Anda di halaman 1dari 13

Vol. V, No.

2 Oktober 2015

KEMITRAAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN


KELOMPOK MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN
HUTAN MANGROVE DI DESA TONGKE-TONGKE
KABUPATEN SINJAI

Raman1, Ihyani Malik2, Hamrun1


1Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Makassar
Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar 90221
Telp. 0411-866972 ext.107.Fax.0411-8655888
Raman92@gmail.com, hamrun07@gmail.com

2Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Makassar
Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar 90221
Telp. 0411-866972 ext.107.Fax.0411-8655888
Ihyani_malik@yahoo.co.id

ABSTRACT

This study aims to determine the shape of local government partnership with community groups in the
management of mangrove forests in the village Tongke - Tongke of Sinjai Regency. The method used in this
research is qualitative descriptive approach. The results showed that the form of partnership that exists is a
form of pseudo -partnership or quasi partnership which is an alliance between two or more parties , but do
not make it an equal partnership. Planting is done by the government and community groups in the
mangrove forest management can be quite good and has the potential to achieve sustainable mangrove
forest.

Keywords : partnership , mangrove forests , Tonke - Tongke

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kemitraan pemerintah daerah dengan kelompok
masyarakat dalam pengelolaan Hutan Mangrove di Desa Tongke-tongke Kabupaten Sinjai. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa bentuk kemitraan yang terjalin yaitu bentuk pseudo-partnership atau kemitraan semu yang
merupakan sebuah persekutuan yang terjadi antara dua pihak atau lebih, namun tidak melakukan
kerjasama secara sederajat. Penanaman yang dilakukan oleh pihak pemerintah dan kelompok masyarakat
dalam pengelolaan hutan mangrove dapat dikatakan cukup baik dan berpotensi untuk mewujudkan hutan
mangrove yang berkelanjutan.

Kata Kunci : Kemitraan, Hutan Mangrove, Tonke-Tongke

189
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

A. PENDAHULUAN salah satu lahan basah di daerah tropis


dengan akses yang mudah serta kegunaan
Hutan mangrove merupakan salah satu komponen biodiversitas dan lahan yang tinggi
dari kekayaan sumberdaya alam di Indonesia telah menjadikan sumberdaya tersebut
dan harus dikelola dengan baik. Kebijakan sebagai sumberdaya tropis yang
pengelolaan dimaksud, selanjutnya secara kelestariannya akan terancam dan menjadi
nasional telah diatur dalam Pasal 3 Undang- salah satu pusat dari isu lingkungan global.
Undang nomor 27 tahun 2007 tentang Konversi hutan mangrove terus meningkat
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau untuk dijadikan lahan pertanian atau tambak
kecil bahwa Pengelolaan Wilayah Pesisir dan ikan/udang, sehingga menyebabkan
Pulau-Pulau Kecil berasaskan: keberlanjutan, penurunan produktivitas ekosistem tersebut.
konsistensi, keterpaduan, kepastian hukum, Salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang
kemitraan, pemerataan, peran serta masih memiliki hutan mangrove yang cukup
masyarakat, keterbukaan, desentralisasi, luas adalah Kabupaten Sinjai.
akuntabilitas dan keadilan. Meningkatnya kecenderungan
Hutan mangrove merupakan suatu pengrusakan ekosistem hutan mangrove
ekosistem yang mempunyai peranan penting seiring dengan meningkatnya kebutuhan
ditinjau dari sisi ekologis maupun aspek sosial hidup masyarakat lokal seperti, penebangan
ekonomi. Hutan mangrove adalah tipe hutan pohon mangrove yang dijadikan kayu bakar
yang ditumbuhi dengan pohon bakau untuk kebutuhan rumah tangga dan bara
(mangrove) yang khas terdapat di sepanjang arang untuk diperdagangkan, tanpa mem-
pantai atau muara sungai dan dipengaruhi perhatikan daya dukung dan daya pulihnya,
oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove serta meningkatnya aktivitas pencari kepiting
mempunyai fungsi ganda dan merupakan mata (pasodok) yang mencari kepiting ke wilayah
rantai yang sangat penting dalam memelihara ekosistem mangrove juga memicu
keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. peningkatan kerusakan hutan mangrove.
Sebagai suatu ekosistem dan sumberdaya Upaya pelestarian kembali hutan mangrove
alam, pemanfaatan mangrove diarahkan yang telah mengalami kerusakan beberapa
Untuk kesejahteraan ummat manusia waktu lalu, telah menjadi perhatian oleh
dan untuk mewujudkan pemanfaatannya agar masyarakat desa Tongke- Tongke, Kecamatan
dapat berkelanjutan, maka ekosistem Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai dengan
mangrove perlu dikelola dan dijaga ke- melakukan penanaman kembali terhadap
beradaannya. Kerangka pengelolaan hutan hutan mangrove yang rusak melalui swadaya
mangrove terdapat dua konsep utama. masyarakat. Masalah berikutnya adalah
Pertama, perlindungan hutan mangrove yaitu penebangan secara liar baik digunakan
suatu upaya perlindungan terhadap hutan sebagai kayu bakar, atau dijadikan arang
mangrove menjadi kawasan hutan mangrove untuk dijual, perluasan areal tambak secara
konservasi. Kedua, rehabilitasi hutan tidak terkendali, sehingga apabila hal ini tidak
mangrove yaitu kegiatan penghijauan yang segera dihentikan, maka suatu saat kita tidak
dilakukan terhadap lahan-lahan yang dulu melihat lagi hutan mangrove di Kabupaten
merupakan salah satu upaya rehabilitasi yang Sinjai dan hal ini merupakan bencana besar.
bertujuan bukan saja untuk mengembalikan Dalam pengelolaan hutan mangrove
nilai estetika, tetapi yang paling utama adalah terdapat suatu bentuk kerja sama atau
untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan kemitraan pada esensinya adalah dikenal
hutan mangrove yang telah ditebang dan dengan istilah gotong royong atau kerjasama
dialihkan fungsinya kepada kegiatan lain. dari berbagai pihak, baik secara individual
Walters (2008) menyatakan bahwa hutan maupun kelompok. Menurut Notoatmodjo
mangrove di sepanjang pesisir pantai dan (2003), kemitraan adalah suatu kerja sama
sungai secara umum menyediakan habitat bagi formal antara individu-individu, kelompok-
berbagai jenis ikan. Hutan mangrove sebagai kelompok atau organisasi-organisasi untuk

