Anda di halaman 1dari 11

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/322652161

Geologi dan Studi Logam Tanah Jarang Daerah Karang Botor dan Sekitarnya,
Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Conference Paper · October 2015

CITATIONS READS

0 1,881

3 authors:

Novia Florensia Inatadon Mirzam Abdurrachman


Universitas Jenderal Soedirman Bandung Institute of Technology
1 PUBLICATION   0 CITATIONS    56 PUBLICATIONS   41 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Mochammad Aziz
Akita University
6 PUBLICATIONS   8 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Volcanostratigraphy and Petrogrenesis of Sindoro Volcano, Central Java View project

Geochemistry and Seismic Tomogram beneath Krakatoa Volcano, Sunda Strait, Indonesia View project

All content following this page was uploaded by Mirzam Abdurrachman on 23 January 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

GEOLOGI DAN STUDI LOGAM TANAH JARANG DAERAH KACANG BOTOR


DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BADAU, KABUPATEN BELITUNG, PROVINSI
KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Novia Florensia Inatadon1*, Mirzam Abdurrachman2, Mochammad Aziz1


1
Jurusan Teknik Geologi, UNSOED, Purwokerto
2
Jurusan Teknik Geologi, ITB, Bandung
3
Jurusan Teknik Geologi, UNSOED, Purwokerto
*corresponding author: noviaflorensia91@gmail.com

ABSTRAK
Banyaknya intrusi granit berumur Trias hingga Kapur di Kepulauan Bangka Belitung berpotensi
untuk dilakukan penelitian batuan dan endapan yang mengandung unsur tanah jarang. Unsur tanah
jarang merupakan unsur yang sangat langka atau ditemukan sangat sedikit di alam, berupa senyawa
kompleks umumnya senyawa fosfat dan karbonat. Seiring dengan perkembangan teknologi, unsur
tanah jarang semakin dibutuhkan dan umumnya pada industri teknologi tinggi. Penelitian ini berada
di daerah Kacang Botor Kecamatan Badau Kabupaten Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
dengan metode geokimia soil. Hasil dari pemetaan geologi didapatkan dua satuan geomorfologi, yaitu
Satuan Perbukitan Intrusi (S11) dan Satuan Dataran Denudasional Peneplains (D5). Sedangkan
untuk satuan geologi didapatkan Satuan Granit dari Formasi Tanjung Pandan dan Satuan Batupasir
Kuarsa dari Formasi Tajam. Berdasarkan analisis ICP-MS (Inductively Coupled Plasma-Mass
Spectrometry) sebanyak 115 conto soil diperoleh 16 unsur dan hanya 8 unsur yang dilakukan
pengolahan data. Kisaran kadar kedelapan unsur tersebut antara lain 82,79-188 ppm Ce; 23,24-66
ppm La, 17,05-66 ppm Nd, 8-89 ppm Pr, 26,93-81 Li, 16-126 ppm Y; 8-51 ppm Gd; 16-140 ppm Sn.
Pola sebaran unsur tanah jarang yang didapatkan yaitu berarah barat daya - timur laut. Pola
sebaran ini mengikuti pola kontur litologi granit sebagai batuan sumber dan endapan residu dengan
butiran halus–kasar sebagai perangkap terendapkannya mineral tanah jarang. Unsur tanah jarang
saling berasosiasi dengan unsur Sn (timah), Uranium, dan Thorium.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
I. PENDAHULUAN megetahui kondisi geologi di daerah penelitian
Secara geologi, Unsur Tanah Jarang (UTJ) dengan melakukan pemetaan geologi dan
dapat dijumpai bersamaan dengan studi khusus tentang unsur/ logam tanah
terbentuknya endapan timah. Penambangan jarang berdasarkan pengambilan data di
dan pengolahan timah umumnya lapangan sebagai data primer dipadukan
menghasilkan produk sampingan berupa dengan dengan analisis geokimia soil dan
mineral yang mengandung unsur tanah jarang. didukung oleh data-data sekunder yang ada
Mineralisasi timah di Asia Tenggara berada pada daerah penelitian.
pada sabuk granit yang memanjang ke selatan
Lokasi penelitian berada di daerah Kacang
dari China menerus ke Myanmar, Thailand,
Botor, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung,
Semenanjung Malaysia, sampai ke Jalur Timah
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara
Indonesia yang terletak memanjang dari
geografis terletak pada koordinat (UTM)
Kepulauan Riau, menerus ke arah selatan
811.100-816.400 mE dan 9.698.900-9.693.500
sampai di Bangka Belitung (Sabtanto, 2009).
mN, dengan luas daerah penelitian 5 km x 5
Oleh karena itu, meneliti daerah tersebut
km.
diperlukan kajian geologi lebih lanjut berupa
geokimia soil, sehingga karakteristik kondisi Bahasan utama dari penelitian ini adalah
geologinya dapat diketahui secara detail. mengenai kondisi geologi daerah penelitian
dan penyebaran unsur/logam yang berkaitan
744
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

