Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Keperawatan & Kebidanan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya

P-ISSN : 2599-0055, E-ISSN : 2615-1987, Volume 3 Nomor 1, Mei 2019, Hal. 34 - 41

EFEKTIFITAS TEHNIK RELAKSASI NAFAS DALAM (DEEP


BREATHING) DALAM MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA
PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS CIBATU
KABUPATEN GARUT

Baharudin Lutfi S
Dosen Program Studi Keperawatan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya
baharudinlutfis@gmail.com

ABSTRAK
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal tekanan darah dalam
pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari jantung dan memompa keseluruh jaringan
dan organ-organ tubuh secara terus menerus lebih dari suatu periode. Peningkatan tekanan
darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan
pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke)
serta dapat menyebabkan komplikasi lainnya. Tatalaksana hipertensi dapat dilakukan dalam
dua kategori yaitu dengan farmakologi dan non farmakologis. Dalam konsep keperawatan,
penurunan tekanan darah pada hipertensi dapat menggunakan penatalaksanaan dengan
penerapan non farmakologi, salah satunya teknik nafas dalam. Mengidentifikasi efektifitas
tehnik relaksasi nafas dalam (deep breathing). Desain penelitian yang digunakan adalah
penelitian kuantitatif dengan metode penelitian quasi eksperimen dengan memberikan
intervensi terhadap subjek penelitian dengan jumlah responden sebanyak 34 orang responden.
Penelitian ini menunjukan bahwa terjadi penurunan tekanan darah sistolik pada pasein
hipertensi setelah diberikan intervensi tehnik relaksasi nafas dalam (deep breathing), hasil uji
statistik menggunakan paired T-test didapatkan nilai p-value sebesar 0,000 (p<0,05)
membuktikan bahwa tehnik relaksasi nafas dalam (deep breathing) efektif dalam menurunkan
tekanan darah sistolik pasien hipertensi di Puskesmas Cibatu Kabupaten Garut. Pada tekanan
darah diastolik pasien hipertensi juga mengalami penurunan tekanan darah setelah diberikan
intervensi tehnik relaksasi nafas dalam (deep breathing) dengan nilai p-value sebesar 0,000
(p<0,05) yang membuktikan bahwa tehnik relaksasi nafas dalam juga efektif dalam
menurunkan tekanan darah diastolik pasien hipertensi di Puskesmas Cibatu Kabupaten Garut.
Penelitian ini merekomendasikan tehnik relaksasi nafas dalam (deep breathing) sebagai
alternatif penatalaksanan non farmakologi pada pasien hipertensi karena efektif dalam
menurunkan tekanan darah sistolik maupun diastolik.

Kata Kunci : Hipertensi, Tekanan Darah, Relaksasi Nafas Dalam

PENDAHULUAN organ tubuh secara terus menerus lebih dari


Hipertensi atau tekanan darah tinggi suatu periode (Irianto, 2014). Hipertensi
adalah suatu peningkatan abnormal tekanan dapat didifinisikan sebagai tekanan darah
darah dalam pembuluh darah arteri yang persisten dimana tekanan sistoliknya diatas
mengangkut darah dari jantung dan 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas
memompa keseluruh jaringan dan organ- 90 mmHg (Syamsudin, 2011).

34
Jurnal Keperawatan & Kebidanan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya
P-ISSN : 2599-0055, E-ISSN : 2615-1987, Volume 3 Nomor 1, Mei 2019, Hal. 34 - 41

