Anda di halaman 1dari 19

Makalah Akuntansi Keperilakuan

Aspek Keperilakuan dalam Auditing

Kelompok 5:
Ni Wayan Rimayani (C301 18 007)
Rizki Rahmadani (C301 18 009)
Cathlyn Jade Wagiri (C301 18 018)
Sasmita (C301 18 026)
Ni Made Parwati (C301 18 033)
Ni Dewa Ayu Linda Putri (C301 18 047)

PROGRAM STUDI S1 EKONOMI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TADULAKO
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur selalu kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas berkat dan
rahmatnnya yang telah memberikan pengetahuan, kemampuan dan kesempatan kepada para
penyusun sehingga mampu meyelesaikan penyusunan makalah “Aspek Keperilakuan dalam
Auditing”. Makalah ini ditulis sebagai tugas mata kuliah Akuntansi Keperilakuan.

Kami selaku penyusun sangat menyadari bahwa kami masih memiliki kemampuan
yang kurang dalam penulisan makalah sehingga dalam makalah ini masih terdapat
kekurangan-kekurangan dikarenakan keterbatasan kami. Untuk itu kami akan sangat
terbuka pada masukan yang bersifat membangun karena kedepannya akan sangat
membantu kami selaku penyusun untuk berkembang dan mengatasi kekurangan kami.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada para dosen pembimbing mata kuliah
ini dan juga kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah
ini. Semoga kedepannya makalah ini dapat membantu para pembaca. Sekali lagi kami
ucapkan terima kasih.

Palu, 23 November 2020

Kelompok 5

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang ...................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ 3

1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................................. 3

Bab II

Pembahasan

2.1 Hakikat Audit ....................................................................................................... 4

2.2 Pertimbangan dan Pengambilan Keputusan dalam Audit .................................... 5

2.3 Rational Emotive Therapy dalam Audit ............................................................... 7

2.4 Fenomena Kelompok dalam Audit ....................................................................... 9

Bab III

Penutup

3.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 14

3.2 Saran ................................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Akuntansi merupakan suatu sistem untuk menghasilkan informasi keuangan
yang digunakan oleh pemakainya untuk menghasilkan keputusan bisnis. Tujuan
informasi ini adalah memberikan petunjuk dalam memilih tindakan yang paling baik
untuk mengalokasikan sumber daya yang langka pada aktivitas bisnis dan ekonomi.
Namun pemilihan dan penetapan suatu keputusan bisnis juga melibatkan aspek -
aspek keperilakuan dari pengambil keputusan. Dengan demikian, akuntansi tidak
dapat dilepaskan dari aspek perilaku manusia serta kebutuhan organisasi akan
informasi yang dapat dihasilkan oleh akuntasi. Akhirnya akuntansi bukanlah sesuatu
yang statis, akan tetapi selalu berkembang agar dapat memberikan informasi yang
dibutuhkan oleh penggunanya.
Audit pada saat ini menjadi bagian penting dalam dunia akuntansi. Selain
pemahaman umum atas pentingnya fungsi audit, peningkatan atas keberadaan auditor
dan lembaganya juga menambah pemahaman umum terhadap audit. Lebih lanjut
lagi, tuntutan-tuntutan hukum yang biasanya dihadapi oleh auditor dan kerugian
keuangan yang terkait dengan tuntutan tersebut memunculkan berbagai dimensi
keperilakuan pada diri auditor, khususnya aspek-aspek yang terkait dengan proses
pengambilan keputusan dan aktivitas auditor dalam mempertimbangkan sesuatu
sebelum mengambil keputusan. Terdapat banyak hal yang perlu dipertimbangkan
sebagai data pendukung dalam pengambilan keputusan yang mengarah pada aspek
keperilakuan auditor.
Salah satu karakteristik yang membedakan akuntan publik dengan auditor
internal berkaitan dengan keterikatan secara pribadi. Akuntan publik terikat dengan
catatan – catatan suatu organisasi dan prinsip – prinsip akuntansi yang dibangun oleh
badan profesi akuntansi. Sebaliknya, auditor internal terkait dengan aktivitas –
aktivitas manajemen dan orang-orang yang menjalankan operasi organisasi. Selain
itu, auditor internal juga berkaitan dengan standar yang biasanya dikembangkan oleh
bagian lain dengan memastikan kepatuhan terhadap prosedur, undang – undang serta

