Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI LEMBAGA FARMASI TNI ANGKATAN LAUT


Drs. MOCHAMAD KAMAL JAKARTA PUSAT
PERIODE 18 JANUARI - 29 JANUARI 2021

Disusun Oleh :
APOTEKER ANGKATAN XXXX

Muhammad Rizky 20340056 Maisarah 20340077


Muhamad Rifai 20340057 Khalda Nisrina 20340098
Kurnia Cahya S. 20340064 Yupita eka milwanti 20340115
Fildzah Luthfia 20340070 Alma Pratama Putri 20340149
Dessinta Alfiana 20340074

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA
2021
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1799/MENKES/PER/XII/2010, industri farmasi adalah badan usaha yang memliki
izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegitan pembuatan obat atau bahan
obat meliputi seluruh tahapan kegiatan dalam menghasilkan obat mulai dari
pengadaan bahan awal dan bahan pengemas, produksi, pengemasan, pengawasan
mutu, dan pemastian mutu sampai diperoleh obat untuk didistribusikan.
Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan
patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan,
pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi untuk manusia.
Clopidogrel merupakan generasi kedua dari golongan thienopyridine, yang
bekerja menghambat Adenosine Diphosphate (ADP) dengan mengikat reseptor
P2Y12 pada permukaan trombosit. Clopidogrel merupakan prodrug yang
dimetabolisme di hepar dan hanya sekitar 15% saja yang menjadi metabolit aktif.
Metabolit aktif clopidogrel ini akan berikatan secara irreversible dengan reseptor
P2Y12 dalam mencegah aktivasi dan agregasi trombosit yang diinduksi oleh
ADP. Clopidogrel sudah digunakan secara luas. Clopidogrel sangat bermanfaat
dalam mengobati dan mencegah penyakit terkait trombosit.
Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang banyak diproduksi dan disukai
oleh masyarakat karena tablet mempunyai beberapa keuntungan diantaranya
adalah ketepatan dosis, mudah cara pemakaiannya, relaitf stabil dalam
penyimpanan, mudah dalam transportasi dan distribusi kepada konsumen, serta
harganya relatif murah.
Dalam pembuatan tablet clopidogrel, harus mengikuti suatu pedoman yang
menyangkut seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu atau yang disebut
dengan CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik) untuk menjamin bahwa produk
obat yang dibuat memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan
tujuan penggunaannya
1.2 Tujuan
a. Memahami formula yang cocok dengan bahan baku clopidogrel
b. Memahami cara pembuatan dan produksi tablet salut clopidogrel
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tablet
Tablet adalah sediaan padat yang mengandung bahan obat dengan ataupun
tanpa bahan pengisi. Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan
merupakan bentuk sediaan yang paling banyak digunakan. Tablet dapat dibuat
dengan berbagai ukuran, bentuk dan penandaan pemukaan tergantung pada desain
cetakan. Tablet berbentuk kapsul umumnya disebut kaplet (Depkes, RI, 1995:4).
Tablet dicetak dari serbuk kering, kristal atau granulat, umumnya dengan
perubahan bahan pembantu, pada mesin yang sesuai, dengan menggunakan
tekanan tinggi. Tablet dapat memilih bentuk silinder, kubus, batang, atau cakram,
serta bentuk seperti telur atau peluru. Garis tengah tablet pada umumnya 5-17
mm, sedangkan bobot tablet 0,1-1 g (Voigt, R., 1994:164).
Macam-macam tablet antara lain (Kemenkes RI, 2014:57) :
a. Tablet Kempa
Tablet kempa dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada
serbuk atau granul menggunakan cetakan baja. Tablet dapat dibuat dalam
berbagai ukuran, bentuk, dan penandaan permukaan tergantung pada
desain cetakan.
b. Tablet Cetak
Tablet cetak dibuat dengan cara menekan massa serbuk lembab
dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Kepadatan tablet
tergantung pada ikatan kristal yang terbentuk selama proses pengeringan
selanjutnya dan tidak tergantung pada kekuatan tekanan yang diberikan.
c. Tablet Triturat
Merupakan tablet cetak atau kempa berbentuk kecil, umumnya
silindris,digunakan untuk memberikan jumlah terukur yang tepat untuk
peracikan obat.
d. Tablet Hipodermik
Tablet cetak yang dibuat dari bahan yang mudah larut atau
melarut sempurna dalam air, umumnya dulu digunakan untuk membuat
sediaan injeksi hipodermik.
e. Tablet Bukal
Tablet bukal digunakan dengan cara meletakkan tablet diantara pipi
dan gusi.
f. Tablet Sublingual
Tablet sublingual digunakan dengan cara meletakkan tablet
dibawah lidah, sehingga zat aktif diserap secara langsung melalui
mukosa mulut. Tablet nitrogliserin merupakan salah satu obat yang
mudah diserap dengan cara ini.
g. Tablet Effervessent
Tablet efervesen yang larut, dibuat dengan cara dikempa. Selain
zat aktif, tablet efervesen juga mengandung campuran asam (asam sitrat,
asam tartrat) dan natrium bikarbonat, yang jika dilarutkan dalam air akan
menghasilkan karbon dioksida. Tablet harus disimpan dalam wadah
tertutup rapat atau dalam kemasan tahan lembab, dan pada etiket tertera
tablet tidak untuk langsung ditelan.
h. Tablet Kunyah
Tablet ini dimaksudkan untuk dikunyah, memberikan residu
dengan rasa enak dalam rongga mulut. Jenis tablet ini digunakan dalam
formulasi tablet untuk anak, terutama multivitamin, antasida dan
antabiotik tertentu. Tablet ini dibuat dengan cara dikempa, pada
umumnya menggunakan manitol, sorbitol atau sukrosa sebagai bahan
pengikat dan bahan pengisi, serta mengandung bahan pewarna dan bahan
pengaroma untuk meningkatkan penampilan dan rasa.
i. Tablet Lepas-Lambat
Tablet lepas-lambat atau tablet dengan efek diperpanjang. Tablet
ini dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif akan tersedia selama jangka
waktu tertentu setelah obat diberikan.
j. Tablet Hisap
Tablet hisap adalah sediaan padat yang mengandung satu atau
lebih bahan obat, umumnya dengan bahan dasar beraroma dan manis,
yang membuat tablet melarut atau hancur perlahan dalam mulut.
Secara umum tablet dibuat dengan 3 cara yaitu : granulasi basah, granulasi
kering dan kempa langsung. Tujuan granulasi basah dan kering adalah untuk
meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa. Granulasi
keringdibuat dengan cara menekan massa serbuk pada tekanan sehingga menjadi
tablet yang besar yang tidak berbentuk baik, kemudian digiling dan diayak hingga
diperoleh granul dengan ukuran partikel yang diinginkan (Depkes RI,1995:5).
Tablet mengandung bahan aktif, tablet biasanya mengandung bahan tambahan
yang mempunyai fungsi tertentu. Bahan tambahan yang umum digunakan adalah
bahan pengisi, bahan pengikat, bahan pengembang, bahan pelicin atau zat lain
yang cocok (Depkes RI, 1979:6).
Sediaan obat dalam bentuk tablet mempunyai keuntungan
dibandingkan sediaan lain (Lachman, 2008: 645), yaitu :

