Anda di halaman 1dari 12

PRAKTIKUM PENGUKURAN SIFAT KIMIA FISIKA BAHAN

PENENTUAN KALOR PEMBAKARAN ZAT

Dosen Pengampu :

Dr. Adilah Aliyatulmuna, S.T., M.T

Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S

Kelompok 2 :

1. Annisa Sholehah Ayu Febriyanti (190331622807)


2. Fithrah Auliya’ (190331622811)
3. Samudra Mutiara Hasanah (190331622802)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS ILMU MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FEBRUARI 2021
A. Tujuan
Menentukan kalor pembakaran zat dengan menggunakan Parr Adiabatic Bomb Calorimeter.
B. Dasar Teori

Proses yang terjadi di dalam kalorimeter bom berlangsung secara adiabatik. Kalor yang
dilepaskan dalam proses pembakaran digunakan untuk menaikkan suhu kalorimeter. Berdasarkan
kenaikan suhu kalorimeter bom ini dapat ditentukan kalor pembakaranya

Pereaksi pada suhu ΔUc Hasil reaksi pada


T1 suhu T2

ΔU = C (T1-T2)
ΔUT

Hasil reaksi pada


suhu T1

Keterangan :
C = kapasitas kalor (kal/0C) kalorimeter (ember + air + bom)
ΔU T = perubahan energi dalam sistem
ΔU c = perubahan energi dalam kalorimeter
T1 = suhu awal pereaksi
T2 = suhu akhir hasil reaksi

Dalam percobaan ini adalah ΔUT, yaitu perubahan energi dalam yang dialami sistem atau
bahan yang dibakar. Dengan asumsi proses yang terjadi pada bomb calorimeter adalah adiabatik
sempurna maka ΔUc = 0. Berdasarkan hukum Hess dapat dirumuskan ;

ΔUc = ΔUT + ΔU
0 = ΔUT + C (T2 - T1)
ΔUT = - C (T2 - T1)……………………………………………………..(1)
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah menentukan kapasitas kalor kalorimeter
bom, dengan cara membakar sejumlah zat standar yang diketahui kalor pembakarannya,
biasanya digunakan asam benzoate, namun pada percobaan kali ini menggunakan naftalena.
Nilai kapasitas kalor yang telah didapat kemudian digunakan untuk menentukan kalor
pembakaran zat sampel lainnya, yang mana dalam percobaan ini digunakan breket sebagai zat
sampelnya. Sampel yang akan ditentukan kalor pembakarannya dibakar dengan kondisi yang
sama dengan pembakaran zat standar, dengan cara mengukur kenaikan suhu (T2 – T1) yang
dihasilkan pada proses pembakaran, dan dengan menggunakan harga C yang telah ditentukan
pada pembakaran zat standar, ΔUT setiap sampel dapat ditentukan.
Pada penentuan kalor pembakaran dengan cara ini perlu dilakukan koreksi, karena
terdapat kalor yang dilepaskan akibat terjadi pembentukan asam nitrat dan pembakaran kawat
pemanasnya. Jika ΔU1 adalah koreksi terhadap pembentukan asam nitrat dan ΔU 2 adalah koreksi
terhadap kalor pembakaran kawat pembakaran kawat pemanas, persamaan (1) harus diubah
menjadi :

ΔUT + ΔU1 + ΔU2 = - C (T1 – T2)…………………...……….. (2)


yang mana,
ΔU1 = volume (mL) larutan Na2CO3 0,0725 N yang diperlukan untuk
menetralkan asam nitrat x (-1 kal/mL)
ΔU2 = panjang kawat yang terbakar (cm) x (-2,3 kal/cm)

Jika dalam percobaan m gram zat terbakar dan menimbulkan kenaikan suhu sebesar ΔT, maka
kalor pembakaran zat ini dihitung dengan rumus :

ΔUT = - (C. ΔT – ΔU1) – ΔU2 )/m (dalam kal/garm)………(3)

