Anda di halaman 1dari 31

METODE PELAKSANAAN

DIVISI 1. UMUM

1. Mobilisasi & Demobilisasi


Sebelum memulai pekerjaan, atas persetujuan direksi terlebih dahulu dilakukan
mobilisasi alat yang digunakan dalam pekerjaan seperti : Galian tanah berbatu dengan
alat berat excavator. Untuk demobilisasi atau pemulangan alat excavator ke besecamp.
Selain itu pada pekerjaan persiapan awal ini yang paling penting adalah mempelajari
situasi  lapangan  dan   melengkapi   persyaratan   yang   sudah ditentukan   dalam
bestek, untuk pertama pemasangan plang proyek selanjutnya memulai pengukuran pada
lokasi pekerjaan,   yaitu   berupa   situasi,   potongan   memanjang,   potongan  
melintang,   yang dituangkan   dalam   gambar,   termasuk   gambar   konstruksi,   yang  
disesuaikan   dengan lapangan,  dan   disertai   dengan foto   dokumentasi,  juga  
gambar-gambar   kerja (shop Drawing). Pada bagian-bagian konstruksi yang kurang jelas
harus diperjelas.
Kemudian   perlu   diadakan   koordinasi   dengan   pihak   proyek   beserta   masyarakat
setempat (pemuka masyarkat setempat), guna dapat membicarakan masalah-masalah  
yang   mungkin   timbul   apabila   pekerjaan   ini   dimulai,   baik menyangkut teknis
maupun non teknis.
2. Manajemen Dan Keselamatan Lalu Lintas
Dalam melaksanakan pekerjaan Peningkatan Jalan setiap tahapan pekerjaan yang akan
dilaksanakan mulai dari awal. Pelaksanaan Pekerjaan sampai dengan akhir kegiatan di
lapangan diusahakan tidak mengganggu arus lalu lintas. Aktifitas arus lalu lintas yang
terhambat akibat adanya kegiatan proyek akan merugikan pengguna jalan raya.

- Menyiapkan perlengkapan keselamatan jalan selama periode kontruksi sesuai


ketentuan.
- Membuat rencana kerja manajemen lalu lintas sesuai schedule pekerjaan dan
koordinasikan dengan seluruh personil yang terkait.
- Mengatur secara tepat jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan di lapangan.
- Memasang rambu-rambu di sekitar lokasi pekerjaan, dan menempatkannya
secara tepat dan benar.
- Menempatkan petugas pengatur lalu lintas untuk mengatur dan mengarahkan arus
lalu lintas.
Peralatan Keselamatan Lalu Lintas
- Rambu penghalang lalu lintas jenis plastik
- Rambu peringatan
- Peralatan komunikasi dan lainnya
Tenaga yang terdiri dari:
- Pekerja
- Koordinator
Pada saat pekerjaan, rambu-rambu diletakkan sepanjang daerah galian, tujuannya agar
lalu lintas tidak masuk atau terperosok ke dalam daerah galian. Rambu-rambu yang
dipasang haruslah mempunyai cat dengan pantulan cahaya, guna menghindari
kecelakaan di malam hari.
3. Relokasi tiang Telefon dan Utilitas

Relokasi   utilitas   dan   pelayanan   pengaturan   terhadap   fasilitas-fasilitas masyarakat


sekitar daerah proyek jalan tersebut. Sehingga tidak terjadinya gangguan atau
ketidaknyamanan terhadap warga sekitar. Kontraktor juga melaporkan pekerjaan kepada
Telkom. Agar tidak terjadi kerusakan pada fasilitas-fasilitas perusahaan tersebut yang
juga dapat merugikan warga daerah sekitar.

Asumsi:
1. Pekerjaan dilakukan secara manual (tenaga manusia) dan alat bantu
2. Lokasi pekerjaan: material/bahan yang dipindah/direlokasi.

Uraian:
1. Koordinasi dengan pihak pemilik utilitas
2. Penentuan material yang akan direlokasi
3. Untuk rencana lokasi pekerjaan yang diperkirakan terdapat utilitas kabel,
dilaksanakan test pit di lokasi yang ditentukan
4. Pekerjaan penyediaan tempat lokasi relokasi (galian dsb.)
5. Pembongkaran material dari tempat lokasi existing dengan menggunakan tenaga
manusia dan alat bantu
6. Material diangkut dan ditempatkan langsung dipasang di tempat relokasi /pada
lokasi penampungan sementara yang disediakan. Selama disimpan, material
dijaga agar tidak rusak dari kegiatan proyek yang sedang berlangsung.
7. Pemasangan material pada tempat/lokasi baru yang telah ditentukan dalam
gambar rencana dan telah disetujui oleh direksi. Pemasangan ini mengikuti
schedule pelaksanaan pekerjan yang ada.
8. Pelaksanaan pemasangan material seperti pekerjaan pemasangan pada material
baru, tapi material yang dipakai adalah material yang telah ada.

4. Relokasi tiang listrik yang ada, Tegangan Rendah

Relokasi   utilitas   dan   pelayanan   pengaturan   terhadap   fasilitas-fasilitas masyarakat


sekitar daerah proyek jalan tersebut. Sehingga tidak terjadinya gangguan atau
ketidaknyamanan terhadap warga sekitar. Kontraktor harus melaporkan pekerjaan
kepada PLN. Agar tidak terjadi kerusakan pada fasilitas-fasilitas perusahaan tersebut
yang juga dapat merugikan warga daerah sekitar.

Asumsi:
1. Pekerjaan dilakukan secara manual (tenaga manusia) dan alat bantu
2. Lokasi pekerjaan: material/bahan yang dipindah/direlokasi.

Uraian:
1. Koordinasi dengan pihak pemilik utilitas
2. Penentuan material yang akan direlokasi
3. Untuk rencana lokasi pekerjaan yang diperkirakan terdapat utilitas kabel,
dilaksanakan test pit di lokasi yang ditentukan
4. Pekerjaan penyediaan tempat lokasi relokasi (galian dsb.)
5. Pembongkaran material dari tempat lokasi existing dengan menggunakan tenaga
manusia dan alat bantu
6. Material diangkut dan ditempatkan langsung dipasang di tempat relokasi /pada
lokasi penampungan sementara yang disediakan. Selama disimpan, material
dijaga agar tidak rusak dari kegiatan proyek yang sedang berlangsung.
7. Pemasangan material pada tempat/lokasi baru yang telah ditentukan dalam
gambar rencana dan telah disetujui oleh direksi. Pemasangan ini mengikuti
schedule pelaksanaan pekerjan yang ada.
8. Pelaksanaan pemasangan material seperti pekerjaan pemasangan pada material
baru, tapi material yang dipakai adalah material yang telah ada.
 

5. Pengelolaan Lingkungan Hidup

Berikut ini disampaikan metode Pengelolaan Lingkungan Hidup, diantanya:

1. Dampak Terhadap Kualitas Air (Sungai, Danau, Mata air, Air Bawah Tanah)
 Memastikan bahwa kualitas air (sungai, danau, mata air, air bawah tanah) atau
saluran pembuangan lainnya tidak melebihi baku mutu kualitas air atau
parameter yang tercantum di dalam dokumen lingkungan, SKKLH, dan/atau Izin
Lingkungan. Jika telah melebihi baku mutu lingkungan, agar menginformasikan
kepada masyarakat atau instansi terkait khususnya instansi lingkungan hidup di
daerah tersebut.
 Memastikan bahwa semua pengaruh dari semua kegiatan tidak akan melampaui
baku mutu lingkungan sesuai peraturan yang berlaku. Pada pekerjaan
konstruksi,
 Jika terdapat pekerjaan galian atau pengerukan pada dasar sungai, dan/atau tepi
danau untuk pelaksanaan pekerjaan sebagaimana mestinya, maka setelah
pekerjaan tersebut selesai maka dilakukan penimbunan kembali penggalian
tersebut sampai kembali ke kondisi awal dengan menggunakan bahan yang
disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.
 Menyediakan semua bahan, peralatan dan tenaga kerja yang diperlukan apabila
terjadi pengalihan saluran dengan cara pembuatan saluran sementara.
 Pada penggalian yang berpotensi tercampur dengan air permukaan (sungai,
danau), mata air, air hujan, air buangan lainnya yang dapat menyebabkan terjadi
genangan yang mencemari permukaan badan jalan disekitarnya, kemudian
menyiapkan rencana metode penggalian termasuk rencana penampungan hasil
galian dan saluran pembuangan air berlumpur yang harus disetujui oleh
Pengawas Pekerjaan sebelum melaksanakan pekerjaan galian

2. Dampak Terhadap Kualitas Udara Ambien


 Memastikan bahwa emisi dari semua kegiatan termasuk kegiatan transportasi
tidak akan melampaui baku mutu emisi sesuai peraturan yang berlaku.
 Instalasi pencampuran aspal (AMP), concrete batching plant (CBP), Stone
Crusher dan setiap peralatan konstruksi yang tidak bergerak dipasang yang jauh
dari pemukiman dan daerah sensitif (kawasan hutan, kawasan rawan bencana,
kawasan permukiman, kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B)),
dan kemudian memastikan bahwa peralatan tersebut tidak menimbulkan
gangguan terhadap masyarakat. Lokasi tersebut harus disetujui oleh Pengawas
Pekerjaan.
 Memastikan Instalasi pencampuran aspal (AMP), concrete batching plant (CBP),
sebelum digunakan mempunyai Izin Lingkungan yang diterbitkan oleh
instansi/pejabat yang berwenang. Apabila tidak memiliki Izin Lingkungan, maka
AMP atau CBP tidak dapat digunakan. AMP harus dilengkapi dengan alat
pengumpul debu (dust collector) yang lengkap yaitu sistem pusaran kering (dry
cyclone) dan/atau pusaran basah (wet cyclone) atau tabung filter sehingga tidak
menimbulkan pencemaran udara. Bilamana salah satu sistem di atas rusak atau
tidak berfungsi maka Instalasi Pencampuran Aspal (AMP), tidak boleh digunakan.
Serta memastikan Stone Crusher tidak menimbulkan pencemaran udara.
 Truk harus ditutup dan semua penutup harus diikat dengan kencang.
 Menyediakan pasokan air di tempat kerja yang memadai untuk pengendalian
kadar air selama kegiatan penghamparan dan pemadatan, dan harus membuang
bahan sisa pada lokasi yang tidak berpotensi menimbulkan debu dan disetujui
oleh Pengawas Pekerjaan.
 Memastikan bahwa emisi gas buang alat transportasi atau kendaraan
pengangkut yang digunakan selama pelaksanaan pekerjaan tidak melebihi baku
mutu emisi gas buang kendaraan bermotor atau parameter yang tercantum di
dalam dokumen lingkungan, SKKLH, dan/atau Izin Lingkungan.
 Sebelum memulai Pekerjaan dipastikan terlebih dahulu bahwa saat kegiatan
pelaksanaan pekerjaan pada ruas jalan dan/atau jembatan tidak melebihi baku
mutu kualitas udara ambien atau parameter yang tercantum di dalam dokumen
lingkungan, SKKLH, dan/atau Izin Lingkungan.
3. Dampak Kebisingan dan/atau Getaran
 Sebelum memulai Pekerjaan Penyedia jasa harus memastikan bahwa saat
pelaksanaan pekerjaan pada ruas jalan dan/atau jembatan tidak melebihi baku
mutu kebisingan dan/atau getaran atau parameter yang tercantum di dalam
dokumen lingkungan, SKKLH, dan/atau Izin Lingkungan. Jika telah melebihi baku
mutu lingkungan, agar menginformasikan kepada masyarakat atau instansi
terkait khususnya instansi lingkungan hidup di daerah tersebut.

