Anda di halaman 1dari 15

PENERAPAN EKOWISATA MANGROVE BERBASIS MASYARAKAT DI DESA

TELUK PAMBANG KECAMATAN BANTAN


Oleh : Romy Luviana
Pembimbing: Andri Sulistyani, S.S., M.Sc.
Email : Romyluviana@gmail.com

Jurusan Ilmu Administrasi Program Studi Usaha Perjalanan Wisata


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Riau
Kampus Bina Widya Jl. H.R. Soebrantas km. 12,5 Simp. Baru Pekanbaru 28293-
Telp/Fax. 0761-63277

ABSTRACT

This study aims to determine: (1) the planning of community association in mangrove ecotourism
area Teluk Pambang Village Bantan Subdistrict; (2) the communit\¶V UHVSRQVLELOLW\ 7HOXN
Pambang Village toward the development of mangrove tour in Teluk Pambang Village Bantan
Subdistric. This study used a qualitative method in form of descriptive approach, some informant
were taking as the subject of research and additional informant. The result of the research
showed that the involvement of Teluk Pambang Villagers in protecting, developing and
maintaining this mangrove ecotourism was in active. Only a few of them were participating.
Their attendance, business iniciative and their business purpose in this area was still limited
because of their own jobs at home. Mean while, the management position in organizing and
playing role was done well as well as the number of mangrove object managed. Although, illegal
logging was the main problem that caused obstade in maintenance and evaluation. At last,
people see mangrove ecotourism in Teluk Pambang as a potential way to lift up their economic
growth.

Keywords: Ecotourism, Mangrove, Community Based.

I. PENDAHULUAN secara komersial. Dengan visi ini ekowisata


memberikan peluang untuk mendapatkan
Wilayah pesisir sebagai salah satu kekayaan keuntungan bagi penyelenggara, pemerintah
dari sumber daya alam yang sangat penting setempat, penyelenggaraan yang
bagi rakyat dan pembangunan nasional memperhatikan kaidah-kaidah ekowisata,
tersebut haruslah dikelola secara terpadu dan mewujudkan ekonomi berkelanjutan.
berkelanjutan serta optimal melestarikan
hutan mangrove sebagai aspek pariwisata. Ekowisata merupakan bentuk wisata alami,
Dilihat dari potensi yang dimiliki oleh sedangkan wisata alam adalah bentuk wisata
Indonesia, mempunyai visi ekowisata yaitu yang sudah memiliki potensi namun
untuk menciptakan pengembangan terbentuk dari campur tangan manusia. Hal
pariwisata melalui penyelenggaraan yang ini menyebabkan meningkatnya promosi
mendukung upaya pelestarian lingkungan, yang mendorong orang untuk berperilaku
melibatkan dan menguntungkan masyarakat positif terhadap alam dan berkeinginan
daerah setempat, serta menguntungkan untuk mengunjungi kawasan yang masih
alami agar dapat meningkatkan kesadaran,

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 1


penghargaan, dan kepedulian terhadap alam. Mangrove merupakan salah satu ekosistem
Ekowisata Riau sendiri menjadi salah satu hutan tropis yang memiliki karakteristik
pilihan dalam mempromosikan lingkungan yang khas, dan juga salah satu ekosistem
yang khas yang masih terjaga keasliannya yang penting di daerah pesisir. Hutan
sekaligus menjadi suatu kawasan kunjungan mangrove sering disebut hutan payau karena
wisata. Potensi yang ada di Riau adalah sebagian besar hidup dan berkembang di
suatu konsep pengembangan lingkungan Daerah Payau. Keberadaan hutan mangrove
yang berbasis pada pendekatan di kawasan pesisir secara ekologi dapat
pemeliharaan dan konservasi alam. berfungsi sebagai perangkap sedimen
(sedimen trap), pelindung pantai dari badai
Pembangunan kepariwisataan untuk dan abrasi, sebagai habitat alami dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat, perlindungan bagi jenis ikan tertentu.
khususnya yang berdomisili di sekitar
destinasi sebagaimana tercermin dalam satu Tabel 1.1.
prinsip pembangunan kepariwisataan yang Objek Wisata Alam Kecamatan Bantan
berkelanjutan. Perkembangan teori Kabupaten Bengkalis
pembangunan kepariwisataan konvensional
yang sering kali mendapatkan banyak kritik No Objek Wisata Lokasi
telah mengabaikan hak dan meminggirkan 1 Pantai Jangkang Jangkang
masyarakat lokal dari kegiatan 2 Pantai Selatbaru Selatbaru
kepariwisataan di suatu destinasi. 3 Pantai Parit 3 Pambang
Hakikatnya pembangunan kepariwisataan Pambang Pesisir
tidak bisa lepas dari sumberdaya dan 4 Mangrove Teluk
keunikan komunitas lokal, baik berupa Pambang
elemen fisik maupun non fisik (tradisi dan Sumber: Dinas Pariwisata, Kebudayaan,
budaya), yang merupakan unsur penggerak Pemuda, dan Olahraga Kabupaten
utama kegiatan wisata itu sendiri sehingga Bengkalis, (2017).
semestinya kepariwisataan harus dipandang
sebagai kegiatan yang berbasis pada Berdasarkan tabel di atas merupakan salah
komunitas setempat (Murphy, 1988). satu data pelengkap bagi penelitian dimana
daftar objek wisata alam di Kecamatan
Masyarakat sebagai salah satu komponen di Bantan Kabupaten Bengkalis merupakan
dalam ekosistem tersebut memanfaatkan objek yang dapat dikunjungi sebagai tujuan
komponen lainnya untuk memenuhi rekreasi ataupun bersenang-senang. Salah
kebutuhan hidupnya. Dalam jumlah populasi satu kawasan yang memiliki ekosistem
yang terbatas pemanfaatan itu masih dalam mangrove di Kabupaten Bengkalis adalah
batas perubahan yang masih dapat diterima Desa Teluk Pambang dengan posisi yang
oleh ekosistem, tetapi bertambahnya strategis terletak di sisi timur Pulau
populasi penduduk di sekitar hutan Sumatera yang berhubungan langsung
mangrove menyebabkan kebutuhan hidup dengan Selat Melaka. Kondisi yang strategis
meningkat dan akibatnya pemanfaatan yang ini mampu memacu tingkat perkembangan
terjadi melebihi batas perubahan yang dapat ekonomi dan perubahan penduduk di daerah
diterima. Dan akhirnya terjadi ini. Namun, kawasan ini akan memikul
ketidakseimbangan atau kerusakan di dalam beban lingkungan yang berat, diantaranya
ekosistem hutan mangrove tersebut. kemungkinan terjadinya degradasi kondisi
lingkungan dan sumberdaya alam yang ada,
khususnya hutan mangrove.

