Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

FEBRIS

I. ANATOMI FISIOLOGI

1) Anatomi dan fisiologi


Penerapan dan proses keperawatan pada pasien dengan
masalah neurologi memerlukan pengetahuan tentang struktur dan
fungsi sistem persarafan. Sistem saraf bekerja sebagai konduktor
sistem listrik, saraf mengatur dan mengendalikan seluruh aktifitas
tubuh. Aktifitas dapat dikelompokkan dalam 4 fungsi berikut:
menerima informasi (stimulus) dari lingkungan internal dan eksternal
melalui jalur sensori (af-ferent), menghubungkan informasi yang
diterima pada berbagai tingkat reflex(medulla spinalis) dan
mengingatkan (otak yang lebih tinggi) untuk menentukan respon
yang sesuai dengan situasi, menghubungkan informasi antara sistem
saraf perifer dan pusat, menyalurkan informasi dengan cepat melalui
berbagai jalur motorik (efferent) ke organ tubuh. Dalam pembahasan
kejang demam ini akan diuraikan sistem saraf pusat dan sistem
sarafperifer.
1. SarafPusat
a. Otak
Otak dibagi menjadi tiga bagian: Serebrum, Batang otak dan

1
serebelum. Semua berada dalam satu bagian struktur tulang
yang di sebut tengkorak, yang juga melindungi otak dari
cedera. Empat tulang yang berhubungan membentuk tulang
tengkorak: tulang frontal, parietal, temporal dan oksipital. Pada
dasar tengkorak terdiri dari tiga bagian fossa-fossa anterior
berisi lobus frontal serebral bagian hemisfer: bagian tengah
fosa berisi lobus parietal, temporal dan okspital dan bagian
fossa posterior berisi batang dan medula.
1) Serebrum.
Serebrum terdiri dari dua hemisfer dan empat lobus
Subtansia grisen terdapat pada bagian luar dinding
serebrum dan Subtansia albamenutupi dinding serebrum
bagian dalam. Pada prinsipnyakomposisi subtansia gisea
yang terbentuk dari badan- badan sel saraf memenuhi
korteks serebri, nukleus dan basl ganglia. Subtansia alba
terdiri dari sel-sel saraf yang menghubungkan bagian-
bagian otak dengan yanglain.
a) Frontal Lobus terbesar, terletak pada fossa anterior.
Area ini mengontrol perilaku individu, membuat
keputusan, kepribadian dan menahandiri.
b) Parietallobussensori.Areainimenginterpretasikansensas
i.Sensasi rasa yang tidak berpengaruh adalah bau.
Lobus parietal mengatur individu mampu mengetahui
posisi dan letak bagian tubuhya.Kerusakan pada
daerah ini menyebabkan sindrom hemineglect.
c) Temporal brefungsi menginterpretasikan sensasi
kecap, bau dan pendengaran. Ingatan jangka pendek
sangat berhubungandengan daerah ini.
d) Okspital terletak pada lobus posterior hemisfer serebri.
Bagian ini bertanggung jawab
menginterpretasikanpenglihatan.

2
Gambar 2.1

Gambar otak terlihat dari luar yang memperlihatkan bagian


penting dan lobus (Brunner, 2002)

2) BatangOtak
Batang otak terletak pada fossa anterior.Bagian-bagian
batang otak ini terdiri dari otak tengah, pons dan medula
oblongata.Otak tengah (midbrain atau mesensefalon)
menghubungkan pons dan serebelum dengan hemisfer
serebrum.Bagian ini berisi jalur sensorik dan motorik dan
sebagai pusat refleks pendengaran dan penglihatan. Pons
terletak di depan serebelum antara otak tengah dan medula
dan merupakan jembatan antara dua bagian serebelum
dan juga antara medula dan serebrum. Pons berisi jaras
sensorik dan motorik.
Medula oblongata meneruskan serabut-serabut motorik dari
otak ke medulla spinalis dan serabut-serabut sensorik dari
medulla spinalis ke otak.Dan serabut-serabut tersebut
menyilang pada daerah ini.Pons juga berisi pusat-pusat
terpenting dalam mengontrol jantung, pernafasan dan
3
tekanan darah dan sebagai asal-usul saraf otak kelima
sampaikedelapan.
3) Serebelum
Serebelum terletak pada fossa posterior dan terpisah dari
hemisfer serebral, lipatan durameter, tentorium
serebelum.Serebelum mempunyai dua aksi yaitu
merangsang dan menghambat dan tanggung jawab yang
luas terhadap koordinasi dan gerakkan halus. Ditambah
mengontrol gerakkan yang benar, keseimbangan, posisi
dan mengitegrasikan inputsensorik.

