Anda di halaman 1dari 16

Kriteria Material Konstruksi untuk Bendungan Urugan (Studi Kasus Bendungan Sindangheula)....

(Diah Affandi)

KRITERIA MATERIAL KONSTRUKSI UNTUK BENDUNGAN URUGAN


(STUDI KASUS BENDUNGAN SINDANGHEULA)

EMBANKMENT MATERIAL CRITERIA FOR DAM CONSTRUCTION (CASE


STUDY: SINDANGHEULA DAM)
Diah Affandi
Peneliti Puslitbang-SDA, Kementerian Pekerjaan Umum
Email: affandi.diah@yahoo.com

Diterima: 25 Agustus 2014 ; Disetujui: 26 November 2014

ABSTRAK
Untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, pemerintah berupaya meningkatkan pembangunan dibidang
pengairan. Salah satu rencana pembangunan terdekat adalah dengan dibangunnya bendungan Sindangheula,
yang berlokasi di Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Dinas Sumber Daya Air Provinsi Banten memilih salah
satu lokasi potensial yang dapat dijadikan sebagai lokasi waduk/bendungan yaitu Sungai Cibanten. Salah satu
masalah yang menjadi prioritas dalam penentuan tipe bendungan adalah ketersediaan material konstruksi
yang berada di sekitar calon bendungan. Untuk memenuhi standar teknis terhadap pemilihan material
konstruksi tersebut perlu dilakukan beberapa penyelidikan geoteknik, diantaranya penyelidikan terhadap
material tanah (borrow area) untuk urugan tubuh bendungan (zona inti kedap air), material pasir (quarry
pasir) untuk zona filter dan penyelidikan material batu (quarry batu) untuk zona urugan batu. Material tanah
untuk inti zona kedap air, harus diperbaiki gradasinya (terlalu halus sehingga harus dicampur dengan matrial
yang cukup kasar, dengan demikian akan menaikkan parameter kuat gesernya (c dan ф). Berdasarkan hasil
plot grafik dari uji saringan diketahui bahwa material pada zone 2 memerlukan perbaikan gradasi
(pencampuran). sehingga dapat menaikkan parameter kuat geser yang diperlukan dalam perhitungan analisa
stabilitas. Material batu untuk zona transisi dan zona urugan batu, mengambil dari quarry G. Cisalak. Material
untuk agregat beton mengambil dari quarry G. Cisalak (hasil penghancuran batu memakai stone crusher).
Berdasarkan ketersediaan material konstruksi tersebut, maka tipe bendungan yang sesuai adalah bendungan
tipe urugan batu dengan inti kedap air tegak.
Kata kunci : Material konstruksi, zona inti, zona filter, zona batu, bendungan urugan

ABSTRACT

To meet the national food requirements, government put lots of efforts to promote development in the
irrigation. One of the closest development plan is the construction of the Sindangheula dam, which is located in
Serang District, Banten. Banten Water Resources Department choose one of the main potential sites that could
be used as the location of the reservoir/dam is in Cibanten River. One of priority issues in determination of the
dam type, is the availability of construction materials which are located around the dam site plan. To meet the
technical standards for the selection of the construction materials it is necessary to do some geotechnical
investigations, including soil material investigations (borrow area) for dam body (core zone waterproof), sand
material (quarrypasir) for the filter zone and rock material investigation (stone quarry) for a heap zone.
Impermeable core zone material gradation must be improved (too fine so it must be mixed with adequate
materials quite rough) so it will raise shear strenght parameters (c and ф). Based on the graph plot of grain size
test analysis are known that the material in zone 2 in require for gradation mixing, due to that condition to
increase the shear strength parameters required in the calculation of rock stability. Material analysis for
transition zones and rock heap zones, taken from the Mt. Cisalak quarry, concrete aggregates Materials from
quarry Mt. Cisalak (results stone crushing stone wear crusher). Based on the availability of construction
materials, the appropriate type of dam is a rock fill dam- with impermeable core zone.
Keywords: Construction materials, core zone, filter zone, rocks zone, Embankment dam

165
Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 5, No. 2, Desember 2014: 165-180

PENDAHULUAN KAJIAN PUSTAKA


Dalam rangka memenuhi kebutuhan Kajian Teknis
pangan nasional dan meminimalkan perbedaan 1 Tipe Bendungan Urugan
distribusi pengembangan sumber daya air di Berdasarkan buku bendungan type
daerah-daerah, maka pemerintah Indonesia urugan (Suyono,1981) bendungan urugan dibagi
telah melaksanakan serangkaian usaha terus dalam beberapa type yaitu :
menerus dimana salah satunya adalah
pembangunan di bidang pengairan yang dapat 1) Bendungan urugan tanah homogen
langsung dirasakan oleh masyarakat Ditinjau dari pelaksanaan
kecil/petani dalam memenuhi kebutuhan air pembangunannya bendungan tipe ini
irigasi maupun air baku. merupakan bendungan yang paling sederhana
Salah satu alternative untuk menentukan dibanding tipe lain. Akan tetapi karena sebagian
jenis bendungan harus disesuaikan dengan besar material yang digunakan berupa
material yang ada dan terdekat di rencanakan tanah/lempung yang sensitif terhadap
lokasi bendungan. Terkait hal tersebut maka kandungan air, pelaksanaan pembangunan akan
pengkajian mengenai kriteria material terganggu oleh curah hujan. Untuk mengurangi
konstruksi untuk bendungan urugan sangat pengaruh air hujan terhadap timbunan, ada
diperlukan, sehingga mendapatkan hasil beberapa upaya yang dapat dilakukan,
pembangunan yang tepat dan effektif baik diantaranya:
ditinjau dari segi kualitas bendungan maupun a. Tidak menghentikan pekerjaan sebelum
biayanya. hamparan tanah timbunan dipadatkan.
Untuk memenuhi kebutuhan air tersebut b. Setiap akhir pekerjaan atau sebelum hujan,
maka Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau- permukaan timbunan digilas dengan mesin
Ciujung-Cidurian dan Dinas Sumber Daya Air gilas, sehingga membentuk ”sealing” pada
Provinsi Banten memilih salah satu lokasi permukaan timbunan dan air tidak meresap
potensial yang dapat dijadikan sebagai lokasi kedalam timbunan
waduk/bendungan Sindangheula yang dijadikan c. Profil timbunan dibuat miring, sehingga air
bahan kajian dalam tulisan ini. hujan yang jatuh diatas timbunan akan
Untuk mengetahui lokasi material dan segera mengalir keluar daerah timbunan.
ketersediaannya, diadakan penyelidikan geologi, d. Bila mungkin, permukaan timbunan ditutup
berdasarkan pada Peta Geologi Lembar Serang, dengan terpal atau lembaran plastik.
Skala 1 : 100.000 (P3G Bandung, 1981) dan Peta
Timbunan berikutnya dilaksanakan
Rupa Bumi, Skala 1 : 25.000 yang diterbitkan
setelah lapisan permukaan yang basah karena
oleh Bakosurtanal, 1989. Penyelidikan geologi
hujan dikupas, bila tidak turun hujan permukaan
tersebut meliputi :
yang halus harus dicacah atau dikasarkan lebih
Penyelidikan geologi tersebut meliputi : dulu agar terbentuk ikatan yang baik dengan
a. Penyelidikan material tanah dilokasi borrow lapisan timbunan diatasnya. Pengkasaran juga
area untuk urugan tubuh bendungan (zona perlu dilakukan, apabila dijumpai permukaan
inti kedap air). timbunan yang halus bekas lalu-lalang
b. Penyelidikan material pasir (quarry pasir) kendaraan atau peralatan konstruksi lain.
untuk urugan tubuh bendungan (zona filter) 2) Bendungan zonal
dan agregat halus beton.
Bendungan tipe ini memiliki 2 macam
c. Penyelidikan material batu di lokasi quarry atau lebih zona timbunan, yaitu: zona kedap air,
batu untuk urugan tubuh bendungan (zona filter, transisi, zona lulus air atau zona batu.
urugan batu) dan agregat kasar beton. Zona kedap air atau inti, biasanya menggunakan
Diharapkan dari hasil pengkajian ini tanah lempung yang sensitif terhadap air. Pada
dapat diketahui dan ditetapkan jenis bendungan pekerjaan timbunan inti, hindari pembuangan
yang sesuai dengan material-material yang ada air hujan yang kotor ke zona filter, karena dapat
dilokasi setempat dan memenuhi persyaratan mengakibatkan filter menjadi buntu (clogging).
sebagai material untuk bahan urugan untuk Filter juga harus dijaga dari kontaminasi
rencana bendungan baik itu untuk zona inti material zona inti disebelahnya dan guguran
kedap air, zona filter dan agregat halus beton material dari kendaraan yang lewat
serta zona urugan batu menyeberangi zona filter, disamping itu gradasi
filter dan juga transisi harus diperiksa dan dijaga
agar selalu memenuhi spesifikasi teknis. Untuk

