Anda di halaman 1dari 53

ANATOMI TUMBUHAN

(ABKC 2301)

PRAKTIKUM VII
JARINGAN MERISTEM DAN JARINGAN PARENKIM
PRAKTIKUM VII

Topik : Jaringan Meristem dan Jaringan Parenkim


Tujuan : 1. Untuk mengamati jaringan meristem pada batang dan akar
2. Untuk mengamati bermacam-macam bentuk parenkim
Hari/Tanggal : Jum’at/ 11 Desember 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
1. Mikroskop
2. Silet/cutter
3. Pipet tetes
4. Gelas kimia
5. Kaca benda dan kaca penutup
6. Baki
7. Tisu
B. Bahan
1. Ujung akar lidah buaya (Aloe vera)
2. Tangkai daun bunga tasbih (Canna indica)
3. Tangkai daun eceng gondok (Eichornia crassipes)
4. Kulit buah pisang (Musa paradisiaca)
5. Aquadest

II. CARA KERJA


A. Jaringan Meristem
1. Menyiapkan alat dna bahan.
2. Membuat irisan membujur akar lidah buaya (Aloe vera) setipis
mungkin dengan hati-hati.
3. Meletakkan irisan tersebut di atas kaca benda, memberi irisan
tersebut setetes aquadest, kemudian menutupnya menggunakan
kaca penutup dan mengamatinya di bawah mikroskop.

B. Jaringan Parenkim
1. Menyiapkan alat dan bahan.
2. Mengerok bagian dalam kulit pisang (Musa paradisiaca), membuat
irisan melintang tangkai daun eceng gondok (Eichornia crassipes),
dan tangkai daun tasbih (Canna indica).
3. Meletakkan masing-masing irisan pada kaca benda, memberi
setetes aquadest dan menutup nya menggunakan kaca benda,
kemudia mengamatinya di bawah mikroskop.
4. Menggambar hasil pengamatan dan memberi keterangan.

III. TEORI DASAR


Pada taraf awal perkembangan embrio semua sel menjalani
pembelahan diri namun dengan pertumbuhan dan perkembangan lebih
lanjut maka pembelahan sel dan pelipatgandaannya menjadi tidak
terbataas di bagian-bagian khusus tumbuhan yang menunjukkan
diferensiasi sangat sedikit, dalam keadaan ini jaringan tetap bersifat
embrionik dan sel-sel tersebut mempertahankan kemampuannya untuk
membelah diri. Jaringan embrionik ini pada tumbuhan dewasa disebut
meristem. Klasifikasi meristem dibuat berdasarkan berbagai kriteria yaitu
posisinya dalam tubuh tumbuhan da asal usulnya. Menurut posisi
meristem dalam tubuh tumbuhan jaringan ini dapat di bagi menjadi ; 1)
meristem apikal yang terdapat di ujung-ujung akar; 2) Meristem interkalar
yang ada di antara jaringan dewasa , misalnya di pangkal ruas batang dan
dan; 3) Meristem lateral yang terletak sejajar dengan lingkaran organ,
misalnya pada kambium pembuluh dan felogen. Sedangkan menurut asal-
usul meristem maka meristem dibagi menjadi 1) meristem primer yaitu
jaringan yang sel-sel nya secara langsung berkembang dari sel-sel embrio
dan 2) meristem sekunder yaitu jaringan yang berkembang dari dewasa
yang sudah menjalani diferensiasi (Fahn, 1991).
Sifat-sifat meristem yaitu: sel-sel nya masih kecil, berdinding tipis,
dinding sel nya terdiri atas zat pektin, kaya akka plasma, vakuola nya
kecil-kecil dan banyak, bentuk sel pada umumnya ke segala arah sama dan
diantara sel-sel nya tidak terdapat ruang antar sel. (Woelaningsih, 1984).
Parenkim disebut juga sebagai jaringan dasar karena merupakan
jaringan penyusun sebagian besar organ tumbuhan. Parenkim tersusun atas
sel-sel relatif tidak mempunyai tugas khusus karena sel-sel tadi hanya
mengalami diferensiasi sederhana. Asal parenkim berbeda-beda, dapat
berasal dari meristem apikal batang atau akar, dari meristem marginal
daun, dari kambium atau bahkan dari felogen pada jaringan dewasa yang
mengadakan pertumbuhan sekunder. Parenkim pada umum nya tersusun
oleh sel-sel berdinding tipis, bervakuola besar dengan protoplasma yang
hidup. Bentuk sel biasanya isodiametris, poliendris dan ada yang
bercabang seperti bintang, sehingga diantaranya terdapat banyak ruang
antar sel. Parenkim erupakan tempat utama berlangsungnyaaktivitas
tumbuhan yang penting, misalnya fotosintesis, respirasi, penimbunan zat
makanan cadangan, sekresi, ekskresi dan bentuk aktivitas tersebut
tergantung pada protoplas sel-sel penyusunnya. (Woelaningsih, 1984).
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Ujung Akar Lidah Buaya (Aloe vera)
a. Menurut pengamatan

Keterangan :
1. Prokambium
2. Protoderm
3. Parenkim air
4. Meristem apikal

b. Foto Pengamatan

1 Keterangan :
1. Prokambium
2 2. Protoderm
3
3. Parenkim air
4 4. Meristem apikal

(Dokumentasi kelas, 2020)


(Perbesaran: 100x)
c. Menurut Literatur

2 Keterangan :
1. Prokambium
3
2. Protoderm
3. Parenkim air
4 1 4. Meristem apikal

(Sumber: Garcia, 2007)


2. Tangkai Daun Bunga Tasbih (Canna indica)
a. Menurut pengamatan

Keterangan
1. Parenkim udara
(aktinenkim)
2. Epidermis
3. Ruang antar sel

b. Foto Pengamatan

Keterangan
2
1. Parenkim udara
1
(aktinenkim)
2. Epidermis
3
3. Ruang antar sel

(Dokumentasi kelas, 2020)


(Perbesaran: 100x)
c. Menurut Literatur
Keterangan
2
3 1. Parenkim udara
(aktinenkim)
2. Epidermis
1 3. Ruang antar sel

(Sumber: Cutler, 2007)


3. Tangkai Daun Eceng Gondok (Eichornia crassipes)
a. Menurut pengamatan

Keterangan :
1. Epidermis
2. Parenkim (aerenkim)
3. Ruang antar sel

b. Foto Pengamatan

1
Keterangan :
1. Epidermis
2
2. Parenkim (aerenkim)

3 3. Ruang antar sel

(Dokumentasi kelas, 2020)


(Perbesaran: 100x)
c. Menurut Literatur

Keterangan :
2
1
1. Epidermis
3 2. Parenkim (aerenkim)
3. Ruang antar sel

(Sumber: Soul, 2011)


4. Kulit Buah Pisang (Musa paradisiaca)
a. Menurut pengamatan

Keterangan :
1. Parenkim penimbun
2. Ruang antar sel
3. Butir amilum

b. Foto Pengamatan

3 Keterangan :
1. Parenkim penimbun
2
2. Ruang antar sel
3. Butir amilum
1

(Dokumentasi kelas, 2020)