1
praktik bisnis yang bersih. Praktik ini meliputi pelaksanaan praktik yang ekonomis
dan operasi yang efisien serta penetapan standar operasional untuk pencapaian
efektivitas.
Hakikat dari audit adalah proses pembuktian oleh orang independen (imparsial)
terhadap suatu asersi manajemen dengan menggunakan judment (pertimbangan) dan
bukti yang membuktikan (evindential matter). Pengauditan adalah suatu kegiatan
yang penting. Setiap organisasi atau perusahaan selayaknya secara suka rela
melakukan audit untuk memberikan umpan balik atas kinerja yang telah dilakukan.
Audit dilakukan oleh auditor yang jati dirinya adalah seorang manusia. Komputer
atau malahan robot sekalipun bisa saja membantu proses pengauditan, tetapi tetap
saja manusia yang menentukan dalam memberikan pertimbangan dan pengambilan
keputusan. Manusia dengan segala keterbatasannya akan menentukan kualitas
pertimbangan yang dihasilkan. Ada faktor human being ( keinginan manusia), emosi
dan subjektivitas.
Menurut siegel dan Marconi (1989) seharusnya auditor terlepas dari fakto-faktor
personalitas dalam melakukan audit. Personalitas akan bisa menyebabkan kegagalan
audit sekaligus membawa resiko yang tinggi bagi auditor. Untuk itu risiko inheren
dalam audit harus diperhitungkan dengan baik. Ada dua tipe yang dihadapi oleh
auditor;
1. Auditor dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap lingkungan audit.
2. Auditor harus menyelaraskan dan sinergi dalam pekerjaan kelompok, sehingga
perlu ada proses riview di dalamnya. Interaksi ini akan banyak menimbulkan
proses keperilakuan dan sosial.

Dalam lingkungan yang kompetitif, kantor akuntan publik (KAP) harus secara
teratur memonitor praktik-praktik terbaik yang menjamin profesionalisme karyawan
secara efektif dan efisien. Penempatan staf yang cocok dalan tim audit menjadi
sesuatu yang harus diperhatikan. Tim adalah kelompok. Banyak pertimbangan audit
yang dibuat oleh kelompok,sebagaimana halnya individu. Interaksi kelompok
merupakan fungsi dari preferensi individu yang ada di dalamnya.

2
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa pengambilan keputusan kelompok
memiliki kinerja yang lebih menguntungkan daripada pengambilan keputusan
secara individual. Ivancevch dan Mattenson (2002) menyebutkan yang dimaksud
dengan kelompok adalah dua orang atau lebih berinteraksi untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Ada dua tipe kelompok yaitu kelompok formal dan kelompok non
formal, kelompok formal terdiri dari ; perintah, tugas dan tim. Sedangkan yang non
formal ; terdiri dari kelompok kepentingan dan pertemanan.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa audit internal mengevaluasi


aktivitas yang dilakukan oleh orang – orang dan dengan demikian terdapat
hubungan pribadi antara orang yang melakukan evaluasi dengan orang yang
dievaluasi dan dengan para auditor. Hubungan antara dua kelompok yang menjadi
subjek konflik atau subjek sinerji saling berkaitan. Audit internal seharusnya
menguasai hubungan interpersonal dalam menawarkan penilaian terhadap keduanya
dalam usaha audit. Oleh karena itu, sejumlah aktivitas interpersonal yang dapat
menilai hubungan positif dan dapat diharapkan untuk berhasil dalam praktik audit
internal.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa hakikat audit?
1.2.2 Bagaimana pertimbangan dan pengambilan keputusan dalam audit?
1.2.3 Bagaimana rational emotive therapy dalam audit?
1.2.4 Bagaimana fenomena kelompok dalam audit?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Mengetahui hakikat audit.
1.3.2 Mengetahui pertimbangan dan pengambilan keputusan dalam audit.
1.3.3 Mengetahui rational emotive therapy dalam audit.
1.3.4 Mengetahui fenomena kelompok dalam audit.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Audit


