Anda di halaman 1dari 5

Tugas Kajian Hukum 2

Aldo Serena Sandres

Hak Tanggungan adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana
dimaksud dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut
atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan kesatuan dengan tanah itu, untuk
pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditor
tertentu terhadap kreditor-kreditor lain.1 Perjanjian jaminan merupakan perjanjian accessoir
dari perjanjian utang piutang. Menurut Frieda Husni Hasbullah dalam bukunya Hukum
Kebendaan Perdata, sifat accessoir berarti perjanjian jaminan merupakan perjanjian tambahan
yang tergantung pada perjanjian pokoknya. Perjanjian Pokok sendiri adalah perjanjian pinjam
meminjam atau utang piutang, ang diikuti dengan perjanjian tambahan sebagai jaminan.
Perjanjian tambahan ini dimaksudkan agar keamanan kreditur lebih terjamin. Dalam konteks
Hak Tanggungan hal ini tergambarkan pada Pasal 10 ayat (1) UU HT yang menyatakan bahwa
“Pemberian hak tanggungan didahului dengan janji untuk memberikan hak tanggungan sebagai
jaminan pelunasan utang tertentu, yang dituangkan di dalam dan merupaka bagian tak
terpisahkan dari perjanjian utang piutang yang bersangkutan atau perjanjian lainnya yang
menimbulkan utang tersebut”.2

Dalam konteks ini, pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan pembuatan Akta Pemberian
hak Tanggungan. Dalam hal ini juga dikenal Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan,
yang merupakan sebuah surat yang berisi pemberian kuasa yang dibuatkan atau diberikan oleh
pemberi agunan atau pemilik tanah dalam hal ini biasanya adalah developer sebagai pihak
pemberi kuasa kepada kreditur selaku pihak penerima kuasa guna mewakili pemberi kuasa
melakukan pemberian atas Hak Tanggungan kepada Kreditor atas tanah milik pemberi kuasa.3
Eksekusi Hak Tanggungan dilaksanakan sama seperti eksekusi putusan Pengadilann yang
berkekuatan hukum tetap, dimulai dengan teguran dan berakhir dengan pelelangan tanah yang

1
Indonesia, Undang-Undang Tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda Yang Berkaitan
Dengan Tanah, UU No. 4 Tahun 1996, Psl 1 angka 1
2
Arasy Pradana A. Azis, “Hak Tanggungan sebagai Satu-Satunya Hak Jaminan atas Tanah”,
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5e67122a1211f/hak-tanggungan-sebagai-satu-satunya-hak-
jaminan-atas-tanah/, diakses pada tanggal 5 Februari 2021
3
Annonymous, “Mengenal SKMHT dan APHT Dalam Penggunaan KPR”,
https://www.cermati.com/artikel/mengenal-skmht-dan-apht-dalam-penggunaan-kpr, diakses pada tanggal 5 Februari
2021
dibebani dengan hak tanggungan dan setelah dilakukan pelelangan, uang hasil pelelangan
tersebut diserahkan kepada Kreditur, maka hak tanggungan yang membebani tanah tersebut
akan diroya dan tanah tersebut akan diserahkan secara bersih dan bebas dari semua beban
kepada pembeli lelang.4 Dalam konteks ini, apabila terjadi permasalahan dengan Kredit maka
Agunan akan diuangkan, dalam hal agunan walaupun yang memegang adalah Bank tetapi tetap
memerlukan persetujuan Pemberi Jaminan. Subrogasi dalam teorinya telah terjadi peralihan hak
tagih kepada Jamkrindo akan tetapi dalam konteks SKMHT kuasa tersebut tetap berada pada
Bank sehingga dalam konteks ini dalam eksekusi agunan tersebut tetap melalui Bank. Selain
itu, apabila telah dilaksanakan pembayaran klaim maka hak tanggungan tersebut menjadi milik
Jamkrindo dan Lembaga Pembiayaan atau Bank.

Selanjutnya apabila dikaitkan dengan Subrogasi, hal ini diatur dalam Pasal 1400 KUH
Perdata yang menyatakan bahwa subrogasi adalah penggantian hak-hak si berpiutang oleh
seorang pihak ketiga, yang membayar kepada si berpiutang itu, terjadi baik dengan persetujuan
maupun demi undang-undang.5 Dalam ketentuan ini dapat dimaknai bahwa pihak ketiga adalah
pihak yang bukan kreditur maupun debitur dimana pihak ketiga memperoleh subrogasi karena ia
membayar utang-utang debitur. Sehingga dapat dikatakan bahwa subrogasi timbul akibat
pembayaran yang dilakukan oleh pihak ketiga atas utang debitur. Dalam konteks subrogasi,
terdapat satu ciri istimewa yakni pihak ketiga dikatakan menggantikan hak-hak kreditur terhadap
debitur, oleh karena itu yang beralih adalah hak-hak yang dipunyai kreditur terhadap debitur
berdasarkan dan dalam hubungan hukum (perikatan) antara kreditur dan debitur.6 Berdasarkan
Pasal 1403 KUH Perdata dapat diketahui bahwa Subrogasi diperoleh oleh pihak ketiga karena
pembayaran yang dilakukan atas utang-utang debitur, maka pihak ketiga hanya berhak atas hak-
hak kreditur sebanding dengan besarnya pembayaran disbanding dengan keseluruhan hutang-
hutang debitur.7