Jika dalam percobaan n mol zat terbakar dan menimbulkan kenaikan suhu sebesar ΔT, maka
kalor pembakaran zat ini dihitung dengan rumus :

ΔUT = - (C. ΔT – ΔU1) – ΔU2 )/n (dalam kal/garm)………(4)


Hasil pengukuran dapat juga dinyatakan dalam perubahan entalpi ΔH, dengan
menggunakan hasil perhitungan persamaan (4), dimasukkan pada persamaan :

ΔUT = ΔUT + (n2 – n1) RT


= ΔUT + Δn.RT (dalam kal/mol) ………………………….(5)

dengan (n2 – n1) adalah perbedaan jumlah mol produk dan mol pereaksi yang berwujud gas pada
suhu T.

C. Alat dan Bahan


Alat :

 Perr Adiabatic Bomb Calorimeter  Termometer


 Neraca analitik  Erlemeyer
 Stop Watch  Buret
 Botol semprot

Bahan :

 Air  Larutan standar Na2CO3 0,0725 N


 Asam Benzoat  Indikator metil merah
 Naftalena  Aquades
 Gas Oksigen

D. Langkah kerja dan hasil pengamatan


1. Penentuan kalor pembakaran zat

Langkah kerja Hasil pengamatan


m naftalena = 1.019 g
Naftalena
Panjang kawat = 10 cm
 Diambil 1 tablet Naftalena dan timbang (1
gram) Temperatur awal air
 Dimasukkan Naftalena kedalam mangkuk bom
Menit ke-
 Dipasang kawat pemanas pada kedua
elektroda 1 = 24,4⁰C
 Bom ditutup dengan rapat 2 = 24,4⁰C
 Kemudian diisi dengan gas oksigen 3 = 24,3⁰C
 Ember calorimeter diisi dengan air 2 mL
4 = 24,3⁰C
 Diatur suhunya dibawah suhu kamar
 Dimasukkan ember kedalam calorimeter 5 = 24,3⁰C
 Diletakkan bom dalam ember, kemudian 6 = 24,3⁰C
thermometer dipasang
 Kalorimeter dibiarkan 4-5 menit, dibaca suhu
air dalam ember
 Arus listrik dijalankan untuk membakar
cuplikan
Temperatur air akhir
 Suhu air dicatat setiap menit ingga mencapai
suhu konstan, dicatat suhunya Menit ke-
 Kalorimeter dibuka, dikeluarkan bom dari 1 = 26,4⁰C
ember, sebelumnya gas-gas yang ada dalam 2 = 27,7⁰C
bom dikeluarkan dengan memutar drei
 Dengan menggunakan botol semprot cuci 3 = 28,9⁰C
bagian dalam bom dan tampung hasil cucian 4 = 29,4⁰C
dalam labu Erlenmeyer. dititrasi larutan ini 5 = 29,4⁰C
dengan Na2CO3 0,0725 N dengan indicator
6 = 29,4⁰C
metil merah.
 Volume Na2 CO 30,0725 N ditentukan dari hasil
titrasi tersebut untuk menghitung faktor
koreksi
V Na2CO3 = 5 mL
 Dilepaskan kawat pemanas yang tidak terbakar
dari elektroda dan diukur panjangnya. Panjang sisa kawat 2 cm
 Dihitung kapasitas kalor calorimeter

