Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE FEVER DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA

Di susun Oleh:

Nurul Mukaromah

203203055

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL ACHAMD YANI YOGYAKARTA

2020
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN PADA KLIEN DENGAN DENGUE FEVER DI


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA

Telah disetujui pada:

Hari :

Tanggal :

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik Mahasiswa

(Afi Lutfiyati, M.Kep,.Ns) ( ) ( )


TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Demam dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk
Aedes aegypti dan ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam.
Demam dengue atau dengue fever adalah penyakit yang terutama terjadi pada anak,tetapi
dapat juga terjadi pada remaja, atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis demam,
nyeri otot, atau sendi yang disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash) dan
limfadenophati, demam bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola
mata, rasa menyecap yang terganggu, trombositopenia ringan, dan bintik-bintik
perdarahan (ptekie) spontan. Demam berdarah dengue adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus dengue (arbovirus) yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan
nyamuk Aedes aegypti [ CITATION Hid17 \l 1033 ].
Demam dengue / DF dan DBD atau DHF adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang
disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diathesis. Penyakit DBD
mempunyai perjalanan penyakit yang sangat cepat dan sering menjadi fatal karena
banyak pasien yang meninggal akibat penanganan yang terlambat. Demam berdarah
dengue (DBD) disebut juga dengue hemoragic fever (DHF), dengue fever (DF), demam
dengue, dan dengue shock sindrom (DDS). Sehingga penulis dapat menyimpulkan
bahwa penyakit DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh Arbovirus ( arthro podborn
virus ) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes ( Aedes Albopictus dan Aedes
Aegepty ) nyamuk aedes aegepty (Sukohar, 2015).
B. Nyamuk Aedes sp
Nyamuk ini merupakan spesies nyamuk yang ditemukan di daerah tropis dan subtropis,
berada pada garis lintang 35°U dan 35°S. Spesies nyamuk Aedes sp adalah salah satu
vektor penular virus dengue, karena nyamuk ini hidup dan dekat dengan manusia.
Populasi Aedes sp ditemukan di daerah perkotaan, pinggiran kota, dan pedesaan. Aedes sp
merupakan spesies yang dominan tergantung pada ketersediaan dan habitat larva.
1. Ketinggian
Ketinggian merupakan faktor yang membatasi penyebaran nyamuk Aedes sp.
Keberadaan Aedes sp di Asia Tenggara dengan ketinggian tidak lebih dari 1000-1500
meter diatas permukaan laut, karena dengan melebihi ketinggian tersebut nyamuk
tidak dapat berkembangbiak.
2. Perilaku Istirahat
Nyamuk Aedes sp suka beristirahat di tempat gelap dan lembab. Aedes aegypti sp
sering beraktifitas di dalam rumah. Kemampuan jarak terbang nyamuk 40-100 meter,
namun secara pasif, jika dipengaruhi oleh angin dapat tebang jauh. Kecepatan angin
kurang dari 8,05 km/jam tidak mempengaruhi aktivitas nyamuk.
3. Perilaku Mencari
Nyamuk Aedes sp memiliki aktivitas menggigit mulai sekitar pukul 09.00-10.00 dan
16.00-17.00. Puncak aktivitas menggigit bergantung pada lokasi dan musim. Jika
dalam mencari makan, maka Aedes dapat menggigit lebih dari satu orang. Perilaku ini
memperbesar dalam penyebaran penyakit, dan jika dalam anggota keluarga yang sama
mengalami sakit dapat memperlihatkan terjadi infeksi yang sama. Kebiasaan mencari
makan nyamuk Aedes sp terjadi hampir sepanjang hari sejak pukul 07.30 sampai 17.30
dan 18.30, dengan aktifitas mengigit pada sore hari dua kali lebih tinggi daripada pagi
hari.
[ CITATION Rah16 \l 1033 ].
C. Etiologi
Virus dengue termasuk grup B arthropod borne virus (arboviruses) dan sekarang
dikenal sebagai genus flavivirus, family Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan
diameter 30 nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x 106.
Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 yang semuanya
dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. Keempat serotype
ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotype terbanyak. Infeksi dengan
salah satu serotype akan menimbulkan antibody seumur hidup terhadap serotype yang
bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotype yang lain. Seseorang yang
tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi dengan 3 atau bahkan 4 serotipe
selama hidupnya.
Penyebaran dengue dipengaruhi faktor iklim seperti curah hujan, suhu dan
kelembaban. Kelangsungan hidup nyamuk akan lebih lama bila tingkat kelembaban
tinggi, seperti selama musim hujan. Kelembaban yang tinggi dengan suhu berkisar antara
28-320C membantu nyamuk Aedes bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama. Pola
penyakit di Indonesia sangat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Tingginya angka kejadian DBD juga dapat dipengaruhi oleh kepadatan penduduk. Suatu
kota atau daerah dengan mobilitas penduduk yang padat dan populasi orang yang tinggi.
Hal ini menyebabkan populasi nyamuk Aedes aegypti meningkat maka seseorang yang
tinggal di suatu daerah dengan tingkat populasi yang tinggi memiliki risiko 16 kali
tertular DBD (Anggraini, 2016). Semakin banyak jumlah penduduk disuatu wilayah akan
meningkatkan