Peningkatan tekanan darah yang oleh tenaga kesehatan hanya mencapai


berlangsung dalam jangka waktu lama 35,4% dari seluruh penderita hipertensi.
(persisten) dapat menimbulkan kerusakan Tatalaksana hipertensi dapat
pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit dilakukan dalam dua kategori yaitu dengan
jantung koroner) dan otak (menyebabkan farmakologi dan non farmakologis. Terapi
stroke) serta dapat menyebabkan farmakologis adalah tatalaksana hipertensi
komplikasi lainnya (Rachmayanti, 2017). dengan menggunakan obat, sedangkan
Komplikasi hipertensi menyebabkan upaya non farmakologis adalah dengan
sekitar 9,4 kematian di seluruh dunia setiap menjalani pola hidup sehat seperti menjaga
tahunnya. Hipertensi menyebabkan berat badan, mengurangi asupan garam,
setidaknya 45% kematian karena penyakit melakukan olahraga, mengurangi konsumsi
jantung dan 51% kematian karena penyakit alkohol dan tidak merokok (Ann et al,
stroke. Kematian yang disebabkan oleh 2015).
penyakit kardiovaskuler, terutama penyakit Dalam konsep keperawatan,
jantung koroner dan stroke diperkirakan penurunan tekanan darah pada hipertensi
akan terus meningkat mencapai 23,3 juta dapat menggunakan penatalaksanaan
kematian pada tahun 2030 (Infodatin dengan penerapan non farmakologi, salah
Jantung, 2014). satunya teknik nafas dalam. Menurut
Menurut data WHO, di seluruh dunia Audah, (2011) bernafas dengan cara dan
sekitar 972juta orang atau 26,4% orang di pengendalian yang baik mampu
seluruh dunia mengidap hipertensi, angka memberikan relaksasi serta mengurangi
ini kemungkinan akan meningkat menjadi stress. Latihan nafas dalam merupakan
29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta suatu bentuk terapi nonfarmakologi, yang
pengidap hipertensi, 333 juta berada di dalam hal ini perawat mengajarkan kepada
negara maju dan 639 sisanya berada di klien bagaimana cara melakukan napas
negara berkembang, termasuk Indonesia dalam, napas lambat (menahan inspirasi
(Yonata, 2016). Data dari Riskesdas 2013 secara maksimal) dan bagaimana
menunjukkan prevalensi hipertensi secara menghembuskan napas secara perlahan,
nasional sebesar 26,9%, dengan proporsi Selain dapat menurunkan intensitas nyeri,
kasus yang telah didiagnosis hipertensi teknik relaksasi napas dalam juga dapat
meningkatkan ventilasi paru dan

35
Jurnal Keperawatan & Kebidanan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya
P-ISSN : 2599-0055, E-ISSN : 2615-1987, Volume 3 Nomor 1, Mei 2019, Hal. 34 - 41

meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer upaya yang dilakukan oleh penderita


& Bare, 2013). hipertensi untuk menurunkan tekanan
Berdasarkan penelitian oleh Elrita darahnya adalah dengan meminum obat
Tawang, (2013) tentang Pengaruh teknik anti hipertensi.
relaksasi napas dalam terhadap perubahan Dari hasil uraian diatas maka peneliti
tekanan darah pada penderita hipertensi tertarik untuk melakukan penelitian
sedang-berat, menunjukkan bahwa teknik mengenai Efektifitas Tehnik Relaksasi
relaksasi napas dalam dapat menurunkan Nafas Dalam (Deep Breathing) Dalam
tekanan darah pada penderita hipertensi Menurunkan Tekanan Darah Pada Pasien
sedang-berat. Penelitian lainnya yang Hipertensi di Puskesmas Cibatu Kabupaten
dilakukan oleh Ervan (2013) tentang Garut.
pengaruh latihan nafas dalam terhadap
METODE PENELITIAN
perubahan tekanan darah penderita
Desain penelitian yang digunakan
hipertensi di wilayah Kecamatan Karas
adalah penelitian kuantitatif dengan metode
Kabupaten Magetan menimpulkan bahwa
penelitian quasi eksperimen dengan
terdapat perbedaan tekanan darah pada
memberikan intervensi terhadap subjek
penderita hipertensi setelah melakukan
penelitian. Selanjutnya efek intervensi
latihan nafas dalam dengan nilai p-value
tersebut dilakukan pengukuran dan
sistolik 0,000 dan p-value diastolik 0,000.
dianalisis dengan menggunakan rancangan
Berdasarkan data di Puskesmas
penelitian pre test dan post test tanpa
Cibatu Kabupaten Garut, bahwa jumlah
kelompok kontrol.
penderita hipertensi baru dan lama pada
Populasi dalam penelitian ini adalah
tahun 2018 yaiu sebanyak 8.289 penderita.
pasien dengan hipertensi yang berobat ke
Penyakit hipertensi menempati urutan ke- 1
BP Umum Puskesmas Cibatu Kabupaten
dari keseluruhan penyakit tidak menular
Garut pada tanggal 15-20 April 2019
(PTM) yang ada di Puskesmas Cibatu
dengan tehnik pengambilan sampel
Kabupaten Garut (Profil Puskesmas
accidental sampling dengan total sampel
Cibatu, 2018). Hasil Studi pendahuluan
sebanyak 34 orang.
yang dilakukan peneliti terhadap 3 orang
Kriterian inklusi dalam penelitian ini
pasien dengan hipertensi yang dirawat di
adalah pasien yang bersedia menjadi
Puskesmas Cibatu menyatakan bahwa
responden, pasien yang tidak memiliki
36
Jurnal Keperawatan & Kebidanan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya
P-ISSN : 2599-0055, E-ISSN : 2615-1987, Volume 3 Nomor 1, Mei 2019, Hal. 34 - 41