dengan Rare Earth Element (REE) berdasarkan yaitu kuarsa, feldspar, plagioklas, biotit,
data geokimia terutama geokimia soil untuk hornblende. Umur mutlaknya berkisar dari
menentukan zonasi penyebaran unsur yaitu 160 sampai 208 juta tahun (Priem dkk, 1975).
unsur/ logam tanah jarang.
 Granodiorit Burung Mandi terdiri dari
II. KONDISI GEOLOGI REGIONAL granodiorit, kelabu sampai kehijauan, mineral
penyusun yaitu kuarsa, plagioklas, feldspar,
Menurut Badan Geologi tahun 2010,
biotit, hornblende. Berumur mutlak 115-160
Kepulauan Bangka Belitung termasuk ke dalam
juta tahun (Priem dkk, 1975) atau Kapur.
fisiografi daerah perbukitan (low hills) dengan
morfologi perbukitan terpisah (isolated hills)  Diorit Kuarsa Batubesi terdiri dari diorite
yang memiliki asal mula dari sisa denudasi, kuarsa, hijau-kelabu muda, mineral
longsoran dan terobosan magma. Stratigrafi penyusunnya adalah kuarsa, plagioklas, k-
regional berdasarkan Peta Regional Lembar feldspar, hornblende, klorit, dan oksida besi.
Belitung secara urutan dari tua ke muda yaitu:
 Pasir Berkarbon terdiri dari pasir karbonan
 Formasi Kelapakampit tersusun atas kehitaman bersisipan lempung. Setempat
batuan sedimen flysch yang terlipat lemah dijumpai mineral kasiterit.
hingga sedang terdiri dari batupasir malih
 Endapan Aluvial dan Pantai terdiri dari
berselingan dengan batusabak, batulanau
kerakal-kerikil, pasir, lanau, lempung, dan
tufan dan rijang. Umurnya diperkirakan antara
pecahan koral.
Permo-Karbon. Formasi ini terendapkan dalam
lingkungan laut dengan ketebalan yang Berdasarkan Peta Geologi Lembar Belitung
tersingkap lebih dari 500 m. (Baharuddin dan Sidarto, 1995), struktur
geologi yang dijumpai di daerah ini antara lain:
 Formasi Tajam terdiri dari batupasir kuarsa
lipatan, sesar, kekar dan kelurusan. Arah
bersisipan batulanau terlipat sedang hingga
sumbu lipatan umumnya barat laut –
kuat dan termalihkan rendah. Bijih timah
tenggara, sedangkan sesar berarah timur laut
primer dijumpai bersama kuarsa dalam urat
– barat daya.
rekah.

 Formasi Siantu terdiri dari lava basal dan III. SAMPEL DAN METODE
breksi gunungapi. PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
Satuan ini terendapakan dalam lingkungan
yaitu metode pemetaan geologi dan
laut.
pengambilan sampel soil serta metode analisis
 Granit Tanjung Pandan terdiri dari granit, berupa analisis petrografi dari batuan untuk
terdaunkan kelabu muda, mineral penyusun melihat nama batuannya, analisis mineral
yaitu kuarsa, felspar, plagioklas, biotit. Batuan butir mengetahui mineral berat dan
ini termasuk ke dalam granit tipe “S” persentasenya, analisis ICP-MS untuk
(Pitfield,1987), mengandung greisen yang kaya mengetahui unsur tanah jarang dalam soil dan
mineral primer. Umur mutlaknya berdasarkan pengolahan data geokimia dengan batuan
K-Ar berkisar antara 208 sampai 245 juta statistik.
tahun (Priem dkk, 1975).
IV. DATA DAN ANALISIS
 Adamelit Baginda terdiri dari adamelit,
Geologi Daerah Penelitian
kelabu sampai kehijauan, mineral penyusun
745
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Geomorfologi daerah penelitian terbagi Struktur geologi yang berkembang pada


