Anda di halaman 1dari 10

RESPON BEBERAPA VARIETAS DAN DOSIS BAHAN ORGANIK TERHADAP

PERTUMBUHAN DAN HASIL MENTIMUN (Cucumis sativus L.)


PADA TANAH ULTISOL

RESPONSE ORGANICMATERIALS AND SOME VARIETIES CUCUMBER


RESULT AND GROWTH AT ULTISOL
Iwandikasyah Putra*1), Irvan Subandar1), Samsuar2)
1)
Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, Meulaboh, 23615
2
Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Universitas Teuku Umar
*)
Email Korespondensi : iwandikasyahputra@gmail.com

ABSTRACT

This research to know response organic materials and some varieties to cucumber to result
and growth atultisol and whet herthere is interaction both of factor.This research have been
executed by in Garden Agriculture Faculity of TeukuUmar University Meulaboh, Aceh
Barat Started 3 July up to 7 September 2015.This research to used is a randomized blokc
desigh (RBD) with 3 x 4 and 3 with there replications. The first factor is varieties 3 level:
Hercules, Mercy, and Wuku. The second factor is organic material; 4 level that is control
(without treatmant),10 tons/hectare, 20 tons/hectare, and 30 tons / hectare set organic.The
results showed that the varieties signifcantly affectted plant height 15, 20, and 25 days after
plantiny length diameter fruit. Where as 15 and 20 days after planting, fruit weight and
production tons/hectare. Showed no significant effect on dose organic plant heigh 15, 20,
and 25 days after planting, fruit weigh, fruit length, fruit to diameter, and productions total
tons/hectare. There was no significant interaction between varieties and organic material
on all parameters of observation.

Keywords: cucumber, organic materials, ultisol, varieties

PENDAHULUAN kejenuhan basa (KB) yang rendah, pada


kedalaman 1,8 meter dari permukaan
Ultisol merupakan tanah yang tanah, memiliki nilai KB< 35% dan KTK
mempunyai kandungan bahan organik 4 me /100 gram liat dengan kriteria
yang rendah, tanahnya berwarna merah sangat rendah (Suhardjo, 1994; dalam
kekuningan, reaksi tanah yang masam, Paiman dan Armadon, 2010). Di
kejenuhan basa yang rendah, dengan samping itu Prassetyo dan Suriadikarta
kadar Al yang tinggi. Di samping itu (2006) dalam Bintang, Guchi dan
Ultisol memiliki tekstur tanah liat hingga Simanjuntak (2012) menambahkan
liat berpasir, dengan bulk densty yang bahwa reaksi tanah (pH) Ultisol adalah<
tinggi antara 1,3-1,5 g/cm3 (Prassetyo dan 5,5 (dengan criteria agak masam).
Suriadikarta, 2006), sehingga Prassetyo dan Suriadikarta (2006)
mempengaruhi tingkat produktivitas menyebutkan bahwa pemanfaatan tanah
tanaman yang akan dibudidayakan di Ultisol untuk pengembangan tanaman
tanah Ultisol. perkebunan relatif tidak terdapat kendala,
Kandungan bahan organik Ultisol tetapi untuk tanaman pangan dan
umumnya rendah pada horizon A (lapisan holtikultura umumnya bermasalah
atas). Selain itu Ultisol memiliki horizon terhadap sifat fisik, kimia, dan biologi
penciri bagian permukaan bawah liat tanah. Permasalahan tersebut meliputi
yang bersifat masam dengan tingkat ketersedian hara serta susahnya perakaran

Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016 | 93


tanaman untuk menembus kedalam tanah 2003). Di samping itu varietas-varietas
di dalam menjangkau makanan. tersebut mempunyai ketahanan terhadap
Di Indonesia sebaran Ultisol penyakit Downy Mildew (Mardalena,
mencapai 45.8 juta atau sekitar 25% dari 2007).
total luas daratan. Tanah ini tersebar di Bedasarkan permasalahan di atas,
Kalimatan (21.9 juta ha), di Sumatera maka perlu dilakukan penelitian tentang
(9.5 juta ha), Maluku dan Papua (8,9 juta respon beberapa varietas dan dosis bahan
ha), Sulawei (4.3 juta ha), Jawa (1.2 juta organik terhadap pertumbuhan tanaman
ha), dan di Nusa Tenggara (53 ribu ha). mentimun pada tanah Ultisol.
Tanah Ultisol dapat dijumpai pada Penelitia ini bertujuan untuk
berbagai relief, mulai dari datar hinggga mengetahui respon varietas dan dosis
berlereng (Subagyo et al., 2004; dalam bahan organik yang terbaik terhadap
Paiman dan Armadon 2010). pertumbuhan dan hasil mentimun pada
Oleh karena itu untuk tanah Ultisol serta nyata tidaknya
meningkatkan produktivitas tanah Ultisol interaksi kedua faktor tersebut.
maka perlu dilakukan penambahan bahan
organik. Pemberian bahan organik dapat
meningkatkan unsur hara dan BAHAN DAN METODE
menurunkan bulk density tanah karena PENELITIAN
sehingga aerasi, permeabilitas, dan
infiltrasi menjadi lebih baik serta pasokan
Penelitian ini dilaksanakan di
makan untuk tanaman dapat tersedia. Hal
Kebun Percobaan Fakultas Pertanian
ini sesuai dengan pendapat Stevenson
Universitas Teuku Umar Meulaboh Aceh
(1994) yang menyebutkan bahwa
Barat, yang berlangsung 3 Juli sampai 7
penambahan bahan organik mampu untuk
September 2015.
meningkatkan agregasi tanah,
memperbaiki aerasi dan perkolasi, serta
Bahan dan Alat Penelitian
membuat struktur tanah menjadi lebih
Bahan-bahan yang diperlukan
remah dan mudah diolah. Di samping itu
dalam penelitian ini meliputi tanah ordo
Karama et al., (1990) dalam Muhtiar,
Ultisol dari Gampong Meunasah Rayeuk
Bahrun, Safuan (2012) menambahkan
Kecamatan Kaway XVI Kabupaten Aceh
bahwa pupuk organik mengandung unsur
Barat. Benih mentimun; varietas
makro esensial seperti nitrogen 0,60%
Hercules, Mercy, dan Wuku yang
(N), phosfor 0,30% (P), kalium 0,34%
diproduksi oleh PT. East West Seed
(K), kalsium 0,12% (Ca), magnesium
Indonesia. Pupuk yang digunakan dalam
0,10% (Mg), dan sulfur 0,09% (S).
penelitian ini adalah pupuk organik
Disamping itu optimalisasi lahan
(pupuk kandang kerbau) yang diambil
marginal ini dapat dilakukan dengan
dari gampong Ujong Tanjong Kecamatan
menggunakan beberapa varietas. Hal ini
Mereubo Kabupaten Aceh Barat.
berkaitan dengan peningkatan
Polybagyang digunakan dalam penelitian
produktivitas tanaman sayuran, seperti
ini ukuran 12 kg (40 x 50 cm) yang
mentimun dapat dilakukan dengan
diproleh dari Toko Tani Meulaboh. Alat-
penggunaan varietas-varietas unggul,
alat yang digunakan dalam penelitian ini
seperti varietas Hercules, Mercy, dan
adalah sebagai berikut : cangkul, parang,
Wuku. Varietas-varitas tersebut memiliki
pisau, gunting, hand prayer, tali rafia,
keunggulan yang berbeda, dari segi
bambu, gembor, alat tulis, timbangan,
produksinya (ukuran buah dan banyak
jangka sorong, ember, ayakan,dan
buah yang dihasilkan), ketahanan
meteran.
terhadap hama penyakit, serta kecocokan
terhadap keadaan lingkungan (Cahyono,