riwayat gangguan sistem pernafasan, Berdasarkan hasil analisis pada tabel


pasien yang belum minum obat anti 2 menunjukan adanya penurunan nilai
hipertensi kurang dari enam jam. tekanan darah sistolik sebelum dan
Sedangkan kriteria ekslusi dalam penelitian sesuadah diberikan intervensi tehnik
ini adalah pasien dengan penyakit relaksasi nafas dalam (deep bretahing)
konflikasi, pasein yang telah diberikan dengan rerata sebelum dilakukan intervensi
tehnik relaksasi lainnya. sesebasar 174,41 dan sesudah diberikan
intervensi sebesar 154,71. Perbedaan
HASIL PENELITIAN
selisih nilai tekanan darah sistolik sebesar
Tabel 1
17,706 dengan standar deviasi 7,171. Hasil
Hasil Uji Normalitas Berdasarkan
Selisih Variabel Tekanan Darah uji statistik didapatkan nilai p value 0,000
Responden Hipertensi di
(p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan
Puskesmas Cibatu
yang bermakna antara nilai tekanan darah
Variabel Shapiro-Wilk Sig
sistolik sbelum dan sesudah intervensi
Tekanan Darah 0,162
tehnik relaksasi nafas dalam (deep
Berdasarkan hasil pengujian asumsi
breathing).
normalitas pada tabel 1 pada tekanan darah
responden memiliki nilai uji Shapiro-wilk Tabel 3
Perbedaan Tekanan Darah Diastolik
sebesar 0,162 (p>0,05), maka variabel
Sebelum dan Sesudah Diberikan
pengukuran tekanan darah menyebar Tehnik Relaksasi Nafas Dalam
(Deep Breathing)
mengikuti distribusi normal. Karena data
pada penelitian ini berdistribusi normal, P
Variabel Mean Selisih CI 95%
value
maka uji analisa data yang digunakan Sebelum 103.82 14,412 12,653 -
0,000
Sesudah 89,41 (5,040) 16,170
adalah uji parametrik dependent t-test.
Berdasarkan hasil analisis pada tabel
Tabel 2 3 menunjukan adanya penurunan nilai
Perbedaan Tekanan Darah Sistolik
Sebelum dan Sesudah Diberikan tekanan darah diastolik sebelum dan
Tehnik Relakasasi Nafas Dalam sesuadah diberikan intervensi tehnik
(Deep Breathing)
relaksasi nafas dalam (deep bretahing)
P
Variabel Mean Selisih CI 95%
value dengan rerata sebelum dilakukan intervensi
Sebelum 174,41 19.706 17,204 - sesebasar 103,82 dan sesudah diberikan
0,000
Sesudah 154,71 (7,171) 22,208
intervensi sebesar 89,41 Perbedaan selisih
37
Jurnal Keperawatan & Kebidanan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya
P-ISSN : 2599-0055, E-ISSN : 2615-1987, Volume 3 Nomor 1, Mei 2019, Hal. 34 - 41