Gambar 2.2

Diagram yang memperlihatkan talamus, hipotalamus


danhipofisis (Brunner,2002)
Fosa bagian tengah atau diensefalon berisi talmus,
hipotalamus dan kelenjar hipofisis.
1) Talmus berada pada salah satu sisi pada sepertiga
ventrikel dan aktifitas primernya sebagai pusat
penyambung sensasi bau yang diterima. Semua impuls
memori, sensasi dan nyeri melalui bagian ini.
2) Hipotalamus terletak pada anterior dan inferiro talamus.
Berfungsi mengontrol dan mengatur sistem saraf
autonom. Hipotalamus juga bekerjasama dengan
hipofisis untuk mempertahankan keseimbangan cairan,

4
mempertahankan pengaturan suhu tubuh melalui
peningkatan vasokonstriksi atau vasolidasi dan
mempengaruhi sekresi hormonal dengan kelenjar
hipofisis.
3) Kelenjar hipofisis dianggap sebagai master kelenjar
karena sejumlah hormon-hormon dan fungsinya diatur
oleh kelenjar ini. Dengan hormon-hormonnya hipofisis
dapat mengontrol fungsi ginjal, pankreas, organ-organ
lain. Hipofisis merupakan bagian otak yang tiga kali
lebih sering timbul tumor pada orang dewasa, biasanya
terdeteksi dengan tanda dan gejala fisik yang dapat
menyebar kehipofisis.
4) Sistem sarafperifer
Sistem saraf perifer merupakan seperangkat saluran biasa
yang terletak di luar sistem saraf pusat. Saraf perifer
merupakan saraf tunggal, yaitu saraf motorik, sensorik atau
“campuran” ( serabut sensorik dan motorik ). Saraf perifer
terdiri dari 12 pasang saraf kranial, yang membawa impuls
dari neuron ke otak, 31 pasang saraf spinal, yang
membawa impuls ke dan dari medulla spinalis. Tiap saraf
spinal memberi penginderaan, bagian-bagian tersebut
dermatomes.Beberapa saraf spinal bersatu dan membuat
pleksus-pleksus/jalinansaraf.
Saraf perifer yang menyalurkan informasi ke saraf pusat
ialah aferen dan sensori, saraf perifer yang mengirim
informasi dari pusat saraf disebut eferen atau motorik.Pada
sistem saraf perifer motorik dan sensorik berjalan bersam
tapi terpisah ada tingkat medula spinalis masuk ke bagian
anterior atau akar motorik.Sistem saraf perifer dibagi
menjadi sistem saraf somatis dan autonom.Sistem saraf
somatis membuat persarafan pada otot skeletal berserat
lintang. Serabutdariakson menyalurkan neuro transmitor

