Anda di halaman 1dari 181

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
JANUARI
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Akhir
Praktikum mata kuliah Anatomi Tumbuhan ini tepat pada waktunya.
Shalawat beriring salam tak lupa saya sampaikan kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah menerangi semua umat di muka bumi ini dengan
cahaya kebenaran. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah ikut membantu dalam penyelesaian penyusunan laporan akhir praktikum ini.
Khususnya kepada dosen pembimbing yaitu Ibu Dra. Hj. Amintarti, M.Si., Bapak
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd. dan Ibu Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd., serta kakak asisten
dosen yang telah membimbing dan membagi pengetahuan dan pengalamannya
kepada saya. Juga terimakasih saya ucapkan kepada orang tua dan teman-teman
yang memberikan dukungan.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan laporan akhir ini masih
terdapat berbagai kekurangan dan kesalahan, baik dari segi isi maupun dari segi
bahasa. Untuk itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif
untuk penyempurnaan penyusunan laporan ini. Saya berharap agar laporan ini dapat
berguna dan bermanfaat bagi saya dan pembaca. Aamin.

Banjarmasin, 17 Januari 2021

Ahmad Saufi

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i

DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

PRAKTIKUM 1 : Bentuk-Bentuk Sel pada Tumbuhan .................................... 1

PRAKTIKUM 2 : Sel dengan Bagian-Bagian yang Hidup ............................... 10

PRAKTIKUM 3 : Sel dengan Bagian-Bagian tak Hidup .................................. 20

PRAKTIKUM 4 : Penebalan pada Dinding Sel ................................................. 34

PRAKTIKUM 5 : Pembelahan Sel (Mitosis) .................................................... 45

PRAKTIKUM 6 : Epidermis dan Derivatnya .................................................... 63

PRAKTIKUM 7 : Jaringan Meristem dan Jaringan Parenkim .......................... 80

PRAKTIKUM 8 : Jaringan Mekanik dan Jaringan Pengangkut ........................ 92

PRAKTIKUM 9 : Akar dan Batang ...................................................................105

PRAKTIKUM 10 : Daun ...................................................................................125

PRAKTIKUM 11 : Bunga .................................................................................140

LAMPIRAN .......................................................................................................160

ii
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM I
BENTUK-BENTUK SEL PADA TUMBUHAN
PRAKTIKUM I

Topik : Bentuk-Bentuk Sel pada Tumbuhan


Tujuan : Untuk mengamati berbagai bentuk sel mati pada tumbuhan
Hari / tanggal : Senin / 16 November 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1. Baki 5. Kaca benda
2. Pipet tetes 6. Silet/cutter
3. Gelas kimia 7. Mikroskop
4. Kaca penutup 8. Tisu

B. Bahan :
1. Empulur Singkong (Manihot utilissima)
2. Rambut Buah Kapuk (Ceiba pentandra)
3. Rambut Biji Kapas (Gossypium sp.)
4. Aquadest

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Membuat irisan setipis mungkin pada empulur Manihot utilissima,
rambut buah Ceiba pentandra dan rambut biji Gossypium sp., meletakkan
irisan di atas kaca benda, memberi setetes aquadest, lalu menutup dengan
kaca penutup.
3. Mengamati masing-masing preparat di bawah mikroskop.
4. Menggambar dan mencatat hasil pengamatan serta memberi keterangan.

1
III. TEORI DASAR
Ilmu yang mempelajari tentang sel disebut sitologi. Semua organisme
yang hidup terdiri atas sel, dapat berupa organisme bersel tunggal atau bersel
banyak. Setiap sel merupakan unit fungsional dan struktural dari bentuk hidup
(Amintarti, dkk., 2020).
Pada organisme bersel banyak tidak semata-mata merupakan kumpulan
sel, tetapi saling berhubungan dan berkoordinasi secara harmonis. Sel-sel
sangat brvariasi dalam hal ukurannya, bentuknya, strukturnya dan fungsinya.
Ada yang berukuran micron, mm, bahkan ada yang berukuran cm (serat
dalam tumbuhan tertentu). Beberapa sel ada yang relatif sederhana organisasi
bagian dalamnya tetapi ada pula yang kompleks. Beberapa sel ada yang
mempunyai fungsi bermacam-macam tetapi ada juga yang terspesialisasi
aktivitasnya. Robert hooke adalah orang pertama melihat adanya ruang-ruang
sel yang dibarasi dinding sel pada sayatan jaringan gabus yang ia sebut
sebagai sel (Amintarti, dkk., 2020).
Kemudian ia melihat cairan yang terdapat di dalam sel, isi sel tersebut
selanjutnya interpretasikan sebagai materi hidup yang disebut protoplasma.
Sel tumbuhan mempunyai bentuk, ukuran dan struktur yang bervariasi.
Struktur sel adalah rumit. Walaupun demikian semua mempunyai dalam
beberapa segi dasar. Tumbuhan dan gewan merupakan organisme, yang
tubuhnya tersusun oleh sel-sel. Sel tumbuhan dan hewan merupakan variasi
dari satu tipe unit dasar atau satuan struktur, dan ini menjadi dasar dari Teori
Sel yang dikemukakan oleh Schwann dan Schleiden pada tahun 1838.
Berdasarkan konsep teori sel bahwa sel merupakan kesatuan struktur dan
fungsi organisme hidup maka berarti bahwa sel itu mempunyai kesamaan
dalam hal pola susunan metabolisme dan makromolekul. Perbedaan pokok
antara sel tumbuhan dan sel hewan adalah bahwa sel tumbuhan mempunyai
dinding sel yang nyata, sedang pada sel hewan yang disebut dinding sel
adalah membran plasma. Selain perbedaan tersebut, pada sel tumbuhan
dijumpai adanya plastida serta vakuolayang dapat membesar, sedang pada sel
hewan tidak demikian (Amintarti, dkk., 2020).

2
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Empulur Singkong (Manihot utilissima)
a. Gambar Pengamatan

2
Keterangan :
1
1. Dinding sel
2. Ruang sel
3 3. Ruang antar sel

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
3 1
1. Dinding sel
2. Ruang sel
3. Ruang antar sel

(Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
1
1. Dinding sel
2. Ruang sel
3
3. Ruang antar sel
2

(Nurbaiduri, 2017)

3
2. Rambut Buah Kapuk (Ceiba pentandra)
a. Gambar Pengamatan
Keterangan :
1
1. Dinding sel
3
2 2. Ruang sel
3. Gelembung udara

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1
1. Dinding sel
2
2. Ruang sel

3
3. Gelembung udara

(Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
1
1. Dinding sel
2. Ruang sel
3
2 3. Gelembung udara

(Rohmana, 2015)

4
3. Rambut Biji Kapas (Gossypium sp.)
a. Gambar Pengamatan
Keterangan :
2 1
1. Dinding sel
2. Torsi
3. Ruang sel
3

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1
1. Dinding sel

2 2. Torsi
3. Ruang sel
3

(Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
1 1. Dinding sel
2. Torsi
3
3. Ruang sel
2

(Monocotile, 2010)

5
V. ANALISIS DATA
1. Empulur Singkong (Manihot utilissima)
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub-classis : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Familia : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Species : Manihot utilissima
(Sumber : Ramadanti, 2016)
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan dengan menggunakan
mikroskop diketahui bahwa empulur singkong memiliki sel yang
berbentuk seperti heksagonal dan tersusun rapat antara sel yang satu
dengan sel yang lain. Di dalamnya terdapat dinding sel yang berfungsi
untuk memberi bentuk tubuh pada sel dan pelindung sel. Selain itu, pada
empulur singkong juga memiliki kekhasan struktur berupa dinding sel
yang tidak ada isinya. Bagian kosong dari sel ini disebut ruang kosong
yang menandakan bahwa empulur singkong adalah sel mati.
Menurut literatur, dapat diketahui bahwa sel pada Manihot utillisima
disebut sel gabus dan sudah mati karena didalamnya tidak terdapat inti
sel, sitoplasma, nukleus, plastida dan vakuola sebagai pengatur
kehidupan sel tersebut atau dapat dikatakan empulur Manihot utilissima
merupakan sel mati karena tidak ditemukan adanya protoplasma
(Mulyani, 2018). Terdapat dinding sel dan ruang kosong di tengah, tidak
ada protoplasma dan gelembung udara di dalam sel Manihot utillisima.

6
2. Rambut Buah Kapuk (Ceiba pentandra)
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Subclass : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Familia : Bombacaceae
Genus : Ceiba
Species : Ceiba pentandra
(Sumber : Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan dengan
menggunakan mikroskop, diketahui bahwa rambut buah kapuk memiliki
bentuk seperti benang heliks. Di dalamnya terdapat dinding sel yang
berfungsi sebagai pemberi bentuk tubuh dan pelindung. Selain itu juga
terdapat ruang sel yang berisi gelembung udara di dalamnya. Sel rambut
Ceiba pentandra merupakan sel mati karena tidak terdapat protoplasma.
Menurut literatur yang bersumber dari buku Sri Mulyani E.S.,
diketahui bahwa sel rambut Ceiba pentandra merupakan sel mati karena
tidak mempunyai inti sel maupun sitoplasma yang merupakan ciri sel
hidup (tidak adanya protoplas). Organel yang terdapat didalamnya sangat
sederhana, karena hanya terdiri dari dinding sel, rongga sel, dan
gelembung udara. Sel rambut Ceiba pentandra berbeda dengan sel biji
Gossypium sp.. Perbedaannya sendiri terlihat bahwa sel rambut Ceiba
pentandra tidak memiliki torsi dan sel biji Gossypium sp. memiliki torsi,
sehingga sel rambut Ceiba pentandra hanya berupa lumen (rongga sel)
yang dibatasi oleh dinding sel dengan lingkungan luar. Oleh karena itu
sel kapuk mampu menyimpan udara sehingga baik digunakan sebagai
bahan isolasi.

7
3. Rambut Biji Kapas (Gossypium sp.)
Klasifikasi:
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Subclass : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Gossypium
Species : Gossypium sp.
(Sumber : Cronquist, 1981)
Dari hasil praktikum yang dilakukan dengan menggunakan
mikroskop, diketahui bahwa rambut biji Gossypium sp. berbentuk seperti
benang-benang heliks yang saling menumpuk. Pada sel ini terdapat
lekukan yang disebut torsi. Sel rambut biji Gossypium sp. juga memiliki
dinding sel, ruang sel yang terlihat kosong karena tidak ada protoplasma
yang menyebabkan sel ini termasuk sel mati.
Menurut literatur yang didapat dari buku Sri Mulyani E.S. diketahui
bahwa sel Gossypium sp. merupakan sel mati karena tidak memilki
protoplasma lagi di dalamnya dan hanya terdiri dari dinding sel, ruang
sel, dan torsi. Torsi yang berbentuk seperti lekukan pada sel rambut ini
dapat membantu dalam memperkuat serat-serat kapas dan karena
seratnya yang kuat kapas dapat dijadikan benang.

8
VI. KESIMPULAN
1. Pada sel empulur singkong (Manihot utilissima) selnya berbentuk seperti
sarang lebah atau hexagonal. Didalamnya terdapat dinding sel, ruang sel,
serta ruang antar sel. Sel empulur Manihot utilissima tergolong sel mati.
2. Pada sel Rambut buah Ceiba pentandra selnya berbentuk seperti rambut
yang memanjang. Sel ini memilki dinding sel, rongga sel, serta
gelembung udara. Sel rambut buah Ceiba pentandra tergolong sel mati.
3. Pada sel rambut biji Gossypium sp. selnya berbentuk rambut memanjang
seperti pita karena memiliki lekukan yang disebut torsi. Selain itu sel ini
memiliki dinding sel, ruang sel dan merupakan sel mati.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, S, Muchyar, & Arsyad. (2020). Penuntun Praktikum Anatomi
Tumbuhan. Banjarmasin: Batang.

Cronquist, A. (1981). An Integrated System of Flowering Plants. Columbia


University: New York.

Monocotile. (2010). Praktikum Biologi Dasar Sel Hidup. Diakses melalui


http://monocotiledoneae.blogspot.com/2010/03/praktikum-
biologi-dasar-sel-hidup-dan.html pada tanggal 3 Januari 2021.

Mulyani, S. (2015). Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Nurbaiduri. (2017). Laporan Pengamatan Sel Bawang Sel. Diakses melalui


http://intnnrbdr.blogspot.com/2017/02/laporan-pengamatan-sel-
bawang-sel_41.html pada tanggal 3 Januari 2021.

Ramadanti, R. (2016). Laporan Praktikum VII. Diakses melalui


https://rararamadanti98.wordpress.com/2016/06/12/laporan-
praktikum-viii-morfologi-tumbuhan/ pada tanggal 3 Januari 2021.

Rohmana, Q. A. (2015). Anatomi Tumbuhan. Diakses melalui


http://aulyarohmana16files.wordpress.com. pada tanggal 3 Januari
2021.

9
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM II
SEL DENGAN BAGIAN-BAGIAN YANG HIDUP
PRAKTIKUM II

Topik : Sel Dengan Bagian-Bagian Hidup


Tujuan : Untuk mengamati bagian-bagian sel yang hidup seperti
nukleus, sitoplasma, kloroplas dan aliran sitoplasma
Hari/tanggal : Jum’at/23 Oktober 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


A. ALAT
1. Mikroskop
2. Kaca benda dan kaca penutup
3. Silet
4. Pipet tetes
5. Pinset
6. Kain flanel dan tissue
B. BAHAN
1. Selaput bagian dalam umbi lapis Allium cepa (dalam air)
2. Daun Hydrilla verticillata (dalam air)
3. Irisan melintang umbi wortel (Daucus carota) (dalam air)
4. Aquadest

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Memotong bawang menjadi 4 bagian, kemudian melepaskan bagian
siung yang berdaging, memegang bagian siung dan mematahkannya
sehingga terlihat selaput bagian dalam umbi Allium cepa, mengambil dan
meletakkannya pada kaca benda, memberi setetes air lalu menutupi
dengan kaca penutup dan mengamati dibawah mikroskop.

10
3. Menyayat secara melintang umbi Daucus carota lalu meletakkan sayatan
tersebut di atas kaca benda dan memberi setetes air. Kemudian menutup
dengan kaca penutup dan mengamati di bawah mikroskop.
4. Mengambil sehelai daun Hydrilla verticillata dan ganggang Spirogyra
sp, meletakkan pada kaca benda dan mengamati di bawah mikroskop.
5. Menggambar hasil pengamatan dan memberi keterangan bagian-
bagiannya.

III. TEORI DASAR


Protoplas merupakan bagian sel yang ada di sebelah dalam dinding
sel. Protoplas tersusun oleh bahan hidup dalam bentuk sederhana yang
disebut protoplasma. Pada sel tumbuhan protoplas terdiri atas: komponen
protoplasma dan komponen nonprotoplasma.
Komponen protoplasma terdiri atas :
1. Sitoplasma yaitu bahan protoplasma yang menyelubungi badan
protoplasmik dan nonprotoplasmik, mengandung butir-butir dan sistem
membran.
2. Inti sel yaitu suatu badan yang merupakan pusat sintesis dan pengaturan
aktifitas sel, serta menentukan sifat-sifat hereditas suatu organisme.
3. Plastida merupakan komponen protoplasmik yang mempunyai struktur
dan fungsi yang khusus.
4. Mitokondria yaitu badan yang lebih kecil dari plastida yang mempunyai
fungsi respirasi (Sumardi dan Agus. 1993).
1. Sitoplasma
Merupakan komponen sitoplasmatik yang bersifat air. Secara
kimia struktur sitoplasma sangat kompleks dan mempunyai bahan dasar
air, 85-90% terssuun oleh air. Meskipun demikian sitoplasma merupakan
subtansi yang kental, tembus cahaya. Dengan menggunakan mikroskop
elektron tampak adanya diferensiasi sistem selaput di dalam sitoplasma.
Sistem selaput yang dimaksud adalah:

11
1) Plasmalema (selaput plasma, ektoplasma), merupakan unit selaput yang
membatasi sitoplasma dengan dinding sel.
2) Tonoplas, merupakan unit selaput yang berbatasan dengan vakuola.
3) Polioplasma, merupakan unit selaput yang terletak di antara
plasmalema dan tonoplas.
2. Inti Sel
Inti dalam keadaan tidak membelah bentuknya bulat dan lonjong,
kadang-kadang berlekuk. Inti dikelilingi oleh selaput inti, dan didalamnya
terdapat satu anak inti (nukleolus) atau lebih, dan rangka inti yang tersusun
dari kromatin. Pada waktu inti membelah rangka ini muncul sebagai
kromosom.
3. Plastida
Plastida adalah organel yang berkarakteristik pada sel tumbuhan,
mempunyai struktur dan fungsi khusus. Plastida mempunyai bentuk,
ukuran, serta pigmentasi yang bermacam-macam.
Berdasarkan ada dan tidaknya zat warna di dalamnya, plastida
dibedakan menjadi; a). Plastida tidak berwarna (leukoplas). b). Plastida
berwarna (kloroplas dan kromoplas).
4. Mitokondria
Mitokondria mempunyai bentuk yang bermacam-macam, yaitu
bulat memanjang, kadang- kadang seperti busur, terdapat bebas pada
sitoplasma. Mempunyai selaput rangkap, selaput dalam mengalami
percabangan atau melipat-lipat ke arah dalam, desebut kristal. Mitokondria
mempunyai fungsi untuk pernapasan. Di dalamnya terdapat enzim-enzim
yang berperan dalam siklus Krebs.
Komponen nonprotoplasma terdapat di dalam sitoplasma dan
vakuola menyusun bahan makanan atau produk metabolisme yang lain.
Bahan-bahan ini umumnya dikenal sebagai bahan ergastik. Bahan ergastik
dapat bersifat cair maupun padat, bahan ergastik tersebut adalah:
karbohidrat, protein, minyak dan substansi yang berminyak, kristal dan
tanin (Amintarti, 2020).

12
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Selaput Bagian Dalam Bawang Merah (Allium cepa)
a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1
1. Dinding Sel
2. Sitoplasma
Perbesaran : 10 x 10
2

(Sumber : Dokumentasi Kelas , 2020)

c. Foto Literatur
Keterangan :
1. Dinding Sel
2. Inti Sel
3. Sitoplasma

(Sumber : Syahrani,2013 )

13
2. Daun Hydrilla verticillata
a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1. Dinding Sel
1
2. Sitoplasma
Perbesaran :40 x 10
2

(Sumber : Dok. , 2020)

c. Foto Literatur
Keterangan :
1. Dinding Sel
2. Inti Sel
3. Sitoplasma

(Sumber : Guillaume, 2012)

14
3. Irisan Melintang Wortel (Daucus carota)
a. Gambar Pengamatan

3 Keterangan :
1. Dinding Sel
1
2. Sitoplasma
3. Pigmen karoten

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1 1. Dinding Sel
3
2. Sitoplasma
2 3. Pigmen karoten
Perbesaran 10 x 10

(Sumber : Dok. , 2020)

c. Foto Literatur
Keterangan :
1. Dinding Sel
2. Kromoplas
3. Sitoplasma

(Sumber : Istiana, 2016)

15
V. ANALISIS DATA
1. Selaput bagian dalam umbi lapis Allium cepa
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Liliidae
Ordo : Liliales
Familia : Liliaceae
Genus : Allium
Species : Allium cepa
(Sumber : Cronquist. 1981)
Pada pembesaran 10x10 pada sel umbi Allium cepa, sel-sel umbi
Allium cepa mempunyai bentuk oval. Sel epidermis bawang merah (Allium
cepa) berbentuk lonjong yang tersusun, juga memiliki zat pewarna ungu
kemerahan. Sel bawang merah digolongkan sebagai sel hidup dikarenakan
zat warna dan organel selnya masih berfungsi.
Pada setiap bagian tengah sel terdapat satu nukleus yang bentuknya
seperti titik hitam kecil dan bagian sitoplasma pada sel tampak jelas. Pada
sel yang masih muda, inti sel pada bawang merah lebih besar daripada sel-
sel yang dewasa, selnya akan bertambah besar dan dalam keadaan seperti
ini inti selnya dapat dikatakan tetap, tidak bertambah besar (Sumardi,
1993). Nukleus pada sel bawang merah terlihat lebih tajam dan lebih jelas
dari sitoplasma hal ini dikarenakan sitoplasma merupakan cairan kental
yang transparan dan bersifat koloid, yaitu tidak padat dan tidak cair.
Pada sel umbi Allium cepa ini termasuk ke dalam sel hidup karena
memiliki bagian-bagian yaitu inti sel dan termasuk juka sitoplasma yang
merupakan komponen sitoplasmik yang bersifat air. Selain itu terdapat
juga plastida yang termasuk dalam plastida berwarna atau disebut
kromoplas. Plastida pada sel bawang merah berupa butir-butir yang
mengandung zat warna ungu sehingga bawang ini memiliki warna ungu
(Sumardi, 1993).

16
2. Daun Hydrilla verticillata
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Hydrocharitales
Familia : Hydrocharitaceae
Genus : Hydrilla
Species : Hydrilla verticillata
(Sumber : Cronquist. 1981)
Dari hasil pengamatan dengan mikroskop cahaya dengan
perbesaran 10x10, daun Hydrilla verticillata berwarna hijau karena
mengandung klorofil. Di bawah mikroskop, sel daun Hydrilla verticillata
berbentuk bulat panjang dan tersusun lebih rapi. Sel daun Hydrilla
verticillata memiliki dinding sel, dan sitoplasma. Namun pada saat
pengamatan terlihat aliran protoplasma, kroloplas dan plastida. Sel
hydrilla termasuk sel hidup hal itu dibuktikan dengan terlihatnya aliran
protoplasma, juga terlihat adanya kroloplas dan plastida pada pengamatan
kami kali ini.
Kloroplas menjadi bagian sel hidup pada daun Hydrilla verticillata
yang bergerak secara rotasi searah jarum jam. Gerakan kloroplast secara
rotasi merupakan gerakan yang berarah melingkar secara tetap. Gerakan
ini hanya terjadi dalam sel-sel yang bervakuola besar (Issoegianti, 1993).
Kloroplas yang didukung oleh adanya gerakan aliran sitoplasma yang
searah dengan jarum jam (rotasi), menandakan adanya sifat-sifat hidup
dari sel terebut. Kloroplas sendiri merupakan organel fotosintetik yang
berfungsi untuk mengubah energi cahaya matahari menjadi energi kimia
yang tersimpan didalam molekul gula (Campbell, 2004).