a. Tablet merupakan bentuk sediaan yang utuh dan menawarkan


kemampuan terbaik dari semua bentuk sediaan oral untuk ketetapan
ukuran serta variabilitas kandungan yang paling rendah.
b. Tablet merupakan bentuk sediaan yang ongkos pembuatannya paling
rendah.
c. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling ringan dan paling
kompak.
d. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah dan murah
untuk dikemas serta dikirim.
e. Tablet bisa dijadikan produk denagn profil pelepasan khusus, seperti
pelepasan diusus atau produk lepas lambat.
f. Tablet merupakan bentuk sediaan oral yang paling mudah untuk
diproduksi secara besar-besaran.
g. Memilikisifat pencampuran kimia, mekanik dan stabilitas mikrobiologi
yang paling baik.
Kerugian Tablet Kerugian sediaan tablet dibandingkan sediaan
yang lain (Lachman, 2008: 645-646) adalah :

a. Beberapa obatt tidak dapat dikempa menjadi padat dan kompak


tergantung keadaan amorfnya, floakulasi atau rendahnya berat jenis.
b. Obat yang rasanya pahit, obat dengan bau tidak dapat dihilangkan atau
obat yang peka terhadap oksigen atau kelembapan udara perlu
pengapsulan sebelum dikempa atau memerlukan penyalutan dulu.
2.2 Metode pembuatan tablet

Ada tiga metode pembuatan tablet kompresi yaitu metode granulasi


basah, metode granulasi kering dan metode cetak langsung.

a. Granulasi basah
Metode granulasi basah merupakan metode yang terluas digunakan
orang dalam memproduksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang
diperlukan dalam pembuatan tablet dengan metode ini adalah sebagai
berikut : menimbangdan mencampur bahan-bahan, pembuatan
granulasi basah,pengayakan adonan lembab menjadi pellet atau granul,
pengeringan, pengayakan kering, pencampuran bahan pelincir dan
pembuatan tablet dengan kompresi (Ansel, 2008: 261).
b. Granulasi kering
Pada metode granulasi kering, granul dibentuk oleh pelembapan atau
penambahan bahan pengikat ke dalam campuran serbuk obat tetapi
dengan cara memadatkan massa yang jumlah besar dari campuran
serbuk dan setelah itu memecahkannya dan menjadikan pecahan-
pecahan ke dalam granul yang lebih kecil. Dengan metode ini baik
bahan aktif maupun pengisi harus memiliki sifat kohesif supaya massa
yang jumlahnya besar dapat dibentuk. Metode ini khususnya untuk
bahan-bahan yang tidak dapat diolah dengan metode granulasi basah,
karena kepekaannya terhadap uap air atau karena untuk
mengeringkannya diperlukan temperatur yang dinaikan (Ansel, 2008:
269).
c. Kompresi langsung
Metode kempa langsung dapat diartikan sebagai pembuatan tablet
dengan cara mengempa langsung campuran bahan-bahan yang
terbentuk kristal/serbuk tanpa mengubah karakterisktik fisiknya.
Pembuatan tablet dengan metode kempa langsung khususnya
digunakan untuk bahan-bahan kimia yang mempunyai sifat mudah
mengalir dan mempunyai sifat kohesif yang memungkinkan untuk
cetak langsung dalam mesin tablet (Ansel, 2008: 271).
2.3 Komposisi tablet
a. Bahan pengisi (diluent)
Bahan pengisi yang sering digunakan antara lain laktosa, pati dan
selulosa mikrokristal. Bahan pengisi ditambahkan jika perlu kedalam
formulasi agar membentuk ukuran tablet yang diinginkan (Ansel,
2008: 263).
b. Pengikat (binders)
Zat ini ditambahkan dalam bentuk kering atau cairan selama granulasi
basah untuk membentuk granul atau menaikan kekompakan kohesif
bagi tablet yang dicetak langsung. Contoh bahan pengikat adalah
akasia dan tragakan, gelatin, kanji, polimer-polimer alam yang telah
dimodifikasi seperti alginat, derivat, selulosa, seperti CMC dan PVP
(Voight. 1995: 359).
c. Pelicin (lubrikan)
Bahan pelicin berfungsi memudahkan mendorong tablet cetakan
melalui pengurangan gesekan antar dinding dalam ruang cetak dengan
permukaan sisi tablet. Bahan pemisah bentuk (anti-adherent) berfungsi
mengurangi lekatnya massa tablet pada dinding ruang cetak dan
permukaan punch serta menghasilkan kilap percetakan pada tablet
(Voight. 2008: 359).
d. Pelincir
Bahan pelincir berfungsi meningkatkan aliran bahan measuki cetakan
tablet dan mencegah melekatnya bahan ini pada punch dan die serta
membuat tablet-tablet menjadi bagus dan berkilat (Ansel,2008: 266).
2.4 Tablet Salut

Tablet salut yang telah dikenal luas diantaranya adalah tablet salut gula,
tablet salut tipis (enterik dan non enterik), dan tablet salut kompresi (compression
coating). Tujuan penyalutan tablet adalah untuk memperbaiki penampilan obat,
menutupi rasa, bau dan warna obat yang tidak menyenangkan, memberikan
perlindungan fisik dan kimia pada obat (melindungi obat yang tidak stabil dalam
asam dan melindungi lambung dari obat yang dapat mengiritasi lambung), serta
mengendalikan pelepasan obat dari tablet (Michelle & Yisheng, 2009; Porter &
Bruno, 1990). Ada tiga komponen utama yang penting dalam penyalutan tablet,
yaitu sifat-sifat tablet, proses penyalutan, dan suasana penyalut (Porter & Bruno,
1990).
Tablet yang akan disalut harus memiliki sifat-sifat yang sesuai selama
proses penyalutan. Tablet inti sebaiknya berbentuk sferis, elips, bikonveks, bulat,
atau bikonveks oval agar tablet dapat mengikuti perputaran dan bergerak bebas
dalam panci penyalut. Kekerasan dan keregasan tablet menjadi perhatian utama
karena pada proses penyalutan akan saling berbenturan. Jika tablet rapuh maka
akan terjadi pecahan-pecahan hasil kikisan atau benturan yang pada akhirnya
menyebabkan rusaknya tekstur pada permukaan tablet.
Medium penyalut terdiri dari polimer pembentuk lapis tipis, plasticizer,
zat warna, dan pelarut. Polimer yang digunakan hendaknya dapat
membentuk lapisan tipis yang koheren pada permukaan tablet, larut dalam
pelarut yang digunakan, stabil terhadap cahaya, panas, kelembaban
udara, kompatibel dengan bahan tablet yang akan disalut, tidak
memiliki bau, rasa, tidak memiliki efek farmakologi, dan bahan lain
yang digunakan dalam susunan penyalut ataupun zat aktif, serta memiliki
nilai estetika yang baik agar produk yang dihasilkan menarik (Lachman,
Lieberman, & Schwartz, 1990). Penggunaan plasticizer dengan
perbandingan yang tepat dalam susunan penyalut dapat memberikan
fleksibilitas lapisan salut. Beberapa contoh plasticizer yang sering
digunakan dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu poliol (gliserol,
propilen glikol, ester), organik (ester ftalat, triasetin), minyak/gliserida
(minyak jarak monogliserida terasetilasi). Pelarut yang digunakan dalam
susunan penyusun penyalut dapat berupa pelarut tunggal atau kombinasi.
Contoh dari pelarut yang digunakan adalah air, etanol, metilklorida,
metanol, aseton, dan isopropanol. Zat warna yang digunakan harus dapat
memberi warna nyata dan menarik. Zat warna terbagi menjadi tiga jenis
yaitu pewarna organik (FD&C red), pewarna anorganik (titanium oksida),
dan pewarna alami (karmin) (Cole, 1995).
Metode penyalutan yang digunakan tergantung dari fasilitas yang
tersedia. Metode yang umum digunakan adalah:

a. Penyalutan secara pencelupan (dip coating)