5
acetycholin ke sel-sel otot skelet, yang akan menghasilkan
potensial aksi dan gerakan.
Saraf Kepala ( Saraf Otak ) susunan saraf terdapat pada
bagian kepala yang ke luar dari otak dan melewati lubang
yang terdapat pada tulang tengkorak berhubungan erat
dengan otot panca indera mata, telinga, hidung, lidah dan
kulit. Di dalam kepala ada 2 saraf kranial, beberapa
diantaranya adalah serabut campuran gabungan saraf
motorik dan saraf sensorik tetapi ada yang terdiri dari saraf
motorik dan saraf sensorik saja
II. DEFINISI
Kejang Demam merupakan kelainan neurologis yang paling
sering ditemukan pada anak, hal ini terutama pada rentang usia 4 bulan
sampai 4 tahun. Masalah hipertermia pada kejang demam (febris
convulsion/stuip/step) tidak di sebabkan oleh proses di dalam kepala
(otak: seperti meningitis atau radang selaput otak, ensifilitis atau
radang otak) tetapi diluar kepala misalnya karena adanya infeksi di
saluran pernapasan, telinga atau infeksi di saluran pencernaan.
Jika hipertemia pada pasien kejang demam tidak teratasi maka akan
terjadi kerusakanneurotransmitter, epilepsi, kelainan anatomis di
otak, mengalami kecacatan atau kelainan neurologis, dan
kemungkinan mengalami kematian (Indriyani, 2017).
kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada
anak berusia 6 bulan sampai 5 tahun yang mengalami peningkatan
suhu tubuh di atas 38⁰C, dengan metode pengukuran suhu apa pun,
yang tidak disebabkan oleh proses intrakranialKejang demam
biasanyamerupakan episode tunggal dan tidak berbahaya. Kejadian
kejang demam merupakan jenis kejang tersering yang dialami oleh
anak.Kejang demam dibagi menjadi dua jenis yaitu kejang demam
sederhana (simple febrile seizure) dan kejang demam kompleks
(complex febrile seizure). (Yurika Elizabeth, 2020)

6
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh mencapai >38 0C. Kejang demam dapat terjadi
karena proses intrakranial maupun ekstrakranial. Kejang demam terjadi
pada 2-4% populasi anak berumur 6 bulan sampai dengan 5 tahun
(Amid dan Hardhi, NANDA NIC-NOC, 2013).

III. ETIOLOGI
Sebesar 10% – 20% tidak dapat ditemukan etiologinya dan
sebaliknya tidak jarang ditemukan lebih dari satu penyebab kejang
pada neonotus.
1. Gangguanvaskuler.
Perdarahan berupa petekia akibat anaksia dan asfiksia yang dapat
terjadi intraserbal atau antraventrikel, sedangkan Perdarahan akibat
trauma langsung yaitu berupa perdarahan di subaraknoidal atau
subdural, terjadiTrombosis, adanya penyakit perdarahan seperti
defisiensi vitamin K, Sindrom hiperviskositas disebabkan oleh
meningginya jumlah eritrosit dan dapat diketahui dari peninggian
kadar hematokrit.
2. Gangguanmetabolisme
Gangguan metabolisme meliputi Hipokalsemia, hipomagnesia,
hipoglikemia, defisiensi dan ketergantungan akan piridoksin,
aminoasiduria, hiponatremia, hipernatremia,hiperbilirubinemia.
3. Infeksi
Kejang demam disebabkan oleh infeksi meliputi : Meningitis sapsis,
ensefalitis, toksoplasma kongenital, penyakit-penyakit cytomegalic
inclusion,
4. Kelainankongenital
Kelainan kongenital meliputi : Porensetali, hidransefali, agnesis
( sebagian dari otak )
5. Lain-lain
Disebabkan oleh Narcotic withdrawal, neoplasma.(dr. Rusepto,
2005:1141)

7
IV. MANIFESTASI KLINIS
Ada 2 bentuk kejang demam (menurut Lwingstone), yaitu:
1. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure), dengan ciri-ciri
gejala klinis sebagai berikut :
a. Kejang berlangsung singkat, < 15 menit
b. Kejang umum tonik dan klonik
Kejang umum tonik biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan
berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34
minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis
kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau
pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang
menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan
bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang
menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap
epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena
infeksi selaput otak.
Kejang klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan
pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk
klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi
dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya
tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan
oleh kontusio cerebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan
cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolic
c. Umumnya berhenti sendiri
d. Tanpa gerakan fokal atau berulang dalam 24 jam
2. Kejang demam komplikata (Complex Febrile Seizure), dengan ciri-
ciri gejala klinis sebagai berikut :
a. Kejang lama > 15 menit
b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum
didahului kejang parsial