166
Kriteria Material Konstruksi untuk Bendungan Urugan....(Diah Affandi)

zona urugan batu, pilih dan tempatkan batu-batu teliti, apabila kadar airnya berbeda dari
berukuran kecil disamping transisi, kemudian spesifikasi desain, maka kadar air material
yang lebih besar di bagian timbunan lebih luar. tersebut harus disesuaikan lebih dulu sebelum
Awasi dengan teliti dan hindari penggunaan digunakan untuk timbunan.
batu diluar jenis dan mutu yang ditetapkan.Bagi Material untuk tubuh bendungan,
bendungan zonal urugan batu dengan inti biasanya diusahakan agar dapat diambil
miring, zona urugan batu dibawah inti juga sedekat mungkin dari tempat lokasi calon
berfungsi seperti fondasi bendungan, bentuk- bendungan. Hampir semua material
bentuk ketidak beraturan pada sisi tanah/batuan dapat digunakan sebagai
pertemuannya dengan filter dapat menyebabkan material tubuh bendungan, kecuali tanah yang
terjadinya penurunan yang tidak merata pada mengandung zat-zat organik atau zat-zat yang
timbunan inti yang berakibat timbulnya retakan mudah larut lainnya.
dalam timbunan.
Berhubung banyaknya jenis material yang
3) Bendungan urugan batu terdapat di daerah sekitar lokasi calon
Bendungan tipe ini perlu fondasi yang bendungan, maka dengan dasar pemilihan
lebih baik dibandingkan bendungan urugan lain, material yang paling ideal, tubuh bendungan
khususnya fondasi dibawah plint (minimal kelas dapat direncanakan sedemikian rupa, sehingga
CH), dan karena membran yang digunakan didapatkan alternatif bentuk geometri yang
berupa plat beton yang relatif tipis, maka paling menguntungkan.
penurunan yang terjadi pada timbunan batu Material timbunan/urugan, secara umum
akan menimbulkan konsentrasi tegangan pada dapat dibedakan dalam 3 jenis, yaitu :
plat yang dapat berakibat terjadinya retakan a. Tanah
pada plat, atau pergeseran pada sambungan
b. Pasir Kerikil
yang berkibat sobeknya plat perapat air diantara
sambungan membran. Oleh karenanya, untuk c. Batu
mencegah terjadinya penurunan yang besar, Berdasarkan material timbunan yang digunakan,
kualitas pemadatan dan batu yang digunakan tipe bendungan urugan dapat dibedakan
harus benar-benar baik. Apabila digunakan menjadi 3 jenis, seperti tabel di bawah.
membran lembaran baja atau geosintetik,
1) Material Tanah
pertemuan membran dengan tumpuan dan
pasangan perlu diawasi dengan cermat karena Tanah adalah material yang paling
sering timbul bocoran di tempat tersebut. penting untuk pembangunan sebuah bendungan
urugan, karena setiap bendungan urugan akan
2 Material Timbunan selalu menggunakan material ini, baik untuk
Berdasarkan bahan ajar pemadatan dan penimbunan tubuh bendungan seperti halnya
timbunan pada diklat PU tahun 2015,secara pada bendungan tanah, maupun hanya untuk
garis besar bahan atau material pokok timbunan penimbunan-penimbunan pada zona-zona
tubuh bendungan dapat dibedakan dalam 2 kedap air pada bendungan batu atau bendungan
(dua) macam, yaitu : zonal lainnya.
a. Material yang fungsi utamanya untuk Beberapa syarat teknis terpenting adalah
mendukung stabilitas tubuh bendungan, sebagai berikut :
berupa material lulus air, seperti pasir, a. Ditinjau dari stabilitas bendungan, kepadatan
kerikil dan batu. dan kuat geser harus memadai.
b. Material yang fungsi utamanya untuk b. Permeabilitas tanah harus sesuai dengan
mencegah rembesan air dari waduk, berupa persyaratan yang diperlukan.
material kedap air yang umumnya berupa
c. Indeks kompresi kecil.
tanah lempungan.
d. Mudah dikerjakan (pada penggalian,
Pada umumnya material lulus air tidak
pengolahan, pengangkutan, penimbunan dan
sensitif terhadap perubahan tingkat kadar air
pemadatannya).
yang dikandungnya, sehingga karakteristik
mekanisnya juga tidak banyak berubah saat Dari ukuran butiran maupun gradasi
terjadi perubahan kadar air, baik yang berasal (distribusi ukuran butiran) dari suatu material
dari air hujan maupun dari air tanah. Sebaliknya dapat diperkirakan sifat teknisnya, antara lain
material kedap air sangat sensitif terhadap sebagai berikut :
perubahan tingkat kadar air yang dikandungnya. a. Tanah berbutir kasar yang bercampur secara
Oleh karena itu, pada saat penimbunan, kadar homogen dengan butiran-butiran yang lebih
air material tersebut harus selalu diawasi secara
167
Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 5, No. 2, Desember 2014: 165-180