(Perbesaran: 100x)

c. Menurut Literatur

2 Keterangan :
1. Parenkim penimbun
1
2. Ruang antar sel
3. Butir amilum
3
(Sumber: Ghosh, 2020)
V. ANALISIS DATA
1. Ujung Akar Lidah Buaya (Aloe vera)
Kingdom : Plantae
Divisio              : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo                 : Asparagales
Familia              : Asphodelaceae
Genus               : Aloe
Spesies              : Aloe vera
Sumber : (Cronquist, 1981)
Dari hasil pengamatan, pada ujung akar lidah buaya (Aloe vera)
terdapat jaringan meristem apikal (meristem primer) dan parenkim air
yang berfungsi untuk menghadapi masa kering atau jumlah air yang
sedikit,
Menurut Salisbury (2005), parenkim air merupakan parenkim
yang berfungsi untuk menyimpan air. Contohnya tumbuhan xerofit
(sel besar, dinding tipis, vakuola besar ditengah berisi air, contohnya
kaktus, lidah buaya, dan lain-lain.

2. Tangkai Daun Bunga Tasbih (Canna indica)


Kingdom : Plantae
Divisio              : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo                 : Zingiberales
Familia              : Cannaceae
Genus               : Canna
Spesies              : Canna indica
Sumber : (Cronquist, 1981)
Dari pengamatan terhadap irisan melintang tangkai daun bunga
tasbih, terlihat adanya sel-sel parenkim dan rongga-rongga udara serta
ruang antar sel berukuran kecil.
Menurut Tjitrosomo (1983) parenkim udara biasanya terdapat
pada organ pengapung, misalnya pada daun bunga tasbih, empulur
batang Juncus. Biasanya selnya membentuk jari-jari atau bintang yang
berfungsi untuk menyimpan udara atau disebut aerenkim.

3. Tangkai Daun Eceng Gondok (Eichornia crassipes)


Kingdom : Plantae
Divisio      : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo        : Liliales
Familia     : Pontederiaceae
Genus        : Eichornia
Spesies     : Eichornia crassipes
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan pengamatan, pada irisan melintang batang eceng
gondok (Eichornia crassipes) terlihat adanya sel-sel parenkim dan
rongga-rongga udara yang berukuran besar. Hal tersebut menunjukkan
fungsi tangkai daun eceng gondok sebagai tempat penyimpanan udara
(aerenkim), yang membuatnya dapat mengapung di air. Bentuknya
isodiametris atau bulat membentuk mata rantai dengan ruang udara
yang besar.
Adanya jaringan aerenkim menyebabkan tumbuhan memiliki
sistem ruang udara yang baik serta memfasilitasi difusi internal gas –
gas yang dibutuhkan untuk proses fisiologis tumbuhan. Selain itu,
aerenkim yang berasosiasi dengan diafragma memberikan sokongan
untuk menahan tekanan mekanis pada organ akar, batang, ataupun
daun. Hal ini dikarenakan struktur sel – sel diafragma yang
bertetangga dengan sel aerenkim memiliki dinding sel yang tebal
(Rudall, 2007).
4. Kulit Buah Pisang (Musa paradisiaca)
Kingdom : Plantae
Divisi              : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Ordo                 : Zingiberales
Familia              : Musaceae
Genus               : Musa
Spesies              : Musa paradisiaca
Sumber : (Cronquist, 1981)
Berdasarkan pengamatan, ditemukan bahwa pada kerokan
bagian dalam kulit pisang (Musa paradisiaca) terdapat sel-sel
parenkim. Yakni sel-sel jaringan dasar yang terdapat hampir pada
seluruh bagian tubuh tumbuhan. Jaringan parenkim ini berbentuk
hexagonal (segi enam) dan di dalamnya terdapat zat ergastik berupa
amilum, karena pada parenkim merupakan tempat cadangan makanan.
Menurut Sarwono (2002), jaringan parenkim yang menempati di
berbagai organ atau jaringan lain dalam tubuh tanaman disebut
jaringan parenkim, sedang ciri-ciri dari jaringan parenkim adalah: 1)
Sel nya hidup; 2) Dinding sel tipis; 3) Letak sel tidak merapat atau
terdapat ruang antar sel dan; 4) Ukuran sel besar. Tampak pula banyak
ruang antar sel yang berukuran besar. Pada jaringan parenkim yang
kulit pisang terdapat butir-butir amilum. Terdapat butiran amilum
karena salah satu fungsi dari jaringan parenkim adalah menyimpan
zat-zat makanan. Menurut Amintarti (2015) jaringan parenkim
berfungsi dalam pembentukan sel atau jaringan baru karena
kemampuannya untuk berubah sifat menjadi embrional kembali.
VI. KESIMPULAN
1. Jaringan meristem merupakan jaringan muda yang embrional dan
terus membelah. Ada dua jenis meristem berdasarkan asalnya yaitu
meristem primer dan meristem sekunder. Meristem primer yaitu
meristem yang sel-selnya berasal dari sel-sel embrional sehingga
merupakan lanjutan dari pertumbuhan embrio. Meristem sekunder
yaitu meristem yang berasal dari jaringan dewasa yang berubah
menjdi embrional kembali. Menurut letaknya, jaringan meristem
dibedakan menjadi tiga, yaitu: meristem apikal (ujung-ujung batang,
cabang dan akar), meristem interkalar (di antara jaringan dewasa),
dan meristem lateral (terdapat di dalam organ). Jaringan meristem
terdapat pada ujung akar lidah buaya yang termasuk meristem apikal
karena terletak di ujung akar.
2. Jaringan parenkim adalah jaringan dasar karena sebagian besar
merupakan jaringan penyusun pada akar, batang, daun, bunga dan
buah juga terdapat pada jaringam lain, misalnya terdapat antara
xilem dan floem atau sebagai selubung berkas pengangkut.
3. Jaringan parenkim pada kulit buah pisang (Musa paradisiaca L. ),
terdapat butiran amilum, pada tangkai daun eceng gondok
(Eichornia crassipes) dan tangkai daun bunga tasbih (Canna indica)
terdapat aerenkim karena fungsi jaringan parenkimnya adalah
menyimpan udara dan tempat pertukaran udara.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri. (2015). Bahan Ajar Anatomi Tumbuhan. FKIP ULM :
Banjarmasin.

Amintarti, Sri. (2020). Penuntun Praktikum Anatomi Tumbuhan. FKIP


ULM : Banjarmasin.

Crounquist, A. (1981). An Integrated System of Flowering Plants. New


York: Columbia University.
Cutler, Botha. (2007). Canna leaf aerenchy. Diakses melalui
http://virtualplant.ru.ac.za/Main/ANATOMY/cannaleafaerenchy
_a.jpg. Pada tanggal 2 Januari 2020.

Fahn, A. (1995). Anatomi Tumbuhan. UGM Press : Yogyakarta.

Garcia, Luis Fernández. (2007). File:Meristemo apical 2.jpg. Diakses


melalui
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Meristemo_apical_2.j
pg. Pada tanggal 2 Januari 2020.

