Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM IPA 3

STRUKTUR BUNGA SEBAGAI ALAT PERKEMBANGBIAKAN

Oleh:
Angela Alfina Purnama
18312241036
Pendidikan IPA A

JURUSAN PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2020
A. JUDUL
Struktur Bunga sebagai Alat Perkembangbiakan

B. TUJUAN
1. Mengobservasi pistil dan stamen bunga.
2. Mengamati bagian dalam pistil dan stamen.

C. DASAR TEORI
Bunga merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan Angiospermae. Masalah
homologi dan evolusi morfologi bungan telahditeliti dalam waktu yang lama. Peneliti
seperti Wolff dan Goethe di abad18, de Candolle pada awal abad 19, dan peneliti lain
menyatakan bahwaorgan bunga merupakan turunan langsung dari helaian daun.
Namun,pendapat yang diterima sampai sekarang adalah daun dan batangmerupakan suatu
unit tunggal yang disebut shoot. Perkembangan bungaparalel dengan cabang vegetatif,
jadi tidak sebagai turunannya (Mulyani,2006).
Bunga adalah struktur pembiakan pada tumbuhan berbunga, yaitu tumbuhan-
tumbuhan dalam divisi Magnoliophyta. Bunga mengandung organ-organ tumbuhan, dan
fungsinya ialah untuk menghasilkan biji-biji melalui pembiakan. Untuk tumbuhan-
tumbuhan yang bertaraf lebih tinggi, biji-biji merupakan generasi berikutnya, dan
bertindak sebagai cara yang utama untuk penyebaran individu-individu spesies secara
luas (Lakitan, 2010).
Bunga (flos) adalah struktur reproduksi sexual pada tumbuhan berbunga. Bunga
hanya dipunyai oleh divisi Magnoliophyta atau Spermatophyta sub
Divisi Angiosprmae.Bunga tidak ditemukan di Gymnosprmae, Pteridophyta atau
Bryophyta.  Pada bunga terdapat organ reproduksi yang dinamakan putik dan benang sari.
Bunga secara sehari-hari juga digunakan untuk menyebut struktur yang secara botani
disebut bunga majemuk (Widya, 2012).
Bunga teridiri atas aksis (sumbu) dan pada sumbu inilah mencul organ bunga. Bagian
sumbu yang mempunyai ruas (internodus) terdapat tangkai bunga yang disebut pedisel.
Ujung distal dari pedisel membengkak dan meluas disebut reseplakulum. Bunga
mempunyai empat macam organ. Organ paling luar adalh sepala, yang secara bersama
menyusun kaliks (kelopak bunga) yangbiasanya berwarna hijau, dan ditemukan paling
bawah, tempat di atas reseptakulum. Di sebelah dalam sepala adalah korola (mahkota
bunga), yang terdiri atas petala yang biasanya berwarna. Kedua tipe organ ini bersama-
sama membentuk periantium (perhiasan bunga). Di dalam periantium terdapat dua
macam organ reproduksi. Organ di sebelah luar disebut stamen (benang sari) yang
bersama-sama membentuk androeslum, dan organ di sebeblah dalam disebut pistila (daun
buah) yang membentuk ginoesium. Susunan organ bunga pada reseptakulum dapat
berbentuk spiral atau melingkar. Kedua tipe susunan tersebut dapat terjadi dalam bunga
yang sama. Pada kebanyakan bunga yang susunannya melingkar, organ dari tiap
lingkaran berselang-seling. Organ bunga dapat bebas atau berlekatan (Mulyani, 2006).
Stamen atau benang sari terdiri atas filamen atau tangkai sari dan anthera atau
kotak sari di bagian distalnya. Anthera terdiri atas dua ruangan(lobus) yang menempel
dan bersambungan denga lanjutan filamen yang disebut kenoktivun. Setiap lobus berisi
serbuk sari (Mulyani, 2006).
Ginoesium tersusun dari pistila bebas (apokarpus) atau berlekatan (sinkarpus),
yang biasanya terdiri atas 3 bagian (Mulyani, 2006):
a. Ovarium (bakal buah), suatu bulatan yang berisi 1 atau lebih ovulum (bakal
biji)
b. Stilus (tangkai putik), yang dihasilkan dari pemanjangan dinding ovarium
Stigma (kepala putik), merupakan bagian di ujung stilus yang mempunyai struktur
permukaan yang memungkinkan terjadinya pernyerbukan. Ovulum menempel pada
daerah penembalan khusus dinding pistila yang disebut plasenta (Mulyani, 2006).
Struktur bunga secara umum terdiri dari tangkai bunga, dasar bunga, perhiasan
bunga dan organ reproduktif. Tangkai bunga (pedicellus) merupakan bagian bunga yang
memiliki sifat batang yang jelas, yang umumnya berwarna hijau. Dasar bunga
(receptaculum) merupakan ujung tangkai bunga yang melebar. Perhiasan bunga
merupakan modifikasi dari daun, yang terdiri dari kelopak (calys) dan mahkota
(corolla). Sedangkan organ reproduktif jantan yang disebut benang sari (stamen) dan
organ reproduktif betina yang disebut putik (pistillum) (Rosanti, 2009).
Untuk mengetahui jumlah bunga, dapat dihitung dalam satu batang. Karena
batang berkembang menjadi beberapa cabang, biasanya suatu jenis tumbuhan memiliki
banyak bunga, sehingga disebut bunga tunggal (planta multifloris). Meskipun demikian,
beberapa tumbuhan ada kalanya hanya memiliki satu bunga saja. Tumbuhan berbunga
tunggal dapat ditemukan pada bunga lili (Lilium sp.), bunga coklat (Zephyranthes
rosea), tapak dara (Catharanthus roseus), dan sebagainya (Rosanti, 2009).
Jika dalam satu batang tumbuhan saja hanya memiliki satu bunga, bunga
biasanya terletak di ujung batang. Jika dalam satu batang berjumlah banyak, biasanya
bunga terletak di ujung batang atau cabang-cabangnya, dapat pula terletak di ketiak
daun. Jadi, menurut letaknya, bunga dibedakan menjadi bunga di ujung batang (flos
terminalis), dan bunga di ketiak daun (flos axillaris) (Rosanti, 2009).
Alat perkembangbiakan generatif itu bentuk dan susunannya berbeda-beda
menurut jenisnya tumbuhan, tetapi bagi tumbuhan yang berbiji, alat tersebut lazimnya
merupakan bagian tumbuhan yang kita kenal sebagai bunga. Oleh sebab itu suatu
tumbuhan berbiji, jika sudah tiba waktu baginya akan mengeluarkan bunga. Pada bunga
inilah terdapat bagian-bagian yang setelah terjadi peristiwa-peristiwa yang disebut
persarian (penyerbukan) dan pembuahan akan menghasilkan bagian tumbuhan yang kita
sebut buah, yang di dalamnya terkandung biji, dan biji inilaj yang nanti akan tumbuh
menjadi tumbuhan baru (Tjtrosoepoma, 2009).
Tunas yang mengalami perubahan bentuk menjadi bunga itu biasanya batangnya
lalu terhenti pertumbuhannya, merupakan tangkai dan dasar bunga, sedang daun-
daunnya sebagian tetap bersifat seperti daun, hanya bentuk dan warnanya berubah, dan
sebagian lagi mengalami metamorfosis menjadi bagian-bagia yang memainkan peranna
dalam peristiwa-peristiwa yang akhirnya akan menghasilkan calon individu baru tadi
(Tjtrosoepoma, 2009).
Bertalian dengan letak dan susunan bagian-bagian bunga ini dibedakan
(Tjtrosoepoma, 2009):
a. Bunga yang bagian-bagiannya tersusun menurut garis spiral (acyclis),
misalnya bunga cempaka Michella champaka L
b. Bunga yang bagian-bagiannya tersusun dama lingkaran-lingkaran (cyclis),
misalnya bunga terong (Solanum melongena L) bakung (Hymenacallis
littoralis Salisb)
c. Bunga yang sebagian bagian-bagiannya duudk dalam lingkaran, dan sebagian
lain terpencar atau menurut garis spiral (hemicyclis), misalnya bunga sirsat
(Annona muricata L) (Tjtrosoepoma, 2009).
Mengingat pentinganya bunga bagi tumbuhan, pada bunga terdapat sifat-sifat,
yang merupkan penyesuaian untuk melaksanakan tugasnya sebagai penghasil alat
perkembangbiakan yang sebaik-baiknya (Tjtrosoepoma, 2009).
Umumnya dari suatu bunga sifat-sifat yang amat menarik ialah (Tjtrosoepoma,
2009):
- Bantuk bunga seluruhnya dan bentuk bagian-bagiannya
- Warnanya
- Baunya
Ada dan tidaknya madu ataupun zat lain.
Bunga merupakan organ reproduktif pada tumbuhan. Berdasarkan tipenya, bunga
dibagi menjadi bunga tunggal dan bunga majemuk. Pada bunga tunggal, satu tangkai
hanya mendukung satu bunga, sedangkan pada bunga majemuk, satu tangkai mendukung
banyak bunga (Fahn, 1991).
Tumbuhan yang hanya menghasilkan satu bunga saja dinamakan bunga tunggal
sedangkan bunga yang menghasilkan bunga bayak dinamakan bunga banyak. Jika
tumbuhan hanya memiliki satu bunga saja, biasaya bunga tersbut berada di ujung batang,
jika bunganya banyak, dapat sebagian bunga-bunga tadi terdapat dalam ketiak-ketiak
daun dan sebagian pada ujung batang atau cabang-cabang. Jadi menurut tempatnya
bungan terletak pada ketiak daun dan juga ujung batang (Tjitrosoepomo, 2003).
Bagian-bagian bunga tunggal terdiri atas tangkai bunga (pedicel), dasar bunga
(receptacle), kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik (pistil).
Bagian-bagian bunga majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga (peduncle), daun pelindung
(bract), daun tangkai (bracteola), tangkai daun dan bunga (Stace, 1980).
Struktur bunga majemuk terdiri dari (Rosanti, 2009):
a. Bagian – bagian yang bersifat batang / cabang
Struktur ini meliputi ibu tangkai bunga (penduculus). Ibu tangkai bunga
merupakan terusan batang atau cabang yang mendukung bunga majemuk. Ibu
tangkai bunga apat bercabang, atau sama sekali tidak bercabang. Selain ibu
tangkai bunga ada juga tangkai bunga (pedicellus), yaitu cabang ibu tangkail
yang mendukung bunganya. Struktur yang ketiga adalah dasar bunga
(receptaculum), yaitu ujung tangkai bunga, yang mendukung bagian-bagian
bunga lainnya.
b. Bagian-bagian yang bersifat seperti daun
Struktur ini meliputi daun-daun pelindung (bractea), daun tangkai
(braceteola), selundang bunga (spatha), daun-daun pembalut (bractea
involucralis, involucrum), kelopak tambahan (epicalyx), daun-daun kelopak
(sepalae), dan daun-daun tenda bunga (tepalae). Daun – daun pelindung
(bractea) adalah struktur serupa daun yang ketiaknya muncul cabang-cabang ibu
tangkai atau tangkai ibunya (Rosanti, 2009).
Daun tangkai (bracteola), yaitu satu atau dua daun kecil yang terdapat
pada tangkai bunga. Pada tumbuhan Dicotyledoneae biasanya terdapat dua daun
tangkai yang letaknya tegak lurus pada bidang median, sedangkan pada
tumbuhan Monocotyledoneae hanya terdapat satu daun tangkai dan letaknya di
dalam bidang median, di bagian atas tangkai bunga (Rosanti, 2009).
Daun pelindung (bractea dan bracteoa) bisa bervariasi bentuknya, mulai
dari bentuk daun biasa sebagaimana daun normal. Bunga majemuk dengan daun-
daun pelindung yang mengecil dan berbentuk khas disebut bracteate. Bunga
majemuk dengan daun pelindung tipe bracteate dapat ditemukan pada tumbuhan
verticillata (Rosanti, 2009).
Ada juga daun majemuk yang tidak memiliki daun pelindung. Bunga
seperti ini disebut ebracteate. Tumbuhan ini dapat ditemukan pada wisteria
(Wisteria sinensis) (Rosanti, 2009).
Tipe terakhir adalah bunga majemuk yang memiliki daun-daun pelindung
yang sangat besar, hampir tidak dapat dibedakan dengan daun normal. Tipe
seperti ini disebut frondose. Bunga dengan tipe frondose dapat ditemukan pada
Aristolochia clematitis (Rosanti, 2009).
Selundang bunga (spatha) adalah daun pelindung besar, yang seringkali
menyelubungi seluruh bunga majemuk waktu belum mekar, misalnya pada
bunga kelapa (Cocos nucifera). Sedangkan daun-daun pembalut (bractea
involucralis, involucrum) adalah sejumlah daun pelindung yang tersusun dalam
suatu lingkaran, misalnya pada bunga matahari (Helianthus annuus) (Rosanti,
2009).
Kelopak tambahan (epicalyx), yaitu bagian-bagian serupa daun yang
berwarna hijau, tersusun dalam suatu lingkaran dan terdapat di bawah kelopak,
misalnya pada bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis), kapas
(Gossypium sp.), rosella (Hibiscus tiliaceus) serta tumbuhan dari familia
Malvaceue (Rosanti, 2009).
Daun-daun kelopak (sepalae) merupakan daun-daun penyusun kelopak
bunga (calyx), biasanya berwarna hijau. Sedangkan daun-daun mahkota bunga
(corolla), biasanya berwarna – warni. Daun-daun tenda bunga (tepalae) adalah
daun-daun penyusun tenda bunga (perigonium) jika kelopak dan mahkota bunga
tidak dapat dibedakan karena memiliki bentuk dan warna yang sama (Rosanti,
2009).
c. Organ reproduktif
Seperti halnya dengan struktur bunga tunggal, pada bunga majemuk juga
ditemukan organ reproduktif yang terletak pada setiap 1 tangkai bunga penyusun
bunga majemuk tersebut. Organ reproduktif tersebut adalah benang-benang sari
(stamen) dan putik (pristillum) (Rosanti, 2009).
Bunga majemuk dapat dibedakan menjadi bunga majemuk terbatas dan bunga
majemuk tidak terbatas. Contoh bunga majemuk terbatas adalah monochasium yang
terdiri atas monochasium tunggal, sekrup, dan bercabang seling; dichasium yang terdiri
atas dichasium tunggal dan dichasium majemuk; pleiochasium; bunga kipas dan bunga
sabit (Widya, 1989).
Bunga majemuk tidak terbatas dibedakan menjadi bunga majemuk dengan ibu
tangkai tidak bercabang dan bunga majemuk dengan ibu tangkai bercabang. Contoh yang
pertama adalah bunga bulir, tongkol, untai, tandan, cawan, payung, bongkol, dan bunga
periuk. Contoh yang kedua adalah bunga malai, thyrse, malai rata, bulir majemuk,
tongkol majemuk dan payung majemuk (Dod, 1979).