DIVISI 2. DRAINASE

1. Galian Untuk Selokan Drainase Dan Saluran Air / Cuttingan

Pekerjaan tersebut dikerjakan sesuai gambar rencana menggunakan alat mekanis,


Excavator, dump truck. Pekerjaan Galian ini dilaksanakan setelah hasil pengukuran dan
rekayasa lapangan selesai dilaksanakan dan sesuai dengan shop drawing. Hasil galian
diangkut keluar lokasi pekerjaan dengan menggunakan dump truck ke lokasi yang telah
ditentukan
Penggalian, penimbunan tanah (dengan tidak memakai alat maupun memakai alat) 
untuk konstruksi drainase dibentuk sedemikian rupa baik bentuk, ukuran dan dimensi dari
saluran baru maupun saluran lama  yang disesuaikan dengan gambar kerja dengan
memenuhi kelandaian air mengalir bebas tanpa tergenang. Tanah hasil galian dibuang
dan diratakan ditempat yang ditunjuk oleh direksi untuk mencegah terjadinya dampak
lingkungan yang mungkin terjadi. 

2. Pasangan Batu dengan Mortar

Pasangan batu dengan mortar mencakup pelapisan sisi kanan dan kiri saluran serta
dasar saluran, baik bentuk, ukuran, garis ketinggian dan dimensi mengacu kepada
gambar kerja dan cara kerja mengacu kepada RKS dari pekerjaan ini. Pada sisi saluran
dibuat pengaliran air dari pipa dengan membubuhi ijuk pada bagian sisi dalam pipa.
Pemasangan dengan manual dan menggunakan alat bantu secukupnya. Sedangkan
untuk pengadukan mortal dengan menggunakan alat Concrete Mixer. Pemasangan batu
harus dimulai dari dasar saluran menuju keatas permukaan sampai rata dengan
ketinggian tidak melebihi permukaan bahu jalan agar drainase lancar dan bahu tidak
tergerus oleh aliran air. Batu dipasang satu persatu dengan ketebalan spesi ± 3 cm
dengan tetap mempertahankan tegak lurus terhadap diding saluran. Sedangkan untuk
lantai saluran agar tidak terjadi sendimen / air tergenang tetap mempertahankan
kelandaian air bebas mengalir.
Bahan – bahan yang dibutuhkan.

 Batu
Batu yang digunakan terdiri dari batu alam yang tidak bulat, keras, awet, padat,
tahan terhadap udara dan air (Mutu dan ukurannya dengan persetujuan Direksi).

 Pasir
Pasir yang dipakai harus memenuhi syarat-syarat Spesifikasi.
Pasir yang dipakai dapat berupa pasir alam, atau pasir buatan yang dihasilkan
oleh alat-alat pemecah batu. Pasir harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan
mempunyai gradasi yang baik, tidak porous cukup syarat kekerasannya. Pasir
tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% ditentukan terhadap berat kering.

 Semen
Portland sement yang digunakan adalah jenis-jenis yang memenuhi ketentuan-
ketentuan  dalam N1-1 atau menurut standart Portland semen yang digariskan
oleh Asosiasi Semen Indonesia. Semen yang digunakan harus berkualitas baik
dan pada saat digunakan harus dalam keadaan fresh (belum mulai mengeras),
Untuk menjaga mutu semen,cara penyimpanan harus mengikuti syarat-syarat
penyimpangan bahan tersebut, dengan membuat gudang khusus dan memakai
lantai papan di bagian bawah.

 Air
Air yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat Spesifikasi pekerjaan ini, Air
tawar yang dipakai harus bersih, tidak mengandung minyak, asam alkali bahan-
bahan organis dan bahan-bahan lain yang dapat menurunkan mutu beton/ mortar

3. Gorong-gorong Pipa Beton Bertulang, diameter dalam 95-105 cm

Gorong-gorong adalah bangunan pelengkap dari suatu sistem drainase yang dibuat
akibat adanya persimpangan antara saluran drainase dengan jalan.

Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Gorong-gorong adalah sebagai berikut:


1. Pada lokasi rencana penempatan gorong-gorong  yang  tertutup perkerasan aspal
diperlukan Pemotongan permukaan aspal dengan menggunakan Asphalt Cutter.
2. Penggalian dilakukan dengan menggunakan alat Excavator dan secara manual
oleh pekerja dengan  menggunakan peralatan seperti; cangkul, sekop, ganco
,linggis dan peralatan lainnya yang diperlukan.
3. Kedalaman galian harus sesuai dengan gambar rencana atau sesuai dengan
petunjuk direksi pekerjaan.
4. Pada lokasi penggalian perlu dipasang  rambu peringatan agar tidak
membahayakan pengguna jalan.
5. Pembuatan lantai kerja dari beton mutu rendah.
6. Ketebalan lantai kerja sesuai dengan gambar rencana atau sesuai dengan
petunjuk direksi pekerjaan.
7. Setelah satu atau dua hari gorong-gorong pipa dipasang  dan disambung dengan
cincin penyambung dari beton.
8. Pembuatan dinding sayap dan tembok kepala dari pasangan batu atau beton
bertulang seperti yang ditunjukkan gambar rencana atau sesuai petunjuk direksi
pekerjaan.
9. Timbunan dilakukan dengan material hasil galian atau dengan material lain yang
disetujui direksi pekerjaan dan kemudian dipadatkan dengan alat Combination
Vibratory Roller.
Pelaksanaan pekerjaan gorong – gorong dikerjakan tidak langsung secara keseluruhan
melainkan bertahap dari satu sisi, setelah selesai baru dilanjutkan sisi lainnya. Hal ini
dimaksudkan agar ruas jalan masih bisa dilewati, tidak ditutup secara total.

4. Saluran Berbentuk U Type DS 3

a. Pekerjaan Persiapan
Sebelum melakukan pemasangan saluran berbentuk U tipe DS 3 perlu dilaksanakan
pekerjaan persiapan terdiri dari :
1. Survey lokasi dan pengukuran awal.
2. Koordinasi dengan pihak terkait.
3. Pembuatan direksi keet, barak pekerja dan gudang.
4. Pembuatan rambu lalu-lintas.
5. Pengaturan akses masuk lokasi pekerjaan.
6. Pengaturan tata letak material dan peralatan.
7. Mobilisasi peralatan.
8. Pembuatan shop drawing

b. Fabrikasi Beton

Segera setelah mendapatkan kontrak kerja, kontraktor berkoordinasi dengan direksi


kemudian melakukan pengukuran awal di lapangan, dan selanjutnya kontraktor
mengajukan shop drawing kepada direksi. Dengan disetujuinya shop drawing tersebut
menjadi acuan untuk fabrikasi beton saluran berbentuk U tipe DS 3. Pada umur minimal
7 hari, beton pracetak bisa dimobilisasi ke lapangan.

Bahan Porous untuk Bahan Penyaring (filter)

Bahan porous untuk penimbunan kembali atau bahan penyaring (filter) haruslah keras,
awet dan bersih. Bahan tersebut harus bebas dari bahan organik, gumpalan lempung,
dan bahan lain yang tidak dikehendaki. Bahan padas lapuk atau bekas bongkaran beton
tidak boleh digunakan.

Gradasi partikel bahan yang disyaratkan tergantung dari fungsi masing-masing keperluan
dalam pekerjaan dan tergantung dari karakteristik bahan untuk sisi hulu atau sisi hilir dari
air yang akan melewatinya, dan juga tergantung dari tersedianya bahan. Gradasi yang
disyaratkan untuk masing-masing keperluan akan ditentukan oleh Direksi Pekerjaan,
dimana penentuannya harus dapat menjamin bahwa "piping" (hanyutnya butir-butir
halus) dari bahan arah "hulu" (sebelum bahan porous) ke bahan porous, atau dari bahan
porous ke bahan arah "hilir" (setelah bahan porous), tidak akan terjadi

Bilamana bahan arah “hilir” (setelah bahan porous) dari bahan porous yang ditimbun
kembali bukan bahan berbutir, tetapi digunakan lubang sulingan atau pipa berlubang
banyak (perforated pipe) maka pemilihan dan persetujuan atas bahan porous untuk
penimbunan kembali harus didasarkan atas kriteria berikut ini :

a. D85 (bahan untuk penimbunan kembali)  >  0,2 D (lubang) dan


b. D50 (bahan untuk penimbunan kembali)  >  0,04 D (lubang)

Dimana D85 dan D50 didefinisikan dalam Pasal ini pada (c) dan D (lubang) adalah
diameter dalam dari lubang sulingan atau pipa berlubang banyak (perforated pipe)
Setiap ukuran bahan porous untuk penimbunan kembali  dapat digunakan untuk arah
“hilir” (setelah bahan porous) dari suatu anyaman penyaring (filter) plastik. Sebagai
contoh, untuk drainase bawah permukaan perkerasan, dapat digunakan bahan porous
untuk penimbunan kembali yang terdiri dari kerikil kasar berbutir seragam, bilamana
bahan porous tersebut dibungkus anyaman penyaring (filter) plastik yang cocok, akan
tetapi umumnya haruslah terdiri dari pasir halus yang dipilih sesuai dengan alinea di atas.
Dalam segala hal, ijuk tidak boleh digunakan sebagai pengganti anyaman penyaring
(filter) plastic.

Pipa Berlubang Banyak untuk Pekerjaan Drainase Bawah Permukaan

Pipa berlubang banyak (perforated pipe) untuk drainase bawah tanah harus merupakan
pipa beton yang berlubang banyak atau PVC yang berlubang banyak atau jenis saluran
polyethelyne bergelombang yang berlubang banyak dengan diameter bagian dalam
sekitar 10 cm dan memenuhi ketentuan yang disyaratkan AASHTO M176M/ M17607,
M252-07, M278-02 atau spesifikasi lain yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

Pipa yang dipasang sebagai lubang sulingan melewati beton atau tembok pasangan batu
atau pasangan batu sebagai pelapisan (lining) harus berdiameter dalam 50 mm dan
haruslah PVC atau bahan yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan, yang cukup kuat untuk
menahan perubahan bentuk selama pelaksanaan dan pengerasan adukan atau beton.

Pipa berlubang banyak (perforated pipe) harus dipasang pada landasan yang disiapkan
dan harus diletakkan dengan cermat sesuai dengan alinyemen dan kelandaiannya. Pipa
harus disambung tanpa lidah dan alur dengan celah di antaranya 1 - 5 mm. Sambungan
harus dibungkus dengan anyaman penyaring (filter) yang disetujui dimana bahan
penyaring (filter) ini akan melewatkan air tetapi menahan bahan porous untuk
penimbunan kembali. Setengah lingkaran atas setiap sambungan selanjutnya harus
dilindungi dengan pita kertas aspal atau bahan penutup tahan lapuk lainnya. Setiap
sambungan harus terkunci di tempat, tetapi tidak direkat, dengan menggunakan sedikit
adukan semen yang dipasang pada kedua tepinya.