Hakikat dari audit adalah proses pembuktian dari orang independen (imparsial)
terhadap suatu asersi manajemen dengan menggunakan judgment (pertimbangan)
dan bukti yang membuktikan (evidential matter). Pengauditan merupakan suatu hal
yang penting. Setiap organisasi atau perusahaan selayaknya secara sukarela
melakukan audit untuk memberikan umpan balik atas kinerja yang telah dilakukan.
Audit dilakukan oleh auditor yang jati dirinya adalah seorang manusia. Komputer
atau malahan robot sekalipun bisa saja membantu proses pengauditan, tetapi tetap
saja manusia yang menentukan dalam memberikan pertimbangan dan pengambilan
keputusan. manusia dengan segala keterbatasannya akan menentukan kualitas
pertimbangan yang dihasilkan. Ada faktor human being (keinginan manusia), emosi,
dan subjektivitas.
Menurut siegel dan Marconi (1989) seharusnya auditor telepas dari faktor-faktor
personalitas dalam melakukan audit. Personalitas akan dapat menyebabkan
kegagalan audit sekaligus membawa resiko yang tinggi bagi auditor. Untuk itu resiko
inheren dalam audit harus diperhitungkan dengan baik. Ada dua tipe keperilakuan
yang dihadapi oleh auditor:
1. Auditor dipengaruhi oleh presepsi mereka terhadap lingkungan audit. Misalnya
ketika menilai pengendalian intern yang diterapkan oleh perusahaan. Perusahaan
besar akan dianggap memiliki pengendalian intern yang memadai padahal belum
tentu demikian.
2. Auditor harus menyelaraskan dan sinergi dalam pekerjaan mereka, karena audit
hakikatnya adalah pekerjaan kelompok, sehingga perlu ada proses review
didalamnya. Interaksi ini akan banyak menyimpulkan proses keperilakuan dan
sosial.

4
2.2 Pertimbangan dan Pengambilan Keputusan dalam Audit
Dalam beberapa decade tahun berlakangan ini para akademisi menaruh
perhatian yang sangat serius terhadap pertimbangan (judgment) dalam pengauditan.
Pertimbangan auditor dipengaruhi oleh persepsi terhadap situasi yang ada.
Pertimbangan auditor dipengaruh oleh pendidikan, budaya, dan pengalaman. Tabel
berikut ini menyajikan proses audit yang membutuhkan pertimbangan auditor.
Aktivitas pertimbangan Hasil penilaian
Menetapkan materialitas a. Meaterialitas akuntansi
b. Materialitas audit
c. Resiko bisnis
Mengidentifikasi tujuan dan asersi d. Audit area
audit yang penting e. Aliran transaksi
f. Asersi laporan keuangan
Menilai lingkungan resiko inheren g. Implikasi lingkungan klien untuk
mengidentifikasi struktur
pengendalian
h. Penilaian resiko inheren untuk
laporan keuangan
Mengevaluasi pengendalian internal i. Pemperbaiki efisiensi dan efektivitas
audit
j. Resiko pengendalian untuk asersi
laporan keuangan
k. Kelemahan dalam pengendalian
Mengembangkan strategi audit l. Hasil terhadap uji pengendalian
m. Kemungkinan pendekatan audit
yang berbeda
n. Penekanan terhadap keseimbangan
atau aliran transaksi
o. Identifikasi terhadap asersi strategik
Mengembangkan program audit p. Memilih kombinasi yang tepat dari

5
prosedur audit spesifik dan
menentukan ruang lingkup dan
waktu aplikasi
Memilih dan mengevaluasi prosedur q. Prosedur tertentu untuk diaplikasikan
review analitis r. Pengembangan ekspektasi
s. Formulasi untuk menjelaskan
fluktuasi
Mengevaluasi hasil-hasil dari t. Kesimpulan terhadap prosedur audit
pengajuan audit spesifik dalam kaitan dengan tujuan
dan hasil yang diperoleh
Menentukan status going concern u. Status going concern perusahaan satu
perusahaan tahun kedepan
Mengaplikasikan standar audit yang v. Identifikasi terhadap standar auditing
berterima umum dan perinsip-prinsip w. Identifikasi terhadap arah dari
akuntansi standar audit yang diaplikasikan
Mengaplikasikan aturan-aturan x. Ada pelanggaran etik atau tidak
mengenai kode etik
Memilih opini audit yang tepat y. Apakah laporan keuangan telah
disajikan secara wajar selama satu
periode akuntansi

Ada beberapa pertanyaan penting dalam aspek keperilakuan dalam pengauditan:

a. Apakah level consensus dalam pertimbangan auditor?


b. Bagaimana membuat pertimbangan auditor yang akurat?
c. Apakah pertimbangan auditor konsisten?
d. Apakah auditor menggunakan anchoring dan adjustment, representativeness
dan availability ketika membuat pertimbangan?
e. Apakah pengaruh heuristic bias dalam pertimbangan auditor?
f. Apakah auditor tidak percaya diri?