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 190


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu. manfaat antara pihak yang bermitra, Menurut
Prinsip kemitraan yang dijadikan dasar Hafsah dalam Takbir, 2013) mengemukakan
etika dalam bisnis dan kerjasama yang harus tentang manfaat yang diperileh dalam
diperhatiakan bagi yang bermitra (Takbir, kemitraan, beberapa diantaranya yaitu ; (1)
2013) yaitu : (1) Karakter, integritas dan Kemitraan dapat meningkatkan produktfitas
Kejujuran. Setiap orang hakekatnya memiliki organisasi. (2) Kemitraan dapat membantu
karakter yang berbeda antara yang satu organisasi mencapai tujuan dengan lebih
dengan yang lainnya, sehingga karakter itu efesien. (3) Kemitraan menrangi reiko yang
menunjukkan kepribadian seseorang atau ditanggung oleh organisasi dengan
sekelompok komunitas tertentu. Seseorang membaginya. (4) Kemitraan dapat
yang memiliki karakte yang baik biasanya memberikan dampak social yang besar.
memiliki integritas diri yang tinggi dan Setelah mengkaji berbagai uraian di
memancarkan kewibawaan dan kejujuran atas maka penulis tertarik untuk melakukan
yang lebih dari mereka yang memiliki penelitian dengan tujuan penelitian untuk
integritas yang kurang. (2) Kepercayaan. mengetahui sejauh mana bentuk kemitraan
Seseorang yang akan bekerjasama pemerintah daerah dan kelompok masyarakat
dengan pihak atau orang lain tentunya harus dalam pengelolaan hutan mangrove di Desa
memiliki mitra yang dapat dipercaya yang Tongke-Tongke Kecamatan Sinjai Utara
telah melalui proses uji kelayakan sebagai Kabupaten Sinjai dan sejauh mana
mitra, karena kepercayaan merupakan modal Pemahaman pemerintah dan masyarakat
dalam berbisnis yang tidak muncul begitu saja tentang kemitraan dalam pengelolaan hutan
atau secara dadakan, melainkan lahir dan mangrove di desa Tongke-Tongke Kec, Sinjai
dibangun dari pengalaman. Kepercayaan Utara Kabupaten Sinjai.
dimunculkan dari proses yang mungkin dari
waktu yang singkat bahkan bias pula dari B. KONSEP KEMITRAAN
waktu yang lama. (3) Komunikasi yang
terbuka. dikarenakan kerjasama didasarkan Kemitraan pada esensinya adalah
atas kepentingan kedua belah pihak, maka dikenal dengan istilah gotong royong atau
kerjasama harus ada komunikasi yang terbuka kerjasama dari berbagai pihak, baik secara
antara keduanya. Komunikasi kedua belah individual maupun kelompok. Menurut
pihak penting, mengingat dalam bermitra Notoatmodjo (2003) kemitraan adalah suatu
memerlukan banyak informasi untuk kerja sama formal antara individu-individu,
menunjang kepentingan usaha bersama. kelompok-kelompok atau organisasi-
Pertukaran informasi dan diskusi kedua pihak organisasi untuk mencapai suatu tugas atau
mengenai usaha bersama yang dijalankan tujuan tertentu. Ada berbagai pengertian
tidak mungkin terjadi jika salah satu pihak kemitraan secara umum (Promkes Depkes RI)
menutup diri atau kurang terbuka. Oleh meliputi : Kemitraan mengandung pengertian
karena itu, komunikasi yang terbuka adanya interaksi dan interelasi minimal
merupakan salah satu perinsip dasar bermitra antara dua pihak atau lebih dimana masing-
yang harus dilakukan. (4) Dalam kerjasama masing pihak merupakan ”mitra” atau
tentunya harus ada keadilan dari kedua belah ”partner”. Kemitraan adalah proses pencarian
pihak. Artinya bahwa bila usaha yang bentuk-bentuk kebersamaan yang saling
dijalankan mengalami kerugian, maka bukan menguntungkan dan saling mendidik secara
hanya satu saja pihak yang harus menanggung sukarela untuk mencapai kepentingan
kerugian tersebut, dan begitupun sebaliknya. bersama. Kemitraan adalah upaya melibatkan
Dengan demikian adil menunjukkan sikap berbagai komponen baik sektor, kelompok
tidak berat sebelah atau masyarakat, lembaga pemerintah atau non-
menguntungkan/merugikan pihak lain. pemerintah untuk bekerja sama mencapai
Agar behasil melaksanakan kerjasama tujuan bersama berdasarkan atas
tersebut tentunya dengan saling memberikan kesepakatan, prinsip, dan peran masing-

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 191


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

masing. Kemitraan adalah suatu kesepakatan dari kedua belah pihak. Artinya bahwa bila
dimana seseorang, kelompok atau organisasi usaha yang dijalankan mengalami kerugian,
untuk bekerjasama mencapai tujuan, maka bukan hanya satu saja pihak yang harus
mengambil dan melaksanakan serta membagi menanggung kerugian tersebut, dan
tugas, menanggung bersama baik yang berupa begitupun sebaliknya. Dengan demikian adil
resiko maupun keuntungan, meninjau ulang menunjukkan sikap tidak berat sebelah atau
hubungan masing-masing secara teratur dan menguntungkan/merugikan pihak lain. Pola-
memperbaiki kembali kesepakatan bila Pola Kemitraan Bentuk pola kemitraan sama
diperlukan Definisi Kemitraan Menurut Para pemerintah dengan swasta/masyarakat
Ahli. (Takbir, 2013) biasanya berupa kontrak kerja, tender
Menurut Mariotti, mengungkapkan ada penyediaan barang atau jasa, atau biasa juga
6 prinsip kemitraan yang dijadikan dasar etika berupa Bisnis Process Outsourcing, adapun
dalam bisnis dan kerjasama yang harus model-model kemitraan yang dapat diadopsi
diperhatiakan bagi yang bermitra yaitu : antara lain : (Takbir, 2013). Operasi-
Karakter, integritas dan Kejujuran Setiap Pemeliharaan Pada oprasi ini sektor publik
orang hakekatnya memiliki karakter yang menyewa sebuah organisasi swasta untuk
berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, mengerjakan satu ataupun lebih tugas
sehingga karakter itu menunjukkan ataupun pelayanan publik selama 5-7 tahun.
kepribadian seseorang atau sekelompok Sektor publik masih sebagai penyedia
komunitas tertentu. Seseorang yang memiliki pelayanan yang utama, sedangkan organisasi
karakte yang baik biasanya memiliki integritas swasta mengerjakan pelayanan yang
diri yang tinggi dan memancarkan diserahkan kepada pihak luar oleh sektor
kewibawaan dan kejujuran yang lebih dari publik. Secara umum, pemerintah
mereka yang memiliki integritas yang kurang. menggunakan prosedur kompotitif untuk
Kepercayaan. Seseorang yang akan memilih pihak yang menyelenggarakan
bekerjasama dengan pihak atau orang lain Service Contract. Pembelian tersebut harus
tentunya harus memiliki mitra yang dapat didasarkan pada waktu pelaksanaan yang
dipercaya yang telah melalui proses uji lebih singkat dan yang membutuhkan sumber
kelayakan sebagai mitra, karena kepercayaan daya yang sedikit . Bangunan Transfer Operasi
merupakan modal dalam berbisnis yang tidak (BTO) Bentuk kemitraan ini didesain untuk
muncul begitu saja atau secara dadakan, membawa investasi sektor swasta
melainkan lahir dan dibangun dari membangun infrastruktur baru, dimana
pengalaman. Kepercayaan dimunculkan dari sektor swasta akan membangun, membiayai
proses yang mungkin dari waktu yang singkat dan mengoprasikan infratruktur baru dan
bahkan bias pula dari waktu yang lama. system baru yang sesuai dengan standar
Komunikasi yang terbuka. Di karenakan penerintah. Tujuan dan Manfaat Kemitraan
kerjasama didasarkan atas kepentingan kedua Agar behasil melaksanakan kerjasama
belah pihak, maka kerjasama harus ada tersebut tentunya dengan saling memberikan
komunikasi yang terbuka antara keduanya. manfaat antara pihak yang bermitra, (Takbir,
Komunikasi kedua belah pihak penting, 2013) mengemukakan tentang manfaat yang
mengingat dalam bermitra memerlukan diperileh dalam kemitraan, beberapa
banyak informasi untuk menunjang diantaranya yaitu : Kemitraan dapat
kepentingan usaha bersama. Pertukaran meningkatkan produktfitas organisasi.
informasi dan diskusi kedua pihak mengenai Kemitraan dapat membantu organisasi
usaha bersama yang dijalankan tidak mungkin mencapai tujuan dengan lebih efesien.
terjadi jika salah satu pihak menutup diri atau Kemitraan menrangi reiko yang ditanggung
kurang terbuka. Oleh karena itu, komunikasi oleh organisasi dengan membaginya.
yang terbuka merupakan salah satu perinsip Kemitraan dapat memberikan dampak social
dasar bermitra yang harus dilakukan. Adil. yang besar. Model-Model Kemitraan
Dalam kerjasama tentunya harus ada keadilan Model-model kemitraan berikut ini

