasma (konsentrasi

ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum,

menurunkan osmolaritas serum. Larutan dianggap hipotonik jika kandungan elektrolit

totalnya kurang dari 250 mEq/L Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah
keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas tinggi),

sampai akhirnya mengisi sel – sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel

“mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialysis) dalam terapi

diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan

ketoasidosis diabetic. Pemberian cairan hipotonik yang berlebihan akan

mengakibatkan:

1. Deplesi cairan intravaskuler

2. Penurunan tekanan darah

3. Edema seluler

4. Kerusakan sel

Karena larutan ini dapat menyebabkan komplikasi serius, klien harus dipantau

dengan teliti.

Contoh: - dextrose 2,5 % dalam NaCl 0,45 %

- NaCl 0,45 % (Normal salin berkekuatan menengah)

- NaCl 0,2 %

3. HIPERTONIK

Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga

“menarik” cairan dan elektronik dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah.

Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan

mengurangkan edema (bengkak). Cairan disebut hipertonik jika kandungan

elektrolit totalnya melebihi 375 mEq/L Penggunaannya kontradiktif dengan cairan


hipotonik ., Cairan ini dikontraindikasikan untuk pasien dengan penyakit ginjal

dan jantung serta pasien dengan dehidrasi.

Contoh: - D 5% dalam saline 0,9 %

- D 5 % dalam RL

- Dextrose 10 % dalam air

- Dextrose 20 % dalam air

- Nacl 45 % hieprtonik

- Albumin 25

- Produk darah

Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:

1. KRISTALOID

bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume

expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna

pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam

fisiologis.

2. KOLOID

ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar

dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya

hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya

adalah albumin dan steroid.


Secara kimia, phlebitis timbul karena obat yang dimasukan mempunyai.:

1. pH asam atau basa yang berbeda dengan pH normal darah (7,35-7,45) secara

cepat.

Obat-obatan yang mempunyai pH berbeda sebaiknya diberikan secara:

a. intravena drip lambat atau bolus

b. menggunakan syringe pump selama 10 – 15 menit misalnya natrium

bikarbonat, KCl dan beberapa jenis antibiotik

2. Osmolaritas tinggi yang berbeda dengan cairan tubuh normal (258 ±5

mOsm/L). cairan yang dapat ditoleransi maksimun berosmolaritas 900

mOsm/L. Bila memberikan cairan dengan osmolaritas tinggi, masukkan ke

dalam vena sentral untuk mencegah phlebitis.

Misalnya, bebarapa cairan infuse untuk nutrisi parental mempunyai

osmolaritas tinggi. Sebelum memberikan cairan jenis ini, periksa terlebih

dahulu dahulu labelnya.

DIURETIK OSMOTIK

Istilah diuretik osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah

dan cepat diekskresi oleh ginjal. Suatu zat dapat bertindak sebagai diuretik

osmotik apabila memenuhi 4 syarat :

1) Di filtrasi secara bebas oleh glomerulus

2) Tidak atau hanya sedikit direabsorpsi sel tubuli ginjal

3) Secara farmakologis merupakan zat yang inert

4) Umumnya resisten terhadap perubahan-perubahan metabolik


Dengan sifat-sifat ini, maka diuretik osmotik dapat diberikan dalam jumah cukup

besar sehingga turut menentukan derajat osmolaritas plasma filtrat glomerulus

dan cairan tubuli. Contoh golongan obat ini adalah manitol, urea, gliserin,

isosorbid.

1. MANITOL

Manitol paling sering digunakan diantara obat ini, karena manitol tidak

mengalami metabolisme dalam badan dan hanya sedikit sekali direabsorpsi

tubuli bahkan praktis dianggap tidak direabsorpsi. Manitol harus diberikan secara

IV, jadi obat ini tidak praktis untuk pengobatan udem kronik. Pada penderita

payah jantung pemberian manitol berbahaya, karena volume darah yang beredar

meningkat sehingga memperberat kerja jantung yang telah gagal.

Diuretik osmotik terutama bermanfaat pada pasien oliguria akut akibat syok

hipovolemik yang telah dikoreksi, reaksi transfusi atau sebab lain yang

menimbulkan nekrosis tubuli, karena dalam keadaan ini obat yang kerjanya

mempengaruhi fungsi tubuli tidak efektif.

Manitol digunakan misalnya untuk :

1. Profilaksis gagal ginjal akut, suatu keadaan yang dapat timbul akibat

operasi jantung, luka traumatik berat, atau tindakan operatif dengan penderita

yang juga menderita ikterus berat.

2. Menurunkan tekanan maupun volume cairan intraokuler atau cairan

serebrospinal.
EFEK NONTERAPI

Manitol di distribusikan ke cairan ekstra sel, oleh karena itu pemberian larutan

manitol hipertonis yang berlebihan akan meningkatkan osmolaritas cairan

ekstraseluler, sehingga secara tidak diharapkan akan terjadi penambahan jumlah

cairan ekstraseluler.

Urea lebih bersifat iritatif terhadap jaringan dan dapat menimbulkan trombosis

atau nyeri bila terjadi eksravasasi. Gliserin dimetabolisme dalam tubuh dan dapat

menyebabkan hiperglikemia dan glukosuria.

SEDIAAN DAN POSOLOGI

Manitol. Untuk suntikan intravena digunakan larutan 5-25% dengan volume

antara 50-1000ml. Dosis untuk menimbulkan diuresis adalah 50-200g yang

diberikan dalam cairan infus selama 24 jam dengan kecepatan infus sedemikian,

sehingga diperoleh diuresis sebanyak 30-50ml per jam. Untuk penderita dengan

oliguria hebat diberikan dosis percobaan yaitu 200mg/kgBB yang diberikan

melalui infus selama 3-5 menit. Bila dengan 1-2 kali dosis percobaan diuresis

masih kurang dari 30ml per jam dalam 2-3 jam, maka status pasien harus di

evaluasi kembali sebelum pengobatan dilanjutkan.

Manitol dikokntraindikasikan pada penyakit ginjal dengan anuria, kongesti atau

udem paru yang berat, dehidrasi hebat dan perdarahan intrakranial kecuali bila

akan dilakukan kraniotomi. Infus manitol harus segera dihentikan bila terdapat

tanda-tanda gangguan fungsi ginjal yang progresif, payah jantung atau kongesti

paru.
2. UREA

Suatu kristal putih dengan rasa agak pahit dan mudah larut dalan air. Sediaan

intravena mengandung urea sampai 30% dalam dekstrose 5% (iso-osmotik)

sebab larutan urea murni dapat menimbulkan hemolisis. Pada tindakan bedah

saraf, urea diberikan intravena dengan dosis 1-1,5g/kgBB. Sebagai diuretik, urea

potensinya lebih lemah dibandingkan dengan manitol, karena hampir 50%

senyawa urea ini akan direabsorbsi oleh tubuli ginjal.

3. GLISERIN

Diberikan per oral sebelum suatu tindakan optalmologi dengan tujuan

menurunkan tekanan intraokuler. Efek maksimal terlihat 1 jam sesudah

pemberian obat dan menghilang sesudah 5 jam.

4. ISOSORBID

Diberikan secara oral untuk indikasi yang sama dengan gliserin. Efeknya juga

sama, hanya isosorbid menimbulkan diuresis yang lebih besar daripada gliserin,

tanpa menimbulkan hiperglikemia. Dosis berkisar antara 1-3g/kgBB, dan dapat

diberikan 2-4 kali sehari.