menjadi dua satuan menurut van Zuidam daerah penelitian berupa kekar gerus yang
(1985), yaitu: Satuan Perbukitan Intrusi (S11) jumlahnya tidak memadai untuk dilakukan
meliputi 39% luas derah penelitian dengan analisis, sehingga hanya bisa menarik garis
morfografi perbukitan, ketinggian berkisar 75 putus-putus berdasarkan kelurusan bukit dan
sampai 225 mdpl, kemiringan lereng sebesar lembah melalui citra SRTM (Shuttle Radar
27,27% termasuk kelas relief agak curam, Topography Mission). Pola kelurusan bukit dan
berada pada satuan granit. Satuan Dataran lembah berarah barat laut-tenggara.
Denudasional Peneplain meliputi 61% luas Sedangkan kekar yang terisi urat berupa urat
daerah daerah penelitian dengan morfografi kuarsa memiliki arah dominan timur laut-barat
pedataran, ketinggian berkisar 12 sampai 50 daya.
mdpl, kemiringan lereng sebesar 6,25%
Geokimia Soil
termasuk kelas relief sangat landai, berada
pada satuan batupasir kuarsa. Dalam studi khusus ini penulis melakukan
pemetaan geokimia soil dengan mengambil
Stratigrafi Daerah Penelitian
contoh soil untuk dianalisis sebanyak 115
Stratigrafi daerah penelitian terbagi menjadi contoh yang diambil pada area seluas 25 km2.
dua satuan tidak resmi, yaitu: Satuan Metode pengambilan contoh soil dilakukan
Batupasir Kuarsa menempati 47% luas daerah dengan metode kisi (grid) dengan jarak 250
penelitian dengan karakter batuan segar meter untuk tiap titik pengambilan contoh.
hingga terlapukan (Foto 1), berwarna putih Contoh soil diambil pada kedalaman antara
keabuan, berukuran pasir halus-sedang, 30-60 cm (Rose dkk, 1979) pada horizon B,
semen/matriks non karbonat, terpilah baik, tetapi pada prakteknya antara batas bawah
kemas terbuka, banyak memperlihatkan horison A dan batas atas horison C, karena
mineral kuarsa pada sayatan petrografi (Foto tidak selalu mudah membedakan horison
2), butiran berupa kuarsa 77%, feldspar 3%, tanah. Selain itu terdapat pengukuran kadar
muskovit 2%, serisit 2%, mineral opak 2%, Uranium, Thorium dan Kalium pada
berdasarkan klasifikasi Pettijohn 1975 batuan/soil yang dilakukan secara kontinyu
termasuk Quartz Arenite. Satuan granit menggunakan alat detektor gamma-ray
menempati 53% luas daerah penelitian dengan interval pengukuran 250 m di
dengan karakter batuan segar hingga sepanjang lintasan pengambilan contoh soil
terlapukkan/teralterasi (Foto 3), berwarna yang telah ditentukan.
putih sampai keabuan, holokristalin,
Pengolahan Data Geokimia dan Analisis
ekuigranular, komposisi mineral terdiri dari k-
feldspar, kuarsa, biotit, plagioklas dan Hasil analisis conto soil didapatkan beberapa
muskovit, pada sayatan petrografi unsur yaitu: Ce, Dy, Eu, Gd, Ho, La, Lu, Nd, Pr,
memperlihatkan mineral ubahan berupa Sm, Tb, Tm, Y, Yb, Li, dan Sn yang diambil
serisit dan mineral aksesoris berupa zirkon, untuk dianalisis lebih lanjut.
apatit dan monasit, berdasarkan klasifikasi
1. Nilai Latar Belakang
Streckeisen (1976) termasuk Alkali Feldspar
Nilai latar belakang merupakan nilai
Granite.
kandungan unsur yang belum mengalami
Struktur Geologi Daerah Penelitian perubahan. Hal ini dapat dikatakan pula
bahwa nilai latar belakang berada di bawah
nilai ambang.
746
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