kemungkinan pajanan pada banyak orang. Jika nyamuk menggigit seorang penderita
dalam kondisi viremia maka nyamuk tersebut akan terinfeksi. Virus dengue yang masuk
ke dalam tubuh nyamuk akan berkembang biak dalam 8-10 hari dan nyamuk akan
menularkan ke orang lain. Daerah perkotaan dan perdesaan pinggir kota merupakan
tempat yang padat penduduk sehingga penularan virus dengue melalui gigitan nyamuk
lebih banyak. Sebagian besar penduduk pada pemukiman baru mrmiliki karier pembawa
virus dengan tipe berbeda. Intervensi yang efektif untuk mengatasi sebaran DBD ini
adalah dengan pengendalian vektornya. Walaupun penduduk padat, namun jika vektor
sedikit dan tidak infektif maka penduduk tidak akan menjadi rentan (Wowor, 2017).
D. Anatomi dan Fisiologi
Berikut adalah anatomi fisiologi menurut (Vyas, et al, 2015) yang berhubungan
degan penyakit DHF yang petama adalah sistem sirkulasi. Sistem sirkulasi adalah
sarana untuk menyalurkan makanan dan oksigen dari traktus distivus dan dari paru-
paru ke sela-sela tubuh. Selain itu, sistem sirkulasi merupakan sarana untuk
membuang sisa-sisa metabolisme dari sel-sel ke ginjal, paru-paru dan kulit yang
merupakan tempat ekskresi sisa-sisa metabolisme. Organ-organ sistem sirkulasi
mencakup jantung, pembuluh darah, dan darah.
1. Jantung
Merupakan organ yang berbentuk kerucut, terletak didalam thorax,
diantara paru-paru, agak lebih kearah kiri

Gambar 1 : Anatomi sistem sirkulasi.


2. Pembuluh darah

Pembuluh darah ada 3 yaitu :

a. Arteri (Pembuluh Nadi)


Arteri meninggalkan jantung pada ventikel kiri dan kanan. Beberapa
pembuluh darah arteri yang penting :

1) Arteri koronaria
Arteri koronaria adalah arteri yang mendarahi dinding jantung
2) Arteri subklavikula
Arteri subklafikula adalah bawah selangka yang bercabang kanan
kiri leher dan melewati aksila.
3) Arteri Brachialis
Arteri brachialis adalah arteri yang terdapat pada lengan atas
4) Arteri radialis
Arteri radialis adalah arteri yang teraba pada pangkal ibu jari
5) Arteri karotis
Arteri karotis adalah arteri yang mendarahi kepala dan otak
6) Arteri temporalis
Arteri temporalis adalah arteri yang teraba denyutnya di depan
telinga
7) Arteri facialis
Teraba facialis adalah arteri yang denyutan disudut kanan bawah.
8) Arteri femoralis
Arteri femorais adalah arteri yang berjalan kebawah menyusuri
paha menuju ke belakang lutut

9) Arteri Tibia
Arteri tibia adalah arteri yang terdapat pada kaki
10) Arteri Pulmonalis
Arteri pulmonalis adalah arteri yang menuju ke paru-paru.
b. Kapiler
Kapiler adalah pembuluh darah yang sangat kecil yang teraba dari
cabang terhalus dari arteri sehingga tidak tampak kecuali dari bawah
mikroskop. Kapiler membentuk anyaman di seluruh jaringan tubuh,
kapiler selanjutnya bertemu satu dengan yang lain menjadi darah
yang lebih besar yang disebut vena.

c. Vena (pembuluh darah balik)


Vena membawa darah kotor kembali ke jantung. Beberapa vena
yang penting :

