Anda di halaman 1dari 10

PENENTUAN KADAR BETA-KAROTIN DALAM UBI JALAR KUNING DAN

UNGU DENGAN MEMAKAI “HIGH PERFORMANCE LIQUID


CHROMATOGRAPHY” (HPLC), DAN PENGARUH AKIBAT MEREBUS DAN
MENGGORENG.

Mohammad Hanafi, Sri Utari Purnomo, dan Tuti Aryani.

RINGKASAN

Kekurangan vitamin A di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat


yang perlu penanganan serius. Sumber vitamin A terutama untuk anak balita yang dapat
terjangkau masyarakat luas masih belum banyak diketahui. Kadar vitamin A dalam
makanan/sayuran menurut daftar yang ada tidak akurat.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar beta-karotin dalam ubi jalar kuning dan
ungu dengan menggunakan HPLC, dan untuk mengetahui pengaruh merebus dan
mengmenggoreng terhadap kadar beta-karotin.

Ubi jalar kuning dan ungu sulit didapat dipasar-pasar di Surabaya. Ubi jalar kuning
diperoleh di Malang, sedangkan ubi jalar ungu didapat di Gunung Kawi. Ubi jalar kuning
saja yang dibagi menjadi tiga kelompok: mentah, direbus dan digoreng. Ubi jalar yang
ungu tidak dikelompokkan sebab pada penentuan pendahuluan didapat kadar beta-
karotinnya terlalu kecil. Metode ekstraksi dan analisa dengan HPLC dilakukan menurut
cara yang sudah ada diliteratur dengan sedikit modifikasi.

Kadar beta-karotin dalam ubi jalar kuning cukup tinggi. Rata-rata terdapat 7111µ gr / 100
gram ubi jalar kuning basah atau setara dengan 3951 I.U. vitamin A. Ubi jalar ungu boleh
dikatakan tidak mengandung beta-karotin. Merebus atau menggoreng tidak menurunkan
kadungan beta-karotin.

Dianjurkan untuk membudidayakan ubi jalar kuning dengan harapan menjadi sumber
vitamin A, terutama untuk balita guna menghindari kekurangan vitamin A.

1
DETERMINATION OF BETA-CAROTENE CONTENT IN YELLOW AND PURPLE
SWEET POTATOES WITH HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY
(HPLC) AND THE EFFECT OF COOKING PROCESS (FRYING AND BOILING).

Mohammad Hanafi, Sri Utari Purnomo and Tuti Aryani.

SUMMARY

Vitamin A deficiency is still a major public health problem in Indonesia, which required a
serious attention. An alternative source of vitamin A with low cost and consumable
especially for children is still in search. The present available data of vitamin A activity in
food stuffs in not accurate due to the method used as instrumentation available was
inadequate.

This work aims to provide a more reliable data on the provitamin A activity of yellow
sweet potatoes with a highly accurate and more reproducible instrument. The effect of
cooking process (frying and boiling) on the beta-carotene content are also studied.

Sweet yellow and purple potatoes are hardly found in Surabaya market. Sweet yellow
potatoes available in Malang while the purple one obtained in Gunung Kawi. Sweet
yellow potatoes were divided into three group, i.e. fresh, fried and boiled. Sweet purple
potatoes was not treated similarly due to very low content of beta-carotene. The method
applied in the determination of beta-carotene was an established, accurate and
reproducible one.

It was found that 100 gram fresh sweet yellow potatoes contained 7111 µ gr beta-
carotene or equal to 3951 I.U. of vitamin A. Virtually there was no beta-carotene in sweet
purple potatoes. There was no effect of the cooking process on the beta-carotene content.

It is suggested that the sweet yellow potatoes should be cultivated more vigorously so it
will be available especially for young children to prevent vitamin A deficiency.

2
DETERMINATION OF BETA-CAROTENE CONTENT IN YELLOW AND PURPLE
SWEET POTATOES WITH HIGH PERFORMANCE LIQUID CHROMATOGRAPHY
(HPLC) AND THE EFFECT OF COOKING PROCESS (FRYING AND BOILING).

Mohammad Hanafi, Sri Utari Purnomo and Tuti Aryani.

ABSTRACT

Beta-carotene was extracted from sweet potatoes, 5 gr for yellow and 50 gr for
purple, using 50 ml Petroleum ether : Aceton = 1:4 (v/v) in Buhler blender. It was
repeated with a mixture PE : Aceton = 1 : 1 (v/v) until the residue free of colour.
Beta-carotene were separated by using separatory funnel and dried with negative
pressure.
Ten micro liter sample was injected into HPLC with eluen consist of methanol :
acetonitrile : chloroform : H2O = 200 : 250 : 90 : 20 as eluent.