6
2.3 Rational Emotive Threrapy dalam Audit
Menurut Goleman (2007) untuk menjadi auditor yang mampu melaksanakan
tanggungjawabnya dengan menjungjung tinggi etika profesinya, kecerdasan
intelektual hanya menyumbang 20%, sedangkan 80% dipengaruhi bentuk-bentuk
kecerdasan yang lain, salah satunya adalah kecerdasan emosional. Dengan
kecerdasan emosional seorang auditor diharapkan mampu mengatur perasaan dengan
baik, mampu memotivasi diri sendiri, berempati ketika menghadapi gejolak emosi
diri maupun diri orang lain, fleksibel dalam situasi dan kondisi yang sering berubah,
sehingga dengan akal sehat mampu berfikir positif dalam menghadapi tekanan dan
gangguan yang dapat mempengaruhi independensinya. Dengan demikian, hasil
pemeriksaan yang dilaksanakan tidak memihak pihak manapun.
Lima komponen untuk membentuk kecerdasan emosional seorang auditor
adalah:
1. Mengenali emosi diri: kesadaran diri untuk mengenali perasaan sewaktu
perasaan itu terjadi merupakan kecerdasan emosional. Kemampuan untuk
memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan merupakan hal penting bagi
wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mencermati
perasaan diri sendiri yang sesungguhnya membuat kita berada dalam kekuasaan
perasaan.
2. Mengelola emosi: mengelola emosi berarti mengenai perasaan agar perasaan
dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat
bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila
mampu menghibut diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan,
kemurungan atau ketersinggungan dan mampu bangkit kembali dengan cepat.
Sebaliknya orang yang buruk kemampuannya dapat mengelola emosi akan terus
bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negative
yang merugikan dirinya sendiri.
3. Memotivasi diri sendiri: kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri
melalui bagaimana caranya mengendalikan dorongan hati, derajat kecemasan
yang berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Dengan kemampuan memotovasi

7
diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang
positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.
4. Mengenali emosi orang lain: empati atau mengenai emosi orang lain dibangun
berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada pada emosi diri,
maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain.
Sebalinya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri
dapat dipastikan tidak akan mempu menghormati perasaan orang lain.
5. Membina hubungan dengan orang lain: seni dalam membina hubungan dengan
orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan
pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan seseorang akan
mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. Orang yang tidak memiliki
keterampilan ini akan dianggap angkuh, menggangu atau tidak perperasaan
terhadap orang lain.

Untuk mengatasi keperilakuan sebagai upaya meningkatkan kualitas pertimbanga,


Shannon dan Stevens dalam Siegel dan Marconi (1989) mengusulkan suatu terapi
yang disebut dengan Rational-Emotive therapy (RTE).

Tujuan RTE adalah untuk memperoleh suatu kondisi emosional dari netralitas-
untuk mengeliminasi sebanyak mungkin perasaan negative yang tidak diinginkan.
Ini berdasarkan ide dimana seseorang mungkin lebih mudah memecahkan suatu
permasalahan dalam suasana pikiran yang tenang dibandingkan ketika seseorang
mendekati suatu permasalahan dalam kondisi marah, cemas, atau depresi.

RET menekankan pada urutan (1) sebuah pemicu terjadinya peristiwa atau
kejadian, (2) pemikiran atas peristiwa tersebut, dan (3)perasaan tentang hasil dari
peristiwa. Sebagai contoh, jika seseorang menyalip dari samping kiri anda dijalan
atau memotong antrian anda, rasa marah bisa terjadi tanpa disadari. Contoh ini
mungkin tidak membangkitkan anda tetapi banyak terdapat peristiwa yang tidak
mengenakkan. RET pertama mencari untuk membuat anda mempertimbangkan
dengan hati-hati apa yang anda pikirkan tentang peristiwa-apa yang dipikirkan

8
menciptakan emosi yang mana? Kemudian, pikiran dievaluasi dengan menanyakan
pada diri sendiri:

1. Apakah pikiran didasarkan pada faktor objektif dan buka opini subjektif?
FAKTA?
2. Jika dilakikan akankah itu menghasilkan tujuan saya paling cepat? TUJUAN?
3. Jika dilakukan akankah itu mencegah konflik yang tidak diinginkan dengan
orang lain? KONFLIK?
4. Jika dilakukan akankah itu membantu dalam pengendalian diri saya?
PERLINDUNGAN DIRI?
5. Apakah itu menyebabkan saya untuk merasakan dengan cara yang saya suka
untuk merasakan? PIKIRAN YANG DISUKAI?

