Anda di halaman 1dari 3

Kognitif sosial

 Kognitif sosial berkorelasi signifikan dengan kepatuhan rekomendasi dalam upaya


mencegah penularan covid-19 Raude et al., 2020). Komponen yang terkandung di
dalam faktor kognitif sosial diantaranya adaptasi yang dirasakan masyarakat selama
karantina wilayah (Nguyen et al., 2020). kerentanan yang dirasakan, manfaat,
hambatan dan keyakinan diri juga berkaitan dengan perilaku pencegahan covid-19
(Barakat and Kasemy, 2020). Kesiapan menghadapi pandemi covid-19 berkaitan
kuat dengan jenis kelamin, usia dan tingkat pendidikan responden (Cvetkovic et al.,
2020). Efikasi Diri, imajinasi dan empati adalah prediktor signifikan dari persepsi
kerentanan pribadi. Self-efficacy dan imajinasia dalah prediktor persepsi kerentanan
komparatif (Commodari, Rosa and Coniglio, 2020). Semua perilaku perlindungan
kesehatan dianggap sangat efektif dalam memerangi infeksi yang berpeluang
sebesar 0,41 kali lebih efektif dalam mematuhi perilaku pencegahan covid-19,
masyarakat yang memperoleh informasi kesehatan resmi dari pemerintah
berpeluang sebesar 0,37 kali mematuhi perilaku pencegahan covid-19 (Vally, 2020).
Keyakinan menjadi prediktor penting dari perilaku kesehatan Clark et al., 2020).
Kepercayaan terhadap pemerintah berkaitan postif dengan tindakan pencegahan
yang direkomendasikan secara resmi Kepercayaan dan perilaku pencegahan
ditemukan berhubungan signifikan diantara mereka yang memiliki tingkat
pengetahuan covid-19 yang rendah (Min et al., 2020). Kerentanan yang dirasakan,
hambatan yang dirasakan, isyarat untuk bertindak dan tingkat pengetahuan
berkaitan dengan perilaku pencegahan (Ye et al., 2020). Niat, perilaku, norma
subjektif, pengetahuan tentang perilaku pencegahan, atau variasi penggunaan
sumber interpersonal/media tidak menemukan perbedaan pada wilayah di pedesaan
dengan perkotaan (Chen and Chen, 2020)

Psikosiosial
Ketakutan/kekhawatiran tentang status kesehatan berkaitan dengan perilaku
pencegahan covid-19 (Nguyen et al., 2020). Persepsi risiko secara signifikan korelasi
negatif antara perilaku pencegahan (Taghrir, Borazjani and Shiraly, 2020). Persepsi
risiko terkena penyakit yang disebabkan oleh virus baru secara signifikan dipengaruhi
jenis kelamin, usia dan status perkawinan (Commodari, Rosa and Coniglio,
2020). Persepsi pribadi risiko terinfeksi berpeluang 0,83 kali mematuhi pencegahan
covid-19, persepsi substansial akibat hidup terinfeksi berpeluang 0,87 kali mematuhi
perilaku pencegahan covid-19 dan persepsi publik terhadap kejelasan informasi
kesehatan berpeluang 0,69 kali mematuhi perilaku pencegahan covid-19 sehingga
semuanya berhubungan positif dengan perilaku kepatuhan. Responden yang bekerja,
responden yang berpendidikan pasca sekolah menengah dan responden yang
didiagnosis penyakit kronis lebih cenderung mematuhi perilaku pencegahan covid-19
(Vally, 2020). Persepsi kerentanan terhadap COVID-19, adalah persepsi tingkat
keparahan penularan COVID-19 (Clark et al., 2020

Sosiodemografi
 Lokasi tinggal di kota besar berhubungan dengan perilaku pencegahan karena
memberikan kemudahan akses sumber informasi resmi masalah covid-19. Jenis
pekerjaan juga mempengaruhi perilaku pencegahan. Bekerja di bidang
kesehatan/mahasiswa kedokteran berpengaruh terhadap kemampuan mengetahui
informasi kesehatan secara cepat dan komprehensif perihal covid-19 (Nguyen et al.,
2020). Usia, Pendidikan tinggi, tingkat pengetahuan, pekerjaan, pendapatan bulanan
keluarga akan berpengaruh terhadap semakin seringnya melakukan upaya
pencegahan (Ferdous et al., 2020). Terdapat hubungan yang siginifikan antara
pengetahuan tentang covid-19 dan sikap terhadap tindakan pencegahan (Reuben et
al., 2020). Pengetahuan tentang covid-19 secara signifikan dikaitkan dengan
Pendidikan, usia, pekerjaan dan pekerjaan yang berhubungan dengan kesehatan
namun hanya agama yang dikaitkan dengan persepsi risiko (Serwaa et al., 2020).
Jenis kelamin perempuan cenderung lebih terlibat dalam perilaku kesehatan
dibadingkan laki-laki namun usia umumnya tidak terkait dengan perilaku kepatuhan
pencegahan covid-19 (Clark et al., 2020). Responden jenis kelamin perempuan
menunjukkan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi terhadap perlindungan dan
kebersihan diri serta perilaku yang lebih baik dalam mencegah penularan covid-19
dibandingkan laki-laki. Sebagian besar responden mengatakan tidak keluar rumah,
rutin mencuci tangan, menggunakan antiseptic berbahan dasar alcohol, menghindari
kontak dengan individu sakit dan menghindari tempat keramaian. Seputar
penggunaan masker dan menghindari kontak dengan wajah tidak ada perbedaan
hasil berdasrkan gender, sedangkan jenis kelamin perempuan memiliki tingkat
kepatuhan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki dalam upaya melakukan cuci
tangan (Guzek, Skolmowska and Glabska, 2020). Perilaku pencegahan yang
berlebihan pada kelompok yang berisiko tinggi yang dicurigai menunjukkan gejala
sakit dikaitkan dengan kondisi psikologis ekstrim sedangkan dukungan dari
masyarakat dan keluarga memegang peranan penting untuk mengihindari perilaku
pencegahan yang berlebihan (Ye et al., 2020). Penduduk pedesaan cenderung lebih
rendah melakukan perilaku pencegahan, lebih cenderung memiliki sikap negatif
terhadap efektivitas melakukan perilaku pencegahan, lebih cenderung memiliki
tingkat kemampuan yang lebih rendah dalam menilai informasi (Chen and Chen,
2020).
 Penilaian informasi sebagai faktor signifikan yang mungkin berkontribusi pada
perbedaan di daerah pedesaan/perkotaan dalam perilaku pencegahan terhadap
covid-19 melalui sikap, norma subjektif dan niat