Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PEMICU 3 BLOK 10

“Nggak Pe-De bicara dengan orang lain”

Disusun oleh:

Nandez Vieri

190600107

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit diabetes melitus atau yang lebih dikenal dengan penyakit kencing
manis adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar
glukosa dalam darah atau hiperglikemia. Menurut American Diabetes Association
tahun 2014, diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis
dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya kemampuan
dalam memetabolisme karbohidrat. Diabetes melitus dan komplikasinya telah menjadi
masalah yang serius, serta merupakan penyebab penting dari angka kesakitan,
kematian, dan kecacatan di seluruh dunia.
Pada penderita DM sering ditemukan beberapa kelainan yang bermanifestasi
pada mukosa mulut. Beberapa manifestasi yang sering muncul berupa infeksi
kandidiasis, burning mouth syndrome, oral lichen planus, stomatitis aftosa rekuren,
xerostomia dan disfungsi kelenjar saliva. Xerostomia terjadi sekitar 40-80% pada
pasien DM yang dikaitkan dengan penurunan laju aliran saliva, baik pada pasien DM
yang terkontrol maupun yang tidak terkontrol.
1.2. Deskripsi Topik
Nama Pemicu : Nggak Pe-De bicara dengan orang lain
Narasumber : Dr. Filia Dana T, drg., M.Kes.; Dr. Ameta Primasari, drg., MDSc.,
M.Kes., Sp. PMM; Rehulina, drg., M.Si.
Skenario :
Seorang pasien laki-laki usia 60 tahun datang ke praktik dokter gigi, dengan
keluhan gusi sering mengalami pembengkakan, berdarah, nafas berbau dan tidak
nyaman, gigi goyang, mulut kering dan selalu terasa haus, serta sering buang air kecil.
Hasil pemeriksaan intraoral, gigi 31-32-41-42 mobility grade 2, mulut kering dan
kebersihannya buruk. Terlihat adanya plak supra dan subgingiva, gingiva berwarna
merah, mudah berdarah dan sakit. Terlihat juga adanya atrofi papila lidah. Hasil
pemeriksaan laboratorium didapati kadar gula darah 400 mg/dL. Dokter mencurigai
adanya kelainan patologis klinis.
Untuk mendukung pemeriksaan klinis dilakukan foto rontgen; dari pemeriksaan
tersebut ditemukan adanya resesi tulang alveolar pada region rahang bawah anterior.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Jelaskan penyakit sistemik yang diderita pasien pada kasus di atas.


Diabetes Mellitus (DM) merupakan kelainan metabolik dengan etiologi
multifaktorial. Penyakit ini ditandai dengan hiperglikemia kronis dan mempengaruhi
metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak. Penyandang DM akan ditemukan dengan
berbagai gejala seperti poliuria (banyak berkemih), polidipsia (banyak minum), dan
polifagia (banyak makan) dengan penurunan berat badan. DM jangka waktu lama
menimbulkan rangkaian gangguan metabolik yang menyebabkan kelainan patologis
makrovaskular dan mikrovaskular.1
Penegakan diagnosis diabetes dengan cara; (1) Gejala DM seperti rasa haus serta
poliuria dan hasil pemeriksaan glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl (11,1 mmol/1), (2)
atau FPG (kadar glukosa puasa) ≥ 126 mg/dl (7,0 mmol/l), (3) atau glukosa plasma 2 jam
setelah makan (2 jam pp) ≥ 200 mg/dl (11,1 mmol/l) selama pelaksanaan TTGO dan (4)
untuk keperluan skrining pada populasi dapat digunakan kriteria kadar glukosa puasa atau
2 jam pp sesudah pemberian per oral 75 gram glukosa.1
Klasifikasi etiologi kelainan glikemia (DM) sebagai berikut: (1) Tipe 1, ditandai
dengan kegagalan produksi insulin yang parsial atau total oleh sel-sel B pankreas. Faktor
penyebab masih belum dimengerti dengan jelas tetapi beberapa virus tertentu, penyakit
autoimun, dan faktor-faktor genetik mungkin turut berperan. (2) Tipe 2, ditandai dengan
resistensi insulin ketika hormon insulin diproduksi dengan jumlah yang tidak memadai
atau dengan bentuk yang tidak efektif. Ada korelasi genetik yang kuat pada tipe diabetes
ini dan proses terjadinya berkaitan erat dengan obesitas. Anak dengan diabetes tipe 2
dilaporkan memiliki riwayat penyakit kardivaskular dalam keluarga dan atau sindrom
metabolik.1
Tipe lain DM, yaitu (3) Tipe spesifik lainnya, berupa defek genetik pada fungsi sel-
B, defek genetik pada kerja insulin, penyakit pada kelenjar eksokrin pankreas,
endokrinopati, ditimbulkan oleh obat-obatan atau zat kimia, infeksi, bentuk immune-
mediated diabetes yang langka. Kadang-kadang sindrom genetik lain yang disertai
diabetes. (4) Diabetes gestasional: bentuk diabetes yang terjadi selama kehamilan.
Kebanyakan, tapi tidak semuanya akan sembuh setelah melahirkan.1
Berdasarkan skenario pada kasus di atas, penyakit sistemik yang diderita pasien
adalah diabetes mellitus. Hal ini didukung dengan gejala yang dikeluhkan oleh pasien,
seperti poliuria dan polydipsia yang merupakan indikasi dari diabetes mellitus. Selain itu
hasil pemeriksaan laboratorium didapati kadar gula darah pasien 400 mg/dL.