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 2


II. TINJAUAN TEORI
Ekosistem hutan mangrove Desa Teluk
Pambang terdiri dari berbagai komponen 2.1 Pariwisata Berbasis Masyarakat
sumberdaya hayati berupa lahan, bentang
alam daratan, dan bentang alam perairan. Menurut (Asker et al, 2010: 1), Pariwisata
Komponen-komponen tersebut berinteraksi berbasis masyarakat merupakan
satu dengan lainnya membentuk satu kepariwisataan yang pada umumnya
kesatuan ekosistem alami. Mengingat diselenggarakan dalam skala kecil dimana
pentingnya keberadaan ekosistem mangrove didalamnya terjadi interaksi antara
di Desa Teluk Pambang Kecamatan Bantan pengunjung dan masyarakat tuan rumah.
Kabupaten Bengkalis secara fisik, biologi, Pariwisata berbasis masyarakat adalah
dan ekonomi, maka diperlukan langkah sejenis kepariwisataan yang perkembangan
untuk mengantisipasi kenyataan yang dapat dan pengelolaannya dikontrol oleh
memberikan kontribusi atas terdegradasinya masyarakat lokal, dimana bagian terbesar
ekosistem hutan mangrove, serta dari manfaat yang dihasilkan kepariwisataan
mendukung kegiatan-kegiatan yang tersebut dinikmati oleh masyarakat lokal
dilakukan oleh masyarakat daerah setempat baik yang terlibat secara langsung maupun
di kawasan hutan mangrove Desa Teluk tidak langsung dalam kepariwisataan
Pambang. Seiring dengan adanya kawasan tersebut. (Hausler dan Strasdas, 2002)
penyangga dan kawasan pengelolaan Pariwisata berbasis masyarakat memiliki
mangrove, kawasan ini perlu mendapatkan beberapa karakteristik sebagai berikut :
perhatian yang khusus dari tangan manusia,
salah satunya kawasan pengelolaan yang di 1. Pendidikan dan interpretasi sebagai
ciptakan sebagai kawasan objek wisata, bagian dari produk wisata
dengan tujuan agar pengunjung dan 2. Meningkatkan kesadaran masyarakat
masyarakat daerah setempat mengetahui lokal dan pengunjung terhadap
betapa pentingnya hutan mangrove pada konservasi
daerah kepulauan atau pesisir. 3. Umunya diperuntukkan bagi wisatawan
dalam jumlah kecil oleh usaha jasa yang
Masalah Penelitian dimiliki masyarakat lokal
a. Bagaimana penerapan ekowisata 4. Meminimalisir dampak negatif terhadap
mangrove berbasis masyarakat di Desa dan lingkungan sosial budaya
Teluk Pambang Kecamatan Bantan? 5. Mendukung upaya perlindungan daerah
b. Bagaimana tanggapan masyarakat Desa alam
Teluk Pambang terhadap pengembangan
wisata mangrove? Pariwisata berbasis masyarakat menciptakan
peluang untuk pelatihan dan bantuan teknis,
Tujuan Penelitian dan harus mengembangkan kemampuan
a. Untuk mengetahui rencana penerapan masyarakat dalam mengelola pemasaran,
masyarakat di kawasan ekowisata penjualan dan pendapatan keuangan. Selain
mangrove Desa Teluk Pambang menyiapkan fasilitas pendidikan (museum,
Kecamatan Bantan. jalan interpretative, taman botani) dan
b. Untuk mengetahui tanggapan atraksi lainnya. Masyarakat harus mampu
masyarakat Desa Teluk Pambang mengembangkan dan menyesuaikan
terhadap Pengembangan ekowisata program wisata secara independen setelah
Mangrove. beberapa tahun. (Hausler dan Strasdas,
2002) Selanjutnya, kegiatan pelayanan yang

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 3


dapat ditawarkan oleh masyarakat lokal terlibat aktif dalam manajemen dan
adalah: pembangunan kepariwisataan yang ada.
1. Memandu
2. Menyediakan transportasi b. Wujud tata kelola kepariwisataan yang
3. Catering dapat memberikan kesempatan pada
4. Akomodasi, Homestay masyarakat yang tidak terlibat langsung
5. Kerajinan dalam usaha-usaha kepariwisataan juga
6. Pertunjukan budaya (tari, nyanyi, cerita) bisa mendapatkan keuntungan dari
7. Demonstrai budaya dan instruksi (tenun, kepariwisataan yang ada.
praktik pertanian, music, kerajinan,
memasak). c. Bentuk kepariwisataan yang menuntut
pemberdayaan secara sistimatik dan
Pada tingkat keterlibatan seluruh demokratis serta distribusi keuntungan
masyarakat, intensitas partisipasi dalam yang adil kepada masyarakat dan kurang
pariwisata berbasis masyarakat mungkin beruntung yang ada di destinasi.
lebih tinggi atau lebih rendah.Proyek
pariwisata berbasis masyarakat dapat Secara prinsipial, pariwisata berbasis
dimiliki sepenuhnya dan dioperasikan oleh masyarakat berkaitan erat dengan adanya
masyarakat setempat. Tingkat partisipasi kepastian partisipasi aktif dari masyarakat
sangat tergantung pada kondisi lokal dan setempat dalam pembangunan
pada segmen pasar wisata yang menjadi kepariwisataan yang ada. Partisipasi
sasaran. Karena ditingkat ini yang paling masyarakat dalam pariwisata terdiri atas dua
tinggi adalah tingkat partisipasi, perspektif yaitu partisipasi masyarakat
perencanaan partisipatif pariwisata adalah dalam proses pengambilan keputusan dan
cara yang bisa memastikan bahwa partisipasi yang berkaitan dengan distribusi
pengembangan pariwisata didaerah dengan keuntungan yang diterima oleh masyarakat
prioritas mata pencaharian sangat dari pembangunan pariwisata. Sedangkan
berpengaruh. Oleh karena itu, dalam konsep menurut Suansri (2003 dalam Sunaryo
pariwisata berbasis masyarakat sangat 2013:142), di samping kesepuluh prinsip
penting (Hausler dan Strasdas, 2003). tadi, perkembangan kepariwisataan yang
berbasis masyarakat juga harus meliputi
Menurut Murphy (1988 dalam Sunaryo lima (5) dimensi pengembangan yang
2013:139), pada hakikatnya pembangunan merupakan aspek utama dalam
kepariwisataan tidak bisa lepas dari pembangunan kepariwisataan sebagai
sumberdaya dan keunikan komunitas lokal, berikut:
baik berupa Elemen Fisik Maupun Non a. Dimensi Ekonomi, dengan indikator
Fisik, Yang Merupakan unsur penggerak dengan adanya dana untuk
utama kegiatan wisata itu sendiri. Dalam pengembangan komunitas, terciptanya
salah satu tulisannya Murphy (1988) juga lapangan pekerjaan di sektor pariwisata,
telah memberikan beberapa batasan berkembangnya pendapatan masyarakat
pengertian tentang pariwisata berbasis lokal dari sektor pariwisata.
masyarakat dengan kisi-kisi ciri pembatasan b. Dimensi Sosial, dengan indikator
sebagai berikut : meningkatnya kualitas hidup,
peningkatan kebanggan komunitas,
a. Wujud tata kelola kepariwisataan yang pembagian peran gender yang adil antara
memberikan kesempatan kepada laki-laki dan perempuan, generasi muda
masyarakat lokal untuk mengontrol dan

