Anda di halaman 1dari 153

ANALISIS PERHITUNGAN STABILITAS

LERENG STATIK dan DINAMIK

1
LATAR BELAKANG

 Bangunan air dan bendungan urugan: bangunan sipil yg kompleks dan


beresiko tinggi bila gagal.Karena kegagalan bend dpt menimbulkan
bencanabesar bagi harta benda dan korban jiwa yg tinggal didaerah hilir.

• Di Indonesia (1900): ratusan Bendungan besar & Bangunan Air


untuk kebutuhan irigasi, pembangbangkit tenaga listrik,suplai
air baku dan/atau Pengendali Banjir dll.

• Desain Bendungan Urugan (dalam volume besar),harus


mempertimbangkan a.l faktor terhadap pengaruh kestabilan
lereng Bendungan.Pengalaman di USA & di negara negara lain di
dunia +12%dari Bendungan Urugan yang mengalami keruntuhan
karena pengaruh terganggunya kestabilan lereng Bendungan.

2
- Antisipasinya:
Pemantauan kinerja dan fungsi Bendungan
secara periodik dengan Inspeksi dan Evaluasi
Keamanan Bendungan.

Ketidakstabilan lereng: salah satu bentuk


masalah utama dalam stabilitas Bendungan
urugan existing.
3
MAKSUD & TUJUAN

MAKSUD: memberi pembekalan ttg dasar2 pertimbangan penyebab ketidakstabilan


& indikatornya,cara/metode dlm melakukan analisis kestabilan lereng
bendungan Urugan existing.
Pengkajian: metode analisis ini dilakukan dengan mempertimbangkan
kondisi pembebanan, sifat teknik material, tekanan air pori dan FK
minimum untuk setiap kondisi pembebanan.

TUJUAN : Setelah pelatihan ini peserta diharapkan mampu memahami & melakukan
analisis kestabilan lereng statik Bendungan eksisting,sehingga dapat
mendesain perbaikan Bendungan yang mantap,aman,stabil sesuai dengan
pertimbangan analisis stabilitas lereng statik,pembebanan dan kriteria
Faktor Keamanan minimum yang disyaratkan.

4
RUANG LINGKUP

• Dasar-dasar pertimbangan
• Kondisi pembebanan dan faktor
keamanan
• Data & informasi dengan FKmin
utk perbaikan desain stabilitas
Bendungan existing
• Cara & metode perbaikan
Bendungan existing

5
Analisis
Stabilitas Lereng
Statik
PENERAPAN HASIL/MANFAAT

Penelitian,
Penyelidikan geoteknik,
Pengujian laboratorium

-Penerapan Cara PENELITIAN


Analisis Stabilitas Statik
Bendungan Existing.
-Bendungan aman dan stabil

6 Carlina,S.
Sumber: Najoan T.F.
7
Bagan Alir Perencanaan Penyelidikan pendahuluan
Penggulangan Longsoran
Mulai
Pemerian umum
Informasi SNI Longsoran
a. Klassifikasi dan faktor penyebab longsoran
b. Peta zonasi rawan longsoran di Indonesia Perlu Penyelidikan
c. Prinsip dasar penyelidikan longsoran Terinci
d. Sifat-sifat teknis beberapa jenis tanah&batuan
e. Analisis kestabilan lereng
Ya
f. Prinsip dasar penanggulangan longsoran
h. Pemilihan tipe dan pertimbangan desain Susun Program
penanggulangan Penyelidikan terinci

Permasalahan Program Penyelidkan Terinci


1. Perbaikan lereng yg longsor
2. Perencanaan lereng baru Penyelidikan terinci

Tidak
Persiapan Dapat dievaluasi dan
dianalisis

Tafsiran umum Ya

Pemilihan tipe penanggulangan

Desain, Pelaksanaan dan Pemantauan

Ya Apakah Penanggulangan Tidak


Selesai Inventarisasi Berhasil
I. Klasifikasi Gerakan Tanah

Runtuhan batu
Runtuhan
Runtuhan tanah (bhn rombakan)
Jungkiran batu
Jungkiran
Jungkiran tanah (bhn rombakan)
Rotasi
Gerakan Tanah Longsoran
Translasi
Gerakan lateral batu
Gerakan lateral
Gerakan lateral tanah
Aliran batu
Aliran
Aliran tanah (rayapan)

Majemuk Merupakan gabuangan dari dua


atau lebih jenis gerakan
Gerakan Tanah Jenis Runtuhan
Merupakan gerakan tanah yg
disebabkan keruntuhan tarik
diikuti gerakan jatuh gravitasi
10
Gerakan Tanah Jenis Jungkiran
Gerakan memutar kedepan satu atau lebih blok
tanah thd titik pst putaran di bwh massa tanah
oleh gravitasi atau gaya dorong lainnya
11
Gerakan Tanah Jenis
Longsoran Rotasi
Gerakan perpindahan sepanj bid dimana
massa berpindah dr tmpt semula & terpisah
dr massa yg mantap, berbentuk cekung.

Gerakan Tanah Jenis


Longsoran Translasi
Massa longsor bergerak sepanjang
permk yg datar tanpa gerakan
memutar, tetapi menjalar secara
bertahap.

12
Bidang Longsor Melalui Kaki,
Lereng dan Fondasi

Posisi Bidang Longsor


Jenis-Jenis Bidang Longsor
Non-Sirkular

Posisi Bidang Longsor


(lanjutan)
Longsoran rotasi

Longsoran translasi
Gbr a. Penentuan letak titik pusat
15 rotasi dg metode HRB
Longsoran translasi

Gbr b. Penentuan letak titik pusat


16 rotasi dg metode Ritchie
17
Penentuan letak & kedalaman bidang longsor
dengan cara grafis
• Metode HRB (lihat Gambar a)

Menggambarkan titik-titik berikut ini:


– A dan A’ = titik-titik yang diketahui sebelum longsor;
– C dan C’ = titik-titik yang diketahui setelah longsor;
– D = mahkota longsoran.
Menentukan titik pusat rotasi O sbb:
– hubungkan A dengan C ;
– hubungkan A’ dengan C’ ;
– titik B = titik tengah AC ;
– titik B’ = titik tengah A’C’ ;
– tarik garis BO tegak lurus pada AC ;
– tarik garis B’O tegak lurus pada A’C’ ;
– titik potong BO dan B’O merupakan titik pusat rotasi O.
Menentukan kedalaman bidang longsoran dengan cara
memutar jari-jari lingkaran (OD = R).

18
Longsoran rotasi

Gbr a. Penentuan letak titik pusat rotasi dg metode HRB


Longsoran translasi
19
Metode Ritchie : titik pusat rotasi ditentukan dg 2 cara
sbb (lihat Gambar b):
Cara A :
– titik-titik A dan B diukur di lapangan;
– jika titik B sudah tidak tampak karena terkubur, dapat
diperkirakan dari tonjolan maksimum;
– tarik garis tegak lurus pada titik C (C=tengah-tengah AB)
dan tarik garis mendatar dari titik A;
– perpotongan kedua garis tsb merupakan ttk pst rotasi O.

Cara B :
– titik-titk A dan B diukur di lapangan;
– jika titik B sudah tidak tampak karena terkubur, dapat
diperkirakan dari tonjolan maksimum;
– tarik garis tegak lurus pada titik C (C = titik tengah AB)
dan tarik garis tegak lurus pada titik F (F=titik tengah DE);
– perpotongan kedua garis tsb merupakan ttk pst rotasi O.