1) Vena Cava Superior


Vena balik yang memasuki atrium kanan, membawa darah kotor
dari daerah kepala, thorax, dan ekstremitas atas.
2) Vena Cava Inferior
Vena yang mengembalikan darah kotor ke jantung dari semua
organ tubuh bagian bawah
3) Vena jugularis
Vena yang mengembalikan darah kotor dari otak ke jantung
4) Vena pulmonalis
Vena yang mengembalikan darah kotor ke jantung dari paru-paru.
3. Darah
Beberapa pengertian darah menurut beberapa ahli adalah sebagai
berikut:
Darah adalah jaringan cair dan terdiri atas dua bagian yaitu bagian cair yang
disebut plasma dan bagian padat yang disebut sel darah. Darah adalah suatu
jaringan tubuh yang terdapat didalam pembuluh darah yang berwarna
merah. Darah adalah suatu cairan kental yang terdiri dari sel-sel dan plasma.
Jadi darah adalah jaringan cair yang terdapat dalam pembuluh darah yang
berwarna merah yang cair disebut plasma dan yang padat di sebut sel darah
yang befungsi sabagai transfer makanan bagi sel. Volume darah pada tubuh
yang sehat / organ dewasa terdapat darah kira-kira 1/13 dari berat badan
atau kira-kira 4-5 liter. Keadaan jumlah tersebut pada tiap orang tidak sama
tergantung pada umur, pekerjaan, keadaan jantung atau pembuluh darah.
Tekanan viskositas atau kekentalan dari pada darah lebih kental dari pada
air yaitu mempunyai berat jenis 1.041 – 1.067 dengan temperatur 380C dan
PH 7.37 – 1.45.
Fungsi darah secara umum terdiri dari:
a. Sebagai Alat Pengangkut
1) Mengambil O2 atau zat pembakaran dari paru-paru untuk
diedarkan keseluruh jaringan tubuh.
2) Mengangkut CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-
paru.
3) Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan
dan dibagikan ke seluruh jaringan/alat tubuh.
4) Mengangkat atau mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi
tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal.
b. Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan
racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantara leukosit,
antibody atau zat-zat anti racun.
c. Menyebarkan panas keseluruh tubuh.
Adapun proses pembentukan sel darah (hemopoesis) terdapat tiga
tempat, yaitu : sumsum tulang, hepar dan limpa.

a. Sumsum Tulang
Susunan tulang yang aktif dalam proses hemopoesis adalah :
1) Tulang Vertebrae
Vertebrae merupakan serangkaian tulang kecil yang tidak teratur
bentuknya dan saling berhubungan, sehingga tulang belakang
mampu melaksanakan fungsinya sebagai pendukung dan
penopang tubuh. Tubuh manusia mempunyai 33 vertebrae, tiap
vertebrae mempunyai korpus (badan ruas tulang belakang)
terbentuk kotak dan terletak di depan dan menyangga. Bagian
yang menjorok dari korpus di belakang disebut arkus neoralis
(Lengkung Neoral) yang dilewati medulla spinalis, yang
membawa serabut dari otak ke semua bagian tubuh. Pada arkus
terdapat bagian yang menonjol pada vertebrae dan dilekati oleh
otot-otot yang menggerakkan tulang belakang yang dinamakan
prosesus spinosus.

2) Sternum (tulang dada)


Sternum adalah tulang dada. Tulang dada sebagai pelekat tulang
kosta dan klavikula. Sternum terdiri dari manubrium sterni,
corpus sterni, dan processus xipoideus.
3) Costa (Tulang Iga)
Costa terdapat 12 pasang, 7 pasang Costa vertebio sterno, 3
pasang costa vertebio condralis dan 2 pasang costa fluktuantes.
Costa dibagian posterior tubuh melekat pada tulang vertebrae
dan di bagian anterior melekat pada tulang sternum, baik secara
langsung maupun tidak langsung, bahkan ada yang sama sekali
tidak melekat.

b. Hepar
Hepar merupakan kelenjar terbesar dari beberapa kelenjar pada
tubuh manusia. Organ ini terletak di bagian kanan atas abdomen di
bawah diafragma, kelenjar ini terdiri dari 2 lobus yaitu lobus dextra
dan ductus hepatikus sinestra, keduanya bertemu membentuk ductus
hepatikus comunis. Ductus hepaticus comunis menyatu dengan
ductus sistikus membentuk ductus coledakus.

c. Limpa
Limpa terletak dibagian kiri atas abdomen, limpa terbentuk setengah
bulan berwarna kemerahan, limpa adalah organ berkapsula dengan
berat normal 100 – 150 gram. Limpa mempunyai 2 fungsi sebagai
organ limfaed dan memfagosit material tertentu dalam sirkulasi
darah. Limpa juga berfungsi menghancurkan sel darah merah yang
rusak.