halus, akan merupakan bahan yang baik Yang dimaksudkan material lulus air
untuk stabilitas bendungan. menurut ”Pedoman Uji Mutu Konstruksi Tubuh
b. Semakin kecil ukuran butiran tanah, maka Bendungan Tipe Urugan” adalah pasir dan atau
koeffisien filtrasinya akan semakin rendah. kerikil non kohesif yang mempunyai sifat
meluluskan air (free drain) dan mengandung
Seperti telah diuraikan diatas, semakin
butiran yang lolos saringan no. 200 kurang dari
kecil ukuran butiran tanah, maka koefisien
5%. Uji kompaksi standar (standard proctor) di
permeabilitasnya akan semakin rendah.
laboratorium terhadap material ini tidak dapat
Biasanya jenis tanah yang baik untuk zone atau
menghasilkan kadar air optimum dan kepadatan
lapisan kedap air adalah tanah dengan butiran
kering maksimum yang jelas, seperti halnya
yang agak kasar (coarse grains), tetapi
material kedap air (lempung). Kepadatan kering
bercampur secara homogen dengan dua jenis
di lapangan dapat diperoleh dari hubungan
tanah yang lebih halus yaitu :
kepadatan maksimum dan minimum yang dapat
a. Tanah yang 10-15 % bagiannya dapat diperoleh dari pengujian kepadatan relatif di
melewati saringan berukuran 0,074 mm. laboratorium dengan menggunakan meja getar
b. Tanah lempungan yang 5 % bagiannya dapat (SNI 03-1965-1990). Biasanya, zona urugan luar
melewati saringan 0,005 mm. (shell) suatu bendungan menggunakan tanah
Material kedap air (ASTM D 2487-90) berbutir kasar yang mengandung sejumlah
terdiri dari: lempung berplastisitas tinggi dan butiran halus dan didesain sebagai zona lulus
plastisitas rendah (CH dan CL), pasir lempungan air.
dan kerikil lempungan (SC-GC), dan lanau 3) Material Batu
lempungan (CL-ML). Material ini biasa
Material batu digunakan sebagai zona
digunakan sebagai material urugan zona inti dan
lulus air atau setengah lulus air pada bendungan
selimut kedap air, memiliki koefisien
zonal dan untuk hamparan pelindung pada lereng
permeabilitas setelah dipadatkan lebih kecil dari
udik atau timbunan drainase tumit di sebelah
orde 10-5 cm/s.
bawah lereng hilir (tumit) bendungan tanah.
Material semi kedap air, mecakup: lanau,
Jenis batuan yang cocok sebagai material
pasir lanauan (SM), kerikil lanauan (GM), pasir
urugan dari suatu bendungan, adalah seperti
lanauan dan pasir bergradasi buruk (SP) yang
tabel di bawah.
mengandung butiran halus yang lolos ayakan no.
200 hingga 12% (biasanya 5% adalah batas atas Tabel 1 Jenis Batuan yang Cocok untuk
material lulus air) bersifat semi kedap air, Bendungan
walaupun dalam spesifikasi material diizinkan
dipakai untuk material urugan zona lolos air. Jenis batuan Jenis batuan yang harus
yang baik dipertimbangkan
2) Material Pasir dan Kerikil untuk
Disamping sebagai bahan tubuh digunakan
bendungan, biasanya material pasir dan kerikil sebagai bahan.
ini merupakan material vital untuk lapisan Granit Serpih, batu sabak
filter atau transisi suatu bendungan. Oleh Basalt, andesit, Tufa
karena itu, gradasi dari bahan tersebut perlu dan riolit
mendapat perhatian khusus. Persyaratan yang Batu pasir yang Batu pasir yang berumur era
harus dipenuhi adalah sebagai berikut : berumur kenozoikum
a. Gradasi material sesuai dengan fungsi yang sebelum era
dibebankan pada lapisan atau zona-zona pada Mesozoik
calon tubuh bendungan. Batu gamping Genes, sekis yang
Kwarsit mengandung
b. Tingkat kekerasan material setinggi banyak retakan
mungkin dan mempunyai kekuatan geser
yang cukup tinggi.
4) Material Campuran
c. Tidak mengandung campuran zat-zat organik
Material ini digunakan untuk memenuhi
atau mineral-mineral yang mudah larut.
persyaratan tertentu, karena material yang ada
d. Mempunyai kestabilan struktur yang tinggi dan tersedia di lapangan tidak memenuhi
terhadap pengaruh-pengaruh atmosfir persyaratan, misalnya lempung dengan
maupun kimiawi lainnya. platisitas tinggi dengan kadar air dan indeks
e. Mempunyai kemampuan drainase yang cukup plastisitas tinggi (CH) yang berpotensi bersifat
memadai.

168
Kriteria Material Konstruksi untuk Bendungan Urugan....(Diah Affandi)

ekspansif dan sulit dikerjakan pada kadar air b. Tingkat deformasi yang rendah.
mendekati kadar air optimum. c. Mudah pelaksanaan pemadatannya.
Untuk memperbaiki sifat dan d. Tidak mengandung zat-zat organik serta
konsistensinya tersebut jenis tanah tersebut bahan-bahan mineral yang mudah terurai.
yang dikenal sebagai stabilisasi tanah dengan
e. Dan lain - lain
cara pencampuran dengan pasir atau kapur,
tergantung kemudahan dan tersediaannya Beberapa kriteria dari persyaratan
material pencampur tersebut di lapangan. tersebut diuraikan seperti di bawah.
Dengan cara stabilisasi tersebut disamping 1) Koefisien permeabilitas
kemudahan pengerjaan (workability), juga
Sebagai pedoman, koefisien permeabilitas
meningkatkan kuat geser tanah. Khusus
(k) dari material yang digunakan untuk zone
mengenai tanah dispersif ini dibahas lebih dalam
kedap air supaya tidak melebihi nilai 1 x 10 -5
pada bab tersendiri.
cm/s. Pada hakekatnya semakin halus suatu
5) Material Random material, maka koeffisien permeabilitasnya akan
Selain material seperti yang telah semakin rendah dan nilai k biasanya sudah
diuraikan di atas, kadang-kadang juga dapat diperkirakan berdasarkan besarnya
digunakan material yang kualitasnya lebih prosentase butiran material yang dapat melalui
rendah, seperti: saringan No.200. Hasil-hasil penelitian
menunjukkan, bahwa apabila suatu material
a. Material batu yang berasal dari batuan lunak
yang butiran halusnya dapat melalui saringan
yang mudah lapuk.
No.200 lebih rendah dari 7 %, maka material
b. Material dari dua jenis material tanah, pasir tersebut biasanya lulus air. Akan tetapi apabila
atau kerikil yang tidak mungkin terpisahkan, lebih dari 50 % yang dapat melalui saringan
karena pelapisannya pada tempat tersebut, maka material tersebut juga tak dapat
penggalian terlalu tipis. dipergunakan sebagai material kedap air, karena
c. Material hasil galian dari pondasi zona material semacam ini plastisitasnya sangat
kedap air atau pondasi bangunan pelengkap tinggi dan berpotensi untuk mudah
bendungan. mengembang/menyusut (tanah dispersif).
d. Material hasil galian jalan-jalan masuk atau Selain itu, perlu diingat bahwa untuk material
jalan exploitasi. yang sama, akan memberikan nilai k yang
berbeda, apabila tingkat kepadatannya dan
e. Material yang penyebarannya cukup luas,
angka kadar aimya berbeda-beda. Nilai k suatu
tetapi tidak mempunyai karakteristik yang
material akan paling rendah pada kadar air
seragam.
sedikit lebih tinggi dari kadar air optimumnya
Material seperti tersebut biasanya (OMC), yakni sekitar 2@3% OMC (wet side).
dimanfaatkan sebagai material timbunan zona
2) Kekuatan geser
sembarang (random zone). Zona sembarang ini
bersama-sama dengan zona-zona lain dari Untuk material berbutir halus
tubuh bendungan berfungsi untuk (lempungan), biasanya mempunyai kuat geser
mempertahankan kestabilan tubuh bendungan. yang lebih rendah dibandingkan yang berbutir
kasar. Besar kuat geser material ini dipengaruhi
Bila material random ini digunakan
oleh kadar air serta tingkat pemadatannya,
pada bendungan tipe sekat, maka sebagai lapisan
karena itu walaupun dari material yang sama,
kedap air yang dipasang pada lereng hulu,
kuat gesernya akan berubah, apabila kadar air
digunakan material seperti beton aspal, beton
serta tingkat pemadatannya berubah pula. Akan
bertulang, material pelapis kedap air. Akan
tetapi pada material berbutir kasar, perubahan-
tetapi pada perhitungan stabilitas bendungan,
perubahan kuat gesernya tidak terlalu besar,
terutama perhitungan longsoran, kekuatan geser
walaupun material tersebut mempunyai
material pelapis kedap air yang tipis ini biasanya
kemampuan penyerapan air yang tinggi (angka
diabaikan.
porinya besar). Pemadatan suatu material tanah,
Persyaratan Material Timbunan biasanya dilaksanakan pada kadar air mendekati
1 Zona Kedap Air kadar air optimum dan akan memberikan kuat
geser yang tinggi. Akan tetapi setelah waduk
Persyaratan utama untuk material kedap
terisi air dan material menjadi jenuh air, maka
air adalah :
kuat gesernya akan menurun.
a. Koefisien permeabilitas serta kekuatan geser
Kuat geser suatu material, biasanya
yang diinginkan.
ditentukan oleh kohesi (c) dan sudut geser

