Anda di halaman 1dari 17

Laporan Akhir Praktikum

Farmasi Fisika
Objek 1
Pengaruh Penambahan Surfaktan Terhadap Kelarutan Zat

Oleh:
Nama : Annisa Khairani
Bp : 1911013035
Hari/tanggal : Jum’at/ 6 November 2020
Shift/Kelompok: 5/4
Rekan Kerja : 1. Ayu Amelia Putri (1911011012)
2. Afnurza Nidya Sari (1911011027)
3. Nurul Izzah Amalia (1911012006)
4. Chyntia Bella Andrelva (1911013009)

Laboratorium Farmasi Fisika


Fakultas Farmasi
Universitas Andalas
2020
Bab I
Pendahuluan
1.1 Tujuan
Setelah mengikuti kegiatan pada percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat
menentukan pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan zat.
1.2 Prinsip
Dengan penambahan surfaktan akan melarutkan asam salisilat yang sukar larut
dalam air menjadi lebih mudah larut pada konsentrasi atau normalitas tertentu.
Dimana surfaktan akan meningkatkan kelarutan bahan yang tidak larut atau
sedikit larut dalam medium pendispersi.
1.3 Tinjauan Pustaka
Kecepatan disolusi dan kelarutan merupakan parameter yang perlu
ditentukandalam mendesain suatu sediaan farmasi khususnya obat peroral. Obat oral
yang memiliki kecepatan disolusi yang rendah sering membutuhkan dosis yang tinggi
untuk memperbaiki absorbsi dan efektivitas obat yang rendah agar mencapai
konsentrasi terapeutik. Pengatasan dengan peningkatan dosis obat merupakan
alternatif solusi yang kurang aman sehingga peneliti telah banyak melakukan
modifikasi fisika, kimia, dan teknik lainnya untuk meningkatkan kecepatan disolusi.
Penambahan surfaktan mampu mengatasi kekurangan masing –masing modifikasi
dengan mekanisme penurunan tegangan permukaan, pembentukan misel,
pengurangan sudut kontak, dan peningkatan pembasahan. Oleh karena itu,
penambahan surfaktan dalam memodifikasi sediaan obat dapat meningkatan disolusi
obat agar tercapat efek terapetik yang diinginkan.(1)

Penambahan surfaktan pada formulasi tablet merupakan salah satu cara untuk
meningkatkan kelarutan zat aktif yang tidak larut dalam air. Penambahan surfaktan
sangat berguna dalam mengurangi tegangan antar muka, menurunkan sudut kotak,
dan membantu memindahkan fase udara pada permukaan dan menggantikannya
dengan suatu fase cair dan akan terjadi pembasahan sehingga meningkatkan disolusi.
Salah satu surfaktan yang dapat digunakan adalah sodium lauril sulfat.(2)

Mekanisme surfaktan dalam menurunkan tegangan antarmuka antara obat dan


medium memfasilitasi untuk terbentuknya misel yang membawa molekul obat yang
telah larut dalam medium. Misel akan terbentuk pada penggunaan konsentrasi
surfaktan yang lebih tinggi yang akan berkumpul membentuk agregat pada Critical
Micelle Concentration (CMC). Tempat absorbsi obat, surfaktan dan membran
mengandung komponen penyusun yang sama sehingga diasumsikan surfaktan
mampu berinteraksi kompleks dengan obat tertentu. Kenaikan konsentrasi surfaktan,
tegangan permukaan menurun namun ketika telah mencapai CMC maka tegangan
permukaan akan selalu tetap meskipun konsentrasi surfaktan ditambah.(1)

Molekul surfaktan terdiri dari gugus hidropobik (ekor) dan gugus hidropilik
(kepala). Sifat hidropilik dan hidropobik dalam satu molekul menyebabkan surfaktan
dapat berikatan dengan komponen baik bersifat hidropobik maupun hidropilik.
Interaksi gugus hidropobik dan gugus hidropilik dengan fluida, menyebabkan
surfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan antar fase. Surfaktan dalam jumlah
sedikit apabila ditambahkan ke dalam suatu campuran dua fase yang tidak saling
bercampur seperti minyak dan air dapat mengemulsikan kedua fase tersebut menjadi
emulsi yang stabil. Berdasarkan sifat gugus fungsi yang dimiliki, surfaktan terbagi
menjadi surfakatn anionik, kationik, non ionik dan surfaktan amfoter. (3)