SUMBER:
1) Azrimaidaliza. Asupan Zat Gizi dan Penyakit Diabetes Mellitus. Jurnal Kesehatan
Masyarakat 2011; 6(1): 36 – 41.

2. Apakah ada hubungan antara penyakit sistemik tersebut dengan saliva? Jelaskan.
Keadaan hiperglikemia pada diabetes mellitus (DM) menyebabkan akumulasi
glukosa darah yang berlebihan akan diubah oleh aldose reduktase menjadi sorbitol.
Adapun sorbitol ini memiliki sifat higroskopik sehingga dapat menarik akumulasi air dan
meningkatkan tekanan osmotik dalam sel saraf. Akumulasi sorbitol dan fruktosa serta
peningkatan tekanan osmotik tentu akan mengakibatkan kerusakan sel saraf dikarenakan
akan terjadi gangguan ATP-ase yang berperan dalam konduksi sel saraf. Kondisi ini dapat
menyebabkan gangguan persarafan termasuk inervasi pada kelenjar saliva dimana
kelenjar saliva cara kerjanya diatur oleh sistem saraf simpatis dan parasimpatis.2
Pengurangan sekresi saliva tentu akan mengakibatkan penurunan volume saliva per
menitnya yang disebut laju aliran saliva (flow rate). Saat laju aliran saliva menurun, akan
terjadi pula penurunan pada kapasitas buffer. Kapasitas buffer ini sangat bergantung pada
konsentrasi bikarbonat yang seringkali disebut buffer bikarbonat, yang merupakan
penyangga yang paling penting dalam pemeliharaan pH saliva, dan remineralisasi gigi.
Buffer bikarbonat berkorelasi dengan laju aliran saliva. Derajat keasaman (pH) saliva dan
konsentrasi ion kalsium dan posfat merupakan faktor yang signifikan untuk menjaga
kesehatan gigi (hidroksiapatit enamel gigi).2
Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh terkait kadar pH saliva pada jurnal ini,
diketahui kadar tertinggi mencapai 7.77 (basa) dan kadar terendah mencapai 6.04 (asam).
Adapun rerata dari dua puluh delapan subjek diperoleh 6.86 dengan median yaitu 6.84.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan gula darah puasa mengakibatkan
kecenderungan perubahan kadar pH saliva yang mengarah pada keadaan asam.2
Sedangkan hasil analisa yang diperoleh dari laju aliran saliva, diketahui nilai
tertinggi yaitu 0.86 ml/ min dan terendah pada 0.25 ml/min. Rerata yang diperoleh yaitu
0.66 ml/min dengan median 0.66 ml/min. Rentang normal untuk salivary flowrate (SFR)
yang terstimulasi berkisar antara 1-3 ml/min, SFR yang dikatakan rendah apabila berkisar
antara 0,7-1,0 ml/min, sedangkan SFR yang dikatakan hiposalivasi yaitu kurang dari 0,7
ml/min. Sehingga dapat diketahui bahwa laju aliran saliva pada penderita DM tipe 2
menunjukkan penurunan yang mengarah pada hiposaliva.2