3. Irisan melintang umbi wortel Daucus carota


Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta

17
Classis : Magnoliopsida
Sub classis : Rosidae
Ordo : Apiales
Familia : Apiaceae
Genus : Daucus
Species : Daucus carota
(Sumber : Cronquist. 1981)
Menggunakan mikroskop cahaya dengan perbesaran 40x10, di
dalam sel umbi wortel (Daucus carota) terdapat plastid yang mengandung
pewarna karoten dan selnya yang berbentuk prisma. Kromoplas ditemukan
pada plastida yang keberadaannya tidak bercampur dengan sitoplasma
karena suatu membran rangkap melingkupi plastida tersebut
(Soerodikoesoemo, 2001). Kromoplas (bagian plastida) pada wortel
(Daucus carota) memiliki sifat protoplasmik yang menandakan bahwa sel
ini hidup. Kromoplas mengandung zat warna karotenoid yaitu alfa dan
beta karoten, kandungan beta karoten mencapai 50% yang menyebabkan
warna jingga pada sel umbi wortel (Daucus carota) (Campbell, 2004).
Selain kromoplas tedapat bagian yang jelas terlihat pada
pengamatan ini yaitu sitoplasma, dalam sel ini juga terjadi gerakan
sitoplasma sehingga terjadilah sirkulasi pada sitoplasma tersebut. Selain
bagian protoplasmik pada sel umbi Daucus carota juga terdapat dinding
sel. Pada wortel (Daucus carota) yang telah diamati memiliki bentuk atau
struktur sel yang tidak jauh berbeda seperti pada sel bawang merah (Allium
cepa) yaitu mempunyai bentuk persegi panjang atau berbentuk heksagonal
menyerupai seperti tumpukan batu-bata yang susunannya begitu rapi.
Dinding sel merupakan bagian yang tak hidup yang berbentuk hexagonal
(Issoegianti, 1993).

18
VI. KESIMPULAN
1. Sel tumbuhan yang hidup adalah sel tumbuhan yang mempunyai dinding
sel dan protoplas, dimana di dalam protoplas terdapat inti sel, sitoplasma,
dan plastida.
2. Umbi lapis Allium cepa, bagian sel hidup yang paling jelas diamati adalah
sitoplasmanya yang berbentuk butiran-butiran halus dan nukleus pada sel
bawang merah terlihat lebih tajam.
3. Sel pada Hydrilla verticillata dikatakan sebagai sel bagian yang hidup, sel
pada Hydrilla verticillata mempunyai kloroplas dan sitoplasma. Kloroplas
pada spesies ini melakukan pergerakan secara rotasi mengikuti aliran
sitoplasma searah jarum jam.
4. Umbi wortel Daucus carota, salah satu bagian sel yang hidup adalah
plastidanya yang berwarna jingga dikarenakan kandungan zat warna
karotenoid dan juga kloroplas.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri. Muchyar, Arsyad, M. 2020. Penuntun Praktikum Anatomi
Tumbuhan. Banjarmasin: FKIP UNLAM.

Campbell. (2004). Biologi Edisi Kedelapan Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Issoegianti. (1993). Biologi Sel. Yogyakarta: UGM.

Steenis, V. (2003). Flora. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Sumardi, I. (1993). Struktur dan Perkembangan Tumbuh-tumbuhan.


Yogyakarta: UGM.

19
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM III
SEL DENGAN BAGIAN-BAGIAN TAK HIDUP
(BENDA-BENDA ERGASTIK)
PRAKTIKUM III

Topik : Sel dengan Bagian-Bagian Tak Hidup (Benda-Benda Ergastik)


Tujuan : Mengamati benda-benda ergastik di dalam sel
(bagian sel yang bersifat tak hidup) yaitu amilum,
butir aleuron dan kristal Ca Oksalat
Hari/ Tanggal : Jum’at/ 6 November 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1. Mikroskop
2. Kaca benda
3. Kaca penutup
4. Silet/cutter
5. Pipet tetes
6. Jarum pentul
7. Baki/nampan
8. Pinset
B. Bahan :
1. Umbi Solanum tuberosum
2. Tangkai batang Pacar Air (Impatiens balsamina)
3. batang Bayam Sayur (Amaranthus spinosus)
4. Biji Jarak (Ricinus communis)
5. Aquadest

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Menusuk-nusuk umbi kentang (Solanum tuberosum) menggunakan
jarum pentul sampai mengeluarkan cairan pada permukaan umbinya,

20
kemudian meletakkan di atas kaca benda, memberi setetes aquadest
menutup dengan kaca penutup. Kemudian amati di bawah mikroskop.
3. Menyayat secara melintang batang pacar air, batang Amaranthus sp.
sehingga diperoleh sayatan secara setipis mungkin, lalu meletakkannya
di atas kaca benda, memberi setetes aquadest, menutup dengan kaca
penutup, kemudian diamati di bawah mikroskop.
4. Menyayat secara melintang biji jarak (Richinus communis) sehingga
diperoleh sayatan tipis mungkin, meletakkan di atas kaca benda, lalu
memberi setes aquadest, lalu tutup dengan kaca penutup. Dan mengamati
di bawah mikroskop.

III. TEORI DASAR


Protoplas merupakan bagian sel yang ada di sebelah dalam dinding sel.
Protoplas tersusun oleh bahan hidup dalam bentuk sederhana yang disebut
protoplasma. Pada sel tumbuhan protoplas terdiri atas: komponen protoplas
dan komponen nonprotoplasma. Komponen protoplasma terdiri atas: 1).
Sitoplasma yaitu bahan protoplasma yang menyelubungi badan protoplasmik
dan nonprotoplasmik, mengandung butir-butir dan sistem membran. 2). Inti
sel yaitu suatu badan yang merupakan pusat sintesis dan pengaturan aktifitas
sel, serta menentukan sifat-sifat hereditas suatu organisme. 3). Plastida
merupakan komponen protoplasmic yang mempunyai struktur dan fungsi
yang khusus. 4). Mitokondria yaitu badan yang lebih kecil dari plastida yang
mempunyai fungsi respirasi.
Komponen nonprotoplasma terdapat di dalam sitoplasma dan vakuola
menyusun bahan makanan atau produk metabolisme yang lain. Bahan-bahan
ini umumnya dikenal sebagai bahan ergastik. Bahan ergastik ada yang
bersifat cair maupun padat.
Contoh bahan ergastik bersifat cair :
1. Karbohidrat
Selulose dan zat tepung merupakan bahan ergastik yang pada
prinsipnya terdapat di dalam protoplast. Selulose ini sangat penting untuk

21
menyusun dinding sel, sedang tepung untuk cadangan makanan. Kedua
macam karbohidrat ini tersusun oleh rantai molekul yang panjang.
Zat tepung dijumpai dalam sitoplasma, terdapat sebagai butir-butir
baik di dalam leukoplas maupun kloroplas.
2. Protein
Protein merupakan bahan utama dari bahan protoplasma yang hidup.
Protein diketahui sebagai bahan cadangan dalam bentuk amorf atau kristal.
Pada beberapa macam biji, protein terdapat sebagai aleuron dan tersebar
di dalam sel. Ada pula aleuron terdapat di dalam sel, dan sel-sel tersebut
menyusun satu lapisan disebut lapisan aleuron.
3. Minyak dan Substansi yang Berminyak
Badan ergastik ini tersebar pada seluruh tubuh tumbuhan dan untuk
setiap tanaman jumlahnya sedikit. Lilin, suberin, kutin, sering terdapat
sebagai substansi pelindung pada dinding sel.
4. Tanin
Tanin merupakan kelompok derivate fenol yang heterogen dijumpai
terutama pada daun, xylem, floem, perioderm akar dan batang, dan pada
buah yang belum masak. Tanin terdapat dalam vakuola sel atau dalam
bentuk tetes-tetes kecil pada sitoplasma yang kemudian melebur.
Contoh bahan ergastik yang bersifat padat :
1. Kristal
Endapan anorganik pada sel tumbuhan hampir semuanya terdiri dari
garam kalsium oksalat dan silika. Garam kalsium oksalat dijumpai dalam
bentuk kristal. Bentuk kristal oksalat bermacam-macam, yaitu seperti
prisma, panjang dengan kedua ujung runcing. Stiloid dijumpai pada suku
Iridaceae, Agavaceae, atau beberapa Liliaceae. Kalsium karbonat
biasanya dijumpai dalam litokis. Sel silika terdapat pada epidermis dan
lamina tumbuhan Graminae, Cyperaceae, dan Palmae.

22
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Tangkai/batang Bayam Sayur (Amaranthus sp)
a. Gambar Pengamatan

Perbesaran 40x10

b. Foto Pengamatan

Keterangan :
3
1. Dinding sel
1 2. Kristal Oksalat
3. Sitoplasma
2

Dokumentasi Kelas, 2020

c. Menurut Literatur

Keterangan :
3 1. Dinding sel
2
2. Kristal Oksalat

1 3. Sitoplasma

Arianawa, 2017

23
2. Umbi Solanum tuberosum

a. Gambar Pengamatan

Perbesaran 40x10

b. Foto Pengamatan

Keterangan :
2
1. Hilus
2. Dinding sel
3
3. Lamela

Dokumentasi Kelas, 2020

c. Menurut Literatur
Keterangan :
2 1. Hilus
2. Dinding sel
3
3. Lamela

(Rebanas.com, 2017)

24
3. Biji Jarak (Ricinus communis)
a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan

Keterangan :
3
1. Butir aleuron
2
2. Kristaloid
3. Dinding sel
1

Dokumentasi Kelas, 2020


c. Menurut Literatur
Keterangan :
3
1. Butir aleuron
1
2. Kristaloid
2
3. Dinding sel

Dony, 2013

25
4. Batang Pacar Air
a. Gambar Pengamatan

Perbesaran 10x10

b. Foto Pengamatan

Keterangan :
1. Kristal Oksalat
3
2. Dinding Sel
1
3. Sitoplasma

Dokumentasi Kelas, 2020

c. Menurut Literatur

Keterangan :
1. Kristal Ca Oksalat
2. Dinding Sel
3. Sitoplasma

26
V. ANALISIS DATA
1. Batang Bayam (Amaranthus sp)
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Subclassis : Caryophyllidae
Ordo : Caryophyllales
Familia : Amaranthaceae
Genus : Amaranthus
Species : Amaranthus spinosus
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada tangkai daun bayam sayur
(Amaranthus sp) dengan perbesaran 10x10 dibawah mikroskop benda
ergastik yang padat, berupa kristal Ca-Oksalat yang kristalnya berbentuk
segitiga piramida (kristal pasir). Ca-Oksalat yang merupakan hasil
akhir/sekresi dari suatu pertukaran zat yang terjadi di dalam sitoplasma
sehingga diketahui apabila jumlah kalsium oksalat banyak pada tanaman
maka akan menyebabkan racun bagi tanaman..
Berdasarkan literatur, Oksalat merupakan salah satu hasil metabolit
tanaman yang memiliki peran unik pada tanaman. Pada tanaman, oksalat
dapat berbentuk asam oksalat maupun dalam bentuk kristal kalsium oksalat
(Franchesi dan Nakata, 2005). Adapun dalam bentuk kristal kalsium
oksalat, struktur kristal tersebut relatif memiliki distrisui dan mobilitas
yang realtif rendah bila dibandingkan jika dalam bentuk asam oksalat
(terlarut). Sering kali, kristal oksalat tersebut ditemukan pada sel – sel
khusus yang memiliki vakuola dalam ukuran sedang sampai besar khusus
untuk menyimpan kristal kalsium oksalat. Sel – sel tersebut sering disebut
sebagai sel idioblas. (Santoso, 2013)
Kalsium oksalat merupakan salah satu bahan ergastik di dalam sel
bersifat padat dan tidak larut karena berikatan kovalen sehingga

27
mengendap berbentuk Kristal di dalam jaringan tumbuhan. Kristal ini
terbentuk sebagai hasil akhir metabolisme di dalam jaringan
tumbuhan.Kristal kalsium oksalat yang terdapat di dalam tanaman banyak
bentuknya tidak berubah di dalam tulang menyebabkan penyakit reumatik
maupun di dalam ginjal menyebabkan kelainan metabolism sehingga
membentuk batu di dalam kantung kemih.(Sutrian. Y, 2010 : 96)

2. Umbi Solanum tuberosum


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Solanae
Familia : Solanaceae
Genus : Solanum
Spesies : Solanum tuberosum
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan, pada sel umbi Solanum tuberosum
pada perbesaran 40x10 dibawah mikroskop terdapat benda ergastik yaitu
butir amilum dan tergolong dalam benda ergastik padat. Amilum terdapat
dalam plastid (amiloplast) berupa karbohidrat atau polisakarida bentuk
tepung. Termasuk benda ergastic padat. Butir tunggal, tidak beraturan atau
bulat telur ukuran 30-100μm, atau membulat ukuran 10-35 μm. Hilus
berupa titik pada ujung yang sempit, dengan lamella konsentris jelas
terlihat.

Berdasarkan literatur, amilum (pati) merupakan butir-butir tepung


yang dapat disimpan sebagai cadangan makanan. Pada setiap jenis
tumbuhan, butir amilum mempunyai bentuk dan susunan tertentu,
namun pada umumnya berbentuk bundar atau lonjong. Adanya
perbedaan bentuk dan susunan butir amilum ini karena adanya hilus (titik

28
permulaan terbentuknya butir tepung) di setiap butir tepung. Sehingga
didapat hasil bahwa pada umbi Solanum tuberosum tersebut terdapat pati
yang didalamnya mengandung hilus dan lamella. Dimana hilus adalah titik
awal terbentuknya amilum dan lamella adalah garis-garis halus yang
mengelilingi hilus (Sinta, S. 2004).

3. Biji Jarak (Ricinus communis)


Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Familia : Euphorbiaceae
Genus : Ricinus
Species : Ricinus communis
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada biji jarak yang diiris secara
melintang pada perbesaran 10x10 dibawah mikroskop terlihat memiliki sel
yang berbentuk seperti granula yang didalamnya terdapat benda ergastik
berupa butir-butir aleuron dan protein. Benda ergastik yang ditemukan
berupa benda padat seperti butir aleuron dan benda cair yang berupa
protein yang dipakai sebagai cadangan makanan.
Berdasarkan literatur, Di tempat penyimpanan makanan cadangan
(misalnya biji) selain amilum terdapat juga protein. Pada waktu biji
masih muda, terdapat vakuola berukuran kecil dan berjumlah banyak.
Menjelang biji menjadi tua, vakuola menjadi dan besar. Setelah
biji mengering, air dalamvakuola menjadi semakin sedikit sehingga
konsentrasi zat-zat terlarut didalamnya (protein, garam dan lemak)
semakin besar. Karena peristiwa pengeringan ini maka vakuola pecah
menjadi beberapa vakuola kecil-kecil yang berisi protein, garam dan

29
lemak. Kemudian zat-zat tersebutakan mengkristal. Vakuola yang berisi
kristal ini disebut aleuron. (Akbar, 2014)
Sebuah aleuron berisi sebuah atau lebih kristaloid putih telur dan
sebuah atau beberapa globoid yaitu bulatan kecil yang tersusun oleh
zatfitin (garam Ca- dan Mg- dari asam meseinesit hexafosfor). Butir
aleurondalam endosperm biji jarak (Ricinus communis) mengandung
globoidyang terdiri atas garam magnesium dan kalsium dari asam
inositol fosfatserta kristaloid. Disamping itu masih terdapat zat putih
telur yang amorf(yang bila ditetesi larutan Jodium berwarna kuning
coklat). Pada biji jarak, butir aleuron letaknya tersebar dan berukuran
besar. (Akbar, 2014)

4. Batang Pacar Air (Impatiens balsamina)


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Encales
Familia : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Species : Impatiens balsamina
Sumber : Cronquist (1981)
Berdasarkan hasil pengamatan, Berdasarkan hasil pengamatan yang
telah dilakukan di laboratorium biologi pada sel batang pacar air
(Impatiens balsamina) di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 40
x 10, dapat diketahui bahwa benda ergastik padat berupa kristal Ca oksalat.
Kristal Ca Oksalat pada sel batang pacar air ini memiliki bentuk seperti
jarum atau rafida.
Berdasarkan literatur, Kristal Ca-oksalat merupakan hasil akhir atau
hasil sekresi dari suatu pertukaran zat yang terjadi di dalam sitoplasma.
Ada yang mengharapkan bahwa asam oksalat bebas merupakan racun bagi

30
tumbuhan bilangan diendapkan berupa garam Ca-oksalat. Kristal ini
terdapat di dalam plasma atau vakuola sel dan larut dalam asam kuat (HCl
dan H2SO4). Pada Batang Pacar Air juga memiliki Kristal kalsium oksalat
yang memiliki bentuk seperti jarum atau rafida yang memiliki fungsi
sebagai alat pertahanan diri. (Akbar, 2014)

31
VI. KESIMPULAN
1. Benda Ergastik merupakan benda tak hidup (nonprotoplasma) berupa
produk metabolisme yang membantu organisme dalam pertahanan serta
untuk penyimpanan substansi dalam vakuola dan dinding sel.
2. Pada tangkai daun bayam sayur (Amaranthus sp) benda ergastik yang
berupa kristal Kalsium Oksalat (Ca-oksalat) yang berbentuk seperti
segitiga kecil.
3. Pada Umbi Solanum tuberosum benda ergastik yang telihat berupa butir
amilum atau pati yang berbentuk seperti butir-butiran pasir.
4. Pada biji jarak Ricinus communis benda ergastik berupa butir-butir aleuron
berbentuk seperti granula yang berisi butir-butir protein yang dipakai
sebagai cadangan makanan.
5. Pada Batang Pacar Air juga memiliki Kristal kalsium oksalat yang
memiliki bentuk seperti jarum atau rafida yang memiliki fungsi sebagai
alat pertahanan diri.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Akbar,dkk. (2014). Laporan Mini Riset Anatomi Tumbuhan. Diakses
melalui
https://www.academia.edu/9078866/Pengaruh_cahaya_matahari
. Pada 4 Januari 2021.

Amintarti, S., Arsyad, M., & Rezeki, A. 2019. Penuntun Praktikum


Anatomi Tumbuhan. PMIPA FKIP ULM: Banjarmasin.

Arianawa. 2017. Benda-benda Ergastik. Diakses Melalui


http://rinarianawa. co.id. Pada Tanggal 23 Maret 2019.

Cronquist, A. 1981. An Integrated System of Classification of Flowering


Plants. Columbia University Press: New York.

Dony. 2013. Butir Aleuron. Diakses Melalui http://viewatammar.com


Pada Tanggal 23 Maret 2019.

Franchesi, V.R., dan Nakata, P.A. (2005) Calcium oxalate in plants:


formation and functions. Annual Review of Plant Biology 56:41-
71.

32
Santoso, A. M. (2013). Distribution of Calcium Oxalate Cristal,
Reduction of Oxalates, and the Effect of Cultivation Method on
Its Formation in Some Vegetables. In Proceeding Biology
Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and
Learning (Vol. 10, No. 2, pp. 329-334).

Sutrian, Y. 2010. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan Tentang Sel


dan jaringan. Penerbit PT. Cipta. Jakarta.

33
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM IV
PENEBALAN PADA DINDING SEL
PRAKTIKUM IV

Topik : Penebalan Pada Dinding Sel.


Tujuan : Untuk Mengamati Penebalan Pada Dinding Sel Secara Sentrifugal
(Ke Arah Luar) Maupun Sentripetal (Ke Arah Dalam).
Hari/tanggal : Jum’at / 13 November 2020.
Tempat : Daring.

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
Alat yang digunakan dalam percobaan adalah sebagai berikut :
1. Mikroskop
2. Baki/nampan
3. Alat tulis
4. Kaca benda
5. Kaca penutup
6. Silet/cutter
7. Tissue dan jarum pentul
B. Bahan:
Bahan yang digunakan dalam percobaan adalah sebagai berikut :
1. Serbuk sari bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)
2. Daun beringin (Ficus benjamina)
3. Endocarpium kelapa (Cocos nucifera)
4. Aquades

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan saat berpraktikum.
2. Meletakkan serbuk sari Hibiscus rosa-sinensis di atas kaca benda,
memberinya setetes aquadest, kemudian menutupnya dengan kaca
penutup dan mengamatinya di bawah mikroskop.

34
3. Membuat irisan tipis daun Ficus benjamina, meletakkannya di atas kaca
benda kemudian memberi setets aquadest, kemudian menutupnya dengan
kaca penutup dan mengamatinya di bawah mikroskop.
4. Membuat kerokan endocarpium Cocos nucifera, kemudian
meletakkannya di atas kaca benda, rapikan bahan menggunakan jarum
pentul dan memberi nya setetes aquadest, kemudian menutupnya
menggunakan kaca penutup, kemudian mengamatinya di bawah
mikroskop.
5. Melakukan pengamatan di bawah mikroskop, mencatat dan menganalisis
hasil pengamtantersebut.

III. TEORI DASAR


Dinding sel merupakan bagian sel yang bersifat mati. Dinding sel
menentukan bentuk serta struktur jaringan, berfungsi sebagai penguat dan
melindungi protoplas. Dinding sel pada tumbuhan mempunyai tebal yang
bermacam-macam tergantung pada umur dan tipe sel. Berdasarkan
perkembangannya dan strukturnya dibedakan menjadi 3 pokok utama yaitu
lamela tengah, dinding primer, dan dinding sekunder. Semua sel
mempunyai lamela tengah dan dinding primer sedangkan adanya dinding
sekunder hanya pada sel-sel tertentu.
Penebalan dinding sel dapat dibedakan berdasarkan arah
penebalannya, yaitu penebalan sentrifugal (penebalan ke arah luar)
misalnya terdapat pada dinding luar serbuk sari bunga Hibiscus Rosa-
sinensis dan dinding spora berbagai jenis tumbuhan. dan penebalan
sentripetal (penebalan ke arah dalam) misalnya terdapat pada sel epidermis
daun Ficus Benjamin, yang disebut litokis dan sel endotelium Cocos
nucifera (Amintarti, 2020).