Mekanisme penurunan tegangan permukaan oleh surfaktan dapat dipelajari dari


mekanisme penetrasi molekul surfaktan ke dalam fase hidropobik dan hidropilik.
Bagian kepala bersifat hidropilik masuk ke fase hidropil dan bagian ekor bersifat
hidropobik masuk ke fase hidropobik. Interaksi dua gugus ke dalam dua fase
menyebabkan penurunan tegangan permukaan antar fase. Penurunan tegangan
permukaan dapat diamati pada perubahan bentuk tetesan minyak di permukaan yang
bersifat hidropilik. Minyak bersifat hidropobik, apabila minyak diteteskan
dipermukaan benda padat yang bersifat hidropilik, bentuk tetesan adalah bulat
disebabkan karena tegangan permukaan tetesan minyak tidak sama dengan
permukaan benda padat. Hal ini disebabkan karena gaya kohesi molekul minyak lebih
besar dibandingkan dengan gaya adesi antara permukaan minyak dan padatan.
Setelah surfaktan ditambahkan ke permukaan antar fase, tetesan minyak akan
terdistribusi di permukaan padatan.(3)

Surfaktan mampu berperan dalam solubilisasi. Salah satu sifat pentingnya


adalah kemampuan untuk meningkatkan kelarutan bahan yang tidak larut atau sedikit
larut dalam medium dispersi. Surfaktan pada konsentrasi rendah menurunkan
tegangan permukaan dan menaikkan laju kelarutan obat. Sedangkan pada kadar yang
lebih tinggi surfaktan akan berkumpul membentuk agregat yang disebut misel.(4)

Jenis surfaktan dibagi berdasarkan muatannya yaitu surfaktan anionik,


surfaktan kationik, surfaktan nonionik. Surfaktan nonionik yaitu surfaktan dengan
alkil yang tidak bermuatan. Jenis surfaktan ini yang banyak digunakan dalam bidang
farmasi contohnya polisorbat 80 dengan mekanisme penurunan tegangan antarmuka
antara obat dan medium sekaligus membentuk misel yang membawa molekul obat
agar larut dalam medium. Oleh karena itu, jenis surfaktan ini banyak digunakan
karena dapat dapat mempercepat waktu hancur dan disolusi tablet.(1)
Surfaktan bekerja sebagai penurun tegangan permukaan akan membentuk
micelle. Konsentrasi surfaktan ketika membentuk Michele dinyatakan sebagai CMC
(Critical Micelle Concentration). CMC adalah konsentrasi surfaktan jenuh di dalam
suatu emulsi. Pada konsentrasi kritis, tegangan permukaan tidak berubah atau hanya
berubah sedikit dengan kenaikkan konsentrasi surfaktan. Pada konsentrasi surfaktan
dibawah CMC, penambahan surfaktan akan merubah IFT. Semakin besar konsentrasi
surfaktan di dalm campuran, tegangan perkaan antar fasa semakin kecil. Ketika
penambahan surfaktan tidak merubah IFT atau perubahan IFT sangat kecil, maka
konsentrasi surfaktan sudah mencapai konsentrasi kritis atau CMC. Untuk
menentukan CMC harus dibuat grafik hubungan konsentrasi surfaktan dan IFT.(3)
Bab II
Prosedur Kerja
2.1 Alat dan Bahan

 Buret 10 mL
 Pipet gondok 10 mL
 Erlenmeyer Kertas saring
 Larutan Twen 80 berbagai konsentrasi
 Larutan NaOH 0,1 N
 Serbuk asam salisilat
 Indikator pp
 Larutan Asam Oksalat 0,1 N
2.2 Cara Kerja
1. Pembakuan Larutan NaOH
a. Masukkan larutan asam oksalat 0,1 N 10 mL dengan pipet gondok ke
dalam Erlenmeyer, kemudian tambahkan satu tetes indicator pp
b. Titrasi dengan larutan NaOH hingga terjadi perubahan dari tidak berwarna
menjadi berwarna merah muda, catat hasil titrasi dan hitung Normalitet
NaOH. Titrasi dilakukan sebanyak tiga kali.
2. Penentuan kadar asam salisilat dalam larutan surfaktan
a. Buat larutan surfaktan dalam berbagai konsentrasi: 0,5 %; 1 %; dan 2 %
dalam aquades
b. Timbang 200 mg asam salisilat
c. Larutkan asam salisilat dalam 50 mL larutan campuran dari 10 mL
surfaktan dan 40 mL aquades, kocok selama lebih kurang 15 menit
didalam Erlenmeyer 125 mL
d. Saring kelalam Erlenmeyer 50 mL
e. Tentukan kadar asam salisilat dengan cara: pipet 10 mL fitrat, masukkan
kedalam Erlenmeyer. Tambahkan satu tetes indikator pp, kemudian titrasi
dengan larutan NaOH 0,1 N sampai terjadi warna merah muda. Titrasi
dilakukan sebanyak tiga kali.
f. Lakukan percobaan blangko.
g. Buat grafik antara % surfaktan dengan % asam salisilat yang terlarut
Bab III
Hasil dan Pembahasan
3.1 Data