Suatu bunga majemuk harus dapat dibedakan dari cabang yang mendukung sejumlah
bunga di ketiaknya. Di antara bunga-bunga yang terdapat pada cabang itu terdapat daun-
daun yang berguna untuk berasimilasi. Sumbu yang mendukung bunga-bunga yang telah
berkelompok itu tidak lagi berdaun, atau jika ada daunnya, daun-daun tadi telah
mengalami metamorfosis dan tidak lagi berguna sebagai alat untuk asimilasi
(Tjitrosoepomo, 2003)
Pada bunga terdapat bagian-bagian yang akan menghasilkan buah yang didalamnya
terdapat biji jika terjadi penyerbukan dan pembuahan. Bunga merupakan  modifikasi dari
batang dan daun. Bunga umumnya memiliki sifat-sifat yang menarik. Bagian-bagian
penyusun bunga pada setiap bunga dapat berbeda dapat pula sama. Ada bunga yag
memiliki bagian yang lengkap dan ada bunga yang tidak memiliki salah satu atau salah
dua bagin tersebut. Bunga dikatakan bungan sejati atau bunga lengkap jika memiliki
kelopak, mahkota, putik dan benang sari (Widya, 2012).
Melihat bagian – bagian yang terdapat pada bunga maka bunga dapat di bedakan
dalam (Tjitrosoepomo, 1989):
1. Bunga lengkap (flos completusl), yang terdiri atas: lingkaran daun – daun kelopak,
lingkaran daun – daun mahkota, lingkaran benang – benang sari dan satu lingkaran
daun – daun buah.
2. Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (flos incompletusl), jika salah satu
bagian hiasan bunga atau salah satu alat kelaminnya tidak ada. Jika bunga tidak
mempunyai hiasan bunga, maka bunga itu di sebut telanjang (nudus), juka hanya
mempunyai salah satu dari kedua macam alat kelaminnya, dinamakan berkelamin
tunggal (unisexualis). 
Bagian-bagian bunga yang bersifat seperti batang, misalnya ibu tangkai bunga
(peduncle, pedunculus), yakni tangkai utama yang mendukung keseluruhan bunga
majemuk. Bagian ibu tangkai bunga di tengah-tengah perbungaan, di mana tangkai-
tangkai bunga individual melekat, disebut rakis (rachis), tangkai bunga
(pedicel, pedicellus), yakni tangkai masing-masing kuntum bunga individual, kemudian
dasar bunga (receptacle, receptaculum), yakni ujung tangkai bunga yang mendukung
bagian lain dari bunga (Tjitrosoepomo, 2003).
Bagian-bagian bunga yang bersifat seperti daun, misalnya, Daun pelindung
(bract, bractea), yakni daun yang pada ketiaknya muncul ibu tangkai bunga, lalu daun
tangkai (bracteole, bracteola), yakni daun (1–2 helai) yang muncul pada pangkai tangkai
bunga, kemudian kelopak bunga (calyx), yakni pada bunga-bunga tunggal/individual,
seludang bunga (spatha), yakni daun pelindung besar yang menyelubungi seluruh bunga
majemuk sebelum mekar, misalnya pada suku palem-paleman (Arecaceae). Setelah itu,
daun pembalut (involucre, involucrum), yakni sejumlah daun pelindung yang tersusun
dalam lingkaran mengitari dasar bunga majemuk, daun  kelopak tambahan (epicalyx),
yakni sejumlah daun pelindung yang tersusun dalam lingkaran di bawah kelopak bunga.
Misalnya pada marga Hibiscus (Tjitrosoepomo, 2003).
Sifat-sifat bunga majemuk antara lain, bunga majemuk tak terbatas
(inflorescentia racemosa), Yaitu bunga majemuk yang ibu tangkainya dapat tumbuh terus,
dengan cabang-cabang yang dapat bercabang lagi atau tidak, dan mempunyai susunan
“acropetal” (semakin muda semakin dekat dengan ujung ibu tangkai) dan bunga-
bunganya mekar berturut-turut dari bawah ke atas ( Widya, 2012).
Beberapa bentuk peralihan, ibu tangkai tidak bercabang, tandan (racemus, botrys),
bunga-bunga individual bertangkai tertancap di sepanjang ibu tangkai bunga yang tak
bercabang. Misalnya pada  kembang merak (Caesalpinia pulcherrima Swartz), bulir
(spike, spica), tandan dengan bunga-bunga individual tak bertangkai (duduk). Misalnya
pada bunga Jarong (Stachytarpheta jamaicensis Vahl.). Bunga cawan
(corymb, corymbus), tandan dengan kuntum-kuntum bunga yang tangkainya bervariasi
panjangnya, sehingga permukaan atas mendatar atau agak menggembung. Bunga cawan
lazimnya ada dua macam bunga, yaitu: bunga pita: bunga yang mandul yang terdapat
sepanjang tepi cawan, dinamakan bunga pinggir (flos marginalis), seringkali mempunyai
mahkota yang berbentuk pita (flos ligulatus), dan bunga tabung: bunga yang terdapat di
atas cawannya sendiri (flos disci), seringkali kecil dan berbentuk tabung. Mempunyai
kedua macam alat kelamin (benang sari dan putik) dan dapat menghasilkan buah.Bunga
cawan dengan bagian-bagian yang lengkap seperti diuraikan di atas misalnya pada bunga
matahari (Helianthus annuus L.). Bunga payung (umbel, umbella), tandan dengan ibu
tangkai bunga yang pendek dan seberkas kuntum bunga yang tangkai-tangkainya muncul
dari ketinggian yang sama.Bunga payung terdapat pada tumbuhan suku Umbelliferae.
Bunga payung yang bertingkat, lazimnya disebut bunga payung majemuk seperti terdapat
pada wortel (Daucus carota L.). Tongkol (spadix), seperti bulir, tetapi ibu tangkai besar,
tebal, dan seringkali berdaging, misalnya pada jagung (Zea mays L.), tetapi hanya bunga
yang betina (Tjitrosoepomo, 2003)
Pada sebuah tongkol, bunga betinanya terdapat dibagian atas, sedangkan bunga
jantan di bagian bawah, dan di antara kedua jenis bunga itu seringkali terdapat bunga-
bunga yang mandul, seperti pada iles-iles dan tumbuhan yang tergolong
suku Araceae pada umumnya. Bongkol (capitulum), bunga majemuk yang menyerupai
bunga cawan, tetapi tanpa daun-daun pembalut, dan ujung ibu tangkai biasanya
membengkak, sehingga bunga majemuk seluruhnya berbentuk seperti bola. Bunga-bunga
yang duduk di bagian yang membengkak seringkali mempunyai sisik (palea) pada
pangkal, jadi sisik itu terletak pada bongkolnya (ujung ibu tangkai yang membengkak).
Umumnya terdapat pada tumbuhan suku Mimosaceae, misalnya lamtoro (Leucaena
glauca), petai (Parkia speciosa), sikejut (Mimosa pudica L.), dll. Untai  atau bunga lada
(amentum), seperti bulir, tetapi ibu tangkai hanya mendukung bunga-bunga yang
berkelamin tunggal, dan runtuh seluruhnya (bunga majemuk yang mendukung bunga
jantan, yang betina menjadi buah), misalnya pada sirih (Piper betle L.) (Tjitrosoepomo,
2003).
Perhiasan bunga terdiri dari kelopak (calyx) dan mahkota (corolla). Pada beberapa
tumbuhan, kadang-kadang dijumpai adanya kelopak tambahan (epicalyx). Ada juga
tumbuhan yang memiliki perhiasan bunga dimana struktur calyx dan corolla tidak dapat
dibedakan. Struktur seperti ini dikenal dengan istilah tenda bunga (perigonium). Masing-
masing struktur baik kelopak, mahkota maupun tenda bunga terdiri dari daun-daun
kelopak (sepalae), daun-daun mahkota (petalae) dan daun-daun tenda bunga (tepalae),
yang berkumpul membentuk kelopak, mahkota dan tenda bunga tersebut (Rosanti,
2009).
Mahkota biasanya berwarna – warni dan berbau harum. Mahkota terdiri dari daun-
daun yang besar. Satu daun mahkota disebut petala. Jadi mahkota merupakan kumpulan
daun-daun mahkota (petalae). Jumlah daun mahkota kadang-kadang lebih banyak
daripada jumlah daun dan kelopak. Mahkota berfungsi untuk menarik serangga, yang
akan membantu proses penyerbukan (Rosanti, 2009).
Kelopak biasanya berwarna hijau, letaknya pada lingkaran sebelah luar bunga.
Umumnya berwarna hijau, karena merupakan modifikasi dari daun, dan berfungsi untuk
melindungi kuncup bunga yang masih muda. Kelopak terdiri dari daun-daun kecil,
dengan jumlah yang beragam. Satu daun kelopak disebut sepala. Jika daun kelopak lebih
dari satu, dinamakan sepalae. Jadi kelopak terdiri dari banyak daun kelopak yang disebut
sepalae (Rosanti, 2009).
Daun-daun kelopak ada berlekatan ada yang tidak berlekatan. Pada sepalae yang
berlekatan, hanya bagian bawah yang berlekatan, sedangkan bagian atasnya tetap bebas,
tampak seperti lekukan-lekukan. Ada bunga yang memiliki sepalae dengan struktur
sedikit saja yang berlekatan. Sepalae seperti ini disebut sepalae yang berbagi (partitus).
Jika perbandingan yang berlekatan lebih panjang dari bagian yang lepas 1 : 1, sepalae
dinamakan bercangap (fissus). Jika perbandingan antara bagian yang berlekatan lebih
panjang daripada bagian yang lepas, maka sepalae disebut berlekuk (lobatus). Bagian
sepalae yang lepas dihitung sebagai jumlah sepalae. Selain berlekatan, sepalae juga
terpisah disebut sepala lepas (polysepalus.) (Rosanti, 2009).
Bila dilipat menjadi beberapa kali lipatan, kelopak memiliki bentuk yang beraturan
(actinofbugemorphus) atau simetris bilateral (zygomorpus). Kelopak beraturan disebut
kelopak dengan simetri yang setangkap. Kelompak beraturan sering dilambangkan
dengan tanda simetri bintang (*). Sedangkan kelopak yang simetris bilateral hanya dapat
dilipat setangkup bagian saja. Kelopak simetris bilateral sering diberi lambing simetri
cermin (). Kelopak beraturan dapat berbentuk bintang, tabung, terompet, piala, lonceng,
dll. Sedangkan kelopak simetris bilateral dapat berbentuk bertaji (calcaratus) (Rosanti,
2009).
Mahkota bunga merupakan perhiasan bunga terletak di sebelah kanan dalam kelopak.
Umumnya berukuran besar, berwarna-warni, berbau harum, sehingga menarik perhatian
terutama bagi serangga penyerbuk. Selain menarik perhatian serangga penyerbuk,
mahkota bunga juga berfungsi untuk melindungi alat kelamin bunga sebelum terjadinya
penyerbukan. Setelah terjadi penyerbukan, mahkota bunga akan gugur dengan sendirinya
(Rosanti, 2009).
Mahkota bunga terdiri dari daun-daun mahkota (petala). Satu daun mahkota disebut
petala. Jika daun kelopak lebih dari satu, dinamakan petalae. Jadi mahkota merupakan
kumpulan terdiri daun-daun mahkota. Dengan kata lain dari banyak daun mahkota yang
disebut petalae (Rosanti, 2009).
Sama seperti daun-daun kelopak, daun-daun mahkota ada yang berlekatan
(sympetalus) atau tidak berlekatan atau saling lepas (dialypetalus). Bahkan beberapa
bunga tidak memiliki daun-daun mahkota (apetalus), sehingga disebut bunga telanjang
(flos nudus). Daun – daun mahkota yang berlekatan terbagi atas 3 bagian, yaitu
tabung/buluh mahkota, pinggiran mahkota, dan leher mahkota. Sedangkan daun-daun
mahkota yang lepas terbagi atas kuku daun mahkota (unguis) dan helaian daun mahkota
(lamina). Kuku daun mahkota merupakan bagian bawah daun mahkota yang tidak lebar,
sedangkan helaian daun mahkota merupakan bagian yang lebar dan biasanya tipis
(Rosanti, 2009).
Tangkai bunga (pedicellus) yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang,
padanya seringkali terdapat daun-daun peralihan yaitu bagian-bagian yang menyerupai
daun, berwarna hijau yang seakan merupakan peralihan dari daun ke perhiasan bunga.
Dasar bunga (receptaculum) yaitu ujung tangkai bunga yang seringkali melebar,
dengan ruas-ruas yang amat pendek, sehingga daun-daun yang telah mengalami
metamorfosis menjadi bagian-bagian bunga yang duduk amat rapat satu sama lain
(Widyoyo, 2007: 116).
Beberapa bunga memiliki kelopak dan mahkota yang memiliki bentuk dan warna
yang sama, sehingga sukar dibedakan. Struktur seperti ini dinamakan tenda bunga.
Setiap tenda bunga terdiri dari daun-daun tenda bunga (tepala). Satu daun tenda bunga
disebut tepala. Jika daun tenda bunga lebih dari satu, dinamakan tepalae. Jadi tenda
bunga merupakan kumpulan dari daun-daun tenda bunga, dengan kata lain terdiri dari
banyak daun tenda bunga yang disebut tepalae (Rosanti, 2009).
Tenda bunga (perigonium)  yaitu kelopak dan mahkota yang memiliki bentuk dan
warna yang samansehingga sangat sukar untuk dibedakan. Setiap tenda bunga terdiri atas
daun-daun tenda bunga (tepala) dan jika lebih dari satu maka
dinamakan tepalae (Salisbury, 1991: 68).
Organ reproduktif pada bunga alat perkembangbiakan. Bunga memiliki dua organ
reproduktif, yaitu organ reproduktif jantan berupa benang sari (stamen), dan organ
reproduktif betina berupa putik (pristillum) (Rosanti, 2009).
a. Benang Sari (Stamen)
Benang sari terdiri dari kepala sari (anthera), tangkai sari (filamentum) dan
penghubung antara ruang sari (connectivum). Kepala sari adalah bagian benang
sari yang terdapat di ujung tangkai sari. Pada kepala sari terdapat dua ruang sari
(theca). Setiap theca terdiri dari dua ruang kecil (luculus), yang berisi tepung sari
(pollen). Tangkai sari merupakan bagian benang sari yang berbentuk pipa, yang
mendukung kepala sari. Sedangkan penghubung ruang sari merupakan bagian
tangkai sari yang berfungsi menghubungkan dua theca (Rosanti, 2009).
b. Putik (Pistillum)
Putik tersusun dari tiga struktur, yaitu kepala putik (stigma), tangkai putik (stylus)
dan bakal buah (ovarium). Kepala putik merupakan bagian putik yang paling atas.
Tangkai putik merupakan saluran yang menghubungkan kepala putik dengan
bakal buah. Bakal buah sendiri adalah bagian putik yang membesar dan duduk di
dasar bunga (Rosanti, 2009).