35
IV. HASIL PENGAMATAN

1. Serbuk Sari Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis)


a. Hasil Pengamatan

Keterangan :
2 1
1. Tonjolan (Trikoma)

2. Epidermis

3. Pollen
3
Perbesaran 100X

b. Foto Pengamatan

Keterangan :
1
1. Tonjolan (Trikoma)
2 2. Epidermis
3 3. Pollen

Perbesaran 100X

(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Menurut Literatur
Keterangan :
1
2 1. Tonjolan (Trikoma)
3
2. Epidermis
3. Pollen

(Sumber : Rohmana, 2015)

36
2. Daun Beringin (Ficus benjamina)

a. Hasil Pengamatan
Keterangan :

1. Tonjolan (Litokis)
3
1 2. Sistolit

2
3. Epidermis
4. Dinding sel
4
Perbesaran 100X

b. Foto Pengamatan

Keterangan :
1
1. Tonjolan (Litokis)
2 2. Sistolit

3
3. Epidermis
4. Dinding sel
4
Perbesaran 100X

(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Menurut Literatur

Keterangan :
1
1. Tonjolan (Litokis)
2
3 2. Sistolit

4 3. Epidermis

4. Dinding sel
(Sumber : Rohmana, 2015)

37
3. Endocarpium Kelapa (Cocos nucifera)
a. Hasil Pengamatan
Keterangan :

1. Dinding sel sekunder


1 2. Lumen

2 3. Noktah

4 4. Lamella tengah
3 Perbesaran 400X

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1
2 1. Dinding sel sekunder
2. Lumen
3
3. Noktah
4
4. Lamella tengah
Perbesaran 400X

(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Menurut Literatur

Keterangan :
1
1. Dinding sel sekunder
2
2. Lumen
3
3. Noktah
4
4. Lamella tengah

(Sumber : Rusdiana, 2018 )

38
V. ANALISIS DATA
1. Serbuk sari Hibiscus rosa-sinensis
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Eudicots
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus rosa-sinensis
(Sumber : Cronquist, 1981)
Dalam pengamatan kami kali ini kami menemukan ada tonjolan-
tonjolan ke arah luar dari preparat serbuk sari kembang sepatu.
Tonjolan-tonjolan tersebut menunjukkan adanya penebalan pada
dinding sel. Penebalan ini terjadi secara sentrifugal yaitu penonjolan ke
arah luar yang disebut dengan trikoma. Trikoma terdapat pada hampir
semua organ tumbuh-tumbuhan (pada epidermisnya). Jelasnya yaitu
saat organ-organ tumbuhan itu masih hidup. (Sutrian, 2004).
Trikoma dapat tersebar dalam bentuk tunggal, adakalanya
bergerombol. Trikoma dapat terdiri dari sel tunggal atau beberapa sel
bergabung dengan berbagai bentuknya. Mulai dari bentuk sederhana
sebagai tonjolan sampai cabang atau berbentuk bintang. Sel-sel
penyusunannya dapat berupa sel hidup atau sel mati. Serbuk sari
mempunyai 2 lapisan dinding yaitu eksin merupakan lapisan terluar dari
inti lapisan dalam. Eksin tersusun dari sporopolenin, sedang intin
tersusun dan polisakarida. Serbuk sari yang baru terbentuk mempunyai
sitoplasma yang padat, dengan inti di bagian tengahnya. Setelah antera
masak, polen keluar melalui lubang yang disebut stomium. Epidermis
yang letaknya berdekatan dengan stomium dinding mengalami
penebalan membentuk struktur yang khusus (Ningsih, 2016).
Antera pada umumnya membuka secara memecah atau membuka
secara spontan. Pecahnya antera didahului dengan rusaknya dinding

39
pemisah di antara dua lokulus pada lobus yang sama. Kemudian
jaringan terluar dari antera, yaitu epidermis bersel tunggal juga rusak
sehingga polen dilepaskan melalui celah panjang atau stomium.
Dinding sub epidermis antera, yaitu endotesium, yang memiliki
penebalan sekunder berupa ‘strips thickening’. (Iriawati&Trimurti,
2009).

2. Daun Ficus benjamina


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Eudicots
Ordo : Rosales
Familia : Moraceae
Genus : Ficus
Species : Ficus benjamina
(Sumber : Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada Daun Ficus benjamina
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 100 x 10 terjadi penebalan
ke arah dalam (sentripetal) yang mula-mula berupa tangkai dari selulosa
pada dinding sebelah atas ke arah lumen sel atau pada bagian sel
epidermis yang disebut litokis. Litokis merupakan sel epidermis khusus
yang biasanya lebih besar dari epidermis normal dan merupakan devosit
dari CA-karbonat. Litokis memiliki sistolit didalamnya yang berbentuk
seperti sarang lebah.
Pada daun beringin ini terdapat derivat epidermis (multiple
epidermis) berupa epidermis berganda dan litokis. Litokis adalah sel
yang mengandung sistolit. Litokis terpadat pada epidermis daun
beringin (Ficus sp.) berupa penebalan ke arah sentripetal yang tersusun
atas tangkai selulosa dengan deposisi Ca-karbonat (kalsium karbonat)

40
yang membentuk bangunan seperti sarang lebah yang disebut sistolit.
(Mahardika, 2009).

3. Endocarpium Cocos nucifera


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Monokotil
Ordo : Arecales
Familia : Arecaceae
Genus : Cocos
Species : Cocos nucifera
(Sumber : Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada
endocarpium Cocos nucifera dengan perbesaran 400 penebalan pada
endocarpium kelapa merupakan penebalan ke arah dalam (sentripetal).
Pada penebalan dinding sekunder endocarpium kelapa mengandung
selulosa, hemiselulosa dan zat ligninlah yang membuat endokarpium
kelapa ini keras. Jaringan-jaringan skelerenkim tersusun oleh sel-sel
mati yang merupakan jaringan penguat dengan sekunder yang tebal.
Ensocarpium Cocos nucifera juga memiliki lumen, lumen ini mengecil
akibat penebalan dinding sel.
Menurut Patimah (2017) penebalan pada dinding sel kelapa
terjadi pada jaringan penguat yaitu sel sklerenkim, sel-sel ini
mengalami penebalan sekunder dengan zat lignin. sel sklerenkim pada
endocarpium yaitu sklereid dimana sel-sel nya dapat mengumpul
menjadi jaringan keras diantara jaringan lain yang lunak atau menyusun
seluruh bagian yang keras. Endocarpium kelapa merupakan penebalan
ke arah sekunder atau ke dalam (sentripetal). Penebalan. Pada
endocarpium kelapa terdapat sel-sel sklerenkim yang dindingnya
sangat tebal juga kuat karena mengandung lignin.

41
Jaringan-jaringan skelerenkim tersusun oleh sel-sel mati yang
merupakan jaringan penguat dengan sekunder yang tebal. Ensocarpium
Cocos nucifera juga memiliki lumen, lumen ini mengecil akibat
penebalan dinding sel. Menurut Patimah (2017) penebalan pada
dinding sel kelapa terjadi pada jaringan penguat yaitu sel sklerenkim,
sel-sel ini mengalami penebalan sekunder dengan zat lignin. sel
sklerenkim pada endocarpium yaitu sklereid dimana sel-sel nya dapat
mengumpul menjadi jaringan keras diantara jaringan lain yang lunak
atau menyusun seluruh bagian yang keras.

42
VI. KESIMPULAN

1. Penebalan dinding sel terbagi menjadi dua, yaitu penebalan dinding sel
kedalam (sentripetal) dan penebalan dinding sel keluar (sentrifugal).

2. Tipe penebalan dinding sel pada serbuk sari kembang sepatu adalah
penebalan dinding sel keluar (sentrifugal). Bentuk penebalan berupa
tonjolan yang disebut sebagai trikoma.

3. Tipe penebalan sentripetal pada daun beringin yang berupa tangkai dari
selulosa pada dinding sebelah atas menuju lumen sel yang di sebut litokis.

4. Tipe penebalan sentripetal pada endokarpium kelapa berupa dinding sel


sekunder yang mengandung selulosa dan hemi selulosa serta lignin.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Amintarti, Sri, Arsyad, Rezeki. 2019. Penuntun Praktikum Anatomi


Tumbuhan. Banjarmasin: Batang.

Amintarti, SSri. 2019. Bahan Ajar Anatomi Tumbuhan. Universitas


Lambung Mangkurat: Banjarmasin.

Cronquist. 1981. Diakses melalui laman


https://en.wikipedia.org/wiki/Cronquist_system pada tanggal
pada tanggal 12 November 2020.

Issoegianti. 1993. Biologi Sel. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Mahardika, M. A. (2009). Retrieved 13 November, 2020, from


staff.uny.ac.id/sites/de fault/files/epidermis.pdf.

Mulyani, Sri. 2016. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.

Ningsih, I. Y. (2016). Retrieved 13 November, 2020, from


repository.unej.ac.id/handle/12 3456789/77253.

Norhidayati. 2010. Biologi Umum. Banjarmasin: Universitas Lambung


Mangkurat.

43
Riawati, &Trimurti H. W. (2009). Retrieved 13 November, 2020, from
http://repository. Ut. Ac.id/ 4368/ 1/BIOL4312-M1.pdf.

Rohmana, Qorry Aulya. (2015). Sitologi Penebalan Dinding Sel. Diakses


melalui laman
https://aulyarohmana16.wordpress.com/2015/06/09/sitologi-
penebalan-dinding-sel-dan-plasmolisis/ pada tanggal 12
November 2020.

44
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM V
PEMBELAHAN SEL (MITOSIS)
PRAKTIKUM V

Topik : Pembelahan Sel (Mitosis)


Tujuan : Untuk mengamati fase-fase pembelahan (mitosis) pada sel akar
bawang merah (Allium cepa).
Hari/ Tanggal : Jumat/ 20 November 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Mikroskop 7. Penjepit
2. Kaca benda 8. Spiritus
3. Kaca penutup 9. Silet
4. Pipet tetes 10. Pensil bulat
5. Pinset 11. Paku berkarat
6. Gelas arloji

Bahan:
1. Akar bawang putih (Allium cepa)
2. Larutan asetokarmin
3. Gliserin
4. Kuteks bening

II. CARA KERJA


1. Menumbuhkan akar bawang merah dengan cara mengiris bagian atas
bawang putih, kemudian merendamnya di dalam air (selama ± 1 minggu).
2. Memotong akar bawang merah ± 1 cm kemudian merendamnya ke dalam
larutan asetokarmin selama 5 menit.
3. Memanaskan ujung akar yang telah direndam dengan asetokarmin
menggunakan pembakar spiritus.

45
4. Mengaduk larutan asetokarmin dengan paku berkarat agar memperkuat
penyerapan zat warna.
5. Meletakkan potongan ujung akar tadi diatas kaca benda, menghangatkannya
beberapa saat lalu meneteskan 1 sampai 2 tetes gliserin dan menutup dengan
kaca penutup.
6. Menggerus akar bawang tersebut dengan pensil bulat, lalu memberi kuteks
bening pada sisi kaca penutup untuk merekatkan kaca benda dan kaca
penutup
7. Mengamati preparat di bawah mikroskop.
8. Menggambarkan dan menentukan tahapan mitosisnya.

III. TEORI DASAR


Gamet betina setelah dibuahi oleh gamet jantan membentuk sel zigot dan
kemudian oleh pertumbuhan dan perkembangan melalui pembelahan sel,
menjadi individu dewasa. Proses pembelahan ini dinamakan mitosis. Pada
suatu jenis makhluk hidup, sel itu tidak terlalu sama bentuknya, di dalam inti
sel terdapat kromosom yaitu benda-benda yang halus dan membawa sifat
menurun. Sel-sel membelah diri secara kontinu, selain untuk menambah
jumlah sel untuk pertumbuhan juga untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak,
kecuali sel-sel saraf. Dalam sel yang membelah, kromosom biasanya dapat
dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, akan tetapi untuk mempelajari
strukturnya yang halus baru dapat digunakan sebuah mikroskop elektron,
karena dapat memberi pembesaran yang jauh lebih kuat. Salah satu bagian
yang ada pada kromosom ini disebut sentromer yaitu bagian yang membagi
kromosom menjadi dua lengan (Amintarti, 2020).
Sel-sel anak yang dihasilkan oleh pembelahan sel mitosis mempunyai
susunan dan fungsi yang sama dengan sel induk atau dengan kata lain
mempunyai susunan gen dan kromosom yang sama dengan sel induknya,
sehingga jumlah sel induknya tidak mengalami kerusakan. Pembelahan mitosis
ini bisa dikatakan menghasilkan sel anak dengan jumlah kromosom tetap yaitu
2n (Amintarti, 2020).

51
Mitosis berlangsung dalam 5 tahap atau fase yang berkesinambungan
sehingga tahap yang satu tidak terpisahkan dengan tahap berikutnya.
Pembagian tahap ini dimaksudkan untuk memudahkan menerangkan
peristiwa-peristiwa yang terjadi. Fase-fase tersebut adalah:
a. Interfase.
Sel siap untuk memebalah, tetapi belum memperlihatkan kegiatan
memebalah. Inti sel tampak keruh, lambat laun kelihatan benang-benang
kromatin yang halus (Amintarti, 2020).
b. Profase.
Benang-benang kromatin makin menjadi pendek sehingga menjadi tebal.
Terbentuklah kromosom-kromosom. Tapi kromosom lalu membelah
memanjang, dan membran inti mulai menghilang. Sentriol (bentuk seperti
bintang dalam sitoplasma) juga membelah (Amintarti, 2020).
c. Metafase
Kromosom-kromosom menempatkan diri di bidang equatorial (tengah) dari
sel (Amintarti, 2020).
d. Anafase
Kedua belah kromatid memisahkan diri dan ditarik benang gelendong yang
dibentuk di tiap kutub sel yang berlawanan. Tiap kromatid itu memiliki sifat
keturunan yang sama. Mulai saat ini kromatid-kromatid berlaku sebagai
kromosom baru (Amintarti, 2020).
e. Telofase.
Disetiap kutub sel terbentuk sel kromosom yang serupa. Benang-benang
gelendong lenyap dan membran inti terbentuk lagi. Kemudian plasma sel
terbagi menjadi dua bagian. Pada sel tumbuhan proses ini ditandai dengan
terbentuknya dinding pemisah di tengah-tengah sel (Amintarti, 2020).
Jelaslah bahwa pada mitosis, tiap sel induk yang diploid (2N)
menghasilkan dua buah sel anakan yang masing-masing tetap diploid serta
memiliki sifat keturunan yang sama dengan induknya (Amintarti, 2020).

52
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Akar Bawang Merah (Allium cepa)
a. Fase Interfase
1) Gambar Pengamatan

2) Foto Pengamatan

Keterangan :
2
1. Inti sel

1
2. Dinding Sel

Perbesaran 40 x 10

(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

3) Menurut Literatur
Keterangan :
1 1. Inti sel
2. Dinding Sel

2
(Sumber :Sinau, 2010)

(Sumber : Abidin, 2014)

53
b. Fase Profase
1) Gambar Pengamatan

2) Foto Pengamatan

Keterangan :
1
1. Kromatin
2. Dinding Sel
2
Perbesaran 40 x 10

(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

3) Menurut Literatur
Keterangan :
1 1. Kromatin
2
2. Dinding Sel

(Sumber : Abidin, 2014)

54
c. Fase Metafase
1) Gambar Pengamatan

2) Foto Pengamatan

Keterangan :
3
1
1. Kromatid
2. Dinding Sel
2
3. Benang Spindel
Perbesaran 40 x 10

(Sumber: Dokumentasi Kelas, 2020)

3) Menurut Literatur

3 Keterangan :
1 1. Kromatid

2. Dinding Sel
2
3. Benang Spindel

(Sumber : Abidin, 2014)

55
d. Fase Anafase
1) Gambar Pengamatan

2) Foto Pengamatan

Keterangan :
3
1
1. Kromatid
2. Dinding Sel
2
3. Benang Spindel

Perbesaran 40 x 10

(Sumber: Dokumentasi Kelas, 2020)

3) Menurut Literatur
Keterangan :
3 1 1. Kromatin

2. Dinding Sel
2
3. Benang Spindel

(Sumber : Abidin, 2014)

56
e. Fase Telofase
1) Gambar Pengamatan

2) Foto Pengamatan

Keterangan :
1
1. Inti Sel
2. Dinding Sel
2
Perbesaran 40 x 10

(Sumber: Dokumentasi Kelas, 2020)

3) Menurut Literatur
Keterangan :
1 1. Inti Sel
2. Dinding Sel
2

(Sumber : Abidin, 2014)

57
V. ANALISIS DATA
1. Akar Bawang Merah (Allium cepa L.)
Praktikum dilakukan menggunakan bahan akar bawang merah
(Allium cepa) yang sudah ditumbuhkan kurang lebih satu minggu. Akar
bawang merah dipotong sepanjang 1 cm. Praktikum ini menggunakan akar
bawang merah karena bawang putih mudah ditemukan dan ukuran sel-
selnya yang besar serta bervariasi sehingga mudah untuk diamati. Pada saat
pembelahan, ukuran sel dapat mempengaruhi penyebaran kromosom. Sel
yang ukurannya besar cenderung memiliki cukup ruangan sehingga letak
kromosom terpencar-pencar dan tidak tumpang tindih (Setyawan dan
Sutikno, 2000).
Praktikum menggunakan ujung akar karena di ujung akar terdapat
jaringan meristem, yaitu jaringan yang aktif membelah. Pernyataan tersebut
juga diperkuat oleh Setyawan dan Sutikno (2000) yang mengungkapkan
bahwa ujung akar merupakan organ paling sering digunakan untuk
mempelajari pembelahan mitosis, misalnya membuat peta karyotipe, karena
merupakan organ paling meristematis. Di samping itu ujung akar dapat
diatur pertumbuhannya untuk mendapatkan bahan yang seragam umur,
bentuk dan ukurannya.
Fungsi dari penambahan larutan asetocarmin adalah untuk memberi
warna pada akar bawang sehingga akan terlihat jelas bagian-bagian yang
diamati. Fungsi dari paku berkarat dalam pembelahan sel adalah sebagai
morden, berguna untuk memperkuat penyerapan zat warna acetocarmine
dalam pewarnaan sel. Karena di dalam karat besi terdapat FeCl2 yang dapat
mempercepat penyerapan warna.
Berdasarkan hasil praktikum, didapat bahwa akar bawang putih
mengalami fase interfase, profase, metafase, anafase, telofase.
1. Fase Interfase
Interfase merupakan fase di antara dua pembelahan sel, bisa
juga disebut sebagai tahap persiapan. Fase ini diamati dengan

58
perbesaran mikroskop 400x. Inti sel dengan benang-benang kromatin
masih halus terlihat seperti titik-titik.

2. Fase Profase
Pada tahap ini diamati dengan perbesaran 400x. Benang-
benang kromatin semakin menjadi pendek sehingga menjadi tebal.
Terbentuklah kromosom-kromosom dan membran inti mulai
menghilang. Sentriol (bentuk seperti bintang dalam sitoplasma) juga
membelah.
Menjelang akhir profase, mikrotubuli yang merupakan bagian
kerangka interfase dibongkar dan komponen utama mitosis, yaitu
benang-benang spindel dibentuk. Benang-benang spindel membentuk
dua kutub, terdiri dari mikrotubuli dan beberapa jenis protein lain
(Setyawan dan Sutikno, 2000).
Ciri pada fase ini adalah nukleolus dan membran inti melebur,
sedangkan benang kromatin menebal dan memendek, benang spindel
mulai terbentuk.

3. Fase Metafase
Pada perbesaran mikroskop 400x terlihat kromosom
menempatkan diri di bidang ekuatorial (tengah) dari sel. Mikrotubuli
kinetokor menarik kromosom ke bidang ekuator. Posisi mikrotubuli
tegak lurus dengan benang spindel sehingga letak kromosom
cenderung mendatar di bidang ekuator. Metafase paling mudah
ditemukan, karena pada posisi ini kromosom mengumpul, sehingga
biarpun ukurannya kecil tetap dapat dilihat (Setyawan dan Sutikno,
2000).
Ciri-ciri dari fase metafase adalah benang-benang spindel
terlihat jelas dan tersusun teratur pada permulaan metafase, kromatid-
kromatid bersaudara bergerak ke bidang ekuator dari sel dan berjejer

59
di sana, setiap sentromer memiliki dua kinetokor, masing-masing
berikatan dengan benang spindel.

4. Fase Anafase
Pada tahap anafase sentromer membelah kromosom menjadi
dua bagian yang disebut dengan kromatid. Tahap ini diamati pada
perbesaran mikroskop 400x, terlihat bahwa kedua buah kromatid
ditarik benang gelendong yang dibentuk di kutub sel yang
berlawanan., menunjukkan terjadinya pemisahan-pemisahan yang
berlangsung dari kromatid yang bermula pada sentromer-sentromer
yang telah membelah. Menurut Setyawan dan Sutikno (2000) tahap
anafase berlangsung secara cepat dan tiba-tiba dan diawali
terpisahnya pasangan kinetokor pada masing-masing kromosom.
Setiap kromatid kemudian ditarik oleh benang spindel atau serabut
kinetokor sehingga terpisah dan bergerak menuju kutub-kutub yang
berlawanan.
Ciri-ciri dari fase ini adalah dua bagian kromatid bergerak ke
kutub yang berlawanan, sentromer ditarik oleh benang spindel, terjadi
penyebaran kromosom yang seragam di dalam sel, serta pada akhir
anafase, sekat sel terbentuk did ekat bidang ekuator.

5. Fase Telofase
Tahap telofase diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran
400x. Tahap telofase dimulai dengan masing-masing kromatid yang
sampai pada kutub yang berlawanan. Pada tahap telofase, terlihat di
kutub terbentuk sel kromosom yang serupa. Benang-benang
gelendong lenyap dan membran inti terbentuk lagi. Kemudian plasma
sel terbagi menjadi dua bagian. Pada sel tumbuhan proses ini dengan
adanya terbentuknya dinding pemisah di tengah-tengah sel. Kromatid
berubah kembali menjadi kromatin. Nukleus serta nukleolus
terbentuk. Demikian halnya dengan butir-butir halus yang biasa

60
terdapat pada inti menjadi tampak kembali. Pada akhir tahap telofase,
dihasilkan dua sel anak yang identik dengan sel induknya sebagai hasil
dari pembelahan.

61
VI. KESIMPULAN

1. Ujung akar bawang yang telah direndam dalam cairan acetokarmin, dalam
pengamatan terlihat adanya pembelahan mitosis yaitu fase profase,
metafase, anafase, dan telofase.
2. Mitosis adalah proses pembelahan inti, pada penambahan jumlah sel yaitu
terjadi pada pertumbuhan dan perkembangan.
3. Penggunaan ujung bawang dikarenakan ujung akar bersifat meristematik
apikal (aktif membelah) .
4. Kromosom tetap mempertahankan sifat-sifatnya selama mitosis.
5. Fungsi paku berkarat untuk mempercepat penyerapan warna.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Achmad Zainal. 2014. STUDI INDEKS MITOSIS BAWANG


UNTUK PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN
PREPARAT MITOSIS. Diakses melalui
https://media.neliti.com/media/publications/245478-studi- indeks-
mitosis-bawang-untuk-pembua-c168c7ac.pdf pada tanggal 1 Januari
2021.

Amintarti, S., Arsyad, M., & Rezeki, A. 2020. Penuntun Praktikum Anatomi
Tumbuhan. PMIPA FKIP ULM, Banjarmasin.