Flow rate of eluen ( liquid phase) was 2ml / minute.


Yellow sweet potatoes contained average 7.111 mg/ 100 gr, while the purple contained
0.001 mg/100 gr. To convert into I.U Vit. A, multiply by 1000 ( in μgr ) divided by 6
(retinol equivalent) and divided by 0.3 = 3951 I.U Vit. A for yellow sweet potatoes

Cooking does not effect the content of beta-carotene

Key word: beta-carotene, HPLC, sweet potatoes

PENENTUAN KADAR BETA-KAROTIN DALAM UBI JALAR KUNING DAN


UNGU DENGAN MEMAKAI “HIGH PERFORMANCE LIQUID
3
CHROMATOGRAPHY” (HPLC), DAN PENGARUH AKIBAT MEREBUS DAN
MENGGORENG.

I.PENDAHULUAN

Kekurangan vitamin A masih merupakan masalah kesehatan yang perlu


penanganan serius di Indonesia. Laporan UNICEF tahun 1988 menyatakan bahwa balita
serta ibu menyusui menderita kekurangan vitamin A. Program untuk menanggulangi dan
mencegah kekurangan vitamin A ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1972, namun WHO
Technical Report tahun 1982 menyatakan hasilnya kurang memuaskan. Tentang
bagaimanakah kondisinya sekarang masih belum ada data yang bisa disajikan.
Sayur-sayuran yang banyak mengandung beta-karotin (diantara karotinoid
akivitas provitamin A-nya paling tinggi) mudah didapat di Indonesia, namun anak-anak
balita jarang memperolehnya dalam menu mereka sehari-hari guna menunjang
kebutuhannya (Kodyat A. et al., 1988)
Ubi jalar (ketela rambat = Ipomea batatas) yang tumbuh di Indonesia bermacam-
macam. Kemungkinan yang ada di Indonesia dibawa oleh bangsa Spanyol dari Amerika
Tengah (Wargino J, 1989)
Metoda yang biasa dipakai untuk menghitung aktivitas vitamin A dengan
spektrofotometri kurang akurat. Hal ini disebabkan karena cara tersebut mengukur total
karotinoid dan dikonversikan kedalam unit vitamin A. (Zakaria dkk, 1979 dan Pepping F.
dkk 1988).
Dengan perkembangan tehnologi dalam bidang analisa kimia, misalnya “High
Performance Liquid Chromatography” (HPLC) maka telah dikembangkan pula metode
analisa karotinoid dalam sayur-sayuran dengan menggunakan alat ini. Menurut Dietz J.M.
et.al. (1988) penentuan kadar provitamin A dengan menggunakan HPLC merupakan cara
yang lebih teliti.
Dalam penelitian terdahulu mengenai pengaruh memasak bahan makanan
terhadap kadar provitamin A yang dikandungnya menghasilkan kesimpulan yang
berbeda-beda. Renqvist U.H. et.al. (1978) menyatakan orang-orang Afrika dengan
memasak secara tradisional tidak mempengaruhi kadar provitamin A dalam sayuran
hijau. Sri Utari dkk (1984) dalam penelitiannya juga menghasilkan kesimpulan yang
sama. Namun Dietz J.M. (1988) menyimpulkan bahwa dengan merebus selama setengah
jam, beta-karotin dalam wortel akan berkurang 40%. Dalam studi kepustakaannya Dietz
menunjukkan bahwa para peneliti terdahulu menghasilkan kesimpulan yang berlawanan.
Menurut Dietz, Sweeney dan Marsh (1971) penurunan sebanyak 15% hingga 20%
kandungan karotin sayuran hijau terjadi setelah dimasak selama 30 menit. Sedangkan
peneliti lainnya Panalks dan Murray (1970), Gomez (1982), Bushway dan Wilson (1982)
melaporkan kanaikan kandungan karotin antara 24% hingga 88% dalam wortel dan
sayuran setelah dimasak.
Bertolak dari kenyataan tersebut di atas peneliti ingin melakukan penilaian
kembali (reavaluasi) kadar beta-karotin dalam ubi jalar dengan menggunakan HPLC dan
mempelajari juga pengaruh merebus dan menggoreng terhadap kadar beta-karotin
tersebut.