Setelah pipa telah dipasang, diperiksa dan disetujui, bahan porous harus dipasang dan
dipadatkan

DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH

Galian Biasa

Meliputi  pekerjaan galian yang mana setelah dilakukan bouplank tanah digali sesuai
dengan gambar kerja. Untuk pekerjaan galian tanah menggunakan excavator dan tanah
hasil galian di buang atau ditempatkan dengan alat angkut berupa dump truk dan
ditempatkan di tempat yang tidak mengganggu jalanya lalu lintas dan proses kegiatan
proyek. Area penggalian sebelumnya dipetakan terlebih dahulu sesuai dengan
perhitungan rekayasa lapangan dan diberi tanda agar tidak terjadi kesalahan area pada
saat melaksanakan pekerjaan.
a. Setelah hasil pengukuran dan hasil pengujian tanah serta usulan shop drawings
termasuk di dalamnya sistem pengendalian lalu lintas disetujui oleh Direksi
Pekerjaan, maka pekerjaan tanah untuk pondasi pelebaran jalan dapat dimulai
dengan terlebih dahulu melakukan pekerjaan pembersihan dan pengupasan top
soils.
b. Tanah digali dengan excavator dengan ukuran dan kedalaman sesuai gambar
kerja yang disetujui.
c. Material hasil galian tanah termasuk hasil pembersihan dan pengupasan top soils
ini akan dibuang ke lokasi pembuangan yang telah disiapkan dan disetujui oleh
Direksi Pekerjaan.
d. Setelah dimensi dan elevasi galian pada pelebaran jalan tercapai sesuai dimensi
dan elevasi rencana, makaakan dilakukan penyiapan dan pemadatan badan jalan
(subgrade) pada lokasi galian tersebut.

Galian Struktur dengan Kedalaman 0 – 2 meter

Pekerjaan penggalian dilaksanakan setelah pemasangan bowplank dalam hal ini


penentuan kedalaman galian.Tanah yang digali oleh Excavator langsung dimuat ke
Dump Truck, kemudian diangkut keluar lokasi proyek

Galian Perkerasan Beraspal dengan Cold Milling Machine

- Daerah lapisan perkerasan yang telah mengalami kerusakan akan ditandai


kemudian Lapisan perkerasan dibongkar dengan Cold Milling Machine. Hasil
bongkaran di muat kedalam dump truk.

- Dump truk membuang hasil galian keluar lokasi.

- Lingkup pekerjaan Pekerjaan ini mencakup pemberian tanda pada permukaan


aspal yang akan di gali,  penggalian dengan menggunakan mesin cold milling dan
membuangan hasil galian  perkerasan dengan menggunakan dump truck ke luar
lokasi.

- Setiap lubang pada permukaan dasar galian harus diisi dengan material yang
cocok lalu dipadatkan dengan merata sesuai dengan petunjuk Direksi Pekerjaan

- Pada pekerjaan galian pada perkerasan aspal yang ada, material yang terdapat
pada permukaan dasar galian, menurut petunjuk Direksi Pekerjaan, adalah
material yang lepas, lunak atau tergumpal atau hal-hal lain yang tidak memenuhi
syarat, maka material tersebut harus dipadatkan dengan merata atau dibuang
seluruhnya dan diganti dengan material yang cocok sesuai petunjuk Direksi
Pekerjaan.

Analisa Alat yang digunakan :


- Mesin Cold Milling
- Dump Truck
- Pilox/ Cat Warna Putih
- Alat Bantu
Timbunan Biasa dari Sumber Galian

Untuk mendapatkan hasil Pekerjaan Timbunan dari sumber galian yang baik yang


memenuhi syarat standar mutu sebagai berikut :

a. Permukaan bidang timbunan dipadatkan terlebih dahulu dengan nilai kepadatan


yang sudah ditentukan (sesuai spesifikasi)
b. Bahan Timbunan (hasil galian) memenuhi syarat (misalnya bebas dari material
organis kotoran, akar, rumput top soil)
c. Bahan Timbunan yang dipergunakan telah disetujui (Approval) oleh Klien ataupun
project manager
d. Dilakukan test kepadatan dari bahan timbunan di laboratorium mekanika tanah
untuk diadakan acuan test kepadatan di lapangan.
e. Dilakukan trial embankment, sehingga didapatkan hasil dengan peralatan yang
dipergunakan nilai kepadatan dari timbunan tersebut (misalnya jumlah lintasan
untuk pemadatan dengan compactor yang dipergunakan).

PERALATAN
- Bulldozer
- Compactor
- Excavator
- Dump Truck
- Water Tank
- Theodolith
- Waterpass
- Alat Bantu (cangkul, linggis dan lain-lain)

URAIAN PROSEDUR

Persiapan:
- Meyiapkan peralatan berat (Excavator, Bulldozer, Compactor, Dump Truck) yang
cukup, dan dalam kondisi baik.
- Meyiapkan peralatan pembantu (Linggis, Cangkul, dll) yang cukup
- Meyiapkan lokasi pekerjaan yang akan ditimbun dengan urutan sebagai berikut:
- Mengupas/stripping permukaan tanah yang akan ditimbun dengan ketebalan
sesuai spesifikasi (± 20 cm)
- Memadatkan tanah sesudah dikupas/stripping sehingga diperoleh permukaan
dengan kepadatan sesuai spesifikasi.

Pelaksanaan Pekerjaan:

Pekerjaan Pengukuran

 Mengukur elevasi permukaan tanah sebelum dilakukan pekerjaan kupasan


(kondisi 0%)
 Mengukur elevasi permukaan tanah setelah dilakukan kupasan.
 Mengukur elevasi top permukaan tanah setelah pekerjaan timbunan selesai
kondisi 100%
 Melakukan monitoring pekerjaan timbunan layer demi layer (Max 30 cm)

Melaksanaan Pekerjaan Timbunan


 Bahan timbunan dihampar dengan Bulldozer sesuai dengan patok pembatas /
koridor rencana kontruksi bangunan (misalnya tanggul badan jalan dan lain-lain)
sesuai dengan Design Drawing(Gambar Desain).
 Maximum tebalnya hamparan sesuai dengan ketentuan (misalnya tebal timbunan
per layer = 30 cm / kondisi loose)
 Memadatkan hamparan timbunan yang sudah rata dengan compactor (apabila
diperlukan permukaan tanah disiram dengan air)
 Apabila diperlukan selama hamparan, dilakukan pembersihan kotoran (misalnya
akar dan lain-lain), dari bahan timbunan dengan tenaga kerja khusus.
 Mengadakan test kepadatan timbunan di lapangan dengan acuan data dari test
kepadatan laboratorium
 Melakukan penimbunan kembali (setelah tes kepadatan memenuhi syarat) layer
demi layer, sampai didapat top elevasi permukaan tanah yang ditentukan.
 Hasil Trial Embankment merupakan ketentuan untuk patokan pelaksanaan
pekerjaan timbunan tersebut
 Kombinasi dan spesifikasi peralatan yang dipakai (Bulldozer, Excavator, Dump
Truck, Compactor) berpengaruh pada kecepatan penyelesaian pekerjaan
tersebut. Pengecekan/Pengukuran selama pelaksanaan pekerjaan mutlak
diperlukan.

Timbunan Pilihan dari Sumber Galian

Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan tanah
atau batu yang memenuhi semua ketentuan di atas level timbunan biasadan sebagai
tambahan harus memiliki sifat-sifat tertentu yang tergantung dari maksud
penggunaannya, seperti diperintahkan atau distujui oleh Direksi pekerjaan.Dalam segala
hal, seluruh timbunan pilihan harus, bila di uji sesuai dan memiliki CBR paling sedikit
10% setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100% kepadatan kering
maksimum.

Pekerjaan Urugan pilihan dilaksanakan dengan prosedur sebagai berikut :

1. Pengangkutan Material
Pengangkutan Material Urugan pilihan kelokasi pekerjaan menggunakan dump truck dan
loadingnya dilakukan dengan menggunakan wheel loader. Pengecekan dan pencatatan
volume material dilakukan pada saat penghamparan agar tidak terjadi kelebihan material
disatu tempat dan kekurangan material ditempat lain.

2. Penghamparan Material

Penghamparan material dilakukan dengan menggunakan motor grader dalam tahap


penghamparan ini harus diperhatikan hal-hal berikut :

 Kondisi cuaca yang memungkinkan


 Panjang hamparan pada saat setiap section yang didapatkan sesuai dengan
kondisi lapangan. Lebar penghamparan disesuaikan dengan kondisi lapangan dan
tebal penghamparan sesuai dengan spesifikasi, semua tahapan pekerjaan
hamparan dan tebal hamparan berdasarkan petunjuk dan persetujuan dari Direksi
Pekerjaan.
 Material yang tidak dipakai dipisahkan dan ditempatkan pada lokasi yang
ditetapkan

3. Pemadatan Material

Pemadatan dilakukan dengan menggunakan Vibro Roller, dimulai dari bagian tepi ke
bagian tengah.Pemadatan dilakukan berulang jika dimungkinkan untuk mendapat hasil
yang maksimal dengan dibantu alat water tank untuk membasahi material timbunan
pilihan dan diselingi dengan pemadatan dengan menggunakan Vibro Roller.imbunan
pilihan dipadatkan mulai dari tepi  luar dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan
sedemikian rupa yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi
harus terus menerus divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari
lalu lintas tersebut.
Penyiapan Badan Jalan

Penyiapan badan jalan pada pekerjaan pelebaran jalan meliputi pekerjaan pembersihan,
pembentukan tanah dasar agar elevasinya sesuai dengan yang ditunjukkan gambar
rencana atau sesuai dengan petunjuk direksi pekerjaan, dan termasuk pekerjaan
pemadatan tanah dasar. 

Tahapan pekerjaan penyiapan badan jalan yaitu:

 Pembersihan lokasi pekerjaan dari material yang dapat menggangu pekerjaan


seperti semak-semak, pepohonan, batu besar, dan material lainnya.
 Pekerjaan galian yang diperlukan baik dengan menggunakan alat berat maupun
dengan cara manual untuk membentuk tanah dasar sesuai Gambar atau sesuai
dengan petunjuk Direksi Pekerjaan
 Pemadatan  Tanah dasar dilakukan dengan menggunakan alat vibrator roller atau
menggunakan Combination Vibrator Roller pada daerah pelebaran yg tidak terlalu
luas atau tidak memungkinkan pengunaan vibrator roller.

Pemadatan Tanah Dasar

Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pemadatan adalah:


- Pemadatan dilakukan segera setelah dilakukan penggalian.
- Apabila diperlukan lakukan penyiraman terhadap material tanah dasar Untuk
mencapai kadar air optimum sehingga didapatkan kepadatan yang sesuai dengan
spesifikasi.
- Kecepatan alat harus diperhatikan agar tidak membahayakan pengguna jalan
eksisting. 

Pemotongan Pohon Pilihan Diameter 15-30 cm

Peralatan yang digunakan


- Evavator 80-140 HP
- Dump Truck
- Can Soe / Mesin potong kayu
- Alat bantu

Kebutuhan Tenaga Kerja


- Pekerja]
- Tukang
- Mandor
- Operator

Urutan pelaksanaan

1. Menentukan pohon yang akan di potong, kemudian dilakukan kordinasi dengan


pihak terkait seperti Dinas Pertamanan dan instansi terkait lainnya.
2. Penebangan pohon dilaksanakan dengan menggunakan mesin pemotong kayu,
untuk membersihkan akar- akar pohon digunakan excavator sehingga akar pohon
tidak tertinggal didalam permukaan tanah.
3. Kayu hasil pemotongan diangkut keluar lokasi pekerjaan dengan menggunakan
dump truck
4. Pengangkutan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pihak pengawas.
5. Pekerjaan ini dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan pekerjaan galian.
DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH

Lapis Pondasi Agregat kelas S

Bahan Material Kelas S terdiri dari fraksi Agregat Kasar (tertahan saringan No. 4), dan
Faraksi Agregat Halus (lolos saringan No. 4) dengan rentang komposisi dan syarat
spesifikasi bahan yang diatur dalam Spesifikasi Teknik.