Hasil

2. Penentuan kapasitas kalor bomb calorimeter

Langkah kerja Hasil pengamatan


m briket = 0,9923 g
Naftalena
Panjang kawat = 10 cm
 Diiris bricket hingga sisi atas dan bawah sama
rata Temperatur awal air
 Ditimbang bricket hingga kurang lebih 1 gram
Menit ke-
 Dipotong kawat sepanjang 10 cm
 Masukkan kawat pada lubang kedua elektroda 1 = 25,3⁰C
lalu dikunci dengan menurunkan penjepit 2 = 25,3⁰C
(kawat harus tepat menyentuh permukaan
3 = 25,4⁰C
bricket)
 Tutup bom dengan rapat 4 = 25,4⁰C
 Dipasang cincin penutup yang besar 5 = 25,4⁰C
 Diputar cincin yang kecil sampai rapat 6 = 25,4⁰C
 Dipasang pengait untuk memudahkan saat
membawa bom
 Dimasukkan selang oksigen pada salah satu
ujung bom (selang dalam posisi seperti
pelangi)
Temperatur air akhir
 Diputar knop gas yang berwarna biru
Menit ke-
 Diputar knop gas yang berwarna hitam ke arah
kiri hingga tekanan 20 atm 1 = 28,4⁰C
 Ditutup kembali knop warna biru 2 = 29,1⁰C
 Lepas selang oksigen 3 = 29,7⁰C
 Dimasukkan ember yang telah diisi air
4 = 30,1⁰C
sebanyak 2L ke dalam kalorimeter
 Diletakkan bom ke dalam ember dan dipasang 5 = 30,1⁰C
kabel elektroda 6 = 30,1⁰C
 Ditutup kalorimeter
 Dipasang karet di kedua sisi bundaran
kalorimeter
 Dipasang termometer dan kaca pembesar
 Diputar knop pada sisi kalorimeter searah
jarum jam
 Didiamkan selama 4-5 menit hingga suhu
konstan (T1)
 Dicatat suhu setiap menitnya
 Dijalankan arus dengan menekan tombol
hitam selama 5 detik hingga muncul lampu
merah
 Didiamkan selama 4-5 menit hingga suhu
konstan (T2)
 Dicatat suhu setiap menitnya
 Dikeluarkan bom dari kalorimeter
 Diputar cincin yang kecil untuk mengeluarkan
gas
 Dibuka cincin penutup yang besar
 Dicuci bagian dalam bom dengan botol
semprot
 Dihitung panjang kawat yang terbakar (data
kawat akan digunakan sebagai faktor koreksi
ΔU1) V Na2CO3 = 5 mL
 Kemudian hasil cucian bom tersebut dititrasi Panjang sisa kawat 3,4 cm
dengan Na2CO3 0,0725 N (Volume Na2CO3
yang diperlukan digunakan untuk menghitung
koreksi ΔU2)

Hasil

3. Analisis dan Pembahasan


1. Penentuan Kalor Pembakaran Zat
Pada percobaan diperoleh hasil pada penimbangan 1 tablet Naftalena dengan menggunakan
neraca analitik sebesar 1,0109 g. Kemudian tablet Naftalena tersebut dimasukkan ke dalam
mangkuk sampel dalam bomb dan dipasang kawat pemanas dengan panjang (p1) = 10 cm pada
kedua elektroda dan harus tepat menyentuh permukaan Naftalen. Bomb ditutup bersamaan
dengan memutarkan drei agar udara didalam bomb dapat keluar sehingga bomb dapat ditutup
dengan rapat. Selanjutnya bomb diisi dengan gas oksigen perlahan-lahan sampai tekanan pada
manometer menunjukkan 20 atmosfer. Ember kalorimeter diisi dengan 2 liter air, kemudian
dimasukkan dalam kalorimeter dengan tepat. Setelah itu dimasukkan bomb ke dalam ember
kalorimeter dengan tepat berada di tengah. Ditutup bomb kalorimeter dan dipasang termometer
kemudian dibiarkan selama 4-5 menit agar temperatur seimbang. Dalam percobaan ini
didapatkan temperatur air (T1) sebagai berikut,

Menit ke- Suhu


1 24,4⁰C
2 24,4⁰C
3 24,3⁰C
4 24,3⁰C
5 24,3⁰C
6 24,3⁰C
sehingga diperoleh data temperatur awal (T1) sebesar 24,3° C, karena temperatur tersebut telah
seimbang dalam waktu 3 menit. Arus listrik dijalankan untuk membakar cuplikan. Yang perlu
diperhatikan adalah tombol untuk menjalankan arus listrik hendaknya jangan ditekan lebih dari
5 detik dan benar-benar harus dipastikan bahwa lampu disamping tombol sudah menyala (nyala
lampu hanya sekejap). Temperatur ember akan naik dalam 20 detik setelah dimulainya
pembakaran. Dalam percobaan ini didapatkan temperatur air (T2) sebagai berikut,