Berikut ini merupakan bunga-bunga yang akan diamati dalam praktikum antara lain:
 Bunga Bugenvil (Bougainvillea spectabilis)
Kembang kertas merupakan bunga yang mahkotanya seperti kertas dengan warna
merah menyala dan warna lainnya. Batang berkayu dengan daun yang berwarna
hijau. Kuncup muncul sebagai metamorfosis dari batang dan daun. Duri (spina)
terdapat pada ketiak daun yang berwarna hijau muda (Tjitrosoepomo, 2009: 210).
Bougainvillea ini memiliki daun penumpu yang menarik, yaitu warna merah
lembayung, jingga, merah tua atau putih., dengan jenis kelamin biseksual. Calix atau
korolanya perigonium dengan stamennya pada bagian dasar bersatu serta memiliki
pistilum stigma bersatu. Ovariumnya superum dengan simetri bunga aktinomorf.
Kelamin tumbuhannya berupa dieseous yaitu benang sari dan putiknya berbeda
pohon. Pelekatan pistilnya sinkarp dan memiliki tipe jenis buah basalis dengan tipe
plasenta sentralis. Biasanya tumbuhan ini hidup tahunan (Dasuki, 1992).
Bougainvillea ini memiliki daun penumpu yang menarik, yaitu warna merah
lembayung, jingga, merah tua atau putih. Jenis kelamin biseksual. Calyx atau
koralnya perigenium dengan stamen pada bagian dasar menyatu serta memilki
pistilum stigma bersatu. Kelamin tumbuhannya berupa dieseous yaitu benang sari dan
putiknya berbeda pohon. Pelekat pistilnya  sinkrap dan memilki tipe jenis buah
basalis. Adapun manfaat dari bunga kertas (Bougainvillea glabra) sebagai tanaman
hias (Tjitrosoepomo, 2002).