SUMBER:
2) Hapsari AP, Riyanto R, Kadarullah O. Hubungan Kadar Gula Darah Puasa Terhadap
Kadar PH dan Laju Aliran Saliva pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di
Puskesmas 1 Kembaran. Saintika Medika 2018; 14(2): 104 – 108.

3. Apakah ada hubungan antara penyakit sistemik tersebut dengan gigi? Jelaskan.
Penyakit diabetes mellitus (DM) dapat menimbulkan beberapa manifestasi di dalam
rongga mulut diantaranya adalah terjadinya gingivitis dan periodontitis, kehilangan
perlekatan gingiva, peningkatan derajat kegoyangan gigi, xerostomia, burning tongue,
sakit saat perkusi, resorpsi tulang alveolar dan tanggalnya gigi. Pada penderita DM tidak
terkontrol kadar glukosa di dalam cairan krevikular gingiva (GCF) lebih tinggi dibanding
pada DM yang terkontrol. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aren dkk
menunjukkan bahwa selain GCF, kadar glukosa juga lebih tinggi kandungannya di dalam
saliva. Peningkatan glukosa ini juga berakibat pada kandungan pada lapisan biofilm dan
plak pada permukaan gigi yang berfungsi sebagai tempat perlekatan bakteri. Berbagai
macam bakteri akan lebih banyak berkembangbiak dengan baik karena asupan makanan
yang cukup sehingga menyebabkan terjadinya karies dan perkembangan penyakit
periodontal.3
Seseorang dengan DM lama yang tidak terkontrol berpeluang besar mengalami
kerusakan gigi karena terjadi peningkatan kadar glukosa dalam cairan saliva. Glukosa
dalam saliva ini akan dimetabolisme oleh bakteri di rongga mulut yang menghasilkan
asam dan menurunkan pH saliva. Bila pH saliva menjadi asam, maka terjadi peningkatan
jumlah bakteri Streptococcus dalam rongga mulut. Bakteri-bakteri ini kemudian
menghasilkan zat-zat yang akan mempercepat proses demineralisasi email yang berakibat
karies pada gigi.4
Periodontitis merupakan salah satu dari enam komplikasi DM. Pada sejumlah
penelitian menunjukkan bahwa keparahan penyakit periodontal meningkat pada penderita
diabetes dibandingkan pada individu yang sehat. Beberapa peneliti menyatakan bahwa
keparahan penyakit periodontal pada penderita DM dipengaruhi oleh penurunan respon
imun. Kondisi tersebut ditandai terjadinya sejumlah perubahan jaringan yang
menyebabkan kerentanan terhadap penyakit. Perubahan vaskuler yang terjadi
menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kolagen serta perubahan respon dan
kemotaksis dari polimorfonuklear (PMN) terhadap antigen plak, sehingga menyebabkan
fagositosis terhambat.3
Hiperglikemi mengakibatkan terjadinya kerusakan mikrovaskular seperti
retinophaty, nephrophaty serta neurophaty jaringan. Kecenderungan peningkatan kadar
glukosa darah pada penderita DM juga berpengaruh terhadap kaparahan penyakit
periodontal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bridge dkk menunjukkan bahwa
keparahan periodontitis pada penderita DM lebih besar dibandingkan penderita non DM
terutama dengan kontrol glikemik yang buruk, hal ini tampak pada peningkatan
kedalaman probing, indeks plak, indeks gingiva, kerusakan attachment serta kehilangan
gigi. Keadaan DM juga menyebabkan terjadinya penurunan fungsi PMN yang dapat
meningkatkan derajat keparahan destruksi jaringan periodontal. Selain itu, kondisi DM
dapat menunjukkan gejala dan manifestasi di dalam rongga mulut diantaranya adalah
peradangan jaringan periodontal atau periodontitis.3