Menit ke- Suhu


1 26,4⁰C
2 27,7⁰C
3 28,9⁰C
4 29,4⁰C
5 29,4⁰C
6 29,4⁰C
sehingga diperoleh data temperatur akhir (T2) sebesar 29.4° C karena tercapai harga
maksimum konstan selama 3 menit. Setelah T1 dan T2 diketahui, dapat dihitung nilai ∆T. ∆T =
T2 − T1 = 29.4° C – 24.3° C = 5.1° C. Kalorimeter dibuka dan bomb dikeluarkan dari ember.
Sebelum membuka bomb, gas gas hasil reaksi harus dikeluarkan terlebih dahulu melalui lubang
di atas bomb dengan memutar drei. Setelah itu bomb dibuka sedikit dan dicuci dengan cara
menyeemprotkan akuades dengan menggunakan botol semprot ke dalamnya. Hasil pencucian
bomb ditampung dalam labu Erlenmeyer kemudian ditetesi dengan indikator metil merah dan
dititrasi dengan larutan strandar Na2CO3 0.0725 N hingga terjadi perubahan warna dari merah
keunguan menjadi merah seperti teh. Melalui titrasi tersebut didapatkan volume larutan standar
Na2CO3 0.0725 N sebanyak 5 mL, volume tersebut digunakan untuk menghitung faktor koreksi
∆U1, yaitu dengan mengalikan volume titran dengan (-1 kal/mL).

∆U1= 5 mL x −1 kal/mL = −5 kal


Kemudian diambil kawat pemanas sisa yang tidak terbakar dari elektroda dan setelah diukur
didapatkan panjang (p2) = 2 cm. Data panjang kawat (∆p) yang habis terbakar digunakan untuk
menghitung faktor koreksi ∆U2, yaitu dengan mengalikan ∆p dengan (-2.3 kal/cm).
∆p = p1 − p2 = 10 cm − 2 cm = 8 cm
∆U2 = 8 cm x −2.3 kal/cm = −18,4 kal
Dari data literatur didapatkan, ∆UT Naftalena = 2729,5 kkal/g = 2.729.500 kal/g.
Selanjutnya, dengan menggunakan persamaan (3) dihitung kapasitas kalorimeternya.