Ghosh, Rashmi. (2020). Morphological and Elemental Study of Fruit


Peels. Diakses melalui
http://www2.optics.rochester.edu/workgroups/cml/opt307/spr17/
rashmi/index.html. Pada tanggal 3 Januari 2020.

Rudall, Paula J. (2007). Anatomy of Flowering Plants. New York:


Cambridge University Press.

Salisbury, F. B. (2005). Fisiologi Tumbuhan. Bandung : ITB.

Sarwono, B. (2002). Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Soul, Obsidian. (2011). File:Cross section of a Water Hyacinth


petiole.jpg. Diakses melalui
https://commons.m.wikimedia.org/wiki/File:Cross_section_of_a
_Water_Hyacinth_petiole.jpg. Pada tanggal 3 Januari 2020.

Tjitrosomo dan Siti Sutarmi. (1983). Botani Umum 1. Bandung :


Angkasa.

Woelaningsih, Sri. (1984). Penuntun Praktikum Botani Dasar.


Laboratorium Anatomi Tumbuhan Fakultas Biologi ULM :
Yogyakarta.
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM VIII
JARINGAN MEKANIK DAN JARINGAN PENGANGKUT
PRAKTIKUM VIII

Topik : Jaringan Mekanik dan Jaringan Pengangkut


Tujuan :Untuk mengamati jaringan mekanik dan jaringan
pengangkut yang terdapat pada tumbuhan.
Hari/tanggal : Jumat/18 Desember 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Silet
2. Kaca benda dan kaca penutup
3. Mikroskop
4. Pipet tetes
Bahan:
1. Tangkai daun seledri (Apium graveolens)
2. Kulit biji kelapa (Cocos nucifera)
3. Batang Jagung (Zea mays)
4. Batang Pacar Air (Impatien balsamina)
5. Aquadest

II. CARA KERJA


1. Membuat sayatan melintang setipis mungkin pada tangkai daun sledri
untuk mengamati sel kolenkim dan pada batang Zea mays untuk
mengamati jaringan pengangkut.
2. Membuat kerokan kulit biji kelapa / tempurung kelapa untuk mengamati
sel sklerenkim.
3. Membuat sayatan kulit buah buncis untuk mengamati sklerenkim.
4. Meletakkan hasil sayatan atau kerokan di aats kaca benda, memberi setetes
air, menutup dengan kaca penutup dan mengamati di bawah mikroskop.
III. TEORI DASAR
Untuk memperkokoh tubuhnya, tumbuhan memerlukan jaringan penguat
yang menyusun tubuh tumbuhan, yaitu kolenkim dan sklerenkim. Sklerenkim
dapat dibedakan dari kolenkim karena sklerenkim tidak mengandung
protoplasma dan dindingnya mengalami lignifikasi, sel sklerenkim juga
menunjukkan variasi dalam bentuk, struktur dan perkembangan. Sedangkan
sel kolenkim bersifat hidup dindingnya mengandung selulosa, pektin dan
hemiselulosa.
Selain memperkokoh tubuhnya dengan adanya jaringan mekanik
tumbuhan juga mempunyai sistem pengangkutan yang tersusun atas jaringan
pengangkut. xilem dan floem merupakan jaringan kompleks yang selalu
berdampingan berama-sama menyusun sistem pengangkutan yang meluas ke
seluruh bagian tumbuhan. Xylem terdiri atas beberapa sel yang berbeda,
dapat bersifat hidup atau mati, sel yang paling karakteristik adalah trakeid dan
trakea, yang berfungsi mengangkut air. Selain itu xylem terdiri atas serat dan
sel-sel parenkim yang bersifat hidup. Floem yang merupakan jaringan
kompleks tersusun atas sel tapis, buluh tapis, sel pengiring dan serabut floem.
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Tangkai Daun Seledri (Apium graveolens)
a. Gambar Pengamatan
Keterangan :

1. Epidermis
2. Sklerenkim
3. Xilem
4. Floem

b. Foto Pengamatan

Keterangan :

2 1. Epidermis
2. Sklerenkim
3. Xilem
4 4. Floem
1 3 Perbesaran 100x dan
400x

(Dokumentasi Pribadi, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :

1. Epidermis
2. Sklerenkim
3. Xilem
4. Floem

( )
1. Kulit Biji Endokarpium Kelapa (cocos nucifera)

a. Gambar Pengamatan
Keterangan :

1. Dinding sel
2. Sklerenkim

b. Foto Pengamatan
Keterangan :

1. Dinding sel
1
2 2. Sklerenkim

Perbesaran 400x

(Dokumentasi Pribadi, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
1
1. Dinding sel
2. Sklerenkim
2

(Kim, 2012)
2. Batang Jagung (Zae Mays)

a. Gambar Pengamatan
Keterangan :

1. Floem
2. Xilem
3. Epidermis
4. Sklerenkim

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
1
3 1. Floem
2. Xilem
2 4 3. Epidermis
4. Sklerenkim
Perbesaran 100x dan
400x
(Dokumentasi Pribadi, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
2 1. Floem

4 3 2. Xilem
3. Epidermis
1 4. Sklerenkim

(Mahdiyah, 2012)
3. Batang Pacar Air (Impatiens balsamina)
a. Gambar Pengamatan
Keterangan :

1. Epidermis
2. Sklerenkim
3. Xilem
4. Floem

b. Foto Pengamatan
Keterangan :
2 3 1. Epidermis
1 2. Sklerenkim
3. Xilem
4. Floem
Perbesaran 400x
4

(Dokumentasi Pribadi, 2020)