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 192


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

adalah diilhami oleh fenomena biologis. Untuk kemitraan, dua agen/organisasi atau lebih
itilah kemudian penulis mencoba mengangkat yang memiliki status sama atau berbeda,
fenomena biologis yang ada didalam khasanah melakukan kerjasama. Manfaat antara pihak-
kehidupan organisma kedalam diskusi pihak yang bekerjasama dapat diperoleh,
kemitraan ini. Tentu saja ini merupakan sehingga memudahkan dalam mewujudkan
pendapat yang bersifat sporadic yang masih visi dan misinya, dan sekaligus saling
perlu dilakukan pendalaman maupun menunjang satu dengan yang lain.
penyempurnaan lebih lanjut (Sulistiayani, Kemitraan konjugasi adalah kemitraan
2004). yang dianalogikan dari kehidupan
Bertolak dari pemahaman akan dunia paramecium. Dua paramecium melakukan
organisma baik yang bersel atau yang tidak konjugasi untuk mendapatkan enerji dan
kasat mata, maupun hewan yang dapat dilihat, kemudian terpisah satu sama lain, dan
maka kemitraan dibedakan menjadi: selanjutnya dapat melakukan pembelahan
(Sulistiayani, 2004) Pseudo partnership, atau diri. Bertolak dari analogi tersebut maka
kemitraan semu. Mutualism partnership, atau organisasi, agen-agen, kelompok-kelompok
kemitraan mutualistik. Conjugation atau perorangan yang memiliki kelemahan
partnership, atau kemitraan melalui peleburan didalam melakukan usaha atau mencapai
dan pengembangan. tujuan organisasi dapat melakukan kemitraan
Kemitraan semu adalah merupakan dengan model ini. Dua pihak dapat melakukan
sebuah persekutuan yang terjadi antara dua konjugasi dalam rangka mengingatkan
pihak atau lebih, namun tidak sesungguhnya kemampuan masing-masing.
melakukan kerjasama secara seimbang satu
dengan lainnya. Bahkan pada suatu pihak C. KONSEP PEMERINTAH DAERAH
belum tentu memahami secara benar akan
makna sebuah persekutuan yang dilakukan. Istilah pemerintahan adalah suatu ilmu
Dan untuk tujuan apa itu semua dlakukan dan seni. Disebut sebagai suatu disiplin ilmu
serta disepakati. Ada suatu yang unik dalam pengetahuan karena memenuhi syarat-
kemitraan semacam ini, bahwa kedua belah syaratnya, yaitu dapat dipelajari dan
pihak atau lebih sama-sama merasa penting diajarkan, memiliki objek material maupun
untuk melakukan kerjasama, akan tetapi formal, sifatnya universal, sistematis serta
pihak-pihak yang lain yang bermitra belum spesifik (khas) dan dikatakan sebagai seni,
tentu memahami substansi yang karena banyak pemimpin pemerintahan yang
diperjuangkan dan manfaatnya apa. tanpa pendidikan pemerintahan mampu
Kemitraan semu semacam ini tampak berkiat serta dengan kharismatik
nyata terjadi pada pola pembangunan yang menjalankan roda pemerintahan. (Syafii dkk,
dilakukan pada jaman orde baru, yang sering 2002:11) uitsluitend bezighoudt met de studie
disosialisasikan melalui slogan “pembangunan van interneen externe werking van de
dari dan oleh pemerintah untuk rakyat”. structuren en prosessen. Ilmu pemerintahan
Rakyat yang berposisi sebagai mitra kerja adalah ilmu yang menggeluti studi tentang
pemerintah sesungguhnya tidak mengetahui penunjukan cara kerja ke dalam dank ke luar
apa makna atas semua ini, walaupun mereka struktur dan proses pemerintahan umum.
yakin bahwa itu sangat penting. Berdasarkan dengan ilmu pemerintahan
Kemitraan mutualistik adalah tersebut, Inu Kencana Syafiie memberikan
merupakan persekutuan dua pihak atau lebih definisi sebagai berikut: Ilmu Pemerintahan
yang sama-sama menyadari aspek pentingnya adalah ilmu yang mempelajari bagaimana
melakukan kemitraan, yaitu untuk saling menyeimbangkan pelaksanaan kepengurusan
memberikan manfaat dan mendapatkan (eksekutif), kepengurusan (legislatif),
manfaat lebih, sehingga akan dapat mencapai kepemimpinan dan koordinasi pemerintahan
tujuan secara lebih optimal. Berangkat dari (baik pusat dengan daerah maupun rakyat
pemahaman akan nilai pentingnya melakukan dengan pemerintahannya) dalam berbagai