8
Kejang parsial (fokal, lokal), Kejang berasal dari satu fokus
neuron. Sesekali fokus terdapat pada lokasi kerusakan otak
sebelumnya.
1). Kejang fokal sederhana (mengenai satu anggota tubuh tertentu
saja dan kesadaran tidak terganggu)
2). Kejang parsial kompleks (mengenai satu atau lebih anggota
tubuh dan kesadaran terganggu)
3). Kejang parsial yang menjadi umum (dari complex partial
seizures lalu berkembang menjadi kejang pada seluruh tubuh
dan kesadaran terganggu)
c. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam
Berikut beberapa gejala kejang demam, antara lain :
 Suhu tubuh lebih dari 38 derajat ( bila diukur lewat ketiak,
tambah 0.7 derajat )
 penurunan nafsu makan
 rasa tidak nyaman
 Kehilangan kesadaran atau pingsan
 Tubuh (kaki dan tangan) kaku
 Kepala menjadi terkulai disertai rasa seperti orang terkejut
 Kulit berubah pucat bahkan menjadi biru
 Bola mata terbalik keatas
 Bibir terkatup kadang disertai muntah

V. PATOFISIOLOGI
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi
dipecah menjadi CO2dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri
dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik.
Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan
mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium
(Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl –). Akibatnya
konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na + rendah,
sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebalikya. Karena

9
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka
terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial
membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang
terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini
dapat diubah oleh :
a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
b. Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya
c. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau
keturunan
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1 oC akan mengakibatkan
kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan
meningkat 20%. Pada anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65 %
dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya
15 %.Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah
keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat
terjadinya lepas muatan listrik.Lepas muatan listrik ini demikian
besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke
membran sel sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” dan
terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari 15
menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen
dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung
yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan
makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme
otak meningkat.

10
VI. PATHWAY

11
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG (DIAGNOSTIK)
1. Elektro encephalograft (EEG)
Untuk pemeriksaan ini dirasa kurang mempunyai nilai prognostik. EEG
abnormal tidak dapat digunakan untuk menduga kemungkinan
terjadinya epilepsi atau kejang demam yang berulang dikemudian
hari. Saat ini pemeriksaan EEG tidak lagi dianjurkan untuk pasien
kejang demam yang sederhana. Pemeriksaan laboratorium rutin
tidak dianjurkan dan dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi.
2. Pemeriksaan cairan cerebrospinal
Hal ini dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya meningitis,
terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Pada bayi yang
masih kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas sehingga harus
dilakukan lumbal pungsi pada bayi yang berumur kurang dari 6 bulan
dan dianjurkan untuk yang berumur kurang dari 18 bulan.
3. Darah
a. Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang  (N
< 200 mq/dl)
b. BUN: Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan
merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.
c. Elektrolit : K, Na
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )
4. Cairan Cerebo Spinal   : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS
tanda infeksi, pendarahan penyebab kejang.
5. Skull Ray :Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan
adanya lesi
6. Tansiluminasi    : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB
masih terbuka (di bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu
khusus untuk transiluminasi kepala.

VIII. PENATALAKSANAAN

12
1. Terapi Farmakologi
1. Pengobatan
a. Pengobatan fase akut
Obat yang paling cepat menghentikan kejang demam adalah
diazepam yang diberikan melalui interavena atau indra vectal.
Dosis awal : 0,3 – 0,5 mg/kg/dosis IV (perlahan-lahan).Bila
kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosis yang sama
setelah 20 menit.
b. Turunkan panas
Anti piretika : parasetamol / salisilat 10 mg/kg/dosis.
Kompres air PAM / Os
c. Mencari dan mengobati penyebab
Pemeriksaan cairan serebro spiral dilakukan untuk
menyingkirkan kemungkinan meningitis, terutama pada pasien
kejang demam yang pertama, walaupun demikian kebanyakan
dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang
dicurigai sebagai meningitis, misalnya bila aga gejala meningitis
atau bila kejang demam berlangsung lama. 
d. Pengobatan profilaksis
Pengobatan ini ada dalam cara : profilaksis intermitten / saat
demam dan profilaksis terus menerus dengan antikanulsa
setiap hari. Untuk profilaksis intermitten diberikan diazepim
secara oral dengan dosis 0,3 – 0,5 mg/hgBB/hari.
e. Penanganan sportif
1) Bebaskan jalan napas
2) Beri zat asam
3) Jaga keseimbangan cairan dan elektrolit
4) Pertahankan tekanan darah