Penyalutan dengan mencelupkan tablet ke dalam larutan penyalut
dan tablet yang basah tersebut dikeringkan secara konvensional dalam
panci penyalut. Hal ini dapat dilakukan berulang-ulang. Proses ini kurang
cepat dan berubah- ubah.
b. Penyalutan secara kompresi (compression coating)
Pada penyalutan tablet salut kompresi, ring cetak tablet diisi
dengan sebagian granulat bahan penyalut tablet dan tablet inti yang akan
disalut dimasukkan ke dalam ruang cetak dan punch atas menekan tablet
inti kemudian ruang cetak tablet diisi kembali dengan granulat bahan
penyalut dan dicetak.
c. Penyalutan dengan panci (pan coating)
Proses penyalutan ini menggunakan panci penyalut dan untuk
memudahkan gerak tablet dalam panci penyalut dibantu dengan pemasangan
penyangga di dalam panci penyalut. Bahan penyalut yang digunakan dibuat dalam
bentuk larutan dan disemprot ke tablet dengan bantuan spray-gun (alat untuk
mengubah cairan penyalut menjadi partikel-partikel halus berbentuk kabut ketika
disemprotkan). Pengeringannya dengan cara mengalirkan udara panas dan
penghisapan udara melalui bagian terbuka dari panci penyalut secara bergantian.
Medium penyalut yang disemprotkan akan teratomisasi menjadi tetesan
halus. Tetesan ini akan membasahi permukaan tablet dan meyebar serta
berkoalensi membentuk suatu salut lapis tipis. Tahap pertama diawali
terjadinya penguapan pelarut dengan cepat dari tetesan halus sehingga
menyebabkan peningkatan konsentrasi polimer setempat (peningkatan
viskositas). Pada tahap kedua, kehilangan pelarut yang berkoalensi dengan
kecepatan yang lebih rendah pada permukaan sediaan yang disalut
selanjutnya dikendalikan oleh kecepatan difusi pelarut melalui matriks
polimer. Pada tahap ketiga terjadi mobilisasi molekul polimer pada titik
pemadatan. Tahap akhir memperlihatkan kehilangan pelarut secara
perlahan dari lapis tipis penyalut pada kecepatan yang rendah sekali
tergantung pada suhu. Kehilangan pelarut dari lapisan penyalut akan
berlangsung secara terus menerus pada kecepatan yang rendah dan pada
akhirnya membentuk lapisan lapis tipis (Porter & Bruno, 1990).

Alat-alat yang digunakan unuk proses penyalutan pan coating


adalah (Agoes, 1983):

a. Panci penyalut
Panci ini berbentuk bulat atau heksagonal, terbuat dari tembaga
atau besi dengan stainless steel berdiameter 8 inchi sampai 6 kaki dan
dilengkapi dengan penyangga untuk memperbaiki gerakan tablet dalam
panci. Panci dipasang dengan kemiringan 300-500 untuk mempermudah
proses penyemprotan.
b. Alat penghisap udara

Alat ini dihubungkan dengan panci oleh semacam pipa, untuk


menghisap berguna untuk mempercepat penguapan pelarut agar tablet
tidak terlalu basah.
c. Liquid flow regulator
Alat ini diperlukan untuk menghisap larutan penyalut dari
wadahnya dan mengalirkannya ke alat penyemprot yang terpasang di
dalam panci penyalut. Dengan alat ini, kecepatan aliran penyemprotan
dapat diatur.
d. Spray-gun
Alat ini berguna untuk mengubah cairan penyalut menjadi partikel-partikel
halus berbentuk kabut ketika disemprotkan. Prinsip kerjanya yaitu sewaktu larutan
penyalut mengalir melalui celah Spray-gun dalam waktu bersamaan dialirkan
udara bertekanan tinggi sehingga larutan akan terdispersi menjadi partikel halus
yang diperlukan untuk membuat lapisan tipis yang homogen pada permukaan
tablet.
Pada saat proses penyalutan, terdapat beberapa parameter yang
perlu diperhatikan. Parameter tersebut antara lain suhu penyalutan,
waktu (lamanya) penyalutan, peralatan dan komposisi penyalut.
Faktor-faktor yang penting

Karakteristik tablet salut yang baik adalah tablet salut yang


dihasilkan tidak melekat dan menggumpal, permukaan tablet halus,
penyebaran larutan penyalut harus seimbang supaya tidak terbentuk
lekuk-lekuk, lapisan tipis salutnya tidak boleh mengerut (Lachman,
Lieberman, & Kanig, 1986).

2.5 Evaluasi Tablet


a. Keseragaman bobot tablet
Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot. Pengujian ini ditetapkan
untuk menjamin keseragaman bobot tiap tablet yang dibuat. Tablet yang bobotnya
seragam diharapkan akan memiliki kandungan bahan obat yang sama.
Keseragaman bobot tablet dapat ditetapkan sebagai berikut: timbang 20 tablet, lalu
dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Kemudian timbang tablet satu per satu, tidak
boleh lebih dari 2 tablet bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar
dari yang ditetapkan pada kolom A dan tidak boleh satu tablet pun bobotnya
menyimpang dari bobot rata - rata lebih besar dari yang ditetapkan pada kolom B.
Jika perlu gunakan 10 tablet yang lain dan tidak boleh ada satu tablet pun yang
bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam
kolom A maupun kolom B. (Ditjen POM, 2014).
b. Kekerasan tablet
Pengukuran dilakukan terhadap 5 tablet memakai alat-alat seperti stoches.
Cara pengukuran yaitu : letakan sebuah tablet diantara “anvil” dengan plat datar
yang diam tablet tersebut dijepit dengan memutar alat penekan. Angka yang
ditunjukan oleh jarum penunjuk pada skala dinyatakan sebagai titik nol. Alat
penekan diputra kembali sampai retak atau pecah. Angka pada skala dicatat pada
saat ini maka kekerasan tablet adalah selisih antara angka pada saat pecahnya
tablet dengan angka yang dianggap sebagai tiotik nol (Depkes RI, 1979).
c. Kerapuhan tablet
Parameter ini dari ketahanan tablet melawan pengikisan dan goncangan
kerapuhan. Besaran yang dipakai adalah % bobot yang hilang selama pengujian.
Alat yang digunakan adalah abresive tester. Faktor-faktor lain yang
mempengaruhi kerapuhan antara lain banyaknya kandungan serbuk. Kerapuhan
diatas 1% menunjukan tablet yang dianggap kurang baik. Kerapuhan tablet
dihitung dari pengurangan tablet akibat perlakuan, diungkapkan dengan
persamaan berikut ini :