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 193


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

peristiwa dan gejala pemerintahan, secara sosial seperti struktur umum, angka bunuh
baik dan benar. diri, angka kriminalitas anak muda, distribusi
pemasukan dan asal usul kesukuan semua hal
D. KONSEP KELOMPOK MASYARAKAT ini dapat digunakan untuk membangun sebuah
profil masyarakat. Informasi ini merupakan hal
Kelompok masyarakat adalah suatu yang sangat penting bagi sebuah masyarakat
kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih dalam merencanakan berbagai cara yang
individu yang telah mengadakan interaksi paling baik untuk memenuhi kebutuhannya,
sosial yang cukup intensif dan teratur sehingga dan bagaimana melibatkan penduduk
diantara individu itu sudah terdapat pembagian sebanyak mungkin dalam berbagai proses
tugas, struktur, dan norma-norma tertentu. pengembangan masyarakat. Hal tersebut dapat
Sedangkan Menurut Newcomb, Turner dan membantu menyoroti apa yang spesial atau
Converse kelompok masyarakat adalah bebeda mengenai masyarakat itu, dan dimana
Sejumlah orang-orang, dilihat sebagai kesatuan perbedaan dari angka nasional.
tuggal, merupakan satu kelompok sosial, tetapi Kelompok masyarakat juga akan
kita terutama mempunyai perhatian terhadap berada dalam suatu posisi yang baik untuk
interaksi kelompok dan terhadap cirri-cirinya memberikan informasi mengenai berbagai
yang relative stabil. Menurut (Ife dan Tesoriero program dalam masyarakat-masyarakat yang
2008: 580) Peningkatan kesadaran Sebuah lain; seseorang harus berhati-hati dalam
proses peningkatan kesadaran telah metransfer sebuah program-program yang
digambarkan dalam bab-bab terdahulu, dan sukses dari satu tempat yang lain, karena
disini tidak perluh untuk melihat kembali beragam sosial lokal, budaya dan politik,
haltersebut secara mendetail. namun hal tersebut masih penting bagi orang-
Bagaimanapun, penting halnya untuk orang untuk memiliki beberapa ide mengenai
menekankan bahwa hal tersebut merupakan bagaimana berbagi hal dekerjaka ditempat lain
sebuah peran yang sangat penting bagi seorang dengan begitu mereka dapat belajar dari
pekerja pengembangan masyarakat karena kesuksesan dan kegagalan masyarakat yang
meliputisemua aspek praktis. Salah satu lain. Informasi mengenai berbagai sumber
karakteristik peningkatan kesadaran adalah eksternal, seperti berbagai petunjuk
bahwa ia sebaiknya dimaksudkan untuk pembiayaan, keahlian, berbagai pedoman,
memberikan kesadaran terhadap berbagai berbagai prestasi audio-visual dan berbagai
struktur dan strategi perubahan sosial hingga paket pelatihan, adalah wilayah lainyang
orang-orang dapat berpartisipasi dan secara mudah memberikan informasi kepada
mengambil tindakan efektif. penduduk tentang apa yang dapat menjadi
Dalam beberapa kasus struktur- sebuah layanan penting kerja masyarakat.
struktur ini mungkin penting untuk membantu Prinsip kepercayaan diri menuntut
orang-orang dalam melihat bagaimana mereka seseorang pekerja untuk berhati-hati untuk
bisa mendirikan berbagai struktur oleh diri tidak mengabaikan berbagai sumber loka,
mereka sendiri. Terkadang hal itu bisa namun dengan kehati-hatian ini, masih penting
dilakukan dengan hanya membantu orang- bagi berbagai masyarakat untuk mampu
orang untuk mengetahui berbagai cara yang menggunakan berbagai sumber eksternal yang
mereka bisa mengubah kehidupan mereka pantas. Sering kali layak bagi kelompok
sendiri, sehingga mereka tidak memberikan masyarakat untuk mengimformasikan sebuah
kontribusi atau memperkuat berbagai struktur masyarakat tentang keadaan ekonomi atau
memberikan informasi hanya dengan realitas politik yang perluh mereka hubungi.
memberikan informasi yang relevan pada Terkadang para anggota masyarakat dengan
penduduk kelompok masyakat bisa melakukan sendirinya akan sadar dengan hal ini, namun
suatu peran yang bermanfaat. Hal ini luas sekali dalam sebuah masyarakat yang orang-
cakupannya. Satu wilayah penting adalah orangnya memiliki akses terbatas untuk
informasi demogratis dan berbagai penunjuk memanfaatkan berbagai sumber, yang orang-

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 194


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

orangnya telah memilih sebuah gaya hidup Karena itu, pengelolaan ekosistem
terisolasi atau suatu masyarakat yang mangrove tentu diupayakan untuk
terpenjara oleh berbagai kepentingan yang melestarikan ekosistem tersebut,
sangat kuat, penting bagi seorang pekerja menyediakan pangan dan obata-obatan, bahan
masyarakat untuk mampu mengimformasikan bangunan dan kayu bakar, pengembangan
penduduk mengenai berbagai hal yang daerah rekreasi, pengembangan ilmu
mungkin secara langsung atau tidak langsung teknologi, karena penduduk pesisir dan pulau-
memengaruhi mereka. Seorang pekerja pulau yang sebagainya bergantung pada
masyarakat bisa jadi yang pertama ekosistem mangrove dan ekosistem pesisir
mengetahui, contohnya, bahwa seorang lainnya tergolong masyarakat miskin, maka
employer daerah sedang mempertimbangkan pengelolaan ekosistem mangrove adalah
sebuah pembangunan pabrik, dan sebuah jalan bagian dari upaya meningkatkan taraf hidup
raya lingkar yang ditawarkan akan memotong masyarakat tersebut.
membelah masyarakat jadi dua. Saat itu, hutan mangrove juga sudah
mendapat perhatian. Sejak tahun 1991,
E. KONSEP PENGELOLAAN EKOSISTEM Indonesia resmi menjadi anggota “Ramsar
MANGROVE Convention”. Lahan basah yang dimaksud
dalam konvernsi itu adalah daerah-daerah
Ekosistem mangrove sangat produktif payau, tanah gambus, atau perairan, baik yang
dan tidak bisa tergantikan. Karena itu, bersifat alam maupun buatan, tetap ataupun
pengelolaan ekosistem tersebut harus sementara, dengan perairannya yang
mempertimbangkan berbagai faktor, tidak tergenang tatau mengalir, tawar, agak asin,
sekedar keuntungan ekonomi jangka pendek, maupun asin, termasuk daerah-daerah air
sebagaimana konversi ekosistem mangrove surut. Hutan mangrove termasuk dalam
untuk tambak (Kordi, 2012). Pengelolaan pengertian lahan basah ini.
ekosistem mangrove adalah untuk Area perlindungan mangrove, baik
kepentingan manusia, maka faktor-faktor berupa taman nasional, Cagar Alam, Taman
terkait kepentingan tersebut harus Baru, Taman Hutan Raya, Hutan Rekreasi,
dipertimbangkan. Juga tidak hanya satu faktor maupun Suaka Margasatwa, yang berada
saja, tetapi harus secara keseluruhan untuk diwilayah pesisir serta pulau-pulau kecil yang
menghindari gesekan kepentingan yang satu memiliki potensi mangrove dijamin secara
dan lainnya. Faktor-faktor penting tersebut hukum, namun kenyataannya akupasi
adalah ekologo, ekonomi, dan sosial budaya. ekosistem mangrove terus berlangsung,
Sebagaimana telah disebutkan termasuk di daerah-daerah yang dilindungi.
disebutkan di muka, bahwa pengelolaan Bahwa dari 50 tahun Nasional yang
ekosistem mangrove adalah untuk ditetapkan di Indonesia, hanya 22 diantaranya
kepentingan manusia. Kerusakan dan yang didentifikasi memiliki mangrove dengan
kepunaham ekosistem mangrove akan luas yang memadai. Pada tahun 1997 tercatat
berdmpak pada ekosistem laiannya, dan sebanyak 64 areal perlindungan mangrove
dampak terbesarnya adalah pada kehidupan dan sekarang jumlah itu terus bertambah,
manusia, baik sosial, ekonomi maupun politik. demikian juga luasnya.
Ekosistem mangrove menyuplai bahan Penanaman tanaman mangrove
bangunan, bahan bakar, bahan pangan dan sebaiknya dilakukan pada saat air laut surut
obat-obatan yang cukup besar untuk umat agar mudah mengatur jarak dan
manusia. Ekosistem mangrove juga keseragamannya. Untuk lokasi penanaman
merupakan pelindung pantai dari abrasi yang yang terletak dibibir laut terbuka, penanaman
diakibatkan oleh gelombang pasang maupun tidak dilakukan pada musim ombak besar. Ini
tsunami. Di samping itu, ekosistem mangrove dimaksudkan agar benih tidak hanyut terbawa
merupakan salah satu tempat rekreasi dan ombak. Di samping itu, untuk mencegah
pengembangan ilmu dan teknologi. tanaman terbawa ombak, maka pada benih