 Bunga Pukul Sembilan (Portulaca grandiflora)


Portulaca grandiflora Hook (Gelang Bunga Besar) merupakan terna dikotil yang
tumbuh semusim ataupun tahunan. Batangnya berwarna hijau, batang tumbuh
merambat di atas tanah, terkadang beberapa cabang tumbuh tegak. Daun tunggal
dengan tangkai yang pendek, daunnya berwarna hijau, berbentuk garis atau lanset
yang tumbuh berselingan dan mengumpul pada ujung batang. Bunga berkelamin
ganda dengan mahkota bunga berwarna jingga, merah, merah muda, kuning dan putih
(Hayah, 2016: 142).
Tanaman yang berbentuk sukulen ini memiliki cabang dengan panjang 10-30 cm
dan mempunyai banyak percabangan. Daun dari tanaman ini memiliki panjang sekitar
12-35 mm dan lebar berkisar 1-4 mm liniersubulate, berdaging, dan berbentuk elips
runcing.
Tangkai bunganya pendek dengan rambut-rambut halus di bagian ketiaknya.
Bentuk mahkota bunga seperti bunga mawar kecil. Mahkota bunga berwarna merah,
merah jambu, atau ungu dengan diameter 2-4 cm serta benang sari yang terlihat jelas
dikelilingi oleh mahkota (Ashok dan Bashir, 2010).

 Bunga Telang (Clitoria ternatea)


Tanaman Clitoria ternatea yang mempunyai nama umum kembang telang
merupakan tanaman berbentuk perdu tahunan yang memiliki perakaran yang dalam
dan berkayu, batang agak menanjak atau tegak dan memanjat dengan tinggi antara 20
- 90 cm, berbulu halus, berdaun tiga sampai lima, anak daun berbentuk lonjong,
permukaan atas tidak berbulu dan permukaan bawah dengan bulu yang tersebar,
pembungaan tandan di ketiak dengan 1 - 2 bunga, panjang tangkai daun hingga 4 cm,
kelopak daun berwarna ungu hingga hamper putih, buah polong berbentuk memintal
lonjong , tidak berbulu, berbiji 3 - 7, katup cembung, biji bundar hingga bulat telur,
berwarna kecoklatan (Macedo et al., 1992).
Kembang telang termasuk tumbuhan monokotil dan mempunyai bunga yang
berwarna biru, putih dan coklat. Bunga kembang telang merupakan bunga berkelamin
dua (Hermaphroditus) karena memiliki benang sari (alat kelamin jantan) dan putik
(alat kelamin betina) sehingga sering disebut dengan bunga sempurna atau bunga
lengkap. Daun kembang telang termasuk daun tidak lengkap karena tidak memiliki
upih daun, hanya memiliki tangkai daun (Petiolus) dan helai daun (Lamina). Akar
pada tumbuhan kembang telang termasuk akar tunggang dan warnanya putih kotor.
Bagian-bagian dari akar kembang telang yaitu leher akar (Colum radisi), batang akar
atau akar utama (Corpus radisi), ujung akar (Apeks radisi), serabut akar (Fibrila
radicalis). Biji kembang telang berbentuk seperti ginjal, pada saat masih muda
berwarna hijau, setelah tua bijinya berwarna hitam. Biji Clitoria ternatea tidak dapat
dipergunakan sebagai pakan ternak karena mengandung anti nutrisi berupa tanin dan
tripsin inhibitor yang menyebabkan ternak mencret (Macedo et al., 1992).

 Bunga Mawar (Rosa damascene Mill.)


Tanaman bunga mawar merah (Rosa damascena Mill) merupakan tanaman yang
dapat dibudidayakan di Indonesia. Tanaman ini tumbuh baik di daerah yang
mempunyai ketinggian mencapai 700-1000 di atas permukaan laut yang sejuk dan
lembab. Tanaman mawar tumbuh pada iklim yang tropis dan sub-tropis. Bunga mawar
juga banyak dikenal oleh masyarakat, karena memiliki keindahan dan aroma yang
harum. Bunga mawar dapat dimanfaatkan sebagai pajangan dan hiasan (Windi, 2014).
Menurut (Farima, D. 2009) Mawar memiliki ciri morfologi yang umum yakni:
a. Berupa semak dan tinggi ±2m.
b. Batang berbentuk tegak,bulat, berkayu, berduri, hijau keabu-abuan.
c. Daun berbentuk majemuk, lonjong, panjang daun 5-10 cm, lebar1,5-2,5 cm,
tepi beringgit, tulang berbentuk menyirip,tangkaisilindris, panjang ±0,5
cm, hijau keabu-abuan.
d. Bunga berbentuk majemuk, bulat, berada diujung tangkai silindris,± 2,5,
kelopak bentuk lonceng, benang sari bertangkai, panjang±0,7 cm, kepala sari,
kuning , putik bulat, mahkota halus, berbauharum.
e. Biji berbentuk bulat dan berwarna coklat.
f. Akar tunggang, putih kotor
 Bunga Iris Kuning (Neomarica longifolia)
Neomarica adalah salah satu tanaman herba. Ia berkembang biak dengan
menggunakan rhizome (rimpang). Merupakan tanaman tropis yang berasal dari
Afrika Barat dan Amerika Selatan. Secara taksonomi tanaman ini bukanlah
merupakan keluarga (family) Anggrek (orchidaceae), melainkan merupakan keluarga
Iridaceae (Iris) (Rosanti, 2009).
Neomarica longifolia memiliki daun yang panjang dan ramping berbentuk
pedang. Bunganya berwarna kuning cerah dengan bintik-bintk coklat kemerahan di
bagian tengah. Masa hidup bunga sangat singkat, hanya sekitar satu hari saja, namun
demikian calon bunga yang lain akan mekar keesokan harinya. Tanaman sangat
toleran terhadap kekeringan maupun kelebihan air, dan tergolong mudah
dibudidayakan. Jika ditanam di luar rumah , ia bahkan dapat berbunga sepanjang
tahun (Rosanti, 2009).

 Bunga Asoka (Ixora acuminata)


Bunga soka termasuk dalam jenis bunga hiasan yang memiliki sistem perakaran
tunggang. Termasuk dalam tumbuhan dikotil yang memiliki daun berukuran kecil
dengan warna hijau. Bunga berwarna merah dengan mahkota berjumlah 4
(Tjitrosoepomo, 2009: 89-120).
Bunga asoka merupakan tanaman semak yang berasal dari daerah Asia Tropi
dengan tinggi mencapai 2 m, berbatang tegak, berkayu bulat, dengan percabangan
simpodial, berdaun lebar, tunggal berbentuk lonjong, pangkal meruncing. Bunga
berupa majemuk dengan tandan ramping membentuk seperti payung di ujung batang,
kuntum bunga berwarna merah, berkelamin dua, kelopak bentuk corong, benang sari
empat, kelapa sari melekat pada mahkota (Tjitrosoepomo, 2009: 89-120).

