Anda di halaman 1dari 3

NAMA: IMILIA AULINA (0303172128)

“STUDI KASUS TENTANG GAYA CINTA PADA REMAJA”

LATAR BELAKANG

Dalam masa remaja seseorang mulai menjalin hubungan dengan orang lain diluar
keluarga. Lingkungan kedua setelah keluarga yaitu lingkungan sekolah. Dalam lingkungan
sekolah remaja memulai interaksi sosial dengan kawan sebaya, sejenis maupun lawan jenis.
Pada fase ini remaja mengenal adanya relasi romantis. Relasi romantis yang terjadi pada
remaja diawali dengan kedekatan dengan teman sebaya laki-laki maupun perempuan.
Relasi romantis remaja melibatkan berbagai emosi. Mereka akan merasa sedih dan
marah ketika mereka bertengkar dan seketika akan merasa senang dan bahagia ketika
hubungan mereka baik-baik saja. Terjadi kecemasan tingkat tinggi terkait cinta romantis pada
remaja usia 13-16 tahun yaitu kehilangan konsentrasi, gugup, berkeringat dan denyut jantung
yang semakin cepat. Relasi romantis atau pacaran didasari oleh cinta romantis.
Relasi romantis berfungsi sebagai gambaran tentang seberapa menarik seorang remaja
dimata remaja lain atau lawan jenisnya. Setelah remaja memiliki pengetahuan mendasar
mengenai interaksi dengan lawan jenis, pada saat itu remaja memiliki kebutuhan akan
kelekatan dan kebutuhan seksual. Cinta romantis berkaitan kuat dengan fantasi dan hadiah.
Cinta romantis berkembang sangat pesat pada awal perkenalan kemudian memudar dengan
seiring waktu. Pada masa remaja cinta romantis ini menjadi dominan, cinta romantis hampir
selalu berhubungan dengan konflik emosi sesuai dengan masa perkembangan remaja dimana
terjadinya fluktuasi emosi berlangsung lebih sering.
Perkembangan pacaran menjadi berubah arti. Dulu pacaran hanya digunakan untuk
mencari dan menyeleksi pasangan hidup, namun pada saat ini pacaran menjadi suatu tren
dikalangan remaja. Pacaran menjadi suatu ajang adu gengsi, bila tidak mempunyai pacar
dianggap tidah menarik bahkan tidak laku. Desakan yang dilakukan oleh kawan sebaya
menjadi salah satu faktor munculnya perilaku pacaran yang negatif. Jika tidak melakukan hal
yang sama dengan kawan sebaya akan dianggap tidak sesuai dengan anggota kelompok
teman
sebaya lainnya. Remaja tak sungkan lagi melakukan kontak fisik bahkan melakukan
hubungan
seksual pranikah yang dapat menimbulkan resiko yang sangat besar bagi remaja.
Dorongan seksual dan rasa cinta membuat remaja merasa selalu ingin derkat dengan
pacarnya. Segala kegiatan yang dilakukan pacar akan dipantau dan hampir selalu ikut serta
dalam setiap kegiatan yang dilakukan pacar. Dalam gaya cinta perilaku demikian
mencerminkan bahwa pasangan tersebut termasuk dalam gaya cinta memiliki. Selalu ingin
tahu dimana pasangannya sedang berada, pencemburu dan sangat terobsesi dengan
pasangannya.
Remaja memiliki respon emosi yang cepat dan cenderung ceroboh. Pemikiran
emosional yang cepat dan tidak mempertimbangkan rasionalitas mengakibatkan remaja
bertindak tanpa pertimbangan. Seringkali remaja tergesah-gesah dalam memilih pacar tanpa
memikirkan apakah seseorang yang dipilihnya itu akan sesuai dengan dirinya dan sesuai
dengan harapannya. Dalam teori gaya cinta perilaku tersebut dapat dikategorikan dalam gaya
cinta eros, yaitu gaya cinta dimana seseorang tertarik pada pandangan pertama dan ditandai
oleh pengalaman yang emosional.
Banyak penelitian menemukan bahwa faktor pandangan pertama menjadi penentu
utama dalam sebuah kencan dan proses hubungan. Bahkan semenjak masa awal kehidupan
bayi menunjukkan preferensi wajah yang menarik. Penelitian yang dilakukan oleh Smith
menunjukan hasil bahwa wanita yang lebih cantik akan mendapatkan perhatian yang lebih
dari teman sekolah.
Remaja akan mengalami perubahan perasaan saat apa yang yang terjadi tidak sesuai
dengan harapan yang mereka miliki. Dalam hubungan pacaran remaja akan mudah merasa
sangat sedih ketika perlakuan pasangan tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Remaja
cenderung memiliki pemikiran yang tidak realistik. Remaja melihat diri sendiri dan orang
lain sebagaimana yang mereka inginkan dan bukan sebagaimana adanya. Semakin tingginya
perubahan perasaan tersebut dapat menyebabkan stres pada remaja. Perilaku dan perasaan
yang demikian dapat dicerminkan pada salah satu gaya cinta yang dikemukakan oleh Lee
yaitu gaya cinta mania, dimana individu akan merasa sangat emosional terhadap
pasangannya.
Perkembangan dan pengalaman masa kanak-kanak akan mempengaruhi bentuk gaya
cinta pada individu. Seorang bayi akan mengadopsi gaya kelekatan orang tuanya yaitu rasa
aman, menghindar, dan ambivalent. Seseorang yang mimiliki rasa aman saat dia bayi
memiliki
kemungkinan dia akan sangat merasa aman, nyaman dan rasa percaya yang besar pada
pasangannya saat dia dewasa. Sedangkan bayi yang menjaga jarak dengan pengasuhnya
memiliki gaya cinta yang mudah tertarik dan jatuh cinta tetapi juga mudah untuk melepaskan
ada masa dewasa. Terakhir gaya cinta ambivalent, bayi dengan gaya ini akan selalu merasa
bingung dan ragu dengan pasangannya saat dia dewasa.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat di ketahui rumusan masalahnya adalah
bagaimana gaya cinta remaja. Pada penelitian ini peneliti memiliki tujuan untuk mengetahui
gaya cinta remaja. Penelitian ini bermanfaat secara teoritik sebagai sumbangan pengetahuan
terhadap ilmu pengetahuan khususnya dalam ilmu psikologi. Bagi remaja penelitian ini dapat
menambah wawasan mengenai tipe gaya cinta yang ada dan membantu remaja mengetahui
tipe cinta mereka agar mereka dapat mengarahkan gaya pacaran kepada hal yang positif dan
membantu remaja dalam pemilihan pasangan sesuai dengan gaya cinta yang dimiliki.
Sedangkan bagi orang tua agar dapat mengetahui tipe gaya percintaan putra dan putri mereka
sehingga dapat mengawasi para remaja agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.