kerapuhan=¿ ¿
d. Uji waktu hancur
Uji ini dilakukan untuk menentapkan kesesuaian batas waktu hancur yang
tertera pada masing-masing monografi, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa
tablet atau kapsul digunakan sebagai tablet hisap atau dikunyah atau dirancang
untuk pelepasan kandungan obat secara bertahap dalam jangka waktu tertentu atau
melepaskan obat dalam dua periode berbeda atau lebih dengan jarak waktu yang
jelas diantara periode pelepasan tersebut.Uji waktu hancur tidak menyatakan
bahwa sediaan atau bahan aktifnya larut sempurna. Sediaan dinyatakan hancur
sempurna bila sediaan yang tertinggal pada kasa alat uji merupakan massa lunak
yang tidak mempunyai inti yang jelas (Ditjen POM, 2014).
e. Uji disolusi
Obat yang telah memenuhi persyaratan waktu hancur, kekerasan,
keregasan, keseragaman bobot, dan penetapan kadar belum dapat menjamin
bahwa suatu obat memenuhi efek terapi, karena itu uji disolusi harus dilakukan
pada setiap produksi tablet. Disolusi adalah proses pemindahan molekul obat dari
bentuk padat kedalam bentuk larutan pada suatu medium. Disolusi menunjukkan
jumlah bahan obat yang terlarut dalam waktu tertentu.Uji ini digunakan untuk
memenuhi kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam masing-
masing monografi (Ditjen POM, 2014).
BAB III

PRA-FORMULASI TABLET SALUT CLOPIDOGREL

3.1 Karakteristik Clopidogrel Bisulfat


Klopidogrel Bisulfate (Depkes RI, 2014)
Nama Lain : Clopidogrel Bisulfat
Berat Molekul : 419,90
Rumus Molekul : C16H16ClNO2S.H2SO4
Struktur :

Pemeriaan : Serbuk, putih sampai hamper putih


Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam metanol, praktis tidak
larut dalam eter
Penetapan Kadar : Kromatografi cair kinerja tinggi, mengandung tidak kurang
dari 97,0% dan tidak lebih dari 101,5%
C16H16ClNO2S.H2SO4, dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan.
Identifikasi : Spektrum serapan inframerah zat yang telah dikeringkan
dan didispersikan dalam kalium bromida P menunjukkan
maksimum hanya pada bilangan gelombang yang sama
seperti Klopidogrel Bisulfat BPFI. Waktu retensi puncak
utama kromatogram Larutanuji sesuai dengan Larutan baku,
seperti yang diperoleh pada Penetapan kadar
Susut pengeringan: Tidak lebih dari 0,5%, lakukan pengeringan pada suhu
105°selama 2 jam
Sisa pemijaran : Tidak lebih dari 0,1%.
Wadah : Dalam wadah tertutup baik dan pada suhu ruang
terkendali.

a. Farmakodinamik Clopidogrel
Clapidogrel secara selektif menghambat pengikatan Adenosin Difosfat
(ADP) pada reseptor ADP di platelet dengan demikian menghambat
aktivasi kompleksglikoprotein GPIIb/IIIa yang dimediasi ADP yang
menimbulkan penghambatan terhadap agregasi platelet. Biotransformasi
clopidogrel diperlukan untuk menghasilkan penghambatan agregasi
platelet. Clapidogrel juga menghambat agregasi platelet yang diinduksi
oleh agonis lain dengan menghalangi amplifikasi aktivasi platelet dengan
merilis ADP. Clopidogrel bertindak dengan memodifikasi reseptor ADP
platelet secara ireversibel. Akibatnya, platelet yang terkena clopidogrel
terpengaruh untuk sisa jangka hidup mereka dan pemulihan fungsi
platelet normal terjadi pada tingkat yang konsisten dengan pergantian
olatelet. Pengulangan dosis 75 mg per hari menghasilkan penghambatan
besar dan ADP induksi agregasi platelet dari hari pertama; ini
meningkatkan secara progresif dan mencapai keadaan tunak antara lain
ke-3 dan hari ke-7. Pada keadaan tunak, tingkat rata-rata hambatan
diamati dengan dosis 75 mg per hari adalah antara 40% dan 60%.
Agregasi platelet dan waktu perdarahan secara bertahap kembali ke nilai
awal, biasanya dalam waktu 5 hari setelah pengobatan dihentikan
(Constable, 2017)..
b. Dosis Clopidogrel
Dosis clopidogrel untuk pasien dewasa pada kasusstroke iskemik adalah
75 mg/hari diberikan secara oral (DiPiro et all, 2014). Kemudian untuk
pasien stroke iskemik akut yang hipersensitif terhadap asetosal atau
aspirin dapat diberikan clopidogrel tunggal dengan dosis 75 mg/hari.
Dapat juga mencegah terjadinya infark miokard yang telah berlangsung
selama 35 hari dan stroke iskemik yang berlangsung selama 6 bulan
dengan pemberian dosis 75 mg/hari diberikan secara oral atau dapat
diberikan pada pasien arteri trombotik koroner yang belum mneggunakan
clopidogrel sama sekali dapat diberikan dengan dosis muatan (loading
dose) 300 mg/hari atau diberikan dosis muatan (loading dose) 600
mg/hari sebagai alternatif yang dapat mengambat agregasi trombotik
secara lebih cepat dapat diberikan melalui oral (Ah-see et all, 2016).
c. Mekanisme Kerja Clopidogrel
Clopidogrel bekerja dengan memblok reseptor adenosine difosfat (ADP)
sehingga tidak terjadi aktivasi platelet dan pembekuan darah (Michael
dan Ramahania, 2017). Clopidogrel juga merupakan inhibor reseptor
P2Y sebagai antiplatelet yang irreversible tetapi lebih paten dan memiliki
profil toksisitas yang lebih baik dari pada ticlopidine dengan trombosit
dan leukopenia yang jarang terjadi (Chabner dan Knollman, 2011).
d. Kontraindikasi Clopidogrel
Hipersnsitivitas terhadap suatu obat perdarahan patologis aktif seperti
ulkus peptikum atau perdarahan intrakranial (Kastrup, 2011).
e. Efek Samping Clopidogrel
Terapi antiplatelet efektif untuk mengurangi kejadian stroke, namun
antiplatelet mempunyai efek samping perdarahan saluran cerna dan dapat
meningkatkan angka kematian. UK Transient Ischemic Attack study
melaporkan bahwa 3,1% pasien yang mendapatkan terapi antiplatelet
mengalami perdarahan saluran cerna. Sebuah penelitian dengan metode
randomized, double-blind, placebocontrolled melibatkan 5.170 pasien
dengan hasil yang menunjukan penggunaan antiplatelet clopidogrel
ganda atau kombinasi aspirin dan clopidogrel meningkatkan kejadian
perdarahan pada saluran cerna dibandingkan dengan kelompok yang
menggunakan aspirin (Yanti et all, 2018).