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 195


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

mangrove yang ditanam di bibir laut terbuka didukung oleh dunia internasional. Bahkan
harus dilindungi dengan bius atau gorong- sejak tahun 2005, penanaman mangrove
gorong serta alat penahan ombak. mengalami peningkatan yang luar biasa, ini
Sebelum penanaman perlu dipicuh oleh tsunami yang meluluhlantakkan
dipersiapkan peralatan yang digunakan. Aceh dan Nias pada 24 Desember 2004.
Peralatan tersebut antara lain (Kordi, 2012) Beberapa korban yang selamat dari hantaman
tali pengatur jarak, yang digunakan untuk gelombang tsunami karena tersangkut
mengatur jarak antar tanaman serta jalur dipohon mangrove, atau bangunan tetap
tanaman menjadi lurus. Tali pengatur jarak berdiri utuh karena terlindung dari ekosistem
dapat berupa tali raffia / plastik atau tali mangrove atau hutan pantai lainnya. Studi-
lainnya yang berukuran panjang 10-20 m. studi juga membuktikan bahwa ekosistem
Kedua ujung tali ini diikat dengan sepotong mangrove dan hutan pantai sangat andal
bamboo atau kayu dan pada jarak tanam yang dalam melindungi pantai dan bangunan dari
diinginkan diberi tanda (cat atau tali plastik gelombang pasang maupun tsunami.
yang diikat) sebagaib titik penanaman. Ajir, Penyebab Kerusakan Ekosistem Mangrove
yakni digunakan untuk penanaman pada (Kordi, 2012).
pantai yang menhadap lauk lepas yang Penyebab kerusakan ekosistem
ombaknya cukup besar. Beni diikat keajir agar mangrove disebabkan oleh banyak factor, baik
tidak hanyut di bawa ombak. Ajir juga dapat berdiri sendiri, tumpang tindih maupun saling
digunakan untuk penanaman disungai atau mendukung. Pengambilan kayu, baik untuk
saluran air sebagai tanda adanya tanaman kontruksi bangunan, kayu bakar dan produksi
baru. Ajir dapat dibuat dari kayu atau bambu. arang dilakukan oleh masyarakat miskin.
Tugal atau suwan, yaitu diguanakan untuk Harga kayu bakar yang tinggi mengikuti tinggi
membutat lubang tanaman dan dibutuhkan harga dan hilangnya minyak tanah mendorong
sewaktu menanam ditanah lumpur yang agak okupasi ekosistem mangrove untuk kayu
keras. Tugal dapat dibuat dari kayu atau bakar, di sisi lain lemahnya penegakan hukum
bambu bulat. Ember dan parang. Ember menjadi factor penyebab kerusakan ekosistem
diguanakan untuk mengangkut benih pada mangrove yang tumpang tindih.
saat penanaman, sedangkan parang digunakan
untuk membersihkan tumbuhan liar atau F. METODE PENELITIAN
ranting.
Rehabilitasi ekosistem mangrove sudah Lokasi penelitian akan dilaksanakan di
dimulai sejak tahun 1980-an, terutama Desa Tongke-Tongke Kecamatan. Sinjai Timur
diinisiasi oleh penduduk pesisir dan pulau- Kabupaten Sinjai, dengan pertimbangan
pulau. Mereka menanam tumbuhan tumbuhan bahwa pengelolaan hutan mangrove perlu
mangrove untuk mencegah abrasi pantai oleh mendapatkan perhatian dari semua kalangan
gelombang pasang yang menjangkau dan yang terkait. Jenis penelitian yang digunakan
merusak rumah-rumah mereka. Ketika adalah pendekatan deskriptif kualitatif, yaitu
beberapa orang menenam mangrove, mereka dimaksudkan untuk pengukuran yang cermat
dicibir sebagai orang gila atau tidak ada terhadap studi kasus fenomena sosial
kerjaan. Namun setelah beberapa tahun, tertentu. Sumber data penelitian ini terutama
tumbuhan mangrove yang ditanam mulai disaring dari sumber data primer dan data
berfungsi dan dirasakan manfaatnya, barulah sekunder dengan proporsi sesuai dengan
penduduk beramai-ramai menanam tujuan penelitian ini. Dalam penelitian ini yang
mangrove. Para inisiator yang dicap gila pun akan dijadikan informan adalah istansi yang
berubah menjadi orang yang sangat berjasa terkait, dan kelompok manyarakat Aku Cinta
sebagai pahlawan. Indonesia (ACI) desa Tongke-Tongke. Untuk
Saat ini, rehabilitasi mangrove melalui memperoleh data yang relevan sebagaimana
penanaman kembali ekosistem mangrove yang yang diharapkan dalam tujuan penelitian,
rusak telah menjadi program nasional, yang maka digunakan teknik pengumpulan data.