SUMBER:
3) Ermawati T. Periodontitis dan Diabetes Melitus. J.K.G Unej 2012; 9(3): 152 – 54.
4) Ampow FV, Pangemanan DHC, Anindita PS. Gambaran Karies Gigi pada
Penyandang Diabetes Melitus di Rumah Sakit Kalooran Amurang. Jurnal e-GiGi
2018; 6(2): 107 – 11.

4. Bagaimana patogenesis kekurangan saliva pada kasus di atas? Apa namanya?


Pada penderita diabetes mellitus (DM) sering ditemukan beberapa kelainan yang
bermanifestasi pada mukosa mulut. Beberapa manifestasi yang sering muncul berupa
infeksi kandidiasis, burning mouth syndrome, oral lichen planus, stomatitis aftosa
rekuren, xerostomia dan disfungsi kelenjar saliva. Hiposalivasi merupakan suatu keadaan
berkurangnya sekresi saliva yang dinilai secara objektif sedangkan xerostomia merupakan
suatu keluhan subjektif berupa mulut kering yang disebabkan berkurangnya jumlah atau
adanya perubahan kualitas dari saliva. Sesorang dapat diindikasikan mengalami
xerostomia apabila ketika dilakukan pengukuran laju aliran saliva pada saat tidak
distimulus.5
Semakin lama seseorang menderita DM maka komplikasi dalam rongga mulut
seperti hiposalivasi dan xerostomia akan lebih banyak muncul. Hal ini disebabkan
hubungan level kadar glukosa darah pada pasien DM yang berhubungan dengan kejadian
penurunan aliran saliva. Adanya peningkatan diuresis yang berhubungan dengan
penurunan cairan ekstraseluler karena adanya hiperglikemia sehingga berefek langsung
pada produksi saliva. Beberapa faktor fisiologis juga dapat mempengaruhi dari fungsi
saliva pada pasien DM. DM dapat mengakibatkan perubahan hormonal, mikrovaskular
dan neuronal yang dapat mempengaruhi fungsi dari berbagai organ. Perubahan
mikrovaskular dapat mempengaruhi kemampuan kelenjar saliva dalam merespon
stimulasi neural atau hormonal. Sekresi saliva juga dikontrol oleh sistem saraf autonom
sehingga kemungkinan dengan adanya neuropati dapat menggangu kemampuan
seseorang dalam merespon dan menstimulasi kelenjar saliva, serta mengubah aliran dan
komposisi saliva. Adanya penggantian fungsi jaringan oleh jaringan adiposa pada
kelenjar saliva mayor dapat mengurangi jumlah dan kuantitas sekresi saliva.5

SUMBER:
5) Humairo I, Apriasari ML. Studi deskripsi laju aliran saliva pada pasien diabetes
melitus di RSUD Ulin Banjarmasin. Jurnal PDGI 2014; 63(1): 8 – 13.