169
Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 5, No. 2, Desember 2014: 165-180

dalam (Ø). Pada umumnya, suatu material


dengan tingkat kepadatan D = 95 s/d 98%
merupakan harga yang cukup baik untuk
digunakan pada penimbunan tubuh bendungan.
Sedang material timbunan dengan harga D = 90
s/d 95% biasanya digunakan untuk
pembangunan bendungan yang rendah (< 30
meter) atau untuk bendungan dari timbunan
material berbutir halus, dimana
penimbunannya dilakukan pada kadar air yang
lebih basah dari kadar air optimumnya.
3) Konsolidasi
Semakin halus gradasi suatu material dan
semakin tinggi kadar airnya, maka indeks Gambar 1 Plasticity chart tanah
kompresinya akan menjadi lebih besar dan
tekanan air pori mungkin dapat meningkat pada 2 Zona Filter dan Transisi
saat berlangsungnya proses konsolidasi Untuk mencegah terbawanya material
tersebut. Dengan demikian dalam tubuh halus dari zona inti, maka di bagian hulu dan
bendungan yang baru selesai ditimbun, selain hilir zona inti dilengkapi dengan zona filter dan
tekanan - tekanan yang disebabkan oleh hasil zona transisi, sebelum zona batu sebagai zona
pemadatan, maka timbul pula tekanan-tekanan terluar dari suatu bendungan tipe zonal.
tambahan yang diakibatkan oleh adanya proses- Material yang digunakan untuk zona
proses konsolidasi tersebut di atas (tekanan filter/transisi tersebut adalah berupa pasir dan
konsolidasi). Terutama untuk material tubuh kerikil yang dipilih sedemikian rupa, supaya
bendungan yang kadar airnya yang lebih tinggi mempunyai kuat geser dan kemampuan
dari kadar air optimumnya, maka pada saat meluluskan air (drainase) yang memadai. Agar
penimbunan dan pemadatan, tekanan air pori filter dapat berfungsi sebagai penyaring butiran-
dapat meningkat cukup signifikan yang dapat butiran halus dari zona inti yang dilindungi, maka
mempengaruhi stabilitas bendungan. jenis material tersebut harus memenuhi
4) Kemudahan Pengerjaan persyaratan seperti diuraikan di bawah.
Pada umumnya penimbunan dan 1) Kriteria pokok
pemadatan material berbutir kasar lebih mudah a. Filter harus dapat mencegah terjadinya
dilaksanakan dibandingkan dengan material pengangkutan butir tanah oleh rembesan
berbutir halus. Demikian pula kadar air suatu
material urugan dapat mempengaruh b. Permeabilitas (k) filter harus jauh lebih besar
pelaksanaannya; pada kondisi kadar air sedikit dari pada urugan yang dilindungi,
rendah dari kadar air optimumnya (dry side), permeabilitas filter sekitar 20 ~ 100
penimbunan dan pemadatan tanah akan lebih permeabilitas inti.
mudah dilaksanakan dibandingkan dengan Agar filter dapat berfungsi dengan baik,
tanah yang kadar airnya hanya beberapa prosen gradasi filter harus memenuhi kreteria berikut :
saja bergeser ke arah yang lebih tinggi dari titik 2) Kriteria gradasi filter
optimum tersebut (wet side).
a. Persentase butir yang melewati saringan No.
5) Kandungan Organik 200 harus kurang dari 5 % berat setelah
Kandungan organik adalah merupakan dipadatkan.
zat-zat yang mudah terurai yang dapat
b. harus > 5
mengakibatkan terjadinya perubahan-
perubahan fisik dari zat-zat tersebut yang dapat
menurunkan kekuatan geser material. Oleh c. Kreteria filter terkait dengan jenis tanah
karena itu, material yang terpilih untuk tubuh dasar yang dilindungi, disajikan pada Tabel 2
bendungan supaya bebas dari campuran zat-zat di bawah.
organik, atau kandungan organik tersebut tidak
boleh melebihi 5 %. Di bawah adalah plasticity
chart untuk menentukan jenis dan klasifikasi
tanah.

170
Kriteria Material Konstruksi untuk Bendungan Urugan....(Diah Affandi)

Tabel 2 Hubungan antara jenis tanah dasar dan 6) Untuk tanah kategori 4, D85B dapat
kriteria filter ditentukan dari kurva gradasi awal tanpa
penyesuaian untuk butir-butiran yang lebih
Kategori Deskripsi Kriteria Filter 2)
besar dari 4,75 mm.
Tanah Tanah Dasar
dan 7) - D15F adalah ukuran butiran material filter
Saringan No. yang terletak di garis 15 % pada kurva
200 1) gradasi.
1 Lanau halus dan D15F - D15B adalah ukuran butiran material zona
9 3)
lempung yang D85B yang dilindungi yang terletak di garis 15
melewati pada kurva gradasi.
2 saringan No. 200 - D 85B adalah ukuran butiran material zona
> 85 %. D15F  0,7 mm yang dilindungi yang terletak di garis 85
3 % pada kurva gradasinya.
Pasir, lanau,
8) Di dalam susunan material filter tidak
lempung, dan
pasir lanauan, diperkenankan adanya butiran halus
D15F  0,7 mm 4) +
dan pasir (40-A) (4xD85B – melebihi 5 % (yang dapat melalui ayakan
lempungan yang 0,7mm) 5) No. 200) dan juga pada material filter tidak
melewati 25 diperkenankan adanya butiran yang bersifat
saringan No. 200 kohesif.
D15F /D85B  4
6)
4 antara 40 % - 85
%. Koefisien permeabilitas filter, dapat
diketahui dari hasil uji lapangan atau uji
Pasir dan kerikil laboratorium terhadap contoh tanah tidak
mengandung terganggu. Pada desain awal, permeabilitas filter
lanau dan dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus
lempung yang empiris Hazen, seperti berikut:
melewati
saringan No. 200 k = C x D102 1)
antara 15 % - 39
%. Keterangan :
k, koefisien permeabilitas [cm/s];
Pasir dan kerikil
lebih kecil dari
C, konstanta = 1, berlaku untuk pasir dan
15 % yang kerikil bergradasi seragam, tanpa
melewati sementasi dan bersih (lanau dan lempung
saringan No. 4 < 5%);
(melewati 4, 75 D10 , ukuran butir yang lewat saringan 10 %
mm) pada kurva gradasi material (mm)
Keterangan : Pada hakekatnya persyaratan-persyaratan yang
1) Kategori tanah yang mengandung butiran > telah diuraikan tersebut di atas, merupakan
4,75 mm ditentukan dari kurva gradasi dari persyaratan yang paling aman, terutama untuk
tanah dasar setelah disesuaikan menjadi melindungi zona-zona yang terdiri dari material
100 % melewati saringan No. 4. yang mengandung banyak lempung atau
2) Ukuran terbesar butir filter adalah 75 mm material dengan butiran yang hampir seragam.
dan persentase yang melewati saringan No. 3 Zona Batu
200 maksimal 5 % dan indek plastisitas
ditentukan berdasar material yang melewati Batu yang diperoleh dengan cara
saringan no. 40. Untuk meyakinkan filter memecahkan lapisan batuan masif atau material
mempunyai permeabilitas yang cukup maka bongkah pecahan batuan yang biasanya terdapat
pada alur-alur sungai, disebut sebagai material
D15F batu. Bendungan urugan yang sebagian besar
 5 dan lebih kecil dari 0,10 mm.
D85B tubuhnya terdiri dari timbunan batu
berdiameter rata-rata 10-75 cm disebut
3) Apabila 9 x D85B < 0,20 mm, maka digunakan
0,20 mm. bendungan batu (rockfill). Material batu
dianggap ideal, apabila memenuhi persyaratan
4) A adalah persentase saringan yang melewati
sebagai berikut :
saringan No. 200 setelah dibuat gradasi
sesuai filter. a. Ukuran diameter batu antara 45 - 60 cm
5) Apabila 4 x D85B < 0,7 mm, maka digunakan dengan berat antara 250 - 500 kg atau lebih.
0,7 mm.
171
Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 5, No. 2, Desember 2014: 165-180