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 196


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

Observasi (pengamatan), dan Dokumentasi. dlakukan serta disepakati. Ada suatu yang
Analisis data dilakukan dengan menelaah data unik dalam kemitraan semacam ini, bahwa
yang diperoleh dari berbagai sumber atau kedua belah pihak atau lebih sama-sama
informasi dari hasil penelitian kemitraan merasa penting untuk melakukan kerjasama,
pemerintah daerah dengan kelompok akan tetapi pihak-pihak yang lain yang
masyarakat dalam pengelolaan hutan bermitra belum tentu memahami substansi
mangrove. baik yang diperoleh melalui data yang diperjuangkan dan manfaatnya apa.
primer maupun data sekunder yang dilakukan
secara deskriftif kualitatif dengan didukung 1. Penanaman Mangrove
tabel frekuensi yang sederhana dan didukung
beberapa variabel pendukung yang dijadikan Kegiatan penanaman mangrove
indikator dalam penelitian ini. Setelah mencakup penentuan lokasi penanaman,
menganalisis data, peneliti harus memastikan pemilihan jenis pada setiap tapak, persiapan
apakah interpretasi dan temuan penelitian lahahn, dan cara penanaman. Lokasi
akurat. Member checking adalah proses penanaman mangrove biasanya dilakukan
penelitian mengajukan pertanyaan pada satu ditepi pantai yang mengandung substrak
atau lebih partisipan atau tujuan seperti yang lumpur, tepian sungai yang masih
telah dijelaskan di atas . Aktifitas ini juga terpengaruh air laut, dan tanggul saluran air
dilakukan untuk mengambil temuan kembali tambak. Pemilihan jenis pada setiap tapak
pada partisipan dan menanyakan pada mereka perlu dilakukan agar bibit dapat tumbuh
baik lisan maupun tulisan tentang keakuran dengan baik. Seperti bakau (Rhizophara spp).
laporan penelitian. Dapat tumbuh dengan baik pada substrak
(tanah) yang berlumpur, dan dapat
G. HASIL DAN PEMBAHASAN mentolerangsi tanah lumpur berpasir, di
Bentuk-bentuk kemitraan berikut ini pantai yang agak berombak dengan frekuensi
adalah diilhami oleh fenomena biologis. Untuk genangan 20-40 kali/bulan. Bakau merah
itilah kemudian penulis mencoba mengangkat dapat ditanam pada lokasi bersubstrak
fenomena biologis yang ada didalam khasanah (tanah) pasir berkoral.
kehidupan organisma kedalam diskusi Penanaman tanaman mangrove
kemitraan ini. Tentu saja ini merupakan sebaiknya dilakukan pada saat air laut surut
pendapat yang bersifat sporadic yang masih agar mudah mengatur jarak dan
perlu dilakukan pendalaman maupun keseragamannya. Untuk lokasi penanaman
penyempurnaan lebih lanjut (Sulistiayani yang terletak dibibir laut terbuka, penanaman
2004). tidak dilakukan pada musim ombak besar. Ini
Bertolak dari pemahaman akan dunia dimaksudkan agar benih tidak hanyut terbawa
organisma baik yang bersel atau yang tidak ombak. Di samping itu, untuk mencegah
kasat mata, maupun hewan yang dapat dilihat, tanaman terbawa ombak, maka pada benih
maka kemitraan dibedakan menjadi: mangrove yang ditanam di bibir laut terbuka
(Sulistiayani, 2004) Pseudo partnership, atau harus dilindungi dengan bius atau gorong-
kemitraan semu. Mutualism partnership, atau gorong serta alat penahan ombak.
kemitraan mutualistik. Conjugation Data yang dihimpun dari informan
partnership, atau kemitraan melalui peleburan untuk variabel penanaman mangrove dengan
dan pengembangan. Kemitaan semu adalah indikator penanaman mangrove yang jelas
merupakan sebuah persekutuan yang terjadi tampak pada jawaban informan tersebut.
antara dua pihak atau lebih, namun tidak Berikut hasil kutipan wawancara dengan
sesungguhnya melakukan kerjasama secara beberapa informan terkait dengan penanaman
seimbang satu dengan lainnya. Bahkan pada mangrove berikut ini:
suatu pihak belum tentu memahami secara “Dalam penanaman hutan mangrove di
benar akan makna sebuah persekutuan yang Desa Tongke-Tongke yaitu bagaimana
dilakukan. Dan untuk tujuan apa itu semua pihak pemerintah memfasilitasi

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 197


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

kebutuhan masyarakat berupa bantuan baik agar pemukiman ini tetap


bibit mangrove, biaya pengangkutan terlindungi dari abrasi dan angin
sampai upah penanaman mangrove”. kencang” (wawancara, AK).
(wawancara, RH).
Berdasarkan hasil wawancara dengan
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan pihak Pemeritah oleh Kepala Desa
pihak Pemeritah oleh Dinas Perkebunan dan Tongke-Tongke Kecamatan Sinjai Timur
kehutanan di desa Tongke-tongke Kecamatan Kabupaten Sinjai. Menghimbau masyarakat
Sinjai Timur Kabupaten Sinjai. Bahwa agar melakukan penanam terus-menerus
penanaman hutan mangrove selaku pihak mangrove, menjaga,dan memelihara dengan
pemerintah dinas pekebunan dan kehutanan baik agar pemukiman ini tetap terlindungi
yaitu memberikan fasilitas kepada masyarakat dari abrasi dan angin kencang. Dengan adanya
berupa bibit mangrove sebanyak 50.000 himbauan pemerintah setempat, masyarakat
batang bibit pada tahun 2011. Dengan melakukan penanaman secara swadaya dan
memberikannya fasilitas bibit mangrove membawa perubahan yang sangat dirasakan
terhadap masyarakat dapat memberikan manfaatnya seperti Pemukiman telah bebas
kemudahan dalam pengelolaaan hutan dari genangan air pasang dan gempuran
mangrove di Desa tongke-tongke selain itu ini ombak yang besar, tidak terjadi lagi
menjadi suatu kerjasama oleh Pemeritah Dinas pengikisan pantai sehingga ekosistem
Perkebunan dan kehutanan dengan kelompok mangrove dapat terjamin.
masyarakat. Terjalinnya suatu kerjasama Ekosistem mangrove sangat produktif
memberikan dampak positif terhadap dan tidak bisa tergantikan. Karena itu,
pelestarian hutan mangrove seperti dengan pengelolaan ekosistem tersebut harus
konsep hutan mangrove itu sendiri bahwa mempertimbangkan berbagai factor, tidak
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem sekedar keuntungan ekonomi jangka pendek,
yang sangat produktif, karena selain sebagaimana konversi ekosistem mangrove
merupakan habitat berbagai biota, ekosistem untuk tambak. Karena itu, pengelolaan
tersebut pun merupakan daerah pemijatan, ekosistem mangrove tentu diupayakan untuk
pengasuhan, dan tempat mencari makanan melestarikan ekosistem tersebut,
berbagai biota sekitrnya. Karena itu, ekosistem menyediakan pangan dan obata-obatan, bahan
mangrove merupakan ekosistem yang bangunan dan kayu bakar, pengembangan
mendukung kehidupan pesisir, laut, dan darat. daerah rekreasi, pengembangan ilmu
Produksi perikanan tangkap dipesisir dan laut teknologi, karena penduduk pesisir dan pulau-
sangat bergantung pada ekosistem mangrove. pulau yang sebagainya bergantung pada
Ekosistem mangrove juga melindungi daratan ekosistem mangrove dan ekosistem pesisir
dari industri garam dan gelombang, termasuk lainnya tergolong masyarakat miskin, maka
tsunami, juga melindungi pesisir dan laut dari pengelolaan ekosistem mangrove adalah
limpasan air tawar, dan limbah. bagian dari upaya meningkatkan taraf hidup
Dapatlah dikatakan bahwa dalam masyarakat tersebut. Dapatlah dikatakan
penanaman hutan mangrove oleh Dinas bahwa dengan adanya himbauan dalam
Perkebunan dan Kehutanan berperan penting penanaman hutan mangrove oleh Kepala Desa
dalam melakukan penanaman dan pelestarian Tongke-Tongke berperan penting dalam
hutan mangrove dengan adanya mitra kerja melakukan penanaman dan pelestarian hutan
yang dilakukan oleh pemerintah Dinas mangrove dengan adanya mitra kerja yang
Perkebunan dan Kehutanan dengan dilakukan oleh Kepala Desa dengan
masyarakat setempat di Desa Tongke-Tongke masyarakat setempat di Desa Tongke-Tongke
Kabupaten Sinjai. Kabupaten Sinjai.
“Menghimbau masyarakat agar
melakukan penanam terus-menerus
mangrove, menjaga, memelihara dengan