 Bunga Kertas (Zinnia sp.)


Kembang kertas merupakan tanaman annual yang tersebar secara luas di dunia.
Tanaman ini sering digunakan sebagai tanaman hias di pekarangan rumah dan bunga
potong. Spesies ini mampu tumbuh di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian
hingga 1800 m (Stimart & Boyle, 2007).
Habitus tanaman ini berbatang yang berdiri tegak dengan tinggi 10-100 cm
dengan warna kehijauan, dan dapat menjadi kekuningan. Daun tanaman ini
berberbentk lanset, jorong, dan memanjang dengan pangkal daun berbentuk romping
atau rata dan tumpul serta memiliki ujung daun runcing (Toress, 1963).
Bunga kembang kertas berbentuk floret dengan diameter bunga hingga mencapai
10 cm. bentuk bunga terdiri dari disk dan petal yang mana again disk terletak di
bagian tengah dengan warna kuning-jingga atau ungu kecoklatan. Sementara bagian
petal terletak di bagian disk yang tersusun menyebar dengan jumlah mulai dari 8-20
dan jumlah tersebut bisa mencapai dua kali hingga tiga kali lipatnya pada tanaman
hasil kultivar. Warna pada petal beranea macam mulai dari puth kuning merah,
jingga, pink ungu, ungu kemerahan, namun di alam sering dijumpai dengan warna
merah. Bentuk kembang kertas sendiri terdiri dari bentuk tunggal, tumpuk, dan
pompom yang didasarkan atas lapidan petal pada bagian disk bunga (Javid et al.,
2005).

 Bunga Euphorbia (Euphorbia milii)


Bunga euphorbia muncul membentuk dompolan-dompolan, setiap dompol terdiri
atas 4-32 kuntum. Ada empat bagian utama bunga, yaitu mahkota bunga semu,
benang sari, putik dan bakal buah. Mahkota bunga yang berwarna-warni yang kita
kenal sebagai bunga sebetulnya adalah brachtea (seludang) bunga yang sudah
mengalami modifikasi sehingga menyerupai mahkota. Oleh karena itu, sering kali
bunga euphorbia disebut bermahkota semu. (Purwanto, 2006).
Mahkota bunga Euphorbia sebenarnya bukanlah mahkota yang sesungguhnya,
tetapi seludang bunga yang bermodilikasi, sehingga tampak seperti mahkota Bunga
muncul membentuk dompolen, setiap dompolan terdiri dari 4-32 kuntum. Euphorbia
milli L. termasuk tanaman berumah satu karena dalam satu bunga terdapat benang
sari dan putik. Putik akan mekar setelah tiga hari sebelum benang sari. Bentuk
mahkota ada empat macam, yaitu bulat, ujung lancip, bentuk hati dan berbelah daun
dan Posisi mahkota ada tiga macam, yaitu saling bertumpuk, mengait dan
bersinggung (Kusumayanli dan Andoko, 2005; 10).

 Bunga Kamboja Jepang (Adenium obesum)


Kamboja jepang merupakan salah satu jenis tanaman hias yang berasal
dari gurun Afrika dan Arab.Melihat dari asalnya, tanaman ini memerlukan
sinar matahari penuh dan jenis media tanam yang porous. Tanaman kamboja
jepang termasuk dalam tanaman semak sukulen yang tahan terhadap lingkungan
yang kering dan panas (Sugih, 2005). Di Indonesia tanaman hias ini sangat cocok
untuk dikembangkan karena Indonesia memiliki iklim tropis yang cenderung panas
(Megawati, 2011).
Variasi warna bunga tanaman Adenium sp. banyak digemari oleh masyarakat
Indonesia. Keindahan tanaman ini tidak hanya dari bunganya, tetapi jugadari
akardan batangnya yang berbentuk bonggol.Bentuk bonggolnya yang unik dan
menarik mampu memikat para pecinta tanaman hias (Beikram dan Andoko,
2004). Haryanto (2005) menyatakan bahwa keindahan bonggol tanaman Adeniumsp.
adalah salah satu nilai jual dari tanaman ini.Bonggol merupakan kemampuan
pangkal batang dan akarnya yang membesar. Umur mempengaruhi ukuran
bonggol, semakin tua umur tanaman ini semakin besar ukuran bonggolnya.

 Bunga Tapak Dara (Catharanthus roseus)


Bunga tapak dara merupakan bunga hias yang tergolong bunga tahunan yang
menarik. Memiliki warna yang beragam dengan daun yang berwarna hijau. Tepi daun
rata dengan ujung yang membulat (Tjitrosoepomo, 2009: 89-120).

 Bunga Sepatu Gantung (Hibiscus schizopetalus)


Kembang sepatu adalah tumbuhan asli daerah tropis di dataran Asia, kemudian
tanaman ini menyebar di berbagai negara sampai ke Eropa. Kembang sepatu
termasuk tanaman perdu dengan ketinggian antara 4–8 m. Memiliki batang yang
berstruktur keras, serta bercabang banyak. Cukup dalam dan kuat perakarannya
sehingga batang tumbuh tegak dan kokoh (Dalimartha, 2005).
Kembang sepatu berbunga tunggal yang keluar dari ketiak daun, 1–4 cm panjang
tangkai bunganya, serta menjurai dengan lima mahkota yang tersusun berbentuk
terompet atau lonceng. Helaian mahkota bunga tunggal atau ganda, Memiliki warna
bunga yang bervariasi, seperti putih, merah muda, kuning, jingga dan kombinasi
warna–warna tersebut. Pembungaan berlangsung sepanjang tahun, bunga hanya
bertahan mekar 1–2 hari. Bunga tersusun atas 5 mahkota, 5 calyx, 15 tangkai sari dan
1 buah bakal buah yang memiliki banyak ruang. Kembang sepatu merupakan
tanaman yang memiliki daya adaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh baik di
daerah subtropis maupun tropis (Dalimartha, 2005).

D. METODOLOGI PERCOBAAN
1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Hari/tanggal : Jumat, 4 September 2020
Pukul : 08.30 – selesai WIB
Tempat : Laboratorium Pendidikan IPA UNY

2. Alat dan Bahan


a. Alat
1) Mikroskop
2) Kaca preparat
3) Pipet
4) Beaker glass
5) Silet
6) Jarum pentul
b. Bahan
1) Bunga Bugenvil 4) Bunga Mawar
2) Bunga Pukul Sembilan 5) Bunga Iris Kuning
3) Bunga Telang 6) Bunga Asoka
7) Bunga Kertas 11) Bunga Baldu
8) Bunga Euphorbia 12) Bunga Sepatu Gantung
9) Bunga Kamboja 13) Air
10) Bunga Tapak Dara

3. Prosedur Kerja

Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam praktikum.

Mengidentifikasi struktur morfologi dari setiap bunga dengan cara mengamati bagian-
bagian luar dari setiap bunga.

Mengidentifikasi struktur anatomi dari setiap bunga dengan membuat preparat benang
sari dan putik.

Mengamati preparat pada mikroskop.

Mengambil gambar dari hasil mikroskop.

Mengidentifikasi benang sari dan putik hasil dari pengamatan melalui mikroskop.

E. DATA HASIL PERCOBAAN


1. Bunga Bugenvil (Bougainvillea spectabilis)
a. Struktur Morfologi
Bunga Bugenvil
b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Bugenvil (Perbesaran 5x10) Putik Bugenvil (Perbesaran 5x10)

2. Bunga Pukul Sembilan (Portulaca grandiflora)


a. Struktur Morfologi

Bunga Pukul Sembilan


b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Pukul 9 (Perbesaran 5x10) Putik Bunga Pukul 9 (Perbesaran 5x10)

3. Bunga Telang (Clitoria ternatea)


a. Struktur Morfologi

Bunga Telang
b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Telang (Perbesaran 5x10) Putik Bunga Telang (Perbesaran 5x10)

4. Bunga Mawar (Rosa damascene Mill.)


a. Struktur Morfologi

Bunga Mawar
b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Mawar (Perbesaran 5x10) Putik Bunga Mawar (Perbesaran 5x10)

5. Bunga Iris Kuning (Neomarica longifolia)


a. Struktur Morfologi

Bunga Iris Kuning


b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Iris Kuning (Perbesaran 5x10) Putik Bunga Iris Kuning (Perbesaran 5x10)

6. Bunga Asoka (Ixora acuminata)


a. Struktur Morfologi

Bunga Asoka
b. Struktur Anatomi

Putik Bunga Asoka (Perbesaran 5x10)

7. Bunga Kertas (Zinnia sp.)


a. Struktur Morfologi

Bunga Kertas
b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Kertas (Perbesaran 5x10) Putik Bunga Kertas (Perbesaran 5x10)

8. Bunga Euphorbia (Euphorbia milii)


a. Struktur Morfologi

Bunga Euphorbia
b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Euphorbia (Perbesaran 5x10) Putik Bunga Euphorbia (Perbesaran 5x10)

9. Bunga Kamboja Jepang (Adenium obesum)


a. Struktur Morfologi

Bunga Kamboja Jepang


b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Kamboja Jepang Putik Bunga Kamboja Jepang


(Perbesaran 5x10) (Perbesaran 5x10)