1. Data Pembakuan Larutan NaOH

Titrasi ke: vol. NaOH (mL)


1 10,3
2 10,2
3 10,05
vol. rata2 10,18333333

Mol as.oksalat = Mol NaOH


N as . okslat x V as . oksalat x valensi
N NaOH =
V NaOH x valensi
0,1 N x 10 ml x 1
= 10,183 x 1

= 0,0982 N

2. Data Titrasi

Titrasi ke-Vol. NaOH 0,1 N terpakai pada konsentrasi tween


80:
0,50% 1% 1,50% 2%
1 1,4 1,6 2 2,5
2 1,3 1,5 2,1 2,55
3 1,5 1,5 2 2,6
Vol. rata- 1,40 1,53 2,03 2,55
rata
NaOH
0.0982 N
3. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan as. Salisilat:

No Konsentrasi Vol. rata2 Kadar as.


tween 80 (%) NaoH terpakai Salilisat terlarut
(mL) (%)
1 0,5 1,40 47,4721877
2 1 1,53 51,8803194
3 1,5 2,03 68,8346722
4 2 2,55 86,467199

Perhitungan:
a. Tween 80 (0,5%)
mol salisilat = mol NaOH
V NaOH x N NaOH
N salisilat =
V salisilat
1,40 ml x 0,0982 N
=
10 ml
= 0,013748 N
mol salisilat = 0,013784 N x 10 ml
= 0,13784 mmol
Massa as. salisilat (dlm 10ml) = mol salisilat x BE
= 0,13784 mmol x 138,121
= 18,99 mg
Massa as. salisilat (dlm 50ml) = 5 x massa dlm 10ml
= 5 x 18,99 mg
= 94,95 mg
94,95 mg
% Salisilat terlarut = x 100 % = 47,47 %
200 mg

b. Tween 80 (1%)
mol salisilat = mol NaOH
V NaOH x N NaOH
N salisilat =
V salisilat
1,53 ml x 0,0982 N
=
10 ml

= 0,015025 N
mol salisilat = 0,015025 N x 10 ml
= 0,15025 mmol
Massa as. salisilat (dlm 10ml) = mol salisilat x BE
= 0,15025 mmol x 138,121
= 20,75 mg
Massa as. salisilat (dlm 50ml) = 5 x massa dlm 10ml
= 5 x 20,75 mg
= 103,75mg
103,75mg
% Salisilat terlarut = x 100 % = 51,88 %
200 mg

c. Tween 80 (1,5%)
mol salisilat = mol NaOH
V NaOH x N NaOH
N salisilat =
V salisilat
2,03 ml x 0,0982 N
=
10 ml

= 0,019935 N
mol salisilat = 0,019935 N x 10 ml
= 0,19935 mmol
Massa as. salisilat (dlm 10ml) = mol salisilat x BE
= 0,19935 mmol x 138,121
= 27,53 mg
Massa as. salisilat (dlm 50ml) = 5 x massa dlm 10ml
= 5 x 27,53 mg
= 137,65 mg
137,65mg
% Salisilat terlarut = x 100 % = 68,83%
200 mg
d. Tween 80 (2%)
mol salisilat = mol NaOH
V NaOH x N NaOH
N salisilat =
V salisilat
2,55 ml x 0,0982 N
= 10 ml

= 0,025041 N
mol salisilat = 0,025041 N x 10 ml
= 0,25041 mmol
Massa as. salisilat (dlm 10ml) = mol salisilat x BE
= 0,25041 mmol x 138,121
= 34,59 mg
Massa as. salisilat (dlm 50ml) = 5 x massa dlm 10ml
= 5 x 34,59 mg
= 172,95 mg
172,95mg
% Salisilat terlarut = x 100 % = 86,47%
200 mg

4. Grafik % surfaktan terhadap % asam salisilat terlarut:


Kel.4
100

asam salisilat terlarut (%)


90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
0.5 1 1.5 2
tween 80 (%)