20
Penentuan letak titik pusat
rotasi dg metode Ritchie
Longsoran translasi

21
Gerakan Tanah Jenis Gerakan Lateral
Gerakan menyebar ditimbulkan oleh
retak geser atau retak tarik.

22
Gerakan Tanah Jenis Aliran
Jenis gerakan tanah di mana kuat geser tanah kecil sekali
dan bergerak berupa material kental.
23
Gerakan Lateral Majemuk
Gabungan dua / lebih tipe gerakan
24
RAGAM KERUSAKAN DAN CARA
PENGAMANAN BENDUNGAN TIPE
URUGAN

• Ragam kerusakan pengaruh


hidraulik dan hidrologi
• Ragam kerusakan pengaruh
rembesan air
• Ragam kerusakan pengaruh
struktur

25
Tabel 3 Tipe kerusakan pengaruh struktur
No Tipe Tanda-tanda Penyebab Cara perbaikan
1 Longsoran Longsoran pd seluruh Fondasi tanah Landaikan lereng;
lewat fondasi bdn;satu bg lunak lengkapi dg berm; gali
lerng/kedua bg lerng bahan lunak; stabilisasi
bergerak dg arah tanah.
berlainan yg ber-akibat
terangkatnya fond
searah dg gerakan
Peningkatan tek Pasang drainase berupa
air pori pd lensa2 paritan dlm dilengkapi
pasir atau lanau filter atau sumur pematus.
2 Longsoran Longsoran lereng udik Lereng terlalu Landaikan lereng atau
lereng udik dg bg fondasi di bwh tegak lengkapi dg berm
kaki terangkat sedikit. (counterweight).
Tanah timbunan Tingkatkan kepadatan /
lemah ganti dg bahan yg baik.
Penurunan air wdk Landaikan lereng atau
secara tiba-tiba lengkapi dg berm pd kaki.
26
Tabel 3 Tipe kerusakan pengaruh struktur

No Tipe Tanda-tanda Penyebab Cara perbaikan

3 Longsoran Longsoran lereng hilir Lereng terlalu tegak. Landaikan lereng atau
lereng hilir dg bg fond di bwh kaki lengkapi dg berm.
terangkat sedikit.
Tanah urugan lemah. Tingkatkan kepadatan
/ ganti dg bahan yg
lebih baik.
Penurunan kuat geser Pasang inti kedap air;
tanah oleh rembesan air; filter drain dan
penjenuhan akibat rem- drainase permukaan.
besan air / air hujan.
4 Runtuhan Tanah mengalami Timbunan tanah tidak Pemadatan yg baik;
aliran (Flow likuifaksi kohesif bersifat lepas, analisis dinamik pd
slides) kuat gesernya menurun daerah bergempa
akibat vibrasi, ledakan; kuat.
rembesan.
27
TIPE KEGAGALAN PENGARUH
STRUKTUR

1. Longsoran akibat fondasi yg lemah 2. Longsoran lereng hulu akibat surut cepat

3. Longsoran lereng hilir akibat timbunan yg 4. Runtuhan berupa aliran (flow slides) akibat
lemah pasir lepas atau lanau

28
Longsoran lereng udik Bendungan Longsoran lereng Bendungan
Samboja, Kalimantan Timur Merancang, Kalimantan Timur

DATA DAN PENAMPANG GEOTEKNIK


Data yg akurat dan benar sgt membantu dlm mengevaluasi dan membuat
suatu interpretasi yg tepat.
1. Evaluasi Data 2. Penentuan Penampang Geoteknik
Data yg diperlukan: utk membuat korelasi antara hasil2 - Menarik garis penampang pd peta geoteknik / peta
penyelidikan lap, lab dan penyelidikan awal. Hasil situasi daerah longsor, terutama grs penampang
penyelidikan longsoran kadang2 menunjukkan variasi sepanjang as longsoran yg memotong titik-titik
data yg acak, shg diperlukan evaluasi yg lebih teliti penyelidikan maupun pengamatan.
dan penyelidikan tambahan. - Mencantumkan profil bor yg telah dikoreksi dg hasil
Analisis penanggulangan longsoran yg baik, minimal uji lab pd titik penyelidikan.
diperlukan penentuan bidang longsoran, kondisi geo- - Dari ke 3 korelasi profil bor akan diperoleh penamp
hidrologi dan penampang geoteknik yang tepat. GT daerah longsoran berdasar jenis&sifat fisik tanah.
Karena itu, mutlak diperlukan penentuan kedalaman - Menggambarkan kedalaman m.a.tanah (m.a.tanah
bebas dan m.a.t artesis) pd penamp geoteknik itu.
maksimum bidang longsor sebagai petunjuk untuk
- Menggambarkan struktur batuan (misal kekar) pd
menentukan kedalaman pengeboran. penamp geoteknik tsb.

29
KEJADIAN DAN INDIKATOR
KETIDAKSTABILAN STATIK
1..Informasi umum
2..Kejadian signifikan thd ketidak-
stabilan statik
3..Indikator ketidakstabilan statik
4..Pengkajian ulang dan evaluasi
data proyek
5..Data desain, gambar konstruksi
(as-built) dan kinerja

30
1. Informasi latar belakang tentang
ketidakstabilan statik & pengaruhnya

• Jenis data proyek mana saja yg hrs dikaji ulang


dan dianalisis utk evaluasi stabilitas statik
bendungan.
• Pengujian apa saja yg digunakan untuk
mendapatkan nilai-nilai kuat geser tanah.
• Metode apa saja yg dpt digunakan untuk
menganalisis stabilitas statik bendungan
urugan.
• Kegiatan perbaikan apa saja yg dpt dilakukan
utk mengurangi ketidakstabilan statik
bendungan.
31
2. Kejadian signifikan terhadap
ketidak-stabilan statik
• Surut cepat m.a.waduk yang luar biasa. Keadaan serius ini
terjadi karena laju surut air yang lebih cepat atau pada
elevasi yang lebih rendah daripada sebelumnya;
• El.m.a wadk yg sgt tinggi dan kemungkinan lanjutannya;
• Periode musim kering yang panjang diikuti dengan hujan;
dapat menyebabkan retakan desikasi (desiccation cracks)
yang berkembang pada sejumlah Bendungan.
Keberlanjutan hujan dapat mengisi retakan dengan air &
menyebabkan longsor karena hujan.

• Perkembangan bertahap dari pola rembesan yg berlanjut


melalui tubuh bdn dan atau fondasinya;
• Kehilangan kekuatan bertahap dari serpihan lempung atau
lempung overkonsolidasi karena pengembangan.
32
3. Indikator Ketidakstabilan statik
Kebutuhan evaluasi stabilitas statik Bendungan Urugan
existing dan fondasinya ditunjukkan oleh kondisi yang
ditemukan di Lapangan, misalnya ada:

• gejala keruntuhan stabilitas lereng


• retakan longitudinal pada puncak bendungan atau lereng
• daerah2 basah pada lereng hilir atau bagian kaki bendungan
• erosi atau bekas jatuhnya hujan (sloughing) dekat kaki hilir
bendungan, yang menghasilkan kemiringan setempat yang
sangat curam dari lereng hilir
• titik2 pengukuran permukaan menunjukkan pergerakan
• instrumentasi internal menunjukkan pergerakan
• Instrumentasi internal menunjukkan tek air pori berlebih dalam
tubuh bendungan dan atau fondasinya
• lekukan (bulges) di permukaan tanah di luar kaki lereng
33
3. Indikator Ketidakstabilan statik (lanjutan)

• Pengkajian ulang pencatatan desain & konstruksi


menunjukkan keadaan dari hal2 yang semula tidak
diduga tapi kini berpotensi kondisi geologinya
memburuk

• Kadang2 pelaksanaan analisis stabilitas lereng statik


Bendungan urugan existing dan fondasinya
diperlukan, pertama dengan meninggikan
Bendungan, atau mengubah pengoperasian waduk.
Namun, hal ini tdk aman utk masalah Bendungan
secara konvensional.
34
4. Pengkajian Ulang dan Evaluasi Data
Keadaan geologi lapangan dan data properties
material tubuh dan fondasi Bendungan perlu dikaji
ulang karena alasan berikut:
a)Jika kinerja Bendungan existing tidak sesuai desain,maka pemahaman
semula tentang geologi lapangan dan atau data properties material
menjadi kurang relevan
b)Jika ada pengaruh ketergantungan waktu yang menyebabkan kinerja
aktual tidak selaras dengan desain awal, diperlukan pengembangan
baru penyelidikan Geoteknik,sehingga berdampak pada properties
material yang telah ditentukan
c)Jika modifikasi keamanan Bendungan telah didesain, properties
material borrow area yang tersedia untuk konstruksi harus ditentukan.