2. Pencegahan

13
a. Pencegahan berkala (intermitten) untuk kejang demam
sederhana. Beri diazepam dan antipiretika pada penyakit-
penyakit yang disertai demam.
b. Pencegahan kontinu untuk kejang demam komplikata
Dapat digunakan :

–  Fero barbital 5-7 mg/kg/24 jam dibagi 3 dosis


–  Fenitorri 2-8 mg/kg/24 jam dibagi 2-3 dosis
–  Klonazepam (indikasi khusus)

2. Terapi Non Farmakologi


Dalam penanganan kejang demam, orang tua harus
mengupayakan diri setenang mungkin dalam mengobservasi anak.
Beberapa hal yang harus di perhatikan adalah sebagai berikut :
a. Anak harus di baringkan di tempat yang datar dengan posisi
menyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya
tersedak.
b. Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut sianak seperti
sendok atau penggaris, karena justru benda tersebut dapat
menyumbat jalan nafas.
c. Jangan memegangi anak untuk melawan kejang.
d. Sebagian besar kejang berlangsung singkat & dan tidak
memerlukan penanganan khusus.
e. Jika kejang terus berlanjut selama 10 menit, anak harus segera
di bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Sumber lain
menganjurkan anak untuk di bawa ke fasilitas kesehatan jika
kejang masih berlanjut setelah 5 menit. Ada pula sumber yang
menyatakan bahwa penanganan lebih baik di lakukan secepat
mungkin tanpa menyatakan batasan menit.
f. Setelah kejang berakhir ( jika < 10 menit ), anak perlu di bawa
menemui dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika
ada kakakuan leher, muntah-muntah yang berat,atau anak terus
tampak lemas.

14
Jika anak di bawa kefasilitas kesehatan, penanganan yang akan
di lakukan selain point-point di atas adalah sebagai berikut :
1. Memastikan jalan nafas anak tidak tersumbat
2. Pemberian oksigen melalui face mask
3. Pemberian diazepam 0.5 mg / kg berat badan per rectal
(melalui) atau jika terpasang selang infuse 0.2 mg / kg per
infuse
4. Pengawasan tanda-tanda depresi pernafasan
Menurut Nurarif dan Hardhi (2015) penatalaksanaan nonfarmakologi
pada pasien demamadalah:
a) Memberikan minuman yangbanyak
b) Tempatkan dalam ruangan bersuhunormal
c) Menggunakan pakaian yang tidaktebal
d) Memberikankompres.

IX. KOMPLIKASI
Menurut Ngastiyah (2005) risiko terjadi bahaya / komplikasi yang
dapat terjadi pada pasien kejang demam antara lain:
1.   Dapat terjadi perlukaan misalnya lidah tergigit atau akibat gesekan
dengan gigi.
2.   Dapat terjadi perlukaan akibat terkena benda tajam atau keras yang
ada di sekitar anak.
3.   Dapat terjadi perlukaan akibat terjatuh.
Selain bahaya akibat kejang, risiko komplikasi dapat terjadi akibat
pemberian obat antikonvulsan yang dapat terjadi di rumah sakit.
Misalnya:
1.   Karena kejang tidak segera berhenti padahal telah mendapat
fenobarbital kemudian di berikan diazepam maka dapat berakibat
apnea.
2.   Jika memberikan diazepam secara intravena terlalu cepat juga
dapat menyebabkan depresi pusat pernapasan.
Menurut Taslim S. Soetomenggolo dapat mengakibatkan :