Pekerjaan dilakukan secara mekanik (memakai alat berat) dengan urutan pekerjaan
sebagai berikut :

1. Wheel loader memuat material Agregat yang telah dicampur dari base camp
/stock file ke dalam dump truck untuk selanjutnya dibawa kelokasi pekerjaan.
Material dihampar di lokasi keja dengan menggunakan Vibrator roller, dengan
tetap menjaga tebal hamparan pada yang disyaratkan dalam gambar. Untuk
menjaga kadar air bahan yang disyaratkan dalam rentang Spesifikasi, maka
sebelum pemadatan dapat dilakukan penyiraman material hamparan dari
segregasi sebelum pemadatan dengan menggunakan alat bantu.
2. Peralatan yang digunakan adalah : Whell Loader, Dumptruck, Vibrator Roller,
Water Tank dan Alat bantu.

DIVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR

Lapis pondasi Agregat kelas A


Pekerjaan dilakukan secara mekanik (memakai alat berat) dengan urutan pekerjaan
sebegai berikut:

1. Wheel Loader memuat material agregat yang telah dicampur dari base camp/stock
file kedalam Dump Truck untuk selanjutnya dibawa ke lokasi pekerjaan. Material
dihampar dilokasi kerja dengan menggunakan Motor Grader, yang selanjutnya
setelah mencapai tebal hamparan gembur yang cukup kemudian dipadatkan
dengan menggunakan Vibrator Roller, dengan tetap menjaga tebal hamparan
padat yang disyaratkan dalam gambar. Untuk menjaga kadar air bahan yang
disyratkan dalam rentang Spesifikasi, maka sebelum pemadatan dapat melakukan
penyiraman material hamparan dengan menggunakan Water Tank. Sekelompok
pekerja akan merapihkan hamparan dari agregasi sebelum pemadatan dengan
menggunakan alat bantu.
2. Peralatan yang digunakan adalah : Wheel Loader, Dump Truck, Vibrator Roller,
Water Tank dan Alat Bantu.

Lapis Pondasi Agregat Kelas B

Lapis Pondasi Kelas B adalah Mutu lapis pondasi bawah untuk lapisan di bawah lapis
pondasi Kelas A. Pekerjaan dilakukan secara mekanik (memakai alat berat) dengan
urutan pekerjaan sebegai berikut:
1. Wheel Loader memuat material agregat yang telah dicampur dari base camp/stock
file kedalam Dump Truck untuk selanjutnya dibawa ke lokasi pekerjaan. Material
dihampar dilokasi kerja dengan menggunakan Motor Grader, yang selanjutnya
setelah mencapai tebal hamparan gembur yang cukup kemudian dipadatkan
dengan menggunakan Vibrator Roller, dengan tetap menjaga tebal hamparan
padat yang disyaratkan dalam gambar. Untuk menjaga kadar air bahan yang
disyratkan dalam rentang Spesifikasi, maka sebelum pemadatan dapat melakukan
penyiraman material hamparan dengan menggunakan Water Tank. Sekelompok
pekerja akan merapihkan hamparan dari agregasi sebelum pemadatan dengan
menggunakan alat bantu.
2. Peralatan yang digunakan adalah : Wheel Loader, Dump Truck, Vibrator Roller,
Water Tank dan Alat Bantu

DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL

Lapis Resap Pengikat – Aspal Cair

Pekerjaan lapis perekat terdiri dari pekerjaan penyiapan permukaan dan penghamparan
bahan aspal yang dihampar diatas permukaan bahan pengikat semen atau Asphalt
(Sperti semen Tanah, RCC, CTB, Perkerasan Beton / Lantai Jembatan Beton, Lapis
Penetrasi Macadam, Laston, Lataston dll.) dengan komposisi seperti disyaratkan dalam
Spesifikasi untuk setiap Jenis Bahan Asphalt dan kondisi permukaan yang sesuai.

Pekerjaan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga masih memungkinkanlalu lintas satu


lajur tanpa merusak pekerjaan yang sedang dilaksanakan dan hanya menimbulkan
gangguan yang minimal bagi lalu lintas. Bangunan dan benda- benda lain disamping
tempat kerja (struktur, kerb lantai dan lain-lain) harus dilindungi agar tidak menjadi kotor
karena percikan aspal. Bahan yang digunakan untuk pekerjaan ini adalah aspal semen
pen 60/70 atau 80/100 (memenuhi standar AASHTO M20) yang diencerkan dengan
minyak Tanah (kerosene), dengan membandingkan pemakaian minyak tanah pada
rentang 25 - 30 bagian minyak per 100 bagian aspal (25 pph 30 pph).
Pekerjaan dilakukan secara mekanik (memakai alat berat) dengan urutan pekerjaan
sebagai berikut :

1. Menyiapkan permukaan yang akan dihampar dengan menggunakan mesin


kompresor yang dibantu dengan alat manual seperti : sikap dan sapu lidi.
Menyiapkan material yang digunakan dengan mencampur Aspal dan Korosene
sesuai komposisi yang ditentukan, dan kemudian dipasnaskan sehingga menjadi
aspal cair. Penghamparan diolakukan dengan menggunakan aspal Sprayer
secara seksama, dengan mengacu pada rentang suhu yang disyaratkan dalam
Spesifikasi. Perapihan dilakukan setelah penyemprotan selesai dilakukan.
2. Peralatan yang digunakan adalah : compressor, asphalt Sprayer yang di gandeng
Dump Truck dan alat bantu.

Lapis Perekat – Aspal Cair

Pekerjaan Lapis Perekat-Aspal cair menggunakan peralatan : Asphalt distributor /


Asphalt Sprayer, Compressor dan alat bantu lain yang dibutuhkan.

Urutan kerja :
1. Di tempat pencampuran Asphalt & kerosine dicampur dengan perbandingan
(Asphal 80 % : Kerosine 20 % )  atau sesuai dengan spesifikasi dan petunjuk
Direksi Teknik,
2. Hasil pencampuran dimasukkan ke dalam Asphalt distributor /  Asphalt Sprayer,
3. Pada permukaan Perkerasan aspal lama disemprotkan Lapis perekat aspal cair
dengan ketebalan/berat sesuai dengan petunjuk Spesifikasi / Direksi Teknik.

Laston Lapis Aus (AC – WC)

Campuran beraspal panas dengan Asbuton Lapis Aus (AC-WC AsbP) adalah campuran
panas antara Agregat dengan bahan pengikat asphalt keras pen 60 yang campurannya
menggunakan asboton butir dengankelas penetrasi 15 (0,1 mm) dan kadar abutmen 20
%, yang dicampur diunit pencampuran Asphalt (UPA), dihampar dan dipadatkan dalam
keadaan panas pada temperatur tertentu, dengan ketebalan padat 4 cm.

Sebelum melakukan pekerjaan, penyedia jasa terlebih dahulu menunjukan semua usulan
agregat dan campuran yang memadai berdasarkan hasil pengujuian material dan
campuran di Laboratorium dan hasil percobaan penghamparan dan pemadatan
campuran (Trial Mix) yang dibuat diinstansi pencampuran aspal, yang tertuang secara
berurutan sesuai dalam Spesifikasi Teknik, mulai dari pengusulan DMF hingga
persetujuan JMF.

Pekerjaan dilakukan secara mekanik (memakai alat berat) dengan urutan pekerjaan
sebagai berikut :

1. Wheel Loader memuat dari Stock File ke Hot Bin, kemudian bersama-sama
dengan Asphalt Asbuton butir di campur diunit pencampuran asphalt dengan
komposisi yang telah disetujui dump truck membawa campuran asphalt panas
kelokasi pekerjaan. Campuran dihampar dengan menggunakan Asphalt Finisher,
kemudian pemadatan awal oleh Tandem Roller, pemadatan utama oleh Type
Roller dan pemadatan akhir kembali dengan Tandem Roller . lintasan pemadatan
dilakukan sesuai jumlah lintasan yang telah disetujui. Semua rentang suhu yang
disyaratkan selama proses ini harus tetap dijaga untuk mendapatkan kepadatan
yang optimum. Selama penghamparan, sekelompok pekerja akan merapihkan
tepid an sambungan hamparan secara manual, sebagian lagi bertugas mengatur
lalu lintas yang lewat.
2. Peralatan yang digunakan adalah : Wheel Loader, Asphalt Mixing Plant + Genset,
Asphalt Finisher, Tandem Roller, Pneumatic Type Roller, Dump Truck, dan alat
bantu.

Laston Lapis Antara (AC – BC)

Khusus Pekerjaan Hotmix, ada 5 Item yang merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan pada saat pelaksanaan Pencampuran yaitu :

Laston lapis Pondasi (HRS-Base) - (Gradasi halus/kasar)


Aspal Keras
Bahan anti pengelupasan
Empat komponen bahan yang dicampur pada Unit Pencampur Aspal (AMP) adalah
Agregat Gradasi Halus/Gradasi Kasar, Aspal, Bahan anti pengelupasan, dan bahan
Pengisi (Filler) tambahan berupa semen.
Material/bahan untuk Hot mix (AC - BC) , dicampur di AMP dengan menggunakan
rujukan DMF hasil dari Pemeriksaan laboratorium, kemudian disesuaikan dengan JMF
yang diperoleh dari Gradasi Cold Bin & Hot Bin AMP.

Urutan Pekerjaan untuk Campuran AC-BC :


1. Permukaan Exsisting yang akan diberi campuran AC - BC dibersihkan dengan
Compressor dan dilapisi dengan Lapis Prekat-Aspal cair, klecuali permukaan
Lapis HRS - Base  (L), tinggal diberi Lapis Perrekat Aspal Cair.
2. Campuran dihampar/digelar dengan Asphalt Finisher dengan ketebalan 4 cm.
3. Dilakukan Penggilasan awal (Break down) dengan Tandem Roller.Penggilasan
berikut dengan Tyre Roller sesuai dengan jumlah lintasan yang ditentuikan oleh
Spek,
4. Penggilasan Terakhir dengan Tandem Roller dengan lintasan sesuai dengan yang
dipersyaratkan.
Untuk faktor Keselamatan Kerja baik Pekerja maupun Pengguna lalu lintas, maka setiap
pekerjaan berlangsung harus ada petugas K3 dan rambu-rambu yang dibutuhkan dari 2
arah jalan yang berlawanan.

Laston Lapis Pondasi  (AC-Base)

Setelah pekerjaan lapis resap pengikat dilaksanakan maka dilanjutkan dengan


penghamparan Laston Lapis Pondasi (AC-Base) setebal 6 cm atau sesuai gambar dan
petunjuk direksi. Lapisan ini digunakan sebagai lapisan penutup permukaan pada
struktur lapis pondasi agregat. Untuk bahan perekatannya dengan lapis pondasi agregat
dengan menggunakan Lapis Resap Pengikat.

Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :


1. Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada
direksi untuki untuk disetujui.
2. Menyerahkan hasil pengujian m aterial (Job Mix design) material hot mix laston –
Lapis Pondasi (AC-Base) yang akan digunakan dan komposisi harus sesuai
Spesifikasi teknik yang disyaratkan.
3. Sebelum pelaksanaan pekerjaan AC-Base dilakukan trial agar bisa diketahui
ketebalan dan densitynya.
4. Pencampuran maretial hotmix AC-Base di olah menggunakan AMP.
5. Material hot mix AC-Base dimuat langsung kedalam dump truck dan diangkut ke
lokasi pekerjaan.
6. Material AC-Base dihampar dengan alat asphalt finisher dan dipadatkan dengan
alat tandem roller dengan lintasan minimum sesuai spesifikasi teknik, kemudian
dipadatkan kembali dengan menggunakan alat pneumatic tire roller dengan
lintasan sesuai hasil trial dan dipadatkan finishing dengan alat tandem roller.
7. Selama pemadatan, sekelompok pekerja akan merapihkan tepi  hamparan dengan
menggunakan alat bantu.

Setelah penghamparan dan pemadatan selesai dilaksanakan pengambilan sample


dengan core driil untuk ditest dilab agar diketahui ketebalan dan densitynya

Laston Lapis Pondasi  Perata AC-Base (L)

Pekerjaan ini meliputi Penyiapan bahan di base camp AMP, pencampuran bahan agregat
dengan aspal, pengiriman sampai lokasi pekerjaan, penghamparan dan pemadatan. AC-
Base dibuat di Base Camp AMP sesuai dengan spesifikasi kemudian dituangkan diatas
dumptruck lalu hasil penuangan ditutup dengan terpal untuk menahan suhu AC-base
tetap stabil lalu dikirim ke lokasi pekerjaan yang telah siap peralatan mekanik seperti
finisher alat penghampar dan alat-alat pemadat. Bahan dituang ke bak finisher dari dump
truck, finisher mengampar campuran aspal panas ke permukaan Lapis Pondasi pada
ketebalan diatas rata-rata ketebalan padat dan hasil penggelaran didiamkan pada suhu
yang telah ditetapkan kemudian dipadatkan dengan mesin gilas roda besi, penggilasan
sedemikian rupa hingga mendapatkan kerataan dan kepadatan yang ditetapkan dan
akhir pemadatan menggunakan mesin gilas roda karet demikian seterusnya pekerjaan
dilakukan atas arahan dari Direksi pekerjaan serta tentunya telah mengajukan hasil
pengujian bahan Campuran Aspal Panas serta ijin kerja kepada konsultan pengawas dan
Direksi lapangan.

Bahan Anti Pengelupasan


Aditif kelekatan dan anti penglupasan di tambahkan kedalam bahan aspal yang
ukurannya disetujui Direksi. Jenis aditif haruslah jenis yang disetujui Direksi termasuk
persentase aditif yang diperlukan harus dicampurkan kedalam bahan aspal sesuai
dengan petunjuk pabrik pembuatnya, dan Waktu yang diperlukan untuk menghasilkan
campuran yang homogen harus sesuai petunjuk. Waktu yang digunakan sesuai schedule
pelaksanaan terlampir.

DIVISI 7. STRUKTUR

Beton Mutu Sedang fc’30 Mpa untuk Box Cuilvert

Beton mutu sedang (30 MPa) merupakan beton mutu sedang yang bersifat structural.
Dalam kegiatan ini beton mutu sedang diperuntukkan untuk Box Cuilvert. Pekerjaan ini
juga sudah termasuk pembuatan perancah dan bekisting untuk acuan pengecoran.

Sebelum melakukan pekerjaan, terlebih dahulu ditunjukkan semen usulan agregat dan
campuran yang memadai berdasarkan hasil pengujian material dan campuran di
laboratorium berdasarkan kuat beton untuk umut 7 dan 28 hari, atau umur yang lain yang
telah ditentukan oleh Direksi Pekerjaan, yang tertuang secara berurutan sesuai dalam
spesifikasi teknik.

Proporsi bahan dan berat penakaran hasil perhitungan harus memenuhi criteria teknis
utama, yaitu kelecakan (Workability), kekuatan (Straigth), dan keawetan (Durability).
Penyedia jasa akan membuat gambar detil untuk seluruh perancah yang akan
digunakan, dan memperoleh persetujuan direksi pekerjaan sebelum setiap pekerjaan
perancah dimulai.

Tahap pelaksanaan:

 Bahan-bahan untuk campuran beton (semen, pasir, aggregat kasar dan air)
 Material (pasir, semen, aggregat kasar) pencampuran dilakukan menggunakan
concerete pan mixer.
 Bersihkan lantai kerja, selanjutnya pasang pembesian dan bekisting. Pembesian,
bekisting dan benda-benda lain (pipa) yang dimasukkan ke dalam beton harus
diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran.
 Adukan beton menggunakan concerete mixer dan dituang ke dalam cetakan.
  Padatkan adukan beton secara merata menggunakan Concerete Vibrator.
 Permukaan beton dibentuk dan diratakan perlahan-lahan menggunakan Towel
dan dilanjutkan menggunakan mistar lurus sampai permukaan menjadi rata dan
halus.
 Perawatan dilakukan dengan menutupi permukaan beton menggunakan karung
basah.
 Setelah minimal 12 jam pada saat pengecoran bekisting dibongkar.

Tenaga:
 Pekerja Biasa
 Tukang
 Mandor

Bahan:
 Semen
 Pasir Beton
 Agregat Kasar
 Bekisting
 Paku
Peralatan:
 Batching Plant
 Truck Mixer
 Conc. Vibrator
 Water Tanker
 Alat Bantu

Beton Mutu Sedang  fc’20 Mpa

Sebelum melakukan pekerjaan, terlebih dahulu ditunjukkan semen usulan agregat dan
campuran yang memadai berdasarkan hasil pengujian material dan campuran di
laboratorium berdasarkan kuat beton untuk umut 7 dan 28 hari, atau umur yang lain yang
telah ditentukan oleh Direksi Pekerjaan, yang tertuang secara berurutan sesuai dalam
spesifikasi teknik.

Proporsi bahan dan berat penakaran hasil perhitungan harus memenuhi criteria teknis
utama, yaitu kelecakan (Workability), kekuatan (Straigth), dan keawetan (Durability).
Penyedia jasa akan membuat gambar detil untuk seluruh perancah yang akan
digunakan, dan memperoleh persetujuan direksi pekerjaan sebelum setiap pekerjaan
perancah dimulai.

Tahap pelaksanaan:
 Bahan-bahan untuk campuran beton (semen, pasir, aggregat kasar dan air)
 Material (pasir, semen, aggregat kasar) pencampuran dilakukan menggunakan
concerete pan mixer.
 Bersihkan lantai kerja, selanjutnya pasang pembesian dan bekisting. Pembesian,
bekisting dan benda-benda lain (pipa) yang dimasukkan ke dalam beton harus
diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran.
 Adukan beton menggunakan concerete mixer dan dituang ke dalam cetakan.
 Padatkan adukan beton secara merata menggunakan Concerete Vibrator.
 Permukaan beton dibentuk dan diratakan perlahan-lahan menggunakan Towel
dan dilanjutkan menggunakan mistar lurus sampai permukaan menjadi rata dan
halus.
 Perawatan dilakukan dengan menutupi permukaan beton menggunakan karung
basah.
 Setelah minimal 12 jam pada saat pengecoran bekisting dibongkar.

Tenaga:
 Pekerja Biasa
 Tukang
 Mandor

Bahan:
 Semen
 Pasir Beton
 Agregat Kasar
 Bekisting
 Paku

Peralatan:
 Batching Plant
 Truck Mixer
 Conc. Vibrator
 Water Tanker
 Alat Bantu

Beton Mutu rendah fc’10 Mpa


Tahap pelaksanaan:
 Bahan-bahan untuk campuran beton (semen, pasir, aggregat kasar dan air)
 Material (pasir, semen, aggregat kasar) pencampuran dilakukan menggunakan
concerete pan mixer.
 Bersihkan lantai kerja, selanjutnya pasang pembesian dan bekisting. Pembesian,
bekisting dan benda-benda lain (pipa) yang dimasukkan ke dalam beton harus
diikat kuat sehingga tidak bergeser pada saat pengecoran.
 Adukan beton menggunakan concerete mixer dan dituang ke dalam cetakan.
 Padatkan adukan beton secara merata menggunakan Concerete Vibrator.
 Permukaan beton dibentuk dan diratakan perlahan-lahan menggunakan Towel
dan dilanjutkan menggunakan mistar lurus sampai permukaan menjadi rata dan
halus.
 Perawatan dilakukan dengan menutupi permukaan beton menggunakan karung
basah.
 Setelah minimal 12 jam pada saat pengecoran bekisting dibongkar.

Tenaga:
 Pekerja Biasa
 Tukang
 Mandor

Bahan:
 Semen
 Pasir Beton
 Agregat Kasar (Kerikil)
 Katu Perancah
 Paku

Peralatan:
 Conc. Mixer
 Conc. Vibrator
 Water Tanker
 Alat Bantu

Baja Tulangan U 24 Polos

Pemakaian Tenaga Kerja       


 Pekerja,
 Tukang,
 Mandor 

Pemakaian Bahan
 Baja Tulangan,
 Kawat Beton 

Pemakaian Alat                      
 Alat Bantu 

Prosedur Pelaksanaan
Pembengkokan : 
1. Terkecuali ditentukan lain oleh Direksi Pekerjaan, seluruh baja tulangan
dibengkokkan secara dingin dan sesuai dengan prosedur ACI 315, menggunakan
batang yang pada awalnya lurus dan bebas dari lekukan-lekukan,
bengkokanbengkokan atau kerusakan. Bila pembengkokan secara panas di
lapangan disetujui oleh Direksi Pekerjaan, tindakan pengamanan harus diambil
untuk menjamin bahwa sifat-sifat fisik baja tidak terlalu berubah banyak.  
2. Batang tulangan dengan diameter 2 cm dan yang lebih besar harus dibengkokkan
dengan mesin pembengkok.
Penempatan dan Pengikatan : 
1. Tulangan ditempatkan akurat sesuai dengan Gambar dan dengan kebutuhan
selimut beton minimum yang disyaratkan atau seperti yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan. 
2. Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat
sehingga tidak tergeser pada saat pengecoran. Pengelasan tulangan pembagi
atau pengikat (stirrup) terhadap tulangan baja tarik utama tidak diperkenankan.

Spesifikasi Teknis  :
a. Baja tulangan harus baja polos atau berulir dengan mutu yang sesuai dengan
Gambar
b. Bila anyaman baja tulangan diperlukan, seperti untuk tulangan pelat, anyaman
tulangan yang di las yang memenuhi AASHTO M55 dapat digunakan. 
Pasangan Batu

Pemakaian Tenaga Kerja      


 Pekerja,
 Tukang,
 Mandor 

Pemakaian Bahan                 
 Batu Belah,
 Semen,
 Pasir 

Pemakaian Alat                     


 Concrete Mixer,
 Water Tanker,
 Alat Bantu 

Prosedur Pelaksanaan  : 
1. Sebelum pemasangan, batu dibersihkan dan dibasahi sampai merata dan dalam
waktu yang cukup untuk memungkinkan penyerapan air mendekati titik jenuh.
Landasan yang akan menerima setiap batu juga harus dibasahi dan selanjutnya
landasan dari adukan harus disebar pada sisi batu yang bersebelahan dengan
batu yang akan dipasang.
2. Landasan dari adukan baru paling sedikit 3 cm tebalnya dipasang pada pondasi
yang disiapkan sesaat sebelum penempatan masing-masing batu pada lapisan
pertama. Batu besar pilihan digunakan untuk lapis dasar dan pada sudut-sudut.
Perhatian harus diberikan untuk menghindarkan pengelompokkan batu yang
berukuran sama. 
3. Batu harus dipasang dengan muka yang terpanjang mendatar dan muka yang
tampak harus dipasang sejajar dengan muka dinding dari batu yang terpasang. 
4. Batu harus ditangani sedemikian hingga tidak menggeser atau memindahkan batu
yang telah terpasang. Peralatan yang cocok harus disediakan untuk memasang
batu yang lebih besar dari ukuran yang dapat ditangani oleh dua orang.
5. Menggelindingkan atau menggulingkan batu pada pekejaan yang baru dipasang
tidak diperkenankan.