c. Gambar Literatur

Keterangan :
1
1. Epidermis

2 2. Sklerenkim
3. Xilem
4. Floem

(Siswanto, 2011)
V. ANALISIS DATA
1. Tangkai Daun Seledri (Apium graveolens)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Sub classis : Rosidae
Ordo : Apiales
Familia : Apiaceae
Genus : Apium
Species : Apium gareveolens
Sumber : Cronquist (1981)
Beradasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium
biologi pada sel tangkai daun seledri (Apium graveolens) di bawah
mikroskop cahaya dengan perbesaran 100x dan 400x dapat diketahui bahwa
sel tangkai daun seledri ini memiliki sel-sel kolenkim yang terlihat lebih
tebal dan terdapat pada tiap sudut di bandingkan bagian-bagian sekitarnya.
Sel kolenkim pada tangkai daun seledri ini termasuk tipe kolenkim angular.
Selain itu pada sel kolenkim ini terdapat epidermis yang berfungsi sebagai
zat kitin pada batang yang digunakan untuk melindungi supaya tidak terlalu
banyak kekurangan air. Epidermis merupakan lapisan sel yang paling luar
dan memiliki fungsi sebagai pelindung semua bagian sel tumbuhan yang
masih muda. Selain itu pada sel tangkai daun seledri ini juga memiliki
cambium, floem, xylem, rongga protoxylem, seludang serat, ikatan
pembuluh, dan tersebar dalam empelur kolenkim. Di antara berkas-berkas
pengangkut trersebut juga dikelilingi oleh jaringan parenkim. Di daerah
parenkim kortek banyak ditemukan variasi sel parenkim baik sebagai
parenkim penimbun, sel batu, dan juga parenkim kelenjar. Sel-sel kolenkim
pada sel tangkai daun seledri ini dinding selnya dapat menebal dengan
lignin sehingga menyerupai sklerenkim. Kolenkim berkembang dari sel-sel
memanjang yang mirip prokambium yang terbentuk dari awal diferensiasi
jaringan dasar.
2. Kulit Biji Endokarpium Kelapa (Cocos nucifera)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Arecidae
Ordo : Arecales
Familia : Arecacea / Palmae
Genus : Cocos
Species : Cocos nucifera L.
Sumber : Cronquist (1981)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium
biologi pada sel kulit bii endokaroium kelapa (Cocos nucifera) di bawah
mikroskop cahaya dengan perbesaran 400 x , dapat diketahui bahwa
terdapat jaringan sklerenkim yang berbentuk brakhisklereida (sel batu).
Menurut literatur yang telah dijelaskan oleh Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si
dalam buku beliau yang berjudul Anatomi Tumbuhan (2015:52),
Brakhisklereida memiliki ciri-ciri sel batu yang berkelompok atau soliter
yang terdapat pada kulit biji c.nucifera. Selain itu, sklereid pada C.nucifera
ini mengalami sel sklereid yang dapat terkumpul menjadi jaringan yang
keras di antara jaringan yang lunak.

3. Batang Jagung (Zea mays)


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Liliopsida
Sub classis : Commelinidae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Zea
Species : Zea mays
Sumber : Cronquist (1981)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium
biologi pada sel batang jagung (Zea mays), di bawah mikroskop cahaya
dengan perbesaran 100x dan 400x, dapat diketahui bahwa terdapat
sklerenkim dan juga terdapat berkas pengangkut yang bertipe berkas
vaskuler kolateral tertutup yang biasanya dikelilingi oleh sarung berkas
vaskuler yang sklerenkimatis yang disebut dengan jaringan fibrovaskuler.
Letak jaringan pengangkut pada sel batang jagung ini tersebar dan tidak
teratur, tidak seperti pada batang dikotil yang memiliki letak berkas
pengangkut yang teratur. Pada floem yang terdapat pada sel batang jagung
ini sangat khusus yaitu adanya unsur tapisan, dimana pada unsur tapisan
terdapat bidang tapisan yang merupakan dinding dengan lubang-lubang.
Lubang-lubang tersebut dilalui oleh protoplas yang menggabungkan diri
dari bagian lateral atau vertikal buluh tapisan. Pada bidang tapisan inilah,
masing-masing lubang biasanya mengandung kalosa yang merupakan suatu
karbohidrat. Selain itu, pada floem ini juga mengandung bermacam-macam
substansi ergastik berupa tepung, tanin, dan kristral.

4. Batang Pacar Air (Impatiens balsamina)


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Classis : Magnoliopsida
Ordo : Encales
Familia : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Species : Impatiens balsamina
Sumber : Cronquist (1981)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan di laboratorium
biologi pada sel batang pacar air (Impatiens balsamina) di bawah mikroskop
cahaya dengan perbesaran 400 x, dapat diketahui bahwa terdapatnya
sklerenkim dan epidermis. Epidermis pada sel batang pacar ini terdapatnya
pada bagian luar batang. Selain itu juga terdapat jari-jari empulur, dimana
salah satu empulur itu terdapat di bagian tengah batang. Sehingga pada
tanaman batang pacar air ini di atas batangnya disebut batang dikotil. Pada
sel batang pacar air ini sklerenkimnya berbentuk seperti brakhisklereid (sel
batu), dimana mempunyai ciri-ciri dengan bentuk sel yang membulat.
Adapun ciri-ciri dan sifat jaringan mekanik yaitu pada jaringan
Kolenkim merupakan sel-sel yang masih hidup, mengalami penebalan
dinding terutama pada bagian sudutnya contoh pada batang seledri termasuk
kolenkim angular, terdiri atas bahan selulosa, pektin dan hemiselulosa dan
tidak ada lignin, ditemukan pada batang, daun, bunga, dan buah serta akar
dan berfungsi sebagai penguat jaringan agar tidak mudah rapuh ketika
diterpa angin lalu pada jaringam Skelerenkim merupakan sel-sel yang telah
mati, biasanya ditemukan pada bagian tumbuhan yang sudah tidak
mengadakan pertumbuhan, terdiri atas serabut sklerenkim dan sklereid (sel
batu) yang berasal dari bahan lignin (zat kayu), skelereid memiliki bentuk
yang tidak beraturan dan berukuran pendek, ditemukan pada tempurung
kelapa atau endocarpium kelapa yang memiliki sklereid dan berfungsi
sebagai penguat bagian tumbuhan yang sudah dewasa atau tidak mengalami
pertumbuhan serta sebagai pelindung bagi bagian dalam seperti pada
tempurung kelapa tadi.
Adapun ciri-ciri dan sifat jaringan pengakut yaitu pada jaringan Xilem
merupakan pengakut zat makanan dengan menyalurkan air dan mineral dari
akar menuju ke daun & bagian tubuh yang lainnya. Xilem tersusun dari
yaitu sebagai berikut :
1. Unsur trakeal, yang terdiri dari trakea (sel-sel berbentuk tabung) &
trakeid (sel-sel yang panjang dengan lubang pada dinding selnya).
2. Serabut xilem, yang terdiri dari sel panjang dengan ujung yang
meruncing.
3. Parenkim xilem, yang berisi zat seperti cadangan makanan, tanin &
kristal.
Floem merupakan pengangkut zat makanan dari hasil fotosintetis dari
daun ke seluruh tubuh kemudian pada jaringan Floem terususun sebagai
berikut :
1. Bulu tapis, yaitu yang bentuknya tabung dengan ujung yang
berlubang
2. Sel pengiring, yaitu yang bentuknya silinder dengan plasma yang
dekat
3. Serabut floem, yaitu yang bentuknya panjang dengan ujung berimpit
& dindingnya tebal
4. Parenkim floem, yaitu selnya hidup, mempunyai dinding primer
dengan lubang kecil yang disebut noktah. Parenkim floem berisi tepung,
damar, atau kristal.
Kolenkim menjadi jaringan mekanik yang disesuaikan teristimewa
untuk memperkuat, menunjang atau menyokong organ muda yang sedang
tumbuh maupun pada herba agar dapat berdiri dengan kokoh dan kuat.
Dinding yang tebal dan erat membuatnya menjadi penyokong yang kuat.
Keistimewaan pertumbuhan dan strukturnya dindingnya menyebabkan
mampu menyesuaikan terhadap pemanjangan organ tanpa kehilangan
kekuatan.

