Anda di halaman 1dari 11

KONSEP BEAS PERELEK MASYARAKAT SAMARANG KABUPATEN

GARUT DENGAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT.

Disusun Oleh : Arini,


Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah semester 5
STAIPI Garut.
arini@staipersisgarut.ac.id

Abstrak

Beas perelek, merupakan salah satu kearifan lokal yang masih dijalankan oleh
masyarakat kampung Sirnasari kecamatan samarang kabupaten Garut. Tujuannya
sebagai salah satu strategi dalam pemerataan pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat dalam satu upaya memenuhi kebutuhan dasar warga. Manfaatnya untuk
meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam pembangunan khususnya
dalam mengentaskan kemiskinan dan menyejahterakan masyarakat. Di samping itu
manfaat lainnya memberi makna teladan, melatih jiwa berkorban dari hal yang paling
kecil, melatih kebersamaan dan kepedulian antar sesama dan semangat gotong
royong. Namun dalam perkembangannya, akan menghadapi tantangan dan
mengalami perubahan mengingat budaya lokal ini tidak lepas dari budaya global
melalui inovasi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pranata
sosial (ekonomi) dalam program beas perelek sebagai sebuah pemberdayaan bagi
masyarakat di kecamatan Samarang kabupaten Garut Setelah dicermati, ternyata
dalam program beas perelek memiliki nilai-nilai yang bersinergi dengan falsafah
hidup masyarakat Sunda, yaitu silih asah, silih asah dan silih asuh. Beas perelek ini
representasi dari nilai-nilai itu semua. Oleh karena itu perlu peran pemerintah daerah
dalam melestarikan sikap hidup yang berazaskan kebersamaan. Beas perelek
merupakan salah satu kearifan lokan dan sebuah solusi atas persoalan kesenjangan
sistem sosial karena kalangan masyarakat yang sudah mampu dapat berbagi pada
masyarakat kurang mampu.
ABSTRAC
Beas perelek, is one of the local wisdom that is still carried out by the people of
Kp.Sirnasari, Samarang sub-district, Garut district. The goal is as a strategy in
equitable development and community empowerment in an effort to meet the basic
needs of citizens. The benefit is to increase community awareness and participation in
development, especially in alleviating poverty and improving community welfare. In
addition, other benefits are giving meaning to be exemplary, training the spirit of
sacrifice from the smallest things, training togetherness and care for one another and
the spirit of mutual cooperation. However, in its development, it will face challenges
and experience changes considering that this local culture cannot be separated from
global culture through economic innovation. This research aims to describe the social
(economic) institutions in the free program as an empowerment for the community in
the Samarang sub-district, Garut district. and choose foster care. This bad spirit
represents all of these values. Therefore, the role of local government is needed in
preserving an attitude of life which is based on togetherness. Beas perelek is a
solution to the problem of inequality in the social system because people who are
already able can share with the less fortunate.

A. PENDAHULUAN

Budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai solusi dalam menghadapi