5. Bagaimana hubungan antara saliva dengan TLA/TLM pada kasus di atas? Beri
alasan.
Traffic Light Matrix adalah suatu model tabel pemeriksaan isyarat lampu lalu lintas
dengan warna merah, kuning, dan hijau pada kolomnya. Hasil pemeriksaan dicatat pada
kolom sesuai dengan kriteria yang sudah disediakan, misalnya pH saliva tanpa stimulasi
didapatkan <5,8 maka skor faktor risikonya warna merah. Warna merah menunjukkan
bahwa risiko karies pasien tinggi (buruk), warna kuning berarti pasien mudah terkena
karies dan warna hijau menunjukkan bahwa risiko karies rendah (baik). Traffic Light
Matrix (TLM) merupakan metode pemeriksaan sistematis untuk mengukur faktor risiko
karies. Traffic Light Matrix membangun model penilaian risiko yang meliputi penilaian
motivasi dan aktivitas gaya hidup pasien. Traffic Light Matrix memeriksa 19 kriteria
penilaian pada 5 kategori yang berbeda. Lima kategori tersebut meliputi saliva (6
kriteria), plak (3 kriteria), diet (2 kriteria), fluoride (3 kriteria) dan faktor modifikasi (5
kriteria).6
Saliva pada TLM terdiri dari saliva tanpa stimulasi dan saliva terstimulasi.
Pemeriksaan saliva pada TLM diawali dengan pengumpulan saliva tanpa stimulasi
kemudian saliva terstimulasi.6
 Hidrasi saliva tanpa stimulasi
Interpretasi pemeriksaan:6
a. Merah: Adanya disfungsi kelenjar saliva minor yang dapat disebabkan oleh
dehidrasi berat, kerusakan kelenjar saliva akibat radioterapi atau patologi,
ketidakseimbangan hormon, dan efek samping pengobatan.
b. Kuning: Menandakan ada penundaan produksi saliva level ringan dari dehidrasi
dan efek samping pengobatan.
c. Hijau: Menandakan fungsi normal.
 Konsistensi saliva tanpa stimulasi
Saliva kental memiliki kandungan air yang rendah sehingga kurang protektif
untuk melindungi jaringan keras dan lunak, mempunyai tingkat salivary clearance
yang rendah, dan tidak membentuk lapisan yang efektif pada permukaan gigi. Merah:
tebal, kental, berbusa, web test besar. Kuning: tidak terlihat penyatuan saliva, sedikit
tebal. Hijau: encer dengan penyatuan saliva, film tipis berkilau pada dasar mulut.6
 pH saliva tanpa stimulasi
pH kritis sebesar 5,5 membuat kerusakan mineral hidroksiapatit pada enamel
dan peningkatan pertumbuhan bakteri di rongga mulut. pH saliva semakin asam
meningkatkan proses demineralisasi. Merah: pH saliva tanpa stimulasi <5.8. Kuning:
pH saliva tanpa stimulasi = 5.8 – 6.8. Hijau: pH saliva tanpa stimulasi >6.8.6
 Laju aliran saliva terstimulasi
Mount GJ, dkk telah mengkategorikan laju alir saliva terstimulasi dalam 3 grup
pada TLM yakni: sangat rendah (merah), rendah (kuning) dan normal (hijau). Merah:
< 3,5 ml / 5 menit. Kuning: 3,5 – 5 ml / 5 menit. Hijau: > 5 ml / 5 menit.6
 pH saliva terstimulasi
pH kritis 5.5 menandakan gigi dalam keadaan demineralisasi.6
Interpretasi saliva terstimulasi pada TLM6

 Kemampuan buffer saliva terstimulasi


Ada dua sistem untuk menentukan kapasitas buffer dari saliva terstimulasi:6
- CRT Buffer (Vivadent) : Tinggi, sedang, rendah dengan satu test pad.
- Saliva Check Buffer (GC Corp) : Ada tiga test pad yang berbeda dengan level
asam yang berbeda pada sistem scoring numerik dan sensitivitas tingkat tinggi.
Hasil dari kedua tes ini dapat ditranslasi dalam skala TLM:6

GC Corp Vivadent TLM


Skor akhir 0-5 Rendah Merah
Skor akhir 6-9 Sedang Kuning
Skor akhir 10-12 Tinggi Hijau

Hubungan saliva dengan TLM bukan digunakan untuk memprediksi karies, tetapi
untuk mendapatkan peringatan dini yang memperingatkan kepada dokter gigi tentang
kehadiran faktor risiko yang dapat mengubah keadaan lingkungan mulut pasien pada
kasus di atas melalui hasil interpretasi pemeriksaan saliva pasien dalam 6 kriteria pada
TLM.6

SUMBER:
6) Mount GJ, Hume WR, Ngo H, Wolf MS. Risk assessment in the diagnosis and
management of caries in: Mount GJ, Hume WR of Ed 3 rd preservation and
restoration of tooth structure. Queensland: Knowledge Books and Software, 2016.