Setyawan, Ahmad Dwi & Sutikno. 2000. Karyotipe Kromosom pada Allium
sativum L. (Bawang Putih) dan Pisum sativum L. (Kacang Kapri).
Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta. Fakultas Biologi UGM
Yogyakarta. Diakses melalui
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&
cd=&ved=2ahUKEwiViZjh8_sAhUr7XMBHSUpB9EQFjACegQIA
RAC&url=http%3A%2F%2Fbiosmart.mipa.uns.ac.id%2Findex.php
%2Fbiosmart%2Farticle%2FviewFile%2F59%2F33&usg=AOvVaw
0r5uPE9BhSWyvsIsi40hy4 pada tanggal 1 Januari 2021.

62
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM VI
EPIDERMIS DAN DERIVATNYA
PRAKTIKUM VI

Topik : Epidermis Dan Derivatnya


Tujuan : Untuk mengamati bentuk-bentuk epidermis dan derivatnya
(Trikoma, stoma, sel kipas, sel silika)
Hari/ tanggal : Jum’at/27 November 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1. Mikroskop
2. Baki
3. Kaca benda
4. Kaca penutup
5. Gelas kimia
6. Pipet tetes
7. Silet
8. Jarum pentul
B. Bahan :
1. Batang tebu (Saccharum oficinarum)
2. Daun tebu (Saccharum oficinarum)
3. Daun sukun (Artocapus altilis)
4. Daun waru (Hibiscus tiliaceus)
5. Batang waluh (Cucurbita moschata)
6. Kutex berwarna bening
7. Aquadest

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan untuk praktikum
2. Menyayat permukaan daun pada permukaan yang kasar untuk mengamati
epidermis, trikoma dan stoma selanjutnya meletakkan sayatan di atas kaca

63
benda, memberi setetes aquades, menutup dengan kaca penutup dan
mengamati di bawah mikroskop.
3. Mengamati epidermis pada daun yang permukaannya licin dengan mencat
permukaan daun dengan kutex dan setelah kering melepaskan kutex dengan
hati-hati selanjutnya meletakkan di atas kaca benda, memberi setetes
aquades, menutup dengan kaca penutup dan mengamati di bawah
mikroskop.
4. Mengamati sel kipas dengan membuat sayatan melintang setipis mungkin
pada daun tebu dan jagung, selanjutnya meletakkan masing-masing di atas
objek gelas, memberi setetes aquades, menutup dengan kaca penutup, dan
mengamatai di bawah mikroskop.
5. Mengamati sel silikat dan sel gabus dengan membuat sayatan membujur
pada kulit batang tebu, meletakkan di atas objek gelas, memberi setetes
aquades, menutup dengan kaca penutup, dan mengamati dengan
mikroskop.

III. TEORI DASAR


Epidermis merupakan sel penyusun lapisan terluar dari daun, bunga,
buah dan biji serta akar dan batang sebelum mengalami penebalan sekunder.
Bermacam sel epidermis dapat dibedakan pada berbagai tumbuhan: sel
epidermis bentuk umum, sel tunggal atau kelompok sel dengan struktur,
bentuk dan kandungan yang khusus, sel berhubungan dengan stomata dan
struktur tambahan pada epidermis yang disebut trikoma (Fahn, 1991).
Epidermis mempunyai fungsi melindungi bagian dalam organ tubuh,
sehingga epidermis disebut sebagai jaringan pelindung. Sebagai jaringan
pelindung epidermis melindungi terhadap penguapan, kerusakan-kerusakan
mekanis, perubahan temperatur dan mencegah hilangnya zat hara. Bentuk sel
epidermis bermacam-macam misalnya bentuk seperti kubus, prisma, tidak
teratur ada juga yang punya tonjolan-tonjolan seperti papilla. Pada epidermis
biasanya terdapat alat tambahan yang disebut derivat epidermis, pada batang

64
misalnya sel silikat dan sel gabus, pada daun misalnya trikoma, stoma dan sel
kipas (Fahn, 1991).
Trikoma yaitu tonjolan epidermis yang terdiri dari satu atau lebih sel.
Sel-sel trikoma dapat mengadakan penebalan sekunder, ada yang kehilangan
protoplasmanya. Trikoma dapat di kelompokkan dalam beberapa golongan
yaitu trikoma non glandular (bukan rambut kelenjar) dan trikoma glandular
(rambut kelenjar). (Wibisono, 1987).
Di antara sel-sel epidermis terdapat selah-celah kecil yang diapit oleh 2
sel yang berbentuk khusus, berbeda dengan sel epidermis normal dan disebut
sel penutup. Kedua sel penutup itu bersama celahnya disebut stoma. Sel
epidermis yang berdekatan dengan sel penutup ini (dua sel atau lebih) disebut
sel tetangga. Sel tetangga ini mempunyai hubungan fungsional dengan sel
penutup, serta terbentuk dari sel induk yang sama atau pasangan dari induk
sel penutup. Stoma dapat dijumpai di kedua permukaan daun atau hanya di
bagian bawah. Letak sel penutup stomata terhadap sel-sel epidermis
sekitarnya dapat sejajar, tenggelam, atau tersembul. Bentuk sel penutup
serupa ginjal. Stomata dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu anomositik,
anisositik, parasitik, diasitik, dan aktinositik. (Wibisono, 1987).

65
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Batang tebu (Saccharum oficinarum)
a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1. Sel pendek
2 3 2. Sel silikat
3. Sel panjang
4 4. Sel gabus
1 (Perbesaran : 400×)

Sumber : (Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Foto Literatur
Keterangan :
1
1. Sel pendek
2 2. Sel silikat
3. Sel panjang
3

Sumber : (Artschwager, E. 1930).

66
2. Daun tebu (Saccharum oficinarum)
a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1. Stomata
(Perbesaran : 400×)
1

Keterangan
2
1 1. Sel kipas
2. Trikoma
(Perbesaran : 100×)

Sumber : (Dokumentasi Kelas, 2020)

67
c. Foto Literatur
Keterangan :
1
1. Stomata

Sumber : (TARATIMA, W., dkk. 2019)

Keterangan :
1
1. Sel kipas

Sumber : (TARATIMA, W., dkk. 2019)

3. Daun sukun (Artocapus altilis)


a. Gambar Pengamatan

68
b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1. Trikoma
(Perbesaran : 100×)

Sumber : (Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Foto Literatur
Keterangan :
1. Trikoma

Sumber: (Sa, R. D., Cadena, dkk. 2019).

4. Daun waru (Hibiscus tiliaceus)


a. Gambar Pengamatan

69
b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1 1. Trikoma
(Perbesaran : 100 x)

Sumber : (Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Foto Literatur
Keterangan :
1 1. Trikoma

Sumber : (Amri, CNABC. 2019)

5. Daun jagung (Zea mays)


a. Gambar Pengamatan

70
b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1. Sel kipas
1
(Perbesaran : 400)

Sumber : (Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Foto Literatur

Keterangan :
1. Sel kipas

Sumber : ( Grigore, MN, Toma, C., & Boscaiu, M. 2010)

6. Batang waluh kuning (Cucurbita moschata)


a. Gambar Pengamatan

71
b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1
1. Trikoma tipe non glandular

2
2, Trikoma tipe glandular
Perbesaran : (50 x)

Sumber : (Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Foto Literatur
Keterangan :
1 1. Trikoma tipe non glandular
2. Trikoma tipe glandular
2

Sumber : ( Coutinho, D. F., dkk. 2009).

72
V. ANALISIS DATA
1. Batang tebu (Saccharum oficinarum)
Klasifikasi :
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Commeliniidae
Ordo : Cyperales
Familia : Poaceae
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum officinarum
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada batang tebu, bentuk sel-sel
epidermis ini seperti persegi panjang. Selain itu juga dijumpai derivatnya
epidermis lain berupa sel panjang dan pendek. Berfungsi sebagai jaringan
pelindung terhadap penguapan, kerusakan-kerusakan mekanis, perubahan
suhu dan mencegah hilangnya zat-zat hara. Pada batang mengandung sel
panjang dan pendek yang terdiri dari sel pendek gabus dan sel silika.
Sedangkan menurut literatur pada batang tebu terdapat sel panjang, sel
pendek, sel gabus dan sel silikat (Soeradikoesoemo, 1993).
Pada batang terdapat sel silika yang berfungsi membuat permukaan
batang tebu keras.Menurut Sri Amintarti dalam bukunya Bahan Ajar
Anatomi Tumbuhan (2015), sel silika adalah sel yang didalam nya
mengandung kristal kersik (SiO2) yang mengakibatkan kulit batang
tumbuhan menjadi keras ( seperti batang tebu dan bambu, dll). Biasanya
sel silikat ini di dampingi oleh sel gabus yang keduanya terdapat pada sel
pendek.

2. Daun tebu (Saccharum oficinarum)


Klasifikasi :

73
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Commeliniidae
Ordo : Cyperales
Familia : Poaceae
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum officinarum
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada potongan melintang daun tebu
terlihat bentuk selnya persegi dan ada yang berbentuk membulat besar
serta ada yang bebentuk duri. Pada daun terdapat derivat epidermis sel
kipas mengandung air ukuran yang lebih besar ada 4 sel, trikoma , dan
stomata letaknya beraturan antara pertulangan. Sel kipas berfungsi untuk
menyimpan air, Menggulung daun jika cuaca panas untuk mencegah
penguapan berlanjut, trikoma berfungsi untuk mencegah penguapan
yang berlebih, stomata berfungsi untuk respirasi dan transpirasi.

Sel kipas banyak ditemukan pada Gramineae dan


Monocotyledoneae. Sel kipas lebih besar dari pada epidermis normal
dengan dinding tipis dan vakuola besar. Pada irisan melintang, bentuk sel
ini sperti kipas dengan sel berada di tengah (Soerodikoesoemo, 1993).
Fungsi sel kipas adalah sebagai penyimpanan air, bila terjadi penguapan
berat sel mengempis dan akibatnya daun akan menggulung untuk
mengurangi penguapan lebih lanjut. ( Sri Amintarti, 2015)

Trikoma ialah bentuk modifikasi sel epidermis yang berupa


rambut-rambut, terdapat hampir pada semua permukaan organ
tumbuhan, baik pada batang, akar, daun, bunga, buah maupun biji. ( Sri
Amintarti, 2015).

3. Daun jagung (Zea mays)


Klasifikasi :

74
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Commelinidae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada daun jagung terlihat bentuk
selnya bulat, lebih besar dari sel epidermis lain. Derivatnya berupa sel
kipas berdinding tipis ada 5 tanpa trikoma dengan vakuola besar,
mengandung air, berfungsi menyimpan air ,menggulung daun jika cuaca
panas untuk mencegah penguapan berlanjut.
Sel kipas banyak ditemukan pada Gramineae dan
Monocotyledoneae. Sel kipas lebih besar daripada epidermis normal
dengan dinding tipis dan vakuola besar. Pada irisan melintang, bentuk sel
ini sperti kipas dengan sel berada di tengah (Soerodikoesoemo, 1993).
Fungsi sel kipas adalah sebagai penyimpanan air, bila terjadi penguapan
berat sel mengempis dan akibatnya daun akan menggulung untuk
mengurangi penguapan lebih lanjut. ( Sri Amintarti, 2015).

4. Daun waru (Hibiscus tiliaceus L.)


Klasifikasi :
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub classis : Dilleliniidae
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus tiliaceae
Sumber: (Cronquist, 1981)

75
Berdasarkan hasil pengamatan, pada tangkai daun waru terdapat
trikoma yang termasuk ke dalam tipe non glandular atau bukan rambut
kelenjar yang Selnya banyak membentuk bintang yang berfungsi
mencegah penguapan berlebih.
Trikoma ialah bentuk modifikasi sel epidermis yang berupa
rambut-rambut, terdapat hampir pada semua permukaan organ
tumbuhan, baik pada batang, akar, daun, bunga, buah maupun biji. ( Sri
Amintarti, 2015).

5. Batang waluh kuning (Cucurbita moschata)


Klasifikasi :
Divisio : Tracheophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub classis : Dilleniidae
Ordo : Cucurbitales
Familia : Cucurbitaceae
Genus : Cucurbita L.
Spesies : Cucurbita moschata Duchesne
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada batang daun waluh dapat
terlihat bahwa pada daun terdapat trikoma multiseluler ada yang
grandular berbentuk bulat dan ada yang non grandular berbentuk jarum.
Pada trikoma grandular mengandung sekresi, fungsinya mengurangi
penguapan. Trikoma yang mampu menghasilkan zat kimia dapat
menghasilkan sensasi gatal atau terbakar apabila bersentuhan dengan
kulit seperti pada daun waluh ini.
Trikoma adalah alat tambahan pada epidermis yang dibentuk oleh
sel epidermis sehingga mudah lepas / gugur. ( Sri Amintarti, 2015).

6. Daun Sukun (Artocapus altilis)


Kingdom : Plantae

76
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Urticales
Suku : Moraceae
Marga : Artocarpus
Spesies : Artocarpus altilis (Park.) Fosberg
Sumber : (Purnamasari, P, dkk. 2018)
Berdasarkan hasil pengamatan pada daun sukun dapat terlihat
bahwa pemberian kuteks bening pada daun sukun itu berfungsi sebagai
pelepas trikoma pada sukun. Terdapat trikoma berbentuk pengait yang
merupakan trikoma non grandular yang berfungsi mengurangi
penguapan dan sebagai pengait ke tumbuhan lain.
Trikoma ialah bentuk modifikasi sel epidermis yang berupa
rambut-rambut, terdapat hampir pada semua permukaan organ
tumbuhan, baik pada batang, akar, daun, bunga, buah maupun biji. ( Sri
Amintarti, 2015).
Trikoma non-kelenjar dapat terdiri dari tiga jenis: sederhana,
bengkok seperti kail dan kerucut (Sa, R. D., Cadena, dkk. 2019).

77
VI. KESIMPULAN
1. Derivat epidermis pada waluh memiliki bentuk sel ada yang glandular
berbentuk bulat dan non glandular seperti jarum kekhasan yang dimiliki
ialah terdapat sekresi pada granula fungsinya mengurangi penguapan.
2. Derivat Epidermis pada sukun memiliki bentuk sel seperti pengait,
kekhasannya terdapat trikoma non glandular, fungsinya ialah mengurangi
penguapan.
3. Derivat Epidermis pada jagung bentuk selnya bulat lebih besar dari sel
lain, kekhasannya terdapat sel kipas berdinding tipis ada 5 dan vakuola
yang besar mengandung air, fungsinya menyimpan air, mencegah
penguapan berlanjut.
4. Derivat epidermis pada waru memiliki bentuk sel seperti bintang,
kekhasannya Trikoma tipe non glandular, berfungsi mengurangi
penguapan berlebih.
5. Derivat epidermis tebu memiliki bentuk persegi, membulat dan duri,
kekhasannya terdapat sel kipas, stomata, sel gabus dan silika berfungsi
mencegah penguapan, respirasi, transpirasi, dan sebagai pengeras batang
tebu.
6. Pemberian kutek bening pada daun sukun berfungsi melepas trikoma pada
bagian bawah daunnya.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri, dkk. 2018. Penuntun Praktikum Anatomi Tumbuhan
Banjarmasin: FKIP UNLAM.

Amintarti, Sri. 2015. Bahan Ajar Anatomi Tumbuhan. Banjarmasin: FKIP


UNLAM.

Crounquist, A. 1981. An Integrated System of Flowering Plants. New York:


Columbia University.

Soeradikoesoemo, Wibisisono. 1995. Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan.


Depdikbud Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.

78
Martínez, A. M. (2008). Aportes a la anatomía foliar de Artocarpus
communis, A. heterophyllus y Brosimum alicastrum
(Moraceae). Revista del Jardín Botánico Nacional, 28: 201 – 203.

Sa, R. D., Cadena, M. B., Padilha, R. J., Alves, L. C., & Randau, K. P. (2019).
Comparative anatomy and histochemistry of the leaf blade of two
species of Artocarpus. Anais da Academia Brasileira de
Ciências, 91(1).

Purnamasari, P., Purnawati, R. D., & Susilaningsih, N. (2018). Pengaruh


Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus Altilis) dan Madu Terhadap
Gambaran Mikroskopis Ginjal Tikus Wistar yang Diinduksi
Dietilnitrosamin (Doctoral dissertation, Faculty of Medicine).

Amri, CNABC, Mokhtar, NABM, & Shahari, R. (2019). Leaf Anatomy and
Micromorphology of Selected Plant Species in Coastal Area of
Kuantan, Pahang, Malaysia. Science Heritage Journal, 3(2): 22-25.

Artschwager, E. (1930). Studi banding epidermis batang varietas tebu


tertentu. Jurnal Penelitian Pertanian , 41(12): 853 – 865.

TARATIMA, W., RITMAHA, T., JONGRUNGKLANG, N., RASO, S., &


MANEERATTANARUNGROJ, P. (2019). RESPONS ANATOMI
DAUN TERHADAP KONDISI STRES KEKERINGAN PADA DAUN
GULA HIBRIDA (Saccharum officinarum 'KK3'). Malays. Appl. Biol.
48(3): 181–188.

Grigore, MN, Toma, C., & Boscaiu, M. (2010). Implikasi ekologis sel
buliform pada halophytes, dalam kondisi alam stres garam dan
air. Analel Stiintifice ale Universitatii "Alexandru Ioan Cuza" din
Iasi. Biologie Vegetala , 56 (2): 5-15.

Coutinho, D. F., Florêncio, J. C., dos Reis Aguiar, L., da Franca Rodrigues,
K. A., Vilanova, C. M., & de Castro Borba, E. R. (2009). Estudo
farmacobotânico das folhas de Momordica charantia
L.(Cucurbitaceae). Visão Acadêmica, 10(1): 7 – 17.

79
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM VII
JARINGAN MERISTEM DAN JARINGAN PARENKIM
PRAKTIKUM VII

Topik : Jaringan Meristem dan Jaringan Parenkim


Tujuan : 1. Untuk mengamati jaringan meristem pada batang dan akar
2. Untuk mengamati bermacam-macam bentuk parenkim
Hari/Tanggal : Jum’at/ 11 Desember 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
1. Mikroskop
2. Silet/cutter
3. Pipet tetes
4. Gelas kimia
5. Kaca benda dan kaca penutup
6. Baki
7. Tisu
B. Bahan
1. Ujung akar lidah buaya (Aloe vera)
2. Tangkai daun bunga tasbih (Canna indica)
3. Tangkai daun eceng gondok (Eichornia crassipes)
4. Kulit buah pisang (Musa paradisiaca)
5. Aquadest

II. CARA KERJA


A. Jaringan Meristem
1. Menyiapkan alat dna bahan.
2. Membuat irisan membujur akar lidah buaya (Aloe vera) setipis
mungkin dengan hati-hati.

80
3. Meletakkan irisan tersebut di atas kaca benda, memberi irisan
tersebut setetes aquadest, kemudian menutupnya menggunakan kaca
penutup dan mengamatinya di bawah mikroskop.

B. Jaringan Parenkim
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Mengerok bagian dalam kulit pisang (Musa paradisiaca), membuat
irisan melintang tangkai daun eceng gondok (Eichornia crassipes),
dan tangkai daun tasbih (Canna indica).
3. Meletakkan masing-masing irisan pada kaca benda, memberi
setetes aquadest dan menutup nya menggunakan kaca benda,
kemudia mengamatinya di bawah mikroskop.
4. Menggambar hasil pengamatan dan memberi keterangan.

III. TEORI DASAR


Pada taraf awal perkembangan embrio semua sel menjalani
pembelahan diri namun dengan pertumbuhan dan perkembangan lebih
lanjut maka pembelahan sel dan pelipatgandaannya menjadi tidak terbataas
di bagian-bagian khusus tumbuhan yang menunjukkan diferensiasi sangat
sedikit, dalam keadaan ini jaringan tetap bersifat embrionik dan sel-sel
tersebut mempertahankan kemampuannya untuk membelah diri. Jaringan
embrionik ini pada tumbuhan dewasa disebut meristem. Klasifikasi
meristem dibuat berdasarkan berbagai kriteria yaitu posisinya dalam tubuh
tumbuhan da asal usulnya. Menurut posisi meristem dalam tubuh tumbuhan
jaringan ini dapat di bagi menjadi ; 1) meristem apikal yang terdapat di
ujung-ujung akar; 2) Meristem interkalar yang ada di antara jaringan dewasa
, misalnya di pangkal ruas batang dan dan; 3) Meristem lateral yang terletak
sejajar dengan lingkaran organ, misalnya pada kambium pembuluh dan
felogen. Sedangkan menurut asal-usul meristem maka meristem dibagi
menjadi 1) meristem primer yaitu jaringan yang sel-sel nya secara langsung
berkembang dari sel-sel embrio dan 2) meristem sekunder yaitu jaringan

81
yang berkembang dari dewasa yang sudah menjalani diferensiasi (Fahn,
1991).
Sifat-sifat meristem yaitu: sel-sel nya masih kecil, berdinding tipis,
dinding sel nya terdiri atas zat pektin, kaya akka plasma, vakuola nya kecil-
kecil dan banyak, bentuk sel pada umumnya ke segala arah sama dan
diantara sel-sel nya tidak terdapat ruang antar sel. (Woelaningsih, 1984).
Parenkim disebut juga sebagai jaringan dasar karena merupakan
jaringan penyusun sebagian besar organ tumbuhan. Parenkim tersusun atas
sel-sel relatif tidak mempunyai tugas khusus karena sel-sel tadi hanya
mengalami diferensiasi sederhana. Asal parenkim berbeda-beda, dapat
berasal dari meristem apikal batang atau akar, dari meristem marginal daun,
dari kambium atau bahkan dari felogen pada jaringan dewasa yang
mengadakan pertumbuhan sekunder. Parenkim pada umum nya tersusun
oleh sel-sel berdinding tipis, bervakuola besar dengan protoplasma yang
hidup. Bentuk sel biasanya isodiametris, poliendris dan ada yang bercabang
seperti bintang, sehingga diantaranya terdapat banyak ruang antar sel.
Parenkim erupakan tempat utama berlangsungnyaaktivitas tumbuhan yang
penting, misalnya fotosintesis, respirasi, penimbunan zat makanan
cadangan, sekresi, ekskresi dan bentuk aktivitas tersebut tergantung pada
protoplas sel-sel penyusunnya. (Woelaningsih, 1984).