3.2 Sediaan Clopidogrel


Melihat karakteristiknya maka sediaan yang cocok dibuat untuk sediaan
klopidogrel adalah sediaan Tablet Salut.

3.3 Karakteristik Bahan Tambahan


1. Crospovidone (Excipient,2009 : 663)
Nama Resmi : Polivinilpirolidon(PVP)

Struktur :

Pemerian : Serbuk halus putih sampai kream, free flowing, terasa


hambar, tidak berbau, bersifat higroskopis.
Kelarutan : tidak larut dalam air dan bersifat hidrofilik
Khasiat : Superdisintegrant
Range : 1-10%
2. Mg Stearat (Excipients, 2009 : 404)
Nama Resmi : Magnesium Stearat
Berat Molekul : 591.24
Rumus Molekul : C36H70MgO4
Struktur :

Titik Lebur : 117°C-150°C


Pemerian : Serbuk putih terang, tidak berasa, bulk yang memiliki BJ
rendah
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, dalam etanol 95% dan eter,
sedikit larut dalam benzene hangat dan etanol 95% hangat
Khasiat : Lubrikan
Stabilitas : Sangat stabil diudara
Range : 0,25-0,5%
Inkompabilitas : Asam kuat, basa kuat dengan garam besiHindari
pencampurandengan bahan pengoksidasi kuat.
3. Talkum ( FI Edisi III, hal. 391 dan Effionora, 2012)
Nama Resmi : TALCUM
Nama Lain : Talk
pH : 7-10% untuk 20% w/v larutan terdispersi
Pemerian : Serbuk hablur sangat halus, mudah melekat pada kulit,
bebas dari butiran, warna putih/putih kelabu.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam larutan asam dan basa, pelarut
organic, serta air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan disimpan pada tempat
yang dingin dan kering
Khasiat : Sebagai glidant
Stabilitas : Merupakan bahan yang stabil dan dapat disterilkan dengan
pemanasan pada suhu 160°C selama tidak kurang dari 1 jam
Incompabilitas : talc dapat bereaksi dengan senyawa ammonium kuartener
Range : 1-10%
4. Laktosa Spray-Dried (amorphous) (Excipient, 2009 )
Nama Lain : FlowLac 90; FlowLac 100; Lactopress Spray-
Dried;Lactopress Spray-Dried 250; NF Lactose–315; NF
Lactose–316 Fast Flo; SuperTab 11SD; SuperTab 14SD.
Berat Molekul : 342.30
Rumus Molekul : C12H22O11
Pemerian : Serbuk atau massa hablur, keras, putih atau putih krem,
tidak berbau dan sedikit manis, stabil di udara tapi mudah
menyerap bau.
Kelarutan : Mudah (pelan) larut dalam air, dan lebih mudah larut dalam air
mendidih, sangat sukar larut dalam etanol tidak larut dalam
kloroform dan eter.
Khasiat : sebagai pengisi untuk tablet kempa langsung
Stabilitas : Akan berubah warna akibat pemanasan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
5. Mikrokristalin Selulosa (Excipient, 2009: 129)
Nama resmi :CELLULOSE MICROCRYSTALINE
Nama lain :avicel PH
Rumus molekul :C6H10O5
pH : 5.0–7.5
Range : 1-5%
Titik lebur : 260-2700C
Pemerian :Putih, tidak berbau, tidak berasa, Kristal bubuk terdiri dari
partikel berpori. Ini tersedia secara komersialdalam ukuran
partikel yang berbeda dan nilai kelembaban yang memiliki
berbedasifat dan aplikasi.
Kelarutan :Sedikit larut dalam larutan natrium hidroksida 5 % b/v,
praktis tidak larut dalam air, asam encer, dan pelarutorganik
Inkompatabilitas : Tidak kompatibel dengan agen oksidator kuat.
Stabilitas :Stabil terhadap bahanhidroskopik
Penyimpanan : Harus disimpan dalam wadah tertutup baik dalam sejuk
dan kering.
Khasiat : sebagai pengikat
6. PEG 400 (Depkes RI, 2014)
Nama Lain : Carbowax, macrogola, polietilen glikol
Berat molekul : 76,09
Struktur :

Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis


tidak berbau, menyerap air pada udara yang lembab
Titik leleh : 60-63°C
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan
kloroform, larut dalam eter dan beberapa minyak essensial,
tidak dapat bercampur dengan minyak lemak
Fungsi : sebagai Plastizer
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
7. HPMC (Hydroxypropyl methyl cellulose)
Nama Lain : Hypromellose, Benecel MHPC, E464, HPMC,
hypromellosum, Methocel, Tylopur
Nama Kimia : Cellulose hydroxypropyl methyl ether
Struktur :

Pemerian : Warna putih atau cream, tidak berbau, bentuk serbuk


granul , tidak berasa
Kelarutan : Larut dalam air dingin, membentuk koloid
Kentallarutan ; praktis tidak larut dalam air panas, kloroform,
etanol(95%), dan eter, tapi larut dalam campuran etanol dan
diklorometana, campuran metanol dan diklorometana,dan
campuran air dan alkohol.
PH : 5.0-8.0
Titik lebur : 190-200ºC
Inkompatibilitas : Agent pengoksidasi
Fungsi : Coating agent
Penyimpanan : Di simpan dalam wadah tertutup baik di tempat yang sejuk
dan kering
8. Iron Oxides Yellow (Excipient, 2009)
Nama Lain : Iron oxide yellow monohydrate: E172; hydrated ferric
oxide; iron (III) oxide monohydrate, yellow; pigment
yellow 42; yellow ferric oxide.
Berat Molekul : 177,70
Rumus Molekul : Fe2O3_H2O
Pemerian : Besi oksida berbentuk bubuk kuning, merah, hitam, atau
coklat.Warnatergantung pada ukuran dan bentuk partikel,
dan struktur kristal.
Kelarutan : Larut dalam asam mineral; tidak larut dalam air
Fungsi : Opaficier
Penyimpanan : wadah tertutup rapat dan terhindar dari sinar matahari
9. Titanium Dioxide (Excipient, 2009)
Nama Lain : Anatase titanium dioxide; brookite titanium dioxide; color
index number 77891; E171; Hombitan FF-Pharma; Kemira
AFDC;Kronos 1171; pigment white 6; Pretiox AV-01-FG;
rutile titaniumdioxide; Tioxide; TiPure; titanic anhydride;
titanii dioxidum;
Nama Kimia : Dioxotitanium
Berat Molekul : 79,88
Rumus Molekul : TiO2
Pemeriaan : Putih, amorf, tidak berbau, dan tidak berasa bubuk non
higroskopik
Inkompatabilitas : Karena efek fotokatalitik, titanium dioksida dapat
berinteraksidengan zat aktif tertentu, misalnya famotidine
Kelarutan : P`raktis tidak larut dalam asam sulfat encer kloridaasam,
asam nitrat, pelarut organik, dan air. larut dalamasam
fluorida dan asam sulfa panas terkonsentrasi
Fungsi : opacifier
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
10. Air Murni (Depkes RI, 2014)
Nama lain : Purified Water
Berat Molekul : 18,02
Rumus Molekul : H2O
Pemeriaan : Cairan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau
pH : 5,0-7,0
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