4
Mahkamah Agung RI, Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan Perdata Umum dan perdata
Khsusus Buku II, Edisi 2007. https://www.pn-stabat.go.id/2015-06-06-01-33-28/eksekusi-hak-tanggungan.html,
diakses pada tanggal 5 Februari 2021
5
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), diterjemahkan oleh R. Subekti dan R.
Tjitrosudibio, cet. 28, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1996), Psl 1400
6
Din Saphirty WD, “Subrogasi Atas Jaminan Hutang (Studi Kasus: Gugatan Intervensi Wellington
Underwriting Agencies Limited, Dkk Terhadap Uang Hasil Lelang Dalam Perkara No. 894/Pdt.G/2005/PN.Jak-
Sel)”, Skripsi Fakultas Hukum Universitas Indonesia:2008, hlm 19
7
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek), diterjemahkan oleh R. Subekti dan R.
Tjitrosudibio, cet. 28, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1996), Psl 1403
Subrogasi di Jamkrindo didefinisikan sebagai peralihan hak tagih dari Penerima Jaminan
kepada Penjamin setelah Penerima Jaminan menerima pembayaran klaim dari Penjamin, sesuai
proporsi jumlah yang dibayar. Sejak klaim dibayar oleh Perusahaan, hak tagih Penerima Jaminan
kepada Terjamin beralih menjadi hak tagih Perusahaan (Jamkrindo). Dalam hal ini Jamkrindo
dapat melakukan kegiatan penagihan Subrogasi yang bersumber dari hasil eksekusi agunan,
kemampuan usaha Terjamin dan/atau bersumber dari angsuran kredit, pembiayaan, pembiayaan
berdasarkan prinsip Syariah atau kontrak jasa Terjamin. Selain itu, Jamkrindo juga dapat
membuat perjanjian dengan Penerima Jaminan agar Penerima Jaminan melakukan upaya
penagihan atas hak tagih Jamkrindo untuk dan atas nama perusahaan. Pembuatan perjanjian kerja
sama dengan pihak ketiga juga dimungkinkan dalam rangka kegiatan penagihan subrogasi.
Dalam hal hasil penagihan, Jamkrindo memperoleh hasil penagihan secara proporsional
berdasarkan persentase (coverage) penjaminan baik yang bersumber dari hasil eksekusi agunan,
kemampuan usaha terjamin dan/atau bersumber dari angsuran kredit, pembiayaan, pembiayaan
berdasarkan prinsip Syariah atau kontrak jasa terjamin, dengan mempertimbangkan biaya
penagihan subrogasi (apabila ada), dan ketentuan coverage ini dapat dikecualikan apabila
penjaminan yang dilakukan sebesar 100%.8

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Jamkrindo memiliki konsep


subrogasi yang berbeda dengan ketentuan yang diatur dalam KUH Perdata. Hal ini bisa dilihat
melalui peralihan hak tagih yang apabila pada KUH Perdata akan beralih secara langsung kepada
Penjamin Ketika telah terjadi pembayaran ke Kreditor, namun pada Jamkrindo debitur justru
melakukan pembayaran tetap pada kreditur atau Terjamin seperti biasa, serta ketentuan mengenai
Imbal Jasa atas penjaminan tersebut akan diatur dalam Perjanjian Kerja Sama antara Jamkrindo
dengan pihak Terjamin. Selain itu, perlu dilihat juga mengenai penerapan konsep subrogasi di
beberapa negara lainya. Di Jepang, berdasarkan Insurance Act (Law Number 56 of 2008)
tepatnya pada Pasal 25 ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa Apabila penanggung telah melakukan
pembayaran klaim, berdasarkan hukum, harus disubrogasikan berhubungan dengan klaim yang
diperoleh oleh tertanggung karena terjadinya kerugian yang timbul dari peristiwa yang
diasuransikan (berdasarkan polis asuransi non-jiwa yang mencakup klaim yang timbul karena
wanprestasi atau alasan lain, klaim tersebut harus dimasukkan; selanjutnya disebut sebagai

8
PT. Jaminan Kredit Indonesia, Standard Operating Procedure Penjaminan Langsung, Surat Edaran
Nomor: 40/SE/2/XII/2020
“klaim yang diasuransikan” dalam Pasal ini), hingga yang lebih kecil dari jumlah yang tercantum
di bawah ini:9

i. Jumlah pembayaran hasil asuransi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi; atau
ii. Jumlah klaim tertanggung (jika jumlah yang disebutkan dalam item sebelumnya
kurang dari kerusakan yang akan dikompensasikan, jumlah yang tersisa setelah
dikurangi jumlah kekurangan dari jumlah klaim tertanggung).