VI. KESIMPULAN
1. Jaringan pada tumbuhan terdiri atas jaringan meristem dan jaringan
dewasa. Jaringan meristem terdiri dari meristem primer dan sekunder.
Sedangkan jaringan dewasa tersusun atas epidermis, jaringan parenkim,
jaringan penguat, jaringan gabus  dan jaringan pengangkut.
2. Jaringan mekanik pada tumbuhan terbagi menjadi 2, yaitu kolenkim dan
sklerenkim.
3. Jaringan pengangkut pada tumbuhan terbagi menjadi 2, yaitu xilem dan
floem.
4. Jaringan mekanik terdapat pada preparat endokarpium kelapa, tangkai
daun seledri serta batang jagung.
5. Jaringan pengangkut terdapat pada preparat pacar air.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri., Muchyar dan M. Arsyad. 2020. Penuntun Praktikum
Anatomi Tumbuhan. Banjarmasin : Kewirausahaan Batang PMIPA
FKIP ULM.

Amintarti, Sri. 2015. Bahan Ajar : Anatomi Tumbuhan. Banjarmasin :


PMIPA ULM.

Cronquist, A. (1981). An Integrated System of Classification of Flowering


Plants. 1981:. New York: Columbia University Press.

Mahdiyaturrahmah. 2012. Penampang Melintang Batang Daun dan Akar.


https://mahdiyaturrahmah.wordpress.com/2012/12/08/penampang-
melintang-batang-daun-dan-akar-2/ (Diakses pada tanggal 3 Januari
2021).

Kim, Kimeni. 2012. Jaringan Skelerenkim. http://kimeni-


kim.blogspot.co.id/2012/11/jaringan-sklerenkim.html?m=1 (Diakses
pada tanggal 3 Januari 2020).

Siswanto, Hadi. 2011. Praktikum


8 .https://www.scribd.com/doc/100877377/Praktikum-8 (Diakses
pada tanggal 3 Januari 2021).
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

PRAKTIKUM IX
AKAR DAN BATANG
PRAKTIKUM IX

Topik : Akar dan Batang


Tujuan : 1. Untuk mengetahui jaringan-jaringan penyusun batang
2. Untuk mengetahui jaringan-jaringan penyusun akar
Hari/tanggal : Selasa/29 November 2020
Tempat : Daring

I. ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Baki
2. Silet
3. Kaca benda dan kaca penutup
4. Mikroskop
5. Gelas kimia dan Pipet tetes Bahan
6. Jarum pentul
7. Mikroskop
Bahan :

A. Pengamatan pada batang:


1. Batang pacar air (Impatiens balsamina)
2. Batang labu (Cucurbita moschata)
3. Batang jagung (Zea mays)
B. Pengamatan pada akar:
1. Akar jagung (Zea mays)
2. Preparat jadi akar muda arbei
3. Preparat jadi akar dewasa arbei

II. CARA KERJA


1. Siapkan alat dan bahan
2. Sayat secara melintang semua bahan-bahan setipis mungkin pucuk
Impatiens balsamina, pucuk Hibiscus rosa-sinensis, dan pucuk
Cucurbita moschata.
3. Masing-masing sayatan diletakkan di atas kaca benda dan diberi
setetes air kemudian tutup dengan kaca penutup.
4. Amati masing-masing preparat di bawah mikroskop, kemudian
gambar hasil pengamatan dan beri keterangan.
5. Amati preparat jadi akar muda arbei dan akar dewasa arbei di
bawah mikroskop.
6. Gambar hasil pengamatan dan beri keterangan.

III. TEORI DASAR


Batang adalah bagian sumbu tumbuhan yang pada umumnya
tegak, berada di atas tanah dan menjadi tempat melekatnya daun serta
struktur refroduktif. Batang dibagi menjadi buku yakni tempat
melekatnya daun dan ruas yakni bagian batang di antara dua buku yang
berurutan. Pada dasarnya struktur batang berbeda dengan struktur akar,
perbedaan tersebut adalah terutama dari susunan xilem dan floem. Pada
akar letak berkas xilem primer dan floem primer adalah pada radius
jari-jari tidak sama yang letaknya bergantian. Sedang pada batang
letaknya berhadapan dalam satu radius atau kolateral. Xilem akar
senantiasa exsarch sedang pada xilem batang bisanya endarch.
Maristem pertama pada batang dibentuk pada saat embrio berkembang.
Embrio yang telah berkembang biasanya memiliki sumbu yang
tersusun dari hipokotil dan akar. Pada ujung atas sumbu terdapat
sehelai kotiledon atau lebih sesuai primordium pucuk yang terdapat di
atas tempat kotiledon melekat (Suradinata, 1998).

Akar pertama dari tumbuhan berbiji berkembang dari maristem


apek pada ujung akar embrio, akar tersebut disebut akar tunggang atau
akar utama. Pada monokotil akar tunggang hidupnya relatif singkat dan
maristem akar dibentuk oleh akar-akar adventif yang terbentuk pada
batang. Akar-akar tersebut bercabang-cabang membentuk system yang
homogen yang disebut dengan akar serabut. Sistem akar tunggang pada
umumnya menembus tanah lebih dalam dari pada sistem akar serabut.
Pada akar tunggang dan cabang-cabangnya yang membesar terjadi
pertumbuhan sekunder, tetapi pada akar yang kecil yang berfungsi
untuk penyerapan tidak terjadi pertumbuhan akar sekunder. Organisasi
bagian dalam dari akar bervariasi tetapi pada umumnya lebih sederhana
dari pada batang. Akar merupakan suatu struktur sumbu tanpa organ-
organ daun dan tidak terbagi menjadi sumbu dan ruas. Penampang
melintang akar pada keadaan tumbuh primer menunjukkan perbedaan
yang jelas antara ke tiga system jaringan, yaitu epidermis (system
jaringan dermal), korteks (system jaringan dasar), dan system jaringan
pembuluh. Jaringan pembuluh membentuk silinder yang mampat atau
jika ada empelur merupakan silinder yang kosong. Fenomena
perkembangan awal akar dalam embrio adalah organisasi meristem
apek akar pada ujung bawah pada hipokotil, kadang-kadang tidak
hanya meristem tetapi juga akar embrio, yaitu radikula yang terdapat
dalam embrio. Setelah biji berkecambah meristem apek akar
membentuk akar utama (Suradinata, 1998).
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Batang
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

5 1 Keterangan :

3 1. Trikoma
2. Epidermis
3. Ikatan pembuluh

2 4. Floem
4
5. Xilem

(Sumber : Dokumentasi pribadi. 2020)

C. Gambar Literatur

(Sumber : Linnbenton.2013)
2. Batang

A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

Keterangan :
1
1. Rongga
2 2. Floem
3
3. Xilem

(Sumber : Dokumentasi pribadi. 2020)

C. Gambar Literatur

Keterangan :
4 5 2
1. Trikoma
2. Epidermis
3. Floem
4. Xilem
3 1
5. Rongga
3. Batang jagung
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan
Keterangan :
2 1. Epidermis

1 2. Kambium
3. Xilem
4 4. Floem
3

(Sumber : Dokumentasi pribadi. 2020)

C. Gambar Literatur
4. Akar jagung
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

Keterangan :
1
1. Kambium
2. Xilem
3. Floem

2
3

(Sumber : Dokumentasi pribadi. 2020)