82
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Ujung Akar Lidah Buaya (Aloe vera)
a. Menurut pengamatan

b. Foto Pengamatan

1 Keterangan :
1. Prokambium
2 2. Protoderm
3
3. Parenkim air
4 4. Meristem apikal

(Dokumentasi kelas, 2020)


(Perbesaran: 100x)
c. Menurut Literatur

2 Keterangan :
1. Prokambium
3
2. Protoderm
3. Parenkim air
4 1 4. Meristem apikal

(Sumber: Garcia, 2007)

83
2. Tangkai Daun Bunga Tasbih (Canna indica)
a. Menurut pengamatan

b. Foto Pengamatan

Keterangan
2
1. Parenkim udara
1
(aktinenkim)
2. Epidermis
3
3. Ruang antar sel

(Dokumentasi kelas, 2020)


(Perbesaran: 100x)
c. Menurut Literatur
Keterangan
2
3 1. Parenkim udara
(aktinenkim)
2. Epidermis
1 3. Ruang antar sel

(Sumber: Cutler, 2007)

84
3. Tangkai Daun Eceng Gondok (Eichornia crassipes)
a. Menurut pengamatan

b. Foto Pengamatan

1 Keterangan :
1. Epidermis
2
2. Parenkim (aerenkim)

3
3. Ruang antar sel

(Dokumentasi kelas, 2020)


(Perbesaran: 100x)
c. Menurut Literatur

Keterangan :
2
1
1. Epidermis
3 2. Parenkim (aerenkim)
3. Ruang antar sel

(Sumber: Soul, 2011)

85
4. Kulit Buah Pisang (Musa paradisiaca)
a. Menurut pengamatan

b. Foto Pengamatan

3 Keterangan :
1. Parenkim penimbun
2
2. Ruang antar sel
3. Butir amilum
1

(Dokumentasi kelas, 2020)


(Perbesaran: 100x)

c. Menurut Literatur

2 Keterangan :
1. Parenkim penimbun
1
2. Ruang antar sel
3. Butir amilum
3

(Sumber: Ghosh, 2020)

86
V. ANALISIS DATA
1. Ujung Akar Lidah Buaya (Aloe vera)
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Asparagales
Familia : Asphodelaceae
Genus : Aloe
Spesies : Aloe vera
Sumber : (Cronquist, 1981)
Dari hasil pengamatan, pada ujung akar lidah buaya (Aloe vera)
terdapat Mengandung jaringan meristem apikal yang selnya aktif
membelah, terdapat tudung akar, parenkim, protokambium yang akan
menjadi stele.
Menurut Salisbury (2005), parenkim air merupakan parenkim
yang berfungsi untuk menyimpan air. Contohnya tumbuhan xerofit (sel
besar, dinding tipis, vakuola besar ditengah berisi air, contohnya
kaktus, lidah buaya, dan lain-lain.

2. Tangkai Daun Bunga Tasbih (Canna indica)


Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Familia : Cannaceae
Genus : Canna
Spesies : Canna indica
Sumber : (Cronquist, 1981)
Dari pengamatan terhadap irisan melintang tangkai daun bunga
tasbih, terlihat adanya sel-sel parenkim yang bercabang berbentuk

87
bintang (aktinenkim) dan ruang antar sel berukuran kecil yang
menyimpan udara (aerenkim).
Menurut Tjitrosomo (1983) parenkim udara biasanya terdapat pada
organ pengapung, misalnya pada daun bunga tasbih, empulur batang
Juncus. Biasanya selnya membentuk jari-jari atau bintang yang
berfungsi untuk menyimpan udara atau disebut aerenkim.

3. Tangkai Daun Eceng Gondok (Eichornia crassipes)


Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Liliales
Familia : Pontederiaceae
Genus : Eichornia
Spesies : Eichornia crassipes
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan pengamatan, pada irisan melintang batang eceng
gondok (Eichornia crassipes) terlihat selnya yang membulat dan
memiliki ruang antar sel yang terisi udara agar eceng gondok tidak
tenggelam yang disebut aerenkim. Bentuknya isodiametris atau bulat
membentuk mata rantai dengan ruang udara yang besar.
Adanya jaringan aerenkim menyebabkan tumbuhan memiliki
sistem ruang udara yang baik serta memfasilitasi difusi internal gas –
gas yang dibutuhkan untuk proses fisiologis tumbuhan. Selain itu,
aerenkim yang berasosiasi dengan diafragma memberikan sokongan
untuk menahan tekanan mekanis pada organ akar, batang, ataupun
daun. Hal ini dikarenakan struktur sel – sel diafragma yang bertetangga
dengan sel aerenkim memiliki dinding sel yang tebal (Rudall, 2007).

88
4. Kulit Buah Pisang (Musa paradisiaca)
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Familia : Musaceae
Genus : Musa
Spesies : Musa paradisiaca
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa pada kerokan bagian
dalam kulit pisang (Musa paradisiaca) terdapat sel-sel parenkim. Yakni
sel-sel jaringan dasar yang terdapat hampir pada seluruh bagian tubuh
tumbuhan. Jaringan parenkim ini berbentuk membulat dan di dalamnya
terdapat semacam kristal-kristal kecil yang disebut dengan butir tepung
(amilum) yang menjadi cadangan makanan. Parenkim ini disebut
Parenkim penimbun.erupakan tempat cadangan makanan.
Menurut Sarwono (2002), jaringan parenkim yang menempati di
berbagai organ atau jaringan lain dalam tubuh tanaman disebut jaringan
parenkim, sedang ciri-ciri dari jaringan parenkim adalah: 1) Sel nya
hidup; 2) Dinding sel tipis; 3) Letak sel tidak merapat atau terdapat
ruang antar sel dan; 4) Ukuran sel besar. Tampak pula banyak ruang
antar sel yang berukuran besar. Pada jaringan parenkim yang kulit
pisang terdapat butir-butir amilum. Terdapat butiran amilum karena
salah satu fungsi dari jaringan parenkim adalah menyimpan zat-zat
makanan. Menurut Amintarti (2015) jaringan parenkim berfungsi
dalam pembentukan sel atau jaringan baru karena kemampuannya
untuk berubah sifat menjadi embrional kembali.

89
VI. KESIMPULAN
1. Pada ujung akar Lidah buaya (Aloe vera) meristem adalah meristem
apikal. Meristem pada ujung akar lidah buaya ini
berbentuk agak lonjong, saling tindih dan bentuk selnya sangat
tipis, polos.
2. Pada buah Pisang (Musa paradisiaca), parenkimnya berbentuk bulat
dan merupakan tempat penimbunan zat makanan cadangan padat yaitu
zat penimbun atau butir-butir tepung yang terdapat pada endosperm.
3. Pada tangkai daun Enceng Gondok (Eichornia crassipes) terdapat
parenkim pada eceng gondong disebut aerenkim terdapat parenkim
udara dan alat pengapung,
4. Pada daun Bunga Tasbih (Canna indica) terdapat parenkim udara
(aerenkim) berbentuk bintang (Aktinerenkim) dengan ruang antar sel
parenkim besar.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri. (2015). Bahan Ajar Anatomi Tumbuhan. FKIP ULM :
Banjarmasin.

Amintarti, Sri. (2020). Penuntun Praktikum Anatomi Tumbuhan. FKIP


ULM : Banjarmasin.

Crounquist, A. (1981). An Integrated System of Flowering Plants. New


York: Columbia University.
Cutler, Botha. (2007). Canna leaf aerenchy. Diakses melalui
http://virtualplant.ru.ac.za/Main/ANATOMY/cannaleafaerenchy
_a.jpg. Pada tanggal 2 Januari 2020.

Fahn, A. (1995). Anatomi Tumbuhan. UGM Press : Yogyakarta.

Garcia, Luis Fernández. (2007). File:Meristemo apical 2.jpg. Diakses


melalui
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Meristemo_apical_2.j
pg. Pada tanggal 2 Januari 2020.

Ghosh, Rashmi. (2020). Morphological and Elemental Study of Fruit


Peels. Diakses melalui

90
http://www2.optics.rochester.edu/workgroups/cml/opt307/spr17/
rashmi/index.html. Pada tanggal 3 Januari 2020.

Rudall, Paula J. (2007). Anatomy of Flowering Plants. New York:


Cambridge University Press.

Salisbury, F. B. (2005). Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB.

Sarwono, B. (2002). Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Soul, Obsidian. (2011). File:Cross section of a Water Hyacinth


petiole.jpg. Diakses melalui
https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Cross_section_of_a
_Water_Hyacinth_petiole.jpg. Pada tanggal 3 Januari 2020.

Tjitrosomo dan Siti Sutarmi. (1983). Botani Umum 1. Bandung : Angkasa.

Woelaningsih, Sri. (1984). Penuntun Praktikum Botani Dasar.


Laboratorium Anatomi Tumbuhan Fakultas Biologi ULM :
Yogyakarta.

91
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM VIII
JARINGAN MEKANIK DAN JARINGAN PENGANGKUT
PRAKTIKUM VIII

Topik : Jaringan Mekanik dan Jaringan Pengangkut


Tujuan :Untuk mengamati jaringan mekanik dan jaringan
pengangkut yang terdapat pada tumbuhan.
Hari/tanggal : Jumat/18 Desember 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Silet
2. Kaca benda dan kaca penutup
3. Mikroskop
4. Pipet tetes
Bahan:
1. Tangkai daun seledri (Apium graveolens)
2. Kulit biji kelapa (Cocos nucifera)
3. Batang Jagung (Zea mays)
4. Batang Pacar Air (Impatien balsamina)
5. Aquadest

II. CARA KERJA


1. Membuat sayatan melintang setipis mungkin pada tangkai daun sledri untuk
mengamati sel kolenkim dan pada batang Zea mays untuk mengamati
jaringan pengangkut.
2. Membuat kerokan kulit biji kelapa / tempurung kelapa untuk mengamati sel
sklerenkim.
3. Membuat sayatan kulit buah buncis untuk mengamati sklerenkim.
4. Meletakkan hasil sayatan atau kerokan di aats kaca benda, memberi setetes
air, menutup dengan kaca penutup dan mengamati di bawah mikroskop.

92
III. TEORI DASAR
Untuk memperkokoh tubuhnya, tumbuhan memerlukan jaringan penguat
yang menyusun tubuh tumbuhan, yaitu kolenkim dan sklerenkim. Sklerenkim
dapat dibedakan dari kolenkim karena sklerenkim tidak mengandung
protoplasma dan dindingnya mengalami lignifikasi, sel sklerenkim juga
menunjukkan variasi dalam bentuk, struktur dan perkembangan. Sedangkan sel
kolenkim bersifat hidup dindingnya mengandung selulosa, pektin dan
hemiselulosa.
Selain memperkokoh tubuhnya dengan adanya jaringan mekanik
tumbuhan juga mempunyai sistem pengangkutan yang tersusun atas jaringan
pengangkut. xilem dan floem merupakan jaringan kompleks yang selalu
berdampingan berama-sama menyusun sistem pengangkutan yang meluas ke
seluruh bagian tumbuhan. Xylem terdiri atas beberapa sel yang berbeda, dapat
bersifat hidup atau mati, sel yang paling karakteristik adalah trakeid dan trakea,
yang berfungsi mengangkut air. Selain itu xylem terdiri atas serat dan sel-sel
parenkim yang bersifat hidup. Floem yang merupakan jaringan kompleks
tersusun atas sel tapis, buluh tapis, sel pengiring dan serabut floem.

93
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Tangkai Daun Seledri (Apium graveolens)
a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan

Keterangan :

2 1. Epidermis
2. Sklerenkim
4 3. Xilem
1 3 4. Floem
Perbesaran 100x dan
400x
(Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
1
2
1. Epidermis
2. Sklerenkim
3. Xilem
3 4. Floem
4
(Sari, 2017)

94
2. Kulit Biji Endokarpium Kelapa (cocos nucifera)

a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan
Keterangan :

1. Dinding sel
1
2 2. Sklerenkim

Perbesaran 400x

(Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
1
1. Dinding sel
2. Sklerenkim
2

(Kim, 2012)

95
3. Batang Jagung (Zae Mays)

a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1
3 1. Floem
2. Xilem
2 4 3. Epidermis
4. Sklerenkim
Perbesaran 100x dan
400x
(Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
2 1. Floem

4 3 2. Xilem
3. Epidermis
1 4. Sklerenkim

(Mahdiyah, 2012)

96
4. Batang Pacar Air (Impatiens balsamina)
a. Gambar Pengamatan

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
2 3 1. Epidermis
1 2. Sklerenkim
3. Xilem
4. Floem
4
Perbesaran 400x

(Dokumentasi Kelas, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
1
1. Epidermis

2 2. Sklerenkim
3. Xilem
4. Floem

(Siswanto, 2011)

97
V. ANALISIS DATA
1. Tangkai Daun Seledri (Apium graveolens)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub classis : Rosidae
Ordo : Apiales
Familia : Apiaceae
Genus : Apium
Species : Apium gareveolens
Sumber : Cronquist (1981)
Beradasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium
biologi pada sel tangkai daun seledri (Apium graveolens) di bawah mikroskop
cahaya dengan perbesaran 100x dan 400x dapat diketahui bahwa sel tangkai
daun seledri ini memiliki bentuk sel bulat dan sel-sel kolenkim yang terlihat
lebih tebal dan terdapat pada tiap sudut di bandingkan bagian-bagian
sekitarnya. Sel kolenkim pada tangkai daun seledri ini termasuk tipe
kolenkim angular. Selain itu pada sel kolenkim ini terdapat epidermis yang
berfungsi sebagai zat kitin pada batang yang digunakan untuk melindungi
supaya tidak terlalu banyak kekurangan air. Epidermis merupakan lapisan sel
yang paling luar dan memiliki fungsi sebagai pelindung semua bagian sel
tumbuhan yang masih muda. Selain itu pada sel tangkai daun seledri ini juga
memiliki cambium, floem, xylem, rongga protoxylem, seludang serat, ikatan
pembuluh, dan tersebar dalam empelur kolenkim. Di antara berkas-berkas
pengangkut trersebut juga dikelilingi oleh jaringan parenkim. Di daerah
parenkim kortek banyak ditemukan variasi sel parenkim baik sebagai
parenkim penimbun, sel batu, dan juga parenkim kelenjar. Sel-sel kolenkim
pada sel tangkai daun seledri ini dinding selnya dapat menebal dengan lignin
sehingga menyerupai sklerenkim. Kolenkim berkembang dari sel-sel

98
memanjang yang mirip prokambium yang terbentuk dari awal diferensiasi
jaringan dasar.
2. Kulit Biji Endokarpium Kelapa (Cocos nucifera)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Arecidae
Ordo : Arecales
Familia : Arecacea / Palmae
Genus : Cocos
Species : Cocos nucifera L.
Sumber : Cronquist (1981)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium
biologi pada sel kulit bii endokaroium kelapa (Cocos nucifera) di bawah
mikroskop cahaya dengan perbesaran 400 x , dapat diketahui bahwa bentuk
selnya tidak beraturan dan terdapat jaringan sklerenkim tipe sklereid (sel
batu). Menurut literatur yang telah dijelaskan oleh Dra. Hj. Sri Amintarti,
M.Si dalam buku beliau yang berjudul Anatomi Tumbuhan (2015:52),
Brakhisklereida memiliki ciri-ciri sel batu yang berkelompok atau soliter
yang terdapat pada kulit biji c.nucifera. Selain itu, sklereid pada C.nucifera
ini mengalami sel sklereid yang dapat terkumpul menjadi jaringan yang keras
di antara jaringan yang lunak.

3. Batang Jagung (Zea mays)


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Commelinidae
Ordo : Poales

99
Familia : Poaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays
Sumber : Cronquist (1981)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium
biologi pada sel batang jagung (Zea mays), di bawah mikroskop cahaya
dengan perbesaran 100x dan 400x, dapat diketahui bahwa bentuk selnya bulat
dan memiliki berkas pengangkut tipe koletral tertutup. Xilem dan floem
ikatan pembuluhnya tersebar, xilem dan floem berdekatan dalam satu berkas
pembuluh yang sama. Pada floem yang terdapat pada sel batang jagung ini
sangat khusus yaitu adanya unsur tapisan, dimana pada unsur tapisan terdapat
bidang tapisan yang merupakan dinding dengan lubang-lubang. Lubang-
lubang tersebut dilalui oleh protoplas yang menggabungkan diri dari bagian
lateral atau vertikal buluh tapisan. Pada bidang tapisan inilah, masing-masing
lubang biasanya mengandung kalosa yang merupakan suatu karbohidrat.
Selain itu, pada floem ini juga mengandung bermacam-macam substansi
ergastik berupa tepung, tanin, dan kristral.

4. Batang Pacar Air (Impatiens balsamina)


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Encales
Familia : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Species : Impatiens balsamina
Sumber : Cronquist (1981)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium
biologi pada sel batang pacar air (Impatiens balsamina) di bawah mikroskop
cahaya dengan perbesaran 400 x, dapat diketahui bahwa terdapatnya

100
sklerenkim dan epidermis. Berkas pengangkut dikotil. Floem dan xilem
dalam satu pembuluh dalam lingkaran ikatan pembuluh tak tersebar dan
terdapat kambium intervasikuler. Sel batang pacar air (Impatiens balsamina)
memiliki bentuk bulat.
Adapun ciri-ciri dan sifat jaringan mekanik yaitu pada jaringan
Kolenkim merupakan sel-sel yang masih hidup, mengalami penebalan
dinding terutama pada bagian sudutnya contoh pada batang seledri termasuk
kolenkim angular, terdiri atas bahan selulosa, pektin dan hemiselulosa dan
tidak ada lignin, ditemukan pada batang, daun, bunga, dan buah serta akar
dan berfungsi sebagai penguat jaringan agar tidak mudah rapuh ketika diterpa
angin lalu pada jaringam Skelerenkim merupakan sel-sel yang telah mati,
biasanya ditemukan pada bagian tumbuhan yang sudah tidak mengadakan
pertumbuhan, terdiri atas serabut sklerenkim dan sklereid (sel batu) yang
berasal dari bahan lignin (zat kayu), skelereid memiliki bentuk yang tidak
beraturan dan berukuran pendek, ditemukan pada tempurung kelapa atau
endocarpium kelapa yang memiliki sklereid dan berfungsi sebagai penguat
bagian tumbuhan yang sudah dewasa atau tidak mengalami pertumbuhan
serta sebagai pelindung bagi bagian dalam seperti pada tempurung kelapa
tadi.
Adapun ciri-ciri dan sifat jaringan pengakut yaitu pada jaringan Xilem
merupakan pengakut zat makanan dengan menyalurkan air dan mineral dari
akar menuju ke daun & bagian tubuh yang lainnya. Xilem tersusun dari yaitu
sebagai berikut :
1. Unsur trakeal, yang terdiri dari trakea (sel-sel berbentuk tabung) &
trakeid (sel-sel yang panjang dengan lubang pada dinding selnya).
2. Serabut xilem, yang terdiri dari sel panjang dengan ujung yang
meruncing.
3. Parenkim xilem, yang berisi zat seperti cadangan makanan, tanin &
kristal.

101
Floem merupakan pengangkut zat makanan dari hasil fotosintetis dari
daun ke seluruh tubuh kemudian pada jaringan Floem terususun sebagai
berikut :
1. Bulu tapis, yaitu yang bentuknya tabung dengan ujung yang berlubang
2. Sel pengiring, yaitu yang bentuknya silinder dengan plasma yang dekat
3. Serabut floem, yaitu yang bentuknya panjang dengan ujung berimpit &
dindingnya tebal
4. Parenkim floem, yaitu selnya hidup, mempunyai dinding primer dengan
lubang kecil yang disebut noktah. Parenkim floem berisi tepung, damar,
atau kristal.
Kolenkim menjadi jaringan mekanik yang disesuaikan teristimewa
untuk memperkuat, menunjang atau menyokong organ muda yang sedang
tumbuh maupun pada herba agar dapat berdiri dengan kokoh dan kuat.
Dinding yang tebal dan erat membuatnya menjadi penyokong yang kuat.
Keistimewaan pertumbuhan dan strukturnya dindingnya menyebabkan
mampu menyesuaikan terhadap pemanjangan organ tanpa kehilangan
kekuatan.

102
VI. KESIMPULAN
1. Pada batang seledri (Apium graviolens) memiliki bentuk sel bulat, struktur
khasnya yaitu Tipe Kolenkim angular, jaringan kolenkim terletaak di sudut.
2. Pada Endokaprium kelapa (Cocos nucifera) memiliki bentuk sel yang tak
beraturan, struktur khasnya Terdapat sklerenkim tipe sklereid (sel batu) yang
mengandung lignin.
3. Pada Batang Pacar Air (Impatien balsamina) memiliki bentuk sel bulat,
struktur khasnya yaitu Berkas pengangkut Dikotil. Floem dan xilem dalam
satu pembuluh dalam lingkaran ikatan pembuluh tak tersebar dan terdapat
kambium intervasikuler.
4. Pada Batang Jagung (Zea mays) memiliki bentuk sel bulat, struktur khasnya
yaitu Berkas pengangkut Monokotil. Tipe pengangkut nya koletral tertutup.
Xilem dan floem ikatan pembuluhnya tersebar, xilem dan floem berdekatan
dalam satu berkas pembuluh yang sama.
5. Jaringan pengangkut terbagi menjadi 2, yaitu xilem dan floem.
6. Jaringan mekanik (penguat/penyokong) terbagi menjadi 2, yaitu kolenkim dan
sklerenkim.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri., Muchyar dan M. Arsyad. 2020. Penuntun Praktikum Anatomi
Tumbuhan. Banjarmasin : Kewirausahaan Batang PMIPA FKIP
ULM.

Amintarti, Sri. 2015. Bahan Ajar : Anatomi Tumbuhan. Banjarmasin : PMIPA


ULM.

Cronquist, A. (1981). An Integrated System of Classification of Flowering


Plants. 1981:. New York: Columbia University Press.

Mahdiyaturrahmah. 2012. Penampang Melintang Batang Daun dan Akar.


https://mahdiyaturrahmah.wordpress.com/2012/12/08/penampang-
melintang-batang-daun-dan-akar-2/ (Diakses pada tanggal 3 Januari
2021).

103
Kim, Kimeni. 2012. Jaringan Skelerenkim. http://kimeni-
kim.blogspot.co.id/2012/11/jaringan-sklerenkim.html?m=1 (Diakses
pada tanggal 3 Januari 2020).

Sari, Anjar. (2017). LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN


PERKEMBANGAN TUMBUHAN II. Diakses melalui
https://www.academia.edu/36367688/4_LAPRAK_HISTOLOGI_II_
docx (diakses pada tanggal 17 januari 2021).

Siswanto, Hadi. 2011. Praktikum 8


.https://www.scribd.com/doc/100877377/Praktikum-8 (Diakses pada
tanggal 3 Januari 2021).