2. Nilai Ambang Daerah Prospek


Nilai ambang digunakan untuk mengetahui
Pada daerah penelitian terdapat daerah
batasan nilai sehingga dapat menentukan nilai
prospeksi sebaran UTJ yang dibagi
anomali. Nilai ambang untuk unsur Ce, La, Nd,
berdasarkan kompilasi beberapa unsur tanah
Li menggunakan metode statistik dengan tipe
jarang yang saling berasosiasi. Daerah
simpangan baku (σ) dengan rumus harga
prospeksi ini dibagi menjadi tiga area antara
ambang T = µ + 2σ dan unsur Pr, Y, Gd, Sn
lain:
menggunakan kurva probabilitas. Hasil
perhitungan statistik untuk menentukan nilai  Daerah Prospeksi 1, berada di sebelah
ambang dapat dilihat pada Tabel 2 dan Tabel timurlaut daerah penelitian, terdiri dari
3. sebaran unsur Ce, La, Nd, Pr, Y, Gd, dan
Sn. Daerah ini dikontrol oleh litologi
3. Nilai Anomali
granit sebagai cebakan primer dan juga
Nilai anomali dapat ditentukan jika nilai
endapan residu sebagai cebakan
statistik data berada di atas nilai ambang.
sekunder, keberadaan mineral kasiterit
Besaran nilai anomali untuk unsur Ce, La, Nd,
dan ilmenit hadir sebagai indikasi adanya
Pr, Li, Y dan Sn dapat dilihat pada Tabel 4.
UTJ. Daerah prospeksi 1 merupakan area
Asosiasi Unsur prospeksi yang paling luas dibanding dua
area prospeksi lainnya.
Penentuan asosiasi unsur pada penelitian ini
dilakukan dengan metode persentil Metode ini  Daerah Prospeksi 2, berada di sebelah
digunakan untuk melihat korelasi antara unsur timur daerah penelitian, terdiri dari
acuan dengan unsur lainnya dengan nilai sebaran unsur Nd, Pr, Li, Y, Gd, dan Sn.
anomali yang tinggi pada persentil tertentu. Daerah ini merupakan endapan residu
Penelitian ini bertujuan untuk mencari daerah dengan butiran halus–kasar sebagai
prospek unsur tanah jarang sehingga memakai perangkap terendapkannya mineral tanah
unsur Ce sebagai acuan. Berdasarkan analisis jarang. Mineral-mineral lempung seperti
statistik dengan menggunakan persentil 80, kaolinit dan illit banyak ditemukan
70, dan 60 (Lampiran D), maka diperoleh sebagai hasil dari ubahan k-feldspar.
asosiasi unsur Ce pada Tabel 5. Struktur geologi berupa kelurusan
berarah NW-SE juga mengontrol sebaran
V. DISKUSI REE pada daerah ini.
Pola Penyebaran Unsur
 Daerah Prospeksi 3, berada di sebelah
Berdasarkan peta sebaran unsur conto soil baratdaya daerah penelitian, terdiri dari
(Gambar 3) maka didapatkan pola sebaran sebaran unsur Ce, Li, dan Gd. Daerah ini
unsur tanah jarang yang berarah barat daya- dikontrol oleh litologi granit sebagai
timur laut. Pola sebaran ini mengikuti pola cebakan primer. Secara megaskopis,
kontur litologi granit sebagai batuan sumber singkapan granit alkalin yang
dan endapan residu dengan butiran halus – mengandung sedikit plagioklas dan terjadi
kasar merupakan perangkap terendapkannya pengkayaan biotit merupakan indikasi
mineral tanah jarang. Unsur tanah jarang adanya REE. Keberadaan mineral zirkon
saling berasosiasi dengan unsur Sn (timah), U, yang merupakan senyawa zirkonium
dan Th. silikat, di dalamnya ditemukan thorium,
yttrium dan cerium.