3.2 Analisis Data dan Pembahasan


Pada praktikum objek 1 ini, dilakukan pengolahan data percobaan untuk
mengetahui pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat, surfaktan
yang digunakan pada data percobaan ini adalah larutan tween 80 dalam konsentrasi
bervariasi yaitu 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% serta zat yang diamati tingkat kelarutannya
adalah asam salisilat yang kelarutannya rendah di dalam air. Kelarutan asam salisilat
dalam air 100-1000. Tujuan dari penambahan surfaktan ini diharapkan dapat
meningkatkan kelarutan asam salisilat dalam air.
Untuk mengetahui jumlah kadar asam salisilat yang terlarut dalam campuran air
dan tween 80 dilakukan titrasi dengan larutan NaOH yang sebelumnya telah
dibakukan terlebih dahulu. Indikator dalam metode titrasi ini adalah indikator
fenolftalein. Indikator fenolftalein berfungsi untuk menetapkan atau mengetahui titik
akhir titrasi atau titik ekuivalen. Indikator fenolftalein dipilih karena rentang pH yang
dimilikinya, yaitu berkisar 8,0-10,0. karena titrasi dilakukan antara larutan asam
lemah dengan basa kuat, maka akan dihasilkan garam yang bersifat basa. Sehingga,
pH garam tersebut akan berada di pada rentan 8,0 sampai 10,0.
Sebelum melakukan titrasi, kita harus melakukan pembakuan NaOH. Larutan
NaOH digunakan karena larutan NaOH merupakan larutan baku primer. Pembakuan
larutan NaOH ini dilakukan sebelum melakukan penetrasian bertujuan agar mendapat
normalitas yang diinginkan. Pada percobaan ini titrasi dengan larutan NaOH ini
dilakukan sebanyak tiga kali. Tujuan pembakuan NaOH adalah untuk mendapatkan
normalited NaOH, karena normalited NaOH tidak stabil dan tergantung lingkungan.
Pembakuaan NaOH dilakukan dengan titrasi asam basa, dimana NaOH sebagai
larutan baku sekunder dan asam oksalat sebagai larutan baku primer.
Untuk mengetahui bahwa penambahan surfaktan dapat meningkatkan kelarutan
zat, maka dibuat terlebih dahulu grafik persen surfaktan terhadap persen asam
salisilat terlarut. Berdasarkan dari grafik yang telah didapatkan tersebut dapat dilihat
bahwa dengan adanya kenaikan konsentrasi dari surfaktan (Tween 80) menyebakan
kenaikan pada kelarutan asam salisilat atau bisa dikatakan grafik persen surfaktan
terhadap persen asam salisilat tersebut mengalami kenaikkan. Hal ini menunjukkan
bahwa persen surfaktan terhadap persen asam salisilat yang terlarut ini berbanding
lurus.
Dari grafik yang telah didapat menunjukkan kenaikan kelarutan asam salisilat
yang disebabkan oleh penambahan surfaktan (Tween 80) ini dikarenakan surfaktan
dapat menurunkan tegangan permukaan cairan. Hal ini sesuai dengan literatur yang
ada yaitu mekanisme penurunan tegangan permukaan oleh surfaktan dapat dipelajari
dari mekanisme penetrasi molekul surfaktan ke dalam fase hidrofobik dan hidrofilik.
Bagian kepala bersifat hidrofobik masuk ke fase hidrofil dan bagian ekor bersifat
hidrofobik masuk ke fase hidrofobik. Interaksi dua gugus ke dalam dua fase
menyebabkan penurunan tegangan permukaan antar fase.(3)

Penambahan surfaktan dapat mempengaruhi kelarutan zat. Penambahan


surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunannya tegangan permukaan larutan.
Setelah mencapai konsentrasi tertentu , tegangan permukaan akan konstan walaupun
konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Bila surfaktan ditambahkan melebihi konsentrasi
ini maka surfaktan mengagregasi membentuk misel.(1)

Semakin tinggi konsentrasi surfaktan (Tween 80) yang digunakan maka


semakin tinggi pula konsentrasi Asam salisilat yang terlarut. Kelarutan suatu bahan
dalam suatu pelarut tertentu menunjukkan konsentrasi maksimum larutan yang dapat
dibuat dari bahan dan pelarut tersebut. Bila suatu pelarut pada suhu tertentu
melarutkan semua zat terlarut sampai batas daya melarutkannya, larutan ini disebut
larutan jenuh.
Parasetamol merupakan obat yang agak sukar larut dalam air. Absorbsi obat
sukar larut atau agak sukar larut dalam air dipengaruhi oleh laju pelarutan.
Solubilisasi merupakan alternatif untuk meningkatkan kelarutan obat dalam air
dengan penambahan surfaktan. (4)