35
4. Pengkajian Ulang dan Evaluasi Data
(lanjutan)

d)Biasanya untuk pendekatan matematik atau justifikasi, diperlukan


beberapa pengujian lapangan material untuk menentukan nilai2
parameter properties material. Penyelidikan lapangan tambahan
diperlukan untuk memperoleh tambahan data geologi lapangan.

36
5. Data Desain, Gambar Konstruksi & Kinerja
Pertama,untuk memahami pekerjaan analitik
penentuan stabilitas Bendungan urugan,adalah
mengkaji ulang pencatatan desain, konstruksi,
dan kinerja proyek Bendungan. Tujuan
pengkajian laporan2 ini, utk:
• Mengetahui data dan informasi tentang geologi
lapangan dan material geologi dalam tubuh dan
fondasi Bendungan
• Mencari informasi utk mengidentifikasi penyebab dan
pengaruh dari respons yang telah diamati
• Identifikasi keperluan untuk tambahan data terkait
dengan penyelidikan geologi dan pengujian material.

37
Dokumen2 desain yg hrs dikaji ulang
meliputi:
• Laporan geologi dan bor log geologi
• Laporan uji laboratorium dan data hasil uji
laboratorium
• Nota perhitungan desain dan asumsi desain.
Dokumen2 konstruksi yg hrs dikaji ulang
meliputi:
• Spesifikasi konstruksi
• Gbr pelaksanaan konstruksi (As-built drawings)
• Laporan uji mutu konstruksi
• Korespondensi bahwa dapat menyebabkan
adanya perubahan desain atau masalah yang
cukup besar (highlight design changes)
• Kerusakan / kecelakaan konstruksi

38
Laporan kinerja yg hrs dikaji ulang meliputi:
• Laporan instrumentasi (seperti data respons piezometer,
data alat ukur pergerakan,& data m.a.waduk terkait)
• Laporan tentang setiap kelainan kerusakan

Laporan inspeksi keamanan Bendungan harus dikaji


ulang untuk mengkorelasi hasil pengamatan visual
dengan informasi geologi yg ada dan data uji material.

Setelah pengkajian ulang dokumen & laporan,disarankan:


- melakukan survei ke lokasi Bendungan oleh petugas
terkait dalam penentuan stabilitas Bendungan.
- memberikan gambaran / perspektif visual tentang
ukuran, skala, & proporsi masalah hasil studi
sehubungan dengan lingkungan geologi dan
komponen lainnya dari proyek.
39
*KONDISI PEMBEBANAN DAN
FAKTOR KEAMANAN*
• Kondisi Selesai Pembangunan (udik &
hilir)
• Kondisi Aliran Langgeng (udik & hilir)
• Kondisi Pengoperasian waduk saat
surut cepat (udik)
• Kondisi darurat karena pembuntuan
filter (hilir) dan kondisi darurat karena
kebutuhan darurat.

40
Kondisi Selesai Pembangunan
Bidang Longsor
Hilir
Udik

1 3 1
3 2

1 = Urugan batu 2 = Inti kedap air


3 = Urugan transisi 4 = Fondasi

41
FK minimum kondisi pembangunan
No Kondisi Kuat Tek air pori FK FK dg
geser tanpa gempa
gempa
1. Selesai pembangunan 1. Efektif Perhit tek air pori dari 1,30 1,20
1. Jadwal pembangunan urugan dan pondasi
2. Hub.tek air pori dan wkt dihitung mggunakan
data lab dan penga-
Lereng udik / hilir wasan instrumen
Koef.gempa 50% kond.tanpa
kerusakan
Sama, tapi tanpa 1,40 1,20
instrumen
Hanya pd urugan 1,30 1,20
tanpa data lab. dan
dg/tanpa pengawasan
instrumen
2. Total Tanpa instrumen 1,30 1,20

42
Kondisi Aliran Langgeng
Muka air
Muka air maksimum
normal Hilir

Garis freatik

1 3 1
2

1 = Urugan batu 2 = Inti kedap air

3 = Urugan transisi 4 = Fondasi

43
FK minimum kondisi aliran langgeng
No. Kondisi Kuat Tek air pori FK FK dg
geser tanpa gempa
gempa
2. Aliran langgeng. 1. Efektif Dari analisis 1,50 1,30
1. Elev M.A. Normal rembesan
sebelah udik
2. Elev M.A. Min di hilir
Lereng udik dan hilir
Gempa K= 100% tanpa
kerusakan
3. Pengoperasian waduk 1. Efektif Surut cepat dari 1,30 1,10
1. Elev MA.maks di udik El. MA normal sp
2. Elev MA. Min di hilir MA minimum

Surut cepat dari 1,30 -


MA maks sp MA
minimum
44
Kondisi Pengoperasian Surut Cepat
Muka air
Muka air maksimum
normal Hilir

1 3 1
2

1 = Urugan batu 2 = Inti kedap air

3 = Urugan transisi 4 = Fondasi

45
Kondisi Darurat Pembuntuan Filter
Muka air
Muka air maksimum
normal Hilir

Garis freatik

1 3 1
2

1 = Urugan batu 2 = Inti kedap air

3 = Urugan transisi 4 = Fondasi

46
Kondisi Darurat Masalah Keamanan
Muka air
Muka air maksimum
normal Hilir

Air waduk
diturunkan 1 3 1
2

1 = Urugan batu 2 = Inti kedap air

3 = Urugan transisi 4 = Fondasi

47
FK minimum kondisi darurat

No Kondisi Kuat Tek air FK FK dg


geser pori tanpa gempa
gempa
4. Kondisi darurat: 1. Efektif Surut cepat dr 1,20 -
1. Pembuntuan El. ma. maks
sistem drainase sp El. Teren-
2. Surut cepat krn dah bangunan
penggunaan air pengeluaran
berlebihan
3. Surut cepat
keperluan darurat

48
Parameter2 untuk analisis
stabilitas lereng

• Berat volume tanah γn dan γsat (fondasi dan tubuh Bendungan)


• Kuat geser tubuh dan fondasi Bendungan  dan ’, c dan c’

Tegangan total : Tegangan efektif :


 = c +  tan () ---------(1) ’ = c’ + (-u) tan (’) ……..(2)
 = kuat geser ’ = kuat geser efektif
 = tegangan total  = tegangan total
c = kohesi total u = tekanan air pori
 = sudut geser dlm total ’= sudut geser dlm efektif
c’ = kohesi efektif
• Koefisien permeabilitas k

49
Kriteria Keruntuhan Mohr-Coulomb

 f  c   tan

Sudut geser
Kohesi
f
c


f adalah tegangan geser maksimum yang dapat ditahan oleh
tanah tanpa keruntuhan dengan tegangan normal sebesar .
Metode Analisis Stabilitas Cara
Keseimbangan Batas (FK)
Adalah cara analisis yang paling praktis dalam
desain Bendungan. Beberapa cara yang sering
digunakan dapat diperiksa pada tabel. Hasil
analisis biasanya dinyatakan dalam faktor
keamanan (FK), yang dinyatakan sbb:

FK = S / t = kuat geser tanah / tegangan [7]


geser yang trejadi.
dengan: FK = S / t  1 aman ; atau
S  t, aman

S < t, tidak stabil


51
Penyebab Ketidakstabilan Lereng
1. Kondisi awal :
- mat lunak akibat perubahan kadar air
Faktor Dalam - struktur geologi & geometri
2. Proses pelapukan :
(s) menurun
- hidrasi & absorbsi mineral lempung
FK = τ FK menurun
- retakan & susutan lempung, - erosi buluh, dispersif
τm 3. Perubahan tekanan air pori dan perubahan volume :
< 1, longsor - keadaan jenuh, - muka air tanah naik
> 1, stabil 4. Perubahan sistem pembebanan :
- tegangan pada lempung OC dan HOC

Faktor Luar 1. Tegangan horisontal turun :


m meningkat - erosi kaki lereng, - galian, - pembongkaran sheet pile, dll.
2. Tegangan vertikal meningkat :
FK menurun
- air hujan tertahan, - timbunan, - berat bangunan
3. Tegangan siklik :
- gaya gempa, - gaya vibrasi mesin
Metode Analisis Stabilitas Cara
Keseimbangan Batas (FK)
Metode Karakteristik Program
Bishop termodifikasi Hanya bid runtuh lingkaran, memenuhi Mstabl, Mstab,
keseimb momen, tdk memenuhi keseimb. Slope-w, Stabl-g,
(1955) gaya2 horisontal dan vertikal. SB-slope, Stablgm
Force equilibrium (Lowe Segala bentuk bid runtuh, tdk memenuhi Utexas2, Utexas3,
dan Karafiat, USA US Corps keseimb momen, memenuhi keseimb gaya2 Slope-w
of Engineers 1970) horisontal dan vertikal.

Janbu’s Generalized Segala bentuk bid runtuh, memenuhi semua Stabl-g


Procedure (Janbu 1968) kondisi keseimb, lokasi gaya samping dpt
divariasi.
Morgenstern dan Price Segala bentuk bid runtuh, memenuhi semua Slope-w
(1965) kondisi keseimb, lokasi gaya samping dpt
divariasikan.
Spencer’s (1967) Segala bentuk bid runtuh, memenuhi semua Mstab, Slope-w, Sb-
kondisi keseimb, lokasi gaya samping dpt slope, Sstab2
divariasikan.
53
FORMULASI MATEMATIK
STABILITAS LERENG

Digunakan 3 cara,yaitu :
a) Cara Fellenius
b) Modified Bishop 1, dengan bidang longsoran
berupa lingkaran.
c) Modified Bishop 2, dengan bidang longsoran
berupa baji (wedge).

54
Cara Fellenius

55
Cara Fellenius

56
Cara Fellenius

58
Cara Modified Bishop Dgn Bidang
Longsoran Lingkaran (a)

59
Cara Modified Bishop Dgn Bidang
Longsoran Lingkaran (b)

60
Cara Modified Bishop Dgn Bidang
Longsoran Lingkaran (c)

61
Sistematika prosedur perhitungan :
1) Tentukan titik pusat lingkaran gelincir/longsor (O), dan bidang gelincirnya.
2) Lereng dibagi menjadi bbrp segmen, dg batas2 vertikal (mis.dibagi 8 segmen yg sama).
3) Mengukur lebar b, tinggi h, dan sudut kemiringan dasar α pd setiap segmen, dan nilai2nya
dimasukkan ke dalam kolom2 perhitungan pd tabel 1.
4) Menentukan besarnya tegangan air pori (u) pd dasar setiap segmen, dg cara u = γwh pd
titik B dari garis ekipotensial sampai titik A pd permukaan air (garis aliran / flow line).
5) Menghitung berat masing2 segmen W = γbh. Setiap segmen dianggap mempunyai tebal
satuan pd arah melintang terhadap lereng. Nilai-nilai sinα, W sinα, W cos α, c’La, ul dihitung,
supaya c’La + tan Φ’ Σ (Wcos α - ul) pd setiap segmen bisa ditentukan, serta nilai ΣWsin α
untuk setiap segmen dpt dihitung pula. Kemudian perbandingan kedua bagian rumus bisa
dihitung untuk mendapatkan faktor keamanan F.

Segmen h (m) b (m) α (0 ) γ (kN/m3) W =γhb Wcosα Wsinα u l ul Wcosα-ul


1
2
3
4
5
6
7
8
Σ …. Σ… Σ… Σ… Σ… Σ….
Gbr 3 Contoh perhit.
stabilitas lereng
(metode Fellenius)

Tabel 3 Contoh
analisis stabilitas
setiap segmen
(metode Fellenius)
Gambar 1 Contoh Perhitungan Stabilitas Lereng (Bishop)
Tabel 1 Daftar Isian Perhitungan Stabilitas Lereng (Bishop
III. Pencegahan

Pencegahan adalah tindakan pengamanan untuk mencegah kemungkinan


terjadinya kerusakan yang lebih berat pada lokasi-lokasi yang menunjukkan
adanya gejala longsoran atau pada daerah berpotensi longsoran.

Pencegahan ini dapat dilakukan dengan tindakan-tindakan antara lain :


- Menghindari penimbunan di atas lereng dan memotong pada bagian kaki lereng
- Mencegah terjadinya penggerusan sungai yang akan mengganggu kemantapan
lereng, antara lain dengan “check dam” (penggerusan vertikal) dan krib
(penggerusan lokal)
- Mengeringkan genangan air (kolam, kubangan dsb) pada bagian atas lereng
- Menutup / meratakan lekukan-lekukan yang memungkinkan terjadinya genangan
- Penghijauan daerah gundul dengan tanaman tertentu (lamtorogung, sadakeling,
bambu dan lain sebagainya)
Pencegahan (lanjutan)

- Mengendalikan air permukaan pada lereng sehingga tidak terjadi erosi yang
menimbulkan alur yang semakin dalam (gully)
- Penggunaan bangunan penambat (tiang, tembok penahan dsb)
- Pengaturan tata guna lahan

Untuk lereng atau tebing tanah yang berpotensi longsor, pemotongan dapat pula
digunakan sebagai pencegahan. Longsoran tebing batuan dapat dicegah dengan
cara penyemprotan, pengangkeran batu, melapis dengan pasangan tipis,
tumpuan beton, baut batuan, pengikat beton, jala kawat dan dinding penahan
tanah.
Cara-Cara Pencegahan Longsoran

Penanggulangan longsoran dengan cara


70 mengubah geometri lereng
Cara-Cara Pencegahan Longsoran

Macam2 pencegahan longsoran


dengan mengendalikan air permukaan
71
Cara2 Pencegahan Longsoran (lanjutan)

Cara pengendalian air rembesan


72
IV. Penanggulangan

IV.1. Penanggulangan Darurat


Penanggulangan darurat adalah tindakan penanggulangan yang sifatnya sementara
dan umumnya dilakukan sebelum penanggulangan permanen dilaksanakan

- Mencegah masuknya air permukaan ke dalam daerah longsoran dengan


membuat saluran terbuka
- Mengeringkan kolam-kolam yang ada di bagian atas daerah longsoran
- Mengalirkan genangan air dan mata air yang tertimbun maupun yang terbuka
- Menutup rekahan dengan tanah liat
- Membuat pasangan bronjong pada kaki longsoran
- Memasang cerucuk pada daerah longsoran
- Penimbunan kembali bagian yang rusak akibat longsoran
- Membuang runtuhan dari tebing ke bagian kaki lereng
- Membuat bangunan penahan dari karung diisi tanah
- Pemotongan bagian kepala longsoran
IV.2. Penanggulangan Permanen