permasalahan. Di tatar Sunda (Provinsi Jawa Barat), mengenal nilai-nilai yang
berlaku dalam tata kehidupan bermasyarakat yang diwujudkan dalam falsafah “silih
asih, silih asah, silih asuh”. Merupakan falsafah hidup yang sangat melekat pada hati
setiap individu masyarakat Jawa Barat. Motto ini menjadi pedoman setiap individu
dalam menghadapi segala bentuk fenomena kehidupan ini, baik di lingkungan terkecil
(keluarga) maupun dalam kancah yang lebih luas lagi (negara). Silih asih merupakan
ungkapan rasa atau tingkah laku yang memperlihatkan silih pikanyaah, silih pikaasih,
silih pikaheman (saling menyayangi). Kata asih, memiliki arti yang sangat luas,
menunjuk pada sikap individu yang sangat refleksif terhadap dirinya, seperti etos
kerja, aktif, adanya dedikasi, dapat berkompromi, disiplin, bertanggungjawab, sabar,
pengorbanan, ekspresi diri, realitas hidup, adanya kejujuran, rasa kepuasan hati dalam
bekerja sama, rasa keindahan, rasa duka yang dapat dirasionalisasikan atau
disublimasikan. Silih asah yaitu saling memberi, curah pendapat silih seukeutan elmu
pangaweruh‟ atau „silih tambahan pangalaman‟. Arti silih asah itu adalah cara untuk
memperkaya pengetahuan dan ilmu baik secara lahir maupun batin, serta dalam
praktiknya harus ada dua belah pihak, yaitu yang diasah dan yang mengasah. Yang
memberi tahu dan yang diberitahu. Dalam silih asah ini mengandung unsur:
Semangat dan keinginan, mampu mengendalikan diri, bermetode, abar, bruk-brak
(keterbukaan), kejujuran, berkelanjutan, ngaropea (pengelolaan), kreativitas, inovatif,
mere pangajen (menilai), berani diuji, proaktif, berjuang, kualitas diri, komunikasi,
dan sinergik.
Silih Asuh dapat disimpulkan dalam kata yang lebih populer yaitu proporsional
dan profesional. Unsur silih asuh itu adalah adanya kesamaan hak, saling
menghargai, kerelaan, berkorban, mengetahui posisi diri, kejujuran, adil, sinatria,
regenerasi, penghormatan, kaderisasi, pengakuan, kaweningan hate (kebersihan hati),
tanggung jawab, dan rasa sauyunan (kebersamaan) (Suryalaga, 1995). Nilai-nilai
silih asih, silih asah, silih asuh tersebut dapat difungsikan sebagai alat untuk
mengatasi salah satu masalah kemiskinan dan permasalahan sosial lainnya yang ada
dalam masyarakat Sunda. Falsafah hidup silih asih, silih asah, silih asuh sebagai
modal sosial, dapat diimplementasikan dengan budaya lokal lainnya seperti beas
perelek yang sedang dijalankan Padahal budaya lokal dapat berkontribusi dalam
pembangunan, baik itu sebagai antisipasi ataupun memberi solusi. Hal ini
memberikan lebih banyak ruang untuk otonomi individu dan heterogenitas sosial,
tetapi tidak harus membuat individu menjadi terpisah sama sekali dari ikatan sosial
yang didasarkan pada konsensus moral. Penelitian ini mengangkat permasalahan
mengenai pemberdayaan masyarakat yaitu melalui beas perelek yang merupakan RW
09 kecamatan Sirnasari kecamatan samarang serta bagaimana pula melihat nilai-nilai
budaya yang menjadi falsafah hidup masyarakat Sunda dapat selaras dengan program
ini. Beas perelek dalam perkembangannya akan menghadapi perubahan-perubahan
serta tantangan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Secara umum kajian akan
dikaitkan pada tantangan yang dihadapi, perubahan sosial
dan konteks keilmuan.
Alur Beas Perelek
Keluarga Rumah RT Rumah RW Dihitung dan
Dilaporkan

Dibagikan kepada warga yang


membutuhkan dan digunakan untuk
operasional masjid

1. HASIL DAN BAHASAN


Sifat kegotongroyongan (sabilulungan dan rereongan) bagi masyarakat Sunda
sudah merupakan budaya yang tidak lepas dari kehidupan kesehariannya. sifat gotong
royong di pedesaan banyak diimplementasikan dalam berbagai cara, seperti gotong
royong dalam membersihkan jalan, membangun rumah, membuat saluran air, beas
perelek, dan sebagainya. Untuk kegiatan beas perelek yang dilaksanakan di
kecamatan Samarang kabupaten Garut, mulai dilaksanakan pada tahun sejak tahun
1996, dalam masyarakat Sunda diterapkan kegiatan yang dikenal dengan beas
perelek, yaitu mengumpulkan beras sekitar satu sendok atau canting (takaran kurang
lebih 2,5 deciliter) yang setiap minggu dikumpulkan di rumah RT. Hasil dari
pengumpulan beras tersebut selanjutnya digunakan untuk menolong anggota
masyarakat yang kukarangan, membanyar listrik masjid atau madrasah, khususnya
pada musim paceklik.
Kegiatan ini merupakan tradisi masyarakat Sunda yang dikenal dengan
rereongan yaitu budaya untuk saling menolong antartetangga yang ditujukan untuk
mengatasi permasalah kesejahteraan sosial dalam lingkup terbatas. Setiap keluarga
pada setiap harinya mengumpulkan berasnya dengan perbandingan satu liter beras
yang dimasak pada hari itu. Beas perelek yang dimasukkan ke dalam bumbung awi
atau botol vekas yang dibelah menjadi dua bagian yang digantungkan di depan
rumah atau ditempelkan pada bilik rumah. Kemudian ketua RW memerintahkan
kepada petugas khusus untuk datang mengambil beas perelek tersebut pada hari-hari
tertentu yang sudah disepakati, biasanya satu kali dalam satu pecan waktu yang sudah
disepakati yaitu jumat sore sehingga hasil pengumpulan akan diumumkan di
pengajian mingguan malam sabtu. Kemudian ketua RT akan mendata warga yang
kurang mampu dan membutuhkan bantuan dengan segera, maka beras yang
terkumpul tersebut akan diberikan sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu, beas
perelek dapat dipergunakan untuk pembangunan wilayahnya.
A. Beas Perelek salah satu kearifan lokal
Masyarakat membutuhkan jaring pengaman sosial yang berfungsi menjamin
kebutuhan hidupnya. Berdasarkan prinsip kebutuhan, ada tiga hal wajib yang harus
dipenuhi, yakni: sandang, pangan, dan papan. Berkaitan dengan itu, beas perelak
yang merupakan kearifan lokal budaya Sunda. Di tengah kondisi pandemik sekarang
ini, mungkin bisa menjadi tawaran solusi atau salah satu bentuk jaring pengaman
sosial bagi masyarakat. Paling tidak untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat
yang rentan terdampak akibat pandemi Covid-19. di dalam kegiatan beas perelek ada
nilai-nilai gotong royong yang begitu melekat dengan karakter bangsa Indonesia.
“Budaya ini sudah menjadi jati diri bangsa Indonesia sejak lama, program beas
perelek dapat terus berjalan dan menjadi gerakan bersama untuk memupuk semangat
gotong royong masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan. Selain itu, ini juga
merupakan bentuk pelestarian kearifan lokal yang bisa diwariskan kepada anak cucu
kelak.
B. Letak Geografis