II.BAHAN-BAHAN DAN METODE PENELITIAN.


1.Bahan:
Ketela rambat yang kuning dibeli di Malang sedangkan yang ungu didapat di
Gunung Kawi. Karena kadar beta-karotin dalam ketela tidak rata maka sampel dilakukan
secara bertingkat (stratified sampling) sehingga pengelompokan menjadi tiga, yaitu
kelompok mentah, rebus dan goreng mempunyai bagian yang sama.
4
Jumlah sampel dihitung menurut rumus berikut (Steel R.G.D. 1984) :

( Zα / 2 + Zβ )2 σ2 D
n = ------------------------
δ2

dimana n = Jumlah sampel


Untuk α = 0,05 Zα / 2 = 1,96
Untuk “ type II error” = 0,2 Zβ = 0,85

Reagen : Petroleum eter, Aseton, Na2SO4 unhidrida, metanol, asetonitril,


khloroform buatan RDH, sedangkan beta-karotin standar buatan Merck.
HPLC model LC-6A buatan Shimadzu, dengan sistem “controler SCL-6A pump”
dan “chromatopac CR-3A recorder”. Injector buatan Rheodyne Cal. USA. Kolom yang
dipakai “stainless steel (15 cm x 6 mm I.D.) R.P. 18 ODS.
Eluen terdiri dari campuran Metanol : Asetonitril : Khloroform : H2O = 200 : 250 :
90 : 20
2.Penentuan beta-karotin:
A.Ekstraksi.
Ubi jalar kuning seberat 5 gram digoreng dengan 30 ml minyak goreng merek
tertentu selama dua menit hingga berwarna agak coklat tua. Untuk yang direbus, 5 gram
ubi jalar kuning direbus dalam 300 ml air selama setengah jam. Kemudian diekstaksi
dengan 50 ml campuran petroleum eter (PE) : aseton = 1 : 4 ( v/v), dengan menggunakan
Buhler Blender. Ekstraksi diulang dengan 50 ml campuran PE : aseton = 1 : 1 ( v/v)
beberapa kali hingga residu tidak berwarna. Dalam penelitian pendahuluan diketahui
bahwa ubi jalar ungu mengandung beta-karotin sedikit sekali, sehingga untuk dapat
mengukurnya diperlukan 50 gram berat bersih (eadible).
Dengan menggunakan tekanan negatif ekstrak dilewatkan filter “fritted glass” ke
dalam tabung pemisah (separatory funnel) yang telah diisi dengan 100 ml H2O. Tabung
pemisah dikocok pelan-pelan. Kemudian dibiarkan hingga dalam tabung pemisah terlihat
ada dua lapisan larutan. Lapisan bawah yang mengandung air dan aseton dipindah ke
tabung pemisah lain yang telah berisi 200 ml PE, untuk mengekstraksi karotin yang
mungkin terikat oleh aseton. Kedua tabung pemisah dicuci mula-mula dengan 200 ml
NaCl 4%, kemudian dengan air suling tetes demi tetes hingga larutan sebelah atas (PE
sebagai pelarut) bebas dari aseton dan NaCl. Filtrat yang telah bebas aseton dipindahkan
ke dalam labu yang selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan tekanan negatif
dengan “rotatory evaporator”. Ekstrak yang telah kering diberi gas nitrogen dan disimpan
dalam freezer pada temperatur minus 10oC sampai tiba saatnya dianalisa dengan HPLC.

B.Analisa dengan HPLC.


Selanjutnya ekstrak karotin yang telah kering tersebut dilarutkan dengan 50 ml
eluen HPLC. Sebelum diinjeksikan kedalam HPLC disaring dengan penyaring HPLC
buatan Whatman. Sampel diinjeksikan ke dalam HPLC dengan menggunakan 100 μl
semprit gelas. Yang masuk kedalam alur eluen hanya 10 μl ( loopnya 10 μl ). Standar
beta-karotin selalu dibuat baru. Beta-karotin ditimbang seberat ± 1 mg dilarutkan dengan
50 ml. Diambil sebanyak 2 ml diencerkan lagi dengan eluen menjadi 50 ml.
Kadar beta karotin sampel dihitung dengan membandingkan luas puncak sampel
dengan luas puncak standar yang mempunyai waktu retensi yang sama ( Kipiniaik W
1981; Karta Subratg J 1990 ).
Validsasi metode. Metode yang dipakai baik ekstraksi maupun pemilihan fase
gerak (eluen) sudah diuji keabsahannya, baik oleh peneliti yang merintisnya maupun oleh
peneliti dalam penelitian terdahulu yaitu dalam penentuan kadar alfa dan beta-karotin
5
dalam jagung (Speek AJ 1989, Hanafi HM 1990). Dalan penelitian ini dilakukan :
“recovery rate”, test linearitas, LOQ dan LOD, test presisi, dan identifikasi puncak.