3.4 Alasan Pemilihan Bahan Tambahan


a. Avicel PH 102
Avicel PH 101 lebih sering digunakan pada metode pembuatan
dengan granulasi basah, dan Avicel PH 102 lebih sesuai digunakan
untukk cetak langsung sebagai pengikat dengan konsentrasi 1-5%
(Dr.Lannie dan Prof. Dr.Achmad, 2013)
Bahan pengikat kering yaitu bahan yang ditambahkan ke dalam
massa tablet dalam bentuk kering. Beberapa bahan yang sering
digunakan adalah: Avicel PH 101 dan Avicel PH 102 (Prof. Dr.
Effionora, 2012)
Selulosa mikrokristal banyak digunakan terutama sebaga
pengikat/pengisi dalam formulasi tablet (Raymond, 2005: 725).
Selulosa mikrokristal sering disebut Avicel, suatu zat yang dapat
dicetak langsung (Lachman, 2008: 701).
b. Crospovidon (polivinilpirolidon)
Sebagai penghancur dengan konsentrasi 1-10 Sifat kompresibilitas
yang baik memiliki daya mengembang yang baik dalam air yaitu 200
300%. Pvp termasuk super disentegran dan bahan baku muda didapat.
Kelebihan dari pvp adalah disintegrasi tidak tergantun pada gaya
kompresi (Prof. Dr. Effionora, 2012)
Dengan sifat dan karakteristik mengembang dalam duaa dimens
sesuai untuk cetak langsung atau granulasi, tanpa menggunaka amilum
(Dr.Lannie dan Prof. Dr.Achmad, 2013)
Berfungsi sebagai penghancur tablet dan kapsul (Excipient,2009)
Efektif pada konsentrasi 1-10% dan konsentrasi diatas 10%
umumnya menambah waktu hancur tablet (Edge dan Miller, 2006).
Unsur utam yang diperhatikan dalam pembuatan tablet fast
disintegrating adala bahan penghancur. Kemampuan Pvp sangat baik
Karena kemampuan mengembangnya yang cukup besar dengan tetap
mempertahankan keutuhan tabletnya sehingga pengembangan tersebut
dapat memberikan dorongan ke daerah sekitarnya sehingga membantu
proses pecahnya tablet (Shangraw et al., 1980).
c. Magnesium Stearat
Sebagai lubrikan pada tablet dan kapsul dengan konsentrasi 0,25-
0,5%b/b (Prof. Dr. Effionora, 2012)
Magnesium stearat secara luas digunakan dalam kosmetik,
makanan dan formulasi farmasi. Hal ini terutama digunakan sebagai
lubrikan dalam kapsul dan tablet pembuatan pada konsentrasi antara
0,25% dan 5,0% b/b (Excipient,2009)
Magnesium Stearat umunya dipakai sebagai pelincir pada
pembuatan sediaan padat untuk memudahkan mengalirnya bahan obat
masuk kedalam mesin pencetak. Sifat magnesium yang hidrofobik dapat
memperlambat disolusi pada obat dengan bentuk sediaan padat, sedapat
mungkin digunakan kosentrasi yang kecil dalam formulasi
(Ansel,2005.hal 227)
d. Talk
Berfungsi sebagai anticaking, glidan dengan konsentrasi 1-10%
(Excipient,2009).
Mempunyai sifat menguntungkan yaitu lebih unggul daripada pati
dalam meminimalkan setiap kecenderungan zat yang melekat pada
permukaan punch (Prof. Dr. Effionora, 2012) Talk dapat mengurangi
gerakan tablet ( R. voigt. 1995: 204 )
e. Lactose Spray-dried
Sifat aliran paling baik dibandingkan dengan semua pengisi untuk
formula cetak langsung, densitas ruahan cukup besar sehingga pengisian
die cukup baik (Dr.Lapnnie dan Prof. Dr.Achmad, 2013)
Untuk pembuatan tablet dengan cara cetak langsung digunakan
laktosa yang mudah mengalir dan mudah dikempa, yaitu spray-dried
lactose yang mengandung α-lactosa monohidrat murni dan sejumlah
kecil lactose dalam bentuk amorf dengan konsentrasi berkisar dari 65%-
85% (Prof. Dr. Effionora, 2012)
Kadar laktosa Semprot-kering kempa langsung umumnya terdiri
dari 80-90%. Berfungsi sebagai pengencer dan pengisi untuk tablet
kempa langsung (Excipient, 2009)
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Alat dan Bahan


1. Alat – alat yang digunakan :
Coating pan (penyalut), Compressing tablet (pencetak tablet), Drum
rotator (mixing), Oscillating screen (pengayakan), Timbangan digital,
Hardness tester, Friability tester.
2. Bahan-bahan yang digunakan :
Air murni, Clopidogrel Bisulfate, Cellulose Microcrystalline (Avicel 102),
Crospovidone (polivinilpirolidon), Mg-Stearat, Talk, Laktosa spray dried,
HPMC, PEG 400, Iron oxide yellow, titanium dioxide.

4.2 Komponen dan Rancangan Formulasi Tablet Salut Selaput Clopidogrel


Tabel 1. Formulasi Clopidogrel(WO 2007/091279 Al)
1 tablet 1 bets
Konsentrasi
Bahan Fungsi (300 (100.00 Karakteristik Bahan
(%)
mg) 0 tab)
Clopidogrel Zat Aktif 75 mg 75 mg 75 kg Serbuk;putih sampai hampir putih.
Bisulfat Mudah larut dalam air dan dalam
metanol;praktis tidak larut dalam
eter.
Avicel102 Pengikat 25 % 75 mg 75 kg Putih, tidak berbau,tidak berasa,
kristal bubuk terdiri dari partikel
berpori. Sedikit larut dalam larutan
natrium hidroksida 5% b/v, praktis
tidak larut dalam air,asam encer,
dan pelarut organik.
Crospovidone Penghancu 5% 15 mg 15 kg Serbuk halus putih sampai kream,
r free flowing, terasa hambar, tidak
berbau, bersifat higroskopis, tidak
larut dalam air dan bersifat
hidrofilik.
Mg-Stearat Lubrikan 1% 3 mg 3 kg Serbuk putih terang, tidak
berasa,bulk yang memiliki BJ
rendah. Praktis tidak larut dalam
air, dalam etanol 95% dan eter,
sedikit larut dalam benzene hangat
dan etanol 95% hangat.

Talk Glidan 3% 9 mg 9 kg Serbuk hablur sangat halus, putih


atau kelabu,berkilat, mudah
melekat pada kulit dan bebas dari
butiran.
Laktosa spray- Pengisi Ad 100 % 123 mg 123 kg Serbuk atau massa hablur, keras,
dried putih atau putih krem, tidak berbau
dan sedikit manis, stabil di udara
tapi mudah menyerap bau. Mudah
(pelan) larut dalam air, dan lebih
mudah larut dalam air mendidih,
sangat sukar larut dalam etanol
tidak larut dalam kloroform dan
eter.