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 4


dan tua, serta memperkuat organisasi manfaat besar bagi mereka untuk
komunitas. meningkatkan kualitas dan skill yang
c. Dimensi Budaya, dengan indikator dimiliki.
berupa mendorong masyarakat untuk
menghormati nilai budaya yang berbeda, 2.1.1 Keterlibatan Masyarakat
membantu berkembangnya pertukaran
budaya, berkembangnya nilai budaya Masyarakat dalam pengelolaan suatu objek
pembangunan yang melekat erat dalam wisata akan bersinergi dengan pihak
kebudayaan setempat. Pemerintah dan swasta yang mana hasilnya
d. Dimensi Lingkungan, dengan indikator merupakan dari masyarakat, oleh
terjaganya daya dukung lingkungan, masyarakat, dan untuk masyarakat
adanya sistem pengelolaan sampah yang (Dermatoto, 2009; 22).
baik, meningkatnya kepedulian akan
perlunya konservasi dan preservasi 2.1.1.1 Pelaksana
lingkungan. Masyarakat lokal dalam pelaksanaan suatu
e. Dimensi Politik, dengan indikator kegiatan wisata sangat berperan dalam
meningkatkan partisipasi dari penduduk mengembangkan kawasan wisata,
lokal, peningkatan kekuasaan komunitas khususnya kawasan wisata mangrove yang
yang lebih luas, dan adanya jaminan ada di Desa Teluk Pambang membutuhkan
hak-hak masyarakat adat dalam partisipasi masyarakat lokal baik di mulai
pengelolaan Sumberdaya alam. dari dibentuknya sampai dengan
keberlanjutan kawasan wisata mangrove
Apapun format definisi dan strategi yang
tersebut. Adapun hal yang mendorong
dipakai, pada prinsipnya model atau
masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan
paradigma pariwisata berbasis masyarakat
wisata (Dermatoto, 2009) adalah:
sangat mengharapkan adanya partisipasi
aktif dari masyarakat mulai dari a. Kehadiran dalam pelaksanaan
perencanaan, penyelenggaraan, b. Kegiatan usaha
pengendalian sampai dengan pemanfaatan c. Tujuan usaha yang dijalankan
hasil dari industri kepariwisataan yang ada.
Dalam mengelola dan mengembangkan 2.1.1.2 Pengelola
pariwisata berbasis masyarakat (Dermatoto,
2009) yang perlu diperhatikan adalah Dalam pengelolaan pembangunan
mempertahankan unique value yang berupa kepariwisataan, pengelola membutuhkan
adat istiadat, upacara tradisional, ritual adat, partisipasi masyarakat untuk ikut mengelola
kepercayaan, dan pertunjukkan seni kawasan hutan mangrove, melestarikan dan
tradisional dan seni kerajinan khas yang mengembangkannya. maka dari itu perlu
dimiliki oleh masyarakat dikawasan adanya sebuah rencana yang berguna
tersebut. Pembangunan pariwisata yang sebagai patokan dalam menjalankan
berhasil dimana memberikan keuntungan kegiatan tersebut yang nantinya dapat
secara ekonomis, social maupun budaya dilakukan secara terarah dan efisien untuk
kepada masyarakat setempat. Perputaran mengurangi dan dapat menyelesaikan resiko
nilai tersebut secara ekonomis akan dan kendala-kendala yang akan dihadapinya
meningkatkan efek secara majemuk dimana nanti. Adapun hal penting sebagai pengelola
semakin berkembangnya ekonomi (Dermatoto, 2009) adalah:
masyarakat setempat maka akan semakin
berkembang pula ekonomi lokal dan a. Kedudukan dalam organisasi

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 5


b. Peran dalam pengelolaan pengawas dari pihak swasta ataupun
c. Jumlah objek yang dikelola pemerintah. Dalam hal ini kesemua
komponen saling berkomunikasi dengan
2.1.1.3 Pemantau baik maka terciptanya tujuan bersama dalam
pengembangan pariwisata. Disamping itu,
Dalam perencanaan pembangunan kawasan masyarakat lokal merupakan pemilik
ekowisata mangrove, masyarakat langsung dari atraksi wisata yang dikunjungi
diikutsertakan dalam pengerjaan proyek. sekaligus dikonsumsi wisatawan. Sehingga
kemudian pengelola mangrove melakukan mereka juga merupakan seorang guider
pemantauan, pemantauan ini dilakukan agar yang memahami akan ruang lingkup wisata,
berjalan dengan baik proyek yang sejarah dan akses menuju satu tempat
dikerjakan. Berikut adalah hal yang terjadi ketempat lainnya.
sangat pemantauan dilakukan (Dermatoto,
2009): III. METODE PENELITIAN
a. Tugas pokok A. Desain Penelitian
b. Kendala yang dihadapi Penelitian ini menggunakan metode
c. Jangka waktu evaluasi kualitatif dengan pendekatan deskriptif.
Menurut Nawawi dalam Suddiana (2001),
Kesuksesan dan keberhasilan dari
metode kualitatif disebut juga penelitian
pembangunan tersebut tentunya harus
naturalistik, dimana peneliti berusaha
memperhatikan skala yang sesuai dengan
menggambarkan kondisi dan keadaan yang
kondisi dan karakteristik masyarakat
sesungguhnya. Penelitian kualitatif
setempat. Dalam hal ini yang harus diingat
merupakan penelitian yang bersifat atau
ialah dimana skala besar bukan menjadi
memiliki karakteristik yang datanya
patokan dalam mencapai sebuah
dinyatakan dalam keadaan sewajarnya atau
keberhasilan. Dengan kata lain bahwa skala
sebagaimana adanya (natural setting),
tersebut sesuai dengan masing-masing objek
dengan tidak mengubah dalam bentuk
dan daya tarik wisata yang mempunyai
simbol atau bilangan dan penelitian
keterbatasan-keterbatasan. Dengan
deskriptif dimana penelitian ini
memahami hal tersebut masyarakat dapat
mendeskripsikan keadaan sesuai dengan
meningkatkan potensi diri mereka sendiri
kejadian.
dengan mengandalkan potensi alam yang
ada di lingkungan mereka seperti bahari, B. Lokasi dan Waktu Penelitian
hutan, atraksi budaya dan kerajinan lokal
dengan menonjolkan keunikan dan kekhasan Adapun lokasi penelitian ini dilakukan di
dari daerah tersebut, dimana yang terjadi itu kawasan mangrove Desa Teluk Pambang
adalah icon dan kenangan bagi wisatawan Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis.
yang datang berkunjung sehingga mudah Penelitian ini diperkirakan dari bulan April -
dikenal dan diingat. Juni 2017.