E. Klasifikasi
1. Derajat I: terdapat demam disertai gejala tidak khas dan uji torniket + (positif),
terdapat gangguan kebutuhan nutrisi dan keseimbangan elektrolit karena adanya
muntah, anorexsia. Gangguan rasa nyaman karena demam, nyeri epigastrium,
dan perputaran bola mata.
2. Derajat II: seperti derajat satu ditambah ada perdarahan spontan di kulit atau
perdarahan lain, peningkatan kerja jantung adanya epitaxsis melena dan
hemaesis.
3. Derajat III: ditandai adanya kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah serta
penurunan tekanan nadi ( <20 mmHg), hipotensi (sistolik menurun <80 mmHg)
sianosis di sekitar mulut, akral dingin, kulit lembab dan pasen tampak gelisah,
terdapat gangguan kebutuhan O2 karena kerja jantung menurun, penderita
mengalami pre shock/ shock.
4. Derajat IV : ditandai dengan syok berat (profound shock) yaitu nadi tidak dapat
diraba dan tekanan darah tidak terukur (Sukohar, 2015).

F. Patofisiologi
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan viremia.
Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu di hipotalamus
sehingga menyebabkan ( pelepasan zat bradikinin, serotinin, trombin, Histamin)
terjadinya: peningkatan suhu. Selain itu viremia menyebabkan pelebaran pada dinding
pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan dan plasma dari intravascular
ke intersisiel yang menyebabkan hipovolemia. Trombositopenia dapat terjadi akibat
dari, penurunan produksi trombosit sebagai reaksi dari antibodi melawan virus.
Walaupun DD dan DBD disebabkan oleh virus yang sama, tapi mekanisme
patofisiologisnya berbeda dan menyebabkan perbedaan klinis. Perbedaan utama
adalah adanya renjatan yang khas pada DBD yang disebabkan kebocoran plasma yang
diduga karena proses immunologi, pada demam dengue hal ini tidak terjadi.
Manifestasi klinis DD timbul akibat reaksi tubuh terhadap masuknya virus yang
berkembang di dalam peredaran darah dan ditangkap oleh makrofag. Selama 2 hari
akan terjadi viremia (sebelum timbul gejala) dan berakhir setelah lima hari timbul
gejala panas. Makrofag akan menjadi antigen presenting cell (APC) dan mengaktifasi
sel T-Helper dan menarik makrofag lain untuk memfagosit lebih banyak virus. T-
helper akan mengaktifasi sel T -sitotoksik yang akan melisis makrofag yang sudah
memfagosit virus. Juga mengaktifkan sel B yang akan melepas antibodi. Ada 3 jenis
antibodi yang telah dikenali yaitu antibodi netralisasi, antibodi hemaglutinasi,
antibodi fiksasi komplemen. Proses tersebut akan menyebabkan terlepasnya mediator-
mediator yang merangsang terjadinya gejala sistemik seperti demam, nyeri sendi,
otot, malaise dan gejala lainnya[ CITATION Sur18 \l 1033 ].
Pada pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan baik kulit
seperti petekia atau perdarahan mukosa di mulut. Hal ini mengakibatkan adanya
kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan mekanisme hemostatis secara
normal. Hal tersebut dapat menimbulkan perdarahan dan jika tidak tertangani maka
akan menimbulkan syok. Masa inkubasi virus dengue dalam manusia (inkubasi
intrinsik) berkisar antara 3 sampai 14 hari sebelum gejala muncul, gejala klinis rata-
rata muncul pada hari keempat sampai hari ketujuh, sedangkan masa inkubasi
ekstrinsik (di dalam tubuh nyamuk) berlangsung sekitar 8-10 hari. Virus akan masuk
ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aeygypty. Pertama tama yang terjadi
adalah viremia yang mengakibatkan penderita menalami demam, sakit kepala, mual,
nyeri otot pegal pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik bintik merah pada kulit,
hiperemia tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi pembesaran kelenjar getah
bening, pembesaran hati (hepatomegali).
Kemudian virus bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus
antibodi. Dalam sirkulasi dan akan mengativasi sistem komplemen. Akibat aktivasi
C3 dan C5 akan akan di lepas C3a dan C5a dua peptida yang berdaya untuk
melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai faktor meningkatnya
permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang mengakibtkan terjadinya
pembesaran plasma ke ruang ekstraseluler. Pembesaran plasma ke ruang eksta seluler
mengakibatkan kekurangan volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi dan
hipoproteinemia serta efusi dan renjatan (syok).
Hemokonsentrasi (peningatan hematokrit >20%) menunjukan atau
menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) sehingga nilai hematokrit menjadi
penting untuk patokan pemberian cairan intravena. Adanya kebocoran plasma ke
daerah ekstra vaskuler di buktikan dengan ditemukan cairan yang tertimbun dalam
rongga serosa yaitu rongga peritonium, pleura, dan pericardium yang pada otopsi
ternyata melebihi cairan yang diberikan melalui infus. Setelah pemberian cairan
intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukan kebocoran plasma telah teratasi,
sehingga pemberian cairan intravena harus di kurangi kecepatan dan jumlahnya untuk
mencegah terjadi edema paru dan gagal jantung, sebaliknya jika tidak mendapat
cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang akan
mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan. Jika renjatan
atau hipovolemik berlangsung lam akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis
dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik [ CITATION Pur17 \l 1033 ].
G. Manifesasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi virus dengue sangat luas dapat bersifat asimptomatik/ tak
bergejala, demam yang tidak khas/ sulit dibedakan dengan infeksi virus lain.