Spesifikasi Teknis:
1) Batu
a. Batu harus bersih, keras, tanpa bagian yang tipis atau retak dan harus dari jenis
yang diketahui awet. Bila perlu, batu harus dibentuk untuk menghilangkan bagian
yang tipis atau lemah.
b. Batu harus rata, lancip atau lonjong bentuknya dan dapat ditempatkan saling
mengunci bila dipasang bersama-sama.
c. Terkecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, batu harus memiliki
ketebalan yang tidak kurang dari 15 cm, lebar tidak kurang dari satu setengah kali
tebalnya dan panjang yang tidak kurang dari satu setengah kali lebarnya.

2) Adukan

Adukan haruslah adukan semen yang memenuhi kebutuhan dari dari Spesifikasi.

3) Drainase Porous
Bahan untuk membentuk landasan, lubang sulingan atau kantung penyaring untuk
pekerjaan pasangan batu harus memenuhi kebutuhan dari Spesifikasi.

Pembongkaran Pasangan Batu

Pekerjaan pembongkaran beton merupakan pekerjaan pembongkaran dengan


menggunkan Excavator + Rock Breaker menghancurkan beton. Dump Truck
mengangkut material hasil pembongkarankeluar dari lokasi yang aman jauh dari
gangguan lalu lintas.
Pekerjaan dilakukan secara mekanik (memakai alat berat) dengan urutan pekerjaan
sebagai berikut :
1. Beton yang sudah rusak akan dibongkar/dihancurkan.
2. Peralatan yang digunakan adalah Excavator + Rockbreker, Dump Truck dan alat
bantu

DIVISI 8. PENGEMBALIAN KONDISI DAN PEKERJAAN MINOR

Lapis Pondasi Agregat Kelas A untuk Pekerjaan Minor

Setelah pekerjaan lapis pondasi agregat kelas B untuk pekerjaan minor selesai
dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan pekerjaa lapis pondasi agregat kelas A untuk
pekerjaan minor. Lapisan pondasi ini merupakan lapisan pondasi atas dari lapis pondasi
pada perkerasan jalan.

Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :


 Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada
direksi untuki untuk disetujui
 Material agregat kelas A dihampar dengan tenaga manusia dan dengan    
ketebalan bervariasi.
 Hamparan pondasi agregat disiram air dengan menggunakan Water Tank Truck
(sebelum pemadatan) dan di padatkan dengan menggunakan stamper.
 Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapihkan tepi tepi hamparan dan
level permukaan dengan menggunakan alat bantu.

Lapis Pondasi Agregat Kelas B untuk Pekerjaan Minor

Pekerjaan ini terdiri dari pengembalian kondisi dari perkerasan aspal dan pondasi yang
telah rusak. Ukuran dari pekerjaan minor ini adalah kurang dari 40 x 40 cm dan dengan
total volume setelah penggalian kurang dari 10 m3 per kilometer. Pekerjaan ini
dilaksanakan untuk perbaikan lapis pondasi pada perkerasan jalan sebelum pekerjaan
perkerasan jalan hotmix dilaksanakan. Lapis pondasi agregat kelas B merupakan lapisan
pondasi bawah dari lapis pondasi pada perkerasan jalan.

Metoda kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :

 Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada


direksi untuki untuk disetujui
 Lokasi perbaikan pondasi dibentuk dan di gali sesuai dengan ukuran rencana
perbaikan pondasi.
 Material agregat kelas B dihampar dengan tenaga manusia dan dengan ketebalan
bervariasi.
 Hamparan pondasi agregat disiram air dengan menggunakan Water Tank Truck
(sebelum pemadatan) dan di padatkan dengan menggunakan stamper.
 Selama pemadatan sekelompok pekerja akan merapihkan tepi hamparan dan
level permukaan dengan menggunakan alat bantu. 
 
Campuran Aspal Panas untuk Pekerjaan Minor

Setelah pekerjaan perbaikan pondasi untuk pekerjaan minor selesai dilaksanakan maka
lapisan pondasi ditutup dengan menggunakan material hotmix campuran aspal panas.

Metode kerja dari pekerjaan ini adalah sebagai berikut :

 Sebelum melakukan pekerjaan harus dibuat request dan diserahkan kepada


direksi untuki untuk disetujui
 Material campuran aspal panas dihampar dengan tenaga manusia dan dipadatkan
dengan Tendem Roller.
 Selama pemadatan, pekerja akan merapihkan tepi  hamparan dengan
menggunakan alat bantu.

Stabilisasi dengan Tanaman

Penanaman Pohon
1. Tanaman pohon dibeli dari sumber, dan didatangkan ke lokasi pekerjaan.
2. Lubang tanaman disiapkan dengan ukuran sesuai dengan gambar, lalu setelah
selesai tanaman pohon dimasukkan ke lobang yang sudah disiapkan

Marka Jalan Termoplastik

1. Umum

a. Uraian
 Yang dimaksud dengan Marka Jalan adalah suatu tanda yang berada di
permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis
membujur, garis melintang,garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi
untuk mengarah arus lalu lintas dan membatasi daerah kepentingan lalu lintas
 Pekerjaan ini meliputi pengecatan marka jalan baik pada permukaan perkerasan
lama maupun yang selesai di-overlay, pada lokasi yang ditunjukkan dalam
Gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.

b. Penerbitan Gambar Penempatan dan Detil Pelaksanaan

 Gambar penempatan yang menunjukkan lokasi marka jalan dan detil pelaksanaan
semua bentuk marka jalan yang tidak terdapat di dalam Dokumen Kontrak pada
saat pelelangan akan disediakan oleh Direksi Pekerjaan setelah Penyedia Jasa
menyelesaikan laporan hasil survei lapangan

c. Persyaratan Bahan

 Cat untuk Marka Jalan Pada pasal ini kata “cat” sering dikonotasikan sebagai
bahan marka jalan jenis termoplastik sebagai cat. Cat haruslah bewarna putih atau
kuning seperti yang ditunjukkan dalam Gambar dan memenuhi Spesifikasi berikut
ini :
  Marka Jalan Termoplastik : SNI 06-4826-1998 (jenis padat, bukan serbuk)
  Butiran Kaca, Butiran Kaca haruslah memenuhi Spesifikasi sesuai SNI 15-4839-
1998

2. Persyaratan

a. Persyaratan Kerja
Pengajuan Kesiapan Kerja Satu liter contoh cat untuk setiap warna dan jenis cat
bersama dengan data pendukung untuk setiap jenis cat berikut ini harus diserahkan
kepada Direksi Pekerjaan :
 Komposisi (analisa dengan berat)
 Jenis penerapan (panas atau dingin)
 Jenis dan jumlah maksimum bahan pengencer.
 Waktu pengeringan (untuk pengecatan ulang)
 Pelapisan yang disarankan
 Ketahanan terhadap panas
 Detil cat dasar atau lapis perekat yang diperlukan
 Umur kemasan (umur dari produk)
 Batas waktu kadaluarsa

b. Jadwal Pekerjaan
 Marka jalan harus dilaksanakan pada permukaan jalan lama sedini mungkin dalam
Periode Pelaksanaan.
 Untuk pengecatan marka pada permukaan perkerasan lama, Direksi Pekerjaan
akan menerbitkan detil dan lokasi.
 Untuk ruas-ruas perkerasan lama yang dirancang untuk di-overlay (pelapisan
ulang) tetapi telah diberi marka jalan maka marka jalan tersebut harus diulang
setelah pekerjaan pelapisan ulang selesai dikerjakan dalam batas waktu yang
disyaratkan.
3. Pelaksanaan

a. Penyiapan Permukaan Perkerasan.

 Sebelum penandaan marka jalan atau pengecatan dilaksanakan, Penyedia Jasa


harus menjamin bahwa permukaan perkerasan jalan yang akan diberi marka jalan
harus bersih, kering dan bebas dari bahan yang bergemuk dan debu. Penyedia
Jasa harus menghilangkan dengan grit blasting (pengausan dengan bahan
berbutir halus) setiap marka jalan lama baik termoplastis maupun bukan, yang
akan menghalangi kelekatan lapisan cat baru

b. Pelaksanaan Pengecatan Marka Jalan


 Semua bahan cat yang digunakan tanpa pemanasan (bukan termoplastik) harus
dicampur terlebih dahulu menurut petunjuk pabrik pembuatnya sebelum
digunakan agar suspense pigmen merata di dalam cat
 Pengecatan tidak boleh dilaksanakan pada suatu permukaan yang baru diaspal
kurang dari 3 bulan setelah pelaksanaan lapis permukaan, kecuali diperintahkan
lain oleh Direksi Pekerjaan Selama masa tunggu yang disebutkan di atas,
pengecatan marka jalan sementara (pre-marking) pada permukaan beraspal harus
dilaksanakan segera setelah pelapisan
 Penyedia Jasa harus mengatur dan menandai semua marka jalan pada
permukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan yang presisi sebelum
pelaksanaan pengecatan marka jalan
 Pengecatan marka jalan dilaksanakan pada garis sumbu, garis lajur, garis tepi dan
zebra cross dengan bantuan sebuah mesin mekanis yang disetujui, bergerak
dengan mesin sendiri, jenis penyemprotan atau penghamparan otomatis dengan
katup mekanis yang mampu membuat garis putus-putus dalam pengoperasian
yang menerus (tanpa berhenti dan mulai berjalan lagi) dengan hasil yang dapat
diterima Direksi Pekerjaan. Mesin yang digunakan tersebut harus menghasilkan
suatu lapisan yang rata dan seragam dengan tebal basah minimum 0,38 milimeter
untuk “cat bukan termoplastik” dan tebal minimum 1,50 mm untuk “cat
termoplastik” belum termasuk butiran kaca yang juga ditaburkan secara mekanis,
dengan garis tepi yang bersih (tidak bergerigi) pada lebar ran-cangan yang sesuai.
Bilamana tidak disyaratkan oleh pabrik pembuatnya, maka cat termoplastik harus
dilaksanakan pada temperatur 204°C - 218°C.
 Bila mana penggunaan mesin tak memungkinkan, maka dapat meminta izin
Direksi Pekerjaan pengecatan marka jalan dengan cara manual, dikuas, disemprot
dan dicetak dengan sesuai dengan konfigurasi marka jalan dan jenis cat yang
disetujui untuk penggunaannya
 Butiran kaca harus ditaburkan di atas permukaan cat segera setelah pelaksanaan
penyemprotan atau penghamparan cat. Butiran kaca harus ditaburkan dengan
kadar 450 gram/m2 untuk semua jenis cat, baik untuk “bukan termoplastik”
maupun “termoplastik”
 Semua marka jalan harus dilindungi dari lalu lintas sampai marka jalan ini dapat
dilalui oleh lalu lintas tanpa adanya bintik-bintik atau bekas jejak roda serta
kerusakannya lainnya
 Semua marka jalan yang tidak menampilkan hasil yang merata dan memenuhi
ketentuan baik siang maupun malam hari harus diperbaiki oleh Penyedia Jasa
atas biayanya sendiri
 Ketentuan dari Seksi 1.3 Pengaturan Lalu Lintas harus diikuti sedemikian
sehingga menjamin keamanan umum ketika pengecatan marka jalan sedang
dilaksanakan
 Semua pemakaian cat secara dingin harus diaduk di lapangan menurut ketentuan
pabrik pembuat sesaat sebelum dipakai agar menjaga bahan pewarna tercampur
merata di dalam suspense

Rambu Jalan Tunggal dengan Permukaan Pemantul Engineer Grade


Pekerjaan ini merupakan bagian pekerjaan pelengkap jalan dan pengatur lalu lintas
berupa pemasangan rambu jalan tunggal baru atau penggantian rambu jalan tunggal
lama dengan yang baru menggunakan plat rambu dengan lembaran pemantul/cotchlite
jenis engineering grade.