Pengembangan tersebut dilakukan C. Metode Pengumpulan Data


membentuk sebuah lembaga atau organisasi
dalam melakukan pengembangan pariwisata Teknik pengumpulan data yang digunakan
berbasis masyarakat tersebut, dimana dalam penelitian ini adalah:
pengelola dilakukan oleh masyarakat
setempat. Sedangkan penasihat data a. Observasi

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 6


Observasi yaitu kunjungan langsung ke kualitatif adalah penelitian yang data-
lapangan penelitian kawasan mangrove yang datanya berupa kata-kata bukan angka yang
bertujuan untuk mengetahui secara langsung bersumber dari hasil wawancara, catatan
lingkungan fisik, lingkungan biologi, dan lapangan, dokumentasi, dan lain-lain atau
lingkungan sosial. Pengamatan juga penelitian yang didalamnya mengutamakan
dilakukan pada lokasi lain yang masih untuk pendeskripsian secara analisis suatu
berkaitan dengan titik destinasi. peristiwa atau proses sebagaimana adanya
dalam lingkungan yang alami untuk
b. Wawancara Mendalam memperoleh makna yang mendalam dari
hakikat proses tersebut. Dan oleh sebab itu,
Penelitian ini menggunakan wawancara penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan
dengan tujuan untuk mendapatkan data dan data serta gambaran yang bersifat objektif
informasi sebanyak-banyaknya sebagai dan akurat mengenai masalah yang akan
pendalaman dari pertanyaan-pertanyaan dikaji. Teknik analisis data pada penelitian
yang ada. Wawancara digunakan sebagai ini mengacu pada konsep Miles &
teknik pengumpulan data apabila peneliti Huberman (1992:20) dalam Nasution S
ingin melakukan studi pendahuluan untuk (1996:129) yaitu interaktif model yang
menemukan permasalahan yang harus mengklasifikasikan analisis data dalam tiga
diteliti. Wawancara mendalam dilakukan langkah, sebagai berikut:
dengan informan kunci yaitu orang-orang a. Reduksi data (data reduction)
yang memiliki pengetahuan luas mengenai Reduksi data yaitu suatu proses
Ekowisata di Desa Teluk Pambang. pemilihan, pemusatan perhatian pada
Informan kunci adalah orang-orang yang penyederhanaan, pengabstrakan dan
dinilai warga Desa Teluk Pambang seperti transformasi data kasar yang muncul
Kepala Desa, Pengelola mangrove, Tokoh dari catatan-catatan tertulis dilapangan.
masyarakat, Masyarakat setempat, dan b. Penyajian data (display data)
Informan tambahan yaitu Anggota Data ini tersusun sedemikian rupa
Kelompok Mangrove yang diperkirakan sehingga memberikan kemungkinan
dapat memperkaya data penelitian ini. adanya penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan. Adapun bentuk
c. Studi Dokumen yang lazim digunakan pada data
kualitatif terdahulu adalah dalam bentuk
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang
teks naratif. Terkait dengan display data,
sudah berlalu. Dokumen yang berbentuk
peneliti menyajikannya dalan bentuk
karya misalnya foto, gambar hidup, sketsa
tabel.
dan video. Dokumentasi yang digunakan
c. Penarikan kesimpulan (verifikasi)
untuk kepentingan penelitian berupa foto,
Penelitian ini akan diungkap mengenai
video dan gambar lain di kawasan mangrove
makna dari data yang dikumpulkan. Dari
Desa Teluk Pambang yang dianggap penting
data tersebut akan diperoleh kesimpulan
untuk penelitian ini.
yang tentative, kabur, kaku dan
D. Metode Analisis Data meragukan, sehingga kesimpulan
tersebut perlu diverifikasi. Verifikasi
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat kembali
sepenuhnya menggunakan metode penulisan reduksi data maupun display data
deskriptif dengan melibatkan tahap-tahap sehingga kesimpulan yang di ambil tidak
analisis kualitatif. Analisis deskriptif adalah menyimpang.

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 7


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN dengan curah hujan tiap bulan sekitar 5,4 ±
378,9 mm. sedangkan untuk musim kemarau
Desa Teluk Pambang berada di Pulau di Desa Teluk Pambang tepatnya di pesisir
Bengkalis tepatnya Kabupaten Bengkalis. yang masih dipengaruhi oleh iklim laut
Terletak di timur Pulau Sumatera dimana dengan suhu berkisar antara 21ºC sampai
pada bagian utara dan timur berbatasan dengan 34ºC. Berdasarkan pergerakan
langsung dengan selat Melaka, pada bagian angin, Desa Teluk Pambang dikenal adanya
selatan berbatasan dengan Desa Kembung empat musim yaitu:
Luar yang dipisahkan oleh Sungai
Kembung, dan bagian barat berbatasan a. Musim utara, terjadi pada bulan
dengan Desa Muntai. Ditinjau dari posisinya Desember sampai Februari. Ditandai
wilayah Desa Teluk Pambang ini terletak dengan keadaan angin kencang, perairan
SDGD NRRUGLQDW 1 ž ¶ - ž ¶ GDQ ( bergelombang kuat dan curah hujan
ž ¶ - ž ¶ %HUGDVDUNDQ GDWD GDUL yang tinggi.
Badan Pertanahan Nasional (BPN) b. Musim timur, terjadi pada bulan Maret
Kabupaten Bengkalis, Desa Teluk Pambang sampai Mei. Ditandai dengan keadaan
memiliki luas 114,00 Km² atau sebesar angin tenang dan cuaca panas tinggi.
26,86% dari luas keseluruhan Kecamatan c. Musim selatan, terjadi pada bulan Juni
Bantan, Kabupaten Bengkalis. Pusat sampai Agustus. Ditandai dengan
Pemerintahan Desa berada di Dusun Setia keadaan angin bertiup sedang dan curah
Kawan, Sungai Rambai. Jarak pusat hujan yang sedang.
Pemerintah Desa Teluk Pambang dengan d. Musim barat, terjadi pada bulan
Kecamatan yaitu Desa Selatbaru adalah 32 September sampai November. Ditandai
km, dengan Ibukota Kabupaten adalah 52 dengan keadaan angin cukup kencang
km dan dengan ibukota Provinsi sekitar 252 dan kadang-kadang bergelombang besar.
km.
Berdasarkan data administrasi Pemerintah
Desa Teluk Pambang memiliki bentuk Desa, jumlah penduduk yang tercatat secara
topografi yang datar dan memiliki administrasi adalah dengan jumlah total
ketinggian berkisar antara 2-5 meter dari 1037 jiwa. data penduduk saat ini diambil
permukaan laut. Keadaan tanah di wilayah dari blangko yang diisi oleh ketua RT di
ini merupakan daratan yang sebagian besar lingkungan masing-masing. Data tersebut
berlahan gambut dan tingkat kesuburan didapatkan seperti yang ada di tabel berikut
tanah sedang. Di sepanjang garis pantai dan ini.
di tepi aliran sungai ditumbuhi oleh vegetasi Tabel 4.1
mangrove. Namun, di beberapa lokasi tidak Jumlah penduduk berdasarkan jenis
lagi ditumbuhi oleh vegetasi mangrove kelamin Desa Teluk Pambang Tahun
disebabkan oleh terjadinya abrasi pantai. 2016
Sebagaimana Daerah-daerah di Pulau No Jenis Jumlah Persentase
Bengkalis lainnya, Desa Teluk Pambang Kelamin (%)
yang beriklim tropis memiliki dua musim 1 Laki-laki 507 49 %
yaitu musim penghujan dan musim kemarau. 2 Perempuan 530 51 %
Berdasarkan data Klimatologi pada tahun Jumlah 1037 100%
2016 Kabupaten Bengkalis oleh Badan Sumber: Monografi Desa Teluk Pambang
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Tahun 2016
(BMKG) Provinsi Riau, jumlah frekuensi
hujan tiap bulannya sebanyak 3-20 hari,