C. Gambar Literatur

Keterangan :

1. Rambut akar
2. Epidermis
3. Korteks
4. Endodermis
5. Perisikel
6. Floem
(Sumber : Nursarah. 2015)
7. Kambium
8. Xilem
9. Empulur
5. Akar arbei muda
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

Keterangan :
1
2
1. Epidermis
2. Empulur
3. Floem

3 4 4. Xilem

(Sumber : Dokumentasi pribadi. 2020)

C. Gambar Literatur
Keterangan :
1 2
1. Epidermis
2. Empulur
3. Floem
4. Xilem
3 4
6. Akar arbei dewasa
A. Gambar Pengamatan

B. Foto Pengamatan

4 1 Keterangan :

1. Epidermis
2. Berkas pembuluh
3. Xilem
3 2 4. Floem

(Sumber : Dokumentasi pribadi. 2020)

C. Gambar Literatur

2 Keterangan :
1
1. Epidermis
2. Berkas pembuluh
3. Xilem
4. Floem

4 3
V. ANALISIS DATA
Berdasarkan praktikum 9 kali ini yang berjudul akar dan batang yang
dilaksanakan dengan daring dikarenakan situasi darurat saat ini yang
mengharuskan kita untuk melaksanakannya secara jarak jauh. Dalam
praktikum kali ini batang dijadikan objek penelitian yakni batang pacar air,
batang jagung dan batang labu. Untuk pengamatan akar kami menggunakan
preparat jadi seperti akar jagung, akar muda arbei dan akar dewasa arbei.
1. Batang pacar air
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Geraniales
Famili : Balsaminaceae
Genus : Impatiens
Spesies : Impatiens balsamina L.
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Tanaman pacar air termasuk tanaman monokotil karena berkas
pembuluhnya menyebar dan memiliki akar serabut. Adapun xylem /
pembulu kayu dan floem / pembuluh tapis pada batang pacar air yaitu
sebagai berikut :
a. Xilem / pembuluh kayu : terbagi menjadi xylem primer dan xylem
sekunder. Xylem di sini berfungsi membawa air dan mineral dari
akar ke atas, selnya sesungguhnya mati, tetapi dindingnya masih
menyediakan sistem pipa air mikroskopis. Terdiri atas trakeid dan
unsur pembuluh.
b. Floem / pembuluh tapis : jaringan hidup dengan sel-sel penghantar
makanan yang tersusun menjadi saluran yang mendistribusikan gula,
asam amino, dan zat-zata hara organik lainnya ke seluruh bagian
tumbuhan, tidak mempunyai nukleus, di sisinya terdapat sel
pendamping yang bernukleus.
Struktur batang dikotil memiliki pembuluh kayu bertipe bikolateral
dimana pembuluh xilem diapit oleh dua floem dan tipe stelenya ialah
eustele.
Cucurbita mempunyai berkas pangangkut bikolateral. Epidermis
uniseriate dan di bawahnya terdapat kolenkim dan klorenkim.
Klorenkim terdapat di bawah epidermis yang mempunyai stomata.
Endodermis mengandung tepung. Ciri khas batang dikotil merambat
adalah terdapatnya sklerenkim di luar berkas pengangkut (Ahya dan
Alifah. 2013).

2. Batang waluh
Kindom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucurbita
Species : Cucurbita moschata Durch.
(Sumber : Puspita. 2012)
Berdasarkan hasil pengamatan, pada batang waluh (Cucurbita
moschata) di  bawah mikroskop dengan perbesaran 10x10 atau 100 kali
tipe stele pada  batang Cucurbita moschata adalah tipe haplostele Pada
batang waluh  bentuknya seperti berbentuk membulat besar dan kecil.
Penampang paradermal batang Cucurbita moschata Durch. terlihat
jaringan  Epidermis, Kolenkim, Korteks, Seludang Pati, Jaringan
Pengangkut yang  terdiri dari Floem luar, Xilem dan Floem dalam,
Trikoma, dan Sel Tanin Pada bagian korteks preparat batang
paradermal berisi pati yang disebut  seludang pati, tipe batang
bikolateral dimana pembuluh xilem diapit oleh dua floem.
Batang terdiri dari tiga sistem jaringan, yakni jaringan dermal,
jaringan dasar dan jaringan pembuluh. Pada jaringan korteks yang
mengandung parenkim, biasanya berisi kloroplas. Pada batang
Coniferae dan Angiospermae tidak ditemukan endosperma yang terlihat
secara morfologis. Pada batang muda satu atau beberapa lapisan
terdalam dari korteks dapat berisi pati. Karena hal inilah disebut
seludang pati (Gambar 3.1.4). Menurut Hidayat (1995: 57), bahwa pati
merupakan bahan cadangan makanan yang paling sering terdapat pada
tumbuhan dan ditemukan dalam endosperm, keeping biji, umbi dan
buah (Sahara. 2013).
Ukuran dan bentuk sel kolenkim beragam. Sel dapat berupa prisma
pendek atau bisa pula panjang seperti serat dengan ujung meruncing,
namun antara kedua bentuk tersebut terdapat bentuk peralihan. Menurut
ketebalan didiningnya, jaringan kolenkim dibedakan tiga jenis. Yaitu
kolenkim sudut, kolenkim papan, dan kolenkim lakuna. Cucurbita
moschata merupakan salah satu contoh tumbuhan yang memiliki
kolenkim sudut (angular kolenkim). Menurut Mulayni (2006: 116),
bahwa penebalan dinding sel kolenkim ini terjadi pada sudut-sudut sel.
Pada penampang melintangnya, penebalan ini tampak terjadi pada
tempat bertemunya tiga sel atau lebih, seperti yang terdapat pada
tangkai Rumex, Vitis, Coleus, Cucurbita, Morus, Beta dan pada batang
Solanum tuberosum dan Atropa belladonna (Sahara.2013).
Cucurbita moschata merupakan salah satu tumbuhan dikotil
memanjat. Pada tumbuhan dikotil memanjat, jari-jari empulurnya yang
lebar membuat penampakan xilem sekunder seolah-olah terbagi.
Kambium fasikular dan kambium interfasikular dibentuk dan
berkesinambungan. Menurut Hidayat (1995: 190-191), hal ini
disebabkan karena kambium interfasikuler membentuk parenkim saja
sehingga jari-jari empulur yang bersangkutan tetap tampak jelas dan
menjadi lebar. Protofloem membentuk serat setelah jaringan itu
berhenti berfungsi. Kelompok serat juga terdapat dalam floem
sekunder. Korteks terdiri dari kolenkim dan parenkim, keduanya
dengan kloroplas. Lapisan terdalam korteks adalah seludang pati.
Empulur terdiri dari parenkim (Sahara.2013).
3. Batang jagung
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Terdapat sel sklerenkim serta jaringan pengangkut. Pada foto
pengamatan terlihat xylem dan floem. Xylem berukuran lebih besar
dibandingkan floem. Terlihat juga epidermis dan jaringan parenkim.
Letak jaringan pengangkut pada batang jagung ini tersebar dan tidak
teratur, tidak seperti pada batang tanaman dikotil yang letak floem dan
xilemnya teratur. Sehingga berkas pengankut pada batang jagung
termasuk dalam tipe berkas pengangkut kolateral tertutup.
Berkas pengangkut pada tumbuhan tersusun oleh jaringan xilem
yang berfungsi sebagai saluran pengangkut air dan zat-zat hara akar ke
bagian tubuh yang lain, serta jaringan floem yang berfungsi sebagai
pengangkut hasil asimilasi dari daun ke tempat-tempat penyimpan
makanan cadangan dan bagian tubuh lainnya. Sel-sel penyusun jaringan
xilem berdinding tebal dan keras karena telah mengalami lignifikasi
(penebalan sekunder dengan zat lignin), sedangkan sel-sel penyusun
jaringan floem lebih lunak dan tipis, meskipun telah mengalami
pertumbuhan menebal sekunder dengan penebalan dinding dari
selulosa. Struktur batang monokotil merupakan tipe kolateral tertutup
dan tidak memiliki kambium.
Penampang melintang batang tanaman jagung dengan pembesaran
mikroskop 2,5 × 10 dari Kelurahan Kayu Putih Kecamatan Oebobo
Kota Kupang terlihat susunan jaringan kolenkim pada batang
tanaman jagung karena kolenkim berfungsi untuk melindungi
organ muda sedangkan sklerenkim belum terlihat jelas karena
sklerenkim ada pada batang untuk menunjuang organ dewasa
sedangkan jagung yang disayat masih muda sehingga jaringan
kolenkim bisa terlihat jelas dibawah epidermis. Kelompok sel
kolenkim dan sklerenkim diperlukan untuk menyokong secara
mekanik. Penelitian Khoirunisa (2014) pada tanaman dikotil
menjelaskan bahwa kolenkim merupakan jaringan yang memberi
kekuatan yang bersifat sementara pada tumbuhan. Kolenkim juga
terdapat pada tumbuhan yang masih muda dan tumbuhan basah,
sedangkan sklerenkim jaringan penguat yang bersifat permanen.
Jika tumbuhan sudah tua kolenkim akan diganti dengan
sklerenkim. Sel-sel penyusun sklerenkim adalah sel-sel mati dan
mempunyai penebalan dinding yang tebal dan merata. Susunan
selanjutnya yaitu terlihat jaringan pembuluh angkut (xilem dan floem)
yang terlihat jelas berada berdekatan dan tersebar tidak beraturan,
dan paling banyak tersebar dekat dengan bagian epidermis. Karena
pada batang tumbuhan monokotil terdapat berkas pembuluh yang
menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya antara xilem dan
floem tidak ditemukan kambium. Nurhayati dkk (2016),
menambahkan bahwa pada tanaman monokotil famili Araceae berkas
pembuluh lebih banyak ditemukan dibagian korteks dekat epidermis
atau daerah perifer batang (Lamahala, dkk. 2018).