15
1. Kerusakan sel otak
2. Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama lebih dari
15 menit dan bersifat unilateral
3. Kelumpuhan (Lumbatobing,1989)
4. Epilepsi, terjadi karena kerusakan pada daerah medial lobus
temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung
lama.
5. Asfiksia
6. Aspirasi
Walaupun kejang demam menyebabkan rasa cemas yang amat
sangat pada orang tua, sebagian kejang demam tidak
mempengaruhi kesehatan jangka panjang, kejang demam tidak
mengakibatkan kerusakan otak, keterbelakangan mental atau
kesulitan belajar / ataupun epiksi Epilepsy pada anak di artikan
sebagai kejang berulang tanpa adanya demam kecil kemungkinan
epilepsy timbul setelah kejng demam. Sekitar 2 – 4 anak kejang
demam dapat menimbulkan epilepsy, tetapi bukan karena kejang
demam itu sendiri kejang pertama kadang di alami oleh anak dengan
epilepsy pada saat mereka mengalami demam. Namun begitu antara
95 – 98 % anak yang mengalami kejang demam tidak menimbulkan
epilepsy.

X. ASUHAN KEPERAWATAN TEORI


i. Pengkajian
ii. Riwayat keperawatan
Data subyektif
1. Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.
Biodata orang tua perlu dipertanyakan untuk mengetahui
status sosial anak meliputi nama, umur, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
2. Riwayat Penyakit (Darto Suharso, 2000)

16
Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang
ditanyakan:
 Apakah betul ada kejang?
Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar
dianjurkan menirukan gerakan kejang si anak
 Apakah disertai demam?
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang
menyertai kejang, maka diketahui apakah infeksi
memegang peranan dalam terjadinya bangkitan
kejang.
 Lama serangan
Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang
merasakan waktu berlangsung lama. Lama bangkitan
kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon
terhadap prognosa dan pengobatan.
 Pola serangan
Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap
mengenai pola serangan apakah bersifat umum, fokal,
tonik, klonik?
Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa
hilang kesadaran seperti epilepsi mioklonik?
Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak
disertai gangguan kesadaran seperti epilepsi akinetik?
Apakah serangan dengan kepala dan tubuh
mengadakan flexi sementara tangan naik sepanjang
kepala, seperti pada spasme infantile?
Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat
umum.
 Frekuensi serangan
Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya,
umur berapa kejang terjadi untuk pertama kali, dan
berapa frekuensi kejang per-tahun. Prognosa makin

17
kurang baik apabila kejang timbul pertama kali pada
umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.
 Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan
Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau
rangsangan tertentu yang dapat menimbulkan kejang,
misalnya lapar, lelah, muntah, sakit kepala dan lain-
lain. Dimana kejang dimulai dan bagaimana
menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan
apakah penderita segera sadar, tertidur, kesadaran
menurun, ada paralise, menangis dan sebagainya?
 Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara
(khususnya pada penderita epilepsi), gagal ginjal,
kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lain-
lain.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini
ditanyakan apakah penderita pernah mengalami kejang
sebelumnya, umur berapa saat kejang terjadi untuk
pertama kali?
Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak,
KP, OMA dan lain-lain.
4. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu
pernah mengalami infeksi atau sakit panas sewaktu hamil.
Riwayat trauma, perdarahan per- vaginam sewaktu hamil,
penggunaan obat-obatan maupun jamu selama hamil.
Riwayat persalinan ditanyakan apakah sukar, spontan
atau dengan tindakan (forcep/vakum), perdarahan ante
partum, asfiksi dan lain-lain. Keadaan selama neonatal
apakah bayi panas, diare, muntah, tidak mau menetek,
dan kejang-kejang.

18
5. Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum
ditanyakan serta umur mendapatkan imunisasi dan reaksi
dari imunisasi. Pada umumnya setelah mendapat
imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang dapat
menimbulkan kejang.
6. Riwayat Perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial):
berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi,
dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Gerakan motorik halus: berhubungan dengan kemampuan
anak untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang
melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan
dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi yang
cermat, misalnya menggambar, memegang suatu benda,
dan lain-lain.
Gerakan motorik kasar: berhubungan dengan pergerakan
dan sikap tubuh.
Bahasa: kemampuan memberikan respon terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan.
7. Riwayat kesehatan keluarga.
Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+25 %
penderita kejang demam mempunyai faktor turunan).
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit syaraf
atau lainnya? Adakah anggota keluarga yang menderita
penyakit seperti ISPA, diare atau penyakit infeksi menular
yang dapat mencetuskan terjadinya kejang demam.
8. Riwayat sosial
Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan
emosionalnya perlu dikaji siapakah yang mengasuh anak?