Pekerjaan pemasangan dilakukan secara manual / peralatan dengan urutan pekerjaan


sebagai berikut :
1. Perakitan, pemasangan plat dan pipa untuk rambu dilakukan di base camp,
selanjutnya proses pengecoran kaki rambu pada posisi yang disyaratkan
dilakukan pada lokasi pekerjaan. Perapihan dilakukan sekelompok pekerja dengan
alat bantu
2. Peralatan yang digunakan adalah : Dump Truck dan alat bantu

Patok Pengarah

Pekerjaan patok pengarah patok yang terbuat dari beton bertulang pracetak dengan
mutu K175 (15 MPa) yang diberi cat sedemikian rupa mengikuti Spesifikasi dan sesuai
gambar dengan tinggi total sesuai ditunjukkan dalam gambar.

Pekerjaan ini dilakukan secara manual dengan urutan pekerjaan sebagai berikut :

1. Patok beton dicetak dilokasi pembuatan, kemudian patok-patok beton dimuat dari
lokasi pembuatan dengan Dump Truck menuju lokasi pemasangan. Patok
dipasang dilokasi yang telah digali yang ditentukan dengan jarak-jarak antara
patok mengacu pada gambar rencana.
2. Peralatan yang digunakan adalah : Dump Truck dan alat bantu

Patok Kilometer

Patok  Kilometer dipasang pada titik yang sudah ditentukan dan harus terlihat jelas oleh
pengguna jalan.

Alat yang dikerahkan:


 Dump Truck
 Alat bantu

Material:
 Beton K-125
 Baja Tulangan
 Cat dan material lainnya

Rel pengaman

Spesifikasi.
Spesifikasi teknisnya mengacu kepada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 3
Tahun 1993 Tentang Alat Pengendalian dan Pengaman Pemakai Jalan dan Surat
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Nomor AJ.409/1/1/DRJD/2007 tanggal 15 Januari
2007 perihal petunjuk penyelenggaraan perlengkapan jalan di jalan Nasional.

1. Ukuran Pagar Pengaman

Lempengan Besi (Beam) adalah merupakan suatu plat besi yang bergelombang dan
memanjang, dimana pada ujungnya disambungkan dengan lempengan besi yang
melengkun yang bisa disebut terminal end. 

2. Panjang Lempengan dengan ukuran minimal :

 Panjang total lempengan    : 4.000-4.330 mm


 Panjang efektif lempengan : 3.800-4.000 mm

3. Tiang penyangga (Post) adalah merupakan suatu tiang berbentuk “letter U” yang


kokoh dengan ketebalan penampang plat minimal 4,5 mm dan berfungsi untuk
menegakkan dan memperkokoh berdirinya lempengan besi.
4. Besi Pengikat (Blocking) adalah profil baja berbentuk “letter U” dengan ketebalan
penampang plat minimal 4,5 mm, panjang 300 mm lebar 180 mm dan ketebalan
blocking 4,5 mm yang berfungsi sebagai pengikat antar tiang penyangga dengan
lempengan besi (Beam).

Bahan Pagar Pengaman Jalan


Lempengan besi
 Terbuat dari besi propile design galvanis dengan ketebalan minimal 381
gram/m2
 Sifat mekanis tegangan leleh tidak kurang dari 35,2 kg/mm2 atau 50.000
psi, tegangan tarik tidak kurang dari 49,2 kg/mm2 atau 70.000 psi serta
perpanjangan 50 mm dari kurang dari 1,2 %.
 Lengan lempengan besi (Sleeve Beam) memilki bahan yang sama dengan
lempengan besi (Beam)
5. Post (Tiang Penyangga)
 Terbuat dari besi atau pipa St. 32 yang digulvanis minimal 381 gram/m2
 Sifat mekanis tegangan leleh tidak kurang dari 35 kg/mm2 atau tegangan
tarik tidak kurang dari 41 kg/mm2 dan panjang tidak kurang dari 1,2%

6. Besi pengikat (Bracket) adalah berupa baut dan mur diameter 12 mm untuk beam,
14 mm untuk blocking dan 16 mm untuk tiang serta besi pengikat yang berfungsi
untuk menyambung dab melekatkan lempengan besi ke tiang penyangga dengan
mempunyai bahan yang sama dengan lempengan besi.
7. Semua bahan agar pengaman Jalan terbuat dari besi baja galvanis standar ISO
9002

Warna Pagar Pengaman Jalan:


 Pagar pengaman Jalan (Post, Blocking Post, Beam) tetap menggunakan
warna asli.
 Pada setiap lempengan / bahan pagar dipakukan bahan yang sifatnya
memantulkan cahaya, dengan ketentuan:
- Sebelah kanan arah lalu lintas berwarna merah
- Sebelah kiri arah lalu lintas berwarna kuning.

Tahapan Pelaksanaan Pekerjaannya sebagai berikut :


1. Survey
- Tahap pertama yang harus dilakukan adalah survey lapangan berdasarkan
gambar apakah lokasi tersebut perlu untuk dipasang pagar pengaman atau
tidak apabila lokasi tersebut tidk perlu dipasang pagar pengaman maka perlu
dilaporkan pengawas untuk dibuatkan gambar baru khususnya lokasi
pemasangannya.
- Dan hasil survey tersebut maka kita dapat menghitung berapa jumlah masing-
masing material seperti : Post beam, blocking piece, baut, T end, reflector.
Untuk setiap lokasinya dan untuk menentukan base camp tempat menaruh
material guardrail.
2. Pengukuran
Untuk pengukuran harus disesuaikan dengan gambar rencana seperti jarak post,
bentuk lengkungan apabila lokasi atau jalan berbelok dan ketinggian pagar
pengaman dari permukaan jalan.
3. Persiapan Material
Menghitung kembali jumlah material yang diperlukan untuk masing-masing lokasi
seperti sebagai berikut:
 Beam
 Post
 Blocking Piece
 Reflektor
 T. End
 Mur baut dan Ring
 Material Cor

4. Persiapan Peralatan
Sebelum pemasangan dilakukan kita perlu mempersiapkan peralatan agar dalam
pelaksanaan tidak ada kenadla yang berarti. Adapun peralatan yang perlu
dipersiapkan adalah sebagai berikut :
 Palu seberat kurang lebih 25 kg. 
 Linggis besar
 Linggis kecil
 Blincong
 Benang / tali
 Meteran
 Palu berat 5 kg
 Peralatan cor
 Kunci-kunci baut
 Mesin las

5. Pelaksanaan Pekerjaan
Setelah dilakukan survey, pengukuran dan persiapan barng selanjutnya dilakukan
pemasangan dengan cara, yaitu melakukan penggalian tanah untuk pemasangan tiang
post yang tentunya sudah diukur terlebih dahulu baik itu luasnya maupun kedalamannya
serta kelurusannya dengan memakai benang sponengan.
Apabila pengalian sudah selesai langkah selanjutnya memasang post dengan cara
memukul bagian kedalaman kurang lebih 20 cm agar posisi post tegak lurus dan
dibagian yang ditanam diberi angkur 4 (empat) buah dengan cara dilas sebelum
dilakukan pengecoran.
Setelah post-post itu terpasang kemudian dilakukan penyetelan / pemasangan beam
dengan cara memasang baut-baut kemudian kita chek kelurusan dan ketinggiannya
sesuai gambar setelah itu baru kita cor sesuai tahapannya sebagai berikut:
 Dasar pondasi diurug pasir
 Memasang bekitsting pada bagian atasnya
  Menyiram lubang dengan air.
 Mengecor dengan adukan 1 pc : 2 pasir : 3 kerikil
 Finishing pondasi.
Apabila sudah selesai pengecoran baru kita pasang perlengkapannya seperti reflector, t
end kemudian mengelas baut-bautnya untuk menghindari pencurian.

Mata Kucing

Berikut cara memasang paku marka Mata Kucing


1. Ruas jalan yang akan dipasang paku jalan dibor terlebih dahulu dengan alat bor
khusus dengan kedalaman sesuai dengan ukuran paku jalan yang akan
digunakan.
2. Setelah dibor lalu paku dimasukkan dengan melumurkan lem perekat khusus
pada bagian bawah paku dan bagian bawah badan paku.
3. Selanjutnya paku yang telah dimasukkan didiamkan selama + 15 menit untuk
proses pengerasan agar daya lekat lebih bersenyawa pada permukaan jalan.
4. Jarak pengulanggan pemasangan paku jalan yang dipasang pada marka
membujur putus-putus adalah pada titik awal dan akhir marka dengan panjang 3-
5 m, sedangkan jarak pengulangan untuk paku marka jalan yang dipasang pada
marka utuh adalah setiap 3m.

Kerb Pracetak Jenis 1 (Peninggi/Mountable)


1. Lokasi yang akan dipasang kerb digali dan dirapikan space semen pasir diletakan
diatas tanah dan atasnya diletakan kerb. Setelah kering sambungan antara kerb
diisi dengan adukan semen setelah selesai dan kering belakang kerb ditimbun
dengan tanah supaya tidak roboh.
2. Kerb harus dipasang dengan teliti sesuai dengan detail, garis dan elevasi yang
ditunjukan dalam gambar atau sebagaimana yang diperintahkan oleh direksi
pekerjaan.
3. Perkerasan Blok Beton Pada Trotoar dan Median
4. Perkerasan Blok beton harus dipasang sesuai dengan petunjuk direksi dan
spesifikasi yang telah disepakati dan disetujui, pada umumnya blok beton harus
dipasang diatas landasan pasir.
5. Permukaan blok beton yang selesai dikerjakan harus menampilkan permukaan
yang rata tanpa adanya blok beton yang menonjol atau terbenam dari elevasi
permukaan yang di tentukan direksi.

Perkerasan Blok Beton pada Trotoar dan Median


1. Perkerasan Blok beton harus dipasang sesuai dengan petunjuk direksi dan
spesifikasi yang telah disepakati dan disetujui, pada umumnya blok beton harus
dipasang diatas landasan pasir.
2. Permukaan blok beton yang selesai dikerjakan harus menampilkan permukaan
yang rata tanpa adanya blok beton yang menonjol atau terbenam dari elevasi
permukaan yang di tentukan direksi.