Penanggulangan permanen memerlukan waktu untuk penyelidikan, analisis dan


perencanaan yang matang. Metode penanggulangan longsoran dibedakan dalam
tiga kategori, yaitu :
- Mengurangi gaya-gaya yang menimbulkan gerakan :
a. mengendalikan air permukaan
b. mengubah geometri lereng
- Menambah gaya-gaya yang menahan gerakan :
a. mengendalikan air rembesan
b. penambatan
c. timbunan pada kaki lereng (beban kontra)
- Jika kedua metoda di atas tidak dapat mengatasi longsoran yang terjadi, lakukan
penanggulangan dengan tindakan lain (stabilisasi, relokasi, bangunan silang dan
penggunaan bahan ringan)
Cara2 Penanggulangan Longsoran

Penambatan tanah dg bronjong

Penambatan tanah dg tembok penahan


75
Cara2 Penanggulangan Longsoran
(lanjutan)

Penambatan tanah dengan tiang

Penambatan tanah dengan sumuran

76
Cara2 Penanggulangan Longsoran
(lanjutan)

Penambatan dengan tanah bertulang Penambatan dengan penopang isian batu

77
Cara2 Penanggulangan Longsoran
(lanjutan)

Tumpuan beton

Baut batuan
78
Cara2 Penanggulangan Longsoran
(lanjutan)

Beton semprot

Pengikat beton
79
Cara2 Penanggulangan Longsoran
(lanjutan)

Jangkar kabel

Jala kawat

80
Cara2 Penanggulangan Longsoran
(lanjutan)

Dinding tipis

Tembok penahan batu


81
Cara2 Penanggulangan Longsoran (lanjutan)

Stabilisasi lereng
82
Cara2 Penanggulangan Longsoran (lanjutan)

Contoh relokasi jalan


83
IV.3. Cara-Cara Perbaikan Lereng yang Longsor
(Turnbill & Hvorslev)

1. Penggalian

2. Drainase

3. Penimbunan dengan Tanah dan Batu

4. Bangunan Penahan Tanah

5. Teknik Khusus
1. Penggalian
a. Mengurangi ketinggian lereng dengan
penggalian pada puncak

b. Perlandai kemiringan lereng

c. Buat berm pada bagian atas lereng


d. Gali seluruh bagian yang longsor

Catatan :
Cara penggalian ini hanya mungkin bila :
1. Peralatan berat bisa masuk
2. Tempat buangan hasil galian ada
3. Dikombinasi dengan cara drainase
2. Drainase
a. Drainase horisontal dengan diameter kecil

b. Drainase bawah permukaan


Uo
Penurunan muka air tanah
U’

Bidang longsoran

Air tanah dikeluarkan dari lereng pengalir, muka air tanah turun dari Uo menjadi U’.
Dengan penuruan muka air tanah tekanan air pori akan berkurang sehingga faktor
keamanan akan naik
Mengendalikan air permukaan

Retakan diisi Air limpasan

Lekukan dan tonjolan diratakan

Bidang longsoran

Air limpasan dicegat dengan tata salir sehingga tidak masuk ke daerah
longsoran. Rekahan diisi sehingga air permukaan tidak meresap ke dalam
tanah. Lekukan / tonjolan diratakan dengan mengisi lekukan dan memotong
tonjolan sehingga tidak mengakibatkan genangan.
d. Paritan subdrain yang memanjang dengan kedalaman
1.5 m sampai 4.5 m diisi pasir + kerikil

pasir + kerikil
pipa perforated

e. Pemboran sumuran dengan diameter 45 cm sampai 90


cm diisi pasir + kerikil
f. Pembuatan saluran terbuka
sepanjang puncak lereng
dikombinasi dengan
penanaman rumput

Catatan :
1. Efektif bila air tanah dapat diturunkan dan mengalir
secara bebas melewati drain
2. Dasar paritan dibuat miring dilengkapi dengan pipa
perforated untuk mengalirkan air. Bagian atas ditutup
dengan tanah lempung
3. Air dapat dipompa
4. Sangat berguna untuk lereng pada umumnya
3. Penimbunan dengan Tanah dan Batu
a. Gali masa yang longsor dan ganti dengan tanah atau
batu yang dipadatkan. Bidang
kontak harus bergigi dan
dilengkapi drainase

b. “Counterweight” pada kaki


lereng dilengkapi drainase

Catatan :
1. Alat berat dapat masuk
2. Ketebalan dan lebarnya harus cukup agar bidang
longsor tidak melewati atau memotong berm
4. Bangunan Penahan Tanah
a. Tembok penahan tanah
dari krib atau kantilever

b. Tiang bor setempat mencapai


kedalaman di bawah bidang longsor.
Diameter 45 cm sampai 90 cm
dan jarak 1.2 m sampai 2.4 m
c. Tiang bor setempat dilengkapi penyangga

d. Penjangkaran pada tanah atau batu


5. Teknik Khusus

a. Grouting
b. Electroosmosis, dll.

Catatan :
Biayanya cukup mahal
1. Galian dan Stabilitas Dinding Kolam
a) Kemiringan tanah asli

tanah Kolam embong tanah

Kemiringan disesuaikan dengan


kekuatan geser tanah
b)
Lereng galian
(1), (2), …. = lapisan batu
Galian dengan kemiringan lebih besar
Muka tanah asli
dari pada kemiringan lapisan batu,
akibatnya lapisan (1) dan (2) akan
meluncur ke bawah
batu
c)

tanah
Lereng galian

Batu (stabil)

Muka tanah asli Galian tebing pada tanah di


atas batu, kemiringan galian
lebih curam dari pada
Bidang luncur
kemiringan bidang perlapisan
tanah-batu, lapisan tanah akan
meluncur ke bawah
96 Parit-parit drainase permukaan
97 Drainase parit penahan
Pekerjaan pemindahan tanah

98
Pekerjaan pengangkeran

99
Pekerjaan pengurugan
buttress

Contoh dinding krib

100
Penahan Longsoran Permukaan dengan Menggunakan
Shotcrete
IV. Analisis Stabilitas Lereng
Akibat Gempa

4.1 PENDAHULUAN
4.2 EVALUASI PENENTUAN BEBAN
GEMPA
4.3 KRITERIA ANALISA STABILITAS
4.4 PENENTUAN INTENSITAS DESAIN
GEMPA
4.5 METODE ANALISA STABILITAS
BENDUNGAN
4.5.1. PSEUDOSTATIK
4.5.2. DINAMIK
4.1 PENDAHULUAN.

A.Kerusakan akibat Gempa Bumi.


a.Kerusakan primer.
• Tingkat kerusakan karena
goncangan kuat bergantung pada
intensitas, frekuensi, dan
magnitudo gempa, mekanisme
sumber gempa, lokasi proyek dari
sumber gempa (seperti jarak,
azimuth), dan struktur
bangunannya sendiri (misalnya
perioda alami).
Kerusakan Primer
• Kerusakan karena keruntuhan
sesar bergantung pada amplitudo,
penyebaran dalam ruang, dan
arah pergeseran sesar vertikal
atau lateral. Kerusakan langsung
pada bendungan dan lereng alami,
umumnya disebabkan oleh gaya
inersia akibat goncangan
permukaan tanah dan peralihan
tetap tanah akibat sesar.
b) Kerusakan Sekunder

Bangunan yang mengalami


kerusakan sekunder, disebabkan
oleh gaya inersia karena
goncangan permukaan tanah dan
peralihan tetap tanah akibat sesar
(misalnya longsoran yang
meruntuhkan jembatan atau
viaduk).
Kerusakan Sekunder
• Goncangan kuat pada tanah
(misalnya pasir jenuh), dapat
menyebabkan penurunan kuat
geser tanah atau kekakuan,
sehingga terjadi penurunan atau
penyebaran lateral fondasi dan
keruntuhan bendungan urugan
tanah.