19
Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan
teman sebayanya?
9. Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit
bagaimana?
 Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi :
Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat
Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan,
pengetahuan tentang kesehatan, pencegahan dan
kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis?
Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang
diderita, pelayanan kesehatan yang diberikan, tindakan
apabila ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan
obat-obatan pertolongan pertama.
 Pola nutrisi
Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak.
Ditanyakan bagaimana kualitas dan kuantitas dari
makanan yang dikonsumsi oleh anak?
Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak?
Bagaimana selera makan anak? Berapa kali minum,
jenis dan jumlahnya per hari?
 Pola Eliminasi
BAK : ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara
makroskopis ditanyakan bagaimana warna, bau, dan
apakah terdapat darah? Serta ditanyakan apakah
disertai nyeri saat anak kencing.
BAB : ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak?
Bagaimana konsistensinya lunak,keras,cair atau
berlendir?
10. Pola aktivitas dan latihan

20
Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman
sebayanya? Berkumpul dengan keluarga sehari berapa
jam? Aktivitas apa yang disukai?
11. Pola tidur/istirahat
Berapa jam sehari tidur? Berangkat tidur jam berapa?
Bangun tidur jam berapa? Kebiasaan sebelum tidur,
bagaimana dengan tidur siang?
iii. Pemeriksaan fisik
Data Obyektif
1. Pemeriksaan Umum (Corry S, 2000)
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital: tingkat
kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. Pada
kejang demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi
sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal
seperti sebelum kejang tanpa kelainan neurologi.
2. Pemeriksaan fisik
 Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah
dispersi bentuk kepala? Apakah tanda-tanda kenaikan
tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar cembung,
bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau
belum?
 Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain
rambut. Pasien dengan malnutrisi energi protein
mempunyai rambut yang jarang, kemerahan seperti
rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan
rasa sakit pada pasien.
 Muka/ Wajah.
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang
paresis tertinggal bila anak menangis atau tertawa,
sehingga wajah tertarik ke sisi sehat. Adakah tanda rhisus

21
sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan
nervus cranial ?
 Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu
periksa pupil dan ketajaman penglihatan. Apakah keadaan
sklera, konjungtiva ?
 Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-
tanda adanya infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di
daerah belakang telinga, keluar cairan dari telinga,
berkurangnya pendengaran.
 Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang
menyumbat jalan napas? Apakah keluar sekret,
bagaimana konsistensinya, jumlahnya?

 Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis?
Bagaimana keadaan lidah? Adakah stomatitis? Berapa
jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries gigi?
 Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil? Adakah tanda-
tanda infeksi faring, cairan eksudat?
 Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar
tiroid? Adakah pembesaran vena jugularis?
 Thorax
Pada inspeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak
pernapasan, frekwensinya, irama, kedalaman, adakah
retraksi
Intercostale? Pada auskultasi, adakah suara napas
tambahan ?

22
 Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta
iramanya? Adakah bunyi tambahan? Adakah bradicardi
atau tachycardia?
Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada
abdomen? Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus?
Adakah tanda meteorismus? Adakah pembesaran lien
dan hepar?
 Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun
warnanya? Apakah terdapat oedema, hemangioma?
Bagaimana keadaan turgor kulit?
 Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah
terjadi kejang? Bagaimana suhunya pada daerah akral?
 Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari
vagina, tanda-tanda infeksi?

iv. Pemeriksaan Penunjang


Tergantung sarana yang tersedia dimana pasien dirawat,
pemeriksaannya meliputi:
1. Darah
Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi
kejang (N< 200 mq/dl)
BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan
merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian
obat.
Elektrolit : K, Na

23
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi
kejang
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )
2. Cairan Cerebo Spinal : Mendeteksi tekanan abnormal dari
CCS tanda infeksi, pendarahan penyebab kejang.
3. Skull Ray : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak
ruang dan adanya lesi
4. Tansiluminasi : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi
dengan UUB masih terbuka (di bawah 2 tahun) di kamar
gelap dengan lampu khusus untuk transiluminasi kepala.
5. EEG : Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui
tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas
kejang, hasil biasanya normal.
6. CT Scan : Untuk mengidentifikasi lesi cerebral infaik
hematoma, cerebral oedem, trauma, abses, tumor dengan
atau tanpa kontras.