Pada ayat (2) ketentuan yang sama menyatakan bahwa berkaitan dengan ayat
sebelumnya, apabila jumlah yang dimaksud dalam butir (i) ayat tersebut kurang dari jumlah
kerugian yang akan dikompensasikan, tertanggung berhak menerima pembayaran klaim
tertanggung, kecali untuk bagian dimana perusahaan asuransi disubrogasikan menurut
ketentuan ayat tersebut, sebelum klaim yang diperoleh perusahaan asuransi dengan subrogasi.10

Dalam praktik penjaminan subrogasi tetap dilakukan oleh penerima jaminan, dimana
dalam konteks tertentu ia bisa membayarkannya kepada pemberi jaminan ataupun dapat
dilakukan secara bersama-sama. Namun, pada perusahaan reasuransi berdasarkan hukum
Jepang dapat mensubrogasi hak-hak perusahaan asuransi langsung terhadap pihak ketiga. Pada
kasus di Pengadilan Jepang pada tahun 1938, disebutkan bahwa ketentuan hukum komersil
tentang subrogasi merupakan suatu hal yang bersifat opsional dan dapat dikecualikan dengan
suatu persetujuan atau ketentuan khusus. Dalam kasus lain pada tahun 1940, pengadilan Jepang
menyatakan bahwa meskipun subrograsi asuransi berlaku barkaitan dengan reasuransi, yang
dalam hal ini karena hubungan kepercayaan antara reasuransi dengan perusahaan asuransi
langsung, perusahaan asuransi langsung harus melakukan subrogasi atas nama perusahaan
asuransi dan membayarkannya secara proporsional kepada perusahaan reasuransi apa yang
diperolehnya dari pihak ketiga. Sehingga dalam kasus ini, berdasarkan pengakuan atau adanya
hak subrogasi reasuransi, pengadilan membenarkan rasionalitas metode alternatif bagi
reasuransi untuk melakukan subrogasi.11

9
Jepang, Insurance Act, Act No. 56 of 2008, Psl 25 ayat (1)
10
Ibid., Psl 25 ayat (2)
11
Anjie Law Firm, “Applicability of right of subrogation in international reinsurance context”,
https://www.lexology.com/library/detail.aspx?g=779d798e-5bf7-44b4-a39c-8d0e1506e2bf, diakses pada tanggal 05
Februari 2021
Pada negara dengan sistem hukum common law seperti Inggris, Pengadilan Inggris
dalam kasus Assicruzioni Generali de Trieste V Empress Assurance Co Ltd pada tahun 1907
telah dinyatakan bahwa perusahaan reasuransi berhak untuk menuntut kepada perusahaan
asuransi langsung atas ganti rugi reasuransi yang telah dibayarkan. Hal ini sejalan dengan
Pengadilan Amerika Serikat dalam kasus Univesal Ins Co V Old Time Molasses Co, Pengadilan
menyatakan mendukung klaim perusahaan reasuransi setelah membayar setengah dari
kerusakan barang dan mencoba turut serta dalam gugatan yang diprakarsai oleh tertanggung
terhadap pihak ketiga yang bertanggung jawab. Selain itu, pada Glacier General Assurance Co
V G Gordon Symons Co Ltd, pengadilan AS menyatakan bahwa perusahaan reasuransi memang
memiliki hak subrogasi, tetapi perusahaan asuransi langsung harus benar-benar mengganti
semua kerugian dan kemudian jumlah yang sesuai dari pendapatan pemulihan akan dibayarkan
kepada perusahaan reasuransi.12 Dari ketentuan tersebut, hak subrogasi perusahaan reasuransi
diakui oleh negara yang menganut sistem hukum civil law dan common law. Dalam konteks ini
saat menentukan cara subrogasi, pengadilan mengadopsi beberapa pendekatan:13

1. Hak subrogasi perusahaan reasuransi akan dilaksanakan oleh perusahaan asuransi


langsung;
2. Perusahaan asuransi langsung bertanggung jawab untuk mensubrogasi pihak ketiga atas
semua ganti rugi asuransi yang dibayarkan; dan
3. Perusahaan asuransi langsung akan mengamortisasi pendapatan pemulihan (jika ada)
Kembali ke masing-masing perusahaan reasuransi sesuai dengan proporsi yang telah
ditetapkan.

12
Ibid.
13
Ibid.