nilai tekanan darah sistolik sebesar 14,412 dalam menurunkan tekanan darah pasien
dengan standar deviasi 5,040. Hasil uji hipertensi yang menunjukan adanya
statistik didapatkan nilai p value 0,000 penurunan tekanan darah pasien setelah
(p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan diberikan terapi relaksasi nafas dalam yaitu
yang bermakna antara nilai tekanan darah tekanan darah sistolik sebesar 18,46 mmHg
diastolik sbelum dan sesudah intervensi dan tekanan darah diastolik sebesar 6,54
tehnik relaksasi nafas dalam (deep mmHg. Analisa statistik dengan
breathing). menggunakan paired sampel T-test
didapatkan nilai p value tekanan darah
PEMBAHASAN
sistolik 0,001 (p<α=0,05) dan p value
Melihat dari hasil data diatas penulis
tekanan darah diastolik 0,001 (p<α=0,05).
berpendapat bahwa adanya perbedaan
Hal ini menunjukan terapi relaksasi nafas
tekanan darah sistolik dan diastolik pada
dalam efektif menurunkan tekanan darah
pasien hipertensi sebelum dan sesudah
pasien hipertensi.
diberikan intervensi merupakan hasil dari
Prosedur teknik relaksasi nafas
proses yang telah dilakukan oleh responden
dalam dan guided imagery yaitu dengan
melalui intervensi tehnik relaksasi nafas
cara menciptakan lingkungan yang tenang,
dalam (deep breathing). Hal tersebut
selanjutnya jaga privasi pasien, usahakan
diperkuat dengan hasil uji statistik dengan
tangan dan kaki responden dalam keadaan
mengunakan paired sampel T-test
rileks, kemudian minta pasien untuk
didapatkan nilai p value 0,000 (p<0,05)
memejamkan mata dan usahakan agar
pada tekanan darah sistolik, dan nila p
pasien berkonsentrasi, minta pasien
value 0,000 (p<0,05) pada tekanan darah
menarik nafas melalui hidung secara
diastolik. Dengan demikian terdapat
perlahan-lahan sambil menghitung dalam
perbeadaan yang bermakna antara nilai
hati “hirup, dua, tiga”, selama responden
tekanan darah sistolik dan diastolik
memejamkan mata kemudian minta pasien
sebelum dan sesudah diberikan intervensi
untuk membayangkan hal-hal yang
tehnik relaksasi nafas dalam (deep
menyenangkan atau keindahan, minta
breathing) pada pasien hipertensi di
responden untuk menghembuskan udara
Puskesmas Cibatu Kabupaten Garut.
melalui mulut dan membuka mata secara
Hasil ini sesuai dengan penelitian
perlahan-lahan sambil menghitung dalam
Rita (2016) tentang terapi relaksasi napas
38
Jurnal Keperawatan & Kebidanan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya
P-ISSN : 2599-0055, E-ISSN : 2615-1987, Volume 3 Nomor 1, Mei 2019, Hal. 34 - 41

hati “hembuskan, dua, tiga”, minta pasien tehnik relaksasi nafas dalam (deep
untuk mengulangi lagi sama seperti breathing) memiliki nilai rata-rata 174,41
prosedur sebelumnya sebanyak tiga kali sedangkan tekanan darah diastolik pasien
selama lima menit. hipertensi sebelum diberikan intervensi
Kerja dari terapi ini mampu tehnik nafas dalam (deep bretahing)
memberikan pereganggan kardiopulmonari memiliki nilai rata-rata 103,82.
(Izzo, 2008). Stimulasi peregangan di arkus Tekanan darah sistolik pasien
aorta dan sinus karotis diterima dan hipertensi sesudah diberikan intervensi
diteruskan oleh saraf vagus ke medula tehnik relaksasi nafas dalam (deep
oblongata (pusat regulasi kardiovaskuler), breathing) memiliki nilai rata-rata 154,71
dan selanjutnya terjadinya peningkatan sedangkan tekanan darah diastolik pasien
refleks baroreseptor. Impuls aferen dari hipertensi sesudah diberikan intervensi
baroreseptor mencapai pusat jantung yang tehnik nafas dalam (deep breathing)
akan merangsang saraf parasimpatis dan memiliki nilai rata-rata 89,41.
menghambat pusat simpatis, sehingga Dapat diambil kesimpulan bahwa
menjadi vasodilatasi sistemik, penurunan tehnik relaksasi nafas dalam (deep
denyut dan kontraksi jantung. breathing) efektif dalam menurukan
Perangsangan saraf parasimpatis ke bagian- tekanan darah pada pasien hipertensi di
bagian miokardium lainnya mengakibatkan Puskesmas Cibatu Kabupaten Garut.
penurunan kontraktilitas, volume sekuncup
SARAN
menghasilkan suatu efek inotropik negatif.
Bagi pelayanan kesahatan dalam
Keadaan tersebut mengakibatkan
megatasi permasalahan pasien terutama
penurunan volume sekuncup dan curah
dalam penatalaksanaan sebuah kasus agar
jantung. Pada otot rangka beberapa serabut
tidak selalu berfokus kepada medis dan
vasomotor mengeluarkan asetilkolin yang
farmakologis saja alangkah lebih baiknya
menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan
dikolaborasikan dengan penatalaksanaan
akibatnya membuat tekanan darah menurun
non medis dan non farmakologis. Dengan
(Muttaqin, 2009).
harapan permasalahan pasien bisa cepat
KESIMPULAN teratasi dan bisa menjadi pendidikan
Tekanan darah sistolik pasien kesehatan bagi pasien dalam mengatasi
hipertensi sebelum diberikan intervensi
39
Jurnal Keperawatan & Kebidanan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya
P-ISSN : 2599-0055, E-ISSN : 2615-1987, Volume 3 Nomor 1, Mei 2019, Hal. 34 - 41