Tabel 2. Bahan Penyalut

Bahan Penyalut Fungsi Persentase (%) Karakteristik


HPMC Polimer 7,5 Warna putih atau krem, tidak
berbau, bentuk serbuk granul, tidak
berasa. Larut dalam air dingin,
membentuk koloid kental larutan,
praktis tidak larut dalam air panas,
kloroform, etanol (95%), dan eter.
PEG 400 Pemlastis 0,8 Cairan kental, jernih, tidak
berwarna, rasa khas, praktis tidak
berbau, menyerap air pada udara
yang lembab. Dapat bercampur
dengan air, dengan aseton, dan
dengan kloroform, larut dalam eter
dan beberapa minyak esensial, tidak
dapat bercampur dengan minyak
lemak.

Iron oxide yellow Pigment/opacifier 0,6 Besi oksida berbentul bubuk


kuning, merah, hitam atau coklat.
Larut dalam asam mineral, tidak
larut dalam air.
Titanium dioxide Pigment/opacifier 3,1 Putih, amorf, tidak berbau, dan
tidak berasa bubuk non
higroskopik. Praktis tidak larut
dalam asam sulfat encer, klorida
asam, asam nitrat, pelarut organik,
dan air. Larut dalam asam fluorida
dan asma sulfat panas
terkonsentrasi.
Air murni Pelarut polimer 88,0 Cairan jernih, tidak berwarna dan
tidak berbau

4.3 Perhitungan
Zat aktif Clopidogrel = tiap tablet mengandung 75 mg/tablet
Clopidogrel bisulfat 97,9 mg setara dengan clopidogrel basa 75 mg
Zat tambahan
1. Avicel = 25% x 300 mg = 75 mg
2. Crospovidone = 5% x 300 mg = 15 mg
3. Mg-Stearat = 1% x 300 mg = 3 mg
4. Talk = 3% x 300 mg = 9 mg
5. Laktosa = 300 mg – ( 75 + 75 + 15 + 3 + 9 )
= 300 mg – 177 mg
= 123 mg
Skala Produksi (untuk 100.000)
1. Clopidogrel = 75mg x 100.000 tab = 75 kg
2. Avicel = 75mg x 100.000 tab = 75 kg
3. Crospovidone = 15 mg x 100.000 tab = 15 kg
4. Mg – stearat = 3 mg x 100.000 tab = 3 kg
5. Talk = 9 mg x 100.000 tab = 9 kg
6. Laktosa = 123 mg x 100.000 tab = 123 kg
4.4 Alur Pengadaan Barang

Bahan baku yang baru datang dicek dokumennya apakah sudah sesuai
satndar atau tidak, jika tidak maka akan didisposisi, jika ya maka bahan baku
diberi label berwarna kuning dan kemudian dikarantina. Setelah dikarantina,
bahan baku akan disampling untuk uji. Jika tidak lolos uji, bahan baku diberi label
merah (reject). Jika lolos uji, bahan akan diberi label hijau (release), yang artinya
bahan baku tersebut siap untuk dijadikan bahan produksi. Pelabelan ini berguna
untuk mencegah terjadinya mix up (campur baur) yang mana bahan baku salah
ambil sehingga akan merusak mutu produk.
4.5 Proses Produksi Sediaan yang Baik
4.5.1 Pengeluaran Bahan Baku
4.5.2 Proses Produksi
Proses produksi sediaan tablet Clopidogrel menggunakan metode
kempa langsung dan proses penyalutan, mempertimbangkan sifat
hidrokopis dari Clopidogrel tersebut.

Pembuatan Tablet Inti dengan


metode kempa langsung
Alur proses penyalutan setelah pembuatan tablet inti dengan metode kempa
langsung, digambarkan sebagai berikut :
Proses yang perlu dilakukan sebelum penimbangan adalah penyiapan
ruang timbang. Ruang timbang yang digunakan yaitu ruang timbang RH rendah,
karena sifat produk bahan baku yang ditimbang higroskopis dan mudah rusak
karena kelembaban di atas 30%.

Penyiapan ruang timbang meliputi pengaktifan sistem bilik aliran bawah


(down flow booth), pengecekan suhu dan RH, dan pengecekan waterpass. Sistem
bilik aliran bawah (down flow booth) adalah sistem pengaturan aliran udara untuk
membawa debu dan partikel bahan baku yang jatuh serta terhambur di udara
masuk ke dalam penyaring halus (fine filter) di bagian samping bawah ruang
timbang sehingga tidak mengkontaminasi penimbang. Penyaring halus (Fine
filter) adalah HEPA filter yang digunakan secara khusus untuk filter partikel/fines
zat yang ditimbang. Udara hasil penyaringan fine filter tersebut akan disirkulasi
kembali, dan dialirkan ke dalam ruang timbang melalui HEPA filter di bagian
atas. Debu dan partikel akan menempel di HEPA filter dan fine filter, dan sampai
batas maksimal filter akan diganti dengan filter baru. Batas maksimal perbedaan
tekanan (differential pressure) di HEPA filter adalah 240 Pa dan di Fine filter
adalah 120 Pa. Sistem bilik aliran bawah (down flow booth) dinyalakan selama 15
menit dan baru boleh dipakai setelah aliran udara mencapai 40 m/detik. Suhu
untuk ruang timbang RH rendah adalah ≤ 25°C. Waterpass adalah parameter
distribusi berat pada timbangan, kondisi waterpass adalah dimana kondisi
distribusi berat merata di semua sisi timbangan, jadi di sisi manapun bahan
ditimbang akan menghasilkan massa/berat yang sama. Pengecekan waterpass
dilakukan dengan mengecek posisi gelembung air dalam alat cek waterpass,
posisi yang tepat adalah gelembung berada tepat di tengah lingkaran alat cek
waterpass. Penimbangan dilakukan setelah persyaratan down flow both, suhu, RH
dan waterpass terpenuhi. Penimbangan dilakukan pada timbangan sesuai kapasitas
masing-masing.

Bahan–bahan padat yang sudah ditimbang dimasukkan dalam


plastik. Bahan-bahan cair dimasukkan dalam wadah baja tahan karat
(stainless steel can), untuk alkohol dan larutan yang memiliki risiko
terbakar/meledak dimasukkan dalam wadah pengaman (safety can).
Plastik, wadah baja tahan karat (stainless steel can) dan wadah pengaman
(safety can) yang digunakan harus sudah dicek dan dirilis oleh QC. Bahan
yang sudah dimasukkan dalam wadah kemudian dilabel dengan label
timbang, kemudian diletakkan di dalam ruang setelah penimbangan
(staging after weighing). Kondisi saat ini sudah dimulai penggunaan
barcode untuk pengganti label. Penggunaan barcode ini memiliki
kelebihan dibandingkan dengan sistem label, karena jika terjadi perbedaan
antara stok fisik dan stok computer (data) maka barcode akan
mendeteksi dan memberikan peringatan bahwa bahan tidak bisa
ditimbang.