104
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM IX
AKAR DAN BATANG
PRAKTIKUM IX

Topik : Akar dan Batang


Tujuan : 1. Untuk mengetahui jaringan-jaringan penyusun batang
2. Untuk mengetahui jaringan-jaringan penyusun akar
Hari/tanggal : Selasa/29 November 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Baki
2. Silet
3. Kaca benda dan kaca penutup
4. Mikroskop
5. Gelas kimia dan Pipet tetes Bahan
6. Jarum pentul
7. Mikroskop
Bahan :

A. Pengamatan pada batang:


1. Batang pacar air (Impatiens balsamina)
2. Batang labu (Cucurbita moschata)
3. Batang jagung (Zea mays)
B. Pengamatan pada akar:
1. Akar jagung (Zea mays)
2. Preparat jadi akar muda arbei
3. Preparat jadi akar dewasa arbei

II. CARA KERJA


1. Siapkan alat dan bahan
2. Sayat secara melintang semua bahan-bahan setipis mungkin pucuk
Impatiens balsamina, pucuk Hibiscus rosa-sinensis, dan pucuk
105
Cucurbita moschata.
3. Masing-masing sayatan diletakkan di atas kaca benda dan diberi
setetes air kemudian tutup dengan kaca penutup.
4. Amati masing-masing preparat di bawah mikroskop, kemudian
gambar hasil pengamatan dan beri keterangan.
5. Amati preparat jadi akar muda arbei dan akar dewasa arbei di bawah
mikroskop.
6. Gambar hasil pengamatan dan beri keterangan.

III. TEORI DASAR


Batang adalah bagian sumbu tumbuhan yang pada umumnya tegak,
berada di atas tanah dan menjadi tempat melekatnya daun serta struktur
refroduktif. Batang dibagi menjadi buku yakni tempat melekatnya daun
dan ruas yakni bagian batang di antara dua buku yang berurutan. Pada
dasarnya struktur batang berbeda dengan struktur akar, perbedaan
tersebut adalah terutama dari susunan xilem dan floem. Pada akar letak
berkas xilem primer dan floem primer adalah pada radius jari-jari tidak
sama yang letaknya bergantian. Sedang pada batang letaknya
berhadapan dalam satu radius atau kolateral. Xilem akar senantiasa
exsarch sedang pada xilem batang bisanya endarch. Maristem pertama
pada batang dibentuk pada saat embrio berkembang. Embrio yang telah
berkembang biasanya memiliki sumbu yang tersusun dari hipokotil dan
akar. Pada ujung atas sumbu terdapat sehelai kotiledon atau lebih sesuai
primordium pucuk yang terdapat di atas tempat kotiledon melekat
(Suradinata, 1998).

Akar pertama dari tumbuhan berbiji berkembang dari maristem


apek pada ujung akar embrio, akar tersebut disebut akar tunggang atau
akar utama. Pada monokotil akar tunggang hidupnya relatif singkat dan
maristem akar dibentuk oleh akar-akar adventif yang terbentuk pada
batang. Akar-akar tersebut bercabang-cabang membentuk system yang
homogen yang disebut dengan akar serabut. Sistem akar tunggang pada
106
umumnya menembus tanah lebih dalam dari pada sistem akar serabut.
Pada akar tunggang dan cabang-cabangnya yang membesar terjadi
pertumbuhan sekunder, tetapi pada akar yang kecil yang berfungsi untuk
penyerapan tidak terjadi pertumbuhan akar sekunder. Organisasi bagian
dalam dari akar bervariasi tetapi pada umumnya lebih sederhana dari
pada batang. Akar merupakan suatu struktur sumbu tanpa organ- organ
daun dan tidak terbagi menjadi sumbu dan ruas. Penampang melintang
akar pada keadaan tumbuh primer menunjukkan perbedaan yang jelas
antara ke tiga system jaringan, yaitu epidermis (system jaringan dermal),
korteks (system jaringan dasar), dan system jaringan pembuluh. Jaringan
pembuluh membentuk silinder yang mampat atau jika ada empelur
merupakan silinder yang kosong. Fenomena perkembangan awal akar
dalam embrio adalah organisasi meristem apek akar pada ujung bawah
pada hipokotil, kadang-kadang tidak hanya meristem tetapi juga akar
embrio, yaitu radikula yang terdapat dalam embrio. Setelah biji
berkecambah meristem apek akar membentuk akar utama (Suradinata,
1998).

107
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Batang pacar air (Impatiens balsamina)
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

5 1 Keterangan :
3 1. Trikoma
2. Epidermis
3. Ikatan pembuluh

4 2 4. Floem
5. Xilem

(Sumber : Dokumentasi Kelas. 2020)

C. Gambar Literatur

(Sumber : Linnbenton.2013)

108
2. Batang labu (Cucurbita moschata)
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

Keterangan :
1
1. Rongga
2
2. Floem
3
3. Xilem

(Sumber : Dokumentasi Kelas. 2020)

C. Gambar Literatur

Keterangan :
4 5 2
1. Trikoma
2. Epidermis
3. Floem
4. Xilem
3 1
5. Rongga

109
3. Batang jagung (Zea mays)
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan
Keterangan :
2
1. Epidermis
1 2. Kambium
3. Xilem
4
3 4. Floem

(Sumber : Dokumentasi Kelas. 2020)

C. Gambar Literatur

110
4. Akar jagung (Zea mays)
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

1
Keterangan :

1. Kambium
2. Xilem
3. Floem
2
3

(Sumber : Dokumentasi Kelas. 2020)

C. Gambar Literatur

Keterangan :

1. Rambut akar
2. Epidermis
3. Korteks
4. Endodermis
5. Perisikel
6. Floem
(Sumber : Nursarah. 2015) 7. Kambium
8. Xilem
9. Empulur

111
5. Akar arbei muda
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

1 Keterangan :
2
1. Epidermis
2. Empulur
3. Floem
3 4 4. Xilem

(Sumber : Dokumentasi Kelas. 2020)

C. Gambar Literatur
Keterangan :
1 2
1. Epidermis
2. Empulur
3. Floem
4. Xilem
3 4

112
6. Akar arbei dewasa
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

4 1 Keterangan :

1. Epidermis
2. Berkas pembuluh
3. Xilem
3 2 4. Floem

(Sumber : Dokumentasi Kelas. 2020)

C. Gambar Literatur

2 Keterangan :
1
1. Epidermis
2. Berkas pembuluh
3. Xilem
4. Floem
4 3

113
V. ANALISIS DATA
Berdasarkan praktikum 9 kali ini yang berjudul akar dan batang yang
dilaksanakan dengan daring dikarenakan situasi darurat saat ini yang
mengharuskan kita untuk melaksanakannya secara jarak jauh. Dalam
praktikum kali ini batang dijadikan objek penelitian yakni batang pacar air,
batang jagung dan batang labu. Untuk pengamatan akar kami menggunakan
preparat jadi seperti akar jagung, akar muda arbei dan akar dewasa arbei.
1. Batang pacar air
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Geraniales
Famili : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Spesies : Impatiens balsamina L.
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Tanaman pacar air termasuk tanaman monokotil karena berkas
pembuluhnya menyebar dan memiliki akar serabut. Adapun xylem /
pembulu kayu dan floem / pembuluh tapis pada batang pacar air yaitu
sebagai berikut :
a. Xilem / pembuluh kayu : terbagi menjadi xylem primer dan xylem
sekunder. Xylem di sini berfungsi membawa air dan mineral dari akar
ke atas, selnya sesungguhnya mati, tetapi dindingnya masih
menyediakan sistem pipa air mikroskopis. Terdiri atas trakeid dan
unsur pembuluh.
b. Floem / pembuluh tapis : jaringan hidup dengan sel-sel penghantar
makanan yang tersusun menjadi saluran yang mendistribusikan gula,
asam amino, dan zat-zata hara organik lainnya ke seluruh bagian
tumbuhan, tidak mempunyai nukleus, di sisinya terdapat sel
pendamping yang bernukleus.
Struktur batang dikotil memiliki pembuluh kayu bertipe bikolateral

114
dimana pembuluh xilem diapit oleh dua floem dan tipe stelenya ialah
eustele.
Cucurbita mempunyai berkas pangangkut bikolateral. Epidermis
uniseriate dan di bawahnya terdapat kolenkim dan klorenkim.
Klorenkim terdapat di bawah epidermis yang mempunyai stomata.
Endodermis mengandung tepung. Ciri khas batang dikotil merambat
adalah terdapatnya sklerenkim di luar berkas pengangkut (Ahya dan
Alifah. 2013).

2. Batang waluh
Kindom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucurbita
Species : Cucurbita moschata Durch.
(Sumber : Puspita. 2012)
Berdasarkan hasil pengamatan, pada batang waluh (Cucurbita
moschata) di bawah mikroskop dengan perbesaran 10x10 atau 100 kali
tipe stele pada batang Cucurbita moschata adalah tipe haplostele Pada
batang waluh bentuknya seperti berbentuk membulat besar dan kecil.
Penampang paradermal batang Cucurbita moschata Durch. terlihat
jaringan Epidermis, Kolenkim, Korteks, Seludang Pati, Jaringan
Pengangkut yang terdiri dari Floem luar, Xilem dan Floem dalam,
Trikoma, dan Sel Tanin Pada bagian korteks preparat batang paradermal
berisi pati yang disebut seludang pati, tipe batang bikolateral dimana
pembuluh xilem diapit oleh dua floem.
Batang terdiri dari tiga sistem jaringan, yakni jaringan dermal,
jaringan dasar dan jaringan pembuluh. Pada jaringan korteks yang
mengandung parenkim, biasanya berisi kloroplas. Pada batang Coniferae

115
dan Angiospermae tidak ditemukan endosperma yang terlihat secara
morfologis. Pada batang muda satu atau beberapa lapisan terdalam dari
korteks dapat berisi pati. Karena hal inilah disebut seludang pati (Gambar
3.1.4). Menurut Hidayat (1995: 57), bahwa pati merupakan bahan
cadangan makanan yang paling sering terdapat pada tumbuhan dan
ditemukan dalam endosperm, keeping biji, umbi dan buah (Sahara.
2013).
Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam. Sel dapat berupa prisma
pendek atau bisa pula panjang seperti serat dengan ujung meruncing,
namun antara kedua bentuk tersebut terdapat bentuk peralihan. Menurut
ketebalan didiningnya, jaringan kolenkim dibedakan tiga jenis. Yaitu
kolenkim sudut, kolenkim papan, dan kolenkim lakuna. Cucurbita
moschata merupakan salah satu contoh tumbuhan yang memiliki
kolenkim sudut (angular kolenkim). Menurut Mulayni (2006: 116),
bahwa penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada sudut-sudut sel.
Pada penampang melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada
tempat bertemunya tiga sel atau lebih, seperti yang terdapat pada tangkai
Rumex, Vitis, Coleus, Cucurbita, Morus, Beta dan pada batang Solanum
tuberosum dan Atropa belladonna (Sahara.2013).
Cucurbita moschata merupakan salah satu tumbuhan dikotil
memanjat. Pada tumbuhan dikotil memanjat, jari-jari empulurnya yang
lebar membuat penampakan xilem sekunder seolah-olah terbagi.
Kambium fasikular dan kambium interfasikular dibentuk dan
berkesinambungan. Menurut Hidayat (1995: 190-191), hal ini
disebabkan karena kambium interfasikuler membentuk parenkim saja
sehingga jari-jari empulur yang bersangkutan tetap tampak jelas dan
menjadi lebar. Protofloem membentuk serat setelah jaringan itu berhenti
berfungsi. Kelompok serat juga terdapat dalam floem sekunder. Korteks
terdiri dari kolenkim dan parenkim, keduanya dengan kloroplas. Lapisan
terdalam korteks adalah seludang pati. Empulur terdiri dari parenkim
(Sahara.2013).

116
3. Batang jagung
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Terdapat sel sklerenkim serta jaringan pengangkut. Pada foto
pengamatan terlihat xylem dan floem. Xylem berukuran lebih besar
dibandingkan floem. Terlihat juga epidermis dan jaringan parenkim.
Letak jaringan pengangkut pada batang jagung ini tersebar dan tidak
teratur, tidak seperti pada batang tanaman dikotil yang letak floem dan
xilemnya teratur. Sehingga berkas pengankut pada batang jagung
termasuk dalam tipe berkas pengangkut kolateral tertutup.
Berkas pengangkut pada tumbuhan tersusun oleh jaringan xilem
yang berfungsi sebagai saluran pengangkut air dan zat-zat hara akar ke
bagian tubuh yang lain, serta jaringan floem yang berfungsi sebagai
pengangkut hasil asimilasi dari daun ke tempat-tempat penyimpan
makanan cadangan dan bagian tubuh lainnya. Sel-sel penyusun jaringan
xilem berdinding tebal dan keras karena telah mengalami lignifikasi
(penebalan sekunder dengan zat lignin), sedangkan sel-sel penyusun
jaringan floem lebih lunak dan tipis, meskipun telah mengalami
pertumbuhan menebal sekunder dengan penebalan dinding dari selulosa.
Struktur batang monokotil merupakan tipe kolateral tertutup dan tidak
memiliki kambium.
Penampang melintang batang tanaman jagung dengan pembesaran
mikroskop 2,5 × 10 dari Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Oebobo
Kota Kupang terlihat susunan jaringan kolenkim pada batang
tanaman jagung karena kolenkim berfungsi untuk melindungi organ

117
muda sedangkan sklerenkim belum terlihat jelas karena sklerenkim
ada pada batang untuk menunjuang organ dewasa sedangkan jagung
yang disayat masih muda sehingga jaringan kolenkim bisa terlihat
jelas dibawah epidermis. Kelompok sel kolenkim dan sklerenkim
diperlukan untuk menyokong secara mekanik. Penelitian Khoirunisa
(2014) pada tanaman dikotil menjelaskan bahwa kolenkim merupakan
jaringan yang memberi kekuatan yang bersifat sementara pada
tumbuhan. Kolenkim juga terdapat pada tumbuhan yang masih muda
dan tumbuhan basah, sedangkan sklerenkim jaringan penguat
yang bersifat permanen. Jika tumbuhan sudah tua kolenkim akan
diganti dengan sklerenkim. Sel-sel penyusun sklerenkim adalah sel-sel
mati dan mempunyai penebalan dinding yang tebal dan merata. Susunan
selanjutnya yaitu terlihat jaringan pembuluh angkut (xilem dan floem)
yang terlihat jelas berada berdekatan dan tersebar tidak beraturan,
dan paling banyak tersebar dekat dengan bagian epidermis. Karena
pada batang tumbuhan monokotil terdapat berkas pembuluh yang
menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya antara xilem dan
floem tidak ditemukan kambium. Nurhayati dkk (2016), menambahkan
bahwa pada tanaman monokotil famili Araceae berkas pembuluh lebih
banyak ditemukan dibagian korteks dekat epidermis atau daerah perifer
batang (Lamahala, dkk. 2018).

4. Akar jagung
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
(Sumber : Plantamor.com. 2021).

118
Akar yang tersusun atas sel-sel yang rapat satu sama lain tanpa ruang
antar sel, berdinding tipis, memanjang sejajar sumbu akar, pada
penampang melintang membentuk membulat. Di bagian ujung tempat
terjadinya penyerapan, dinding sel epidermis terdiri dari bahan selulosa
dan pectin yang menyerap air.
Korteks terdiri atas lapisan-lapisan sel berdinding tipis dan tidak
tersusun rapat, sehingga mempunyai banyak ruang antarsel yang penting
untuk pertukaran zat atau dapat pula untuk menyimpan cadangan
makanan (Nurhayati, dkk, 2014). 2) Endodermis lapisan pemisah korteks
dengan stele, mengalami penebalan zat gabus (suberin) dan disebut sel
U. Fungsinya sebagai pengatur jalannya larutan yang diserap dari tanah
masuk ke silinder pusat. Stele ialah Silinder Pusat, tersusun atas jaringan
perisikel, berkas pengangkut, dan empulur. Perisikel berfungsi
membentuk cabang akar dan kambium gabus, Berkas pengangkut (xilem
dan floem) dan Empulur, tersusun atas jaringan parenkim berfungsi
untuk menyimpan cadangan makanan (Nursarah. 2015).

5. Akar Arbei muda


Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Rubus
Spesies : Rubus reflexus Ker
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Jaringan penyusun akar yang terdiri atas epidermis sebagai jaringan
terluar dengan susunan sel yang rapat, di sebelah dalamnya terdapat
korteks yang terdiri dari selapis sel yang tipis dan sel-selnya tidak
tersusun rapat. struktur akar muda arbei hampir sama dengan akar
jagung. Pada bagian tepi silinder pembuluh muncul akar lateral dimana

119
akar lateral ini berasal dari perisikel.
Nampak jelas terlihat adalah silinder pembuluh dan sel-sel parenkim
pada bagian korteks akar. Pada pengamatan nampak jelas terlihat xilem
dan floem. Berdasarkan letaknya xylem pada akar arben ini merupakan
xylem exarch karena letak protoxilem disebelah luar dari pada
metaxilem. Kemudian di dalamnya lagi tedapat endodermis yang
merupakan jaringan pemisah antar korteks dan stele. Stele pada akar
muda arben hanya tampak seperti tanda kali. Jaringan yang menyusun
stele selain perisikel dan berkas pembuluh angkut juga terdapat jaringan
parenkim.
Sistem jaringan pembuluh pada ketiga sayatan akar menunjukkan
sistem umum jaringan pembuluh pada akar monokotil. Sistem jaringan
pembuluh terdiri dari berkas-berkas pembuluh yang tersusun secara
radial yaitu xilem yang terletak bergantian dengan floem. Menurut
Hidayat (1995), pola ini disebut poliark dengan empulur di bagian tengah
(Linda, dkk. 2016).

6. Akar arbei dewasa


Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Rubus
Spesies : Rubus reflexus Ker
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Penampang melintang akar dewasa arbei, dilihat dari bentuknya
hampir sama dengan akar muda arbei. Tetapi pada akar dewasa arbei
tidak terlihat xilem dan floemnya, daerah interfaskuler dan epidermis.
Kemudian, terlihat epidermis sebagai jaringan terluar dengan susunan sel
yang rapat, di sebelah dalamnya terdapat korteks yang terdiri dari selapis

120
sel yang tipis dan sel-selnya tidak tersusun rapat. Kemudian di dalamnya
terdapat endodermis yang merupakan jaringan pemisahan korteks dan
stele. Selain itu, terlihat juga adanya protoxilem dan metaxilem.
pada penampang lintang akar terlihat terletak pada bagian paling
dalam dengan bertipe radial. Tipe berkas pengangkut radial yaitu tipe
berkas pengangkut di mana xilem dan floem tersusun berselang-seling
bergantian menurut arah jari-jari lingkaran. Hal ini sesuai dengan
pendapat Fried dan Hademenos (2006) bahwa pada irisan melintang akar
herba dikotil umumnya xilem berdinding tebal tersusun dalam bentuk
melintang seperti palang di bagian tengah silinder fibrovaskular,
sedangkan sel-sel floem terletak di sudut-sudut bagian yang melintang
tersebut (Hapsari, dkk. 2018).

121
VI. SIMPULAN
1. Pada batang dikotil terdapat kambium intervasikuler dan berkas
pengangkut termasuk kolateral terbuka sedangkan pada batang
monokotil tidak terdapat kambium vasikuler dan berkas pembuluh
kolateral tertutup.
2. Pada batang waluh terdapat tipe berkas pengangkut bikolateral yakni
terdapat dua floem yang mengapit xilem.
3. Akar dikotil mempunyai bentuk jari-jari xilem 4 yang diwakili oleh akar
arbei muda dan arbei dewasa
4. Akar monokotil mempunyai bentuk jari-jari xilem polyarch yang
diwakili oleh akar jagung memiliki banyak xilem.
5. Berkas pengangkut tipe radial xilem dan floem bergantian membentuk
jari-jari lingkaran
6. Batang Impatien balsamina jaringan penyusunnya berupa epidermis,
korteks, endodermis, serta adanya jaringan pengangkut berupa floem
dan xilem yang dipisahkan oleh kambium. Bertipe eustele dan kolateral
terbuka karena termasuk dikotil.
7. Batang Cucurbita moschata jaringan penyusunnya berupa epidermis,
korteks, endodermis, serta adanya jaringan pengangkut berupa floem
dan xilem yang dipisahkan oleh kambium. Bertipe eustele dan kolateral
terbuka karena termasuk dikotil.
8. Batang Zea mays jaringan penyusunnya berupa epidermis dan
endodermis, serta adanya jaringan pengangkut berupa floem dan xilem
yang tidak dipisahkan oleh kambium. Bertipe eustele dan kolateral
terbuka karena termasuk dikotil. Bertipe ataktostele dan kolateral
tertutup karena termasuk monokotil.
9. Preparat jadi Fragaria sp. muda jaringan penyusunnya berupa epidermis,
korteks, endodermis, serta adanya jaringan pengangkut berupa floem
dan xilem yang tidak dipisahkan oleh kambium. Bertipe ataktostele dan
kolateral tertutup karena termasuk monokotil.
10. Preparat jadi Fragaria sp. dewasa jaringan penyusunnya berupa

122
epidermis, korteks, endodermis, serta adanya jaringan pengangkut
berupa floem dan xilem yang tidak dipisahkan oleh kambium. Bertipe
ataktostele dan kolateral tertutup karena termasuk monokotil.
11. Akar Zea mays jaringan penyusunnya berupa epidermis, korteks,
endodermis, serta adanya jaringan pengangkut berupa floem dan xilem
yang tidak dipisahkan oleh kambium. Bertipe ataktostele dan kolateral
tertutup karena termasuk monokotil.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Arwinda, Ahya dan Yenda, Alifah. (2013). BATANG. Diakses melalui
https://www.academia.edu/21673810/makalah_batang_anatomi_tumb
uhan (di akses pada tanggal 3 januari 2021).
. (2021). PACAR AIR (Impatiens balsamina). Diakses melalui
http://plantamor.com/species/info/impatiens/balsamina (di akses pada
tanggal 3 januari 2021).
Puspita, Nina. (2012). PENGARUH EKSTRAK ETANOL BIJI LABU
KUNING (Cucurbita moschata) TERHADAP KUALITAS
SPERMATOZOA MENCIT (Mus musculus) SETELAH PEMBERIAN 2-
METOKSIETANOL. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
Diakses melalui
http://repository.unair.ac.id/25650/14/14.%20Bab%202.pdf (di akses
pada tanggal 3 januari 2021).
. (2021). JAGUNG (Zea mays). Diakses melalui
http://plantamor.com/species/info/zea/mays (di akses pada tanggal 3
januari 2021).
. (2021). ARBEI HUTAN (Rubus reflexus). Diakses melalui
http://plantamor.com/species/info/rubus/reflexus (di akses pada tanggal
3 januari 2021).
Sahara, winda. (2013). “ANATOMI DAUN LABU (Cucurbita Moscahata
Durch.)”. Diakses melalui
https://www.academia.edu/5358297/Laporan_Mikroteknik_Struktur_d

123
an_Anatomi_Daun_Cucurbita_moschata (di akses pada tanggal 3
januari 2021).
Nursarah, Lailul Hidayah. (2015). LAPORAN INDIVIDU PRAKTIK
PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) UNY 2015 LOKASI SMAN 1
NGAGLIK. Diakses melalui
https://eprints.uny.ac.id/36107/1/LAILUL%20HIDAYAH%20N.pdf
(diakses pada tanggal 3 januari 2021).
Malak, B. I. (2017). IDENTIFIKASI ANATOMI TUMBUHAN SIRIH HUTAN
(Piper aduncum L). Biolearning Journal, 4(2), 49-54.
Lamahala, M. H., & Lamen, S. (2018). Pengembangan Media Jaringan
Epidermis Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Yang Tumbuh Di Kota
Kupang Sebagai Sumber Belajar Tambahan Pembelajaran IPA SD
Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, 5(2),
15-25.
Linda, R., Nurhayati, & Mukarlina (2016). Struktur Anatomi Akar, Batang
dan Daun Anthurium plowmanii Croat., Anthurium hookeri Kunth. dan
Anthurium plowmanii × Anthurium hookeri.
Hapsari, A. T., Darmanti, S., & Hastuti, E. D. (2018). Pertumbuhan Batang,
Akar dan Daun Gulma Katumpangan (Pilea microphylla (L.)
Liebm.). Buletin Anatomi dan Fisiologi (Bulletin of Anatomy and
Physiology), 3(1), 79-84.