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 8


Berdasarkan tabel diatas dapat dikemukakan Gambaran Umum Ekowisata Mangrove
bahwa jumlah penduduk di Desa Teluk Belukap
Pambang berjumlah 1037 jiwa, dengan
rincian penduduk yang berjenis kelamin Ekowisata Mangrove Belukap terletak di
laki-laki berjumlah 507 jiwa dengan Jalan Jendral Sudirman tepatnya di Desa
hitungan persentase sebanyak 49%, Teluk Pambang Kecamatan Bantan
sedangkan yang berjenis kelamin perempuan Kabupaten Bengkalis yang di kelola oleh
berjumlah 530 Jiwa dengan persentase 51%. Bapak Syamsul Bahri selama 2 periode dari
Dapat dilihat bahwa penduduk Desa Teluk awal dibentuk hingga sekarang. Bapak
Pambang lebih banyak yang berjenis Syamsul Bahri membentuk suatu kelompok
kelamin perempuan dibandingkan laki-laki, untuk menjaga dan melindungi hutan
dan jumlah penduduk Desa Teluk Pambang mangrove yaitu POKMASWAS (Kelompok
sedikit jika dibandingkan dengan Desa lain Masyarakat Pengawas). Selain untuk
di Bengkalis, tetapi Desa Teluk Pambang menjaga dan melindungi, pengelola
adalah Desa induk sebelum adanya mangrove di Desa Teluk Pambang
pemekaran. melakukan pengembangan dengan
melestarikan beberapa jenis tanaman
Tabel 4.2 mangrove dan dikelola dengan baik oleh
Jumlah Penduduk Menurut Mata kelompok masyarakat disana, jenis tanaman
Pencaharian di Desa Teluk Pambang yang terdapat di kawasan mangrove
Tahun 2016 BELUKAP adalah sebagai berikut:
No Pekerjaan Jumlah
1 Petani 112 Tabel 4.7
2 Wiraswasta 103
3 Buruh 85 Jenis-jenis tumbuhan mangrove di Desa
4 PNS/ Honorer 63 Teluk Pambang
5 Nelayan 15 No Spesies Nama
Lokal
6 Penjahit/ pengrajin 13
1 Rhizopora mucronata Belukap
7 Peternak 6
2 Acanthus ilicifolius Jeruju
8 Pensiun 4
3 Nypa fruticans Nipah
9 Tukang 2
4 Avicennia lanata Api-api
10 Akuntan 1
5 Sonneratiaceae Perepat
11 Bidan 1
6 Bruguiera parviflora Lenggadai
Jumlah 405
7 Lumnitzera littorea Sesup
Sumber: Monografi Desa Teluk Pambang
8 Famili meliaceae Nyirih
Tahun 2016
9 Morinda citrifolia Mengkudu
Berdasarkan tabulasi data tersebut 10 Rhizophora apiculata Bakau Putih
teridentifikasi bahwa jumlah penduduk Desa Sumber: Kelompok Pengelola Mangrove
Teluk Pambang yang mempunyai mata Belukap 2016
pencaharian bergantung pada sektor tani dan
wiraswasta. Penduduk Desa Teluk Pambang Tumbuhan yang terdapat di kawasan hutan
yang bermata pencaharian tani seperti karet, mangrove adalah tumbuhan yang ditanami
pinang, dan kelapa. Sedangkan dari sektor oleh pengelola mangrove beserta masyarakat
wiraswasta yaitu penduduk yang memiliki Desa Teluk Pambang kemudian dijaga
kemampuan dalam usaha seperti bengkel, dengan sebaik mungkin. Selain dari itu,
dan usaha mebel atau perabotan.
Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 9
terdapat juga beberapa hewan yang menjadi terjadi pemerataan pembangunan dan
bahan pangan bagi masyarakat Desa Teluk terjaganya biota yang ada didalamnya
Pambang. Hewan-hewan tersebut bisa sehingga masyarakat pesisir dan lingkungan
dilihat di tabel dibawah ini: terlindungi dari dampak negatifnya.
Tabel 4.8
Penerapan Ekowisata Mangrove Berbasis
Jenis Hewan di Kawasan Mangrove Desa
Masyarakat di Desa Teluk Pambang
Teluk Pambang
No Nama hewan Dilihat dari pengertian penerapan yaitu
1 Rama-rama mempraktekkan metode, atau hal lain untuk
2 Siput Brongan mencapai tujuan tertentu dan untuk
3 Ikan Bandeng kepentingan yang diinginkan. Ekowisata
4 Ikan Lomek mangrove yang berada di Desa Teluk
5 Ikan Tembakul Pambang adalah berbasis masyarakat,
6 Sepahat dengan maksud pengelola mengajak
7 Udang masyarakat Desa Teluk Pambang untuk ikut
berpartisipasi dalam setiap pelaksanaan,
8 Kepiting
pengelolaan, hingga pemantauan disetiap
9 Kerang
kegiatan (Dermatoto, 2009; 22). Berikut
10 Lokan
adalah keterlibatan masyarakat dalam
Sumber: Kelompok Pengelola Mangrove
kegiatan ekowisata mangrove.
Belukap 2016
A. Pelaksana
Pendirian Ekowisata Mangrove Kawasan ekowisata mangrove belukap di
BELUKAP Desa Teluk Pambang dalam
Kelompok Pengelola Mangrove (KPM) mengembangkan ekowisata mangrove untuk
BELUKAP ditetapkan pada tanggal 21 melaksanakan kegiatan mulai dari gotong
Maret 2004 di Teluk Pambang oleh orang- royong, penanaman bibit mangrove, hingga
orang yang peduli terhadap masyarakat membuat fasilitas semuanya membutuhkan
pesisir di Bengkalis. Pemerataan kerjasama dari masyarakat setempat. Dari
pembangunan dan pemeliharaan ekosistem semua kegiatan tersebut dapat dilihat dari
menjadi sorotan yang utama. Selama ini, segi kehadiran masyarakat, kegiatannya, dan
Bengkalis dikenal dengan negeri yang kaya. tujuan dari kegiatan tersebut.
Akan tetapi, masih banyak terdapat
a. Kehadiran dalam pelaksanaan
masyarakat yang cenderung berada pada
Kehadiran masyarakat Desa Teluk Pambang
kelompok kemiskinan. Alasan utama yang
dalam setiap kegiatan mangrove yang
dipandang bahwa pembangunan belum
dilaksanakan oleh pengelola, yang ikut
mampu diarahkan pada upaya
terlibat hanya sebagian masyarakat saja
memberdayakan masyarakat pesisir
yang hadir, hal tersebut karena masyarakat
sehingga belum dapat mencapai peningkatan
Desa Teluk Pambang sibuk dengan
kesejahteraan masyarakat. Untuk itu,
kegiatannya masing-masing dan tidak
Kelompok Pengelola Mangrove (KPM)
memiliki waktu luang untuk ikut
BELUKAP Bengkalis hadir sebagai
berpartisipasi. Masyarakat Desa Teluk
organisasi yang mengambil kepedulian
Pambang perekonomiannya adalah dengan
dengan sasaran utama bagaimana
bertani, sehingga dalam sehari-harinya
meningkatkan peran masyarakat pesisir mereka lebih mementingkan hasil tani
dalam pembangunan serta memelihara
ekosistem lingkungan sehingga mampu