Letak Gaeografis Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan
pada koordinat 6º56'49'' - 7 º45'00'' Lintang Selatan dan 107º25'8'' - 108º7'30'' Bujur
Timur. Kabupaten Garut memiliki luas wilayah administratif sebesar 307,407 Ha
(3.074,07 km²) dengan batas-batas sebagai berikut:

1. Utara, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Sumedang

2. Timur, Kabupaten Tasikmalaya

3. Selatan, Samudra Hindia

4. Barat, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur

Kabupaten Garut yang secara geografis berdekatan dengan Kota Bandung sebagai
ibukota provinsi Jawa Barat, merupakan daerah penyangga dan hitterland bagi
pengembangan wilayah Bandung Raya. Oleh karena itu, Kabupaten Garut
mempunyai kedudukan strategis dalam memasok kebutuhan warga Kota dan
Kabupaten Bandung sekaligus pula berperan di dalam mengendalikan keseimbangan
lingkungan.

C. Manfaat dan Nilai-Nilai Dalam Beas Perelek

Kearifan lokal memang senjata terpendam yang dimiliki bangsa Indonesia. Selain
memiliki manfaat dalam menjamin ketersediaan pangan di saat kondisi darurat. Beas
perelek juga merupakan simbol semangat gotong royong yang menjadi ciri khas
bangsa Indonesia.

a. Beas perelek yang dikumpulkan secara sukarela dari masyarakat, secara


tidak langsung, melatih rasa kepedulian dan keikhlasan untuk saling
berbagi. Masyarakat secara sadar memberikan hartanya untuk membantu
orang lain atau tetangga yang membutuhkan pertolongan.
b. Semangat saling membantu, juga merupakan simbol kebersamaan yang
sangat mendasar sebagai landasan mencapai ketentraman dan
kesejahteraan. Apabila faktor ketentraman dan kesejahteraan sudah
terpenuhi secara merata di masyarakat. Maka faktor keamanan dan
kenyamanan pun, rasanya akan tidak sulit untuk dicapai

c. Bila dikaitkan dengan kondisi di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Jika
kesejahteraan masyarakat sudah tercapai, pemberlakuan karantina wilayah
dalam rangka mencegah penyebaran virus corona, sepertinya tidak perlu
ragu dilakukan. Karena masyarakat, sudah memiliki cara sendiri untuk
saling bantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan budaya Sunda, sudah
menawarkan solusinya lewat tradisi Beas Perelek.