124
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM X
DAUN
PRAKTIKUM X

Topik : Daun
Tujuan : Untuk mengamati macam-macam susunan struktur anatomi daun
Hari/tanggal : Sabtu/26 Desember 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Baki
2. Gelas kimia
3. Kaca benda
4. Kaca penutup
5. Mikroskop
6. Pipet tetes
7. Silet

Bahan :
1. Daun Tebu (Saccharum officinarum)
2. Daun Jagung (Zea mays)
3. Daun Beringin (Ficus sp.)
4. Daun Jeruk (Citrus sp.)

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Menyayat secara melintang dan setipis mungkin mengggunakan silet pada
masing-masing daun tebu (Saccharum officinarum), daun beringin (Ficus sp.)
dan daun jeruk (Citrus sp.).
3. Meletakkan masing-masing sayatan di atas kaca benda, memberi setetes
aquadest dan menutup dengan kaca penutup.
4. Menyiapkan preparat jadi untuk bahan daun jagung (Zea mays).

125
5. Mengamati masing-masing preparat di bawah mikroskop.
6. Menggambar hasil pengamatan dan memberi keterangan.

III. TEORI DASAR


Menurut Sumardi dan Agus (1993) dalam Sri Amintarti. et.al (2020),
Seperti halnya batang dan akar maka daun juga tersusun atas 3 sistem jaringan
yaitu jaringan kulit, jaringan dasar dan jaringan vaskuler. Jaringan dasar atau
mesofil terletak di antara kedua epidermis yang merupakan daerah fotosintesis
utama. Pada kebanyakan daun dikotil mesofil terdiferensiasi menjadi parenkim
palisade dan parenkim spons. Sel-sel palisade bentuknya memanjang,
mengandung banyak kloroplast, menempati ½ - 2/3 mesofil. Spon parenkim
terbentuk tidak teratur, bercabang, mengandung lebih sedikit kloroplast. Pada
penampang melintang, susunan anatomi daun dapat simetris, artinya jaringan
tiang terdapat di bagian dorsal maupun ventral daun (disebut daun isobilateral
atau isolateral), dapat pula tidak simetris, jaringan tiang terdapat di sisi ventral
saja (disebut daun dorsoventral atau bifasial). Selain itu ada yang susunannya
sentries, yaitu daun dengan mesofil yang tersusun radial simetri ke segala arah,
terdapat pada daun berbentuk jarum (misalnya Pinus sp). Berkas pengangkut
daun mempunyai susunan seperti pada batangnya, walaupun tidak seluas yang
terdapat pada batang. Semakin dekat dengan tulang daun yang kecil berkas
pengangkutnya semakin sederhana (Amintarti, Sri., 2020)

126
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Daun Tebu (Saccharum officinarum)
1. Gambar pengamatan

2. Foto pengamatan
Keterangan :
1. Sel kipas
2. Trikoma
3. Epidermis atas
4. Epidermis bawah
Perbesaran 100x

(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

3. Foto literatur

Keterangan :
1. Sel kipas
2. Mesofil
3. Epidermis atas
4. Epidermis bawah
5. Jaringan pengangkut
(Sumber : Ferreira, E.A. et al., 2007)

127
2. Daun Jagung (Ficus benjamina)
1. Gambar pengamatan

2. Foto pengamatan
Keterangan :
1. Sel kipas
2. Xilem
3. Floem
4. Sel parenkim
5. Jaringan pengangkut
Perbesaran 100x
(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

3. Foto literatur
Keterangan :
1. Sel kipas
2. Xilem
3. Floem
4. Sel parenkim
5. Jaringan pengangkut

(Sumber : Slideplayer, 2015)

128
3. Daun Beringin (Ficus sp.)
1. Gambar pengamatan

2. Foto pengamatan
Keterangan :
1. Epidermis atas
2. Sistolit
3. Litokis
4. Tangkai
5. Jaringan palisade
6. Pigmen warna
Perbesaran 400x
(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

3. Foto literatur
Keterangan :
1. Epidermis atas
2. Sistolit
3. Litokis
4. Tangkai
5. Jaringan palisade

(Sumber : Ontario, 2012)

129
4. Daun Jeruk (Citrus sp.)
1. Gambar pengamatan

2. Foto pengamatan
Keterangan :
1. Epidermis atas
2. Kelenjar sekretori
3. Sel – sel minyak atsiri
4. Epidermis bawah
5. Pigmen warna
Perbesaran 400x

(Sumber : Dokumentasi Kelas, 2020)

3. Foto literatur
Keterangan :
1. Epidermis atas
2. Kelenjar sekretori
3. Sel – sel minyak atsiri
4. Epidermis bawah
5. Pigmen warna

(Sumber : Etxeberria, Ed. et. al., 2016)

130
V. ANALISIS DATA
1. Daun Tebu (Saccharum officinarum)
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Graminae
Genus : Saccharum
Spesies : Saccharum officinarum
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada sel daun tebu (Saccharum
officinarum) di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x, dapat diketahui
bahwa terdapat derivat epidermis yaitu sel kipas yang mengandung air yang
berfungsi untuk menggulung saat terik matahari sehingga mengurangi
penguapan dan trikoma. Trikoma ini berfungsi untuk melindungi dirinya dari
bahaya, misalnya apabila daun padi ini akan dicabut oleh seseorang, maka
yang akan mencabut daun padi ini akan merasa gatal setelah mencabutnya.
Pada daun tebu (Saccharum officinarum) ini juga terdapat jaringan
utama penyusun helaian daun yaitu mesofil. Dimana mesofil ini mengandung
banyak kloroplas. Mesofil pada daun tebu (Saccharum officinarum) ini dapat
tersusun dari sel-sel yang homogen atau terdeferensiasi menjadi sel-sel yang
panjang dan tegak lurus terhadap permukaan daun dan tersusun rapat tanpa
ruang antar sel yang biasa disebut dengan jaringan palisade. Selain itu, pada
daun tebu (Saccharum officinarum) ini terdapat sel-sel yang mengelilingi
berkas pengangkut, dan terdiri dari sel parankim yang berdinding tipis (Arista
& Wijaya, 2015).

131
2. Daun Jagung (Zea mays)
Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Commelinidae
Ordo : Cyperales
Famili : Poaceae
Genus : Zea L.
Spesies : Zea mays
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada sel daun jagung (Zea mays) di
bawah mikroskop dengan perbesaran 100x, dapat diketahui bahwa jaringan
epidermis pada lapisan terluarnya. terdapat juga derivate epidermis yaitu sel
kipas (bulliform), berfungsi untuk menyimpan air dan untuk menggulung saat
terik matahari sehingga mengurangi penguapan. Pada saat penguapan sel
kipas akan mengempis dan menyebabkan daun menggulung untuk
mengurangi penguapan. Vascular bundlenya teratur, memiliki epidermis atas
dan bawah yang menyelubungi mesofil. Dimana sel kipas ini merupakan
epidermis yang membesar yang diisi oleh air dan berfungsi untuk mengurangi
penguapan pada tubuh tumbuhan dan mendinginkan tubuh tumbuhan itu
sendiri (Jeniria et al., 2015).
Selain itu fungsi sel kipas ini adalah untuk menggulungkan daun saat
kekeringan. Pada daun jagung ini juga memiliki stomata berupa graminae
yang mana bentuk sel penutupnya (tulang) dengan arah membuka sel penutup
sejajar dengan permukaan epidermis yang penebalan dinding selnya tipis.
Selain itu pada daun jagung ini memiliki stomata yang berbentuk
diantgusdiasthik seperti bulat telur. Pada stomata terdapat bagian-bagiannya,
yaitu sel tetangga, sel penutup, inti sel, pada bagian dorsal terdapat jaringan

132
epidermis yang mana berfungsi sebagai pelindung jaringan. Setiap sel
penutup diiringi satu sel tetangga dengan sumbu sel penutup yang sejajar
sumbu sel tetangga serta celah stomata, sel penutup stomata terletak sejajar
dengan sel epidermis. Stomata pada daun jagung memiliki bentuk yang
memanjang dengan bagian ujung membesar, berdinding tipis, dan berbentuk
kecil dibagian tengah yang membuktikan bahwa pada daun jagung terdapat
modifikasi epidermis berupa stomata yang berbentuk halter (memanjang).
Adapun di sebelah epidermis terdapat mesofil. Dimana mesofil ini merupakan
jaringan dasar yang bersifat parenkim yang mana pada sel daun jagung ini
terdifferesensiasi membentuk jaringan palisade dan jaringan bunga karang
(Jeniria et al., 2015).
Susunan selanjutnya yaitu terlihat jaringan pembuluh angkut (xilem dan
floem) yang terlihat jelas berada berdekatan dan tersebar tidak beraturan, dan
paling banyak tersebar dekat dengan bagian epidermis. Karena pada batang
tumbuhan monokotil terdapat berkas pembuluh yang menyebar dan bertipe
kolateral tertutup yang artinya antara xilem dan floem tidak ditemukan
kambium. Nurhayati dkk (2016), menambahkan bahwa pada tanaman
monokotil famili Araceae berkas pembuluh lebih banyak ditemukan di bagian
korteks dekat epidermis atau daerah perifer batang (Jeniria et al., 2015).

3. Daun Beringin (Ficus sp.)


Klasifikasi:
Kingom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Hamamelididae
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae
Genus : Ficus

133
Spesies : Ficus sp.
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan hasil pengamatan pada sel daun beringin (Ficus sp.) di
bawah mikroskop dengan perbesaran 400x, dapat diketahui bahwa terdapat
epidermis terdiferensiasi dengan jaringan mesofil (jaringan tiang (Palisade)
dan jaringan bunga karang (spons)), jaringan pengangkut dan adanya derivat
epidermis yaitu sistolit. struktur yang berbentuk sarang lebah pada sistolit
yang dinamakan litokis terdiri dari Ca – karbonat dan tangkainya
mengandung zat selulosa.. Pada umumnya sel litosit pada Ficus dijumpai
pada sel epidermis atas daun, namun adapula yang terletak pada sel epidermis
atas maupun sel epidermis bawah. Sel litosit memiliki ukuran yang sangat
besar serta memiliki bentuk ovoid atau ovoid memanjang (Rasyid et. al,
2017).
Litokis pada sel daun beringan (Ficus sp.) ini mengalami penebalan ke
arah sentripetal yang mula-mula berupa tangkai dari selulosa pada dinding sel
sebelah atas ke arah lumen sel. Penebalan yang terjadi pada daun beringin
inilah di sebut dengan sistolit yang diikuti oleh pembesaran selnya. Adapun
untuk Ca-CO3 berasal dari sitoplasma epidermis yang ditempelkan pada salah
satu sisi ujung tangkai aselulosa. Selulosa itu sendiri berasal dari sitoplasma.
Selain itu untuk epidermis bawah pada daun beringin ini terdapat sel-sel yang
tidak mengandung kloroplas atau hypodermis (Rasyid et. al, 2017).
Adapun diantara epidermis atas, epidermis bawah, dan berkas
pengangkut terdapat mesofil. Mesofil pada daun beringin ini terdeferensiasi
menjadi jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Sel-sel penyusun jaringan
tiang berbentuk silindris, tegak pada permukaan daun dan mengandung
banyak kloroplas karena berfungsi untuk menangkap cahaya. Jaringan tiang
ini hanya terdapat pada bagian atas daun saja. Selain itu terdapat parenkim
palisade pada sisi adaksil, dan parenkim spons pada sisi abaksial. Sehingga
daunnya disebut daun dorsiventral atau bifasial (Rasyid et. al, 2017).
Mesofil pada Ficus sp. mengalami diferensiasi menjadi jaringan
palisade dan jaringan bunga karang. Jaringan palisade memiliki dua lapisan,

134
pada lapisan pertama ukurannya lebih panjang dari lapisan kedua, sedangkan
jaringan bunga karang terdiri atas 2—4 lapisan dengan sel yang terususn
sejajar atau tersusun secara bebas. Berkas pengangkut pada Ficus sp. terletak
pada tulang daun yang terdiri atas xilem dan floem, dan disekitarnya terdapat
kolenkim (Han, 2019). (Han, Eunice S. et. al, 2019)
Pada sel daun beringin (Ficus sp.) juga merupakan salah satu jenis
tumbuhan yang memiliki multilayer epidermis yang disebut epidermis ganda.
Epidermis ganda diturunkan dari protoderma melalui pembelahan perikrinal.
Pada sel daun Ficus sp. juga terdapat derivat epidermis berupa stomata dan
trikoma. Secara umum, stomata ditemukan di sisi bawah daun. Hal ini sejalan
dengan yang dikemukakan oleh Beck (2005), bahwa stomata pada daun
banyak ditemukan di sisi bawah daun. Derivat epidermis yang kedua adalah
trikoma. Trikoma terdiri atas satu sel atau banyak sel. Beberapa trikoma ada
yang berupa glandular dan adapula non-glandular, namun secara umum
trikoma yang ditemukan pada Ficus berupa trikoma non- glandular. Trikoma
berfungsi untuk melindungi diri dari gangguan luar serta mengurangi
penguapan (Rasyid et. al, 2017).

4. Daun Jeruk (Citrus sp.)


Klasifikasi :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus sp.
Sumber : (Cronquist, 1981)

135
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada sel daun jeruk
(Citrus sp.) di bawah mikroskop dengan perbesaran 400x, dapat diketahui
bahwa terdapat berbagai sistem jaringan yaitu derivat epidermis, mesofil dan
kelenjar. Mesofil kemudian berdifferensiasi membentuk jaringan palisade
(tiang) dan jaringan bunga karang. Daun jeruk bersifat dorsiventral karena,
jaringan tiang tersusun di bagian epidermis atas dan jaringan bunga karang
terdapat pada bagian epidermis bawah. Adapun yang khas pada daun jeruk
adalah adanya kelenjar yang mempunyai bau yang khas yaitu memiliki
kelenjar sekretori berupa kelenjar minyak atsiri pada daun jeruk berfungsi
sebagai pengeluaran air serta senyawa-senyawa lain. Sel sekretori bersifat
idioblas dan tunggal yang memiliki cairan sel berbeda dari sekelilingnya
misalnya sel minyak pada rimpang jahe, sedangkan kelenjar sekretori
merupakan sekelompok sel yang berdinding tipis mengelilingi suatu ruangan
yang berisi senyawa, misalnya pada kelenjar daun Citrus sp (Fajarsari, 2017).
Pada daun jeruk ini bersifat dorsiventral, dikarenakan terdapatnya
parenkim palisade pada sisi adaksial atau epidermis atas daun, dan
terdapatnya parenkim spons pada sisi abaksial atau epidermis bawah. Adapun
bagian terluar pada sel daun jeruk ini adalah epidermis, dimana epidermis ini
terletak di bagian atas dan bawah daun. Jumlah lapisan bagian atas lebih
banyak dari pada lapisan bawah. Dinding selnya mengalami penebalan yang
tidak merata. Penebalan itu sendiri terdiri dari kutin yang membentuk suatu
lapisan kutikula. Selain itu pada sel daun jeruk ini terdapat derivate epidermis
berupa stomata. Dimana stomata nya ini berdistribusi pada permukaan daun
tersebar pada permukaan adaksial (atas), dan permukaan bawah (abaksial)
daun yang disebut dengan anfistomatik (Fajarsari, 2017).
Pada sel daun jeruk ini juga didapati kelenjar yang mempunyai bau yang
khas. Kelenjar pada daun jeruk ini adalah kelenjar minyak atsiri yang terdapat
pada mesofil, terjadinya secara lisigen yang membentuk ekresi dalam sel dan
melepaskannya setelah sel hancur, sehingga karena lisis terjadilah rongga.
Selain itu sel-selnya mengandung zat resin. Minyak atsiri diproduksi oleh sel
sekretori yang berasal dari parenkim dasar yang mengalami diferensiasi.

136
Tanaman genus Citrus merupakan salah satu tanaman penghasil minyak
atsiri. Minyak atsiri yang dihasilkan oleh tanaman yang berasal dari genus
Citrus sebagian besar mengandung terpen, siskuiterpen alifatik, turunan
hidrokarbon teroksigenasi, dan hidrokarbon aromatik. Komposisi senyawa
yang terdapat di dalam minyak atsiri yang dihasilkan dari kulit buah tanaman
genus Citrus berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan diantaranya
adalah limonen, sitronelal, geraniol, linalol, α-pinen, mirsen , β-pinen,
sabinen, geranil asetat, nonanal, geranial, β- kariofilen, dan α-terpineol
(Fajarsari, 2017).
Selain itu pada sel daun jeruk (Citrus sp.) terdapat stomata dimana tipe
stomata adalah tipe anomositik yaitu tipe stomata dengan sel penjaganya
dikelilingi oleh sejumlah sel tertentu yang tidak berbeda dengan sel epidermis
yang lainnya dalam bentuk maupun ukuran. Penyebaran stomata hanya
terdapat pada lapisan epidermis bawah (abaxial). Stomata merupakan suatu
cela pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup yang berisi kloroplas
dan mempunyai bentuk serta fungsi yang berbeda (Tuasamu, 2018).

137
VI. KESIMPULAN
1. Pada Daun Tebu jaringan penyusunnya derivat epidermis yaitu sel kipas
yang mengandung air yang berfungsi untuk menggulung saat terik matahari
sehingga mengurangi penguapan dan trikoma, mesofil.

2. Pada daun jagung (Zea mays) terlihat adanya jaringan epidermis pada
lapisan terluarnya, jaringan mesofil dan berkas pengangkut yang berupa
xilem dan floem. Mempunyai sel kipas(bulliform).

3. Pada daun beringin (Ficus sp.), jaringan penysunnnya antara lain


epidermis, jaringan mesofil (jaringan tiang dan jaringan bunga karang),
jaringan pengangkut dan adanya sistolit.

4. Pada daun jeruk (Citrus sp), terdapat adanya epidermis bawah dan
epidermis atas. Pada daun jeruk terdapat berbagai sistem jaringan yaitu
Epidermis dan derivatnya, mesofil dan kelenjar minyak.

5. Jaringan dikotil memliki Mesofil yang terdiferensiasi (palisade/tiang dan


bunga karang/spons).

6. Jaringan Monokotil hanya memiliki mesofil.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri. et. al. (2020). Penuntun Praktikum Anatomi Tumbuhan.
Banjarmasin : PMIPA FKIP ULM.

Arista, Y., & Wijaya, K. A. (2015). Morfologi dan fisiologi dua varietas tebu
(Saccharum officinarum L.) sebagai respon pemupukan silika.
Berkala Ilmiah Pertanian, 1(1), 1–5.

Cronquist, A. (1981). An Integrated System of Classification of Flowering


Plants. Columbia University Press: New York.

Etxeberria, Ed. et. al. (2016). The Use of Laser Light to Enhance the Uptake
of Foliar-Applied Substances into Citrus (Citrus sinensis) Leaves.
Applications In Plant Sciences. 4(1), 1–10.

138
Fajarsari, M. (2017). Pembentukan sel sekretori pada daun dan buah jeruk
nipis (Citrus aurantifolia). Prosiding Seminar Nasional Pendidikan
Biologi Dan Biologi, 1(1), 59–68.

Ferreira, E.A. et al.(2007). Leaf Blade Quantitative Anatomy Of Sugarcane


Cultivars And Clones. Planta Daninha, Viçosa-MG, 25-34(25).

Han, E. S. et. al. (2019). Struktur anatomi sayatan melintang ketiga jenis daun
tanaman beringin. Journal of Chemical Information and Modeling,
53(9), 1689–1699.

Jeniria, F., Mukarlina, & Linda, R. (2015). Struktur Anatomi dan Jagung (
Zea mays L .) yang Terserang Penyakit Bercak dan Karat. Jurnal
Protobiont, 4(1), 84–88.

Ontario. (2012). Diakses melalui


http://phytoimages.siu.edu/imgs/pso/sq/Moraceae_Ficus_elastica_4757
6.html pada tanggal 03 Januari 2021.

Rasyid et. al. (2017). Anatomi Daun Ficus Racemosa L. (Biraeng) Dan
Potensinya Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Jurnal
Pendidikan, 2(6), 861–866.

Slideplayer. (2015). Diakses melalui https://slideplayer.com/slide/5355373/


pada tanggal 03 Januari 2021.

Tuasamu, Y. (2018). Karakterisasi Morfologi Daun dan Anatomi Stomata


pada Beberapa Species Tanaman Jeruk (Citrus sp). AGRIKAN Jurnal
Agribisnis Perikanan, 11(2), 85–90.

139
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM XI
BUNGA
PRAKTIKUM XI

Judul : Bunga
Tujuan : Untuk mengamati jaringan-jaringan penyusun bagian bunga
Hari / tanggal : Sabtu/26 Desember 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
1. Baki 5. Silet / cutter
2. Mikroskop elektrik 6. Gelas kimia
3. Kaca benda 7. Pipet tetes
4. Kaca penutup 8. Tissue
B. Bahan :
1. Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
2. Bunga tasbih (Canna indica)
3. Preparat jadi
4. Aquadest

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Menyayat secara melintang dan setipis mungkin masing-masing bahan
berupa kelopak, mahkota, dan benang sari bunga sepatu (Hibiscus rosa-
sinensis). Sementara pada Canna indica berupa kelopak, mahkota, petaloid
staminodes, stamen, putik, dan bakal biji/ ovulum.
3. Meletakkan masing-masing sayatan di atas kaca benda, lalu memberi setetes
aquadest dengan menggunakan pipet tetes kemudian menutup dengan kaca
penutup.
4. Mengambil serbuk sari dan putik Hibiscus rosa-sinensis dan letakkan di atas
kaca benda, beri setetes air dan tutup dengan kaca penutup.
5. Mengamati masing-masing preparat di bawah mikroskop.
6. Menggambar dan memberi keterangan masing-masing bagiannya.