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 10


dibanding ikut berpartisipasi untuk menjaga kerajinan yang berbahan dasar dari kulit
dan melindungi hutan mangrove. seafood, dan untuk Bapak-bapaknya bisa
menyewakan transportasi, kegiatan tersebut
b. Kegiatan usaha
bisa menambah lagi ekonomi mereka
Masyarakat Desa Teluk Pambang untuk sehingga tidak fokus terhadap tani saja.
kegiatannya hanya bersifat sementara,
artinya usaha ini diadakan ketika B. Pengelola
pengunjung ramai yang datang. jika Kelompok Pengelola Mangrove (KPM)
pengunjung yang datang hanya beberapa Belukap dalam suatu kegiatan membutuhkan
orang, masyarakat tidak mau membuka atau masyarakat untuk ikut bergabung, pengelola
memulai usaha tersebut karena hanya akan adalah orang yang menjaga dan mengadakan
membuang waktu saja. Selain kantin, suatu kegiatan di objek yang dikelola.
beberapa Ibu-ibu dari masyarakat Desa Pengelola berhak mengadakan musyawarah
Teluk Pambang juga ikut dalam membuka atau rapat supaya masyarakat bisa ikut dan
sebuah kelompok makanan kering yang berbagi pendapat tentang ekowisata
berbahan dasar singkong atau ubi, kemudian mangrove yang ada di Desa Teluk Pambang
ikan lomek dan juga jengkol. Kelompok dan masyarakat bisa mengetahui manfaat
Assyura yang dibentuk oleh Ibu-ibu dari dari mangrove tersebut.
masyarakat Desa Teluk Pambang ini adalah
a. Kedudukan dalam organisasi
cabang dari kelompok mangrove belukap,
kelompok ini berdiri dengan maksud untuk Kedudukan Bapak Syamsul sebagai Ketua
membantu kelompok mangrove dalam hal pengelola sudah lama, sudah 2 periode
makanan. Tetapi untuk lokasi Kelompok menjabat sebagai Ketua, dan tentunya sudah
Assyura berada tidak dikawasan mempunyai banyak pengalaman dibidang
mangrovenya, lokasinya bersebelahan ekowisata mangrove. Sebagai ketua juga
dengan rumah ketua pengelola mangrove Bapak Syamsul sudah pernah ikut pelatihan
belukap. Jenis makanan kering ini bisa di berbagai Daerah sambil melihat
dijadikan oleh-oleh pengunjung yang datang ekowisata Daerah lain, oleh sebab itu
ataupun yang menginap. Selain dari anggota kelompok masih mempercayakan
kelompok Assyura, Ibu-ibu masyarakat Bapak Syamsul sebagai Ketua hingga saat
Desa Teluk Pambang juga ikut serta dalam ini. Dan Anggota, semua kegiatan yang
penyemaian bibit bakau ke polybag untuk berhubungan dengan ekowisata mangrove
mempermudah dalam penanaman nantinya. dilaksanakan menunggu perintah dan saran
dari ketua pengelola, anggota hanya bisa
c. Tujuan usaha yang dijalankan melaksanakan perintah tersebut. begitupun
dengan masyarakat, mereka ikut terlibat jika
Perekonomian masyarakat Desa Teluk
diperintahkan dan itu juga jika mereka tidak
Pambang adalah pertanian, kehidupan
sibuk dengan kegiatan pribadinya.
mereka bergantung dari hasil tani.
b. Peran dalam pengelola
Seharusnya usaha yang dijalankan di
kawasan mangrove itu adalah usaha tetap, Pengelola mangrove memiliki peran yang
tetapi karena masalahnya di pengunjung begitu besar, dimana peran itu berfungsi
yang datang tidak setiap hari sehingga untuk kawasan mangrove agar kedepannya
masyarakat Desa Teluk Pambang tidak bisa lebih bagus lagi. Sebagai ketua pengelola
melanjutkan usahanya. Dengan kata lain, mengajak anggotanya untuk lebih aktif
Pengelola harus menambah lagi usaha yang dalam menindak lanjuti masalah yang
lain untuk Ibu-ibu seperti membuat terjadi, sehingga anggota tidak harus