747
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

VI. KESIMPULAN zirkonium silikat yang di dalamnya


ditemukan thorium, yttrium dan cerium.
Satuan geomorfologi daerah penelitian terbagi
menjadi 2 berdasarkan klasifikasi van Zuidam VII. ACKNOWLEDGEMENT
(1985), yaitu Satuan Perbukitan Intrusi (S11)
Penelitian yang membahas tentang Unsur/
dan Satuan Dataran Denudasional Peneplains
Logam Tanah Jarang masih sangat sedikit di
(D5).
Indonesia. Padahal potensi yang dapat
Stratigrafi daerah penelitian dibagi menjadi 2 dihasilkan dari komoditas UTJ untuk jangka
satuan batuan tidak resmi secara berurutan panjang sangat dibutuhkan sejalan dengan
dari tua ke muda yaitu: Satuan Batupasir perkembangan teknologi yang berkembang
Kuarsa dan Satuan Granit. pesat. Karya ilmiah ini merupakan hasil dari
penelitian tugas akhir penulis 1 bekerja sama
Dari 115 conto soil didapatkan nilai kadar
dengan Pusat Sumber Daya Geologi. Terima
unsur dengan kelas anomali III-V (sedang-
kasih untuk pembimbing tugas akhir Dr. Eng.
tinggi) berkisar 82,79-188 ppm Ce; 23,24-66
Mirzam Abdurrachman dan Mochammad Aziz,
ppm La, 17,05-66 ppm Nd, 8-89 ppm Pr, 26,93-
S.T., M.T. yang telah membimbing dan
81 Li, 16-126 ppm Y; 8-51 ppm Gd; 16-140
memberikan motivasi kepada penulis. Terima
ppm Sn.
kasih juga untuk panitia penyelenggara
Pola sebaran unsur tanah jarang berarah barat Geoweek 2015 sehingga makalah ini dapat
daya-timur laut. Pola sebaran ini mengikuti dipublikasikan.
pola kontur litologi granit sebagai batuan
sumber dan endapan residu dengan butiran
halus–kasar merupakan perangkap
terendapkannya mineral tanah jarang.

1. Blok prospeksi daerah penelitian dibagi


menjadi 3 daerah dengan karakteristik sebagai
berikut:
 Daerah prospek I, berada di sebelah timur
laut daerah penelitian, terdiri dari
sebaran unsur Ce, La, Nd, Pr, Y, Gd, dan
Sn. Mineral kasiterit dan ilmenit hadir
sebagai indikasi adanya UTJ.

 Daerah prospek II, berada di sebelah


timur daerah penelitian, terdiri dari
sebaran unsur Nd, Pr, Li, Y, Gd, dan Sn.
Struktur geologi berupa kelurusan
berarah NW-SE mengontrol sebaran UTJ
pada daerah ini.

 Daerah prospek III, berada di sebelah


barat daya daerah penelitian, terdiri dari
sebaran unsur Ce, Li, dan Gd. Keberadaan
mineral zirkon yang merupakan senyawa