D. Tantangan yang dihadapi


Gerakan Beas Perelek sebagai sebuah kearifan lokal dengan prinsip budaya
gotong royong (rereongan dan sabilulungan) dalam kehidupan bermasyarakat dewasa
ini menghadapi sebuah tantangan, dengan adanya pergeseran nilai seiring dengan
kemajuan ekonomi, teknologi dan informasi pada masyarakat di mana budaya lokal
tersebut berlaku.
Perubahan sikap yang disebabkan globalisasi ini sangat ditakutkan oleh para
budayawan. Ketika masyarakat pedesaan yang awalnya berbudaya petani yang selalu
didasari oleh sikap hidup rereongan, sabilulungan dengan tujuan saling mem-bantu,
kini berubah menjadi budaya (industri) menjadi buruh yang mate-rialistik, semua
diukur dengan materi (upah). Nilai-nilai sosial bergeser dengan nilai-nilai yang
terukur dengan uang. Maran (dalam Tabroni, 2006) menyatakan bahwa kebudayaan
akan selau mengalami perubahan, penting adanya penyadaran akan pentingnya
budaya local sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya global. Perlu adanya peran
pemerintah daerah dalam membangkitkan budaya lokal dengan tanpa meninggalkan
sisi positif dari budaya global.
E. Beas Perelek sebagai unsur Kebudayaan

a. Sistem peralatan dan Tekhnilogi


Teknologi Seiring dengan berkembangnya zaman, kini hasil-hasil
pengembangan teknologi sangat membantu masyarakat sunda dalam
kegiatannya sehari-hari serta mudah untuk didapat. Seperti alat-alat yang
digunakan untuk pertanian yang pada zaman dulu masih trdisional, kini terlah
berubah mengunakan alat-alat yang modern sertacanggih seperti traktor untuk
membajak sawah, penggilingan padi. Selain itu juga sudah terdapat alat
komunikasi dan barang elektronik yang modern, canggih sertamutakhir.
Sehingga memudahkan dalam pemasaran produk-produk yang dihasilkan, jika
kita hubungkan dengan konsep beas perelek unsur kebudayaan sistem peralatn
dan tekhniloi sudah sangatlah canggih contohnya dalam pelaporan hasil
pendapat beas perelek dapat dilihat di grup Watsapp Rw sehingga mudah
untuk dijangkau.

b. Bahasa Bahasa Bahasa Sunda mengenal adanya tingkatan dalam Bahasa yang
disebut Unda-Usuk yaitu tata cara berbahasa untuk mebedakan golongan usia
dan status social.

Bahasa Sunda Lemas (halus) yang digunakan untuk berbicara kepada


orangtua, orang yang dituakan atau yang disegani.

Bahasa Sunda Sedang yang digunakan antara orang yang setaraf, baik usia
maupun status sosialnya.

Bahasa Sunda Kasar yang digunakan oleh atasan kepada bawahan, atau
kepada orang yang status sosialnya lebih rendah.

c. Mata pencaharian pokok suku Sunda adalah:


i. Bidang Perkebunan : Teh

ii. Biadang Pertanian : Padi, Palawija, dan Sayur-mayur.

iii. Bidang Perikanan : Tambak Udang, dan Perikanan Ikan Payau.Selain


bertani, berkebun dan mengelolo perikanan ada juga yang bermata
pencaharian sebagai Pedagang, Pengrajin, Peternak dan Nelayan.

Khusus di Kecamatan samarang mayoritas pendudukan mata pencahariannya


yaitu pertanian, ,seperti sawi, timun, kangkung dll. Sehingga kesadaran akan
masyarakat mengenai program beas perelk masih sangat mendukung.

d. Organisasi sosial Organisasi Kemasyarakatan Sistem kekerabatan yang


digunakan adalah Parental atau Bilateral, yaitu mengikuti garis keturunan dari
kedua belah pihak orang tua. Pada saat menikah orang Sunda tidak ada
kharusan menikah dengan keterunan tertentu asal tidak melanggar dari
ketentuan Agama. Pada saat setelah menikah, pengantin baru bisa tinggal
ditempat kediaman istri atau suami, tetapi pada umumnya mereka lebih
memilih untuk tinggal ditempat yang baru. Dilihat dari sudut ego, orang sunda
mengenal istilah tujuh generasi keatas (Kolot, Embah, Buyut, Bao,
Janggawareng,Udeg-udeg, Gantung Siwur) dan kebawah (Anak, Incu, Buyut,
Bao,Janggawareng, Udeg-udeg, Gantung Siwur).

e. Sistem pengetahuan Ilmu Pengetahuan dalam era globalisasi saat ini kemajuan
teknologi sangatlah bagus, hal itu sangat membantu untuk meberikan fasilitas
yang cukup memadai dalam pengetahuan dan informasi memudahkan
masyarakat untuk memilih intitusi atau lembaga pendidikan yang akan mereka
masuki dalam berbagai jenjang dari mulai tingkat Sekolah Dasar bahkan
hingga tingkat Perguruan Tinggi. Pada saat ini disetiap ibukota kabupaten
telah tersedia Universitas-universitas, Fakultas-fakultas dan Cabang-cabang
Universitas, seperti ITB, UPI, UNPAD yang ada diBandung
f. Kesenian

i. Seni Tari : Tari Topeng, Merak, Jaipong, dan Sisingaan.