Jadi, kapasitas kalor zat dengan menggunakan Parr Adiabatic Bomb Calorimeter adalah
726,12 kkal/⁰C
2. Penentuan Kalor Pembakaran Zat ampel dengan Briket
Pada percobaan penentuan kalor pembakaran zat sampel dengan briket ini prosesnya
sama seperti penentuan kapasitas kalorimeter dengan zat standar Naftalen. Langkah kerja
dan proses yang dilakukan juga sama, yaitu dilakukan penimbangan sampel briket dengan
neraca analitik dan diperoleh massa briket sebesar 0.9923 g. Kemudian diletakkan dalam
mangkuk sampel dalam bomb. Panjang kawat pemanasan yang dipasang pada kedua
elektroda juga sama, yaitu p1 =10 cm, kawat pemanas ini juga harus tepat menyetuh briket.
Selanjutnya bomb ditutup rapat dan diisi dengan gas oksigen sampai manometer
menunjukkan 20 atmosfer. Ember kalorimeter diisi dengan 2 liter air (air bekas percobaan
penentuan kapasitas kalor harus diganti karena temperaturnya sudah naik dan tidak sesuai
dengan temperatur ruang). Ember dimasukkan ke dalam kalorimeter dengan tepat, lalu bomb
dimasukkan ke dalam ember kalorimeter tepat berada di tengah. Ditutup kalorimeter dan
dipasang temperatur. Pengukuran temperatur sama seperti percobaan penentuan kapasitas
kalor, dimana temperatur awal air (T1) sebagai berikut,
Menit ke- Suhu
1 25,3⁰C
2 25,3⁰C
3 25,4⁰C
4 25,4⁰C
5 25,4⁰C
6 25,4⁰C
dari tabel diatas didapatkan T1 sebesar 25.4°C.
Selanjutnya dijalankan arus listrik untuk membakar cuplikan, temperatur naik dalam
beberapa detik. Dilakukan pengukuran temperatur (T2) hingga didapatkan temperatur
konstan selama beberapa menit dan pada percobaan ini didapatkan data sebagai berikut,
Menit ke- Suhu
1 28,4⁰C
2 29,1⁰C
3 29,7⁰C
4 30,1⁰C
5 30,1⁰C
6 30,1⁰C
sehingga diperoleh temperatur akhir (T2) sebesar 30.1° C. Setelah diketahui T1 dan T2
dapat dihitung nilai ∆T.
∆T = T2 − T1 = 30.1° C − 25.4° C = 2.3°C
Kalorimeter dibuka dan bomb dikeluarkan dari ember. Sebelum membuka bomb, gas-gas
hasil reaksi harus dikeluarkan terlebih dahulu melalui lubang di atas bomb dengan memutar
drei. Setelah itu bomb dibuka sedikit dan dicuci dengan cara menyemprotkan akuades
dengan menggunakan botol semprot ke dalamnya. Hasil pencucian bomb ditampung dalam
labu Erlenmeyer kemudian ditetesi dengan indikator metal merah dan dititrasi dengan
larutan strandar Na2CO3 0.0725 N hingga terjadi perubahan warna menjadi merah seperti
teh. Melalui titrasi tersebut didapatkan volume larutan standar Na 2CO3 0.0725 N sebanyak 5
mL, volume tersebut digunakan untuk menghitung faktor koreksi ∆U 1, yaitu dengan
mengalikan volume titran dengan (-1 kal/mL)

Kemudian diambil kawat pemanas sisa yang tidak


terbakar dari elektroda dan setelah diukur didapatkan panjang (p2) = 3,4 cm. Data panjang
kawat (∆p) yang habis terbakar digunakan untuk menghitung faktor koreksi ∆U2, yaitu
dengan mengalikan ∆p dengan (-2.3 kal/cm).
Dari percobaan penentuan kapasitas kalor bomb kalorimeter, didapatkan kapasitas kalor, C =
710250,78 kal/°C = 710,25 kkal/°C. sehingga dapat dihitung kalor pembakaran m gram
Briket dengan persamaan 3.

Jadi, kalor pembakaran m gram Briket dalam percobaan ini adalah sebesar -1.646,27 kkal/g
4. Skema Alat Percobaan

5. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan dapat dikemukakan simpulan sebagai berikut.
1.Kapasitas kalor zat dengan menggunakan Parr Adiabatic Bomb Calorimeter adalah 726,12
kkal/⁰C
2.Kalor pembakaran m gram Briket sebesar –1646,27 kkal/g
6. Daftar Pustaka
7. Pertanyaan dan Jawaban
1. Apakah perbedaan antara ΔHT dan ΔUT ?
Jawab : ∆HT adalah entalpi reaksi pada temperatur tetap yang besarnya sama dengan kalor
yang dihasilkan dari reaksi pada tekanan tetap, sedangkan ∆UT adalah energi dalam reaksi
pada temperatur tetap yang besarnya sama dengan kalor yang dihasilkan dari reaksi pada
volume tetap.
2. Mengapa ΔUC pada persamaan (1) sama dengan nol?
Jawab : ∆UC = 0, karena sistem dalam kalorimeter terjadi proses adiabatik, dimana pada proses
tersebut tidak ada kalor yang dikeluarkan dan diterima.
3. Hitunglah kalor pembakaran naftalena dari data lain yang diperoleh dari literature (missal
berdasarkan data ∆ Uf ¿
Jawab :
8. Link Video Youtube: https://youtu.be/E_Y5zhkxxro