DIVISI 9. PEKERJAAN HARIAN

Uraian:

Pekerjaan ini mencakup operasi-operasi yang disetujui oleh Direksi pekerjaan yang
semula tidak diperkirakan (atau disediakan dalam daftar kualitas dari Divisi 1 sampai
Divisi 8) tetapi diperlukan selama pelaksanaan pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan
yang memenuhi ketentuan. Operasi-operasi yang dilaksanakan menurut pekerjaan
harian dapat terdiri dari pekerjaan jenis apapun sebagaimana yang ditunjukkan atau
diperintakan oleh direksi pekerjaan, dan dapat mencakup pekerjaan tambahan dari
drainase, galian, timbunan, stabilisasi, pengujian, pengembalian (restitution) perkerasan
lama ke bentuk semula, pelapisan ulang, struktur atau pekerjaan lainnya.

1. Pelaksanaan pekerjaan harian

Perintah pekerjaan harian


a.      Pekerjaan harian dapat diminta secara tertulis oleh direksi pekerjaan
b.      Untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan dimana harga satuan pekerjaan
harian sudah dimasukkan dalam daftar kuantitas dan harga, perintah ini akan
menguraikan batas dan sifat dari pekerjaan yang diperlukan dengan lampiran
gambar dan dokumen kontrak yang telah direvisi untuk menentukan detail
pekerjaan, dan akan menentukan metode untuk menetapkan harga akhir dari
pekerjaan yang diperintahkan.
c.       Untuk pekerjaan yang dilaksanakan dimana diperlukan persetujuan terlebih
dahulu atas harga satuan pekerjaan arian yang baru atau tambahan, maka
perintah ini akan dirujuk silang ke,  dan akan disertai dengan variasi (Pekerjaan
tambah/kurang) mencakup harga satuan baru atau tambahan yang disetujui.
d.      Direksi pekerjaan akan menandatangani dan memberikan tanggal perintah
pekerja harian untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

2. Pengukuran dan pembayaran

Pengukuran pekerja untuk pembayaran menurut pekerjaan harian harus dilakukan


menurut jam kerja aktual dari penggunaan pekerja yang disahkan pada harga satuan
untuk sebagai jenis pekerja yang dimasukkan dalam daftar dan kuantitas dan Harga,
dimana harga dan pembayaran itu haruslah merupakan kompensasi untuk biaya-biaya
berikut ini:
 Upah pekerja, pajak, bonus, asuransi, tunjangan hari libur, akomodasi dan fasilitas
kesejahteraan, pengobatan, seluruh tunjangan serta biaya lainnya yang diuraikan
dalam “Peraturan Tenaga Kerja Indonesia”
 Penggunaan dan pemeliharaan perkakas tangan
 Biaya transportasi ked an dari lokasi pekerjaan yang dilaksanakan.
 Seuruh biaya administrasi dan keuangan yang bersangkutan, pengawasan di luar
mandor, dan biaya pelengkap lainnya serta biaya umum (over head) yang
diperlukan untuk memobilisasi pekerja ke lokasi pekerjaan
 Laba

DIVISI 10. PEKERJAAN PEMELIHARAAN RUTIN

Pemeliharaan Rutin Perkerasan


1. Perkerasan Berpenutup Aspal
Pengembalian kondisi terhadap lubang yang lebih besar dari 40 cm x 40 cm, tepi
yang rusak, retak halus yang mencakup lebih dari 10 % dari setiap 100 m panjang,
retak-retak lebar yang memerlukan pengisian celah retak satu per satu, retak
buaya yang dianggap oleh Direksi Pekerjaan bersifat struktural sehingga perlu
digali dan ditambal, dan pekerjaan yang bertujuan untuk memperbaiki lereng
melintang jalan, bentuk atau kekuatan struktural perkerasan yang tidak dipandang
sebagai bagian dari pekerjaan pemeliharaan rutin dan harus diukur dan dibayar
menurut Seksi-seksi yang berkaitan dari Spesifikasi ini untuk bahan yang
digunakan, seperti Campuran Aspal Panas, dan sebagainya.
2. Perkerasan Tanpa Penutup Aspal
Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi seperti pengisian lubang
dan keriting (corrugation), dan perataan ringan dengan "grader" untuk
mendistribusi kembali bahan yang lepas.
Pengembalian kondisi jalan tanpa penutup aspal yang beralur (rutting) atau rusak
berat dengan pengkerikilan kembali selain perataan dengan "grader" tidak boleh
dimasukkan ke dalam pekerjaan pemeliharaan rutin. Pekerjaan perbaikan
semacam ini harus diukur dan dibayar sesuai dengan bahan yang digunakan.

Pemeliharaan Rutin Bahu Jalan

Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi seperti pengisian lubang dengan
agregat bahu jalan, pembuangan semak-semak, rumput-rumput dan penghalang lainnya
yang mengganggu fungsi bahu jalan. Pekerjaan perbaikan bahu jalan berskala besar
yang mencakup pengisian agregat bahu jalan atau penggalian dan pengisian kembali
agregat bahu jalan atau pelaburan bahu jalan tidak boleh dimasukkan ke dalam
pekerjaan pemeliharaan rutin.

Perbaikan bahu jalan semacam itu harus diukur dan dibayar menurut Seksi yang
berkaitan untuk bahan-bahan yang digunakan, seperti Lapis Pondasi Agregat Kelas A, B
atau S, Burtu, dan sebagainya.

Pemeliharaan Rutin Selokan, Selokan Air, Galian dan Timbunan

Pemeliharaan rutin selokan dan saluran air sementara maupun permanen harus
dijadwalkan sedemikian rupa sehingga aliran air yang lancar dapat dijaga selama
Periode Pelaksanaan. Selokan dan saluran air lama maupun yang baru dibuat harus
dijaga agar bebas dari semua bahan yang lepas, sampah, endapan dan pertumbuhan
tanaman yang tidak dikehendaki yang mungkin akan menghalangi aliran air permukaan.
Pemeliharaan semacam itu harus dilaksanakan secara teratur berdasarkan rutinitas dan
segera setelah aliran permukaan akibat hujan lebat telah berhenti mengalir.

Selama periode hujan lebat, Penyedia Jasa harus menyediakan regu pemeliharaan yang
akan berpatroli di lapangan dan mencatat setiap sistem drainase yang kurang berfungsi
akibat penyumbatan atau karena hal lain. Setiap kelainan pada drainase dicatat pada
saat tersebut, seperti luapan air, kekurangan kapasitas, erosi, alinyemen struktur
drainase yang kurang tepat atau rancangan lainnya yang kurang cocok, harus dilaporkan
kepada Direksi Pekerjaan, dan Direksi Pekerjaan akan mengeluarkan perintah yang
sesuai dengan langkah yang harus diambil.

Pekerjaan pemeliharaan rutin untuk timbunan dan galian harus mencakup pemotongan
rumput, semak-semak, dan pohon-pohon kecil yang tingginya sudah lebih dari 5 cm
dan/atau sudah berumur 2 minggu sejak pemotongan terakhir, mana yang lebih dulu
tercapai, untuk memperbaiki penampilan di dalam atau di samping jalan yang dibangun
atau memperbaiki jarak pandang atau tikungan selama Periode Pelaksanaan fisik.
Pekerjaan memotong tersebut harus tersisakan tidak lebih tinggi dari 5 cm. Pekerjaan
lain yang mencakup perbaikan lereng yang tidak stabil, pekerjaan pengembalian kondisi
atau perbaikan drainase yang bersangkutan dan stabilitas dengan tanaman harus
dilaksanakan dan dibayar menurut ketentuan.

Pemeliharaan Rutin Perlengkapan Jalan

Pekerjaan pemeliharaan harus mencakup operasi seperti pembersihan dan perbaikan


rambu jalan, patok pengaman dan patok kilometer yang rusak, perbaikan rel pengaman
dan pengecatan kembali huruf yang tak terbaca pada rambu jalan. Tidak menimbulkan
goresan atau garutan pada rambu jalan dalam proses pembersihan dan perbaikan rambu
jalan. Penyediaan rambu jalan, patok pengarah, patok kilometer atau rel pengaman yang
baru, baik pada lokasi baru atau mengganti bagian-bagian yang rusak atau pengecatan
marka jalan harus dianggap sebagai pekerjaan perlengkapan jalan dan pengatur lalu
lintas dan harus dibayar secara terpisah

Pemeliharaan Rutin Jembatan

Pekerjaan pemeliharaan rutin harus mencakup operasi seperti pemeriksaan secara


teratur dan pelaporan semua kondisi komponen utama dari struktur maupun
pembersihan saluran dan lubang drainase, pembersihan kotoran dan sampah pada
sambungan ekspansi, perletakan dan komponen logam lain yang peka terhadap karat
dan pembuangan akumulasi sampah dan/atau tanah sedimen atau endapan yang
diakibatkan oleh banjir pada saluran air. Perbaikan, pengembalian kondisi dan
penggantian beton, komponen baja atau kayu yang rusak pada struktur jembatan,
pengecatan kembali fbaja struktur atau baja lainnya atau struktur kayu, penggantian
bahan pada lantai struktur, dan perbaikan dan pengembalian kondisi setiap lapisan aspal
di atas lantai struktur yang rusak tidak boleh dimasukkan ke dalam pekerjaan
pemeliharaan rutin jembatan. Pekerjaan pengembalian kondisi dan perbaikan seperti itu
harus dibayar menurut Seksi lain yang berkaitan dari Spesifikasi

Di daerah bangunan atas jembatan dan bangunan bawah jembatan, operasi


pembersihan dan pembabatan yang berikut harus dilaksanakan sampai diterima oleh
Direksi Pekerjaan;

Semua tanaman yang berjuntai harus dipotong secukupnya dan sampahnya dibuang
dengan rapi;
1. Semua lubang sulingan yang disediakan pada abutment dan tembok sayap harus
bebas dari sampah-sampah yang menyumbatnya.
2. Semua dudukan jembatan dan kepala pier harus dijaga supaya bebas dari
sampah, kotoran dan air.
3. Semua sambungan pada permukaan kayu harus dijaga agar bebas dari sampah
dan kotoran sedemikian hingga tidak menyimpan air yang akan mempercepat
proses pelapukan;
4. Semua permukaan baja harus dijaga agar bebas dari sampah dan kotoran
sedemikian hingga tidak menyimpan air yang akan mempercepat proses korosi.
5. Semua lubang pembuangan air, pipa buangan air, saluran drainase dan lubang
keluaran harus dijaga bersih dari sampah supaya air dapat mengalir bebas,
sehingga terhindar dari limpahan air pada perletakan, dudukan perletakan dan
rembesan melalui sambungan atau retak-retak.
6. Paku, baut jembatan atau pecahan kayu tidak boleh menonjol di atas permukaan
lantai jembatan sehingga dapat menusuk ban kendaraan yang lewat.
Pekerjaan pemeliharaan rutin yang diuraikan dalam Pasal di atas harus dibayar dari
harga lump sum dalam Kontrak untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah dan
dalam Daftar Kuantitas, dimana harga tersebut harus mencakup semua kompensasi
Penyedia Jasa untuk penyediaan semua bahan, pekerja, peralatan, perkakas dan
keperluan lainnya yang perlu atau lazim.

Penyedia Jasa
.........................
....................
Direktur