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 198


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

2. Konservasi Hutan Mangrove 3. Rehabilitasi Hutan Mangrove

Perlindungan pada kelansungan Rehabilitasi mangrove melalui


proses ekologi beserta sistem-sistem penanaman kembali ekosistem mangrove
penyangga kehidupan. Pengawetan yang telah rusak, terutama diinisiasi oleh
keanekaragaman sumber plasma nutfah yang penduduk pesisir dan pulau-pulau. Mereka
dilakukan didalam dan diluar kawasan, serta menanam tumbuhan-tumbuhan mangrove
pengaturan memberikan status perlindungan untuk mencegah abrasi pantai oleh gelombang
data yang dihimpun dari informan untuk pasang yang menjangkau dan merusak rumah-
variabel konservasi hutan mangrove dengan rumah mereka. Data yang dihimpun dari
indikator konservasi hutan mangrove yang informan untuk variabel rehabilitasi hutan
jelas tampak pada jawaban informan tersebut. mangrove dengan indikator Rehabilitasi
Berikut hasil kutipan wawancara dengan Hutan Mangrove yang jelas tampak pada
beberapa informan terkait dengan konservasi jawaban informan tersebut. Berikut hasil
hutan mangrove berikut ini: kutipan wawancara dengan beberapa
informan terkait dengan rehabilitasi hutan
“dalam bentuk kenservasi pemerintah mangrove berikut ini:
melarang masyarakat agar tidak “Dalam rehabilitasi hutan mangrove
melakukan penebangan hutan mangrove yang kami lakukan selaku pemerintah
karena pelestariannya yang kita harus dinas perkebunan dan kehutanan
jaga.” (wawancara, AK). memberikan fasilitas berupa bantuan
bibit, biaya perawatan dan upah
Berdasarkan hasil wawancara dengan penanaman yang dilakukan
informan pihak Pemeritah oleh Kepala Desa masyarakat dalam merehabilitasi hutan
Tongke-Tongke Kecamatan Sinjai Timur mangrove yang telah rusak”
Kabupaten Sinjai. Bahwa Dalam bentuk (wawancara, RH).
kenservasi pemerintah melarang masyarakat
agar tidak melakukan penebangan hutan Berdasarkan hasil wawancara yang
mangrove karena pelestariannya yang kita dilakukan oleh kepala dinas perkebunan dan
harus jaga. Dengan melakukan konservasi kehutanan Kabupaten Sinjai mengenai hal
hutan mangrove ekosistem lingkungan rehabilitasi hutan mangrove tahun 2004 pihak
mangrove akan terjaga kelestariaannya serta pemerintah memberikan fasilitas bantuan
dengan banyakanya dampak positif yang berupa bibit rehabilitasi seluas 25 ha dan bibit
dirasakana oleh masyarakat itu sendiri seperti yang diberikan sebanyak 5000 batang
dalam konsep konservasi hutan mangrove itu bibit/hektar. biaya perwatan dan upah
dijelaskan Perlindungan terhadap kelansungan penanaman yang dilakukan masyarakat
proses ekologi beserta sistem-sistem dalam merehabilitasi hutan mangrove yang
penyangga kehidupan. Pengawetan telah rusak, ini menunjukan bahwa
keanekaragaman sumber plasma nutfah yang pemerintah sadar betul bagimana rehabilitasi
dilakukan didalam dan diluar kawasan, serta hutan mangrove yang sebaiknya, dengan
pengaturan memberikan status perlindungan, memberikannya bantuan tersebut
kawasan konservasi dibagi kedalam zona-zona memunjukan pemerintah terjung langsung
tertentu. Dalam himbauan konservasi yang dan berperang sepenuhnya dalam
dilakukan oleh pemerintah desa Tongke pengelolaan hutan mangrove agar dapat
tongke memberikan pengaruh besar dalam semakin berkembang seperti dalam konsep
menunjang dan melestarikan ekositem rehabilitasi bertujuan untuk memulihkan
mangrove. Konservasi hutan mangrove kondisi ekosistem mangrove yang telah rusak
memberikan cerminan bagaimana kita mampu agar ekosistem mangrove dapat menjalangkan
menjaga keseimbangan ekologi. kembali fungsinya dengan baik. Upaya