Setelah penyaringan evaluasi ini telah selesai, perasaan seseorang tentang peristiwa
semestinya netral

2.4 Fenomena Kelompok dalam Audit


Dalam lingkungan yang kompetitif, kantor akuntan public (KAP) harus secara
teratur memonitor praktik-praktik terbaik yang menjamin profesionalisme karyawan
secara efektif dan efisien. Penempatan staf yang cocok dalam tim audit menjadi suatu
yang harus diperhatikan. Tim adalah kelompok. Banyak pertimbangan audit yang
dibuat oleh kelompok, sebagaimana halnya individu. Interaksi kelompok merupakan
fungsi dari preferensi individu yang ada di dalamnya.
Penelitian psikologi menunjukan bahwa pengambilan keputusan kelompok
memiliki kinerja yang lebih menguntungkan daripada pengambilan keputusan secara
individual. Ivancevich dan Mattesson (2002) menyebutkan yang dimaksudkan
dengan kolompok adalah dua orang atau lebih berinteraksi untuk mencapai suatu
tujuan tertentu. Ada dua tipe kelompok yaitu kelompok formal terdiri dari perintah,
tugas dan tim, kelompok nonformal terdiri dari kelompok kepentingan dan
pertemanan. Kelompok perintah adalah spesifikasi dalam organisasi yang dibuat
bawahan untuk melaporkan sesuatu kepada atasan, sedangkan kelompok tugas terdiri
dari karyawan yang bekerja secara bersama untuk tugas atau proyek tertentu.

9
Kelompok non formal adalah pengelompokan secara alamiah dalam lingkungan kerja
untuk merespons kebutuhan sosial. Kelompok kepentingan adalah kumpulan
individu-individu yang mempunyai keuntungan dan tujuan tertentu. Kelompok
kepentingan biasanya sangat kental terjadi di organisasi politik. Kelompok
pertemanan adalah kelompok yang anggotanya berdasarkan karakteristik umur,
kepentingan sosial dan latar belakang etnis/komunitas.
Dalam konteks pengambilan keputusan, kelompok biasanya memerlukan waktu
yang panjang. Akan tetapi dengan adanya individu yang spesialis dan ahli maka ini
akan memberikan manfaat dalam membuat keputusan yang baik. Ivancevich dan
Mattesson (2002) juga menyatakan untuk mencapai hasil yang terbaik, maka anggota
kelompok harus mengembangkan kreativitas sebagai suatu proses dialogis, yaitu
anggota kelompok menghasilkan cerita atau ide-ide yang berguna untuk
menyelesaikan suatu permasalahan.
Menutut Sutton dan Hayne (1997) pertimbangan dan pengambilan keputusan
kelompok secara umum lebih baik dibandingkan dengan individu karena sejumlah
alasan: (1) kelompok lebih banyak memiliki pengetahuan dan informasi, (2)
kelompok menyediakan suatu pendekatan pemecahan masalah yang beragam
dibandingkan dengan individu, (3)partisipasi dalam pemecahan masalah meningkat
dalam kelompok, karena tanggung jawab yang diterima masing-masing anggota
kelompok, (4) kelompok membuat komunikasi dan interaksi yang lebih baik selama
penyelesaian masalah hingga tercipta suatu consensus.
Selanjutnya, Sutton dan Hayne menyebutkan wilayah (domain) mekanisme kerja
audit dengan menggunakan kelompok dibagi menjadi 3 kelompok besar. Pertama,
kelompok hierarki yang memfokuskan pada proses telaah audit antara atasan dengan
bawahan. Mekanisme ini sudah biasa dilakukan dalam lingkungan kantor akuntan
pada saat penyelesaian pekerjaan lapangan. Kedua, interaksi antara anggota
kolompok selevel (peer group interactions) yaitu proses interaksi yang terjadi antara
anggota kelompok untuk mencapai consensus. Ketiga, group support systems dengan
komputer yaitu proses pengambilan keputusan dengan bantuan teknologi informasi.
Interaksi peer group berkonsentrasi pada 5 area: (1) consensus kelompok,
kepercayaan atau konsistensi, (2) akurasi keputasan kelompok, (3) pengaruh