Gambar 1. Spektrum Klinis Infeksi Virus Dengue.

Pada bayi, anak-anak dan dewasa yang telah terinfeksi virus dengue, terutama untuk
pertama kalinya (infeksi primer), dapat menunjukkan manifestasi klinis berupa demam
sederhana yang tidak khas, yang sulit dibedakan dengan demam akibat infeksi virus lain.
Manifestasi klinis tersebut pada umumnya ditemukan pada saat dilakukan penelitian
mengenai penyebab demam pada kelompok masyarakat tertentu. Ruam makulopapular
dapat menyertai demam atau pada saat penyembuhan.
Demam dengue sering ditemukan pada anak besar, remaja dan dewasa. Masa tunas
berkisar antara 3-5 hari (pada umumnya 5-8 hari). Awal penyakit biasanya mendadak,
disertai gejala prodromal seperti nyeri kepala, nyeri bagian tengah tubuh, anoreksia, rasa
menggigil, dan malaise. Dijumpai trias sindrom yaitu demam tinggi, nyeri pada anggota
badan dan timbulnya ruam (rash).
Pada lebih dari separuh pasien, gejala klinis timbul dengan mendadak, disertai
kenaikan suhu, nyeri kepala hebat, nyeri dibelakang bola mata, nyeri punggung, otot,
sendi dan disertai rasa menggigil. Pada beberapa penderita dapat dilihat bentuk kurva
suhu yang menyerupai pelana kuda atau bifasik. Demam umumnya timbul mendadak,
tinggi (39oC-40oC), terus menerus biasanya berlangsung antara 2-7 hari. Pada hari ketiga
sakit pada umumnya suhu tubuh menurun, namun masih diatas normal, kemudian suhu
tinggi kembali. Gejala lain dapat ditemukan berupa gangguan pencernaan (diare atau
konstipasi), nyeri perut, tenggorok dan depresi.
Pada hari sakit ke-3 atau ke-4 ditemukan ruam makulopapular, atau rubeliformis,
ruam ini segera berkurang. Pada masa penyembuhan timbul ruam di kaki dan tangan
berupa ruam makulopapular dan petekie diselingi bercak-bercak putih (white island in
the sea of red), dapat disertai rasa gatal yang disebut sebagai ruam konvalesens.
Manifestasi perdarahan pada umumnya sangat ringan berupa uji tourniquet yang positif
(> 10 petekie dalam area 2,8 x 2,8 cm) atau beberapa patekie spontan. Pada beberapa
kasus demam dengue dapat terfjadi perdarahan massif.
Manifestasi klinis infeksi dengue sangat bervariasi dan sulit dibedakan dari penyakit
infeksi lain terutama pada fase awal perjalanan penyakitnya. Oleh karena itu, diperlukan
petunjuk kapan suatu infeksi dengue harus dicurigai, petunjuk ini berupa tanda dan
gejala klinis serta pemeriksaan laboratorium rutin. Tanpa diberiakan petunjuk aka
menyebabkan keterlambatan bahkan kesalahan dalam menegakkan diagnosis.
Berdasarkan petunjuk klinis tersebut dibuat kriteria diagnosis klinis demam dengue,
antara lain:
1. Demam 2-7 hari yang timbul mendadak, tinggi terus-meneruss, bifasik
2. Manifestasi perdarahan baik spontan seperti petekie, purpura, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis atau melena, maupun berupa uji
tourniquet positif.
3. Nyeri kepala, myalgia, atralgia, nyeri retroorbita
4. Dijumpai kasus DBD baik di lingkungan sekitar rumah maupun sekolah
5. Leukopenia <4000 /mm3
6. Trombositopenia <100.000/mm
[ CITATION San19 \l 1033 ]
H. Pemeriksaan diagnostic
Langkah – langkah diagnose medic pemeriksaan menurut [ CITATION Pur17 \l 1033 ]:
1. Pemeriksaan hematokrit (Ht) : ada kenaikan bisa sampai 20%, normal: pria 40-50%;
wanita 35-47%
2. Uji torniquit: caranya diukur tekanan darah kemudian diklem antara tekanan systole
dan diastole selama 10 menit untuk dewasa dan 3-5 menit untuk anak-anak. Positif
ada butir-butir merah (petechie) kurang 20 pada diameter 2,5 inchi.
3. Tes serologi (darah filter) : ini diambil sebanyak 3 kali dengan memakai kertas
saring (filter paper) yang pertama diambil pada waktu pasien masuk rumah sakit,