140
III. TEORI DASAR
Bunga merupakan alat reproduksi Angiospermae, dibentuk oleh
meristem ujung khusus yang berkembang dari ujung pucuk vegetatif setelah
dirangsang oleh faktor internal dan eksternal untuk keperluan itu. Bunga yang
mempunyai kelopak, mahkota, stamen dan putik disebut bunga lengkap,
namun kebanyakan bunga mempunyai struktur yang tidak lengkap misalnya
tidak mempunyai salah satu alat kelamin atau keduanya. Bila hanya
mempunyai alat kelamin jantan saja disebut bunga jantan dan sebaliknya bila
hanya mempunyai alat kelamin betina saja disebut bunga betina (Sumardi dan
Agus, 1992).
Bagian bunga yang menghasilkan megaspore (sel telur) disebut ginaecium
yang tersusun oleh karpela (megasporofil = daun buah). Karpela ini secara
tersendiri atau bersama-sama membentuk ovarium (bakal buah), stilus (tangkai
putik) dan di ujungnya stigma (kepala putik). Di dalam bakal buah terdapat
satu atau lebih bakal biji (ovulum) yang terikat oleh plasenta pada bakal buah.
Bagian bunga yang menghasilkan mikrospora (tepung sari) disebut androecium
yang tersusun oleh satuan-satuan yang disebut stamen (benang sari) dan terdiri
dari tangkai benang sari (filamen) dan kepala sari (antera).
Bakal buah banyak tersusun oleh satu sampai banyak karpela (daun buah)
tergantung dari jenis tumbuhannya. Bila bakal buah berkembang menjadi buah,
karpela akan berubah menjadi perikarp yang umumnya bersatu dengan bagian-
bagian buah yang lain membentuk kulit buah. Perikarp dapat terbagi lagi
menjadi 3 lapisan yang dapat terlihat secara jelas yaitu eksokarp (kulit luar),
mesokarp (kulit tengah) dan endokarp (kulit dalam), tetapi sering susah
dipisahkan. Biji pada Angiospermae tersusun atas embrio, endosperm (kadang-
kadang tidak ada) dan jaringan pelindung kulit biji atau testa yang berasal dari
integument (Woelaningsih, 1984).

141
IV. HASIL PENGAMATAN

1. Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)


a. Mahkota Bunga Sepatu
a) Gambar Pengamatan

Keterangan:
1. Epidermis yang
berupa
tonjolan/papila
2. Parenkim

b) Foto Pengamatan

Keterangan:
1
Perbesaran 400x
1. Epidermis yang
berupa
2
tonjolan/papila
2. Parenkim

(Sumber: Dokumentasi kelas, 2020)

c) Foto Literatur

Keterangan:
1
2 1. Epidermis yang
berupa
tonjolan/papila
2. Parenkim
3 3. Epidermis
bawah
Sumber: Rahmiati, 2016

142
b. Serbuk Sari Bunga Sepatu
a) Gambar Pengamatan

b) Foto Pengamatan
Keterangan:
1
Perbesaran 100x
2 1. Trikoma
2. Polen

Sumber: (Dokumentasi Kelas, 2020)

c) Foto Literatur

Keterangan:
1
1. Polen
2 2. Trikoma

Sumber : (Rahmiati, 2016)

143
2. Bunga Tasbih (Canna indica)
a. Kelopak Bunga Tasbih
a) Gambar Pengamatan

b) Foto Pengamatan
Keterangan:
1 Perbesaran 400x
1. Epidermis
2. Parenkim
3
3. Berkas pengangkut
2

Sumber: (Dokumentasi Kelas, 2020)

c) Foto Literatur

1 Keterangan:
1. Epidermis
2. Parenkim
2

Sumber: (Rahmiati, 2016)

144
b. Mahkota Bunga Tasbih
a) Gambar Pengamatan

b) Foto Pengamatan
Keterangan:
Perbesaran 400x
1
1. Epidermis
2. Parenkim
2
3. kromotofora

Sumber: (Dokumentasi Kelas, 2020)

c) Foto Literatur

Keterangan:
1
1. Epidermis atas
2. Jaringan palisade
3. Jaringan spons
4. Epidermis bawah
2
3 4

Sumber: (Rahmiati, 2016)

145
c. Petaloid Staminodes Bunga Tasbih
a) Gambar Pengamatan

b) Foto Pengamatan
Keterangan:
1 Perbesaran 400x
1. Epidermis
2. Parenkim

Sumber: (Dokumentasi Kelas, 2020)

c) Foto Literatur

Keterangan:
2 1 1. Epidermis
2. Derivat epidermis
3. Serbuk sari

Sumber: (Rahmiati, 2016)

146
d. Stamen Bunga Tasbih
a) Gambar Pengamatan

b) Foto Pengamatan
Keterangan:
2 Perbesaran 100x
1. Epidermis
2. Serbuk sari
3
3. Parenkim

Sumber: (Dok. Pribadi, 2020)

c) Foto Literatur
Keterangan:
3 1 1. Tangkai sari
2. Epidermis
3. Parenkim

Sumber : (Nasywa Fira. 2015)

147
e. Serbuk Sari Bunga Tasbih
a) Gambar Pengamatan
Keterangan:
1. Epidermis

b) Foto Pengamatan

Keterangan:
Perbesaran 400x
1
1. Trikoma
2. Polen
2

Sumber: (Doumentasi Kelas, 2020)

c) Foto Literatur

Keterangan:
1
1. Polen
2 2. Kotak spora
3 3. Trikoma

Sumber : (Siswanto, 2012)

148
f. Putik Bunga Tasbih
a) Gambar Pengamatan

b) Foto Pengamatan

Keterangan:
1 2 Perbesaran 100x
1. Epidermis
5
2. Parenkim
4 3. Berkas pengangkut
4. Saluran lendir
6 5. Serbuk sari
6. Lapisan lilin
3
Sumber: (Dokumentasi Kelas, 2020)

c) Foto Literatur

1 3 Keterangan:
1. Epidermis
2. Parenkim
3. Serbuk sari
4. Lapisan lilin

2 4
Sumber : (Glinos, 2010)

149
g. Ovarium Bunga Tasbih
a) Gambar Pengamatan

b) Foto Pengamatan

Keterangan:
1. Bakal biji
1 2
3 2. Tali pusar
3. Plasenta

Sumber: (Dokumentasi Kelas, 2020)

c) Foto Literatur

1 Keterangan:
1. Bakal biji
2. Tali pusar
3 3. Plasenta
2

Sumber: (Rahmiati, 2016)

150
h. Dinding Ovarium Bunga Tasbih
a) Gambar Pengamatan

Keterangan:
1
1. Epidermis
2. Parenkim
3. Klorenkim

b) Foto Pengamatan

Keterangan:
Perbesaran 100x
3
1. Epidermis
2. Parenkim
3. Klorenkim
2

Sumber: (Dokumentasi Kelas, 2020)

c) Foto Literatur

Keterangan:
Perbesaran 100x
3
4. Epidermis
5. Parenkim
6. Klorenkim
2

Sumber: (Rahmiati, 2016)

151
V. ANALISIS DATA
1. Bunga sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
Klasifikasi
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub classis : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Familia : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Species : Hibiscus rosa-sinensis L
Sumber : Van Steenis. 1994
Berdasarkan hasil pengamatanpada bunga sepatu (Hibiscus rosa-
sinensis L.) dengan perbesaran 400x maka dapat diketahui mengenai
anatomi dari bagian-bagian bunga, yaitu:
a. Mahkota Bunga
Dari hasil pengamatan yang dilakukan pada mahkota bunga sepatu,
terlihat adanya sel parenkim pada irisan paradermal, epidermis
bertonjolan (papila) dan terdapat kromatofora.
Di bagian tepidermis pada daun mahkota terdapat bentuk khusus
berupa papila yang merupakan derivat epidermis berupa trikoma
nongrandular yang tidak menghasilkan kelenjar. Epidermis bawah
dindingnya dilapisi kutikula. Mesofil jarang terdiferensiasi menjadi
jaringan tiang dan bunga karang. Mesofil tersusun atas spon
parenkim. Mesofil seperti halnya daun, antosianin yang
menyebabkan adanya variasi bunga pada mahkota bunga. Selain itu,
pada perenkim dasar ada zat pewarna (pigmen) yang berwarna merah
atau kromoplast karoten (Siswanto, 2011).

152
b. Serbuk sari
Berdasarkan hasil pengamatan pada bagian benang sari terlihat
berupa tonjolan ke arah luar (sentrifugal) berupa trikoma, sedangkan
menurut literatur terdapat lapisan epidermis pada bagian terluarnya,
susunan sel-selnya berukuran kecil dan tersusun rapat. Pada bagian
bawah dari epidermis, terlihat adanya susunan sel-sel parenkim
(Siswanto, 2011). Sedangkan Serbuk sari merupakan struktur
reproduksi jantan yang dihasilkan oleh tumbuhan berbunga yang
terbentuk di ruang sari (theca) yang telah dewasa. Jumlah serbuk sari
dalam ruang sari sangat banyak dan ukurannya kecil-kecil. Serbuk
sari kadang kala terlihat seperti butir-butir tepung yang sangat halus,
kering, dan ringan, sehingga mudah sekali terbang terbawa oleh
angin. Akan tetapi ada pula serbuk sari yang berlemak, lengket, dan
menggumpal sehingga mudah melekat pada tubuh serangga yang
mencari nektar bunga (Wa Ode Nursia, 2016).

2. Bunga tasbih (Canna indica)


Klasifikasi :
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Zingiberidae
Ordo : Zingiberales
Familia : Cannaceae
Genus : Canna
Species : Canna indica
Sumber : Van Steenis. 1994
Berdasarkan hasil Pengamatan pada bunga tasbih (Canna indica)
dengan perbesaran 400x dan 100x maka struktur anatomi bagian-bagian
bunga tasbih, yaitu :

153
a. Kelopak
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, pada
kelopak Canna indica, terlihat adanya struktur mesofil yang padat,
terdapat berkas pengangkut yang kurang jelas. Menurut dari literatur,
Pada kelopak bunga Canna indica terlihat jaringan epidermis pada
bagian paling atas dan bawah, serta terdapat mesofil dan jaringan
pengangkut. Epidermis merupakan sel yang berdinding tipis, dengan
adanya penebalan pada bagian sebelah luar. Di bagian bawah
epidermis terdapat parenkim spons dan parenkim palisade yang
fungsinya sama sebagai jaringan dasar. Di antara parenkim-parenkim
tersebut terdapat sel kipas yang berfungsi untuk menyimpan air dan
mengurangi penguapan (Siswanto, 2011).

b. Mahkota Bunga
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, pada
mahlota bunga canna indica terlihat adanya kromatofora
berwarna,berkas pengangkut, parenkim yang berukuran besar dan
padat. Menurut dari literatur, Jaringan tiang dan jaringan spons pada
mahkota mempunyai struktur yang berbeda dengan daun karena
telah mengalami modifikasi. Pada mahkota jaringan epidermis
tersusun atas sel-sel yang mengalami penebalan di sebelah luarnya
(Siswanto, 2011).

c. Petaloid Staminodes
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada
petaloid staminodes bunga Canna indica yaitu terlihat adanya
epidermis yang memiliki struktur berupa papila seperti petal,
terdapat parenkim dan adanya kromatofora., sedangkan menurut dari
literatur, Canna indica mempunyai morfologi yang khas yang
berbentuk lembaran, namun sifatnya steril / luruh serbuk sarinya.

154
d. Stamen
Berdasarkan hasil pengamatan pada bagian benang sari terlihat
adanya sel berbentuk gepeng, terdapat epidermis, parenkim dan
serbuk sarinya. Pada benang sari bunga Canna indica ini terdapat
stuktur berbentuk segi enam atau heksagonal, yang merupakan
penyusun benang sari. Pada bagian bawah dari epidermis, terlihat
adanya susunan sel-sel parenkim. Sel-selnya terlihat memiliki
ukuran yang lebih besar daripada sel-sel epidermis yang terletak di
sebelah atasnya (Siswanto, 2011).

e. Putik
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, pada
putik bunga tasbih terlihat adanya serbuk sari yang menempel,
epidermis yang berwarna dan ada lapisan lilin, parenkim, adanya
berkas pengangkut, adanya mucilage (saluran lendir).
.
f. Serbuk sari
Serbuk sari merupakan sel-sel kelamin jantan (gamet jantan)
yang berfungsi untuk penyerbukan. Butir serbuk sari dirancang
untuk melindungi bahan genetik jantan tanaman saat ditransfer dari
satu bunga ke bunga lainnya. Untuk memastikan pesan genetik tetap
stabil dalam proses transportasi untuk polinasi, atau tetap stabil
meskipun terjebak oleh cuaca buruk, jadi pesan genetik itu dikunci
dalam beberapa lapisan konsentrisnya polen. Pada sel sebuk sari
yang teramati berupa adanya duri–duri kecil, yang membedakan
dengan serbuk sari kembang sepatu.
Sitoplasma terselip di dalam lapisan selulosa keras yang dikenal
sebagai intine. Intine dibungkus dengan lapisan lain yang disebut
exine. Exine, terbuat dari zat yang dikenal sebagai sporopollenin,
dirancang untuk menangkal bahaya lingkungan seperti radiasi

155
ultraviolet, kelembaban, pengeringan, perubahan tekanan, dan
fluktuasi pH.
Akhirnya, exine dilapisi dengan zat yang sangat lengket yang
disebut pollenkitt, yang memungkinkan serbuk sari menempel pada
bunga tanpa tertiup angin atau hanyut. Lengketnya juga
memungkinkan lebah untuk menggumpal bersama-sama dalam
pelet. Bau, warna, dan rasa serbuk sari juga berasal dari pollenkitt.
Semua lapisan pelindung ini, terutama kapsul bagian dalam
selulosa, membuat serbuk sari sangat sulit dicerna. Tetapi lebah
dapat menembus titik lemah serbuk sari — pori germinal — dengan
enzim yang memungkinkan mereka mencerna sebagian besar serbuk
sarinya. Pemeriksaan kotoran lebah akan mengungkapkan butiran
serbuk sari yang dicerna yang terlihat seperti gelembung balon. Pada
mereka, semua serbuk sari-nya tercerna kecuali kulit selulosa yang
keras (adminbio, 2019).

g. Ovarium
Berdasarkan hasil pengamatan ovarium terdiri dari 3 ruang,
adanya bakal biji, adanya tali pusar yang menghubungkan bakal biji
ke plasenta. Menurut literatur bagian bakal biji (Ovulum) ini terbagi
menjadi 3 ruangan. Yang mana pada 1 ruangan terdiri atas sel-
sel yang ukurannya kecil, juga terdapat adanya sebuah sel yang
ukurannya lebih besar dari yang lainnya dan dibatasi oleh sekat-
sekat. Sedangkan pada bagian tengah terdapat 1 buah ruangan lagi
yang bentuknya agak membulat dan memiliki inti yang berbentuk
bulat pula pada bagian tengahnya. Pada bagian terluarnya terlihat
adanya jaringan palisade yang tersusun melingkari bagian
(Siswanto, 2011). Selain itu ada juga yang mengatakan bakal biji
berkembang dari plasenta. Funikulu merupakan tangkai yang
mendukung bakal biji, dimana bakal biji melekat pada plasenta.

156
Bakal biji memiliki sistem pembuluh dan berhubungan dengan
plasenta

h. Dinding Ovarium
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui dinding ovarium
berwarna hijau yang tediri dari berkas pengangkut. Menurut literatur
pada ovulum putik bunga Canna indica terdapat bakal biji, ruang
ovulum, epidermis serta derivatnya. Ovulum memiliki loculus atau
ruang-ruang. Pada bagian terluar tersusun sel-sel epidermis dengan
bentuk sangat besar dan tersusun rapat. Epidermis ini mengalami
penebalan sentrifugal. Pada bagian tertentu dari epidermis
membentuk lekukan yang menyebabkan terbentuknya tiga rongga
udara (Siswanto, 2011). Ada juga yang mengatakan bahwa dinding
ovarium terdiri atas jaringan parenkimatatis, serta jaringan vaskuler
yang dilindungi oleh epidermis tabung polen.

VI. KESIMPULAN
1. Mahkota Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) memiliki ciri – ciri Daun
Mahkota terdiri dari sel parenkim, pada irisan paradermal, epidermis
bertonjolan (papila), terdapat kromatofora.

2. Serbuk sari Bunga Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) memiliki ciri – ciri


Penebalan nya berupa tonjolan tonjolan ke arah luar (sentrifugal).

3. Kelopak Bunga Tasbih (Canna indica) memilki ciri – ciri Strukturnya


tedapat mesofil yang padat, terdapat berkas pengangkut yang kurang jelas.

4. Mahkota Bunga Tasbih (Canna indica) memiliki ciri – ciri Terdapat


kromatofora berwarna, tedapat berkas pengangkut, terdapat parenkim yang
berukuran besar dan padat

157
5. Petaloid staminoides (Canna indica) memiliki ciri – ciri Epdermis
memiliki struktur , yaitu berupa papila, struktur seperti petal, terdapat
parenkim, adanya kromatofora.

6. Stamen Bunga Tasbih (Canna indica) memilki ciri – ciri Bentuknya


gepeng, terdapat epidermis, parenkim, ada serbuk sarinya.

7. Serbuk sari Bunga Tasbih (Canna indica) memiliki ciri – ciri terdapat duri
– duri kecil, yang membedakannya dengan serbuk sari kembang sepatu

8. Putik Bunga Tasbih (Canna indica) memiliki ciri – ciri terdapat epidermis
yang berwarna dan ada lapisan lilin, parenkim, adanya berkas pengangkut,
adanya mucilage (saluran lendir).

9. Irisan ovarium Bunga Tasbih (Canna indica) memiliki ciri – ciri Terdiri
dari 3 ruang, adanya bakal biji, adanya tali pusar yang menghubungkan
bakal biji ke plasenta,

10. Dinding ovarium Bunga Tasbih (Canna indica) memiliki ciri – ciri
dinding ovarium berwarna hijau yang tediri dari berkas pengangkut.

VII. DAFTAR PUSTAKA

Adminbio. (2019). Struktur Serbuk Sari (POLEN). Diakses melalui


https://polenlebah.biologi.ugm.ac.id/2019/09/10/struktur-serbuk-sari-
polen/. Pada tanggal 2 Desember 2020.

Amintarti, S., Arsyad, M., & Rezeki, A. (2020). Penuntun Praktikum Anatomi
Tumbuhan. Banjarmasin: PMIPA FKIP ULM.

Glinos, Evangelina & Cocucci, Andrea. (2010). Pollination biology of Canna


indica (Cannaceae) with particular reference to the functional
morphology of the style. Plant Systematics and Evolution. 291. 49-58.
10.1007/s00606-010-0379-x. Diakses melalui
https://www.researchgate.net/figure/Canna-indica-Longitudinal-and-
cross-sections-through-the-style-The-schematic-
drawing_fig4_225485500. Pada tanggal 2 Desember 2020.

158
Fira, Nasywa. 2015. Benang Sari Bunga Tasbih. Diakses melalui
http://anatomi-tumbuhan.education/. Pada tanggal 2 Desember 2020.

Rahmiati, P. (2016). Laporan Praktikum Anatomi Tumbuhan. Diakses melalui


https://www.academia.edu/. Pada tanggal 2 Desember 2020.

Siswanto, H. (2011). Praktikum 11.Diakses melalui


https://www.scribd.com/doc/100877115/Praktikum-11. Pada tanggal 2
Desember 2020.

Soerodikoesoemo, W. 1992. Anatomi Tumbuhan. PN Karunika: Jakarta.

Sumardi, Issirep dkk. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan.


Depdikbud Dirjen Dikti UGM:Yogyakarta.

Tatang. S. Suradinata. 1998, Struktur Tumbuhan. Penerbit Angkasa Bandung.

Wa Ode Nursia, A. M. (2016). STUDI MORFOLOGI SERBUK SARI


KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.). J. AMPIBI 1(2) , (
43-45). Diakses melalui
http://ojs.uho.ac.id/index.php/ampibi/article/download/5037/3760.
Pada tanggal 2 Desember 2020.

Woelaningsih, Sri. 1984. Penuntun Praktikum Botani Dasar. Laboratorium


Anatomi Tumbuhan Fakultas Biologi UGM: Yogyakarta.

159
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

LAMPIRAN
TABEL NILAI LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI TUMBUHAN

No. Topik Praktikum Nilai


1. Bentuk-Bentuk Sel pada Tumbuhan
2. Sel dengan Bagian-Bagian yang Hidup
3. Sel dengan Bagian-Bagian tak Hidup (Benda-
Benda Ergastik)
4. Penebalan pada Dinding Sel
5. Pembelahan Sel (Mitosis)
6. Epidermis dan Derivatnya
7. Jaringan Meristem dan Jaringan Parenkim
8. Jaringan Mekanik dan Jaringan Pengangkut
9. Akar dan Batang
10. Daun
11. Bunga
Rata-rata Nilai

160
LAPORAN PRAKTIKUM I
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“BENTUK-BENTUK SEL PADA TUMBUHAN”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
OKTOBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM II
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“SEL DENGAN BAGIAN-BAGIAN YANG HIDUP”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
OKTOBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM III
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“SEL DENGAN BAGIAN-BAGIAN TAK HIDUP (BENDA-BENDA


ERGASTIK)”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
NOVEMBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM IV
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“PENEBALAN PADA DINDING SEL”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
NOVEMBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM V
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“PEMBELAHAN SEL (MITOSIS)”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
NOVEMBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM VI
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“EPIDERMIS DAN DERIVATNYA”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
NOVEMBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM VII
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“JARINGAN MERISTEM DAN JARINGAN PARENKIM”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
DESEMBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM VIII
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“JARINGAN MEKANIK DAN JARINGAN PENGANGKUT”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
DESEMBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM IX
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“AKAR DAN BATANG”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
DESEMBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM X
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“DAUN”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
DESEMBER
2020
LAPORAN PRAKTIKUM XI
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“BUNGA”

Disusun oleh:
Ahmad Saufi
1910119110014
Kelas B

Asisten Praktikum:
M. Nofiar Hadi, S.Pd., M.Sc.
Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
DESEMBER
2020