b. Batu yang berdiameter kurang dari 10 cm dilakukan penelitian yang seksama. Jenis
yang terdapat dalam timbunan tubuh bahan batu yang umumnya memenuhi syarat
bendungan, komposisinya tidak sebagai material timbunan tubuh bendungan
diperkenankan melebihi 5 %. dapat diklasifisikan seperti pada tabel di
c. Material batu tidak mudah pecah, baik bawah.
dalam pengangkutan maupun pada saat Tabel 3 Batu yang digunakan sebagai material
penuangan dari alat pengangkutan timbunan bendungan
(dumping).
Batuan sangat Batuan yang dalam
d. Berat jenisnya tidak kurang dari 2,5. baik untuk penggunaannya perlu
e. Kuat tekan batu tidak kurang dari 700 bendungan penelitian yang
kg/cm2. urugan seksama
f. Daya tahan terhadap pelapukannya, tinggi Granit, Andesit, Shale, Slate
(pada pengujian dengan cairan Na2SO4 Riolit Tuff
penyusutannya tidak melebihi 0,015 %). Basalt Batuan pasir berumur
Batuan pasir Neozoikum
Untuk bendungan yang tingginya kurang berumur sebelum Gneiss, Schist
dari 50 meter, dapat digunakan material batu Mesozoikum
dengan persyaratan sebagai berikut: Batuan kapur
a. Berat jenis sekitar 2,3. Batuan silikat
b. Kuat tekan batu sekitar 300 kg/cm2.
c. Daya tahan terhadap pelapukan pada Mengingat material batu tersebut
pengujian dengan cairan Na2SO4, biasanya diledakkan guna memperoleh ukuran
penyusutannya sebesar 0,15 %). batu serta gradasi yang sesuai dengan spesifikasi
teknisnya, maka dilakukan uji peledakan di
Kekuatan geser material batu dapat lapangan untuk menentukan cara-cara
ditentukan sebagai berikut: peledakan yang sesuai, terutama mengenai
a. Apabila material batu cukup keras dan stabil, kedalaman dari pada setiap lubang.
maka biasanya untuk D50 = 2 - 10 cm (D50 Apabila gradasi material batu tersusun
adalah ukuran diameter dari material batu dari ukuran butiran kecil, maka pemadatan yang
yang terletak pada garis 50 % lolos saringan dilakukan adalah dengan metode pemadatan
dari kurva gradasi), sudut geser dalam (Ø) perlapisan (placement compaction method) yang
adalah sekitar 40°. merupakan cara pemadatan yang paling baik.
b. Sedangkan untuk D50 > 15 cm, harga Ø dapat Sedangkan untuk gradasi material batu
diambil sebesar 45°. berukuran besar, pemadatan yang dilakukan
c. Akan tetapi untuk material batu yang kuat dengan metode pemadatan menuang - ratakan
tekannya tidak besar, maka pengambilan (dumping and slincing compaction method)
harga Ø = 35° sudah cukup aman. Kestabilan yang merupakan cara yang paling sesuai.
karakteristik material batu, merupakan Apabila material batu mengandung 7 %
faktor yang mutlak diperlukan, karena pada butiran halus (yang dapat melalui saringan No.
tubuh bendungan material ini harus mampu 200 dengan ukuran lubang 0,074 mm), maka
bertahan sepanjang umur exploitasi yang material campuran ini akan bersifat kedap air.
direncanakan (biasanya lebih dari lima Akan tetapi apabila kandungan bahan berbutir
puluh tahun). Oleh karena itu, material batu halus hanya mencapai > 4 %, maka material
harus dipilih yang keras dengan intensitas campuran ini akan bersifat semi-kedap air.
retakan yang rendah pada setiap bongkah
batu dan mempunyai daya tahan yang 4 Zona Random
tangguh terhadap pengaruh air maupun Material random ini karena merupakan
pengaruh atmosfir lainnya. Semakin besar hasil galian yang biasanya ditempatkan pada
ukuran batu serta semakin masif batu bagian bendungan yang tidak membahayakan,
tersebut, maka material ini akan semakin material ini tidak mempunyai kriteria dan
baik. Karena itu biasanya material batu persyaratan khusus. Namun, kandungan
yang berasal dari batuan beku atau batuan material halus dan organik tetap tidak boleh >
metamorfis, merupakan material yang 5%, disamping bukan berasal dari batuan yang
memenuhi persyaratan tersebut di atas. terlapuk kuat.
Material yang berasal dari batuan sedimen
kadang-kadang juga dapat digunakan
terutama batuan sedimen tua, tetapi harus
172
Kriteria Material Konstruksi untuk Bendungan Urugan....(Diah Affandi)

Quarry setempat. Produksi batu/Quarry, bisa


Rencana Pelaksana pengeboran dan menggunakan cara “Bench cutting atau Coyote
peledakan harus mendapat persetujuan Direksi holing”. Metode coyote memerlukan peledakan
dan Insatnsi Keamanan. Uji galian mungkin besar, awalnya lebih murah bila dibandingkan
diperlukan untuk mengetahui apakah produksi Bench Cutting, tetapi kemudian masih
batu sesuai dengan spesifikasi yang telah diperlukan peledakan susulan untuk memecah
ditetapkan batu yang besar tersebut. Peledakan metode
coyote tidak digunakan bila ingin mendapatkan
Uji Quarry material batu untuk struktur.
Uji quarry biasanya dilakukan dalam satu
rangkaian dengan uji pemadatan timbunan,
sehingga segala sesuatu yang berhubungan
dengan perilaku batuan sejak dari pengeboran,
peledakan hingga pemuatan, dapat dievaluasi.
Uji quarry dilakukan untuk memperoleh :
a. Informasi bagi desainer, geologist, dan
pengawas lapangan mengenai desain
pekerjaan galian, efek struktur geologi
terhadap produk, cara peledakan yang
terbaik dan kontrol dalam pembuatan batu
pecah untuk bangunan.
b. Contoh material uji yang dapat mewakili.
c. Memberi gambaran kepada Pelaksana,
mengenai pengeboran dan perilaku batuan
saat peledakan.
d. Penentuan proses lebih lanjut, bila
diperlukan, untuk pengolahan batu quarry,
antara lain penguasaan dari lahan quarry Gambar 2 Kriteria Gradasi Menurut USBR
tersebut.
Pengawasan pada waktu pelaksanaan uji quarry Menurut Indra Mustomo, dkk., Dengan
dilakukan untuk menjamin bahwa : tulisan berjudul Studi perubahan karakteristik
a. Tetap dipatuhinya spesifikasi uji quarry fisik, mekanik dan dinamik tanah terhadap
walaupun ada perbedaan didalam metode uji siklus pembasahan dan pengeringan pada tanah
dan prosedur, dengan demikian permukaan lereng di Ngantang-Malang (Jurnal
perbandingan dari metode yang berbeda dan Teknik Pomits Vol.1 N0.1, 2013. 1-7),bahwa ada
analisa dari informasi lain, akan punya arti. hubungan kadar air (wn) dan berat volume
tanah kering (γd) pada setiap kedalaman, pada
b. Kelengkapan dan akurasi data disimpan kondisi pembasahan terlihat nilai kadar air (wn)
selama pekerjaan berlangsung. meningkat diikuti dengan nilai berat volume
c. Harus dibuat laporan yang mencatat hal-hal tanah kering (γd) menurun.
sebagai berikut : Hasil penelitian lainnya yang bersumber
a) Tipe mesin pengebor yang digunakan. dari hasil skripsi Alpon Sirait, (Maranatha)
b) Kecepatan pengeboran, untuk masing- dengan judul Karakteristik Bahan Timbunan
masing tipe batuan. Tanah Pada Lokasi Rencana Bendungan Danau
Tua, Rote Timor dan Bendungan Haekrit,
c) Diameter, kedalaman, pola, jarak, lobang
Atambua Timor, juga telah dikembangkan
bor, tipe dan intensitas bahan peledak.
persamaan empiris dengan menggabungkan
Metode pengeboran dan peledakan yang data-data dengan menggunakan hubungan batas
dilakukan oleh kontraktor, mempunyai plastis dengan parameter lain yang hasilnya,
pengaruh yang sangat menentukan terhadap
gradasi batu yang dihasilkan. Pada umumnya, OMC = 0,9244(IP)–5,5122;
pengalaman dari Pelaksana sangat penting; MDD = -0,0204(IP) +2,191;
pengalaman terhadap peledakan pertama akan Φ = -0,0846(IP) + 14,416;
memperoleh kriteria pengeboran dan pola Φ ’= -0,0386(IP) + 22,554;
peledakan. Jarak pengeboran dan intensitas
bahan peledak, tergantung pada kondisi batuan C = 0,0002(IP)+ 19,983;
c’ =-0,2086(IP)+ 21.71;
173
Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 5, No. 2, Desember 2014: 165-180