Dekstrometorfan HBr (d-3-metoksi-N-metilmorfinan) adalah derivat dari


morfin sintetik yang bekerja sentral dengan meningkatkan ambang rangsang reflek
batuk dan memiliki kelarutan agak sukar larut dalam air. Karena Dekstrometorfan
salah satu obat yang kelarutannya agak sukar larut dalam air maka diperlukan
surfaktan untuk meningkatkan kelarutan. Maka dari itu pada penelitian ini dilakukan
uji pengaruh surfaktan span 80 dan tween 80 terhadap solubilisasi. Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan didapat hasil bahwa Dekstrometorfan HBr bisa
diformulasikan dalam bentuk solubilisasi dengan menggunakan surfaktan Tween 80
dan Span 80, karena keduan surfaktan tersebut dapat meningkatkan kelarutan
dekstrometorfan HBr.(5)

Obat dengan kelarutan rendah dapat diatasi dengan penambahan eksipien yang
dapat meningkatkan kecepatan disolusi tablet yaitu surfaktan, seperti pada penelitian
penggunaan polisorbat 80 yang merupakan surfaktan non ionik dapat meningktakan
laju disolusi paraetamol dan penambahannya sebanyak 3% menghasilkan tablet
dengan laju disolusi yang paling baik. Peningkatan laju disolusi tablet piroxicam juga
dilaporkan dengan penambahan polisorbat 80 sebanyak 5% menghasilkan nilai laju
disolusi yang tertinggi Penelitian yang sama dengan penggunaan SLS yang dapat
meningkatkan kecepatan disolusi ketoprofen dan penambahan sebanyak 1.5%
menghasilkan tablet dengan kecepatan disolusi yang paling baik setelah 30 menit.
Penambahan eksipien surfaktan atau polimer (Tween atau PEG 400 ) memiliki
kemampuan yang serupa dalam meningkatkan laju disolusi Piroxicam.(1)

Jadi, berdasarkan beberapa pengujian terhadap obat yang kelarutannya rendah


di atas dengan penambahan surfaktan efektif untuk meningkatkan kelarutan, dapat
kita simpulkan bahwa hasil pengolahan data kelarutan asam salisilat yang
menunjukkan peningkatan kelarutan juga mengikuti peningkatan surfaktan tween
yang digunakan adalah benar.
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah didapatkan dapat disimpulkan
bahwa dengan adanya penambahan surfaktan dengan kadar yang berbeda-beda akan
mempengaruhi kelarutan dari asam salisilat. Semakin banyak surfaktan dimana dalam
praktikum ini menggunakan surfaktan Tween 80 yang dilarutkan dalam air maka
kelarutan asam salisilat semakin tinggi, sehingga kadar asam salisilat yang terlarut
dalam campuran air dan Tween 80 pun semakin tinggi pula. Hal ini dilakukan karwn
asam salisilat memiliki kelarutan yang rendah didalam air.
Bab IV
Kesimpulan
1. Dari data yang diolah didapat bahwa penambahan surfaktan mampu
mempengaruhi kelarutan dari suatu zat.
2. Surfaktan menurunkan tegangan permukaan sehingga menaikkan kelarutan
zat.
3. Semakin tinggi konsentrasi surfaktan dalam pelarut, semakin tinggi pula kadar
asam salisilat yang terlarut, terlihat pada grafik hasil olahan data.
4. Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunannya tegangan
permukaan larutan hingga konsentrasi tertentu, lalu tegangan permukaan akan
konstan walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Bila surfaktan
ditambahkan melebihi konsentrasi ini maka surfaktan akan mengalami
agregrasi membentuk misel.
Daftar Pustaka
1. Sagala RJ. Review : Metode Peningkatan Kecepatan Disolusi Dikombinasi
Dengan Penambahan Surfaktan ( Review : The Different Methods of
Enhancing Dissolution Rate by the Present of. 2019;5(1):84–92.
2. Ph RO, Chotani GK, Dodge TC, Arbige M V. PENGARUH PENAMBAHAN
SODIUM LAURIL SULFAT (SLS) SEBAGAI SURFAKTAN TERHADAP
SIFAT FISIK DAN UJI DISOLUSI TABLET KETOPROFEN.
2012;09(03):1036–7.
3. Reningtyas R. Biosurfaktan Biosurfactant. 2015;XII(2):12–22.
4. Farmasi JS, Noviza D, Febriyanti N, Umar S. Solubilsasi Parasetamol dengan
Ryoto ® Sugar Ester dan Propilen glikol. 2015;01(02):132–9.
5. Hidrobromida D. Uji pengaruh surfaktan tween 80 dan span 80 terhadap
solubilisasi dekstrometorfan hidrobromida. 2014;6(1).

Anda mungkin juga menyukai