III.HASIL DAN PEMBAHASAN

1.Ubijalar.
Ubi jalar kuning sulit didapat di Surabaya, namun banyak tersedia di pasar-pasar
Malang dan sekitarnya. Ubi jalar ungu lebih mudah didapat di Surabaya, namun
tergantung musim, pada waktu penelitian ini dilakukan sulit didapat. Akhirnya diperoleh
di Gunung Kawi.
Warna daging ubi jalar kuning maupun ungu tidak merata. Intensitas maupun
distribusi warna daging ubi jalar kuning maupun ungu mempunyai pola tertentu. Di
bagian tengah dan beberapa milimeter bagian luar warnanya paling pucat. Di bagian
ujung dan pangkal dari ubi jalar mempunyai warna paling inten (kuning atau ungu).
Kandungan air dalam ubi jalar rata-rata 71 gram per 100 gram ubi jalar ( berkisar
antara 63 hingga 77 gram). Penelitian ini tidak bermaksud mencari hubungan antara
kandungan air dengan beta-karotin dalam ubi jalar, karena dianggap tidak terlalu penting.

2.Validasi metode.
A.”Recovery rate”.
Untuk mengetahui efektivitas ekstraksi, standar beta-karotin yang telah diketahui
kadarnya diperlakukan sama seperti sampel. Kemudian dihitung berapa persen yang
ditemukan kembali. Hasilnya rata-rata adalah 105%. Peneliti terdahulu (Fraps GS 1941
Gatautis VJ 1987 Edwarson PA 1990) memperoleh hasil tidak sama dengan 100%,
namun lebih atau kurang. Fraps bahkan memperoleh 114%.
B.Liniaritas.
Hubungan antara kadar beta-karotin dan luas puncak dihitung, besarnya adalah
0,9991. Koeffisien korrelasi mendekati satu. Persamaan hubungan antara Y dan X adalah
Y= 21110,66 X – 645,45.

B.LOQ (limit of quantitation) dan LOD (limit of detection).


Dari hasil perhitungan didapat bahwa harganya masih jauh dibawah kadar beta-
karotin terendah.

C.Tes presisi.
Dari 10 kali injeksi standar didapat koeffisien variasi sebesar 7,6%. Ini memang
lebih dari 2% yang mana dianjurkan untuk penentuan obat-obatan. Namun dalam
penentuan beta-karotin masih bisa diterima.

D.Indentifikasi puncak.
Beta-karotin diisolasi dengan open kolom khromatografi menurut Sweeney JP and
Marsh AC (1970). Gambaran beta-karotin yang didapat dari sampel dibandingkan dengan
standar beta-karotin. Gambaran yang diperoleh (gambar di bawah) dari sampel mirip
dengan yang dari standar.
Waktu retensi dan besarnya faktor kapasitas puncak dari sampel dan puncak
standar juga dibandingkan. Hasilnya adalah : Retensi standar 16,205 menit sedangkan
retensi sampel adalah 16,208 menit. Faktor kapasitas standar 10,009 faktor kapasitas
sampel 10,011. Dari kedua hasil di atas menunjukkan bahwa sampelnya memang beta-
karotin.

6
7
3.Dasar perhitungan beta-karotin dengan HPLC.
Dari hasil presisi di atas dapat dilihat bahwa kondisi HPLC tidak tetap. Oleh
karena itu untuk tiap dua sampel diikuti dengan satu standar.
Dari hasil injeksi standar dan sampel yang lain didapat

to = 1,475 tR - to
tR std = 16,703 k’ (faktor kapasitas) = --------------
tR spl = 16,712 to
tR spl puncak lainnya (dekat beta-karotin) = 14,637
(karotin)

k’ std = 10,324 k’ spl = 10,369 k’ karotin = 8,923

16,703 – 14,475
α (faktor selektivitas) = ------------------- = 1,16
14,637 – 4,475

∆tx2
Rs = ---------- = 1 Rs = Resolusi ω = lebar puncak t = tinggi puncak
ωA – ωB

Faktor selektivitas beta-karotin dengan karotin didekatnya adalah 1,16, dengan


resolusi nilainya = 1; ini cukup memadai. Dikatakan derajat resolusi puncak mencapai
90%.
Kadar beta-karotin sampel dihitung dengan cara membandingkan luas puncak
sampel dengan luas puncak standar (Kipiniak W 1981 Kanta Subrata J 1990).