cc= 0,006(IP) + 0,1455; c. Pengujian, pengujian dilakukan dengan cara


cs=0,0014(IP) + 0,0223; pengujian dilapangan dan pengujian di
laboratorium untuk mengetahui sifat indeks
pc= 0,0068(IP)+ 1,5779;
maupun sifat fisiknya .
Sw= a IP+ b;
Metode pengujian terhadap material
k =0,3707(IP)+ 6,4769.
konstruksi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

METODOLOGI Tabel 4 Prosedur Pengujian Material Tanah


Pengkajian material konstruksi pada Jenis Uji Standar yang dipakai
bendung Sindangheula ini dilakukan dengan
metode sebagai berikut : Kadar air asli SNI 03-1965-1990

1 Pengumpulan Data Berat isi tanah asli SNI 03-3637-1994


Pengumpulan data sekunder berupa Berat jenis SNI 03-1964-1990
sumber-sumber data dan informasi geologi dan SNI 03-1966-1990 dan
historis yang penting antara lain adalah: Batas-batas atterberg
SNI 03-1967-1990
a. Penyelidikan geoteknik masa lampau (data Gradasi (ayakan dan
SNI 03-3423-1994
historis) di atau dekat lokasi proyek; hydrometer)
b. Peta, laporan dan publikasi dari Direktorat Pemadatan standar SNI 03-2832-1992
Geologi; Konsolidasi SNI 03-2812-1992
c. Perpustakaan universitas setempat dan Permeability SNI 03-6870-2002
perpustakaan pusat dari institusi terkait;
d. Data geologi, data gempa, peta bahaya Triaxial UU SNI 03-4813-1998
gempa, peta patahan, dan informasi dari Triaxial CUBP SNI 03-2455-1991
instansi atau institusi yang terkait (BMG,
Emerson Crumb Test BS 1377 : Part 5 : 1990
Direktorat Geologi, Pusat Litbang Sumber
Daya Air). Pin hole test BS 1377 : Part 5 : 1990
2 Peninjauan Lapangan
Peninjauan lapangan ke lokasi rencana Tabel 5 Prosedur Pengujian Material Pasir
proyek diperlukan untuk memperluas Jenis Uji Standar yang dipakai
informasi geologi, geoteknik, dan kondisi jalan
masuk. Berat jenis SNI 03-1970-1990

Data dan informasi yang diperlukan untuk Relative density ASTM


peninjauan lapangan adalah: Serapan air SNI 03-1970-1990
a. Rencana desain dan konstruksi serta kondisi Gradasi SNI 03-1969-1990
lapangan secara umum; Kadar Lumpur SNI 03-4142-1996
b. Peninjauan geologi, geomorfologi dan kondisi Soundness SNI 03-3407-1994
jalan masuk untuk membantu transportasi
peralatan lapangan;
Tabel 6 Prosedur Pengujian Material Batu
c. Penyelidikan Geoteknik
3 Penyelidikan Geoteknik Jenis Uji Standar yang dipakai
Penyelidikan geoteknik dilakukan Kadar air dan serapan SNI 03-2437-1991
sehubungan dengan hal-hal: Specific gravity SNI 03-2437-1991
a. Mengkaji informasi geologi dan geoteknik Kuat tekan uniaksial SNI 03-2825-1992
yang tersedia; Abrasi Los Angeles SNI 03-2417-1991
b. Mengkaji data lapangan yang diperoleh Soundness SNI 03-3407-1994
Penyelidikan tahap kedua atau tahap akhir
dilaksanakan untuk mendapatkan informasi Large scale direct shear test JIS
geoteknik lapangan secara khusus pada Petrografi ISRM-1981
lokasi-lokasi pondasi yang diperlukan dalam
desain dan untuk mengurangi risiko kondisi
tanah yang tidak terduga selama konstruksi;

174
Kriteria Material Konstruksi untuk Bendungan Urugan....(Diah Affandi)

Tabel 7 Prosedur Pengujian Lapangan c. Penyelidikan material batu (quarry batu)


untuk urugan tubuh bendungan (zona
Jenis Uji Standar yang dipakai urugan batu) dan agregat kasar beton.
Pemboran SNI 03-2436-1990
Penyelidikan untuk penyediaan bahan inti
Sumur Uji SNI 13-6606-2000 kedap berupa material tanah telah dilakukan
Sampling Undisturb ASTM-D587-00 dengan terlebih dahulu melakukan survai
Sampling disturb ASTM-D3550 geologi pada daerah dengan radius 1,5 – 5 km
dari lokasi calon bendungan. Pada daerah
tersebut telah dtemukan 3 (tiga) lokasi borrow
HASIL DAN PEMBAHASAN area tanah seperti pada tabel 8.

1 Material Tanah 2 Material Pasir


Dengan berpedoman pada Peta Geologi Material pasir untuk zona filter yang telah
Lembar Serang, Skala 1 : 100.000 (P3G Bandung, diselidiki terletak di 2 lokasi, yaitu quarry Desa
1981) dan Peta Rupa Bumi, Skala 1 : 25.000 yang Pondok Kahuruk Kecamatan Ciomas dan
diterbitkan oleh Bakosurtanal, 1989 telah material pasir di sungai Ciujung. Penyelidikan ini
diadakan penyelidikan geologi untuk berpedoman pada peta Topografi pada Peta
mengetahui lokasi dan ketersediaan material Topografi Bakosurtanal skala 1 : 25.000 dan
konstruksi. Penyelidikan geologi tersebut Peta Geologi Lembar Serang skala 1 : 250.000
meliputi : (P3G Bandung, 1981).
a. Penyelidikan material tanah (borrow area) 1) Material Pasir Pondok Kahuruk
untuk urugan tubuh bendungan (zona inti Lokasi quarry pasir secara administratif
kedap air). terletak di Desa Pondok Kahuruk Kecamatan
b. Penyelidikan material pasir (quarry pasir) Ciomas, Kabupaten Serang. Jarak lokasi quarry
untuk urugan tubuh bendungan (zona filter) pasir dari calon bendungan Sindangheul + 10 km
dan agregat halus beton. ke arah Barat Daya. Jenis material berupa pasir

Tabel 8 Ringkasan Hasil Pengujian Laboratorium Material Tanah, Bendungan Sindangheula, Kab. Serang

Sumber : laporan Penyelidikan Geologi dan Finalisasi Desain Bendungan Sindangheula(PT Panca Guna Utama