Oleh karena itu, kerusakan


sekunder pada sistem
Kerusakan Sekunder

• Likuifaksi (Hilangnya kekuatan


geser pada pasir lepas jenuh)

• Sumber kerusakan sekunder


lainnya akibat gempa meliputi
limpahan bahan kimiawi,
kerusakan saluran air kotor, dan
kehilangan persediaan air minum.
Gedung miring (tilting) akibat likuifaksi tanah
gempa Niigata (Jepang) tahun 1964
Gempa Bhuj tanggal 26 Januari 2001 di
Gujarat, India
B. Hal penting yang harus diperhatikan dalam
desain bendungan urugan

1.Fondasi harus digali sampai lapisan sangat


padat atau batuan dasar, atau semua bahan
fondasi yang bersifat lepas harus
dipadatkan atau diganti dengan bahan yang
dipadatkan secara baik agar terhindar dari
penurunan kuat geser akibat likuifaksi.

2.Penggunaan bahan timbunan yang berpotensi


meningkatkan tekanan air pori pada waktu
terjadi gempa kuat harus dihindari.
Hal penting yang harus diperhatikan
dalam desain bendungan urugan

3.Semua zona dari bendungan urugan harus


dipadatkan dengan baik, untuk mencegah
terjadinya penurunan berlebihan saat terjadi
gempa bumi.

4.Semua bendungan urugan terutama urugan


homogen, harus mempunyai zona drainase
internal untuk memotong aliran air lewat
retakan melintang bendungan yang terjadi
akibat gempa dan menjaga agar zona-zona
lereng di sebelah hilir tetap tidak jenuh air.
Hal penting yang harus diperhatikan
dalam desain bendungan urugan

5.Pada fondasi batuan yang mengandung


banyak rekahan harus dilengkapi dengan
filter untuk mencegah erosi buluh (piping)
masuk kedalam fondasi.

6.Filter dan zona drainase harus cukup lebar


dan memadai, sesuai RSNI T-01-2002.

7.Zona transisi bagian udik dan atau bagian hilir


harus bersifat mudah memperbaiki diri dan
dengan gradasi yang memadai, agar
terhindar dari retakan berlanjutnya
melewati inti.
Hal penting yang harus diperhatikan
dalam desain bendungan urugan

8.Tinggi jagaan harus cukup tinggi, untuk


mencegah terjadinya limpasan air waduk
lewat tubuh bendungan, akibat penurunan
tubuh bendungan pada waktu terjadi gempa
bumi, dan gelombang air tinggi yang timbul
karena longsoran pada kolam waduk.

9.Puncak bendungan harus dibuat lebih lebar


dari kondisi normal untuk memperpanjang
lintasan rembesan air, apabila terjadi
retakan melintang akibat gempa bumi.
4.2 Evaluasi penentuan beban gempa

• Beban gempa untuk desain bendungan baru atau


evaluasi keamanan bendungan dan waduk yang sudah
ada (existing dam and reservoir), diperoleh dari :
a ) gempa desain maksimum (MDE=Maximum Design
Earthquake),
b ) gempa dasar operasi (OBE=Operating Base
Earthquake) dan kadang-kadang
c ) gempa imbas (RIE=Reservoir Induced Earthquake).

• Suatu bendungan dapat dievaluasi terhadap satu atau


beberapa beban gempa tergantung pada kondisinya.
Evaluasi penentuan beban gempa
(lanjutan)

• Pada kasus gempa bolehjadi


maksimum penentu
(CMCE=Controlling Maximum
Credible Earthquake); bila terjadi
kerusakan pada bendungan yang
cukup besar, bendungan harus tetap
dalam batasan keamanan yang
dapat ditoleransi dan tidak terjadi
bencana banjir atau limpasan
(overtopping).
BEBAN GEMPA DALAM PENYIAPAN
DESAIN BENDUNGAN.
- Gempa Dasar Operasi (Operating Basis Earthquacke = OBE):
yaitu tingkat gempa yang menimbulkan goncangan tanah
(ground motion) pada lokasi bendungan dengan kemungkinan
50% tidak terlampaui selama 100 tahun. Berdasar definisi
tersebut, kemudian OBE ditetapkan secara probabilistik
(berdasar periode ulang 50~100 tahun tergantung kelas risiko
bendungan. Pada gempa OBE bendungan tidak boleh mengalami
kerusakan.

- Gempa desain maksimum (Maximum Design Earthquacke =


MDE): yaitu tingkat gempa yang menimbulkan goncangan
terbesar dilokasi bendungan yang akan dipakai untuk penyiapan
desain. Periode ulang gempa MDE berkisar 1000 ~10.000 tahun.
Pada gempa MDE bendungan hanya boleh mengalami sedikit
kerusakan (small damage), untuk bendungan urugan haya boleh
mengalami penurunan kurang dari ½ tinggi jagaan (dihitung dari
m.a. normal).

- Gempa imbas waduk (Reservoir Induce Earthquacke = RIE);


yaitu gempa bumi yang terjadi akibat pengisian waduk yang
mengakibatkan tingkat goncangan permukaan maksimum di
lokasi bendungan. Gempa RIE hanya diperhitungkan bagi
bendungan yang memiliki tinggi>100 m atau
3
• Faktor-faktor yang diperlukan untuk
evaluasi keamanan bendungan tahan
terhadap beban gempa, antara lain:

• Tingkat bencana gempa di lokasi


bendungan;
• Tipe bendungan;
• Kebutuhan fungsional;
• Tingkat risiko bendungan dan waduk
yang telah selesai;
• Konsekuensi perkiraan risiko.
Pengaruh kondisi lokal berasal dari kondisi
topografi dan geologi Faktor utama yang
dipertimbangkan dalam persyaratan
parameter gempa adalah:

• klasifikasi tempat (aluvium atau


batuan);
• parameter fisik (physical properties)
dan ketebalan lapisan fondasi;
• pengaruh dekatnya jarak terhadap
sesar (near field effects);
• jarak dari daerah pelepasan energi;
• pemilihan magnitudo untuk desain.
Pengaruh tingkat kerusakan
• Klasifikasi tingkat kerusakan dapat dibuat
berdasarkan percepatan gempa maksimum
(PGA=Peak Ground Acceleration) yang
mungkin terjadi pada MDE.

• Penentuan dapat dilakukan dengan


menggunakan peta zona gempa. pada lokasi
dengan material fondasi yang baik (batuan).