94 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016


Metode Penelitian e. Pelakuan Benih
Penelitian ini menggunakan Benih timun yang digunakan
Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola dalam penelitian ini adalah varietas
faktorial 3 x 4 dengan 3 ulangan. Faktor- Hercules, Mercy, dan Wuku. Benih
faktor yang, meliputi : 1). Varietas (V) tesebut direndam dengan air hangat
terdiri dari 3 taraf yaitu :V1= Varietas selama 30 menit. Lalu dilakukan
Hercules, V2 = Varietas Mercy, dan V3= penanaman.
Varietas Wuku. 2) Bahan organik (B)
terdiri dari 4 taraf yaitu : B0= Tanpa f. Penanaman
pemberian bahan organik, B1 = 10 ton/ha Penanaman dilakukan pada sore
(60gram/polybag), B2= 20 ton/ha. hari, benih ditanam 2 biji per polybag,
(120.gram/polybag), dan B3= 30 ton/ha dengan kedalaman 1 – 2 cm, dan jarak
(180gram/polybag). antar unit perlakuan 100 cm x 30 cm,
dalam satu unit terdapat 3 tanaman
Pelaksanaan Penelitian sampel dengan jarak tanaman sampel
a. Pengambilan Sampel Tanah untuk 30 cm x 30 cm.
Media Tanam
Tanah diambil di Gampong g. Pemeliharaan
Meunasah Rayeuk Kecamatan Kaway 1. Penyulaman
XVI Kabupaten Aceh Barat, jenis tanah Penyulaman dilakukan satu minggu
yang digunakan dalam penelitian ini setelah tanam, bibit yang tidak tumbuh
merupakan tanah podsolik merah kuning diganti dengan bibit yang berumur sama
(Ultisol). dan dengan varietas yang sama.

b. Persiapan Media Tanam 2. Penyiraman


Media tanam yang telah disiapkan Penyiraman dilakukan setiap hari,
kemudian dikering udarakan, dan diayak disiram pada sore hari dan disesuai
dengan ayakan yang berdiameter 5 dengan kondisi cuaca setempat.
mesh.Tanah yang sudah dibersihkan
dimasukkan ke polybag dengan berat 12 3. Penyiangan
kg/polybag dan tanah tersebut disusun Penyiangan dilakukan secara
sesuai dengan perlakuan pada lahan yang manual apabila ada gulma yang tumbuh
sudah disiapkan. disekitar tanaman, bertujuan untuk
memperkecil kemungkinan tanaman
c. Penyiapan Pupuk Organik bersaing dalam hal memperoleh unsur
Pupuk organik yang digunakan hara dengan gulma.
adalah pupuk kandang kerbau yang sudah
terdekomposisi sempurna, lalu di 4. Pemberian Ajir (penopang)
dikering udarakan selanjutnya diayak Pemasangan ajir digunakan untuk
dengan ukuran ayakan 5 mesh. merambatkan tanaman dengan
menggunakan belahan bambu setelah
d. Pemberian Pupuk tanaman berumur 2 minggu atau
Pemberian pupuk dilakukan dengan mencapai tinggi kira-kira 25 cm dengan
menggunakan bahan organik yang berupa cara di tancapkan pada jarak 10 cm dari
pupuk kandang kerbau sudah diayak. batang tanaman.
Pupuk tersebut diberikan langsung
kedalam polybag dengan cara ditebar 5. Pemangkasan
pada bagian atas serta di aduk sampai Pemangkasan daun dilakukan
merata dengan tanah pada bagian atas terutama pada daun–daun yang terletak
polybag. Pupuk tersebut diberikan satu permukaan polybag (daun pertama
minggu sebelum penanaman.

Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016 | 95


hingga daun ke empat). Pemangkasan f. Produksi (ton/ha)
dilakukan untuk meningkatkan hasil Produksi (ton/ha)tanaman
panen. Pemangkasan dilakukan pada mentimun dihitung dengan menggunakan
umur 25 HST. .
rumus sebagai berikut : , ,
=
.
f. Pemanenan = 111111,11(populasi tanaman/
,
Pemanenan dilakukan ketika Ha) x berat buah per tanaman.
tanaman berumur 42 HST. Buah yang
cukup layak dipanen yaitu bewarna sama
mulai dari pangkal sampai ujung. Panen
dilakukan dengan cara memetik HASIL DAN PEMBAHASAN
(memotong) tangkai buah dengan gunting
agar tidak merusak tanaman. Respon Beberapa Varietas terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Mentimun
Parameter Pengamatan pada Ultisol
Parameter yang diamati pada Hasil uji F pada analisis ragam
penelitian ini adalah : menunjukkan bahwa respon varietas
a. Tinggi Tanaman (cm) berpengaruh nyata terhadap tinggi
Tinggi tanaman diukur pada umur tanaman umur 25 HST, panjang buah dan
15, 20, dan 25 HST.Tinggi tanaman di diameter buah, berpengaruh tidak nyata
ukur dari pangkal batang yang telah terhadap tinggi tanaman umur 15 HST,
diberi tanda sampai titik tumbuh tertinggi 20 HST, berat buah, jumlah buah, dan
dengan menggunakanmeteran dalam produksi per hektar. Rata-rata tinggi
satuan centimeter (cm). tanaman mentimun pada berbagai
varietas umur 15, 20 dan 25 HST, berat
b. Berat Buah (gram) buah, jumlah buah, panjang buah,
Berat buah dihitung pada umur diameter buah, dan produksi per hektar
panen I, II, dan III dengan cara ditimbang dapat dilihat pada Tabel 1.
per tanaman sampel dengan memakai Tabel 1 menunjukkan bahwa
timbangan analitik dalam satuan gram. respon beberapa varietas mentimun
tertinggi di 25 HST dijumpai pada
c. Jumlah Buah Per Tanaman (buah) varietas Wuku yaitu (20,47 cm), yang
Pegamatan jumlah buah dihitung berbeda nyata dengan varietas Hercules
pada saat buah yang sudah dipanen per yaitu (17,40 cm), tetapi tidak berbeda
tanaman pada panen I, II, dan III. nyata dengan varietas Mercy yaitu (19,07
cm).
d. Panjang Buah (cm) Tabel 1 menunjukkan bahwa
Pengamatan panjang buah dihitung respon beberapa varietas terhadap
pada umur panen I, II, dan III HST. panjang buah tanaman mentimun
Panjang buah diukur pada bagian ujung dijumpai pada varietas Mercy yaitu
sampai pangkal buah dengan memakai (14,29), cm tidak berbeda nyata pada
meteran dalam satuan centimeter (cm). varietas Wuku yaitu (13,21 cm), tetapi
berbeda nyata dengan varietas Hercules
e. Diameter Buah (mm) yaitu (12,29 cm).Respon beberapa
Pengamatan diameter buah (mm) varietas terhadap diameter buah
pada umur panen I, II, dan III, dengan mentimun yang terbaik dijumpai pada
menggunakan jangka sorong dengan varietas Mercy yaitu (43,28 mm), yang
mengukur lingkar buah persis pada berbeda nyata dengan Hercules yaitu
bagian tengah buah. (36,91 mm), namun tidak berbeda nyata
dengan varietas Wuku yaitu (38,52 mm).

96 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016


Tabel 1. Rata-rata Respon Beberapa Varietas terhadap Tinggi Tanaman pada 15, 20 dan 25
HST, Berat Buah, Jumlah Buah, Panjang Buah, Diameter Buah, dan Produksi
Per Hektar
Varietas
Parameter Pengamatan BNJ 0,05
Hercules (V1) Mercy (V2) Wuku (V3)
Tinggi Tanaman (cm) 15 HST 4,65 4,43 4,06 -
20 HST 9,97 10,35 10,04 -
25 HST 17,40 a 19,07 ab 20,47 b 2,10
Berat Buah (gram) 132,05 143,85 128,93 -
Jumlah Buah (buah) 1,38 1,37 1,50 -
Panjang Buah (cm) 12,29 a 14,29 b 13,21 ab 1,16
Diameter Buah (mm) 36,91 a 43,28 b 38,52 ab 4,45
Produksi Per Hektar (ton) 14,67 15,98 14,33 -
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama berbeda tidak nyata
pada taraf 5% ( Uji BNJ0,05).