175
Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 5, No. 2, Desember 2014: 165-180

vulkanik berwarna hitam, bergradsi baik dan 1) Quarry A, Pondok Kahuruk


berlapis dengan volume potensial  100.000 m3.. Lokasi quarry secara administratif terletak
Contoh material pasir telah diambil masing- di Desa Pondok Kahuruk Kecamatan Ciomas,
masing sebanyak 1 (satu) contoh dan telah Kabupaten Serang. Jarak lokasi quarry dari calon
diadakan pengujian laboratorium dengan hasil bendungan Sindangheula + 12 km kearah Barat
sebagai berikut (lihat Tabel 9). Hasil pengujian Daya dan dapat dicapai dengan mobil melalui jalan
tersebut menunjukkan bahwa material pasir kabupaten beraspal baik. Material timbunan batu
Pondok Kahuruk berupa pasir vulkanik, bergradasi ini berupa kaki bukit yang membentuk lereng
seragam dan sangat ringan (min = 1,29 ton/m3 landai sampai tegak. Telah dilaksanakan pemboran
dan max = 1,57 ton/m3). Dari data tersebut maka inti di 3 titik. yaitu BQ.-1 (30 m), BQ-2 (15 m) dan
material pasir ini tidak dapat dipakai untuk zona BQ-3 (50 m). Adapun hasil pemboran inti tersebut
filter maupun agregat halus beton. sebagai berikut :
2) Material Pasir Sungai Ciujung a. Quarry terdiri dari bongkah-bongkah batu
Andesit, pasir Volkanik urai dan batu Andesit
Lokasi quarry pasir yang berikutnya adalah pecah-pecah dengan Rock Quality Designation
diambil dari Sungai Ciujung yang berjarak  60 km, (RQD) < 50, bahkan sebagian besar mempunyai
jenis pasir sungai dengan kadar lumpur tinggi , RQD < 30.
volume potensial  250.000 m3.. Dari data hasil
b. Jenis batuan berupa lava andesit yang miring ke
pengujian material pasir S. Ciujung didapat bahwa
arah jalan raya. Di bawah lapisan andesit
kadar lumpur yang tinggi (9,7 %  5 %) sehingga
tersebut dijumpai pasir volkanik bergradasi
harus dilakukan pencucian. Disamping itu jarak
seragam dan bersifat urai.
angkutnya sangat jauh ( 60 km) sehingga tidak
ekonomis. Oleh karena itu untuk zona filter dan Berdasarkan kondisi lapangan tersebut,
agregat halus beton disarankan memakai material apabila quarry ini diexploitasi, maka akan
pasir hasil pemecahan batu dari quarry andesit G. menimbulkan l masalah lingkungan yang sangat
Cisalak. Keuntungan pemakaian material pasir berat yaitu :
yang diperoleh dari hasil penghancuran batu a. Apabila lava andesit dimanfaatkan, maka pasir
memakai mesin pemecah batu (stone crusher) volkanik akan tersingkap pada posisi topografi
adalah gradasi material untuk zona filter dapat yang miring sehingga sangat mudah tererosi
diatur sesuai dengan kebutuhan. dan akan terjadi longsoran pasir (sand run).
Longsoran ini akan memotong jalur jalan raya
3 Material Batu serta membahayakan pemukiman dibawahnya.
Material batu yang telah diselidiki terletak di b. Mata air akan hilang atau meresap ke dalam
2 lokasi, yaitu quarry Desa Pondok Kahuruk dan formasi pasir volkanik dan memicu terjadinya
Quarry di Gunung Salak. Penyelidikan ini longsoran.
berpedoman pada peta Topografi pada Peta
Topografi Bakosurtanal skala 1 : 25.000 dan Peta
Geologi Lembar Serang skala 1 : 250.000 (P3G
Bandung, 1981).

Tabel 9 Ringkasan Hasil Pengujian Laboratorium Material Pasir, Bendungan Sindangheula, Kab. Serang
Kadar Kadar Relative
Berat jenis
No. air lumpur Density
Contoh
kering SSD semu absorpsi
halus kasar halus kasar halus kasar halus kasar min maks
% % - - - - - - % % - -

1 Pasir 10,41 9,7 2,28 - 2,38 - 2,54 - 4,41 - 1,17 1,85


sungai
Ciujung

2 Pasir 7,82 5,8 2,28 - 2,38 - 2,56 - 5,22 - 1,29 1,57


Pondok
Kahuruk

Sumber : laporan Penyelidikan Geologi dan Finalisasi Desain Bendungan Sindangheula (PT Panca Guna Utama)

176
Kriteria Material Konstruksi untuk Bendungan Urugan....(Diah Affandi)

2) Quarry B, Gunung Cisalak laboratorium mekanika batuan di Puslitbang


Dari hasil survai dan pengukuran topografi Sumber Daya Air di Bandung. Pengujian tersebut
seluas 25 ha, Volume Potensial > 1.200.000 m3 , memberikan hasil sebagaimana terlihat pada Tabel
tata guna lahan berupa kebun campuran dan 11. Dari hasil pengujian tersebut diketahui bahwa
semak belukar, status lahan milik penduduk batuan Andesit Basaltik memenuhi syarat sebagai
setempat.Pada area tersebut telah dilakukan material urugan bendungan dan agregat
pemboran inti sebanyak 5 lokasi sebagai berikut : 4 Tipe Bendungan Dan Zonasi Material
Dari hasil pemboran inti tersebut didapat
Berdasarkan ketersediaan material tersebut dan
bahwa jenis batuan pada quarry Gunung Cisalak
hasil pengujian laboratorium, maka tipe
berupa batuan Andesit Basaltik dan Breksi
bendungan yang sesuai adalah bendungan tipe
Volkanik. Batuan Andesit Basaltik menempati
urugan batu dengan inti kedap air tegak.
sebagian besar dari quarry Gunung Cisalak. Batuan
Selanjutnya telah dibuat zonasi tubuh bendungan
ini berwarna abu-abu kehitaman, kompak, sangat
dengan mengacu pada kriteria filter USBR 1987
keras. Pada jenis Batuan Breksi Volkanik berwarna
dan US Army. Adapun zona gradasi material
abu-abu dan abu-abu kemerahan, terdiri dari
ditampilkan pada Gambar 1 .
fragmen-fragmen andesit tertanam di dalam masa
dasar tufa, kemas terbuka, kompak, kurang keras. 5 Korelasi Parameter Tanah
Dari penampang geologi tersebut diketahui bahwa Dari hasil pengujian dilaboratorium didapat
quarry G. Cisalak dibentuk oleh lava andesit korelasi antara kondisi kadar air asli (n), kadar air
basaltik. dengan sisipan-sisipan batuan breksi pada kondisi OMC, batas cair (LL), batas plastis dan
volkanik yang penyebarannya relatif horizontal. dan plastis indeks seperti yang dapat dilihat pada
Ketebalan sisipan-sisipan tersebut 2,5 – 3,5 m. gambar 2 sampai dengan gambar 6.
Dari beberapa beberapa contoh inti bor dan
bongkah batu telah dilaksanakan pengujian di

Tabel 11 Ringkasan Hasil Pengujian Quarry Batu G. Cisalak, Bendungan Sindangheula


No natural ap True unconfined Los
natural absorp/st dry deg of
Sample water saturat porosity spec spec void compression Angeles Soundness
density water density saturated
content density gravity gravity ratio strength Abrassion
n σc keausan
grm/cm3 % grm/cm3 % grm/cm3 % % - - - kg/cm3 %

1 BQS1 2,703 1,31 2,708 1,50 2,668 87,50 4,00 2.6675 2.7786 0.042 1120,677 18.66 1.55
2 BQS2
(6.00- 2,504
7.00) 2,81 2,547 4,56 2,436 61,54 11,11 2,4359 2,7404 0,125 275,67 20,14 3,45
3 BQS2
(30.00- 2,660
31.00) 0,99 2,668 1,29 2,634 76,92 3,40 2,6335 2,7263 0,035 727,47
4 BQS3
(5.00- 2,648
6.00) 1,05 2,657 1,40 2,621 75,00 3,67 2,6208 2,7206 0,038 249,62 20,50 5,66
5 BQS3
(31.00- 2,568
32.00) 0,78 2,581 1,30 2,548 60,00 3,37 2,6675 2,6357 0,034 232,75