10. Bunga Tapak Dara (Catharanthus roseus)


a. Struktur Morfologi

Bunga Tapak Dara


b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Tapak Dara (Perbesaran 5x10) Putik Bunga Tapak Dara (Perbesaran 5x10)

11. Bunga Baldu (Episcia cupreata)


a. Struktur Morfologi

Bunga Baldu
b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Baldu (Perbesaran 5x10) Putik Bunga Baldu (Perbesaran 5x10)

12. Bunga Sepatu Gantung (Hibiscus schizopetalus)


a. Struktur Morfologi

Bunga Sepatu Gantung


b. Struktur Anatomi

Benang sari Bunga Sepatu Gantung Putik Bunga Sepatu Gantung


(Perbesaran 5x10) (Perbesaran 5x10)

F. PEMBAHASAN
Praktikum yang dilaksanakan pada hari Jumat, 4 September 2020 pukul 08.30
WIB dengan judul Struktur Bunga sebagai Alat Perkembangbiakan memiliki tujuan
untuk mengetahui struktur berbagai bunga secara morfologi dan mengetahui struktur
berbagai bunga secara anatomi. Dalam praktikum ini praktikan menggunakan 12 sampel
bunga untuk diamati struktur morfologi dan struktur anatominya. Berikut ini uraian
pembahasan dari masing-masing bunga, antara lain:
1. Bunga Bugenvil (Bougainvillea spectabilis)
Praktikan mengamati struktur morfologi Bunga Bugenvil kemudian diperoleh
hasil bahwa Bunga Bugenvil termasuk ke dalam golongan bunga tidak lengkap dan
bunga sempurna. Bunga Bugenvil disebut sebagai bunga tidak lengkap karena tidak
memiliki seluruh bagian bunga. Bunga Bugenvil tidak memiliki seluruh bagian bunga
salah satunya yaitu kelopak bunga. Meskipun dikatakan bunga tidak lengkap, tetapi
Bunga Bugenvil dikatakan sebagai bunga sempurna karena memiliki kedua alat
perkembangbiakan, yaitu putik (pistil) dan benang sari (stamen).
Bunga Bugenvil termasuk dalam bunga majemuk karena menghasilkan lebih dari
satu bunga dalam satu ibu tangkai bunga. Bunga Bugenvil tergolong dalam bunga
majemuk tak terbatas. Berdasarkan letak bunganya, Bunga Bugenvil masuk dalam
bagian flos axillaris karena letak bunga berada pada ketiak daun. Bunga Bugenvil
termasuk dalam bunga malai karena ibu tangkainya mengadakan percabangan secara
monopodial.
Kelopak Bunga Bugenvil termasuk dalam jenis perigonium karena hiasan yang
kelopak dan mahkotanya tidak dapat dibedakan. Ovarium Bunga Bugenvil superum
atau menumpang dengan simetri bunga aktinomorf atau simetri radial. Hal ini sesuai
dengan teori menurut Dasuki (1992) yang menyatakan bahwa, Bougainvillea ini
memiliki daun penumpu yang menarik, yaitu warna merah lembayung, jingga, merah
tua atau putih., dengan jenis kelamin biseksual. Calix atau korolanya perigonium
dengan stamennya pada bagian dasar bersatu serta memiliki pistilum stigma bersatu.
Ovariumnya superum dengan simetri bunga aktinomorf.
Benang sari atau stamen dan putik atau pistil pada Bunga Bugenvil berasal dari
tanaman yang berbeda maka disebut dengan dieseous. Pelekatan putik atau pistil pada
Bunga Bugenvil tergolong dalam jenis sinkarp dan mempunyai jenis buah bertipe
basalis plasenta sentralis. Hal tersebut sesuai dengan teori menurut Dasuki (1992)
yang menyatakan bahwa, kelamin tumbuhannya berupa dieseous yaitu benang sari
dan putiknya berbeda pohon. Pelekatan pistilnya sinkarp dan memiliki tipe jenis buah
basalis dengan tipe plasenta sentralis.
Bagian-bagian dari Bunga Bugenvil antara lain daun pemikat, mahkota bunga,
stamen, dan pistil. Daun pemikat mirip seperti mahkota bunga yang berfungsi untuk
menarik serangga untuk membantu proses penyerbukan. Mahkota bunga pada Bunga
Bugenvil terletak di tengah daun pemikat dan berukuran lebih kecil. Di dalam
mahkota bunga tersebut terdapat stamen dan pistil yang berfungsi sebagai alat
perkembangbiakan.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Bugenvil, praktikan mendapatkan
bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari stamen. Pollen
berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma atau kepala putik.
Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium atau bakal buah pada
Bunga Bugenvil. Ovarium merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.

2. Bunga Pukul Sembilan (Portulaca grandiflora)


Struktur morfologi Bunga Pukul Sembilan didapati bahwa Bunga Pukul Sembilan
tergolong dalam jenis bunga sempurna karena memiliki kedua alat perkembangbiakan
yaitu pistil atau putik dan stamen atau benang sari. Hal tersebut sesuai dengan teori
menurut Hayah (2006: 142) yang menyatakan secara tidak langsung bahwa, bunga
berkelamin ganda dengan mahkota bunga berwarna jingga, merah, merah muda,
kuning dan putih. Bunga Pukul Sembilan termasuk dalam bunga lengkap, karena
memiliki seluruh bagian bunga yaitu tangkai bunga, kelopak bunga, mahkota bunga,
putik atau pistil, dan benang sari atau stamen.
Mahkota Bunga Pukul Sembilan berwarna merah jambu dengan bentuk seperti
bunga mawar kecil. Benang sari atau stamen Bunga Pukul Sembilan terlihat jelas
berada di tengah kemudian putik atau pistil terlihat persis di tengah mahkota bunga.
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dari Ashok dan Bashir (2010) yang
menyatakan bahwa tangkai bunganya pendek dengan rambut-rambut halus di bagian
ketiaknya. Bentuk mahkota bunga seperti bunga mawar kecil. Mahkota bunga
berwarna merah, merah jambu, atau ungu dengan diameter 2-4 cm serta benang sari
yang terlihat jelas dikelilingi oleh mahkota.
Bagian-bagian Bunga Pukul Sembilan antara lain tangkai bunga, kelopak bunga,
mahkota bunga, stamen, dan pistil. Tangkai bunga berfungsi untuk menopang bunga.
Kelopak bunga berfungsi untuk melindungi bunga saat keadaan kuncup. Mahkota
bunga berfungsi untuk menarik serangga untuk membantu proses penyerbukan.
Stamen sendiri terdiri dari anther, filamen, dan pollen. Stamen berperan sebagai alat
perkembangbiakan jantan. Pistil sendiri terdiri dari stigma dan style. Pistil berperan
sebagai alat perkembangbiakan betina.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Pukul Sembilan, praktikan
mendapatkan bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari
stamen. Pollen berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma
atau kepala putik. Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium
atau bakal buah pada Bunga Pukul Sembilan. Ovarium merupakan salah satu bagian
dari pistil atau putik.

3. Bunga Telang (Clitoria ternatea)


Bunga Telang tergolong sebagai bunga sempurna karena memiliki dua alat
perkembangbiakan sekaligus, yaitu benang sari atau stamen dan putik atau pistil. Hal
tersebut sesuai dengan teori menurut Macedo (1992) yang menyatakan bahwa bunga
kembang telang merupakan bunga berkelamin dua (Hermaphroditus) karena memiliki
benang sari (alat kelamin jantan) dan putik (alat kelamin betina) sehingga sering
disebut dengan bunga sempurna atau bunga lengkap.
Selain sebagai bunga sempurna, Bunga Telang juga dikatakan bunga lengkap
karena memiliki seluruh bagian bunga. Bunga Telang berwarna biru dengan semburat
putih di bagian tengah bunga. Kelopak Bunga Telang berbentuk corong dengan
mahkota berbentuk kupu-kupu dan berwarna biru. Tangkai benang sari (filamen)
berlekatan membentuk tabung, kepala sari (anther) berbentuk bulat, tangkai putik
(style) silindris, kepala putik (stigma) berbentuk bulat.
Bagian-bagian pada Bunga Telang antara lain dasar bunga, daun pelindung,
kelopak bunga, mahkota pelindung, mahkota bunga. Ketika Bunga Telang dibelah
maka akan tampak benang sari atau stamen dan putik atau pistil. Dasar bunga
berfungsi sebagai tempat melekatnya mahkota bunga. Daun pelindung berfungsi
hamper mirip seperti mahkota bunga yang digunakan sebagai penarik serangga.
Kelopak bunga berfungsi untuk melindungi bunga saat masih kuncup. Mahkota
bunga berfungsi untuk menarik serangga untuk membantu proses penyerbukan.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Telang, praktikan mendapatkan
bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari stamen. Pollen
berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma atau kepala putik.
Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium atau bakal buah pada
Bunga Telang. Ovarium merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.