6. Jelaskan pengaruh kondisi penyakit sistemik tersebut dengan sensitivitas


pengecapan.
Diabetes mellitus merupakan sindroma metabolik yang dapat mempengaruhi sistem
dalam tubuh dan menimbulkan berbagai komplikasi lanjut pada pembuluh darah, syaraf
serta jaringan ikat. Sejumlah manifestasi oral yang dikaitkan dengan kejadian dan
perkembangan diabetes, diantaranya penurunan kepekaan rasa (PKR). Penurunan
kepekaan rasa pada DM tipe 2 terjadi pada keempat rasa dasar dan perubahan rasa yang
paling spesifik adalah rasa manis. Etiologi yang mendasari PKR pada diabetes banyak
dikemukakan, namun patofisiologi yang melatarbelakangi belum jelas. Sejumlah faktor
yang dikaitkan dengan PKR manis pada DM tipe 2 diantaranya medikasi yang digunakan
untuk terapi DM tipe 2 dan komplikasinya kadar glukosa darah (KGD), durasi DM tipe 2,
usia, status nutrisi, merokok, dan jenis kelamin.7
Pengendalian KGD berperan penting dalam mencegah kerusakan sel-sel β pancreas
dan menghambat kerusakan berbagai organ dan progresitas penyakit lebih serius, tidak
terkecuali di rongga mulut. Durasi panjang menyandang DM tipe 2 berpotensi
meningkatkan terjadinya komplikasi mikroangiopati dan neuropati. Mikroangiopati dan
neuropati dapat mempengaruhi komponen-komponen yang berperan dalam kepekaan
rasa, yaitu saliva, taste buds, saraf, dan otak sebagai pusat persepsi rasa. Perubahan pada
salah satu komponen tersebut dapat menyebabkan PKR.7

SUMBER:
7) Suhartiningtyas D. Analisis Faktor-Faktor Risiko Penurunan Kepekaan Rasa Manis
Pada Diabetes Mellitus Tipe 2. IDJ 2013; 2(2): 42 – 50.

7. Jelaskan pengaruh usia pasien terhadap kondisi saliva dan kelainan gigi pada kasus
di atas.
Usia lanjut merupakan istilah bagi orang-orang yang mengalami masalah secara
fisik, biologic, psikologik, dan sosial. Usia lanjut mengalami proses degenerasi pada
berbagai tingkatan yang menyebabkan penurunan fungsi organ-organ tubuh. Penurunan
fungsi ini mengakibatkan orang usia lanjut menjadi rentan terhadap berbagai penyakit,
termasuk penyakit jaringan periodontal pada rongga mulut. Jaringan periodontal usia
lanjut mengalami perubahan akibat dari proses penuaan. Perubahan yang terjadi apabila
tidak dicegah menyebabkan penyakit periodontal semakin parah.8
Penelitian yang dilakukan oleh WHO tentang prevalensi penyakit periodontal pada
usia lanjut di Chicago Amerika Serikat tahun 2010 menunjukkan prevalensi penyakit
periodontal mengalami peningkatan pada usia lanjut yaitu 70,1%. Kerusakan jaringan
periodontal meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Berbagai perubahan yang
terjadi pada usia lanjut mengakibatkan lemahnya daya tahan jaringan periodontal
terhadap berbagai iritasi, terutama bakteri plak.8
Seiring dengan pertambahan umur, seseorang dapat mengalami kemunduran fisik
dan mental yang dapat berpengaruh terhadap pertahanan tubuh. Hal tersebut dapat
mengakibatkan terjadinya peningkatan kejadian penyakit yang dapat menyertai orang tua.
Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang terjadi akibat adanya penurunan fungsi
organ tubuh terutama gangguan pada organ pankreas dalam menghasilkan hormon insulin
sehingga diabetes melitus akan meningkat kasusnya sesuai dengan pertambahan usia.
Proses penuaan yang terjadi seiring dengan meningkatnya usia yang akan menurunkan
produksi serta merubah komposisi dari saliva itu sendiri. Seiring dengan meningkatnya
usia seseorang, terjadilah proses disebut sebagai proses aging. Terjadi perubahan dan
kemunduran fungsi dari kelenjar saliva, dimana kelenjar parenkim hilang dan akan
digantikan oleh jaringan ikat dan lemak. Keadaan ini mengakibatkan pengurangan jumlah
aliran saliva, hal tersebut juga diperkuat oleh hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Broadbent, Kubaisy, Poulton, dan Thomson bahwa terdapat hubungan antara xerostomia
dengan faktor usia seseorang. Hal ini disebabkan seiring bertambahnya usia maka akan
mengalami perubahan dan penurunan fungsi kelenjar saliva.9