kedua diambil pada waktu akan pulang dan ketiga diambil 1-3 mg setelah
pengambilan yang kedua. Kertas ini disimpan pada suhu kamar sampai menunggu
saat pengiriman.
4. Isolasi virus: bahan pemeriksaan adalah darah penderita atau jaringan-jaringan untuk
penderita yang hidup melalui biopsy sedang untuk penderita yang meninggal melalui
autopay. Hal ini jarang dikerjakan.
5. Trombositopeni (100.000/mm3)
6. Hb dan PCV meningkat (20% )
7. Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
8. Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
I. Penatalaksanaan
1. Non farmakologi
istirahat baring selama masih demam, makanan lunak (bila belum ada nafsu makan
dianjurkan minum yang banyak 1500-2000cc/hari), dianjurkan pemberian cairan dan
elektrolit per oral seperti jus buah, sirup dan susu yang diberikan selama paling sedikit
2 hari, lakukan kompres hangat, memantau atau memonitor keadaan umum, suhu,
tensi, nadi dan perdarahan, diperiksakan Hb, Ht, dan thrombosit.
2. Farmakologi
Obat-obat antipiretik dan antibiotik bila dikuatirkan akan terjadi infeksi sekunder.
Pemberian paracetamol, tidak dianjurkan pemberian asetosal/silasilat karena dapat
menimbulkan perdarahan, gastritis dan asidosis (RI, 2016)
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan, verifikasi,
komunikasi dan data tentang pasien. Pengkajian ini didapat dari dua tipe yaitu data
subyektif dan persepsi tentang masalah kesehatan mereka dan data obyektif yaitu
pengamatan/pengukuran yang dibuat oleh pengumpulan data.
Berdasarkan fokus pengkajian yang harus dikaji tergantung pada ukuran, lokasi, dan
etiologi kalkulus:
1. Aktivitas/ Istirahat
Gejala: keterbatasan aktivitas sehubungan dengan kondisi sebelumnya, pekerjaan
dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi.
2. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD, HR, nadi, kulit hangat dan kemerahan.
3. Eliminasi
Gejala: riwayat ISK, obstruksi sebelumnya, penurunan volume urin, rasa terbakar.
Tanda: oliguria, hematuria, piouria, perubahan pola berkemih.
4. Pencernaan
Tanda: mual-mual, muntah.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermiberhubungan dengan proses penyakit.
2. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan mual, muntah, anoreksi.
4. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
dinding plasma.
5. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri, terapi tirah baring.
6. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan
tubuh.
7. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.

C. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan :
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit (viremia)
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam diharapkan suhu tubuh pasien
dapat berkurang/ teratasi.
Kriteria hasil: Pasien mengatakan kondisi tubuhnya nyaman, Suhu 36,8-37,5
Tekanan darah 120/80 mmHg, Respirasi 16-24 x/mnt, Nadi 60-100 x/mnt.
Intervensi:
a. Kaji saat timbulnya demam.
Rasionalnya untuk mengidentifikasi pola demam pasien.
b. Observasi tanda vital (suhu, nadi, tensi, pernafasan) setiap 3 jam.
Rrasionalnya tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum
pasien.
c. Anjurkan pasien untuk banyak minum (2,5 liter/24 jam).
Rasionalnya peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.
d. Berikan kompres hangat.
Rasionalnya dengan vasodilatasi dapat meningkatkan penguapan yang
mempercepat penurunan suhu tubuh.
e. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan pakaian yang tebal.
Rasionalnya pakaian tipis membantu mengurangi penguapan tubuh
f. Berikan terapi cairan intravena dan obat-obatan sesuai program dokter.
Rasionalnya pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tinggi.

2. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit


Tujuan : Setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam diharapkan nyeri pasien dapat
berkurang dan menghilang.
Kriteria hasil: Pasien mengatakan nyerinya hilang, nyeri berada pada skala 0-3,
tekanan darah 120/80 mmHg, suhu 36,8-37,5, respirasi 16-24 x/mnt, nadi 60-100
x/mnt.
Intervensi:
a. Observasi tingkat nyeri pasien (skala, frekuensi, durasi), Rasional mengindikasi
kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan/resolusi
komplikasi.
b. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman dan tindakan kenyamanan,
Rasionalnya lingkungan yang nyaman akan membantu proses relaksasi.
c. Berikan aktifitas hiburan yang tepat, Rasional memfokuskan kembali perhatian;
meningkatkan kemampuan untuk menanggulangi nyeri.
d. Libatkan keluarga dalam asuhan keperawatan, Rasional keluarga akan
membantu proses penyembuhan dengan melatih pasien relaksasi.
e. Ajarkan pasien teknik relaksasi, Rasionalnya relaksasi akan memindahkan rasa
nyeri ke hal lain.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat analgetik, Rasionalnya
memberikan penurunan nyeri.

3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan


dengan mual, muntah, anoreksia
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan
perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dapat teratasi.
Kriteria hasil: Mencerna jumlah kalori dan nutrisi yang tepat, menunjukkan tingkat
energi biasanya, berat badan stabil atau bertambah.
Intervensi:
a. Observasi keadaan umam pasien dan keluhan pasien, Rasional mengetahui
kebutuhan yang diperlukan oleh pasien.
b. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan
yang dapat dihabiskan oleh pasien, Rasional mengidentifikasi kekurangan dan
penyimpangan dari kebutuhan terapeutik
c. Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi, Rasionalnya mengkaji
pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorbsi dan utilisasinya)
d. Identifikasi makanan yang disukai atau dikehendaki yang sesuai dengan
program diit, Rasionalnya jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan
dalam pencernaan makan, kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang
e. Ajarkan pasien dan libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan sesuai
indikasi, Rasionalnya meningkatkan rasa keterlibatannya; Memberikan
informasi kepada keluarga untuk memahami nutrisi pasien.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti mual, Rasionalnya
pemberian obat antimual dapat mengurangi rasa mual sehingga kebutuhan
nutrisi pasien tercukupi.
4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler,
perdarahan, muntah dan demam.
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan
cairan terpenuhi
Kriteria hasil: TD 120/80 mmHg, RR 16-24 x/mnt, Nadi 60-100 x/mnt, Turgor kulit
baik, Haluaran urin tepat secara individu, Kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi:
a. Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tanda vital, Rasionalnya
hipovolemia dapat dimanisfestasikan oleh hipotensi dan takikardi.
b. Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul, Rasionalnya pernapasan
yang berbau aseton berhubungan dengan pemecahan asam aseto-asetat dan
harus berkurang bila ketosis harus terkoreksi
c. Kaji suhu warna kulit dan kelembabannya, Rasionalnya merupakan indicator
dari dehidrasi.
d. Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa,
Rasionalnya demam dengan kulit kemerahan, kering menunjukkan dehidrasi.
e. Pantau masukan dan pengeluaran cairan, Rasionalnya memberi perkiraan akan
cairan pengganti, fungsi ginjal, dan program pengobatan.
f. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas
yang dapat ditoleransi jantung, Rasionalnya mempertahankan volume sirkulasi.
g. Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung, Rasionalnya
kekurangan cairan dan elektrolit menimbulkan muntah sehingga kekurangan
cairan dan elektrolit.
h. Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi
tidak teratur, Rasionalnya pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat
berpotensi menimbulkan kelebihan beban cairan
i. Berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau
pemeriksaan laboratorium(Ht, BUN, Na, K), Rasionalnya mempercepat proses
penyembuhan untuk memenuhi kebutuhan cairan

5. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri, terapi tirah baring.
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam diharapkan pasien dapat
mencapai kemampuan aktivitas yang optimal.
Kriteria hasil: Pergerakan pasien bertambah luas, Pasien dpt melaksanakan aktivitas
sesuai dengan kemampuan (duduk, berdiri, berjalan), Rasa nyeri berkurang, Pasien
dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan.
Intervensi:
a. Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien, Rasionalnya
mengetahui derajat kekuatan otot-otot kaki pasien.
b. Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas, Rasionlanya pasien
mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan
keperawatan
c. Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui
kemampuan, Rasionalnya melatih otot – otot kaki sehingga berfungsi dengan
baik
d. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya, Rasionalnya agar kebutuhan
pasien tetap dapat terpenuhi.
e. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain: dokter (pemberian analgesic),
Rasionalnya analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri.

6. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya volume cairan


tubuh.
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi syok
hipovolemik.
Kriteria hasil : TD 120/80 mmHg, RR 16-24 x/mnt, Nadi 60-100 x/mnt, Turgor kulit
baik, Haluaran urin tepat secara individu, Kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi:
a. Monitor keadaan umum pasien, rasionalna memantau kondisi pasien selama
masa perawatan terutama pada saat terjadi perdarahan sehingga segera diketahui
tanda syok dan dapat segera ditangani.
b. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 sampai 3 jam, Rasionalnya tanda-tanda vital
normal menandakan keadaan umum baik
c. Monitor tanda perdarahan, Rasionalnya perdarahan cepat diketahui dan dapat
diatasi sehingga pasien tidak sampai syok hipovolemik.
d. Cek haemoglobin, hematokrit, trombosit, Rasionalnya untuk mengetahui tingkat
kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien sebagai acuan melakukan
tindakan lebih lanjut.
e. Berikan transfusi sesuai program dokter, Rasionalnya untuk menggantikan
volume darah serta komponen darah yang hilang.
f. Lapor dokter bila tampak syok hipovolemik, Rasionalnya untuk mendapatkan
penanganan lebih lanjut sesegera mungkin.

7. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan trombositopenia.


Tujuan : Setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi
perdarahan.
Kriteria hasil: Tekanan darah 120/80 mmHg, Trombosit 150.000-400.000.
Intervensi:
a. Monitor tanda penurunan trombosit yang disertai gejala klinis, Rasionalnya
penurunan trombosit merupakan tanda kebocoran pembuluh darah.
b. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat, Rasionalnya aktivitas pasien yang tidak
terkontrol dapat menyebabkan perdarahan
c. Beri penjelasan untuk segera melapor bila ada tanda perdarahan lebih lanjut,
Rasionalnya membantu pasien mendapatkan penanganan sedini mungkin
d. Jelaskan obat yang diberikan dan manfaatnya, Rasionalnya memotivasi pasien
untuk mau minum obat sesuai dosis yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, A. (2016). Pengaruh kondisi sanitasi lingkungan dan perilaku 3M plus terhadap
kejadian demam berdarah dengue di Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi.
Jurnal Pendidikan Geografi, 3(3), 321–328
Hidayati, L., Hadi, U. K., & Soviana, S. (2017). Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota
Sukabumi Berdasarkan. ACTA VETERINARIA INDONESIANA, Vol. 5, No. 1: 22-28.

Purwanto. (2017). Pemeriksaan Laboratorium pada Penderita Demam Berdarah Dengue.


Media Litbang Kesehatan, 14-19.

Rahmawati, N. D., Nurjazuli, & Dangiran, H. L. (2016). HUBUNGAN KONDISI


LINGKUNGAN FISIK, BIOLOGI DAN PRAKTIK PEMBERANTASAN SARANG
NYAMUK (PSN) DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NGAWI (STUDI KASUS DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS NGAWI, KECAMATAN NGAWI, KABUPATEN NGAWI).
Jurnal Kesehatan Mayarakat, Vol 4 No.3 hal 845-851.

RI, D. K. (2016). Tatalaksana Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue di Indonesia.
Jakarta: Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan.

Sandra, T., Sofro, M. A., Suhartono, Martini, & Hadisaputro, S. (2019). Faktor-Faktor yang
Berpengaruh terhadap Kejadian Demam Berdarah. Epidemiologi Kesehatan Komunitas,
1-10.
Suryani, E. T. (2018). GAMBARAN KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE . Jurnal
Berkala Epidemiologi, , 260-267 vol 6 no.3.

Sukohar. (2015). Demam Berdarah Dengue (DBD). Fakultas Kedokteran Lampung, 1-15
Vol.2 No.2.

Wowor, R. (2017). Pengaruh kesehatan lingkungan terhadap perubahan epidemiologi demam


berdarah di Indonesia. Jurnal EClinic (eCl), 5(2), 105–113.
Vyas, Jatin M, et al. (2015). Dengue Hemorrhagic Fever. 120-135.

Anda mungkin juga menyukai