ii. Seni Suara dan Musik : Degung (semacam orchestra) menggunakan


alat musicgendang, gong, saron, kecapi dll.

iii. Lagu Daerah sunda antara lain yaitu Bubuy Bulan, Karatagan
Pahlawan,Badminton, Bandung, Tokecang, Cingcangkeling, Manuk
Dadali, Es Lilin danWarung Pojok.

iv. Wayang Golek. Wayang yang terbuat dari kayu dan salah satu tokoh
karakterwayang yaitu Cepot dan Dalang yang paling terkenal adalah
Abah AsepSunarya

g. Religi atau agama Religi Sebagian besar masyarakat suku Sunda menganut
agama Islam.

2. PENUTUP

Beas perelek, di kecamatan Samarang Kabupaten giat dijalankan, program beas


tradisi yang menjadi salah satu kearifan lokal dan ciri kehidupan masyarakat di tatar
Sunda (Jawa Barat). Program Beas Perelek sangat bermanfaat untuk membantu
meringankan beban warga yang kekurangan bahan pangan. Hasilnya beas perelek ini
dapat digunakan sebagai ketahanan pangan dalam menghadapi musim paceklik
maupun dalam menghadapi musibah. sejalan dengan falsafah kehidupan masyarakat
Sunda yaitu silih asih, silih asah, dan silih asuh.
Program Beas Perelek ini merupakan program pemberdayaan masyarakat dan
menuntut partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri untuk mencapai kesejahteraan
yang merata. Dalam menghadapi tantangan baik lokal, nasional dan regional, terjadi
adaptasi nilai-nilai luar (modern) dalam pengelolaan beas perelek. Pada awalnya
pengelolaan beas perelek, sangat sederhana yaitu mengumpulkan beras dan kemudian
dibagikan kepada orang yang membutuhkan, dan sebagai persediaan di masa paceklik
atau musibah.
Tidak dapat dipungkiri bahwa program Beas Perelek ini mengalami
perubahan seiring perubahan tatanan kehidupan. Perkembangan ekonomi yang begitu
pesat sangat mempengaruhi Beas Perelek Partisipasi Pemberdayaan Solidaritas
Pembangunan yang berpusat pada rakyat. Proses industrialisasi, sangat
mempengaruhi sikap hidup masyarakat, dimana dahulu merupakan masyarakat
berbudaya petani berubah menjadi industri. Program Beas Perelek sejalan dengan
nilai-nilai falsafah hidup manusia Sunda, yaitu silih asih, silih asah, silih asuh yang
dapat difungsikan sebagai alat untuk mengatasi salah satu masalah kemiskinan dan
permasalahan sosial lainnya yang ada dalam masyarakat Sunda. Banyak budaya lokal
yang sebenarnya dapat dijadikan dasar sebagai modal sosial yang dapat berkontribusi
dalam pembangunan, baik itu sebagai antisipasi ataupun memberi solusi. Beas
perelek dan falsafah hidup manusia Sunda silih asah, silih asih, dan silih asuh,
merupakan modal sosial yang dapat menunjang pembangunan. Kebudayaan akan
selalu berubah atau dinamis. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu adanya
penyadaran akan budaya lokal sebagai penangkal terhadap pengaruh budaya luar
(global). Beas perelek merupakan salah satu solusi dalam menangkal pengaruh
tersebut. namun masyarakatnya mau menerima program beas perelek sebagai sebuah
kekayaan tradisi lama yang dihidupkan kembali. namun demikian perlu langkah-
langkah dalam pelestarian program ini, yaitu:
a. Beas perelek, perlu disosialisasikan kepada generasi muda, karena memiliki nilai-
nilai positif dan kebersamaan serta partisipasi.
b. Beas perelek, merupakan modal social dalam pembangunan perlu dilestarikan dan
dukungan penuh dari pemerintah, sehingga ketika penggagasnya diganti, beas perelek
tidak ikut berhenti.
c. Beas Perlek, merupakan system kebersamaan yang bersifat kegotongroyongan,
perlu dipertahankan, agar kebersamaan masyarakat tetap terjaga dalam pembangunan
kesejahteraan masyarakat.