748
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin dan Sidarto. 1995. Peta Geologi Lembar Belitung, Sumatera, Skala 1: 250.000. Bandung:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Barber, A. J., M. J. Crow, dan J. S. Milson. (2005). Geological Society Memoirs No. 31, Sumatra:
Geology, Resources, and Tectonic Evolution. London: Geological Society of London.
Cobbing, John. 2000. The Geology and Mapping of Granite Batholiths. Germany: Springer-Verlag
Berlin Heidelberg.
Frost, B. R.. 2001. A Gheochemical Classification for Granitic Rocks, Jurnal of Petrology, Vol. 42, No.
11, p. 2033-2048, April 2001.
Hamilton, W. B. 1979. Professional Paper 1078: Tectonics of the Indonesian Region. Washington DC:
USGS.
Humphries, Marc. 2013, Rare Earth Elements: The Global Supply Chain, Congressional Research
Service.
Metcalfe, I. 2000. The Betong-Raub Suture Zone. Journal of Asian Earth Sciences. 18, 691-712.
Metcalfe, I. 2010. Tectonic Framework and Phanerozoic Evolution of Sundaland. Gondwana
Research. 19, 3-21.
Nichols, Gary. 2009. Sedimentology and Statigraphy, Second Edition. United Kingdom: Wiley-
Blackwell.
Rodliyah, I., dan Pramusanto, Penelitian Logam Tanah Jarang di Indonesia. Bandung: Puslitbang
Teknologi Mineral dan Batubara.
Rose, A.W., Hawkes, H.E., & Webb, J.S., 1979, Geochemistry in Mineral Exploration. New York, N.Y:
Academic Press.
Streckeisen, A. 1976. Classification and Nomenclature of Igneous Rock (Final Report of An Inquiry).
Neues Jahrbuch fürMineralogie. Stuttgart.
Soetopo, B., Subiantoro, L., dan Haryanto, D. 2012. Studi Deposit Monasit dan Zirkon dalam Batuan
Kuarter di Daerah Cerucuk Belitung, Eksplorium Volume 33 No. 1, Mei 2012: 25-40.
Suprapto, S.J., 2009, Tinjauan Tentang Unsur Tanah Jarang, Buletin Sumber Daya Geologi Vol. 4
No. 1 - 2009.
Suwargi, E., Pardiarto, B., dan Islah, T. 2010. Potensi Logam Tanah Jarang Di Indonesia. Buletin
Sumber Daya Geologi Vol. 5 No. 3 - 2010.
van, Zuidam, R. W. 1985. Aerial Photo-Interpretation Terrain Analysis and Geomorphology Mapping.
Smith Publisher The Hague, ITC.
Wellmer, Friedrich-Wilhelm. 1989. Statistical Evaluations in Exploration for Mineral Deposits.
Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

749
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

FOTO

Foto 1. Singkapan batupasir kuarsa yang berarah N 195°E di Foto 2. Sayatan tipis (petrografi) litologi batupasir kuarsa
lokasi pengamatan NF/9.4

Foto 3. Singkapan granit pada lokasi pengamatan NF/10.2 Foto 4. Sayatan tipis (petrografi) litologi granit pada lokasi
NF/1.3
(foto menghadap ke arah timur laut)

TABEL
Tabel 1. Perbandingan harga ambang di daerah penelitian dengan konsentrasi rata-rata unsur di dalam kerak
bumi (Rose dkk. 1979; Lehman, 1991 dalam Suwargi dkk, 2010 )
Konsentrasi Rata-rata unsur Konsentrasi Rata-rata unsur di
Unsur di dalam kerak bumi dalam kerak bumi (Lehman,
(Rose, 1979) (ppm) 1991) (ppm)
Ce 81 64
La 25 16
Nd ? 16
Pr 7,7 7,1
Li 30 20
Y 35 ?
Gd 8,8 ?
Sn 2 ?

Tabel 2. Hasil perhitungan statistik deskriptif sebelum dilakukan penormalan

750
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Tabel 3. Hasil perhitungan statistik deskriptif setelah dilakukan penormalan

Note: kandungan unsur dalam ppm

Tabel 4. Nilai anomali

Kisaran Nilai
Unsur Anomali Penyebaran

Ce 82,79-106,31 Kelas 4
La 16,28-23,24 Kelas 3
Nd 17,05-21,98 Kelas 3
Pr 8,23-19,01 Kelas 2
Li 26,93-34,85 Kelas 4
Y - -
Gd 9,92-14,15 Kelas 4
Sn 4,55-17,03 Kelas 2

Tabel 5. Asosiasi unsur conto soil menggunakan metode persentil

751
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

GAMBAR

Gambar 1. Peta Lokasi Pengambilan Conto Geokimia Daerah kacang Botor

752
PROCEEDING, SEMINAR NASIONAL KEBUMIAN KE-8
Academia-Industry Linkage
15-16 OKTOBER 2015; GRHA SABHA PRAMANA

Gambar 2. Peta Lokasi Pengambilan Conto Geokimia Daerah kacang Botor

753

View publication stats