Sumber : laporan Penyelidikan Geologi dan Finalisasi Desain Bendungan Sindangheula(PT Panca Guna Utama)

Gambar 2 Grafik Hubungan WN Dengan LL Gambar 3 Grafik Hubungan WN Dengan PL

177
Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 5, No. 2, Desember 2014: 165-180

sebagian nilai wn medekati PL yang mempunyai


arti kondisi tanah semi solid (agak kering. Untuk
lokasi baik borrow area B, maupun C kadar air asli
(wn) relative diatas nilai plastis limit, berarti
bahwa kondisi tanah termasuk plastis.
Analisa dan pembahasan gambar 4
Dari gambar 4 (grafik hubungan antara
kadar air asli (wn) dengan plastis Indeks (PI),
terlihat bahwa kondisi tanah pada borrow area A, B
maupun C mempunyai nilai plastisitas Indeks
Gambar 4 Grafik Hubungan WN Dengan PI (PI)>40%. Bila nilai Plasititas tanah >40 %, maka
proses pemadatan tanah tidak mudah untuk
dikerjakan. Batasan nilai plasititas yang baik untuk
timbunan berkisar antara 15<PI≤30.
Analisa dan pembahasan gambar 5
Dari gambar grafik 5 (grafik hubungan
antara kadar air asli dengan kadar air optimum
dari hasil uji pemadatan (OMC), diketahui bahwa
bahwa pada borrow area A, B maupun C, kondisi
tanah cenderung basah, wn >OMC+2, hal ini
mengidentifikasikan bahwa tanah bila Wn≥OMC
maka kondisi tanah basah sehingga harus ada
Gambar 5 Grafik Hubungan WN Dengan OMC proses pengeringan dilapangan. Bila tidak mungkin
dikeringkan parameter desain harus menggunakan
nilai  pada Wn tersebut, dari kurva pemadatan).
Analisa dan pembahasan gambar 6
Dari gambar grafik 6 (grafik hubungan
antara kadar air asli dengan berat isi kering
diketahui bahwa bahwa pada borrow area A ,B
maupun C, kondisi tanah cenderung basah ,wn
>OMC+2, hal ini mengidentifikasikan bahwa tanah
bila wn≥OMC maka kondisi tanah basah sehingga
harus ada proses pengeringan dilapangan.Bila
tidak mungkin dikeringkan parameter desain
Gambar 6 Grafik Hubungan WN Dengan γd harus menggunakan nilai  pada wn tersebut, (dari
kurva pemadatan).
Analisa dan pembahasan gambar 2 Selain dari kondisi kadar airnya kriteria lain
Dari gambar 2 (grafik hubungan antara yang harus diperhatikan adalah gradasi material.
kadar air asli (wn) dengan batas cair (LL), terlihat Salah satu kriteria yang harus masuk standard
bahwa kondisi tanah untuk ke 3 lokasi baik borrow adalah kriteria gradasi material dari USBR. Bila
area A,B maupun C mempunyai kadar air asli (wn) gradasi terlalu halus (prosentase lempung tinggi),
jauh lebih kecil dari batas cairnya, ini berarti berarti gradasi berada diluar standard USBR, untuk
bahwa kondisi tanah termasuk semi solid memperbaikinya harus dicampur pasir (dengan
(cenderung agak kering) sehingga apabila prosentase tertentu).
dipadatkan (agak sulit), memerlukan metode Dari hasil uji analisa saringan diketahui
pembasahan bahwa material pada zone1 (inti kedap air),
maupun zona 2 (filter) berada diluar daerah zona
Analisa dan pembahasan gambar 3
yang dipersyaratkan USBR (gambar grafik kriteria
Dari gambar 3 (grafik hubungan antara gradasi menurut USBR). Hal ini bisa diatasi dengan
kadar air asli (wn) dengan plastis limit (PL), material campuran (dengan pasir) sehingga
terlihat bahwa kondisi tanah pada borrow area A, material bisa memenuhi sesuai standard. Untuk
pada lokasi tertentu sample tanah berupa zona 3 dan zona 4 gradasi harus dipenuhi untuk
gumpalan –gumpalan terlihat dari hasil uji material rockfill dengan cara mengatur pola
atterberg nilainya tidak menunjukkan peledakan dilokasi quarry batu.
kecenderungan nilai yang seragaman (naik turun),

178
Kriteria Material Konstruksi untuk Bendungan Urugan....(Diah Affandi)

(sumber : Laporan Penyelidikan Geologi dan Finalisasi Desain bendungan Sindangheula)


Gambar 7 Zona Gradasi Material Bendungan Sindangheula

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA


Berdasarkan ketersediaan material Alpon Sirait, (Maranatha), Karakteristik Bahan
konstruksi dalam radius 15 km dari calon Timbunan Tanah Pada Lokasi Rencana
Bendungan Sindangheula serta memperhatikan Bendungan Danau Tua, Rote Timor dan
kendala lingkungan, maka material yang Bendungan Haekrit, Atambua Timor
disarankan untuk tubuh bendungan sebagai
Bakosurtanal, 1989. Peta Rupa Bumi, Skala 1 : 25.000
berikut :
Bakosurtanal, 1989 “Peta Geologi Lembar Serang,
Material tanah untuk inti zona kedap air,
Skala 1 : 100.000 (P3G Bandung, 1981) dan
harus diperbaiki gradasinya (terlalu halus sehingga
Peta Rupa Bumi, Skala 1 : 25.000”
harus dicampur dengan material yang cukup kasar,
dengan demikian akan menaikkan parameter kuat Indra Mustomo, Efendi Yasin, Andi Patriadi, dan Ria
gesernya (c dan ф). Asih Aryani Soemitro, Trihanyndio Rendy
Berdasarkan hasil plot grafik dari uji Satrya. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik
saringan diketahui bahwa material pada zone Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi
memerlukan perbaikan gradasi (pencampuran) Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman
sehingga dapat menaikkan parameter kuat geser Hakim, Surabaya 60111 E-mail:
yang diperlukan dalam perhitungan analisa ria@ce.its.ac.id, rendy_star@ce.its.ac.id
stabilitas . Studi Perubahan Karakteristik,Mekanik dan
Material batu untuk zona transisi dan zona Dinamik Tanah Terhadap Siklus
urugan batu , mengambil dari quarry G. Cisalak. Pembasahan dan Pengeringan Pada Tanah
Permukaan Lereng di Ngantang-Malang.
Material untuk agregat beton mengambil
(Jurnal Teknik Pomits Vol. 1, No. 1, (2013)
dari quarry G. Cisalak (hasil penghancuran batu
1-7)
memakai stone crusher).
Berdasarkan ketersediaan material P3G Bandung, (1981), Peta Geologi Lembar Serang,
konstruksi tersebut, maka tipe bendungan yang Skala 1 : 100.000
sesuai adalah bendungan tipe urugan batu dengan P3G Bandung, 1981, ”Peta Topografi pada Peta
inti kedap air tegak. Topografi Bakosurtanal skala 1 : 25.000 dan
Peta Geologi Lembar Serang skala 1 :
250.000”
PT Panca Guna Utama (2010), Penyelidikan Geologi
dan Finalisasi Desain bendungan
Sindangheula

179
Jurnal Teknik Hidraulik, Vol. 5, No. 2, Desember 2014: 165-180

PT.Panca Guna Duta, Penyelidikan, 2009, Puslitbang Sumber Daya Air, Pedoman Penyelidikan
Penyelidikan Geologi dan Finalisasi Desain Geoteknik Untuk Bangunan Air, volume 3,
Bendungan Sindangheula. Puslitbang Sumber Daya Air (2005), Interpretasi Hasil
PT-03, SK DJ Pengairan No. Uji dan Penyusunan Laporan Penyelidikan
185/KPTSA/A/1986.”Metode pelaksanaan Geoteknik, Pd T-05-2005-A.
pekerjaan test pit “ Sujono,1981, Bendungan Type Urugan

180