4. Akar jagung
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Akar yang tersusun atas sel-sel yang rapat satu sama lain tanpa
ruang antar sel, berdinding tipis, memanjang sejajar sumbu akar, pada
penampang melintang membentuk membulat. Di bagian ujung tempat
terjadinya penyerapan, dinding sel epidermis terdiri dari bahan selulosa
dan pectin yang menyerap air.
Korteks terdiri atas lapisan-lapisan sel berdinding tipis dan tidak
tersusun rapat, sehingga mempunyai banyak ruang antarsel yang
penting untuk pertukaran zat atau dapat pula untuk menyimpan
cadangan makanan (Nurhayati, dkk, 2014). 2) Endodermis lapisan
pemisah korteks dengan stele, mengalami penebalan zat gabus (suberin)
dan disebut sel U. Fungsinya sebagai pengatur jalannya larutan yang
diserap dari tanah masuk ke silinder pusat. Stele ialah Silinder Pusat,
tersusun atas jaringan perisikel, berkas pengangkut, dan empulur.
Perisikel berfungsi membentuk cabang akar dan kambium gabus,
Berkas pengangkut (xilem dan floem) dan Empulur, tersusun atas
jaringan parenkim berfungsi untuk menyimpan cadangan makanan
(Nursarah. 2015).

5. Akar Arbei muda


Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Rubus
Spesies : Rubus reflexus Ker
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Jaringan penyusun akar yang terdiri atas epidermis sebagai jaringan
terluar dengan susunan sel yang rapat, di sebelah dalamnya terdapat
korteks yang terdiri dari selapis sel yang tipis dan sel-selnya tidak
tersusun rapat. struktur akar muda arbei hampir sama dengan akar
jagung. Pada bagian tepi silinder pembuluh muncul akar lateral dimana
akar lateral ini berasal dari perisikel.
Nampak jelas terlihat adalah silinder pembuluh dan sel-sel
parenkim pada bagian korteks akar. Pada pengamatan nampak jelas
terlihat xilem dan floem. Berdasarkan letaknya xylem pada akar arben
ini merupakan xylem exarch karena letak protoxilem disebelah luar dari
pada metaxilem. Kemudian di dalamnya lagi tedapat endodermis yang
merupakan jaringan pemisah antar korteks dan stele. Stele pada akar
muda arben hanya tampak seperti tanda kali. Jaringan yang menyusun
stele selain perisikel dan berkas pembuluh angkut juga terdapat jaringan
parenkim.
Sistem jaringan pembuluh pada ketiga sayatan akar menunjukkan
sistem umum jaringan pembuluh pada akar monokotil. Sistem jaringan
pembuluh terdiri dari berkas-berkas pembuluh yang tersusun secara
radial yaitu xilem yang terletak bergantian dengan floem. Menurut
Hidayat (1995), pola ini disebut poliark dengan empulur di bagian
tengah (Linda, dkk. 2016).

6. Akar arbei dewasa


Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Famili : Rosaceae
Genus : Rubus
Spesies : Rubus reflexus Ker
(Sumber : Plantamor.com. 2021).
Penampang melintang akar dewasa arbei, dilihat dari bentuknya
hampir sama dengan akar muda arbei. Tetapi pada akar dewasa arbei
tidak terlihat xilem dan floemnya, daerah interfaskuler dan epidermis.
Kemudian, terlihat epidermis sebagai jaringan terluar dengan susunan
sel yang rapat, di sebelah dalamnya terdapat korteks yang terdiri dari
selapis sel yang tipis dan sel-selnya tidak tersusun rapat. Kemudian di
dalamnya terdapat endodermis yang merupakan jaringan pemisahan
korteks dan stele. Selain itu, terlihat juga adanya protoxilem dan
metaxilem.
pada penampang lintang akar terlihat terletak pada bagian paling
dalam dengan bertipe radial. Tipe berkas pengangkut radial yaitu tipe
berkas pengangkut di mana xilem dan floem tersusun berselang-seling
bergantian menurut arah jari-jari lingkaran. Hal ini sesuai dengan
pendapat Fried dan Hademenos (2006) bahwa pada irisan melintang
akar herba dikotil umumnya xilem berdinding tebal tersusun dalam
bentuk melintang seperti palang di bagian tengah silinder fibrovaskular,
sedangkan sel-sel floem terletak di sudut-sudut bagian yang melintang
tersebut (Hapsari, dkk. 2018).