4.Hasil.

Tabel 1. Kandungan beta-karotin dalam ubi jalar

Ubi jalar kuning mg/100gr Ungu mg/100 gr


Mentah Rebus Goreng Mentah
4,836 4,395 6,010 0,0002
9,468 11,120 11,029 0,0015
5,304 13,868 4,462 0,0019
4,053 7,249 6,971 0,0012
9,394 5,770 7,680 0,0007
5,191 4,013 2,946 0,0013
2,785 5,591 5,839 0,0011
3,609 12,596 5,035 0,0017
11,045 7,559 3,771 0,0011
12,951 6,940 3,634 0,0007
6,530 6,116 3,905 0,0016
6,674 9,389 11,406 0,0003
9,576 10,581 7,927 0,0009
Rata 7,032 8,091 6,210 0,0010
SD 3,153 3,147 2,720 0,0006

8
Sampel diambil dari bagian yang berlainan, agar diperoleh harga yang kira-kira
merupakan harga rata-rata beta-karotin dari ubi jalar yang diteliti. Pada waktu
menghitung jumlah sampel tiap kelompok diperoleh n = 13.
Karena memang tiap sampel jelas sekali berbeda kadar beta karotinnya dengan
maksud seperti diterangkan di atas, maka diperoleh SD yang sangat besar. Namun apabila
dilihat dari kandungan tertinggi maupun terendah kelihatannya tidak berbeda dari ketiga
kelompok tersebut. Mungkin dalam penelitian yang akan datang mengenai pengaruh
memasak lebih baik diambil sampel yang kira-kira sama kandungannya. Jadi apabila
tinggi kandungannya misalnya diambil dari ujung atau pangkal semuanya diambil dari
ujung atau pangkal jangan sebagian diambil dari tengah karena pucat atau kandungan
beta-karotinnya rendah.
Dari hasil perhitungan “Analysis of variance” antara mentah, direbus dan
digoreng didapat p = 0,294. Jadi tidak ada perbedaan yang bermakna, antara mentah,
merebus dan menggoreng. Atau dengan perkataan lain perlakuan tersebut di atas tidak
mempengaruhi kadar beta-karotin dalam ubi jalar kuning.
Karena dari hasil di atas, tidak ada perbedaan, maka untuk memperoleh jumlah
data sebanyak mungkin, dalam perhitungan untuk menentukan berapa kadar beta-karotin
dalam ubi jalar, diambil rata-rata dari rata-rata ketiga perlakuan di atas. Harga yang
didapat adalah 7,111 mg / 100 gr ubi jalar kuning. Untuk mengubah ke “International
Unit of Vitamin A” maka dalam satuan mikrogram dibagi 6 kemudian dibagi lagi dengan
0,3 (Zakaria M 1979). Harga yang diperoleh adalah 7,111 mgr / 100 gr ubi jalar kuning
setara dengan 3951 I.U. Vit.A.
Menurut daftar analisa bahan makanan yang dikeluarkan oleh Bagian Gizi Dinas
Kesehatan Propensi Jatim yang dikutip dari Daftar Komposisi Bahan Makanan oleh
Direktorat Gizi Dep. Kes. R.I. 1967 kandungan vitamin A ubi jalar merah adalah 7700
I.U. / 100 gr, sedangkan ubi jalar putih 60 I.U. / 100 gr.
Dalam ubi jalar didapatkan bermacam-macam karotinoid, Bauernfeind JC (1972)
mencatat sedikitnya ada 6 macam karotin.

Tabel 2 . Kandungan macam-macam karotinoid dan aktivitasnya ( biopotensinya )


Dalam ubi jalar (Bauernfeind JC 1972)

Macam karotinoid Aktivitas


(Biopotensi)
Beta-karotin ( β-carotene ) 100
Zeta-karotin ( ξ-carotene ) 0
Hidroksi-zeta-karotin 0
Beta-karotin-furoksida 50
Gamma-karotin ( γ-carotene ) 42-50
Sis-kriptosantin epoksida ?