10
kelompok terhadap resiko, (4) kemampuan kelompok untuk mengenali keahlian
anggota dan, (5) strategi pemrosesan informasi oleh kelompok. Kelompok hierarki
dalam audit mempresentasikan terjadi proses telaah antara atasa dan bawahan. Pada
sisi lain peer groupi mencerminkan kelompok dengan anggota-anggota yang selevel.
Ashton et all., (1988) mengindikasikan bahwa peer group sangat penting dalam
meningkatkan aktivitas tim audit terutama dalam perencanaan audit yaitu suatu
aktivitas yang dilakukan untuk merencanakan audit agar dapat berjalan secara efektif
dan efisien dan fase pelaporan yaitu suatu aktivitas akhir dalam menentukan pilihan
laporan audit yang diterbitkan.
Beberapa studi juga menemukan bahwa kelompok lebih baik dari individu
dalam hal mengidentifikasi potensi terjadinya kesalahan dalam laporan keuangan
tetapi tidak lebih baik ketika mengevaluasi kesalahan itu sendiri. Isu-isu mengenai
keputusan mengenai disclosure juga lebih baik ketika menggunakan tim
dibandingkan individu. Pengelola-pengelola kantor akuntan sebenarnya sangat
menaruh perhatian pada studi-studi yang mengkaji fenomena kelompok dalam
pengambilan keputusan audit. Ketika dihadapkan dengan tugas-tugas yang
kompleks, kantor akuntan membutuhkan ide-ide alternatif untuk memecahkan
masalah. Itulah keuntungan dari mempelajari pengambilan keputusan secara
kelompok sekaligus melihat praktik-praktik terbaiknya. Beberapa tugas audit yang
membutuhkan proses keputusan kelompok adalah:
1) Mengidentifikasi resiko inheren, resiko kecurangan, dan faktor-faktor resiko
pengendalian selama mengembangkan perencanaan audit. Resiko inheren adalah
resiko yang dibawa oleh auditor pada saat mengaudit, resiko kecurangan adalah
resiko kesalahan auditor dalam mendeteksi terjadinya error dan irrequlirity
perusahaan klien, sedangkan resiko pengendalian adalah resiko kesalahan
menilai sistem pengendalian intern yang dikembangkan oleh perusahaan.
Kesalahan dalam mengidentifikasi seluruh faktor-faktor resiko yang relevan
akan berdampak pada fase-fase lainnya dalam audit.
2) Mengidentifikasi isu-isu going concern (keberlangsungan) perusahaan dan
faktor-faktor potensial yang bisa memitigasinya. Standar Profesional Akuntan
Publik (SPAP) Seksi 341 mewajibkan para auditor untuk mengevaluasi apakah

11
terdapat kesangsian besar mengenai kemampuan satuan usaha untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka waktu yang pantas.
Evaluasi penilaian kelangsungan usaha merupakan pertimbangan yang krusial
dalam audit, karena tingkat kesulitannya tinggi (Ashton dan Kennedy 2002)
sehingga diperlukan upaya dan kapasitas yang lebih besar. Pertimbangan
kelansungan usaha dapat dikarakterisasi sebagai suatu proses perbaikan
keyakinan berurutan, auditor mengidentifikasikasi sebuah perusahaan
“bermasalah” dan kemudian mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti
tambahan untuk memutuskan apakah akan memodifikasi laporan auditnya atau
tidak.
3) Mengidentifikasi isu-isu yang relevan dalam memilih bentuk yang tepat dari
opini audit. Memilih opini audit yang tepat bukan pekerjaan yang mudah,
terutama ketika berada pada posisi “grey area” atau wilayahnya abu-abu. Untuk
itulah diperlukan pertimbangan kelompok dalam suatu focus group discussion
yang melakukan brainstorming secara intentif.
4) Mengidentifikasi isu-isu yang relevan dengan catatan atas laporan keuangan.
Catatan atas laporan keuangan bukan hanya sekedar “catatan yang tak
bermakna” tetapi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
keuangan secara keseluruhan. Untuk itu diperlukan diskusi kelompok supaya
catatan laporan keuangan lebih berbunyi dan substantive.