Lokasi dengan material fondasi lanau pasiran


lunak atau pasir lepas dengan kepadatan
relatif rendah yang berpotensi mengalami
likuifaksi harus diterapkan lebih berhati-hati.
Tabel 3.1 Tingkat kerusakan menurut
besarnya percepatan gempa maksimum pada
MDE

Percepatan gempa maksimum (PGA=ad) Klasifikasi


(Peak Ground Acceleration) Tingkat
Kerusakan

PGA < 0,1 g I (rendah)

0,10  PGA < 0,25g II ( moderat)

PGA  0,25g III (tinggi)


Tidak terdapat sesar aktif dalam jarak 10
km dari lokasi

PGA 0,25g IV (ekstrim)


Sesar aktif lebih dekat dari 10 km dari
lokasi
Klasifikasi kelas risiko
Angka bobot dalam kurung

Faktor Risiko (FR) Ekstrim Tinggi Moderat Rendah


Kapasitas (106m3) >100 100-1,25 1,00-0,125 < 0,125
(FRk) (6) (4) (2) (0)
Tinggi (m) > 45 45-30 30-15 < 15
(FRt) (6) (4) (2) (0)
Kebutuhan > 1000 1000-100 100-1 0
evakuasi (12) (8) (4) (0)
(jumlah orang) (FRe)
Tingkat kerusakan Sangat Tinggi Agak Moderat Tidak ada
hilir (FRh) tinggi (10) ting (4) (0)
(12) gi
(8)
Kriteria beban gempa untuk desain
bendungan

Faktor risiko total Kelas risiko

(0-6) I (Rendah)

(7-18) II (Moderat)

(19-30) III (Tinggi)

(31-36) IV (Ekstrim)
Kriteria beban gempa untuk
desain bendungan
Kelas risiko Persyaratan tanpa Persyaratan diperkenankan ada
dengan masa kerusakan kerusakan tanpa keruntuhan
guna
T Metoda T Metoda
(tahun) Analisis (tahun) Analisis

IV 100 – Koef 10.000 Koef.gempa atau


N=50-100 200 Gempa (MDE) dinamik
ad  0,1
g
III 50 – 100 Koef 5000 Koef. gempa atau
N=50-100 ad  0,1 Gempa (MDE) dinamik
g
II 50-100 Koef 3000 Koef. gempa atau
N=50-100 ad  0,1 Gempa (MDE) dinamik
g
I 50-100 Koef 1000 Koef. gempa atau
N=50-100 ad  0,1 Gempa (MDE) dinamik
g
4.3 Kriteria Analisis Stabilitas
Lereng
• Persyaratan tanpa kerusakan dengan
perioda ulang T ditentukan (OBE),
beban gempa dapat diperoleh dari
peta zona gempa

• Analisis dilakukan dengan cara


koefisien gempa. Kestabilan
bendungan harus lebih tinggi dari
faktor keamanan minimum yang
disyaratkan dan bendungan tidak
mengalami kerusakan yang serius.
4.3 Kriteria Analisis Stabilitas
Lereng (lanjutan)

• Persyaratan dengan diperkenankan ada


kerusakan tanpa terjadi keruntuhan dengan
periode ulang T ditentukan untuk kelas I, II,
III, dan IV, percepatan gempa maksimum di
permukaan tanah dapat diperoleh dari peta
zona gempa.

• Analisis dilakukan dengan cara dinamik


menggunakan ragam sambutan gempa atau
sejarah waktu percepatan gempa.
Bendungan harus mampu menahan gempa
desain MDE tanpa keruntuhan atau
diperkenankan ada kerusakan dengan
alihan tetap tidak melampaui 50 % dari
tinggi jagaan.
Analisis Stabilitas Bangunan Pengairan
Lainnya
No Jenis Bangunan Kelas Risiko Periode Metoda
. dg Masaguna Ulang Analisis
T (tahun)

1 Bangunan Pengairan V 20-50 Ba


Permanen seperti: N=20-50
 Bangunan sadap;
 Bangunan silang;
 tanggul penutup;
 tanggul banjir;
 tembok penahan;
 lain-lain.

2 Bangunan Pengairan - Tidak perlu


Semi Permanen: dianalisis

Catatan :
Ba = Untuk bangunan pengairan dengan H  15m, analisis dilakukan dengan metoda koefisien gempa
Bila H > 15m analisis harus menggunakan kelas risiko IV .
4.4 Penentuan Intensitas Desain
Goncangan Gempa Permukaan

Intensitas goncangan pada lokasi tertentu dapat


dievaluasi dengan tiga cara berbeda, yaitu:
1.analisis bahaya gempa deterministik;
2.analisis bahaya gempa probabilistik;
3.pendekatan dengan peta zona gempa
Indonesia.

Tujuannya untuk menghitung parameter


goncangan gempa di permukaan tanah untuk
berbagai perioda ulang.
1.Pendekatan deterministik

Analisis bahaya gempa deterministik (Deterministic


Seismic Hazard Analysis = DSHA) digunakan jika akan
memperhitungkan skenario gempa untuk mengevaluasi
magnitudo dari parameter goncangan gempa
(umumnya percepatan puncak di permukaan tanah dan
respons spektrum percepatan) di suatu lokasi
terhadap pengaruh semua sumber gempa aktif yang
dekat dengan Bendungan dan berpotensi menimbulkan
goncangan kuat di permukaan tanah.

Analisis tidak hanya dilakukan untuk satu sumber


gempa, tetapi dilakukan juga untuk beberapa sumber
gempa dengan magnitudo, intensitas dan jarak yang
berlainan. Hasil yang memberikan tingkat kerusakan
tertinggi, akan digunakan sebagai parameter desain.
• Pendekatan deterministik
(lanjutan)

Intensitas goncangan gempa di permukaan


tanah yang disebabkan oleh sesar aktif (atau
sumber gempa lainnya) dievaluasi dengan
menggunakan grafik hubungan atenuasi atau
fungsi atenuasi.

Fungsi-fungsi atenuasi hasil penelitian (pada


berbagai jenis sesar, jenis tanah atau batuan)
untuk gempa-gempa di Indonesia belum ada,
sehingga perlu diambil dari basis data yang
diperoleh dalam literatur (USA dan Jepang).
2.Pendekatan probabilistik

• Analisis bahaya gempa dengan


pendekatan probabilistik
(Probabilistic Seismic Hazard
Analysis = PSHA), digunakan jika
akan mempertimbangkan
ketidakpastian jarak dan waktu
kejadian gempa dan jika sumber
gempa jauh dari lokasi bendungan.
3.Pendekatan dengan peta zona gempa
Indonesia

• Peta zona gempa untuk Indonesia


dikembangkan sesuai dengan prosedur yang
dijelaskan di atas dengan cara pendekatan
probabilistik.

• Peta percepatan gempa bolehjadi untuk


perioda ulang 10, 20, 50, 100, 200, 500, 1000,
5000 dan 10000 tahun, yang kemudian
digabungkan menjadi satu peta zona gempa,
dapat digunakan untuk memprediksi
percepatan gempa untuk perioda ulang
tertentu.
4.5 .METODE ANALISIS STABILITAS
BENDUNGAN URUGAN AKIBAT
BEBAN GEMPA

Pendekatan analisis stabilitas akibat gempa ini


menggunakan cara

1.Analisis keseimbangan batas pseudo-


statik (Cara koefisien gempa)

2.Analisa Dinamik
4.5.1.Analisis Dengan Cara Koef
Gempa (Pseudostatic Analyses)

• Analisis gempa untuk desain bendungan dan


bangunan pelengkapnya yang tahan beban
gempa dapat dilakukan dengan cara koefisien
gempa, menggunakan cara probabilistik.

• Pada dasarnya, analisis keseimbangan batas


pseudo-statik dapat dilakukan menggunakan
analisis tegangan total atau tegangan efektif.
4.5.1.Analisis Dengan Cara Koef Gempa
(Pseudostatic Analyses) lanjutan..

Dalam analisis keseimbangan batas pseudo-


statik, koefisien gempa digunakan untuk
mewakili pengaruh gaya-gaya inersia akibat
gempa terhadap massa yang berpotensi
runtuh.

• Faktor keamanan izin yang berkaitan dengan


koefisien gempa menggambarkan perilaku
lereng bendungan yang dianalisis, apakah
akan mengalami alihan (deformasi) atau tidak
akibat gempa desain.
Cara koefisien gempa
Percepatan gempa dari dasar sampai puncak Bendungan
dianggap sama.

Kurang tepat,karena Bendungan tipe Urugan bersifat lebih


fleksibel,sehingga percepatan Gempa membesar di Puncak.