2. DiagnosaKeperawatan
a) Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit(infeksi)
b) Defisit Nutrisi berhubungan dengan peningkatankebutuhan
metabolisme
c) Gangguan Rasa Nyaman berhubungan dengan gejalapenyakit
d) Gangguan PolaTidur berhubungan dengan kurang kontroltidur
e) Intoleransi Aktivitas berhubungan dengankelemahan
f) Risiko KetidakseimbanganCairan

3. Intervensi keperawatan
1. D.0130 Hipertermia
a) definisi :
suhu tubuh meningkat diatas rentang normal tubuh
b) penyebab :

24
 Suhu tubuh diatas nilai normal
 takikardi
 kulit terasa hangat
c) SLKI
Luaran utama : Termoregulasi

Outcome 1 2 3 4 5
Menggigil 1 2 3 4 5
Suhu tubuh 1 2 3 4 5
Suhu kulit 1 2 3 4 5
Takikardi 1 2 3 4 5

Luaran pendukung : Status kenyamanan


Outcome 1 2 3 4 5
Keluhan tidak nyaman 1 2 3 4 5
Gelisah 1 2 3 4 5
Keluhan sulit tidur 1 2 3 4 5
Lelah 1 2 3 4 5
Menangis 1 2 3 4 5

d) SIKI
 Manajemen Hipertermia (1.15506)
 Observasi
 identifikasi penyebab hipertermi (mis. dehidrasi
terpapar lingkungan panas penggunaan incubator)
 monitor suhu tubuh
 Terapeutik
 sediakan lingkungan yang dingin
 longgarkan atau lepaskan pakaian
 lakukan pendinginan eksternal
 batasi oksigen, jika perlu.
 Edukasi
 anjurkan tirah baring
 Kolaborasi

25
 Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit
intravena, jika perlu.

2. D.......... Defisit Nutrisi


a) definisi :
asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme.
b) penyebab :
 nafsu makan menurun
 otot pengunyah lemah
 otot menelan lemah
c) SLKI
Luaran utama : Termoregulasi

Outcome 1 2 3 4 5
Membran mukosa 1 2 3 4 5
Frekuensi makan 1 2 3 4 5
Nafsu makan 1 2 3 4 5

d) SIKI
 Manajemen Nutrisi (.........)
 Observasi
 Identifikasi status nutrisi
 identifikasi makanan yang disukai
 monitor asupan makanan
 Terapeutik
 sejikan makanan secara menarik
 berikan suplemen makanan
 fasilitasi menentukan pedoman diet
 Edukasi
 anjarkan diet yang diprogramkan
 Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan

26
DAFTAR PUSTAKA

Susanti, Yurika Elizabeth. 2020 “karakteristik klinis pasien kejang


demam yang dirawat di Rumah sakit Babtis batu” Damianus
Journal of Medicine .Vol.19 No.2 November 2020: hal.91-98
Susanti, Meti yuni. “asuhan keperawatan pada klien febris convultion
dengan masalah hipertermi di ruang anak RSUD Bangil”. Nursing
Journal of STIKES Insan Cendekia Medika Jombang. Volume 14
No. 1 September 2017.
Tim Pokia SIKI DPP PPNI. Standart Intervensi keperawatan Indonesia
definisi dan tindakan keperawatan. 2018. Edisi I Jakarta
Tim Pokia SDKI DPP PPNI. Standart Diagnosa keperawatan Indonesia
definisi dan indicator diagnostik. 2018. Edisi I Jakarta
Tim Pokia SLKI DPP PPNI. Standart Luaran keperawatan Indonesia
definisi dan indicator diagnostik. 2019. Edisi I Jakarta

27