SUMBER:
8) Lumentut RAN, Gunawan PN, Mintjelungan CN. Status Periodontal dan Kebutuhan
Perawatan Pada Usia Lanjut. Jurnal e-GiGi 2013; 1(2): 79 – 83.
9) Pinatih MNAD, Pertiwi NKFR, Wihandani DM. Hubungan karakteristik pasien
diabetes melitus dengan kejadian xerostomia di RSUP Sanglah Denpasar. BDJ 2019;
3(2): 79 – 84.

8. Bagaimana gambaran perubahan histopatologi jaringan mukosa oral pasien


tersebut di atas. Jelaskan!
Gambaran perubahan histopatologi jaringan mukosa oral pasien penderita diabetes
mellitus timbul berupa inflamasi jaringan margin gingiva dan perlekatan gingva, sampai
terjadinya akut suppurative periodontitis, mobilitas gigi, rasa sakit saat diperkusi, dry
mouth, burning tongue, dan persistens gingivitis. Hal ini ditandai dengan pendarahan,
warna gingiva yang merah, lunak serta tidak beraturan. 10 Diabetes melitus menyebabkan
suatu kondisi disfungsi sekresi kelenjar saliva yang disebut xerostomia, dimana kualitas
dan kuantitas produksi saliva dirongga mulut menurun. Xerostomia yang terjadi pada
penderita DM menyebabkan mikroorganisme opotunistik seperti Candida albican lebih
banyak tumbuh yang berakibat terjadinya candidiasis. Oleh karena itu penderita
cenderung memiliki oral hygiene yang buruk apabila tidak dilakukan pembersihan gigi
secara adekuat. Pemeriksaan secara radiografis juga memperlihatkan adanya resorpsi
tulang alveolar yang cukup besar pada penderita DM dibanding pada penderita non DM.
Pada penderita DM terjadi perubahan vaskularisasi sehingga lebih mudah terjadi
periodontitis yang selanjutnya merupakan faktor etiologi resorpsi tulang alveolar secara
patologis. Resorpsi tulang secara fisiologis dapat terjadi pada individu sehat, namun
resorpsi yang terjadi pada DM disebabkan karena adanya gangguan vaskularisasi jaringan
periodontal serta gangguan metabolisme mineral.3