4. Bunga Mawar (Rosa damascene Mill.)


Bunga Mawar tergolong dalam bunga lengkap karena memiliki seluruh bagian
bunga. Selain itu Bunga Mawar juga disebut sebagai bunga sempurna karena
memiliki dua alat perkembangbiakan sekaligus, yaitu stamen dan pistil. Bunga Mawar
memiliki malai yang berbentuk sederhana hingga seperti karangan bunga. Helaian
mahkota bunganya ada yang selapis dan ada yang bersusun. Semua jenis bunga
mawar yang ada berduri melengkung ke bawah dan tajam. Namun ada beberapa
spesies mawar mempunyai duri yang tidak berkembang dan tidak tajam.
Bunga Mawar ada yang tunggal (soltair) dan ada yang tertata dalam bentuk
paying (tandan) dengan perhiasan bunga setiap lingkar sebanyak 4-5 buah. Benang
sari atau stamen dan putik atau pistil tersusun pada dasar bunga yang berbentuk guci.
Apabila dasar bunganya sudah matang akan menjadi semacam buah yang di
dalamnya berisi biji.
Bagian-bagian Bunga Mawar antara lain mahkota bunga, sepal atau kelopak
bunga, tangkai bunga. Dan apabila Bunga Mawar dibelah maka di dalamnya terdapat
stamen dan pistil. Stamen terdiri dari anther dan pollen grain. Sementara itu pistil
terdiri dari stigma, style, dan ovary. Mahkota bunga sendiri berfungsi untuk menarik
serangga untuk membantu proses penyerbukan. Kelopak bunga atau sepal berfungsi
untuk melindungi bunga pada saat kuncup. Tangkai bunga berguna untuk menopang
bunga. Stamen berperan sebagai organ reproduksi jantan yang menghasilkan serbuk
sari atau pollen grain. Sementara itu pistil berperan sebagai organ reproduksi betina
yang di dalamnya terdapat ovary.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Mawar, praktikan mendapatkan
bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari stamen. Pollen
berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma atau kepala putik.
Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium atau bakal buah pada
Bunga Mawar. Ovarium merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.

5. Bunga Iris Kuning (Neomarica longifolia)


Bagian-bagian dari Bunga Iris Kuning antara lain tangkai bunga, kelopak bunga,
mahkota bunga, stamen, dan pistil. Tangkai bunga berfungsi sebagai penopang bunga.
Kelopak bunga berfungsi untuk melindungi bunga saat masih dalam keadaan kuncup.
Mahkota bunga berfungsi untuk menarik serangga agar hinggap dan membantu proses
penyerbukan. Stamen merupakan alat reproduksi jantan pada tumbuhan. Stamen
terdiri dari anther, filamen, dan pollen. Sementara itu pistil berperan sebagai alat
reproduksi betina pada tumbuhan. Pistil terdiri dari stiga, style, dan ovary.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Iris Kuning, praktikan mendapatkan
bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari stamen. Pollen
berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma atau kepala putik.
Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium atau bakal buah pada
Bunga Iris Kuning. Ovarium merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.

6. Bunga Asoka (Ixora acuminata)


Bagian-bagian dari Bunga Asoka antara lain tangkai bunga, kelopak bunga,
mahkota bunga, stamen, dan pistil. Tangkai bunga berfungsi sebagai penopang bunga.
Kelopak bunga berfungsi untuk melindungi bunga saat masih dalam keadaan kuncup.
Mahkota bunga berfungsi untuk menarik serangga agar hinggap dan membantu proses
penyerbukan. Stamen merupakan alat reproduksi jantan pada tumbuhan. Stamen
terdiri dari anther, filamen, dan pollen. Sementara itu pistil berperan sebagai alat
reproduksi betina pada tumbuhan. Pistil terdiri dari stiga, style, dan ovary.
Bunga Asoka tergolong dalam bunga sempurna karena memiliki dua alat
perkembangbiakan sekaligus yaitu benang sari atau stamen dan putik atau pistil.
Bunga Asoka masuk dalam kategori bunga majemuk dengan tandan ramping. Hal
tersebut sesuai dengan teori menurut Tjitrosoepomo (2009: 89-120) yang menyatakan
bahwa, bunga berupa majemuk dengan tandan ramping membentuk seperti payung di
ujung batang, kuntum bunga berwarna merah, berkelamin dua, kelopak bentuk
corong, benang sari empat, kelapa sari melekat pada mahkota.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Asoka, praktikan mendapatkan
bagian struktur ovarium atau bakal buah pada Bunga Asoka. Ovarium merupakan
salah satu bagian dari pistil atau putik.

7. Bunga Kertas (Zinnia sp.)


Bagian-bagian Bunga Kertas terdiri dari tangkai bunga, mahkota bunga, stamen,
pistil, dan ovulum. Tangkai bunga berfungsi untuk menopang bunga. Mahkota bunga
berfungsi untuk menarik serangga untuk membantu proses penyerbukan. Stamen
berperan sebagai alat perkembangbiakan jantan. Pistil berperan sebagai alat
perkembangbiakan betina. Ovulum atau bakal biji berfungsi melindungi dan menjadi
tempat tinggal ovum. Bakal biji akan berkembang menjadi biji setelah dibuahi.
Bunga kertas tergolong dalam bunga sempurna karena memiliki dua alat
perkembangbiakan sekaligus yaitu stamen dan pistil. Bunga Kertas berdiameter 9-10
cm dengan bentuk floret. Bunga teridiri dari disk dan petal. Bagian petal terletak di
bagian disk yang tersusun menyebar dengan jumlah mulai dari 8-20. Hal tersebut
sesuai dengan teori menurut Javid (2005) yang menyatakan bahwa Bunga kembang
kertas berbentuk floret dengan diameter bunga hingga mencapai 10 cm. bentuk bunga
terdiri dari disk dan petal yang mana again disk terletak di bagian tengah dengan
warna kuning-jingga atau ungu kecoklatan. Sementara bagian petal terletak di bagian
disk yang tersusun menyebar dengan jumlah mulai dari 8-20 dan jumlah tersebut bisa
mencapai dua kali hingga tiga kali lipatnya pada tanaman hasil kultivar. Warna pada
petal beranea macam mulai dari puth kuning merah, jingga, pink ungu, ungu
kemerahan, namun di alam sering dijumpai dengan warna merah. Bentuk kembang
kertas sendiri terdiri dari bentuk tunggal, tumpuk, dan pompom yang didasarkan atas
lapidan petal pada bagian disk bunga.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Kertas, praktikan mendapatkan
bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari stamen. Pollen
berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma atau kepala putik.
Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium atau bakal buah pada
Bunga Kertas. Ovarium merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.

8. Bunga Euphorbia (Euphorbia milii)


Bagian-bagian Bunga Euphorbia antara lain tangkai bunga, dasar bunga, mahkota
bunga, stamen, pistil, dan ovulum. Tangkai bunga berfungsi untuk menopang bunga.
Dasar bunga berfungsi untuk melekatkan mahkota bunga. Mahkota bunga berfungsi
sebagai hiasan untuk menarik serangga demi membantu proses penyerbukan. Stamen
berfungsi sebagai alat perkembangbiakan jantan. Pistil berperan sebagai alat
perkembangbiakan betina. Ovulum merupakan bakal biji yang melinduni calon biji
dan sebagai tempat tinggalnya ovum.
Bunga Euphorbia termasuk bunga sempurna karena memiliki dua alat
perkembangbiakan yaitu stamen dan pistil. Mahkota Bunga Euphorbia sebenarnya
bukanlah mahkota yang sesungguhnya. Mahkota yang dijumpai tersebut
sesungguhnya merupakan seludang bunga. Hal tersebut sesuai dengan teori menurut
Kusumayanli dan Andoko (2005: 10) yang menyatakan bahwa Mahkota bunga
Euphorbia sebenarnya bukanlah mahkota yang sesungguhnya, tetapi seludang bunga
yang bermodilikasi, sehingga tampak seperti mahkota Bunga muncul membentuk
dompolen, setiap dompolan terdiri dari 4-32 kuntum. Begitu juga menurut Purwanto
(2006) yang mengatakan bahwa mahkota bunga yang berwarna-warni yang kita kenal
sebagai bunga sebetulnya adalah brachtea (seludang) bunga yang sudah mengalami
modifikasi sehingga menyerupai mahkota. Oleh karena itu, sering kali bunga
euphorbia disebut bermahkota semu.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Euphorbia, praktikan mendapatkan
bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari stamen. Pollen
berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma atau kepala putik.
Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium atau bakal buah pada
Bunga Euphorbia. Ovarium merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.

9. Bunga Kamboja Jepang (Adenium obesum)


Bagian-bagian dari Bunga Kamboja Jepang antara lain tangkai bunga, kelopak
bunga, mahkota bunga, stamen, pistil, dan ovulum. Tangkai bunga berfungsi untuk
menopang bunga. Kelopak bunga berfungsi melindungi bunga saat masih kuncup.
Mahkota bunga berfungsi sebagai hiasan yang berfungsi untuk menarik serangga
untuk membantu proses penyerbukan. Stamen merupakan alat perkembangbiakan
jantan yang terdiri dari anther, filamen, dan pollen. Pistil merupakan alat
perkembangbiakan betina yang terdiri dari stigma, stylus, dan ovary. Ovulum
merupakan bakal biji yang melindungi calon biji dan sebagai tempat tinggal ovum.
Bunga Kamboja termasuk dalam bunga majemuk. Bunga berbentuk malai,
menggerombol pada ujung ranting dan berbentuk terompet. Mahkota bunga berbentuk
corong dengan diameter 1-1,5 cm.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Kamboja Jepang, praktikan
mendapatkan bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari
stamen. Pollen berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma
atau kepala putik. Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium
atau bakal buah pada Bunga Kamboja Jepang. Ovarium merupakan salah satu bagian
dari pistil atau putik.