Perhitungan kadar beta-karotin dalam ubi jalar yang daftarnya dikeluarkan Dep.
Kes. adalah berdasarkan total karotinoid dalam ubi jalar. Jadi nilainya akan lebih besar.
Namun demikian kadar beta-karotin yang diperoleh dalam penelitian ini cukup
menggembirakan. Apabila dalam 100 gram ubi jalar kuning ada sekitar 3951 I.U. Vit. A ,
maka anak anak dengan memakan separuh lebih sedikit ubi jalar yang kecil atau
sepertiga dari yang besar sudah dapat mengkonsumsi vitamin A sebesar ± 3950 IU.

9
IV.KESIMPULAN DAN SARAN
Ternyata kandungan beta-karotin dalam ubi jalar kuning cukup besar, sedangkan
dalam ubi jalar ungu boleh dikatakan tidak ada.
Dengan merebus atau menggoreng tidak mempengaruhi kadar beta-karotin dalam
ubi jalar.
Kemungkinan ubi jalar lebih mudah diterima oleh anak-anak sebagai “camilan”
atau makanan kecil atau kue, dibandingkan dengan memakan sayur-sayuran hijau
bersamaan dengan makanan utama, terutama di daerah tertentu yang memang jarang
memakan sayuran.
Oleh karena itu akan sangat berguna apabila ubi jalar kuning digalakkan untuk
dibudidayakan, sehingga mudah didapat, tidak seperti yang terjadi sekarang masih sulit
didapat; dengan harapan untuk mencegah kekurangan vitamin A pada anak-anak.

KEPUSTAKAAN.
Bauernfeind JC 1972. Carotenoid vitamin A precursurs and analogs in food and feeds.
J.Agr.Food Chem. 3: 456-471.
Dietz JM, Kantha SS, and Erdman JW Jr 1988. Reversed phase HPLC analysis of alfa
and beta-carotene from selected raw and cooked vegetables. Plant food for Human
Nutrition. 38: 333-341
Fraps GS and Kemmerer AR 1941. Determination of carotene and cryptoxanthin in
yellow corn. Ind.Eng.Chem.Anai. 13: 806-809,
Gatautis VJ and Pearson KH 1987. Separation of plasma carotinoid and measurement of
beta-carotene using HPLC. Clin.Chem,Acta. 166: 195-206.
Hanafi HM, Sri Utari P, Sri Pijiarti, Toxopeus H, van Dorp M, Merx R, Dahlan M, Joko
Utomo, and Ketut Tasra 1989. Method of alfa and beta-carotene determination in
maize. Majalah kedoteran Surabaya. Th.XXVI Juli-September : 83-98
Hanafi HM 1990. Pilihan fase gerak dalam penentuan alfa dan beta-karotin jagung
dengan HPLC. Data tidak dipublikasi.
Kanta Subrata J 1990. Dasar-dasar khromatografi. Ceramah dalam Seminar
Khromatografi Cair dan Perangkat Kerasnya. FMIPA Unair. Juli.
Kipiniak W 1981. A Basic Problem – The measurement of Height and Area.
J.Chromatogr.Sci. 19: 332-327.
Kodyat BA, Sukaton A, Muhilal 1988. Vitamin A deficiency in Indonesia and its
Intervention Programme in Muhilal, Karyadi D (Eds). Proceedings Regional
Meeting in Vitamin A Jakarta. November: 3-5.
Pepping F, Venden CMY, West CE 1988. Retinol and carotene of foods consume in East
Africa determined by HPLC. J.Sci.in food Agr.45:359-371.
Steel RGD and Torris JM 1984 Principle and Procedures of statistics A Biometrical
Approach. Second Ed. McGraw-Hill. Int. Book Comp.Singapore: 113-121
Sri Utari P and F van der Pol 1984. Assesment of beta-carotene content of leafy
vegetables and some other common foods and the effect of Indonesian cooking
method. Unpublished report.
Speek AJ. Vitamin analysis in body fluids and food stuffs with HPLC, accuracy and
precision under routine condition. Thesis for doctorate degree, Amsterdam.
Sweeney JP and Marsh AC 1971. Effect of processing on provitamin A in vegetable.
J.Am.DieteticAsc.59:238-243.
Wargino J 1989. Budidaya ubi jalar. Edisi Pertama PT Bhratara Niaga Media. Jakarta.
Zakaria M and Simpson H 1979. Use of reverse phase HPLC analysis for determination
of provitamin A carotene in tomatoes. J.Chromatogr. 176:109-117.

10