SUMBER:
3) Ermawati T. Periodontitis dan Diabetes Melitus. J.K.G Unej 2012; 9(3): 152 – 54.
10) Boel T. Manifestasi Rontgenografi Diabetes Mellitus di Rongga Mulut. JKGUI 2003;
10 (Edisi Khusus): 12 – 15.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan skenario pada kasus di atas, penyakit sistemik yang diderita pasien
adalah diabetes mellitus. Hal ini didukung dengan gejala yang dikeluhkan oleh pasien,
seperti poliuria dan polydipsia yang merupakan indikasi dari diabetes mellitus. Selain itu
hasil pemeriksaan laboratorium didapati kadar gula darah pasien 400 mg/dL. Keadaan
hiperglikemia pada diabetes mellitus mengakibatkan kecenderungan perubahan kadar pH
saliva yang mengarah pada keadaan asam dan laju aliran saliva pada penderita DM tipe 2
menunjukkan penurunan yang mengarah pada hiposaliva. Penyakit diabetes mellitus
(DM) dapat menimbulkan beberapa manifestasi di dalam rongga mulut diantaranya
adalah terjadinya gingivitis dan periodontitis, kehilangan perlekatan gingiva, peningkatan
derajat kegoyangan gigi, xerostomia, burning tongue, sakit saat perkusi, resorpsi tulang
alveolar dan tanggalnya gigi. Semakin lama seseorang menderita DM maka komplikasi
dalam rongga mulut seperti hiposalivasi dan xerostomia akan lebih banyak muncul. Hal
ini disebabkan hubungan level kadar glukosa darah pada pasien DM yang berhubungan
dengan kejadian penurunan aliran saliva.
Diabetes mellitus merupakan sindroma metabolik yang dapat mempengaruhi sistem
dalam tubuh dan menimbulkan berbagai komplikasi lanjut pada pembuluh darah, syaraf
serta jaringan ikat. Usia lanjut mengalami proses degenerasi pada berbagai tingkatan yang
menyebabkan penurunan fungsi organ-organ tubuh. Perubahan yang terjadi pada usia
lanjut mengakibatkan lemahnya daya tahan jaringan periodontal terhadap berbagai iritasi,
terutama bakteri plak. Proses penuaan yang terjadi seiring dengan meningkatnya usia
yang akan menurunkan produksi serta merubah komposisi dari saliva itu sendiri.
Hubungan saliva dengan TLM bukan digunakan untuk memprediksi karies, tetapi
untuk mendapatkan peringatan dini yang memperingatkan kepada dokter gigi tentang
kehadiran faktor risiko yang dapat mengubah keadaan lingkungan mulut pasien pada
kasus di atas melalui hasil interpretasi pemeriksaan saliva pasien dalam 6 kriteria pada
TLM.
DAFTAR PUSTAKA

1. Azrimaidaliza. Asupan Zat Gizi dan Penyakit Diabetes Mellitus. Jurnal Kesehatan
Masyarakat 2011; 6(1): 36 – 41.
2. Hapsari AP, Riyanto R, Kadarullah O. Hubungan Kadar Gula Darah Puasa Terhadap
Kadar PH dan Laju Aliran Saliva pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas 1
Kembaran. Saintika Medika 2018; 14(2): 104 – 108.
3. Ermawati T. Periodontitis dan Diabetes Melitus. J.K.G Unej 2012; 9(3): 152 – 54.
4. Ampow FV, Pangemanan DHC, Anindita PS. Gambaran Karies Gigi pada Penyandang
Diabetes Melitus di Rumah Sakit Kalooran Amurang. Jurnal e-GiGi 2018; 6(2): 107 – 11.
5. Humairo I, Apriasari ML. Studi deskripsi laju aliran saliva pada pasien diabetes melitus
di RSUD Ulin Banjarmasin. Jurnal PDGI 2014; 63(1): 8 – 13.
6. Mount GJ, Hume WR, Ngo H, Wolf MS. Risk assessment in the diagnosis and
management of caries in: Mount GJ, Hume WR of Ed 3 rd preservation and restoration of
tooth structure. Queensland: Knowledge Books and Software, 2016.
7. Suhartiningtyas D. Analisis Faktor-Faktor Risiko Penurunan Kepekaan Rasa Manis Pada
Diabetes Mellitus Tipe 2. IDJ 2013; 2(2): 42 – 50.
8. Lumentut RAN, Gunawan PN, Mintjelungan CN. Status Periodontal dan Kebutuhan
Perawatan Pada Usia Lanjut. Jurnal e-GiGi 2013; 1(2): 79 – 83.
9. Pinatih MNAD, Pertiwi NKFR, Wihandani DM. Hubungan karakteristik pasien diabetes
melitus dengan kejadian xerostomia di RSUP Sanglah Denpasar. BDJ 2019; 3(2): 79 –
84.
10. Boel T. Manifestasi Rontgenografi Diabetes Mellitus di Rongga Mulut. JKGUI 2003; 10
(Edisi Khusus): 12 – 15.