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 11


berdiam diri ketika terdapat masalah dan lapangan pekerjaan. Padahal hutan bakau
harus memikirkan solusinya untuk ditanam dengan maksud untuk menghindari
mengatasi tersebut. intrusi air laut, mencegah erosi dan abrasi
pantai. Jika dibiarkan terus menerus Desa
c. Jumlah objek yang dikelola
Teluk Pambang akan terancam mengalami
Objek yang dikelola di Desa Teluk Pambang pasang air laut seperti dahulu lagi.
terdapat 3 objek, yang membedakannya b. Kendala yang dihadapi
adalah pengelolanya. Biasanya untuk lokasi
yang dijadikan penelitian oleh mahasiswa Kendala sering terjadi di setiap kegiatan,
adalah kawasan mangrove belukap, jika kendala bisa diartikan sebagai halangan
peneliti ingin melihat keadaan bakau secara ataupun rintangan. Kelompok pengelola
keseluruhan dapat melewati mangrove mangrove dalam setiap kegiatan sering
perepat karena dikawasan ini terdapat anak terjadi kendala, tetapi setiap kendala yang
sungai dan dapat dilewati dengan terjadi pasti ada solusinya. Masyarakat Desa
menggunakan motorboat, kemudian Teluk Pambang merupakan salah satu
perkemahan oleh Mapala ataupun Pramuka kendala dari kelompok pengelola mangrove,
biasanya adalah di lakukan di Pantai Parit 1 karena kelompok mangrove belukap Desa
karena disana lahannya lebih luas Teluk pambang adalah berbasis masyarakat
dibandingkan kawasan yang dimangrove. tetapi yang ada masyarakatnya kurang
peduli akan hal itu, hanya beberapa saja
C. Pemantau
yang peduli dan ikut terlibat. Kendala
Pemantau atau monitoring adalah kegiatan lainnya kendala dari segi financial,
yang dilakukan untuk mengecek dari kemudian partisipasi dari anggota kelompok
aktivitas yang sedang dikerjakan. hanya sedikit yang disibukkan oleh kegiatan
Pemantauan pada umumnya dilakukan untuk masing-masing, dan juga kurangnya
tujuan tertentu, untuk memeriksa apakah transportasi yaitu hanya memiliki 1
program yang telah berjalan itu sesuai motorboat saja dan ditambah lagi dengan
dengan sasaran atau sesuai dengan tujuan tingkah laku suku lain (suku akit/asli) yang
dari program tersebut. Pemantauan adalah ikut campur tangan bukannya untuk
bagian dari pengawasan, kelompok membantu tetapi untuk menambah rintangan
pengelola mangrove belukap selain yang ada. Rintangan dari suku asli ini
melestarikan hutan bakau juga bertugas bersifat menyerang, karena mereka memiliki
mengawasi bakau tersebut dari ulah tangan sampan tradisional sendiri sehingga
manusia. penyerangan bisa sewaktu-waktu dilakukan.
a. Tugas pokok c. Jangka waktu evaluasi
Tugas pokok dari pemantau adalah menjaga Evaluasi merupakan penilaian dimana
hutan mangrove dari kerusakan akibat ulah tahapan yang berkaitan erat dengan kegiatan
tangan manusia. penebangan liar hutan pemantau, karena evaluasi dalam
bakau sedang merajalelanya di kawasan merencanakan suatu kegiatan merupakan
ekowisata mangrove belukap Desa Teluk bagian yang tidak terpisahkan. (Menurut
Pambang, pelaku masih berani menebang Mehrens dan lehmann, 1978) evaluasi
pohon yang bukan miliknya untuk dijual. adalah suatu proses merencanakan,
Faktor penyebab masih terjadinya memperoleh, dan menyediakan informasi
penebangan liar (Illegal Logging) adalah yang sangat diperlukan untuk membantu
karena kebutuhan ekonomi dan kurangnya alternatif-alternatif keputusan. Evaluasi

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 12


diarahkan untuk mengendalikan dan pengamatan yang sudah berlangsung
mengontrol ketercapaian tujuan, evaluasi (Sumadi Suryabrata, 1989: 36).
bisa dilakukan jika program telah berjalan
Masyarakat Desa Teluk Pambang
setidaknya dalam suatu periode sesuai
menanggapi ekowisata mangrove sebagai
dengan tahapan rancangan dan jenis
ekowisata yang memiliki potensi yang
program yang dibuat dalam perencanaan.
bagus, yang dapat memberikan nilai positif
waktu evaluasi yang dilakukan pengelola
bagi masyarakat Desa Teluk Pambang.
adalah 3 bulan sekali, waktu tersebut adalah
Kemudian, dapat menambah perekonomian
waktu yang lumayan lama dalam 1 tahun
masyarakat melalui kegiatan yang
sekali dan bagus untuk dijadikan evaluasi
disalurkan oleh ketua pengelola seperti
karena bisa dilihat dalam kurun waktu 3
penyemaian bibit mangrove, membangun
bulan, yang ada dikawasan ekowisata
fasilitas dikawasan mangrove dengan
mangrove akan berubah tentunya menjadi
mengajak beberapa masyarakat Desa Teluk
penilaian yang berguna ketika dilakukan.
Pambang, dan juga membuka usaha kecil-
Kelompok pengelola mangrove sudah
kecillan. Dengan demikian, dapat dilihat
menerapkan ekowisata mangrovenya kepada
bahwa masyarakat setempatnya tidak merasa
masyarakat Desa Teluk Pambang, hanya
keberatan dengan adanya ekowisata
saja masyarakat Desa Teluk Pambang
mangrove. Selain dari pada itu, masyarakat
kurang berpengalaman dalam membidangi
juga memiliki tanggapan lain untuk
hutan bakau ini sehingga mereka lebih
pengembangan objek wisata mangrove
mencari pekerjaan lain. Jadi masyarakat
belukap, tentunya dengan tanggapan ini
Desa Teluk Pambang belum banyak yang
mempunyai nilai yang bagus untuk Desa
peduli tentang lingkungan dan belum bisa
Teluk Pambang kedepannya.
menjaga konservasi hutan yang ada
diwilayah ini. Tanggapan tersebut bertujuan agar
ekowisata mangrove yang ada di Desa Teluk
Tanggapan masyarakat Desa Teluk Pambang dapat meningkatkan kualitasnya,
Pambang terhadap pengembangan sehingga bisa meningkatkan jumlah
ekowisata mangrove pengunjung juga karena jika dilihat di setiap
Masyarakat Desa Teluk Pambang dalam tahunnya mengalami penurunan jumlah
pengembangan ekowisata mangrove tidak kunjungan, dan untuk pengunjung yang
mempunyai keinginan untuk ikut bergabung datang tidak merasa kecewa dengan fasilitas
kedalam kelompok pengelola, disebabkan yang ada di kawasan mangrove tersebut.
masyarakat kurang tertarik dengan kegiatan Untuk saat ini, fasilitas yang sudah tersedia
yang ada. Tujuan ekowisata adalah orang- di kawasan ekowisata mangrove adalah
rumah singgah, gazebo, toilet umum, papan
orang yang melakukan ekoturisme dan
memiliki kesempatan untuk membenamkan informasi dan jembatan kayu. Hanya saja
dirinya ke lingkungan alam dalam suatu cara fasilitas-fasilitas yang ada itu belum
yang tidak tersedia di lingkungan perkotaan sempurna sepenuhnya.
(Caballos-Lascurain dalam Sudiana (2001). V. PENUTUP
Masyarakat Desa Teluk Pambang memiliki
Kesimpulan
beberapa tanggapan yang berarti bayangan
yang berupa kesan-kesan yang ada dalam Ekowisata mangrove belukap yang ada di
ingatan seseorang tentang hasil dari Desa Teluk Pambang sudah lama dibentuk
pengamatan terhadap suatu objek yang sejak tahun 2003, kemudian keluar Surat
sudah lepas dari ruang dan waktu Keputusan Bupati pada tahun 2004. Sejak