Secara umum menunjukkan ditandai oleh bentuk dan pertumbuhan


bahwa respon beberapa varietas tanaman dan hasil tanaman, daun, bunga, buah,
mentimun berpengaruh nyata terhadap biji, dan ekspresi karakter atau kombinasi
pertumbuhan dan hasil terutama pada genotip yang dapat membedakan dengan
parameter tinggi tanaman 25 HST, jenis atau spesies yang sama oleh
dimeter buah, dan panjang buah.Tanaman sekurang-kurangnya satu sifat yang
yang terbaik dijumpai pada varietas menentukan sehingga mengalami
Wuku dan Mercy, tetapi berbeda nyata pertumbuhan dan hasil. Sejalan dengan
dengan varietas Hercules. Untuk produksi pendapat Welsh (2005) yang menyatakan
tanaman tertinggi dijumpai pada mercy bahwa pada umumnya suatu varietas
dan wuku, meskipun secara statistik tidak memiliki keunggulan yang berbeda-beda
berpengaruh nyata. Hal ini diduga terhadap genotip. Respon genotip
perbedaan pertumbuhan dan hasil terhadap perumbuhan dan hasil biasanya
tanaman mentimun dikarenakan dari terlihat dalam penampilan fenotip dari
ketiga varietas tersebut memiliki tanaman bersangkutan. Menurut Crowder
keunggulan yang berbeda sesuai dengan (1997) pengaruh genetik dari
genetiknya. Sesuai dengan pendapat penampakan fenotip yang dapat
Sitompul dan Guritno (1995), yang diwariskan dari tetua kepada turunannya.
menyatakan bahwa penampilan tanaman Tabel 2 menunjukkan bahwa
dikendalikan oleh faktor genetik yang respon beberapa varietas mentimun
akan diekspresikan pada berbagai sifat terhadap tinggi di 15 HST tidak berbeda
tanaman yang mencakup fungsi tanaman nyata, namun nilai yang tertinggi
yang menghasilkan keragaman dijumpai pada varietas Hercules yaitu
pertumbuhan dan produksi tanaman. (4,65 cm), selanjutnya varietas Mercy
Setiap varietas akan memiliki ciri yang yaitu (4,43 cm), dan Wuku (4,06 cm).
berbeda baik dari bentuk, ukuran, dan Sedangkan pada 20 HST nilai yang
warna buah tergantung pada varietas. tertinggi dijumpai pada varietas Mercy
Disamping itu Shvoong (2011), juga yaitu (10,35 cm), selanjutnya varietas
menyatakan varietasadalah sekelompok Mercy (10,35 cm), dan varietas Hercules
tanaman dari suatu jenisatau spesies yang (9,97 cm).

Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016 | 97


Tabel 2 menunjukkan bahwa tanaman dapat menyebabkan tanaman
respon beberapa varietas mentimun mengalami stres (cekaman) dalam proses-
terhadap berat buah tidak berbeda nyata, proses metabolismenya sehingga hasil
namun nilai yang tertinggi dijumpai pada tanaman menjadi rendah. Disamping itu
varietas Mercy yaitu (143,85 gram), Gani (2000), juga menyatakan bahwa
selanjutnya Hercules yaitu (132,05 tingkat hasil suatu tanaman ditentukan
gram), dan varietas Wuku yaitu (128,93 oleh faktor lingkungan tumbuhnya
gram), sedangkan untuk jumlah buah seperti kesuburan tanah, ketersediaan air,
terbanyak dijumpai pada varietas Wuku dan pengelolaan tanaman. Potensi hasil
yaitu (1,50 buah), Hercules dan Mercy varietas unggul dapat saja lebih tinggi
masing-masing dengan jumlah (1,38 buah atau lebih rendah pada lokasi tertentu
dan 1,37 buah). Sehingga produksi dengan penggunaan masukan dan
mentimun tertinggi dijumpai pada pengelolaan tertentu pula.
varietas pada varietas Mercy yaitu
dengan produksi (15,98 ton), Respon Dosis Bahan Organik terhadap
selanjutnya varietas Wuku (14,33 ton), Pertumbuhan dan Hasil Mentimun
dan varietas Hercules (14,67 ton). pada Ultisol
Pada Tabel 2 menunjukkan bahwa Hasil uji F pada analisis ragam
respon beberapa varietas mentimun menunjukkan bahwa respon dosis bahan
terhadap parameter tinggi tanaman 15 organik berpengaruh sangat nyata
dan 20 HST, jumlah buah, berat buah, terhadap tinggi tanaman mentimun umur
dan produksi per hektar tidak 15, 20 dan, 25 HST, berat buah, jumlah
menunjukkan pengaruh yang nyata. Hal buah, panjang buah, diameter buah, dan
ini disebabkan oleh kemampuan suatu produksi per hektar. Rata-rata tinggi
varietas beradaptasi dengan lingkungan tanaman mentimun berbagai dosis bahan
dan pengelolaan tanaman tidak optimal. organik umur 15, 20 dan 25 HST, buah,
Sejalan dengan pendapat Simatupang et. jumlah buah, panjang buah, diameter
al. (2004), yang menyatakan bahwa buah, dan produksi per hektar dapat
kondisi iklim yang tidak sesuai bagi dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata Respon Dosis Bahan Organik terhadap Tinggi pada 15, 20 dan 25 HST,
Berat Buah, Jumlah Buah, Panjang Buah, Diameter Buah, dan Produksi Per
Hektar
Dosis Bahan Organik (ton/ha)
Parameter Pengamatan BNJ 0,05
0 (B0) 10 (B1) 20 (B2) 30 (B3)
Tinggi Tanaman (cm) 15 HST 3,06a 4,10 b 4,93bc 5,43 c 0,91
20 HST 6,83a 9,44b 11,54 bc 12,66 c 2,25
25 HST 11,06a 15,24b 22,43c 27,19d 3,74
Berat Buah (gram) 36,38a 128,16b 162,08c 213,16d 29,39
Jumlah Buah (buah) 1,19a 1,30ab 1,56b 1,60 b 0,35
Panjang Buah (cm) 8,23a 13,69b 15,35 bc 15,79c 2,06
Diameter Buah (mm) 20,79a 37,56b 45,37 bc 54,56c 7,92
Produksi Per Hektar (ton) 4,04a 14,24b 18,01 c 23,68 d 3,27
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama berbeda tidak nyata
pada taraf 5% ( Uji BNJ0,05).