Bagian Pencampuran bertanggung jawab melakukan pencampuran


bahan baku hingga bahan baku homogen dan memenuhi persyaratan untuk
proses selanjutnya. Proses utama dalam pencampuran adalah pencampuran
bahan untuk kempa langsung, proses pengempaan langsung dilakukan
untuk bahan–bahan yang memiliki sifat alir yang baik. Proses kempa
langsung merupakan proses yang paling sederhana dan paling cepat
karena hanya satu tahap saja yaitu pencampuran kering/dry mixing. Bahan-
bahan untuk kempa langsung dicampur di dalam mixer sampai homogen
selanjutnya ditampung dalam wadah dan dilabel. IPC tidak dilakukan pada
proses pencampuran bahan untuk kempa langsung.

Untuk pembuatan tablet inti, clopidogrel, avicel 102, talk dan


crospovidone diayak dengan mesh 20 untuk mendapatkan partikel yang
homogen, sedangkan mg-stearat dan laktosa diayak dengan mesh 40.
Semua bahan yang sudah diayak dicampur menggunakan planetary mixer
hingga homogen selama 15 menit. Setelah tercampur, tlalu dicetak dengan
metode kempa langsung dengan pengaturan daya 40 Bar, kekerasan 2,3,
pengaturan bobot 7,3, kecepatan putaran 20 rpm, suhu ruang 25 oC dan
kelembaban ruang < 30%. Proses selanjutnya adalah penyalutan.
Campurkan HPMC dengan air dikembangkan terlebih dahulu, selanjutnya
campurkan PEG 400 sedikit demi sedikit hingga homogen, setelah itu
tambahkan titaniumdioxide dan iron oxide yellow hingga homogen.
Selanjutnya tablet inti tadi dilakukan proses spraying dengan
menggunakan bahan penyalut yang telah dibuat. Tablet yang sudah
selesai disalut dimasukkan ke dalam panci polishing untuk memoles tablet
supaya mengkilat. Tahap pengkilatan (polishing) bertujuan untuk
mengkilapkan permukaan tablet salut sehingga terlihat mengkilap dan
menarik dengan menggunakan polimer selulosa. IPC yang dilakukan
adalah pengukuran waktu hancur dan keseragaman bobot. IPC dilakukan
setelah selesai penyalutan. Tablet salut yang tidak memenuhi persyaratan
harus segera dikonfirmasi ke QA untuk memastikan tindakan selanjutnya.

4.6 Evaluasi Tablet Salut (pasca-penyalutan)


a. Uji kenaikan bobot
Uji kenaikan bobot dilakuakn dengan cara menimbang 20 tablet
salut kemudian dihitung bobot rata-rata tablet salut. Kenaikan bobot
dihitung sebagai berikut;
Kenaikan bobot (%) = (π−μ)
μ
Keterangan:
π = bobot rata-rata tablet salut
μ = bobot rata-rata tablet inti
Kenaikan bobot yang dipersyaratkan untuk tablet salut selaput
adalah 2-5%. (Lachman, Lieberman and Kanig, 1994)
b. Ketebalan salut
Pengamatan dilakukan dengan alat Scanning Electron Microscope
(SEM). Tablet salut lapis tipis dipotong melintang, kemudian
ketebalan lapisan salutnya diukur dengan SEM.
c. Uji waktu hancur tablet salut
Masukkan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang, bila
tablet mempunyai pelarut luar yang dapat larut, celupkan keranjang
dalam air pada suhu kamar selama 5 menit. Kemudian masukkan
cakram padatiap tabung dan jalankan alat, gunakan cairan lambung
buatan LP bersuhu 37° kurang lebih 2°C sebagai media. Setelah alat
dijalankan selama 30 menit, angkat keranjang dan amati semua tablet.
Bila tablet tidak hancur sempurna, ganti dengan cairan usus buatan LP
bersuhu 37° kurang lebih dan teruskan pengujian hingga jangka waktu
keseluruhan, termasuk pencelupan dalam air dan cairan lambung
buatan LP adalah sama dengan batas waktu yang dinyatakan dalam
masing-masing monografi ditambah 30 menit, angkat keranjang dan
amati semua tablet,semua tablet harus hancur sempurna. Bila 1 tablet
atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet
lainnya; tidak kurang 16 dan 18 tablet yang diuji harus hancur
sempurna. (Depkes, 1995)
BAB IV

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1 Clopidogrel Bisulfate sebagai zat aktif memiliki komponen formula yang
cocok dengan bahan baku Cellulose Microcrystalline (Avicel 102)
sebanyak 25% , Crospovidone (polivinilpirolidon) sebanyak 5%, Mg-
Stearat sebanyak 1%, Talk sebanyak 3%, Laktosa spray dried ad 100%,
Sementara untuk penyalut digunakan HPMC, PEG 400, Iron oxide yellow,
titanium dioxide.
2 Pembuatan Tablet salut Clopidogrel Bisulfate di pertimbangkan karena
clopidogrel merupakan zat aktif yang memliki sifat hidroskopis, sehingga
pembuatan tablet salut melalui metode kempa langsung kemudian di
lakukan proses penyalutan.
a. Proses pembuatan tablet inti Clopidogrel Bisulfate, avicel 102, talk
dan crospovidone diayak dengan mesh 20 untuk mendapatkan
partikel yang homogen, sedangkan mg-stearat dan laktosa diayak
dengan mesh 40. Semua bahan yang sudah diayak dicampur
menggunakan planetary mixer hingga homogen.
b. Proses selanjutnya adalah penyalutan. Campurkan HPMC dengan
air dikembangkan terlebih dahulu, selanjutnya campurkan PEG
400 sedikit demi sedikit hingga homogen, setelah itu tambahkan
titaniumdioxide dan iron oxide yellow hingga homogen.
Selanjutnya tablet inti tadi dilakukan proses spraying dengan
menggunakan bahan penyalut yang telah dibuat. Tablet yang sudah
selesai disalut dimasukkan ke dalam panci polishing untuk
memoles tablet supaya mengkilat. Tahap pengkilatan (polishing)
bertujuan untuk mengkilapkan permukaan tablet salut sehingga
terlihat mengkilap dan menarik dengan menggunakan polimer
selulosa.
5.2 Saran
Dalam Produk Tablet salut Clopidogrel Bisulfate tentunya memiliki kendala
pada bentuk sediaanya, diharapkan ada sediaan selain bentuk tablet salut
sehingga penggunaaan/pemerian obat Clopidogrel Bisulfate bisa lebih
flexible.
DAFTAR PUSTAKA

Constable,S., Winstanley,P. (2017). Medical Pharmacology Third Edition

Master Medicine. British: Curchill livingston elsevier

Departemen Kesehatan RI. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV.

Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal.1033.

Jurnal formulasi dari WO 2007/091279 Al tabel 5

Kemenkes RI. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementrian kesehatan

RI. 2014; 57.

Lachman L., Herbert, A. L. & Joseph, L. K., 2008, Teori dan Praktek

Industri Farmasi Edisi III, 645, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta

Voight, R., 1994, Buku Pengantar Teknologi Farmasi, 164, diterjemahkan

oleh Soedani, N., Edisi V, Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada Press.