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 13


saat itu, ekowisata mangrove mulai 2. Tanggapan masyarakat mengenai
didatangi oleh pengunjung dari berbagai ekowisata mangrove Desa Teluk
Daerah bahkan Negara sekalipun. Tetapi Pambang adalah sebagai ekowisata yang
lama kelamaan jumlah kunjungan memiliki potensi yang bagus, yang dapat
mengalami penurunan, sehingga ekowisata memberikan nilai positif bagi
mangrove belukap jauh sekali dari masyarakat Desa Teluk Pambang.
ekowisata mangrove lainnya yang ada di Kemudian, dapat menambah
Riau. Ekowisata mangrove di Desa Teluk perekonomian masyarakat melalui
Pambang merupakan berbasis masyarakat kegiatan yang disalurkan oleh ketua
dengan maksud masyarakatnya untuk ikut pengelola seperti penyemaian bibit
terlibat disetiap kegiatan yang dilaksanakan mangrove, membangun fasilitas
di kawasan ekowisata, agar dapat dikawasan mangrove dengan mengajak
mengembangkan kawasan mangrove beberapa masyarakat Desa Teluk
menjadi lebih baik. Berdasarkan hasil Pambang, dan juga membuka usaha
penelitian yang telah penulis jabarkan terkait kecil-kecillan.
dengan Penerapan Ekowisata Mangrove
Berbasis Masyarakat di Desa Teluk Saran
Pambang Kecamatan Bantan, maka dapat
diambil kesimpulan antara lain sebagai Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka
berikut: penulis mencoba menyampaikan beberapa
1. Keterlibatan masyarakat Desa Teluk saran terkait dengan Penerapan Ekowisata
Pambang dalam menjaga, Mangrove Berbasis Masyarakat di Desa
mengembangkan, dan memelihara Teluk Pambang Kecamatan Bantan:
ekowisata mangrove kurang aktif dan
1. Diharapkan untuk pengelola mangrove
kurang mencintai alam, hanya sebagian
belukap Desa Teluk Pambang untuk
saja dari masyarakat yang ikut
lebih memperhatikan kawasan
berpartisipasi. Berikut keterlibatan
mangrovenya, apalagi untuk masalah
masyarakat di kawasan ekowisata
penebangan liar yang sampai saat ini
mangrove Desa Teluk Pambang:
masih juga terjadi. Sebaiknya Tim
a. Pelaksanaan dari segi kehadiran,
POKMASWAS lebih sering lagi
kegiatan usaha, hingga tujuan dari
melakukan pemantauan agar penebang
usaha yang dijalankan belum
liar tidak berani lagi dalam
berjalan dengan baik, karena
penebangannya.
masyarakatnya lebih mementingkan
2. Pengelola mangrove sebaiknya
kegiatan lain dibandingkan menjaga
memperhatikan fasilitas yang ada
ekowisata mangrove.
dikawasan mangrove, karena jembatan
b. Pengelolaan untuk kedudukan dalam
kayu untuk menuju gazebo sudah lapuk.
organisasi, peran pengelola, dan
Jika ada pengunjung yang datang dan
jumlah objek yang dikelola lumayan
melewati jembatan kayu maka
baik, karena ketua pengelola lebih
pengunjung akan jatuh, sebaiknya
mengedepankan mangrovenya.
jembatan kayu diganti dengan yang baru
c. Pemantauan dari segi tugas pokok,
demi kenyamanan pengunjung.
kendala yang dihadapi dan jangka
3. Bagi masyarakat Desa Teluk Pambang
waktu evaluasi kurang baik, karena
sebaiknya dalam setiap kegiatan
masih saja terdapat Illegal Logging
meluangkan waktunya untuk hadir dan
di kawasan mangrove.
mengikuti kegiatan tersebut agar

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 14


nantinya bisa menambah pengalaman 3. Ibu Andri Sulistyani, S.S., M.Sc. selaku
dan lebih bisa mencintai alam. Pembimbing yang memberikan ilmu,
4. Bagi Pj. Kepala Desa Teluk Pambang informasi, saran dan motivasi dalam
karena masih baru sebaiknya hadir disela menyelesaikan Tugas Akhir ini.
kegiatan masyarakat Desa Teluk 4. Segenap Dosen dan Karyawan Fakultas
Pambang agar lebih mengenal lagi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
dengan masyarakatnya. Riau atas dedikasinya selama ini.
5. Bagi pengelola mangrove sebaiknya
menambah transportasi motorboat untuk DAFTAR PUSTAKA
jalur sungai kondeng agar saat
pemantauan dilakukan anggota Asker, S., dkk. 2010. Effective Community
kelompok bisa ikut semua bahkan Based Tourism, A Best Practice
masyarakat pun harus ikut. Manual. Singapore: Sustainable
6. Bagi masyarakat Desa Teluk Pambang Tourism Cooperative Research.
sebaiknya gunakan media sosial untuk
mempromosikan kawasan ekowisata David, Fres R., 2006. Manajemen Strategis.
mangrove didunia maya sehingga bisa Edisi Sepuluh, Penerbit Salemba
menambah jumlah kunjungan. Empat, Jakarta

Ucapan Terima Kasih Demartoto, A. 2009. Pembangunan


Pariwisata Berbasis Masyarakat.
Penulis mengucapkan terima kasih yang tak Sebelas Maret University Press.
terhingga kepada kedua orang tua yang telah Surakarta.
memberikan segala kasih sayang, cinta dan
perhatian yang begitu besar, kepada Bapak Fandeli, Chafid. 2002. Perencanaan
Jono yang tidak pernah mengenal lelah demi Kepariwisataan Alam. Penerbit
anak-anaknya, dan Ibu Norrahimah yang Fakultas Kehutanan Universitas
selalu mendoakan kesuksesan disela-sela Gadjah Mada. Yogyakarta.
waktunya selama ini. Penulis menyadari
Hausler, N dan Strasdas W. 2002. Training
bahwa dalam penulisan Tugas Akhir ini
Manual for Community Based
penulis mendapat bantuan dari berbagai
Tourism. Inwent Germany.
pihak, maka dalam kesempatan ini dengan
segala kerendahan hati, penulis ingin Murphy, P.E., 1988, Community Driven
menyampaikan ucapan terima kasih atas Tourism Planning, Tourism
segala bantuan, bimbingan dan dukungan Management.
yang telah diberikan sehingga Tugas Akhir
ini dapat terselesaikan kepada: Suansri, Potjana. 2003, Community Based
1. Ibu Mariaty Ibrahim, S.Sos., M.Si. Tourism Handbook. Thailand: REST
selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Project
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Riau. Sugiyono, 2014. Metode Penelitian
2. Ibu Dr. Dra. Hj. Rd. Siti Sofro Sidiq, Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
M.Si selaku koordinator Program Studi Bandung.
Usaha Perjalanan Wisata Jurusan Ilmu
Sunaryo, Bambang. 2013, Kebijakan
Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan
Pembangunan Destinasi Pariwisata
Ilmu Politik Universitas Riau.
Konsep dan Aplikasinya di
Indonesia. Yogyakarta: Gava Media.

Jom FISIP Vol.4 No.2 Oktober 2017 Page 15