98 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016


Tabel 2 menunjukkan bahwa kontrol atau tanpa bahan organik yaitu
respon bahan organik terhadap tinggi (20,29 mm), dan dosis 10 ton/ha yaitu
tanaman mentimun yang terbaik di (37,56 mm), tidak berbeda nyata dengan
15HST dijumpai pada dosis bahan dosis 20 ton/ha yaitu (44,22 mm). Respon
organik 30 ton/ha yaitu (5,43 cm), yang bahan organik terhadap produksi buah
berbeda nyata dengan kontrol yaitu (3,06 mentimun per hektar tertinggi dijumpai
cm), dan 10 ton/ha yaitu (4,10 pada dosis bahan organik 30 ton/ha yaitu
cm),namun tidak berbeda nyatadosis 20 (23,68 ton), yang berbeda nyata dengan
ton/ha (4,93 cm). Pada 20 HST pengaruh kontrol yaitu (4,04 ton), 10 ton/ha yaitu
dosis bahan organik terhadap tinggi (14,24 ton), dan dosis 20 ton/ha yaitu
tanaman yang terbaik dijumpai pada (18,86 ton).
dosis 30 ton/ha yaitu (12,66 cm), yang Tabel 2 secara umum
berbeda nyata dengan dosis kontrol atau menunjukkan bahwa respon bahan
tanpa bahan organik yaitu (6,83 cm), organik pada pertumbuhan dan hasil
dan 10 ton/ha yaitu (9,44 cm), namun tanaman mentimun yang terbaik pada
tidak berbeda nyata dengan dosis 20 dosis bahan organik 30 ton/ha (D3) dan
ton/ha yaitu (11,54 cm). Pada 25 HST 20 ton/ha (D3). Hal ini diduga karena
tanaman tertinggi dijumpai pada dosis dengan pemberian bahan organik maka
bahan organik 30 ton/ha yaitu (27,19 nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman
cm), yang berbeda nyata dengan dosis tercukupi sehingga dapat mendukung
bahan organik 20 ton/ha yaitu (22,43 cm), pertumbuhan dan hasil mentimun. Sesuai
10 ton/ha yaitu (15,24 cm), dan tanaman dengan pendapat Muhtiar et. al. (2012)
kontrol atau tanpa bahan organik yaitu yang menyatakan bahwa pemberian
(11,06 cm). bahan organik mampu menyediakan
Tabel 2 juga menunjukkan bahwa unsur hara esensial seperti N, P, K dan
respon bahan organik terhadap berat buah Surfur, KTK, dan meningkatkan
tanaman mentimun dijumpai pada dosis kelarutan P tanah sehingga tanaman
bahan organik 30 ton/ha yaitu (213,16 menyerap unsur hara yang tersedia
gram) yang berbeda nyata dengan kontrol tercukupi bagi tanaman dan dapat
atau tanpa bahan organik yaitu (36,38 memperoleh pertumbuhan dan hasil yang
gram), 10 ton/ha yaitu (128,16 gram), dan maksimal. Disamping itu Sevindrajuta
20 ton/ha yaitu (162,08 gram). Jumlah (2012) juga mengemukakan bahwa
buah mentimun terbanyak dijumpai pada pemberian bahan organik ke dalam tanah
dosis bahan organik 30 ton/ha yaitu (1,60 pada Ultisol dapat meningkatkan kadar
buah), yang berbeda nyata dengan kontrol C-organik, N- total dan basa-basa, unsur
yaitu tanpa bahan organik yaitu (1,19 hara P tersedia meningkat dan
buah), namun tidak berbeda nyata 10 menurunkan kandungan dan kejenuhan
ton/ha yaitu (1,30 buah), dan 20 ton/ha Al tanah.
yaitu (1,56 buah). Respon bahan organik Pemberian bahan organik jumlah
terhadappanjang buah mentimun yang banyak maka stabilitas agregat
dijumpai pada dosis 30 ton/ha yaitu tanah dapat meningkat, sesuai dengan
(15,79 cm), yang berbeda nyata dengan pendapat Djojoprawiro (1984) yang
tanaman kontrol atau tanpa bahan organik menyatakan bahwa semakin banyak
yaitu (8,23 cm), dan 10 ton/ha yaitu bahan organik yang diberikan akan
(13,64 cm), namun tidak berbeda nyata terjadi flokulasi maka proses-proses
dengan dosis 20 ton/ha yaitu (15,35 cm). pemantapan agregat tanah untuk
Untuk parameter pengamatan diameter mengikat agregat-agregat tanah. Oleh
buah mentimun terbesar dijumpai pada karena itu bahan organik yang diberikan
dosis bahan organik 30 ton/ha yaitu ke tanah Ultisol secara optimal maka
(54,56 mm), yang berbeda nyata dengan kapasitas tukar kation (KTK) akan

Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016 | 99


meningkat, dapat menetralkan pH, Al dan bahan organik terhadap semua peubah
Fe menjadi rendah dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman
porositas tanah. Hal ini juga sesuai mentimun yang diamati pada Ultisol.
dengan pendapat Hanafiah, (2005) Berdasarkan hasil penelitian, meskipun
menyatakan bahwa selain mampu secara interaksi tidak berbeda nyata
memperbaiki sifat fisika dan biologi makadapat disarankan bahwa respon
tanah, bahan organik juga berperan pertumbuhan dan hasil timun pada tanah
sebagai penyumbang unsur hara serta podsolik merah kuning (Ultisol) yang
meningkatkan efisiensi pemupukan dan terbaik adalah varitas Mercy dan
serapan hara tanaman. Wuku.Untuk dosis pupuk kandang adalah
30 ton/Ha.
Respon Interaksi antara Varietas dan
Dosis Bahan Organik terhadap DAFTAR PUSTAKA
Pertumbuhan dan Hasil Mentimun
pada Ultisol Bintang, Guchi, H., dan G, Simanjuntak.
Berdasarkan hasil uji F pada 2012. Perubahan Sifat Tanah
analisis ragam menunjukkan bahwa tidak Ultisol untuk Mendukung
terdapat interaksi yang nyata antara Pertumbuhan Tanaman Rosella
varietas dan dosis bahan organik pada (Hibiscus sabdariffa L.) oleh
Ultisol terhadap semua peubah Perlakuan Kompos dan Jenis Air
pertumbuhan dan hasil tanaman Penyiram. Departemen
mentimun yang diamati. Hal ini Agroteknologi, Fakultas Pertanian,
menunjukkan bahwa perbedaan respon USU Medan.
varietas tidak tergantung pada dosis Cahyono, B. 2003. Timun. Aneka Ilmu,
bahan organik pada Ultisol maupun Semarang.
sebaliknya.
Crowder LV. 1997. Genetika Tumbuhan,
terjemahan Lilik Kusdiarti, UGM
KESIMPULAN DAN SARAN Press. Yogyakarta.
Djojoprawiro. 1984. Fisika Tanah Dasar,
Respon varietas berpengaruh Jurusan Tanah Fakultas Pertanian.
nyata terhadap tinggi tanaman umur 25 IPB. Bogor.
HST sedangkan varietas berpengaruh
tidak nyata terhadap tinggi tanaman umur Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-dasar Ilmu
15 dan 20 HST, berat buah, jumlah Tanah.PT. Raja Grafindo Persada,
buah, panjang buahpanjang buah, Jakarta.
diameter pangkal batang serta produksi Mardalena. 2007. Respon Pertumbuhan
per haktar buah tanaman mentimun pada dan Produksi Tanaman Mentimun
Ultisol. Varietas yang terbaik adalah (Cucumis sativus L.) terhadap
varietas Mercy (V2) dan Wuku (V3). Urine Sapi.J.A. Universitas
Sedangkan untuk respon dosis bahan Sumatra Utara.Reporsitory.
organik berpengaruh sangat nyata
terhadap tinggi tanaman pada umur 15, Muhtiar, Bahrun, A., dan L. O. Safuan.
20, dan 25 HST, berat buah, panjang 2012. Pengaruh Residu Bahan
buah, jumlah buah, diameter buah serta Organik dan Fosfor Setelah
produksi per hektar tanaman mentimun Penanaman Melon dan Kacang
pada tanah Ultisol. Dosis bahan organik Panjang terhadap Produksi
yang terbaik dijumpai pada dosis 30 Tanaman Mentimun (Cucumis
ton/hektar (B3). Terdapat interaksi yang Sativus L.) Penelitian Agronomi
tidak nyata antara varietas dan dosis UNHALU. Kendiri Vol. 1. No.
1.Hal.37-46.

100 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016


Paiman.A., dan Y. G. Armando.2010. (Amaranthus tricolor, L.) Fakultas
Potensi Fisik dan Kimia Lahan Pertanian Universitas
Marjinal untuk Pengembangan Muhammadiyah Sumatera Barat
Pengusahaan Tanaman Melinjo dan Shvoong. 2011. Pengertian Varietas.
Karet di Provinsi Jambi. Fakultas http://exact-
Pertanian, Universitas Jambi. Akta sciences/agronomyagriculture.Diak
Agrosia Vol. 13.No. 1 hlm. 89-97 ses tanggal 21 Juli 2011.
jan-jun 2010.
Sitompul., dan B. Guritno. 1995. Analisis
Prasetyo, B. H., dan D. A. Suriadikarta. Pertumbuhan Tanaman. Gajah
(2006). Klasifikasi, Potensi dan Mada Universty Press. Yokyakarta.
Teknologi Pengelolaan Tanah
Ultisol -Pengembangan Lahan Stevenson, F. J. 1994. Humus
Kering di Indonesia. Diakses Chemistry.Genesis, Composition,
darihttp://litbang.deptan.go.id and Reaktions, Jonh Wiley and
Sons. Inc. New York. 443 p.
Sevindrajuta. 2012. Efek Pemberian
Beberapa Takaran Pupuk Kandang Welsh, J. R. 2005. Fundamentals of Plant
Sapi terhadap Sifat Kimia Genetics and Breeding. John Wiley
Inceptisol dan Pertumbuhan and Sons, New York.
Tanaman Bayam Cabut

Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016 | 101


102 | Jurnal Agrotek Lestari Vol. 2, No. 2, Oktober 2016