VI. SIMPULAN
1. Pada batang dikotil terdapat kambium intervasikuler dan berkas
pengangkut termasuk  kolateral terbuka sedangkan pada batang
monokotil tidak terdapat kambium vasikuler dan  berkas pembuluh
kolateral tertutup. 
2. Pada batang waluh terdapat tipe berkas pengangkut bikolateral yakni
terdapat dua floem  yang mengapit xilem. 
3. Akar dikotil mempunyai bentuk jari-jari xilem 4 yang diwakili oleh
akar arbei muda dan arbei dewasa 
4. Akar monokotil mempunyai bentuk jari-jari xilem polyarch yang
diwakili oleh akar  jagung memiliki banyak xilem. 
5. Berkas pengangkut tipe radial xilem dan floem bergantian membentuk
jari-jari lingkaran
6. Batang Impatien balsamina jaringan penyusunnya berupa epidermis,
korteks, endodermis,  serta adanya jaringan pengangkut berupa floem
dan xilem yang dipisahkan oleh kambium.  Bertipe eustele dan kolateral
terbuka karena termasuk dikotil. 
7. Batang Cucurbita moschata jaringan penyusunnya berupa epidermis,
korteks,  endodermis, serta adanya jaringan pengangkut berupa floem
dan xilem yang dipisahkan  oleh kambium. Bertipe eustele dan kolateral
terbuka karena termasuk dikotil. 
8. Batang Zea mays jaringan penyusunnya berupa epidermis dan
endodermis, serta adanya  jaringan pengangkut berupa floem dan xilem
yang tidak dipisahkan oleh kambium. Bertipe eustele dan kolateral
terbuka karena termasuk dikotil. Bertipe ataktostele dan  kolateral
tertutup karena termasuk monokotil. 
9. Preparat jadi Fragaria sp. muda jaringan penyusunnya berupa
epidermis, korteks,  endodermis, serta adanya jaringan pengangkut
berupa floem dan xilem yang tidak  dipisahkan oleh kambium. Bertipe
ataktostele dan kolateral tertutup karena termasuk  monokotil. 
10. Preparat jadi Fragaria sp. dewasa jaringan penyusunnya berupa
epidermis, korteks,  endodermis, serta adanya jaringan pengangkut
berupa floem dan xilem yang tidak  dipisahkan oleh kambium. Bertipe
ataktostele dan kolateral tertutup karena termasuk  monokotil. 
11. Akar Zea mays jaringan penyusunnya berupa epidermis, korteks,
endodermis, serta  adanya jaringan pengangkut berupa floem dan xilem
yang tidak dipisahkan oleh  kambium. Bertipe ataktostele dan kolateral
tertutup karena termasuk monokotil.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Arwinda, Ahya dan Yenda, Alifah. (2013). BATANG. Diakses melalui
https://www.academia.edu/21673810/makalah_batang_anatomi_tumb
uhan (di akses pada tanggal 3 januari 2021).
. (2021). PACAR AIR (Impatiens balsamina). Diakses melalui
http://plantamor.com/species/info/impatiens/balsamina (di akses pada
tanggal 3 januari 2021).
Puspita, Nina. (2012). PENGARUH EKSTRAK ETANOL BIJI LABU
KUNING (Cucurbita moschata) TERHADAP KUALITAS
SPERMATOZOA MENCIT (Mus musculus) SETELAH PEMBERIAN
2-METOKSIETANOL. Skripsi thesis, UNIVERSITAS AIRLANGGA.
Diakses melalui http://repository.unair.ac.id/25650/14/14.%20Bab
%202.pdf (di akses pada tanggal 3 januari 2021).
. (2021). JAGUNG (Zea  mays). Diakses melalui
http://plantamor.com/species/info/zea/mays (di akses pada tanggal 3
januari 2021).
. (2021). ARBEI HUTAN (Rubus reflexus). Diakses melalui
http://plantamor.com/species/info/rubus/reflexus (di akses pada
tanggal 3 januari 2021).
Sahara, winda. (2013). “ANATOMI DAUN LABU (Cucurbita Moscahata
Durch.)”. Diakses melalui
https://www.academia.edu/5358297/Laporan_Mikroteknik_Struktur_d
an_Anatomi_Daun_Cucurbita_moschata (di akses pada tanggal 3
januari 2021).
Nursarah, Lailul Hidayah. (2015). LAPORAN INDIVIDU PRAKTIK
PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) UNY 2015 LOKASI SMAN 1
NGAGLIK. Diakses melalui https://eprints.uny.ac.id/36107/1/LAILUL
%20HIDAYAH%20N.pdf (diakses pada tanggal 3 januari 2021).
Malak, B. I. (2017). IDENTIFIKASI ANATOMI TUMBUHAN SIRIH
HUTAN (Piper aduncum L). Biolearning Journal, 4(2), 49-54.
Lamahala, M. H., & Lamen, S. (2018). Pengembangan Media Jaringan
Epidermis Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Yang Tumbuh Di Kota
Kupang Sebagai Sumber Belajar Tambahan Pembelajaran IPA SD
Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, 5(2),
15-25.
Linda, R., Nurhayati, & Mukarlina (2016). Struktur Anatomi Akar, Batang
dan Daun Anthurium plowmanii Croat., Anthurium hookeri Kunth.
dan Anthurium plowmanii × Anthurium hookeri.
Hapsari, A. T., Darmanti, S., & Hastuti, E. D. (2018). Pertumbuhan Batang,
Akar dan Daun Gulma Katumpangan (Pilea microphylla (L.)
Liebm.). Buletin Anatomi dan Fisiologi (Bulletin of Anatomy and
Physiology), 3(1), 79-84.
LAPORAN PRAKTIKUM VII
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“JARINGAN MERISTEM DAN JARINGAN PARENKIM”

Disusun oleh:
Nama
NIM
Kelas A/B

Asisten Praktikum:
Nur Aulia Rahmah/M. Nofiar Hadi
Muhammad Rio Fadil/Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
DESEMBER 2020
LAPORAN PRAKTIKUM VIII
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“JARINGAN MEKANIK DAN JARINGAN PENGANGKUT”

Disusun oleh:
Nama
NIM
Kelas A/B

Asisten Praktikum:
Nur Aulia Rahmah/M. Nofiar Hadi
Muhammad Rio Fadil/Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
DESEMBER 2020
LAPORAN PRAKTIKUM IX
ANATOMI TUMBUHAN
(ABKC 2301)

“AKAR DAN BATANG”

Disusun oleh:
Nama
NIM
Kelas A/B

Asisten Praktikum:
Nur Aulia Rahmah/M. Nofiar Hadi
Muhammad Rio Fadil/Alifia Novariani

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si.
M. Arsyad, S.Pd., M.Pd.
Amalia Rezeki, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
DESEMBER 2020