permasalahannya sebelum datang ke Irianto, K. (2014). Ilmu Kesehatan


pelayanan kesehatan. Masyarakat. Bandung: Alfabet.

Bagi pasien hipertensi tehnik Jayanthi, Niken. 2010. Teknik


RelaksasiNafas Dalam.
relaksasi nafas dalam (deep breathing) bisa
http://rentalhikari.wordpress.co
dijadikan terapi modalitas dalam mengatasi m/2010/03/23/teknikrelaksasi-
permasalahannya, agar dapat membantu nafas-dalam/ diakses pada
tanggal 29 April 2019 pukul
menurunkan tekanan darahnya. 14.00WIB
Rachmayanti, D. H. (2017). Hubungan
DAFTAR PUSTAKA
Pengetahuan dan Riwayat
Audah, F. (2011). Dahsyatnya Teknik Hipertensi Dengan Tindakan
Pernafasan. Yogyakarta: Pengendalian Tekanan Darah Pada
Interpreebook. Lansia. Jurnal Berkala
Chandra Kristianto, dkk (2013). Efektifitas Epidemiologi, Volume 5 Nomor 2,
Teknik Relaksasi Nafas Dalam dan Mei 2017, Hlm. 174-184.
Guided Imagery Terhadap
Kementerian Kesehatan RI (2013). Riset
Penurunan Nyeri Pada Pasien Post
Kesehatan Dasar (RISKESDAS).
Operasi Sectio Caesare di Irina D
BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Jakarta: Badan Litbang Kemenkes
Manado. Ejurnal Keperawatam (e- RI.
Kp). Volume 1. Nomor 1. Agustus Rita Dwi Hartanti, dkk. (2016). Terapi
2013
Relaksasi Napas Dalam
Ervan Putra (2013). Pengaruh Latihan Menurunkan Tekanan Darah
Nafas Dalam Terhadap Perubahan Pasien Hipertensi . Junal Ilmiah
Tekanan Darah Pada Penderita Kesehatan (JIK), Vol IX, No. 1.
Hipertensi Di Wilayah Kecamatan
Karas Kabupaten Magetan. Smeltzer & Bare (2013). Buku Ajar
Fakultas Ilmu Kesehatan Keperawatan Medikal Bedah
Universitas Muhammadiyah Bruner dan Sudart Edisi 8. Jakarta:
Surakarta. EGC.

Infodatin. (2014). Pusat Data dan Sutanto, P, H (2016). Analisa Data Pada
Informasi. Jakarta: Kementerian Bidang Kesehatan. Jakarta :
Kesehatan Republik Indonesia. Rajawali Pers

Insyah, R. T. (2015). Penurunan Tekanan Syamsudin. (2011). Buku ajar


Darah Dengan Menggunakan Farmakoterapi Kardiovaskuler
Tehnik Nafas Dalam (Deep dan Renal. Jakarta: Salemba
Breathing) Pada Pasien Hipertensi Medika.
di Puskesmas Bendosari Tawang, E. (2013). Pengaruh Teknik
Kabupaten Sukoharjo. Junrnal Relaksasi Nafas Dalam Terhadap
Terpadu Ilmu Kesehatan, 82-96. Penurunana Tekanan Darah Pada
40
Jurnal Keperawatan & Kebidanan STIKes Mitra Kencana Tasikmalaya
P-ISSN : 2599-0055, E-ISSN : 2615-1987, Volume 3 Nomor 1, Mei 2019, Hal. 34 - 41

Pasien Hipertensi. Ejournal


Keperawatan (e-Kp), Volume 1.
Nomor 1. Agustus 2013.
Yonaya, dkk (2016). Hipertensi Sebagai
Faktor Pencetus Terjadinya Stroke.
Majority. Volume 5. Nomor 3.
September 2016

41