Pertanyaan muncul. Bagaimana cara meningkatkan efektivitas keputusan? Untuk itu


auditor harus memahami keuntungan dan resiko ketika pengambilan keputusan audit
dilakukan secara kelompok seperti yang tersaji pada tabel berikut:

Keuntungan
Karakteristik
 proses keputusan kelompok lebih
Penyatuan, pengetahuan, koreksi
kaya dengan ide-ide segar
kesalahan, dan simulasi memori
 anggota kelompok mampu
melakukan koreksi kesalahan
 kontribusi oleh satu anggota bisa

12
menjadi inspirasi bagi yang lainnya
 ada anggota kelompok yang tidak
Blocking idea, dominasi, free riding,
memberikan informasi yang utuh
dan sosialisasi
kepada anggota lainna dalam satu
diskusi
 ada satu orang yang mendominasi
jalannya diskusi
 ada satu orang yang bisa saja
menjadi “pengembira” atau
“penumpang gelap”
 anggota kelompok terkadang lebih
mementingkan sosialisasi
dibandingkan tugas ditangan.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Auditor menunjukkan sebagian besar perilaku manusia, tetapi sifat audit
menimbulkan beberapa masalah perilaku unik. Audit berasal dari bahasa latin yaitu
audire yang artinya mendengar. Sedangkan menurut istilah artinya memeriksa bukti
berdasarkan pada penilaiannya. Sedangkan hakikat dari audit adalah proses
pembuktian oleh orang independen (impersial) terhadap suatu asersi manajemen
dengan menggunakan judgment (pertimbangan) dan bukti yang membuktikan
(avidential matter).
Ada 2 tipe keprilakuan yang dihadapi oleh auditor, yaitu auditor dipengaruhi
oleh persepsi mereka terhadap lingkungan audit, dan auditor harus menyelaraskan
dan sinergi dalam Pekerjaan mereka, karena audit hakikatnya adalah pekerjaan
kelompok, sehingga perlu ada proses.
Dalam pembahasan ini terdapat 2 tipe dasar audit akuntansi audit eksternal atau
audit keuangan independen dan sebaliknya ialah audit internal atau auditoperasional.
Lingkup dari audit keuangan biasanya terfokus pada asersi tentang "kewajaran" dari
laporan keuangan. Ada dua tipe situasi terkaitdengan perilaku yang memunculkan
dilema bagi auditor, yaitu auditor dipengaruhi secara mendalam sering kali diluar
sadarnya oleh persepsinya tentang lingkungan audit pada suatu saat (yang selalu
berubah) dan dipengaruhi oleh opininya tentang orang-orang yang terlibat,
auditorsecarakonstan harus menata diri mereka sendiri terkait dengan banyaknya
relasi interpersonal, misalnya relasi dengan kolega, dengan bawahan atau atasan,
dan dengan klien.
Penilaian auditor tergantung pada persepsi dari sebuah situasi.Judgmentadalah
perilaku yang paling berpengaruh oleh persepsi situasi.Faktor yang berpengaruh
adalah materialitas dan keyakinan.Beberapa caratersedia bagi individu untuk self-
analysis dan self-help (hubungan interpersonal auditor). Namun di sini hanya
dibatasi 2 metode, yang satu diadaptasi dari psikiatri yang menyediakan dasar

14
teoritis, dan yang satu lagi mengikuti program yang dibentuk oleh psikolog, yaitu
transactional analysis dan rational emotve therapy.
Dalam lingkungan kompetitif, kantor akuntan public (KAP) harus secara teratur
memonitoring praktik-praktik terbaik yang menjamin profesionalisme karyawan
secara efektif dan efisien. Ada 2 tipe kelompok yaitu, kelompok formal terdiri dari
perintah, tugas, dan tim dan kelompok non formal terdiri dari kelompok kepentingan
dan pertemanan.

3.2 Saran
Sebagai mahasiswa akuntansi, kita harus memahami aspek keperilakuan dalam
auditing. Karena keputusan auditor dipengaruhi oleh keperilakuan mereka.

15
DAFTAR PUSTAKA

Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keperilakuan: Teori dan Implementasi, Yogyakarta:


Penerbit Andi

https://www.coursehero.com/u/file/51308244/akpril-pont-1-
4docx/?justUnlocked=1#question

http://irma-yuni.blogspot.com/2012/06/pola-keperilakuan-auditor.html

http://kurniatynawawi.blogspot.com/2012/06/aspek-keperilakuan-dalam-audit.html

iii

Anda mungkin juga menyukai