10. Bunga Tapak Dara (Catharanthus roseus)


Bagian-bagian dari Bunga Tapak Dara antara lain yaitu tangkai bunga, mahkota
bunga, stamen, pistil, dan ovulum. Tangkai bunga berfungsi untuk menopang bunga.
Mahkota bunga berfungsi sebagai hiasan yang berfungsi untuk menarik serangga
untuk membantu proses penyerbukan. Stamen merupakan alat perkembangbiakan
jantan yang terdiri dari anther, filamen, dan pollen. Pistil merupakan alat
perkembangbiakan betina yang terdiri dari stigma, stylus, dan ovary. Ovulum
merupakan bakal biji yang melindungi calon biji dan sebagai tempat tinggal ovum.
Bunga Tapak Dara termasuk bunga sempurna. Dikatakan sebagai bunga sempurna
karena memiliki dua alat perkembangbiakan sekaligus yaitu stamen dan pistil.
Bunga tapak dara merupakan bunga hias yang tergolong bunga tahunan yang
menarik. Memiliki warna yang beragam dengan daun yang berwarna hijau. Tepi daun
rata dengan ujung yang membulat (Tjitrosoepomo, 2009: 89-120).
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Tapak Dara, praktikan mendapatkan
bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari stamen. Pollen
berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma atau kepala putik.
Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium atau bakal buah pada
Bunga Tapak Dara. Ovarium merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.

11. Bunga Baldu (Episcia cupreata)


Bagian-bagian dari Bunga Baldu antara lain tangkai bunga, mahkota bunga,
stamen, pistil, ovulum, dan ovarium. Tangkai bunga berfungsi untuk menopang
bunga. Mahkota bunga berfungsi sebagai hiasan yang berfungsi untuk menarik
serangga untuk membantu proses penyerbukan. Stamen merupakan alat
perkembangbiakan jantan yang terdiri dari anther, filamen, dan pollen. Pistil
merupakan alat perkembangbiakan betina yang terdiri dari stigma, stylus, dan ovary.
Ovulum merupakan bakal biji yang melindungi calon biji dan sebagai tempat tinggal
ovum. Ovarium atau bakal buah berfungsi sebagai tempat pertemuan bakal biji (berisi
ovum) yang dibuahi serbuk sari (berisi sperma) melalui proses penyerbukan.
Bunga Baldu termasuk bunga sempurna karena memiliki dua alat
perkembangbiakan sekaligus, yaitu stamen dan pistil.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Baldu, praktikan mendapatkan
bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari stamen. Pollen
berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma atau kepala putik.
Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium atau bakal buah pada
Bunga Baldu. Ovarium merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.

12. Bunga Sepatu Gantung (Hibiscus schizopetalus)


Bagian-bagian Bunga Sepatu Gantung antara lain tangkai bunga, mahkota bunga,
stamen, pistil, ovulum, dan ovarium. Tangkai bunga berfungsi untuk menopang
bunga. Mahkota bunga berfungsi sebagai hiasan yang berfungsi untuk menarik
serangga untuk membantu proses penyerbukan. Stamen merupakan alat
perkembangbiakan jantan yang terdiri dari anther, filamen, dan pollen. Pistil
merupakan alat perkembangbiakan betina yang terdiri dari stigma, stylus, dan ovary.
Ovulum merupakan bakal biji yang melindungi calon biji dan sebagai tempat tinggal
ovum. Ovarium atau bakal buah berfungsi sebagai tempat pertemuan bakal biji (berisi
ovum) yang dibuahi serbuk sari (berisi sperma) melalui proses penyerbukan.
Bunga Sepatu Gantung tergolong dalam bunga lengkap karena memiliki seluruh
bagian bunga. Selain itu Bunga Sepatu Gantung juga disebut bunga sempurna karena
memiliki dua alat perkembangbiakan sekaligus, yaitu stamen dan pistil. Bunga Sepatu
Gantung termasuk bunga tunggal, tumbuh dari ketiak daun. Hal tersebut sesuai
dengan teori menurut Dalimartha (2005) yang menyatakan bahwa kembang sepatu
berbunga tunggal yang keluar dari ketiak daun, 1–4 cm panjang tangkai bunganya,
serta menjurai dengan lima mahkota yang tersusun berbentuk terompet atau lonceng.
Pada anatomi benang sari atau stamen Bunga Sepatu Gantung, praktikan
mendapatkan bagian struktur pollen atau serbuk sari. Pollen merupakan bagian dari
stamen. Pollen berperan sebagai penyebar benih pada bunga terkhusus pada stigma
atau kepala putik. Selain menemukan pollen, praktikan juga menemukan ovarium
atau bakal buah dan ovulum atau bakal biji pada Bunga Sepatu Gantung. Ovarium
merupakan salah satu bagian dari pistil atau putik.
G. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dibahas oleh praktikan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Secara morfologi ataupun anatomi, pistil dan stamen bunga terlihat jelas. Pistil
merupakan alat perkembangbiakan betina yang terletak menempel pada dasar
bunga menyatu dengan ovul. Pistil dikelilingi oleh stamen yang berperan
sebagai organ reproduki jantan.
2. Pistil terdiri dari stigma, style, dan ovary. Stigma berperan sebagai tempat
penampung pollen saat proses penyerbukan. Style berperan menghubungkan
ovary dengan stigma. Ovary berperan sebagai bakal biji yang mengandung
ovul. Sementara itu stamen terdiri dari anther, pollen, dan filamen. Anther
merupakan kepala sari. Pada anther ditemukan pollen atau serbuk sari yang
apabila jatuh ke stigma maka akan terjadi proses penyerbukan. Filamen
merupakan penghubung antara bunga dengan anther.

H. JAWABAN PERTANYAAN
1. Pistil terdiri dari stigma, style, dan ovary. Stamen terdiri dari anther, filamen, dan
pollen.
2. Pollen berada di anther, dan ovulum berada dalam ovarium.
3. Karakteristik dari bunga yaitu terdiri dari tangkai bunga, dasar bunga, kelopak bunga,
mahkota bunga, stamen, dan pistil. Karakteristik dari biji yaitu terdiri dari kulit biji,
plumula, radikula, epikotil, hipokotil, dan kotiledon.
4. Kesimpulan dari praktikum yaitu:
a. Secara morfologi ataupun anatomi, pistil dan stamen bunga terlihat jelas. Pistil
merupakan alat perkembangbiakan betina yang terletak menempel pada dasar
bunga menyatu dengan ovul. Pistil dikelilingi oleh stamen yang berperan sebagai
organ reproduki jantan.
b. Pistil terdiri dari stigma, style, dan ovary. Stigma berperan sebagai tempat
penampung pollen saat proses penyerbukan. Style berperan menghubungkan
ovary dengan stigma. Ovary berperan sebagai bakal biji yang mengandung ovul.
Sementara itu stamen terdiri dari anther, pollen, dan filamen. Anther merupakan
kepala sari. Pada anther ditemukan pollen atau serbuk sari yang apabila jatuh ke
stigma maka akan terjadi proses penyerbukan. Filamen merupakan penghubung
antara bunga dengan anther.
DAFTAR PUSTAKA

Ashok dan Bashir. 2010. Efficient Micropropagation Protocol for Portulaca Grandiflora. Hook.
Using Shot Tip Explants. New York Science Journal, 3 (10): 142-146.
Beikram dan A. Andoko. 2004. Mempercantik Penampilan Adenium. Agromedia Pustaka:
Jakarta.
Dalimartha, S. (2005). Tanaman Obat di Lingkungan Sekitar. Jakarta: Penerbit Puspa Swara.
Dasuki, Undang Ahmad. 1992. Fitografi. Bandung: Pusat Ilmu Hayati ITB.
Dod, B. 1979. Tanaman Bunga di Dunia. (terjemahan). Jakarta : UI Press.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan. (Terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Farima, Devi. 2009. Karakterisasi dan Ekstraksi Simplisia Tumbuhan Bunga Mawar (Rosa
Hybrida L.) serta Formulasinya dalam Sediaan Pewarna Bibir. Medan: Universitas
Sumatera Utara.
Gembong Tjitrosoepomo. 2003. Morfologi Tumbuhan. UGM Press. Yogyakarta.
Haryanto, E.T. 2005. Beberapa Teknik Peningkatan Nilai Estetika Tanaman
Adenium.Seminar Nasional Agribisnis Tanaman Hias UNS. Surakarta: 1
Oktober 2006.
Kusumayani, L dan Andoko. 2005. Membuat Euphorbia Tampil Indah Menawan. Jakarta: PT.
Agromedia Pustaka.
Lakitan. 2010. Identifikasi Bunga. PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Megawati, A.S. 2011. Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Akar dan Media Tanam
terhadapKeberhasilan dan PertanamanSetek Kamboja Jepang (Adenium obesum).
Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara: Medan.
Mulyani, S. 2006. Anatomi Tumbuahan. Kanisius. Yogyakarta.
Nurul Hayah. 2016. Inventarisasi Jenis Tumbuhan Spermatophyta pada Tempat Penjualan
Tanaman Hias di Kota Banda Aceh sebagai Referensi Mata Kuliah Botani
Tumbuhan Tinggi. Banda Aceh: UIN.
Purwanto, A. W. 2006. Euphorbia Tampil Prima dan Semarak Berbunga. Kanisius. Yogyakarta.
Rosanti, D. 2009. Morfologi Tumbuhan. Erlangga. Jakarta.
Salisbury, Frank. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB Press. 1991.
Stace, C.A. 1980. Taksonomi tumbuhan dan biosistematik. Bogor : IPB Press.
Sugih, O. 2005. 88 Variasi Adenium Agar Rajin Berbunga. Penebar Swadaya: Jakarta.
Widya. 2012. Morfologi tumbuhan. UGM Press. Yoyakarta.
Widyoyo, P. Sehat Dengan Tanaman Obat. Jakarta: Bee Media. 2011.
Windi. 2014. Daya Hambat Minyak Atsiri Mawar (Rosa damascena Mill) Terhadap
Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus. Skripsi. Fakultas Kedokteran Gigi.
Universitas Hasanuddin: Makassar.

Anda mungkin juga menyukai