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 199


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

rehabilitasi harus melibatkan seluruh lapisan menempati daerah perbatasan antara laut dan
masyarakat yang berhubungan dengan daratan. Fungsi utama ekosistem mangrove,
kawasan mangrove. Rehabilitasi kawasan yaitu: (1) fungsi fisik, pencegah abrasi,
mangrove dilakukan sesuai dengan manfaat perlindungan terhadap angin, pencegah
dan fungsi yang seharusnya berkembang, serta intrusi garam dan sebagai penghasil energi
aspirasi. serta hara; (2) fungsi biologis, meliputi:
Kemitraan biasanya didefinisikan sebagai tempat bertelur dan sebagai asuhan
sebagai hubungan sukarela dan bersifat kerja berbagai biota, tempat bersarang burung dan
sama antara beberapa pihak, baik pemerintah sebagai habitat alami berbagai biota; (3)
maupun swasta, yang semua orang fungsi ekonomis meliputi: sebagai sumber
didalamnya setuju untuk bekerja sama dlam bahan bakar (kayu bakar dan arang), bahan
meraih tujuan bersama dan menunaikan bangunan (balok, atap dan sebagainya),
kewajiban tertentu serta menanggung resiko, perikanan, pertanian, makanan, minuman,
tanggung jawab, sumber daya, kemampuan bahan baku kertas, keperluan rumah tangga,
dan keuntungan secara bersama sama. Kunci tekstil, serat sintesis, penyamakan kulit, obat-
utama terlaksananya kemitraan adalah dengan obatan, dan lain-lain.
menerapkan koordinasi, integrasi dan Dengan dipahaminya fungsi hutan
sinkronisasi seluruh program-program dengan mangrove seperti dalam konsep diatas sebagai
lembaga-lembaga terkait yang berpartisipasi pihak terkait memberikan keseriusan dalam
dalam kemitraan tersebut. melakukan pengelolaan hutan mangrove
Berikut hasil kutipan wawancara supaya terjadinya balances antara ekologi
terhadap informan Dinas perkebunan dan lingkungan dan lingkungan masyarakat itu
kehutanan pemerintah daerah dengan sendiri.
kelompok masyarakat tentang kemitraan “Pemahaman saya tentang kemiraan
dalam pengelolaan hutan mangrove di Desa dalam pengelolaan hutan mangrove di
Tongke-Tongke Kecamatan Sinjai Timur Desa Tongke-Tongke itu sangat baik
Kabupaten Sinjai seperti berikut ini : karena memicu tentang pemberdayaan
“Pemahaman dinas perkebunan dan masyarakat dan pelestarian lingkungan
kehutanan tentang kemitraan itu itu sendiri”. (wawancara, AK).
bagaimana dinas perkebunan dan
kehutanan menfasilitasi masyarakat Dari pernyataan informan diatas
sesuai dengan kebutuhan karena terkait dengan konsep kemitraan bahawa
masyarakat yang menerima program selaku pemerintah desa tongke-tongke
kalau kita punya program, sasarannya dengan adanya kemitraan menurut informan
bagaimana intinya itu mangrove bisa itu sangat baik karena memicu tentang
lebih baik” (Wawancara, RH). pemberdayaan masyarakat dan pelestarian
lingkungan itu sendiri dengan adanya
Dari pernyataan diatas selaku Dinas perkebunan kemitraan dilakukan oleh yang terkait
dan kehutanan tentang pemahaman kemitraan selaku tersebut memberikan suatu manfaat besar
dinas yang terkait dengan memberikan fasilitas baik diakalangan pemerintah maupun
masyarakat terhadap program pengelolaan hutan masyarakat. Dengan dukungan pemerintah
mangrove dapat memberikan manfaat tersebut masyarakat terdorong untuk
terhadap semua kalangan terutama pada melakukan pengelolaaan hutan mangrove.
lingkunagan masyarakat sekitar kawasan Dengan adanya kemitraan atau kerjasama
hutan mangrove. Dalam kedudukan ekosistem yang dilakukan oleh yang terkait, untuk
mngrove di dalam lingkungan alam tidak memudahkan mencapai tujuan secara
berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian bersama. Dengan tercapainya tujuan yang
ekosistem yang lebih luas. Brown (1984) dikehendaki secara bersama memberikan
mendeskripsikan mangrove sebagai ekosistem suatu manfaat yang positif bagi semua
interflace atau ekosistem peralihan yang kalangan.

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 200


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1
Vol. V, No. 2 Oktober 2015

H. PENUTUP Kordi. 2012. Ekosistem Mangrove, Potensi,


Fungsi, dan Pengelolaan. Jakarta :
Bentuk kemitraan pemerintah daerah Rineka Cipta.
dengan kelompok masyarakat dalam
pengelolaan hutan mangrove di Desa Tongke- Hurairah, Abu. 2008. Pengorganisasian dan
Tongke Kecamatan Sinjai Timur Kabupaten Pengembangan Masyarakat. Bandung :
Sinjai adalah Pseudo partnership, atau Humaniora
kemitraan semu yang merupakan sebuah
persekutuan yang terjadi antara dua pihak Ife, Jim dan Tesoriero, 2008. Community
atau lebih, namun tidak sesungguhnya Development: Alternatif Pengembangan
melakukan kerjasama secara seimbang satu Masyrakat di Era Globalisasi.
dengan lainnya. Bahkan pada suatu pihak Yogyakarta : Pustaka Pelajar,.
belum tentu memahami secara benar akan
makna sebuah persekutuan yang dilakukan. Supriharyono. 2000. Pelestarian dan
Dan untuk tujuan apa itu semua dlakukan Pengelolaan Sumber Daya Alam di
serta disepakati; (1) berdasarkan hasil Wilaya Pesisir Tropis, Jakarta :
pengamatan penulis bahwa penanamana Gramedia Pustaka Utama.
hutan mangrove di desa tongke-tongke
terlaksana dengan baik walaupun kemitraan Sulistiyani, Teguh Ambar, 2004. Kemitraan
yang terbentuk hanyalah kemitraan semu dan Model-Model Pemberdayaan,
antara pihak-pihak yang terkait dalam Yogyakarta : Gava Media.
melakukan suatu pengelolaan hutan
mangrove. (2) konservasi dengan indikator Tarigan, M. S. 2008. Sebaran dan luas hutan
bentuk-bentuk konservasi pengelolaan hutan mangrove di Wilayah Pesisir Teluk
mangrove sangat baik karena masyarakat dan Pising Utara Pulau Kabaena Provinsi
kelompok ACI menjaga kelestarian hutan Sulawesi Tenggara. LIPI, Jakarta :
mangrove dengan kesadaran yang secara Makara Sains.
bersama dengan tujuan yang sama. (3)
Rehabilitasi terhadap pengelolaan hutan Takbir, Mohammad. 2013. Kemitraan
mangrove pihak masyarakat dan kelompok Pemerintah Pusat Dan Pemerintah
terkait melakukan penanaman kembali hutan Daerah Dalam Pengelolaan Taman
yang mengalami krusakan dan melakukan Nasional Komodo Di Kabupaten
prawatan pada setiap mangrove. Manggarai Barat Provinsi Nusa
Pemahaman Pemerintah dengan Tenggara Timur. Skripsi, universitas
Kelompok masyarakat tentang kemitraan muhammadyiah makassar.
dalam pengelolaan hutan mangrove tidaklah
begitu memahami karena dimana kemitraan
itu adalah suatu kesepakatan antara
seseorang, kelompok atau organisasi untuk
bekerja sama mencapai tujuan. Namun
kemitraan antara pemerintah dinas kehutanan
dan perkebunan dengan kelompok masyarakat
tidak mempunyai kesepakatan secara tertulis
antara keduanya dalam melakukan kemitraan.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, A. 2003. Hutan Mangrove, Fungsi dan


Manfaatnya. Yogyakarta : Kanisius.

Kemitraan Pemerintah Daerah Dengan Kelompok Masyarakat 201


Dalam Pengelolaan Hutan Mangrove
Di Desa Tongke-Tongke - Raman1, Fatmawati2, Rudi Hardi1