Koefisien Gempa digunakan untuk mewakili pengaruh gaya2


inersia akibat gempa terfadap masa yang berpotensi runtuh.

FK ijin yang berkaitan dengan koefisien Gempa


menggambarkan perilaku lereng Bendungan yang dianalisis
apakah akan mengalami alihan (deformasi) atau tidak akibat
Gempa desain.

Goncangan Gempa diganti dengan percepatan horizontal yang


konstan = K x g dimana K= koefisien gempa dan g=
percepatan Gravitasi

Dengan anggapan percepatan langgeng ini menimbulkan gaya


inersia Kx W melalui pusat Gravitasi massa yang berpotensi
runtuh,dan W = berat massa yang berpotensi runtuh
Cara koefisien gempa

Cara ini dilakukan dengan menghitung koef gempa dan gaya-


gaya vibrasi yang bekerja sebagai gaya statik mendatar,
seperti persamaan berikut :
F=KW .............. (6.1)
ad
Kh = ........................(6.2)
g
K = 1 x Kh ........................(6.3)

F : gaya gempa mendatar (kN);


W : berat (ton);
Kh : koef gempa dasar yang tergantung periode ulang T;
ad : percepatan gempa terkoreksi oleh pengaruh jenis tanah
(gal);
1 : koreksi pengaruh free field,bendungan tipe urugan =0,7;
bendungan beton dan pasangan batu =1;
K : koefisien gempa terkoreksi untuk analisis stabilitas;
g : gravitasi (= 980 cm/det2).
Koefisien gempa termodifikasi
• Koefisien gempa desain pada tubuh bendungan yang
merupakan fungsi dari kedalaman, dapat dihitung
dengan persamaan:

Ko = 2 x Kh ……………. (6.4)

Keterangan :
Ko : koefisien gempa desain terkoreksi di permukaan
tanah;
2 : koreksi pengaruh jenis struktur, untuk bendungan
tipe urugan =0,5;
Kh : koefisien gempa dasar yang tergantung periode
ulang T.

Koefisien gempa pada kedalaman Y dari puncak


bendungan berbeda-beda. Untuk analisis stabilitas,
peninjauan dilakukan pada Y = 0,25 H; 0.50 H; 0,75 H
dan H (H adalah tinggi bendungan) dengan
menggunakan Kh pada perioda ulang sesuai dengan
persyaratan.
Untuk 0 < Y/H  0,4 :
K = Ko x {2,5 – 1,85 x (Y/h)} ........... (6.5)

Untuk 0,4 < Y/H  1,0 :


K = Ko x { 2,0 – 0,60 x (Y/h)} ........... (6.6)
• Analisis stabilitas pseudostatik termodifikasi
dapat dilakukan dengan Plaxis atau software
lain, lalu dicari Ky dengan faktor keamanan =
1 dari bendungan untuk setiap kondisi.

• Lanjutkan dengan analisis dinamik dengan


periode ulang gempa 5.000 tahun atau 10.000
tahun (tergantung tingkat resiko)

• Hasil perhitungan selengkapnya dapat


diperoleh stabilitas lereng dan deformasi
serta perbandingan dengan tinggi jagaan
bendungan akibat pengaruh gempa.
160

150

140

130
BENDUNGAN DARMA
120 longsoran up-stream Y/H = 0,25
110

2.020
100

90
TINGGI(M)

80

70

60

50

40
AIR

30
TIMBUNAN BATU
TIMBUNAN TANAH
20
AIR
PONDASI RANDOM
10

-10
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260

PANJANG (M)

Hasil analisis stabilitas statik lereng hulu kondisi steady


seepage Bendungan Darma
160

150

140

130
BENDUNGAN DARMA
120 longsoran down-stream Y/H = 0,75
110

100

90
TINGGI(M)

0.666
80

70

60

50

40
AIR

30
T IMBUNAN BAT U
T IMBUNAN T ANAH
20
AIR
PONDASI RANDOM
10

-10
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260

PANJANG (M)

Hasil analisis stabilitas statik lereng hilir kondisi steady


seepage Bendungan Darma
Y/H=0.75

1.4
1.2
1

Fk
0.8
0.6
0.4
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
Beban gempa

Lereng downstream
Lereng upstream Y/H=0,25
Y/H=0,75
4.5.2 ANALISIS STABILITAS
DINAMIK BENDUNGAN

Analisis dengan cara dinamik dapat


dilakukan dengan dua cara
perhitungan, yaitu:

1. Analisis deformasi permanen cara


Makdisi & Seed

2. Analisis dinamik dengan respons


dinamik.
Bagan Alir stabilitas bendungan dengan
Gempa
Bagan alir metode analisis

Studi kegempaan. Penyelidikan geoteknik:


1. Penyelidikan kondisi geologi regional 1. Pemboran, uji lapangan , uji laboratorium
2. Sejarah kejadian gempa 2. Tentukan parameter desain material dan fondasi
3. Kondisi geologi regional a) n , sat, uu, cuu, , ’cu, c’cu (stabilitas statik)
4. Penentuan fungsi attenuasi b) k (analisis rembesan)
5. Penentuan M, R, kedalaman gempa, c) Gmax, hubungan G/Gmax dan D dengan regangan
percepatan gempa untuk periode ulang  (analisis stabilitas dinamik)
(deterministik, probabilistik atau peta
gempa)

Desain bendungan :
1) Jenis urugan dan geometri bendungan
2) Isi waduk, muka air normal, muka air banjir, tinggi jagaan

Lakukan analisis stabilitas statik pada kondisi


1. Waktu pembangunan
2. Rembesan tetap (steady seepage)
3. Surut cepat
4. Jangka panjang

Tidak Ya
Rubah geometri FK> FKmin 2
2
Persyaratan diperkenankan ada
kerusakkan tanpa keruntuhan (MDE),
Persyaratan tanpa kerusakkan (OBE)
Sesuai kelas bendungan dengan
Sesuai kelas bendungan dengan T
tentukan ad , Kh = ad/g
tentukan ad,, , Kh = ad/g

Lakukan analisis stabilitas dinamik dengan Lakukan analisis stabilitas dinamik dengan
metode koef gempa termodifikasi pada metode koef gempa termodifikasi pada
y/h = 0,25; 0,5 ; 0,75 dan 1 (udik +hilir) y/h = 0,25; 0,5 ; 0,75 dan 1 (udik +hilir)
Dimana K ditentukan dengan Dimana K ditentukan dengan
K0 = 0,5 x Kh K0 = 0,5 x Kh
Untuk 0 < y/h < 0,4 Untuk 0 < y/h < 0,4
K = K0 x (2,5-1,85x (y/h)) K = K0 x (2,5-1,85x (y/h))
Untuk 0,4 < y/h < 1,0 Untuk 0,4 < y/h < 1,0
K = K0 x (2,0-0,60 x (y/h)) K = K0 x (2,0-0,60 x (y/h))

Hitutung stabilitas lereng dengan


Hitung stabilitas lereng dengan Program komputer pada y/h=0,25
Program komputer pada y/h=0,25 0,5 ;0,75; 1
0,5 ;0,75; 1

Tidak Ya
FK<FKmin FK>1 Selesai

Tidak
Analisis dinamik
Rubah geometri
3
3

Analisis alihan tetap dengan


Cara Makdisi-Seed
10-02

Ya
Alihan < 0,5
Selesai
tinggi jagaan

Tidak

Analisis respons dinamik dengan Analisis respons dinamik


Cara Satu dimensi Ekivalen Cara 2 dimensi Ekivalen
program SHAKEM Quake/W, Flush, Quad-4
dan hitung alihan tetap dan hitung alihan tetap
TEST
Jawablah dengan singkat.
153